Anda di halaman 1dari 25

SATUAN ACARA PENYULUHAN

DIABETES MELITUS TIPE 1

DI POLIKLINIK ANAK RSUD Dr. SAIFUL ANWAR

PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT (PKRS)


RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG
2017
VISI DAN MISI RSUD dr SAIFUL ANWAR MALANG

Visi
Menjadi rumah sakit berstandar kelas dunia pilihan masyarakat

Motto
 Menciptakan tata kelola rumah sakit yang baik melalui penataan dan
perbaikan manajemen yang berkualitas dunia. Profesional
menyelenggarakan pelayanan kesehatan rumah sakit yang dapat memenuhi
kebutuhan dan keinginan masyarakat melalui pengembangan sistem
pelayanan yang terintegrasi daan komperhensif.
 Menyelenggarakan pendidikan dan penelitian melalui pengembangan
pendidikan dan penelitian berkualitas internasional.
 Meningkatkan kualitas sumber daya manusi yang terlatih dan terdidik
secara profesional.

SLOGAN
With Love We Serve

SATUAN ACARA PENYULUHAN


DIABETES MELITUS BERGANTUNG PADA INSULIN
DI POLIKLINIK ANAK RSUD dr. SAIFUL ANWAR MALANG

Disusun untuk Memenuhi Tugas Pendidikan Profesi Ners


Departemen Keperawatan Anak

Oleh Kelompok 10:


Aldoufi Herdian P, S.Kep (201710461011035)
Aistria Mokoagow, S.Kep (201710461011036)
Imelda Sulfia A, S.Kep (201710461011037)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017
LEMBAR PENGESAHAN
Penyuluhaan ini telah disahkan dan disetujui pada:

Hari/Tanggal :
Tempat :

Mengetahui,

Pembimbing akademik Pembimbing Klinik

Riska Lafutu, Amd.Kep

Kaur Poliklinik Anak

Christie Iriyani., SST


Nip: 196205221985112001
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT Yang Maha Pengasih
dan Maha Penyayang, yang telah memberikan nikmat sehat dan kekuatan
sehingga Satuan Penyuluhan dengan judul “Epilepsi pada Anak” dapat di
selesaikan.

Dalam menyusun Satuan Acara Penyuluhan ini, penulis mendapatkan


banyak pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan
ini penulis dengan rendah hati mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada :

1. Dr Restu Kurnia Tjahjani, M.Kes selaku Direktur di RSUD dr. Saiful Anwar
Malang.
2. Sri Endah Noviani SH, M.Sc selaku kepala pendidikan dan penelitian di RSUD
dr. Saiful Anwar Malang.
3. Dr. dr. I Wayan Agung I., Sp. OG (K) selaku Kepala Instalasi Rawat Jalan
RSUD dr. Saiful Anwar Malang.

4. Nunuk Wahidah, AMK selaku KPP Instalasi Rawat Jalan RSUD dr. Saiful
Anwar Malang
5. Christie Iriyani., SST selaku Kepala Urusan Ruangan (KAUR) di Poliklinik
Anak RSUD dr. Saiful Anwar Malang
6. Riska Lafutu, Amd.Kep selaku pembimbing Klinik di Poliklinik Anak RSUD
dr. Saiful Anwar Malang
7. Drs. Fauzan, M.Pd selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Malang.
8. Faqih Ruhyanuddin S.Kep., Ns., M. Kep. Sp. KMB, selaku Dekan Fakultas
Kesehatan Universitas Muhammadiyah malang.
9. Reni Ilmiasih, M.Kep. Sp. An, selaku pembimbing institusi Program Studi
Profesi Ners Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang.
10. Staf Poli Anak, audien, dan Semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan SAP ini.
Karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, penulis menyadari
bahwa Satuan Acara Penyuluhan ini masih memiliki kekurangan dan jauh dari
kesempurna. Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun guna menyempurnakan Satuan Acara Penyuluhan ini.

Malang,
November 2017

Penulis
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Mata Penyuluhan : Diabetes Melitus Tipe 1


Pokok Bahasan : Diabetes Melitus Tipe 1
Sub Pokok Bahasan : Pengertian Diabetes Melitus Tipe 1
Sasaran : Pasien, Keluarga Pasien, dan Pengunjung
Hari/Tanggal : Jumat, 10 November 2017
Waktu : 30 menit
Tempat : Ruang Tunggu Poli Anak rd dr. Saiful Anwar Malang

1. Pendahuluan

Diabetes melitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai


kelainan metabolik akibat ganguan hormonal yang menimbulkan berbagai
komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah disertai lesi pada
membran basalis pada pemeriksaan dengan mikroskop elektron.
Laporan statistik dari International Diabetes Federation (IDF) menyebutkan
bahwa sekarang sudah ada sekitar 230 juta penderita diabetes. Angka ini terus
bertambah hingga 3 persen atau sekitar 7 juta orang setiap tahunnya. Diabetes
telah menjadi penyebab kematian terbesar keempat di dunia. Setiap tahun ada 3,2
juta kematian yang disebabkan oleh diabetes. Hampir 80 persen kematian pasien
diabetes terjadi di negara berpenghasilan rendah-menengah.
Di tengah kondisi itu, perhatian banyak pihak umumnya masih terfokus pada
penderita diabetes dewasa. Padahal, anak dengan diabetes tak kalah memerlukan
perhatian dan bantuan. Diabetes pada anak umumnya disebut tipe 1, yaitu
pankreas rusak dan tak lagi mampu memproduksi insulin dalam jumlah memadai
sehingga terjadi defisit absolut insulin. Sebaliknya, diabetes pada orang dewasa
umumnya disebut tipe 2, yaitu terjadi kerusakan sel tubuh meskipun insulin
sebenarnya tersedia memadai sehingga terjadi defisit relatif insulin.
Insiden diabetes melitus tipe 1 sangat bervariasi di tiap negara. Dari data-data
epidemiologik memperlihatkan bahwa puncak usia terjadinya DM pada anak
adalah pada usia 5-7 tahun dan pada saat menjelang remaja. Dari semua penderita
diabetes, 5-10 persennya adalah penderita diabetes tipe 1. Di Indonesia, statistik
mengenai diabetes tipe 1 belum ada, diperkirakan hanya sekitar 2-3 persen dari
total keseluruhan. Mungkin ini disebabkan karena sebagian tidak terdiagnosis atau
tidak diketahui sampai si pasien sudah mengalami komplikasi dan meninggal.
Biasanya gejalanya timbul secara mendadak dan bisa berat sampai mengakibatkan
koma apabila tidak segera ditolong dengan suntikan insulin.
World Diabetes Foundation menyarankan untuk mencurigai diabetes jika ada
anak dengan gejala klinis khas, yaitu 3P ( pilifagi, polidipsi dan poliuri ) dan
kadar gula darah (GD) tinggi, di atas 200 mg/dl. GD yang tinggi menyebabkan
molekul gula terdapat di dalam air kencing, yang normalnya tak mengandung
gula, sehingga sejak dulu disebut penyakit kencing manis.

2. Tujuan Instruksional
a. Tujuan umum
Setelah dilakukan tindakan penyuluhan tentang diabetes melitus tipe 1
diharapakan peserta penyuluhan mampu mengerti dan menyadari bahaya
yang ditimbulkan serta pentingnya pencegahan dan perawatan penyakit.
b. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan orang tua klien mampu:
1. Untuk mengetahui Pengertian diabetes melitus tipe 1
2. Untuk mengetahui Penyebab diabetes mellitus tipe 1
3. Untuk mengetahui Patofisiologi diabetes melitus tipe 1
4. Untuk mengetahui Deteksi dini diabetes melitus tipe 1 pada anak
5. Untuk mengetahui Klasifikasi diabetes melitus
6. Untuk mengetahui Kriteria diagnostik diabetes melitus tipe 1
7. Untuk mengetahui Penatalaksanaan diabetes melitus tipe 1
8. Untuk mengetahui Komplikasi diabetes melitus

3. Analisa Situasi
a. Sasaran
a. Orang tua dari klien yang berkunjung ke Poli Anak RSU. Dr. Saiful
Anwar Malang.
b. Minat dan perhatian dalam menerima materi penyuluhan cukup baik.
c. Interaksi antara penyuluh dan audience cukup baik.
b. Penyuluh
a. Mahasiswa profesi Program Studi Ilmu Keperawatan, Universitas
Muhammadiyah Malang serta CI lahan dan CI istitusi.
b. Mampu mengkomunikasikan materi penyuluhan dengan metode yang
baik dan benar.
c. Ruangan
a. Di Poli Anak RSU. Dr. Saiful Anwar Malang.
b. Ruangan cukup memadai untuk menampung 15 orang.
c. Penerangan, ventilasi cukup baik, suasana cukup kondusif untuk
terlaksananya kegiatan penyuluhan.
4. Materi Penyuluhan
1. Pengertian diabetes melitus tipe 1
2. Penyebab diabetes mellitus tipe 1
3. Patofisiologi diabetes melitus tipe 1
4. Deteksi dini diabetes melitus tipe 1 pada anak
5. Klasifikasi diabetes melitus
6. Kriteria diagnostik diabetes melitus tipe 1
7. Penatalaksanaan diabetes melitus tipe 1
8. Komplikasi diabetes melitus

5. Materi
A. Pengertian Diabetes melitus tipe 1
Diabetes pada anak umumnya disebut tipe 1, yaitu pankreas rusak dan tak
lagi mampu memproduksi insulin dalam jumlah memadai sehingga terjadi defisit
absolut insulin. Diabetes mellitus tipe 1, diabetes anak-anak (Childhood-onset
diabetes, juvenile diabetes, insulin-dependent diabetes mellitus, IDDM) adalah
diabetes yang terjadi karena berkurangnya rasio insulin dalam sirkulasi darah
akibat hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans
pankreas. IDDM dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa, karena itu
anak harus mendapatkan suntikan insulin seumur hidupnya. Gejala diabetes tipe 1
tidak begitu jelas dan baru diketahui pada tahap lanjut. Dengan deteksi dini dan
pengelolaan penyakit yang tepat, anak dengan diabetes bisa hidup sehat dan
normal.
Diabetes tipe 1 biasanya mengenai anak-anak dan remaja.
Penyakit diabetes timbul karena imunitas tubuh menghancurkan sendiri insulin
yang diproduksi sel beta dari pankreas. Pemicunya bisa karena faktor genetik atau
serangan virus. Pada tipe tersebut, pankreas tidak dapat menghasilkan insulin
sehingga untuk bertahan hidup pasien harus diberikan insulin dari luar dengan
cara disuntikkan. Biasanya pada diabetes tipe 1 gejala dan tandanya muncul
mendadak.

B. Penyebab Diabetes Mellitus Tipe 1


1. Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi
suatu presdisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya diabetes tipe I.
Kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu yang memililiki tipe antigen
HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang
bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya. Resiko
terjadinya diabetes tipe 1 meningkat 3 hingga 5 kali lipat pada individu yang
memiliki salah satu dari kedua tipe HLA (DR3 atau DR4).
2. Faktor imunologi
Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Hal ini
merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh
dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah
sebagai jaringan asing. Otoantibodi terhadap sel-sel pulau langerhans dan insulin
endogen atau internal terdeteksi pada saat diagnosis dibuat dan bahkan beberapa
tahun sebelum timbulnya tanda-tanda klinis diabetes tipe 1.
3. Faktor lingkungan
Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel β pancreas, sebagai
contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat
memicu proses autuimun yang dapat menimbulkan destuksi sel β pancreas.

C. Patofisiologi Diabetes Melitus Tipe 1


Diabetes tipe 1 merupakan bentuk diabetes parah yang berhubungan
dengan terjadinya ketosis apabila tidak diobati. Diabetes ini muncul ketika
pankreas sebagai pabrik insulin tidak dapat atau kurang mampu memproduksi
insulin. Akibatnya, insulin tubuh kurang atau tidak ada sama sekali. Glukosa
menjadi menumpuk dalam peredaran darah karena tidak dapat diangkut ke dalam
sel. Biasanya, diabetes tipe ini sering terjadi pada anak dan remaja tetapi kadang-
kadang juga terjadi pada orang dewasa, khususnya yang non obesitas dan mereka
yang berusia lanjut ketika hiperglikemia tampak pertama kali. Keadaan tersebut
merupakan suatu gangguan katabolisme yang disebabkan karena hampir tidak
terdapat insulin dalam sirkulasi, glukagon plasma meningkat dan sel-sel B
pankreas gagal merespon semua stimulus insulinogenik. Oleh karena itu,
diperlukan pemberian insulin eksogen untuk memperbaiki katabolisme, mencegah
ketosis, dan menurunkan hiperglukagonemia dan peningkatan kadar glukosa
darah.
Diduga diabetes tipe 1 disebabkan oleh infeksi atau toksin lingkungan
yang menyerang orang dengan sistem imun yang secara genetis merupakan
predisposisi untuk terjadinya suatu respon autoimun yang kuat yang menyerang
antigen sel B pankreas. Faktor ekstrinsik yang diduga mempengaruhi fungsi sel B
meliputi kerusakan yang disebabkan oleh virus, seperti virus penyakit gondok
(mumps) dan virus coxsackie B4, oleh agen kimia yang bersifat toksik, atau oleh
sitotoksin perusak dan antibodi yang dirilis oleh imunosit yang disensitisasi. Suatu
kerusakan genetis yang mendasari yang berhubungan dengan replikasi atau fungsi
sel B pankreas dapat menyebabkan predisposisi terjadinya kegagalan sel B setelah
infeksi virus. Gen-gen HLA yang khusus diduga meningkatkan kerentanan
terhadap virus diabetogenik atau mungkin dikaitkan dengan gen-gen yang
merespon sistem imun tertentu yang menyebabkan terjadinya predisposisi pada
pasien sehingga terjadi respon autoimun terhadap sel-sel pulaunya (islets of
Langerhans) sendiri atau yang dikenal dengan istilah autoregres.

D. Deteksi Dini Diabetes Melitus Tipe 1 Pada Anak


Diabetes Melitus (DM) tipe 1 yang menyerang anak-anak sering tidak
terdiagnosis oleh dokter karena gejala awalnya yang tidak begitu jelas, bahkan
hingga sampai ke gejala lanjut seperti mual, muntah, nyeri perut, sesak nafas, dan
koma pun diagnosis belum bisa ditegakkan. Gejala-gejala tersebut bisa dikatakan
umum sehingga sering disalahartikan sebagai penyakit usus buntu atau infeksi.
Padahal kesalahan atau keterlambatan diagnosis dapat mengakibatkan kematian.
Orangtua sebaiknya segera mengonsultasikan ke dokter spesialis anak dan
melakukan pemeriksaan gula darah atau gula dalam urine bila menjumpai gejala-
gejala berikut pada anak:
1. Sering sekali buang air kecil atau mengompol, karena tubuh berusaha
mengeluarkan glukosa yang berlebihan lewat urine.
2. Banyak minum, untuk mengantikan cairan yang keluar saat buang air kecil.
3. Mudah lapar, si kecil mengonsumsi banyak makanan, namun tidak diiringi
dengan peningkatan berat badan. Sebaliknya berat badan justru menurun
tanpa sebab yang jelas walaupun porsi makan si kecil lebih banyak dari
biasanya.
4. Cepat lelah, karena tubuh tidak dapat menggunakan glukosa untuk energi.
5. Penurunan berat badan. Meskipun anak makan melebihi biasanya, tapi anak-
anak tetap kehilangan berat badannya. Tanpa adanya asupan energi dari gula,
maka jaringan otot dan cadangan lemak akan menyusut. Penurunan berat
badan yang tidak bisa dijelaskan seringkali menjadi gejala pertama yang
diperhatikan.
6. Anak menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Anak-anak dengan diabetes
tipe 1 yang belum terdiagnosis seringkali menjadi mudah marah atau tiba-tiba
menjadi murung dan kesal.
7. Penglihatan yang kabur. Jika gula darah anak terlalu tinggi, maka cairan dapat
ditarik dari lensa mata sehingga mempengaruhi kemampuan anak untuk bisa
fokus dengan jelas.
8. Infeksi jamur. Adanya infeksi jamur pada alat kelamin bisa menjadi tanda
pertama dari diabetes tipe 1 pada anak perempuan.

E. Klasifikasi Diabetes Melitus


1. Diabetes tipe 1 (Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM) / Diabetes
Mellitus Tergantung Insulin (DMTI).
Disebabkan oleh distruksi sel Beta pulau langerhans akibat proses auto imun
dan idiopatik. Sebagian besar kasus dimulai pada masa kecil dengan gejala
penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, kelelahan, rasa haus dan
buang air kecil berlebihan, dan penglihatan kabur. Diabetes tipe 1 juga dapat
didiagnosis pada orang dewasa, meskipun kurang umum. Diabetes tipe 1
membutuhkan terapi insulin.
2. Diabetes tipe 2 (Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM) /Diabetes
Melitus Tidak Tergantung Insulin (DMTTI).
Disebabkan kegagalan relatif sel beta dan resistensi insulin. Resistensi insulin
adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh
jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel beta tidak
mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya, artinya terjadi defisiensi
insulin, ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada
rangsangan glukosa maupun pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang
sekresi insulin lain, berarti sel beta pankreas mengalami desentisisasi terhadap
glukosa.
3. Diabetes tipe lain.
1. Defek genetic fungsi sel beta:
a. Maturity Onset Diabetes of the young (MODY) 1,2,3
b. DNA mitokondria
2. Defek genetik kerja insulin.
3. Penyakit eksokrin pancreas
a. Pancreatitis
b. Tumor / Pankreatektomi
c. Pankreatopati fibrokalkulus
4. Endrokinopati : akromegali,sindrom chusing, feokromositoma dan
hipertiroidisme.
5. Karena obat / zat kimia
a. Vacor, pentamidin, asam nikotinat
b. Glukortikoid , hormone tiroid
c. Tiazid, dilantin,interferon alpha dan lain lain.
6. Infeksi :rubella congenital, sito megalovirus.
7. Penyebab imunologi yang jarang : anti body anti insulin.
8. Sindrom genetic lain yang berkaitan dengan DM ; sindrom down, sindrom
klinefelter, sindrom turner dan lain lain.
4. Diabetes Melitus Gestasional (DMG).
Diabetes yang terjadi pada masa kehamilan, DM ini di anggap dari
peningkatan kebutuhan energi dan kadar estrogen dan hormon pertumbuhan yang
terus menerus tinggi selama kehamilan, hormon estrogen dan pertumbuhan
merangsang pengeluaran insulin dan dapat menyebabkan gambaran sekresi
belebihan insulin seperti DM tipe II.

F. Kriteria Diagnostik Diabetes Melitus Tipe 1


Diagnosis didapatkan dari anamnesis, gejala klinis, serta data
laboratorium, dengan kriteria data lab: Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai
patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl).

Tabel 1. Kadar Darah Sewaktu Dan Puasa Menurut WHO


Bukan DM Belum pasti DM
DM
Kadar glukosa darah
sewaktu:
1. Plasma vena < 100 100 – 200 >200
2. Darah kapiler < 80 80 – 200 >200
Kadar glukosa darah
puasa:
1. Plasma vena < 110 110 – 120 >126
2. Darah kapiler < 90 90 – 110 >110
Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali
pemeriksaan :
1. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
2. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah
mengkonsumsi 75gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200
mg/dl.

G. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 1


Dalam jangka pendek, penatalaksanaan DM bertujuan untuk
menghilangkan/mengurangi keluhan/gejala DM. Sedangkan untuk tujuan
jangka panjangnya adalah mencegah komplikasi. Tujuan tersebut dilaksanakan
dengan cara menormalkan kadar glukosa, lipid, dan insulin. Untuk
mempermudah tercapainya tujuan tersebut kegiatan dilaksanakan dalam bentuk
pengelolaan pasien secara holistik dan mengajarkan kegiatan mandiri. Kriteria
pengendalian DM dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Kriteria Pengendalian Diabetes Melitus


Baik Sedang Buruk
Glukosa darah plasma vena (mg/dl)
- puasa 80-109 110-139 >140
-2 jam 110-159 160-199 >200
HbA1c (%) 4-6 6-8 >8
Kolesterol total (mg/dl) <200 200-239 >240
Kolesterol LDL
- tanpa PJK <130 130-159 >159
- dengan PJK <100 11-129 >129
Kolesterol HDL (mg/dl) >45 35-45 <35
Trigliserida (mg/dl)
- tanpa PJK <200 <200-249 >250
- dengan PJK <150 <150-199 >200
BMI/IMT
- perempuan 18,9-23,9 23-25 >25 atau <18,5
- laki-laki 20 -24,9 25-27 >27 atau <20
Tekanan darah (mmHg) <140/90 140-160/90-95 >160/95

Akan tetapi, perbedaan utama antara penatalaksanaan DM tipe 1 yang


mayoritas diderita anak dibanding DM tipe 2 adalah kebutuhan mutlak insulin.
Terapi DM tipe 1 lebih tertuju pada pemberian injeksi insulin.
Pada anak, ada beberapa tujuan khusus dalam penatalaksanaannya, yaitu
diusahakan supaya anak-anak :
1. Dapat tumbuh dan berkembang secara optimal
2. Mengalami perkembangan emosional yang normal
3. Mampu mempertahankan kadar glukosuria atau kadar glukosa darah
serendah mungkin tanpa menimbulkan gejala hipoglikemia
4. Tidak absen dari sekolah akibat penyakit dan mampu berpartisipasi dalam
kegiatan fisik maupun sosial yang ada
5. Penyakitnya tidak dimanipulasi oleh penyandang DM, keluarga, maupun
oleh lingkungan
6. Mampu memberikan tanggung jawab kepada penyandang DM untuk
mengurus dirinya sendiri sesuai dengan taraf usia dan intelegensinya.
Keadaan ideal yang ingin dicapai ialah penyandang DM tipe 1 dalam
keadaan asimtomatik, aktif, sehat, seimbang, dan dapat berpartisipasi dalam
semua kegiatan sosial yang diinginkannya serta mampu menghilangkan rasa takut
terhadap terjadinya komplikasi.
Sasaran-sasaran ini dapat dicapai oleh sebagian besar penyandang DM
maupun keluarganya jika mereka memahami penyakitnya dan prinsip-prinsip
penatalaksanaan diabetes.
Untuk mencapai tujuan ini penatalaksanaan dibagi menjadi :
1. Pemberian insulin
Diabetes tipe 1 mutlak membutuhkan insulin karena pankreas tidak dapat
memproduksi hormon insulin. Maka seumur hidupnya pasien harus mendapatkan
terapi insulin untuk mengatasi glukosa darah yang tinggi. Penghentian suntikan
akan menimbulkan komplikasi akut dan bisa fatal akibatnya.
Suntikan insulin untuk pengobatan diabetes dinamakan terapi insulin.
Tujuan terapi ini terutama untuk :
1. Mempertahankan glukosa darah dalam kadar yang normal atau
mendekati normal.
2. Menghambat kemungkinan timbulnya komplikasi kronis pada diabetes.
Keberhasilan terapi insulin juga tergantung terhadap gaya hidup seperti
program diet dan olahraga secara teratur. Sebelum membahas mengenai cara kerja
pompa insulin pada pengobatan diabetes melitus tipe 1, akan dijelaskan mengenai
cara kerja dan jenis insulin.
Makanan terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak. Glukosa terutama
bersumber dari karbohidrat walaupun protein dan lemak juga bisa menaikan
glukosa. Karbohidrat dipecah menjadi glukosa dan masuk ke peredaran darah, dan
glukosa darah dapat meningkat. Secara terus menerus pankreas melepaskan
insulin pada saat makan atau tidak. Setelah makan, glukosa meningkat di dalam
peredaran darah dan pengeluaran insulin oleh pankreas juga meningkat. Tugas
pokok insulin adalah mengatur pengangkutan atau masuknya glukosa dari darah
ke dalam sel sehingga glukosa darah bisa turun. Jadi, insulin berperan dalam
mengatur kestabilan glukosa di dalam darah. Insulin juga bekerja di hati. Setelah
makan, kadar insulin meningkat dan membantu penimbunan glukosa di hati. Pada
saat tidak makan, insulin turun. Maka hati akan memecah glikogen menjadi
glukosa dan masuk ke darah sehingga glukosa darah dipertahankan tetap dalam
kadar yang normal.
Struktur kimia hormon insulin bisa rusak oleh proses pencernaan sehingga
insulin tidak bisa diberikan melalui tablet atau pil. Satu-satunya jalan pemberian
insulin adalah melalui suntikan, bisa suntikan di bawah kulit (subcutan/sc),
suntikan ke dalam otot (intramuscular/im), atau suntikan ke dalam pembuluh vena
(intravena/iv). Ada pula yang dipakai secara terus menerus dengan pompa (insulin
pump/CSII) atau sistem tembak (tekan semprot) ke dalam kulit (insulin
medijector).
Enam tipe insulin berdasarkan mulain kerja, puncak, dan lama kerja
insulin tersebut, yakni :
1. Insulin Keja Cepat (Short-acting Insulin)
2. Insulin Kerja Sangat Cepat (Quick-Acting Insulin)
3. Insulin Kerja Sedang (Intermediate-Acting Insulin)
4. Mixed Insulin
5. Insulin Kerja Panjang (Long-Acting Insulin)
6. Insulin Kerja Sangat Panjang (Very Long Acting Insulin)

Tabel 3. Insulin Yang Tersedia Dan Yang Akan Tersedia Di Indonesia


Tipe Insulin Mulai Puncak Lama
Kerja Kerja
Ultra Short Acting (Quick-Acting, Rapid 15-30 min 60-90 min 3-5 hr
Acting) Insulin Analogues
Insulin Aspart (NovoRapid, Novolog)
Insulin Lispro (Humalog)
Short-Acting (Soluble, Neutral) 30-60 min 2-4 hr 6-8 hr
Insulin Reguler, Actrapid, Humulin R
Intermediate-Acting (Isophane) 1-2 hr 4-8 hr 16-24 hr
Insulatard, Humulin N, NPH
Long-Acting Insulin (Zinc-based) 1-3 hr 4-12 hr 16-24 hr
Monotard, Humulin Lente, Humulin Zn
Very Long Acting Insulin 2-4 hr 4-24hr 24-36 hr
Insulin Glargine (Lantus) (nopeak)
Insulin Detemir (Levemir)
Mixed Insulin (Short + Intermedidiate- 30 min 2-8 hr 24 hr
Acting Insulin)
Mixtard 30/70, NovoMix, Humulin 30/70
2. Penatalaksanaan diet
Salah satu langkah pertama dalam menangani DM tipe 1 adalah dengan
kontrol diet. Penatalaksanaan diet meliputi edukasi waktu, jumlah, jadwal, atau
jenis makanan untuk mencegah hipoglikemia atau hiperglikemia post prandial.
Semua pasien dengan insulin sebaiknya memiliki perencanaan diet yang baik
seperti intake kalori perhari; jumlah karbohidrat, lemak, dan protein; dan
bagaimana membagi kalori antara makan dan snack. Idealnya, diet tap pasien DM
dibuat individual sesuai kebutuhan.
1. Distribusi kalori sangat penting diperhatikan; rekomendasi yang biasa
adalah 20% dari kalori harian untuk sarapan, 35% untuk makan siang,
30% untuk makan malam, dan 15% untuk snack sore.
2. Kebutuhan protein minimum untuk nutrisi yang baik adalah 0,9 g/kg/hari
(range = 1-1,5 g/kg/hari) tetapi intake protein harus dikurangi bila ada
nefropati.
3. Intake lemak sebaiknya dibatasi hingga 30% atau kurang dari kalori total.
Diet rendah kolesterol direkomendasikan untuk DM.
4. Pasien sebaiknya mengkonsumsi sukrosa dan menambah intake serat. Pada
beberapa kasus, snack pagi dan siang penting untuk mencegah
hipoglikemia.
3. Latihan jasmani
Pasien seharusnya dimotivasi untuk berolahraga teratur. Edukasi pasien
tentang bagaimana efek olahraga terhadap kadar glukosa darah. Jika pasien
berolahraga keras atau lebih dari 30 menit, dikhawatirkan kemungkinan
hipoglikemia. Untuk mencegah hipoglikemia, mereka di edukasi untuk
menurunkan insulinnya 10-20% atau menambah ekstra snack. Pasien-pasien ini
juga harus dapat mempertahankan status hidrasinya selama olahraga.
4. Edukasi
Memberikan pendidikan terhadap pasien dan keluarga apabila telah
terdiagnosa diabetes mellitus, diantaranya:
1. Patofisiologi dari hiperglikemi dan hipoglikemi
2. Bagaimana hidup dengan atau tanpa diabetes mellitus
3. Selalu memonitor gula darah
4. Bagaimana mencapai target gula darah
5. Home monitoring
Pasien dan keluarga melakukan pemantauan secara mandiri untuk
mengetahui kadar gula darah, serta dapat melakukan penatalaksanan sendiri
dirumah.

H. Komplikasi
1. Akut.
a. Koma hipoglikemia.
b. Ketoasidosis.
c. Koma hiperosmolar non ketotik.
2. Kronik
a. Makro angiopati, mengenai pembuluh darah besar, pembuluh darah
jantung, pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak.
b. Mikro angiopati, mengenai pembuluh darah kecil, retinopati diabetik,
nefropati.
c. Neuropati diabetik.
d. Rentan infeksi.
e. Ganggren.
Tabel 4. Kegiatan Penyuluhan
Tahap Kegiatan Peserta
Kegiatan Penyuluh Metode Waktu
Kegiatan Penyuluh
Pembukaan 1. Salam pembuka 1. Menyambut Cerama 3 menit
2. Memperkenalkan diri salam. h
3. Menjelaskan tujuan umum dan 2. Mendengarkan
khusus dari penyuluhan 3. Memberikan
4. Melakukan kontrak waktu respon positif
5. Menyebutkan materi penyuluhan 4. Memperhatikan
yang akan diberikan 5. Menjawab
6. Menggali pengetahuan audience pertanyaan

Penyampaian 1. Pengertian Diabetes melitus tipe 1 Mendengarkan,me Cerama 10 menit


materi 2. Penyebab Diabetes Mellitus Tipe nyimak, tanya h
1 jawab, dan
3. Perjalanan penyakit Diabetes menjawab
Melitus Tipe 1 pertanyaan dari
4. Deteksi Dini Diabetes Melitus audien
Tipe 1 Pada Anak
5. Klasifikasi Diabetes Melitus
6. Kriteria Diagnostik Diabetes
Melitus Tipe 1
7. Penatalaksanaan Diabetes Melitus
Tipe 1
8. Komplikasi Diabetes Melitus
9. Memberikan kesempatan pada
audien untuk bertanya
Penutup 1. Mengevaluasi pengetahuan peserta 1. Audien Tanya 7 menit
dengan menanyakan materi yang menjawab jawab
sudah dijelaskan: penyaji kepada pertanyaan dan
audien mendengarkan
2. Menutup penyuluhan (salam) jawaban audien
2. Memperhatikan
3. Menjawab
salam
6. Metode Penyuluhan
a. Ceramah
b. Diskusi
c. Tanya jawab
7. Media
a. LCD
b. Leaflet
8. Evaluasi
A. Evaluasi
1. Peserta hadir di tempat penyuluhan
2. Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di poli anak RSU Dr. Saiful
Anwar Malang
3. Pengorganisasian penyuluhan dilakukan sebelumnya
B. Evaluasi proses
1. Peserta antusias dengan materi penyuluhan
2. Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan tanpa alasan
penting
3. Peserta mengajukan pertanyaan dan memahami pertanyaan dengan baik
C. Evaluasi hasil
Peserta penyuluhan mengerti dan memahami tentang Demam berdarah sesuai
tujuan khusus meliputi :
1. Pengertian Diabetes melitus tipe 1
2. Penyebab Diabetes Mellitus Tipe 1
3. Patofisiologi Diabetes Melitus Tipe 1
4. Deteksi Dini Diabetes Melitus Tipe 1 Pada Anak
5. Klasifikasi Diabetes Melitus
6. Kriteria Diagnostik Diabetes Melitus Tipe 1
7. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 1
8. Komplikasi Diabetes Melitus
9. Peserta penyuluhan memberikan pertanyaan tentang judul dan permasalahan
yang dialaminya serta cara mengatasinya.
LEMBAR OBSERVASI
Peserta Penyuluhan Poli Anak RSU. Dr. Saiful Anwar Malang
Topik : Diabetes Melitus Tipe 1
Hari/tanggal : Jumat, 10 Noveber 2017
Tempat : di Poli Anak RSU. Dr. Saiful Anwar Malang
WAKTU KEGIATAN
PEMBUKAAN
PENYAJIAN MATERI
DISKUSI
Pertanyaan:

PENUTUP:
Daftar Pustaka

Baradeo, Mary., Siswadi, Yakobus. (2008). Klien Gangguan Endokrin. Jakarta:


EGC.
Maruaba, Chandranita. (2010). Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC.
Rumahorbo, Hotma. (2009). Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan
Sistem Endokrin. Jakarta: EGC.