Anda di halaman 1dari 11

BAB IV

HASIL

4.1. Profil komunitas, data geografis, data demografik, sumber daya

kesehatan yang ada, sarana pelayanan kesehatan yang ada


Puskesmas Tembilahan Kota didirikan di atas tanah seluas 8.252 m². Luas

gedung kira–kira 1.000 m². Puskesmas Tembilahan Kota terletak di Kecamatan

Tembilahan Kota Kabupaten Indragiri Hilir. Bangunan gedung Puskesmas terdiri

dari ruang IGD, ruang pelayanan loket, KIA/KB gizi, apotik, laboratorium, poli

gigi, aula, poli umum.

Wilayah kerja Puskesmas Tembilahan Kota terdiri dari 3 desa dengan

jumlah penduduk 43.435 jiwa yang menyebar di 3 desa. Sedangkan fasilitas

kesehatan yang mendukung kegiatan Puskesmas antara lain :

1. Puskesmas Induk : 1 Puskesmas


2. Puskesmas Pembantu : 5 PP
3. Dokter Praktek Swasta : 14 Dokter
4. Bidan Praktek Swasta : 12 Bidan
5. Balai Pengobatan : 7 BP
6. Rumah bersalin : 7 RB
7. Poskesdes : 5 Poskesdes
8. Apotek : 7 apotek
Visi, misi, dan strategi pembangunan Kesehatan Kecamatan Tembilahan

Kota yang dijabarkan oleh Puskesmas Tembilahan Kota sebagai unsur pelaksana

pemerintah dalam bidang kesehatan pada dasarnya mendukung visi, misi dan

strategi pembangunan di bidang kesehatan. Visi Puskesmas Tembilahan Kota

yaitu mewujudkan masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat. Adapun misi yang

harus diemban Puskesmas Tembilahan Kota untuk mewujudkan Visi Puskesmas

Tembilahan Kota, yaitu membuat rakyat sehat.5

26
POLI
DEWASA/UMUM
RUANGAN
TINDAKAN

POLI KIA/KB
PENDAFTARAN KONSELING

APOTIK
IMUNISASI
POLI GIGI

PASIEN
LABOR
TATA USAHA

Gambar 4.1. Alur pelayanan Puskesmas Tembilahan Kota

Tabel 4.1. berikut ini menunjukkan data geografis Puskesmas Tembilaha


Kota per desa:

Dari jumlah penduduk 43.435 jiwa di 5 desa, 99,94% sudah mengerti baca

tulis. Piramida penduduk di wilayah kerja Puskesmas Tembilahan Kota berbentuk

segitiga di mana dominasi penduduk usia anak-remaja yang dominan. Dari 43.435

jiwa, hanya 23.502 jiwa yang mengecap bangku sekolah, dan 3.711 di antaranya

berasal dari Tembilahan Kota. Keadaan ekonomi masyarakat di wilayah kerja

puskesmas yakni sekitar 10% atau 5800 jiwa dari 5 desa tergolong pada

masyarakat miskin.5

27
4.2. Data pelayanan masyarakat primer

Data dari Puskesmas Tembilahan kota menunjukkan bahwa pada bulan

Januari - Februari tahun 2012 dari 3 wilayah kerja puskesmas memiliki angka

pencapaian pemberian ASI eksklusif belum tercapai. Target cakupan ASI eksklusif

yang harus dicapai Puskesmas Tembilahan kota adalah 80%. Angka pencapaian

pemberian ASI di desa Tembilahan Kota 63,3%, desa Pekan Arba 61,6% dan desa

Seberang Tembilahan 68,8%.

Masalah dalam mini project ini adalah kurang optimalnya promosi ASI

eksklusif di Desa Tembilahan Kota. Intervensi yang dilakukan untuk penyebab

masalah berupa penyuluhan baik kepada ibu-ibu maupun kepada kader posyandu

mengenai ASI eksklusif dan permasalahan dalam menyusui. Setelah dan sebelum

intervensi dibagikan kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan ibu dan

kader mengenai ASI eksklusif. Kuesioner sudah diuji validitas dan reliabilitasnya

di Desa Petapahan Kabupaten Kampar.

Grafik berikut menunjukkan persentase pengetahuan ibu dan kader

sebelum dan sesudah penyuluhan ASI eksklusif.

Gambar 4.2. Persentase tingkat pengetahuan ibu dan kader sebelum penyuluhan
28
Gambar 4.3 Jumlah responden berdasarkan tingkat pengetahuan

Ga

mbar 4.4 Persentase tingkat pengetahuan ibu dan kader setelah penyuluhan

29
Gambar 4.5 Jumlah responden berdasarkan tingkat pengetahuan setelah

penyuluhan

Dari 6 posyandu, hanya 14,29% ibu yang benar-benar memberikan

anaknya ASI eksklusif (Gambar 4.8).

Gambar 4.8. Persentase ASI eksklusif Desa Tembilahan Kota

30
Terhadap data sebelum dan sesudah penyuluhan dilakukan uji Marginal

homogeneity dengan SPSS versi 17.0, didapatkan nilai p 0.000. Hal ini berarti

penyuluhan yang dilakukan bermakna untuk meningkatkan pengetahuan ibu dan

kader. Media informasi merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi dalam

penyuluhan. Untuk kelancaran promosi ASI eksklusif selanjutnya, kepada kader

masing-masing posyandu diberikan pertinggal sarana berupa leaflet dan poster

untuk media informasi bagi kader dan ibu-ibu. Selain itu, kepada bidan desa juga

diberikan poster untuk ditempelkan di puskesmas pembantu sehingga dapat

menjadi acuan sederhana untuk petugas kesehatan dalam memberikan promosi

ASI eksklusif.

31
BAB V

DISKUSI

Pencapaian tingkat pemberian ASI ekslusif yang tidak optimal diduga

disebabkan beberapa faktor diantaranya kurangnya pengetahuan ibu-ibu mengenai

ASI eksklusif dan kurang optimalnya promosi kesehatan para kader posyandu

karena kurangnya media sosialisasi mengenai ASI eksklusif. Dari analisis

penyebab masalah, dilakukan intervensi untuk masing-masing penyebab masalah.

Dalam hal pengetahuan ibu yang masih kurang, intervensi yang dilakukan

berupa penyuluhan tentang ASI eksklusif dan diskusi interaktif yang diadakan

pada saat posyandu balita. Ibu-ibu sangat antusias selama penyuluhan dan proses

diskusi.

Memberikan penyuluhan tentang ASI eksklusif bertujuan agar masyarakat,


khususnya ibu hamil dan menyusui mengetahui dan paham mengenai pentingnya
pemberian ASI dan bagaimana memberikan ASI yang baik dan benar sehingga
dapat melaksanakan pemberian ASI eksklusif. Pengetahuan ibu-ibu ditingkatkan
dengan pemberian penyuluhan kepada ibu-ibu hamil dan menyusui Desa Kota
Tembilahan Kota dengan menggunakan metode presentasi. Dikutip dari penelitian
Emilia menurut Van Deb Ban dan Hawkins penyuluhan secara berkelompok ini
cukup efektif karena sasaran penyuluhan dibimbing dan diarahkan untuk
melakukan suatu kegiatan yang lebih produktif atas dasar kerjasama. Dalam
metode ini dapat diambil transfer informasi, tukar pengalaman antara sasaran
penyuluhan dalam kelompok tersebut serta umpan balik dan interaksi kelompok,
memberi kesempatan bertukar pengalaman maupun pengaruh terhadap perilaku
anggotanya. Metode pendekatan kelompok dengan cara presentasi untuk
melakukan penyuluhan ASI eksklusif, dengan tujuan terjadinya proses perubahan
perilaku kearah yang diharapkan melalui peran aktif sasaran penyuluhan dalam

32
memberikan umpan balik terhadap penyuluhan serta adanya saling tukar
informasi dan pengalaman sesama peserta penyuluhan. Penelitian yang dilakukan
oleh Rika (2008) menyatakan bahwa penyuluhan sebagai upaya promosi
kesehatan memberkan pengaruh dalam peningkatan pengetahuan dan sikap ibu
hamil terhadapa pemberian ASI eksklusif. ( DARI KAK EKA)12
Untuk mengetahui apakah intervensi yang dilakukan bermanfaat maka

dilakukan evaluasi berupa pemberian kuesioner baik sebelum dan sesudah

intervensi. Kuesioner yang diberikan sudah diuji validitas dan reliabilitasnya di

Petapahan. Kuesioner yang diberikan terdiri dari 10 pertanyaan.

Sebelum intervensi, dari 156 orang ibu dan kader yang hadir didapatkan

angka pengetahuan mengenai ASI eksklusif yang masih rendah yakni 57%, yang

sedang 29%, dan yang baik 15%. Setelah diberikan intervensi, kuesioner

dibagikan dan dinilai kembali hasil intervensi. Hasil kuesioner setelah intervensi

yakni yang berpengetahuan baik 67%, sedang 26%, dan kurang menjadi 7%.

Dari kuesioner yang telah dikumpulkan, diolah datanya untuk mencari

faktor penyebab tidak optimalnya promosi ASI. Didapatkan pada kuesioner

sebelum penyuluhan sebanyak 122 ibu yang salah pemahaman mengenai

keluarnya ASI, jika sudah 3 hari menyusui ASI tidak keluar maka ibu berpikir

sudah saatnya untuk memberikan anaknya susu formula. Paham ini sebenarnya

salah secara medis, sebab ASI pada prinsipnya akan keluar jika cara menyusui

yang dilakukan ibu benar dan frekuensinya on demand bagi bayinya. Sehingga

tidak ada alasan bagi ibu untuk menghentikan ASInya jika 3 hari tidak keluar

melainkan solusinya adalah terus menyusui anaknya.

Ibu dan kader sudah mengerti definisi ASI eksklusif akan tetapi masih

ditemukan 82 orang yang tidak paham mengenai ASI yang disebut eksklusif.

Pemberian air, madu, susu formula pada bayi < 6 bulan yang sebelumnya
33
diberikan ASI masih dianggap ASI eksklusif oleh 82 ibu dan kader. Padahal ASI

dikatakan eksklusif jika hanya ASI saja yang diberikan selama < 6 bulan.

Faktor lain berupa masalah dalam menyusui juga menyebabkan ibu dan

kader berpikir untuk menghentikan ASI eksklusif. Hal ini terlihat dari 54 orang

yang berpikir bahwa jika putting susu lecet maka harus berhenti menyusui, dan 43

orang yang benar-benar berhenti menyusui jika terjadi mastitis pada salah satu

payudara. Seharusnya jika lecet pada puting susu, menyusui tetap dilanjutkan, dan

jika mastitis terjadi, maka menyusui dihentikan hanya pada payudara yang sakit

saja, tetapi pada payudara yang sehat tetap dilanjutkan menyusui.

Ibu pekerja merupakan salah satu faktor lainnya yang dapat menyebabkan

ibu berhenti menyusui. Sebanyak 53 ibu dan kader tidak mengetahui bahwa ASI

dapat disimpan. Jika ibu pekerja, maka ASI dapat disimpan di ruangan biasa dan

bertahan selama 6-8 jam, di kulkas bertahan 2-3 bulan, di freezer bisa sampai 6

bulan. Sehingga dengan demikian tidak ada alasan lagi bagi ibu pekerja untuk

menghentikan ASInya.

Dengan diadakannya penyuluhan mengenai ASI eksklusif dan manajemen

laktasi yang menyangkut mengenai masalah dalam menyusui, dirasakan

bermanfaat untuk meningkatkan tingkat pengetahuan ibu dan kader dan dapat

meluruskan pengetahuan ibu dan kader yang salah. Hasil uji statistic

menunjukkan nilai p 0.000 sehingga kegiatan penyuluhan ASI eksklusif bermakna

untuk meningkatkan tingkat pengetahuan ibu dan kader.

Keterbatasan dalam mini project ini adalah kurangnya waktu untuk

evaluasi dan monitoring intervensi. Promosi kesehatan terutama ASI eksklusif

34
sifatnya harus berkelanjutan, sehingga ibu dan kader dapat lebih bersemangat dan

mengubah sikapnya untuk terus mendukung gerakan ASI eksklusif.

Tidak ditemukan media promosi di posyandu Desa Tembilahan Kota juga

merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan kurang optimalnya konseling

ASI eksklusif. Intervensi yang diberikan berupa pemberian leaflet sebanyak 5

buah untuk kader posyandu di masing-masing posyandu yang dapat digunakan

untuk konseling tiap kegiatan posyandu balita. Poster seukuran kertas A4 juga

diberikan ke masing-masing posyandu Desa Tembilahan Kota dan untuk

puskesmas pembantu di desa tersebut.

Menyediakan media informasi berupa flip chart dan leaflet bertujuan agar
kader dapat melakukan penyuluhan mengenai materi kesehatan ibu dan anak
secara berkesinambungan pada tiap bulan saat klub mengadakan perkumpulan.
Mengutip dari Notoatmojo (2007), media cetak sebagai informasi memiliki
kelebihan diantaranya yakni tahan lama, dapat dibawa kemana-mana,
mempermudah pemahaman dan meningkatkan gairah belajar sehingga media ini
lebih banyak dipilih responden. ( PUNYA KAK EKA)14

35
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

1. Tingkat pencapaian ASI eksklusif di Puskesmas Tembilahan Kota terutama

Desa Tembilahan Kota dapat ditingkatkan dengan cara optimalisasi

promosi ASI eksklusif.


2. Optimalisasi promosi ASI eksklusif di Desa Tembilahan Kota dilakukan

dengan intervensi berupa penyuluhan dan penyediaan sarana media

informasi berupa leaflet dan poster ke ibu dan kader posyandu balita.
3. Penyuluhan ASI eksklusif bermakna dalam meningkatkan tingkat

pengetahuan ibu dan kader mengenai ASI eksklusif

6.2. Saran

1. Diharapkan optimalisasi promosi ASI eksklusif dilakukan berkelanjutan

setiap posyandu balita


2. Kegiatan optimalisasi promosi ASI eksklusif diharapkan dilakukan di

seluruh wilayah kerja Puskesmas Tembilahan Kota


3. Diharapkan keikutsertaan aparatur desa maupun ibu PKK dalam tiap

kegiatan optimalisasi promosi ASI eksklusif

36