Anda di halaman 1dari 33

REFERAT

FISIOLOGI MENSTRUASI

Pembimbing :

Dr. Surya Adi Pramono, SpOG

Disusun oleh :

Kevin Giovanno

11.2016.030

KEPANITERAAN KLINIK

DEPARTEMEN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA

RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO JAKARTA

PERIODE 16 OKTOBER 2017 – 23 DESEMBER 2017

1
LEMBAR PENGESAHAN KOORDINATOR PENDIDIKAN

OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

Presentasi referat dengan judul :

FISIOLOGI MENSTRUASI

Diajukan untuk untuk memenuhi syarat mengikuti ujian Kepaniteraan Klinik di Departemen
Obstetrik dan Ginekologi

Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gotot Soebroto

Disusun oleh :

Kevin Giovanno

11.2016.030

Telah disetujui dan disahkan oleh Pembimbing :

Nama Pembimbing Tanda Tangan Tanggal

Dr. Surya Adi Pramono, SpOG ……………... ………….

Mengesahkan :

Koordinator Pendidikan S1 Obstetri dan Ginekologi

Dr. Surya Adi Pramono, SpOG

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
dan kasihNya penulis dapat menyelesaikan referat berjudul Fisiologi Menstruasi ini dengan baik
meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga penulis berterima kasih pada dr. Surya Adi
Pramono, SpOG selaku Dosen dan Koordinator S1 Obstetri dan Ginekologi RSPAAD Gatot
Soebroto yang telah memberikan tugas ini kepada penulis.
Penulis sangat berharap referat ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai fisiologi dan siklus menstruasi secara normal. Penulis juga
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata
sempurna. Oleh sebab itu, penulis berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan
makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga referat ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang
telah disusun ini dapat berguna bagi penulis sendiri maupun orang yang membacanya.

Jakarta, 14 November 2017

Penulis

3
BAB I. PENDAHULUAN

I.I. Latar Belakang


Menstruasi adalah siklus discharge fisiologik darah dan jaringan mukosa melalui vagina
dari uterus yang tidak hamil, dibawah kendali hormonal dan berulang secara normal, biasanya
interval sekitar empat minggu (28 hari) tanpa adanya kehamilan selama periode reproduktif pada
wanita dan beberapa spesies primata 1. Discharge dari menstruasi terdiri dari cairan jaringan
(20-40%,), darah (50 – 80 %), dan fragmen-fragmen endometrium. Menstruasi terjadi dengan
selang waktu 21 – 35 hari (dihitung dari hari pertama keluarnya darah menstruasi hingga hari
pertama berikutnya 2.
Menstruasi dapat dianggap normal bila terjadi dalam rentang waktu 21 – 35 hari, lamanya
perdarahan kurang dari 7 hari, dan jika jumlah darah yang hilang tidak melebihi 80 cc. Jika tidak
demikian maka seseorang dianggap mengalami gangguan dalam menstruasi. Gangguan
menstruasi paling umum terjadi pada awal dan akhir masa reproduksi, yaitu dibawah usia 19
tahun dan di atas usia 39 tahun 2.
Cakir, et al (2007) dalam penelitiannya di Turki menemukan bahwa dismenorea
merupakan gangguan menstruasi dengan prevalensi terbesar (89,5%), diikuti ketidakteraturan
menstruasi (31,2%), serta perpanjangan durasi menstruasi (5,3%). Pada pengkajian terhadap
penelitian- penelitian lain didapatkan prevalensi dismenorea bervariasi antara 15,8-89,5%,
dengan prevalensi tertinggi pada remaja.7 Mengenai gangguan lainnya, Bieniasz, et al (2007)
dari Wroclaw Medical University mendapatkan prevalensi amenorea primer sebanyak 5,3%,
amenorea sekunder 18,4%, oligomenorea 50%, polimenorea 10,5%, dan gangguan campuran
sebanyak 15,8%. Dalam penelitian Yassin (2012) di Alexandria, persentasi remaja putri yang
mengalami polimenorea adalah 6,8%, oligomenorea adalah 8,4%, menoragia adalah 2,5% dan
hipomenorea adalah 12,4% 5.
Dalam RISKESDAS (2010) dinyatakan bahwa persentase perempuan usia 10-59 tahun di
Sulawesi Selatan yang mengalami haid tidak teratur sebesar 14,5%. Lebih rinci lagi, sebanyak
11,7% remaja berusia 15-19 tahun di Indonesia mengalami haid tidak teratur dan sebanyak
14,9% perempuan yang tinggal di daerah perkotaan di Indonesia mengalami haid tidak teratur 5.

4
Berdasarkan uraian di atas, referat ini bertujuan untuk menerangkan kepada pembaca
tentang fisiologis menstruasi dan apa saja gangguan yang dapat terjadi pada menstruasi.

I.2. Perumusan Masalah


Adapun permasalah dari penulisan referat ini adalah :
I.2.1. Apa pengertian fisiologi menstruasi
1.2.2. Bagaimana proses menstruasi
I.2.2. Apa saja gangguan pada menstruasi

I.3. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan referat ini adalah :
1.3.1. Untuk mengetahui pengertian fisiologi menstruasi
1.3.2. Untuk mengetahui proses fisiologi menstruasi
1.3.2. Untuk mengetahui gangguan-gangguan pada menstruasi

5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

II.1 . Ovarium
Perempuan pada umumnya mempunyai 2 indung telur kanan dan kiri. Mesovarium
menggantung ovarium di bagian belakang ligamentum latum kiri dan kanan. Ovarium
berukuran kurang lebih sebesar ibu jari tangan dengan ukuran panjang kira-kira 4 cm, lebar
dan tebal kira-kira 1,5 cm. Pinggir atasnya atau hilusnya berhubungan dengan mesovarium
tempat ditemukannya pembuluh-pembuluh darah dan serabut-serabut saraf untuk ovarium.
Pinggir bawahnya bebas. Permukaan belakangnya menuju ke atas dan belakang, sedangkan
permukaan depannya ke bawah dan depan. Ujung yang dekat dengan tuba terletak lebih tinggi
daripada ujung yang dekat dengan uterus dan tidak jarang diselubungi oleh beberapa fimbria
dari infundibulum. Ujung ovarium yang lebih rendah berhubungan dengan uterus melalui
ligamentum ovarii proprium tempat ditemukannya jaringan otot yang menjadi satu dengan
jaringan otot di ligamentum rotundum. Embriologik kedua ligamentum berasai dari
gubernakulum.
Struktur ovarium terdiri atas (1) korteks, bagian luar yang diliputi oleh epithelium
germinativum berbentuk kubik dan di dalamnya terdiri atas stroma sena folikel-folikel
primordial; dan (2) medulla, bagian di sebelah dalam korteks tempat terdapatnya stroma
dengan pembuluh-pembuluh darah, serabut-serabut saraf, dan sedikit otot polos.
Diperkirakan pada perempuan terdapat kira-kira 100.000 folikel primer. Tiap bulan satu
folikel akan keluar, kadang-kadang dua folikel, yang dalam perkembangannya akan menjadi
folikel de Graaf. Folikel-folikel ini merupakan bagian terpenting dari ovarium yang dapat
dilihat di korteks ovarii dalam letak yang beraneka-ragam dan pula dalam tingkat-tingkat
perkembangan yang berbeda, yaitu dari satu sel telur yang dikelilingi oleh satu lapisan sel-sel
saja sampai menjadi folikel de Graaf yang matang terisi dengan likuor follikuli, mengandung
estrogen dan siap untuk berovulasi.
Folikel de Graaf yang matang terdiri atas (1) ovum, yakni suatu sel besar dengan
diameter 0,1 mm yang mempunyai nukleus dengan anyaman kromatin yang jelas sekali dan
satu nukleolus pula; (2) stratum granulosum, yang terdiri atas sel-sel granulosa, yakni sel-sel
bulat kecil dengan inti yang jelas pada pewarnaan dan mengelilingi ovum; pada
perkembangan lebih lanjut di tengahnya terdapat suatu rongga terisi likuor follikuli; (3) teka

6
interna, suatu lapisan yang melingkari stratum granulosum dengan sel-sel lebih kecil daripada
sel granulosa; dan (4) teka eksterna, di luar teka interna yang terbentuk oleh stroma ovarium
yang terdesak.
Pada ovulasi folikel yang matang yang mendekati permukaan ovarium pecah dan
melepaskan ovum ke rongga perut. Sel-sel granulosa yang melekat pada ovum dan yang
membentuk korona radiata bersama-sama ovum ikut dilepas. Sebelum dilepas, ovum mulai
mengalami pematangan dalam 2 tahap sebagai persiapan untuk dapat dibuahi.
Setelah ovulasi, sel-sel stratum granulosum di ovarium mulai berproliferasi dan masuk ke
ruangan bekas tempat ovum dan likuor follikuli. Demikian pula jaringan ikat dan pembuluh-
pembuluh darah kecil yang ada di situ. Biasanya timbul perdarahan sedikit,yang menyebabkan
bekas folikel berwarna merah dan diberi nama korpus rubrum. Umur korpus rubrum ini hanya
sebentar. Di dalam sel-selnya timbul pigmen kuning dan korpus rubrum menjadi korpus
luteum. Sel-selnya membesar dan mengandung lutein dengan banyak kapilar dan jaringan
ikat di antararrya. Di tengah-tengah masih terdapat bekas perdarahan. Jika tidak ada
pembuahan ovum, sel-sel yang besar serta mengandung lutein mengecil dan menjadi atrofik,
sedangkan jaringan ikatnya bertambah. Korpus luteum lambat laun menjadi korpus albikans.
Jika pembuahan terjadi, korpus luteum tetap ada, malahan menjadi lebih besar, sehingga
mempunyai diameter 2,5cm pada kehamilan 4 bulan.1

Gambar 1. Ovarium dan Folikel-folikel dalam Berbagai Tingkat Perkembangan.1

7
II.2. Endometrium
Endometrium adalah lapisan epitel yang melapisi rongga rahim. Permukaannya terdiri
atas selapis sel kolumnar yang bersilia dengan kelenjar sekresi mukosa rahim yang berbentuk
invaginasi ke dalam stroma selular. Kelenjar dan stroma mengalami perubahan yang siklik,
bergantian antara pengelupasan dan penumbuhan baru setiap sekitar 28 hari.
Ada dua lapisan; yaitu lapisan fungsional letaknya superfisial yang akan mengelupas
setiap bulan dan lapisan basal ren-rpat lapisan fungsional berasal yang ddak ikut mengelupas.
Epitel lapisan fungsional menunjukkan perubahan proliferasi yang aktif setelahperiode haid
sampai terjadi ovulasi, kemudian kelenjar endometrium mengalami fasesekresi. Kerusakan yang
permanen lapisan basal akan menyebabkan amenore. Kejadian ini dipakai sebagai dasar teknik
ablasi endometrium unruk pengobatan menorragi.
Perubahan normal dalam histologi endometrium selama siklus haid ditandai
denganperubahan sekresi dari hormon steroid ovarium. Jika endometrium terus terpapar oleh
stimulasi estrogen, endogen, atau eksogen akan menyebabkan hiperplasi. Hiperplasi yang
benigna bisa berubah menjadi maligna.
Manusia merupakan salah satu spesies yang mempunyai siklus reproduksi bulanan,
atausetiap 28 hari. Siklus haid terjadi sebagai akibat pertumbuhan dan pengelupasan
lapisanendometrium uterus. Pada akhir fase haid endometrium menebal lagi atau fase proliferasi.
Setelah orulasi pertumbuhan endometrium berhenti, kelenjar atau glandula menjadi lebih aktif
atau fase sekresi.
Perubahan endometrium dikontrol oleh siklus ovarium. Rata-rata siklus 28 hari dan
terdiriatas: (1) fase folikular, (2) ovulasi, dan (3) pascaovulasi atau fase luteal. Jika siklusnya
memanjang, fase folikularnya memanjang, sedangkan fase lutealnya retap 14 hari.
Siklus haid normal karena (1) adanya hypothalamus-pituitary-ovarian endcrine axis,(2)
adanya respons folikel dalam ovarium, dan (3) fungsi uterus.2

8
II.3. Hormon yang Mengontrol Siklus Haid

Gambar 2. Kompartemen-kompartemen yang Berperan dalam Proses Haid.1

Untuk lebih mudah memahami tentang hormone-hormon yang berpengaruh pada siklus haid,
maka dapat dibagi menjadi 4 kompartemen, yaitu :
Kompartemen I : Uterus
Kompartemen II : Ovarium
Kompartemen III : Hipofisis anterior
Kompartemen IV : Hipotalamus
Dan terjadinya siklus haid ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan.

Sekarang diketahui bahwa dalam proses ovulasi harus ada kerja sama antara korteks
serebri, hipotalamus, hipofisis, ovarium, glandula tiroida, glandula suprarenalis, dan kelenjar-
kelenjar endokrin lainnya. Yang memegang peranan penting dalam proses tersebut adalah
hubungan hipotalamus, hipofisis, dan ovarium (hypothalamic-pituitary-ovarian-axis). Menurut
teori neurohormonal yang dianut sekarang, hipotalamus mengawasi sekresi hormone
gonadotropin oleh adenohipofisis melalui sekresi neurohormon yang disalurkan ke sel-sel
adenohipofisis lewat sirkulasi portal yang khusus. Hipotalamus menghasilkan faktor yang telah
dapat diisolasi yang disebut Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) karena dapat

9
merangsang pelepasan Luteinizing Hormone (LH) dan Follicle Stimulating Hormon (FSH) dari
hipofisis. Apakah hipotalamus menghasilkan FSH-Releasing Hormone (FSH-RH) yang terpisah
dari LH-Releasing Hormone (LH-RH) belum lagi pasti karena FSH-RH belum dapat diisolasi.
Releasing Hormone (RH) disebut juga Releasing Factor.
Hipotalamus mengontrol siklus, tetapi ia sendiri dapat dipengaruhi oleh senter yang lebih
tinggi di otak, misalnya kecemasan dan stres dapat mempengaruhi siklus. Hipotalamus memacu
kelenjar hipofisis dengan menyekresi gonadotropin-releasing hormone (GnRH) suatu deka-
peptide yang disekresi secara pulsatil oleh hipotalamus. Pulsasi sekitar setiap 90 menit,
menyekresi GnRH melalui pembuluh darah kecil disistem portal kelenjar hipofisis ke hipofisis
anterior, gonadotropin hipofisis memacu sintesis dan pelepasan follicle-stimulating hormone
(FSH) dan luteinizing-hormone (LH) . Aktivitas siklik dalam ovarium atau siklus ovarium
dipertahankan oleh mekanisme umpan balik yang bekerja antara ovarium, hipotalamus dan
hipofisis. Aktivitas siklik dalam ovarium atau siklus ovarium dipertahankan oleh mekanisme
umpan balik yang bekerja antara ovarium, hipotalamus dan hipofisis.1,2

Gambar 3. Aksis Hipothalamus-hipofisis-ovarium-uterus.1

10
Teori Dua Sel / The Two-Cell, Two-Gonadotropin System

Gambar 4. Teori dua sel.3

Pada awal siklus reseptor LH hanya ada di sel teka dan reseptor FSH ada di sel granulosa.
LH memicu sel teka untuk mensistesa androgen. Androgen sel teka melintasi membrane basalis
masuk ke sel granulose dan oleh FSH diubah menjadi estrogen (aromatisasi). Aktivitas
aromatase dari sel granulosa jauh melebihi yang diamati pada sel teka. Pada manusia, folikel
preantral dan antral, reseptor LH hanya ada pada sel teka dan reseptor FSH hanya pada sel
granulosa.Sel interstisial tekaa, yang terletak pada teka interna, memiliki 20.000 reseptor LH
pada membran sel. Pada respon LH, sel teka terstimlasi untuk menghasilkan androgen yang
dapat diubah, melalui FSH-induced arimatization, menjadi estrogen pada sel granulosa.
Seiring perkembangan folikel, sel-sel theca mulai mengekspresikan gen untuk reseptor
LH, P450scc,dan 3b-hydroxysteroid dehydrogenase. Regulasi yang terpisah (oleh LH) masuknya
kolesterol cAMP ke mitokondria, sangat penting untuk steroidogenesis. Oleh karena itu,
steroidogenesis ovarium bersifat LH-dependent. Sekresi LH diperlukan untuk mempertahankan
vaskularisasi dan sintesa steroid seks (steroidogenesis) di korpus luteum selam a fase luteal.

11
Saat folikel muncul, sel teka yang ditandai dengan ekspresi gen p450c17, tahap enzyme
yang membatasi laku konversi substrat 21-karbon menjadi androgen. Sel granulose tidak
mengekspresikan enzyme dan karenanya bergantung pada androgen dari sel teka untuk membuat
estrogen. Dari sel teka yang membat estrogenm, meningkatnya eskpresi aromatisasi system
(P450arom) merupakan penanda meningkatnya kematangan sel granulose. Kehadiran P450c17
hanya ada di sel teka dan p450arom hanya di sel granulose adalah bukti dari teori dua sel.
Beberapa aromatisasi terjadi, mungkin menggunakan androgen yang berasal dari kelenjar
adrenal, menghasilkan fase awal fase folikuler estradiol, namun steroidogenesis kuat yang biasa
tidak mungkin tanpa kehadiran LH untuk menyediakan produksi androgen.3

II.4. Siklus Ovarium


Fase Folikular
Hari ke-l - 8:
Pada awal siklus, kadar FSH dan LH relatif tinggi dan memacu perkembangan 10 – 20
folikel dengan satu folikel dominan. Folikel dominan tersebut tampak pada fase
midfollicular,sisa folikel mengalami atresia. Relatif tingginya kadar FSH dan LH merupakan
triger turunnya estrogen dan progesteron pada akhir siklus. Selama dan segera setelah haid kadar
estrogen relatif rendah tapi mulai meningkat karena terjadi perkembangan folikel.

Hari ke-9 - 14:


Pada saat ukuran folikel meningkat lokalisasi akumulasi cairan tampak sekitar sei
granulosa dan menjadi konfluen, memberikan peningkatan pengisian cairan di ruang sentral yang
disebut antrum yang merupakan transformasi folikel primer menjadi sebuah Graafian folikel di
mana oosit menempati posisi eksentrik, dikelilingi oleh 2 sampai 3 lapis sel granulosa yang
disebut kumulus ooforus.
Perubahan hormon: hubungannya dengan pematangan folikel adalah ada kenaikan yang
progresif dalam produksi estrogen (terutama estradiol) oleh sel granulosa dari foilikel yang
berkembang. Mencapai puncak 18 jam sebelum ovulasi. Karena kadar estrogen meningkat,
pelepasan kedua gonadotropin ditekan (umpan balik negatif) yang berguna untuk mencegah
hiperstimulasi dari ovarium dan pematangan banyak folikel.

12
Sel granulosa juga menghasilkan inhibin dan mempunyai implikasi sebagai faktor dalam
mencegah jumlah folikel yang matang.1,2,3

Fase Ovulasi
Hari ke-14
Ovulasi adalah pembesaran folikel secara cepat yang diikuti dengan protrusi dari
permukaan korteks ovarium dan pecahnya folikel dengan ekstrusinya oosit yang ditempeli oleh
kumulus ooforus. Pada beberapa perempuan saat ovulasi dapat dirasakan dengan adanya nyeri di
fosa iliaka. Pemeriksaan USG menunjukkan adanya rasa sakit yang terjadi sebelum folikel
pecah.
Perubahan hormon: estrogen meningkatkan sekresi LH (melalui hipotalamus)
mengakibatkan meningkatnya produksi androgen dan estrogen (umpan balik positif).Segera
sebelum ovulasi terjadi penurunan kadar estradiol yang cepat dan peningkatan produksi
progesteron. Ovulasi terjadi dalam 8 jam dari mid-cycle surge LH.3,4,5

Fase Luteal
Hari ke-15 - 28
Sisa folikel tertahan dalam ovarium dipenitrasi oleh kapilar dan fibroblas dari teka.
Selgranulosa mengalami luteinisasi menjadi korpus luteum. Korpus luteum merupakan sumber
utama hormon steroid seks, estrogen dan progesteron disekresi oleh ovarium pada fase pasca-
ovulasi.
Korpus luteum meningkatkan produksi progesteron dan estradiol. Kedua hormone
tersebut diproduksi dari prekursor yang sama. Selama fase luteal kadar gonadotropin mencapai
nadir dan tetap rendah sampai terjadi regresi korpus luteum yang terjadi pada hari ke-26 - 28.
Jika terjadi konsepsi dan implantasi, korpus luteum tidak mengalami regresi karena
dipertahankan oleh gonadotrofinyang dihasilkan oleh trofoblas. Jika konsepsi dan implantasi
tidak terjadi korpu sluteum akan mengalami regresi dan terjadilah haid. Setelah kadar hormon
steroid turunakan diikuti peningkatan kadar gonadotropin untuk inisiasi siklus berikutnya.1,2,3

13
II.5. Siklus Uterus
Dengan diproduksinya hormon steroid oleh ovarium secara siklik akan menginduksi
perubahan penting pada uterus, yang melibatkan endometrium dan mukosa serviks.

Endometrium
Endometrium terdiri atas 2 lapis, yaitu lapisan superfisial yang akan mengelupas saat
haid dan lapisan basal yang tidak ikut dalam proses haid, tetapi ikut dalam proses regenerasi
lapisan superfisial untuk siklus berikutnya. Batas antara 2 lapis tersebut ditandai dengan
perubahan dalam karakteristik arteriola yang memasok endometrium. Basal endometrium kuat,
tapi karena pengaruh hormon menjadi berkeluk dan memberikan kesempatan a. spiralis
berkembang. Susunan anatomi tersebut sangat penting dalam fisiologi pengelupasan lapisan
superfisial endometrium.1,2

Gambar 5. Sintesis Hormon Steroid.1

Fase Proliferasi
Selama fase folikular di ovarium, endometrium di bawah pengaruh estrogen. Pada akhir
haid proses regenerasi berjalan dengan cepat. Saat ini disebut fase proliferasi, kelenjar tubular
yang tersusun rapi sejajar dengan sedikit sekresi. Pada fase proliferatif, di bawah pengaruh
estrogen dari folikel yang sedang tumbuh, ketebalan endometrium cepat meningkat dari hari
kelima sampai keempat belas siklus menstruasi. Seiring dengan peningkatan ketebalan, 5 5
kelenjar-kelenjar uterus tertarik keluar sehingga memanjang tetapi kelenjar-kelenjar tersebut
belum berkelok-kelok atau mengeluarkan sekresi. Fase ini juga disebut fase praovulasi atau
folikular.1,2

14
Fase Sekretori
Setelah ovulasi, produksi progesteron menginduksi perubahan sekresi endometrium.
Tampak sekretori dari vakuole dalam epitel kelenjar di bawah nukleus, sekresi maternal ke
dalam lumen kelenjar dan menjadi berkelok-kelok. Pasca ovulasi, produksi progesteron memicu
terjadi perubahan sekresi pada kelenjar endometrium. Terlihat adanya vakuola yang berisi cairan
sekresi pada epitel kelenjar. Kelenjar endometrium menjadi semakin berliku-liku.Pada fase
sekretorik, setelah terjadinya ovulasi, vaskularisasi endometrium menjadi sangat meningkat dan
endometrium menjadi agak sembab di bawah pengaruh estrogen dan progesteron dari korpus
luteum. Kelenjar-kelenjar mulai bergelung-gelung dan menggumpar, lalu mulai menyekresikan
cairan jernih.2,3

Gambar 6. Endometrium Fase Proliferasi (A) Endometrium Fase Sekresi (B).1

Fase Haid
Normal fase luteal berlangsung selama 14 hari. Pada akhir fase ini terjadi regresi korpus
luteum yang ada hubungannya dengan menurunnya produksi estrogen dan progesterone ovarium.
Penurunan ini diikuti oleh kontraksi spasmodik yang intens dari bagian arteri spiralis kemudian
endometrium menjadi iskemik dan nekrosis, terjadi pengelupasan lapisan superfisial
endometrium dan terjadilah perdarahan.
Vasospasmus terjadi karena adanya produksi lokal prostaglandin. Prostaglandin juga
meningkatkan kontraksi uterus bersamaan dengan aliran darah haid yang tidak membekukarena
adanya aktivitas fibrinolitik lokal dalam pembuluh darah endometrium yang mencapai
puncaknya saat haid.1,2

15
II.6. Mukus Serviks
Pada perempuan ada kontinuitas yang langsung antara alat genital bagian bawah dengan
kavum peritonei. Kontinuitas ini sangat penting untuk akses spermatozoon menuju ke ovum,
fertilisasi terjadi dalam tuba falopii. Ada risiko infeksi yang asendens, tetapi secara alami risiko
tersebut dicegah dengan adanya mukus serviks sebagai barier yang permeabilitasnya bervariasi
selama siklus haid.
 Awal fase folikular mukus serviks viskus dan impermeabel.
 Akhir fase folikular kadar estrogen meningkat memacu perubahan dan komposisi mukus,
kadar airnya meningkat secara progresif, sebelum ovulasi terjadi mukus serviks banyak
mengandung air dan mudah dipenetrasi oleh spermatozoon. Perubahan ini dikenal dengan
istilah "spinnbarkheit”.
 Setelah orulasi progesteron diproduksi oleh koqpus'luteum yang efeknya berlawanan
dengan estrogen, dan mukus serviks menjadi impermeabel lagi, orifisium uteri eksternum
kontraksi.
Perubahan-perubahan ini dapat dimonitor oleh perempuan sendiri jika ingin
terjadikonsepsi atau dia ingin menggunakan "rhythm method" kontrasepsi. Dalam klinik
perubahan ini dapat dimonitor dengan memeriksa mukus serviks di bawah mikroskoptampak
gambaran seperti daun pakis atau fern-like pattern yang paralel dengan kadar estrogen sirkulasi,
maksimum pada saat sebelum ovulasi, setelah itu perlahan-lahan hilang.3

II.7. Perubahan-perubahan Siklik Lain


Meskipun tujuan perubahan siklik pada hormon ovarium berpengaruh pada alat genital,
hormon tersebut ikut sirkulasi ke seluruh tubuh dan berpengaruh pada organ-organ lain.

16
Gambar 7. Perubahan Hormon, Siklus Ovarium dan Siklus Endometrium.1

Suhu Badan Basal


Kenaikan suhu badan basal sekitar 1 derajat F atau 0,5 derajat Celcius terjadi pada saat
ovulasi dan terus bertahan sampai terjadi haid. Hal ini disebabkan oleh efek termogenik
progesteron pada tingkat hipotalamus. Bila terjadi konsepsi kenaikan suhu badan basal akan
dipertahankan selama kehamilan. Efek yang sama jika diinduksi dengan pemberian progestogen.

Perubahan pada Mamae


Kelenjar mamae manusia sangat sensitif terhadap pengaruh esrrogen dan progesteron.
Pembesaran mamae merupakan tanda pertama pubertas, merupakan respons peningkatan
estrogen ovarium. Estrogen dan progesteron berefek sinergis pada mamae selama siklus
pembesaran mamae pada fase luteal sebagai respons kenaikan progesteron. Pembesaran mamae
disebabkan oleh perubahan vaskular, bukan karena perubahan kelenjar.

Efek Psikologi
Pada beberapa perempuan ada perubahan mood selama siklus haid, pada fase luteal akhir
ada peningkatan labilitas emosi. Perubahan ini langsung karena penurunan progesteron.
Meskipun demikian, perubahan mood tidak sinkron dengan fluktuasi hormon.3

17
Beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai siklus haid :
 Pada saat permulaan siklus, kadar FSH dan LH relatif tinggi dan merangsang
perkembangan 10 - 20 folikel. Sebuah folikel dominan yang masak memproduksi
estrogen, sisanya mengalami atresia. Pada saat kadar estrogen naik, terjadi penekanan
pelepasan kedua gonadotropin (umpan balik negatif) sehingga mencegah teriadinya
hiperstimulasi ovarium dan pemasakan banyak folikel.
 Estradiol praovulasi yang tinggi memacu umpan balik positif mid-cycle surge LH dan
FSH yang dalam gilirannya memacu ovulasi. Sisa folikel matang membentuk korpus
luteum sumber utama progesteron.
 Jika konsepsi dan implantasi terjadi, korpus luteum dipertahankan oleh gonadotropin
yang dihasilkan oleh trofoblas. Jika konsepsi dan implantasi tidak terjadi, korpus luteum
mengalami regresi, kadar hormon steroid turun, kadar gonadotropin naik dan terjadi
haid.4,5

II.8. Gangguan pada Menstruasi


Gangguan pada menstruasi dapat dilihat berdasarkan perubahan pada lamanya siklus
menstruasi, jumlah darah menstruasi, dan gangguan pada siklus dan jumlah darah menstruasi.
Menurut Wiknjosastro, Gangguan Haid dan siklusnya dapat digolongkan dalam1,3:
1. Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan pada haid
a. Hipermenorea atau menoragia
b. Hipomenorea

2. Kelainan siklus
a. Polimenorea
b. Oligomenorea
c. Amenorea

3. Perdarahan di luar haid


a. Metroragia
b. Menometroragia

18
4. Gangguan haid yang ada hubungannya dengan haid
a. Premenstrual tension (ketegangan prahaid)
b. Dismenorea
c. Mastalgia
d. Mittelschmerz (rasa nyeri pada ovulasi)

II.8.1. Hipermenore (Menorraghia)

Definisi
Perdarahan haid lebih banyak dari normal atau lebih lama dari normal (lebih dari 8 hari),
kadang disertai dengan bekuan darah sewaktu menstruasi.

Etiologi
1. Hipoplasia uteri, dapat mengakibatkan amenorea, hipomenorea, menoragia. Terapi :
uterotonika
2. Asthenia, terjadi karena tonus otot kurang. Terapi : uterotonika, roborantia.
3. Myoma uteri, disebabkan oleh : kontraksi otot rahim kurang, cavum uteri luas,
bendungan pembuluh darah balik.
4. Hipertensi
5. Dekompensio cordis
6. Infeksi, misalnya : endometritis, salpingitis.
7. Retofleksi uteri, dikarenakan bendungan pembuluh darah balik.
8. Penyakit darah, misalnya Werlhoff, hemofili

Patofisiologi
Pada siklus ovulasi normal, hipotalamus mensekresi Gonadotropin releasing hormon
(GnRH), yang menstimulasi pituitary agar melepaskan Folicle-stimulating hormone (FSH). Hal
ini pada gilirannya menyebabkan folikel di ovarium tumbuh dan matur pada pertengahan siklus,
pelepasan leteinzing hormon (LH) dan FSH menghasilkan ovulasi. Perkembangan folikel
menghasilkan esterogen yang berfungsi menstimulasi endometrium agar berproliferasi. Setelah
ovum dilepaskan kadar FSH dan LH rendah. Folikel yang telah kehilangan ovum akan
berkembang menjadi korpus luteum, dan korpus luteum akan mensekresi progesteron.
Progesteron menyebabkan poliferasi endometrium untuk berdeferemnsiasi dan stabilisasi. 14 hari
19
setelah ovulasi terjadilah menstruasi. Menstruasi berasal dari dari peluruhan endometrium
sebagai akibat dari penurunan kadar esterogen dan progesteron akibat involusi korpus luteum.
Siklus anovulasi pada umumnya terjadi 2 tahun pertama setelah menstruasi awal yang
disebabkan oleh HPO axis yang belum matang. Siklus anovulasi juga terjadi pada beberapa
kondisi patologis.
Pada siklus anovulasi, perkembangan folikel terjadi dengan adanya stimulasi dari FSH,
tetapi dengan berkurangnya LH, maka ovulasi tidak terjadi. Akibatnya tidak ada korpus luteum
yang terbentuk dan tidak ada progesteron yang disekresi. Endometrium berplroliferasi dengan
cepat, ketika folikel tidak terbentuk produksi esterogen menurun dan mengakibatkan perdarahan.
Kebanyakan siklus anovulasi berlangsung dengan pendarahan yang normal, namun
ketidakstabilan poliferasi endometrium yang berlangsung tidak mengakibatkan pendarahan
hebat1.

Manifestasi Klinis
Kram selama haid yang tidak bisa dihilangkan dengan obat-obatan. Penderita juga sering
merasakan kelemahan, pusing, muntah dan mual berulang selama haid.

II.8.2. Hypomenorhoe (kriptomenorrhea)


Definisi
Suatu keadaan dimana perdarahan haid lebih pendek atau lebih kurang dari biasanya.

Lama perdarahan : Secara normal haid sudah terhenti dalam 7 hari. Kalau haid lebih lama dari 7
hari maka daya regenerasi selaput lendir kurang. Misal pada endometritis, mioma3.

Etiologi
1. Setelah dilakukan miomektomi/ gangguan endokrin
2. kesuburan endometrium kurang akibat dari kurang gizi, penyakit menahun maupun gangguan
hormonal.

20
Manifestasi klinis
Waktu haid singkat, jumlah darah haid sangat sedikit (<30cc), kadang-kadang hanya berupa
spotting.

II.8.3. Polimenorea (Epimenoragia)

Definisi
Adalah siklus haid yang lebih memendek dari biasa yaitu kurang 21 hari, sedangkan
jumlah perdarahan relatif sama atau lebih banyak dari biasa1.

Etiologi
Polimenorea merupakan gangguan hormonal dengan umur korpus luteum memendek
sehingga siklus menstruasi juga lebih pendek atau bisa disebabkan akibat stadium proliferasi
pendek atau stadium sekresi pendek atau karena keduanya1.

Manifestasi klinis
Gejala berupa siklus kurang dari 21 hari (lebih pendek dari 25 hari).

II.8.4. Oligomenorrhoe
Definisi
Suatu keadaan dimana haid jarang terjadi dan siklusnya panjang lebih dari 35 hari

Etiologi
1. Perpanjangan stadium folikuler ( lamanya 8 -9 hari dimulai dari hari ke-5 menstruasi)
2. Perpanjangan stadium luteal ( lamanya 15 -18 hari setelah ovulasi )
3. Kedua stadium diatas panjang yang mengakibatkan perpanjangan siklus haid.

Manifestasi klinis

1. Haid jarang, yaitu setiap 35 hari sekali


2. Perdarahan haid biasanya berkurang

21
II.8.5. Amenorea

Definisi
Adalah keadaan tidak datang haid selama 3 bulan berturut-turut.

Klasifikasi

1. Amenorea Primer, apabila belum pernah datang haid sampai umur 18 tahun.
2. Amenorea Sekunder, apabila berhenti haid setelah menarche atau pernah mengalami haid
tetapi berhenti berturut-turut selama 3 bulan.

Etiologi
1. Gangguan organik pusat, sebab organik : tumor, radang, destruksi
2. Gangguan kejiwaan : syok emosional, psikosis, anoreksia nervosa, pseudosiesis
3. Gangguan poros hipotalamus-hipofisis : sindrom amenorea-galaktorea, sindrom Stein-
Leventhal, sindrom hipotalamik
4. Gangguan hipofisis : sindrom Sheehan dan penyakit Simmonds, tumor (adenoma basofil,
adenoma asidofil, adenoma kromofob).
5. Gangguan gonad : kelainan kongenital (disgeneis ovarii, sindrom testicular feminization),
menopause prematur, the insensitive ovary, penghentian fungsi ovarium karena operasi,
radiasi, radang, dan sebagainya, tumor sel granulosa, sel-teka, sel-hilus, adrenal,
arenoblastom.
6. Gangguan glandula suprarenalis : sindrom adrenogenital, sindrom cushing, penyakit
Addison
7. Gangguan glandula tiroidea : hipotiroidea, hipertiroidea, kretinisme.
8. Gangguan pankreas : diabetes melitus
9. Gangguan uterus, vagina : aplasia dan hipoplasia uteri, sindrom Asherman, endometritis
tuberculosa, histerektomi, aplasia vagina
10. Penyakit-penyakit umum : gangguan gizi, obesitas

Patofisiologi
Amenore primer dapat diakibatkan oleh tidak adanya uterus dan kelainan pada aksis
hipotalamus-hipofisis-ovarium. Hypogonadotropic amenorrhoea menunjukkan keadaan dimana

22
terdapat sedikit sekali kadar FSH dan SH dalam serum. Akibatnya, ketidakadekuatan hormon ini
menyebabkan kegagalan stimulus terhadap ovarium untuk melepaskan estrogen dan progesteron.
Kegagalan pembentukan estrogen dan progesteron akan menyebabkan tidak menebalnya
endometrium karena tidak ada yang merasang. Terjadilah amenore. Hal ini adalah tipe
keterlambatan pubertas karena disfungsi hipotalamus atau hipofosis anterior, seperti adenoma
pitiutari.
Hypergonadotropic amenorrhoea merupakan salah satu penyebab amenore primer.
Hypergonadotropic amenorrhoea adalah kondisi dimnana terdapat kadar FSH dan LH yang
cukup untuk menstimulasi ovarium tetapi ovarium tidak mampu menghasilkan estrogen dan
progesteron. Hal ini menandakan bahwa ovarium atau gonad tidak berespon terhadap rangsangan
FSH dan LH dari hipofisis anterior. Disgenesis gonad atau prematur menopause adalah penyebab
yang mungkin. Pada tes kromosom seorang individu yang masih muda dapat menunjukkan
adanya hypergonadotropic amenorrhoea. Disgenesis gonad menyebabkan seorang wanita tidak
pernah mengalami menstrausi dan tidak memiliki tanda seks sekunder. Hal ini dikarenakan
gonad ( oavarium ) tidak berkembang dan hanya berbentuk kumpulan jaringan pengikat.
Amenore sekunder disebabkan oleh faktor lain di luar fungsi hipotalamus-hipofosis-
ovarium. Hal ini berarti bahwa aksis hipotalamus-hipofosis-ovarium dapat bekerja secara
fungsional. Amenore yang terjadi mungkin saja disebabkan oleh adanya obstruksi terhadap aliran
darah yang akan keluar uterus, atau bisa juga karena adanya abnormalitas regulasi ovarium sperti
kelebihan androgen yang menyebabkan polycystic ovary syndrome7,8.

II.8.6. Metroragia
Definisi
Metroragia (perdarahan inter menstruasi) didefinisikan sebagai perdarahan yang terjadi
antara dua episode menstruasi

Klasifikasi
1. Metroragia oleh karena adanya kehamilan; seperti abortus, kehamilan ektopik.
2. Metroragia diluar kehamilan.

23
Etiologi
1. Metroragia diluar kehamilan dapat disebabkan oleh luka yang tidak sembuh; carcinoma
corpus uteri, carcinoma cervicitis; peradangan dari haemorrhagis (seperti kolpitis
haemorrhagia, endometritis haemorrhagia); hormonal7.
2. Perdarahan fungsional : a) Perdarahan Anovulatoar; disebabkan oleh psikis, neurogen,
hypofiser, ovarial (tumor atau ovarium yang polikistik) dan kelainan gizi, metabolik, penyakit
akut maupun kronis. b) Perdarahan Ovulatoar; akibat korpus luteum persisten, kelainan
pelepasan endometrium, hipertensi, kelainan darah dan penyakit akut ataupun kronis7.

Manifestasi klinis
Adanya perdarahan tidak teratur dan tidak ada hubungannya dengan haid namun keadaan ini
sering dianggap oleh wanita sebagai haid walaupun berupa bercak.

Terapi : kuretase dan hormonal.

II.8.7. Menometroragia
Definisi
Menometroragia adalah perdarahan yang terjadi pada interval yang tidak teratur.
Biasanya jumlah dan lama perdarahan bervariasi. Penyebab menometroragia sama dengan
penyebab metroragia (Benson&Pernoll, 2008).

Etiologi
Keduanya dapat disebabkan oleh kelainan organik pada alat genital atau oleh kelaianan
fungsional.
1. Sebab-sebab organik
Pendarahan dari uterus, tuba, dan ovarium disebabkan oleh kelainan pada :
a) Serviks uteri, seperti polipus servisis uteri, erosio porsionis uteri, ulkus pada porsio
uteri, karsinoma servisis uteri;
b) Korpus uteri, seperti polip endometrium, abortus imminens, abortus sedang
berlangsung, abortus inkomplitus, mola hidatidosa, koriokarsinoma, subinvolusio uteri,
karsinoma korposis uteri, sarkoma uteri, mioma uteri;

24
c) Tuba fallopi, seperti kehamilan ektopik terganggu, radang tuba, tumor tuba,
d) Ovarium, seperti radang ovarium, tumor ovarium.

2. Sebab-sebab fungsional
Pendarahan uterus yang tidak ada hubungannya dengan sebab organik dinamakan
pendarahan disfungsional. Pendarahan disfungsional dapat terjadi pada setiap umur antara
menarche dan menopause. Tetapi kelainan ini lebih sering dijumpai sewaktu masa
permulaan dan masa akhir fungsi ovarium.

II.8.9. Pra Menstruasi Syndrom


Definisi
Ketegangan sebelum haid terjadi beberapa hari sebelum haid bahkan sampai menstruasi
berlangsung. Terjadi karena ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesterom menjelang
menstruasi. Pre menstrual tension terjadi pada umur 30-40 tahun1.
PMS merupakan sejumlah perubahan mental maupun fisik yang terjadi antara hari ke-2
sampai hari ke-4 sebelum menstruasi dan segera mereda setelah menstruasi dimulai. Disebabkan
oleh :
1. Sekresi estrogen yang abnormal
2. Kelebihan atau defisiensi progesteron
3. Kelebihan atau defisiensi kortisol, androgen, atau prolaktin
4. Kelebihan hormon anti diuresis
5. Kelebihan atau defisiensi prostaglandin

Etiologi
Etiologi ketegangan prahaid tidak jelas, tetapi mungkin faktor penting ialah
ketidakseimbangan esterogen dan progesteron dengan akibat retensi cairan dan natrium,
penambahan berat badan, dan kadang-kadang edema. Dalam hubungan dengan kelainan
hormonal, pada tegangan prahaid terdapat defisiensi luteal dan pengurangan produksi
progesteron.

25
Faktor kejiwaan, masalah dalam keluarga, masalah sosial, dll.juga memegang peranan
penting. Yang lebih mudah menderita tegangan prahaid adalah wanita yang lebih peka terhadap
perubahan hormonal dalam siklus haid dan terhadap faktor-faktor psikologis1.

Patofisiologi
Meningkatnya kadar esterogen dan menurunnya kadar progesteron di dalam darah, yang
akan menyebabkan gejala depresi. Kadar esterogen akan mengganggu proses kimia tubuh
ternasuk vitamin B6 (piridoksin) yang dikenal sebagai vitamin anti depresi.

Hormon lain yang dikatakan sebagai penyebab gejala premenstruasi adalah prolaktin.
Prolaktin dihasilkan sebagai oleh kelenjar hipofisis dan dapat mempengaruhi jumlah esterogen
dan progesteron yang dihasilkan pada setiap siklus. Jumlah prolaktin yang terlalu banyak dapat
mengganggu keseimbangan mekanisme tubuh yang mengontrol produksi kedua hormon tersebut.
Wanita yang mengalami sindroma pre-menstruasi tersebut kadar prolaktin dapat tinggi atau
normal.
Gangguan metabolisme prostaglandin akibat kurangnya gamma linolenic acid (GLA).
Fungsi prostaglandin adalah untuk mengatur sistem reproduksi (mengatur efek hormon
esterogen, progesterone), sistem saraf, dan sebagai anti peradangan6.

Manifestasi klinis
Perasaan malas bergerak, badan menjadi lemas, serta mudah merasa lelah. Nafsu makan
meningkat dan suka makan makanan yang rasanya asam. Emosi menjadi labil. Biasanya
perempuan mudah uring-uringan, sensitif, dan perasaan negatif lainnya.

II.8.8. Dismenore
Definisi
Adalah nyeri sewaktu haid. Dismenorea terjadi pada 30-75 % wanita dan memerlukan
pengobatan. Etiologi dan patogenesis dari dismenore sampai sekarang belum jelas.

26
Klasifikasi
1. Dismenorea Primer (dismenore sejati, intrinsik, esensial ataupun fungsional); adalah nyeri
haid yang terjadi sejak menarche dan tidak terdapat kelainan pada alat kandungan.
Karakteristik dismenorea primer menurut Ali Badziad (2003):
a. Sering ditemukan pada usia muda.
b. Nyeri sering timbul segera setelah mulai timbul haid teratur.
c. Nyeri sering terasa sebagai kejang uterus yang spastik dan sering disertai mual, muntah,
diare, kelelahan, dan nyeri kepala.
d. Nyeri haid timbul mendahului haid dan meningkat pada hari pertama atau kedua haid.
e. Jarang ditemukan kelainan genitalia pada pemeriksaan ginekologis.
f. Cepat memberikan respon terhadap pengobatan medikamentosa.

Etiologi :
Psikis; (konstitusionil: anemia, kelelahan, TBC); (obstetric : cervic sempit,
hyperanteflexio, retroflexio); endokrin (peningkatan kadar prostalandin, hormon steroid
seks, kadar vasopresin tinggi).

Manifestasi klinis
Beberapa gejala yang kerap menyertai saat menstruasi antara lain : perasaan malas
bergerak, badan lemas, mudah capek, ingin makan terus, emosi jadi lebih labil, sensitif,
mudah marah. Bukan itu saja, pengaruh pelepasan dinding rahim selama menstruasi juga
kerap memunculkan rasa pegal dan sakit pada pinggang serta membuat kepala terasa
nyeri, kram perut bagian bawah yang menjalar ke punggung atau kaki dan biasanya
disertai gejala gastrointestinal dan gejala neurologis seperti kelemahan umum7.

Terapi : psikoterapi, analgetika, hormonal.

2. Dismenorea Sekunder; terjadi pada wanita yang sebelumnya tidak mengalami dismenore.
Hal ini terjadi pada kasus infeksi, mioma submucosa, polip corpus uteri, endometriosis,
retroflexio uteri fixata, gynatresi, stenosis kanalis servikalis, adanya AKDR, tumor
ovarium7.

27
Manifestasi klinis
Berikut ini merupakan manifestasi klinis dismenorea sekunder (Smith, 1993; Smith,
1997):
1. Dismenorea terjadi selama siklus pertama atau kedua setelah menarche (haid pertama),
yang merupakan indikasi adanya obstruksi outflow kongenital.
2. Dismenorea dimulai setelah berusia 25 tahun.
3. Terdapat ketidaknormalan (abnormality) pelvis dengan pemeriksaan fisik:
pertimbangkan kemungkinan endometriosis, pelvic inflammatory disease, pelvic
adhesion (perlengketan pelvis), dan adenomyosis.

Terapi :
Causal (mencari dan menghilangkan penyebabnya), pemberian obat analgetik (biasanya
diberikan aspirin, fenasetin dan kafein), terapi hormonal (Tujuannya untuk menekan
ovulasi)

II.8.9. Mastodinia atau Mastalgia

Definisi
Adalah rasa tegang pada payudara menjelang haid.

Etiologi
Disebabkan oleh dominasi hormon estrogen, sehingga terjadi retensi air dan garam yang
disertai hiperemia didaerah payudara8.

II.8.10. Mittelschmerz

Definisi
Mittelschmerz atau nyeri antara haid terjadi kira-kira sekitar pertengahan siklus haid,
pada saat ovulasi. Rasa nyeri dapat disertai perdarahan8.

28
WOC AMENORE

Kelainan
Kegagalan fungsi genetik
hipotalamus-hipofisis
Penyakit
stress, obat-
Testikular obatan, dll
hipogonadotropin feminization Disgenesis gonad

Siklus
FSH & LH Ovarium menstruasi
gagal terganggu
Tidak punya Testis
berkembang
uterus menggantikan
Ovarium
ovarium
tidak
Tidak terjadi
terangsang Ovarium siklus
berupa jaringan menstruasi
pengikat

Estrogen & Tidak dapat mengalami


progesteron menstruasi
tidak Tidak terjadi
dihasilkan menstruasi

Siklus
menstruasi Amenore sekunder
Amenore primer
tidak terjadi

Tanda seks MK: ansietas,


sekunder nyeri, kerusakan
tidak terjadi integritas
jaringan

MK: gangguan
citra tubuh, harga
diri rendah

29
WOC DISMENORE

Bila tidak terjadi kehamilan Penyakit :endometriosis,


inflamasi pelvis,
adenomiosis, kista
Regresi korpus luteum ovarium, kelainan otak

Progesterone menurun
Dismenore
sekunder
Labilisasi membrane
lisosom (mudah pecah)
Nyeri haid

Enzim fosfolipase MK:nyeri MK:Intoleran


A2 meningkat aktivitas

Hidrolisis senyawa
fosfolipid

Terbentuk asam arakidonat


Meningkatkan sensitisasi
& menurunkan ambang
prostaglandin rasa sakit pada ujng saraf
aferen nervus pelvicus
PGE 2 PGF 2α

PGE 2 & PGF 2α dalam MK:


darah meningkat intoleransi
aktivitas

Miometrium terangsang

Meningkatkan kontraksi MK: nyeri


& disritmia uterus

Nyeri MK:
iskemia Dismenore primer
haid ansietas

30
WOC PMS (PRE MENSTRUAL SINDROM)

Prolaktin ↑ Gamma linoleic acid


(GLA) ↓

Estrogen ↑ dan
Gangguan metabolism
progesteron↓
prostaglandin

Proses kimia tubuh Neurotransmitter otak


terganggu terganggu

Metabolism vit.B6
(anti depresi)
terganggu

Deficit vit. B6

Produksi
serotonin
terganggu

Pre menstrual
Serotonin ↓ depresi sindrom

Kelemahan umum Nyeri payudara acne Mood labil

MK: intoleransi MK: nyeri MK: gangguan MK:


aktivitas integritas kulit ansietas

31
BAB III. PENUTUP

III.1. KESIMPULAN

Ciri khas kedewasaan wanita ditandai dengan adanya perubahan-perubahan siklik pada alat
kandungan yang ditandai dengan datangnya haid. Haid atau menstruasi atau datang bulan adalah
pengeluaran darah, mucus, dan debris sel dari mukosa uterus secara berkala.
Fisiologi haid terdiri dari siklus ovarium (fase folikular dan fase luteal) dan siklus
endometrium (fase proliferasi, fase sekresi, dan fase menstruasi). Menstruasi dapat dianggap
normal bila terjadi dalam rentang waktu 21 – 35 hari, lamanya perdarahan kurang dari 7 hari, dan
jika jumlah darah yang hilang tidak melebihi 80 cc. Jika tidak demikian maka seseorang
dianggap mengalami gangguan dalam menstruasi.
Gangguan Haid dibagi menjadi : Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan
pada haid : hipermenorea atau menoragia, hipomenorea; Kelainan siklus : polimenorea,
oligomenorea, dan amenorea; Pendarahan di luar haid : metroragia, menometroragia; Gangguan
lain yang berhubungan dengan haid: Premenstual tension (Ketegangan prahaid), Mastalgia,
Mittelschmerz, dismenorea.

III.2. SARAN

Pembaca diharapkan dapat memahami fisiologi dan juga kelainan terhadap siklus haid
sehingga dalam penerapan keilmuan kepada pasien dapat dilakukan secara holistik dan
maksimal.

32
DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan. Edisi ke 4.Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo;2011.h.115-30.
2. Dr.ife J, Magowan B. The normal menstrual cycle. Dalam: Clinical Obstetrics and
Gynecology. 1st ed. Saunders;2004.h.121-6.
3. Speroff L, Fritz MS. Clinical Gynecologic and Infertility. 8th Edition.Philadelphia:
Lippincott Williams and Wilkins;2011.h.199-242.
4. Johnson MH, Everit BJ. Adult ovarian function. Dalam: Essential reproduction. 5th
ed. Blackwell science;2000.h.69-87.
5. Despopoulos A. Oogenesis and the menstrual cycle. Dalam: Color atlas of physiology.
5th ed. Thieme Stutgart-New York;2005.h.298-302.
6. Macklon N, Stouffer R, Giudice L, Fauser B. The science behind 25 years of ovarian
stimulation for in vitro fertilization. Endocr Rev. 2006;27:170-207.
7. Price, Sylvia A & Wilson, Lorraine M. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit. Jakarta : EGC.
8. Benson, R.C & Pernoll, M.L. 2008. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi. Jakarta :
EGC.

33