Anda di halaman 1dari 5

Rabu 10 Agustus 2017, 09:50 WIB

Celah Rawan Korupsi Dana Desa


Erwin Dariyanto – detikNews

Jakarta - Bagi Indonesia Corruption Watch (ICW) pengelolaan dana desa sejak awal
rawan dikorupsi. Ada beberapa titik yang menjadi peluang dana tersebut ditilep.
Meski dana desa langsung ditransfer ke rekening desa namun tidak otomatis menutup
peluang korupsi. Koordinator Divisi Investigasi Indonesia Corruption Watch (ICW),
Febri Hendri menyebut celah untuk menyelewengkannya masih bisa terjadi antara lain
dengan melibatkan pegawai pemerintah kabupaten. Sebab penggunaan dana desa itu
tetap memerlukan persetujuan dari kepala dinas.
"Dana Desa memang lansung ditransfer ke rekening desa, tapi (dana) bisa naik ke atas
lagi. Karena ada ketentuan bahwa penggunaan dana desa itu harus disetujui oleh dinas,"
kata Febri saat berbincang dengan detikcom, Selasa (8/9/2017).
Titik korupsi juga bisa terjadi saat dana desa digunakan misalnya untuk pembangunan
infrastruktur. Proyek bisa disetujui oleh kepala dinas bila aparat desa menyetor
sejumlah dana. Bisa juga terjadi kongkalikong agar dana desa dibelanjakan di toko
material tertentu. "Itu kan pemain (proyek) ya itu-itu saja, atau bisa juga kepala desa-
nya jadi pemborong proyek," tutur Febri.
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo
memastikan bahwa kasus-kasus penyelewengan dana desa semua akan diusut. Kasus
dengan nominal kecil misalnya Rp 10 juta atau Rp 50 juta bakal tetap ditindak meski
ongkos penanganannya bisa lebih besar. Tujuannya agar efek jera bisa muncul.
"Sudah ada arahan dari Presiden, setiap kasus harus ditangani," kata Eko.
Ketua Satuan Tugas Dana Desa, Bibit Samad Rianto mengatakan bahwa satgasnya
menerima banyak aduan ataupun informasi perihal penggunaan dana desa di daerah.
Bibit juga menyampaikan bahwa akan dibuka semacam pembinaan atau kelas-kelas
kecil untuk kepala desa atau calon kepala desa di daerah.
Tujuannya, untuk memastikan kepala desa atau calon kepala desa paham bagaimana
menggunakan dana desa yang tepat agar tidak berujung masalah di kemudian hari.
Selain itu, ada wacana untuk menggiatkan Badan Permusyawaratan Desa. Namun,
karena adanya sejumlah kasus pidana yang berkaitan dengan dana desa, ia meminta
penggunaan dan pengawasan dana desa untuk terus ditingkatkan, salah satunya untuk
penciptaan kerja
Bibit mengakui adanya potensi dan kekhawatiran terjadinya penyelewengan dana desa,
baik oleh pemerintah daerah maupun aparat desa. Untuk itu Satgas akan membuat
sebuah sistem dan aturan yang tidak memungkinkan terjadinya sebuah pelanggaran.
Relawan Organisasi Perberdayaan Desa Nusantara, Suryokoco Suryoputro meminta
masyarakat fair dalam menilai pengeloaan dana desa. Menurut dia dalam menggunakan
dana desa, aparat desa berpedoman pada APBDes (APB Desa) yang di situ jelas
disebutkan peruntukkannya.
Masyarakat, kata dia, juga bisa leluasa mengawasi penggunaan dana desa.
"Kalau dibilang rentan korupsi pengelolaan APBD dan APBN itu lebih rentan
dikorupsi ketimbang Dana Desa. Lagi pula pengawasan melekat masyarakat lebih
berfungsi di desa dari pada di kota," kata Suryo saat dihubungi detikcom, Selasa
(8/9/2017).
(erd/rvk)

Komentar :
Dana Desa adalah dana yang dialokasikan dalam APBN yang diperuntukan
bagi Desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan,
pelaksanaan pembangunan, pembinaan pemasyarakatan, dan pemberdayaan
masyarakat. (Pasal 1 Angka 23 UU Nomor 14 Tahun 2015 tentang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2016)
Penyelewengan penggunaan dana desa dilakukan oleh oknum kepala desa dan
parat desa. Salah satu penyebab penyelewengan dana desa di antaranya karena masih
kurangnya sosialisasi dan informasi kepada aparat desa. Tetapi ada juga
penyelewengan yang ditengarai dilakukan dengan sengaja.
Guna menekan angka penyelewengan penggunaan dana desa di masa
mendatang, Kementerian Desa Pembangunan Daerah dan Transmigrasi (PDTT) terus
memperkuat koordinasi, termasuk dengan KPK untuk menciptakan sistem kontrol
berupa aplikasi yang dapat digunakan oleh masyarakat desa. Sistem tersebut
memungkinkan warga desa menjadi gerbang awal dan utama untuk pengelolaan
anggaran tersebut.
Untuk mencegah terjadinya salah sasaran pengguanaan dana desa, seluruh
kepala dan aparat desa harus melakukan perencanaan penggunaan dana desa secara
matang dan melibatkan masyarakat desa, jangan sampai nantinya menimbulkan
masalah hukum. Masyarakat desa juga harus melaporkan jika pendamping desa tidak
melakukan tugas sesuai tupoksinya.
Untuk memastikan pengelolaan dana desa berjalan dengan baik, diperlukan
upaya pengawasan semua pihak yang tentunya harus didukung dengan keterbukaan
informasi, transpansi publik sangat penting dalam pengelolaan dana desa.
Keterbukaan informasi desa merupakan salah satu poin penting untuk
pembangun tata kelola pemerintahan desa yang baik, bermartabat dan mandiri. Oleh
karena itulah, sudah seharusnya sikap keterbukaan harus melekat setiap tugas pokok
pemerintahan desa.
Pengawasan yang dilakukan oleh Satgas Dana Desa belum maksimal. Pasalnya,
secara kewenangan dan kapasitasnya, Satgas Dana Desa tidak intens. Jika ingin
pengawasan dana desa dapat maksimal, pemerintah perlu menguatkan kewenangan
Satgas Dana Desa. Tiga Kementerian yang mengurus dana desa, yaitu Kemendagri,
Kemenkeu, dan Kemendes. Harusnya ada orang dari kementrian tersebut agar ada
sinkronisasi untuk mengawasi, optimalisasi, dan transparansi.
Masyarakat desa juga harus ikut serta dalam mengawasi penggunaan dana desa
supaya bermanfaat seutuhnya bagi pembangunan dan kepentingan masyarakat desa.
Seperti di desa tempat saya tinggal, ditempat-tempat yang banyak dilewati warga,
ditempel Rencana Anggaran Belanja (RAB). Jadi warga dapat melihat penggunaan
dana desa melalui RAB yang dipublikasikan aparat desa. Apabila takut, masyarakat
desa juga bisa melaporkan setiap indikasi penyelewengan dana desa kepada Satgas
Dana Desa pada call center 1500040.
Kepolisian juga ikut serta memantau penyaluran dana desa. Sudah ada MoU
antara Mendagri, Mendes, dan Kapolri. Nantinya, Babinkamtibmas di setiap desa akan
dijadikan ujung tombak dalam pengawasan tersebut. Kepolisian sifatnya bukan
mendampingi, tapi akan ikut mengawasi laju perputaran laju perputaran dana tersebut.
Karena disana biasanya ada peluang untuk disalahgunakan demi kepentingan oknum
tertentu. Babinkamtibmas juga harus bertugas untuk memberikan masukan-masukan
dan menjaring informasi dari masyarakat jika ada penyalahgunaan dana desa.
Pemberian sanksi bagi pemerintah desa yang terbukti menyelewengkan dana
desa saat ini masih dibahas oleh Kemendes PDTT. Pemberian sanksi bertujuan untuk
mencegah maraknya kasus penyelewengan dana desa. Karena penyelewengan dana
desa saat ini bukan hanya kurangnya sosialisasi atau kesalahan dalam pengelolaan, tapi
karena memang sengaja diselewengkan.
Mengenai modus penyelewengan dana desa, dapat kita lihat kasus di sampan
Madura, dana desa dipotong sekian dikasih ke kecamatan, dan lain-lain. Ada juga yang
buat belanja aparatur, seperti operasional dan pembangunan kantor. Ada juga kasus
anggaran dana desa yang diselewengkan menjelang momen pemilihan kepala daerah.
Penyelewengan cenderung dilakukan oleh calon kepala daerah petahana dengan cara
menahan pencairan dana desa. Bahkan sempat terjadi ketika pendamping dana desa
mendapat rekomendasi dari salah satu partai tertentu.
Program pemerintah Jokowi amat memperhatikan pembangunan desa di
seluruh Indonesia. Pemerintah pusat menaikkan anggaran dana desa. Pada tahun 2015
anggaran dana desa Rp. 20,68 triliun, atau setiap desa mendapat Rp. 300 juta, kemudian
di tahun selanjutnya naik Rp. 600 juta, dan di tahun ini pemerintah pusat
mengalokasikan dana desa sebesar Rp. 60 triliun atau setiap desa mendapat Rp. 800
juta.
Ada empat program yang diprioritaskan Kemendes PDTT dengan naiknya dana
desa tahun ini. Empat program itu adalah program produk unggulan desa dan kawasan
pedesaan, pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), program peningkatan
kapasitas pertanian melalui pembangunan sarana air, dan program pembangunan
sarana olahraga desa. Dan sekarang baru ada 14.777 BUMDes dari total 74.754 desa
di Indonesia.
Untuk mendorong percepatan pertumbuhan BUMDes, Kemendes PDTT telah
bekerja sama dengan Kementerian BUMN, dan perbankan BUMN bisa mendampingi
desa-desa yang kesulitan mendirikan BUMDes lantaran minim potensi. Seperti desa-
desa yang tandus, BUMDes bisa difokuskan pada pelayanan atau pengembangan sektor
industri rumahan, peternakan, dan lain-lain.
Penetapan prioritas penggunaan dana desa didasarkan pada prinsip swakelola
berbasis sumber daya desa yang mengutamakan pelaksanaan secara mandiri melalui
pendayagunaan sumber daya alam desa, mengutamakan tenaga, pikiran, dan
ketrampilan warga desa dan kearifan lokal.