Anda di halaman 1dari 20

See

discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/304077738

IKAN NAPOLEON (Cheilinus undulatus): SI


BURUK RUPA BERNILAI EKONOMI TINGGI
YANG TERANCAM PUNAH

Article · July 2015

READS

1 author:

Meezan Ardhanu Asagabaldan


Universitas Diponegoro
7 PUBLICATIONS 0 CITATIONS

SEE PROFILE

All in-text references underlined in blue are linked to publications on ResearchGate, Available from: Meezan Ardhanu Asagabaldan
letting you access and read them immediately. Retrieved on: 02 July 2016
STUDI KASUS
IKAN NAPOLEON (Cheilinus undulatus): SI BURUK RUPA
BERNILAI EKONOMI TINGGI YANG TERANCAM PUNAH

Disusun untuk Memenuhi Nilai Ujian Akhir Semester pada Mata Kuliah
Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir
Dosen Pengampu : Dr. Ir. Djoko Suprapto

MEEZAN ARDHANU ASAGABALDAN


26010115410032

PROGRAM PASCA SARJANA


MAGISTER MANAJEMEN SUMBERDAYA PANTAI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Ujian Akhir
Sekolah (UAS) yang berjudul “Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus): Si Buruk Rupa
Bernilai Ekonomi Tinggi yang Terancam Punah” tepat waktu. Tugas ini merupakan
salah satu syarat akademik untuk mendapatkan nilai UAS.
Penulis menyadari bahwa penyusunan tugas ini tidak dapat terwujud tanpa
bantuan berbagai pihak, sehingga dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Ir. Djoko Suprapto, selaku dosen
mata kuliah Ekosistem dan Sumber Daya Pesisir dan Laut yang telah memberikan
bimbingan dan arahan kepada Penulis, serta kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyelesaian penulisan tugas ini.
Penulis menyadari bahwa tugas ini masih banyak kekurangan dan kelemahan,
baik dalam isi maupun sistematikanya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran untuk menyempurnakan tugas ini. Akhir kata, penulis berharap semoga hasil tugas
ini dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun pembaca.

Semarang, Januari 2016

Penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................... 1


KATA PENGANTAR .................................................................................................. 2
DAFTAR ISI ................................................................................................................ 3

I. PENDAHULUAN ................................................................................................... 4
1.1.Latar Belakang ................................................................................................... 4
1.2.Tujuan ................................................................................................................ 5
II. PEMBAHASAN ..................................................................................................... 6
2.1. Aspek Biologi Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) ....................................... 6
2.1.1. Klasifikasi Ikan Napoleon ....................................................................... 6
2.1.2. Ciri-Ciri Morfologi Ikan Napoleon ........................................................ 7
2.1.3. Habitat Utama .......................................................................................... 7
2.1.4. Distribusi Ikan Napoleon ......................................................................... 8
2.1.5. Tingkah Laku Ikan Napoleon .................................................................. 9
2.1.6. Makanan ................................................................................................. 10
2.1.7. Reproduksi Ikan Napoleon ...................................................................... 10
2.1.8. Populasi ................................................................................................... 13
2.2. Nilai Ekonomis Ikan Napoleon (C. undulatus) ............................................... 14
2.3. Terancamnya keberadaan Ikan Napoleon (C. undulatus) ............................... 15
2.4. Perlindungan terhadap Ikan Napoleon (C. undulatus) .................................... 16
III. PENUTUP ........................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 19

3
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Meningkatnya kebutuhan manusia yang dalam beberapa tahun terakhir ini lebih
memilihi produk dari alam, mengakibatkan berkurangnya jumlah beberapa biota
perairan, yang dapat memicu terjadinya kelangkaan biota perairan seperti penyu, paus,
dugong, Napoleon dan biota lainnya. Sehingga perlu dilakukan konservasi agar dapat
menyelamatkam sumberdaya alam laut dari ancaman kepunahan akibat penangkapan
lebih di alam (overfishing). Tujuan utama dari kegiatan konservasi adalah memberikan
perlindungan terhadap spesies yang terancam punah dan keberlanjutan pemanfaatan
beberapa spesies yang mempunyai nilai ekonomi. Selain itu juga memelihara kualitas
lingkungan atau ekosistem yang tetap baik dan lestari.
Salah satu potensi sumber daya ikan di Indonesia yang memiliki nilai ekonomis
tinggi adalah Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus). Perdagangan internasional ikan
Napoleon sudah dilakukan sejak lama dan merupakan salah satu sumber pendapatan
yang sangat potensial bagi masyarakat nelayan ikan di Indonesia. Sejak tahun 1990,
permintaan ikan Napoleon sangat tinggi sehingga terjadi eksploitasi terhadap spesies
tersebut, bahkan banyak pihak yang menggunakan cara – cara yang bersifat merusak,
seperti penggunaan racun sianida untuk menangkap ikan Napoleon. Kegiatan
penangkapan ikan Napoleon di alam sangat intensif. Penangkapan ikan ini dilakukan
dengan alat tangkap yang bersifat legal (jaring insang, pancing dan bubu) maupun ilegal
(racun sianida dengan alat bantu kompresor).
Tingginya tingkat eksploitasi ikan Napoleon ini menyebabkan menurunnya
jumlah populasi di beberapa wilayah perairan secara drastis, disamping itu penggunaan
racun sianida tersebut juga berdampak pada kerusakan ekosistem terumbu karang dan
menyebabkan menurunnya produktivitas sebagian perairan karang di Indonesia.
Dampaknya adalah selain mengancam kelestarian ikan Napoleon tersebut, tetapi juga
menyebabkan penurunan jumlah ikan karang ekonomis penting lainnya, yang juga
merupakan sumber pendapatan masyarakat nelayan di perairan karang. Sadovy et. al.,
(2007) mengatakan bahwa, akibat dampak penangkapan berlebih untuk perdagangan
ikan karang hidup, ikan Napoleon rentan (vulnerable) mengalami kepunahan. Menurut
IUCN 2013, ikan Napoleon termasuk kedalam ikan yang terancam punah (endangered
species) pada waktu yang akan datang. Hal tersebut disebabkan karena penurunan
populasi yang mencapai 50% selama tiga generasi (sekitar 30 tahun). Sebagai bahan

4
perbandingan hasil survey sebelumnya populasi ikan Napoleon di daerah yang dilindungi
atau yang terbatas ijin penangkapannya, kepadatannya berkisar antara 2-10 ekor per
10.000 m2. Didaerah yang tinggi intensitas penangkapannya, densitasnya 10 kali lebih
rendah atau tidak ada sama sekali. Dengan demikian distribusi ikan ini secara spasial
sangat rendah dan kepadatannya per hektar juga sangat rendah (Donaldson & Sadovy,
2001).
Sebagai akibatnya, populasi ikan jenis tersebut mengalami penurunan yang
sangat signifikan sehingga International Union for the Conservation of Nature and
Natural Resources (IUCN) menetapkan bahwa ikan Napoleon merupakan salah satu ikan
yang dilindungi di dunia karena dianggap telah langka dan terancam populasinya di
alam. Penurunan drastis diberbagai tempat menyebabkan ikan yang dikenal dengan ikan
si buruk rupa ini dimasukkan ke dalam daftar CITES appendix II pada tahun 2004.
Meskipun ikan Napoleon sudah lama dieksploitasi, tetapi data dan informasi yang
tersedia terkait data potensi populasi ikan tersebut belum diketahui secara pasti, hal ini
disebabkan karena luasnya wilayah perairan laut yang harus disurvei populasinya dan
terbatasnya jumlah tenaga peneliti yang tersedia. Untuk mengantisipasi hal tersebut
diperlukan langkah-langkah kongkrit sehingga data dan informasi tentang potensi
Napoleon dapat tersedia sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan dan pemanfaatan
berkelanjutan ikan Napoleon di Indonesia.

1.2.Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui biologi ikan
Napoleon dan juga bagaimana keadaan ikan Napoleon saat ini, sehingga dapat menjadi
bahan bagi berbagai pihak terkait untuk melakukan kegatan konservasi dan perlindungan
terhadap ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) agar dapat terjaga keberlanjutannya dan
tetap lestari (tidak punah).

5
II. PEMBAHASAN

2.1. Aspek Biologi Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus)

2.1.1. Klasifikasi Ikan Napoleon


Ikan Napoleon (C. undulatus) adalah salah satu jenis ikan yang hidup di perairan
tropis. Persebarannya di banyak negara menyebabkan ikan ini memiliki nama yang
berbeda antar satu negara atau daerah. Jenis ini pertama kali didiskripsikan oleh Ruppell,
pada tahun 1835. Dibanyak negara ikan ini diberi nama Napoleon Wrasse. Kepalanya
yang besar menonjol kedepan menginspirasi nelayan – nelayan di New Caledonia untuk
memberikan nama Napoleon. Seorang Panglima Besar dari Perancis yang juga memiliki
kepala (jidat) yang cukup besar menonjol ke depan (Fourmanoir & Laboute, 1976,
dalam Sadovy et al. 2003). Sebagian negara juga sering menyebut ikan ini dengan
Humphead Wrasse. Ikan ini juga sering disebut dengan nama Giant Wrasse atau Maori
Wrasse. Masyarakat Philipina menamai ikan ini dengan nama Mameng, sedangkan di
China menamainya dengan nama So Mei.
Di Indonesia, ikan Napoleon juga memiliki banyak nama lokal yang berbeda
antara satu daerah dan lainnya. Masyarakat di Kepulauan Natuna dan sekitarnya
menamai ikan ini ikan Mengkait. Di perairan Kepulauan Seribu Jakarta dan Sulawesi
ikan ini dinamai ikan Maming (sama seperti di Philipina). Di wilayah Bangka dan
Belitung ikan ini diberi nama ikan Siomay (Seperti di China). Di Kepulauan Derawan
ikan ini dikenal dengan nama lokal Bele-bele. Di Kepulauan Karimun Jawa ikan ini
dinamai ikan Lemak, sedangkan di Nunukan dan Tawau ikan ini dinamai ikan Licin.
Secara sistematik ikan Napoleon (C. undulatus) ditempatkan pada suku Labridae
dengan susunan klasifikasinya menurut Nelson (2006) sebagai berikut :
Filum : Chordata
Kelas : Osteichthyes
Ordo : Perciformes
Famili : Labridae
Genus : Cheilinus
Species : Cheilinus undulatus

Gambar 1. Ikan Napoleon (Cheilinus undulatusi)

6
2.1.2. Ciri-Ciri Morfologi Ikan Napoleon
Ikan Napoleon merupakan salah satu jenis ikan karang yang memiliki banyak
keunikan, tidak hanya mengalami perubahan jenis kelamin saat usia dewasa, tetapi juga
memiliki ciri-ciri morfologi yang berbeda antara fase juvenil dan saat dewasa. Ikan
Napoleon dewasa dapat dikenali dengan bibirnya yang tebal dan tonjolan yang berada di
depan kepalanya tepat di atas matanya yang membesar seiring dengan bertambahnya usia
ikan tersebut. Ikan ini juga memiliki sepasang gigi yang tajam yang keluar dari
mulutnya. Ikan Napoleon anakan yang kecil (small juveniles) berwarna terang dengan
garis-garis berwarna gelap yang melintang sampai dibawah matanya. Anakan yang agak
besar (large juveniles) memiliki warna hijau terang. Ikan Napoleon dewasa memiliki
warna kehijau-hijauan (hijau botol). Sedangkan ikan yang sudah berusia tua dan besar
umumnya memiliki wama biru kehijau-hijauan. Perubahan bentuk tubuh dan warna
sepanjang perjalanan hidupnya menyebabkan sulit untuk mendeteksi kapan perubahan
jenis kelamin dari spesies ini terjadi.

2.1.3. Habitat Utama


Ikan Napoleon memiliki dua habitat yang berbeda sesuai dengan fase usia ikan
ini. Perbedaan tersebut lebih kepada masalah dangkal atau dalamnya perairan tempat
tinggal atau habitat ikan tersebut. Sepanjang hidup ikan Napoleon mulai dari penetasan,
juvenile hingga dewasa, selalu berasosiasi dengan terumbu karang atau di habitat –
habitat yang berdekatan terumbu karang, seperti padang lamun (seagrass beds) dan
mangrove. Ikan Napoleon yang berusia muda (juvenile) hidup pada kedalaman ± 2-3
meter. Benih-benih ikan tersebut hidup di paparan terumbu yang dipenuhi oleh karang
keras (hardcoral) dan karang lunak (soft coral) serta tumbuhan laut lainnya seperti alga
(macroalgae) dan lamun (seagrass). Benih-benih ikan tersebut berasosiasi dengan
karang bercabang (branching coral) dari marga Acropora yang dijadikan habitat pada
bagian bawah atau pangkal cabang yang di tumbuhi macroalgae. Makroalga yang disukai
oleh benih ikan Napoleon adalah dari genus Turbinaria.
Berbeda dengan anakan, induk atau ikan Napoleon dewasa umumnya hidup pada
tempat-tempat yang dalam, mereka menyukai hidup di tepi lereng terumbu yang curam
(outer reef slopes) atau di tebing-tebing karang (reefs drop-offs), dengan kedalaman
sampar lebih dari 100 meter. Ikan Napoleon juga menyukai hidup di perairan yang
berarus kuat dan sedikit bergelombang dengan habitat yang memiliki batu vulkanik yang
ditumbuhi biota karang. Susunan batu-batu vulkanik tersebut membentuk rongga-rongga

7
yang menyerupai goa-goa kecil di bawah laut. Goa-goa batu tersebut merupakan tempat
ikan Napoleon dewasa bersembunyi jika dalam keadaan terancam. Species ini sering
dijumpai dalam keadaan sendiri, kadang berpasangan atau dalam satu kelompok yang
berjumlah dari dua sampai tujuh ekor. Biasanya Ikan ini terlihat hidup secara
bergerombol di perairan karang bersama-sama dengan ikan ekor kuning, kakap, kerapu,
lencam dan ikan bibir tebal serta ikan hias lainnya. Secara umum dapat disampaikan
bahwa ikan Napoleon dapat hidup di perairan dengan kondisi karang yang cukup baik,
dengan tutupan karang hidup berkisar antara 50 sampai 70 % dan kecerahan (visibilitas)
±15 hingga 20 meter. Ikan Napoleon biasa hidup pada lereng-lereng terumbu, dimana
rataan dibawahnya banyak dijumpai gorgonian dari kelompok akar bahar (Rumpella sp.)
dan cambuk laut (Juncella sp.).

2.1.4. Distribusi Ikan Napoleon


Ikan Napoleon tergolong kelompok ikan demersal dan dapat ditemukan pada
lokasi terumbu karang di perairan tropis dunia, terutama wilayah Indo-Pasifik, dari
Bagian Barat Samudera Hindia dan Laut Merah sampai ke Selatan Jepang, New
Caledonia dan tengah Samudera Pasifik (Sadovy et al., 2003). Di Australia ikan ini ada
di perairan pantai yang berkarang dari Bagian Utara sampai ke Bagian Selatan Australia
dan Great Barrier Reef (Pogonoski et al., 2003). Ikan ini dilaporkan ada di perairan
territorial dari 48 negara di dunia (Sadovy et al., 2003).
Dengan luas karang 12,5% dari luas karang dunia, wajar apabila ikan Napoleon
ada dihampir sebagian besar perairan di Indonesia. Indonesia diperkirakan memiliki
karang seluas lebih dari 50,000 km2. Cesar (1996), memperkirakan Indonesia memiliki
karang seluas 75,000 km2, sedangkan Spalding et al., (2001), memperkirakan seluas
51,020 km2. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian
Oseanografi LIPI pada akhir 90’an, dimana ikan Napoleon ditemukan di semua kawasan
periaran Indonesia, seperti di perairan Indonesia Bagian Barat, Tengah dan Timur. Di
kawasan Bagian Barat, ikan Napoleon ditemukan di Kep Natuna, Pulau Pongok Perairan
Bangka dan Selat Nasik Kab Belitung, Pulau Nias, Kepulauan Mentawai, Kepulauan
Seribu dan Kepulauan Kangean (Sumadiharga et al., 2006). Di kawasan Tengah dan
Timur Indonesia, ikan Napoleon juga ditemukan di Kepulauan Selayar, Perairan Sinjai,
Kepulauan Banggai, Kepulauan Wakatobi (Sumadiharga et al., 2006) dan Kepulauan
Lucipara, Maluku (Suharsono et al., 1995). Populasi Napoleon di lokasi-lokasi tersebut
perlu dimonitor ulang.

8
Gambar 2. Distribusi Ikan Napoleon (C. undulatus) secara umum di dunia (CITES,
2004)

2.1.5. Tingkah Laku Ikan Napoleon


Terlepas dari ukuran besar atau kecil, secara alami ikan Napoleon adalah pemalu.
Ikan Napoleon sangat hati-hati atau curiga terhadap semua mahluk yang ada
disekitarnya, terutama manusia. Kecuali pada musim pemijahan, ikan ini lebih banyak
menyendiri atau hidup dalam kelompok sosial yang kecil. Ikan Napoleon dapat
diketemukan pada siang hari di paparan terumbu karang. Pada malam hari umumnya
ikan Napoleon beristirahat di goa-goa karang dan dibawah bongkahan-bongkahan
karang. Wilayah jelajah (home range) ikan Napoleon yang berukuran besar diperkirakan
1 km2, sedangkan ikan-ikan yang berukuran kecil sebagai anggota dari kelompoknya
umumnya hanya memanfaatkan sebagian dari daerah toritorial ikan Napoleon yang
besar (Sadovy et. al., 2003).
Data yang dikumpulkan berdasarkan survey dan monitoring ikan Napoleon di
perairan Indonesia pada tahun 2009-2010 memastikan bahwa adalah benar ikan
Napoleon hidup dalam kelompok kecil di habitatnya, dimana lokasi ini masuk kedalam
perairan yang belum tinggi intensitas penangkapannya. Pada lokasi yang intensitas
penangkapannya masih rendah, seperti di Kepulauan Wakatobi, ikan ini paling banyak
ditemui, yakni lima ekor/hektar. Sebaliknya pada perairan yang intensitas 10
penangkapannya tinggi, ikan Napoleon sudah jarang ditemukan dan paling banyak hanya

9
1 ekor/hektar dengan ukuran sedang. Ikan Napoleon bersifat diurnal. Ikan ini mencari
makan pada siang hari, sedangkan pada malam hari akan beristirahat di goa atau celah
celah batu sebagai tempat tinggalnya (Thaman, 1998; Lieske and Myers, 2001).

2.1.6. Makanan
Ikan Napoleon menduduki posisi tertinggi dalam rantai makanan. Mereka adalah
predator yang sangat opportunis dengan makanan utarnanya adalah kerang-kerangan
(moluska) dan beberapa jenis invertebrata lainnya seperti kepiting (krustacea), bulu babi
dan bintang laut (ekinodermata), belut laut (morays) dan ikan-ikan kecil lainnya yang
ada di dasar laut, seperti ikan Goby (Myers, 1991). Ikan ini juga adalah salah satu dari
beberapa predator yang memakan hewan laut yang beracun, seperti ikan buntel (boxfish,
Ograciidoe) dan sea hare (Aplysia) (Randall et al., 1978).
Sebagai hewan yang menempati posisi tertinggi dalam pola rantai makanan, ikan
Napoleon memegang peranan yang cukup penting dalam menjaga keseimbangan pada
ekosistem karang. lkan Napoleon adalah salah satu pemangsa bintang laut mahkota
(Acanthaster planci), suatu jenis hewan laut yang suka memakan polyp karang dan
merusak karang.

2.1.7. Reproduksi Ikan Napoleon


Seperti layaknya ikan karang yang lainnya, ikan Napoleon juga terlahir dengan
jenis kelamin jantan atau betina namun ikan ini tergolong hewan yang unik dari sisi
siklus hidupnya. Ikan Napoleon termasuk dalam binatang hermaprodite protogynus, yang
berarti mereka dapat berubah jenis kelamin dari betina ke jantan. Tahap ini terjadi pada
saat ikan Napoleon menjelang usia dewasa, usia dewasa atau kematangan seksual terjadi
ketika ikan ini berusia 5-6 tahun atau berukuran 35 - 50 cm (Choat et. al., 2006).
Pada tahap permulaan ini ikan yang terlahir dengan jenis kelamin jantan, akan
tetap menjadi jantan dan tidak akan pernah menjadi jantan yang berkuasa. Sedangkan
yang betina dewasa akan berubah menjadi jantan. Satu dari betina-betina yang besar
akan berubah menjadi jantan besar atau biasa disebut “Raja” (supermales). Jantan besar
tersebut memiliki tubuh yang besar melebihi ukuran pejantan-pejantan lainnya dan
wama dan corak kulit yang berbeda. Perbedaan warna tersebut untuk menarik perhatian
dari betina-betina yang ada disekelilingnya. Perubahan jenis kelamin menjadi pejantan
diperkirakan terjadi pada usia ± 9 tahun atau pada ukuran ±70 cm (Choat et. al., 2006).

10
Perubahan jenis kelamin dari betina ke jantan ini diperkirakan untuk
mempertahankan jumlah jantan yang ideal dalam populasi untuk rnembuahi betina-
betina yang ada dalam populasi guna menjamin kelangsungan hidup atau pola reproduksi
jenis ini (Cohn, 2010). Namun, hingga saat ini bagaimana proses perubahan kelamin
terjadi masih belum dapat terjawab oleh ilmu pengetahuan Setelah proses perubahan
jenis kelamin selesai dilalui, kemudian ikan Napoleon jantan memasuki tahap akhir
(terminal phase). Jantan Besar (supermales) bersama betina-betinanya (dalam jumlah
yang terbatas) memasuki tahap breeding (memproduksi keturunan). Seekor ikan jantan
yang besar bersama betina-betinanya biasanya mendiami wilayah territorial tertentu yang
selalu dijaga dan dilindungi oleh jantan tersebut.
Ikan Napoleon ini dapat hidup sampai 25 tahun lebih. Ikan Napoleon betina
memiliki tingkat harapan hidup lebih tinggi dari yang Jantan. Ikan Napoleon betina dapat
hidup hingga 32 tahun, sedang jantan sedikit lebih pendek yaitu selama 30 tahun. Betina
mulai mengalami matang gonad pada umur enam tahun (Choat et al., 2006). Seperti
ikan karang jenis lainnya, ikan Napoleon dewasa juga melakukan pemijahan (spawning)
di perairan yang berkarang pada waktu-waktu tertentu dan di lokasi-lokasi tertentu setiap
tahunnya (Russel, 2001). Lokasi pemijahan umumnya dilakukan di perairan yang
bekarang pada saat terjadinya pasang surut air laut yang menyebabkan arus air laut
kencang (Colin, 2010). Belum banyak penelitian berhasil mengungkapkan proses
bertelurnya ikan Napoleon di alam. Namun, hasil penelitian di New Caledonia
menyatakan bahwa ikan Napoleon bertelur di laut terbuka dengan ukuran telurnya
berdiameter 0.65 mm (Sadovy et. al., 2003).
Ikan Napoleon termasuk golongan Ikan yang selalu memijah di laut lepas
(pelagic spawner). Mereka memijah di tempat yang berarus kuat untuk menggabungkan
telur yang dikeluarkan oleh betina dengan sperma yang dikeluarkan oleh pejantan. Telur
dan sperma tersebut kemudian akan mengambang dan menyatu di kolom air. Tempat
mengambang dan menyatunya telur dan sperma dkenal dengan nama epipelagic zone
yang biasanya terletak di laut terbuka dan berada di bawah permukaan laut dengan
kedalaman sekitar 5-7 m dibawah permukaan laut. Telur-telur tersebut kemudian
menetas menjadi larva dan larva akan terus mengambang sampai menyampai ukuran
tertentu. Setelah Ikan mencapai ukuran yang cukup besar, ikan-ikan Napoleon muda
akan pergi ke wilayah terumbu karang yang dangkal dan bergabung dengan hewan
hewan karang lainnya (Russel, 2001).

11
Memang sedikit sulit untuk menentukan kapan dan dimana ikan Napoleon biasa
memijah. Beberapa penelitian mengenai sistem pernijahan ikan-ikan karang menyatakan
bahwa jenis-jenis ikan karang tertentu, seperti beberapa jenis dari ikan kerapu melakukan
migrasi dari habitatnya ke tempat pemijahan sepanjang puluhan sampai ratusan meter
(Sadovy, 1996). Pada beberapa kasus, ikan-ikan karang berkumpul ke suatu tempat yang
sangat jauh dari tempat tinggalnya, yaitu hanya untuk melakukan pemijahan. Misalnya
Kerapu Nassau (Nassau Grouper) melakukan perjalanan lebih dari 100 km menuju
lokasi pemijahannya (Colin, 1992) dan beberapa jenis ikan kerapu juga melakukan
kegiatan yang serupa (Sadovy, 1996).
Namun beberapa penelitian juga membuktikan bahwa pemijahan juga sangat
dipengaruhl oleh beberapa aspek, antara lain musim, bulan terang atau gelap
(lunarphase), suhu air (Domeier & Colin, 1997), pola arus dan geomorpologi dan
topografi perairan yang ada di lokasi tertentu (Russel, 2001). Kondisi perairan (arus dan
ombak) di tiap lokasi berbeda satu sama lainnya dan ini sangat dipengaruhi oleh musim
(seasonal monsoon) yang terjadi di masing-masing wilayah. Kadang disatu tempat pada
musim barat di wilayah tertentu akan terjadi ombak dan arus yang kuat dan suhu air laut
(panas atau dingin), sedang di wilayah lain malah terjadi kebalikannya laut tenang.
Kondisi laut disatu wilayah juga sangat ditentukan oleh gaya tarik bulan (bulan
terang atau gelap). Oleh karena itu, dibutuhkan penelitian yang cermat untuk
menentukan kapan dan dimana Ikan Napoleon akan memijah. Perairan satu dengan
perairan lainnya akan berbeda satu sama lainnya. Kondisi pola arus yang terjadi di suatu
wilayah juga sangat menentukan waktu dan lokasi memijah dari Ikan Napoleon. Seperti
telah diuraikan di atas bahwa ikan Napoleon akan memijah di lokasi yang berarus kuat
untuk membawa telur dan larva yang melayang ke dalam kolom air atau bergerak ke
tengah laut untuk memberi kesempatan kepada telur dan larva tersebut berkembang ke
fase berikutnya (Russel, 2001).
Kondisi pola arus dari masing-masing perairan berbeda satu sama lainnya. Aspek
lain yang mempengaruhi waktu dan lokasi pemijahan dari Napoleon adalah kondisi
geomorfologi dan topografi perairan. Kondisi geomorpologi dan topografi masing-
masing perairan berbeda satu sama lainnya, yang dibutuhkan oleh ikan Napoleon untuk
memijah adalah kondisi geomorpologi dan topografi yang ideal yang memungkinkan
bagi sang pejantan memiliki teritorial tertentu sekaligus juga memberikan kesempatan
kepada sang bentina untuk mengeluarkan telurnya dan sebagai tempat peristirahatan bagi
betina tersebut dari gangguan pejantan-pejantan lainnya (Russel, 2001).

12
Namun demikian, untuk mengetahui terjadi pemijahan ikan di satu lokasi dapat
juga diketahui dengan cara memperhatikan berkumpulnya satu rombongan dari satu atau
beberapa jenis ikan tertentu di lokasi tertentu dengan jumlah tiga kali lebih banyak dari
pada waktu-waktu biasa (Domeier & Colin, 1997), harus diakui bahwa hingga saat ini
belum diketahui berapa kilometer jauhnya perjalanan ikan Napoleon dari "tempat
tinggalnya” (home range) ke lokasi pemijahannya (Sadovy et al., 2003).

2.1.8. Populasi
Secara alami populasi dan densitas ikan Napoleon sangat rendah jika
dibandingkan dengan jenls-jenis ikan karang lainnya. Hal ini terjadi pada semua jenis
perairan baik pada perairan yang menjadi operasi penangkapan maupun di perairan
perairan yang masih alami, bahkan pada daerah konservasi jumlah populasi dan
kepadatan ikan Napoleon di alam sangatlah rendah (Gillet, 2010). Telah banyak
penelitian tentang populasi dan densitas ikan Napoleon secara komprehensif yang telah
dilakukan di berbagai perairan – perairan tropis di dunia. Penelitian dengan
mempergunakan metode yang rinci dan distandarisasi, seperti yang dilakukan di New
Caledonia dan Kepulauan Tuamotu di French Polinesia, menyatakan bahwa kepadatan
ikan Napoleon hanya sebanyak 0-5 ekor per 10000 m2 pada daerah yang sudah
diekplokasi, sementara dijumpai sebanyak ± 20 ekor per 10000 m2 pada perairan yang
belum dieksploitasi (Gillet, 2010). Hasil yang hampir serupa didapat di perairan
Australia (Pogonosky et al., 2002), seperti yang dilaporkan oleh IUCN (2004)
menyatakan bahwa kepadatan ikan Napoleon dewasa di perairan karang Queensland
(Australia) diperkirakan berkisar antara 2,5-3,5 ekor/8.000 m2.
Seperti halnya pada negara-negara Indo-Pasifik lainnya, tingkat populasi dan
kepadatan ikan Napoleon alami di perairan Indonesia juga rendah. Penelitian yang
dilakukan oleh Suharsono et al. (1995) di Kepulauan Lucipara, yang berlokasi di tengah
Laut Banda (Maluku) dan masih terpelihara dengan baik, menyatakan bahwa dari 151
ekor ikan karang yang mewakili 25 famili yang terkumpul hanya terdapat 27 ekor ikan
Napoleon (C. undulatus). Hal yang hampir serupa juga terjadi di perairan Kepulauan
Wakatobi, dimana ikan Napoleon hanya diketemukan kurang dari satu ekor tiap 1 km2
dan berukuran kecil tidak seperti tahun sebelumnya yang masih mencapai hampir 1
ekor/1 km2 dan berukuran besar. Tingginya tingkat perburuan ikan Napoleon yang
disebabkan oleh tingginya pemintaan pasar intemasional, terutama Hong Kong,
menyebabkan tingkat populasi Napoleon turun secara drastis. Populasi ikan Napoleon

13
Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan, dengan kata lain sudah langka (hampir
punah).
Penelitian terkini yang dilakukan penulis pada tahun 2003-2010 di 9 Provinsi,
yaitu di Kepulaua Riau, (Kepulauan Natuna), Sumatera Barat (Kepulauan Mentawai),
Bangka Belitung (Pulau Belitung), Jawa Tengah (Kepulauan Karimun Jawa), Sulawesi
Selatan (Pulau Sembilan - Sinjai), Sulawesi Tenggara (Kepulauan Wakatobi), Sulawesi
Tengah (Kepulauan Banggai), Kalimantan Timur (Kepulauan Derawan) dan Nusa
Tenggara Timur (Pulau Komodo dan sekitarnya) menyatakan bahwa populasi ikan
Napoleon turun drastis.

2.2. Nilai Ekonomis Ikan Napoleon (C. undulatus)


Indonesia memiliki sumberdaya perikanan yang sangat potensial. Bentuk
pemanfaatan sumberdaya perikanan di daerah Indonesia dilakukan dengan cara usaha
penangkapan dan budidaya laut. Beberapa jenis ikan ekonomis penting yang banyak
ditangkap oleh nelayan antara lain adalah
1. Kelompok jenis ikan demersal seperti berbagai jenis ikan kerapu (Cephalopholis sp.)
(kerapu tikus, kerapu bakau dan kerapu sunu), ikan Napoleon (C.undulatus), ikan
Kurisi (Nemipterus sp.) dan ikan Bambangan (Lutjanus sp.)
2. Kelompok jenis ikan pelagis seperti ikan Kembung (Rastrelliger sp.), ikan Tongkol
(Thunnus sp.) dan ikan Tenggiri (Scomberomorus sp.)
3. Kelompok crustacea seperti kepiting, udang dan lobster

Jenis-jenis ikan laut yang dibudidayakan di wilayah Indonesia pada umumnya


adalah ikan-ikan yang bernilai ekonomis tinggi seperti kelompok jenis ikan kerapu,
lobster dan ikan Napoleon. Ikan Napoleon merupakan jenis ikan primadona bagi nelayan
dan pembudidaya di Indonesia karena memiliki nilai ekonomi tinggi. Kegiatan
penangkapan dan budidaya ikan Napoleon telah berkembang sejak awal tahun 1990-an.
Kegiatan usaha budidaya ikan Napoleon semakin meningkat pada awal tahun 2000.
Tabel 1. Harga Ikan Napoleon (C.undulatus) berdasarkan ukuran

14
Ikan Napoleon termasuk salah satu target utama penangkapan oleh nelayan. Hal
ini disebabkan karena permintaan pasar yang sangat tinggi dengan harga yang cukup
mahal. Yvonne Sadovy melaporkan harga ikan ini mencapai USD 100/kg, pada pasar
ikan hidup di Hongkong dan Cina. Gillet (2010), melaporkan lima jenis ikan karang yang
termasuk kategori highly commercial dalam daftar perdagangan ikan karang hidup (life-
reef fish trade), ialah: Epinephelus lanceolatus, Cromileptes altipelis, Cheilinus
undulatus, Plectropomus leopardus, dan Plectropomus maculatus. Alat tangkap utama
ikan ini ialah: sianida/scuba, sianida/hookah kompresor, hook & line/cateter dan bubu.
Semua hasil tangkapan dari alat tersebut merupakan produk dalam perdagangan ikan
karang hidup.

2.2. Terancamnya keberadaan Ikan Napoleon (C. undulatus)


Pemanfaatan ikan Napoleon (C. undulatus) di Indonesia antara lain diatur dalam
berbagai peraturan perundangan meliputi:
1. SK Menteri Perdagangan No.94/KP/V/1995 tentang Larangan Ekspor Ikan Napoleon
2. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 375/KPTS/IK.250/5/1995 tentang Pelarangan
Penangkapan Ikan Napoleon
3. Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Nomor: HK.330/S3.6631/96 tentang
Perubahan Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Nomor: HK.330/DJ.8259/95
tentang Ukuran, Lokasi dan Tatacara Penangkapan Ikan Napoleon.
4. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 447/KPTS-II/2003 tentang Tata Usaha
Pengambilan atau Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar dan
5. Peraturan Pemerintah Nomor: 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan
dan Satwa Liar.

Ikan Napoleon merupakan spesies yang terdaftar dengan status perlindungan


‘terancam’ (threatened) pada Lampiran II CITES (CITES Appendix II) (Gillett, 2010;
Sadovy et. al., 2003) dan ‘terancam punah’ (endangered) pada Daftar Merah IUCN
(IUCN Red List) (Colin, 2010; Sadovy & Suharti, 2008). Ikan tersebut dikategorikan
terancam punah karena di banyak negara populasi alaminya semakin sulit dijumpai
akibat penangkapan tak terkendali (Sadovy & Suharti, 2008). Meskipun demikian,
menurut Gillet (2010), status terancam menurut Lampiran II CITES masih memberikan
ruang bagi perdagangan ikan Napoleon selama kegiatan tersebut tidak berakibat buruk
terhadap sintasan (survival) spesies tersebut di alam. Selain dikenal sebagai komoditas

15
bernilai tinggi, Ikan Napoleon diketahui merupakan salah satu species pemangsa kunci
yang memainkan peranan penting bagi proses ekologi dan keberlanjutan ekosistem
terumbu karang. Ikan Napoleon dilaporkan memangsa bintang laut berduri (Crown of
Thorns starfish) yang diketahui merupakan pemangsa organisme pembangun terumbu
karang (Sadovy et. al., 2003). Kajian menunjukkan bahwa hilangnya ikan Napoleon dari
ekosistem terumbu karang akan mendorong meledaknya populasi bintang laut berduri
yang pada gilirannya memangsa organisme pembangun terumbu secara besar-besaran
(CRC Reef Research Centre, 2003).
Ikan Napoleon diketahui menyebar pada wilayah terumbu karang antara perairan
Samudera Hindia bagian barat sampai wilayah Indo-Pasifik. Berdasarkan catatan CITES
(Convention on International Trade in Endangered Species) (CITES, 2004), Napoleon
dikatakan berada dalam 48 wilayah jurisdiksi negara dan teritori. Indonesia termasuk
negara yang paling dominan sebagai wilayah penyebaran ikan Napoleon di dunia.
Namun dia termasuk mendapat tekanan dari penangkapan berlebih (over-fishing).
Sadovy (2010) mendapatkan kepadatan ikan Napoleon yang bervariasi antara 0,01 – 1,0
#/ha. Bahkan untuk mendapatkan sampel yang dianggap bisa mewakili, Sadovy harus
menyelam pada hamparan karang sepanjang 6 km. Pada kondisi terumbu karang yang
tidak mengalami tekanan penangkapan (atau tingkat pemanfaatan rendah), kepadatan
ikan Napoleon bisa mencapai 10 #/ha. Perbedaan ini dijadikan sebagai indikator awal
terjadinya penangkapan berlebih (over-fishing) ikan Napoleon di Indonesia.

2.2. Perlindungan terhadap Ikan Napoleon (C. undulatus)


Di Indonesia, penangkapan ikan Napoleon sudah sejak sejak lama dilarang
melalui Keputusan Menteri Pertanian 375/1995 tentang Larangan Penangkapan Ikan
Napoleon (secara terbatas). Meskipun demikian perdagangan secara terbatas masih
diperbolehkan dengan penerapan sistem kuota yang membatasi jumlah ikan yang boleh
diekspor per tahun dan pintu ekspor ke luar negeri (Sadovy & Suharti, 2008). Dengan
berdirinya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), fungsi pengawasan dan
pengaturan pemanfaatan jenis khususnya untuk komoditas dari laut yang semula
ditangani oleh Kementerian Kehutanan berfungsi pengawasan dan pengaturan
perdagangan/ pemanfaatan flora fauna Kementerian Pertanian) secara berangsur-angsur
dialihkan kepadanya. Saat ini, KKP melalui Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis
Ikan (KKJI) telah mengeluarkan keputusan No.37/KEPMEN-KKP/2013 tentang
penetapan status perlindungan Ikan Napoleon (C. undulatus).

16
Gambar 3. Surat Keputusan dari Kemeterian Kelautan dan Perikanan tentang Penetapan
Status Perlindungan Ikan Napoleon (C. undulatus)

17
III. PENUTUP

Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) merupakan salah satu potensi sumber daya
ikan di Indonesia yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Tingginya tingkat eksploitasi
ikan Napoleon ini menyebabkan menurunnya jumlah populasi di beberapa wilayah
perairan secara drastis di Indonesia. International Union for the Conservation of Nature
and Natural Resources (IUCN) menetapkan bahwa ikan Napoleon merupakan salah satu
ikan yang dilindungi di dunia karena dianggap telah langka dan terancam populasinya di
alam. Sehingga perlu dilakukan konservasi agar dapat menyelamatkam sumberdaya alam
laut dari ancaman kepunahan akibat penangkapan lebih di alam (overfishing). Saat ini,
KKP melalui Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan (KKJI) telah mengeluarkan
keputusan No.37/KEPMEN-KKP/2013 tentang penetapan status perlindungan Ikan
Napoleon (C. undulatus).

18
DAFTAR PUSTAKA

Choat, J. H., Davies, C. R., Ackerman, J. L. & Mapstone, B. D. (2006). Age structure
and growth in a large teleost, Cheilinus undulatus, with a review of size
distribution in labrid fishes. Marine Ecology Progress Series 318, 237−246.
CITES. 2004. Amendments to Appendices I and II of CITES [proposal]. Convention on
the International Trade in Endangered Species, 13th Meeting of the Conference
of the Parties.
Gillett, R. 2010. Monitoring and Management of the Humphead Wrasse, Cheilinus
undulatus. FAO Fisheries and Aquaculture Circular No. 1048, Rome. 62p.
Gillett, R., 2010. Monitoring and management of the Humphead Wrasse, Cheilinus
undulatus. Rome, Italy. FAO Fisheries and Aquaculture Circular No.1048
Myers, R.F. 1999. Micronesian reef fishes, 3rd ed. Coral Graphics, Barrigada, Guam.
Pogonoski, J. J., Pollard, D. A. & Paxton, J. R. (2002). Conservation overview and action
plan for Australian threatened and potentially threatened marine and estuarine
fishes. Environment Australia, Canberra. 375 pp.
Randall, J.E., S. M. Head, and A. P. L. Sanders. 1978. Food Habits of The Giant
Humphead Wrasse (Cheilinus undulates, Labridae). Env. Biol. Fishes 3: 335-338
Russell, D. and Buga, B. 2001. Solomon Islands seafood marketing analysis interim
report, Ministry of Fisheries and Marine Resources, Honiara
Sabater, M., 2010. Mapping and assessing critical habitats for the Pacific Humphead
Wrasse (Cheilinus undulatus). Honolulu, Western Pacific Regional Fishery
Management Council.
Sadovy, Y., & S. Suharti, 2008. Napoleon fish, Cheilinus undulatus, Indonesia. Mexico.
NDF Workshop Case Study 3., 13pp
Sadovy, Y., Kulbicki, M., Labrosse, P., Letourneur, Y., Lokani, P. & Donaldson, T. J.
2003. The Humphead Wrasse, Cheilinus undulates: synopsis of a threatened an
poorly known coral reef fish. Review in Fish Biology and Fisheries 13.
Sadovy, Y., M. Kulbicki, P. labrosse, Y. letourneu, P. Lokani & T.J. Donaldson, 2004.
Reviews in Fish Biology and Fisheries 13: 327–364

19