Anda di halaman 1dari 40

MAKALAH LBM 3

“ GIZI DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT”

OLEH
KELOMPOK 10

Wina Budiarti 013.06.0062

Yessy Aulia Rizkiantari 013.06.0063

I Gusti Ayu Putri Juliani 014.06.0016

Laras Febriyana Safitri 014.06.0029

I Gusti NGurah Bagus Oka Juniawan 014.06.0030

Mara Kharisma 014.06.0034

Azmi Azizati Aprilia 014.06.0035

Babad Bagus 013.06.0037

Niky Reisiya Afna 014.06.0063

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM AL-AZHAR MATARAM

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat dan
hidayah-Nya makalah PLENO LBM 3 yang berjudul “ GIZI DAN PERILAKU HIDUP
BERSIH DAN SEHAT (PHBS) ” pada Modul Masalah Kesehatan Masyarakat ini dapat
kelompok kami selesaikan dengan sebagaimana mestinya.

Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan serta
bantuan sehingga terselesaikannya laporan ini. Kami mohon maaf jika dalam laporan ini
terdapat banyak kekurangan dalam semua hal yang menyangkut dengan Small Group
Discustion yang telah kami laksanakan. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran
yang dapat membangun sehingga kami dapat lebih baik lagi kedepannya.

Mataram, 22 Mei 2017

Tim Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................ 2

DAFTAR GAMBAR .................................................................................................................. 4

BAB I ....................................................................................... Error! Bookmark not defined.


PENDAHULUAN ................................................................... Error! Bookmark not defined.
1.2 TERMINOLOGI ............................................................ Error! Bookmark not defined.
1.3 TUJUAN ........................................................................ Error! Bookmark not defined.

1.4 RUMUSAN MASALAH ............................................... Error! Bookmark not defined.


BAB II ...................................................................................... Error! Bookmark not defined.
PEMBAHASAN ...................................................................... Error! Bookmark not defined.
2.1 SKENARIO .................................................................... Error! Bookmark not defined.
2.2 PEMBAHASAN ............................................................ Error! Bookmark not defined.
2.2.1 Skala-skala Pengukuran IMT .................................. Error! Bookmark not defined.
2.2.2 Factor yang dapat menyebabkan Obesitas ............... Error! Bookmark not defined.

2.2.3 PHBS ( Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) .............. Error! Bookmark not defined.
2.2.4 Manfaat PHBS ......................................................... Error! Bookmark not defined.
2.2.5 Indikator PHBS yang ada di dalam masyarakat . .... Error! Bookmark not defined.

2.2.6 Jelaskan yang dimaksud dengan Pembrdayaan Keluarga di Masyarakat .........Error!


Bookmark not defined.
2.2.7 Apakah tujuan dari Pemberdayaan Keluarga .......... Error! Bookmark not defined.
2.2.8 Sebutkan langkah-langkah melaksanakan Program Pemberdayaan Keluarga .Error!
Bookmark not defined.
2.2.9 Status Gizi Ibu dan anak .......................................... Error! Bookmark not defined.
BAB III .................................................................................... Error! Bookmark not defined.
KESIMPULAN ........................................................................ Error! Bookmark not defined.
DAFTAR PUSTAKA .............................................................. Error! Bookmark not defined.
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 klasifikasi IMT ......................................... Error! Bookmark not defined.


Gambar 2.2 tambahan kalori protein bagi ibu hamil ... Error! Bookmark not defined.

Gambar 2.3 Alur Survei Gizi Buruk di


Puskesmas......................................................Error! Bookmark not defined.

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1: Kategori Indeks Massa Tubuh (IMT) .......... Error! Bookmark not defined.
Tabel 2.2 Kategori Interpretasi Status Gizi Berdasarkan Tiga Indeks (BB/U,TB/U,
BB/TB ........................................................................... Error! Bookmark not defined.
Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS) ............... Error! Bookmark not defined.
Tabel 2.3 Penilaian Status Gizi berdasarkan Indeks BB/U,TB/U, BB/TB ...........Error!
Bookmark not defined.
Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS ................. Error! Bookmark not defined.
Table 2.4 weight (kg) by age of boys aged 15 year from WHO-NCHS ..............Error!
Bookmark not defined.
Table 2.5 weight (kg) by stature of boys 145 cm in Height from WHO-NCHS .Error!
Bookmark not defined.
Tabel 2.6 stature (cm) by age of boys aged 15 year from WHO-NCHS ..............Error!
Bookmark not defined.
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Visi pembangunan kesehatan saat ini adalah Indonesia sehat untuk mewujudkan
masyarakat yang mandiri dan berkeadilan. Visi ini dituangkan kedalam empat misi salah
satunya adalah meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat,
termasuk swasta dan masyarakat madani (Depkes RI, 2009). Misi pembangunan kesehatan
tersebut diwujudkan dengan menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk
berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Perilaku hidup bersih dan sehat adalah
sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran atas hasil pembelajaran yang
menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan
dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat (Dinkes, 2009). Perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) dilakukan melalui pendekatan tatanan yaitu: PHBS di
rumah tangga, PHBS di sekolah, PHBS di tempat kerja, PHBS di institusi kesehatan dan
PHBS di tempat umum.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tersebut harus dimulai dari tatanan rumah
tangga, karena rumah tangga yang sehat merupakan aset modal pembangunan di masa
depan yang perlu dijaga, ditingkatkan dan dilindungi kesehatannya. Beberapa anggota
rumah tangga mempunyai masa rawan terkena penyakit infeksi dan non infeksi, oleh
karena itu untuk mencegahnya anggota rumah tangga perlu diberdayakan untuk
melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) (Depkes RI, 2009).

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga merupakan salah satu upaya
strategis untuk menggerakan dan memberdayakan keluarga atau anggota rumah tangga
untuk hidup bersih dan sehat. Melalui ini setiap anggota rumah tangga diberdayakan agar
tahu, mau dan mampu menolong diri sendiri dibidang kesehatan dengan mengupayakan
lingkungan yang sehat, mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan yang
dihadapi, serta memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada. Setiap rumah tangga juga
digerakkan untuk berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya dan
mengembangkan upaya kesehatan bersumber masyarakat (Depkes RI, 2006).
Pemberdayaan keluarga atau anggota rumah tangga untuk melaksanakan perilaku hidup
bersih dan sehat tidak terlepas dari peran orangtua, karena orangtua akan menjadi panutan
dan teladan bagi anggota keluarga lainnya sehingga pemberian informasi kesehatan akan
lebih efektif apabila disampaikan oleh orangtua pada anggota keluarga yang lain. Orangtua
juga memiliki fun gsi afektif untuk memberikan pengetahuan dasar kepada anggota
keluarga yang lain. Agar dapat memberikan pengetahuan dasar tentang perilaku hidup
bersih dan sehat kepada anggota keluarga lainnya diperlukan pengetahuan yang memadai
dari orangtua.

Berdasarkan uraian di atas sangat penting untuk mengembangkan Perilaku Hidup Bersih
dan Sehat (PHBS) terutama pada keluarga di dalam masyarakat.

1.2 TERMINOLOGI
a. IMT
Indeks massa tubuh (IMT) adalah nilai yang diambil dari perhitungan antara
berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) seseorang. IMT dipercayai dapat menjadi
indikator atau mengambarkan kadar adipositas dalam tubuh seseorang. IMT tidak
mengukur lemak tubuh secara langsung, tetapi penelitian menunjukkan bahwa IMT
berkorelasi dengan pengukuran secara langsung lemak tubuh seperti underwater
weighing dan dual energy x-ray absorbtiometry (Grummer-Strawn LM et al., 2002).

a. Obesitas
Obesitas adalah kelebihan lemak dalam tubuh, yang umumnya ditimbun dalam
jaringan subkutan (bawah kulit), sekitar organ tubuh dan kadang terjadi perluasan ke
dalam jaringan organnya (Misnadierly, 2007).

b. Overweight
Overweight adalah kelebihan berat badan dibandingkan dengan berat ideal yang
dapat disebabkan oleh penimbunan jaringan lemak atau nonlemak, misalnya pada
seorang atlet binaragawan, kelebihan berat badan dapat disebabkan oleh hipertrofi otot.

1.3 TUJUAN
1.1.1 Memenuhi penugasan dalam pleno Small Group Discustion pada blok Masalah
Kesehatan Masyarakat

1.1.2 Mengetahui tentang Apa Itu PHBS


1.1.3 Mengetahui tentang Pemberdayaan Keluarga Dalam Masyarakat
1.1.4 Mengetahui tentang Gizi Ibu Hamil dan Anak
1.4 RUMUSAN MASALAH
1.4.1 jelaskan skala-skala Pengukuran IMT !
1.4.2 Apa saja faktor yang dapat menyebabkan Obesitas ?
1.4.3 Apakah yang dimaksud dengan PHBS ?
1.4.4 Apa saja manfaat dari PHBS ?
1.4.5 Sebutkan indicator PHBS yang ada di dalam masyarakat !
1.4.6 Jelaskan yang dimaksud dengan Pembrdayaan Keluarga di Masyarakat !
1.4.7 Apakah tujuan dari Pemberdayaan Keluarga ?
1.4.8 Sebutkan langkah-langkah melaksanakan Program Pemberdayaan Keluarga !
1.4.9 Jelaskan tentang Status Gizi Ibu dan anak !
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 SKENARIO

“GIZI DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS)”

Data global dari 183 Negara antara tahun 1980-2013, peningkatan prevalensi anak overweight
dan obesitas lebih tinggi dari dewasa yaitu 47,1 % pada anak dan 27,5 pada dewasa. Di
Indonesia tahun 2013, prevalensi obesitas dan overweight pada anak usia 9-12 tahun meningkat
menjadi 13 % dan 12,5 %. Hal ini dikarenakan gaya hidup yang kurang sehat, seperti kurang
makan sayur dan buah serta kurangnya aktivitas fisik.

Status gizi anak tidak hanya dipengaruhi pola makan tetapi juga pola asuh keluarga serta
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) terutama dalam rumah tangga. Pemberdayaan keluarga
sangat berperan penting dalam meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengontrol hidup
anak obesitas yang berdampak pada penurunan indeks masa tubuh anak obesitas.

2.2 PEMBAHASAN

2.2.1 Skala-skala Pengukuran IMT


Untuk orang dewasa yang berusia 20 tahun keatas, IMT diinterpretasi
menggunakan kategori status berat badan standard yang sama untuk semua umur bagi
pria dan wanita. Untuk anak-anak dan remaja, intrepretasi IMT adalah spesifik mengikut
usia dan jenis kelamin (CDC, 2009).

Secara umum, IMT 25 ke atas membawa arti pada obes. Standar baru untuk IMT
telah dipublikasikan pada tahun 1998 mengklasifikasikan BMI di bawah 18,5 sebagai
sangat kurus atau underweight, IMT melebihi 23 sebagai berat badan lebih atau
overweight, dan IMT melebihi 25 sebagai obesitas. IMT yang ideal bagi orang dewasa
adalah diantara 18,5 sehingga 22,9. Obesitas dikategorikan pada tiga tingkat:

tingkat I (25-29,9), tingkat II (30-40), dan tingkat III (>40) (CDC, 2002).
Untuk kepentingan Indonesia, batas ambang dimodifikasi lagi berdasarkan
pengalaman klinis dan hasil penelitian di beberapa negara berkembang. Pada akhirnya
diambil kesimpulan, batas ambang IMT untuk Indonesia adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1: Kategori Indeks Massa Tubuh (IMT)


IMT KATEGORI
< 18,5 Berat badan kurang
18,5 – 22,9 Berat badan normal
≥ 23,0 Kelebihan berat badan
23,0 – 24,9 Beresiko menjadi obes
25,0 – 29.9 Obes I
≥ 30,0 Obes II
Sumber: Centre for Obesity Research and Education 2007

2.2.2 Factor yang dapat menyebabkan Obesitas


 Faktor yang menyebabkan obesitas secara langsung:
a. Genetik
Yang dimaksud factor genetik adalah faktor keturunan yang berasal dari orang
tuanya. Pengaruh faktor tersebut sebenarnya belum terlalu jelas sebagai penyebab
kegemukan. Namun demikian, ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa factor
genetic merupakan factor penguat terjadinya kegemukan (Purwati, 2001). Menurut
penelitian, anak-anak dari orang tua yang mempunyai berat badan normal ternyata
mempunyai 10 % resiko kegemukan. Bila salah satu orang tuanya menderita
kegemukan, maka peluang itu meningkat menjadi 40 –50 %. Dan bila kedua orang
tuanya menderita kegemukan maka peluang factor keturunan menjadi 70–80%
(Purwati, 2001).

b. Hormonal
Pada wanita yang telah mengalami menopause, fungsi hormone tiroid didalam
tubuhnya akan menurun. Oleh karena itu kemampuan untuk menggunakan energi akan
berkurang. Terlebih lagi pada usia ini juga terjadi penurunan metabolisme basal tubuh,
sehingga mempunyai kecenderungan untuk meningkat berat badannya (Wirakusumah,
1997).
Selain hormon tiroid hormone insulin juga dapat menyebabkan kegemukan. Hal
ini dikarenakan hormone insulin mempunyai peranan dalam menyalurkan energi
kedalam sel-sel tubuh. Orang yang mengalami peningkatan hormone insulin, maka
timbunan lemak didalam tubuhnyapun akan meningkat. Hormon lainnya yang
berpengaruh adalah hormone leptin yang dihasilkan oleh kelenjar pituitary, sebab
hormone ini berfungsi sebagai pengatur metabolisme dan nafsu makan serta fungsi
hipotalmus yang abnormal, yang menyebabkan hiperfagia (Purwati, 2001).

c. Obat-obatan
Saat ini sudah terdapat beberapa obat yang dapat merangsang pusat lapar
didalam tubuh. Dengan demikian orang yang mengkonsumsi obat-obatan tersebut, nafsu
makannya akan meningkat, apalagi jika dikonsumsi dalam waktu yang relative lama,
seperti dalam keadaan penyembuhan suatu penyakit, maka hal ini akan memicu
terjadinya kegemukan (Purwati, 2001).

d. Asupan makan
Asupan makanan adalah banyaknya makanan yang dikonsumsi seseorang.
Asupan Energi yang berlebih secara kronis akan menimbulkan kenaikan berat badan,
berat badan lebih (over weight), dan obesitas. Makanan dengan kepadatan Energi yang
tinggi (banyak mengandung lemak dan gula yang ditambahkan dan kurang mengandung
serat) turut menyebabkan sebagian besar keseimbangan energi yang positip ini (Gibney,
2009)

Perlu diyakini bahwa obesitas hanya mungkin terjadi jika terdapat kelebihan
makanan dalam tubuh, terutama bahan makanan sumber energi. Dan kelebihan makanan
itu sering tidak disadari oleh penderita obesitas (Moehyi, 1997).

Ada tiga hal yang mempengaruhi asupan makan, yaitu kebiasaan makan,
pengetahuan, dan ketersediaan makanan dalam keluarga. Kebiasaan makan berkaitan
dengan makanan menurut tradisi setempat, meliputi hal-hal bagaimana makanan
diperoleh, apa yang dipilih, bagaimana menyiapkan, siapa yang memakan, dan seberapa
banyak yang dimakan.

Ketersediaan pangan juga mempengaruhi asupan makan, semakin baik


ketersediaan pangan suatu keluarga, memungkinkan terpenuhinya seluruh kebutuhan
zat gizi (Soekirman, 2000). Ketersediaan pangan sangat dipengaruhi oleh pemberdayaan
keluarga dan pemanfaatan sumberdaya masyarakat. Sedangkan kedua hal tersebut
sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan kemiskinan.
Kecukupan gizi menurut Recommended dietary Allowanie (RDA) tahun 1989
adalah banyaknya zat gizi yang harus terpenuhi dari makanan mencakup hampir semua
orang sehat. Kecukupan gizi dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, aktifitas, berat
badan, tinggi badan, genetic, dan keadaan hamil dan menyusui. Kecukupan gizi yang
dianjurkan berbeda dengan kebutuhan gizi (Karyadi, 1996).

Kebutuhan energi total untuk orang dewasa diperlukan untuk metabolisme basal,
aktivitas fisik, dan efek makanan atau pengaruh dinamik khusus (SDA). Kebutuhan
energi terbesar diperlukan untuk metabolisme basal (Almatsier, 2005).

Angka kecukupan protein (AKP) orang dewasa menurut hasil penelitian


keseimbangan nitrogen yaitu 0,75 gr/kg berat badan, berupa protein patokan tinggi yaitu
protein telur. Angka ini dinamakan safe level of intake atau taraf asupan terjamin
(Almatsier, 2005).

e. Aktivitas Fisik
Obesitas juga dapat terjadi bukan hanya karena makan yang berlebihan, tetapi
juga dikarenakan aktivitas fisik yang berkurang sehingga terjadi kelebihan energi.
Beberapa hal yang mempengaruhi berkurangnya aktivitas fisik antara lain adanya
berbagai fasilitas yang memberikan berbagai kemudahan yang menyebabkan aktivitas
fisik menurun. Faktor lainnya adalah adanya kemajuan teknologi diberbagai bidang
kehidupan yang mendorong masyarakat untuk menempuh kehidupan yang tidak
memerlukan kerja fisik yang berat. Hal ini menjadikan jumlah penduduk yang
melakukan pekerjaan fisik sangat terbatas menjadi semakin banyak, sehingga obesitas
menjadi lebih merupakan masalah kesehatan (Moehyi, 1997).

Faktor yang menyebabkan obesitas secara tidak langsung:


a. Pengetahuan gizi.
Pengetahuan gizi memegang peranan penting dalam menggunakan pangan
dengan baik sehingga dapat mencapai keadaan gizi yang cukup. Pengetahuan ibu
dipengaruhi oleh pendidikannya.Tingkat pendidikan , pengetahuan dan ketrampilan
yang dimiliki sangat mempengaruhi pengetahuan seseorang. Dengan berbekal
pendidikan yang cukup, seseorang akan lebih banyak memperoleh informasi dalam
menentukan pola makan bagi dirinya maupun keluarganya . Menurut Notoatmojo
(1993), Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan diperoleh dari pengalaman
diri sendiri atau pengalaman orang lain. Pengetahuan ibu tentang kesehatan dan gizi
mempunyai hubungan yang erat dengan pendidikannya. Pengetahuan tidak hanya
diperoleh melalui pendidikan formal, namun juga dari informasi orang lain, media
massa atau dari hasil pengalaman orang lain.

b. Pengaturan Makan
Hidangan gizi seimbang adalah makanan yang mengandung zat gizi tenaga, zat
pembangun , dan zat pengatur yang dikonsumsi seseorang dalam waktu satu hari sesuai
dengan kecukupan tubuhnya (Departemen Kesehatan RI, 1996) Makanan sumber
karbohidrat kompleks merupakan sumber energi utama. Bahan makanan sumber
karbohidrat kompleks adalah padi-padian (beras, jagung, gandum), umbi-umbian
(singkong ubi jalar dan kentang), dan bahan makanan lain yang mengandung banyak
karbohidrat seperti pisang dan sagu. Gula tidak mengenyangkan tetapi cenderung
dikonsumsi berlebih, konsumsi gula berlebihan menyebabkan kegemukan. Oleh karena
itu konsumsi gula sebaiknya dibatasi sampai 5% dari jumlah kecukupan energi atau 34
sendok makan setiap harinya.

Konsumsi zat tenaga yang melebihi kecukupan dapat mengakibatkan kenaikan


berat badan, bila keadaan ini berlanjut akan menyebabkan obesitas yang biasanya
disertai dengan gangguan kesehatan lainnya. Berat badan merupakan petunjuk utama
apakah seseorang kekurangan atau kelebihan energi dari makanan (Karyadi, 1996).

Obesitas dapat terjadi jika konsumsi makanan dalam tubuh melebihi kebutuhan,
dan penggunaan energi yang rendah (Wirakusumah, 1997). Beberapa penyebab yang
menjadikan seseorang makan melebihi kebutuhan adalah :

1) Makan berlebih
Tidak bisa mengendalikan nafsu makan merupakan kebiasaan merupakan
kebiasaan buruk, baik dilakukan dirumah, restoran, saat pesta, maupun pada pertemuan-
pertemuan. Apabila sudah merasa kenyang, janganlah sekali-kali menambah porsi
makanan meskipun makanan yang tersedia sangat lezat.

Faktor ini sangat berhubungan erat dengan rasa lapar dan nafsu makan. Begitu
juga saat terjadi stress (rasa takut, cemas), beberapa orang dalam menghadapinya akan
mengalihkan perhatiaannya pada makanan.

2) Kebiasaan mengemil makanan ringan


Mengemil adalah kebiasaan makan yang dilakukan di luar waktu makan, dan
makanan yang dikonsumsi berupa makanan kecil yang rasanya gurih, manis manis dan
biasanya digoreng. Bila kebiasaan ini tidak dikontrol akan dapat menyebabkan
kegemukan, karena jenis makanan tersebut termasuk tinggi kalori. Namun jika rasa
lapar sulit untuk ditahan, maka makanlah makanan yang rendah kalori dan tinggi serat
seperti sayuran dan buah-buahan.

3) Suka makan tergesa-gesa


Makan secara terburu-buru akan menyebabkan efek kurang menguntungkan
bagi pencernaan, selain dapat mengakibatkan rasa lapar kembali. Begitu pula dengan
kebiasaan mengunyah makanan yang kurang halus. Padahal makan dengan tidak
terburu-buru dan mengunyah makanan yang halus akan memelihara kesehatan gigi dan
gusi.

4) Salah memilih dan mengolah makanan


Faktor ini biasanya disebabkan karena ketidaktahuan. Tetapi banyak juga orang
yang memilih makanan hanya karena prestise semata. Misalnya, banyak orang yang
lebih memilih makanan yang cepat saji, padahal makanan tersebut banyak mengandung
lemak, kalori dan gula yang berlebih, sedangkan kandungan seratnya rendah. Selain
makanan tersebut, masyarakat juga menyukai makanan goreng-gorengan ataupun yang
bersantan. Padahal minyak dan santan selain tinggi kalori, juga merupakan lemak yang
mengandung ikatan jenuh sehingga sulit untuk dipecah menjadi bahan bakar. Oleh
karena itu, biasakanlah memasak dengan cara membakar, merebus, mengukus,
memanggang dan mengetim.

2.2.3 PHBS ( Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)


Perilaku Hidup Sehat dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang
dipraktekkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan
seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri
(mandiri) dibidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan
masyarakat. dengan demikian PHBS mencakup beratus-ratus bahkan beribu-ribu
perilaku yang harus dipraktekkan dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat
yang setinggi-tingginya. Dibidang pencegahan dan penanggulangan penyakit serta
penyehatan lingkungan harus dipraktekkan perilaku mencuci tangan dengan sabun,
pengelolahan air minum dan makanan yang memenuhi syarat, menggukan air bersih,
menggunakan jamban sehat, pengelolahan limbah cair yang memenuhi syarat,
memberantas jentik nyamuk, tidak merokok di dalam ruangan dan lain-lain. Dibidang
kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana harus dipraktekkan perilaku meminta
pertolongan meminta pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, menimbang balita
setiap bulan, mengimunisasi lengkap bayi, menjadi aseptor keluarga berencana dan lain-
lain. Dibidang gizi dan farmasi harus dipraktekkan perilaku makan dengan giji
seimbang, minum tablet tambah darah selama hamil, memberi bayi ASI esklusif garam
beryodium dan lain-lain. Sedangkan dibidang pemeliharaan kesehatan harus
dipraktekkan perilaku ikut serta dalam jaminan pemeliharaan kesehatan, aktif mengurus
dan atau memanfaatkan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat atau (UKBM),
memanfaatkan Puskesmas dan fasilitas pelayan kesehatan lain dan lain-lain. (Depkes,
2011).

2.2.4 Manfaat PHBS


Keluarga yang melaksanakan PHBS maka setiap rumah tangga akan
meningkat kesehatannya dan tidak mudah sakit. Rumah tannga tangga sehat dapat
meningkatkan produktivitas kerja anggota keluarga. Dengan meningkatnya kesehatan
anggota rumah tangga maka biaya yang tadinya dialokasikan untuk kesehatan dapat
dialihkan untuk biaya investasi seperti biaya pendidikan dan usaha lain yang dapat
meningkatkan kesejahteraan anggota rumah tangga. Salah satu indikator menilai
keberhasilan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di bidang kesehatan adalah
pelaksanaan PHBS. PHBS juga bermanfaat untuk meningkatkan citra pemerintah
daerah dalam bidang kesehatan, sehingga dapat menjadi percontohan rumah tangga
sehat bagi daerah lain.

Perilaku hidup bersih dan sehat sangat bermanfaat bagi keberlangsungan hidup suatu
rumah tangga.

Manfaat rumah tangga ber-PHBS adalah:


1. Bagi Rumah Tangga
a. Setiap anggota keluarga menjadi sehat dan tidak mudah sakit
b. Anak tumbuh sehat dan cerdas
c. Anggota keluarga giat bekerja
d. Pengeluaran rumah tangga dapat ditujukan untuk memenuhi gizi
keluarga, pendidikan dan modal usaha untuk menambah pendapatan
keluarga.

2. Bagi Masyarakat
a. Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan sehat
b. Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah
kesehatan
c. Masyarakat memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada.
d. Masyarakat mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber
Masyarakat (UKBM) seperti posyandu, tabungan ibu bersalin, arisan
jamban, ambulans desa dan lain-lain.

2.2.5 Indikator PHBS yang ada di dalam masyarakat .

1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan


Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan adalah persalinan yang ditolong oleh
tenaga kesehatan (bidan, dokter dan tenaga para lainnya). Persalinan di tolong oleh
tenaga kesehatan diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi.
Angka kematian ibu (AKI) adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu
penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya
selama kehamilan, dan dalam masa nifas per 100.000 kelahiran hidup. AKI berguna
untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan
kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama
untuk ibu hamil, pelayanan kesehatann waktu ibu melahirkan dan masa nifas.
Meningkatnya proporsi ibu bersalin dengan bantuan tenaga kesehatan yang terlatih,
adalah langkah awal terpenting untuk mengurangi kematian ibu dan kematian
neonatal dini. Pelayanan obstetrik dan neonatal darurat serta pertolongan persalinan
oleh tenaga kesehatan terlatih menjdi sangat penting dalam upaya penurunan
kematian ibu. Walaupun sebagian besar perempuan bersalin di rumah, tenaga
terlatih dapat membantu mengenali kegawatan medis dan membantu keluarga
untuk mencari perawatan darurat.

2. Memberi ASI ekslusif


ASI ekslusif adalah bayi usia 0-6 bulan hanya diberi ASI saja tanpa memberikan
tambahan makanan atau miniman lain. ASI adalah makanan alamiah berupa cairan
dengan kandungan gizi yang cukup dan sesuai untuk kebutuhan bayi, sehingga bayi
tumbuh ban berkembang denagan baik. Air susu ibu pertama berupa cairan bening
bewarna kekuningan (kolostrum) sangat baik untuk bayi karena mengandung zat
kekebalan terhadap penyakit. ASI ekslusif adalah bayi yang hanya diberikan ASI
tanpa diberi tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu.
Pemberian ASI ini secara eklusif dianjurkan untuk jangka waktu setidaknya selama
4 bulan, tetapi bila mungkin sampai 6 bulan. ASI eklusif adalah memberikan ASI
saja tanpa makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai 6 bulan.
Padatahun 2002 World Health Organization menyatakan bahwa ASI eklusif selama
6 bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik. Menyusui eksekutif adalah
memberikan hanya ASI segera setelah lahir sampai bayi berusia 6 bulan dan
memberikan kolustrum. Berdasarkan waktu produksinya.

3. Menimbang balita setiap bulan


Penimbangan balita di maksudkan untuk memantau pertumbuhannya setiap bulan.
Penimbangan balita dilakukan setiap bulan mulai dari umur 1 tahun sampai 5 tahun
diposyandu. Setelah balita di timbang di buku KIA maka akan terlihat berat
badannya naik atau tidak naik. Naik, bila garis pertumbuhannya naik mengikuti
salah satu pita warna pada KMS. Tidak naik, bila garis pertumbuhannya menurun.

Bila balita mmengalami gizi kurang maka akan dijumpai tanda-tanda:


1. Berat badan tidak naik selama 3 bulan berturut-turut, badannya kurus
2. Mudah sakit
3. Tampak lesu dan lemah
4. Mudah menangis dan rewel Balita merupakan anak yang berusia di bawah 5
tahun.

Berdasarkan konvensi tersebut, balita berhak untuk tumbuh dan berkembang.


Tumbuh berarti bertambahnya ukuran tubuh dan jumlah sel serta jaringan di antara
sel- sel tubuh, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.
Perkembangan adalah struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam
kemampuan gerak kasar, halus, bicara, sosialisasi, dan kemandirian. Stimulasi dini
untuk bayi diperlukan karena pembentukan sinar sebelum daya
rangsangan/stimulasi penglihatan, suara, pembauan, sentuhan, bahasa dan kontak
mata membantu pembentukan hubungan neural otak. Pembinaan tumbuh kembang
anak menjadi tanggung jawab bersama. Di Indonesia, pembinaan dilakukan dengan
kegiatan Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK).
Melakukan aktivitas stimulasi berarti meransang otak anak sehingga kemampuan
gerak, bicara, dan bahasa, sosialisasi,dan kemandiran anak berlangsung optimal
sesuai dengan umur. Melakukan intervensi dini tumbuh kembang berarti melakukan
tindakan koreksi untuk memperbaiki penyimpangan tumbuh kembang pada anak.
Sehingga pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan salah satu
darin perilaku hidup bersih dan sehat.

4. Menggunakan air bersih


Air adalah kebutuhan dasar yang dipergunakan sehari-hari untuk minum,
memasak, mandi, berkumur, membersihkan lantai, mencuci alat-alat dapur,
mencuci pakaian dan sebagainya. Agar kita tidak terkena penyakit atau terhindar
sakit. Air bersih secara fisik dapat dibedakan melalui indra kita, antara lain (dapat
dilihat, dirasa, dicium, dan diraba). Air tidak berwarna harus bening/jernih. Air
tidak keruh, harus bebas dari pasir, debu, lumpur, sampah, busa dan kotoran
lainnya. Air tidak berasa, tidak berasa asin, tidak berasa asam, tidak payau, dan
tidak pahit harus bebas dari bahan kimia beracun. Air tidak berbau seperti bau amis,
anyir, busuk atau belerang. Air bersih bermanfaat bagi tubuh supaya terhindar dari
gangguan penykit-penyakit setiap anggota keluarga terpelihara kebersihan dirinya.
Air merupakan zat yang memiliki peranan sangat penting bagi kelangsungan hidup
manusia dan makhluk hidup lainnya. Manusia akan lebih cepat meninggal karena
kekurangan makanan. Di dalam tubuh manusia itu sendiri sebagian besar terdiri dari
air. Air dibutuhkan manusia untuk memenuhi berbagai kepentingan antara lain:
diminum, masak, mandi, mencuci dan pertanian. Diantara kegunaankegunaan air
tersebut yang sangat penting adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu, untuk
keperluan minum air harus mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak
menimbulkan penyakitan bagi manusia.

5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun


Kedua tangan kita sangat penting untuk membantu menyelesaikan berbagai
pekerjaan. Makan dan minum sangat membutuhkan kerja dari tangan. Jika tangan
kotor akan maka tubuh sangat berisiko terhadap masuknya mikroorganisme. Cuci
tangan dapat berfungsi menghilang/mengurangi mikroorganisme yang menempel
di tangan. Cuci tangan harus dilakukan dengan menggunakan air bersih dan sabun.
Air yang tidak bersih banyak mengandung kuman dan bakteri penyebab penyakit.
Bila digunakan, kuman berpindah ke tangan. Pada saat makan, kuman dengan cepat
masuk ke dalam tubuh, yang bias menimbulkan penyakit. Sabun dapat
membersihkan kotoran dan membunuh kuman, karena tanpa sabun, maka kotoran
dan kuman masih tertinggal di tangan. Waktu yang tepat untuk mencuci tangan
adalah:

1. Setiap kali tangan kita kotor


2. Setelah buang air besar
3. Setelah menceboki bayi atau anak
4. Sebelum makan dan menyuapi anak
5. Sebelum memegang makanan
6. Sebelum menyusui bayi
7. Sebelum menyuapi anak
8. Setelah bersin, batuk, membuang ingus, setelah pulang dari berpergian 9.
Sehabis bermain/member makan/memegang hewan peliharaan

6. Menggunakan jamban sehat


Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoram
manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa
yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk
membersihkannya. Jenis-jenis jambanyang di gunakan:

1. Jamban cemplung
Adalah jamban yang penampungannya berupa lubang yang berfungsi
menyimpan kotoran kedalam tanah dan mengendapkan kotoran kedasar lubang.

Untuk jamban cemplung diharuskan ada penutup agar tidak berbau.


2. Jamban tangki setik/leher angsa
Adalah jamban berbentuk leher angsa yang penampungnya berupa tangki
septik kedap air yang berfungsi sebagai wadah proses penguraian kotoran
manusia yang dilengkapi dengan resapan.

7. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu


Rumah bebas jentik adalah rumah tangga yang setelah dilakukan pemeriksaan
jentik secara berkala tidak terdapat jentik nyamuk. Pemberantasan jentik bermaksud
untuk membebaskan rumah dari jentik-jentik yang dapat dilakukan secara berkala.

Pemeriksaan jentik berkala adalah pemeriksaan tempat-tempat perkembangbiakan


nyamuk yang ada di dalam rumah seperti bak mandi/wc , vas bunga, tatanan kulkas,
dan lain-lain dan di luar rumah. Yang dilakukan secara teratur sekali dalam
seminggu. Yang berkewajiban Melakukan pemeriksaan jentik secara berkala
adalah:

1. Anggota rumah tangga

2. Kader
3. Juru pemantau jentik
4. Tenaga pemeriksa jentik lainnya
Agar rumah menjadi bebas jentik maka perlu dilakukan pemberantasan sarangga
nyamuk dengan cara 3 M plus (mennguras, menutup, mengubur) plus menghindari
gigitan nyamuk. PSN merupakan kegiatan memberantas telur, jentik, dan
kepompong nyamuk, penular berbagai penyakit. Gerakan 3 M plus adalah 3 cara
plus yang dilakukan pada saat PSN yaitu:

1. Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi,


tatana kulkas, tatanan pot kembang dan tempat air minum burung

2. Menutup rapat-rapat tempat penampunga air seperti lubang bak kontrol

3. Mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung


air seperti ban bekas, kaleng bekas, plastik kresek dan lain-lain.

Plus Menghindari Gigitan Nyamuk yaitu:


1. Menggunakan kelambu ketika tidur
2. Memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk; bakar, semprot, oles
3. Menghindari kebiasan menggantung pakaian di dalam kamar
4. Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi yang memadai
5. Memperbaiki saluran talang air yang rusak
6. Menaburkan bubuk pembunuh jentik di tempat yang sulit dikuras
7. Memelihara ikan pemakan jentik di kolam/bak penampung air
8. Menanam tumbuhan pengusir nyamuk, misalnya zodia, lavender
8. Makan buah dan sayur setiap hari
Semua sayur bagus dimakan, terutama sayuran yang berwarna (hijau tua, kuning
dan orange) seperi bayam, kangkung, daun katuk, wortel, selada hjau, atau daun
singkong. Semua buah bagus untuk dimakan, terutama yang bewarna (merah,
kuning), seperti mangga, papaya, jeruk, jambu biji, atau apel lebih banyak
kandungan vitamin dan mineral serta seratnya. Pilihan buah dan suyur yang bebas
pestisida dan zat berbahaya lainnya. Biasanya ciri-ciri sayur dan buah yang baik
ada sedikit lubang bekas dimakan ulat dan tetap segar. Pengolahan sayur dan buah
yang tepat tidak merusak atau mengurangi gizinya. Konsumsi buah dan suyur yang
tidak merusak kandungan gizinya adalah dengan memakannya dalam keadaan
mentah atau dikukus. Direbus dengan air akan melarutkan beberapa vitamin dan
mineral yang terkandung dalam sayur dan buah tersebut. Pemanasan tinggi akan
menguraikan beberapa vitamin seperti vitamin C.

9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari.


Semua anggota keluarga sebaiknya melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit
setiap hari. Aktifitas fisik adalah Melakukan pergerakan anggota tubuh yang
menyebabkan pengeluaran tenaga yang sangat penting bagi pemeliharaan
kesehatan fisik, mental dan mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat dan
bugar sepanjang hari. Aktifitas fisik yang dapat dilakukan biasa berupa kegiatan
sehari-hari, yaitu: berjalan kaki, berkebun, mencuci pakaian, mencuci mobil,
mengepel lantai, naik turun tangga, membawa belanjaan, atau berupa olahraga,
yaitu: push up, lari ringan, berenang, bermain bola, senam, bermain tenis, yoga,
fitness.

Aktifitas fisik dilakukan secara teratur paling sedikit 30 menit dalam sehari
sehingga dapat menyehatkan jantung, paru-paru serta alat tubuh lainnya. Jika lebih
banyak waktu yang digunakan untuk beraktifitas fisik maka manfaat yang diperoleh
juga lebih banyak jika kegiatan ini dilakukan setiap hari secara teratur maka dalam
waktu 3 bulan kedepan akan terasa hasilnya.
Gerak adalah ciri kehidupan. Tiada hidup tanpa gerak dan apa guna hidup bila
tidak mampu bergerak. Memelihara gerak adalah mempertahan hidup,
meningkatkan kemampuan gerak adalah meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena
itu, bergeraklah gerak untuk lebih hidup, jangan hanya bergerak karena masih
hidup.

Olahraga adalah serangakaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk
memelihara gerak dan meningkatkan kemampuan gerak. Seperti halnya makan,
gerak (Olahraga) merupakan kebutuhan hidup yang sifatnya terus-terusan; artinya
Olahraga sebagai alat untuk mempertahankan hidup, memelihara dan membina
kesehatan, tidak dapat ditinggalakan, seperti halnya makan, olahragapun hanya
dapat dinikmati dan bemanfaat bagi kesehatan pada mereka yang melakukan
kegiatan olahraga. Bila orang hanya menonton olahraga, maka sama halnya dengan
orang yang hanya menonton orang makan, artinya ia tidak akan dapat merasakan
nikmatnya berolahraga dan tidak akan dapat memperoleh manfaat dari olahraga
bagi kesehatannya. Olahraga merupakan alat merangsang pertumbuhan dan
perkembangan bagan fungsional jasmani, rohani dan sosial.

10. Tidak merokok di dalam rumah


Setiap annggota keluarga tidak boleh merokok. Rokok ibarat pabrik bahan
kimia. Dalam satu batang rokok yang dihisap akan di keluarkan sekitar 4.000 bahan
kimia berbahaya, diantarnya adalah nikotin, tar. Nikotin menyebabkan ketagihan
dan merusak jantung dan aliran darah. Tar menyebabkan kerusakan sel paru-paru
dan kanker.

Perokok aktif adalah orang yang mengkonsumsi rokok secara rutin dengan
sekecil apapun walaupun itu cuma 1 batang dalam sehari. Atau orang yang
menghisap rokok walau hanya sekedar coba-coba dan cara menghisap rokok cuma
sekedar menghembuskan asap walau tidak diisap masuk kedalam paru-paru.
Perokok pasif adalah orang yang bukan perokok tapi menghirup asap rokok orang
lain. Rumah merupakan tempat berlindung termasuk dari asap rokok. Perokok pasif
harus berani menyuarakan haknya tidak menghirup asap rokok.

Perilaku hidup bersih dan sehat, yang menjadi kebutuhan dasar derajad
keeshatan masyarakat ,salah satu aspeknya adalah “tidak ada anggota keluarga yang
merokok”. Sedangkan PHBS harus menjadi kewajiban dan para kader kesehatan
untuk mensosialisasikan. Setiap kali menghirup asap rokok, baik sengaja maupun
tidak, berarti juga mengisap lebih dari 4.000 macam racun. Karena itulah, merokok
sama dengan memasukkan racun-racun tadi ke dalam rongga mulut dan tentunya
paru-paru. Merokok mengganggu kesehatan, kenyataan ini tidak dapat kita
pungkiri. Banyak penyakit telah terbukti menjadi akibat buruk merokok, baik cara
langsung maupun tidak langsung. Kebiasaan merokok bukan saja merugikan si
perokok, tetapi juga bagi orang yang disekitarnya. Saat ini jumlah perokok,
terutama jumlah perokok remaja terus bertambah. Keadaan ini merupakan
tantangan berat bagi upaya peningkatan derajad kesehatan masyarakat. Bahkan
organisasi kesehatan dunia telah memberikan peringatan bahwa dalam dekade
2020-2030 tembakau akan membunuh 10 juta per tahun, 70% diantaranya terjadi di
negara-negara berkembang.
2.2.6 Jelaskan yang dimaksud dengan Pemberdayaan Keluarga di Masyarakat
1. To give ability or enable, yakni meningkatkan kemampuan masyarakat melalui
pelaksanaan berbagai kebijakan dan program pembangunan, agar kehidupan masyarakat
dapat mencapai tingkat kemampuan yang diharapkan.
2. To give authority, yakni meningkatkan kemandirian masyarakat melalui
pemberian wewenang secara proporsional kepada masyarakat dalam pengambilan
keputusan dalam rangka membangun diri dan lingkungannya secara mandiri

Tujuan dari pemberdayaan keluarga di dalam masyarkat ini adalah


memampukan dan memandirikan masyarakat.

2.2.7 Apakah tujuan dari Pemberdayaan Keluarga


1. Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat
berkembang. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membangun daya kreasi masyarakat
dengan mendorong, memotivasi, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang
dimiliki serta upaya untuk pengembangkannya.
2. Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat melalui langkah-
langkah nyata dan menyangkut penyediaan input (berupa bantuan dana, pembangunan
prasarana dan sarana maupun sosial serta pengembangan lembaga pendanaan). Untuk
itu perlu program-program khusus untuk masyarakat yang kurang berdaya.

3. Melindungi, agar yang lemah tidak menjadi bertambah lemah, karena kurang
berdaya dalam menghadapi yang kuat. Melindungi harus dilihat sebagai upaya untuk
mencegah terjadinya persaingan yang tidak seimbang, akibat eksploitasi oleh kelompok

2.2.8 Sebutkan langkah-langkah melaksanakan Program Pemberdayaan Keluarga


1. Seleksi lokasi
Seleksi lokasi dilakukan sesuai dengan kriteria yang disepakati pihak-pihak
terkait dan masyarakat.

2. Penyusunan program pemberdayaan keluarga


Supaya dapat menyusun program pemberdayaan dengan baik maka tahapan
yang harus dilakukan adalah :

a. Mengidentifikasi dan mengkaji permasalahan, potensinya serta peluang,


dengan cara:
1. Survei, atau pengamatan untuk memperoleh data dan informasi yang
diperlukan.

2. Diskusi dengan tokoh masyarakat


3. Diskusi dengan pemerintah lokal
4. Diskusi dengan petugas lapangan (PPL, PL-KB, kader, bidan, dll)
b. Menyusun rencana program dan kegiatan
Penyusunan berdasarkan hasil survei, pengamatan dan diskusi. Hal yang perlu
diperhatikan dalam menyusun rencana program dan kegiatan adalah :

1. Memprioritaskan masalah dengan baik


2. Identifikasi alternatif pemecahan masalah
3. Identifikasi sumberdaya yang tersedia untuk pemecahan masalah (SDM,
dana, fasilitas)

4. Tetapkan sasaran program (Kader, ibu balita, petugas, dll)


5. Pengembangan rencana kegiatan serta pengorganisasian pelaksanaannya
(Waktu, penanggungjawab kegiatan, dll)

3. Sosialisasi Pemberdayaan keluarga


Sosialisasi membantu untuk meningkatkan pengertian masyarakat dan
pihak terkait tentang program. Proses sosialisasi sangat menetukan ketertarikan
masyarakat untuk berperan dan terlibat dalam program.

4. Menerapkan rencana kegiatan


Rencana yang telah disusun bersama selanjutnya diimplementasikan
dalam kegiatan yang konkrit. Perlu diperhatikan :

a. Metode yang digunakan : Penyuluhan, konseling, demonstrasi


b. Teknik yang digunakan : Massal, kelompok, individu
5. Monitoring dan Evaluasi
Monev dilakukan mulai dari persiapan, pelaksanaan, hasil (output) dan
dampak (outcome) yang diharapkan.

2.2.9 Status Gizi Ibu dan anak


Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variable
tertentu, merupakan indeks yang statis dan agresif sifatnya kurang peka untuk melihat
terjadinya perubahan dalam waktu pendek misalnya bulanan. (Supariasa, 2001:18).
Status gizi terbaik ialah kesehatan gizi optimum. Kondisi ini tubuh bebas dari
penyakit dan mempunyai daya tahan tubuh yang baik sehingga memiliki daya kerja
dan efisiensi yang sebaik-baiknya.

Dalam penilaian staus gizi dikenal 2 istilah yaitu :


1. Penilaian status gizi dan
2. Pemantauan status gizi

Keduanya sama-sama mendeskripsikan kondisi keseimbangan, namun perbedaan


terletak pada frekuensi pengukuran dan interpretasi hasil ukur. PSG dilakukan pada
satu titik waktu dan hasil yang didapatkan adalah deskripsi status gizi pada satu kali
pengukuran tersebut. PSG biasanya dilakukan untuk mengevaluasi program
perbaikan gizi dan dampak sebuah program. Sementara itu Monitoring Status Gizi
adalah pengukuran status gizi yang dilakukan pada 2 titik waktu atau lebih.
Pengamatan diarahkan kepada arah (trend) dari 2 titik waktu tersebut. Perubahan
(naik/turun) status gizi menjadi fokus perhatian. Dengan demikian MSG adalah trend
dari 2 PSG

Metode PSG bila dikelompokkan terdiri atas:


1. PSG untuk perorangan, dan
2. PSG untuk kelompok / masyarakat

Menurut Schaible & Kauffman (2007) hubungan antara kurang gizi dengan
penyakit infeksi tergantung dari besarnya dampak yang ditimbulkan oleh sejumlah
infeksi terhadap status gizi itu sendiri. Beberapa contoh bagaimana infeksi bisa
berkontribusi terhadap kurang gizi seperti infeksi pencernaan dapat menyebabkan
diare, HIV/AIDS, tuberculosis, dan beberapa penyakit infeksi kronis lainnya bisa
menyebabkan anemia dan parasit pada usus dapat menyebabkan anemia. Penyakit
Infeksi disebabkan oleh kurangnya sanitasi dan bersih, pelayanan kesehatan dasar
yang tidak memadai, dan pola asuh anak yang tidak memadai (Soekirman, 2000).

Penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan


anak, serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan. Rendahnya ketahanan
pangan rumah tangga, pola asuh anak yang tidak memadai, kurangnya sanitasi
lingkungan serta pelayanan kesehatan yang tidak memadai merupakan tiga faktor
yang saling berhubungan. Makin tersedia air bersih yang cukup untuk keluarga serta
makin dekat jangkauan keluarga terhadap pelayanan dan sarana kesehatan, ditambah
dengan pemahaman ibu tentang kesehatan, makin kecil resiko anak terkena penyakit
dan kekurangan gizi (Unicef, 1998) Sedangkan penyebab mendasar atau akar
masalah gizi di atas adalah terjadinya krisis ekonomi, politik dan sosial termasuk
bencana alam, yang mempengaruhi ketidak-seimbangan antara asupan makanan dan
adanya penyakit infeksi, yang pada akhirnya mempengaruhi status gizi balita
(Soekirman, 2000).

Ada 2 faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang yaitu:

A. Faktor Eksternal

1) Pendidikan dan pendapatan

Masalah gizi karena kemiskinan indikatornya adalah taraf ekonomi keluarga,


yang hubungannya dengan daya beli yang dimiliki keluarga tersebut. Tingkat
pendidikan juga termasuk dalam faktor ini. Tingkat pendidikan berhubungan dengan
status gizi karena dengan meningkatnya pendidikan kemungkinan akan
meningkatkan pendapatan sehingga dapat meningkatkan daya beli makanan.

Pendidikan gizi merupakan suatu proses merubah pengetahuan, sikap dan


perilaku orang tua atau masyarakat untuk mewujudkan dengan status gizi yang baik.

2) Pekerjaan

Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang


kehidupan keluarganya. Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita
waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga
(Markum, 1991).

3) Budaya

Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan.
Budaya berperan dalam status gizi masyarakat karena ada beberapa kepercayaan,
seperti tabu mengonsumsi makanan tertentu oleh kelompok umur tertentu yang
sebenarnya makanan tersebut justru bergizi dan dibutuhkan oleh kelompok umur
tersebut. Seperti ibu hamil yang tabu mengonsumsi ikan ( Departemen Gizi dan
Kesehatan Masyarakat, 2007).

B. Faktor Internal

1) Usia

Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang tua
dalam pemberian nutrisi anak balita (Nursalam, 2001 dalam creasoft.wordpress.com)

2) Kondisi Fisik

Mereka yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan dan yang lanjut usia,
semuanya memerlukan pangan khusus karena status kesehatan mereka yang buruk.
Bayi dan anak-anak yang kesehatannya buruk, adalah sangat rawan, karena pada
periode hidup ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk pertumbuhan cepat (Suhardjo,
et, all, 1986)

3) Infeksi

Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau


menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan.

Penilaian Status Gizi

Penilaian status gizi merupakan penjelasan yang berasal dari data yang diperoleh
dengan menggunakan berbagai macam cara untuk menemukan suatu populasi atau
individu yang memiliki risiko status gizi kurang maupun gizi lebih.

Penilaian status gizi terdiri dari dua jenis, yaitu :

1. Penilaian Langsung

a. Antropometri
Antropometri merupakan salah satu cara penilaian status gizi yang berhubungan
dengan ukuran tubuh yang disesuaikan dengan umur dan tingkat gizi seseorang. Pada
umumnya antropometri mengukur dimensi dan komposisi tubuh seseorang
(Supariasa, 2001). Metode antropometri sangat berguna untuk melihat
ketidakseimbangan energi dan protein. Akan tetapi, antropometri tidak dapat
digunakan untuk mengidentifikasi zat-zat gizi yang spesifik (Gibson, 2005). b. Klinis

Pemeriksaan klinis merupakan cara penilaian status gizi berdasarkan perubahan


yang terjadi yang b erhubungan erat dengan kekurangan maupun kelebihan asupan
zat gizi. Pemeriksaan klinis dapat dilihat pada jaringan epitel yang terdapat di mata,
kulit, rambut, mukosa mulut, dan organ yang dekat dengan permukaan tubuh
(kelenjar tiroid) (Hartriyanti dan Triyanti, 2007).

c. Biokimia

Pemeriksaan biokimia disebut juga cara laboratorium. Pemeriksaan biokimia


pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi adanya defisiensi zat gizi pada kasus
yang lebih parah lagi, dimana dilakukan pemeriksaan dalam suatu bahan biopsi
sehingga dapat diketahui kadar zat gizi atau adanya simpanan di jaringan yang paling
sensitif terhadap deplesi, uji ini disebut uji biokimia statis. Cara lain adalah dengan
menggunakan uji gangguan fungsional yang berfungsi untuk mengukur besarnya
konsekuensi fungsional dari suatu zat gizi yang spesifik Untuk pemeriksaan biokimia
sebaiknya digunakan perpaduan antara uji biokimia statis dan uji gangguan
fungsional.

d. Biofisik

Pemeriksaan biofisik merupakan salah satu penilaian status gizi dengan melihat
kemampuan fungsi jaringan dan melihat perubahan struktur jaringan yang dapat
digunakan dalam keadaan tertentu, seperti kejadian buta senja (Supariasa, 2001).

2. Penilaian Tidak Langsung

a. Survei Konsumsi Makanan


Survei konsumsi makanan merupakan salah satu penilaian status gizi dengan
melihat jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi oleh individu maupun keluarga.
Data yang didapat dapat berupa data kuantitatif maupun kualitatif. Data kuantitatif
dapat mengetahui jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi, sedangkan data
kualitatif dapat diketahui frekuensi makan dan cara seseorang maupun keluarga
dalam memperoleh pangan sesuai dengan kebutuhan gizi.

b. Statistik Vital

Statistik vital merupakan salah satu metode penilaian status gizi melalui datadata
mengenai statistik kesehatan yang berhubungan dengan gizi, seperti angka kematian
menurut umur tertentu, angka penyebab kesakitan dan kematian, statistik pelayanan
kesehatan, dan angka penyakit infeksi yang berkaitan dengan kekurangan gizi
(Hartriyanti dan Triyanti, 2007).

c. Faktor Ekologi

Penilaian status gizi dengan menggunakan faktor ekologi karena masalah gizi
dapat terjadi karena interaksi beberapa faktor ekologi, seperti faktor biologis, faktor
fisik, dan lingkungan budaya. Penilaian berdasarkan faktor ekologi digunakan untuk
mengetahui penyebab kejadian gizi salah (malnutrition) di suatu masyarakat yang
nantinya akan sangat berguna untuk melakukan intervensi gizi (Supariasa, 2001).

Indeks Antropometri

Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Kombinasi antara
beberapa parameter disebut Indeks Antropometri.

Dalam pengukuran indeks antropometri sering terjadi kerancuan, hal ini akan
mempengaruhi interpretasi status gizi yang keliru. Masih banyak diantara pakar yang
berkecimpung di bidang gizi belum mengerti makna dari beberapa indeks
antropometri. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan yaitu Berat
Badan menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan menurut Umur (TB/U), dan Berat
Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). Perbedaan penggunaan indeks tersebut akan
memberikan gambaran prevalensi status gizi yang berbeda.
Indeks antropometri adalah pengukuran dari beberapa parameter. Indeks
antropometri bisa merupakan rasio dari satu pengukuran terhadap satu atau lebih
pengukuran atau yang dihubungkan dengan umur dan tingkat gizi. Salah satu contoh
dari indeks antropometri adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) atau yang disebut dengan
Body Mass Index (Supariasa, 2001).

Indeks Massa Tubuh

Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia 18 tahun
keatas) merupakan masalah penting, karena selain mempunyai risiko
penyakitpenyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktifitas kerja. Oleh karena
itu, pemantauan keadaan tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan. Salah
satu cara adalah dengan mempertahankan berat badan yang ideal atau normal.

Laporan FAO/WHO/UNU tahun 1985 menyatakan bahwa batasan berat badan


normal orang dewasa ditentukan berdasarkan nilai Body Mass Index (BMI). Di
Indonesia istilah Body Mass Index diterjemahkan menjadi Indeks Massa Tubuh
(IMT). IMT mempakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang
dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan,
maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat
mencapai usia harapan hidup lebih panjang.

Antropometri berasal dari kata anthropos dan logos (bahasa Yunani), yang
berarti tubuh manusia dan ilmu. Artinya PSG dengan metode antropometri adalah
menjadikan ukuran tubuh manusia sebagai alat menentukan status gizi manusia.
Konsep dasar yang harus dipahami dalam menggunakan antropometri adalah konsep
pertumbuhan.

Selain menggunakan konsep dasar pertumbuhan status gizi dapat ditentukan


dengan : Indeks berat badan per tinggi badan (BB/TB) dan Lingkar lengan atas.
Untuk orang dewasa lebih cocok menggunakan indeks perbandingan berat badan (kg)
dengan tinggi badan (m) kwadrat, yaitu (BB/TB2). Pengukuran status gizi dengan
indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menilai status gizi saat ini selain
itu BB/TB juga merupakan indeks yang independent terhadap umur (Supariasa, 2001:
58).
1. Indeks berat badan per tinggi badan (BB/TB)

Cara pengukuran status gizi berdasarkan indeks BB/TB dengan menggunakan


Indeks Massa Tubuh (IMT), karena IMT merupakan alat yang sederhana untuk
memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan
dan kelebihan berat badan (Supariasa, 2001).

Klasifikasi Kategori IMT menurut CDC

Gambar 2.1 klasifikasi IMT


2. LILA

Calon ibu harus sehat dan fit untuk hamil. Tentu saja, pertambahan berat badan
selama hamil harus dipantau cermat. Cara lain yang dapat digunakan untuk
mengetahui status gizi ibu hamil adalah dengan mengukur lingkar lengan atas
(LILA). Pengukuran LILA biasanya dilakukan pada wanita usia subur (15-45 tahun)
dan ibu hamil untuk memprediksi adanya kekurangan energi dan protein yang
bersifat kronis atau sudah terjadi dalam waktu lama.
Ukuran LILA berkaitan erat dengan berat badan ibu selama hamil mulai
trimester I sampai trimester III. Kelebihannya jika dibandingkan dengan ukuran berat
badan, ukuran LILA lebih menggambarkan keadaan atau status gizi ibu hamil sendiri
berat badan selama kehamilan merupakan berat badan komulatif antara pertambahan
berat organ tubuh dan volume darah ibu serta berat janin yang dikandungnya. Kita
tidak tahu pasti apakah pertambahan berat badan ibu selama hamil itu berasal dari
pertambahan berat badan ibu, janin, atau keduanya.

Selain itu, pembengkakan (oedema) yang biasa dialami ibu hamil, jarang
mengenai lengan atas. Ini juga yang menyebabkan pengkuran LILA lebih baik untuk
menilai status gizi ibu hamil daripada berat badan.
Setelah melalui penelitian khusus untuk perempuan Indonesia, diperoleh standar
LILA sebagai berikut :

1. Jika LILA kurang dari 23,5 cm: status gizi ibu hamil kurang, misalnya
kemungkinan mengalami KEK (Kurang Energi Kronis) atau anemia kronis, dan
beresiko lebih tinggi melahirkan bayi BBLR.

2. Jika LILA sama atau lebih dari 23,5 cm: berarti status gizi ibu hamil baik, dan
resiko melahirkan bayi BBLR lebih rendah.

Apalagi, alat yang digunakan lebih ringan dibandingkan timbangan, dan mudah
dibawa kemana-mana. Pengukuran LILA dilakukan dengan melingkarkan pita LILA
sepanjang 33 cm, atau meteran kain dengan ketelitian 1 desimal (0,1 cm). Saat
dilakukan pengukuran, ibu hamil pada posisi berdiri dan dilakukan pada titik tengah
antara pangkal bahu dan ujung siku lengan kiri, jika ibu hamil yang bersangkutan
tidak kidal.

Sebaliknya jika dia kidal, pengukuran dilakukan pada lengan kanan. Hal ini
dilakukan untuk memperkecil bias yang terjadi, karena adanya pembesaran otot
akibat aktivitas, bukan karena penimbunan lemak. Demikian juga jika lengan kiri
lumpuh, pengukuran dilakukan pada lengan kanan.

Gambar 2.2 tambahan kalori protein bagi ibu hamil


Status Gizi Anak

Status Gizi Anak adalah keadaan kesehatan anak yang ditentukan oleh derajat
kebutuhan fisik energi dan zat-zat gizi lain yang diperoleh dari pangan dan makanan
yang dampak fisiknya diukur secara antroppometri ( Suharjo, 1996), dan
dikategorikan berdasarkan standar baku WHO-NCHS dengan indeks BB/U, TB/U
dan BB/TB

Indikasi pengukuran dari variabel ini ditentukan oleh :

1. Penimbangan Berat Badan (BB) dan pengukuran Tinggi Badan (TB) Dilakukan
oleh petugas klinik gizi sesuai dengan syarat-syarat penimbangan berat badan dan
pengukuran tinggi badan yang baik dan benar penggunaan timbangan berat badan
dan meteran tinggi badan (mikrotoise)

2. Penentuan umur anak ditentukan sesuai tanggal penimbangan BB dan


Pengukuran TB, kemudian dikurangi dengan tanggal kelahiran yang diambil dari
data identitas anak pada sekolah masing-masing, dengan ketentuan 1 bulan adalah 30
hari dan 1 tahun adalah 12 bulan.

Kriteria objektifnya dinyatakan dalam rata-rata dan jumlah Z score simpang


baku (SSB) induvidu dan kelompok sebagai presen terhadap median baku rujukan
(Waterlow.et al, dalam, Djuamadias, Abunain, 1990)

Untuk menghitung SSB dapat dipakai rumus :

NMBR
Skor Baku Rujukan NIS

NSBR

NIS : Nilai Induvidual Subjek


NMBR : Nilai Median Baku Rujukan
NSBR : Nilai Simpang Baku Rujukan
Hasil pengukuran dikategorikan sbb
1. Untuk BB/U
a. Gizi Kurang Bila SSB < - 2 SD
b. Gizi Baik Bila SSB -2 s/d +2 SD
c. Gizi Lebih Bila SSB > +2 SD

2. TB/U
a. Pendek Bila SSB < -2 SD
b. Normal Bila SSB -2 s/d +2 SD
c.
d. Tinggi Bila SBB > +2 SD

3. BB/TB
a. Kurus Bila SSB < -2 SD
b. Normal Bila SSB -2 s/d +2 SD
c. Gemuk Bila SSB > +2 SD

Dan juga status gizi diinterpretasikan berdasarkan tiga indeks antropomteri,


(Depkes, 2004). Dan dikategorikan seperti yang ditunjukan pada tabel berikut.
Tabel 2.2 Kategori Interpretasi Status Gizi Berdasarkan Tiga Indeks (BB/U,TB/U, BB/TB
Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS)
Interpretasi Indeks yang digunakan

BB/U TB/U BB/TB

Normal, dulu kurang gizi Rendah Rendah Normal


Sekarang kurang ++ Rendah Tinggi Rendah
Sekarang kurang + Rendah Normal Rendah

Normal Normal Normal Normal


Sekarang kurang Normal Tinggi Rendah
Sekarang lebih, dulu kurang Normal Rendah Tinggi

Tinggi, normal Tinggi Tinggi Normal


Obese Tinggi Rendah Tinggi
Sekarang lebih, belum obese Tinggi Normal Tinggi

Keterangan : untuk ketiga indeks ( BB/U,TB/U, BB/TB) :


Rendah : < -2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS
Normal : -2 s/d +2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS
Tinggi : > + 2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS

Sumber: Depkes RI, 2004


Ada beberapa cara melakukan penilaian status gizi pada kelompok masyarakat.
Salah satunya adalah dengan pengukuran tubuh manusia yang dikenal dengan
Antropometri. Dalam pemakaian untuk penilaian status gizi, antropomteri disajikan
dalam bentuk indeks yang dikaitkan dengan variabel lain. Variabel tersebut adalah
sebagai berikut :

a. Umur.

Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status gizi, kesalahan


penentuan akan menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Hasil penimbangan
berat badan maupun tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai
dengan penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang sering muncul adalah adanya
kecenderunagn untuk memilih angka yang mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun.
Oleh sebab itu penentuan umur anak perlu dihitung dengan cermat. Ketentuannya
adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30 hari. Jadi perhitungan umur adalah
dalam bulan penuh, artinya sisa umur dalam hari tidak diperhitungkan ( Depkes,
2004).

b. Berat Badan

Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa
jaringan, termasuk cairan tubuh. Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang
mendadak baik karena penyakit infeksi maupun konsumsi makanan yang menurun.
Berat badan ini dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat Badan menurut Umur)
atau melakukan penilaian dengam melihat perubahan berat badan pada saat
pengukuran dilakukan, yang dalam penggunaannya memberikan gambaran keadaan
kini. Berat badan paling banyak digunakan karena hanya memerlukan satu
pengukuran, hanya saja tergantung pada ketetapan umur, tetapi kurang dapat
menggambarkan kecenderungan perubahan situasi gizi dari waktu ke waktu
(Djumadias Abunain, 1990).

c. Tinggi Badan

Tinggi badan memberikan gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat dari


keadaan kurus kering dan kecil pendek. Tinggi badan sangat baik untuk melihat
keadaan gizi masa lalu terutama yang berkaitan dengan keadaan berat badan lahir
rendah dan kurang gizi pada masa balita. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk
Indeks TB/U ( tinggi badan menurut umur), atau juga indeks BB/TB ( Berat Badan
menurut Tinggi Badan) jarang dilakukan karena perubahan tinggi badan yang
lambat dan biasanya hanya dilakukan setahun sekali. Keadaan indeks ini pada
umumnya memberikan gambaran keadaan lingkungan yang tidak baik, kemiskinan
dan akibat tidak sehat yang menahun ( Depkes RI, 2004).

Berat badan dan tinggi badan adalah salah satu parameter penting untuk
menentukan status kesehatan manusia, khususnya yang berhubungan dengan status
gizi. Penggunaan Indeks BB/U, TB/U dan BB/TB merupakan indikator status gizi
untuk melihat adanya gangguan fungsi pertumbuhan dan komposisi tubuh.

Penggunaan berat badan dan tinggi badan akan lebih jelas dan sensitive/peka
dalam menunjukkan keadaan gizi kurang bila dibandingkan dengan penggunaan
BB/U. Dinyatakan dalam BB/TB, menurut standar WHO bila prevalensi
kurus/wasting < -2SD diatas 10 % menunjukan suatu daerah tersebut mempunyai
masalah gizi yang sangat serius dan berhubungan langsung dengan angka kesakitan.

Tabel 2.3 Penilaian Status Gizi berdasarkan Indeks BB/U,TB/U, BB/TB


Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS
No Indeks yang Batas Sebutan Status Gizi
dipakai Pengelompokan

1 BB/U < -3 SD Gizi buruk


- 3 s/d <-2 SD Gizi kurang
- 2 s/d +2 SD Gizi baik
> +2 SD Gizi lebih

2 TB/U < -3 SD Sangat Pendek


- 3 s/d <-2 SD Pendek
- 2 s/d +2 SD Normal
> +2 SD Tinggi

3 BB/TB < -3 SD Sangat Kurus


- 3 s/d <-2 SD Kurus
- 2 s/d +2 SD Normal
> +2 SD Gemuk

Sumber : Depkes RI 2004.


Data baku WHO-NCHS indeks BB/U, TB/U dan BB/TB disajikan dalan dua
versi yakni persentil (persentile) dan skor simpang baku (standar deviation score =
z). Menurut Waterlow,et,al, gizi anak-anak dinegara-negara yang populasinya
relative baik (well-nourished), sebaiknya digunakan “presentil”, sedangkan dinegara
untuk anak-anak yang populasinya relative kurang (under nourished) lebih baik
menggunakan skor simpang baku (SSB) sebagai persen terhadap median baku
rujukan.

Pengukuran Skor Simpang Baku (Z-score) dapat diperoleh dengan mengurangi


Nilai Induvidual Subjek (NIS) dengan Nilai Median Baku Rujukan (NMBR) pada
umur yang bersangkutan, hasilnya dibagi dengan Nilai Simpang Baku Rujukan
(NSBR).

Atau dengan menggunakan rumus :

Z-score = (NIS-NMBR) / NSBR


Status gizi berdasarkan rujukan WHO-NCHS dan kesepakatan Cipanas 2000
oleh para pakar Gizi dikategorikan seperti diperlihatkan pada tabel 1 diatas serta di
interpretasikan berdasarkan gabungan tiga indeks antropometri seperti yang terlihat
pada tabel 2.

Untuk memperjelas penggunaan rumur Zskor dapat dicontohkan sebagai


berikut

Diketahui BB= 60 kg TB=145 cm


Umur : karena umur dengan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB berdasarkan
WHONCHS hanya dibatasi < 18 tahun maka disini dicontohkan anak laki-laki usia
15 tahun

Table 2.4 weight (kg) by age of boys aged 15 year from WHO-NCHS
Age Standard Deviations
Yr mth -3sd -2sd -1sd Median +1sd +2sd +3sd
15 0 31.6 39.9 48.3 56.7 69.2 81.6 94.1
Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985

Table 2.5 weight (kg) by stature of boys 145 cm in Height from WHO-NCHS
Stature Standard Deviations
Cm -3sd -2sd -1sd Median +1sd +2sd +3sd
145 0 24.8 28.8 32.8 36.9 43.0 49.2 55.4
Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985

Tabel 2.6 stature (cm) by age of boys aged 15 year from WHO-NCHS
Stature Standard Deviations
Yr mth -3sd -2sd -1sd Median +1sd +2sd +3sd
15 0 144.8 152.9 160.9 169.0 177.1 185.1 193.2
Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985

Jadi untuk indeks BB/U adalah


= Z Score = ( 60 kg – 56,7 ) / 8.3 = + 0,4 SD
= status gizi baik

Untuk IndeksTB/U adalah


= Z Score = ( 145 kg – 169 ) / 8.1 = - 3.0 SD
= status gizi pendek

Untuk Indeks BB/TB adalah


= Z Score = ( 60 – 36.9 ) / 4 = + 5.8 SD
= status gizi gemuk
Gambar 2.3 Alur Survei Gizi Buruk di Puskesmas
BAB III

KESIMPULAN

Perilaku Hidup Sehat dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktekkan
atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang, keluarga,
kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) dibidang kesehatan dan
berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat.

Pemberdayaan keluarga adalah segala upaya fasilitas yang bersifat noninstruktif, guna
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan keluarga untuk mengidentifikasi masalah,
merencanakan, dan melakukan pemecahan masalah tanpa atau dengan bantuan pihak lain,
dengan memanfaatkan potensi keluarga dan fasilitas yang ada di masyarakat.

Keduanya sangat berperan penting dalam menciptakan perilaku dan keadaan yang sehat
guna kepentingan pribadi maupun kelompok untuk meningkatkan kualitas hidup dalam
masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Abunain Djumadias. 1990. Aplikasi Antropometri sebagai Alat Ukur Status Gizi. Puslitbang
Gizi Bogor.
Depkes, RI. 2004. Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat, Jakarta.
Suhardjo. 1992. Prinsip-Prinsip Ilmu Gizi. Yogyakarta : Kanisius.

Grummer-Strawn LM et al., 2002. Centers of Assessing Your Weight: About BMI for Adult.
Didapat dari: http://cdc. gov/healthyweight/ assessing/ bmi/adult_bmi/ index.html [Diakses
pada 20 Mei 2017]

Misnadierly. 2007. Obesitas Sebagai Faktor Resiko Berbagai Penyakit. Jakarta : Pustaka Obor
Populer.

Purwati, Susi. 2001. Perencanaan Menu Untuk Penderita Kegemukan. Jakarta : Penebar
Swadaya.