Anda di halaman 1dari 106

BAB I

POLITIK ISLAM DALAM MASYARAKAT MADANI


A. Konsepsi dan Urgensi dalam Perspektif Islam
1. Konsepsi Politik Islam dalam Perspektif Islam
Pemikiran barat memang mendominasi dunia politik, terutama setelah perjanjian
westphalia (1648). Perjanjian ini membahas tentang konsep negara modern
dengan konsep nation state. Maksudnya bahwa setiap negara baru akan diakui
eksistensinya apabila memenuhi beberapa syarat dasar negara, yaitu:
 Wilayah
 Penduduk
 pemerintah yang berdaulat
 pengakuan negara lain
Konsep ini sebenarnya juga diterima dan sama dengan islam dalam syarat
negara. Hanya saja dalam pengertian yang lebih spesifik, muncul beberapa
persoalan yang sangat membedakannya dengan islam. Beberapa perbedaan
tersebut secara mendasar, paling tidak terletak pada hal:
- Loyalitas masyarakat kepada negara
- Keyakinan bahwa raja mempunyai hak sendiri dan tuhan juga mempunyai hak
yang lain
- Mereka lebih berprinsip untuk menikmati hidup di dunia
- Yang paling penting dalam politik adalah bahwa kita eksist.

Cara berpikir seperti ini sangat terpengaruh oleh warna pemikiran yunani kuno
dan di era sekarang terlihat jelas dengan thesisnya Huntington yang
mempertentangkan antara Islam dan Barat sebagai benturan peradaban.
Sejarah Politik Islam
Adapun sejarah politik Islam tidak bisa dipisahkan dari beberapa kejadian pada
masa Rasulullah. Beberapa hal yang dilakukan rasulullah misalnya, terutama
setelah hijrah ke Madinah.
- Meminta pendapat beberapa sahabat
- Siap menghukum fatimah jika mencuri
- Beberapa hadits tentang kepemimpinan dan pentingnya menjadi pemimpin
yang adil
- Sistem administrasi yang rapi yang dibangun
Konsep politik ini kemudian dipertegas kembali pada masa pemerintahan
khulafaurrashidin. Hanya saja islam pada masa ini diwarnai oleh pergantian
kepemimpinan, terutama di masa-masa akhir yang diwarnai oleh pertumpahan
darah. Masing-masing masa pergantian mempunyai kharakternya masing-
masing.

Baru kemudian Islam memasuki masa kekhalifahan yang tidak lagi terpusat di
Madinah, melainkan berpindah ke Damaskus (Umayyah), Baghdad (Abbasiyah),
dan Turky (Turky Ustmani). Masing-masing kekhalifahan mempunyai karakter
politik yang khas pada zamanya. Dan pada masa Turky Ustmani dikenal sebagai
keruntuhan kekhalifahan Islam.
Politik Dalam Islam
Sebagai agama yang sempurna, islam mengatur semua asfek kehidupan
manusia, mulai urusan sederhana seperti adab makan, tidur, ke kamar mandi dan
seterusnya, sampai urusan keumatan, bertetangga, bermasyarakat, dan
bernegara.
Sayangnya, selama ini banyak yang memahami islam dalam pengertian sangat
sempit, yaitu sebatas ritual ibadah saja. Seorang yang rajin sholat ke masjid,
mengerjakan puasa dan membayar zakat, atau mungkin dipanggil pak haji
dengan jenggot yang panjang dan berpakaian sorban, maka dinilai sebagai orang
yang sempurna keislamannya. Islam tidak dimaknai dalam pengertian yang lebih
luas. Seakan mereka yang berada di kelompok ini meyakini bahwa dengan cara
inilah salah satu jalan untuk masuk sorga. Mereka menganggap urusan selain itu
adalah masalah duniawi, yang seakan tidak perlu terlalu diperhatikan.
Akibatnya, islam dinilai sebagai agama yang tidak mampu mengikuti
perkembangan jaman. Umat islam dikesankan dengan kelompok orang yang
tradisional, bersarung, kotor, tidak berpendidikan, kasar, dan sekian banyak
image tidak baik lainnya.
Sebaliknya, menghadapi kondisi tersebut, sebagian umat islam justru secara
membabi buta mengadopsi semua ajaran bahkan nilai yang berasal dari luar.
Mereka begitu bangga dengan kemajuan dunia barat. Dan mereka menilai
bahwa memang sudah saatnya bagi islam untuk menyesuaikan diri dengan
perkembangan zaman. Biasanya kelompok inilah yang dikenal sebagai kaum
liberalis.
Kedua sikap ekstrim tersebut tentu tidak menguntungkan. Dalam konsep politik,
kelompok pertama menilai bahwa semua cukup hanya dengan Alqur’an dan
Sunnah. Tentu umat islam setuju. Namun, penjelasan yang tidak rinci menjadi
persoalan tersendiri. Bagaimana umat islam diminta untuk memahami Alqur’an
dan Sunnah, dan bagaimana pula mereka bisa bersikap kritis terhadap sejarah
masa lalu pemerintahan islam.
Maksudnya bahwa kemunculan islamophobia yang berkembang di dunia barat,
sangat mungkin karena kesalahan dalam menafsirkan sejarah. Oleh karena itu,
upaya meluruskan sejarah perlu dilakukan. Dan umat islam, jika ternyata
memang ada kesalahan sejarah harus berani mengakui dengan jujur. Tidak perlu
ada yang ditakutkan. Bukankah kesalahan sejarah tidak berarti kesalahan ajaran.
Hal ini justru menjadi kritik bagaimana pemahaman umat islam terhadap agama
mereka yang masih sangat lemah.
Demikian juga sikap kelompok liberal. Pluralisme, demokrasi, hak asasi
manusia, senantiasa menjadi senjata dan menyamakannya secara persis dengan
nilai-nilai islam. Tentu hal ini membahayakan. Pemahaman yang salah dan tidak
komprehensif sangat menyesatkan. Apalagi dengan melepaskan sama sekali
simbol-simbol keagamaan dan syariat yang jelas.
Perdebatan ini akan berlangsung terus tanpa mau kembali melihat sejarah. Yakni
tidak memulai perdebatan dalam konteks isu kekinian, melainkan berusaha
memahami dalil-dalil qoth’i tentang politik dari Alqur’an dan Sunnah. Dan
kemudian berusaha melihat sejarah bagaimana Rasulullah dan generasi
terdahulu memahami tafsir dalil-dalil tersebut. Asumsi dan keyakinan yang
perlu ditumbuhkan adalah bahwa merekalah orang yang paling memahami
islam. Perumpamaan dengan permainan pesan berantai merupakan contoh
serupa. Yang terakhir menerima pesan, sangat mungkin berbeda dalam
menangkap pesan yang disampaikan orang pertama.
2. Urgensi Politik Islam dalam Perspektif Islam
Langkah awal memahami sejauh mana urgensi pembahasan politik Islam adalah
dengan membuka kembali lembaran sejarah politik negara kita dan negara-
negara muslim lainnya. Sebagaimana maklum, sepanjang sejarah manusia,
sebagian dari rezim diktator, kaum arogan, dan pemburu-pemburu kekuasaan
merupakan sumber segala finah dan propaganda di dunia ini, yang kemudian
melahirkan penderitaan, kelaparan, dan kemiskinan di berbagai negara.
Kekejaman dan penindasan ini terus merajalela di dunia modern dengan kemasan
demokrasi dan pemberantasan terorisme dan ironisnya, lembaga hak asasi
manusia dan lembaga-lembaga internasional lainnya hanya diam dan tidak
memberikan reaksi sama sekali terhadap peristiwa-peristiwa tersebut.
Pasca runtuhnya kekuatan gereja di Eropa, tidak pernah terbersit lagi dalam
pikiran orang bahwa agama akan memainkan peran kembali dalam percaturan
politik dunia, hingga munculnya gerakan revolusi Islam di Iran dan Timur
Tengah pada abad 13 H yang dikawal ulama besar Imam Khomeini Ra. Awalnya
mereka memprediksi bahwa model gerakan Revolusi Islam Iran sama saja
dengan gerakan parsial yang muncul di negara-negara Islam lainnya. Tapi
prediksi itu sirna sejalan dengan keberhasilan revolusi Islam Iran, kendatipun
revolusi ini tidak didukung dan bersandar pada dua kekuatan dunia, yakni
sosialisme dan kapitalisme. Bahkan revolusi Islam Iran lahir dengan warna dan
corak berbeda dengan semua revolusi yang pernah terjadi. Negara-negara arogan
tidak pernah rela dan membiarkan begitu saja kemenangan revolusi Islam Iran,
mereka berusaha semaksimal mungkin untuk meruntuhkan pondasi sistem
pemerintahan Islam Iran yang berasaskan agama dalam bingkai Wilayatul Faqih.
Dalam mewujudkan ambisinya, mereka telah melakukan berbagai tekanan baik
internal maupun ekternal. Beberapa tekanan esternal musuh terhadap Iran adalah
embargo ekonomi dan menciptakan perang saudara antara Iran dan Irak selama
8 tahun. Tetapi semua bentuk tekanan-tekanan eksternal tersebut tidak mampu
mematikan spririt masyarakat Iran untuk terus mengayomi dan mempertahankan
revolusi dan sistem pemerintahan Wilayatul Faqih. Di samping itu, secara
internal mereka berusaha meracuni masyarakat Iran melalui jalur budaya dengan
idiom-idiom kebebasan, mereka meyerbu iran dengan berbagai budaya yang
tidak lagi mengenal batas-batas normatif agama, tapi semua itu, tidak mampu
memudarkan dan mengubah keyakinan dan akidah masyarakat iran.
Musuh-musuh Islam tidak pernah putus asa untuk menekan pemerintahan Islam
Iran yang dari hari ke hari menjelma menjadi kekuatan baru di dunia
Internasional dan Timur Tengah khususnya. Untuk itu, agenda selanjutnya,
mereka mendesain sebuah gerakan budaya, dan sasaran utama adalah pemuda
yang nantinya akan memegang serta melanjutkan tonggak pemerintahan ke
depan. Dalam analisis mereka, sebagian besar pemuda sekarang, tidak punya
andil dalam kemenangan revolusi sehingga tidak memiliki kedekatan emosional
terhadap nilai dan spirit revolusi. Bentuk riil kegiatan mereka adalah membentuk
lembaga-lembaga budaya dan lembaga-lembaga pendidikan.
Dengan program ini, lahirlah kader-kader intelektual muda yang kemudian
mempunyai posisi penting di tengah masyarakat. Kaum intelektual inilah yang
akan memainkan peran dalam meracuni dan merusak pemikiran serta keyakinan
masyarakat, hingga dengan sendirinya masyarakat tidak lagi alergi dengan
wacana-wacana demokrasi (barat) dan liberalisme. Ada tiga agenda besar yang
dikawal dalam menghancurkan konsep pemerintahan Islam yang berbentuk
Wilayatul Faqih di Iran:
 Meyebarkan Paham Sekularisme
Propaganda awal mereka adalah menyebarkan dan menanamkan paham
sekularisme di tengah masyarakat melalui lembaga media, makalah dan
buku-buku. Sebelumnya, paham ini telah tumbuh dan eksis di Turki,
Maroko, dan negara-negara Eropa. Sebenarnya konsep pemisahan politik
dan agama pernah menjadi wacana dalam sistem pemerintahan Iran; salah
seorang yang memilki andil dalam kemenangan revolusi dan kemudian
memiliki jabatan strategis memilki sikap politik seperti di atas. Melalui
ceramah, makalah, dan buku ia mendakwahkan konsep tersebut. Untuk
melegitimasi konsep tersebut ia menjadikan Negara maroko sebagai contoh
riil negara yang berhasil menerapkan konsep sekularisme.
Kenyataannya konsep di atas tidak mampu mempengaruhi pikiran dan
keyakinan masyarakat, khususnya pelaku-pelaku revolusi yang memiliki
jiwa besar dan tumbuh dalam berbagai kesulitan dan telah menyumbangkan
harta, jiwa, dan raganya demi berdirinya pemerintahan Islam dalam bentuk
wilayatul faqih ini. Dan yang terpenting, sampai detik ini suara pernyataan
malakuti imam Khomeni Ra masih terdengar jelas di telinga masyarakat,
yakni agama adalah pondasi politik.
 Menolak Konsep Wilayatul Faqih
Agenda kedua gerakan mereka sedikit mengikuti ritme keyakinan dan akidah
kita dalam bentuk meyamakan perspektif, yakni agama diberikan ruang
dalam ranah politik dan sistem pemerintahan. Para pelaku politik harus
menjungjung tinggi norma agama dalam menjalankan tanggung jawabnya.
Tapi, tidak bermakna bahwa sistem pemerintahan agama harus berbentuk
wilayatul faqih. Sistem pemerintahan boleh saja dikawal dan dijalankan
orang yang tidak memilki dedikasi kefaqihan. Cukuplah hukum-hukum dan
kebijakan Negara disaring dan disesuaikan dengan agama, takkala undang-
undang tidak kontradiksi dengan agama maka itulah undang-undang sistem
pemerintahan agama, karena semua undang-undang dan kebijakan telah
terlegitimasi atas nama agama.
Ketika mereka gagal memaksa masyarakat untuk menerima sekularisme,
mereka sepakat bahwa sistem pemerintahan agama boleh saja diterapakan
tapi dengan syarat pemimpin tidak harus faqih, dan masalah kepemimpinan
diserahkan secara totalitas kepada masyarakat. Masyarakatlah yang
menentukan dan memilih personifikasi ideal untuk menjadi pemimpin.
Untuk memaksimalkan agenda ini, mereka telah mengadakan berbagai
seminar ilmiah dan menulis buku-buku yang berkaitan dengan tema di atas.
Pemikiran ini bisa sangat berbahaya bagi masyarakat, khususnya pemuda
yang dangkal pengetahuannya akan hukum-hukum agama dan belum akrab
dengan sumber-sumber fikih yang menjadi landasan konsep wilayatul faqih.
Tapi sebuah kesyukuran, semakin besar propaganda musuh Islam terhadap
konsep wilayatul faqih, wilayatul faqih tetap eksis dan makin kuat
pondasinya di jantung masyarakat.
 Pembaharuan Konsep Wilayatul Faqih
Setelah dua konsep di atas gagal untuk mengubah komitmen dan akidah
masyarakat terhadap konsep wilayatul faqih maka agenda ketiga mereka
adalah mewacanakan bahwa konsep wilayatul faqih bukanlah hukum
mutlak, bukanlah hukum yang bebas dari kesalahan dan kekurangan. Untuk
keeksisannya dengan akselerasi perkembangan zaman butuh revisi dan
intrepetasi baru. Dalam artian, sebab konsep wilayatul faqih bertentangan
dengan pondasi demokrasi dan liberalisme maka ia harus diharmoniskan dan
disesuaikan dengan konsep tersebut.
Kesimpulannya, ketiga program di atas terus disuarakan dari generasi ke
generasi, dari zaman ke zaman, hingga ke depannya baik dalam jangka
pendek maupun jangka panjang konsep wilayatul faqih akan ditinggalkan
masyarakat. Oleh karena itu, jika langkah-langkah antisipasi tidak
diagendakan secara rapi dan sistimatis dan khususnya jika spirit revolusi dan
semangat keilmuan tidak ditanamkan dalam jiwa-jiwa kaum muda maka
tidak tertutup kemungkinan mereka akan tercemari dari salah satu agenda
musuh di atas, dimanapun mereka berada, dilapisan masyarakat manapun ia
beraktifitas serta apapun status sosialnya di tengah masyarakat. Dengan
begitu mereka bisa menjadi budak dan akan memberikan andil pada Negara-
negara arogan untuk menwujudkan libido hegemoni dan imprealisnya
diberbagai belahan negara, khususnya dunia Islam.
B. Piagam Madinah Ruh Masyarakat Madani
Seruan agama tauhid merubah wajah masyarakat jahiliyah menuju ke tatanan
masyarakat yang harmonis, dinamis, di bawah bimbingan wahyu. Kemudian, hijrah
Rasulullah ke Madinah adalah suatu momentum bagi kecemerlangan Islam di saat-
saat selanjutnya. Dalam waktu yang relatif singkat Rasulullah telah berhasil membina
jalinan persaudaraan antara kaum Muhajirin sebagai imigran-imigran Mekkah
dengan kaum Ansar, penduduk asli Madinah. Beliau mendirikan Masjid, membuat
perjanjian kerjasama dengan non muslim, serta meletakkan dasar-dasar politik, sosial
dan ekonomi bagi masyarakat baru tersebut; suatu fenomena yang menakjubkan ahli-
ahli sejarah dahulu dan masa kini.
Masyarakat muslim Madinah yang berhasil dibentuk Rasulullah oleh
sebagian intelektual muslim masa kini disebut dengan negara kota (city state). Lalu,
dengan dukungan kabilah-kabilah dari seluruh penjuru jazirah Arab yang masuk
Islam, maka muncullah kemudian sosok negara bangsa (nation state). Walaupun
sejak awal Islam tidak memberikan ketentuan yang pasti tentang bagaimana bentuk
dan konsep negara yang dikehendaki, namun suatu kenyataan bahwa Islam adalah
agama yang mengandung prinsip-prinsip dasar kehidupan termasuk politik dan
negara.
Dalam masyarakat muslim yang terbentuk itulah Rasulullah menjadi
pemimpin dalam arti yang luas, yaitu sebagai pemimpin agama dan juga sebagai
pemimpin masyarakat. Pada intinya Islam mendorong penciptaan masyarakat
madani. Nabi Muhammad sendiri bahkan telah mencontohkan secara aktual
bagaimana perwujudan masyarakat madani itu, yaitu ketika beliau mendirikan dan
memimpim negara-kota Madinah. Kenyataan ini bukan hanya terlihat dalam Piagam
(Konstitusi) Madinah, tetapi juga dari pergantian nama kota Yatsrib menjadi
Madinah yang tentu saja merupakan salah satu cognate istilah “madani” itu
sendiri.[1]
Konsepsi Rasulullah yang diilhami Alquran ini kemudian menelorkan
Piagam Madinah yang mencakup 47 pasal, yang antara lain berisikan hak-hak asasi
manusia, hak-hak dan kewajiban bernegara, hak perlindungan hukum, sampai
toleransi beragama yang oleh ahli-ahli politik moderen disebut manifesto politik
pertama dalam Islam. Oleh karena itu pada makalah ini penulis mencoba
memaparkan tentang konsep masyarakat dalam Piagam Madinah tersebut.
Piagam Madinah ini secara lengkap diriwayatkan oleh Ibn Ishaq (w. 151 H)
dan Ibn Hisyam (w. 213 H), dua penulis muslim yang mempunyai nama besar dalam
bidangnya. Menurut penelitian Ahmad Ibrahim al-Syarif, tidak ada periwayat lain
sebelumnya selain kedua penulis di atas yang meriwayatkan dan menuliskannya
secara sistematis dan lengkap. Meskipun demikian, tidak diragukan lagi kebenaran
dan keotentikan piagam tersebut, mengingat gaya bahasa dan penyusunan redaksi
yang digunakan dalam Piagam Madinah ini setaraf dan sejajar dengan gaya bahasa
yang dipergunakan pada masanya. Demikian pula kandungan dan semangat piagam
tersebut sesuai dengan kondisi sosiologis dan historis zaman itu. Keotentikan Piagam
Madinah ini diakui pula oleh William Montgomery Watt, yang menyatakan bahwa
dokumen piagam tersebut, yang secara umum diakui keotentikannya, tidak mungkin
dipalsukan dan ditulis pada masa Umayyah dan Abbasiyah yang dalam
kandungannya memasukkan orang non muslim ke dalam kesatuan ummah.
Dari Ibn Ishaq dan Ibn Hisyam inilah kemudian penulis-penulis berikutnya
menukil dan mengomentarinya. Di antara penulis-penulis klasik yang menukil
Piagam Madinah secara lengkap antara lain: Abu Ubaid Qasim Ibn Salam dalam
Kitab Al-Amwal, Umar al-Maushili dalam Wasilah al-Muta’abbidin dan Ibn Sayyid
dalam Sirah al-Nas. Sementara itu, beberapa penulis klasik dan periwayat lainnya
yang menulis tentang Piagam Madinah antara lain: Imam Ahmad Ibn Hambal (w.
241 H) dalam Al-Musnad, Darimi ( w. 255 H) dalam Al-Sunan, Imam Bukhori (w.
256 H) dalam Shahih-nya, Imam Muslim ( w.261 H) dalam Shahih-nya. Tulisan-
tulisan lain tentang piagam tersebut juga bisa dijumpai dalam Sunan Abu Dawud (w.
272 H), Sunan Ibn Majah (w. 273 H), Sunan Tirmidzi (w. 279 H), Sunan Nasa’i (w.
303 H), serta dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk oleh al-Thabari.
Piagam Madinah ini telah diterjemahkan pula ke dalam bahasa asing, antara lain
ke bahasa Perancis, Inggris, Itali, Jerman, Belanda dan Indonesia. Terjemahan dalam
bahasa Perancis dilakukan pada tahun 1935 oleh Muhammad Hamidullah, sedangkan
dalam bahasa Inggris terdapat banyak versi, diantaranya seperti pernah dimuat dalam
Islamic Culture No.IX Hederabat 1937, Islamic Review terbitan Agustus sampai
dengan Nopember 1941 (dengan topik The first written constitution of the world).
Selain itu, Majid Khadduri juga menerjemahkannya dan memuatnya dalam
karyanya War and Pearce in the Law of Islam (1955), kemudian diikuti oleh R. Levy
dalam karyanya The Social Structure of Islam (1957) serta William Montgomery
Watt dalam karyanya Islamic Political Thought (1968). Adapun terjemahan-
terjemahan lainnya seperti dalam bahasa Jerman dilakukan oleh Wellhausen, bahasa
Itali dilakukan oleh Leone Caetani, dan bahasa Belanda oleh A.J. Wensick serta
bahasa Indonesia –untuk pertama kalinya– oleh Zainal Abidin Ahmad.
Menurut Muhammad Hamidullah yang telah melakukan penelitian terhadap
beberapa karya tulis yang memuat Piagam Madinah, bahwa ada sebanyak 294
penulis dari berbagai bahasa. Yang terbanyak adalah dalam bahasa arab, kemudian
bahasa-bahasa Eropa. Hal ini menunjukkan betapa antusiasnya mereka dalam
mengkaji dan melakukan studi terhadap piagam peninggalan Nabi. Dalam teks
aslinya, Piagam Madinah ini semula tidak terdapat pasal-pasal. Pemberian pasal-
pasal sebanyak 47 itu baru kemudian dilakukan oleh A.J. Winsick dalam karyanya
Mohammed en de joden te Madina, tahun 1928 M yang ditulis untuk mencapai gelar
doktornya dalam sastra semit. Melalui karyanya itu, Winsick mempunyai andil besar
dalam memasyarakatkan Piagam Madinah ke kalangan sarjana Barat yang menekuni
studi Islam. Sedangkan pemberian bab-bab dari 47 pasal itu dilakukan oleh Zainal
Abidin Ahmad yang membaginya menjadi 10 bab.
Piagam Madinah telah mempersatukan warga Madinah yang heterogen itu
menjadi satu kesatuan masyarakat, yang warganya mempunyai hak dan kewajiban
yang sama, saling menghormati walaupun berbeda suku dan agamanya. Piagam
tersebut dianggap merupakan suatu pandangan jauh ke depan dan suatu
kebijaksanaan politik yang luar biasa dari Nabi Muhammad dalam mengantisipasi
masyarakat yang beraneka ragam backgroundnya, dengan membentuk komunitas
baru yang disebut ummah. Ummah dalam istilah Hebrew, berarti suku atau rakyat.
Dalam Encyclopaedia of Islam dikemukakan bahwa perkataan ummah tidaklah
asli dari bahasa arab. Menurut Montgomery Watt, perkatan ummah berasal dan
berakar dari bahasa Ibrani yang bisa berarti suku bangsa atau bisa juga berarti
masyarakat.
Dalam Al Qur’an dijumpai sebanyak 52 perkataan ummah yang terangkai dalam
berbagai ayat. Kata ummah terulang dua kali dalam Piagam Madinah, yakni dalam
pasal 2 dan pasal 25.
Pasal 1:
.‫ فلحق بهم وجاهد معهم‬,‫هذا الكتاب من محمد رسول هللا بين المؤمنين والمسلمين قريش واهل يثرب ومن تبعهم‬
Artinya: “Ini adalah naskah perjanjian dari Muhammad Nabi dan Rasul
Allah, mewakili pihak kaum yang Beriman dan memeluk Islam, yang terdiri dari
warga Quraisy dan warga Yastrib, dan orang-orang yang mengikuti mereka serta
yang berjuang bersama mereka.”
Pasal 2:
.‫انهم امة واحدة من دون الناس‬
Artinya: “Mereka adalah yang satu dihadapan kelompok manusia lain.”
:Pasal 25

,‫ مواليهم وانفسهم اال من ظلم واثم‬,‫ وللمسلمين دينهم‬,‫ لليهود دينهم‬,‫وان يهود بنى عوف امة مع المؤمنين‬
.‫فانه اليوقع اال نفسه واهل بيته‬
Artinya: “Kaum Yahudi Bani ‘Auf bersama dengan warga yang beriman
adalah satu umah. Kedua belah pihak, kaum Yahudi dan kaum Muslimin, bebas
memeluk agama masing-masing. Demikian pula halnya dengan sekutu dan diri
mereka sendiri. Bila diantara mereka ada yang melakukan aniaya dan dosa dalam hal
ini, maka akibatnya akan ditanggung oleh diri dan warganya.
Namun, cakupan dari rumusan ummah itu sendiri terjabarkan dalam pasal-
pasal selanjutnya,yakni: Pasal 26 -35, 37, 44-47. (dapat dilihat pada lampiran teks
piagam Madinah).
Dapatlah dipahami bahwa perkataan ummah dalam rangkaian pasal-pasal
yang tercantum di atas, mempunyai pengertian yang sangat dalam, yakni berubahnya
paham kesukuan yang hidup di kalangan suku-suku Arab saat itu. Cakrawala
wawasan sosial yang sangat sempit, dan kehidupan politik yang terbatas, karena
fanatisme kabilah (kesukuan) dan ikatan darah yang dibatasi oleh tembok kelahiran,
pelan-pelan mulai runtuh berganti dengan suatu masyarakat yang luas, di mana
masing-masing dari warganya mempunyai hak dan kewajiban yang sama.
C. Karasteristik dan Pilar Masyarakat Madani
Karakteristik Masyarakat Madani
Jika dicermati secara komprehensif, maka di dalam ajaran Islam terdapat
karakteristik-karakteristik universal baik dalam konteks relasi vertikal, maupun relasi
horizontal. Dalam hal ini Yusuf al-Qaradhawi mencatat, ada tujuh karakteristik
universal tersebut, yang kemudian ia jelaskan secara spesifik di dalam bukunya al-
Khashâ'ish al-ʻAmmah li al-Islâm. Ketujuh karakteristik tersebut antara lain;
ketuhanan (al-rabbâniyah), kemanusiaan (al-insâniyyah), komprehensifitas (al-
syumûliyah), kemoderatan(al-wasathiyah), realitas (al-wâqi`iyah), kejelasan (al-
wudhûh), dan kohesi antara stabilitas dan fleksibelitas (al-jam’ bayna al-tsabât wa
al-murûnah).
Ketujuh karakteristik inilah yang kemudian menjadi paradigma integral
setiap Muslim dari masa ke masa. Dari ketujuh karakteristik tersebut, ada dua
karakteristik fundamental yang menjadi tolak ukur pembangunan masyarakat madani,
yaitu humanisme (al-insâniyyah) dan kemoderatan (al-wasathiyyah). lima
karakteristik yang lain kecuali al-rabbâniyyah setidaknya bisa diintegrasikan ke
dalam kategori toleran (al-samâhah). Karena al-rabbâniyah, menurut al-Qaradhawi,
merupakan tujuan dan muara dari masyarakat madani itu sendiri. Pengintegrasian
karakteristik-karakteristik tersebut tidak lain merupakan upaya untuk
menyederhanakan konsep masyarakat madani yang dibahas dalam makalah ini, sebab
Islam sendiri menurut Umar Abdul Aziz Quraysy merupakan agama yang sangat
toleran, baik di dalam masalah akidah, ibadah, muamalah, maupun akhlaknya.
Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa Rasulullah mengajarkan tiga
karakteristik keislaman yang menjadi fondasi pembangunan masyarakat madani,
yaitu Islam yang humanis, Islam yang moderat, dan Islam yang toleran.
a. Islam yang Humanis
Yang dimaksud dengan Islam yang humanis di sini adalah bahwa
substansi ajaran Islam yang diajarkan Rasulullah, sepenuhnya kompatibel
dengan fitrah manusia. Allah berfirman Q.S al-Rum ayat 30,
Artinya:"Maka hadapkalah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah,
tetaplah di atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia sesuai dengan
fitrah tersebut. Tidak ada perubahan terhadap fitrah Allah, akan tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahuinya."
Karena itu, dalam aktualisasinya, ajaran Islam yang disampaikan
oleh Rasulullah dengan mudah diterima oleh nurani dan nalar manusia.
Dengan kata lain, ajaran Islam sejatinya adalah ajaran yang memanusiakan
manusia dengan sebenar-benarnya.
Muhammad Athiyah al-Abrasyi mengatakan bahwa manusia
berdasarkan fitrahnya memiliki tendensi untuk melakukan hal-hal yang
bersifat konstruktif dan destruktif sekaligus. Dalam hal ini, lingkungan
memberikan pengaruh yang begitu kuat dalam membentuk karakter dan
kepribadian seseorang. Islam, sebagai agama paripurna, diturunkan tiada lain
untuk mengarahkan manusia kepada hal yang bersifat konstruktif dan
mendatangkan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam
permasalahan ini, manusia diberikan kebebasan untuk memilih jalannya
sendiri tatkala telah dijelaskan, mana yang baik dan mana yang buruk; mana
yang terpuji dan mana yang tercela.
Jika kaum kapitalis lebih menjadikan manusia sebagai sosok egois
dan pragmatis, sehingga cenderung mendiskreditkan aspek-aspek sosial
dengan mengatasnamakan kebebasan personal; kaum sosialis melakukan
sebaliknya, yaitu cenderung mengebiri hak-hak personal dengan
mengatasnamakan kepentingan sosial. Di sinilah Islam dengan
karateristiknya yang spesial, memiliki cara tersendiri dalam upaya untuk
mengatur tatanan kehidupan manusia. Islam berhasil mengatur hak-hak
personal dan hak-hak sosial secara seimbang, sehingga melahirkan nilai-nilai
persaudaraan, kesetaraan, dan kebebasan universal.
Hal lain yang perlu ditekankan pada poin ini adalah bagaimana
Islam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan berdasarkan naluri dan
tabiat manusia itu sendiri. Secara naluriah, setiap manusia memiliki
keinginan untuk hidup aman, damai, dan sejahtera dalam konteks personal
maupun komunal. Manusia juga telah diberikan berbagai kelebihan yang
tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk Allah lainnya. Dengan keistimewaan-
keistimewaan tersebut, manusia dianggap sebagai makhluk yang paling
sempurna. Kesepurnaan itu akan berimplikasi pada kesempurnaan tatanan
hidup bermasyarakat jika manusia mengikuti instruksi-instruksi Allah
sebagaimana yang dijelaskan dalam Surat al-Isrâ’ ayat 23-34.
b. Islam yang Moderat
Yang dimaksud dengan Islam yang moderat adalah keseimbangan
ajaran Islam dalam berbagai dimensi kehidupan manusia, baik pada dimensi
vertikal (al-wasathiyah al-dîniyah) maupun horizontal (al-tawâzun al-
ijtimâʻiy). Kemoderatan inilah yang membedakan substansi ajaran Islam
yang diajarkan Rasulullah dengan ajaran-ajaran lainnya, baik sebelum
Rasulullah diutus maupun sesudahnya. Secara etimologis, kata 'moderat'
merupakan terjemahan dari al-wasathiyah yang memiliki sinonim al-
tawâzun(keseimbangan) dan al-iʻtidal (proporsional). Dalam hal ini Allah
menjelaskan karakteristik umat Rasulullah sebagai umat yang moderat.
Dalam catatan sejarahnya, karakteristik ini teraplikasikan secara
sempurna pada diri Rasulullah. Sesuai Hadis yang diriwayatkan Abu
Hurairah, Rasulullah pernah mengatakan dalam penggalan doanya, "Ya
Allah, perbaikilah agamaku sebab ia adalah penjaga urusanku. Perbaikilah
pula duniaku karena di sinilah tempat hidupku. Dan perbaikilah pula
akhiratku kerena di sanalah tempat kembaliku."
Jadi, kemoderatan merupakan salah satu karakteristik fundamental
Islam sebagai agama paripurna. Kemoderatan inilah yang sesungguhnya
sangat kompatibel dengan naluri dan fitrah kemanusiaan. Kemoderatan ini
juga yang membuat Islam dengan mudah diterima akal sehat dan nalar
manusia. Diakui atau tidak, nilai-nilai kemoderatan inilah yang menjadi
lambang supremasi universalitas ajaran Islam sebagai agama penutup, yang
mengabolisikan ajaran Yahudi yang memiliki tendensi ekstremis dengan
membunuh para Nabi dan Rasul yang Allah utus kepada mereka, sedangkan
ajaran Nasrani memiliki tendensi eksesif dengan menuhankan Nabi Isa al-
Masih dan lain-lain.
Dari kemoderatan inilah konsepsi-konsepsi kemasyarakatan yang
asasi diturunkan menjadi konsep yang utuh dalam membangun masyarakat
Madinah yang solid dan memegang teguh nilai-nilai dan norma keislaman.
Konsep-konsep kemasyarakatan tersebut adalah keamanan, keadilan,
konsistensi, kesolidan, superioritas, dan kesentralan. Konsep integral inilah
yang kemudian merasuk ke alam bawah sadar setiap masyarakat madinah
yang diiringi dengan aktualisasi konsep tersebut secara multidimensi,
sehingga lambat laun konsep tersebut menjadi identitas eternal keislaman
yang diajarkan Rasulullah di Madinah dan menjadi masyarakat percontohan
bagi siapa saja yang datang setelahnya.
Dalam hal ini Sayyid Quthb dalam bukunya al-Salâm al-ʻÂlamy wa
al-Islâmymengamini bahwa keseimbangan sosial (al-tawâzun al-
ijtimâʻiy) merupakan fondasi utama guna mewujudkan keadilan sosial (al-
ʻadâlah al-ijtimâʻiyah)di tengah-tengah masyarakat. Nilai keseimbangan
sosial ini dalam tahapannya menjadi tolak ukur untuk mewujudkan
ketenteraman dan kedamaian di dalam kehidupan bermasyarakat dalam
konteks pembangunan masyarakat madani.
c. Islam yang Toleran
Kata toleran merupakan terjemahan dari al-samâhah atau al-
tasâmuhyang merupakan sinonim dari kata al-tasâhul atau al-luyûnah yang
berarti keloggaran, kemudahan, fleksibelitas, dan toleransi itu sendiri. Kata
'toleran' di dalam ajaran Islam memiliki dua pengertian, yaitu yang berkaitan
dengan panganut agama Islam sendiri (Muslim), dan berkaitan dengan
penganut agama lain (Nonmuslim).
Jika dikaitkan dengan kaum Muslimin, maka toleran yang dimaksud
adalah kelonggaran, kemudahan, dan fleksibelitas ajaran Islam bagi
pemeluk-pemeluknya. Sebab pada hakikatnya, ajaran Islam telah dijadikan
mudah dan fleksibel untuk dipahami maupun diaktualkan. Sehingga Islam
sebagai rahmatan li al-ʻâlamîn benar-benar dimanifestasikan di dalam
konteks masyarakat Madinah pada masa Rasulullah.
Untuk itu, sebagai konsekuensi logis dari Islam sebagai rahmatan li
al-ʻâlamîn yang shâlih li kulli zamân wa makân, maka substansi ajaran Islam
harus benar-benar mudah dipahami dan fleksibel untuk diaplikasikan.
Sehingga di dalam perjalanannya, banyak didapati teks-teks al-Qur’an dan
Hadis yang menyinggung masalah tersebut. Allah berfirman, Q.S al-Baqarah
: 286
Artinya:"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai
dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang
diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
(Mereka berdo`a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika
kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan
kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada
orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah
kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami,
maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".
Demikian juga teks al-Qur'an yang mengatakan, Q.S al-Baqarah 185
Artinya :"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan
Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an
sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu,
barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan
itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit
atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya
berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang
lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan
hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan
kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
Maka tatkala ajaran Islam memiliki konsekuensi untuk kompatibel
dengan fitrah dan kondisi manusia, Allah pun mengetahui sifat lemah pada
diri manusia sehingga Ia mengatakan, Q.S al-Nisa:28
Artinya :"Allah hanya menghendaki keringanan untuk kalian, dan
manusia telah diciptakan dalam keadaan lemah."
Adapun teks-teks dari Hadis mengenai keringanan dan kemudahan
tersebut dapat dilihat tatkala Nabi hendak mengutus Muʻadz dan Abu Musa
ke negeri Yaman, dalam hal ini Nabi berpesan, "Permudahlah, jangan
mempersulit." Masih dalam konteks yang sama, Nabi bahkan mengafirmasi
bahwa ajaran agama Islam memang penuh dengan kemudahan dan
fleksibelitas. Di samping itu, Aisyah pernah bercerita tentang tabiat sang
Nabi yang senang dengan kemudahan dan fleksibelitas, ia mengatakan,
"Tidak pernah Nabi diberi pilihan kecuali ia memilih yang paling mudah di
antaranya, asalkan tidak ada larangan untuk hal tersebut."
Inilah bentuk kemudahan dan fleksibelitas ajaran Islam, dan tentu
masih banyak teks-teks al-Qur’an dan Hadis yang menjadi bukti eternal
betapa ajaran Islam sangat mencintai kemudahan, kasih sayang, dan
kedamaian bagi para pemeluknya, maupun terhadap mereka yang berbeda
agama, sebagai upaya mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang
memegang teguh nilai-nilai dan norma keislaman. Sehingga ajaran Islam
yang mengarahkan kepada kekerasan dan sikap kompulsif tidak akan
didapati sedikit pun, kecuali pada dua hal; pertama, ketika berhadapan
dengan musuh di dalam peperangan, bahkan Allah memerintahkan untuk
bersikap keras, berani, dan pantang mundur. Hal tersebut diperintahkan
sebagai bentuk konsekuensi dari keadaan yang tidak memungkinkan untuk
bersikap lunak dan lemah lembut, agar totalitas berperang benar-benar
tejaga, untuk meraup kemenangan yang gemilang. Kedua, sikap kompulsif
dalam menegakkan dan mengaktualkan hukuman syariat tatkala dilanggar.
Dalam hal ini Allah tidak menghendaki adanya rasa iba hati dan belas kasih,
sehingga hukuman tersebut urung diaktualkan. Sikap kompulsif ini tiada lain
merupakan upaya untuk menghindari penyebab terganggunya konstelasi
kehidupan bermasyarakat yang bermartabat dan menjunjung tinggi nilai-nilai
dan norma kemanusiaan.
Pada tataran aplikasi realnya, jika kita cermati hukum-hukum Islam
seperti salat, zakat, puasa, haji, dan lain-lain, kita akan mendapati
kemudahan dan fleksibelitas di sana. Kita juga akan mendapati berbagai
indikasi augmentatif yang secara tidak langsung mengukuhkan eksistensi
setiap anggota masyarakat sebagai khalifah di muka bumi, baik aspek
personal maupun sosial, seperti peningkatan mutu kepribadian seseorang,
baik yang berbentuk konkret maupun abstrak; atau perintah untuk
membangkitkan kepekaan sosial yang dibangun atas dasar persaudaraan,
egalitarianisme, dan solidaritas. Karena itu, dalam perjalanan sejarahnya
syariat Islam tidak pernah menghambat laju peradaban. Islam justru selalu
mendorong umat manusia untuk melakukan inovasi demi kemaslahatan
manusia banyak. Islamlah yang senantiasa menyeru umat manusia untuk
tekun menuntut ilmu dan melakukan berbagai kegiatan ilmiah guna
menunjang eksistensi mereka di dunia ini.
Sedangkan jika kata toleran dikatikan dengan Nonmuslim, maka
yang dimaksud adalah nilai-nilai toleransi yang dipahami oleh khalayak pada
umumnya. Dalam hal ini, ajaran Islam sangat menghargai perbedaan
keyakinan. Mereka yang berbeda keyakinan akan mendapatkan hak-hak dan
kewajiban yang sama sebagai warga negara. Dengan kata lain, Islam benar-
benar menjamin keselamatan dan keamanan jiwa raga mereka, selama
mereka mematuhi ketentuan-ketentuan yang telah disepakati bersama. Darah
mereka haram ditumpahkan sebagaimana darah kaum Muslimin. Allah
berfirman, Q.S al-An’am ayat 151
Artinya:" Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan
atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu
dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan
janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami
akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu
mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya
maupun yang tersembunyi, “dan janganlah kamu membunuh jiwa yang
diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang
benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya
kamu memahami (nya).”
Rasulullah juga bersabda, "Barang siapa yang membunuh dzimmi
(Nonmuslim yang hidup di daerah kaum Muslimin dengan ketentuan yang
telah disepakati) tanpa alasan yang jelas, maka Allah mengharamkan
baginya masuk surga."
Umar Abdul Aziz Quraisyi menjelaskan bahwa sikap toleran Islam
terhadap penganut agama lain dibangun atas empat dasar: pertama, dasar
nilai-nilai keluruhan sebagai sesama manusia, meskipun dari beragam
agama, etnis, dan kebudayaan; kedua, dasar pemikiran bahwa perbedaan
agama merupakan kehendak Allah semata; ketiga, dasar pemikiran bahwa
kaum Muslim tidak berhak sedikit pun untuk menjustifikasi kecelakaan
mereka yang berlainan keyakinan selama di dunia, karena hal itu merupakan
hak prerogatif Allah di akhirat kelak; sedangkan keempat adalah pemikiran
bahwa Allah memerintahkan manusia untuk berbuat adil dan berakhlak
mulia, meskipun terhadap mereka yang berlainan agama.
Pilar-pilar dari masyarakat madani:
1. Aqidah dan sunnah
Dalam buku pendidkan islam karya Dr. Yusuf Al-Qardhwi daikatan aspek
aqidah merupakan bagian yang paling mendasar dan paling dalam pengaruhnya yang
demikian dijadikan dasar dalam bertindak dan bertutur kata. Yang kemudian aqidah
yang baik dapat membentuk sebuah masyarakat yang religius dan jauh dari aspek
yang sia-sia (tidak bermanfaat). Berbicara soal aqidah kita tidak akan terlepas dari
kata iman, dimana pengertian iman adalah suatu hal (positif) yang diyakini dengan
hati, dibenarkan dengan perkataan dan dibuktikan dengan tindakan. Iman dalam
Islam bukanlah semata-mata pengetahuan seperti pengetahuan para theologi dan ahli
falsafah, bukan pula semata-mata perasaan jiwa yang menerawang seperti perasaan
orang sufi dan bukan pula semata-mata ketekunan beribadat seperti ketekunan orang-
orang zahid. Iman adalah kesatuan dari semua ini, tidak menyimpang dari kebenaran,
tidak lalai dan tidak pula berlebih-lebihan, disertai kreativiti menyebarkan kebenaran
dan kebaikan demi membimbing saudara kita menjadi lebih baik. Output dari aqidah
yang benar adalah lahirnya generasi“rabbani”.
Sunnah adalah perangkat untuk menjalankan aqidah yang baik, dimana sunnah
adalah contoh kehidupan yang ditawarkan oleh tokoh paling berpengaruh di muka
bumi ini yakni Muhammad. Sunnah merupakan pedoman dalam melakukan aktivitas
keseharian kita dengan tujuan agar aktivitas kita senantiasa bernialai ibadah. dengan
ajaran yang sempurnah dan menyeluruh mancakup seluruh aspek kehidupan kita
tanpa terkecuali mulai dari hal terkecil hingga mengatur ummat (pemerintahan)
ajaran ini mengaturnya dengan jelas.
2. Persaudaraan
Persaudaraan adalah kata yang mengadung makna kebersamaan, kepedulian,
dan kekuatan yang merupakan output dari sebuah rasa persaudaraan. Hasan Al-
Banna mengatakan Persaudaraan adalah sama dengan iman, sedang perpecahan
adalah sama dengan kufur. Serendah-rendah kekuatan adalah kekuatan persatuan, dan
persatuan tidaklah akan terjelma tanpa kasih sayang. Serendah rendah kasih sayang
adalah bersihnya hati dan setinggi-tinggi kasih sayang ialah mengutamakan orang
lain.
Ada sebuah kisah dalam sebuah peperangan yang dipimpin Khalid Bin Walid
yang terjadi disebuah Negara yang bernama Persia, ditengah peperangan itu pasukan
yang dipimpin Khalid merasa kehausan ditambah lagi kondisi gurun pasir yang sulit
menemukan sumber air, sebagian dari mereka sudah ada yang terbaring. Seketika
salah seorang mengeluarkan sebotol air lalu dia memberikan kepada orang
disampingnya, namun orang tadi tidak langsung minum tapi ia mendahulukan orang
disampingnya begitupun orang selanjutnya ia mendahulukan orang disampingnya
begitu seterusnya sampai botol air itu kembali kapada pemiliknya. Beginilah buah
dari persaudaraan. Coba lihat apa yang terjadi pada kita saat ini segala perbedaan
dijadikan masalah mulai dari perbedaan kecil seperti hobi sampai hanya perbedaan
metode perjuangan dijadikan masalah, bahkan ada fenomena yang terjadi perbedaan
manhaj saja membuat suatu kelompok harus menghalang-halangi kelompok lain
untuk berbuat baik.
Untuk kawan-kawan yang mengaku kelompok intelek dan religious rasa
persaudaraan itu harus kita ciptakan dan di bina, bukan menolong itu lebih baik dari
pada menindas, bukankah member itu lebih baik dari pada melempar, jangan sampai
kasih saying yang kau miliki hanya dirasakan oleh sedikit orang. Bahkan kepada
orang yang membenci kitapun harus tetap tersenyum. Tanamkan kalimat ini dalam
diri kalian “ Sebaik-baik manusia adalah manusia yang benyak bermanfaat bagi
orang lain” Muhammad S.A.W.
3. Kepemimpinan
Menurut Toha kepemimpinan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh
seseorang dalam hal mempengaruhi orang lain untuk agar supaya mereka mau
diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut Ngalim Purwanto
(1991:26) Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-
sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan untuk dijadikan sebagai sarana
dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat
melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat,
ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa. Intinya kepemimpinan
merupakan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain, pertanyaan kemudian apa
yang terjadi jika kepemimpinan tersebut digunakan untuk hal negatih, banyak kita
jumpai orang-orang yang melakukan kejahatan yang terorganisir yang mereka juga
memiliki pemimpin, bigitupun dengan korupsi dinegara ini yang juga mempunyai
pemimpin.
D. Politik dan Pemerintahan Islam
Politik Islam
Politik adalah ilmu pemerintahan atau ilmu tata negara. Politik dalam Islam
menjuruskan kegiatan ummah kepada usaha untuk mendukung dan melaksanakan
syariat Allah melalui sistem kenegaraan dan pemerintahaan.
Adapun asas-asas dalam politik Islam ialah
1. Hakimiyyah Ilahiyyah
Hakimiyyah atau memberikan kuasa pengadilan dan kedaulatan hukum
tertinggi dalam sistem politik Islam hanyalah hak mutlak Allah.
Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia,
bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala
penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (Al-Qasas: 70)
Hakimiyyah Ilahiyyah membawa pengertian-pengertian berikut:
a. Bahawasanya Allah Pemelihara alam semesta yang pada hakikatnya adalah
Tuhan yang menjadi pemelihara manusia, dan tidak ada jalan lain bagi
manusia kecuali patuh dan tunduk kepada sifat IlahiyagNya Yang Maha Esa
b. Bahawasanya hak untuk menghakimi dan meng adili tidak dimiliki oleh
sesiap kecuali Allah
c. Bahawasanya hanya Allah sahajalah yang memiliki hak mengeluarkan
hukum sebab Dialah satu-satuNya Pencipta
d. Bahawasanya hanya Allah sahaja yang memiliki hak mengeluarkan
peraturan-peraturan sebab Dialah satu-satuNya Pemilik.
Bahawasanya hukum Allah adalah suatu yang benar sebab hanya Dia sahaja
yang Mengetahui hakikat segala sesuatu dan di tanganNyalah sahaja penentuan
hidayah dan penentuan jalan yang selamat dan lurus. Hakimiyyah Ilahiyyah
membawa arti bahawa teras utama kepada sistem politik Islam ialah tauhid
kepada Allah di segi Rububiyyah dan Uluhiyyah.
2. Risalah
Risalah bererti bahawa kerasulan beberapa orang lelaki di kalangan manusia
sejak Nabi Adam hingga kepada Nabi Muhammad s.a.w adalah suatu asas yang
penting dalam sistem politik Islam. Melalui landasan risalah inilah maka para
rasul mewakili kekuasaan tertinggi Allah dalam bidang perundangan dalam
kehidupan manusia. Para rasul meyampaikan, mentafsir dan menterjemahkan
segala wahyu Allah dengan ucapan dan perbuatan.
Dalam sistem politik Islam, Allah telah memerintahkan agar manusia
menerima segala perintah dan larangan Rasulullah s.a.w. Manusia diwajibkan
tunduk kepada perintah-oerintah Rasulullah s.a.w dan tidak mengambil selain
daripada Rasulullah s.a.w untuk menjadi hakim dalam segala perselisihan yang
terjadi di antara mereka. Firman Allah:
Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang
berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul,
anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan,
supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara
kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang
dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (Al-Hasyr: 7)
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga
mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan,
kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan
yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (An-Nisa’: 65)
3. Khalifah
Khilafah bererti perwakilan. Kedudukan manusia di atas muka bumi ini
adlah sebagai wakil Allah. Oleh itu, dengan kekuasaanyang telah diamanahkan
ini, maka manusia hendaklah melaksanakan undang-undang Allah dalam batas
yang ditetapkan. Di atas landasan ini, maka manusia bukanlah penguasa atau
pemilik tetapi hanyalah khalifah atau wakil Allah yang menjadi Pemilik yang
sebenar.
Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi
sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat. (Yunus:
14)
Seseorang khalifah hanya menjadi khalifah yang sah selama mana ia benar-
benar mengikuti hukum-hukum Allah. Ia menuntun agar tugas khalifah dipegang
oleh orang-orang yang memenuhi syarat-syarat berikut ini:
a. Terdiri daripada orang-orang yang benar-benar boleh menerima dan
mendukung prinsip-prinsip tanggngjawab yang terangkum dalam pengertian
khilafah
b. Tidak terdiri daripada orang-orang zalim, fasiq, fajir dan lalai terhadap
Allah serta bertindak melanggar batas-batas yang ditetapkan oleh-Nya.
c. Terdiri daripada orang-orang yang berilmu, berakal sihat, memiliki
kecerdasan, kearifan serta kemampuan intelek dan fizikal
d. Terdiri daripada orang-orang yang amanah sehingga dapt dipikulkan
tanggungjawab kepada mereka dengan yakin dan tanpa keraguan
Pemerintahan Islam
Sistem pemerintahan Islam adalah suau sistem yng unik, berbeda dengan sistem-
sistem pemerintahan yang kita kenal selama ini. Berbeda dari segi asas, tolak ukur
serta hukum-hukum yang berjalan di dalamnya. Bentuk pemerintahan islam bukanlah
republik, kerajaan, ataupun perseketuan. Tegasnya sistem pemerintahan di dalam
Islam adalah sistem Khilafah dan ini telah sepakati dari Ijma’ sahabat kesatuan
Khilafah, kesatuan Negara serta ketidakbolehan berbai’at selain kepada Khilafah saja
pada satu-satunya masa.
Pemikiran islam juga sangat khas. Ini wajar karena pemikiran Islam berasal dari
wahyu atau berdasarkan pada penjelasan wahyu, sedangkan pemikiran-pemikiran
yang lain yang berkembang di antara manusia, baik itu berupa agama-agama non
samawi, ideology-ideologi politik dan ekonomi, maupun teori-teori social sekedar
muncul dari kejeniusan berfikir manusia yang melahirkannya.
Negara islam ditegaskan di atas empat prinsip penting, yaitu:
a. Prinsip syura berkenaan dengan pemilihan ketua Negara dan orang-oratau
musyawarah. Asas musyawarah paling utama adlah berkenaan dengan
pemilihan ketua Negara dan orang-orang yang menjabat tugas. Asas
musyawarah yang kedua adlah berkenaan dengann penentuan jalan dan cara
pelaksanaan undang-undang yang telah dimaktubkan di dalam Al-Qur’an
dan assunah. Asas musyawarah yang ketiga adalah berkenaan dengan jalan-
jalan menentukan perkara-perkara baru yang timbul di kalangan umat
melalui proses itjihad.
b. Prinsip keadilan, keadilan disini adalah mutlak yang digariskan oleh Islam
yang mengataso segala kepentingan pribadi, keluarga, kelompok dan
sebagainya, sekalipun terhadap musuh dan golongan non-muslim.
c. Prinsip kebebasan. Prinsip ini menjadi amalan dalam pemerintahan Islam.
Kebebasan diberiknan kepada rakyat yang ada dibawah naungan
pemerintahan Islam. Oleh sebab itu, manusia diberi kebebasan untuk
memilih. Islam memberikan kebebasan beragama, kebebasan dalam
memiliki harta, kebebasan bergerak.
d. Prinsip persamaan. Dalam prinsip ini, Islam tidak pernah membeda-bedakan
ummatnya, siapaun itu, rakyat biasa, pejabat. Dalam hal apaun, termasuk
ibadah.
Karakteristik Pemerintahan Islam diantaranya
a. Bersifat Komperhensif. Pemikiran islam mencakup semua aspek kehidupan
manusia, seperti politik, social kemasyarakatan, perekonomian, kebudayaan dan
akhlak. Islam hadir dengan membawa aturan yang mengatur hubungan manusia
dengan tuhannya, dengan sesame manusia dan dengan makhluk lainnya. aturan
yang mencakup hubungand dengan Tuhannya ada dalam Aqidah dan ibadah.
Sedangkan aturan hubungan manusia dengan dirinya sendiri tercakup dalam
hukum-hukum tentang makanan, pakaian dan akhlak. Selebihnya adalah aturan
yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, seperti perkara
muammalah ekonomi dan social, sanksi-sanksi hukum pabi para pelanggar
hukum, politik kettatanegaraan dan lain-lain.
b. Bersifat Luas. Keluasan agama islam memungkinkan para ulama untuk menggali
hal-hal baru, yang sesuai dengan apa yang terjadi di masyarakat saat itu.
Misalnya sekarang, apakah internet itu halal? Apakah facebook itu
diperbolehkan?
c. Bersifat praktis. Hukum-hukum Islam hadir untuk diterapkan dan dilaksanakan
ditengah-tengah kehidupan. Manusia tidak akan dibebani melebihi yang dia
sanggupi. “Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya.”
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 286)
d. Bersifat manusiawi.
E. Kepemimpinan dan Pemerintahan Islami
Kepemimpinan Islam
Seribu tahun lebih ummat Islam di pimpin dalam bentuk kerajaan yang
kemudian meminjam nama khilafah sebagai nama dari bentuk pemerintahan mereka,
padahal pewarisan kepemimpinan tidak pernah ada dalam ranah pemikiran Islam.
Sejak Rasulullah SAW wafat sejarah mencatat empat kali pergantian
kepemimpinan khilafah Islamiyah yang di sepakati oleh para sahabat. Namun sejak
akhir kepemimpinan Ali R.A perubahan khilafah berubah tanpa bisa di bendung oleh
keinginan syahwat kepemimpinan ummat manusia. Bisa di katakan dari sinilah awal
perdebatan akan Islam dan khilafah mulai begulir dengan panas.
Dinasti Umawiyah berdiri tegak sejak tahun 41 H (661 M) di Damaskus
yang di deklarasikan oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan berumur kurang lebih 90 tahun
dimulai pada masa kekuasaan Muawiyah sebagai khalifah pertama. Pemerintahan
yang bersifat demokratis yang pernah berlangsung selama pemerintahan
khulafaurrasyidin berubah menjadi monarchiheridetis (kerajaan turun temurun), yang
diperoleh melalui kekerasan, diplomasi dan tipu daya, bukan dengan pemilihan atau
suara terbanyak (syura). Suksesi kepemimpinan secara turun temurun dimulai ketika
Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya,
Yazid. Muawiyah bermaksud mencontoh monarchi di Persia dan Bizantium. Dia
memang tetap menggunakan istilah khalifah, namun dia memberikan interprestasi
baru dari kata-kata itu untuk mengagungkan jabatan tersebut. Dia menyebutnya
“khalifah Allah” dalam pengertian “penguasa” yang diangkat oleh Allah.
Pada tahun 743 M kekuasaan khilafah Umawiyah habis di Jazirah Arab,
sejak jatuhnya khilafah Umawiyah kepemimpinan ummat Islam tetap berjalan namun
berbentuk kerajaan kecil selama berapa tahun lamanya. Setelah dinasti Umawiyah
makin lemah disusul pemberontakan terjadi di mana-mana maka pada tahun 132 H
(750 M) dinasti Abbasiyah muncul mendeklarasikan khilafah. Sistem
kepemimpinannya meneruskan gaya kepemimpinan dinasti sebelumnya. Keilmuan
yang makin matang di tengah-tengah masyarakat Islam membawa gaya
kepemimpinan dinasti ini banyak mengalami perubahan. Selama dinasti berkuasa,
pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik,
sosial dan budaya.
Dinasti Abbassiyah hancur akibat serangan bala tentara Hulagu Khan dari
Mongol pada tahun 1258 M, akibat penyerangan ini, kota Baghdad yang di kenal
sebagai pusat keilmuan Islam luluh lantak, peradaban Islam yang pernah mencapai
keemasannya hilang dalam hitungan hari, hingga menjadikan masa ini titik awal
kemunduran ummat Islam.
Tahun 1288 M seorang pemimpin dari Asia Tengah bernama Usman yang
cukup gigih, disegani dan kuat memulai kepemimpinan Khilafah Utsmaniyah, sistem
kepemimpinannya mengikuti dua dinasti besar yang telah mendahuluinya,
kepemimpinannya berakhir pada tahun 1924 M setelah mengalami pembangkrutan
dari imperialis serta kudeta yang dilakukan oleh seorang Jendral Kemal Attaturk.
Membaca sejarah kepemimpinan tiga dinasti yang pernah menjadi pusat
pemerintahan ummat Islam dapat kita mengambil kesimpulan bahwa kepemimpinan
(khilafah) yang sering kali kita baca dalam literatur Islam tercermin dalam bentuk
pewarisan kekuasaan diantara keluarga sebuah klan.
Pemerintahan Islam
Sistem pemerintahan Islam adalah sebuah sistem yang lain sama sekali
dengan sistem-sistem pemerintahan yang ada di dunia. Baik dari aspek asas yang
menjadi landasan berdirinya, pemikiran, konsep, standar serta hukum-hukum yang
dipergunakan untuk melayani kepentingan umat, maupun dari aspek undang-undang
dasar serta undang-undang yang diberlakukannya, ataupun dari aspek bentuk yang
menggambarkan wujud negara, maupun hal-hal yang menjadikannya beda sama
sekali dari seluruh bentuk pemerintahan yang ada di dunia.
1. Pemerintahan Islam Bukan Monarki
Sistem pemerintahan Islam tidak berbentuk monarki. Bahkan, Islam
tidak mengakui sistem monarki, maupun yang sejenis dengan sistem
monarki.
Kalau sistem monarki, pemerintahannya menerapkan sistem waris
(putra mahkota), di mana singgasana kerajaan akan diwarisi oleh
seorang putra mahkota, dari orang tuanya ; seperti kalau mereka
mewariskan harta warisan. Sedangkan sistem pemerintahan Islam tidak
mengenal sistem waris. Namun, pemerintahan akan dipegang oleh orang
yang dibai’at oleh umat dengan penuh ridha dan kebebasan memilih.
Sistem monarki telah memberikan hak tertentu serta hak-hak
istimewa khusus untuk raja saja, yang tidak akan bisa dimiliki oleh yang
lain. Sistem ini juga telah menjadikan raja di atas undang-undang, di
mana secara pribadi memiliki kekebalan hukum. Raja, kadang kala
hanya merupakan simbol bagi umat, dan tidak memiliki kekuasaan apa-
apa, seperti raja-raja di Eropa. Atau kadang kala menjadi raja dan
sekaligus berkuasa penuh, bahkan menjadi sumber hukum. Dimana saja
bebas mengendalikan negeri dan rakyatnya dengan sesuka hatinya,
seperti raja Saudi, Maroko dan Yordania.
Lain halnya dengan sistem Islam, sistem Islam tidak pernah
memberikan kekhususan kepada Khalifah atau imam dalam bentuk hak-
hak khusus. Khalifah tidak memiliki hak, selain hak yang sama dengan
hak rakyat biasa. Khalifah juga bukan hanya sebuah simbol bagi umat,
yang menjadi Khalifah namun tidak memiliki kekuasaan apa-apa. Di
samping Khalifah juga bukan sebuah simbol yang berkuasa dan bisa
memerintah serta mengendalikan negara beserta rakyatnya dengan
sesuka hatinya. Namun, Khalifah adalah wakil umat dalam masalah
pemerintahan dan kekuasaan, yang mereka pilih dan mereka bai’at
dengan penuh ridha agar menerapkan syari’at Allah atas diri mereka.
Sehingga Khalifah juga tetap harus terikat dengan hukum-hukum Islam
dalam semua tindakan, hukum serta pelayanannya terhadap kepentingan
umat.
Di samping itu, dalam pemerintahan Islam tidak mengenal wilayatul
ahdi (putra mahkota). Justru Islam menolak adanya putra mahkota,
bahkan Islam juga menolak memperoleh pemerintahan dengan cara
waris. Dimana Islam telah menentukan cara memperoleh pemerintahan
dengan cara memperoleh bai’at dari umat kepada Khalifah atau imam,
dengan penuh ridha dan kebebasan memilih.
2. Pemerintahan Islam Bukan Republik
Sistem pemerintahan Islam juga bukan sistem Republik. Dimana
sistem Republik berdiri di atas pilar sistem demokrasi, yang
kedaulatannya ada di tangan rakyat. Rakyatlah yang memiliki hak untuk
memerintah serta membuat aturan, termasuk rakyatlah yang kemudian
memiliki hak untuk menentukan seseorang untuk menjadi penguasa, dan
sekaligus hak untuk memecatnya. Rakyat juga berhak membuat aturan
berupa undang-undang dasar serta perundang-undangan, termasuk
berhak menghapus, mengganti serta merubahnya.
Sementara sistem pemerintahan Islam berdiri di atas pilar aqidah
Islam, serta hukum-hukum syara’. Dimana kedaulatannya di tangan
syara’, bukan di tangan umat. Dalam hal ini, baik umat maupun Khalifah
tidak berhak membuat aturan sendiri. Karena yang berhak membuat
aturan adalah Allah swt semata. Sedangkan Khalifah hanya memiliki
hak untuk mengadopsi hukum-hukum untuk dijadikan sebagai undang-
undang dasar serta perundang-undangan dari Kitabullah dan Sunnah
Rasul-Nya. Begitu pula umat tidak berhak untuk memecat Khalifah.
Karena yang berhak memecat Khalifah adalah syara’ semata. Akan
tetapi, umat tetap berhak untuk mengangkatnya. Sebab Islam telah
menjadikan kekuasaan di tangan umat. Sehingga umat berhak
mengangkat siapa saja yang mereka pilih dan mereka bai’at, untuk
menjadi wakil mereka.
Dalam sistem republik dengan bentuk presidensil-nya, seorang
presiden memiliki wewenang sebagai seorang kepala negara serta
wewenang sebagai seorang perdana menteri, sekaligus. Karena tidak ada
perdana menteri, sementara yang ada hanya para menteri , semisal
presiden Amerika. Sedangkan dalam sistem republik dengan bentuk
parlementer-nya, terdapat seorang presiden sekaligus dengan perdana
menterinya. Dimana wewenang pemerintahan dipegang oleh perdana
menteri, bukan presiden. Seperti Republik Perancis dan Jerman Barat.
Sedangkan di dalam sistem khilafah tidak ada menteri, maupun
kementerian bersama seorang Khalifah sebagaimana dalam konsep
demokrasi, yang memiliki spesialisasi serta departemen-departemen
tertentu. Yang ada dalam sistem khilafah hanyalah para mu’awin
(pembantu Khalifah) yang senantiasa dimintai bantuan oleh Khalifah.
Tugas mereka adalah membantu Khalifah dalam tugas-tugas
pemerintahan. Mereka adalah para pembantu dan sekaligus pelaksana.
Ketika Khalifah memimpin mereka, maka Khalifah memimpin mereka
bukan dalam kapasitasnya sebagai perdana menteri atau kepala lembaga
eksekutif, melainkan hanya sebagai kepala negara. Sebab dalam Islam
tidak ada kabinet menteri yang bertugas membantu Khalifah dengan
memiliki wewenang tertentu. Sehingga mu’awin tetap hanyalah
pembantu Khalifah untuk melaksanakan wewenang-wewenangnya.
Selain dua bentuk tersebut baik presidensil maupun parlementer
dalam sistem republik, presiden bertanggung jawab di depan rakyat atau
yang mewakili suara rakyat. Dimana rakyat beserta wakilnya berhak
untuk memberhentikan presiden, karena kedaulatan di tangan rakyat.
Kenyataan ini berbeda dengan sistem kekhilafahan. Karena seorang
amirul mu’minin (Khalifah), sekalipun bertanggung jawab di hadapan
umat dan wakil-wakil mereka, termasuk meneriman kritik dan koreksi
dari umat serta wakil-wakilnya, namun umat termasuk para wakilnya
tidak berhak untuk memberhentikannya. Amirul mu’minin juga tidak
akan diberhentikan kecuali apabila menyimpang dari hukum syara’
dengan penyimpangan yang menyebabkannya harus diberhentikan.
Jabatan pemerintahan (presiden atau perdana menteri) dalam sistem
republik, baik yang menganut presidensil maupun parlementer, selalu
dibatasi dengan masa jabatan tertentu, yang tidak mungkin bisa melebihi
dari masa jabatan tersebut. Sementara di dalam sistem khilafah, tidak
terdapat masa jabatan tertentu. Namun, batasannya hanyalah apakah
masih menerapkan hukum syara’ ataukah tidak. Karena itu, selama
Khalifah masih melaksanakan hukum syara’, dengan cara menerapkan
hukum-hukum tersebut kepada seluruh manusia di dalam
pemerintahannya, yang diambil dari Kitabullah serta Sunnah Rasul-Nya,
maka dia tetap menjadi Khalifah, sekalipun masa jabatannya amat
panjang dan lama. Dan apabila dia telah meninggalkan hukum syara’
serta menjauhkan penerapan hukum-hukum tersebut, maka berakhirlah
masa jabatannya, sekalipun baru sehari semalam. Sehingga tetap wajib
diberhentikan.
Dari pemaparan di atas, maka nampak jelas perbedaan yang
sedemikian jauh antara sistem kekhilafahan dengan sistem republik,
antara presiden dalam sistem republik dengan Khalifah dalam sistem
Islam. Karena itu, sama sekali tidak diperbolehkan untuk mengatakan
bahwa sistem pemerintahan Islam adalah sistem republik, atau
mengeluarkan statemen ; “Republik Islam”. Sebab, terdapat perbedaan
yang sedemikian besar antara kedua sistem tersebut pada aspek asas
yang menjadi dasar tegaknya kedua sistem tersebut, serta adanya
perbedaan di antara keduanya baik dari segi bentuk maupun substansi-
substansinya yang lain.
3. Pemerintahan Islam Bukan Kekaisaran
Sistem pemerintahan Islam juga bukan sistem kekaisaran, bahkan
sistem kekaisaran amat jauh dari ajaran Islam. Sebab wilayah yang
diperintah dengan sistem Islam sekalipun ras dan sukunya berbeda serta
dalam masalah pemerintahan, menganut sistem sentralisasi pada
pemerintah pusat tidak sama dengan wilayah yang diperintah dengan
sistem kekaisaran. Bahkan, berbeda jauh dengan sistem kekaisaran
tersebut. Sebab sistem ini tidak menganggap sama antara ras satu
dengan yang lain dalam hal pemberlakuan hukum di dalam wilayah
kekaisaran. Dimana sistem ini telah memberikan keistimewaan dalam
bidang pemerintahan, keuangan dan ekonomi di wilayah pusat.
Sedangkan tuntunan Islam dalam bidang pemerintahan adalah
menganggap sama antara rakyat yang satu dengan rakyat yang lain
dalam wilayah-wilayah negara. Islam juga telah menolak ikatan-ikatan
kesukuan (ras). Bahkan, Islam memberikan semua hak-hak rakyat dan
kewajiban mereka kepada orang non-Islam yang memiliki
kewarganegaraan. Dimana mereka memperoleh hak dan kewajiban
sebagaimana yang menjadi hak dan kewajiban umat Islam. Lebih dari
itu, Islam senantiasa memberikan hak-hak tersebut kepada masing-
masing rakyat—apapun madzhabnya—yang tidak diberikan kepada
rakyat negara lain, meskipun Muslim.
Dengan adanya pemerataan ini, jelas bahwa sistem Islam berbeda
jauh dengan sistem kekaisaran. Dalam sistem Islam, tidak ada wilayah-
wilayah yang menjadi daerah kolonial, maupun lahan eksploitasi serta
lahan subur yang senantiasa dikeruk untuk wilayah pusat. Karena
wilayah-wilayah tersebut tetap dianggap menjadi satu kesatuan,
sekalipun sedemikian jauh jaraknya antara wilayah yang satu dengan ibu
kota Daulah Islam. Begitu pula masalah keragaman ras warganya.
Sebab, setiap wilayah dianggap sebagai satu bagian dari tubuh negara.
Rakyat yang lainnya juga sama-sama memiliki hak sebagaimana hak
rakyat yang hidup di wilayah pusat, atau wilayah-wilayah lainnya.
Dimana otoritas pejabat pemerintahannya, sistem serta perundang-
undangannya sama dengan wilayah-wilayah yang lain.

4. Pemerintahan Islam Bukan Federasi


Sistem pemerintahan Islam juga bukan sistem federasi, yang
membagi wilayah-wilayahnya dalam otonominya sendiri-sendiri, dan
bersatu dalam pemerintahan secara umum. Tetapi, sistem pemerintahan
Islam adalah sistem kesatuan. Yang mencakup seluruh negeri seperti
Maroko di bagian barat dan Khurasan di bagian timur. Sebagaimana
yang pernah dikenal dengan sebutan mudiriyatul fuyum (semacam
kabupaten) ketika ibu kota Islam berada di Kairo. Harta kekayaan
seluruh wilayah negara Islam dianggap satu. Begitu pula anggaran
belanjanya akan diberikan secara sama untuk kepentingan seluruh
rakyat, tanpa melihat daerahnya. Kalau seandainya ada wilayah telah
mengumpulkan pajak, sementara kebutuhannya kecil, maka wilayah
tersebut akan diberi sesuai dengan tingkat kebutuhannya, bukan
berdasarkan hasil pengumpulan hartanya. Kalau seandainya ada
wilayah, yang pendapatan daerahnya tidak bisa mencukupi
kebutuhannya, maka Daulah Islam tidak akan mempertimbangkannya.
Tetapi, wilayah tersebut tetap akan diberi anggaran belanja dari
anggaran belanja secara umum, sesuai dengan tingkat kebutuhannya.
Baik pajaknya cukup untuk memenuhi kebutuhannya, ataupun tidak.
Sistem pemerintahan Islam juga tidak berbentuk federasi, melainkan
berbentuk kesatuan. Karena itu, sistem pemerintahan Islam adalah
sistem yang berbeda sama sekali dengan sistem-sistem yang telah
populer lainnya saat ini. Baik dari aspek landasannya maupun substansi-
substansinya yang lain. Sekalipun dalam beberapa prakteknya ada yang
hampir menyerupai dengan praktek dalam sistem yang lain.
Disamping hal-hal yang telah dipaparkan di atas, sistem
pemerintahan Islam adalah sistem pemerintahan sentralisasi, di mana
penguasa tertinggi cukup di pusat. Pemerintahan pusat mempunyai
otoritas yang penuh terhadap seluruh wilayah negara, baik dalam
masalah-masalah yang kecil maupun yang besar. Daulah Islam juga
tidak akan sekali-kali mentolerir terjadinya pemisahan salah satu
wilayahnya, sehingga wilayah-wilayah tersebut tidak akan lepas begitu
saja. Negaralah yang akan mengangkat para panglima, wali dan amil,
para pejabat dan penanggung jawab dalam urusan harta dan ekonomi.
Negara juga yang akan mengangkat para qadli di setiap wilayahnya.
Negara juga yang mengangkat orang yang bertugas menjadi pejabat
pemerintahan (hakim). Disamping negara yang akan mengurusi secara
langsung seluruh urusan yang berhubungan dengan pemerintahan di
seluruh negeri.
Pendek kata, sistem pemerintahan di dalam Islam adalah sistem
khilafah. Dan ijma’ shahabat telah sepakat terhadap kesatuan khilafah,
kesatuan negara serta ketidakbolehan berbai’at selain kepada satu
Khalifah. Sistem ini telah disepakati oleh para imam mujtahid serta
jumhur fuqaha. Yaitu apabila ada seorang Khalifah dibai’at, padahal
sudah ada Khalifah yang lain atau sudah ada bai’at kepada seorang
Khalifah, maka Khalifah yang kedua harus diperangi, sehingga Khalifah
yang pertama terbai’at. Sebab secara syar’i, bai’at telah ditetapkan untuk
orang yang pertama kali dibai’at dengan bai’at yang sah.
F. Jihad Menuju Rahmatan Lil Alamin
Islam bukan agama fardiyah (individual), tetapi Islam merupakan agama
pemersatu (ummatan wahidah). Islam bukan hanya agama ibadah, tetapi merupakan
the way of life (jalan hidup) yang paripurna, mengatur segala urusan tentang dunia
dan akhirat.Islam mengajak pemeluknya kepada wihdah (persatuan), al-quwwah
(kekuatan), al ‘izzah (harga diri), al-‘adl (keadilan), dan kepada jihad (perjuangan),
tetapi bukan jihad dengan cara yang jahat.
Misi risalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam)
bertujuan untuk memberikan hidayah (petunjuk) manusia pada agama yang haq, yang
diridhoi Allah SWT. Fungsi Islam yang menyejukkan bagi seluruh umat manusia,
tidak mungkin terwujud, kecuali jika benar-benar diamalkan oleh seorang muslim
yang memiliki kepribadian muslim sejati.
Islam melihat hidup ini merupakan suatu perjalanan dari satu titik ke titik
yang lain, beranjak dari garis masa lalu, melewati masa kini, untuk menuju masa
depan. Masa lalu adalah sebuah sejarah, masa kini adalah realita dan masa yang akan
datang adalah cita-cita. Sebagai seorang muslim yang sejati, tentunya tidak akan
membiarkan hidup ini sia-sia. Hidup di dunia ini menjadi terlalu singkat jika hanya
dipenuhi dengan keluhan, kegelisahan, rasa pesimis dan angan-angan. Karena pribadi
seperti itu,tidak mencerminkan jati diri seorang muslim sejati. Rasulullah Saw
bersabda: “Seorang muslim tidak akan pernah ditimpa kecuali kebaikan, apabila
ditimpa kejelekan ia bersabar, dan jika dilimpahkan kenikmatan ia bersyukur.”
Seorang muslim seharusnya tidak mengeluh menghadapi realita kehidupan,
jika ia telah memiliki kepribadian yang utuh. Untuk menjadi pribadi muslim yang
mengedepankan Islam rahmatan lil ‘alamin, sesuai dengan apa yang digariskan oleh
Rasulullah SAW, sudah semestinya memiliki sifat yang sesuai dengan tuntunan
Alquran dan Al-Hadits. Jika disederhanakan, setidaknya ada sepuluh sifat yang mesti
melekat di dalam diri seorang muslim yang dapat menjadikan Islam sebagai rahmat
bagi alam semesta. Pada bagian ini penulis membahas lima dari sepuluh sifat
tersebut, yaitu:
1. Salâmatul ‘Aqîdah (Keyakinan yang benar).
Hidup di dunia ini bagai orang yang tengah mengadakan suatu perjalanan.
Coba bayangkan, seandainya dalam suatu perjalanan kita tidak mengetahui arah
mana yang akan anda tuju. Di terminal bus, di dermaga, atau di bandara, kita
terduduk sambil bertanya hendak ke manakah diri ini harus pergi? Apa yang
akan terjadi? Sudah bisa dipastikan kita akan mudah tersesat. Mengapa? Karena
kita tidak mempunyai keyakinan pasti untuk sampai kepada suatu tujuan.
Demikian halnya dengan perjalanan seorang muslim di dunia ini, dia harus
mempunyai keyakinan yang lurus, sebagai syarat untuk dapat sampai kepada
tujuannya.
Keyakinan terhadap Allah membuat muslim selalu dalam keadaan optimis
akan pertolongan-Nya. Yakin terhadap Malaikat membuat muslim menyadari
bahwa makhluk Allah yang paling taat ini, akan selalu mencatat segala
perbuatannya di dunia, sehingga amal perbuatan muslim selalu dipenuhi dengan
hal-hal positif. Yakin terhadap kitab, membuat muslim selalu membaca panduan
hidupnya setiap saat. Yakin terhadap Rasul, membuat muslim memantapkan
langkahnya hidup di dunia, bahwa Allah tidak meninggalkannya tanpa pemandu
perjalanan yang panjang ini. Yakin terhadap hari akhir, membuat muslim tahu
akan tujuan akhirnya. Iman kepada qadla dan qadar membuat muslim menyadari
akan tanggung jawabnya hidup di dunia, sehingga tidak terjatuh pada keyakinan
jabariyah atau keyakinan qadariyah.
2. Shihhatul ‘Ibâdah (Ibadah yang benar)
Kita sekarang sudah yakin dengan perjalanan yang sedang kita lakukan ini.
Tinggal bagaimana kita harus melaluinya dengan baik, sehingga tidak tersesat.
Karenanya, ibadah adalah implementasi dari sebuah keyakinan. Yang perlu kita
sadari adalah, bahwa ibadah dalam Islam bukanlah merupakan taklif
(pembebanan), melainkan tasyrif (pemuliaan) dari Allah Swt. Ketika seorang
manusia dijuluki oleh Allah ‘ibadullah, maka ia termasuk orang-orang yang
dikasihi-Nya.
Ibadah dalam Islam bukan hanya mencakup ritual keagamaan semata,
semisal: shalat, zakat, puasa dan haji, tetapi semua lini kehidupan di dalam
memakmurkan dunia ini yang tidak bertentangan dengan landasan Alquran dan
Sunnah, semisal mencari nafkah secara halal, berhubungan baik dengan keluarga
dan sesama manusia, menjaga keharmonisan di tengah keragaman, taat hukum,
mengedepan rasa keadilan, dan lain sebagainya.
Seorang muslim harus memahami arti ibadah dengan benar. Ibadah yang
benar lahir dari aqidah yang benar. Ibadah yang benar adalah ibadah yang
membawa pengaruh positif bagi dirinya dan orang lain.
3. Matînul Khulûq (Akhlaq yang kokoh)
Menjadi orang baik sebenarnya tidak sulit, sangat mudah bagi yang memiliki
tekad dan kemauan yang kuat. Awal dari segala sesuatu itu memang susah.
Namun, jika kita sudah terbiasa, kita tidak akan pernah mengatakannya sulit lagi.
Ingatkah kita ketika pertama kali kita belajar naik sepeda? Mungkin kita pernah
berfikir, bagaimana caranya menjalankan sepeda yang hanya mempunyai dua
roda. Pertama yang kita lakukan adalah duduk di sadel, menurunkan kedua kaki
di tanah, dan tangan memegang kendalinya. Semuanya berjalan dengan baik.
Lalu, salah satu dari kita mulai untuk menggenjot sadel di satu sisinya. kita
gugup, baru beberapa meter, kita kehilangan kendali dan terjatuh.
Setelah beberapa kali mencobanya, kita sudah mulai terbiasa memegang
kendali, menjaga keseimbangan dan menggenjot pedal dengan nyaman. kita
sudah lupa, kesulitan pertama kali menjalankannya, dan ternyata naik sepeda itu
nikmat dan terasa mudah. Demikianlah, ketika kita berlatih mengendalikan diri,
membiasakan dengan hal-hal yang baik, dan menjauhi sikap-sikap yang tidak
berguna. Semakin dibiasakan, perilaku itu keluar dengan sendirinya secara
otomatis. Inilah yang disebut akhlaq (karakter), yaitu perilaku yang keluar secara
otomatis, dan mencerminkan ekspresi diri seseorang di segala tempat dan waktu.
Akhlaq bukanlah perilaku kondisional, yang hanya diekspresikan pada waktu-
waktu tertentu, tetapi memiliki akhlak yang komit, tidak fluktuatif, dan tidak
berubah dalam kondisi bagaimana pun itulah muslim yang membawa nilai
rahmatan lil ‘alamin.
4. Tsaqôfatul Fikr (Wawasan pengetahuan yang luas)
Menjalani kehidupan di dunia ini tidak hanya sekedar mengandalkan
keyakinan, ibadah dan akhlak. Siapapun orangnya, ketika sedang melakukan
perjalanan pasti membutuhkan pengetahuan tentang apa yang sedang ia tuju.
Ketika kita hendak beranjak ke suatu daerah, misalnya, kita tentu mencari
informasi tentang kondisinya, cuacanya, budayanya, makanan khasnya, dan hal-
hal lain yang perlu kita persiapkan sejak dini. Dengan informasi itulah kita
mampu mengira-ngira apa yang dapat kita kerjakan sekarang, untuk persiapan
nanti.
Begitu pula halnya dengan kehidupan yang sedang kita jalani ini. Kita tentu
membutuhkan informasi-informasi yang diperlukan dalam melanjutkan
perjalanan hidup. Wawasan itulah yang akan memandu perjalanan hidup kita.
Proses yang sedang kita jalani dalam hidup ini juga tidak lepas dari pengalaman-
pengalaman yang akan menjadi guru terbaik bagi kita. Karenanya, bagi seorang
muslim, mencari ilmu pengetahuan merupakan salah satu kewajiban.
5. Quwwatul Badân (Tubuh yang kuat)
Kesempurnaan itu dambaan setiap orang. Masing-masing kita akan mencoba
mencapai kesempurnaan diri, sesuai dengan kemampuannya. Dengan kekuatan
itulah setiap orang akan berusaha mencapai keseimbangannya. Seahli apapun
kita mengendarai sepeda, jika ban di rodanya kempes, tentu kita tidak akan dapat
berbuat banyak, hingga ban itu baik kembali.
Karenanya, persiapkanlah jasmani kita sebaik mungkin untuk dapat
melanjutkan perjalanan kita secara fit dan prima. Salat, puasa, zakat dan haji
merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang
sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan
lainnya.
Kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan
pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Namun
demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-
kadang terjadi.
BAB II
BUDAYA DAN ETOS KERJA ISLAMI
A. Konsepsi dan Urgensi
Budaya Akademik dapat dipahami sebagai suatu totalitas dari kehidupan dan kegiatan
akademik yang dihayati, dimaknai dan diamalkan oleh warga masyarakat akademik, di
lembaga pendidikan tinggi dan lembaga penelitian
Kehidupan dan kegiatan akademik diharapkan selalu berkembang, bergerak maju
bersama dinamika perubahan dan pembaharuan sesuai tuntutan zaman.
Perubahan dan pembaharuan dalam kehidupan dan kegiatan akademik menuju kondisi yang
ideal senantiasa menjadi harapan dan dambaan setiap insan yang mengabdikan dan
mengaktualisasikan diri melalui dunia pendidikan tinggi dan penelitian, terutama mereka yang
menggenggam idealisme dan gagasan tentang kemajuan. Perubahan dan pembaharuan ini
hanya dapat terjadi apabila digerakkan dan didukung oleh pihak-pihak yang saling terkait,
memiliki komitmen dan rasa tanggungjawab yang tinggi terhadap perkembangan dan
kemajuan budaya akademik.
Budaya akademik sebenarnya adalah budaya universal. Artinya, dimiliki oleh setiap
orang yang melibatkan dirinya dalam aktivitas akademik. Membanggun budaya akademik
bukan perkara yang mudah. Diperlukan upaya sosialisasi terhadap kegiatan akademik,
sehingga terjadi kebiasaan di kalangan akademisi untuk melakukan norma-norma kegiatan
akademik tersebut.
Pemilikan budaya akademik ini seharusnya menjadi idola semua insan akademisi
perguruaan tinggi, yakni dosen dan mahasiswa. Derajat akademik tertinggi bagi seorang
dosen adalah dicapainya kemampuan akademik pada tingkat guru besar (profesor). Sedangkan
bagi mahasiswa adalah apabila ia mampu mencapai prestasi akademik yang setinggi-
tingginya.
Khusus bagi mahasiswa, faktor-faktor yang dapat menghasilkan prestasi akademik
tersebut ialah terprogramnya kegiatan belajar, kiat untuk berburu referensi actual dan
mutakhir, diskusi substansial akademik, dsb. Dengan melakukan aktivitas seperti itu
diharapkan dapat dikembangkan budaya mutu (quality culture) yang secara bertahap dapat
menjadi kebiasaan dalam perilaku tenaga akademik dan mahasiswa dalam proses pendidikan
di perguruaan tinggi.
Oleh karena itu, tanpa melakukan kegiatan-kegiatan akademik, mustahil seorang
akademisi akan memperoleh nilai-nilai normative akademik. Bias saja ia mampu berbicara
tentang norma dan nilai-nilai akademik tersebut didepan forum namun tanpa proses belajar
dan latihan, norma-norma tersebut tidak akan pernah terwujud dalam praktik kehidupan
sehari-hari. Bahkan sebaliknya, ia tidak segan-segan melakukan pelanggaran dalam wilayah
tertentu—baik disadari ataupun tidak.
Kiranya, dengan mudah disadari bahwa perguruan tinggi berperan dalam mewujudkan
upaya dan pencapaian budaya akademik tersebut. Perguruan tinggi merupakan wadah
pembinaan intelektualitas dan moralitas yang mendasari kemampuan penguasaan IPTEK dan
budaya dalam pengertian luas disamping dirinya sendirilah yang berperan untuk perubahan
tersebut.
Kemuliaan seorang manusia itu bergantung kepada apa yang dilakukannya. Dengan itu,
sesuatu amalan atau pekerjaan yang mendekatkan seseorang kepada Allah adalah sangat
penting serta patut untuk diberi perhatian. Amalan atau pekerjaan yang demikian selain
memperoleh keberkahan serta kesenangan dunia, juga ada yang lebih penting yaitu
merupakan jalan atau tiket dalam menentukan tahap kehidupan seseorang diakhirat kelak,
apakah masuk golongan ahli syurga atau sebaliknya.
Istilah ‘kerja’ dalam Islam bukanlah semata-mata merujuk kepada mencari rezeki untuk
menghidupi diri dan keluarga dengan menghabiskan waktu siang maupun malam, dari pagi
hingga sore, terus menerus tak kenal lelah, tetapi kerja mencakup segala bentuk amalan atau
pekerjaan yang mempunyai unsur kebaikan dan keberkahan bagi diri, keluarga dan
masyarakat sekelilingnya serta negara. Dengan kata lain, orang yang berkerja adalah mereka
yang menyumbangkan jiwa dan enaganya untuk kebaikan diri, keluarga, masyarakat dan
negara tanpa menyusahkan orang lain. Oleh karena itu, kategori ahli Syurga seperti yang
digambarkan dalam Al-Qur’an bukanlah orang yang mempunyai pekerjaan/jabatan yang
tinggi dalam suatu perusahaan/instansi sebagai manajer, direktur, teknisi dalam suatu bengkel
dan sebagainya. Tetapi sebaliknya Al-Quran menggariskan golongan yang baik lagi
beruntung (al-falah) itu adalah orang yang banyak taqwa kepada Allah, khusyu sholatnya,
baik tutur katanya, memelihara pandangan dan sikap malunya pada-Nya serta menunaikan
tanggung jawab sosialnya seperti mengeluarkan zakat dan lainnya (QS Al Mu’minun : 1 – 11)
Golongan ini mungkin terdiri dari pegawai, supir, tukang sapu ataupun seorang yang
tidak mempunyai pekerjaan tetap. Sifat-sifat di ataslah sebenarnya yang menjamin kebaikan
dan kedudukan seseorang di dunia dan di akhirat kelak. Jika membaca hadits-hadits
Rasulullah SAW tentang ciri-ciri manusia yang baik di sisi Allah, maka tidak heran bahwa
diantara mereka itu ada golongan yang memberi minum anjing kelaparan, mereka yang
memelihara mata, telinga dan lidah dari perkara yang tidak berguna, tanpa melakukan amalan
sunnah yang banyak dan seumpamanya.
Dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Umar r.a., berbunyi :
’Bahwa setiap amal itu bergantung pada niat, dan setiap individu itu dihitung berdasarkan apa
yang diniatkannya’
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda :
‘Binasalah orang-orang Islam kecuali mereka yang berilmu. Maka binasalah golongan
berilmu, kecuali mereka yang beramal dengan ilmu mereka. Dan binasalah golongan yang
beramal dengan ilmu mereka kecuali mereka yang ikhlas. Sesungguhnya golongan yang
ikhlas ini juga masih dalam keadaan bahaya yang amat besar …’ Kedua hadist diatas sudah
cukup menjelaskan betapa niat yang disertai dengan keikhlasan itulah inti sebenarnya dalam
kehidupan dan pekerjaan manusia. Alangkah baiknya kalau umat Islam hari ini, dapat
bergerak dan bekerja dengan tekun dan mempunyai tujuan yang satu, yaitu ‘mardatillah’
(keridhaan Allah).
Itulah yang dicari dalam semua urusan. Dari situlah akan lahir nilai keberkahan yang
sebenarnya dalam kehidupan yang penuh dengan curahan rahmat dan nikmat yang banyak
dari Allah. Inilah golongan yang diistilahkan sebagai golongan yang tenang dalam ibadah,
ridha dengan kehidupan yang ditempuh, serta optimis dengan janji-janji Allah.
B. Landasan dan Tujuan
Landasan etos kerja Islami bersumber dari Al Quran dan Sunnah Nabi. Ayat Al Quran
yang menerangkan tentang etos kerja dalam Islam antara lain :
1. Q.S Al – Qashash : 77
Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
(kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah
telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)
bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Penjelasan :
Pada ayat ini Allah memrintahkan kepada orang-orang yang beriman agar dapat
menciptakan keseimbangan antara usaha untuk memperoleh keperluan duniawi dan
usaha untuk keperluan ukhrawi. Dalam kaitannya dengan keseimbangan urusan
duniawi dan ukhrawi, diriwayatkan oleh Ibnu Askar bahwa Nabi SAW bersabda :
‫إعمللدنياككأنّكتعيسابداوواعملألخرتككأنّكتموتغدا‬.
“Kerjakanlah urusan duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan
beramallah (Beribadah) untuk akhiratmu sekan-akan kamu akan mati besok” (HR.
Ibnu Askar)
Selanjutnya ayat di atas Allah memerintahkan supaya berbuat baik kepada diri dan
sesamanya (orang lain). Kebaikan Allah yang maha rahman dan rahim keada seluruh
makhluk-Nya tidak terhitung jumlahnya. Jenis-jenis perbuatan baik itu sangat
beragam, misalnya membantu orang yang membutuhkan pertolongan, menyantuni
anak yatim, bepartisipasi membangun masid, madrasah, jalan umum dan lain-lain.
Bebuat baik kepada orang lain artinya melakukan perbuatan yang baik dan berguna
untuk kepentingan orang lain, dengan segala potensi yang dimiliki. Maka perbuatan
baik itu bisa dilakukan dengan ucapan, tenaga, harta, ilmu dan lain-lain. Dan berbuat
baik terhadap diri sendiri, yaitu memelihara dan menjaga diri dari bahaya. Misalnya
memelihara diri supaya sehat jasmani dan rohani, dengan memakan makanan yang
halal lagi baik, berobat ketika sakit dan lain-lain.[6] Diakhir ayat ini Allah juga
memerintahkan kepada manusia agar tidak berbuat kerusakan di muka bumi, seperti
menebang hutan tanpa perhitungan, mencemari air maupun udara, bahkan terhadap
sesama manusia saling menfitnah, adu domba, permusuhan dan pembunuhan. Semua
itu sangat di benci Allah, karena akan berakibat kerusakan alam dan hancurnya
kedamaian makhluk hidup.
2. Q.S Al – Mujadilah : 11
Artinya : Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-
lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi
kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah,
niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-
orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui
apa yang kamu kerjakan.
Penjelasan:
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hati dari Muqatil bin Hibban, bahwa pada suatu hari,
yaitu hari Jum’at para pahlawan perang Badar datang ketempat pertemuan yang
penuh sesak. Orang-orang pada tidak mau memberi tempat kepada yang baru datang
itu, sehingga terpaksa mereka berdiri. Rasulullah menyuruh berdiri pada orang-
orang yang lebih dahulu duduk. Sedang para pahlawan Badar disuruh duduk
ditempat mereka. Orang-orang yang disuruh pindah tempat merasa tersinggung
perasaannya. Kemudian turunlah ayat ini sebagai perintah kaum Muslimin untuk
menaati perintah Rasulullah dan memberi kesempatan duduk kepada sesama
mukmin.Pada bagian akhir dari ayat 11 di atas menjelaskan bahwa Allah akan
mengangkat tinggi-tinggi kedudukan orang yang beriman dan orang-orang yang
berilmu. Orang-orang mukmin diangkat oleh Allah dan Rasul-Nya, sedangkan
orang-orang berilmu diangkat kedudukannya karena mereka dapat memberi banyak
manfaat kepada orang lain. Ilmu disini tidak terbatas pada ilmu-ilmu agama atau
keakheratan saja, tetapi menyangkut ilmu-ilmu keduniawian. Apapun ilmu yang
dimiliki seseorang bila ilmu itu bermanfaat bagi dirinya dan orang lain maka akan
mejadi pusaka bagi pemiliknya, selain amal jariyah dan anak shaleh.
Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al Quran yang menjelaskan tentang pentingnya etos
kerja dalam Islam.
Untuk tujuan dari etos kerja sendiri antara lain adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup
manusia, sehingga manusia bisa beribadah dengan sebaik baiknya apabila kebutuhan
hidupnya terpenuhi.
C. Karakteristik Budaya dan Etos Kerja Islam
Prinsipnya segala apa yang kerjakan oleh seorang muslim adalah bernilai ibadah di sisi
Allah SWT apabila diniatkan untuk meraih ridha-Nya. Termasuk di dalamnya rangka
mencari rizki, menimba ilmu, dan lain sebagainya. Maka sungguh beruntung sebagai seorang
muslim yang apabila ia niatkan segala perbuataannya hanya untuk meraih ridhaNya. Bekerja
untuk mencari fadhilah karunia Allah, menjebol kemiskinan, meningkatkan taraf hidup dan
martabat serta harga diri adalah merupakan nilai ibadah yang esensial, karen Nabi bersabda :
“Kemiskinan itu sesungguhnya lebih mendekati kepada kekufuran”. Maka, melakukan segala
aktifitas dengan diniatkan ibadah merupakan cirri utama dari etos kerja seorang muslim. Hal
ini dikarenakan memang manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah.
Sebagaimana firman Allah SWT, “dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan
hanya untuk beribadah kepadaKu”. Disamping itu pula, sebagai seorang muslim, maka
budaya kerja islami bertumpu pada akhlakul karimah, umat Islam akan menjadikan akhlak
sebagai energy batin yang terus menyala dan mendorong setiap langkah kehidupannya dalam
koridor jalan yang lurus.
Jika kerja adalah ibadah dan status hukum ibadah pada dasarnya adalah wajib, maka
status hukum bekerja pada dasarnya juga wajib. Kewajiban ini pada dasarnya bersifat
individual, atau fardhu ‘ain, yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Hal ini
berhubungan langsung dengan pertanggung jawaban amal yang juga bersifat individual,
dimana individulah yang kelak akan mempertanggung jawabkan amal masing-masing. Untuk
pekerjaan yang langsung memasuki wilayah kepentingan umum, kewajiban menunaikannya
bersifat kolektif atau sosial, yang disebut dengan fardhu kifayah,sehingga lebih menjamin
terealisasikannya kepentingan umum tersebut. Namun, posisi individu dalam konteks
kewajiban sosial ini tetap sentral. Setiap orang wajib memberikan kontribusi dan
partisipasinya sesuai kapasitas masing-masing, dan tidak ada toleransi hingga tercapai tingkat
kecukupan (kifayah) dalam ukuran kepentingan umum. Cirri-ciri orang yang mempunyai dan
menghayati etos kerja akan tamapak dalam kehidupan sehari-hari yang tentunya berlandaskan
pada suatu keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja itu ibadah dan berprestasi itu
indah. Salah satu esensi dan hakikat dari etos kerja adalah cara seorang menghayati,
memahami, cara bekerja dengan baik.
Adapun prinsip utama seorang muslim dalam bekerja ialah:
1. Kerja, aktifitas, ‘amal dalam Islam adalah perwujudan rasa syukur kita kepada ni’mat
Allah SWT. (QS. Saba’ [34] : 13)
"Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali
dari hamba-hambaKu yang berterima kasih."
2. Seorang Muslim hendaknya berorientasi pada pencapaian hasil yang baik bagi
kehidupan dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. Al-
Baqarah [002] : 201
..dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan Kami, berilah Kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka".
3. Dua karakter utama yang hendaknya kita miliki: al-qawiyy (kuat) dan al-amiin (dapat
dipercaya). Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qashash [28] : 26
"Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang
yang bekerja (pada kita), karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu
ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya".
Lafadz “Al-qawiyy” merujuk kepada : reliability, dapat diandalkan. Juga berarti,
memiliki kekuatan fisik dan mental (emosional, intelektual, spiritual). Sedangkan
lafadz “al-Amiin merujuk kepada integrity, satunya kata dengan perbuatan alias jujur,
dapat memegang amanah.
4. Kerja keras. Ciri pekerja keras adalah sikap pantang menyerah; terus mencoba hingga
berhasil. Kita dapat meneladani ibunda Ismail a.s. Sehingga seorang pekerja keras
tidak mengenal kata “gagal” (atau memandang kegagalan sebagai sebuah kesuksesan
yang tertunda). Oranfg yang bekerja keras dikelompokkan sebagai mujahid di sisi
Allah SWT. Hal ini sesuai dengan pesan RAsulullah SAW dala sebuah hadis yang
diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yang artinya “Sesungguhnya Allah mencintai
hanba-Nya yang bekerja dan terampil. Barang siapa bersusah payah mencari nafkah
untuk keluarganya, maka ia serupa dengan seorang mujahid di jlan Allah”. (HR.
Ahmad), sebaliknya Islam mengutuk perbuatan malas-malasan.[12]
5. Kerja dengan cerdas. Cirinya: memiliki pengetahuan dan keterampilan; terencana;
memanfaatkan segenap sumberdaya yang ada. Seperti yang tergambar dalam kisah
Nabi Sulaiman a.s.
Jika etos kerja dimaknai dengan semangat kerja, maka etos kerja seorang Muslim
bersumber dari visinya: meraih kebaikan baik di dunia dan juga di akhirat. Jika etos kerja
difahami sebagai etika kerja; sekumpulan karakter, sikap, mentalitas kerja, maka dalam
bekerja, seorang Muslim senantiasa menunjukkan kesungguhan. maka etos kerja kaum
Muslim selayaknya memperhatikan kualitas pekerjaannya. Ini artinya, dalam bekerja
karakteristik spiritual tetap terjaga dan terpelihara yakni pekerjaan itu dilaksanakan dengan
penuh tanggung jawab.Tanggung jawab terhadap kerja berarti kesiapan untuk bertanggung
jawab di hadapan Yang Mutlak karena kerja adalah saksi bagi semua tindakan manusia.
Apapun yang ingin kita capai harus melalui sebuah proses kerja dan ‘amal. Dan bila para
pengusung panji kedurhakaan pada Allah Azza wa Jalla juga bekerja dengan sangat keras
untuk memperbanyak pengikutnya, lalu mengapa kita –para pengusung panji ketundukan
pada Allah- tidak bekerja keras pula –setidaknya dengan ‘kekerasan’ yang sama dengan
mereka bila kita tidak mampu (baca : mau) bekerja lebih keras memperbanyak kafilah orang-
orang yang berserah diri kepada Allah ?
Hal ini tentu saja semakin diperkuat dengan kenyataan bahwa Islam sebagai satu-satunya
agama yang haq adalah agama yang menjadikan kerja dan ‘amal sebagai salah satu bagian
pentingnya. Anda bahkan tidak bisa disebut sebagai seorang mu’min bila iman Anda hanya
sebatas hati dan ucapan, namun tidak dibuktikan dalam wujud perbuatan.
Ketika kita memilih pekerjaan, maka haruslah didasarkan pada pertimbangan moral, apakah
pekerjaan itu baik (amal shalih) atau tidak. Islam memuliakan setiap pekerjaan yang baik,
tanpa mendiskriminasikannya, apakah itu pekerjaan otak atau otot, pekerjaan halus atau kasar,
yang penting dapat dipertanggungjawabkan secara moral di hadapan Allah. Pekerjaan itu
haruslah tidak bertentangan dengan agama, berguna secara fitrah kemanusiaan untuk dirinya,
dan memberi dampak positif secara sosial dan kultural bagi masyarakatnya. Karena itu,
tangga seleksi dan skala prioritas dimulai dengan pekerjaan yang manfaatnya bersifat primer,
kemudian yang mempunyai manfaat pendukung, dan terakhir yang bernilai guna sebagai
pelengkap.
Berdasarkan itu semua, maka hajat setiap muslim untuk meningkatkan kualitas kerja dan
‘amalnya tentu semakin besar dan mendesak. Dan untuk mewujudkan hal itu, seorang muslim
tentu saja harus mempunyai etos kerja yang kokoh dan kuat yang kemudian mendorongnya
untuk bekerja dan beramal sebaik mungkin hingga menghadap Allah SWT.
D. Prinsip Budaya dan Etos Kerja Islami
Ada 5 prinsip budaya dan etos kerja islami, antara lain:
1. Kerja, aktifitas, ‘amaldalam Islam
Adalah perwujudan rasa syukur kita kepada nikmat Allah SWT. (QS. Saba’ [34] :
13)
2. Seorang Muslim hendaknya berorientasi pada pencapaian hasil: hasanah fi ad-
dunyaa dan hasanah fi al-akhirah – QS. Al-Baqarah [002] : 201)
3. Dua karakter utama yang hendaknya kita miliki: al-qawiyy dan al-amiin. QS. Al-
Qashash [28] : 26
4. Kerja keras. Ciri pekerja keras adalah sikap pantang menyerah; terus mencoba
hingga berhasil.Kita dapat meneladani ibunda Ismail a.s. Sehingga seorang pekerja
keras tidak mengenal kata “gagal” (atau memandang kegagalan sebagai sebuah
kesuksesan yang tertunda)
5. Kerja dengan cerdas. Cirinya: memiliki pengetahuan dan keterampilan; terencana;
memanfaatkan segenap sumberdaya yang ada. Seperti yang tergambar dalam kisah
Nabi Sulaiman a.s.
E. ACTIVE Semangat Budaya Kerja UNS
Pernahkan anda melihat Slogan UNS Active? Sudahkah anda paham
sebagai civitas akademik ? Komitmen Budaya Kerja UNS Active ini dari hasil
deseminasi dari evaluasi tentang 10 (sepuluh) budaya kerja yang telah berjalan
selama 1 (satu) tahun sebelumnya. Kemudian berdasar komitmen bersama dalam
lokakarya di Salatiga disepakati dibawa nama budaya kerja adalah ACTIVE yang
merupakan akronim dari nilai-nilai budaya kerjaAchievement Orientation,
Customer Satisfaction, Teamwork, Integrity, Visionary, dan Entrepreneurship.
a. Pengertian
Budaya kerja Active adalah norma, nilai, dan panduan, bagi setiap
insan kampus di UNS untuk bersama-sama melaksanakan tugas dan
fungsi masing-masing untuk mencapai visi dan misi UNS ke depan.
Active merupakan akronim dari Achievement Orientation, Customer
Satisfaction, Teamwork,Integrity, Visionary, Entrepreneurship.
b. Visi
Budaya kerja UNS Active adalah menjadi panduan sikap dan
perilaku insan kampus di UNS dalam melaksanakan tugas pokok dan
fungsi masing-masing.
c. Misi
Mewujudkan perubahan cara berpikir (mindset) insan kampus
menuju sikap dan perilaku professional.
d. Nilai Budaya Kerja UNS ACTIVE
NILAI BUDAYA KERJA DEFINISI ASPEK
ACHIEVEMENTORIENTATION Kemampuan untuk  Unggul
( Orientasi berprestasi ) bekerja dgn baik dan  Orientasi pada
melampaui standar  hasil
prestasi yang ditetapkan,  Kesempurnaan
berorientasi pada hasil  Standar prestasi
dan terus menerus  Inisiatif
melakukan upaya untuk  Organisasi
meraih keunggulan.  pembelajaran ,
 Ahli di bidangnya
 ( expert )
CUSTOMERSATISFACTION Kemampuan untuk  Cepat, tanggap
(Kepuasan Pengguna Jasa ) membantu atau  Fokus pada kebutuhan
melayani orang lain atau  pengguna jasa
memenuhikebutuhan  Empati
pengguna jasa baik  Active
intern maupun ekstern.  Listener
 Interaksi
 Terbuka
 Proaktif
TEAMWORK (Kerjasama) Kemampuan bekerja  Partisipasi
bersama dengan orang  Kontribusi
lain, baik dalam tim  Kooperatif
besar maupun tim kecil  Fokus pada
dalam ruang lingkup  kinerja tim
institusi.  Toleransi
INTEGRITY(Intergritas) Mengkomunikasikan  Dapat dipercaya
maksud, ide, dan  Jujur
perasaan secara terbuka  Beftanggungjawab
danlangsung, dan dapat  Handal
menerima keterbukaan  Konsisten
darr kejujuran,  Disiplin
sekalipun dalam  Komitmen
negosiasi yang
sulitdengan pihak lain.
Satunya kata dengan
perbuatan.
VISIONARY (Visioner) Kemampuan  Continuous
menetapkan sasaran improvement
baru ketika target yang (perbaikan terus
ditetapkan telah tercapai menerus )
dan orientasi jangka  Translate new ideas
panjang. Kemampuan into action
menyesuaikanperubahan  Inovasi
lingkungan dan mudah  Reputasi
menerima perubahan
dalam institusi.

 Mengelola perubahan
ENTREPRENEURSHIP sumber daya yang ada  Kemandirian
menjadi suatu produk  Kesejahteraan bersama
(Bersikap Kewirausahaan) dan jasa yang  Kreatifitas
mempunyai nilai  Nilai tambah
tambah dan mencari  Kewirausahaan bidang
benefit/ keunggulan dari social.
peluang yang
belumdigarap orang
lain.

F. Memerangi Narkoba dan Korupsi


a. Narkoba
Pencegahan penyalahgunaan zat aiktif dan psikotropika memerlukan kerja sama penting
antara peran keluarga,sekolah, masyarakat , dan pemerintah. Berikut cara-cara pencegahan
penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika:
1. Pencegahan pada diri sendiri dan keluarga
- Berlajar mengatakan tidak kepada diri sendiri dan orang lain, yang menawarkan barang
haram itu terhadap kita
- Tidak usah terpancing lingkungan, sekalipun diri kita di anggap kuper oleh orang orang
yang mengkonsumsi narkotika
- Bergaul dengan teman yang baik dan jauh dari barang haram tersebut
- Selalu dekat dengan tuhan
- Isi kegiatan sehari hari dengan aktivitas yang positif
- Cinptakan suasana yang hangat dan nyaman sehingga membuat kita nyaman dirumah
- Meluangkan waktu untuk bisa bersama sama
- Orang tua menjadi contoh yang baik dan teladan
- Ciptakan komunikasi yang baik
- Orang tua memahami penyalahgunaan NAPZA
2. Peran Anggota Masyarakat
Kita sebagai anggota masyarakat perlu mendorong peningkatan pengetahuan setiap
anggota masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan obat-obat terlarang. Selain itu, kita
sebagai anggota masyarakat perlu memberi informasi kepada pihak yang berwajib jika ada
pemakai dan pengedar narkoba di lingkungan tempat tinggal.
3. Peran Sekolah
Sekolah perlu memberikan wawasan yang cukup kepada
para siswa tentang bahaya penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika bagi diri pribadi,
keluarga, dan orang lain. Selain itu, sekolah perlu mendorong setiap siswa untuk melaporkan
pada pihak sekolah jika ada pemakai atau pengedar zat adiktif dan psikotropika di lingkungan
sekolah. Sekolah perlu memberikan sanksi yang mendidik untuk setiap siswa yang terbukti
menjadi pemakai atau pengedar narkoba.
4. Peran Pemerintah
Pemerintah berperan mencegah terjadinya penyalahgunaan narkotika dan psikotropika
dengan cara mengeluarkan aturan hukum yang jelas dan tegas. Di samping itu, setiap
penyalahguna, pengedar, pemasok, pengimpor, pembuat, dan penyimpan narkoba perlu
diberikan sanksi atau hukuman yang membuat efek jera bagi si pelaku dan mencegah yang
lain dari kesalahan yang sama.
b. Korupsi
Faktanya fenomena korupsi selalu tidak berhenti menggrogoti negeri kita, korupsi
merupakan kejahatan yang bukan hanya merugikan negara tetapi juga masyarakat. Artinya
keadilan dan kesejahteraan masyarakat sudah mulai terancam. Maka saatnya mahasiswa sadar
dan bertindak. Adapun upaya-upaya yang bisa dilakukan oleh mahasiswa adalah:
a. Menciptakan lingkungan bebas dari korupsi di kampus.
Hal ini terutama dimulai dari kesadaran masing-masing mahasiswa yaitu menanamkan
kepada diri mereka sendiri bahwa mereka tidak boleh melakukan tindakan korupsi walaupun
itu hanya tindakan sederhana, misalnya terlambat datang ke kampus, menitipkan absen
kepada teman jika tidak masuk atau memberikan uang suap kepada para pihak pengurus
beasiswa dan macam-macam tindakan lainnya.
Memang hal tersebut kelihatan sepele tetapi berdampak fatal pada pola pikir dan
dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan bahkan yang lebih parah adalah
menjadisebuahkarakter.
Selain kesadaran pada masing-masing mahasiswa maka mereka juga harus
memperhatikan kebijakan internal kampus agar dikritisi sehingga tidak memberikan peluang
kepada pihak-pihak yang ingin mendapatkan keuntungan melalui korupsi. Misalnya ketika
penerimaan mahasiswa baru mengenai biaya yang diestimasikan dari pihak kampus kepada
calon mahasiswa maka perlu bagi mahasiswa untuk mempertanyakan dan menuntut sebuah
transparasi dan jaminan yang jelas dan hal lainnya. Jadi posisi mahasiswa di sini adalah
sebagai pengontrol kebijakan internal universitas.
Dengan adanya kesadaran serta komitmen dari diri sendiri dan sebagai pihak pengontrol
kebijakaninternal kampus maka bisa menekan jumlah pelaku korupsi. Upaya lain untuk
menciptakan lingkungan bebas dari korupsi di lingkungan kampus adalah mahasiswa bisa
membuat koperasi atau kantin jujur. Tindakan ini diharapkan agar lebih mengetahui secara
jelas signifikansi resiko korupsi di lingkungan kampus.Mahasiswa juga bisa berinisiatif
membentuk organisasi atau komunitas intra kampus yang berprinsip pada upaya memberantas
tindakan korupsi. Organisasi atau komunitas tersebut diharapkan bisa menjadi wadah
mengadakan diskusi atau seminar mengenai bahaya korupsi. Selain itu organisasi atau
komunitas ini mampu menjadi alat pengontrol terhadap kebijakan internal kampus.
Sebagai gambaran, SACW yang baru saja dibentuk pada kabinet KM (semacam BEM) ITB
2006/2007 lalu sudah membuat embrio gerakannya. Tersebar di seluruh wilayah Indonesia,
anggota SACW dari UIN Padang sudah mulai mengembangkan sayap. Begitu pula mereka
yang berada di UnHalu Sulawesi sudah melakukan investigasi terhadap rektorat mereka yang
ternyata memang terjerat kasus korupsi.
b. Memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang bahaya melakukan korupsi.
Upaya mahasiswa ini misalnya memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai
bahaya melakukan tindakan korupsi karena pada nantinya akan mengancam dan merugikan
kehidupan masyarakat sendiri. Serta menghimbau agar masyarakat ikut serta dalam
menindaklanjuti (berperan aktif) dalam memberantas tindakan korupsi yang terjadi di sekitar
lingkungan mereka. Selain itu, masyarakat dituntut lebih kritis terhadap kebijakan pemerintah
yang dirasa kurang relevan. Maka masyarakat sadar bahwa korupsi memang harus dilawan
dan dimusnahkan dengan mengerahkan kekuatan secara massif, artinya bukan hanya
pemerintah saja melainakan seluruh lapisan masyarakat.
c. Menjadi alat pengontrol terhadap kebijakan pemerintah.
Mahasiswa selain sebagai agen perubahan juga bertindak sebagai agen pengontrol dalam
pemerintahan. Kebijakan pemerintah sangat perlu untuk dikontrol dan dikritisi jika dirasa
kebijakan tersebut tidak memberikan dampak positif pada keadilan dan kesejahteraan
masyarakat dan semakin memperburuk kondisi masyarakat. Misalnya dengan melakukan
demo untuk menekan pemerintah atau melakukan jajak pendapat untuk memperoleh hasil
negosiasi yang terbaik.
d. Memiliki tanggung jawab guna melakukan partisipasi politik dan kontrol sosial terkait
dengan kepentingan publik.
e. Tidak bersikap apatis dan acuh tak acuh.
f. Melakukan kontrol sosial pada setiap kebijakan mulai dari pemerintahan desa hingga ke
tingkat pusat/nasional.
g. Membuka wawasan seluas-luasnya pemahaman tentang penyelenggaraan peme-rintahan
negara dan aspek-aspek hukumnya.
h. Mampu memposisikan diri sebagai subjek pembangunan dan berperan aktif dalam setiap
pengambilan keputusan untuk kepentingan masyarakat luas.
BAB III
ISLAM DAN IPTEK
A. Pengertian Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui
tangkapan pancaindra dan firasat.
Kata ilmu berasal dari bahasa Arab "alima-ya'lamu.Ilmu adalah pengetahuan yang
sudah diklasifikasi sehingga menghasilkan kebenaran objektif yang sudah diuji
kebenarannya dan dapat diuji ulang secara ilmiah. Secara sederhana
pengetahuan dan ilmu dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pengetahuan diartikan hanyalah sekadar “tahu”, yaitu hasil tahu dari usaha
manusia untuk menjawab pertanyaan “apa”, misalnya apa batu, apa gunung, apa air,
dan sebagainya. Sedangkan ilmu bukan hanya sekadar dapat menjawab “apa” tetapi
akan dapat menjawab “mengapa” dan “bagaimana” , misalnya mengapa batu banyak
macamnya, mengapa gunung dapat meletus, mengapa es mengapung dalam air.
Sedangkan teknologi adalah hasil produk pengetahuan dan ketrampilan yang
merupakan penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia sehari-hari.
Teknologi dapat membawa dampak positif berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi
manusia juga sebaliknya dapat membawa dampak negatif berupa ketimpang-
ketimpangan dalam kehidupan manusia dan lingkungan.
Konon kata seni berasal dari kata “SANI” yang kurang lebih artinya “Jiwa Yang
Luhur/ Ketulusan jiwa”. Namun menurut kajian ilmu di Eropa mengatakan “ART”
(artivisial) yang artinya kurang lebih adalah barang/ atau karya dari sebuah
kegiatan. Seni merupakan ekspresi jiwa seseorang.. Selain itu Seni juga
merupakan ekspresi keindahan. Seni identik dengan keindahan. Dan keindahan
menjadi salah satu sifat yang dilekatkan Allah pada penciptaan jagat raya ini. Allah
melalui kalamnya di Al-Qur’an mengajak manusia memandang seluruh jagat raya
dengan segala keserasian dan keindahannya. Allah berfirman: “Maka apakah mereka
tidak melihat ke langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya
dan menghiasinya, dan tiada baginya sedikit pun retak-retak?”
B.PANDANGAN ISLAM TERHADAP IPTEK DAN SENI
“Islam sangat kompleks dalam hal mengatur dan menentukan apa yang terbaik untuk
umatnya, begitu juga dalam hal IPTEK dan Seni”
Didalam pandangan Islam iptek bersifat netral yaitu iptek bisa memberikan
dampak positif dan negatif, sehingga islam memandang iptek berdasarkan niat ,
motivasi , tujuan dan dampak penggunaannya.Oleh karena itu ILMU dan juga IMAN
adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan , karena dengan ilmu dan iman yang
baik maka ilmu tersebut dapat dipastikan akan memberiakn manfaat dan dampak
positif bagi seluruh umat manusia.
Peran Islam dalam perkembangan iptek dan seni pada dasarnya ada banyak.
Pertama, menjadikan Aqidah Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan dan seni.
Paradigma inilah yang seharusnya dimiliki umat Islam, bukan paradigma sekuler
seperti yang ada sekarang. Paradigma Islam ini menyatakan bahwa Aqidah Islam
wajib dijadikan landasan pemikiran (qa’idah fikriyah) bagi seluruh ilmu pengetahuan.
Ini bukan berarti menjadi Aqidah Islam sebagai sumber segala macam ilmu
pengetahuan, melainkan menjadi standar bagi segala ilmu pengetahuan. Maka ilmu
pengetahuan yang sesuai dengan Aqidah Islam dapat diterima dan diamalkan, sedang
yang bertentangan dengannya, wajib ditolak dan tidak boleh diamalkan. Kedua,
menjadikan Syariah Islam (yang lahir dari Aqidah Islam) sebagai standar bagi
pemanfaatan iptek dalam kehidupan sehari-hari. Standar atau kriteria inilah yang
seharusnya yang digunakan umat Islam, bukan standar manfaat
(pragmatisme/utilitarianisme) seperti yang ada sekarang. Standar syariah ini
mengatur, bahwa boleh tidaknya pemanfaatan iptek, didasarkan pada ketentuan halal-
haram (hukum-hukum syariah Islam). Umat Islam boleh memanfaatkan iptek dan
mengembangkan seni, jika telah dihalalkan oleh Syariah Islam. Sebaliknya jika suatu
aspek iptek dan seni telah diharamkan oleh Syariah, maka tidak boleh umat Islam
memanfaatkannya, walau pun ia menghasilkan manfaat sesaat untuk memenuhi
kebutuhan manusia.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang kini dipimpin oleh
perdaban barat satu abad terakhir ini, mencengangkan banyak orang di berbagai
penjuru dunia. Kesejahteraan dan kemakmuran material (fisikal) yang dihasilkan oleh
perkembangan iptek modern membuat orang lalu mengagumi dan meniru- niru gaya
hidup peradaban barat tanpa dibarengi sikap kritis trhadap segala dampak negatif
yang diakibatkanya.
Bukan hanya itu saja, pengaruh barat tidak hanya pada bidang iptek saja, tetapi
juga pada bidang seni. Misalnya penyanyi di jaman sekarang sebagian besar memakai
pakaian yang sangat minim, dan tidak menutup aurat.
Kenyataan menyedihkan tersebut sudah selayaknya menjadi cambuk bagi kita
bangsa Indonesia yang mayoritas muslim untuk gigih memperjuangkan iptek dan seni
yang islami.
Pada dasarnya kita hidup di dunia ini tidak lain untuk beribadah kepada Allah
SWT. Ada banyak cara untuk beribadah kepada Allah SWT seperti sholat, puasa, dan
menuntut ilmu. Menuntut ilmu ini hukumnya wajib. Seperti sabda Rasulullah SAW: “
menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban atas setiap muslim laki-laki dan perempuan”.
Ilmu adalah kehidupanya islam dan kehidupanya keimanan.
Pengertian iptek dan seni dan kaitanya dengan islam
Untuk memperjelas, akan disebutkan dulu beberapa pengertian dasar. Ilmu
pengetahuan (sains) adalah pengetahuan tentang gejala alam yang diperoleh melalui
proses yang disebut metode ilmiah (scientific method) .Sedang teknologi adalah
pengetahuan dan ketrampilan yang merupakan penerapan ilmu pengetahuan dalam
kehidupan manusia sehari-hari. Perkembangan iptek, adalah hasil dari segala langkah
dan pemikiran untuk memperluas, memperdalam, dan mengembangkan iptek.Sifat
ilmu bersifat relatif.jadi tidak bisa semua yang ada di bumi dan di langit bisa
dijelaskan oleh ilmu contohnya adalah konsep agama yang tidak bisa dijelaskan
dalam ilmu. Sumbangan islam didalam ilmu pengetahuan adalah perlunya observasi
dan penggunaan indra dan eksperimentasi sangat diperlukan bagi kemajuan ilmu
pengetahuan itu sendiri.
Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan.Hal
ini sngat erat kaitannya dengan fungsi ilmu pengetahuan dan seni yang penting bagi
manusia.karena itu didalam islam, ilmu diklasifikasikan dalam berbagai macam
jenis,diantaranya :
Dari segi sumber ilmu terbagi menjadi ilmu naqliyah (berasal dari firman
ALLAH SWT, ilmu aqliyah (bersumber dari pemikiran manusia).sedangkan dilihat
dari sisi Kewajibannya,ilmu terbagi lagi menjadi ilmu fardhu’ain (wajib bagi setip
muslim) dan fardhu kifayah adalah kewajiban sosial (beberapa yang mempelajari
ilmu tertentu , maka seluruh umat muslim tidak akan berdosa).dan dari segi Sosial ,
ilmu juga terbagi menjadi ilmu mahmudah dan madzmumah.
Peran Islam dalam perkembangan iptek, adalah bahwa Syariah Islam harus
dijadikan standar pemanfaatan iptek. Ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah
Islam) wajib dijadikan tolok ukur dalam pemanfaatan iptek, bagaimana pun juga
bentuknya. Iptek yang boleh dimanfaatkan, adalah yang telah dihalalkan oleh syariah
Islam. Sedangkan iptek yang tidak boleh dimanfaatkan, adalah yang telah
diharamkan syariah Islam.
Kata “seni” adalah sebuah kata yang semua orang di pastikan mengenalnya,
walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda. Konon kata seni berasal dari kata
“SANI” yang kurang lebih artinya “Jiwa Yang Luhur/ Ketulusan jiwa”. Namun
menurut kajian ilimu di Eropa mengatakan “ART” (artivisial) yang artinya kurang
lebih adalah barang/ atau karya dari sebuah kegiatan.
Seni itu sendiri tidak bisa bebas dari sifat moral, karena apabila suatu seni dibuat
tidak berdasarkan moral maka seni tidak akan bisa dinikmati dan kesan yang
ditinggalkannya adalah hanya rasa “menjijikan”
Pandangan Islam tentang seni. Seni merupakan ekspresi keindahan. Dan
keindahan menjadi salah satu sifat yang dilekatkan Allah pada penciptaan jagat raya
ini karena sesungguhnya Alam semesta dan Alqur’an merupakan karya seni dari
Allah. Allah melalui kalamnya di Al-Qur’an mengajak manusia memandang seluruh
jagat raya dengan segala keserasian dan keindahannya. Allah berfirman: “Maka
apakah mereka tidak melihat ke langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami
meninggikannya dan menghiasinya, dan tiada baginya sedikit pun retak-retak?” [QS
50: 6].
Di dalam islam hukum kesenian adalah mubah, tetapi dengan perkembangan
seni itu sendiri seni dapat menjadi sesuatu yang sunah dan makruh bahkan seni dapat
menjadi sesuatu yang wajib (jika seni itu ada kaitannya antara hubungan kita dengan
Allah) dan juga dapat berubah menjadi haram apabila seni itu sendiri menjerumuskan
kita dalam keburukan.
C. LANDASAN IPTEKS DALAM ISLAM
Pengertian IPTEKS dan kaitannnya dalam ISLAM
Untuk memperjelas, akan disebutkan dulu beberapa pengertian dasar. Ilmu
pengetahuan (sains) adalah pengetahuan tentang gejala alam yang diperoleh melalui
proses yang disebut metode ilmiah (scientific method) .Sedang teknologi adalah
pengetahuan dan ketrampilan yang merupakan penerapan ilmu pengetahuan dalam
kehidupan manusia sehari-hari. Perkembangan iptek, adalah hasil dari segala langkah
dan pemikiran untuk memperluas, memperdalam, dan mengembangkan iptek
Peran Islam dalam perkembangan iptek, adalah bahwa Syariah Islam harus
dijadikan standar pemanfaatan iptek. Ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah
Islam) wajib dijadikan tolok ukur dalam pemanfaatan iptek, bagaimana pun juga
bentuknya. Iptek yang boleh dimanfaatkan, adalah yang telah dihalalkan oleh syariah
Islam. Sedangkan iptek yang tidak boleh dimanfaatkan, adalah yang telah
diharamkan syariah Islam.
Kewajiban mencari ilmu
Pada dasarnya kita hidup didunia ini tidak lain adalah untuk beribadah kepada
Allah. Tentunya beribadah dan beramal harus berdasarkan ilmu yang ada di Al-
Qur’an dan Al-Hadist. Tidak akan tersesat bagi siapa saja yang berpegang teguh dan
sungguh-sungguh perpedoman pada Al-Qur’an dan Al-Hadist.
Disebutkan dalam hadist, bahwasanya ilmu yang wajib dicari seorang muslim
ada 3, sedangkan yang lainnya akan menjadi fadhlun (keutamaan). Ketiga ilmu
tersebut adalah ayatun muhkamatun (ayat-ayat Al-Qur’an yang menghukumi),
sunnatun qoimatun (sunnah dari Al-hadist yang menegakkan) dan faridhotun adilah
(ilmu bagi waris atau ilmu faroidh yang adil)
Dalam sebuah hadist rasulullah bersabda, “ mencari ilmu itu wajib bagi setiap
muslim, dan orang yang meletakkan ilmu pada selain yang ahlinya bagaikan
menggantungkan permata dan emas pada babi hutan.”(HR. Ibnu Majah dan lainya)
Juga pada hadist rasulullah yang lain,”carilah ilmu walau sampai ke negeri
cina”. Dalam hadist ini kita tidak dituntut mencari ilmu ke cina, tetapi dalam hadist
ini rasulullah menyuruh kita mencari ilmu dari berbagai penjuru dunia. Walau jauh
ilmu haru tetap dikejar.
Dalam kitab “ Ta’limul muta’alim” disebutkan bahwa ilmu yang wajib dituntut
trlebih dahulu adalah ilmu haal yaitu ilmu yang dseketika itu pasti digunakan dal
diamalkan bagi setiap orang yang sudah baligh. Seperti ilmu tauhid dan ilmu fiqih.
Apabila kedua bidang ilmu itu telah dikuasai, baru mempelajari ilmu-ilmu lainya,
misalnya ilmu kedokteran, fisika, matematika, dan lainya.
Kadang-kadang orang lupa dalam mendidik anaknya, sehingga lebih
mengutamakan ilmu-ilmu umum daripada ilmu agama. Maka anak menjadi orang
yang buta agama dan menyepelekan kewajiban-kewajiban agamanya. Dalam hal ini
orang tua perlu sekali memberikan bekal ilmu keagamaan sebelum anaknya
mempelajari ilmu-ilmu umum.
Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda, “sedekah yang paling utama
adalah orang islam yang belajar suatu ilmu kemudian diajarkan ilmu itu kepada
orang lain.”(HR. Ibnu Majah)
Maksud hadis diatas adalah lebih utama lagi orang yang mau menuntut ilmu
kemudian ilmu itu diajarkan kepada orang lain. Inilah sedekah yang paling utama
dianding sedekah harta benda. Ini dikarenakan mengajarkan ilmu, khususnya ilmu
agama, berarti menenan amal yang muta’adi (dapat berkembang) yang manfaatnya
bukan hanya dikenyam orang yang diajarkan itu sendiri, tetapi dapat dinikmati orang
lain.
Keutamaan orang yang berilmu
Orang yang berilmu mempunyai kedudukan yang tinggi dan mulia di sisi Allah
dan masyarakat. Al-Quran menggelari golongan ini dengan berbagai gelaran mulia
dan terhormat yang menggambarkan kemuliaan dan ketinggian kedudukan mereka di
sisi Allah SWT dan makhluk-Nya. Mereka digelari sebagai“al-Raasikhun fil Ilm” (Al
Imran : 7), “Ulul al-Ilmi” (Al Imran : 18), “Ulul al-Bab” (Al Imran : 190), “al-
Basir” dan “as-Sami' “ (Hud : 24), “al-A'limun” (al-A'nkabut : 43), “al-
Ulama” (Fatir : 28), “al-Ahya' “ (Fatir : 35) dan berbagai nama baik dan gelar mulia
lain.
Dalam surat ali Imran ayat ke-18, Allah SWT berfirman: "Allah menyatakan
bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang
menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang- orang yang berilmu (juga
menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak
disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".Dalam ayat ini ditegaskan
pada golongan orang berilmu bahwa mereka amat istimewa di sisi Allah SWT .
Mereka diangkat sejajar dengan para malaikat yang menjadi saksi Keesaan Allah
SWT. Peringatan Allah dan Rasul-Nya sangat keras terhadap kalangan yang
menyembunyikan kebenaran/ilmu, sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya orang-
orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-
keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada
manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati pula oleh semua
(mahluk) yang dapat melaknati."(Al-Baqarah: 159) Rasulullah saw juga bersabda:
"Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu, akan dikendali mulutnya oleh Allah pada
hari kiamat dengan kendali dari api neraka." (HR Ibnu Hibban di dalam kitab sahih
beliau. Juga diriwayatkan oleh Al-Hakim. Al Hakim dan adz-Dzahabi berpendapat
bahwa hadits ini sahih). Jadi setiap orang yang berilmu harus mengamalkan ilmunya
agar ilmu yang ia peroleh dapat bermanfaat. Misalnya dengan cara mengajar atau
mengamalkan pengetahuanya untuk hal-hal yang bermanfaat[1].
Tanggung jawab ilmuwan terhadap alam
Manusia, sebagaimana makhluk lainnya, memiliki ketergantungan terhadap
alam. Namun, di sisi lain, manusia justru suka merusak alam. Bahkan tak cukup
merusak, juga menhancurkan hingga tak bersisa.
Tiap sebentar kita mendengar berita menyedihkan tentang kerusakan baru yang
timbul pada sumber air, gunung atau laut. Para ilmuwan mengumumkan ancaman
meluasnya padang pasir, semakin berkurangnya hutan, berkurangnya cadangan air
minum, menipisnya sumber energi alam, dan semakin punahnya berbagai jenis
tumbuhan dan hewan.
Sayangnya, meski nyata terasa dampak akibat kerusakan tersebut, sebagian
besar manusia sulit menyadarinya. Mereka berdalih apa yang mereka lakukan adalah
demi kepentingan masa depan. Padahal yang terjadi justru sebaliknya; tragedi masa
depan itu sedang berjalan di depan kita. Dan, kitalah sesungguhnya yang menjadi
biang kerok dari tragedi masa depan tersebut.
Manusia telah diperingatkan Allah SWT dan Rasul-Nya agar jangan melakukan
kerusakan di bumi. Namun, manusia mengingkari peringatan tersebut.
Allah SWT menggambarkan situasi ini dalam Al-Qur’an:
“Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka
bumi’, mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan
perbaikan.” (QS Al-Baqarah:11)
Allah SWT juga mengingatkan manusia: “Telah tampak kerusakan di darat dan
di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan
kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke
jalan yang benar)’. Katakanlah, ‘Adakan perjalanan di muka bumi dan
perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka
itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).’’ (QS Ar-ruum: 41-42)
Pada masa sekarang pendidikan lingkungan menjadi mutlak diperlukan.
Tujuannya mengajarkan kepada masyarakat untuk menjaga jangan sampai berbagai
unsur lingkungan menjadi hancur, tercemar, atau rusak.
Untuk itu manusia sebagai khalifah di bumi dan sebagai ilmuwan harus bisa
melestarikan alam. Mungkin bisa dengan cara mengembangkan teknlogi ramah
lingkungan, teknologi daur ulang, dan harus bisa memanfaatkan sumber daya alam
dengan bijak.
Bukti-bukti ilmu pengetahuan yang telah di jelaskan dalam al qur’an.
1. Nebula
“Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi mawar merah seperti (kilapan) minyak.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
(Q.S. Ar Rahmaan:37-38)
Nebula adalah kumpulan 100 milyar galaksi yang berbentuk seperti bunga mawar.
2. Kesempurnaan Di Alam Semesta
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada
ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-
ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi
niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan
penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.”
(QS. Al Mulk: 3-4)
Di alam semesta, miliaran bintang dan galaksi yang tak terhitung jumlahnya bergerak dalam
orbit yang terpisah. Meskipun demikian, semuanya berada dalam keserasian. Bintang, planet,
dan bulan beredar pada sumbunya masing-masing dan dalam sistem yang ditempatinya
masing-masing. Terkadang galaksi yang terdiri atas 200-300 miliar bintang bergerak melalui
satu sama lain. Selama masa peralihan dalam beberapa contoh yang sangat terkenal yang
diamati oleh para astronom, tidak terjadi tabrakan yang menyebabkan kekacauan pada
keteraturan alam semesta.
3. Orbit
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing
dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.”
(QS. Al Anbiya: 33)
Bintang, planet, dan bulan berputar pada sumbunya dan dalam sistemnya, dan alam semesta
yang lebih besar bekerja secara teratur. Semuanya bergerak pada orbit tertentu.
4. Perjalanan Matahari
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha
Perkasa lagi Maha Mengetahui.”(QS. Yasin:38)
Berdasarkan perhitungan para astronom, akibat aktivitas galaksi kita, matahari berjalan
dengan kecepatan 720.000 km/jam menuju Solar Apex, suatu tempat pada bidang angkasa
yang dekat dengan bintang Vega.

5. Langit Tujuh Lapis


“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.”
(QS. Ath-Thalaq:12)
Atmosfer bumi ternyata terbentuk dari tujuh lapisan. Berdasarkan Encyclopedia Americana
(9/188), lapisan-lapisan yang berikut ini bertumpukan, bergantung pada suhu, yaitu lapisan
troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer, ionosfer, eksosfer, dan magnetosfer.
6. .Gunung Mencegah Gempa Bumi
“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-
gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan
memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang.”
(QS. Luqman:10)
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai
pasak?”
(QS. An-Naba:7)
Informasi yang diperoleh melalui penelitian geologi tentang gunung sangatlah sesuai dengan
ayat Al Quran. Salah satu sifat gunung yang paling signifikan adalah kemunculannya pada
titik pertemuan lempengan-lempengan bumi, yang saling menekan saat saling mendekat, dan
gunung ini “mengikat” lempengan-lempengan tersebut. Dengan sifat tersebut, pegunungan
dapat disamakan seperti paku yang menyatukan kayu.
Selain itu, tekanan pegunungan pada kerak bumi ternyata mencegah pengaruh aktivitas
magma di pusat bumi agar tidak mencapai permukaan bumi, sehingga mencegah magma
menghancurkan kerak bumi.
7. Air Laut Tidak Saling Bercampur
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya
ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.”
(QS. Ar-Rahman:19-20)
Pada ayat di atas ditekankan bahwa dua badan air bertemu, tetapi tidak saling bercampur
akibat adanya batas. Bagaimana ini dapat terjadi? Biasanya, bila air dari dua lautan bertemu,
diduga airnya akan saling bercampur dengan suhu dan konsentrasi garam cenderung
seimbang. Namun, kenyataan yang terjadi berbeda dengan yang diperkirakan. Misalnya,
meskipun Laut Tengah dan Samudra Atlantik, serta Laut Merah dan Samudra Hindia secara
fisik saling bertemu, airnya tidak saling bercampur. Ini karena di antara keduanya terdapat
batas. Di Selat Gibraltar lebih terlihat lagi. Antara air di Selat Gibraltar dengan Laut
Mediteran terdapat perbedaan warna yang jelas yang menjadi batas antara keduanya.

D. IPTEKS DAN RAHMATAN LIL ALAMIN


Sesungguhnya Islam adalah agama yang menghargai ilmu pengetahuan.
Menuntut ilmu, dalam ajaranIslam, adalah suatu yang sangat diwajibkan sekali bagi setiap
Muslim, apakah itu menuntut ilmu agamaatau ilmu pengetahuan lainnya. Terkadang orang
tidak menyadari betapa pentingnya kedudukan ilmudalam kehidupan ini.Ayat Al-
Qur‘an yang berkenaan dengan pendidikan sebagai berikut.
(1) QS. Al-Alaq 1-5 yang artinya:
1. bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Sebelum memaparkan ilmu pengetahuan dan teknologi, perlu diketahui sekilas
tentang perbedaanantara pengetahuan dan ilmu agar tidak terjebak pada kesalahpahaman
mengenai keduanya, sehingga bisamemahami dengan mudah dan benar apa yang dimaksud
dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang
terklasifikasi, tersistem, dan terukur serta dapatdibuktikan kebenarannya secara
empiris.Menurut pengertian Barat, ilmu merupakan hasil riset yang dilakukan oleh manusia,
berupa konsep,teori, dan penjelasan. Mereka menganggap bahwa ilmu adalah murni ciptaan
manusia, tanpa adanyacampur tangan Allah.
Ilmu menurut Al-Qur‘an adalah rangkaian keterangan yang bersumber dari Allah
yang diberikankepada manusia baik melalui Rasulnya atau langsung kepada manusia yang
menghendakinya tentangalam semesta sebagai ciptaan Allah yang bergantung menurut
ketentuan dan kepastian-Nya.Sementara itu, pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan
yang belum tersusun, baik mengenaimetafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan
pengetahuan adalah informasi yang berupacommon sense,sedangkan ilmu sudah merupakan
bagian yang lebih tinggi dari itu karena memiliki metode danmekanisme tertentu. Jadi ilmu
lebih khusus daripada pengetahuan, tetapi tidak berarti semua ilmu adalah pengetahuan.
Menurut Sutrisno Hadi, ilmu kumpulan dari pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-
pengetahuan dari sejumlah orang-orang yang dipadukan secara harmonis dalam suatu
bangunan yangteratur. Sedangkan teknologi adalah kemampuan teknik yang berlandaskan
pengetahuan ilmu eksakta dan berdasarkan proses teknis.
Dalam Islam, jelasnya, ada dua jenis ilmu, yaitu ilmu fardhu ‗ain dan fardhu kifayah.
Yangmasuk golongan ilmu fardhu ‗ain adalah Al-Quran, hadis, fikih, tauhid, akhlaq, syariah,
dan cabang-cabangnya. Sedangkan yang masuk ilmu fardhu kifayah adalah kedokteran,
matematika, psikologi, dancabang sains lainnya.

Teknologi merupakan hasil dari ilmu pengetahuan. Orang Barat menganggap bahwa
teknologimerupakan objek yang terlahir atas kebudayaan perilaku manusia. Menurut al-
Qur‘an, teknologi terciptakarena adanya kesadaran untuk menciptakannya, bukan sebagai
ambisi tiap individu.Suatu pengetahuan dapat disebut ilmu bilamana telah memenuhi tiga
unsur pokok, yaituontologi, aksiologi, dan epistimologi. Ontologi yaitu suatu bidang yang
memiliki onjek studi yang jelas.Aksiologi yaitu suatu bidang studi yang memiliki nilai guna /
manfaat dan tidak terdapat kerancuan.Epistimologi yaitu suatu bidang studi yang memiliki
metode kerja yang jelas. Ilmu pengetahuan (sains)merupakan gabungan pengetahuan manusia
yang dikumpulkan melalui pengkajian dan dapat diterimaoleh rasio. Dalam pemikiran
sekuler, sains mempunyai tiga karakterisitik, yaitu objektif, netral, dan bebasnilai. Sedangkan
menurut Islam, sains tidak boleh lepas-lepas dari nilai-nilai.Dalam pemikiran Islam, ilmu
bersumber dari wahyu dan akal. Ilmu yang bersumber dari wahyuAllah, bersifat abadi dan
kebenarannya mutlak. Sedangkan ilmu yang bersumber dari akal manusia bersifat perolehan
dan kebenarannya nisbi (relatif). Pengembangan IPTEK dilakukan hanya untukmenemukan
bagaimana proses sunatullah terjadi di alam semesta, bukan menciptakan hukum baru diluar.

E. AL-QURAN SEBAGAI INSPIRATOR IPTEKS


Al-Qur’an merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam semua aspek kehidupan
masyarakat muslim. Al-Qur’an mempunyai fungsi dan peranan penting dari berbagai sisi
kehidupan yang terus berkembang. Al-Qur’an dijadikan sebagai sumber hukum, inspirasi,
pedoman, kepribadian, kekuatan dan dasar dalam masyarakat muslim. Al-Qur’an menyimpan
semua rahasia isi alam. Alam menjadi kajian dan pembahasan yang menarik bagi para
ilmuwan dan teknolog dalam perjalanan perkembangan zaman. Rahasia yang ada di alam
seolah-olah tidak pernah habisnya. Sejarah telah membuktikan bahwa pada abad pertengahan
umat Islam mencapai puncak peradabannya.
Sejarah telah membuktikan bahwa umat Islam mampu menguasai ilmu pengetahuan,
sains dan teknologi melebihi atau melampaui kemampuan umat sebelumnya dan umat yang
lain sezamannya. Umat Islam mampu menguasai ilmu kedokteran, ilmu perbintangan, ilmu
pasti, ilmu alam, ilmu hitung dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Semua hal itu tidak terlepas
dari peran dan aktivitas para ilmuwan muslim yang selalu menggali, mendalami, memahami
serta mencari berbagai rahasia alam dan ilmu pengetahuan yang tersimpan dalam Al-Qur’an.
Para ilmuwan muslim menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber juga sebagai paradigma
kerangka berpikir dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyak berbagai
penemuan para ilmuwan muslim yang sangat mengagumkan dalam dunia sains dan teknologi.
Dan ketika para ilmuwan muslim atau umat Islam mulai mengabaikan, meninggalkan
serta menjauhkan kajian Al-Qur’an yang mendalam dari aktivitas keilmuan dan aktivitas
kehidupan, maka di situlah titik awal kemunduran umat Islam. Dan hal itu terus berlangsung
sampai saat ini, dan kalau ada kajian-kajian Al-Qur’an itu hanya sebatas kajian biasa bukan
kajian yang mendalam. Suatu kajian untuk menemukan rahasia alam dalam Al-Qur’an. Al-
Qur’an dan hadits telah dijadikan sebagai dasar bagi semua aktivitas ilmiah dalam sejarah
islam[1].
Maka wajarlah apabila penemuan-penemuan ilmuwan muslim sekarang ini kurang
begitu berarti dibanding ilmuwan barat dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan
teknologi. Ketika puncak peradaban Islam, Al-Qur’an dijadikan sebagai sumber kajian dalam
ilmu pengetahuan sehigga mampu menemukan berbagai penemuan yang sangat luar biasa dari
barbagai disiplin ilmu dan teknologi, tapi sekarang Al-Qur’an hanya dijadikan sebagai
rujukan atau pembanding ketika ada penemuan baru dari ilmuwan barat. Penemuan para
ilmuwan dicocok-cocokan dengan Qur’an padahal penemuan itu sudah ada ribuan tahun
dalam Qur’an. Maka apabila para ilmuwan muslim atau Umat Islam ingin kembali menguasai
ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam harus kembali menjadikan Qur’an sebagai kajian
utama yang mendalam,dalam istilah penulis ialah Re-paradigma atau kembali menjadikan
Qur’an sebagai kerangka berpikir dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pandangan Qur’an terhadap Ilmu Pengetahuan

Didalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menyatakan pentingnya ilmu.


Sehingga ayat yang pertama turun juga menyataka iqra’ yang bearti bacalah. Manusia disuruh
untuk membaca semua ayat-ayat Allah baik berupa teks maupun yang terhampar seperi alam,
sebagai sarana untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Manusia di suruh agar membaca semua
tanda-tanda kekuasaan Allah dan mengambil pelajaran daripadanya. Membaca sangat penting
agar mendapat ilmu pengetahuan. Dibawah ini ada beberapa ayat Al-Qur’an yang menyatakan
akan pentingnya ilmu.
Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang
memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.(al-ankabut: 43)
Didalam Al-Qur’an Allah memerintahkan manusia untuk memikirkan dan mengkaji
tanda-tanda penciptaan disekitar mereka[2]. Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap
muslim[3]. Carilah ilmu dan sampaikanlah kepada yang lain[4]. Barang siapa yang
menyelidiki seluk-beluk alam semesta dengan segala sesuatu yang hidup dan tak hidup
didalamnya, dan memikirkan serta menyelidiki apa yang dilihat di sekitarnya, akan mengenali
kebijakan, ilmu dan kekuasaan abadi Allah[5]. Beberapa perintah Allah kepada manusia
untuk merenungkan penciptaan ditunjukkan dalam ayat Al-Qur’an berikut ini:
Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami
meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ?
Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan
Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk
menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).
Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air
itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi
yang mempunyai mayang yang bersusun- susun. ( QS Qaaf: 6-10)
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada
ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-
ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (QS. Al-Mulk:3)
Allah memerintahkan manusia untuk mempelajari dan mengkaji berbagai aspek dunia, seperti
langit, hujan, tumbuhan, binatang, kelahiran, dan bentangan geografis. Cara menyelidiki
semua ini adalah melalui sains dan ilmu pengetahuan.

Para Ilmuwan Muslim dan Al-Qur’an Sebagai Paradigmanya


Munculnya Islam sebagai sebuah agama yang membawah suatu tujuan untuk
memberikan kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Islam merupakan salah
satu agama yang menekankan pentingnya ilmu pengetahuan. Al-Qur’an sebagai sebuah kitab
suci telah memancarkan sinar cahaya ilmu pengetahuan bagi para ilmuwan muslim. Qur’an
dijadikan sebagai sumber dan kerangka berpikir dalam merenungkan kekuasaan Allah dan
mengembangkan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi bagi para ilmuwan muslim.
Dibawah pengaruh Islam dengan Al-Qur’an sebagai sumber dan paradigmanya, sains
tumbuh subur dan mempunyai sebuah bentuk yang unik. Sarjana-sarjana eropa utara yang
berkultural Latin benar-benar tersimpuh didepan ilmuwan-ilmuwan Muslim di Spanyol dan di
pusat-pusat peradaban Islam disepanjang laut tengah. Baru pada abad ke-16 sains dan
teknologi eropa bisa menyamai keunggulan Islam. Penggunaan akal sehat dan pengamatan
yang diperintahkan Al-Qur’an membangkitan peradaban besar bagi umat Islam pada abad ke-
9 dan ke-10. Para ilmuwan muslim telah banyak memberikan penemuan-penemuan penting
diberbagai disiplin ilmu, kedokteran, astronomi, ilmu hitung, geometri, matematika, anatomi,
fisika, ilmu alam, logika, filsafat dan berbagai disiplin ilmu lainnya.
Banyak penemuan para ilmuwan muslim jauh sebelum ditemukan oleh para ilmuwan
barat. Diantaranya; Al-Biruni adalah salah seorang ilmuwan muslim abad ke-11. Ia sudah
mengetahui bahwa bumi berotasi pada sumbunya 600 tahun sebelum Galileo, dan menghitung
lingkar bumi 700 tahun lebih dulu sebelum Newton.

Abu Ma’shar Al-balkhi merupakan seorang ilmuwan muslim dan sebagai saintis pertama
yang menyanggah Arestoteles. Abu Ma’shar al-Balkhi menyanggah pendapat Arestoteles
yang menyatakan bahwa dia telah mengamati komet-komet di sfera planet venus.
Abdul Latif al- Baghdadi (1162-1231) terkenal karena studinya dalam bidang anatomi. Ia
mengoreksi kekeliruan yang dibuat di masa lalu dalam studi anatomis terhadap banyak tulang
tubuh, seperti rahang dan tulang dada.
Abdul Rahman as-Sufi ialah imuwan muslim yang ahli dalam ilmu perbintangan dan penulis
buku astronomi berilustrasi paling tua. Karya “masterpiece” nya yang paling terkenal adalah
sebuah deskripsi perihal bintang-bintang yang posisinya sudah tertentu (fixed stars) yang
ditulisnya pada tahun 355/965.
Ali Kushchu, seorang ilmuwan muslim pada abad ke-15 adalah orang pertama yang
membuat peta bulan dan suatu daerah dibulan telah dinami dengan namanya. Tsabit ibn
Qurrah, yang hidup pada abad ke-9, menemukan kalkulus diferensial berabad-abad sebelum
Newton. Battani ilmuwan muslim pada abad ke-10 adalah pengembang pertama
trigonometri. Al Khawarizmi menulis buku aljabar pertama pada abad ke-9. Al-Maghribi,
menemukan persamaan yang saat ini dikenal sebagai segitiga pascal, sekitar 600 tahun
sebelum Pascal. Ibn al- Haitsam yang hidup pada abad ke-11 adalah penemu optik, dan
Galileo menemukan teleskop merujuk pada karyannya. Al-Kindimengenalkan fisika relatif
dan teori relativitas 1100 tahun sebelum Einstein.Syamsuddin yang hidup sebelum 400 tahun
sebelum Pasteur, adalah orang pertama yang menemukan keberadaan kuman. Ali ibnul
Abbas yang hidup pada abad ke-10 adalah orang pertama yang melakukan operasi bedah
kanker. Pada abad yang sama, Ibnu Al-Jirr memperkenalkan metode perawatan lepra.
Sebanarnya masih sangat banyak ilmuwan muslim yang berhasil menemukan berbagai
penemuan yang begitu penting bagi ilmu pengetahuan dan bagi berbagai penemuan
berikutnya. Banyak para ilmuwan muslim menjadikan ayat Al-Qur’an sebagai dasar dan
kerangka berpikir mereka dalam merungkan ciptaan Allah yang pada akhirnya menemukan
berbagai penemuan dan berkembangnya ilmu pengetahuan. Misalnya beberapa ayat berikut
ini dijadikan sandaran ilmuwan muslim.
Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan
dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam
kubur).(QS.Az-Zukhruf:11)
Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa
lagi Maha Mengetahui. (QS.Yaasiin: 38)
surah yaasiin pada ayat 38 ini menjadi sandaran oleh Al-Biruni. Ia adalah salah seorang
ilmuwan muslim abad ke-11. Ia sudah mengetahui bahwa bumi berotasi pada sumbunya 600
tahun sebelum Galileo, dan menghitung lingkar bumi 700 tahun lebih dulu sebelum Newton.
Dan tentunya masih banyak ayat Al-Qur’an yang dijadikan oleh para ilmuwan muslim dan
berhasil menemukan banyak penemuan.
Kesimpulan
Penjelasan sedikit diatas telah menunjukkan betapa banyaknya para ilmuwan muslim
yang menjadikan ayat Qur’an sebagai dasar, sandaran, dan kerangka berpikir mereka dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan dan berhasil memberikan berbagai penemuan penting
dalam bidang sains dan teknologi. Bahkan jauh sebelum para ilmuwan barat menemukan
penemuan itu, para ilmuwan muslim sudah lebih dulu menemukannya. Misalnya seperti yang
telah disebutkan diatas, bahwa Al-Biruni telah menemukan tentang rotasi jauh sebelum
Galileo menemukannya. Dan dia juga berhasil mengitung lingkar bumi 700 tahun sebelum
Newton menemukannya. Berbagai penemuan para ilmuwan muslim itu tentunnya tidak
terlepas dari sandaran mereka kepada Al-Qur’an.
F. MENGGALI IPTEKS DALAM AL-QURAN
Al Qur’an yg diturunkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kpd Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara lisan & berangsur-angsur antara tahun 610 & 632 atau
selama kira-kira 22 tahun, dimana pd masa itu umat manusia khususnya penduduk Mekkah &
Madinah masih dalam kegelapan & buta huruf, telah membuktikan kebenaran wahyunya
melalui konsistensinya & kesesuainnya dgn ilmu pengetahuan & teknologi (IPTEK) yg
ditemukan manusia pd masa yg jauh setelahkematian Muhammad SAW. Petunjuk-petunjuk
agama mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat di dalam Al Qur’an &
As sunnah sangat ideal & agung.
Islam mengajarkan hidup yg dinamis, menghargai akal pikiran melalui
pengembangan IPTEK, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material & spiritual,
menghargai waktu, bersifat terbuka, mengutamakan persaudaraan & sikap-sikap positif
lainnya.
Anugerah terbesar yg sangat berharga bagi umat Islam adl Al Qur’an. Keluarbiasaan
Al Qur’an itu terletak pd aspek-aspek di dalamnya antara lain bahasa & gaya bahasanya,
substansinya, jangkauannya yg tiada terbatas, & multifunsinya bagi umat manusia.
Banyak hikmah yg dpt kita ambil dari Al Qur’an. Ayat 27 surat Al Fath, misalnya memberi
kabar gembira kpd kaum muslimin bahwa mereka akan menaklukan Mekkah, yg saat itu
dikuasai kaum penyembah berhala.
“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kpd Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dgn
sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya
Allah dalam keadaan aman, dgn mencukur rambut kepala & mengguntingnya, sedang kamu
tdk merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yg tiada kamu ketahui & Dia memberikan
sebelum itu kemenangan yg dekat.”
(Al Qur’an Q.S. 48: 27).
Ketika kita lbh dekat lagi, ayat tersebut mengumumkan adanya kemenangan lain yg
akan terjadi sebelum kemenangan di Mekkah. Sebagaimana dikemukakan ayat tersebut, kaum
mukmin terlebih dahulu menaklukkan bentang Khaibar, yg berada di bawah
kekuasaan Yahudi, & kemudian memasuki Mekkah dgn aman. Pemberitaan tentang
peristiwa-peristiwa yg akan terjadi masa depan hanyalah salah satu diantara sekian byk
hikmah yg terkandung dalam al Qur’an. Al Qur’an mempunyai peran yg sangat penting dalam
kehidpan umat Islam di dunia, baik pd peradaban Islam dahulu maupun peradaban modern
seperti sekarang ini.
Al Qur’an mempunyai multifungsi bagi umat manusia, yg terlihat pd ayat-ayatnya &
dikuatkan oleh Hadits, yg menyebutkan bahwa Al Qur’an adalah sebagai berikut:

 Pedoman hidup yg harus dipegang erat oleh kaum muslimin


 Petunjuk bagi umat manusia
 Pembeda antara yg benar & yg salah
 Bacaan utama yg bernilai ibadah.
 Inspirator & pemacu terhadap kemajuan IPTEK
 Penyembuh bagi orang-orang mumin
 Rahmat bagi orang-orang mukmin
 Pemberi peringatan bagi orang-orang yg lalai.

Dewasa ini, ilmu pengetahuan & teknologi (IPTEK) sudah semakin berkembang. Di era
globalisasi seperti sekarang ini, manusia memang perlu mengenbangkan IPTEK dalam
kehidupan yg semakin modern. Perkembangan IPTEK dpt memperbaiki kualitas hidup
manusia. Berbagai saran modern industi, komuikasi & transportasi, misalnya terbukti sangat
bermanfaat. Namun, di sisi lain IPTEK tdk jarang berdampak negatif karena merugikan &
membahayakan kehidupan & martabat manusia. Bom atom telah menewaskan ratusan ribu
orang di Hiroshima &Nagasaki pd Perang Dunia II tahun 1945. Selain itu tdk sedikit yg
memanfatkan teknologi internet sbg sarana utk melakukan kejahatan dunia maya (cyber
crime), pornografi, kekerasan, & perjudian.
Disinilah peran Al Qur’an menjadi sangat penting dgn menjadikan Al Qur’an sbg
pedoman hidup agar kita tdk terjerumus pd hal-hal yg negatif sbg dampak berkembangnya
IPTEK. Al Qur’an & agama harus senantiasa kita jadikan sbg tuntunan utk menjalani
kehidupan. Jika kita menjadikan Aqidah Islam sbg landasan IPTEK, bukan berarti bahwa
konsep IPTEK wajib bersumber kpd Al Qur’an & Al Hadits, artinya bukan berarti bahwa
ilmu astronomi, geologi, agronomi, & lain sebagainya, harus didasarkan pd ayat tertentu
dalam Al Qur’an, tetapi yg dimaksud adl konsep IPTEK wajib berstandar pd Al Qur’an & Al
Hadits. Singkat kata IPTEK tdk boleh bertentangan dgn Al Qur’an.
Sebagai contoh adl Teori Evolusi yg dikemukakan Charles Darwin. Darwin menyatakan
bahwa manusia adl keturunan kera yg berevolusi selama jutaan tahun. Teori ini tdk
mempunyai dasar apapun, mengada-ada, tdk ilmiah, & yg pasti bertentangan dgn Al Qur’an
yg mengatakan bahwa manusia keturunan Adam, manusia pertama di dunia & bukan kera.
Seiring perjalanan waktu, teori evolusi mengalami keruntuhan lewat riset yg dilakukan oleh
ilmuwan muslim, Harun Yahya. Harun Yahya berhasil membuktikan bahwa spesies manusia
tdk mungkin berasal dari spesies kera yg berevolusi. Dan akhirnya terbukti bahwa teori
evolusi hanya sebuah bualan belaka & propaganda yg dilakukan Darwin.
BAB IV
PROFESIONAL DAN CERDAS ISLAMI

A. KONSEPSI DAN URGENSI


Mengenal Konsep Profesional Mujtahid dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
profesional diartikan sebagai “sesuatu yang memerlukan kepandaian khusus untuk
menjalankannya”. Dengan kata lain, profesional yaitu serangkaian keahlian yang
dipersyaratkan untuk melakukan suatu pekerjaan yang dilakukan secara efesien dan efektif
dengan tingkat keahlian yang tinggi dalam rangka untuk mencapai tujuan pekerjaan yang
maksimal. Istilah profesional berasal dari kata profesi. Dalam kamus “Theadvanced Learner’s
Dictionary of Current English, yang ditulis A.S. Hornby, dkk. Dinyatakan bahwa “profession
is accuption, esp. one requiring advanced educational and special training”. Artinya jabatan
yang memerlukan suatu pendidikan tinggi dan latihan secara khusus.
Suatu jabatan akan menentukan aktivitas-aktivitas sebagai pelaksana tugas. Berarti
bukan jabatannya yang menjabat predikat profesional, tetapi keahliannya dalam
melaksanakan pekerjaan. Berlandaskan pada pengertian tersebut di atas, Suharsimi Arikunto
memberikan definisi profesional sebagai berikut. Pertama, di dalam pekerjaan profesional
diperlukan teknik serta prosedur yang bertumpu pada landasan intelektual yang dipelajari dari
suatu lembaga (baik formal maupun tidak), kemudian diterapkan di masyarakat untuk
pemecahan masalah. Kedua, seorang profesional dapat dibedakan dengan seorang teknisi
dalam hal pemilikan filosofi yang kuat untuk mempertanggung-jawabkan pekerjaannya, serta
mantap dalam menyikapi dan melaksanakan pekerjaannya. Ketiga, seorang yang bekerja
berdasarkan profesinya memerlukan teknik dan prosedur yang ilmiah serta memiliki dedikasi
yang tinggi dalam menyikapi lapangan pekerjaan yang berdasarkan atas sikap seorang ahli.
Menurut Dedi Supriadi, penggunaan istilah profesional dimaksudkan untuk menunjuk pada
dua hal, yaitu pertama, penampilan seseorang yang sesuai dengan tuntutan yang seharusnya.
Misalnya “ia sangat profesional”. Kedua, suatu pengertian yang menunjuk pada orangnya. “ia
seorang profesional”, seperti dokter, insinyur dan sebagainya.
Pengertian Profesi, Profesional dan Profesionalisme menurut sumber lainnya. Profesi
merupakan suatu jabatan atau keahlian atau keterampilan dari pelakunya. Profesi berasal dari
bahasa latin “Proffesio” yang mempunyai dua pengertian yaitu janji/ikrar dan pekerjaan. Bila
artinya dibuat dalam pengertian yang lebih luas menjadi kegiatan “apa saja” dan “siapa saja”
untuk memperoleh nafkah yang dilakukan dengan suatu keahlian tertentu. Sedangkan dalam
arti sempit profesi berarti kegiatan yang dijalankan berdasarkan keahlian tertentu dan
sekaligus dituntut dari padanya pelaksanaan norma-norma sosial dengan baik.
Profesi adalah aktivitas intelektual yang dipelajari termasuk pelatihan yang
diselenggarakan secara formal ataupun tidak formal dan memperoleh sertifikat yang
dikeluarkan oleh sekelompok / badan yang bertanggung jawab pada keilmuan tersebut dalam
melayani masyarakat, menggunakan etika layanan profesi dengan mengimplikasikan
kompetensi mencetuskan ide, kewenangan keterampilan teknis dan moral serta bahwa
perawat mengasumsikan adanya tingkatan dalam masyarakat.
Sedangkan Profesional adalah orang yang menyandang suatu jabatan atau pekerjaan
yang dilakukan dengan keahlian atau keterampilan yang tinggi. Hal ini juga pengaruh
terhadap penampilan atau performance seseorang dalam melakukan pekerjaan di profesinya,
dan Profesionalisme adalah komitmen para profesional terhadap profesinya. Komitmen
tersebut ditunjukkan dengan kebanggaan dirinya sebagai tenaga profesional, usaha terus-
menerus untuk mengembangkan kemampuan professional. Profesionalisme merupakan
komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuannya secara terus
menerus. Profesionalisme berasal dan kata profesional yang mempunyai makna yaitu
berhubungan dengan profesi dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya.
Sedangkan profesionalisme adalah tingkah laku, keahlian atau kualitas dan seseorang yang
professional. Profesionalisme adalah sebutan yang mengacu kepada sikap mental dalam
bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan
meningkatkan kualitas profesionalnya.
B. LANDASAN DAN TUJUAN
Ajaran Islam sebagai agama universal sangat kaya akan pesan-pesan yang mendidik
bagi muslim untuk menjadi umat terbaik, menjadi khalifah, yang mengatur dengan baik bumi
dan se isinya. Pesan-pesan sangat mendorong kepada setiap muslim untuk berbuat dan bekerja
secara profesional, yakni bekerja dengan benar, optimal, jujur, disiplan dan tekun. Akhlak
Islam yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, beliau memiliki sifat-sifat yang dapat kita
jadikan landasan bagi pengembangan profesionalisme. Yaitu shidiq, amanah, tabligh, dan
fatonah. Keempatnya juga merupakan kunci profesionalitas cerdas islami
Terdapat pula nilai-nilai islam yang dapat melandasi pengembangan profesionalisme,
yaitu :
1. Bersikap positif dan berfikir positif (husnuzh zhan). Berpikir positif akan
mendorong setiap orang melaksanakan tugas-tugasnya lebih baik. Hal ini
disebabkan dengan bersikap dan berfikir positif mendorong seseorang untuk
berfikir jernih dalam menghadapi setiap masalah. Husnuzh zhan tersebut, tidak
saja ditujukan kepada sesama kawan dalam bekerja, tetapi yang paling utama
adalah bersikap dan berfikir positif kepada Allah SWT. Dengan pemikiran
tersebut, seseorang akan lebih lebih bersikap objektif dan optimistik. Apabil ia
berhasil dalm usahanya tidak menjadi sombong dan lupa diri, dan apabila gagal
tidak mudah putus asa, dan menyalahkan orang lain. Sukses dan gagal
merupakan pelajaran yang harus diambil untuk menghadapi masa depan yang
lebih baik, dengan selalu bertawakal kepada Allah SWT.
2. Memperbanyak shilaturahhim. Dalam Islam kebiasaan shilaturrahim merupakan
bagian dari tanda-tanda keimanan. Namun dalam dunia profesi, shilaturahhim
sering dijumpai dalam bentuk tradisi lobi. Dalam tradisi ini akan terjadi saling
belajar.
3. Disiplin waktu dan menepati janji.Begitu pentingnya disiplin waktu, al-Qur’an
menegaskan makna waktu bagi kehidupan manusia dalam surat al-Ashr, yang
diawali dengan sumpah ”Demi Waktu”. Begitu juga menepati janji, al-Qur’an
menegaskan hal tersebut dalam ayat pertama al-Maidah, sebelum memasuki
pesan-pesan penting lainnya. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-
aqad itu. (Al-Maaidah/05:01). Yang dimaksud aqad-aqad adalah janji-janji
sesama manusia.
4. Bertindak efektif dan efisien. Bertindak efektif artinya merencanakan ,
mengerjakan dan mengevaluasi sebuah kegitan dengan tepat sasaran. Sedangkan
efisien adalah penggunaan fasilitas kerja dengan cukup, tidak boros dan
memenuhi sasaran, juga melakukan sesuatu yang memang diperlukan dan
berguna. Islam sangat menganjurkan sikap efektif dan efesien.
5. Memberikan upah secara tepat dan cepat.Ini sesuai dengan Hadist Nabi, yang
mengatakan berikan upah kadarnya, akan mendorong seseorang pekerja atau
pegawai dapat memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya secara tepat pula.
Sementara apabila upah ditunda, seorang pegawai akan bermalas-malas karena
dia harus memikirkan beban kebutuhannyadan merasa karya-karyanya tidak
dihargai secara memadai.
Tujuan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)
Tujuan umum pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) adalah untuk
meningkatkan kualitas layanan pendidikan di sekolah/madrasah dalam rangka meningkatkan
mutu pendidikan. Sedangkan secara khusus tujuan pengembangan keprofesian berkelanjutan
adalah sebagai berikut;
1. Meningkatkan kompetensi guru untuk mencapai standar kompetensi yang ditetapkan
dalam peraturan perundangan yang berlaku.
2. Memutakhirkan kompetensi guru untuk memenuhi kebutuhan guru dalam
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni untuk memfasilitasi proses
pembelajaran peserta didik.
3. Meningkatkan komitmen guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya
sebagai tenaga profesional.
4. Menumbuhkan rasa cinta dan bangga sebagai penyandang profesi guru.
5. Meningkatkan citra, harkat, dan martabat profesi guru di masyarakat.
6. Menunjang pengembangan karir guru
Manfaat Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)
Manfaat pengembangan keprofesian berkelanjutan yang terstruktur, sistematik dan
memenuhi kebutuhan peningkatan keprofesian guru adalah sebagai berikut:
1. Bagi Peserta Didik. Dengan adanya pelaksanaan PKB, maka peserta didik
memperoleh jaminan pelayanan dan pengalaman belajar yang efektif.
2. Bagi Guru. Kepada guru dengan melaksanakan PKB (pengembangan keprofesian
berkelanjutan) akan dapat memenuhi standar dan mengembangkan kompetensinya
sehingga mampu melaksanakan tugas-tugas utamanya secara efektif sesuai dengan
kebutuhan belajar peserta didik untuk menghadapi kehidupan di masa datang.
3. Bagi Sekolah/Madrasah. Sekolah/Madrasah akan mampu memberikan pelayanan
pendidikan yang lebih baik dan berkualitas bagi peserta didik.
4. Orang tua/masyarakat memperoleh jaminan bahwa anak mereka mendapatkan
layanan pendidikan yang berkualitas dan pengalaman belajar yang efektif.
5. Bagi Pemerinta, dengan adanya PKB akan memberikan jaminan kepada masyarakat
tentang layanan pendidikan yang berkualitas dan profesional.
Sasaran Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)
Sasaran kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah semua guru pada
satuan pendidikan yang berada di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
Kementerian Agama, dan/atau Kementerian lain, serta satuan pendidikan yang
diselenggarakan oleh masyarakat.
Demikian ulasan tentang pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) mengenai
tujuan, sasaran dan manfaatnya, yang ditulis berdasarkan buku 1 pedoman pengelolaan
pengembangan keprofesian berkelanjutan: Pembinaan Pengembangan Profesi Guru yang
diterbitkan oleh Pusat Pengembangan Profesi Pendidik, Badan pengembangan Sumber Daya
Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidian Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2012.
C. KARAKTERISTIK
Seseorang yang memiliki jiwa profesionalisme senantiasa mendorong dirinya untuk
mewujudkan kerja-kerja yang profesional. Kualitas profesionalisme didukung oleh ciri-ciri
sebagai berikut:
1. Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati piawai ideal.
Seseorang yang memiliki profesionalisme tinggi akan selalu berusaha
mewujudkan dirinya sesuai dengan piawai yang telah ditetapkan. Ia akan
mengidentifikasi dirinya kepada sesorang yang dipandang memiliki piawaian
tersebut. Yang dimaksud dengan “piawai ideal” ialah suatu perangkat perilaku
yang dipandang paling sempurna dan dijadikan sebagai rujukan.
2. Meningkatkan dan memelihara imej profesion. Profesionalisme yang tinggi
ditunjukkan oleh besarnya keinginan untuk selalu meningkatkan dan memelihara
imej profesion melalui perwujudan perilaku profesional. Perwujudannya
dilakukan melalui berbagai-bagai cara misalnya penampilan, cara percakapan,
penggunaan bahasa, sikap tubuh badan, sikap hidup harian, hubungan dengan
individu lainnya.
3. Keinginan untuk sentiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional yang
dapat meningkatkan dan meperbaiki kualiti pengetahuan dan keterampiannya.
4. Mengejar kualiti dan cita-cita dalam profesional. Profesionalisme ditandai
dengan kualitas derajat rasa bangga akan profesion yang dipegangnya. Dalam hal
ini diharapkan agar seseorang itu memiliki rasa bangga dan percaya diri akan
profesionnya
Dan berikut ciri-ciri tabi’at guru/pendidik:
1. Mencintai pekerjaannya sebagai guru
2. Adil terhadap semua murid
3. Sabar dan tenang
4. Berwibawa (dilihat dari ilmu dan taqwanya) serta kemampuan memengaruhi orang
lain(Harus gembira, Bersifat manusiawi, Bekerja sama dengan manusia lain, Bekerja
sama dengan masyarakat, Selalu ikhlas mendoakan muridnya, Berusaha ikhlas
mengajarkan ilmunya)
“Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin termasuk orang yang beruntung,
barang siapa hari ini sama dengan hari kemarin termasuk orang yang lalai dan barang siapa
hari ini lebih buruk dari hari kemarin termasuk orang yang merugi.”
Rangkaian kalimat diatas merupakan sebuah hadist popular yang bisa kita jadikan motivasi
untuk senantiasa memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik dan masuk dalam golongan
orang–orang yang beruntung. Arti beruntung dalam kalimat ini bukan beruntung dari sisi
materi saja atau bersifat duniawi tapi beruntung dalam arti sukses dunia akhirat.
Bagaimana kita bisa meraih sukses dunia dan akhirat ? Bagaimana kita bisa termasuk
orang-orang yang beruntung ? Tentu saja tidak semudah membalik telapak tangan, akan tetapi
bukan suatu kemustahilan kita bisa meraih kesuksesan tersebut. Dengan senantiasa
memperbaharui niat kita dan dengan formula yang jitu insya Allah kesuksesan dunia akhirat
bisa kita raih. Kunci nya adalah menerapkan sikap professional pada setiap langkah-langkah
kehidupan kita. Benarkah kita sudah bersikap professional ?
Kita bisa mengukur sikap professional kita dengan cara antara lain :
1. Sabar, arti sabar di sini adalah berfikir sebelum bertindak. Yaitu tidak
mengedepankan emosi sehingga tindakan yang akan dilakukan tidak merugikan atau
menyakiti orang lain. Contoh yang sederhana dan sering terjadi dalam kehidupan
bermasyarakat adalah ada dua orang ibu yang tidak saling menyapa berhari-hari
hanya karena perselisihan anak. Seperti kita ketahui dunia anak-anak memang seperti
itu, sebentar gaduh masalah sepele tapi tak berselang lama mereka sudah akur
kembali, sementara kedua orang tua belum akur. Hal tersebut tidak akan terjadi jika
kedua pihak bisa bersifat sabar sehingga tindakan yang dilakukan tidak menciderai
nilai-nilai yang kehidupan bertetangga yang sudah dibangun lama yang akhirnya
musnah sekelip mata.
2. Lapang dada, arti lapang dada di sini adalah siap menerima masukan atau
kritikan.Tidak semua masukan atau kritikan itu bersifat menjatuhkan atau
mendiskreditkan suatu pekerjaan justru dari masukan atau kritikan itu bisa menjadi
bahan evaluasi dari pekerjaan yang sudah kita lakukan dan bisa menjadi tolok ukur
langkah selanjutnya.
3. Tidak meremehkan orang lain, arti tidak meremehkan orang lain ini adalah
memandang semua pekerjaan itu penting, setiap orang yang kita jumpai itu orang
penting buat kehidupan kita tanpa memandang pangkat, derajat dan kedudukan.
Namun sering kita jumpai seseorang akan bersikap hormat jika bertemu orang yang
berpangkat atau lebih tinggi posisi pekerjaannya, sebaliknya akan memandang remeh
pada orang yang pekerjaannya di nilai hina missal pembantu rumah tangga, kuli
bangunan, tukang sapu jalan dan lain sebagainya.
Ketika ketiga prinsip tersebut diatas terpatri dalam sanubari kita, bisa
dipastikan setiap gerak, langkah dan pikiran akan bersinergi menuju sikap
professional yang akan menghantarkan kita pada kesuksesan dunia dan kesuksesan
akhirat. Dan sudah bisa dipastikan kita akan termasuk ke dalam golongan orang-
orang yang beruntung.
D. PANDANGAN ISLAM
Islam menempatkan bekerja sebagai ibadah untuk mencari rezeki dari Allah guna
menutupi kebutuhan hidupnya. Bekerja untuk mendapatkan rezeki yang halalan
thayiban termasuk kedalam jihad di jalan Allah yang nilainya sejajar dengan melaksanakan
rukun Islam. Dengan demikian bekerja adalah ibadah dan menjadi kebutuhan setiap umat
manusia. Bekerja yang baik adalah wajib sifatnya dalam Islam.
Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku. (QS.
Al-Dzariyyat:56).
Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ”Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi”.Mereka berkata: ”Mengapa Engkau
hendak menjadikan (khalifah) dibumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: ”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui.” (Al-Baqarah:30).
Ayat diatas menegaskan bahwa manusia adalah makhluk berketuhanan sekaligus
makhluk sosial. Sebagai makhluk berketuhanan, wajib baginya mengabdi, tunduk dan patuh,
serta berpegang teguh pada ajaran agama Allah yakni al-Islam. Sementara sebagai makhluk
sosial yang merupakan bagian dari aktualisasi sebagai makhluk berketuhanan, mereka harus
menjalin shilaturahmi dan kerjasama yang baik, jujur, amanah, yang dilandasi oleh keimanan
dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Dari kondisi tersebut, manusia menjadi berkembang
secara dinamis, sehingga kebutuhan hidup manusia juga semakin berkembang, begitu juga
tantangan hidupnya pun berkembang pesat. Sehingga ketergantungan manusia kepada
sesamanya juga semakin tinggi. Dari sini kemudian, lahirlah lapangan pekerjaan, yang dengan
lapangan pekerjaan seseorang dapat memenuhi kebutuhannya sekaligus menolong pemenuhan
kebutuhan orang lain.
Rasulullah, para nabi dan para sahabat adalah para profesional yang memiliki
keahlian dan pekerja keras. Mereka selalu menganjurkan dan menteladani orang lain untuk
mengerjakan hal yang sama. Profesi nabi Idris adalah tukang jahit dan nabi Daud adalah
tukang besi pembuat senjata. Jika kita ingin mencontoh mereka maka yakinkan diri kita juga
telah mempunyai profesi dan semangat bekerja keras.
Profesi yang dikembangkan di lingkungan kita seperti profesi dosen, profesi
verifikator keuangan, profesi ahli hukum, profesi laboran, profesi administratur, profesi supir,
dan lainnya merupakan profesi yang harus kita kerjakan untuk kemaslahatan masyakat
banyak. Satu langkah setelah meyakini memiliki profesi maka wajib hukumnya kita untuk
bekerja keras. InsyaAllah kita akan dilimpahkan rezeki yang halal sekaligus pahala atas
ibadah pekerjaan yang kita lakukan.
Melengkapi bekerja keras dan profesional adalah praktek bersikap dan berperilaku
mencontoh Rasulullah yaitu bersifat siddiq, fathonah, amanah dan tabligh agar kita diberikan
keselamatan dunia dan akhirat. Sifat siddiq adalah dapat dipercaya dan jujur. Sifat fathonah
adalah harus pintar. Sifat amanah adalah melaksanakan tugas yang dibebankan dan tabligh
adalah mampu melakukan komunikasi yang baik.
Wujud dari kita bekerja selain mendapat rezeki halal adalah pengakuan dari
lingkungan atas prestasi kerja kita. “Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya
dan terampil dan siapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarga maka dia serupa
dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza Wajalla (H.R. Ahmad).
Allah juga telah menjanjikan kita mempunyai peluang memperoleh rezeki yang luas
asalkan bekerja profesional dan cerdas melalui etos kerja yang tinggi. Islam telah
mengajarkan bagaimana mempraktekan etos kerja yang tinggi. Ada 4 (empat) prinsip etos
kerja tinggi yang diajarkan Rasulullah seperti diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam “syu’bul
Iman”.
Pertama, bekerja secara halal. Syukur Alhamdulillah kita telah memiliki pekerjaan di
Unpad yang terkategorikan halal yaitu melaksanakan layanan pendidikan untuk masyarakat.
Kedua, kita bekerja demi menjaga diri supaya tidak menjadi beban hidup orang lain apalagi
menjadi benalu bagi orang lain. Makna terdalam adalah kita dilarang untuk bersifat selalu
meminta imbalan diluar kemampuan lembaga tempat kita bekerja. Ketiga, bekerja demi
mencukupi kebutuhan keluarga. Tegasnya seseorang harus mengatur rezeki yang diperoleh
hasil dari memerah keringat untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya dengan
menghindarkan perilaku boros. Keempat, bekerja untuk meringankan hidup tetangga. Artinya
kita setelah memperoleh rezeki tidak boleh egois dan harus peduli untuk meringankan
kesulitan ekonomi tetangga kita.
Bekerja secara cerdas juga memerlukan tambahan energi yang datang dari ridha
Allah melalui doa untuk para kerabat kerja dan untuk lembaga Unpad sendiri. Tahukah kita
akan sosok Fatimah puteri Rasulullah yang selalu rela untuk mementingkan mendoakan orang
lain dibandingkan diri dan keluaganya sendiri. Doa yang dilakukan dan jika malaikat
mendengar maka merekapun akan mendoakan kita yang mendoakan orang lain tersebut,
seperti diriwayatkan oleh HR. Muslim dan Abu Dawud, “Apabila salah seorang mendoakan
saudaranya sesama muslim tanpa diketahui oleh orang yang didoakan tersebut maka para
malaikat berkata ‘Amin, semoga engkau memperoleh sebagaimana yang engkau doakan itu’
E. IMAN, ILMU, DAN AMAL KUNCI PROFESIONAL DAN CERDAS ISLAMI
Iman, ilmu, dan amal memang merupakan kunci professional dan cerdas islami.
Ketiganya saling berhubungan dan saling mengisi satu sama lain. Berikut adalah penjelasan
mengenai ketiga hal tersebut.
Manusia dibedakan dengan makhluk hidup yang lain seperti hewan. Bumi diserahkan
kepada hewan-hewan itu sudah siap pakai. Akan tetapi manusia tidak demikian, bumi
diserahkan kepada manusia itu sudah siap olah, manusia berkewajiban mengolah. Yang
berarti manusia dituntut berupaya, berusaha, dan bekerja keras. Dalam arti belajar dengan
tekun bagi para penuntut ilmu untuk mencapai hasil atau tujuan yang diinginkan.
Dengan demikian berarti kerja keras manusia itu adalah bagian dari kewajibannya.
Atau belajar dengan tekun adalah bagian dari kewajiban penuntut ilmu untuk mencapai
tujuannya yang lebih baik.
Menuntut ilmu hukumnya sangat wajib bagi setiap muslim yang berakal, baik miskin
atau kaya, orang kampung atau pun orang kota, selama dia berakal sehat wajib hukumnya
menuntut ilmu. Dikatakan dalam Hadis :
َ ‫ضة ْالع ِْل ِم‬
‫طلَب‬ َ ‫علَی فَ ِر ْي‬
َ ‫م ْس ِل َمة َو مسلِم ك ِّل‬
“Menuntut ilmu itu sangat wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan” Al-
Hadis
Dalam kajian hukum Islam, bahwa standar hidup yang ideal bagi manusia
adalah Haddul Kifâyah, Lâ Haddul Kafaf (batas kecukupan, bukan batas pas-pasan)[1]. Dan
kita tahu bahwa kewajiban dalam menuntut ilmu dimulai dari rahim ibu sampai liang lahat.
Dengan demikian untuk memenuhi standar hidup yang ideal hendaknya tidak hanya pas-
pasan. Dalam kitab “Ta’lim al-Muta’allim”yang ditulis oleh Imam Al-Zarnuji, beliau menulis
bahwa syarat-syarat mencari ilmu, yaitu:
Cerdas. Adalah salah satu syarat untuk menuntut ilmu. Kecerdasan adalah bagian
dari pengaruh keturunan jalur psikis. Dari ayah dan bunda yang cerdas akan lahir anak-anak
yang cerdas, kecuali adanya sebab-sebab yang memungkinkan menjadi penghalang
transformasi sifat-sifat tersebut baik situasi fisis maupun psikis.
Sehat jasmani dan lemah jasmani, makanan bayi dalam kandungan maupun situasi
psikis ayah bunda seperti semangat dan himmah menuntut ilmu, melakukan kejahatan, emosi,
maupun warna pikiran akan ikut memberikan pengaruh yang besar bagi keturunan. Itulah
buktinya bahwa dari ayah dan bunda yang sama akan lahir anak-anak dengan kondisi fisik,
watak, sifat dan kecerdasan yang berbeda.
Tentang kaitan keturunan dengan ilmu pengetahuan maka kita perlu mengingat
bahwa yang diturunkan dari orangtua adalah tingkat kecerdasannya saja bukan kekayaan ilmu
pengetahuan. Kekayaan ilmu pengetahuan tidak ada jalan lain kecuali belajar dengan baik.
Sabda nabi Saw:
‫)الحديث( ِبالتَّعَلُّ ِم ْالع ِْلم ِإنَّ َما‬
“Bahwasanya ilmu itu diperoleh dengan (melalui) belajar”. Al-Hadis
Dan yang menjadi masalah sekarang bagaimana anak yang cerdas (karena keturunan)
tetapi tidak memiliki ketekunan dan kesungguhan dalam menuntut ilmu, jawabannya sudah
pasti bahwa dia tidak akan menjadi orang pandai/‘Alim.
Rakus (punya kemauan dan semangat untuk berusaha mencari ilmu)
“Kejarlah cita-citamu setinggi langit”. Peribahasa ini memberikan arti bercita-citalah
setinggi-tingginya dan raihlah cita-cita itu sampai dimana pun. Peribahasa tersebut
memberikan motivasi kepada kita untuk pantang menyerah mengejar cita-cita (pendidikan)
kita.
Orang yang menuntut ilmu haruslah seperti peribahasa di atas: “selalu berusaha dan
berusaha menuntut ilmu untuk mencapai cita-cita yang tinggi”.
Bahkan menurut Imam as-Syafi’i, dalam menuntut ilmu janganlah langsung merasa puas
terhadap apa yang telah didapat dan jangan hanya menuntut ilmu di satu daerah saja.
‫ِي ْال َمقَ ِام َمافِى‬
ْ ‫ع ْقل ِلذ‬ ْ ‫ أَدَب َوذ‬. ‫مِن‬
َ ‫ِي‬ ْ ‫ع َرا َحة‬ ِ َ ‫طانَ فَد‬ َ ‫ب اْالَ ْو‬
ِ ‫َوا ْغت َِر‬
َ ‫ع َّم ْن ع َِوضًا ت َِج ْد‬
‫ساف ِْر‬ َ ‫َارقه‬
ِ ‫ تف‬. ْ‫صب‬َ ‫ب فِى ا ْلعَي ِْش لَ ِذ ْيذَ فَإِ َّن َوا ْن‬ِ ‫ص‬ َ َّ‫الن‬
“Tidak cukup teman belajar di dalam negeri atau dalam satu negeri saja, tapi pergilah
belajar di luar negeri, di sana banyak teman-teman baru pengganti teman sejawat lama,
jangan takut sengsara, jangan takut menderita, kenikmatan hidup dapat dirasakan sesudah
menderita.” (diambil dari kitab Sejarah Hidup dan Silsilah Syekh Kiyai Muhammad Nawawi
Tanara Banten yang ditulis oleh H. Rofiuddin. Hal. 4)
Dan ada tiga kategori manusia:
Berjaya: jika hari ini lebih baik dari kemarin, Terpedaya: hari ini sama seperti
kemarin, dan Celaka: hari ini lebih buruk dari kemarin.
Sabar. Dikutip dari bukunya Prof. KH. Ali Yafie “Manusia dan Kehidupan” bahwa
manusia pada hakekatnya dihadapkan kepada pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab
(tantangan). Seorang manusia harus mampu menjawab berbagai pertanyaan menyangkut
kehidupannya yang terkait dengan berbagai tantangan dan persoalan. —2006: 1
Seorang yang menuntut ilmu sudah barang tentu akan menghadapi macam-macam
gangguan dan rintangan. Selain berusaha maka bersabarlah untuk menghadapi semuanya itu,
dan perlu diketahui bahwa sabar adalah sebagian dari Iman, “As-Shobru mina al-îmân”. Dan
Sabar disini mengandung arti tabah, tahan menghadapi cobaan atau menerima pada perkara
yang tidak disenangi atau tidak mengenakan dengan ridha dan menyerahkan diri kepada
Allah Swt. Sabda nabi Saw:
‫ضيَاء‬ َّ ‫اَل‬
ِ ‫صبْر‬
“Bersabar adalah cahaya yang gilang-gemilang”.
Akan tetapi kesabaran disini harus diartikan dalam pengertian yang aktif bukan
dalam pengertian yang pasif. Artinya nrimo menerima apa adanya tanpa usaha untuk
memperbaiki keadaan. Sesuai ajaran agama pengertian sabar dan kata-kata sabar itu misalnya
dapat ditemukan di dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran. Yakni satu surat yang terdiri dari 200
ayat yang menjelaskan tentang keseluruhan perjuangan besar dan berat yang telah dilakukan
rasulullah Saw sepanjang hidupnya dan itu semua direkam dalam Surat Ali Imran. Ada dua
perjuangan berat dan sangat menentukan yaitu pertempuran badar dan uhud. Di dalamnya
terdapat banyak kata-kata sabar, tetapi kata-kata sabar itu selalu diletakan dalam konteks
perjuangan bukan dalam konteks seseorang ditimpa musibah.
Dengan demikian dapat diperoleh gambaran dan kesimpulan pengertian bahwa sabar
yang aktif itu artinya suatu mentalitas ketahanan belajar, memiliki mental yang kuat untuk
tekun belajar dan berusaha keras seoptimal mungkin dengan penuh daya tahan, tidak jemu,
tidak bermalas-malasan, tetapi belajar dengan penuh semangat. Selain itu, dalam belajar harus
berkonsentrasi (Khudzurul Qalb) karena jika belajar pikirannya bercabang maka tidak bisa
optimal. Salah satu bagian dari sabar adalahKhudzurul Qalb.
Bekal (biaya). Setiap perjuangan pasti ada pengorbanan, itulah logikanya, manusia menjalani
hidup ini butuh pengorbanan begitupun menuntut ilmu.
Biasanya, dalam hal biaya ini menjadi dalih masyarakat yang sangat utama dalam
menuntut ilmu khususnya pada pendidikan formal. Sehingga ketika ditanya salah seorang
yang tidak belajar di pendidikan formal misalnya, “kenapa kamu atau dia tidak sekolah?”
jawabannya sungguh gampang sekali, “saya atau dia tidak sekolah karena tidak punya biaya.
Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa pendidikan wajib hukumnya bagi setiap muslim,
dan dijelaskan lagi dalam hadis “Tuntutlah ilmu mulai dari rahim ibu sampai liang
lahat”. Dari hadis tersebut kita bisa mengetahui bahwa, seumur hidup kita wajib menuntut
ilmu. Pendidikan bukan hanya pendidikan formal tetapi non formal pun ada. Rasul
menjanjikan kepada para penuntut ilmu,

َّ َ‫ب ت َ َكفَّ َلﺍﷲ‬


‫إن‬ َ ‫بِ ِر ْزقِ ِه اْلع ِْل ِم ِل‬
ِ ‫طا ِل‬
“Sesungguhnya Allah pasti mencukupkan rezekinya bagi orang yang menuntut ilmu”
Dalam lafal hadis di atas tertulis lafazh takaffala dengan menggunakan fi’il
madhy yang aslinya mempunyai arti ‘telah mencukupkan’ yang “seolah-olah” sudah terjadi.
Maka lafazh tersebut mempunyai makna pasti, asalkan dibarengi dengan keyakinan terhadap
kekuasaan Allah. Dan yakinkanlah bagi para penuntut ilmu walaupun dengan segala
kekurangan biaya pasti mampu atau bisa menyelesaikan pendidikan. Karena pasti akan ada
jalan lain selama manusia berusaha dan yakin terhadap kekuasaan dan pertolongan Allah Al-
Yaqinu Lâ Yuzâlu bi as-Syak Artinya: ”keyakinan tidak bisa dihilangkan oleh keragu-
raguan”. Dan akhirnya maka tidak ada alasan orang tidak bisa menuntut ilmu karena biaya,
seperti keterangan sebelumnya carilah jalan lain, solusi lain untuk bisa menuntut ilmu.
Lama Waktunya. Maksudnya selesaikanlah pendidikan itu samapai tuntas, jangan
sampai berhenti di tengah jalan.
Kemudian Pesan dan Prinsip menuntut ilmu tergambar pada kata pepatah sebagai berikut:
“Berfikirlah di waktu pagi. Bekerjalah di waktu siang. Makanlah di waktu sore. dan
Tidurlah di waktu malam”.
Pada kalimat pertama dalam pepatah mengatakan, “Berfikirlah di waktu
pagi”.Mempunyai pengertian agar kita belajar pada usia muda mulai dari kecil dengan
sungguh-sungguh, tekun, rajin, percaya diri, serta tidak terpengaruh oleh lingkungan.
Ungkapan tersebut juga menganjurkan agar kita menggunakan waktu sebaik-
baiknya, karena kunci keberhasilan dalam menuntut ilmu adalah pandai mengatur waktu
secara efektif, dengan mendahulukan aktifitas yang lebih penting dan membuang aktifitas
yang kurang penting. Ini dapat dianalogikan sebagaimana uang yang hilang dapatlah dicari
gantinya, kesehatan yang terganggu ada obatnya, tetapi bila waktu dan kesempatan yang
hilang atau disia-siakan, maka tidak akan ada gantinya untuk selamanya.
Bagi seorang penuntut ilmu, bila di masyarakat hasil belajarnya tidak sesuai yang
diharapkan, maka akan mengeluh dan menyesal. Bahkan masyarakat akan mencemoohnya.
Hal ini digambarkan oleh seorang penyair :
“Akan datang kepadamu hari-hari dimana dirimu merasa masih bodoh, dan akan datang
pula berita tentang kekurangan perbekalanmu”.
Bagi seorang penuntut ilmu yang hidup di lingkungan pendidikan, tidak boleh merasa dirinya
paling bisa dan bersikap gengsi dengan tidak mau mencari tambahan ilmu. Kisah Nabi Musa
a.s. Harus menjadi ibarah. Beliau merasa dirinya paling pandai ketika ditanya oleh umatnya,
sehingga Allah memerintahkan Nabi Musa untuk mencari tambahan ilmu kepada Nabi
Khadir. Diceritakan dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi Ayat 66-78, sebagai berikut:
Musa Berkata kepada Khidhr: "Bolehkah Aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan
kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang Telah diajarkan kepadamu?"
Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama Aku.
Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan
yang cukup tentang hal itu?"
Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati Aku sebagai orang yang sabar, dan Aku
tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun".
Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang
sesuatu apapun, sampai Aku sendiri menerangkannya kepadamu".
Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr
melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu
menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu Telah berbuat sesuatu kesalahan
yang besar.
Dia (Khidhr) berkata: "Bukankah Aku Telah berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak
akan sabar bersama dengan aku".
Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum Aku Karena kelupaanku dan janganlah kamu
membebani Aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku".
Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, Maka
Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan
Karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu Telah melakukan suatu yang
mungkar".
Taufiq. Artinya mampu melakukan perbuatan yang sesuai dengan tuntutan Rasul Saw, dan
akal sehat.
Ma’rifat. Artinya mampu melihat Allah dengan mata hati. Bahkan mata hati adalah satu-
satunya alat untuk ma’rifatullah. Tatkala akal dan mata kepala tidak mampu menemukan
hakekat Allah.
Kemudian hendaknya para penuntut ilmu dapat memelihara dan membersihkan hati dari sifat-
sifat sebagai berikut:
Isti’jal (tergesa-gesa)
Bahwa tergesa-gesa adalah pekerjaan syetan. Pada hakikatnya semua kegiatan pekerjaan yang
baik dengan niat yang baik bagi mukmin bernilai ibadah. Karenanya harus ditunaikan dengan
tenang, tidak tergesa-gesa bahkan harus disertai dengan taqwa dan tawakkal.
Hasad (dengki)
Tidak senang apabila temannya mendapat nikmat atau berusaha dengan segala macam jalan
untuk merebutnya. Kalimat bijak menyatakan:
‫)الكلمةالحكيمة( اْل َم ْقص ْود َولَ ْوبَلَ َغ الَيَس ْود ْال َحس ْود‬
“Orang hasud (dengki) tidak pernah mampu menjadi pemimpin (yang baik)sekalipun ia telah
berhasil merebut kepemimpinan itu (dari tangan orang lain)”.
Orang hasud bahkan akan merusak kebaikan bagaikan api melalap kayu bakar. Sebagai mana
sabda nabi Saw yang berbunyi:
َ ‫ت يَأْكل ال َح‬
‫سد فَإِ َّن‬ َ ‫ب النَّار ت َأْكل َك َما ْال َح‬
ِ ‫سنَا‬ َ ‫)الحديث( ال َخ‬
َ ‫ط‬
“Maka sesungguhnya hasud dapat memakan merusak kebaikan seperti apimelalap kayu
bakar”. Al-Hadis
Dengan hasud orang akan menyiksa batin dan dirinya sendiri. Setiap muslim terhadap orang
lain yang memperoleh nikmat harus ikhlas atau bahkan ikut mensyukuri sambil berusaha dan
berdoa kepada Allah, sehingga nantinya akan tiba giliran nikmat untuk dirinya.
Kibr (Sombong)
Merasa dirinya paling besar, sedang lainnya rendah. Kibr, sifat yang hanya boleh dimiliki
oleh Allah Swt. Soal kaya, miskin, pangkat dan tidak, dijadikan Allah sebagai seni kehidupan.
Yaitu agar kehidupan ini berjalan harmonis dan saling kasih sayang.
Tulul Amal (Tinggi dan Panjang Angan-angan)
Berangan-angan terhadap hal yang tidak realistis, melainkan bersifat melamun dan khayalan.
Nabi melarang membuang-buang waktu dan melakukan yang tidak berguna. Sebagai mana
sabda nabi Saw yang berbunyi:
‫)البخاري رواه( يَ ْعنِ ْي ِه الَ َما ت ََركَ المرءِ إِ ْسالَ ِم حس ِْن مِ ْن‬
Agama juga melarang orang berfikir yang melebihi batas dari jangkauan kemampuannya.
Sebagaimana sabda nabi Saw yang berbunyi:
ِ ‫ق فِي َوالَتَفَ َّكر ْوا ْالخ َْل‬
‫ق فِي تَفَ َّكر ْوا‬ ِ ‫)أبوالشيخ رواه( قَد َْره الَت َ ْقدِر ْونَ فَإنَّك ْم الخَا ِل‬
“Berfikirlah kamu sekalian——sebatas— makhluk Allah dan janganlah berfikir (melebihi
batas) tentang dzat Allah. Karena sesungguhnya engkau tidak akan mampu mencapai
(hakekatnya)”. (HR. Abu Syekh).
Fungsi hati dalam kehidupan manusia:
1. Tempat menyimpan suara hati (Concience), manusia akan menjadi baik mana kala
mau konsisten dengan panggilan hati nuraninya, karena suara hati adalah pantulan
dari fitrah jiwanya. (Lihat Surat ar-Rûm, Ayat. 30)
2. Fungsi seluruh tubuh manusia, yang dimaksud adalah bahwa kebaikan maupun
kejelekan seluruh tubuh. Kebaikan seseorang menentukan kesehatan jasmaninya.
Sebaliknya hati yang jelek akan besar pengaruhnya terhadap kejelekan jasmani.
Nabi Saw, bersabda:
‫إن اَآل‬
َّ ‫س ِد فِ ْي‬
َ ‫ضغَة ال َج‬ ْ ‫صلَ َح‬
ْ ‫ت إِذَا م‬ َ ‫صلَ َح‬ َ ‫ت َوإذَا كلُّه ال َج‬
َ ‫سد‬ ْ َ ‫سد‬
َ َ ‫سد َ ف‬
َ َ ‫سد ف‬ َ ‫)ومسلم البخاري رواه( القَ ْلب َوه‬
َ ‫ِي اَآل كلُّه ال َج‬
“Ingat di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka akan baik seluruh
anggota tubuh dan apabila ia rusak maka akan rusak seluruh anggota tubuh. Ingatlah itulah
hati”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Obat Hati
Adapun beberapa obat hati yang mungkin sudah kita tahu diantaranya, sebagai berikut:
1) Membaca Al-Qur’an dan makna-nya
2) Mendirikan Shalat malam (Qiyamullail)
3) Berkumpul/ bergaul dengan orang saleh
4) Memperbanyak puasa sunnah
5) Berdzikir kepada Allah dengan lama pada malam hari.
F. SHIDIQ, AMANAH, TABLIGH, FATONAH KUNCI PROFESIONALITAS
CERDAS ISLAMI
Mengenai masalah shidiq, amanah, tabligh, dan fatonah yang menjadi kunci
profesionalitas cerdas islami. Kami merujuk pada akhlak islam yang di ajarkan oleh
Nabiyullah Muhammad SAW, memiliki sifat-sifat yang dapat dijadikan kunci bagi
pengembangan profesionalisme dan cerdas islami. Ini dapat dilihat pada pengertian sifat-sifat
akhlak Nabi sebagai berikut :
1. Sifat kejujuran (shiddiq). Kejujuran ini menjadi salah satu dasar yang paling penting
untuk membangun profesionalisme. Hampir semua bentuk uasha yang dikerjakan
bersama menjadi hancur, karena hilangnya kejujuran. Oleh karena itu kejujuran
menjadi sifat wajib bagi Rasulullah SAW. Dan sifat ini pula yang selalu di ajarkan
oleh islam melalui al-Qur’an dan sunah Nabi. Kegiatan yang dikembangkan di dunia
organisasi, perusahan dan lembaga modern saat ini sangat ditentukan oleh kejujuran.
Begitu juga tegaknya negara sangat ditentukan oleh sikap hidup jujur para
pemimpinnya. Ketika para pemimpinya tidak jujur dan korup, maka negara itu
menghadapi problem nasional yang sangat berat, dan sangat sulit untuk
membangkitkan kembali.
2. Sifat tanggung jawab (amanah).Sikap bertanggung jawab juga merupakan sifat
akhlak yang sangat diperlukan untuk membangun profesionalisme. Suatu
perusahaan/organisasi/lembaga apapun pasti hancur bila orang-orang yang terlibat di
dalamnya tidak amanah.
3. Sifat komunikatif (tabligh).Salah satu ciri profesional adalah sikap komunikatif dan
transparan. Dengan sifat komunikatif, seorang penanggung jawab suatu pekerjaan
akna dapat menjalin kerjasama dengan orang lain lebih lancar. Ia dapat juga
meyakinkan rekanannya untuk melakukan kerja sama atau melaksanakan visi dan
misi yang disampaikan. Sementara dengan sifat transparan, kepemimpinan di akses
semua pihak, tidak ada kecurigaan, sehingga semua masyarakat anggotanya dan
rekan kerjasamanya akan memberikan apresiasi yang tinggi kepada
kepemimpinanny. Dengan begitu, perjalanansebuah organisasi akan berjalan lebih
lanca, serta mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak.
4. Sifat cerdas (fathanah). Dengan kecerdasannya seorang profesional akan dapat
melihat peluang dan menangkap peluang dengan cepat dan tepat. Dalam sebuah
organisasi, kepemimpina yang cerdas akan cepat dan tepat dalm memahami
problematika yang ada di lembaganya. Ia cepat memahami aspirasi anggotanya,
sehingga setiap peluang dapat segera dimanfaatkan secara optimal dan problem dapat
dipecahkan dengan cepat dan tepat sasaran.
BAB V
KEBERSIHAN DAN KESEHATAN

A. KONSEPSI DAN KARAKTERISTIK


Islam sebagai agama yang sempurna dan lengkap. Telah menetapkan
prinsip-prinsip dalam penjagaan keseimbangan tubuh manusia. Diantara cara Islam
menjaga kesehatan dengan menjaga kebersihan dan melaksanakan syariat wudlu dan
mandi secara rutin bagi setiap muslim.
Sehat adalah kondisi fisik di mana semua fungsi berada dalam keadaan
sehat. Menjadi sembuh sesudah sakit adalah anugerah terbaik dari Allah kepada
manusia. Adalah tak mung kin untuk bertindak benar dan memberi perhatian yang
layak kepada ketaatan kepada Tuhan jika tubuh tidak sehat.
Tidak ada sesuatu yang begitu berharga seperti kesehatan. Karenanya,
hamba Allah hendaklah bersyukur atas kesehatan yang dimiltkinya dan tidak
bersikap kufur. Nabi saw. bersabda, “Ada dua anugerah yang karenanya banyak
manusia tertipu, yaitu kesehatan yang baik dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Abu Darda berkata, “Ya Rasulullah, jika saya sembuh da ri sakit saya dan
bersyukur karenanya, apakah itu lebih baik daripada saya sakit dan menanggungnya
dengan sabar?” Nabi saw menjawab, “Sesungguhnya Rasul mencintai kesehatan
sama seperti engkau juga menyenanginya.”
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi bahwa Rasulullah saw
bersabda: ‘Barangsiapa bangun di pagi hari dengan badan schat dan jiwa sehat
pula, dan rezekinya dijamin, maka dia seperti orang yang memiliki dunia
seluruhnya.”
Di antara ucapan-ucapan bijaksana Nabi Dawud as ada lah sebagai berikut,
“Kesehatan adalah kerajaan yang tersembunyi.” Juga. “Kesedihan sesaat membuat
orang Jcbih tua satu tahun.” Juga, “Kesehatan adalah mahkota di kepala orang-orang
yang schat, yang hanya bisa dilihac oleh orang-orang yang sakit.” Dan juga,
“Kesehatan adalah harta karun yang tak terlihat.”
Konsep Islam Dalam Menjaga Kesehatan
Anjuran Menjaga Kesehatan
Sudah menjadi semacam kesepakatan, bahwa menjaga agar tetap sehat dan tidak
terkena penyakit adalah lebih baik daripada mengobati, untuk itu sejak dini
diupayakan agar orang tetap sehat. Menjaga kesehatan sewaktu sehat adalah lebih
baik daripada meminum obat saat sakit. Dalam kaidah ushuliyyat dinyatakan:
Dari Ibn ‘Abbas, ia berkata, aku pernah datang menghadap Rasulullah
SAW, saya bertanya: Ya Rasulullah ajarkan kepadaku sesuatu doa yang akan akan
baca dalam doaku, Nabi menjawab: Mintalah kepada Allah ampunan dan kesehatan,
kemudian aku menghadap lagipada kesempatan yang lain saya bertanya: Ya
Rasulullah ajarkan kepadaku sesuatu doa yang akan akan baca dalam doaku. Nabi
menjawab: “Wahai Abbas, wahai paman Rasulullah saw mintalah kesehatan kepada
Allah, di dunia dan akhirat.” (HR Ahmad, al-Tumudzi, dan al-Bazzar)
Berbagai upaya yang mesti dilakukan agar orang tetap sehat menurut para
pakar kesehatan, antara lain, dengan mengonsumsi gizi yang yang cukup, olahraga
cukup, jiwa tenang, serta menjauhkan diri dari berbagai pengaruh yang dapat
menjadikannya terjangkit penyakit. Hal-hal tersebut semuanya ada dalam ajaran
Islam, bersumber dari hadits-hadits shahih maupun ayat al-Quran.
Nilai Sehat dalam Ajaran Islam
Menurut penelitian ‘Ali Mu’nis, dokter spesialis internal Fakultas
Kedokteran Universitas ‘Ain Syams Cairo, menunjukan bahwa ilmu kedokteran
modern menemukan kecocokan terhadap yang disyariatkan Nabi dalam praktek
pcngobatan yang berhubungan dengan spesialisasinya.
Sebagaiman disepakati oleh para ulama bahwa di balik pengsyariatan segala
sesuatu termasuk ibadah dalam Islam terdapat hikrnah dan manfaat phisik (badaniah)
dan psikis (kejiwaan). Pada saat orang-orang Islam menunaikan kewajiban-kewajiban
keagamannya, berbagai penyakit lahir dan batin terjaga.
Kesehatan Jasmani
Ajaran Islam sangat menekankan kesehatan jasmani. Agar tetap sehat, hal
yang perlu diperhatikan dan dijaga, menurut sementara ulama, disebutkan, ada
sepuluh hal, yaitu: dalam hal makan, minum, gerak, diam, tidur, terjaga, hubungan
seksual, keinginan-keinginan nafsu, keadaan kejiwaan, dan mengatur anggota badan.
Pertama; Mengatur Pola Makan dan Minum
Dalam ilmu kesehatan atau gizi disebutkan, makanan adalah unsur terpenting
untuk menjaga kesehatan. Kalangan ahli kedokteran Islam menyebutkan, makan yang
halalan dan thayyiban. Al-Quran berpesan agar manusia memperhatikan yang
dimakannya, seperti ditegaskan dalam ayat: “maka hendaklah manusia itu
memperhatikan makanannya”.(QS. ‘Abasa 80 : 24 )
Dalam 27 kali pembicaraan tentang perintah makan, al-Quran selalu menekankan dua
sifat, yang halal dan thayyib, di antaranya dalam (Q., s. al-Baqarat (2)1168; al-Maidat
(s):88; al-Anfal (8):&9; al-Nahl (16) : 1 14),
Kedua; Keseimbangan Beraktivitas dan Istirahat
Perhatian Islam terhadap masalah kesehatan dimulai sejak bayi, di mana
Islam menekankan bagi ibu agar menyusui anaknya, di samping merupakan fitrah
juga mengandung nilai kesehatan. Banyak ayat dalam al-Quran menganjurkan hal
tersebut.
Al-Quran melarang melakukan sesuatu yang dapat merusak badan. Para pakar di
bidang medis memberikan contoh seperti merokok. Alasannya, termasuk dalam
larangan membinasakan diri dan mubadzir dan akibatyang ditimbulkan, bau,
mengganggu orang lain dan lingkungan.
Islam juga memberikan hak badan, sesuai dengan fungsi dan daya tahannya,
sesuai anjuran Nabi: Bahwa badanmu mempunyai hak
Islam menekankan keteraturan mengatur ritme hidup dengan cara tidur
cukup, istirahat cukup, di samping hak-haknya kepada Tuhan melalui ibadah. Islam
memberi tuntunan agar mengatur waktu untuk istirahat bagi jasmani. Keteraturan
tidur dan berjaga diatur secara proporsional, masing-masing anggota tubuh memiliki
hak yang mesti dipenuhi.
Di sisi lain, Islam melarang membebani badan melebihi batas kemampuannya,
seperti melakukan begadang sepanjang malam, melaparkan perut berkepanjangan
sekalipun maksudnya untuk beribadah, seperti tampak pada tekad sekelompok
Sahabat Nabi yang ingin terus menerus shalat malam dengan tidak tidur, sebagian
hendak berpuasa terus menerus sepanjang tahun, dan yang lain tidak mau
‘menggauli’ istrinya, sebagaimana disebutkan dalam hadits:
“Nabi pernah berkata kepadaku: Hai hamba Allah, bukankah aku memberitakan
bahwa kamu puasa di sz’am? hari dan qiyamul laildimalam hari, maka aku katakan,
benarya Rasulullah, Nabi menjawab: Jangan lalukan itu, berpuasa dan berbukalah,
bangun malam dan tidurlah, sebab, pada badanmu ada hak dan pada
lambungmujuga ada hak” (HR Bukhari dan Muslim).
Ketiga; Olahraga sebagai Upaya Menjaga Kesehatan
Aktivitas terpenting untuk menjaga kesehatan dalam ilmu kesehatan adalah
melalui kegiatan berolahraga. Kata olahraga atau sport (bahasa Inggris) berasal dari
bahasa Latin Disportorea atau deportore, dalam bahasa Itali disebut ‘deporte’ yang
berarti penyenangan, pemeliharaan atau menghibur untuk bergembira. Olahraga atau
sport dirumuskan sebagai kesibukan manusia untuk menggembirakan diri sambil
memelihara jasmaniah.
Tujuan utama olahraga adalah untuk mempertinggi kesehatan yang positif, daya
tahan, tenaga otot, keseimbangan emosional, efisiensi dari fungsi-rungsi alat tubuh,
dan daya ekspresif serta daya kreatif. Dengan melakukan olahraga secara bertahap,
teratur, dan cukup akan meningkatkan dan memperbaiki kesegaran jasmani,
menguatkan dan menyehatkan tubuh. Dengan kesegaran jasmani seseorang akan
mampu beraktivitas dengan baik.
Dalam pandangan ulama fikih, olahraga (Bahasa Arab: al-Riyadhat) termasuk bidang
ijtihadiyat. Secara umum hokum melakukannya adalah mubah, bahkan bisa bernilai
ibadah, jika diniati ibadah atau agar mampu melakukannya melakukan ibadah dengan
sempurna dan pelaksanaannyatidakbertentangan dengan norma Islami.
Sumber ajaran Islam tidak mengatur secara rinci masalah yang berhubungan dengan
berolahraga, karena termasuk masalah ‘duniawi’ atau ijtihadiyat, maka bentuk,
teknik, dan peraturannya diserahkan sepenuhnya kepada manusia atau ahlinya. Islam
hanya memberikan prinsip dan landasan umum yang harus dipatuhi dalam kegiatan
berolahraga.
Nash al-Quran yang dijadikan sebagai pedoman perlunya berolahraga, dalam konteks
perintah jihad agar mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi kemungkinan
serangan musuh, yaitu ayat:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi
dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu)
kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang
kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu
najkahkanpadajalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu
tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS.Al-Anfal :6o):
Nabi menafsirkan kata kekuatan (al-Quwwah) yang dimaksud dalam ayat ini adalah
memanah. Nabi pernah menyampaikannya dari atas mimbar disebutkan 3 kali,
sebagaimana dinyatakan dalam satu hadits:
Nabi berkata: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang
kamu sang gupi” Ingatlah kekuatan itu adalah memanah, Ingatlah kekuatan itu
adalah memanah, Ingatlah kekuatan itu adalah memanah, (HR Muslim, al-
Turmudzi, Abu Dawud, Ibn Majah, Ahmad, dan al-Darimi)
Keempat; Anjuran Menjaga Kebersihan
Ajaran Islam sangat memperhatikan masalah kebersihan yang merupakan
salah satu aspek penting dalam ilmu kedokteran. Dalam terminologi Islam, masalah
yang berhubungan dengan kebersihan disebut dengan al-Thaharat. Dari sisi pandang
kebersihan dan kesehatan, al-thaharat merupakan salah satu bentuk upaya preventif,
berguna untuk menghindari penyebaran berbagai jenis kuman dan bakteri.
Imam al-Suyuthi, ‘Abd al-Hamid al-Qudhat, dan ulama yang lain menyatakan, dalam
Islam menjaga kesucian dan kebersihan termasuk bagian ibadah sebagai bentuk
qurbat, bagian dari ta’abbudi, merupakan kewajiban, sebagai kunci ibadah, Nabi
bersabda: “Dari ‘Ali ra., dari Nabi saw, beliau berkata: “Kunci shalat adalah
bersuci”(HR Ibnu Majah, al-Turmudzi, Ahmad, dan al-Darimi)
Berbagai ritual Islam mengharuskan seseorang melakukan thaharat dari najis,
mutanajjis, dan hadats. Demikian pentingnya kedudukan menjaga kesucian dalam
Islam, sehingga dalam buku-buku fikih dan sebagian besar buku hadits selalu dimulai
dengan mengupas masalah thaharat, dan dapat dinyatakan bahwa ‘fikih pertama yang
dipelajari umat Islam adalah masalah kesucian’.
‘Abd al-Mun’im Qandil dalam bukunya al-Tadaivi bi al-Quran seperti halnya
kebanyakan ulama membagi thaharat menjadi dua, yaitu lahiriah dan rohani.
Kesucian lahiriah meliputi kebersihan badan, pakaian, tempat tinggal, jalan dan
segala sesuatu yang dipergunakan manusia dalam urusan kehidupan. Sedangkan
kesucian rohani meliputi kebersihan hati, jiwa, akidah, akhlak, dan pikiran.
Terakhir, semoga pemaparan di atas semakin menambah pengetahuan kita tentang
korelasi antara Islam dan kesehatan dan menguatkan azam kita untuk menekuni
pengobatan yang telah diajarkan oleh Nabi agung kita Muhammad saw
Dalam kehidupan makhluk bernyawa kebersihan merupakan salah pokok
dalam memelihara kelangsungan eksistensinya, sehingga tidak ada satupun
makhluk kecuali berusaha untuk membersihkan dirinya, walaupun makhluk tersebut
dinilai kotor. Pembersihan diri tersebut, secara fisik misalnya, ada yang
menggunakan air, tanah, air dan tanah. Bagi manusia membersihkan diri tersebut
dengan tanah dan air tidak cukup, tetapi ditambah dengan menggunakan dedaunan
pewangi, malahan pada zaman modern sekarang menggunakan sabun mandi, bahkan
untuk pembersih wajah ada sabun khusus dan lain sebagainya. Pada manusia konsep
kebersihan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga psikhis, sehingga dikenal istilah
kebersihan jiwa, kebersihan hati, kebersihan spiritual dan lain sebagaianya.
Agama dan ajaran Islam menaruh perhatian amat tinggi pada kebersihan,
baik lahiriah fisik maupun batiniyah psikis. Kebersihan lahiriyah itu tidak
dapat dipisahkan dengan kebersihan batiniyah. Oleh karena itu, ketika seorang
Muslim melaksanakan ibadah tertentu harus membersihkan terlebih dahulu aspek
lahiriyahnya. Ajaran Islam yang memiliki aspek akidah, ibadah, muamalah, dan
akhlak ada kaitan dengan seluruh kebersihan ini. Hal ini terdapat dalam tata cara
ibadah secara keseluruhan. Orang yang mau shalat misalnya, diwajibkan bersih fisik
dan psikhisnya. Secara fisik badan, pakaian, dan tempat salat harus bersih, bahkan
suci. Secara psikhis atau akidah harus suci juga dari perbuatan syirik. Manusia harus
suci dari fahsya dan munkarat.
Dalam membangun konsep kebersihan, Islam menetapkan berbagai macam
peristilahan tentang kebersihan. Umpamanya, tazkiyah, thaharah,
nazhafah, dan fitrah, seperti dalam hadis yang memerintahkan khitan, sementara
dalam membangun perilaku bersih ada istilah ikhlas, thib al-nafs, ketulusan
kalbu, bersih dari dosa, tobat, dan lain-lain sehingga makna bersih amat holistik
karena menyangkut berbagai persoalan kehidupan, baik dunia dan akhirat.
Oleh karena itu, persoalannya ialah bagimana kebersihan dalam Islam dan apa
konsep Islam mengkonsepsi kebersihan. Persoalan ini diajukan karena ketika Islam
memiliki ajaran kebersihan yang amat lengkap, ternyata dalam aspek perilaku
masyarakat Muslim belum sebagaimana yang dikehendaki ajaran Islam itu sendiri.
Maka tidak heran bila orang sering bicara tentang kebersihan di negara-negara maju
yang kebetulan non-Muslim amat mengagumkan. Diharapkan dengan tulisan ini
dapat memberikan pencerahan terhadap masyarakat yang selama ini terkesan kurang
memperhatikan aspek kebersihan dan belum sadar kebersihan yang menjadi bagian
ajaran keimanan ini.
Aspek Kebersihan
Sumber ajaran Islam adalah al-Quran dan al-Sunnah. Dalam sumber ajaran
tersebut, diterangkan bukan hanya aspek peristilahan yang digunakan tetapi juga
ditemukan bagaimana sesungguhnya ajaran Islam menyoroti kebersihan.Untuk itu,
maka perlu kajian tematik, sehingga ditemukan prinsip-prisnsipnya dan bagaimana
sesungguhnya konsep kebersihan tersebut.
Memang, sebagai ajaran yang lengkap yang memiliki unsur-unsur akidah,
syariah dan muamalah sudah semestinya konsep tersebut ada, lebih-lebih bila dilihat
dari aspek maqashid al-Syariah yang termasuk aspek tahsini dan berkaitan dengan
akhlak karimah.
B. URGENSI DAN FUNGSI
"Bangunlah, lalu berilah peringatan! Agungkanlah Tuhanmu. Bersihkanlah
pakaianmu. ” (QS.AlMudatsir(76(4).

Ayat di atas turun pada awal masa kenabian, memerintahkan Rasulullah agar segera
menyampaikan peringatan-Nya kepada kaumnya. Rasulullah diperintahkan agar
membersihkan pakaian (diri) terlebih dahulu. Artinya, kebersihan adalah hal yang
sangat utama dan penting, baik itu kebersihan hati, diri maupun lingkungan.
Kita juga tentu tahu, bagaimana Allah swt memerintahkan umat Islam untuk
membersihkan dan mensucikan diri terlebih dahulu sebelum menemui-Nya, yaitu
berwudhu sebelum shalat. Meski suci disini tidak sama dengan suci dan bersih
berdasarkan pendapat umum. Karena sesuatu yang bersih belum tentu suci menurut
Islam.
Contoh paling jelas adalah tayamum, yang merupakan pengganti wudhu. Tayamum
dilakukan ketika air sulit ditemukan. Tayamum dilakukan dengan menepukkan debu
ke tangan dan wajah. Sungguh aneh bukan, bagaimana mungkin debu dapat
menggantikan air? Dapatkah debu membersihkan kotoran ??
“ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat,
makabasuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu
dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka
mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang
air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka
bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu
dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia
hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya
kamu bersyukur”. (QS Al-Maidah (5): 6).
Ternyata jawabannya dapat ! Belakangan ini Ilmu Pengetahuan dan Sains
membuktikan bahwa debu mampu mengangkat kotoran yaitu kotoran ‘elektron’ yang
menempel pada tubuh kita. Untuk diketahui, kotoran jenis ini berpotensi
mengganggu keseimbangan tubuh. Inilah yang dimaksudkan-Nya demi
‘menyempurnakan’ nikmat-Nya. Subhanalllah !
Temuan tersebut juga berhasil memberikan jawaban mengapa perintah wudhu (
dengan air) itu cukup hanya dengan membasuhnya, bukan menyiram apalagi sampai
menggunakan sabun. Dari temuan ini dapat disimpulkan bahwa suci yang selama ini
biasa diartikan sebagai bersih dari hadats/kotoran ternyata juga bersih dari
kotoran’elektron’.
Begitu pula dengan pepatah “Kebersihan Sebagian Dari Iman” yang sering dianggap
sebagai hadits. Karena yang tepat Rasulullah bersabda “ Bersuci Adalah Sebagian
Dari Iman”.
“Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah baik dan mencintai
kebaikan, bersih danmencintai kebersihan, mulia dan mencintai kemuliaan,
dermawan dan mencintai kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman rumahmu dan
janganlah kamu menyerupai orang Yahudi.” (HR. Tirmidzi)

Hadits diatas jelas mencerminkan betapa Allah swt mencintai kebersihan.


Fungsi Thaharah
Dalam kehidupan sehari-hari, thaharah memiliki fungsi yaitu :
1. Membiasakan hidup bersih dan sehat
2. Membiasakan hidup yang selektif
3. Sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan Allah SWT melalui sholat
4. Sebagai sarana untuk menuju surga
5. Menjadikan kita dicintai oleh Allah SWT
Kesehatan dalam Islam adalah hal yang sangat penting dan mendapat
perhatian. Banyak hadits nabi yang menjelaskan tentang pentingnya menjaga
kesehatan dan tata cara menjaga kesehatan. Pentingnya kesehatan dapat terlihat dari
hadits berikut:
”Dua nikmat yang seringkali manusia tertipu oleh keduanya, yaitu kesehatan
dan waktu luang.”
(HR Bukhari, Imam Ahmad dan Imam Turmudzi).

Pentingya kesehatan dalam Islam juga dapat kita lihat dari hadits yang menerangkan
bahwa nikmat sehat adalah salah satu perkara yang akan dimintai
pertanggungjawabannya di hadapan pengadilan Allah swt, seperti dalam hadits Nabi:
“Nikmat yang pertama ditanyakan kepada setiap hamba pada hari Kiamat dengan
pertanyaan “Tidakkah telah Kami sehatkan badanmu dan telah Kami segarkan kamu
dengan air yang sejuk” (HR Imam Tirmizi).

Selain itu Rosulullah juga menasehati kita agar memohon kesehatan, Rosulullah saw
bersabda: “Mohonlah kepada Allah keselamatan dan afiat (kesehatan). Sesungguhnya
tiada sesuatu pemberian Allah sesudah keyakinan (iman) lebih baik daripada
kesehatan”. (HR. Ibnu Majah)

Rosulullah juga mengajarkan kepada kita doa-doa agar Allah swt mengarunia kita
kesehatan dan doa-doa agar Allah saw memberi kita kesembuhan saat kita jatuh sakit.
Seperti "Allahumma Rabbannaasi, adzhibil Ba'tsa Isyfii anta Syaafii Laa syifaa'a illa
syifauka Syifaa'an laa yughodiru tsakoma"
Pentingnya kesehatan juga tampak dari bagaimana Islam sebagai agama samawi
mengakui otoritas ilmu pengobatan dan kedokteran, maka selain menganjurkan
pengobatan dengan menggunakan pendekatan doa, Islam juga menganjurkan
pemeluknya untuk melakukan upaya ikhtiar kepada para ahli terutama kepada thobib
(dokter) dalam pengobatan dan kesehatan pasien

Suatu ketika ada seseorang bertanya kepada Rasulullah saw tentang


pengobatan, katanya: “Wahai Rasulullah, apakah obat-obatan, usaha menjaga
kesehatan, tindakan preventif dari penyakit, merupakan penolakan terhadap takdir
Allah ? Rasulullah saw menjawab: “ Semua itu adalah takdir Allah juga (HR ahmad,
Ibnu Majah dan al-Hakim).
Rasulullah saw pernah memanggil tabib (dokter) untuk mengobati Ubay bin Kaab.
Rasulullah saw sendiri mendatangi seorang tabib saat sakit dan mengatakan:
“Siapa di antara kalian yang paling pandai dalam ilmu pengobatan? Salah seorang
mereka berkata: Apakah ilmu pengobatan (kedokteran) ada manfaatnya wahai
Rasulullah ? Rasulullah saw menjawab: Dzat yang menurunkan penyakit telah pula
menurunkan obatnya” (HR. Imam Malik dalam kitab al-muwatha’).
“Setiap penyakit itu ada obatnya, apabila penyakit itu telah bertemu obat yang tepat,
ia akan sembuh dengan izin Allah swt” (HR Imam Muslim dan Ahmad).
Melihat banyaknya riwayat yang menjelaskan betapa pentingnya kesehatan maka
sudah barang tentu kita sebagai umat islam seharusnya menjadi umat yang memiliki
indeks kualitas hidup sehat yang paling tinggi dibanding umat yang lain.
Kenyataannya saat ini tidaklah demikian, justru umat islam adalah umat yang rendah
kualitas hidup sehatnya. Padahal Nabi sendiri memiliki warisan ilmu pengobatan
yang oleh banyak ulama sudah begitu banyak dibukukan.
Imam Syafii pernah berkata:

”Setelah Ilmu tentang membedakan sesuatu yang halal dan yang haram saya tidak
mengetahui ilmu yang lebih mulia, ketimbang ilmu pengobatan. Namun sayangnya
mereka telah mengabaikannya dan membiarkan pengetahuan ini jatuh ke tangan
kaum Yahudi dan Nasrani”.
Manfaat Hidup Sehat versi DuniaInformasiKesehatan.com
1. Dapat tidur dengan nyenyak
Manfaat hidup sehat yang pertama adalah kualitas yang baik dan dapat dengan
nyeyak bila ingin istirahat. Jika hidup anda sehat, maka tidak akan yang mengganggu
tidur anda.
2. Dapat bekerja lebih maksimal serta meningkatkan kinerja
Jika tubuh anda sehat, anda akan jarang absen untuk masuk kantor dan juga kualitas
pekerjaan anda akan lebih baik dibanding anda sakit-sakitan.
3. Dapat belajar dengan baik
Tubuh yang sehat membuat konsentrasi anda menjadi lebih baik dan anda akan lebih
mudah untuk mempelajari sesuatu dengan baik.
4. Tidak banyak pikiran
Jika anda menjalani hidup sehat yang baik dan benar secara otomatis anda akan
terhindar dari berbagai macam penyakit, dan membuat anda tidak banyak pikiran
akan penyakit yang anda alami.

5. Merasa damai, nyaman dan tentram


Hidup sehat membuat perasaan kita lebih damai dan tentram, karena kita dipusingkan
untuk meminum obat atau mengeluarkan banyak biaya untuk keluar masuk rumah
sakit jika anda sakit
6. Memiliki penampilan yang lebih bugar
Penampilan anda akan terpengaruh disini karena bila seseorang itu sehat, dan tidak
berpenyakit biasanya penampilan lebih bugar dan sehat tidak terlihat lesu, lunglai,
lemah.
7. Mendapatkan kehidupan dan interaksi sosial yang baik
Jika hidup anda sehat, anda akan lebih berinteraksi dengan teman ataupun dengan
tetangga anda. Dibanding anda sakit-sakitan, dan selalu diurus oleh lain sehingga
tidak sempat membandung interaksi sosial dengan orang lain.
8. Lebih percaya diri
Dengan hidup yang sehat secara otomatis anda akan kelihatan lebih percaya diri
sehingga memudahkan anda untuk menghadapi berbagai keadaan yang akan terjadi.
9. Menghemat pengeluaran untuk kesehatan
Jika anda melakukan gaya hidup sehat, sehingga otomatis juga biaya pengeluaran
untuk kesehatan juga akan berkurang, karena anda tidak memerlukan itu, karena anda
sehat.
10. Terhindar dari penyakit
Hidup sehat juga membuat anda terhindar dari berbagai macam pernyakit. Orang
yang melakukan gaya hidup sehat yang baik dan benar akan jarang terkena penyakit,
karena daya tahan tubuhnya tinggi.
C. CAKUPAN DAN RUANG LINGKUP
Ruang Lingkup Kesehatan dan kebersihan dalam Fiqih Islam
Ada 2 (dua) istilah yang digunakan Islam untuk menunjuk kepada kesehatan, yaitu
istilah shihhah dan’āfiah. Bahkan dalam banyak hadits ditemukan banyak do’a yang
mengandung permohonan ’āfiah di samping shihhah. Apa perbedaan makna kedua
kata ini? Secara gramatikal kata shihhah lebih bersifat fisik-biologis, sementara
makna ’āfiah merupakan kesehatan yang bersifat mental-psikologis. Tangan yang
sehat adalah mata yang dapat memandang atau melihat benda-benda empiris.
Sedangkan mata yang’āfiah adalah mata yang hanya melihat hal-hal yang mubah dan
bermanfaat. Orang yang sehat adalah orang yang memiliki kondisi tubuh yang segar,
normal, dan seluruh anggota badannya dapat bekerja dengan baik. Sedangkan orang
yang ’ āfiah adalah orang yang memiliki ketenangan batin atau jiwa. Maknanya lebih
berorientasi psikologis. Kesimpulan ini diperkuat oleh redaksi Al-Qur’an sendiri
yang menyebut perintah makan sebanyak 27 kali dalam berbagai bentuk dan
konteksnya dengan senantiasa menekankan salah satu dari dua sifat halal
dan thayyib (baik dan bergizi). Bahkan terdapat 4 ayat yang menggabungkan
keduanya.
Dengan demikian, maka kesehatan yang dimaksud Islam adalah kesehatan fisik-
biologis sekaligus kesehatan mental-psikologis. Dalam perspekif Ilmu kesehatan,
dikenal juga ada beberapa bentuk kesehatan. Di antaranya kesehatan fisiologis,
psikologis, dan sosial/ masyarakat. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI)
merumuskan kesehatan sebagai ketahanan jasmaniah, ruhaniah, dan sosial yang
dimiliki manusia sebagai karunia Allah SWT yang wajib disyukuri dengan cara
mengamalkan, memelihara, dan mengembangkannya. Ada banyak dalil yang
mengilustrasikan sekaligus menegaskan tentang kebutuhan manusia kepada ketiga
bentuk kesehatan di atas. Berkaitan dengan kesehatan fisik Allah SWT berfirman:
َ َ ‫َّللاَ يحِ بُّ الت َّ َّوا ِبينَ َويحِ بُّ ْالمت‬
َ‫ط ِ ّه ِرين‬ َّ ‫… ِإ َّن‬
”…Allah senang kepada orang yang bertaubat dan suka membersihkan diri.” (QS
al-Baqarah, 2: 222)
Kata taubat dalam ayat di atas dapat melahirkan kesehatan mental.
Sedangkan kata kebersihan mendatangkan kesehatan fisik.
Dalam beberapa hadits juga kita temui penjelasan Rasulullah s.a.w. tentang kesehatan
fisik, antara lain adalah sebagai berikut:
َ ‫َّللا أَلَ ْم أ ْخبَ ْر أَنَّكَ ت َصوم النَّ َه‬
‫ار‬ َ ‫سلَّ َم يَا‬
ِ َّ َ‫ع ْبد‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللا‬ َ ‫َّللا‬ ِ َّ ‫اص قَا َل قَا َل َرسول‬ ِ َ‫ع ْم ِرو ب ِْن ْالع‬
َ ‫َّللا ب ِْن‬ َ ‫ََ ْن‬
ِ َّ ‫ع ْب ِد‬
‫علَيْكَ َحقًّا‬
َ َ‫علَيْكَ َحقًّا َوإِ َّن ِلعَ ْينِك‬
َ َ‫سدِك‬ ِ َّ ‫َوت َقوم اللَّ ْي َل ق ْلت بَلَى يَا َرسو َل‬
َ ‫َّللا قَا َل فَ َال ت َ ْفعَ ْل ص ْم َوأ َ ْفطِ ْر َوق ْم َونَ ْم فَإِ َّن ِل َج‬
‫علَيْكَ َحقًّا‬
َ َ‫َو ِإ َّن لِزَ ْو ِجك‬
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash dia berkata bahwa Rasulullah saw telah
bertanya (kepadaku): “Benarkah kamu selalu berpuasa di siang hari dan dan selalu
berjaga di malam hari?” Aku pun menjawab: “ya (benar) ya Rasulullah.”Rasulullah
saw pun lalu bersabda: “Jangan kau lakukan semua itu. Berpuasalah dan
berbukalah kamu, berjagalah dan tidurlah kamu, sesungguhnya badanmu
mempunyai hak atas dirimu, matamu mempunyai hak atas dirimu, dan isterimu pun
mempunyai hak atas dirimu.” (Hadis Riwayat al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Amr
bin al-‘Ash).
Rasulullah s.a.w. juga pernah memberi nasihat:
.‫ َوإِذَا َوقَ َع بِأ َ ْرض َوأ َ ْنت ْم بِ َها فَالَ ت َْخرجوا مِ ْن َها‬، ‫ون بِأ َ ْرض فَالَ تَدْخلوهَا‬ َّ ِ‫سمِ ْعت ْم ب‬
ِ ‫الطاع‬ َ ‫إِذَا‬
”Apabila kalian mendengar adanya wabah penyakit di suatu daerah, janganlah
mengunjungi daerah itu, akan tetapi apabila kalian berada di daerah tersebut,
janganlah meninggalkannya.” (HR al-Bukhari dari Usamah bin Yazid)
Berkaitan dengan kesehatan mental-psikologis Allah SWT menjelaskan:
َ ‫َّللاَ ِبقَ ْلب‬
)٨٩( ‫سلِيم‬ َّ ‫) ِإالَّ َم ْن أَت َى‬٨٨( َ‫يَ ْو َم ال يَنفَع َمال َوال بَنون‬
”Pada hari harta dan anak-anak tidak berguna, (tetapi yang berguna tiada lain)
kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang sehat.” (QS asy-Syu’arâ’, 26:
88-89)
Dalam sebuah hadits Rasulullah s.a.w. mengisyaratkan dengan jelas masalah
pentingnya memperhatikan kesehatan mental, termasuk tindakan orang tua yang
dapat memengarui kepribadian dan perkembangan mental anaknya.
Islam memerintahkan kepada orang-tua agar menciptakan suasana tenang dan
memberikan kepada anak perlakuan yang baik dan lemah lembut. Karena perlakuan
dan sikap orang tua sangat mempengaruhi kesehatan mental si anak, bahkan sejak
bayi berada dalam kandungan. Perspektif Islam tentang kesehatan psikologis meliputi
banyak hal yang mungkin tidak tercakup dalam ranah ilmu kesehatan modern. Ia
dapat berupa sikap angkuh, sombong, iri/dengki, dendam, loba, depresi, stress berat,
cemas berlebihan, goncangan jiwa lainnya.
Paparan di atas memberikan pesan bahwa kesehatan baik fisik maupun
psikologis merupakan kebutuhan dasar manusia, karena Islam memerintahkan untuk
memelihara, dan meningkatkan kualitasnya. Karena kebersihan dan makanan/
minuman merupakan faktor yang mempengaruhi kesehatan manusia, maka Islam
memerintahkan ummatnya untuk memperhatikan kebersihan dan mengkonsumsi
makanan yang halal dan bergizi. Makanan halal melahirkan kesehatan ruhani
pemakannya, sementara makanan bergizi membangun kesehatan jasmani mereka.
Di dalam kitab Fiqh, masalah yang berkaitan dengan kebersihan disebut “Thaharah
”. ath-Thaharah secara etimologi berarti “ kebersihan ”. kebersihan menurut syara’
mencakup kebersihan badan, pakaian dan tempat. Kata ath-Thaharah disebutkan
dalam al-Qur’an sebanyak lebih dari tiga puluh kali, diantaranya tercantum di dalam
Qs. al-Maidah ayat 6 yang berbunyi :
Artinya : “ Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi dia hendak membersihkan
kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”
Makna ‘Thaharah” mencakup aspek bersih lahir dan batin. Bersih lahir artinya
terhindar dari segala kotoran, hadas dan najis. Sedangkan bersih batin artinya
Dalam agama Islam, ajaran tentang kebersihan menyangkut berbagai hal, antara lain :
1. Kebersihan rohani
Ajaran kebersihan mendasar adalah menyangkut kebersihan rohani
2. Kebersihan badan
Kebersihan badan dan jasmani merupakan hal yang tidak terpisahkan dengan
kebersihan rohani, karena setiap ibadah harus dilakukan dalam keadaan bersih badan.
3. Kebersihan tempat
Ajaran kebersihan juga menyangkut kebersihan tempat melaksanakan ibadah atau
sarana peribadatan. Mesjid sebagai tempat suci, dimana kaum Muslimin melakukan
ibadah harus dipelihara kesucian dan kebersihannya karena ibadah shalat tidak sah
jika dikerjakan ditempat yang tidak bersih atau kotor.
4. Kebersihan pakaian
Kebersihan pakaian sangat penting, karena pakaian melekat pada badan yang
berfungsi menutup aurat, melindungi badan dari kotoran dan penyakit serta
memperindah badan, maka ajaran Islam menyatukan antara kebersihan badan dan
kebersihan pakaian.
5. Kebersihan makanan
Ajaran Islam tentang kebersihan makanan menyangkut aspek kebersihan dari segi
kesehatan dan kebersihan dalam arti makanan yang halal.
Makanan yang halal adalah makanan yang dibolehkan oleh agama, sedangkan
makanan yang baik adalah makanan yang memenuhi syarat-syarat kesehatan,
termasuk makanan bersih, bergizi dan berprotein.
6. Kebersihan lingungan
Ajaran Islam memandang penting kebersihan lingkungan hidup, menghindarkan
pencemaran dari limbah atau sampah.
7. Kebersihan dalam rumah tangga
Ajaran Islam tentang kebersihan juga menyangkut kebersihan rumah tangga, baik
mengenai tempat tinggal maupun hubungan antara anggota keluarga khususnya
suami istri.
8. Kebersihan harta
Ajaran Islam tentang kebersihan juga meliputi tentang kebersihan harta, karena
dalam harta itu terdapat hak Allah Swt. dan orang lain. Cara membersihkan harta
adalah dengan membayar zakat harta, zakat fitrah, infaq dan sedekah. Seperti firman
Allah Swt. dalm Qs. at-Taubah ayat 103 yang berbunyi :
Artinya: “ Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan[658] dan mensucikan[659] mereka dan mendoalah untuk mereka.”
Agama Islam menghendaki dari umatnya kebersihan yang menyeluruh. Dengan
kebersihan yang menyeluruh itu diharapkan akan terwujud kehidupan manusia,
individu dan masyarakat yang selamat, sehat, bahagia dan sejahtera lahir dan batin.
Untuk mencapai tujuan di atas, Agama Islam memberikan tuntunan dan petunjuk
tatacara bersuci dan menjaga kebersihan
D. TEKNIK DAN METODE
Apabila Anda tinggal di lingkungan yang bersih dan sehat, maka di pastikan
Anda akan hidup sehat dan nyaman, dan apabila sebaliknya, maka Anda akan
merasakan dampak yang buruk. Anda juga bisa mencari banyak tips gratis bagaimana
cara menjaga lingkungan dengan cara yang sederhana dan menciptakan suasana yang
tentram, damai, dan bebas penyakit. Beberapa tips yang bisa anda ikuti , yaitu:
1. Dimulai dari diri sendiri dengan cara memberi contoh kepada masyarakat
bagaimana menjaga kebersihan lingkungan.
2. Selalu Libatkan tokoh masyarakat yang berpengaruh untuk memberikan
pengarahan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan
lingkungan.
3. Sertkan para pemuda untuk ikut aktif menjaga kebersihan lingkungan.
4. Perbanyak tempat sampah di sekitar lingkungan anda;
5. Pekerjakan petugas kebersihan lingkungan dengan memberi imbalan yang
sesuai setiap bulannya.
6. Sosialisakan kepada masyarakat untuk terbiasa memilah sampah rumah tangga
menjadi sampah organik dan non organik.
7. Pelajari teknologi pembuatan kompos dari sampah organik agar dapat
dimanfaatkan kembali untuk pupuk;
8. Kreatif, Dengan membuat souvenir atau kerajinan tangan dengan
memanfaatkan sampah.
9. Atur jadwal untuk kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan.
Cara menjaga kesehatan menurut islam.
Bangunlah Sebelum Subuh
Bangun sebelum subuh dengan maksud melakukan solat sunah berjamaah dan
melakukan solat subuh. Gerakan solat sama bermanfaatnya dengan gerakan olah
raga, solat pada saat subuh sama bermanfaatnya dengan olah raga kecil di pagi hari.
Udara subuh juga terbukti lebih seger dan fresh. Dengan melakukan hal-hal di atas
juga akan memberikan Anda berkah berupa pahala, dan kenikmatan sehat.
Jagalah Kebersihan
Setiap hari Kamis dan jumat nabi Muhammad Saw selalu rutin memotong kuku,
mencuci rambut-rambut halus yang berada di pipi, bersikat, serta memakai parfum.
Setiap hari nabi Muhammad Saw juga selalu menggunakan harum-haruman dan
tampil bersih dan rapi. Seperti yang sudah disebutkan di paragraf pembuka
bahwasanya bagi umat islam kebersihan merupakan sebagian dari iman.
Tidak Makan dengan Berlebihan Hal ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita
kaum muslimin dan muslimat. Dalam makan, islam menganjurkan untuk makan
sebelum kita lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Karena menurut
kepercayaan islam bahwa perut kita dibagi menjadi tiga bagian, pertama bagian perut
untuk makanan, kedua bagian perut untuk udara, ketiga bagian perut untuk air.
Dengan menyeimbangkan tiga unsur itu di dalam perut maka kita akan menemukan
kesehatan.
Biasakan Jalan Kaki
Berjalan kaki bukan hanya anjuran menjaga kesehatan dalam islam, banyak para ahli
kesehatan yang juga menganjurkannya. Nabi Muhammad SAW terkenal suka
berjalan kaki, baik ke masjid, rumah sahabat, maupun pergi berjihad. Dengan
berjalan kaki akan membuat keringat kita keluar, kemudian pori-pori kita akan
terbuka, aliran darah juga lebih lancar, dan pastinya akan membuat tubuh kita lebih
sehat.
Tidak Gampang Marah
Nabi Muhammad SAW pernah membarikan nasihat “jangan marah” kata tersebut
diulangi selama tiga kali. Hal ini menunjukan bahwa pentingnya untuk menjaga
emosi dalam islam, dan menunjukan bahwa kekuatan dan kesehatan seorang muslim
tidak hanya ditentukan oleh tubuhnya tapi juga emosi, dan jiwanya.

Ada cara yang tepat untuk mengatasi rasa marah, yaitu dengan mengubah posisi
tubuh kita ketika sedang marah. Ketika Anda sedang marah pada posisi berdiri
cobalah untuk duduk, kemudian jika Anda marah dalam posisi duduk cobalan untuk
berbaring. Marah itu berasal dari setan dan setan terbuat dari api jadi Anda bisa
mengambil wudhu kemudian solat sunah atau wajib untuk menenangkan diri.
Sebenarnya masih banyak cara-cara menjaga kesehatan dalam islam, karena islam
sendiri merupakan agama yang sempurna yang sangat menganjurkan kesehatan dan
kebersihan dalam beribadah.
E. DOA, IKHTIAR, DAN TAWAKAL
Do’a Meminta Kesehatan dan Kelapangan Rizki
‫ارز ْقنِي‬ ْ ‫ َو‬، ‫اللَّه َّم ا ْغف ِْر لِي‬
َ ‫ َو‬، ‫ َوا ْهدِني‬، ‫ار َح ْمنِي‬
ْ ‫ َو‬، ‫عافِني‬
“Allahummaghfirlii, warhamnii, wahdinii, wa ‘aafinii, warzuqnii.” Artinya: Ya
Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah petunjuk padaku, selamatkanlah aku
(dari berbagai penyakit), dan berikanlah rezeki kepadaku.
Dari Thoriq bin Asy-yam –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata,
‫ (( اللَّه َّم‬: ‫ت‬
ِ ‫أن يَدْع َو بِهؤالَءِ ال َك ِل َما‬
ْ ‫صالَة َ ث َّم أ َم َره‬َّ ‫ي – صلى هللا عليه وسلم – ال‬ ُّ ‫علَّ َمه النَّب‬
َ ‫الرجل إِذَا أ ْسلَ َم‬
َّ َ‫ َكان‬.F
. )) ‫ارز ْقنِي‬
ْ ‫ َو‬، ‫عافِني‬ ْ ‫ َو‬، ‫ا ْغف ِْر لِي‬
َ ‫ َو‬، ‫ َوا ْهدِني‬، ‫ار َح ْمنِي‬
“Jika seseorang baru masuk Islam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan
pada beliau shalat, lalu beliau memerintahkannya untuk membaca do’a berikut:
“Allahummaghfirlii, warhamnii, wahdinii, wa ‘aafinii, warzuqnii.” (HR. Muslim no.
35 dan 2697)
Dalam riwayat lain, dari Thoriq, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam –dan ketika itu beliau didatangi seorang laki-laki-, lalu laki-laki
tersebut berkata,
َّ ، ‫وارز ْقنِي‬
‫فإن‬ ْ ، ‫عافِني‬ ْ ‫ َو‬، ‫ اللَّه َّم ا ْغف ِْر لِي‬: ‫ (( ق ْل‬: ‫ْف أقول حِ يْنَ أسْأَل َر ِبّي ؟ قَا َل‬
َ ‫ َو‬، ‫ار َح ْمنِي‬ َ ‫ َكي‬، ‫هللا‬
ِ ‫ يَا رسول‬.G
. )) َ‫هؤالَءِ تَجْ َمع لَكَ د ْنيَاكَ َوآخِ َرتَك‬
“Wahai Rasulullah, apa yang harus aku katakan ketika aku ingin memohon pada
Rabbku?” Beliau bersabda, “Katakanlah: Allahummaghfir lii, warhamnii, wa ‘aafinii,
warzuqnii”, karena do’a ini telah mencakup dunia dan akhiratmu. (HR. Muslim no.
36 dan 2697)
Kita mengetahui bahwa kebersihan merupakan salah satu unsur penting
prilaku beradab, dan Islam menganggap kebersihan bukan hanya sebagai ibadah, tapi
juga adalah suatu sistem peradaban. Baik dalam al-Qur’an maupaun dalam hadits
pernah menyinggungnya antara lain
Pertama, .Allah menyukai kebersihan, ”Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang mensucikan diri” (QS Al-Baqarah ayat 222). Oleh karena itulah
kebersihan dianggap sebagai salah satu bukti keimanan, sementara sebuah hadits
shahih berbunyi “Al-thuhur syathr al-iman (kebersihan itu adalah sebagain dari
iman” (HR.Muslim, Ahmad dan Tirmidz). Kebersihan yang dimaksud adalah
maknawi yaitu kebersihan dari syirik, munafik dan akhlak yang tidak baik, juga
kebersihan bermakna indrawi yaitu kebersihan perorangan dan kebersihan umum.
Kedua, Kebersihan adalah cara menuju kesehatan dan kekuatan, Kesehatan
jasmani adalah bekal individu dan kekayaan yang tak terhingga bagi setiap muslim,
kebersihan menjadi syarat keindahan dan penampilan yang baik dan yang dicintai
oleh Allah swt dan Rasul-Nya. Allah swt telah berfirman, ”Hai anak Adam Pakailah
pakaianmu yang indah di setiap memasuki Masjid.” (QS.Al-Araf ayat 31).
Karena itu Rasulullah melarang seseorang pergi ke masjid dengan memakai baju
yang kumuh, sebab selain kebersihan dan penampilan yang lebih baik adalah salah
satu penyebab eratnya hubungan seseorang dengan orang lain. Manusia secara fitra
tidak menyukai barang yang kotor dan tidak suka melihat orang yang tidak bersih.
Inilah sebabnya Rasulullah mendorong setiap umat muslim untuk mandi sebelum ke
masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at.
Rasulullah saw telah memberikan perhatian terhadap masalah kebersihan badan,
beliau menganjurkan cara hidup bersih dengan mandi. Rasulullah juga memberi
perhatian khusus terhadap kebersihan mulut dan gigi dengan bersiwak serta perintah
untuk membersihkan rambut serta bau badan.
Demikian juga perhatian Rasulullah saw terhadap kebersihan rumah, halaman dan
teras rumah, ”Sesungguhnya Allah swt itu indah, Dia menyukai keindahan, Allah itu
baik, Dia menyukai kebaikkan, Allah itu bersih, Dia menyukai kebersihan. Karena
itu bersihkanlah teras rumah kalian janganlah kalian seperti orang-orang
Yahudi.”(HR. Tirmidz).
Begitu juga perhatian Rasulullah pada lingkungan sekitarnya, kebersihan jalan,
misalnya, beliau memberikan ancaman kepada siapa saja yang membuang sesuatu
yang membahayakan dan membuang kotoran di tempat tersebut. “Barang siapa yang
mengganggu orang-orang Islam di jalan tempat mereka lewat, dia pasti mendapat
laknat mereka.” (HR.Tabran).
Diantara perbuatan-perbuatan itu adalah kencing didalam air, khususnya dalam air
keruh, di tempat untuk mandi, serta tempat air yang mengalir.Ketiganya perbuatan
bisa mendapat laknat dari Allah swt, malaikat, dan laknat orang-orang yang shaleh.
Begitu juga dengan mandi air keruh, Rasulullah melarang kita untuk melakukannya,
sebab air keruh itu adalah sumber kotoran, yakni air yang tidak mengalir dan tidak
berganti dengan yang baru. Sabda Rasulullah saw, ”Janganlah salah seorang dari
kalian mandi di air yang diam, sementara ia dalam keadaan baik.” (HR.Muslim).
Contoh lainnya adalah larangan memasukkan tangan ke dalam bejana air setelah
bangun dari tidur. Hal ini dikhawatirkan tangan tersebur sebelumnya telah
menyentuh dubur atau yang lainnya ketika tidur. ”Apabila salah seorang dari kalian
yang bangkit dari tidur, janganlah menenggelamkan tangannya ke dalam tempat air
sehingga ia membasuhnya tiga kali. Karena ia tidak tahu kemana tangannya
semalam.” (HR.Muslim).
Sunnah juga mensyaratkan supaya kita bersikap hati-hati terhadap sesuatu yang dapat
mendatangkan penyakit atau bahaya bagi jiwa dan badan kita, hal ini merupakan
perintah Rasulullah saw. ”Tutuplah mangkuk tempat makanan (apabila di dalamnya
terdapat makanan atau minuman) dan tutuplah bibir timba, tutuplah pintu, matikan
lampu (pada waktu malam sebelum tidur), karena setan tidak akan dapat membuka
timba dan tidak akan membuka mangkuk tempat makanan.” (HR Muslim, ibnu majah
dan Ahmad).
Kita mengetahui bahwa dalam masalah kebersihan, Islam memiliki aturan yang tidak
ditandingi oleh agama manapun. Islam memandang kebersihan sebagai ibadah yang
dapat mendekatkan diri kepada Allah swt, Bahkan kebersihan itu bisa masuk
kategori salah satu kewajiban bagi setiap umat muslim. Hendaknya, firman Allah
dan sabda-sabda Rasulullah di atas tidak dijadikan sebagai jargon semata, tapi harus
benar-benar dilaksanakan dengan penuh rasa kesadaran.
Cara Rasulullah Shallallahualaihiwassalam dalam menjaga kesehatan dirinya
SELALU BANGUN SEBELUM SUBUH
Rasulullah shallallahualaihi wassalam mengajak umatnya untuk bangun sebelum
Subuh bagi melaksanakan sholat sunat, sholat fardhu dan sholat Subuh secara
berjemaah.
Hal ini memberi hikmah yang mendalam antaranya mendapat limpahan
pahala,kesegaran udara subuh yang baik terutama untuk merawat penyakit tibi serta
memperkuatkan akal fikiran.
AKTIF MENJAGA KEBERSIHAN
Rasulullah shallalllahu alaihi wassalam senantiasa bersih dan rapi. Setiap Kamis atau
Jum’at, Baginda mencuci rambut halus di pipi, memotong kuku, bersikat serta
memakai minyak wangi. “Mandi pada hari Jum’at adalah sangat dituntut bagi setiap
orang dewasa. Demikian pula menggosok gigi dan pemakai harum-haruman.” (HR.
Muslim)
TIDAK PERNAH MAKAN BERLEBIHAN
Sabda Rasulullah shallalllahu alaihi wassalam yang bermaksud: “Kami adalah satu
kaum yang tidak makan sebelum lapar dan apabila kami makan tidak terlalu banyak
(tidak sampai kekenyangan).
”(Muttafaq Alaih) Dalam tubuh manusia ada tiga ruang untuk tiga benda: Sepertiga
untuk udara, sepertiga untuk air dan sepertiga lainnya untuk makanan.
Bahkan ada satu pendidikan khusus bagi umat Islam iaitu dengan berpuasa pada
Ramadan bagi menyeimbangkan kesihatan selain Nabi selalu berpuasa sunat.
GEMAR BERJALAN KAKI
Rasulullah shallalllahualaihi wassalam berjalan kaki ke masjid, pasar, medan jihad
dan mengunjungi rumah sahabat. Apabila berjalan kaki, peluh pasti mengalir, roma
terbuka dan peredaran darah berjalan lancar. Ini penting untuk mencegah penyakit
jantung
TIDAK PEMARAH
Nasihat Rasulullah shallalllahualaihi wassalam ‘jangan marah’ diulangi sampai tiga
kali. Ini menunjukkan hakikat kesihatan dan kekuatan Muslim bukanlah terletak pada
jasad, tetapi lebih kepada kebersihan jiwa.
Ada terapi yang tepat untuk menahan perasaan marah iaitu dengan mengubah posisi
ketika marah, bila berdiri maka hendaklah kita duduk dan apabila sedang duduk,
maka perlu berbaring.
Kemudian membaca Ta’awwudz karena marah itu daripada syaitan, segera
mengambil wudhu’ dan sholat dua rakaat bagi mendapat ketenangan serta
menghilang kan gundah di hati.
OPTIMIS DAN TIDAK PUTUS ASA
Sikap optimis memberikan kesan emosional yang mendalam bagi kelapangan jiwa
selain perlu sabar, istiqamah, bekerja keras serta tawakkal kepada Allah
subhnahuwata’ala
TIDAK PERNAH IRI HATI
Bagi menjaga kestabilan hati dan kesehatan jiwa, semestinya kita perlu menjauhi
sifat iri hati. “Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari sifat-sifat mazmumah dan hiasilah
diriku dengan sifat-sifat mahmudah.”
PEMAAF
Pemaaf adalah sifat yang sangat dituntut bagi mendapatkan ketenteraman hati dan
jiwa. Memaafkan orang lain membebaskan diri kita daripada dibelenggu rasa
kemarahan.
Sekiranya kita marah, maka marah itu melekat pada hati. Justeru, jadilah seorang
yang pemaaf kerana yang pasti badan sihat.
“BAHAGIA sebenarnya bukan MENDAPAT tetapi dengan MEMBERI. Sebenarnya,
banyak lagi cara hidup sehat Rasulullah shalallahualaihi wassalam . Semoga hati kita
semakin dekat dengan Nabi yang amat kita rindukan pertemuan dengannya.”
Maka dari itu, selain berbagai metode pengobatan yang telah Nabi Muhammad
Shalllahulahiwassalam ajarkan kepada kita selaku umatnya, hal yang terpenting
sebelum kita sampai kepada tahap pengobatan ialah kita harus mampu menjaga
kesehatan diri dengan sebaik-baiknya agar terbebas dari bermacam-macam jenis
penyakit, nah selain cara pengobatan Rasulullah yang harus kita teladani, cara
rasulullah menjaga kesehatan pun harus kita aplikasikan dalam keseharian kita ini.
H. SAKIT ITU ANUGERAH ALLAH
Ketika sakit menghampiri kita, ada dua hal yang mesti kita ingat:
1. Bahwa sakit yang kita alami ini datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ”Tiada
sesuatupun bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu
sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap
apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap
apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang
sombong lagi menyombongkan diri.” (Al-Hadid:22-23)
2. Bahwa sakit itu baik bagi kita.
Di balik sakit yang kita alami, terdapat hikmah dan faidah yang besar, yang itu
baik dan bermanfaat untuk kita. Tentunya apabila ketika sakit itu datang kita
hadapi dengan kesabaran. Diantara hikmah dan faidahnya adalah:
a. Diampuni dosa dan kesalahan
”Setiap musibah yang menimpa mukmin, baik berupa wabah, rasa lelah,
penyakit, rasa sedih, sampai kekalutan hati, pasti Allah menjadikannya
pengampun dosa-dosanya.” (HR. Bukhari-Muslim)
”Tidaklah seorang Muslim ditimpa gangguan berupa penyakit dan lain-linnya,
melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon
yang menggugurkan daunnya.” (Bukhari-Muslim)
b. Ditinggikan derajatnya
”Tidaklah seorang mukmin tertusuk duri atau yang lebih kecil dari duri,
melainkan ditetapkan baginya satu derajat dan dihapuskan darinya satu
kesalahan.” (Diriwayatkan Muslim)
Dari Aisyah, dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam bersabda (yang artinya):
”Tidaklah seorang Mukmin itu tertimpa penyakit encok sedikit pun, melainkan
Allah menghapus darinya satu kesalahan, ditetapkan baginya satu kebaikan dan
ditinggalkan baginya satu derajat.” (Ditakrij Ath-Thabrani dan Al-Hakim.
Isnadnya Jayyid)
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam bersabda (yang artinya):
”Sesungguhnya seseorang benar-benar memiliki kedudukan di sisi Allah, namun
tidak ada satu amal yang bisa menghantarkannya ke sana. Maka Allah senantiasa
mencobanya dengan sesuatu yang tidak disukainya, sehingga dia bisa sampai ke
kedudukan itu.” (Ditakhrij Abu Ya’la, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim; Menurut Syaikh
Al-Albany: hadits hasan)
a. Pembuka jalan ke Surga
”Allah Subhanahu berfirman: ‘Hai anak Adam, jika engkau sabar dan mencari
keridhaan pada saat musibah yang pertama, maka Aku tidak meridhai pahala
bagimu selain surga.”’ (Ditakhrij Ibnu Majah; Menurut Syaikh Al-Albany: hadits
hasan)
Wahai Saudaraku, bukankah sakit merupakan bagian dari musibah?
b. Keselamatan dari api neraka
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam, bahwa beliau menjenguk seseorang yang sedang sakit demam, yang
disertai Abu Hurairah. lalu beliau bersabda (yang artinya):
”Bergembiralah, karena Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Inilah neraka-Ku. Aku
menganjurkannya menimpa hamba-Ku yang mukmin di dunia, agar dia jauh dari
neraka pada hari akhirat.” (Ditakhrij Ahmad, Ibnu Majah, dan AL-Hakim.
Menurut Syaikh Albani: isnadnya shahih)
c. Menjadikan kita ingat kepada Allah dan kembali kepada-Nya
Biasanya ketika seseorang dalam keadaan sehat wal afiat, suka tenggelam dalam
kenikmatan dan syahwat. Menyibukkan diri dalam urusan dunia dan melalikan
Allah, yang tidak jarang terjerumus dalam kemaksiatan dan kedurhakaan kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika Allah mencobanya dengan sakit atau
musibah lain, dia akan ingat kepada Allah, bertobat, dan kembali memenuhi hak-
hak Allah yang telah dia tinggalkan.
Dari Abdurrahman bin Sa’id, dari bapaknya, dia berkata, ”Aku bersama Salman
menjenguk orang yang sedang sakit di Kandah. Tatkala Salman memasuki
tempat tinggalnya, dia berkata, ”Bergembiralah, karena sakitnya orang mukmin
itu akan dijadikan Allah sebagai penebus dosanya dan penyebab
kewaspadaannya. Sedangkan sakitnya orang fajir itu laksana keledai yang diikat
pemiliknya, kemudian dia melepaskannya kembali, namun keledai itu tidak tahu
mengapa ia diikat dan mengapa ia dilepas.”
Maksudnya, penyakit itu merupakan penebus dosa bagi orang mukmin dan
penyebab taubat dan kesadarannya dari kelalaian. Berbeda dengan orang-orang
fajir, yang tetap durhaka, tidak terpengaruh oelah penyakitnya dan tidak mua
kembali kepada Rabb-nya. Dia tidak tahu kalau penyakit itu menimpa dirinya,
agar dia sadar dari kelalaian dan agar kembali kepada kebenaran. Ibaratnya
seekor keledai yang dipegang dan diikat, kemudian dilepas kembali, namun ia
tidak tahu mengapa ia diikat lalu dilepas lagi.
d. Mengingatkan kepada nikmat yang telah diberikan Allah
Sakit dapat mengingatkan kita terhadap nikmat yang telah Allah berikan ketika
kita dalam keadaan sehat, dengan demikian kita semakin bersyukur kepada
Allah. Seorang penyair berkata: ”Seseorang tidak mengenal tanda-tanda sehat
selagi dia belum tertimpa sakit.”
e. Mengingatkan keadaan orang-orang yang sakit
Allah menimpakan sakit kepada kita agar kita mengingat saudara-saudara kita
yang sedang sakit, yang selama ini mereka kita lalaikan, sehingga kita kembali
sadar dan terketuk hati kita untuk memenuhi hak-hak sauadara kita yang sedang
sakit tersebut, seperti: mengunjunginya, membantu keperluannya, meringankan
musibahnya, menghiburnya, membantukan mencarikan obat, mendoakannya, dll.
f. Mensucikan hati dari berbagai penyakit
Keadaan yang sehat bisa mengundang seseorang untuk bersikap sombong,
bangga dan taajub kepada diri sendiri, sebab dalam keadaan seperti itu dia bebeas
berbuat apa saja. Namun ketika sakit dataang menjenguknya, penderitaan
menimpa dirinya, maka jiwanya bisa melunak, sifat-sifat sombong, takabur,
dengki, membanggakan diri; dapat menjadi hilang sehingga akhirnya ia tunduk
dan pasrah kepada Allah serta tekun beribadah kepada-Nya.
g. Menjadikan kita sabar
Abdul Malik bin Abjar berkata: ”Setiap orang pasti mendapat cobaan afiat, untuk
dilihat apakah dia bersyukur, atau mendapat bencana untuk dilihat apakah dia
bersabar.”
PERTANYAAN
Pertanyaan BAB I :
1. Apa yang dilakukan Rasulullah setelah hijrah ke Mekkah?
2. Siapa yang meriwayatkan secara lengkap Piagam Madinah?
3. Apa yang dapat mempersatukan warga Madinah?
4. Apa isi dari Piagam Madinah?
5. Sebutkan karakteristik dari masyarakat madani!
6. Sebutkan 3 karakteristik keIslaman yang diajarkan Nabi!
7. Sebutkan pilar-pilar masyarakat madani!
8. Sebutkan asas-asas dari politik Islam!
9. Jelaskan tentang sistem pemerintahan Islam!
10. Jelaskan karakteristik pemerintahan Islam!

Pertanyaan BAB II:


11. Sebutkan ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang etos kerja!
12. Sebutkan prinsip utama seorang muslim dalam bekerja!
13. Ada 5 prinsip budaya dan etos kerja dalam Islam, sebutkan!
14. Apa kepanjangan dari ACTIVE?
15. Jelaskan pengertian dari budaya kerja ACTIVE UNS!
16. Sebutkan visi dari UNS ACTIVE!
17. Sebutkan misi dari UNS ACTIVE!
18. Sebutkan aspek-aspek dalam UNS ACTIVE!
19. Jelaskan pengertian dari Teamwork!
20. Bagaimana cara memerangi narkoba dan budaya korupsi di Indonesia?

Pertanyaan BAB III:


21. Jelaskan pengertian dari pengetahuan!
22. Jelaskan pengertian dari teknologi!
23. Jelaskan tentang pandangan islam terhadap iptek bersifat netral!
24. Sebutkan peran islam dalam perkembangan iptek dan seni!
25. Jelaskan pengertian dari seni!
26. Jelaskan pandangan islam tentang seni!
27. Apa hukum seni dalam islam? Jelaskan!
28. Disebutkan dalam hadist, bahwasanya ilmu yang wajib dicari seorang muslim ada 3,
sebutkan!
29. Apa keutamaan dari orang yang berilmu?
30. Sebutkan dan jelaskan bukti-bukti ilmu pengetahuan yang telah di jelaskan dalam al
qur’an!

Pertanyaan BAB IV:


31. Jelaskan pengertian dari profesi!
32. Jelaskan pengertian dari professional!
33. Sebutkan nilai-nilai islam yang dapat melandasi pengembangan profesionalisme!
34. Jelaskan tujuan umum pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB)!
35. Jelaskan tujuan khusus pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB)!
36. Jelaskan manfaat Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)
37. Sebutkan cirri-ciri yang mendukung Kualitas profesionalisme!
38. Bagaimana cara mengukur sikap keprofesional?
39. Bagaimana pandangan islam terhadap sikap profesionalisme?
40. Sebutkan fungsi hati dalam kehidupan manusia!

Pertanyaan BAB V:
1. Ketika sakit menghampiri kita, ada dua hal yang mesti kita ingat. Apa itu?
2. Sebutkan hikmah dari sakit!
3. Jelaskan pengertian dari pemaaf!
4. Selain melakukan puasa sunah, apalagi yang dilakukan Nabi untuk menyeimbangkan
kesehatan?
5. Bagaimana cara Rasulllah menjaga kesehatan dirinya?
6. Sebutkan tips gratis bagaimana cara menjaga lingkungan dengan cara yang
sederhana dan menciptakan suasana yang tentram, damai, dan bebas penyakit!
7. Dalam agama Islam, ajaran tentang kebersihan menyangkut berbagai hal. Sebutkan!
8. Tulis beserta arti QS. Al-Baqarah ayat 222!
9. Jelaskan mengapa Al-Quran melarang melakukan sesuatu yang dapat merusak
badan?
10. Apa tujuan utama dari olahraga?
DAFTAR PUSTAKA

1. Lukman Thoib, 1994, Political System of Islam


2. Muhammad Immarah, 1999, Islam dan Pluralitas, Perbedaan, Kemajemukan dalam
Bingkai Persatuan
3. Imam Muhammad Abu Zahra, Bagian Pertama: Politik, p.19-119
4. Hamid Enayat, 2001, Modern Islam Political Thought, chapter: Shi’ism and
Sunni’ism: Conflict and Concord
5. Assiba’y, Mustafa, Dr, 1964, Sistem Masyarakat Islam, Jakarta: CV. Mulia.
6. Azra, Azyumardi, Prof. Dr, 1999, Menuju Masyarakat Madani, Gagasan, Fakta, dan
Tantangan,Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
7. Djaelani, Abdul Qodir, 2007, Mewujudkan Masyarakat Madani, Surabaya: PT. Bina
Ilmu.
8. http://www.academia.edu
9. http://akharil.blogspot.com/2010/03/iptek-menurut-pandangan-islam.html
10. http://andrethosizuki.blogspot.com/2013/06/pengertian-ilmu-pengetahuan-
teknologi.html
11. http://kominfonewscenter.com/index.php?option=com_content&view=article&id=68
2:peradaban-iptek-dan-islam-sebagai-rahmatan-lilalamin&catid=36:nasional-
khusus&Itemid=54
12. https://wiwikyulihaningsih.wordpress.com/2011/04/13/konsep-dasar-
profesionalisme/, diakses pada tanggal 16 Mei 2015
13. http://www.eramuslim.com/oase-iman/yuli-wasini-santoso-profesional-kunci-
kesuksesan-dunia-akherat.htm diakses pada tanggal 16 Mei 2015
14. http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2013/11/tujuan-manfaat-sasaran-
pengembangan-keprofesian-berkelanjutan.html diakses pada tanggal 16 Mei 2015
15. http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/01/mengenal-konsep-
profesional.html diakses pada tanggal 16 Mei 2015
16. http://nurulfalahpm.jigsy.com/entries/general/syarat-menuntut-ilmu diakses pada
tanggal 16 Mei 2015
17. http://web.ipb.ac.id/~kajianislam/pdf/Prof.pdf diakses pada tanggal 16 Mei 2015
18. http://www.unpad.ac.id/rubrik/bekerja-profesional-dan-cerdas-menurut-islam/
diakses pada tanggal 16 Mei 2015
19. Samsu Nizar. Filsafat Pendidikan Islam.(Jakarta: Ciputat Pers, 2002) hlm. 70-71
20. www.http://kamus besar Bahasa Indonesia