Anda di halaman 1dari 6

[ TINJAUAN PUSTAKA ]

Faktor Risiko Tuberkulosis Multidrug Resistant (TB-MDR)

Mohammad Syahrezki
Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

Abstrak
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. TB masih
merupakan masalah global kesehatan. Penyakit ini merupakan penyakit infeksi kedua yang menyebabkan kematian
diseluruh dunia setelah penyakit Human Immunno Deficiency Virus (HIV). Estimasi terakhir pada tahun 2013 terdapat 9 juta
kasus baru TB dan 1,5 juta kematian yang diakibatkan TB. Prevalensi penduduk Indonesia yang didiagnosis TB oleh tenaga
kesehatan tahun 2013 adalah 0.4 persen. Dari seluruh penduduk yang didiagnosis TB paru oleh tenaga kesehatan, hanya
44.4% diobati dengan obat program. Multi Drug Resistant (TB-MDR) merupakan masalah terbesar dalam pencegahan dan
pemberantasan TB dunia. TB-MDR adalah penyakit yang disebabkan Mycobacterium tuberkulosis yang resisten minimal
terhadap rifampisin dan isoniazid. Indonesia berada di peringkat 8 dari 27 negara dengan TB-MDR terbanyak di dunia.
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya TB-MDR antara lain faktor dokter, pasien, obat, dan
program nasional TB. [J Agromed Unila 2015; 2(4):413-418]

Kata kunci: tuberkulosis, resistensi obat, TB-MDR, faktor risiko

Risk Factor of MultiDrug Resistant Tuberculosis (TB-MDR)


Abstract
Tuberkulosis (TB) is infectious disease which caused by Mycobacterium tuberculosis. TB is a global health problem. This
infectious disease is the second disease that caused death around the world after Immunno Deficiency Virus (HIV). The latest
estimation in 2013 showed 9 millions new cases of TB and 1,5 Millions death caused by TB. Indonesian citizen prevalence
that diagnosed by TB by medical personel in 2013 is only 0,4 percent. Of all the people diagnosed TB by medical personel,
only 44.4% is treated by programmed drug. Multi Drug Resistant (TB-MDR) is the biggest obstacle in prevention dan
eradication of TB in the world. TB-MDR is a disease caused by resistant Mycobacterium tuberkulosis of rifampisin or
isoniazid. Indonesia is number 8th of 27 country with the highest number of TB-MDR all over the world. There is many
factor that can caused TB-MDR such as factor of doctor, patient, drug, and the national TB program. [J Agromed Unila
2015; 2(4):413-418]

Keywords: drug resistant, MDR-TB, risk factor, tuberculosis

Korespondensi: Mohammad Syahrezki | JL.Untung Suropati Gg Somad no 23 | HP 081271283443


e-mail: syahrezki@gmail.com

Pendahuluan (4%) Dan daerah Amerika (3%). Terdapat enam


Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit negara yang memiliki insidensi kasus TB
menular yang disebabkan oleh kuman terbesar pada tahun 2013 India sebanyak 2,3
Mycobacterium tuberculosispenyakit ini juta, Cina sebanyak 1,1 juta, Nigeriasebanyak
menyebar melalui droplet yang dikeluarkan 880,000, paskistan sebanyak 650,000,
oleh penderita TB lainnya. Penyakit ini Indonesia sebanyak 520,000 dan afrika
merupakan penyakit infeksi kedua yang selatansebanyak 440,000. India dan Cina
menyebabkan kematian diseluruh dunia bertanggung jawab atas 24% and 11% dari
setelah penyakit human immunno deficiency kasus global,dari 9 juta insidensi kasus,
virus (HIV), hal ini menyebabkan TB menjadi diperkirakan 550 000 adalah anak-anak and 3,3
salah satu masalah kesehatan dunia. Perkiraan juta adalah wanita. Prevalensi penduduk
terakhir pada tahun 2013 terdapat 9 juta kasus Indonesia yang didiagnosis TB paru oleh tenaga
baru TB dan 1,5 juta kematian yang diakibatkan kesehatan tahun 2013 adalah 0.4 persen, Lima
TB. Kebanyakan kasus yang diestimasikan pada provinsi dengan TB paru tertinggi adalah Jawa
tahun 2013 terjadi di Asia (56%) dan daerah Barat (0.7%), Papua (0.6%), DKI Jakarta (0.6%),
Afrika (29%), sebagian kecil dari kasus terjadi di Gorontalo (0.5%), Banten (0.4%) dan Papua
daerah Meditterania timur (8%), daerah Eropa Barat (0.4%). Dari seluruh penduduk yang
Mohammad Syahrezki | Faktor Risiko Tuberkulosis Multidrug Resistant (TB-MDR)

didiagnosis TB paru oleh tenaga kesehatan, bahwa pengobatan terhadap tuberkulosis


hanya 44.4% menerima pengobatan melwati dengan resistensi ganda ini amat sulit dan
program kesehatan. Lima provinsi terbanyak memerlukan waktu yang lama bahkan sampai
yang mengobati TB dengan obat program 24 bulan. Hasil pengobatan terhadap resistensi
adalah DKI Jakarta (68.9%). DI Yogyakarta ganda tuberkulosis ini juga kurang
(67,3%), Jawa Barat (56,2%), Sulawesi Barat mengembirakan. Faktor ketidakpatuhan pasien
(54,2%) dan Jawa Tengah (50.4%).1,2 TB dalam pengobatan diyakini menj adi faktor
Indonesia merupakan negara pertama utama bersama faktor pengobatan tidak
diantara High Burden Country (HBC) di wilayah adekuat yang menjadi.4,5
Asia Tenggara yang mampu mencapai target
global TB dalam hal keberhasilan pengobatan Isi
serta deteksi pada tahun 2006. Tercatat Tuberkulosis merupakan suatu infeksi
sejumlah sejumlah 294.732 kasus TB telah airborne yang disebabkan oleh Mycobacterium
ditemukan dan diobati dan lebih dari 169.213 tuberculosis sebuah bakteri tahan asam yang
diantaranya terdeteksi BTA positif pada tahun dapat menyerang paru-paru maupun jaringan
2009. Rerata pencapaian angka keberhasilan lainnya (TB ekstrapulmoner). TB dapat
pengobatan selama 4 tahun terakhir adalah diklasifikasikan menjadi dua kelas berdasarkan
sekitar 90% dan pada kohort tahun 2008 cara pemaparan patogennya yaitu primer dan
mencapai 91%. Pencapaian target global post-primer. Mycobacterium tuberculosis
tersebut menjadi hasil pencapaian program memiliki bentuk rampingbatang tahan asam
pengendalian TB nasional yang utama. Hasil yang dapat diwarnai dengan pewarna Ziehl-
survei prevalensi TB pada tahun 2004 nielsen karena memiliki lemak komples yang
mengenai pengetahuan, sikap dan perilaku mengikat pewarna secara kuat sehingga tidak
menunjukkan bahwa 96% keluarga merawat didekolorisasi. Lemak ini memiliki ketahanan
anggota keluarga yang menderita TB dan hanya yang baik terhadap gangguan fisik dan kimia
13% yang menyembunyikan keberadaan sehingga memiliki kemampuan bertahan hidup
mereka. Meskipun 76% keluarga pernah yang baik. Saat kuman ini berada dilingkungan
mendengar tentang TB dan 85% mengetahui udara bebas, kuman ini merubah sifatnya
bahwa TB dapat disembuhkan, Tetapi hanya kedalam sifat dormant sehingga kuman ini
26% yang dapat menyebutkan minimal dua dapat bertahan hidup dalam cuaca dingin
tanda dan gejala utama TB. Hanya 19% yang maupun udara kering, kemampuan ini pula
mengetahui bahwa obat TB disediakan yang menyebabkan pernyakit memiliki
pemerintah secara gratis.3 kemampuan timbul kembali.6,7
MDR-TB merupakan suatu permasalahan Sebagai gejala TB akan ditemukannya
yang menjadi hambatan utama dunia dalam kelainan jaringan terjadi yang terbentuk akibat
pemberantasan TB. Terdapat beberapa faktor respons tubuh terhadap kuman patogen.
yang ikut berkontribusi dalam meningkatnya Reaksi jaringan yang memiliki karakteristik
jumlah penderita TB-MDR yaitu tingkat khusus ialah terbentuknya granuloma.
pengetahuan penderita dan keluarga terhadap Granuloma merupakan suatu kumpulan padat
penyakitnya, buruknya tingkat kepatuhan sel makrofag. Pada infeksi primer respons awal
minum obat anti tuberkulosis, pemberian yang akan timbul pada jaringan ialah berupa
terapi tunggal yang tidak adekuat, keteraturan sebukan sel-sel radang, baik sel leukosit
berobat yang rendah, motivasi penderita polimorfonukleus (PMN) maupun sel fagosit
kurang, kurang teraturnya suplai obat, mononukleus (MN). Namun kuman TB memiliki
bioavailibity yang buruk dan kualitas obat kemampuan yang baik dalam bertahan hidup
memberikan kontribusi terhadap terjadinya didalam sel fagosiy yang menyebabkan kuman
resistensi obat sekunder. Resistensi obat ini mampu berpliriferasi dalam sel dan
antituberkulosis (OAT) sangat erat mematikan sel fagosit. Setelah itu sel fagosit
hubungannya dengan riwayat pengobatan mononukleus baru masuk dalam jaringan dan
sebelumnya. Pasien yang pernah diobati menelan kuman yang baru terlepas sehingga
sebelumnya mempunyai kemungkinan resisten terjadi pertukaran sel fagosit mononukleus
4 kali lebih tinggi dan untuk TB-MDR lebih 10 yang intensif dan berkesinambungan. Secara
kali lebih tinggi daripada pasien yang belum selluler didapatkan sel monosit akan semakin
pernah menjalani pengobatan. Harus diakui membesar, intinya menjadi eksentrik,

J Agromed Unila | Volume 2 | Nomor 4 | November 2015 | 414


Mohammad Syahrezki | Faktor Risiko Tuberkulosis Multidrug Resistant (TB-MDR)

sitoplasmanya bertambah banyak dan tampak batu darah, badan lemas, sesak nafas,
pucat, disebut sel epiteloid. Sel tersebut berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik,
membentuk kelompok dengan konsistensi nafsu makan menurun, berat badan menurun
padat sehingga menyerupai sel epitel tanpa malaise, demam meriang lebih dari satu bulan.
jaringan diantaranya, namun tidak ada ikatan Gejala-gejala tersebut dapat dijumpai pula
interseluler dan bentuknya pun tidak sama pada penyakit paru-paru selain TB, seperti
dengan sel epitel. Sebagian dari sel epiteloid ini asma, bronkiektasis, asma, kanker paru,
akan membentuk sel datia yang memiliki bronkitis kronis, dan lain-lain. Karena tingginya
banyak inti, dan sebagian sel datia ini prevalensi TB paru di Indonesia, maka setiap
berbentuk sel datia Langhans yaitu sel yang orang yang datang ke unit pelayanan
memiliki inti melingkar ditepi dan sebagian kesehatan dengan gejala tersebut diatas,
berupa sel datia benda asing yang memiliki inti dianggap sebagai tersangka (suspek) pasien TB,
tersebar dalam sitoplasma. granuloma ini sehingga perlu dilakukan skoring pada pasien
nantinya akan dikelilingi oleh sel limfosit, sel anak dan pemeriksaan dahak secara
plasma, kapiler dan fibroblas. Di bagian tengah mikroskopis langsung pada pasien remaja dan
selnya akan mengalami nekrosis yang disebut dewasa.9,10
perkijuan, dan jaringan di sekitarnya menjadi Pemeriksaan dahak dapat digunakan
sembab serta terjadi penurunan jumlah untuk menegakkan diagnosis, menentukan
mikroba. Granuloma ini dapat mengalami potensi penularan dan menilai keberhasilan
beberapa perkembangan , bila jumlah mikroba pengobatan. Pemeriksaan dilakukan dengan
terus berkurang maka granuloma membentuk mengumpulkan 3 spesimen dahak yang
simpai jaringan ikat mengelilingi reaksi dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang
peradangan sehingga terjadi penimbunan berurutan berupa dahak Sewaktu-Pagi-
garam kalsium pada bahan perkijuan. Bila Sewaktu (SPS). Diagnosis TB Paru ditegakkan
garam kalsium berbentuk konsentrik maka dengan ditemukannya kuman TB (BTA).
disebut cincin Liesegang . Bila mikroba virulen Penemuan Bakteri tahan asam melalui
atau resistensi jaringan rendah, granuloma pemeriksaan dahak merupakan diagnosis
akan membesar secara sentrifugaldan akan utama, pemeriksaan lain seperti foto toraks,
membentuk granuloma satelit yang dapat biakan dan uji kepekaan dapat digunakan
menyatu sehingga granuloma membesar. Sel sebagai diagnosis penunjang jika sesuai dengan
epiteloid dan makrofag menghasilkan enzim indikasinya. Diagnosis yang hanya didasarkan
protease dan hidrolase yang dapat mencairkan dengan pemeriksaan foto torkas tidak dapat
bahan kaseosa. Ketika isi granuloma mencair, dibenarkan karena foto toraks tidak selalu
kuman tumbuh secara cepat dalam jaringan menampilkan gambaran yang khas pada TB.
ekstrasel dan terjadi perluasan penyakit. Reaksi Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu
jaringan yang dialami antara individu yang menunjukkan aktifitas penyakit. pemeriksan
belum pernah terinfeksi dan yang sudah radiologis bertujuan untuk mengidentifikasi
pernah terinfeksi akan berbeda. Pada individu seseorang dengan TB Paru aktif atau untuk
yang telah terinfeksi sebelumnya reaksi mengetahuihasil pengobatan TB yang sudah
jaringan terjadi lebih cepat dan keras dengan dilakukan. Seringkali pemeriksaan radiologis
disertai nekrosis jaringan. Akan tetapi digunakan untuk mendampingi pemeriksaan
pertumbuhan kuman tertahan dan penyebaran tes kulit tuberkulin, namun sering kali hal ini
infeksi terhalang. Ini merupakan manifestasi sering tidak reliabel dan sering pembacaan
reaksi hipersensitivitas dan imunitas.8 hasil dari pemeriksaan ini sering tidak dapat
Gejala penyakit TB dapat klasifikasi dipraktekkan.11,12
menjadi gejala umum dan gejala khusus yang Pada sebagian besar kasus TB paru,
timbul sesuai dengan organ yang terlibat. diagnosis dapat ditegakkan dengan hanya
Gambaran secara klinis tidak terlalu khas pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Namun
kasus baru, sehingga cukup sulit untuk pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks
menegakkan diagnosa secara klinik. Gejala perlu dilakukan bila terdapat beberapa indikasi
utama pasien TB paru yang biasa dialami yaitu Hanya terdapat 1 dari 3 spesimen dahak
adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau SPS yang hasil pemeriksaaanya BTA positif
lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada
tambahan yaitu dahak yang bercampur darah, diperlukan untuk medapatkan diagnosis

J Agromed Unila | Volume 2 | Nomor 4 | November 2015 | 415


Mohammad Syahrezki | Faktor Risiko Tuberkulosis Multidrug Resistant (TB-MDR)

definitif TB paru BTA positif. Indikasi lainnya menurunkan beban dunia dari TB pada tahun
adalah jika Ketiga spesimen dahak hasilnya 2015 dengan mencapai MDG, tujuan ini
tetap negatif setelah dilakukan pemeriksaan 3 diharapkan dapat dicapai dengan mencapai 4
spesimen dahak SPS pada pemeriksaan objektif yaitu menurunkan penderitaan dan
sebelumnya yang menghasilkan BTA negatif beban sosial ekonomi yang berkaitan dengan
dan tidak ada perbaikan klinis setelah TB, melindungi populasi yang terancam dari TB,
pemberian antibiotika non Obatan anti TB/HIV dan TB-MDR, mendukung
tuberkulosis dan non fluoroquinolon. indikasi perkembangan penelitian. Istilah DOT diartikan
terakhir adalah bila pasien diduga mengalami sebagai pengawasan langsung menelan obat
komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan jangka pendek setiap hari oleh Pengawas
penanganan khusus seperti pneumotorak, efusi Menelan Obat (PMO). Pengawasan pada
perikarditis, efusi pleural atau pleuritis penderita yang berobat jalan dapat dilakukan
eksudativa dan untuk menyingkirkan diagnosis dengan melakukan penelanan langsung
banding bronkiekitaksis atau aspergiloma pada didepan dokter, PMO oleh petugas kesehatan,
pasien yang mengalami hemoptisis .10,12 suami/istri/orang serumah. Bagi penderita
Uji tuberkulin memperlihatkan bahwa rawat inap dapat dilakukan oleh petugas
infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis dapat rumah sakit.15,16
menyebabkan reaksi delayed-type Obat anti tuberkulosis adalah
hypersensitivity terhadap komponen antigen antimikroba yang digunakan untuk
yang berasal dari ekstrak Mycobacterium mengeradikasi kuman Mycobacterium
tuberculosis atau tuberkulin. Pada anak, uji tuberculosis. Pengobatan tuberkulosis dapat
tuberkulin merupakan salah satu pemeriksaan dibedakan menjadi dua fase yaitu fase yaitu
yang paling bermanfaat untuk mendiagnosis fase intensif yang berjalan 2 hingga 3 bulan dan
apakah dia pernah terinfeksi ataupun sedang dilanjutkan dengan fase tambahan 4 atau 7
terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis bulan.17
sehingga pemeriksaan ini sering digunakan Resistensi obat pada strain
sebagaiScreening TB bagi anak. Efektifitas uji Mycobacterium tuberculosis merupakan suatu
tuberkulin dalam mendiagnosis penyakit TB kemampuan kuman dalam beradaptasi dari
adalah sebesar 90%. Penderita anak umur kemampuan OAT yang digunakan. Terdapat
kurang dari 1 tahun yang menderita TB aktif uji beberapa tingkatan dalam resistensi obat,
tuberkulin menghasilkan hasil positif dengan rifampisin monoresisten yang merupakan
presentase 100%, umur 1–2 tahun presentase strain yang resisten terhadap OAT rifampisin,
92%, 2–4 tahun presentase 78%, 4–6 tahun TB-MDR yaitu strain yang resisten terhadap
presentase 75%, dan umur 6–12 tahun rifampisi dan isoniazid, dan TB-XDR yaitu TB-
presentase 51%. Dari persentase tersebut MDR yang resisten juga terhadap
dapat dilihat bahwa hasil uji tuberkulin fluoroquinolon dan minimal salah satu dari
semakin tidak efektif dengan berjalannya usia OAT injeksi lini kedua.13,18
seorang anak.10,13 TB-MDR merupakan masalah terbesar
Strategi pemberantasan TB global sudah terhadap pencegahan dan pemberantasan TB
sangat berkembang sejak didunia. Indonesia memiliki prevalensi
diimplementasikannya DOTS secara luas, penderita TB sebesar 253/100.000 penduduk
namun secara statistik penggunaan DOTS saja pada tahun 2006 dengan angka kematian
tidak dapat memberikan hasil yang maksimal. 38/100.000 penduduk. Angka penderita TB
The World Health Assembly membentuk suatu kasus baru didapatkan TB-MDR 2% dan kasus
strategi baru berdasarkan pengembangan dari TB yang telah mendapat terapi didapatkan
DOTS yaitu The stop TB strategy, strategi ini MDR 19%. Insidens TB-MDR diperkirakan
dikeluarkan secara remi pada hari TB dunia meningkat 2% setiap tahunnya. Secara
pada tahun 2006 yang dirancang untuk keseluruhan prevalens TB-MDR di dunia
mencapai Millenium Development Goal (MDG) diperkirakan 4,3%. Resistensi yang dimiliki oleh
yang terkait dengan TB. Strategi ini diharapkan kuman Mycobacterium tuberculosis
dapat memberantas TB pada periode 2006- menyebabkan berkurangnya efektifitas
2015.14 kemoterapi sehingga angka kesembuhan hanya
The Stop TB Strategy memiliki visi dunia sekitar 59-70% sehingga menyulitkan
yang bebas TB dengan tujuan utama

J Agromed Unila | Volume 2 | Nomor 4 | November 2015 | 416


Mohammad Syahrezki | Faktor Risiko Tuberkulosis Multidrug Resistant (TB-MDR)

suksesnya program penyembuhan bagi dokter, pasien, obat, dan sistem pelayanan
penderita TB-MDR.19 kesehatan.
Secara besar faktor risiko terjadinya
resistensi obat pada pasien TB-MDR pada Daftar Pustaka
umumnya terdapat 4 faktor yaitu faktor pasien, 1. World Health Organisation. Global
faktor dokter, faktor obat, dan faktor tuberculosis report [internet]. Geneva:
pelayanan kesehatan. Faktor dokter meliputi WHO; 2014 [disitasi tanggal 6 Juni 2015].
seberapa baik dokter dalam memberikan tersedia dari
edukasi meliputi penyakit TB itu sendiri, www.who.int/tb/publications/global_repo
penobatan, maupun TB-MDR atau rt/en/
kemungkinan terjadinya resitensi obat. Faktor 2. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
pasien meliputi ada tidaknya pengawas minum Riset kesehatan dasar. Jakarta: Kemenkes
OAT, dukungan keluarga, tingkat kemampuan RI; 2013.
ekonomi pasien, jarak rumah ketempat 3. Kementerian Kesehatan Republik
pelayanan kesehatan, tingkat pendidikan dan Indonesia. Strategi nasional pengendalian
pengetahuan pasien terhadap TB itu sendiri. tb di Indonesia 2010-2014. Jakarta:
Faktor obat meliputi pengetahuan pasien Kemenkes RI; 2011
mengenai jenis, dosis, pemakaian, serta efek 4. Masniari L, Priyanti S, Tjandra Y. Faktor-
samping dari OAT. Faktor pelayan sistem faktor yang mempengaruhi kesembuhan
kesehatan meliputi jarak dari rumah ke tempat penderita tb paru. Respir Indo. 2007;
pelayanan kesehatan, program kesehatan, dan 3(27):176-85.
ketersediaan obat.19 5. Nofizar D, Nawas A, Burhan E. Identifikasi
Menurut Sarwani faktor risiko untuk faktor risiko turberkulosis multidrug
terjadinya MDR–TB adalah infeksi HIV, sosial resistant (tb-mdr). Maj Kedokt Indones.
ekonomi, kelompok umur, jenis kelamin, 2010; 60:537-45.
konsumsi rokok dan alkohol, adanya penyakit 6. Santic Z, Kristina G. Epidemiology of
diabetes, dosis obat yang tidak tepat tuberculosis during the period 1703–2011:
sebelumya dan pengobatan terdahulu dengan honoring the world tuberculosis day.
suntikan dan fluoroquinolon . penelitian liu Materia Socio-Medica. 2013; 25(4):291.
diChina menyebutkan bahwa faktor risiko 7. Robbins S, Kumar V. Buku ajar patologi.
MDR-TB adalah jenis kelamin perempuan, usia Edisi ke-8. Jakarta: EGC; 2007.
muda, sering bepergian, pernah menjalani 8. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi, konsep
pengobatan sebelumnya, dantinggal pada klinis proses-proses penyakit. Edisi ke-6.
lingkungan rumah padat penduduk.20,21 Jakarts: EGC; 2003.
9. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,
Ringkasan Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu
TB merupakan suatu penyakit infeksi penyakit dalam. Edisi ke-5. Jakarta:
yang menjadi masalah global, penyakit ini Interna Publishing; 2009.
merupakan penyakit infeksi kedua sebagai 10. Kusuma HM. Diagnostik tuberkulosis baru.
penyebab kematian setelah HIV. TB-MDR Sari Pediatr. 2007; 8(4):143-51.
merupakan suatu komplikasi dimana terjadi 11. Firmansyah R. hubungan uji igG anti-tb
proses resistensi oleh minimal satu jenis obat dengan foto thorax gambaran primer
yaitu rifampisin dan isoniazid. Faktor yang kompleks tb pada penderita tb paru
dapat mempengaruhi terjadinya resistensi [disertasi]. Solo: Universitas Sebelas Maret;
antara lain infeksi HIV, jenis kelamin, 2010.
kelompok umur,sosial ekonomi, merokok, 12. Rasad S. Radiologi diagnostik. Edisi ke-2.
diabetes,konsumsi alkohol, pasien TB paru dari Jakarta: FKUI; 2006.
daerah lain (pasien rujukan), dosis obat yang 13. Biadglegne F, Sack U, Rodloff AC.
tidak tepat sebelumya dan pengobatan Multidrug-resistant tuberculosis in
terdahulu. Ethiopia: efforts to expand diagnostic
services, treatment and care.
Simpulan Antimicrobial Resistance and Infection
Terdapat 4 faktor risiko yang dapat Control. 2014; 3(1):1-10.
mempengaruhi kejadian TB-MDR yaitu faktor

J Agromed Unila | Volume 2 | Nomor 4 | November 2015 | 417


Mohammad Syahrezki | Faktor Risiko Tuberkulosis Multidrug Resistant (TB-MDR)

14. World Health Organisation. Implementing resistant tuberculosis. Geneva: WHO;


the stop tb strategy. Geneva: WHO; 2008. 2008.
15. Bagiada I, Ni Luh Putri Primasari. Faktor- 19. Munir SM, Arifin N, Dianiati KS.
faktor yang mempengaruhi tingkat Pengamatan pasien tuberkulosis paru
ketidakpatuhan penderita tuberkulosis dengan multidrug resistant (tb-mdr) di
dalam berobat di poliklinik dots RSUP poliklinik paru rsup persahabatan. J
Sanglah Denpasar. Journal of Internal Respirologi Indonesia. 2008; 30(2):92-103.
Medicine. 2010; 11(3):120-5. 20. Sarwani D, Nurlaela S, Zahrotul I. Faktor
16. World Health Organisation. The stop tb risiko multidrug resistant tuberculosis
strategy. Geneva: WHO; 2006. (mdr-tb). J Kesehatan Masyarakat. 2012;
17. Longo DL, Kasper DL, Jameson JL, Fauci AS, 8(1):60-6.
Hauser SL, et al. Harrison’s principle of 21. Liu Q, Zhu LM, Shao Y, Song H, Li G, Zhou Y,
internal medicine. Edisi ke-18. New York: et al. Rates and risk factors for drug
Graw-Hill; 2012. resistance tuberculosis in Northeastern
18. World Health Organisation. Guidelines for China. BMC Public Health. 2013;
the programmatic management of drug 13(1):1711

J Agromed Unila | Volume 2 | Nomor 4 | November 2015 | 418