Anda di halaman 1dari 34

GAMBARAN PERILAKU TOILET TRAINING PADA ANAK YANG

MASIH MENGGUNAKAN POPOK DISPOSIBLE DI PAUD


YANG ADA DI DESA TODANAN KABUPATEN BLORA

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

Disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Ahli Madya
Kebidanan pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada
Semarang

Oleh :
MAULUDAH FITRIYAH
NIM : 1402019

1
2

PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA
SEMARANG
2017BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di Indonesia diperkirakan jumlah balita mencapai 30% dari 250 juta

jiwa penduduk Indonesia, dan menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga

(SKRT) nasional diperkirakan jumlah balita yang susah mengontrol BAB dan

BAK akan menimbulkan hal-hal yang buruk pada anak di masa mendatang.

Jika toilet training tidak diajarkan pada anak yang telah memasuki fase

kemandirian dan telah menunjukkan tanda-tanda kesiapan untuk proses latihan

toilet dapat menyebabkan anak tidak disiplin, manja, dan yang terpenting

adalah dimana nanti pada saatnya anak akan merasa berbeda dan tidak dapat

secara mandiri mengontrol buang air besar dan kecil. Pada anak yang masih

menggunakan popok disposible atau terbiasa menggunakan popok dari bayi

akan mengalami beberapa perbedaan dari anak-anak lainnya yang tidak

menggunakan diapers. Tentu saja jika diapers iu dipakai setiap saat, bukan

pada saat-saat tidak berdekatan dengan toilet saja atau dalam berpergian.

Karena penggunaan diapers akan mempersulit latihan buang air sehingga anak

yang menggunakan diapers memulai latihan menggunakan toilet setaun lebih

lama. Orang tua harus sabar dalam melatih toilet training untuk mneghindari

stres pada anak karena hal ini dapat menyebabkan sembelit, mengompol dan

merasa bersalah.

Keluarga adalah suatu sistem yang terdiri dari individu-individu yang

bergabung dan berinteraksi secara teratur antara satu dengan yang lain yang

3
4

diwujudkan dengan adanya saling ketergantungan dan berhubungan untuk

mencapai tujuan bersama.[i]


Keluarga sebagai wahana utama dan pertama terjadinya sosialisasi

pada anak. Karena pertama, anak pertama kali berinteraksi dengan ibunya

(dengan anggota keluarga lainnya), pengalaman dini belajar anak (terutama

sikap sosial) awal mulai di peroleh di dalam rumah dan ketiga, keluarga sesuai

fungsinya diidentikan sebagai tempat pengasuhan yang di dalamnya

mencakup proses sosialisasi yang sekaligus bertanggung jawab untuk

menumbuh kembangkan anggota keluarganya, dengan tidak boleh

mengabaikan faktor nilai, norma dan juga tingkah laku yang di harapkan baik

edalam lingungan keluarga ataupun lingkungan yang lebih luas (masyarakat).


[1]

Anak adalah amanat Sang Pencipta pada orangtua, keluarga dan

masyarakat. Ia harus dibimbing dan dipelihara sebagai aset masa depan.

Wajah masa depan sebuah negeri dapat dilihat dari bagaimana kualitas

anak – anak masa kini. Kita sangat paham bahwa anak adalah mahluk aktif

yang tengah dalam penjelajahan mencari dunianya. Anak membutuhkan

pemandu agar ia tidak salah dalam memilih jalan hidupnya. Pemandu itu

tidak lain adalah orang tua dan para pendidik (guru), hal yang

menyebabkan sekaligus menggemaskan buat orang tua ketika anaknya

buang air kecil atau buang air besar di lantai yang sudah bersih, atau pipis

di kasur yang penutupnya baru di ganti dengan yang bersih dan wangi.[ii]
Usia 3 tahun wajar kebiasaan mengompol, pada anak di bawah usia 2

tahun merupakan hal yang wajar, bahkan ada beberapa anak yang masih

mengompol pada usia 4 – 5 tahun dan sesekali terjadi pada anak 7 tahun. Anak
5

di bawah usia 2 tahun mengompol karena belum sempurna kontrol kandung

kemih atau toilet trainingnya. Beberapa literatur yang menyebutkan kira – kira

setengah dari anak umur 3 tahun masih mengompol. Beberapa ahli

menganggap bahwa anak umur 6 tahun masih mengompol itu wajar, walaupun

itu hanya dilakukan oleh sekitar 12 % anak umur 6 tahun, bukan berarti tidak

diajarkan bagaimana cara benar dalam membuang air kecil ( BAK ) dan buang

air besar (BAB) yang besar dan di tempat yang tepat. Karena itu juga harus

memperhitungkan masa sekolah anak, dimana biasanya ketika sudah

bersekolah ada tuntutan bagi anak untuk tidak lagi pipis sembarangan.[iii]

Usia 1 sampai 3 tahun dia belum melakukan buang air sesuai waktu dan

tempat yang telah di lakukan. Berakibat anak bisa menjadi bahan cemoohan

teman-temannya. Anak usia 4 tahun yang tidak mampu BAK dan BAB sesuai

waktu dan tempat yang telah disediakan boleh dianggap kurang wajar, tetapi

pada usia 3 tahun masih dianggap wajar bila BAK dan BAB dicelananya,

tetapi orang tua membiarkan saja. Berilah pengertian pada anak bahwa cara

yang dilakukan tidaklah tepat. Masalah kemandirian anak pada BAK dan BAB

boleh dikatakan tidak ada perbedaan antara anak. Anak wanita lebih penurut,

maka ia akan lebih cepat diajarkan untuk toilet training dibanding anak laki –

laki, namun demikian untuk mengajarkan toilet training pada anak laki – laki

pun harus bisa.[2]

Data dari survey penelitan yang dilakukan peneliti di PAUD yang ada di

Desa Todanan Kabupaten Blora dari keseluruhan PAUD yang berjumlah 5

sekolah dengan usia siswa 2-4 tahun. Data dari PAUD Krisna ada 40 siswa,
6

PAUD Ar – Rahman ada 32 siswa, PAUD Al-Muta’alimin ada 35 siswa,

PAUD Cahaya Bintang 27 siswa, dan PAUD Aisyiyah 1 ada 32 siswa. Dari

keseluruhan PAUD tersebut berjumlah 166 siswa. Dengan jumlah siswa yang

berusia 2 tahun sejumlah 71 anak, siswa berusia 2,5 tahun sejumlah 28 anak,

siswa berusia 3 tahun sejumlah 43 siswa, siswa berusia 4 tahun sejumlah 24

siswa, dan yang yang masih menggunakan popok disposible sejumlah 32

siswa. Pola BAB & BAK dirumah setiap siswa berbeda, Hasil wawancara, 8

orang tua mengatakan anaknya masih mengompol baik di siang hari 4 kali di

malam hari BAK 2 kali, karena orang tua mereka tidak tau apa pentingnya

mengajarkan toilet training kepada anak. 3 orang tua mengatakan anaknya

kadang mengompol kadang tidak, 2 orang tua mengatakan anaknya masih

mengompol di malam hari saja, mereka mengatakan telah mengajarkan toilet

training jadi anak sudah bisa mandiri meskipun terkadang masih sering

mengompol. Tetapi tidak sedikit orang tua yang tidak mengajarkan toilet

training kepada anak dikarenakan mereka lebih suka sesuatu yang praktis

dengan memakaikan popok disposible kepada anak baik pada saat di rumah

maupun di sekolah, sekitar 10 orang tua dari hasil wawancara. Adapun

masalah kesetahan yang disebabkan oleh penggunaan popok disposible yaitu :

tidak sehat, salah satu dampak menggunakan popok disposible secara terus –

menerus adalah adanya zat kimia pada pampers, yaitu Traces of Dioxin

produk sampingan dari proses pemutihan kertas. Dioxin ini adalah penyebab

kanker nomor satu. Yang kedua adalah Tribulty-tin (TBT), Polutan beracun

yang menyebabkan masalah hormonal. Dan sodium polyacrylate, poliner


7

berdaya serab yang menjadi jelly pada saat terkena cairan menimbulkan resiko

toxic shock syndrome yang jika digunakan terus – menerus akan

menyebabkan mandul untuk si anak. Ruam popok, adalah iritasi pada

selangkangan anak. Ini karena kebanyakan pampers tidak nyaman untuk anak,

karena ukurannya yang tebal dan teksturnya yang kasar sehingga mengganjal

saat digunakan. Tidak sedikit yang terjadi baik pada bayi perempuan maupun

laki-la popok sejak bayi akhirnya harus menjalani operasi alat kelamin karena

mngalami kesulitan kencing yang disebabkan pengendapan air seni pada

pampers yang menimbulkan tumbuhnya jamur dan bakteri serta kurangnya

sirkulasi udara pada saat menggunakan pempers. Gejala atau tanda ruam

popok yaitu Pada tahap dini, ruam tersebut berupa kemerahan di kulit pada

daerah popok yang sifatnya terbatas disertai lecet ringan atau luka pada kulit

dan pada kondisi yang parah ditemukan kemerahan yang disertai bintil-bintil,

bernanah dan meliputi daerah kulit yang luas. Infeksi Kulit, dampak

menggunakan popok sekali pakai yang sering terjadi selanjutnya adalah

kelembaban akibat tumpukan air seni atau tinja, menjadi tempat yang paling

menyenangkan bagi bakteri dan jamur untuk berkembang biak dan menyebar.

Anak terlambat belajar pipis atau BAB, terlalu lama menggunakan pampers

juga berdampak pada lambatnya anak belajar pipis sendiri maupun BAB.

Karena biasanya kalau menggunakan pampers, anak akan pipis sesukanya

tanpa bisa memiliki ide untuk mengatur pipisnya.

Pola BAB dan BAK dirumah. Dirumah, mayoritas siswa diasuh oleh

orang tuanya. Hanya saja jika pergi ke sekolah ada sebagian siswa yang
8

memang diantar oleh oranglain yaitu nenek, kakek, atau pembantu rumah

tangga dikarenakan orangtua siswa tersebut bekerja.


Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk meneliti tentang “gambaran

toilet training pada anak usia 2-4 tahun yang masih menggunakan popok

disposible di PAUD di Desa Todanan Kabupaten Blora”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, peneliti membuat

rumusan masalah penelitian “Bagaimana Gambaran Toilet Training Pada Anak

Usia 2-4 Tahunyang Masih Menggunakan Popok Disposible di PAUD yang

ada di Desa Todanan Kabupaten Blora?”.

C. Tujuan
1. Tujuan umum

Mengetahui gambaran tentang toilet training di PAUD yang ada di Desa

Todanan kabupaten Blora.

2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi karakteristik responden
b. Mengidentifikasi perilaku toileting

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai tambahan ilmu pengetahuan , khususnya dalam kebidanan

2. Bagi Responden
Sebagai tambahan informasi dan wawasan bagi ibu/orang tua setelah

diberikan penyuluhan mengenai toilet training bagi anak usia toddler

sehingga dapat meningkatkan peran ibu dalam pembelajaran Toilet


9

Training pada anak, khususnya bagi ibu-ibu yang mempunyai anak di

PAUD yang ada di Desa Todanan Blora.


3. Bagi Peneliti

Dapat dijadikan sebagai data awal yang akan dipakai untuk penelitain

selanjutnya dalam bidang yang sama sehingga dapat membantu

mengembangkan ilmu pengetahuan.

4. Bagi Masyarakat

Sebagai tambahan informasi bagi masyarakat mengenai Toilet Training

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1. Konsep Dasar Perilaku
a. Pengertian
Perilaku (manusia) timbul karena adanya stimulus dan respon

dan dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung. [4] Dilihat

dari segi biologis, perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktivitas

makhluk hidup yang bersangkutan oleh sebab itu, dari sudut pandang

biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan,

binatang, sampai dengan manusia semua nya berperilaku, karena

mereka mempuyai aktivitas masing-masing. Kesimpulannya bahwa


10

yang disebut dengan perilaku manusia adalah semua kegiatan atau

aktifitas manusia baik yang dapat diamati secara langsung maupun

yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. [13]


b. Bentuk Perilaku
Di lihat dari bentuk respons terhadap stimulus, maka perilaku

dapat di bedakan menjadi dua, yaitu : [13]


1) Perilaku Tertutup (Covert Behavior)
Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tertutup

(covert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih

terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan atau kesadaran

dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus

tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas orang oleh orang

lain.
2) Perilaku Terbuka (Overt Behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan

nyata atau terbuka, respon terhadap stimulus tersebut sudah

jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan dapat di

amati oleh rang lain secara mudah.


c. Perilaku kesehatan
Perilaku kesehatan merupakan suatu respon seseorang

(organisme) terhadap stimulus atau penyakit, system pelayanan

kesehatan makanan dan minuman serta limgkungan. [12]


1) Perilaku hidup sehat (health behaviour) yaitu hal-hal yang

berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam

memelihara dan meningkatkan kesehatannya


2) Perilaku sakit (illnes behaviour) yaitu segala tindakan atau

kegiatan yang dilakukan oleh seseorang individu yang merasa

sakit, untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya


11

atau rasa sakit termasuk kemampuan atau pengetahuan

individu untuk mengidentifikasi penyakit, peneybab penyakit

serta ussha-usaha untuk mencegah penyakit tersebut.


3) Perilaku peran sakit (the sick role behavior) yaitu dalam

segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh individu

yang sedang sakit untuk memperoleh kesembuhan.


d. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terbentuknya Perilaku
Menurut teori Lawrence Green (1980), kesehatan seseorang

atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yaitu faktor perilaku

(behavior causes) dan faktor diluar perilaku (non behavior causes). [13]

Perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama meliputi :


1) Faktor-faktor Predisposisi (Predisposing Factor)
Faktor ini pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap

kesehatan, tradisi, dan kepercayaan terhadap nilai-nilai yang

berkaitan dengan keehatan, juga system nilai yang dianut oleh

masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan

sebagainya. Faktor predisposisi ini sering disebut faktor pemudah.


2) Faktor-faktor Pemungkin (Enabling Factor)
Faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau

fasilitas kesehatan bagi masyarakat. Fasilitas ini pada hakekatnya

mendukung dan memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan.

Karena hal ini factor ini disebut faktor pemungkin.


3) Faktor-faktor Penguat
Faktor-faktor penguat ini meliputi : sikap dan perilaku tokoh

masyarakat, tokoh agama, para petugas kesehatan, peraturan-

peraturan baik dari pusat maupun pemerintah daerah yang terkait

dengan kesehatan. Perilaku itu sendiri dapat diukur secara langsung

yaitu dengan melakukan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan

yang telah dilakukan selama beberapa jam, hari, hingga bulan yang
12

lalu. Juga dapat secara langsung yaitu dengan mengobservasi

tindakan atau kegiatan responden.

2. Toilet Training

Toilet training merupakan proses pengajaran untuk kontrol buang air

besar dan buang air kecil secara benar dan teratur. Biasanya kontrol buang

air kecil lebih dahulu dipelajari oleh anak , kemudian kontrol buang air

besar.Pengaturan buang air besar dan berkemih diperlukan untuk

keterampilan sosial. Mengajarkan toilet training (TT) membutuhkan

waktu, pengertian dan kesabaran.Hal terpenting untuk diingat adalah

bahwa orangtua tidak dapat memaksakan anak untuk menggunakan toilet.

Sebaiknya anak mulai diperkenalkan dengan toilet training saat usia

prasekolah (2-5 tahun). Namun yang pasti, tidak ada patokan usia kapan

latihan ini harus dimulai. Saat yang tepat tergantung dari perkembangan

fisik dan mental anak, anak berusia dibawah 12 bulan tidak mempunyai

kontrol terhadap kandung kemih dan BAB, 6 bulan sesudahnya ada sedikit

kontrol. Antara 18 dan 24 bulan beberapa anak sudah menunjukkan

kesiapan, tetapi beberapa anak belum siap sampai usia 30 bulan atau lebih.
[1]

a. Keuntungan dilakukan Toilet Training

Toilet Training juga dapat menjadi awal terbentuknya

kemandirian anak secara nyata sebab anak sudah bisa untuk melakukan

hal-hal yang kecil seperti buang air kecil dan buang air

besar.Mengetahui bagian-bagian dan fungsinya.


13

Toilet training bermanfaat pada anak sebab anak dapat

mengetahui bagian-bagian tubuh serta fungsinya (anatomi) tubuhnya.

Dalam proses toilet training terjadi pergantian implus atau rangsangan

dan instink anak dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar.

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi toilet training pada anak[2]


1) Kesiapan Fisik
a) Usia telah mencapai 18-24 tahun
b) Dapat jongkok kurang dari 2 jam
c) Mempunyai kemampuan motorik kasar seperti duduk dan

berjalan
2) Mempunyai kemampuan motorik halus seperti membuka

celana dan pakaian,


3) Kesiapan Mental
a) Mengenal rasa ingin berkemih dan defakasi
b) Komunikasi secara verbal dan nonverbal jika ingin

berkemih
c) Keterampilan kognitif untuk mengikuti perintah dan meniru

perilaku orang lain


d) Kesiapan Psikologis
e) Dapat jongkok dan berdiri di toilet selama 5-10 menit tanpa

berdiri dulu
f) Mempunyai rasa ingin tahu dan penasaran terhadap

kebiasaan orang dewasa dalam BAK dan BAB


g) Merasa tidak betah dengan kondisi basah dan adanya benda

padat di celana dan ingin segera diganti


4) Kesiapan Anak
a) Mengenal tingkat kesiapan anak untuk berkemih dan

defakasi
b) Adanya keinginan untuk meluangkan waktu untuk latihan

berkemih dan devakasi pada anaknya


c) Tidak mengalami konflik tertentu atau stres keluarga yang

berarti (perceraian).
14

2. Usia Toddler (1-3 tahun)

Anak usia toddler (1-3 tahun) merujuk konsep periode kritis dan

plastisitas yang tinggi dalam proses tumbuh kembang, maka usia satu

sampai tiga tahun sering disebut sebagai “golden period” (kesempatan

emas) untuk meningkatkan kemampuan setinggi - tingginya dan plastisitas

yang tinggi adalah pertumbuhan sel otak cepat dalam waktu yang singkat,

peka terhadap stimulasi dan pengalaman, fleksibel mengambil alih fungsi

sel sekitarnya dengan membentuk sinaps-sinaps serta sangat

mempengaruhi periode tumbuh kembang selanjutnya. Anak pada usia

tersebut ini harus mendapatkan perhatian yang serius dalam arti tidak

hanya mendapatkan nutrisi yang memadai saja tetapi memperhatikan juga

intervensi stimulasi dini untuk membantu anak meningkatkan potensi

dengan memperoleh pengalaman yang sesuai dengan perkembangannya.[iv]

Ciri – ciri anak toddler (1-3 tahun) antara lain menurut jasmani anak

usia toddler (1-3 tahun) berada dalam tahap pertumbuhan jasmani yang

pesat oleh karena itu mereka sangat lincah. Sediakanlah ruangan yang

cukup luas dan banyak kegiatan sebagai penyalur tenaga. Anak usia ini

secara mental mempunyai jangka perhatian yang singkat, suka meniru oleh

karena itu jika ada kesempatan gunakanlah perhatian mereka dengan

sebaiknya-baiknya. Segi emosional anak usia ini mudah merasa gembira

dan mudah merasa tersinggung, kadang-kadang mereka suka melawan dan

sulit diatur. Kembangkanlah kasih sayang dan disiplin serta perhatikanlah


15

kepadanya bahwa ia adalah penting bagi anda dengan sering memujinya.

Segi sosial anak toddler (1-3 tahun) sedikit anti sosial.Wajar bagi mereka

untuk merasa senang bermain sendiri dari pada bermain secara

berkelompok. Berilah kesempatan untuk bermain sendiri tetapi juga

tawarkan kegiatan yang mendorongnya untuk berpartisipasi dengan anak –

anak lain.

Anak usia toddler (1-3 tahun) mengalami tiga fase yaitu :[2]

a. Fase otonomi

Menurut teori Erikson, hal ini terlihat dengan berkembangnya

kemampuan anak yaitu dengan belajar untuk makan atau berpakaian

sendiri. Orang tua tidak mendukung upaya anak untuk belajar mandiri,

maka hal ini dapat menimbulkan rasa malu atau ragu akan

kemampuannya. Misalnya orang tua yang selalu memanjakan anak dan

mencela aktivitas yang telah dilakukan oleh anak.Pada masa ini anak

perlu dibimbing dengan akrab, penuh kasih sayang, tetapi juga tegas

sehingga anak tidak mengalami kebingungan.

b. Fase anal

Menurut teori Singmund Freud pada fase ini sudah waktunya

anak dilatih untuk buang air atau toilet training(pelatihan buang air

pada tempatnya) anak juga dapat menunjukkan beberapa bagian

tubuhnya menyusun dua kata dan mengulang kata – kata baru. Anak

usia toddler (1-3 tahun) yang berada pada fase anal yang ditandai

dengan berkembangnya kepuasan dan ketidakpuasan disekitar fungsi


16

eliminasi. Mengeluarkan feses atau buang air besar timbul rasa lega,

nyaman dan puas.Kepuasan ini bersifat egosentrik artinya anak mampu

mengendalikan sendiri fungsi tubuhnya. Hal ini perlu diperhatikan

dalam fase anal yaitu anak mulai menunjukkan sifat egosentrik, sifat

narsitik (kecintaan pada diri sendiri) dan egosentrik (memikirkan diri

sendiri) tugas perkembangan yang penting pada fase anal tepatnya saat

anak umur 2 tahun adalah latihan buang air (toilet training) agar anak

dapat buang air secara benar.

c. Fase pra operasional

Menurut teori Piaget pada fase anak perlu dibimbing dengan

akrab, penuh kasih sayang tetapi juga tegas sehingga anak tidak

mengalami kebingungan. Orang tua mengenalkan kebutuhan anak

maka anak akan berkembang perasaan otonominya sehingga anak

dapat mengendalikan otot-otot dan rangsangan lingkungan

3. Praktek toilet training


Praktek toilet training yang dilakukan oleh ibu sebagai berikut :[4]
a. Praktik Lisan

Usaha untuk melatih anak dengan cara memberikan instruksi pada

anak dengan kata-kata sebelum atau sesudah buang air kecil dan besar.

Cara ini merupakan hal biasa yang dilakukan pada orang tua akan

tetapi apabila kita perhatikan bahwa teknik lisan ini mempunyai nilai

yang cukup besar dalam memberikan rangsangan untuk untuk buang

air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB).

b. Praktik memberi contoh


17

Usaha melatih anak dalam melakukan buang air besar dengan

cara meniru untuk buang air besar dengan cara meniru untuk buang air

besar atau memberikan contoh. Cara ini juga dapat dilakukan dengan

memberikan contoh-contoh buang air kecil (BAK) dan buang air besar

(BAB) atau membiasakan secara benar. Teknik memberi contoh dapat

dilakukan dengan cara seperti : anak mengamati orangtua dengan jenis

kelamin yang sama atau saudaranya yang sedang buang air.Selain

dapat menggunakan metode praktik yang diatas ibu juga dapat

menggunakan metode praktik pengaturan jadwal dan menggunakan

alat bantu seperti boneka.

c. Praktik pengaturan jadwal

Anak yang telah menampakkan tanda kesiapan secara bertahap

diminta duduk diatas kloset sebentar dalam keadaan berpakaian

lengkap.Anak diminta untuk melepaskan pakaian dalamnya sendiri dan

duduk di kloset selama 5 – 10 menit.Ibu memberikan pujian pada anak

bila anak dapat melakukan dengan baik. Metode ini efektif untuk anak-

anak yang memiliki jadwal buang air besar (BAB) atau buang air kecil

(BAK) yang teratur.

d. Praktik menggunakan alat bantu

Anak telah menunjukkan tanda kesiapan untuk latihan buang air,

kemudian anak diajarkan toilet training menggunakan boneka sebagai

model. Orang tua memberikan contoh lewat boneka kemudian orang


18

tua meminta anak untuk menirukan proses toilet training dengan

boneka secara berulang-ulang dan anak diajarkan untuk memberi

pujian pada boneka.

4. Faktor yang mendukung praktik latihan toilet training


a. Kesediaan WC atau kakus

WC atau kakus sebaiknya aman dan nyaman serta lantai tidak licin agar

anak tidak terjatuh atau kecelakaan dalam melakukan latihan toilet

training.

b. Komunikasi

Sampaikan pada anak bahwa saat ini anak sudah siap untuk mulai

belajar latihan buang air besar dan buang air kecil. Komunikasikan

semua proses latihan buang air besar dan buang kecil agar anak paham

seperti sebelum buang air kecil atau buang air besar membuka celana

terlebih dahulu, jongkok dan lalu membersihkan alat kelamin agar alat

kelamin tetap bersih. Sampaikan pada anak bila sudah bisa melakukan

dengan baik dan berilah pujian, tetapi jika belum bisa jangan mengejek

anak.

5. Faktor yang mendorong praktik latihan toilet training[v]


a. Ayah atau kakak laki-laki

Ayah atau kakak laki-laki memberi contoh buang air besar atau buang

air kecil pada anak laki-laki atau adik laki-lakinya

b. Ibu atau kakak perempuan

Ibu atau kakak perempuan memberi contoh buang air besar atau kecil

pada anak perempuan atau adik perempuannya. Berdasarkan uraian


19

diatas tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor yang menjadi

pendorong dalam praktik toilet training adalah orang tua dan saudara

terdekat, hal ini disebabkan anak pada usia 18-36 bulan lebih cepat

untuk meniru seseorang.

6. Tanda-tanda anak sudah siap melakukan toilet training

Tanda-tandanya adalah sebagai berikut :

a. Kemampuan bahasa anak diharapkan sudah dapat mengikuti

perintah seperti “Bukalah celanamu dan pergi ke kamar mandi.”


b. Kemampuan keterampilan dapat mencontoh atau mengikuti

pengasuh (misalnya menyapu lantai)


c. Kemampuan emosi dapat menyenangkan orangtua atau pengasuh

dengan menuruti perintahnya menunjukkan sikap menentang/melawan


d. Otonomi/kemandirian menunjukkan sikap mandiri dalam

kegiatannya (seperti makan sendiri, membuka celana, dan

menunjukkan rasa bangga akan barang yang dimilikinya)


e. Kemampuan gerak dalam melakukan kegemarannya, dapat

menurunkan celananya sendiri, dan dapat duduk diam selama 5 menit

tanpa dibantu kadang-kadang dapat mengontrol buang air besar dan

buang kecil
f. Kesadaran tubuh sendiri menunjukkan keperdulian terhadap celana

yang basah atau kotor memperlihatkan gejala ingin buang air besar

atau kecil (seperti ekspresi muka, posisi tubuh tertentu, dan seterusnya)

Selain kesiapan di atas, hal-hal berikut ini mungkin juga bisa anda

pertimbangkan mengenai kesiapan anak dalam melakukan latihan toilet.

a. Anak sudah tidak mengompol minimal 2 jam saat siang hari atau

setelah tidur siang.


20

b. BAB menjadi teratur dan dapat diprediksi


c. Ekspresi wajah, postur tubuh dan kata-kata yang menunjukkan

keinginan BAB dan BAK.


Keadaan stres di rumah bisa membuat proses ini menjadi sulit. Kadang

– kadang sangat bijaksana untuk menunda latihan toilet training dalam

situasi berikut ini :


a. Keluarga baru pindah atau berencana akan pindah dalam waktu

dekat
b. Anda sedang menantikan kelahiran bayi atau baru mendapatkan

seorang bayi
c. Ada penyakit berat, kematian, atau seseorang dalam keluarga

sedang mengalami kritis


d. Bagaimanapun juga bila anak anda tidak mengalami hambatan

dalam latihan toilet, maka tidak ada alasan untuk menghentikannya

karena situasi-situasi tersebut.


e. Anak anda dapat mengikuti perintah-perintah sederhana
f. Anak anda dapat berjalan dari dan ke kamar mandi, serta

membantu melepas pakaian


g. Anak anda tampak tidak nyaman dengan popok yang kotor dan

ingin diganti
h. Anak anda meminta menggunakan toilet atau pot
i. Anak anda meminta menggunakan pakaian dalam seperti anak

yang lebih besar.

B. Kerangka Teori
21

Faktor predisposisi

1. Tingkat pendidikan
2. Tingkat sosial ekonomi

Faktor penguat

1. sarana Perilaku Toilet Training


Pada Anak
2. pra sarana

Faktor pendorong

1. sikap

2. perilaku

Keterangan :

:Tidak diteliti

: :Diteliti

Gambar 2.1.KerangkaTeori[5]

C. Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini adalah Perilaku Toilet Training

BAB III
22

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang

bertujuan menerangkan atau menggambarkan masalah penelitian kebidanan

yang terjadi pada kasus yang berdasarkan distribusi tempat, waktu, umur, jenis

kelamin, sosial ekonomi, pekerjaan, status perkawinan, cara hidup (pola

hidup) dan lain-lain. Deskriptif tersebut dapat terjadi pada lingkup individu di

suatu daerah tertentu atau lingkup kelompok pada masyarakat di daerah

tertentu.[vi]

B. Waktu dan Tempat Penelitian


1. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2016 – Juli 2017
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PAUD yang ada di Desa Todanan Kabupaten

Blora.

C. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling


1. Populasi
Populasi adalah wilayah generelisasi yang terdiri atas

obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya.[vii]
Populasi dalam22
penelitian ini adalah orang tua murid yang

memiliki anak berumur 2-4 tahun, sebanyak 166 responden di PAUD yang
23

ada di Desa Todanan. Yang masih menggunakan pampers sejumlah 32

orang.
2. Sampel
Apabila subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua

sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, maka sampelnya

diperoleh 32 responden. [13]


Tehnik pengambilan sampel dari populasi pada penelitian ini

digunakan teknik total sampling (sampel jenuh) yaitu penentuan sampel

bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Menggunakan

sampel jenuh karena setiap anggota atau unit dari setiap anggota populasi

mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai sampel.


Pada penelitian ini jumlah sampelyaitu 32 responden yang diambil secara

total sampling dengan kriteria :[viii]


a. Kriteria inklusi
1) Murid yang diasuh oleh ibunya langsung / tidak
2) Murid yang ibunya mengantar ke paud / tidak bekerja
3) Umur 20 – 35
4) Pendidikan orangtua SMP - SMA
b. Kriteria ekslusi
Sakit / tidak hadir
3. Teknik Sampling
Teknik sampling merupakan suatu proses seleksi sempel yang

digunakan dalam penelitian dari populasi yang ada, sehingga jumlah

sempel akan mewakili keseluruhan populasi yang ada, secara umum ada

dua jenis pengambilan sampel yakni probability sampling dan

nonprobability sampling. [12]


Sampling jenuh atau total sampling adalah cara pengambilan sempel

dengan mengambil semua anggota populasi menjadi sempel. [12]

D. Definisi Operasional
24

Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional

berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti

untuk melakukan observasi atau pengukuran terhadap suatu obyek atau

fenomena. Definisi operasional ditentukan berdasarkan parameter yang

dijadikan ukuran dalam penelitian, sedangkan cara pengukuran merupakan

cara dimana variabel dapat diukur dan ditentukan karakteristiknya.[6]

Tabel. 3.1 . Definisi Operasional Gambaran Toilet Training Pada Anak Usia
2-4 Tahun Yang Menggunakan Popok Disposible

variabel Definisi Alat ukur Hasil ukur Skala


operasional
Perilaku a. Peri kuesioner Baik jika Ordinal
Toilet training laku praktik nilai > 5
secara lisan Kurang jika
b. Peri nilai
laku <5

E. Alat Pengumpulan Data


Penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan

kuisioner yang berisi 15 pertanyaan tertutup yang diisi oleh responden. Pada

bagian pengumpulan data, komponen yang ada berupa alat pengumpulan

data/instrumen penelitian uji validitas dan reabilitas, pengumpulan data dan

jalannya penelitian.[ix]
1. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat ukur pengumpulan data yang

digunakan untuk memperkuat hasil penelitian, Instrumen penelitian yang

digunakan untuk memperkuat hasil penelitian. Instrumen penelitian yang

digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner,yaitu :


a. Kuisioner I berisi data karakteristik responden yang terdiri atas :

Kode responden, umur,pendidikan,pekerjaan.


25

b. Kisi-Kisi Pertayaan
no keterangan unfavourable Favourable jumlah

1 praktik lisan 9, 11 10, 12 4


2 praktik memberi 2 1, 3, 4 4
contoh
3 praktik dengan pengaturan 5, 7 6, 8 4
jadwal
4 praktik menggunakan alat 15 13, 14 3
bantu

2. Uji Validitas
a. Melakukan uji validitas di PAUD Mutiara Bangsa Desa Bedingin

Kecamatan Todanan Kabupaten Blora sejumlah 20 responden.


Validitas adalah pengukuran dan pengamatan yang berarti

prinsip keandalan instrumen dalam mengumpulkan data. Uji validitas

dapat menggunakan rumus Pearson Product Moment, setelah itu

dengan menggunakan uji kemudian dilihat penafsiran dari indeks

kolerasinya.

Rumus preason product moment


R hitung = n(Σxy) – (Σx-Σy)
√{n.Σx² – (Σ(6x)²}.{n.Σy2 – (Σy)2}

Keterangan :

R hitung = kolerasi

Σx = jumlah skor item

Σy = jumlah skor total

N = jumlah responden
26

n
1
t hitung = √ (¿−r 2)
r
√(¿−2)
¿
¿

keterangan :

t hitung =nilai t hitung

r = koefisien korelasi hasil r hitung

n = jumlah responden

Dikatakan valid bila r hitung > r table (0,444)

3. Uji Reabilitas
Reabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat

peraga dapat dipercaya atau dipercaya atau dapat diandalkan dan tetap

konsisten apabila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala

yang sama.[7]
Setelah mengukur validitas, harus dilakukan pengukuran reabilitas

data, dan setelah itu baru diketahui apakah alat ukur dapat digunakan atau

tidak. Pengujian reabilitas digunakan dengan rumus koefisien reabilitas

alpha cronbach dengan bantuan komputer, dengan rumus yaitu :


:[7]
Rumus

Rumus Alpha Cronbach tersebut adalah sebagai berikut:

k
r 11 = { } {1-
k −1

Keterangan :
r 11 : reabilitas instrumen
k : banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal
27

σt ²
∑ ¿ : jumlah varian
¿
σt ² : jumlah soal
Dikatakan reliable bila alpha cronbach > 0,6

F. Prosedur Pengumpulan Data


1. Jenis Data
Berdasarkan sumbernya, data penelitian dapat dikelompokkan

dalam dua jenis yaitu data primer dan sekunder


a. Data Primer
Data yang diambil langsung dari lapangan atau lokasi

penelitian oleh peneliti sendiri. Mula-mula peneliti menjelaskan

maksud dan tujuannya. Lalu peneliti membagikan kuesioner dan

menjelaskan cara pengisian kuesioner yang meliputi identitas

responden dan pertanyaan. Setelah itu kuesioner diisi oleh responden

dan dikumpulkan lagi kepada peneliti. Dan kuesioner ini akan

dikumpulkan sekaligus dalam satu kali pengumpulan.


b. Data Sekunder
Data yang didapatkan dari semua orang tua yang memiliki

Balita usia 2-4 tahun yang masih menggunakan popok disposible di

PAUD yang ada di Desa Todanan.

2. Cara Pengumpulan Data


a. Tahap Persiapan
1) Mengurus perijinan dari Ketua STIKES Karya Husada

Semarang
28

2) Mencari sumber-sumber pustaka dan data-data penunjang

di lapangan
3) Melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing
b. Tahap Pelaksanaan
1) Peneliti menentukan responden yang akan dijadikan sampel

penelitian, kemudian memperkenalkan diri dan menjelaskan

tujuan penelitian kepada responden dengan memberikan lembar

kuesioner.
2) Setelah responden setuju untuk dijadikan responden dalam

penelitian, maka responden disarankan untuk mengisi lembar

informed concent untuk dijadikan responden bahwa diadakan

pengambilan data untuk penelitian.


3) Pelaksanaan penelitian terhadap responden atau yang

menjadi sampel dalam penelitian.


4) Memberikan kuesioner dan menjelaskan cara pengisian

kuesioner kepada responden yang menjadi sampel penelitian

dengan mengedarkan daftar pertanyaan maupun pernyataan

diajukan secara tertulis untuk mendapatkan jawaban.


5) Memberi informasi kepada orangtua bahwa pengisian

lembar kuesioner hanya bersifat partisipasi untuk suatu

penelitian sehingga tidak berpengaruh kepada mahasiswa.


6) Mengumpulkan lembar kuesioner yang sudah diisi oleh

responden, kemudian dilakukan pengecekan.


7) Data yang telah dicek tersebut kemudian diolah.

G. Pengolahan Dan Analisis Data

1. Cara Pengolahan Data


a. Editing
29

Mengedit adalah memeriksa daftar pertanyaan yang telah

diserahkan oleh para pengumpul data. Tujuan dari editing adalah

mengurangi kesalahan atau kekurangan yang ada dalam daftar

pertanyaan yang sudah diselesaikan sampai sejauh

mungkin.Pemeriksaan daftar pertanyaan yang telah diselesaikan

ini dilakukan bertahap.


1) Kelengkapan jawaban
Apakah dalam setiap item pertanyaan sudah ada jawabannya,

meskipun jawaban hanya berupa tidak tahu dan mau

menjawab.
2) Keterbatasan tulisan
Tulisan yang tidak terbaca akan mempersulit pengolahan data

atau berakibat data salah baca.


3) Kejelasan makna jawaban
4) Kesesuaian jawaban
Harus diperiksa apakah jawaban pertanyaan yang satu dengan

yang lain sudah sesuai


5) Relevansi jawaban
b. Scoring
Scoring adalah memberikan penilaian terhadap item-item

yang perlu diberi penilaian atau skor

Pernyataan pada tingkat pengetahuan yang bersifat positif

(favourable) jawaban :

1) Selalu nilai 2 (dua)


2) Kadang-kadang nilai 1 (satu)
3) Tidak pernah nilai 0 (nol)

Pertanyaan negative (unfavourable) jawaban :

1) Selalu nilai 0 (nol)


2) Kadang-kadang nilai 1 (satu)
3) Tidak pernah nilai 2 (dua)
c. Coding
30

Coding adalah mengklarifikasikan jawaban. Jawaban para

responden ke dalam kategori – kategori biasanya klarifikasi

dilakukan dengan cara memberikan tanda/kode berbentuk angka

pada masing-masing jawaban. Ada 2 langkah dalam melakukan

coding yaitu
d. Tabulating
Tabulating adalah pekerjaan membuat tabel jawaban –

jawaban yang telah diberi kode kemudian dimasukkan ke dalam

tabel.
e. Entry Data
Yakni mengisi kolom-kolom atau kotak lembar kode atau

kartu kode sesuai dengan jawaban masing-masing pertanyaan. [10]


2. Analisa Data
Dalam penelitian ini menggunakan Analisa Univariat. Uji ini

dilakukan untuk mengetahui distribusi dan presentasi dari

variabelgambaran toilet training pada anak usia 2-4 tahun yang masih

menggunakan popok disposible .


Dihitung dengan rumus sebagai berikut :
f
x= x 100
n

Keterangan :

x = hasil prosentase

f = jumlah skor dari jawaban responden

n = jumlah skor tertinggi

G. Etika Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti perlu mendapat rekomendasi dari

institusinya atau pihak lain dengan mengajukan ijin kepada institusi lembaga
31

tempat penelitian, setelah mendapat persetujuan baru melakukan penelitian

dengan menekan masalah etika penelitian yang meliputi :


1. Informed consent (format persetujuan)
Lembar ini diberikan kepada responden yang akan diteliti yang memenuhi

kriteria inklusi dan disertai judul penelitian, jika subyek menolak, maka

peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-hak subyek


2. Anonymity
Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencantumkan nama

responden, tetapi lembar tersebut diberi kode.


3. Confidentiality (kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti hanya sekelompok data

tertentu yang akan dilaporkan sebagai peneliti. Hasil peneliti akan

disimpan aman bila keseluruhan peneliti sudah selesai.

KUESIONER PENELITIAN

IDENTITAS RESPONDEN

Nama : ……………………………………. (diisi oleh peneliti)


32

Umur : …………………………………….

Pekerjaan : …………………………………….

Pendidikan : .........................................................

Petunjuk Pengisian

Berilah tanda (√) pada kolom jawaban yang telah disediakan.

No Pertanyaan Selalu sering Kadang-


kadang Tdk
pernah
1 Saya melatih BAK anak saya sejak usia
1 tahun

2 Sejak anak saya lahir sampai dengan


usia sekarang, saya memasangkan
pampers

3 Meskipun anak saya menggunakan


pampers, tetapi tiap 2 jam saya melatih
BAK

4 Saya memasangkan pampers pada anak


saya setiap hari

5 Saya hanya memasang pampers pada


anak saya saat dia pergi ke sekolah

6 Setiap merasa ingin BAK anak saya


pergi ke kamar mandi sendiri

7 Saya memuji anak saya ketika selesai


BAK di toilet

8 Setiap memakai pampers anak saya


mengalami ruam popok (bintik-bintik
merah)

9 Saya memakai merk pampers yang sama


33

untuk anak saya


10 Saya melatih anak saya BAK pada
tempatnya
11 Saya mengajarkan anak saya untuk
memberitahu ketika ingin BAB agar
tidak BAB di pampers
12 Saya mengajarkan anak saya untuk
memberitahu jika celana / pampers
sudah kotor atau basah
13 Saya mengajarkan anak saya untuk
cebok sendiri setelah buang air
14 Saya mengajarkan anak saya untuk
menyiram toilet sendiri setelah buang air
15 Saya mengajarkan anak saya untuk
mengetahui kapan waktu untuk buang air

DAFTAR PUSTAKA
i[]R,Leny&jhonson L.2010.keperawatan keluarga. Yogyakarta: Nuha Medika. 15-19

ii[]Riyadi ,S,Sukarmin.2009.Asuhan Keperawatan Anak. Edisi Pertama.Jogjakarta: Graha Ilmu. 4-6

iii[]Jurnal Kesehatan Surya Medika Yogyakarta. Availabel up http://www.skripsistikes.


Wordpress.com. Diperoleh 15 Desember 2014. 21-26

iv[ ] Rifai, Melly Sri Sulastri. 2009. Bimbingan Perawatan Anak. Edisi Pertama. Yogyakarta : Graha

Ilmu. 52-55

v[ ] Setiadi, 2008. Konsep Dan Proses Keperawatan Keluarga. Yogyakarta: Graha Ilmu. 12-18

vi[ ] Hidayat, Alimul Aziz, 2008. Riset Keperawatan dan Tehnik Penulisan Ilmiah. Edisi I. Jakarta :

Salemba Medika.77-82

vii[ ] Sugiono, 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif.Bandung: Alfabeta. 43-50

viii[ ] Arikunto, S.(2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:Rineka Cipta. 11-
14

ix[ ] Setiawan, A. & Saryono. 2010. Metodologi Penelitian Kebidanan. Jakarta : Nuha Medika. 37-
41

Anda mungkin juga menyukai