Anda di halaman 1dari 5

JF

ISSN: 1693-1246 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011) 52-56


Januari 2011
PFI
http://journal.unnes.ac.id

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK


MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA
SMP

U. Setyorini, S.E. Sukiswo*, B. Subali


Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Semarang (Unnes), Semarang, Indonesia, 50229

Diterima: 30 September 2010, Disetujui: 2 Oktober 2010, Dipublikasikan: Januari 2011

ABSTRAK

Model (PBL) mengajak siswa agar mampu melatih kemampuan siswa dalam memecahkan masalah sehingga dapat
meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan model Problem Based
Learning pada sub pokok bahasan gerak lurus berubah beraturan yang dapat meningkatkan kempuan berpikir kritis siswa.
Pengambilan sampel dengan teknik simple random sampling. Data penelitian berupa kemampuan berpikir kritis siswa diambil
dengan teknik tes dan praktikum, dengan tes diperoleh hasil 75% siswa memiliki kemampuan berpikir kritis dan 7,5% memiliki
kemampuan sangat kritis. Sedangkan pada praktikum diperoleh hasil sebesar 82,5%. Aspek psikomotorik memiliki rerata 82,75
dalam kategori sangat aktif kemudian untuk aspek afektif nilai rerata sebesar 73,38 yang termasuk dalam kategori baik. Simpulan
penelitian ini yaitu model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada sub
pokok bahasan gerak lurus berubah beraturan.

ABSTRACT

The goal of the research is to gain whether or not an application of Problem Based Learning (PBL) model can improve students'
critical thinking. It is because PBL provides a problem solving activity. Fact, this model can improve the students' capability in critical
thinking. The sample of this study was chosen by using simple random sampling technique and the data were collected using test
and students' activities observation in laboratory. From the data analysis, it is found that 75% students have the critical thinking
ability and 7.5% are very critical the thinking. Based on the students' activities in the laboratory observation, it is found that 82.75%
students are categorized as very active ones and 73.38% students are categorized as enthusiastic ones. It can be concluded that
Problem Based Learning (PBL) model can increase the students' critical thinking in learning ununiformly accelerated motion.

© 2011 Jurusan Fisika FMIPA UNNES Semarang

Keywords: critical thinking; problem solving; Problem Based Learning

PENDAHULUAN Fisika adalah bagian dari sains (IPA), pada


hakikatnya IPA sebagai kumpulan pengetahuan dapat
Proses pembelajaran selama ini masih didominasi berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan model
oleh guru sehingga belum memberikan kesempatan bagi yang biasa disebut produk selain itu yang paling penting
siswa untuk berkembang secara mandiri melalui dalam IPA adalah proses dalam pembelajaran. Selain
penemuan dan proses berpikir. Cara guru mengajar yang memberikan bekal ilmu kepada siswa, mata pelajaran
hanya satu arah (teacher centered) menyebabkan fisika merupakan wahana untuk menumbuhkan
penumpukan informasi atau konsep saja yang kurang kemampuan berpikir dan memecahkan masalah dalam
bermanfaat bagi siswa. Guru selalu menuntut siswa kehidupan sehari-hari.
untuk belajar, tetapi tidak mengajarkan bagaimana siswa Pada kenyataannya secara umum guru sains
seharusnya belajar dan menyelesaikan masalah. fisika cenderung menggunakan metode ceramah. Guru
Berlakunya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sains fisika cenderung menggunakan metode tersebut
(KTSP), menuntut perubahan paradigma pembelajaran, disebabkan keterbatasan waktu, mengejar materi dan
salah satunya adalah pembelajaran yang berpusat pada sarana prasarana yang kurang memadai. Pembelajaran
guru beralih pada siswa (student centered). yang kurang melibatkan siswa secara aktif
Menurut Trianto (2007) pembelajaran dalam menyebabkan kurang seimbangnya kemampuan
konteks KTSP berbasis kompetensi juga menghendaki kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Sebagian besar
pembelajaran tidak hanya mempelajari tentang konsep, dari siswa juga tidak mampu memghubungkan antara
teori dan fakta tetapi juga aplikasi dalam kehidupan apa yang dipelajari dengan bagaimana pengetahuan
sehari-hari. Materi pembelajaran tidak hanya tersusun tersebut akan dimanfaatkan atau dipergunakan. Tentu
atas hal-hal sederhana yang bersifat hafalan dan saja hal tersebut cenderung membuat siswa terbiasa
pemahaman, tetapi juga tersusun atas materi kompleks menggunakan sebagian kecil saja dari potensi atau
yang memerlukan analisis, aplikasi dan sintesis. kemampuan pikirnya dan menjadikan siswa malas untuk
berpikir serta terbiasa malas berpikir mandiri.
Untuk memecahkan masalah pembelajaran yang
*Alamat korespondensi:
Karangrejo No. 2 RT 03 RW 03 Semarang
tersebut perlu dilakukan upaya antara lain berupa
Telp: (024) 8311952 / Mobile Phone: 085640343851 perbaikan strategi pembelajaran yaitu model
Email: unique_cute69@yahoo.co.id pembelajaran yang diharapkan mempermudah siswa
U. Setyorini, dkk., - Penerapan Model Problem Based Learning 53

dalam berpikir kritis dan ketrampilan memecahkan aktif; dan 85% tuntas belajar (> 60).
masalah sehingga tercapai hasil yang lebih maksimal.
Salah satu model pembelajaran fisika yang digunakan HASIL DAN PEMBAHASAN
adalah pembelajaran berbasis masalah.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka Hasil penelitian berupa kemampuan berpikir kritis,
masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah apakah aspek afektif dan aspek psikomotorik dalam
penerapan model Problem Based Learning dapat pembelajaran yang menggunakan model PBL disajikan
meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada sub pada tabel-tabel di bawah ini.
pokok bahasan Gerak Lurus Berubah Beraturan? Analisis tiap aspek kemampuan berpikir kritis kelas
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Gambar
peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa ada sub 1. Berdasarkan hasil uji-t diperoleh nilai thitung sebesar
pokok bahasan Gerak Lurus Berubah Beraturan. 4,86 dan ttabel sebesar 1,994. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa
METODE dari kelas eksperimen dan kelas kontrol meningkat,
sebab thitung>ttabel. Selain itu, hasil uji gain (g) diperoleh nilai
Penelitian ini menggunakan rancangan True untuk kelas eksperimen sebesar 0,43 tergolong sedang,
Experimental Design. Pengambilan sampel secara sedangkan untuk kelas kontrol diperoleh nilai sebesar
simple random sampling. Kelas VIID sebagai kelas 0,28 tergolong rendah.
eksperimen dan kelas VIIE sebagai kelas kontrol. Hasil kemampuan berpikir kritis siswa mengalami
Variabel dalam penelitian meliputi model pembelajaran peningkatan secara signifikan antara kelas eksperimen
(PBL) sebagai variabel bebas dan kemampuan berpikir yang menggunakan model PBL dan kelas kontrol yang
kritis siswa sebagai variabel terikat. Desain penelitian pre menerapkan model DI dengan metode ceramah.
test-post test group dengan pola: Meningkatnya kemampuan berpikir kritis siswa pada
kelas eksperimen dikarenakan perubahan model
E O1 X1 O2 pembelajaran yang mencakup kegiatan untuk melatih
kemampuan berpikir kritis siswa. Model pembelajaran
K O3 X2 O4 PBL mengajak siswa secara langsung aktif terlibat dalam
proses pembelajaran. Sebab dalam model PBL terdapat
8 langkah yang dapat mengajak siswa untuk turut aktif
X1 = Pembelajaran yang menggunakan model direct dalam proses pembelajaran. Keaktifan siswa dalam
interactive (DI) dengan metode ceramah proses pembelajaran dapat melatih kemampuan berpikir
X2 = Pembelajaran yang menggunakan model Problem kritis siswa. Sedangkan pada kelas kontrol
Based Learning (PBL) menggunakan model DI dengan metode ceramah
O1 = Pre test kelompok kontrol dimana model tersebut sering diterapkan pada saat
O2 = Post test kelompok kontrol pembelajaran berlangsung. Dalam model DI ini siswa
O3 = Pre test kelompok eksperimen hanya mendengarkan penjelasan dari guru, sehingga
O4 = Post test kelompok eksperimen siswa bersifat pasif dalam pembelajaran. Maka siswa
E = Kelompok eksperimen (pembelajaran dalam belajar hanya bersifat ingatan saja tidak dapat
menggunakan model Problem Based Learning mengaplikasikan konsep dalam dunia nyata. Sedangkan
(PBL) keaktifan siswa itu sangat diperlukan dalam proses
K = Kelompok kontrol (pembelajaran menggunakan pembelajaran, tetapi dalam model DI keaktifan siswa
model DI dengan metode ceramah tidak tampak karena pemebelajaran berpusat pada hal
ini yang menyebabkan kemampuan berpikir kritis siswa
Prosedur penelitian meliputi persiapan dan pada kelas kontrol mendapatkan hasil yang lebih rendah
pelaksanaan. Metode pengumpulan data meliputi: data dibandingkan kelas eksperimen. Hal ini sesuai dengan
nama dan nilai semester satu siswa diperoleh dengan pendapat Sudarman (2007) bahwa suatu pendekatan
metode dokumentasi; kemampuan berpikir kritis diukur pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata
dengan teknik tes dan praktikum; afektif dan sebagai konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir
psikomotorik siswa. Model pembelajaran Problem Based kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta untuk
Learning dikatakan efektif jika 85% siswa minimal cukup memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial

Tabel 1. Kemampuan berpikir kritis


Pre test Post test
Komponen
Kontrol Eksperimen Kontrol Eksperimen
Jumlah siswa 40 40 40 40
Rerata 47 47,7 61,9 70,3
Uji gain 0 0 0, 28 0, 43
% Ketuntasan belajar 0 0 67,5 92,5
Jumlah siswa yang tidak 0
0 13 3
tuntas belajar
KKM > 60 > 60 > 60 > 60
54 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011) 52-56

120,000
Penilaian Post Test Aspek Berfikir Kritis
Kelas Ekperimen dari Kelas Kontrol
100,000

Keterangan:

Prosentase %
1. Menganalisis 80,000
2. Fokus Soal 1 (Eksperimen)
3. Mengamati Soal 1 (Kontrol)
4. Menghipotesis 60,000
Soal 2 (Eksperimen)
5. Mengasumsi
Soal 2 (Kontrol)
6. Mereview
7. Kesimpulan 40,000
8. Merefleksikan
20,000

0
1 2 3 4 5 6 7 8

Aspek Berfikir Kritis


Gambar 1. Kemampuan berpikir kritis siswa

dari materi kuliah atau materi pelajaran. Hal senada PBL lebih menerapkan pembelajaran konsep, proses
dikemukakan oleh Morales-Mann dan Kaitell dalam Yuan dan pemecahan masalah dalam dunia bagi siswa.
(2008) bahwa manfaat penggunaan PBL dapat Pada dasarnya siswa mempunyai potensi
meningkatkan pembelajaran otonomi, berpikir kritis, kemampuan berpikir kritis. Potensi tersebut lebih baik
pemecahan masalah dan keahlian dalam dilatih sejak dini melalui pembelajaran yang
berkomunikasi. Selanjutnya dikemukakan bahwa mengaharuskan siswanya aktif dan sangat disayangkan
pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan jika tidak dapat dikembangkan dengan baik. Dengan
berpikir kritis yaitu PBL. Model Pembelajaran Berbasis demikian, penerapan model PBL pada sub pokok
Masalah merupakan salah satu pendekatan yang bahasan GLBB dapat melatih kemampuan berpikir kritis
menantang siswa untuk mencari solusi suatu masalah siswa. Hal ini dapat terlihat dari hasil penilaian
dari dunia nyata yang dapat diselesaikan secara kemampuan berpikir kritis siswa yang semakin
berkelompok. PBL mengarahkan siswa untuk belajar meningkat.
mandiri sehingga dapat mengembangkan keterampilan Berdasarkan hasil pengamatan pada kelas
berpikir kritis dan dapat menganalisis masalah yang ada eksperimen didapatkan nilai sebesar 73,38 yang
didunia nyata (Yuan 2008). Selain itu berdasarkan tergolong baik sedangkan untuk kelas kontrol sebesar
pendapat Curry dalam Sungur (2006) mengatakan 62,75 tergolong baik. Pada kelas eksperimen terdapat 8
bahwa model PBL dapat menimbulkan kemampuan siswa dalam kategori sangat baik, 27 siswa termasuk
berpikir kritis dan pengetahuan baru yang berguna untuk dalam kategori baik dan 5 siswa lainnya dalam kategori
jangka panjang. cukup baik. Pada kelas kontrol 18 siswa dalam kategori
Proses pembelajaran PBL ditandai dengan baik, 21 siswa dalam kategori cukup baik dan 1 siswa
adanya masalah (dapat dimunculkan oleh siswa maupun dalam kategori kurang baik. Sehingga pada hasil uji-t
guru), kemudian siswa memperdalam pengetahuannya diperoleh nilai thitung sebesar 17 dan ttabel sebesar
tentang apa yang diketahui dan bagaimana untuk 1,994. Hal ini menunjukkan bahwa aspek afektif siswa
memecahkan masalah secara berkelompok agar saling antara kelas eksperimen meningkat secara signifikan
membantu sehingga mampu berkolaborasi dalam dibandingkan dengan kelas kontrol, sebab thitung>ttabel.
memecahkan masalah. Melalui PBL dengan anggota Hasil afektif siswa setelah diterapkan model PBL
kelompok yang heterogen memungkinkan siswa untuk pada sub pokok bahasan GLBB antara kelas eksperimen
saling bertukar pikiran, bekerjasama untuk memecahkan dengan kelas kontrol mengalami peningkatan.
masalah yang pada akhirnya dapat meningkatkan Meningkatnya aspek afektif dikarenakan penciptaan
kemampuan berpikir kritis. Dengan demikian penerapan lingkungan belajar yang baru di dalam kelas melalui PBL
PBL juga membantu siswa dalam meningkatkan membangkitkan sikap yang baik bagi siswa. Adapun
kemampuan berpikir kritis. Berbeda halnya pada model aspek afektif dalam penelitian ini: a) kehadiran siswa; b)
DI siswa tidak diberikan masalah, tetapi siswa hanya perhatian siswa saat pembelajaran berlangsung; c)
diberi penjelasan saja sedangkan siswa hanya menulis keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat; d)
saja apa yang dikatakan oleh guru maka siswa hanya keberanian siswa dalam bertanya; e) menghargai
mendapatkan pengetahuan yang kurang pendapat orang lain. Hal ini sesuai dengan pendapat
mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Hal Anni (2006) bahwa dalam belajar faktor yang sangat
ini sesuai dengan pendapat dari Senocak (Akinoglu penting adalah tempat belajar, suasana lingkungan dan
2007) mengatakan bahwa model PBL lebih efektif budaya belajar masyarakat akan mempengaruhi
apabila dibandingkan model tradisional sebab model kesiapan, proses, dan hasil belajar. Maka dengan hal
U. Setyorini, dkk., - Penerapan Model Problem Based Learning 55

Penilaian Aspek Afektif Kelas Eksperimen lebih berkembang. Berbeda dengan kelas kontrol yang
dan Kelas Kontrol menggunakan model DI dengan metode ceramah dalam
120
pembelajaran maka akan berdampak negatif dalam
100 praktikum sebab siswa belum terbiasa dalam
menyelesaikan masalah sendiri.
Prosentase%

80 Afektif Penilaian aspek psikomotorik siswa dalam


(Eksperimen) penelitian ini meliputi: a) menyiapkan alat percobaan; b)
60
Afektif (Kontrol) merangkai alat percobaan; c) melakukan pengamatan
40 dan percobaan; d) membaca hasil percobaan; e)
mengkomunikasikan hasil percobaan. Aspek
20 psikomotorik dalam penelitian ini diamati pada saat
praktikum GLBB, dimana dalam praktikum
0 menggunakan model PBL. Dalam hal ini hanya guru
1 2 3 4 5 memberikan sedikit gambaran mengenai alat, kemudian
siswa diminta untuk menyiapkan alat dan bahan dengan
Aspek Afektif tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran. Untuk aspek
Gambar 2. Aspek afektif siswa y a n g t e r a k h i r, s i s w a d i h a r a p k a n m a m p u
mengkomunikasikan hasil percobaan.
tersebut semua aspek tersebut dapat diamati ketika Penggunaan model PBL dalam proses
pembelajaran berlangsung, dimana dalam pembelajaran pembelajaran menjadi lebih aktif dan menyenangkan
menggunakan model PBL. Model PBL tersebut memiliki bagi siswa karena siswa lebih mengerti tentang hal-hal
ciri-ciri bahwa sebelum pembelajaran dimulai, siswa yang sering dialaminya dalam kehidupan sehari-hari.
sudah dalam keadaan siap untuk belajar. Siswa Dengan demikian, aktivitas ilmiah siswa dalam proses
dikelompokkan menjadi beberapa kelompok kecil pada pembelajaran akan berpengaruh pada pertumbuhan
saat pembelajaran berlangsung. Dengan kelompok- aspek psikomotoriknya.
kelompok kecil dimaksudkan agar semua siswa dapat Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu
bekerja sama, saling bertukar pendapat (bertanya, pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah
berpendapat), dan dapat menghargai pendapat orang dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk
lain, sampai dapat memutuskan kesimpulan yang belajar tentang cara berpikir kritis dan ketrampilan
disepakati bersama. Model PBL dikaitkan dengan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh
kehidupan nyata menarik perhatian siswa, sehingga pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi
siswa termotivasi untuk selalu hadir dan masuk kelas kuliah atau materi pelajaran. Guru dalam pembelajaran
sebelum guru masuk. Aspek-aspek ini menjadi indikator berbasis masalah berperan dalam menyajikan masalah,
pada penilaian aspek afektif tersebut dimasukkan untuk memberikan pertanyaan, mengadakan dialog,
mengetahui sikap siswa terhadap pelaksanaan membantu menemukan masalah dan memberi fasilitas
penerapan model PBL pada sub pokok bahasan GLBB. penelitian. Selain itu guru juga menyiapkan dukungan
Berbeda halnya pada kelas kontrol yang menggunakan dan dorongan yang dapat meningkatkan pertumbuhan
model DI dengan metode ceramah pada saat inquiri dan intelektual siswa (Sudarman, 2007).
pembelajaran siswa tidak dibagi dalam kelompok- Çuhadaroðlu et al. dalam Akinoglu (2007), model
kelompok sehingga membuat siswa merasa bosan Problem Based Learning dapat mengubah siswa dari
dalam mengikuti pembelajaran maka sikap ilmiah siswa menerima informasi pasif menjadi aktif (student
kurang berkembang dengan baik akibatnya aspek afektif centered). Model ini memungkinkan siswa untuk
kelas kontrol mendapatkan hasil yang rendah memperoleh pengetahuan baru dalam pemecahan
dibandingkan kelas eksperimen. Hal sesuai pendapat masalah. Dalam Problem Based Learning, sikap siswa
Walker dan Lofton dalam Akinoglu (2007) bahwa model seperti pemecahan masalah, berpikir, bekerja kelompok,
PBL dapat meningkatkan hasil belajar dan sikap yang komunikasi dan informasi berkembang secara positif
positif dalam pembelajaran. Hal senada dikemukakan (Akinoglu, 2007).
oleh Ram dalam Akinoglu (2007) bahwa PBL dapat Berdasarkan penelitian Akinoglu (2007), Problem
menimbulkan sikap yang positif dalam pembelajaran Based Learning lebih mempengaruhi prestasi belajar
selain itu siswa mendapatkan pengetahuan yang dapat siswa dibandingkan dengan model pembelajaran
digunakan untuk memecahkan masalah dalam tradisional yang mana telah diterapkan di sekolah. Selain
kehidupan nyata. itu, penelitian lain menyebutkan bahwa Problem Based
Hasil psikomotorik siswa setelah diterapkan model Active Learning lebih efektif dibandingkan dengan model
PBL pada sub pokok bahasan GLBB antara kelas klasik yang berbasis penemuan. Dalam Problem Based
eksperimen dengan kelas kontrol mengalami Learning tampak bahwa banyak siswa yang menyukai
peningkatan. Meningkatnya aspek psikomotorik erat model ini. Hal ini disebabkan model Problem Based
kaitannya dengan keaktifan siswa ketika proses Learning dapat meningkatkan kemampuan
pembelajaran berlangsung. Hal ini sesuai dengan memecahkan masalah dan bekerja sama dalam satu
pendapat Sharmann dan Orth-Hampton dalam Akinoglu kelompok.
(2007) mengatakan bahwa PBL merupakan PENUTUP
pembelajaran yang termasuk dalam Cooperative
Learning dimana siswa bekerja sama dalam Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan,
menyelesaikan masalah hal ini dapat menimbulkan dapat disimpulkan bahwa model PBL dapat
semangat kebersamaan akibatnya keaktifan siswa akan meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada
56 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011) 52-56

pembelajaran GLBB. Hal ini dapat dilihat bahwa 75% Based Computer Assisted Instruction and the
siswa memiliki kemampuan berpikir kritis, 7,5% siswa Direct-Interactive Teaching Method on Student
memiliki kemampuan sangat kritis, psikomotorik siswa Science Achievement. Journal of Science
memiliki nilai rerata 82,75 dalam kategori sangat aktif dan Education and Technology, 10 (2) : 147 -153
afektif siswa mempunyai nilai rerata sebesar 73,38 yang Kumar,D. D & Sherwood, R. D. 2007. Effeect of a
termasuk dalam kategori baik. Sehingga para guru Problem Based Simulation on the Conceptual
diharapkan mampu memvariasikan model pembelajaran Understanding of Undergraduated Science
yang dapat menghindari rasa bosan dan tercipta Education Students. Journal of Science Education
suasana yang menyenangkan. Model Problem Based and Technology, 16 (3): 239 -246
Learning dapat dijadikan solusi untuk meningkatkan Sudarman. 2007. Problem Based Learning: suatu model
kemampuan berpikir kritis pada sub pokok bahasan pembelajaran untuk mengembangkan dan
GLBB. Selain itu, Guru diharapkan dapat mencoba meningkatkan kemampuan memecahkan
model PBL pada materi yang berbeda. masalah. Jurnal Pendidikan Inovatif, 2 (2)
Sungur Semra & Ceren Tekkaya. 2006. Effect of Problem
DAFTAR PUSTAKA Based Learning and Traditional Instruction on Self
Regulated Learning. The Journal of Educational
Akinaglu O & Ruhan Ozkardes Tandogan, R. O. 2007. Research, 99 (5): 316
The effects of problem based active learning of Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif
student' academic achievement, attitude and Berorientasi Kontruktivisme. Jakarta: Prestasi
concept learning. Eurasia Journal of Mathematics, Pustaka
Science & Technology Education, 3 (1): 71-81 Yuan et. al. 2008. Promoting Critical Thinking Skill
Anni CT, dkk. 2006. Psikologi Belajar. Semarang: through Problem Based Learning. CMU. Journal of
UNNES Press Soc. Sci. And Human, 2 (2): 85-100
Chang, C. Y. 2001. Comparing the Impacts of a Problem