Anda di halaman 1dari 2

Dana Desa Rawan Diselewengkan

Editor: samian
Jum'at, 06 Oktober 2017

SuaraBanyuurip.com
Ilustrasi

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora – Penggunaan Dana Desa (DD) di wilayah Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa
Tengah, rawan diselewengkan. Terbukti, dengan dikembalikannya Laporan Pertanggung
Jawaban (LPJ) oleh pihak kecamatan kepada desa. Pasalnya, setelah dilakukan verifikasi oleh
tim dari kecamatan ternyata ditemukan kekurangan dalam pembuatan LPJ.

Camat Cepu, Djoko Sulistiyono, melalui Darwanto Plt Kasi Pembangunan, menjelaskan, bahwa
pihak kecamatan terpaksa mengembalikan LPJ kepada desa, lantaran ada ketidak sesuaian
pembelanjaan. “Karena dalam LPJ tersebut disamakan dengan Rencana Anggaran Belanja
(RAB). Seharusnya, dalam LPJ itu harus sesuai dengan pembelanjaan riil dari penyedia
barang/jasa,” terangnya.

Sehingga, kata dia, sisa lebih dari pembelanjaan itu bisa masuk dalam Sisa Lebih Perhitungan
Anggaran (Silpa) pada tahun anggaran berikutnya. “Jadi pihak desa bisa melakukan perubahan
RAB kegiatan yang sudah direncanakan sebelumnya,” kata dia.

Namun kenyataan yang terjadi, kata Darwanto, pihak desa enggan melakukan merubah RAB dan
bersikukuh dengan LPJ yang dikembalikan. “Padahal boleh dan sangat bisa untuk dilakukan
perubahan,” tegas Darwanto.

Pihaknya sangat menyesalkan dengan sikap pihak desa yang seperti itu. Menurutnya, banyak hal
yang tidak sesuai setelah dilakukan verifikasi oleh tim dari kecamatan. Hanya saja, Darwanto
enggan menyebutkan secara rinci temuan dari LPJ tersebut.

“Dalam LPJ tersebut seharusnya ada dokumen negoasiasi harga (tawar menawar harga) dalam
pengadaan barang/jasa. Tapi dalam LPJ itu tidak ditemukan dokumen itu. Sehingga kami harus
mengembalikannya,” ujarnya menyebutkan beberapa temuan itu.

Lebih lanjut, Darwanto menyatakan, jika dalam pelaporan itu tidak ada dokumen negosiasi
berarti mereka (pihak desa) tidak mematuhi aturan dalam Peratuaran Bupati (Perbup) nomor 12
tahun 2015 tentang tata cara pengadaan barang/ jasa di desa. “Dalam aturan itu diterangkan
bahwa desa harus melakukan negosiasi untuk memperoleh harga yang lebih murah, namun tidak
mengurangi jumlah dan kualitas barang/jasa yang diadakan,” terangnya.

“Apabila dalam LPJ itu kok sama dengan RAB, berarti ada yang salah dalam proses negosiasi
yang dilaksanakan oleh desa,” tambahnya.
Pihaknya mengaku, bahwa periode saat ini ingin meluruskan pemahaman yang selama ini kurang
benar. “Supaya mereka bisa membuat LPJ dengan benar,” tandasnya.

Terkait dengan ancaman penolakan Dana Desa oleh Kepala Desa (Kades), pihaknya tidak
banyak berkomentar. “Mereka tidak udah menolak, secara otomatis jika mereka tidak membuat
LPJ tahap pertama, otomatis DD tahap ke-2 tidak akan cair. Karena sarat pencairan DD tahap ke-
2 ini adalah diselesaikan LPJ tahap pertama tanpa ada kesalahan,” ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, para kepala desa (kades) di wilayah Kecamatan Cepu, mengancam
bakal melakukan penolakan Dana Desa (DD) tahap ke-2 yang sampai saat ini belum terserap.
Karena dalam pencaiarannya dianggap sulit.

Hartono, Ketua Paguyuban Kades, Kecamatan Cepu, menjelaskan, komitemen penolakan


tersebut sudah disampaikan dalam rapat Asosiasi Perangkat Desa Indonesia (APDESI).

Kabupaten Blora. "Jika masih sulit, kami berkomitmen akan menolak DD 40% pada tahap ke-2
ini," terangnya.

Menurutnya, hal itu karena adanya perbedaan persepsi antara pihak desa dan kecamatan. Hartono
mencontohkan, dari kecamatan menginginkan LPJ yang disampaikan sesuai dengan pelaksanaan
di lapangan bukan disesuaikan dengan RAB. Karena pada periode sebelumnya, LPJ disesuaikan
dengan RAB. “Apa yang direncanakan itu yang dilaporkan, ” jelasnya, yang juga mengatakan
jika tidak mungkin dilakukan perubahan RAB.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Blora Gunadi mengatakan, untuk
pembuatan LPJ DD tahun ini sebenarnya tidak ada perbedaan dengan tahun sebelumnya.
Sedangkan untuk kasus pengembalian LPJ itu hanya ada di Cepu saja dan tidak ada kecamatan
lain.

’Terkait pengembalian LPJ ini nanti akan kami komunikasikan lagi dengan pihak kecamatan dan
desa disana,’’ tuturnya. (ams)

Komentar