Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ANALITIK
ASIDIMETRI-ALKALIMETRI

Disusun oleh:
Kelompok 7
1. A. Iqbal Banuaji H1916001
2. Kieky Elok N H0916047
3. Muhammad Fadzil H0916057
4. Muhammad Taqiyudin H0916059
5. Mutia Diena Rahmah H0916060
6. Yuliana Dyah Kusuma W H1916025

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2017
ACARA I
ASIDIMETRI-ALKALIMETRI

A. Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum Kimia Analitik acara I “Alkalimetri” ini adalah
sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat melakukan standarisasi NaOH dengan larutan baku primer
asam oksalat
2. Mahasiswa dapat melakukan standarisasi HCl dengan larutan baku primer
NaOH terstandarisasi
3. Mahasiswa dapat menghitung kadar asam pada boraks dan soda kue
4. Mahasiswa dapat menghitung kadar asam pada susu dan yoghurt
5. Mahasiswa dapat menggambarkan dan memahami kurva pH titrasi serta
dapat menentukan letak titik ekivalen pada bahan uji.

B. Tinjauan Pustaka
Titrasi merupakan salah satu metode untuk menentukan konsentrasi
suatu larutan dengan cara mereaksikan sejumlah volume larutan terhadap
sejumlah volume larutan lain yang konsentrasinya sudah diketahui (larutan
baku). Ada dua jenis titrasi, yaitu asidimetri dan alkalimetri. Asidimetri ialah
penentuan konsentrasi larutan basa dengan menggunakan asam sebagai larutan
standar. Sedangkan alkalimetri adalah penentuan konsentrasi larutan asam
dengan menggunakan basa sebagai larutan standar (Hetalesi, 2014).
Titrasi asam basa melibatkan reaksi antara asam dengan basa, sehingga
akan terjadi perubahan pH larutan yang dititrasi. Tujuan titrasi ini adalah untuk
mencapai keseimbangan antara larutan standar dengan larutan yang dititrasi
atau mencapai titik ekuivalen.Titrasi asam-basa dibagi menjadi alkalimetri dan
asidimetri.Alkalimetri merupakan titrasi yang menggunakan basa sebagai
larutan standar, sedangkan asidimetri menggunakan asam sebagai larutan
standar. Proses asidimetri dan alkalimetri merupakan salah satu proses
netralisasi (Fatimah dan Deni, 2015).
Analisis volumetrik adalah salah satu kunci metode kuantitatif yang
digunakan untuk menentukan asam organik dan non organik yang bereaksi
dengan asam/basa kuat atau lemah. Analisa volumetrik titrasi didapat dengan
menggunakan penunjuk warna organik lemah atau indikator pH asam. Hampir
kebanyakan indikator pH baik asam maupun basa organik lemah bereaksi
dengan menerima atau menyumbangkan elektron. Beberapa contoh indikator
pH yang digunakan dalam titrasi diantaranya metil merah, phenolphthalein,
serta metil orange (Abugri et al., 2012).
Dalam titrasi, zat yang akan ditentukan konsentrasinya dititrasi oleh
larutan yang konsentrasinya sudah diketahui dengan tepat, dan disertai dengan
penambahan indikator. Larutan yang sudah diketahui konsentrasinya dan stabil
pada proses penimbangan, pelarutan, dan penyimpanan disebut larutan baku
primer atau larutan standar (Sutresna, 2007).
Standardisasi larutan merupakan proses saat konsentrasi larutan standar
sekunder ditentukan dengan tepat dengan cara mentitrasi dengan larutan
standar primer. Titran atau titer adalah larutan yang digunakan untuk mentitrasi
(biasanya sudah diketahui secara pasti konsentrasinya). Dalam proses titrasi
suatu zatberfungsi sebagai titran dan yang lain sebagai titrat. Titrat adalah
larutan yang dititrasi untuk diketahui konsentrasi komponen tertentu. Titik
ekivalen adalah titik yg menyatakan banyaknya titran secara kimia setara
dengan banyaknya analit. Analit adalah spesies (atom, unsur, ion, gugus,
molekul) yang dianalisis atau ditentukan konsentrasinya atau strukturnya
(Padmaningrum, 2006).
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titrat ataupun
titran. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa atau
sebaliknya. Titran adalah larutan asam atau basa yang telah diketahui
konsentrasinya. Sedangkan titrat adalah larutan asam atau basa yang akan
dicari konsentrasinya. Titran yang umum digunakan adalah HCl dan NaOH
(Rahayu dan Jodhi, 2010).
Natrium Hidroksida anhidrat (NaOH) berbentuk kristal berwarna putih.
NaOH bersifat sangat korosif terhadap kulit. Istilah yang paling sering
digunakan dalam industri yaitu soda kaustik. Soda kaustik apabila dilarutkan
dalam air akan menimbulkan reaksi eksotermis. NaOH memiliki berat molekul
39,998 gr/mol. Titik didih NaOH adalah 13900C, sedangkan titik lelehnya
3180C (Surest dan Dodi, 2010).
Larutan asam klorida (HCl) adalah cairan kimia yang sangat korosif,
berbau menyengat dan sangat iritatif dan beracun. Larutan HCl termasuk
bahan kimia berbahaya atau B3. Asam klorida merupakan larutan gas hidrogen
klorida (HCl) dalam air. Warnanya bervariasi dari tidak berwarna hingga
kuning muda. Perbedaan warna ini tergantung pada kemurniannya Berat
molekul HCl 36,5 gram/mol. Titik didih HCl 50,50C, sedangkan titik leburnya
-250C (Yurida, 2013).
Yogurt atau yoghurt adalah salah satu produk olahan susu yang paling
populer, yang memiliki kandungan nutrisi yang tinggi. Yoghurt pada umumnya
mengandung kalsium yang tinggi yang baik untuk tubuh. Yoghurt kaya akan
sumber protein, karbohidrat, mineral (kalsium dan fosfor), serta vitamin seperti
riboflavin (B2), tiamin (B1), kobalamin (B12), folat (B9), niasin (B3) dan
vitamin A. Yoghurt harus mengandung minimal 3,25% lemak susu, dan 8,25%
padatan susu non lemak dengan tingkat keasaman tidak kurang dari 0,9%
(Weerathilake et al., 2014).
Susu UHT (Ultra High Temperature) adalah produk susu yang telah
melalui proses pemanasan pada suhu kisaran 280-3020F (138-1500C) selama 1-
2 detik. Produk susu ini umumnya dikemas dalam kemasan steril, dengan
kemasan berlapis hermatis, dapat disimpan tanpa pendinginan selama
penyimpanan. Secara normal komposisi susu (sapi) memiliki kandungan air
84-90%; lemak 2-6%; protein 3-4 %; laktosa 4-5%; dan kadar abu < 1%
(Budiyono, 2009).
Soda kue merupakan bahan pengembang sintetis pangan yang diizinkan.
Senyawa ini merupakan kristal yang sering terdapat dalam bentuk serbuk.
Natrium bikarbonat larut dalam air. Soda kue bila dipanaskan, asamnya akan
bereaksi dan membentuk garam, air dan gas yang akan menyebabkan
mengembangnya bahan. Prinsip kerja soda kue yaitu menciptakan reaksi
kimiawi dengan melepas gas karbon dioksida, sehingga membentuk
gelembung-gelembung dalam adonan dan membuatnya mengembang
(Nafly dan Marcus, 2011).
Titrasi adalah tehnik laboratorium kimia dasar untuk analisa kuantatif
dari suatu substansi dengan menggunakan larutan standar. indikator pH pada
umunya menggunakan asam atau basa lemah dimana perubahan warnanya
berdasarkan pH larutan yang digunakan. Beberapa indikator pH yang sering
digunakan adalah Phenolphthaelin (PP), Metil Orange (MO) metylene blue,
dsb (Pradeep dan Kapil, 2013).
Beberapa indikator kimia sintetik digunakan untuk beberapa tipe analisa
titrimetri. Indikator asam-basa dikenal sebagai indikator pH. Indikator asam
basa adalah zat (pewarna) yang merubah warna dengan pH. Indikator asam
basa biasanya berupa asam atau basa lemah yang ketika dilarutkan dalam air
berdisosiasi sedikit dan membentuk ion. Analisa volumetrik adalah salah satu
tehnik kuantitatif utama. Pada titrimetri, titik ekuivalen biasanya menjadi titik
akhir titrasi. Titik akhir titrasi titrimetri biasanya ditandai dengan beberapa
substansi yang ditambahkan dapat merubah warna larutan secara cepat setelah
dicapai titik ekuivalen (Bahadori dan Maroufi, 2016).

C. Metodologi
1. Alat
a. Beaker glass
b. Buret
c. Erlenmeyer
d. Labu takar
e. Pipet tetes
f. Pipet volume
g. Propipet
h. pH meter
i. Statif
2. Bahan
a. Aquades
b. Asam oksalat
c. Borax
d. Indikator Metil Merah
e. Indikator PP
f. Larutan HCl
g. Larutan NaOH
h. Soda kue
i. Susu UHT
j. Yoghurt plain
3. Cara kerja
a. Standarisasi larutan NaOH dengan larutan (COOH)2.2H2O

0,1 gram asam oksalat

25 ml aquades Pengenceran dalam labu takar

3 tetes indikator Pengambilan 25 ml asam oksalat ke dalam


PP erlenmeyer

Penitrasian dengan larutan NaOH

Gambar 1.1 Diagram alir proses standarisasi larutan NaOH


dengan larutan (COOH)2.2H2O

b. Penentuan kadar asam laktat pada susu UHT dan Yoghurt plain
5 gram sampel+ 5 ml
aquades

3 tetes indikator Penambahan dalam beaker glass


PP

Penitrasian dengan larutan NaOH

Pengukuran pH saat 0 ml, 2 ml, 4 ml, 6 ml, 8


ml, dan x ml

Pencatatan penambahan volume NaOH

Gambar 1.2 Diagram alir proses penentuan kadar asam laktat


pada susu UHT dan Yoghurt plain
c. Standarisasi HCl dengan larutan NaOH terstandarisasi

10 ml NaOH
terstandarisasi

3 tetes indikator Penambahan ke dalam labu erlenmeyer


Metil Merah

Penitrasian dengan larutan HCl

Gambar 1.3 Diagram alir proses standarisasi HCl dengan


larutan NaOH terstandarisasi
d. Penentuan kadar basa pada borax dan soda kue
0,35 gram sampel+ 10
ml aquades

3 tetes indikator Penambahan dalam beaker glass


Metil Merah

Penitrasian dengan larutan HCl

Pengukuran pH saat 0 ml, 2 ml, 4 ml, 6 ml, 8


ml, dan x ml

Pencatatan penambahan volume HCl

Gambar 1.4 Diagram alir proses penentuan kadar basa pada


borax dan soda kue
D. Hasil dan Pembahasan
Tabel 1.1 Standarisasi NaOH dengan Larutan Baku Primer (COOH)2.2H2O
Kelompok N Asam V Asam N NaOH V NaOH Perubahan
Oksalat Oksalat (ml) warna
(ml)
1 dan 2 0,0635 26 0,0998 15,9 Semburat
ungu
13 0, 0635 25 0,1058 15 Semburat
pink
Rata-rata 0,102
Sumber: laporan sementara

Titrasi merupakan salah satu metode untuk menentukan konsentrasi suatu


larutan dengan cara mereaksikan sejumlah volume larutan terhadap sejumlah
volume larutan lain yang konsentrasinya sudah diketahui (larutan baku). Ada
dua jenis titrasi, yaitu asidimetri dan alkalimetri. Asidimetri ialah penentuan
konsentrasi larutan basa dengan menggunakan asam sebagai larutan standar.
Sedangkan alkalimetri adalah penentuan konsentrasi larutan asam dengan
menggunakan basa sebagai larutan standar (Hetalesi, 2014). Dalam titrasi, zat
yang akan ditentukan konsentrasinya dititrasi oleh larutan yang konsentrasinya
sudah diketahui dengan tepat, dan disertai dengan penambahan indikator.
Larutan yang sudah diketahui konsentrasinya dan stabil pada proses
penimbangan, pelarutan, dan penyimpanan disebut larutan baku primer atau
larutan standar (Sutresna, 2007).
Menurut Padmaningrum (2008) larutan standar adalah larutan yang
konsentrasinya sudah diketahui secara pasti. Berdasarkan kemurniannya
larutan standar dibedakan menjadi larutan standar primer dan larutan standar
sekunder. Larutan standar primer adalah larutan standar yang dipersiapkan
dengan menimbang dan melarutkan suatu zat tertentu dengan kemurnian tinggi
(konsentrasi diketahui dari massa dan volume larutan). Larutan standar
sekunder adalah larutan standar yang dipersiapkan dengan menimbang dan
melarutkan suatu zat tertentu dengan kemurnian relatif rendah sehingga
konsentrasi diketahui dari hasil standardisasi. Syarat larutan baku primer
diantaranya: mempunyai kemurnian yang tinggi, rumus molekulnya pasti, tidak
mengalami perubahan selama penimbangan, berat ekivalen yang tinggi (agar
kesalahan penimbangan dapat diabaikan), larutan stabil didalam penyimpanan.
Contoh larutan baku standar yaitu Kalium Bromat (KBrO3), Natrium Klorida
(NaCl), Kalium Hydrogen Phtalat (KHP), Asam Benzoat, Arsen Trioksida
(As2O3), Natrium Karbonat (NaCO3).
Standarisasi merupakan suatu proses yang digunakan untuk menentukan
secara teliti konsentrasi suatu larutan. Larutan standar adalah larutan yang
konsentrasinya telah diketahui. Larutan standar kadang-kadang dapat dibuat
dari sejumlah contoh solute yang diinginkan yang secara teliti ditimbang
dengan melarutkannya ke dalam volume larutan yang secara teliti diukur
volumenya. Tujuan standarisasi adalah mengetahui konsentrasi larutan yang
akan digunakan dalam titrasi asidimetri-alkalimetri (Sutresna, 2007).
Berdasarkan Tabel 1.1 menunjukkan bahwa pada kelompok 1 dan 2
didapatkan hasil N NaOH 0,0998 N dengan perubahan warna menjadi
semburat ungu. Pada kelompok 13 didapatkan hasil N NaOH 0,1058 N dengan
perubahan warna menjadi semburat pink. Dari hasil tersebut didapatkan rata-
rata normalitas NaOH sebesar 0,102 N. Perubahan warna tersebut
menunjukkan titik ekuivalen yang terjadi pada saat titrasi.
Tabel 1.2 Penentuan Kadar Asam Laktat pada Susu UHT dan Yoghurt Plain
Bahan Kelompok ml V NaOH N Perubahan % Asam
Uji Bahan (ml) NaOH Warna Laktat
Susu 5 dan 6 5 0,9 0,0998 Merah muda 0,1616
UHT 15 5 0,9 0,1058 Semburat 1,7
pink
Yoghurt 7 dan 8 5 4,4 0,00991 Ungu muda 0,7849
Plain 16 5 5 1,1058 Semburat 9,522
pink
Sumber: laporan sementara
Prinsip titrasi asidimetri-alkalimetri adalah mereaksikan larutan dengan
larutan yang sudah diketahui konsentrasinya. Reaksi dilakukan secara bertahap
(tetes demi tetes) hingga tepat mencapai titik stoikiometri atau titik
setara.Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titrat ataupun
titran. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa atau
sebaliknya. Menurut Rahayu dan Jodhi (2010) titran adalah larutan asam atau
basa yang telah diketahui konsentrasinya.
Berdasarkan Tabel 1.2 sampel susu UHT kelompok 5 dan 6 didapatkan
hasil kadar asam laktat sebesar 0,1616 % serta perubahan warna menjadi merah
muda. Sedangkan pada kelompok 15 didapatkan hasil kadar asam laktat
sebesar 1,7 % serta perubahan warna menjadi semburat pink. Menurut Hidayati
dkk (2000), kadar asam susu berkisar antara 0,14-0,18 % pada pH 6,5-6,7.
Perbedaan kadar asam susu hasil praktikum (sampel kelompok 15) dan teori
Hidayati dkk (2000), dapat terjadi karena kurang telitinya proses pengujian
kadar asam atau proses titrasi yang kelewat jenuh. Untuk sampel yoghurt plain
kelompok 7 dan 8 didapatkan hasil kadar asam laktat sebesar 0,7849% serta
perubahan warna ungu muda. Sedangkan pada kelompok 16 didapatkan hasil
kadar asam laktat sebesar 0,9522 % serta perubahan warna menjadi semburat
pink. Menurut SNI No.01-2891 tahun 2009 tentang yogurt, standar kadar total
asam yogurt drink yaitu sebesar 0,5-2,0 %. Perbedaan kadar asam yoghurt
dengan teori dapat disebabkan karena kurang telitinya penimbangan dan proses
pengujian kadar asam.
Tabel 1.3 Tabel Titrasi Bahan Uji
Susu UHT dengan NaOH shift 1 pH (y)
ml Titran (x) pH (y) 15
0 6.4
pH (y)

10
0.9 10.8
2 13.15 5
pH (y)
4 12.9 0
6 12.96 0 2 6
8 14 ml titran (x)

Gambar 1.5 Kurva Titrasi Bahan Uji


Yoghurt dengan NaOH shift 1
Tabel 1.4 Tabel Titrasi Bahan Uji
Yoghurt dengan NaOH shift 1 pH (y)
ml Titran pH (y) 15
(x)

pH (y)
10
0 3.18
2 3.9 5
pH (y)
4 0.18 0
4.4 8.72 0 4 6
6 12 ml titran (x)
8 12.47
Gambar 1.6 Kurva Titrasi Bahan Uji
Yoghurt dengan NaOH shift 1
Tabel 1.5 Kurva Titrasi Bahan
Susu UHT dengan NaOH shift 2 pH (y)
ml Titran (x) pH (y) 15
0 5.5 pH (y) 10
0.9 8.9
5
2 11.06 pH (y)
4 12.59 0 0
2
6
6 12.22
ml titran (x)
8 12.34
Gambar 1.7 Kurva Titrasi Bahan Uji
Yoghurt dengan NaOH shift 1
Tabel 1.6 Kurva Titrasi Bahan
Susu UHT dengan NaOH shift 2 pH (y)
ml Titran (x) pH (y) 15

pH (y)
0 2.1 10
2 3.11 5
4 5.67 0 pH (y)
5 8.67 0 2 4 5 6 8
6 10.36 ml titran (x)
8 11.58
Gambar 1.8 Kurva Titrasi Bahan Uji
Yoghurt dengan NaOH shift 1

Susu UHT (Ultra High Temperature) adalah produk susu yang telah
melalui proses pemanasan pada suhu kisaran 280-3020F (138-1500C) selama 1-
2 detik. Produk susu ini umumnya dikemas dalam kemasan steril, dengan
kemasan berlapis hermatis, dapat disimpan tanpa pendinginan selama
penyimpanan. Secara normal komposisi susu (sapi) memiliki kandungan air
84-90%; lemak 2-6%; protein 3-4 %; laktosa 4-5%; dan kadar abu < 1%
(Budiyono, 2009).
Yogurt atau yoghurt adalah salah satu produk olahan susu yang paling
populer, yang memiliki kandungan nutrisi yang tinggi. Yoghurt pada umumnya
mengandung kalsium yang tinggi yang baik untuk tubuh. Yoghurt kaya akan
sumber protein, karbohidrat, mineral (kalsium dan fosfor), serta vitamin seperti
riboflavin (B2), tiamin (B1), kobalamin (B12), folat (B9), niasin (B3) dan
vitamin A. Yoghurt harus mengandung minimal 3,25% lemak susu, dan 8,25%
padatan susu non lemak dengan tingkat keasaman tidak kurang dari 0,9%
(Weerathilake, 2014).
Menurut Masterton (1977), gambar titrasi asam dengan titran NaOH
yang merupakan larutan basa kuat, akan menghasilkan gambar yang terus naik
karena pH nya yang semakin besar (Gambar 1.9). Pada awal penambahan
NaOH akan terjadi peningkatan pH yang signifikan, namun saat mendekati
titik ekivalen terjadi sedikit perubahan, semakin menjauhi titik ekivalen
perubahan pH semakin sedikit. Dari gambar diatas terdapat satu titik ekivalen,
dimana saat titik itu menunjukkan tepat sampel mengalami perubahan warna.
Dari hasil praktikum didapatkan gambar yang sudah sesuai dengan teori,
dimana gambarnya naik dan terdapat titik ekivalen.

Gambar 1.9 Kurva Alkalimetri Berdasarkan Masterton (1977)

Tabel 1.7 Standarisasi HCl dengan Larutan NaOH Terstandarisasi


Kelompok N V N V HCl Perubahan
NaOH NaOH HCl (ml) Warna
(N) (ml)
3 dan 4 0,0998 10 0,1051 9,5 Semburat pink
14 0, 1058 10 0,0936 11,3 Merah muda
Rata-Rata 0,096
Sumber: laporan sementara

Titrat adalah larutan asam atau basa yang akan dicari konsentrasinya.
Sedangkan menurut Padmaningrum (2006), titran atau titer adalah larutan yang
digunakan untuk mentitrasi (biasanya sudah diketahui secara pasti
konsentrasinya). Dalam proses titrasi suatu zat berfungsi sebagai titran dan
yang lain sebagai titrat. Titrat adalah larutan yang dititrasi untuk diketahui
konsentrasi komponen tertentu. Titran yang digunakan pada saat praktikum
adalah Natrium Hidroksida (NaOH) dan Asam Klorida (HCl). Sedangkan titrat
yang digunakan pada saat praktikum adalah susu UHT, yoghurt, borax, dan
soda kue. Berdasarkan Tabel 1.7 menunjukkan bahwa pada kelompok 3 dan 4
didapatkan hasil N HCl 0,1051 N dan volume HCl 9,5 ml dengan perubahan
warna menjadi semburat pink. Pada kelompok 14 didapatkan hasil N HCl
0,0936 N dan volume HCl 11,3 ml dengan perubahan warna menjadi merah
muda. Dari hasil tersebut didapatkan rata-rata normalitas NaOH sebesar 0,096
N. Perubahan warna tersebut menunjukkan titik ekuivalen yang terjadi pada
saat titrasi. Kadar Basa Borax menurut Surest dan Dodi (2010) adalah sebesar
9,5%.
Tabel 1.8 Penentuan Kadar Basa pada Sampel Soda Kue dan Boraks
Bahan Kelompok ml V HCl N HCl Perubahan % Kadar
Uji Bahan (ml) Warna Basa

Boraks 9 dan 10 5 16 0,1051 Semburat 183,5346


Pink
17 0,35 16,16 0,0936 Semburat 169,5818
Pink
Soda 18 0,35 15 0,0936 Semburat 33,6960
Kue Pink
11 dan 12 0,35 34,5 0,1051 Semburat 87,0228
Pink
Sumber: laporan sementara
Boraks adalah senyawa dengan nama kimia natrium tetraborat atau
garam boraks (Na2B4O7.10H2O) dan asam borat (H3BO3). Nama lainnya adalah
bleng, pijer, atau gendar. Jika terlarut dalam air akan menjadi natrium
hidroksida dan asam borat, dengan demikian bahaya boraks identik dengan
bahaya asam borat. Deskripsi asam borat yaitu : serbuk padat berwarna putih,
tidak berbau, rasa pahit, berat molekul 61,83, rumus molekul H3BO3, tekanan
uap 2,6 pada 200C, titik didih 3000C, titik leleh 1710C, pH 5,1 (0,1 M),
gravitasi spesifik 1,435 pada 150C, kelarutan dalam air 63,4 g/L pada 300C
(Fuad, 2014).
Soda kue merupakan bahan pengembang sintetis pangan yang diizinkan.
Senyawa ini merupakan kristal yang sering terdapat dalam bentuk serbuk.
Natrium bikarbonat larut dalam air. Soda kue bila dipanaskan, asamnya akan
bereaksi dan membentuk garam, air dan gas yang akan menyebabkan
mengembangnya bahan. Prinsip kerja soda kue yaitu menciptakan reaksi
kimiawi dengan melepas gas karbon dioksida, sehingga membentuk
gelembung-gelembung dalam adonan dan membuatnya mengembang
(Nafly, 2011).
Tabel 1.9 Kurva Titrasi Bahan
Soda kue dengan HCl shift 1 pH (y)
ml Titran pH (y) 15
(x)
10

pH (y)
0 9.56
2 8.78 5
pH (y)
4 7.411 0

0
2
4
6
8
34,5
6 7.1
8 6.68
ml titran (x)
34,5 3.54
Gambar 1.10 Kurva Titrasi Bahan Uji
Yoghurt dengan NaOH shift 1
Tabel 1.10 Kurva Titrasi Bahan
boraks dengan HCl shift 1 pH (y)
ml Titran (x) pH (y) 10
0 9.23 p
5
2 8.7 H
4 8.92 0 pH (y)
6 9.09 0 2 4 6 8 16
8 9.49 ml titran
16 4.37
Gambar 1.11 Kurva Titrasi Bahan Uji
Yoghurt dengan NaOH shift 1
Tabel 1.11 Kurva Titrasi Bahan
Soda kue dengan HCl shift 2 pH (y)
ml Titran (x) pH (y) 10
pH (y)

0 8.35 5
2 7.37 0 pH (y)
4 6.85 0 2 4 6 8 15
6 6.35 ml titran (x)
8 5.93
15 3.55
Gambar 1.12 Kurva Titrasi Bahan Uji
Yoghurt dengan NaOH shift 1
Tabel 1.12 Kurva Titrasi Bahan
Boraks dengan HCl shift 2 pH (y)
ml Titran pH (y) 15
(x)
10

pH (y)
0 9.55
5
2 9 pH (y)
0
4 8.63
0 2 4 6 8 16.6
6 8.28
ml titran (x)
8 7.89
16.6 2.55
Gambar 1.13 Kurva Titrasi Bahan Uji
Yoghurt dengan NaOH shift 1

Dari uji titrasi yang dilakukan pada dua sampel yaitu boraks dan soda
kue, dihasilkan gambar yang sudah sesuai dengan teori. Menurut Masterton
(1977), titrasi basa lemah dengan titran HCl yang merupakan larutan asam
kuat, akan menghasilkan gambar yang menurun karena pH nya yang semakin
kecil. Pada awal penambahan HCl akan terjadi peningkatan pH yang
signifikan, namun saat mendekati titik ekivalen terjadi sedikit perubahan,
semakin menjauhi titik ekivalen perubahan pH semakin sedikit. Dari hasil
praktikum didapatkan gambar yang sudah sesuai dengan teori, dimana
gambarnya turun dan terdapat titik ekivalen. Dalam asidimetri basa lemah
dititrasi menggunakan asam kuat, maka pH yang dihasilkan adalah pH asam
atau kurang dari 7, indikator yang cocok digunakan adalah metil merah.

Gambar 1.14 Kurva Asidimetri berdasarkan Masterton (1977)

Berdasarkan Tabel 1.8 sampel soda kue kelompok 11 dan 12 didapatkan


hasil kadar basa sebesar 87,0228% serta perubahan warna menjadi semburat
pink. Sedangkan pada kelompok 18 didapatkan hasil kadar basa sebesar
33,6960% serta perubahan warna menjadi semburat pink. Soda kue merupakan
bahan yang digunakan untuk mengembangkan adonan kue. Natrium
Bikarbonat mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 100,5%
NaHCO3 (Nafly, 2011), dari hasil praktikum sampel kelompok 11 dan 12
sudah sesuai dengan teori, sedangkan sampel kelompk 18 tidak sesuai dengan
teori karena kadar basanya 33,6960%. Hal ini dapat terjadi karena kurang
telitinya proses pengujian kadar basa sampel soda kue.
Pada sampel boraks kelompok 9 dan 10 didapatkan hasil kadar basa
sebesar 183,5346% serta perubahan warna semburat pink. Sedangkan pada
kelompok 17 didapatkan hasil kadar basa sebesar 169,5818% serta perubahan
warna menjadi semburat pink. Boraks mempunyai rumus kimia
Na2B4O2(H20)10 dengan berat molekul 381,43 dan mempunyai kandungan
boron sebesar 11,34 %. Boraks bersifat basa lemah dengan pH (9,15 – 9,20).
Menurut Fatimah dan Deni (2015) faktor-faktor yang mempengaruhi titrasi
asidi-alkalimetri yaitu besarnya tetapan kesetimbangan dan pengaruh
konsentrasi. Konsentrasi komponen yang dititrasi dan titrat mempengaruhi
besarnya perubahan tingkat keasaman.
E. Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum Kimia Analitik acara I Asidimetri-
Alkalimetri ini adalah sebagai berikut:
1. Prinsip titrasi asidimetri-alkalimetri adalah mereaksikan larutan dengan
larutan yang sudah diketahui konsentrasinya. Reaksi dilakukan secara
bertahap (tetes demi tetes) hingga tepat mencapai titik stoikiometri atau titik
setara. Pada standarisasi NaOH dengan asam oksalat terstandarisasi
didapatkan rata-rata normalitas NaOH sebesar 0,102 N.
2. Pada standarisasi HCl dengan NaOH terstandarisasi didapatkan rata-rata
normalitas NaOH sebesar 0,096 N.
3. sampel susu UHT kelompok 5 dan 6 didapatkan hasil kadar asam laktat
sebesar 0,1616 % serta perubahan warna menjadi merah muda. Sedangkan
pada kelompok 15 didapatkan hasil kadar asam laktat sebesar 1,7 % serta
perubahan warna menjadi semburat pink. Menurut Hidayati dkk (2000),
kadar asam susu berkisar antara 0,14-0,18 % pada pH 6,5-6,7.
4. Pada pengujian kadar asam, sampel yoghurt plain kelompok 7 dan 8
didapatkan hasil kadar asam laktat sebesar 0,7849% sedangkan pada
kelompok 16 didapatkan hasil kadar asam laktat sebesar 0,9522 %. Menurut
SNI No.01-2891 tahun 2009 tentang yogurt, standar kadar total asam yogurt
drink yaitu sebesar 0,5-2,0 %.
5. Menurut Masterton (1977), titrasi asam dengan titran NaOH yang
merupakan larutan basa kuat, akan menghasilkan kurva yang terus naik
karena pH nya yang semakin besar. Titrasi basa lemah dengan titran HCl
yang merupakan larutan asam kuat, akan menghasilkan gambar yang
menurun karena pH nya yang semakin kecil. Dari hasil praktikum
didapatkan kurva yang telah sesuai dengan teori Maserton baik.
DAFTAR PUSTAKA

Abugri, D. A., Ohene, B. A., dan Gregory, P. 2012. Investigation of a Simple and
Cheap Source of a Natural Indicator for Acid-Base Titration: Effects of
System Conditions on Natural Indicators. Green and Sustainable
Chemistry Vol 2, page 117-122.
Badan Standarisasi Nasional. 2009. SNI No. 01-2891 tahun 2009 tentang Yogurt.
Jakarta.
Bahadori A., dan Maroufi N. G. 2016. Volumetric Acid-Base Titration by using
of Natural Indicators and Effects of Solvent and Temperature. Austin
Chromatogr - Volume 3 Issue 1
Budiyono, H. 2009. Analisis Daya Simpan Produk Susu Pasteurisasi Berdasarkan
Kualitas Bahan Baku Mutu Susu. Jurnal Paradigma Vol X. No. 2.
Fatimah, S., Desto, A., dan Deni Y. 2015. Penetapan Kadar Sakarin Minuman
Ringan Gelas Plastik yang Dijual di Pasar Beringharjo, Yogyakarta.
SNaTKII II Vol. 2 No.1.
Fuad, N. R. 2014. Identifikasi Kandungan Boraks pada Tahu Pasar Tradisional di
Daerah Ciputat [Skripsi]. Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Uin Syarif Hidayatullah Jakarta.
Hetalesi, L. 2014. Pintar Tanpa Bimbel SMA X, XI, XII. Yogyakarta: Bentang
Pustaka.
Hidayati, N., Daryati., dan Mardiyono. 2000. Penetapan Kadar Asam pada Air
Susu Sapi Segar secara Alkalimetri. Universitas Setia Budi, Fakultas
Farmasi. Surakarta.
Masterton, William L., and Emil J. Slowinski. 1977. Chemical Principles Fourth
Edition. London: W.B. Saunders Company.
Nafly C. T., dan Marcus V. 2011. Pengaruh Penggunaan Bahan Pengenyal yang
Berbeda terhadap Komposisi Kimia, Sifat Fisik dan Organoleptik Bakso
Daging Ayam. Agrinimal, Vol. 1, No. 2.
Padmaningrum, R. T. 2006. Titrasi Asidimetri. Yogyakarta: Lab. Kimia FMIPA
UNY.
Pradeep, D. Jeiyendira, dan Kapil D., 2013. A Novel, Inexpensive and Less
Hazardous Acid-Base Indicator. Journal of Laboratory Chemical
Education Vol.1 No.2
Rahayu, N., dan Jodhi Pramuji Giriarso. 2010. Super Lengkap Kimia SMA.
Jakarta: GagasMedia.
Surest, A. H., Dodi S. 2010. Pembuatan Pulp dari Batang Rosella dengan Proses
Soda (Konsentrasi Naoh, Temperatur Pemasakan dan Lama Pemasakan).
Jurnal Teknik Kimia, No. 3, Vol. 17.
Sutresna, N. 2007. Cerdas Belajar Kimia. Bandung: Grafindo Media Pratama.
Weerathilake, W.A.D.V., D.M.D. Rasika, J.K.U. Ruwanmali dan M.A.D.D.
Munasinghe. 2014. The Evolution, Processing, Varieties and Health
Benefits of Yogurt. International Journal of Scientific and Research
Publications, Volume 4, Issue 4.
Yurida, M., Evi A., dan Susila A. R. 2013. Pengaruh Kandungan CaO dari Jenis
Adsorben Semen terhadap Kemurnian Gliserol. Jurnal Teknik Kimia No.
2, Vol. 19.