Anda di halaman 1dari 16

Pengertian Radiasi Benda Hitam,Rumus Soal Intensitas

Radiasi, Teori Planck dan Radiasi Kalor


Radiasi Panas
Panas (kalor) dari matahari sampai ke bumi melalui gelombang elektromagnetik. Perpindahan ini
disebut radiasi, yang dapat berlangsung dalam ruang hampa. Radiasi yang dipancarkan oleh sebuah
benda sebagai akibat suhunya disebut radiasi panas (thermal radiation).

Setiap benda secara kontinu memancarkan radiasi panas dalam bentuk gelombang elektromagnetik.
Bahkan sebuah kubus es pun memancarkan radiasi panas, sebagian kecil dari radiasi panas ini ada
dalam daerah cahaya tampak. Walaupun demikian kubus es ini tak dapat dilihat dalam ruang gelap.
Serupa dengan kubus es, badan manusia pun memancarkan radiasi panas dalam daerah cahaya
tampak, tetapi intensitasnya tidak cukup kuat untuk dapat dilihat dalam ruang gelap.

Setiap benda memancarkan radiasi panas, tetapi umunya benda terlihat oleh kita karena benda itu
memantulkan cahaya yang datang padanya, bukan karena ia memacarkan radiasi panas. Dalam
kehidupan sehari-hari dapat kita saksikan bahwa permukaan logam yang dipanaskan akan
memancarkan cahaya dengan warna yang berubah. Ambillah sepotong logam kemudian panaskan
dalam api kompor, amatilah bagaimana perubahan warna pada logam itu? Benda baru terlihat karena
meradiasikan panas jika suhunya melebihi 1000 K. Pada suhu ini benda mulai berpijar merah sepeti
kumparan pemanas sebuah kompor listrik. Pada suhu di atas 2000 K benda berpijar kuning atau
keputih-putihan, seperti besi berpijar putihatau pijar putih dari filamen lampu pijar. Begitu suhu benda
terus ditingkatkan, intensitas relatif dari spectrum cahaya yang dipancarkannya berubah. Ini
menyebabkan pergeseran dalam warna- warna spektrum yang diamati, yang dapat digunakan untuk
menaksir suhu suatu benda.

Cahaya dikenal sebagai gelombang elektromagnet, karena mempunyai sifat-sifat seperti pemantulan,
pembiasan, interferensi dan difraksi. Namun disini akan kita bahas bahwa cahaya juga dapat
berkelakuan seperti partikel.

Radiasi benda Hitam


Benda hitam merupakan suatu benda dimana radiasi kalor yang datang akan diserap seluruhnya,
lubang kecil pada sebuah dinding yang berongga dapat dianggap sebagai benda hitam yang
sempurna.

Carilah contoh benda hitam dalam kehidupan sehari-hari !

Intensitas Radiasi Benda Hitam


Gelombang-gelombang elektromagnetik di dalam dinding berongga mempunyai panjang gelombang
yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena molekul-molekul yang memancarkan gelombang ini
bergerak dengan percepatan yang berbeda-beda.
Gambar di atas melukiskan grafik distribusi intensitas, Iλ radiasi benda hitam persatuan interval
panjang gelombang, sebagai fungsi panjang gelombang. Pada gambar ada 4 buah kurva masing –
masing untuk suhu benda hitam: 6000 K, 5.000 K, 4000 K, dan 3000 K.

Intensitas total yang dipancarkan benda hitam dapat dihitung dengan menghitung luas dibawah
Iλ sebagai fungsi λ. Besarnya intensitas total ini diperoleh dari rumus Stefan-Boltzman dengan
mengambil e=1, (untuk benda hitam):

I = σT4
Tiap kurva mempunyai satu nilai maksimum yang terjadi pada panjang gelombang yang dinamakan
λmaks .

1. Radiasi Kalor
Bila benda menyerap energi radiasi, maka benda itu akan memancarkan energi yang diserap ke
lingkungannya. Benda yang mudah menyerap banyak energi radiasi akan mudah pula memancarkan
banyak energi radiasi. Stefan-Boltzman menemukan bahwa jumlah energi yang dipancarkan suatu
permukaan benda persatuan luas per satuanwaktu sebanding dengan pangkatempatsuhu mutlaknya.

Keterangan:
I = laju rata-rata energi radiasi (W/m 2)
P = daya (watt)
A = luas permukaan benda (m 2)
W = energi persatuan luas persatuan waktu (watt / m 2)
e = emisivitas
T = suhu mutlak (K)
σ = tetapan Stefan-Boltzman (5,67 . 10-8 watt m2 K4)

Contoh

Sebuah benda dengan luas permukaan 100 cm 2 bersuhu 727oC. Jika koefisien Stefan-Boltzman 5,67
x 10−8 W/mK4 dan emisivitas benda adalah 0,6 tentukan laju rata-rata energi radiasi benda tersebut !
2. Hukum Wien
Hukum Pergeseran Wien jika benda padat dipanaskan samapai suhu
yang sangat tinggi, benda akan tampak memijar dan gelombang
elektromegnitik yang dipancarkan berada pada spektrum cahaya
tampak. Jika benda terus dipanaskan, intensitas relatif dari spektrum
cahaya yan dipancarkna berubah-ubah. Gejalah pergeseran nilai
panjang gelombang meksimum dengan berkurangnya suhu disebut
pergeseran Wien. Bila suhu benda terus ditingkatkan, intensitas relatif
dari spektrum cahaya yang dipancarkan berubah. Ini menyebabkan
dalam warna-warna spektrum yang diamati, yang dapat digunakan untuk
menaksir suhu suatu benda yang digambarkan pada grafik berikut.

Pada gambar disamping menunjukkan hubungan antara


benda dan panjang gelombang yang dipancarkan, pada
spektrum cahaya tampak warna mempunyai frekuensi
terendah, sedangkan cahaya ungu mempunyai frekuensi
tertinggi

Perubahan warna pada benda menunjukkan perubahan intensitas radiasi benda. Jika suhu benda
berubah, maka intensitas benda akan berubah atau terjadi pergeseran. Pergeseran ini digunakan
untuk memperkirakan suhu suatu benda. Untuk lebih jelas melihat pergeseran intensitas benda kita
menyebutnya Pergeseran Wien terhadap panjang gelombang benda. Hukum Wien menyatakan
bahwa makin tinggi temperatur suatu benda hitam, makin pendek panjang gelombangnya. Hal ini
dapat digunakan untuk menerangkan gejala bahwa bintang yang temperaturnya tinggi akan tampak
berwarna biru, sedangkan yang temperaturnya rendah tampak berwarna merah.
Energi pancaran tiap panjang gelombang semakin besar, jika suhu semakin tinggi, sedangkan energi
maksimalnya bergeser kearah gelombang yang panjang gelombangnya kecil, atau ke frekwensi
besar.
Wien mempelajari hubungan antara suhu dan panjang
gelombang pada intensitas maksimum. Perhatikan gambar
(2) di samping! Puncak-puncak kurva pada grafik (2)
menunjukkan intensitas radiasi pada tiap-tiap suhu. Dari
gambar (2) tampak bahwa puncak kurva bergeser ke arah
panjang gelombang yang pendek jika suhu semakin tinggi.
Panjang gelombang pada intensitas maksimum ini disebut
sebagai panjang gelombang maks.

Secara matematis hukum pergeseran wien dinyatakan dalam persamaan :


λm . T = C
Keterangan:
λm = panjang gelombang maksimum (m)
T = suhu mutlak (K)
C = tetapan WIEN = 2,898 . 10-3 m.k

Apabila panjang gelombang cahaya bintang atau matahari yang berintensitas maksimum diketahui,
maka suhu permukaan matahari atau bintang dapat ditentukan.

contoh

Permukaan benda pada suhu 37oC meradiasikan gelombang elektromagnetik. Bila konstanta Wien =
2,898 x 10−3 m.K maka panjang gelombang maksimum radiasi permukaan adalah.....
Dik :
T = 37oC = 310 K
C = 2,898 x 10−3 m.K
Ditanyakan : λmaks = ....?
Penyelesaian :
λmaks T = C
λmaks (310) = 2,898 x 10−3
λmaks = 9,348 x 10−6 m

Gambar kurva kenaikan temperatur benda hitam


Dari kurva di atas, terbaca bahwa dengan naiknya temperatur benda hitam, puncak-
puncak spektrum akan bergeser ke arah panjang gelombang yang semakin kecil (gambar a)
atau puncak-puncak spektrum akan bergeser ke arah frekuensi yang semakin besar (gambar
b). Melalui persamaan yang dikembangkan Wien maupun menjelaskan ditribusi intensitas
untuk panjang gelombang pendek, namun gagal untuk menjelaskan penjanggelombang
panjang. Hal itu menunjukan bahwa radiasi elektromaknetik tidak dapat dianggap sederhana
seperti proses termodinamika.
Teori ini selanjutnya dikembangkan oleh Reyleigh dan Jeans yang berlaku untuk
panjang gelombang yang lebih panjang. Menurut teori medan listrik-magnet, gelombang.

3. Teori Rayleigh-Jeans

Lord Rayleigh dan James Jeans mengusulkan suatu model


sederhana untuk menerangkan bentuk spektrum radiasi benda
hitam. Mereka menganggap bahwa molekul atau muatan di
permukaan dinding benda berongga dihubungkan oleh semacam
pegas. Ketika suhu benda dinaikkan, muatan-muatan tersebut
mendapatkan energi kinetiknya untuk bergetar. Dengan bergetar
berarti kecepatan muatan berubah-ubah (positif - nol - negatif - nol
- positif, dan seterusnya.
Melalui model di atas, Rayleigh dan Jeans menurunkan rumus distribusi intensitas, yang jika
digambarkan grafiknya maka model yang diusulkan oleh Rayleigh dan Jeans berhasil
menerangkan spektrum radiasi benda hitam pada panjang gelombang yang besar, namun
gagal untuk panjang gelombang yang kecil.Rayleigh-Jeans mengasumsikan dinding rongga
berupa konduktor, yang jika dipanaskan elektron-elektron pada dinding rongga akan
tereksitasi secara thermal sehingga berosilasi. Berdasarkan teori Maxwell, osilasi elektron ini
menghasilkan radiasi elektromagnet. Radiasi ini akan terkurung di dalam rongga dalam
bentuk gelombang-gelombang tegak., maka di dinding rongga terjadi simpul-simpul
gelombang, karena dinding rongga berupa konduktor.
4. Teori Planck
Untuk menjelaskan formula yang memenuhi semua data percobaan spektrum benda hitam. Planck
mengemukakan dua anggapan tentang sifat dasar getaran molekul-molekul dalam dinding-dinding
rongga benda hitam.

1. Getaran-getaran molekul yang memancarkan radiasi hanya dapat memiliki satuan-satuan energi
diskrit dar harga En, yang diberikan oleh:

En = nhf
Keterangan:
N = 1,2,3 … (jumlah kuanta)
h = tetapan Planck (6,626.10-34 Js)
f = frekuensi foton (Hz)

2. Energi tiap-tiap pancaran dinyatakan:

Keterangan:
c = kecepatan cahaya (3.108 m/s)
λ = panjang gelombang (m)

Contoh

Tentukan kuanta energi yang terkandung dalam sinar dengan panjang gelombang 6600 Å jika
kecepatan cahaya adalah 3 x 108 m/s dan tetapan Planck adalah 6,6 x 10−34 Js !

Dik : h = 6,6 x 10−34 Js


c = 3 x 10−8 m/s
Ditanyakan : E = ....?
Penyelesaian :
E = h(c/λ)
E = (6,6 x 10−34 ) = 3 x 10−19 joule
5. Efek Fotolistrik

Pernahkah kamu melihat pelangi? Pernahkah kamu melihat warna-warni di jalan aspal yang basah?
Pelangi terjadi akibat dispersi cahaya matahari pada titik-titik air hujan. Adapun warna-warni yang
terlihat di jalan beraspal terjadi akibat gejala interferensi cahaya. Gejala dispersi dan interferensi
cahaya menunjukkan bahwa cahaya merupakan gejala gelombang. Gejala difraksi dan polarisasi
cahaya juga menunjukkan sifat gelombang dari cahaya.

pola warna-warni di atas aspal basah yang dikenai bensin terjadi akibat interferensi cahaya

Gejala fisika yang lain seperti spektrum diskrit atomik, efek fotolistrik, dan efek Compton
menunjukkan bahwa cahaya juga dapat berperilaku sebagai partikel. Sebagai partikel cahaya disebut
dengan foton yang dapat mengalami tumbukan selayaknya bola.

Pengertian Efek Fotolistrik

Ketika seberkas cahaya dikenakan pada logam, ada elektron yang keluar dari permukaan logam.
Gejala ini disebut efek fotolistrik. Efek fotolistrik diamati melalui prosedur sebagai berikut. Dua buah
pelat logam (lempengan logam tipis) yang terpisah ditempatkan di dalam tabung hampa udara. Di
luar tabung kedua pelat ini dihubungkan satu sama lain dengan kawat. Mula-mula tidak ada arus
yang mengalir karena kedua plat terpisah. Ketika cahaya yang sesuai dikenakan kepada salah satu
pelat, arus listrik terdeteksi pada kawat. Ini terjadi akibat adanya elektron-elektron yang lepas dari
satu pelat dan menuju ke pelat lain secara bersama-sama membentuk arus listrik.

Hasil pengamatan terhadap gejala efek fotolistrik memunculkan sejumlah fakta yang merupakan
karakteristik dari efek fotolistrik. Karakteristik itu adalah sebagai berikut.

1. hanya cahaya yang sesuai (yang memiliki frekuensi yang lebih besar dari frekuensi tertentu saja)
yang memungkinkan lepasnya elektron dari pelat logam atau menyebabkan terjadi efek fotolistrik
(yang ditandai dengan terdeteksinya arus listrik pada kawat). Frekuensi tertentu dari cahaya
dimana elektron terlepas dari permukaan logam disebut frekuensi ambang logam. Frekuensi ini
berbeda-beda untuk setiap logam dan merupakan karakteristik dari logam itu.
2. ketika cahaya yang digunakan dapat menghasilkan efek fotolistrik, penambahan intensitas
cahaya dibarengi pula dengan pertambahan jumlah elektron yang terlepas dari pelat logam
(yang ditandai dengan arus listrik yang bertambah besar). Tetapi, Efek fotolistrik tidak terjadi
untuk cahaya dengan frekuensi yang lebih kecil dari frekuensi ambang meskipun intensitas
cahaya diperbesar.
3. ketika terjadi efek fotolistrik, arus listrik terdeteksi pada rangkaian kawat segera setelah cahaya
yang sesuai disinari pada pelat logam. Ini berarti hampir tidak ada selang waktu elektron
terbebas dari permukaan logam setelah logam disinari cahaya.

Karakteristik dari efek fotolistrik di atas tidak dapat dijelaskan menggunakan teori gelombang cahaya.
Diperlukan cara pandang baru dalam mendeskripsikan cahaya dimana cahaya tidak dipandang
sebagai gelombang yang dapat memiliki energi yang kontinu melainkan cahaya sebagai partikel.

Perangkat teori yang menggambarkan cahaya bukan sebagai gelombang tersedia melalui konsep
energi diskrit atau terkuantisasi yang dikembangkan oleh Planck dan terbukti sesuai untuk
menjelaskan spektrum radiasi kalor benda hitam. Konsep energi yang terkuantisasi ini digunakan
oleh Einstein untuk menjelaskan terjadinya efek fotolistrik. Di sini, cahaya dipandang sebagai
kuantum energi yang hanya memiliki energi yang diskrit bukan kontinu yang dinyatakan
sebagai E = hf.

Konsep penting yang dikemukakan Einstein sebagai latar belakang terjadinya efek fotolistrik adalah
bahwa satu elektron menyerap satu kuantum energi. Satu kuantum energi yang diserap elektron
digunakan untuk lepas dari logam dan untuk bergerak ke pelat logam yang lain. Hal ini dapat
dituliskan sebagai

Energi cahaya = Energi ambang + Energi kinetik maksimum elektron

E = W0 + Ekm

hf = hf0 + Ekm

Ekm = hf – hf0

Persamaan ini disebut persamaan efek fotolistrik Einstein. Perlu diperhatikan bahwa W0 adalah
energi ambang logam atau fungsi kerja logam, f0 adalah frekuensi ambang logam, f adalah frekuensi
cahaya yang digunakan, dan Ekm adalah energi kinetik maksimum elektron yang lepas dari logam dan
bergerak ke pelat logam yang lain. Dalam bentuk lain persamaan efek fotolistrik dapat ditulis sebagai

Dimana m adalah massa elektron dan ve adalah dan kecepatan elektron. Satuan energi dalam SI
adalah joule (J) dan frekuensi adalah hertz (Hz). Tetapi, fungsi kerja logam biasanya dinyatakan
dalam satuan elektron volt (eV) sehingga perlu diingat bahwa 1 eV = 1,6 × 10 −19 J.

Potensial Penghenti

Gerakan elektron yang ditandai sebagai arus listrik pada gejala efek fotolistrik dapat dihentikan oleh
suatu tegangan listrik yang dipasang pada rangkaian. Jika pada rangkaian efek fotolistrik dipasang
sumber tegangan dengan polaritas terbalik (kutub positif sumber dihubungkan dengan pelat tempat
keluarnya elektron dan kutub negatif sumber dihubungkan ke pelat yang lain), terdapat satu nilai
tegangan yang dapat menyebabkan arus listrik pada rangkaian menjadi nol.

Arus nol atau tidak ada arus berarti tidak ada lagi elektron yang lepas dari permukaan logam akibat
efek fotolistrik. Nilai tegangan yang menyebabkan elektron berhenti terlepas dari permukaan logam
pada efek fotolistrik disebut tegangan atau potensial penghenti (stopping potential). Jika V0 adalah
potensial penghenti, maka

Ekm = eV0
Persamaan ini pada dasarnya adalah persamaan energi. Perlu diperhatikan
bahwa eadalah muatan elektron yang besarnya 1,6 × 10−19 C dan tegangan dinyatakan dalam satuan
volt (V).

Aplikasi Efek fotolistrik

Efek fotolistrik merupakan prinsip dasar dari berbagai piranti fotonik (photonic device) seperti lampu
LED (light emitting device) dan piranti detektor cahaya (photo detector).

Kesimpulan Efek Fotolistrik


 Frekuensi cahaya menyinari katoda harus lebih besar dari frekuensi ambang / fungsi kerja
 Panjang gelombang cahaya yang menyinari katoda lebih kecil daripada panjang gelombang
ambang
 Energi kinetik yang terlepas dari katoda lebih besar dari fungsi kerja bahan katoda
 Energi kinetik yang terlepas dari katoda sebanding dengan energi cahaya yang menyinari katoda
 Energi kinetik maksimum elektron foton berbanding terbalik dengan panjang gelombang cahaya
yang datang
 Energi foton lebih besar dari energi ambang / fungsi kerja
 Energi foton sebanding dengan frekuensi
 Energi foton berbanding terbalik dengan panjang gelombang
 Jika arus lebih besar maka elektron yang terlepas lebih banyak dan intensitas harus lebih besar
 Efek fotolistrik membuktikan cahaya bersifat dualisme (sebagai gelombang dan partikel)
 Efek fotolistrik terjadi di daerah ultra ungu/ultra violet
 Tumbukkannya bersifat lenting sempurna
 Energi kinetik foto elektron berbanding lurus dengan selisih antar frekuensi cahaya yang
digunakan dengan frekuensi ambang
 Jika panjang gelombang foton setelah menumbuk lebih besar maka energi foton berkurang
 Foton sebagai paket energi
 Radiasi gelombang elektromagnetik bersifat distrik (tidak kontinu)

Contoh soal

Jika fungsi kerja logam adalah 2,1 eV dan cahaya yang disinarkan memiliki panjang gelombang 2500
Å dengan konstanta Planck 6,6 x 10−34 Js dan 1 eV = 1,6 x 10−19 joule, tentukan
a) energi ambang logam dalam satuan joule
b) frekuensi ambang
c) panjang gelombang maksimum yang diperlukan untuk melepas elektron dari logam
d) panjang gelombang dari cahaya yang disinarkan dalam meter
e) frekuensi dari cahaya yang disinarkan dalam Hz
f) energi foton cahaya yang disinarkan
g) energi kinetik dari elektron yang lepas dari logam

Pembahasan
Skemanya seperti ini

Logam yang di dalamnya terdapat elektron-elektron disinari oleh cahaya yang memiliki energi E. Jika
energi cahaya ini cukup besar, maka energi ini akan dapat melepaskan elektron dari logam, dengan
syarat, energi cahayanya lebih besar dari energi ambang bahan. Elektron yang lepas dari logam atau
istilahnya fotoelektron akan bergerak dan memiliki energi kinetik sebesar Ek
Hubungan energi cahaya yang disinarkan E, energi ambang bahan Wo dan energi kinetik fotoelektron
Ek adalah
E = Wo + Ek
atau
hf = hfo + Ek

a) energi ambang logam dalam satuan joule


Wo = 2,1 x (1,6 x 10−19 ) joule = 3,36 x 10−19 joule

b) frekuensi ambang
Wo = h fo
3,36 x 10−19 = 6,6 x 10−34 x fo
fo = 0,51 x 1015

c) panjang gelombang maksimum yang diperlukan untuk melepas elektron dari logam
λmax = c / fo
λmax = 3 x 108 / 0,51 x 1015
λmax = 5,88 x 10−7 m d) panjang gelombang dari cahaya yang disinarkan dalam meter
λ = 2500 Å = 2500 x 10−10 m = 2,5 x 10−7 m

e) frekuensi dari cahaya yang disinarkan dalam Hz


f = c/λ
f = 3 x 10 8/2,5 x 10−7
f = 1,2 x 10 15 Hz

f) energi cahaya yang disinarkan


E = hf
E = (6,6 x 10−34) x 1,2 x 10 15 = 7,92 x 10 −19 joule

g) energi kinetik dari elektron yang lepas dari logam


E = Wo + Ek 7,92 x 10 −19 = 3,36 x 10−19 + Ek
Ek = 7,92 x 10 −19 − 3,36 x 10−19 = 4,56 x 10−19 joule

Frekuensi ambang suatu logam sebesar 8,0 × 1014 Hz dan logam tersebut disinari dengan cahaya
yang memiliki frekuensi 1015 Hz. Jika tetapan Planck 6,6 × 1014 Js, tentukan energi kinetik elekton
yang terlepas dari permukaan logam tersebut!

Penyelesaian:

Diketahui:

f0 = 8,0 × 1014 Hz
f = 1015 Hz
h = 6,6 × 10-34 Js

Ditanya: Ek = ...?

Pembahasan :

Ek = h.f – h.f0
Ek = 6,6 × 10-34 (1014 – (8,0 × 1014))
Ek = 1,32 × 10-19 J
Penerapan Efek Fotolistrik pada Sel Surya

Gambar 3. Panel Sel Suya. (Foto : inhabitat.com)


Sel surya atau sel fotovoltaik adalah memanfaatkan efek fotolistrik untuk membangkitkan arus listrik
dari cahaya matahari. Efek fotolistrik muncul ketika cahaya tampak atau radiasi ultraviolet jatuh ke
permukaan benda tertentu. Cahaya atau radiasi mendorong elektron keluar dari benda tersebut, yang
jumlahnya dapat diukur dengan meteran listrik.

Keunikan efek fotolistrik adalah ia hanya muncul ketika cahaya yang menerpa memiliki frekuensi di
atas nilai ambang tertentu. Di bawah nilai ambang tersebut, tidak ada elektron yang terpancar keluar,
tidak peduli seberapa banyak cahaya yang menerpa benda. Frekuensi minimum yang kemunculan
efek fotolistrik tergantung pada jenis bahan yang disinari.

2. Efek Compton

Gejala Compton merupakan gejala hamburan (efek) dari penembakan suatu materi dengan sinar-X.
Efek ini ditemukan oleh Arthur Holly Compton pada tahun 1923. Jika sejumlah elektron yang
dipancarkan ditembak dengan sinar-X, maka sinar-X ini akan terhambur. Hamburan sinar-X ini
memiliki frekuensi yang lebih kecil daripada frekuensi semula.

Menurut teori klasik, energi dan momentum gelombang elektromagnetik dihubungkan oleh:

E = p.c

E2 = p2.c2 + (m.c2)2 ............................................... (3)

Jika massa foton (m) dianggap nol. Gambar 3. menunjukkan geometri tumbukan antara foton dengan
panjang gelombang λ, dan elektron yang mula-mula berada dalam keadaan diam.
Gambar 4. Gejala Compton sinar-x oleh elektron.

Compton menghubungkan sudut hamburan θ terhadap yang datang dan panjang gelombang
hamburan λ1 dan λ2. p1 merupakan momentum foton yang datang dan p2 merupakan momentum
foton yang dihamburkan, serta p.c merupakan momentum elektron yang terpantul.

Kekekalan momentum dirumuskan:

p1 = p2 + pe atau pe = p1 – p2

Dengan mengambil perkalian titik setiap sisi diperoleh:

pe2 = p12 + p22 – 2p1p2cos θ .................................. (4)

Kekekalan energi memberikan:

Hasil Compton adalah:


Permukaan benda pada suhu 37 oC meradiasikan gelombang elektromagnetik. Bila nilai konstanta
Wien = 2,898 x 10-3 m.K, maka panjang gelombang maksimum radiasi permukaaan adalah….
A. 8,898 x 10-6 m
B. 9,348 x 10-6 m
C. 9,752 x 10-6 m
D. 10,222 x 10-6 m
E. 11,212 x 10-6 m

Suatu permukaan logam yang fungsi kerjanya 4 . 10-19 joule disinari cahaya yang panjang
gelombangnya 3300 Ǻ. Tetapan Planck = 6,6 . 10-34 J.s dan cepat rambat cahaya = 3 . 10 8 m/s,
energi kinetik maksimum elektron adalah…
A. 2,4 . 10-21 joule
B. 1,2 . 10-20 joule
C. 2,0 . 10-19 joule
D. 4,6 . 10-19 joule
E. 6 . 10-18 joule
1. Frekuensi ambang suatu logam sebesar 8,0 × 1014 Hz dan logam tersebut disinari dengan cahaya
yang memiliki frekuensi 1015 Hz. Jika tetapan Planck 6,6× 10-34 Js, tentukan energi kinetik elekton
yang terlepas dari permukaan logam tersebut!

Penyelesaian:

Diketahui: f0 = 8,0 × 1014 Hz

f = 1015 Hz

h = 6,6 × 10-34 Js

Ditanya: Ek = …?

Jawab: Ek = h.f – h.f0

= 6,6 × 10-34(1015 – (8,0 × 1014))

= 1,32 × 10-19 J

2. Sebuah logam mempunyai frekuensi ambang 4 x 1014 Hz. Jika logam tersebut dijatuhi foton
ternyata elektron foto yang dari permukaan logam memiliki energi kinetik maksimum sebesar 19,86
× 10-20 Joule. Hitunglah frekuensi foton tersebut!

(h = 6,62 × 10-34 Js)

Penyelesaian :

Diketahui : f o = 4 × 1014 Hz
Ek = 19,86 × 10-20 J

h = 6,62 × 10-34 Js

Ditanyakan : f = …?

Jawab : Wo = hfo

= 6,62 × 10-34 × 4 × 1014 J

= 26,48 × 10-20 J

E = Ek + Wo= hf

f = Ek+ Wo /h

=(19,86 ×10-20+26,48×10-20)/ 6,62×10-34

= 7 × 1014 Hz

Jadi frekuensi foton sebesar 7 × 1014 Hz

Contoh Soal 2 :

Jika h = 6,6 × 10-34 Js, c = 3,0 × 108 m/s, dan m = 9,0 × 10-31 kg, tentukan perubahan panjang
gelombang Compton!

Penyelesaian:

Diketahui:

h = 6,6 × 10-34 Js

c = 3,0 × 108 m/s

m = 9,0 × 10-31 kg

Ditanya: Δλ = ... ?
Pembahasan :

Contoh Soal 3 :

Sebuah foton dengan panjang gelombang 0,4 nm menabrak sebuah elektron yang diam dan
memantul kembali dengan sudut 150o ke arah asalnya. Tentukan kecepatan dan panjang gelombang
dari foton setelah tumbukan!

Penyelesaian:

a. Laju foton selalu merupakan laju cahaya dalam vakum, c yaitu 3 × 108 m/s.

b. Untuk mendapatkan panjang gelombang setelah tumbukan, dengan menggunakan persamaan


efek compton:

Pembahasan :

Elektron bermassa 9,0 x 10-31 kilogram bergerak dengan kecepatan 2,2 x 107 ms10-1 (Tetapan Planck
= 6,6 x 10-34 Js) memiliki panjang gelombang de Broglie sebesar…..
A. 3,3 x 10-11 m
B. 4,5 x 10-11 m
C. 5,2 x 10-11 m
D. 6,7 x 10-11 m
E. 8,0 x 10-11 m