Anda di halaman 1dari 21

ANTROPOLOGI DAN LANDASAN BUDAYA DALAM

PENDIDIKAN
36

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Secara leksikal, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, landasan berarti

alas; bantalan; dan paron (alas untuk menempa, terbuat dari besi), atau berarti dasar;

tumpuan (Departemen Pendidikan Nasional, 2008). Karena itu, landasan merupakan

tempat bertumpu atau titik tolak atau dasar pijakan. Titik tolak atau dasar pijakan ini

dapat bersifat material, contohnya landasan pesawat terbang; dapat pula bersifat

konseptual, contoh landasan pendidikan. Pendidikan antara lain dapat dipahami dari

dua sudut pandang, pertama dari sudut praktik sehingga kita mengenal istilah praktik

pendidikan, dan kedua dari sudut studi sehingga kita kenal istilah studi pendidikan.

Praktek pendidikan adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang atau

lembaga dalam membantu individu atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan

pendidikan. Kegiatan bantuan dalam praktek pendidikan dapat berupa pengelolaan

pendidikan (makro maupun mikro), dan dapat berupa kegiatan pendidikan

(bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan). Studi pendidikan adalah kegiatan

seseorang atau sekelompok orang dalam rangka memahami pendidikan. Berdasarkan

uraian di atas dapat disimpulkan bahwa landasan pendidikan adalah asumsi-asumsi

yang menjadi dasar pijakan atau titik tolak dalam rangka praktek pendidikan dan/atau

studi pendidikan.
37

Landasan adalah dasar tempat berpijak atau tempat dimulainya suatu

perbuatan. Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis-sistemik selalu bertolak

dari sejumlah landasan serta pengindahan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan

asas tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap

perkembangan manusia dan masyarakat bangsa tertentu. Beberapa landasan

pendidikan tersebut adalah landasan agama, filsafat, psikologi, sosiologi, antropologi,

sains dan teknologi (IPTEK) yang memegang peranan yang sangat penting dalam

menentukan tujuan pendidikan.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang diangkat dan dibahas dalam makalah ini berupa

pertanyaan sebagai berikut.

1. Apakah Antropologi itu?

2. Bagaimanakah hubungan antara agama, budaya, dan aqidah?

3. Bagaimanakah hubungan antara budaya dan pendidikan?

4. Bagaimanakah kontribusi studi antopologis terhadap ilmu pendidikan?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan yang ingin dicapai dari penyusunan dan diskusi makalah ini adalah

agar mahasiswa mampu:

1. Mengetahui apa pengertian Antropologi.

2. Mengetahui hubungan antara agama, budaya, dan aqidah.

3. Mengetahui hubungan antara budaya dan pendidikan.


38

4. Mengetahui kontribusi studi antopologis terhadap ilmu pendidikan.

D. Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan makalah ini adalah mahasiswa atau pembaca dapat

mengetahui apa sebenarnya landasan antropologi dalam pendidikan dan bagaimana

kontribusi landasan antropologi tersebut dalam dunia pendidikan.


39

BAB II

ANTROPOLOGI DAN LANDASAN BUDAYA DALAM

PENDIDIKAN

A. Antropologi

Antropologi (anthrophology) dalam artian yang sangat tua berarti “ilmu

tentang manusia”, di mana dahulu istilah ini dipergunakan dalam artian lain, yaitu

ilmu tentang ciri-ciri tubuh manusia. Dalam perkembangan Antropologi setelah

sekitar tahun 1930, di Amerika istilah ini dipakai dalam arti yang amat luas, di mana

meliputi baik bagian-bagian fisik maupun sosial dari “ilmu tentang manusia”. Di

Eropa Barat dan Tengah istilah Antropologi dipakai dalam arti khusus, yaitu ilmu

tentang ras-ras manusia dipandang dari ciri-ciri fisiknya (Koentjaraningrat, 1985).

Antropologi merupakan ilmu pengetahuan yang kajiannya mempelajari

manusia dan cara kehidupannya, termasuk bentuk-bentuk bahasa yang digunakan.

Dinamika sistem nilai dalam berbagai bidang kehidupan yang berlaku untuk kurun

waktu yang cukup lama serta pengaruh lingkungan fisik terhadap sistem dan perilaku

manusianya, termasuk dalam objek telaah Antropologi (Natawidjaja et al., 2007).

Antropologi dalam fase perkembangannya setelah sekitar tahun 1930

memiliki tujuan yang dapat dibagi dua, yaitu tujuan akademikal dan tujuan praktis.

Tujuan akademikalnya adalah; mencapai pengertian tentang makhluk manusia pada

umumnya dengan mempelajari anekawarna bentuk fisiknya, masyarakat, serta


40

kebudayaannya. Karena di dalam suku-bangsa, maka tujuan praktisnya adalah;

mempelajari manusia dalam anekawarna masyarakat suku-bangsa guna membangun

masyarakat suku-bangsa itu (Koentjaraningrat, 1985).

Demikianlah iklim cuaca, daerah pesisir dan pegunungan mewarnai perilaku

dan sistem nilai berbagai bidang kehidupan. Curah hujan yang berbeda-beda dan arah

angin yang berhembus mengikuti tinggi rendahnya daerah, serta terasing dari suku

lain, menuntut perlakuan pendidikan yang ditata untuk memenuhi tuntutan

lingkungan fisik itu. Demikian juga kepadatan penduduk di satu daerah, perlu

mendapat perhatian dalam merancang pendidikan yang berbeda dari rancangan

pendidikan di daerah yang jarang penduduknya. Dengan kondisi alam dan lingkungan

yang berbeda, lahirlah perilaku dan sistem nilai yang membentuk pola hidup yang

berbeda-beda. Ada kelompok kecil manusia yang mencari nafkah dari berburu,

menjadi nelayan karena hidup di pesisir, bercocok tanam di pegunungan.

Kesemuanya itu menuntut perlakuan pendidikan yang berbeda.

Masyarakat yang pekerjaannya berburu, pendidikan dimulai dari alat berburu

yang sangat sederhana berupa alat pemukul dari kayu yang dipukulkan, meningkat

menjadi tombak yang dilemparkan kepada binatang buruannya, menuntut pola

pendidikan yang berbeda pula. Untuk memotong daging buruan, dan menguliti kulit

hewan, digunakan kapak batu yang dipertajam lebih dahulu. Untuk meramu akar-akar

pohon, digunakan tanduk rusa atau binatang lain sehingga ramuan itu dapat dijadikan

bumbu makanan hasil buruannya. Cara-cara hidup seperti itu, lama dipertahankan

tanpa banyak berubah, beratus-ratus tahun lamanya. Pola hidup seperti ini pun
41

disertai perubahan bentuk dan lingkungan fisik, menuju ke satu arah yang sesuai

dengan sistem nilai yang dikembangkan dalam masyarakat itu.

Dewasa ini bekas-bekas budaya seperti itu masih mewarnai pola pendidikan

yang dikembangkan masyarakat yang menunjukkan perbedaan dari masyarakat

lainnya. Batu-batu yang bertuliskan kuno ditemukan sebagai indikator adanya

pengaruh budaya lama terhadap budaya kekinian yang diwujudkan dalam perumusan

pendidikan dan ilmu pendidikan.

Masyarakat yang hidup di pesisir memiliki pola hidup yang berbeda pula,

diwarnai oleh kegiatan mencari ikan di laut dan tentu saja daerah pesisir menjadi

tempat bertemunya para pedagang yang berdatangan dari berbagai daerah.

Terbentuklah budaya baru yang berbeda sekali dengan budaya penduduk asal.

Baurlah sistem nilai-nilai lama dengan yang baru. Tentu saja sistem nilai baru itu

menuntut lahirnya pendidikan baru dan menjadi landasan serta menjadi teori

pendidikan. Daerah pesisir menjadi pelabuhan perdagangan yang banyak dikunjungi

berbagai manusia dari berbagai budaya dan suku, yang membawa berbagai sistem

nilai. Tumbuhnya perdagangan menyebabkan timbulnya lapisan masyarakat baru

yaitu para pedagang yang makmur –dibandingkan dengan para pelayan dan aristokrat

pelabuhan. Para pedagang asing pun berdatangan ke pelabuhan yang justru membawa

sistem nilai tersendiri yang dapat membaur dan dapat pula terpisah.

Kebutuhan akan kekuasaan dan kekuatan maritim pun mulai mencuat ke

permukaan yang menuntut perluasa pelabuhan dan perdagangan serta mendatangkan

sistem nilai baru. Agama Islam yang masuk melalui pelabuhan-pelabuhan mewarnai
42

kehidupan manusia. Budaya pun tegak atas asas agama. Agama itu menjadi landasan

yang kokoh dalam mengembangkan sistem nilai berbagai bidang kehidupan, bahkan

hukum pun seyogianya mengamankan sistem nilai yang memiliki landasan agama

(Natawidjaja et al., 2007).

B. Budaya, Agama, dan Aqidah

Kebudayaan itu memang benar dibentuk oleh masyarakat, akan tetapi aqidah

yang menjadi landasan agama akan mewarnai budaya serta segala kreasi yang lahir

dari budaya itu. Gazalba (1978) dalam Natawidjaja et al. (2007) melukiskan

keterhubungan antara aqidah, agama, dan budaya tersebut sebagai berikut.

Agama

Kebudayaan

Aqidah

Gambar 1. Hubungan antara Aqidah, Agama, dan Kebudayaan

Aqidah atau yang dimaknai iman merupakan asas atau fundasi ajaran dalam

hal amal Islam. Agama berdiri tegak di atas aqidah, sehingga agama tanpa aqidah

bagaikan badan tanpa roh, sedang budaya merupakan kreasi manusia yang

mengembangkan sistem nilai berdasarkan aqidah yang dianutnya. Hidup dan bekerja

sama antara manusia, bertujuan memberi kehidupan yang di dunia ini yang bersifat

konkrit di alam material dan berdimensi jasad. Di sisi lain, agama bertujuan lebih

berdimensi utuh: material jasadiah dan ruhaniah. Manusia hidup di dunia bukan
43

sekadar jasad belaka akan tetapi juga ruhaniah, karena itu nilai-nilai moral yang

dikandungnya diperhitungkan pula di akhirat.

Gerak kehidupan terus berlangsung dalam masyarakat membawa perubahan

sosial budaya. Perubahan sosial budaya itu menuntut aturan yang tidak lepas dari

fundasi serta proses pendidikan. Dari pembicaraan berkenaan dengan pengaruh

lingkungan fisik, beralih ke cabang utama yang dipelajari Antropologi, yaitu

Antropologi Budaya yang memfokuskan diri pada telaah budaya yang dinamis dan

benda mati atau peninggalan. Antropologi menjadi ilmu yang menggali peninggalan

berabad-abad yang lalu dalam upaya mengembangkan gagasan yang diraih melalui

eksplorasi arkeologi dan geologi.

Budaya atau kultur secara umum dapat dikatakan merupakan cara hidup

manusia yang terbentuk dalam masyarakat yang diwujudkan dalam cara berpikir,

bertindak, dan cara menyatakan perasaan. Dengan kata lain, budaya dipandang

sebagai perilaku hasil belajar yang ditularkan secara sosial, dan bukan secara genetik

(Natawidjaja et al., 2007).

C. Budaya dan Pendidikan

Pendidikan pada hakikatnya adalah upaya untuk menjadikan manusia

berbudaya. Budaya sendiri dalam pengertian yang sangat luas mencakup segala aspek

kehidupan manusia, yang dimulai dari cara berpikir, bertingkah laku sampai produk-

produk berpikir manusia dalam bentuk benda (materil) maupun dalam bentuk sistem

nilai (in-materil). Pergaulan antarumat di dunia yang semakin intensif akan


44

melahirkan budaya-budaya baru, baik berupa percampuran budaya, penerimaan

budaya oleh salah satu pihak atau keduanya, dominasi budaya, atau munculnya

budaya baru. Keseluruhan proses ini tentu saja dipengaruhi oleh proses pendidikan di

masyarakat (Hatimah & Sadri, 2007).

Pendidikan mencakup seluruh proses yang membantu pembentukan pola

pikir dan karakter manusia sepanjang hidup. Dapatlah dikatakan bahwa generasi

muda, secara kultur, tidak matang dengan sendirinya, akan tetapi mereka perlu

ditunjuki jalan untuk mencapai kematangan. Teknik untuk mencapai dewasa perlu

diajarkan oleh generasi tua. Tiap masyarakat beranggapan bahwa pemindahan budaya

tidak dapat berlangsung dengan sendirinya tanpa upaya. Para budayawan berpendapat

bahwa pendidikan merupakan proses enkulturasi yang diprakarsai oleh seseorang

untuk membentuk cara hidup yang lainnya. Sekiranya seorang pendidik ingin

membudayakan kualitas anak, misalnya agar anak berpikir jernih atau memiliki

kebebasan untuk mengambil keputusan, maka masing-masing lembaga akan berbeda

mengolah dan melayaninya (Natawidjaja et al., 2007).

Muncul beberapa pertanyaan, apakah pendidikan itu di mana-mana sama,

atau malah berbeda-beda? Apa yang sama dalam pendidikan itu, dan dalam hal apa

berbeda? Pendidikan memandang bahwa lembaga sekolah merupakan lembaga

pembudayaan sebagaimana keluarga, teman sebaya, dan masjid. Masing-masing

lembaga mempunyai norma dan tujuan yang berbeda. Mungkin pendidik bermaksud

membudayakan kualitas terdidik dalam aspek-aspek tertentu, pendidik lain mungkin

berbeda pula maksudnya, maka terjadilah perbedaan perlakuan dan layanannya.


45

Demikian halnya televisi bermaksud menyajikan acara tertentu yang berbeda pula

maksud dan tujuannya. Sekali waktu televisi hanya bermaksud menyajikan informasi,

di lain waktu memberikan hiburan dan pada waktu lainnya bermaksud mempengaruhi

pemirsa agar membeli produk tertentu.

Muncul pertanyaan berikutnya, mungkinkah lembaga-lembaga itu bekerja

sama dalam menata maksud tertentu berdasarkan kesamaan nilai yang melandasinya?

Dalam budaya tertentu pendidikan mereaksi berbagai kejadian dan dapat

mempengaruhi budaya itu sendiri. Dalam budaya industri, salah satu motor

perubahan adalah sains dan aplikasinya dalam teknologi. Demikianlah pembudayaan

berlangsung melalui media komunikasi yang canggih, internet, dan komputer.

Perubahan yang terjadi dalam budaya tersebut bukan sekadar hasil enkulturasi yang

amatiran akan tetapi merupakan hasil para pakar profesional di bidang pendidikan.

Perubahan itu berpengaruh terhadap penyelenggaraan pendidikan, yang juga

mempengaruhi kinerja para pendidik, peneliti, konselor, tester, dan administrator

(Natawidjaja et al., 2007).

Pendidikan itu diperlukan untuk membangun suatu masyarakat. Kebudayaan

merupakan bagian tak terpisahkan dari suatu masyarakat. Sebab pendidikan itu

merupakan kebutuhan pokok di dalam merumuskan bentuk atau pola suatu

kebudayaan menjadi ciri suatu masyarakat. Dan pendidikan itupun juga

merencanakan pola pemindahan kebudayaan dari satu generasi ke generasi

selanjutnya dan sekaligus berupaya bagaimana cara pengembangan dan

mengarahkannya sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang selalu


46

bertambah dan berubah. Ahmad (1989) mengemukakan hubungan pendidikan dan

tiga unsur kebudayaan yang meliputi unsur-unsur umum, khusus, dan alternatif

kebudayaan.

1. Hubungan pendidikan dan unsur-unsur umum kebudayaan

Unsur-unsur umum adalah ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seluruh

kelompok anggota masyarakat. Sebab ilmu pengetahuan itu merupakan dasar pokok

kebudayaan pada umumnya yang membedakan anggota masyarakat tersebut. Seperti

halnya masalah bentuk pakaian, bentuk bangunan perumahan, komunikasi sosial, dan

cara makan. Termasuk unsur-unsur umum juga yaitu berbagai kecenderungan tertentu

yang membedakan anggota masyarakat dan menjadikan mereka memiliki

kepentingan maupun keperluan yang sama, kecenderungan-kecenderungan yang

berdekatan sehingga di antara mereka merasakan sama-sama memiliki tujuan dan

tempat kembali yang sama juga.

Unsur-unsur umum kebudayaan itu seringkali menentukan pendidikan yang

akan diberikan pada tingkat pertama. Sebab, tujuan-tujuan pendidikan tingkat

pertama ini disesuaikan dengan unsur-unsur umum kebudayaan tersebut. Alasannya,

pada pendidikan tingkat pertama ini bertujuan untuk mempersiapkan suatu

kemampuan yang sama bagi seseorang tentang kebudayaan yang harus diterima oleh

seluruh anggota masyarakat, yang akhirnya mereka mendapatkan kemampuan yang

sama, baik pengalaman, kecenderungan, maupun keterampilan. Oleh karena itu, maka

sebagian besar masyarakat benar-benar memperhatikan pendidikan pada tingkat

pertama ini, yaitu perihal unsur-unsur umum kebudayaan.


47

2. Hubungan pendidikan dan unsur-unsur khusus kebudayaan

Unsur-unsur khusus ialah unsur-unsur yang terbatas pada suatu kelompok

atau beberapa kelompok masyarakat. Akan tetapi kegunaannya tetap untuk

masyarakat seluruhnya. Oleh karena itu, para dokter, advokat, dan guru-guru itu

semuanya memiliki unsur-unsur khusus dalam kebudayaan. Namun setiap kelompok

sosial sepakat dalam hal tingkah laku budaya tertentu. Sehingga dapat kita katakan,

bahwa unsur-unsur khusus itu ialah seperti halnya adat-istiadat, tradisi-tradisi, dan

macam-macam tingkah laku serta kegiatan-kegiatan sosial dari anggota masyarakat

yang memiliki dampak bermanfaat bagi masyarakat seluruhnya. Biasanya unsur-

unsur ini tampak lebih jelas dari segi kejuruan, sistem kelas, dan kesenian.

Unsur-unsur khusus kebudayaan hanyalah terbatas untuk kelompok-

kelompok tertentu dalam masyarakat, sekalipun kegunaannya merata kepada seluruh

anggota masyarakat. Dengan kata lain, bahwa unsur-unsur khusus kebudayaan itu

pada umumnya berkaitan dengan masalah kejuruan. Dan sudah tentu, setiap anggota

bidang kejuruan tersebut benar-benar sudah memahami unsur-unsur umum

kebudayaan sebelumnya.

Atas dasar inilah dapat dikatakan bahwa anggota suatu bidang kejuruan

tersebut menerima pendidikan dan pengajaran khusus. Hal itu tampak jelas sekali di

dalam masyarakat yang menganut sistem kelas. Sebab, anggota kelas tertentu akan

menerima jenis pendidikan dan pengajaran tertentu pula, dalam rangka mendapatkan

macam-macam tingkah laku yang pantas untuk merealisir beberapa tujuan-tujuan dari

kelas-kelas tersebut. Oleh karena itu, maka di dalam sistem pendidikan terdapat apa
48

yang dinamakan dengan sistem klasikal, sehingga akhirnya terdapat dua tingkat yang

sama maupun tidak di dalam pendidikan.

3. Hubungan pendidikan dan unsur-unsur alternatif kebudayaan

Unsur yang terakhir ini memiliki bidang yang cukup luas dan beraneka

ragam, baik dalam hal gagasan/ide, adat istiadat, tingkah laku maupun cara berpikir.

Unsur-unsur alternatif ini dapat dibedakan dengan unsur-unsur lain karena unsur-

unsur alternatif tersebut dapat menerima adanya penelitian, percobaan, dan

pembenahan. Sebenarnya unsur-unsur tersebut merupakan suatu yang masih asing

bagi kebudayaan masyarakat manapun. Sebab unsur-unsur tersebut tidak permanen

statusnya dan tetap termasuk unsur-unsur khusus sebagian masyarakat bahkan juga

termasuk unsur-unsur umum suatu kebudayaan.

Unsur alternatif kebudayaan ini adalah unsur kebudayaan dalam konteks

pembahasan tentang kebudayaan yang senantiasa berubah-ubah (dinamis).

Sebenarnya kebudayaan itu lahir tak lain sebagai produk pengambilan berbagai

kebudayaan lain atau mendapat pengaruh dari berbagai kebudayaan tersebut.

Selanjutnya kebudayaan tersebut diterima oleh anggota masyarakat.

Dengan memasuki pendidikan, maka anggota masyarakat akan mencari pola

berpikir ilmiah yang mampu memberi kesempatan lahirnya kebudayaan-kebudayaan

yang dinamis dalam rangka mengembangkan dirinya, sekiranya unsur-unsur alternatif

ini tidak dapat menolong terhadap perkembangan masyarakat. Pendidikan senantiasa

berusaha memelihara peninggalan-peninggalan kebudayaan lama. Oleh karena itu,

metode-metode pengajaran di sekolah-sekolah dan berbagai kemampuan para murid


49

sering tidak mampu mereka itu mempelajari segala sesuatu yang terdapat di dalam

kebudayaan implisit unsur-unsurnya. Maka pendidikan di sekolah-sekolah biasanya

memiliki suatu kebudayaan yang sesuai untuk perkembangan individu dan

masyarakat. Sehingga semua itu sesuai dengan kemampuan para murid tanpa harus

menjelaskan mengenai segi-segi materi kebudayaan dan masyarakat terhadap mereka.

Demikian pula, sebenarnya pendidikan itu dapat menolong terhadap kebenaran dan

perkembangan kebudayaan serta berupaya memulihkan masyarakat sesuatu

kebudayaan yang sesuai dengannya.

Pendidikan itu bertanggung jawab penuh terhadap dinamika kebudayaan,

mengatasi keterbelakangan jika terdapat kemunduran, meniadakan sistem klasikal di

dalam pendidikan dan melaksanakan demokrasi beserta fasilitas pendidikan dasar di

dalam memilih kebudayaan yang sesuai dengan unsur-unsur kebudayaan, baik umum,

khusus, maupun alternatif bagi suatu sekolah (Ahmad, 1989).

D. Kontribusi Studi Antropologis terhadap Ilmu Pendidikan

Antropologi memberikan kontribusi kepada Ilmu Pendidikan berupa hasil

studi tentang berbagai metode pendidikan di berbagai tempat. Para pendidik dapat

belajar dari pengalaman pendidikan di berbagai budaya yang berbeda, bahkan dapat

menilai penyelenggaraan pendidikan yang diselenggarakan olehnya. Mungkin

pertanyaan yang lahir dari landasan antropologis itu ialah; mungkinkah lahir teori

pendidikan yang landasannya murni dari budaya tertentu, atau budaya itu sendiri

telah terwarnai oleh keyakinan dan aqidah? Yang jelas pendidikan yang berada di
50

lingkungan fisik yang berbeda, tujuan pendidikannya mungkin sama, akan tetapi cara

mencapai tujuan itu berbeda-beda, prosedur berbeda, media ajar yang berbeda, bahan

ajar yang berbeda, evaluasinya pun berbeda pula (Natawidjaja et al., 2007).

Para ahli antropologi pendidikan seperti Theodore Brameld (1957) melihat

keterkaitan yang sangat erat antara pendidikan, masyarakat, dan kebudayaan. Antara

pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan sangat erat dalam arti keduanya

berkenaan dengan suatu hal yang sama, yaitu nilai-nilai. Pendidikan tidak terlepas

dari kebudayaan dan hanya dapat terlaksana dalam suatu masyarakat. Apabila

kebudayaan mempunyai tiga unsur penting, yaitu kebudayaan sebagai suatu tata

kehidupan (order), kebudayaan sebagai suatu proses, dan kebudayaan yang

mempunyai suatu visi tertentu (goals), maka pendidikan dalam rumusan tersebut

merupakan proses pembudayaan. Dengan demikian tidak ada suatu proses pendidikan

tanpa kebudayaan dan tanpa masyarakat, dan sebaliknya tidak ada suatu kebudayaan

dalam pengertian suatu proses tanpa pendidikan, dan proses kebudayaan dan

pendidikan hanya dapat terjadi di dalam hubungan antarmanusia dalam suatu

masyarakat tertentu. Dalam perkembangan kehidupan manusia, proses yang sangat

kompleks itu berjalan dengan semestinya apalagi dalam kehidupan modern. Bukan

tidak mustahil proses kebudayaan dan proses pendidikan berjalan sendiri-sendiri

bahkan kemungkinan saling bertabrakan satu sama lain.

Dalam kaitannya dengan kebudayaan, pendidikan merupakan suatu proses

pembudayaan dan peradaban. Tidak mungkin kita membangun suatu peradaban tanpa

budaya namun kita dapat mengembangkan budaya tanpa menuju ke modernisasi. Di


51

dalam dunia yang terbuka dewasa ini, proses pendidikan haruslah menggabungkan

kedua konsep tersebut yang membangun manusia yang berbudaya dan beradab.

Para ahli pendidikan dan antropologi sepakat bahwa budaya adalah dasar

terbentuknya kepribadian manusia. Dari budaya dapat terbentuk identitas seseorang,

identitas suatu masyarakat, dan identitas suatu bangsa. Dengan budaya itu pulalah

seseorang akan memasuki budaya global dalam dunia terbuka dewasa ini. Dengan

demikian, manusia modern ini sebenarnya hidup di dalam berbagai dunia yang

menyatu, yaitu dunia nyata yang realistik, dunia tanpa batas, dan dunia cyber yang

digerakkan oleh suatu kemajuan teknologi informasi (Hatimah & Sadri, 2007).

Masyarakat bertumbuh dan berkembang. Masyarakat memiliki dinamika. Di

samping itu, setiap masyarakat memiliki identitas tersendiri sesuai dengan

pengalaman kesejahteraan dan budayanya. Identitas yang dimiliki dan dinamika suatu

masyarakat tersebut secara langsung akan berpengaruh terhadap 1) tujuan dan

orientasi pendidikan, dan 2) proses pendidikan di persekolahan (Tim Dosen FIP-IKIP

Malang, 1988).

Pengaruh pertama, yaitu pengaruh masyarakat terhadap orientasi dan tujuan

pendidikan pada lembaga persekolahan. Hal ini dapat dimengerti karena sekolah

merupakan institusi yang dilahirkan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Ke mana

program pendidikan di persekolahan harus dibawa yang biasanya tercermin di dalam

kurikulum, di dalam kenyataannya selalu terjadi perubahan-perubahan di dalam suatu

jangka waktu tertentu. Perubahan-perubahan tersebut tidak dapat dielakkan, sebab

pertumbuhan dan perkembangan masyarakat memang memunculkan orientasi-


52

orientasi dan tujuan-tujuan baru. Munculnya orientasi dan tujuan-tujuan baru yang

berkembang di dalam masyarakat, hal tersebut ikut bergema di persekolahan baik

dilihat dari kacamata makro maupun mikro.

Pengaruh kedua, yaitu pengaruh masyarakat terhadap proses pendidikan di

persekolahan. Kenyataan sosial budaya masyarakat seperti feodal atau tidak,

demokratis atau tidak, modern atau tidak, kesemuanya berpengaruh terhadap proses

pendidikan yang berlangsung di sekolah. Sebab komponen-komponen manusiawi

yang terdapat di sekolah juga hidup dan diwarnai oleh nilai-nilai sosial budaya di

lingkungan masyarakatnya. Masyarakat sekolah bisa dikatakan sebagai miniatur dari

masyarakat yang lebih luas di lingkungannya.

Partisipasi masyarakat terhadap sekolah, apakah berwujud material atau

spiritual, juga jelas berpengaruh terhadap proses penyelenggaraan pendidikan.

Penyelenggaraan pendidikan tersebut melibatkan berbagai komponen, baik

manusiawi maupun non-manusiawi. Perubahan-perubahan yang ada di masyarakat

mempengaruhi pula materi pendidikan di sekolah, karena perubahan itu merupakan

salah satu sumber yang ada di masyarakat. Havighurst & Neugarten mengemukakan

bahwa sekolah haruslah dapat mengajar peserta didik untuk dapat menemukan,

mengembangkan, dan menggunakan sumber-sumber yang ada di masyarakat.

Perubahan-perubahan sosial telah menghasilkan perubahan sistem pendidikan dan

pada saat yang sama pendidik juga mengadakan kontrol dan mengarahkan perubahan

sosial (Tim Dosen FIP-IKIP Malang, 1988).


53

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil pada penulisan makalah ini adalah sebagai

berikut.

1. Antropologi dalam artian yang sangat tua berarti “ilmu tentang manusia”.

Antropologi adalah ilmu pengetahuan yang kajiannya mempelajari manusia dan

cara kehidupannya. Dinamika sistem nilai dalam berbagai bidang kehidupan yang

berlaku untuk kurun waktu yang cukup lama serta pengaruh lingkungan fisik

terhadap sistem dan perilaku manusianya, termasuk dalam objek telaah

Antropologi.

2. Aqidah merupakan asas atau fundasi ajaran dalam hal amal Islam. Agama berdiri

tegak di atas aqidah, sehingga agama tanpa aqidah bagaikan badan tanpa roh,

sedang budaya merupakan kreasi manusia yang mengembangkan sistem nilai

berdasarkan aqidah yang dianutnya.

3. Antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan sangat erat dalam arti

keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama, yaitu nilai-nilai. Pendidikan

tidak terlepas dari kebudayaan dan hanya dapat terlaksana dalam suatu

masyarakat. Apabila kebudayaan mempunyai tiga unsur penting, yaitu

kebudayaan sebagai suatu tata kehidupan (order), sebagai suatu proses, dan
54

mempunyai suatu visi tertentu (goals), maka pendidikan dalam rumusan tersebut

merupakan proses pembudayaan.

4. Antropologi memberikan kontribusi kepada Ilmu Pendidikan berupa hasil studi

tentang berbagai metode pendidikan di berbagai tempat. Para pendidik dapat

belajar dari pengalaman pendidikan di berbagai budaya yang berbeda, bahkan

dapat menilai penyelenggaraan pendidikan yang diselenggarakan olehnya.

B. Saran

Penyusun memberikan saran supaya makalah ini dapat dilengkapi pada

penulisan selanjutnya terutama pada contoh-contoh kontribusi variabel antropologi

pada praktik pembelajaran yang berhubungan langsung dengan guru dan peserta

didik. Akhir kata, penyusun berharap makalah ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan

keilmuan.
55

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, N. S. 1989. Pendidikan dan Masyarakat. Terjemahan oleh Syamsuddin.


Yogyakarta: CV Bina Usaha.

Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat


Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: Balai Pustaka.

Hatimah, I. & Sadri. 2007. Pembelajaran Berwawasan Kemasyaratan. Jakarta:


Penerbit Universitas Terbuka.

Koentjaraningrat. 1985. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Penerbit Aksara Baru.

Natawidjaja, R., Sukmadinata, N.S., Ibrahim, R., & Djohar, A. (Eds.), 2007. Rujukan
Filsafat, Teori, dan Praksis Ilmu Pendidikan. Bandung: Universitas
Pendidikan Indonesia Press.

Tim Dosen FIP-IKIP Malang. 1988. Pengantar Dasar-dasar Kependidikan.


Surabaya: Penerbit Usaha Nasional.