Anda di halaman 1dari 18

CASE REPORT SESSION

SIDIK PERFUSI MIOKARD

Penyusun :

Rifqi Rosyadi 130112160615

Preseptor :

Dr. Budi Darmawan, dr., SpKN(K)

BAGIAN KEDOKTERAN NUKLIR


RSUP DR. HASAN SADIKIN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
PADJADJARAN BANDUNG
2016
Keterangan Umum
 Nama : Ny. E
 Umur : 60 tahun
 Alamat : Gg. Pusri
 Pekerjaan : IRT
 Suku bangsa : Sunda
 Tinggi/berat badan : 146cm/51 kg
 Tanggal pemeriksaan : 31 Oktober 2017

1. Anamnesis
 Keluhan Utama : Nyeri dada hilang timbul
Anamnesis Khusus :
Keluhan dirasakan sejak 1 tahun yang lalu. Pasien mengaku mudah lelah jika
berjalan jauh (+/- 2 KM). Pasien merasa dadanya nyeri menjalar sampai ke belakang
punggung apabila terlalu lelah, berkurang saat istirahat. Sesak(-)
Pasien datang ke bagian nuklir karena dirujuk untuk melakukan pemeriksaaan
jantung 1 minggu yang lalu.
Pasien memiliki riwayat kolesterol tinggi (-), hipertensi(+), serangan jantung
(-), riwayat DM (-),Riwayat Stroke (+), asma (+), OA (-), operasi jantung (-),
merokok (-), bengkak pada tungkai (-). Riwayat penyakit jantung dikeluarga (+)
Obat-obatan yang diminum pasien : Kendaron, Clopidogrel, Atarvastatin,
Trimetazidin, Nitrokaf.

2. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum
- Tampak baik (sehat)
- Kesadaran : kompos mentis
Tanda vital
- Tekanan darah : 170/90 mmHG
- Respirasi : 20x/menit, dalam
- Nadi : 104x/menit
- Suhu : afebris
- Tinggi/berat badan: 146cm/51 kg
Kepala :
- Konjungtiva tidak anemis
- Sklera tidak ikterik
Leher :
- JVP tidak meningkat
- Retraksi suprasternal (-)
Dada :
- Bentuk dan gerak simetris
- Paru : VBS : ki=ka , Rhonci -/- ,Wheeze : -/-
- Pulmo sonor
- Bunyi jantung S1, S2: normal S3, S4 : (-)

3. Diagnosa kerja
Angina Pectoris CCS ii
Hypertension stage 2

4. Usulan Pemeriksaan
 Foto rontgen thorax
 Laboratorium
 EKG
 Echocardiography
 Sidik Perfusi Miokard

Sidik Perfusi Miokard (Tahun 2017)


 Tanggal Pemeriksaan 31/10/2017
 Radiofarmaka : Tc-99m Tetrofosmin
 Dosis : 35 mCI
5. Prognosis
- Quo ad vitam : ad bonam
- Quo ad functionam : dubia ad bonam
- Quo ad sanationam : dubia ad bonam
SIDIK PERFUSI MIOKARD

Sidik perfusi miokard biasanya dilakukan untuk mendeteksi adanya iskemi


miokardium dan menentukan lokasi serta penyebarannya. Injeksi radiotracer
(radiofarmaka) selama pemberian beban dapat mendeteksi secara langsung penurunan
relatif aliran darah ke miokardium. Sidik perfusi miokard dapat dilakukan dengan
201 99m
Tl intravena atau Tc intravena. Beban yang diberikan dapat berupa treadmill
atau mengayuh sepeda, dengan monitoring kontinu terhadapt denyut jantung, EKG,
dan tekanan darah. Tracer diberikan pada puncak beban, kemudian pasien diminta
untuk melanjutkan latihan beban selama 1 menit agar tracer dapat terdeposit di
jaringan.

Indikasi
 Inisial diagnosis untuk CAD.
 Penilaian keparahan dan penyebaran dari CAD
 Penilaian terhadap pasien dengan sakit dada dalam pasien yang secara test
angiografi normal
 Penilaian fungsi ventrikel kiri

Keadaan Klinis untuk Indikasi Myocardial Perfusion Imaging


A. Untuk yang diketahui atau disuspek CAD
1. Untuk mendiagnosis perubahan secara fisiologi dari CAD ( keberadaan atau
keparahan)
2. Untuk menentukan prognosis (stratifikasi risiko berdasakan penyebaran dan
keparahan dari abnormalitas perfusi myokardial dan fungsi ventrikel kiri)
3. Membedakan penyebab dari nyeri dada akut yang disebabkan oleh koroner
atau non-koroner pada pasien di ruangan emergensi
B. Follow-Uppasien yang telah diketahui CAD
1. Evaluasi efek dini dan efek lanjutan dari Evaluate the immediate and long-
term effects of:
a. Prosedur revaskularisasi (seperticoronary artery bypass grafting, angioplasti,
pemasangan ring, penggunaanangiogenic growth factors,dll).
b. Terapi atau pengobatan medis, yang digunakan untuk mencegah iskemia
(seperti obat yang mengubah pasokan atau kebutuhan oksigen) atau obat untuk
memodifikasi lipid dan fitur plak arterosklerosis.
C. Untuk yang diketahui atau disuspek Congestive Heart Failure
1. Membedakan iskemik dengan cardiomiopati idiopatik
2. Membantu mengetahui keadaan myokardium yang viableuntuk
mempertimbangkan pemberian terapi revaskularisasi

A. RADIOFARMAKA
Radiofarmaka yang ideal untuk menilai perfusi miokardium harus dapat diserap
oleh miokardium dalam perbandingan linier terhadap jumlah aliran darah dan tidak
dipengaruhi oleh perubahan metabolisme seluler. Bahan tersebut harus mempunyai
daya ekstraksi tinggi dari darah pada aliran pertama melalui jantung, dan daya
ekstraksi tesebut tidak boleh bervariasi terhadap aliran darah. Bahan tersebut harus
stabil dalam miokardium selama periode penangkapan, namun kemudian cepat
dieliminasi sebelum dilakukan pemeriksaan kembali dalam kondisi yang berbeda.
Bahan tersebut tidak toksik, memiliki daya pelepasan foton yang tinggi terhadap sinar
gama agar dapat dideteksi dengan kamera gama standar (140 keV), efek radiasi
minimal terhadap pasien, persiapannya mudah, dan murah. Sayangnya, belum ada
satupun senyawa yang memenuhi semua syarat tersebut.

1) Thallium-201
Thallium adalah radionuklida yang paling sering digunakan untuk sidik perfusi
miokard. Thallium merupakan standar penilaian tracer lainnya. Waktu paruhnya 73
jam. Thallium dapat memberikan emisi foton gama, namun yang terutama adalah
berupa sinar X.
Dosis administrasi Thallium adalah 80-120 MBq intravena. Klirens Thallium
cepat dan memiliki daya ekstraksi tinggi pada aliran pertama jantung (sampai 80%).
Sekitar 60% transfer Thallium terjadi melalui transpor aktif Na-K ATPase, selebihnya
melalui difusi pasif berdasarkan gradient elektropotensial. Efisiensi ekstraksi
berkurang pada keadaan asidosis dan hipoksemia, namun efek ini tidak terlalu
signifikan sampai terjadi kematian sel. Setelah distribusi, Thallium tidak terus
menetap di miokardium, namun dilepaskan secara progresif. Thallium yang persisten
di miokardium sepanjang waktu menunjukkan proses dinamik dari penangkapan dan
pelepasan kontinu. Distribusi Thallium pada miokardium tidak sepenuhnya
proporsional terhadap aliran darah.

2) Technetium-labelled agents
Penggunaan radiofarmaka berlabel Technetium berkembang karena disadari
bahwa Thallium memiliki beberapa keterbatasan, yaitu (i) waktu paruh yang cukup
panjang, karakter pencitraan yang kurang, dan dosis tinggi, (ii) keterbatasan karena
redistribusi Thallium di mana pada penyakit akut yang membutuhkan pencitraan
segera setelah injeksi radiofarmaka dan sebelum intervensi seringkali terpengaruh,
(iii) keterbatasan dalam diagnosis defisit perfusi yang reversibel akibat redistribusi
Thallium yang kurang komplit, dan (iv) ketidakmampuan Thallium untuk memberikan
evaluasi simultan terhadap perfusi dan fungsi miokardium.
Beberapa radiofarmaka berlabel Technetium sekarang tersedia untuk
penggunaan klinis. Radiofarmaka tersebut dibagi menjadi 2 kelas, yaitu kation
lipofilik dan senyawa netral.
(a)Sestamibi
Klirens sestamibi dalam darah sangat cepat dengan waktu paruh beberapa menit, baik
dalam keadaan istirahat maupun latihan beban. Sestamibi berdifusi secara pasif
melalui membran kapiler. Permeabilitasnya lebih rendah daripada Thallium sehingga
ekstraksinya lebih lambat. Sestamibi berakumulasi di mitokondria, dimana
konsentrasinya mencapai 140 kali lebih tinggi daripada di darah. Bahan ini tetap
terperangkap dalam sel hidup, dengan sedikit pelepasan sekunder. Redistribusi
signifikan tidak terjadi dalam 3-4 jam, terutama karena aktivitas dalam darah menurun
sangat cepat dengan eliminasi melalui hati dan ginjal. Sestamibi tidak dimetabolisme.

(b) Tetrofosmin
Beberapa kompleks Technetium diphosphine telah ditemukan untuk pencitraan
miokard. Kompleks DMPE memiliki tangkapan jantung yang baik, namun tidak
memberikan hasil yang bagus untuk pencitraan karena tingginya tangkapan oleh hati
dan rendahnya klirens darah dan hati pada manusia. Kompleks difosfin seperti
tetrofosmin memberikan hasil lebih memuaskan. Senyawa ini cepat dibersihkan dari
darah. Distribusi ke miokard proporsional terhadap aliran darah, namun juga
terakumulasi ke organ tubuh lain (hati, lien, ginjal, dan otot skelet). Terdapat sedikit
redistribusi di miokard setelah 3 jam. Mekanisme uptake kemungkinan terjadi secara
difusi dengan gradien elektropotensial, sama dengan sestamibi. Ekskresi melalui
hepatobiliaris dan traktus urinarius.

B. Pencitraan
Obyektif dari sidik perfusi adalah menggunakan prosedur yang sederhana dan
cepat untuk mendeteksi, melokalisasi dan mengukur defek perfusi, serta menentukan
reversibilitasnya. Sebagian besar senter memilih protokol satu hari.
Pemeriksaan dengan thallium harus dimulai dengan latihan beban,
dikarenakan distribusi jaringan berubah dengan waktu, dan waktu paruh serta retensi
di miokardium cukup lama. Thallium diinjeksikan pada puncak beban, pencitraan
dimulai sesegera mungkin dan dilengkapi dalam waktu 30 menit untuk menghindari
redistribusi. Pencitraan yang diperoleh segera setelah injeksi menunjukkan perfusi
miokard selama stress, sedangkan pencitraan yang diperoleh beberapa jam kemudian
menunjukkan distribusi miokard yang masih bekerja.
Pada penggunaan radiofarmaka berlabel technetium, prosedur diagnostik juga
sebaiknya dimulai dengan latihan beban. Bila penyakit pada pasien diketahui, maka
pemeriksaan dimulai dari keadaan istirahat untuk mencegah efek superimposisi
latihan beban pada data istirahat. Penundaan pencitraan setelah injeksi harus
diminimalisasi.

C. Persiapan Latihan Beban dan Pemilihan Tipe Stres


Penggunaan obat-obatan kardioaktif harus dihentikan sebelum prosedur.
Bagaimanapun, untuk evaluasi fungsional pada pasien yang penyakitnya diketahui
dan pasien dengan kondisi tidak stabil, pemberhentian terapi tidak diindikasikan.
Pasien juga harus menghindari minuman atau obat yang mengandung kafein atau
derivat theophylline. Pada pasien dengan keterbatasan latihan fisik, dapat diberikan
dipyridamole atau adenosine sebagai substitusi latihan beban.

Kontraindikasi untuk tes latihan:


Unstable angina dengan riwayat angina dini (<48 jam) ataucongestive heart failure,
Akut myocardial infark (MI) yang terdokumentasi dalam 2–4 hari sebelum test,
hipertensi yang tidak terkontrol (sistolik>220 mmHg, diastolik>120 mmHg)
atauhipertensi pulmonal, aritmia yang dapat mengancam nyawa dan tidak,
uncompensated congestive heart failure, atrioventrikular blok parah (tanpa
pacemaker), akut myokarditis, akute perikarditis, mitral atau aortik stenosis yang
parah, kardiomiopati obstruktif yang parah , dan penyakit akut sistemik.

Kontraindikasi relatif untuk tes latihan:


Kondisi yang dapat mempengaruhi latihan, seperti keadaan neurologi, orthopaedi,
artritis, atau penyakit pulmonal yang parah atau penyakit vaskular perifer, atau
ketidakmampuan untuk mengikuti protokol latihan.

Kontraindikasi tes stress secara farmakologi :


Pasien yang memiliki riwayat bronkospasm yang parah, penyakit pulmonal (seperti
asma atau hipertensi pulmonal), pernah diintubasi karena penyakit pulmonal yang
parah, hipotensi sistemik (<90 mmHg), penyakit mitral yang parah, atau memiliki
hipersensitif terhadap dipiridamol atau adenosin.

Injeksi diberikan pada puncak beban. Pasien harus melanjutkan latihan beban
1-2 menit setelah injeksi untuk memberikan kesempatan tangkapan radiofarmaka oleh
miokard sebelum regresi akibat perubahan patologi sehubungan dengan latihan beban.
Penghentian latihan beban hanya dilakukan pada pasien dengan beban yang sudah
maksimal, angina atau gejala klinis lain seperti aritmia, nafas yang memendek, atau
hipotensi.
Dipyridamole diberikan intravena dengan dosis 0,56 mg/kgBB selama 4
menit. Terkadang dosis lebih tinggi diperlukan. Pemeriksaan dapat pula dilakukan
dengan kombinasi pemberian dipyridamole dan latihan beban untuk meningkatkan
sensitivitas, menurunkan efek samping obat, dan mempertahankan gradien aliran
setelah latihan beban dihentikan. Injeksi radiofarmaka harus diberikan minimal 2
menit setelah infus dipyridamole berhenti.
Adenosine memiliki efek serupa dengan dipyridamole, tetapi kerja dan efek
sampingnya lebih mudah dikontrol karena waktu paruh plasmanya kurang dari 10
detik. Diberikan melalui infus selama 6 menit dengan dosis 140 ug/kgBB/menit dan
injeksi radiofarmaka setelah 4 menit.

UJI BEBAN DENGAN ERGOCYCLE


(Ergocycle stress test)
Latihan beban fisik (physical stress) menggunakan ergocycle dimaksudkan
untuk melihat perbedaan aliran darah pada keadaan istirahat (tanpa beban) dengan
beban fisik. Beban fisik akan menyebabkan kebutuhan oksigen/metabolisme
miokardium meningkat; respon suplai darah terhadap kebutuhan yang meningkat
tersebut tergantung pada patensi pembuluh darah koroner. Pada keadaan istirahat
tanpa beban, suplai atau perfusi darah ke miokardium cukup untuk memenuhi
kebutuhan metabolik normal maupun bila ada peningkatan. Sebaliknya, bila ada
stenosis maka suplai darah tidak akan mencukupi dan perfusi miokardium pada
bagian terkena akan terganggu, yang pada pencitraan akan tampak sebagai defek
perfusi.

Peralatan
 Ergocycle
 Monitor EKG
 Tensimeter
 Three way connector dan wing needle
 Spuit 10 cc dengan bilasan heparin
Alat dan obat – obat (untuk keadaan darurat) :
 Defribrilator
 Cedocard
 Adrenalin
 Oksigen

Tatalaksana
 Pasang elektroda 12 lead EKG pada tempatnya;
 Pasang wing needle di vena mediana kubiti kanan dengan three way connector
yang salah satunya dihubungkan dengan semprit yang telah diablasi heparin
dan berisi NaCl faali;
 Pada lengan kiri atas dipasang kuf tekanan darah;
 Segera sebelum latihan dimulai dibuat rekaman EKG;
 Pasien melaksanakan latihan fisik dengan ergocycle menggunakan protokol
sebagai berikut :
- beban : awal 25 watt, dinaikan 25 watt setiap 3 menit; dengan beban
pemulihan 10 watt;
- kecepatan putaran : > 80 rpm;
- tekanan darah dan denyut jantung dipantau selama latihan fisik berlangsung;
- latihan fisik dihentikan bila :
- telah tercapai beban maksimal berdasarkan denyut jantung
maksimum yaitu 220 – umur (dalam tahun),atau setidak-tidaknya
85% dari denyut jantung maksimal tersebut
- adanya keluhan nyeri dada, sesak nafas, hipotensi, atau perubahan
yang signifikan pada rekaman EKG (aritmia, perubahan gelombang
T);
- pasien kelelahan/tidak sanggup lagi meneruskan latihan (bila
dihentikan sebelum mencapai beban puncak, dicatat pada stage atau
menit keberapa, berapa % dari denyut jantung maksimum, dan apa
alasanya).

UJI BEBAN FARMAKOLOGIK


(Pharmacological stress test)

Uji beban farmakologik dilakukan bila pasien tidak dapat melakukan latihan
fisik seperti misalnya keadaan umum kurang baik, atau terdapat proses degeneratif
pada tungkai bawah. Obat yang digunakan uji ini adalah dipiridamol (Persantrin),
dobutamin, dan adenosine.
Dipiridamol merupakan suatu vasodilator yang poten; mekanismenya melalui
peningkatan kadar adenosine dalam darah. Pemberian dipiridamol pada pasien dengan
penyakit jantung koroner akan meningkatkan 2 sampai 3 kali lebih banyak aliran
darah dipembuluh darah koroner normal,tetapi tidak disertai dengan peningkatan
aliran darah di pembuluh darah yang stenotik yang telah terdilatasi secara maksimal;
fenomena ini disebut steal phenomenon.
Dobutamin suatu agonis adrenergik, memberikan efek sama dengan latihan
fisik; dubotamin secara tidak langsung menilai cadangan aliran darah menyebabkan
peningkatan komsumsi oksigen miokardium (efek kronotropik dan inotropik).
Pemberian dobutamin akan merangsang terjadinya iskemia pada daerah yang sakit
dan akan tampak sebagai defek perfusi pada pencitraan.
Oleh karena pemberian dipiridamol akan menyebabkan peningkatan adenosine
dalam darah yang dapat memprovokasi bronkospasme, maka uji beban farmakologik
dengan dipiridamol tidak boleh dilakukan pada pasien dengan kegagalan respirasi,
penyakit paru obstruktif menahun (PPOM) dan asma akut.

Obat-obatan dan alat


 Dipiridamol 4 ampul (10 mg/ampul); bila tidak tersedia injeksi diganti dengan
4 tablet dipiridamol @ 75 mg
 Injeksi Dobutamin
 Injeksi Adenosin
 Obat yang harus disediakan sebagai antidotum efek samping dipiridamol: Sol.
Aminofilin 2.4%.
 Obat dan lain yang juga harus disediakn tablet nitrogliserin (cedocard). Dan
alat-alat resusitasi.

Persiapan
- Penderita puasa paling kurang 6 jam sebelum dilakukan uji beban.
- Obat teofilin dihentikan 36-48 jam sebelumnya;
- Dilarang minum-minuman yang mengandung kafein (kopi, teh, minuman
ringan, cokelat) selama 24 – 36 jam sebelumnya.

Tatalaksana
 Dipiridamol 4 ampul (10 mg/ampul), diencerkan paling kurang 1:2 dalam Lar.
Nacl 0.45% atau 0.9% atau Lar. Dextrose 5% sampai volume menjadi 20
sampai 50 ml. (agar mudah mengontrol kecepatan infus dan mencegah iritasi
lokal; dosis dipiridamol adalah 0.142 mg/kgBB/menit diberikan selama 4
menit sampai dosis total 0.57 mg/kgBB, dosis maksimum 60 mg. ;
radiofarmaka disuntikkan 7 – 9 menit setelah penyuntikkan dipiridamol;
 Bila yang digunakan tablet dipiridamol : tablet dipiridamol 300 mg digerus
dan dicampur dengan sirup, lalu diminum sampai habis; 45 menit kemudian
pasien disuruh jalan ditempat selama 90 detik, baru setelah itu disuntikkan
radiofarmaka intra vena; bila pasien mengeluh nyeri dada atau sesak sebelum
45 menit, maka radiofarmaka disuntik pada saat gejala itu muncul;
 Adenosine diberikan melalui pompa infus dengan dosis 140 mg/kgBB selama
6 menit;
 Protokol pencitraan seperti pada protokol studi perfusi miokardium dengan
99m
Tc-sestamibi/tetrofosmin atau ²º¹TI ;
 Tekanan darah dan denyut nadi serta EKG dipantau sebelum pengujian
dilaksanakan, kemudian setiap menit selama paling kurang 10 menit bila
dipiridamol disuntikan atau tiap 5 menit selama 45 menit bila diberikan per
oral.

Catatan
 Efek samping yang mungkin timbul akibat pemberian dipiridamol biasanya
ringan dan tidak berlangsung lama,yaitu :
o efek samping non kardiak : mual, muntah, nyeri kepala, pusing, muka
merah.
o Efek samping kardiak : angina, depresi segmen ST, aritmia ventrikuler.
Angina dapat diatasi dengan pemberian aminofilin intra vena, bila
setelah pemberian aminofilin sampai 200 mg tidak menolong dapat
diberikan nitrogliserin sublingual.
 Penangkapan radioaktivitas oleh miokard, hati dan limpa lebih tinggi pada
penggunaan dipiridamol dibandingkan dengan beban fisik.
Sensitivitas sidik perfusi miokard dengan beban farmakologik adalah
93% dengan spesifisitas 80%.

D. SPECT (single-photon emission computes tomography) acquisition


SPECT ditampilkan dalam proyeksi 1800 (dari oblik posterior kiri ke oblik
anterior kanan). Pada SPECT ini, minimal harus dikumpulkan30 proyeksi; 30-40
detik per proyeksi. Total waktu yang dibutuhkan bervariasi 10-30 menit, tergantung
tipe kamera yang digunakan.
Rekonstruksi imej ditampilkan dari set proyeksi dua-dimensi untuk memberikan
data representative tiga-dimensi.
Pada penggambaran SPECT, jantung dibagi menjadi 3 bidang :
1. Axis horizontal, axis yang memanjang secara pararel dari base sampai apex
jantung. Dimulai dari bagian inferior jantung dan berjalan kebagian superior.
2. Axis vertikal, yang tegak lurus dengan axis horizontal. Dimulai dari lateral
ventrikel kiri dan menuju medial ke septum.
3. Axis pendek yang tegak lurus dengan kedua aksis panjang. Dimulai dari base
jantung dan menuju ke mid plane sampai ke apex.

Sidik Perfusi Miokardial dengan Tc-99m (Tc-99m Myocardial Perfusion


Scintigraphy)
Perfusi miokardium tergantung pada keutuhan suplai darah melalui arteri
koronaria. Bila diberikan beban fisik, kebutuhan metabolik berikut perfusi
miokardium akan meningkat dibandingkan dengan pada keadaan istirahat/tanpa
beban. Bila beban fisik diberikan pada pasien dengan penyempitan pembuluh darah
jantung koroner, maka suplai darah ke miokardium regional tidak akan cukup untuk
memenuhi peningkatan kebutuhan metabolik.
Dasar dari sidik perfusi miokardial adalah penilaian distribusi radiofarmaka
bertanda Tc-99m seperti Tc-99m-sestamibi atau Tc-99m-tetrofosmin; penangkapan
kedua radiofarmaka tersebut oleh miokardium dipengaruhi oleh aliran darah koroner
yang mensuplainya. Sestamibi dan tetrofosmin merupakan dua senyawa kimia yang
akan berikatan dengan protein intraseluler miokardium, sehingga proses redistribusi
dan washout di dalam miokardium tersebut sangat minim (berbeda dengan Tl-121).
Mitokondria dan sarkolemma mempunyai peranan sangat penting dalam proses
penangkapan rasioaktivitas oleh miokardium.
Pada pasien yang tidak dapat melakukan latihan beban fisik, misalnya karena
kurang latihan atau proses degeneratif pada tungkai, maka sebagai gantinya dapat
diberikan beban farmakologik.
Pemeriksaan dilakukan dalam 2 tahap dengan protocol satu hari. Yang
pertama dilakukan adalah pencitraan dengan beban, diikuti 4 jam kemudian dengan
pencitraan pada saat istirahat.

A. Radiofarmaka
1. Tc-99m-sestamibi
2. Tc-99m-tetrofosmin

Dosis radiofarmaka pada puncak beban adalah 8 mCi, dan saat istirahat adalah 15
mCi; disuntikkan intravena melalui three-way connector dan wing needle.

B. Persiapan
Obat-obatan golongan penyekat beta dihentikan 25-48 jam sebelum
pemeriksaan.
Dianjurkan menggunakan pakaian olah raga.

C. Tatalaksana
 Posisi pasien telentang dengan kedua lengan ditempatkan di atas kepala.
 Kedua detektor ditempatkan sedemikian rupa sehingga membentuk sudut 900,
sedekat mungkin dengan dinding toraks dan jantung berada pada bagian
tengah lapang pandang detector.
 Penderita menjalani latihan fisik menggunakan ergocycle atau dengan beban
farmakologik.
 Radiofarmaka disuntikkan pada puncak beban dan latihan fisik dipertahankan
sampai 1-2 menit kemudian; diupayakan agar pasien dapat mencapai
sekurangnya 85% dari beban sasaran yang dapat diberikan sesuai dengan
umurnya.
 Beban fisik dihentikan bila pasien sudah mencapai paling kurang 85% dari
beban sasaran, atau bila pasien mengeluh nyeri dada, pusing, keringat dingin,
atau tidak sanggup lagi (kelelahan).
 Pencitraan dilakukan segera setelah latihan fisik selesai.
 Empat jam setelah latihan fisik, dilakukan pencitraan pada waktu istirahat.
Satu jam sebelum pencitraan, pasien minum segelas susu dan 10 menit
sebelum pencitraan disuntik dengan Tc-99m-sestamibi, dosis 10-15 mCi.
 Akuisisi data
 Waktu : latihan fisik dan pencitraan lebih kurang 1 jam dan pencitraan saat
istirahat ½ jam, jangka waktu antara pencitraan setelah beban dan istirahat
sekitar 3-4 jam.

D. Penilaian
Dalam keadaan normal, distribusi radioaktivitas pada miokardium merata.
Penilaian sidik perfusi miokard diarahkan untuk mencari daerah dengan penangkapan
radioaktivitas kurang (defek perfusi) pada citra dengan beban dan istirahat. Defek
perfusi yang menetap/ireversibel (matching defect) disebabkan adanya proses nekrosis
atau jaringan parut pada miokardium. Sedangkan jika ditemukan mismatch defect,
yaitu defek perfusi pada pencitraan dengan beban dan normal atau menjadi lebih baik
pada pencitraan saat istirahat menunjukkan adanya iskemi miokard yang reversibel.
Mismatch defect yang terbalik (reverse redistribution) yaitu penangkapan
radioaktivitas dengan beban lebih baik dibandingkan dengan saat istirahat dapat
disebabkan oleh penyakit jantung koroner yang berat disertai dengan kolateralisasi
yang baik.

Contoh :
Normal Myocardial Perfusions Scan Ischemia at inferior and infarct at apex

Variable SPECT Treadmill

Availability ++ ++++

Cost ++++ +

Familiarity ++ ++++

Accuracy +++ +

Localization ++++ +

Extent of disease ++++ +

Viable myocardium ++++ +

Left ventricular function ++++ +


Risk assessment ++++ +

Daftar Pustaka

1. Rigo, P.,Benoit, T. Myocardial Ischaemia. In ; Maisey, M.N., Britton, K.E.,


Collier, B.D. Clinical Nuclear Medicine, 3rd edn. London : Chapman & Hall,
1998.

2. Masjhur, J.S., Kartamihardja, A.H.S. Buku Pedoman Tatalaksana Diagnostik dan


Terapi Kedokteran Nuklir. Bandung : Bagian ilmu Kedokteran Nuklir Fakultas
Kedokteran Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin, 1999.

3. Rilantono, L.ismudiati , dkk. Buku Ajar Kardiologi. Jakarta : FKUI , 2004

Anda mungkin juga menyukai