Anda di halaman 1dari 12

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN

VOLUME 09 No. 03 September l 2006 Halaman 134 - 145


Tisa Harmana, dkk.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah
Artikel Penelitian

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBIAYAAN KESEHATAN


DAERAH BERSUMBER ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
TAHUN 2006
FACTORS ASSOCIATED WITH LOCAL HEALTH FINANCING FROM LOCAL GOVERMENT BUDGET
OF PONTIANAK DISTRICT 2006

Tisa Harmana1, Wiku B. Adisasmito2


1
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Rubini Kabupaten Pontianak
2
Departemen Administrasi Kebijakan Kesehatan,
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

ABSTRACT bulan, yaitu mulai awal April sampai awal Mei 2006. Data primer
Background: District health financing patterns varied among diperoleh dari wawancara mendalam dan data sekunder
many local governments in Indonesia associated to the size of didapatkan dari penelusuran dokumen yang berada di DPRD,
the budget and its allocation. The main source of district health BPKD, Kantor Dinas Kesehatan, RSUD dan Kantor Bappeda.
financing is from local government funds (APBD). Data yang telah dikumpulkan dianalisis dan diverifikasi dengan
Method: This was a qualitative study to find out factors menggunakan metode triangulasi.
associated to district health financing and budget allocation in Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor
Pontianak District which based on APBD fiscal year 2006. This yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten
study was conducted in city of Mempawah, Pontianak, from Pontianak tahun 2006 adalah : Komitmen Daerah, kemampuan
April to May 2006. Primary data was collected by indepth Advokasi, kemampuan Perencanaan, Prioritas Masalah
interview and secondary data was collected from Kesehatan, pemilihan Intervensi Program, kemampuan
documentation in DPRD, BPKD, City and District Health Offices, Perencanaan, Dana Perimbangan, Lain-lain Pendapatan yang
Local General Hospital and Local Development Office. Content Sah, Informasi Alur Pembiayaan, dan Keseimbangan antara
of the data were verified and analyzed using triangulation Mata Anggaran. Sedangkan faktor PAD tidak mempengaruhi
method. pembiayaan kesehatan daerah di Kabupaten Pontianak.
Results: The results of the study showed factors associated Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa total
with district health budget allocation of Pontianak District year anggaran untuk pembiayaan kesehatan bersumber pada APBD
2006, i.e: Commitment of decision makers, Advocacy, Planning Kabupaten Pontianak tahun anggaran 2006 adalah
Ability, Health Problem Priority, Program Intervention Chosen, Rp47.542.542.000,00 atau 8,99% dari total APBD. Pembiayaan
Funds Allocation, other Legal Income, Information of Financing kesehatan per kapita per tahun di Kabupaten Pontianak tahun
Flow, and Balancing Budget Alocation. The Original District 2006 berdasarkan belanja publik adalah sebesar
Income (PAD) was not associated with district health budget Rp34.579,60,00 per kapita per tahun, nilai ini masih jauh dari
allocation in Pontianak District. nilai standar yang ditetapkan oleh World Bank sebesar
Conclusion: The results showed total budget for health Rp51.000,00 per kapita per tahun.
originating from local government funds (APBD) - Pontianak
District fiscal year 2006 is Rp47.542.542.000,00 or 8,99% from Kata Kunci : desentralisasi kesehatan, laporan kesehatan
total APBD. Funds allocated per capita/year is Rp34.579,60,00. daerah, pembiayaan kesehatan daerah, alokasi anggaran
This value is still under World Bank standard i.e Rp51.000,00 kesehatan daerah
per capita/year

Key words : health decentralization, district health account,


local government funds, distric health budget allocation
PENGANTAR
Kebijakan otonomi daerah yang mulai
ABSTRAK diberlakukan melalui Undang-Undang (UU) No.22
Latar Belakang: Pembiayaan kesehatan daerah mempunyai dan No. 25/1999 dan disempurnakan oleh UU No.
pola yang berbeda pada banyak pemerintah daerah di 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.
Indonesia. Faktor-faktor pembiayaan kesehatan daerah
dihubungkan dengan besarnya jumlah anggaran dan alokasi
33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
pembiayaan. Sumber utama pembiayaan kesehatan daerah Pusat dan Daerah membawa perubahan kepada
berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). semua bidang pembangunan tidak terkecuali
Metoda: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif untuk kesehatan. Menurut Mardiasmo1 perubahan pada
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi besaran
pembiayaan kesehatan daerah dan mengetahui pemanfaatan
bidang kesehatan secara garis besar terdiri dari dua
alokasi pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak hal yaitu : 1) perubahan dalam sistem dan proses
yang bersumber dari APBD tahun anggaran 2006. Penelitian organisasional yang terdiri dari pembangunan
dilakukan di Kota Mempawah Kabupaten Pontianak selama 1 kebijakan kesehatan (health policy development),

134 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

kebutuhan penghitungan dan informasi (needs balita buruk 1,16%, tahun 2004 balita dengan sta-
assesment and information), perencanaan dan tus gizi buruk 1,24% sedangkan tahun 2005 sampai
alokasi sumber daya ( planning and resource bulan Juli ditemukan 284 kasus anak dengan gizi
allocation), pembiayaan dan manajemen keuangan buruk.5
(financing and financial management), perencanaan Kebijakan otonomi khususnya desentralisasi
dan manajemen sumber daya manusia (human kesehatan menuntut adanya perbaikan sistem
resources planning and management), koordinasi pembiayaan dan manajemen keuangan daerah yang
antarsektoral ( intersectoral coordination) dan masalah pembiayaan kesehatan daerah selalu
partisipasi masyarakat (public participation); 2) menjadi hambatan utama dalam mewujudkan
keadilan, efisiensi dan kualitas pelayanan. pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat
Kebijakan otonomi yang belum begitu siap 2010. Pembiayaan kesehatan belum dapat
diterima oleh beberapa daerah di Indonesia memperbaiki indikator kesehatan masyarakat
membawa implikasi pada menurunnya alokasi secara umum. Hal ini bisa disebabkan oleh
anggaran kesehatan. Hal ini merujuk kepada data pembiayaan yang tidak cukup dan berdampak pada
Health World Report 20002 bahwa total pembiayaan kualitas dari pelayanan kesehatan.6
kesehatan Indonesia pada tahun 1997 sebelum era Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
otonomi sekitar US$ 21 per kapita per tahun, jika (APBD) menjadi sumber yang memiliki proporsi yang
dibandingkan setelah era otonomi pada tahun 2003 berimbang dengan sumber-sumber lain dan bahkan
menunjukkan bahwa rata-rata pembiayaan di beberapa daerah menjadi sumber terbesar dalam
kesehatan Indonesia berkisar US$ 12 sampai US$ pembiayaan kesehatan daerah. Di Kabupaten
18 per kapita per tahun. Lampung Selatan, APBD memberikan kontribusi
Status kesehatan penduduk Indonesia setelah 49,83% dari total pembiayaan kesehatan daerah,7
pembangunan kesehatan selama tiga dekade lalu di Kota Depok APBD memberikan kontribusi 50%
mengalami kemajuan yang cukup pesat, namun dari total pembiayaan kesehatan daerah 8, di
masih tertinggal jauh dibanding status kesehatan Kabupaten Tangerang APBD memberikan kontribusi
negara-negara tetangga ASEAN. Hal ini didukung 74,20% dari total pembiayaan kesehatan daerah9,
data dari WHO tahun 20003 bahwa Indonesia pada di Kabupaten Sleman tahun 2002 APBD
tahun 1998 mempunyai angka kematian bayi yang memberikan kontribusi 74,03% dari total pembiayaan
masih tinggi yaitu 48 per 1000 kelahiran hidup, jika kesehatan daerah dan pada tahun 2003 APBD
dibandingkan dengan Malaysia hanya 11 per 1000 memberikan kontribusi 82,24% dari total pembiayaan
kelahiran hidup, Thailand 29 per 1000 kelahiran hidup kesehatan daerah 6, untuk wilayah Kabupaten
dan Philipina 36 per 1000 kelahiran hidup. Ketapang Provinsi Kalimantan Barat APBD tahun
Dampak yang ada menurut Departemen 2004 memberikan kontribusi 69,64% dari total
Kesehatan (Depkes)4 dari hasil pengukuran indeks pembiayaan kesehatan daerah.10
pembangunan manusia atau Human Development Alokasi pembiayaan kesehatan yang bersumber
Index (HDI) tahun 2000, Indonesia berada pada dari APBD Kabupaten Pontianak mengalami
peringkat 102 di antara 190 negara di dunia dan pada peningkatan dari tahun 2003 sampai tahun 2005
tahun 2003 peringkat Indonesia turun menjadi terhadap total APBD kabupaten. Proporsi alokasi
peringkat ke-112, sedangkan untuk Provinsi kesehatan terhadap APBD di satu sisi telah
Kalimantan Barat, HDI yang diperoleh adalah urutan menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan
ke-27 dari 30 provinsi yang ada di Indonesia. yaitu dari sekitar 6% pada tahun 2003 menjadi 8%
Profil kesehatan pada Kabupaten Pontianak pada tahun 2005. Tabel 1 menunjukkan perbandingan
disebutkan bahwa kasus kematian bayi pada tahun alokasi APBD bidang kesehatan Kabupaten
2001 sebanyak 75 kasus, tahun 2002 sebanyak 110 Pontianak tahun 2003-2005.
kasus, tahun 2003 sebanyak 102 kasus, tahun 2004
sebanyak 71 kasus dan tahun 2005 sampai bulan Tabel 1. Perbandingan Alokasi APBD Bidang
Kesehatan Kabupaten Pontianak Tahun 2003-2005
Juli terdapat 49 kasus. Angka kematian bayi tahun
2003 terdapat 47,14 per 1000 kelahiran hidup dengan Tahun Total APBD Alokasi Anggaran %
umur harapan hidup pada tahun 2002 di Kabupaten Anggaran (ribuan Rp) Kesehatan (ribuan
Rp)
Pontianak adalah 61,62 tahun. Kasus kematian ibu
melahirkan pada tahun 2002 sebanyak 20 kasus, 2003 315.865.267 21.801.358 6,90
2004 323.911.676 21.933.158 6,76
tahun 2003 tercatat 22 kasus, tahun 2004 sebanyak 2005 326.412.223 26.951.342 8,26
11 kasus dan tahun 2005 sampai bulan Juli sebanyak
6 kasus. Status gizi masyarakat tahun 2003 gizi Sumber : Diolah dari APBD tahun 2003-2005.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006 l 135
Tisa Harmana, dkk.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah

Pembiayaan kesehatan di Kabupaten HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Pontianak pada tahun 2005 jika dibandingkan dengan 1. Gambaran APBD Kabupaten Pontianak
jumlah penduduk tahun 2005 yang berjumlah 725.662 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
jiwa adalah sebesar Rp37.140,00 per kapita per (APBD) Kabupaten Pontianak untuk tahun anggaran
tahun, sedangkan standar pembiayaan kesehatan 2006 terdiri dari anggaran pendapatan sebesar
di negara-negara berkembang menurut World Bank Rp531.586.103.000,00 yang bersumber dari
dalam proyek Health Workforce Services (HWS)5 Pendapatan Asli Daerah (PAD), dana perimbangan
yaitu sebesar Rp51.000,00. dan lain-lain pendapatan yang sah, sedangkan anggaran
Meskipun pembiayaan kesehatan di Kabupaten belanja adalah sebesar Rp528.586.103.000,00.
Pontianak per kapita per tahun pada tahun 2005 telah Pendapatan daerah melalui sebesar
diketahui, tetapi faktor-faktor yang mempengaruhi Rp21.617.027.000,00 atau sekitar 4,07% dari total
pembiayaan kesehatan pada tahun 2006 serta pendapatan, dana perimbangan sebesar
pemanfaatan alokasi APBD terhadap pembiayaan Rp503.485.787.000,00 atau sekitar 94,71% dari to-
sektor kesehatan yang dimulai dari sumber-sumber tal pendapatan, sedangkan lain-lain pendapatan yang
pembiayaan sampai dengan bagaimana biaya sah sebesar Rp6.483.289.000,00 atau sekitar 1,22%
tersebut digunakan dan kepada siapa biaya tersebut dari total pendapatan.
diperuntukkan masih belum diketahui. Anggaran belanja terdiri dari belanja aparatur
Berdasarkan penjelasan di atas, maka sangat daerah sebesar Rp84.182.757.500,00 atau sekitar
penting dilakukan penelitian untuk mengetahui faktor- 15,9% dari dan belanja pelayanan publik sebesar
faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan Rp428.629.391.500,00 atau sekitar 81,1% dari total
di Kabupaten Pontianak tahun 2006 dan belanja, sedangkan belanja bagi hasil dan bantuan
menganalisis pemanfaatan alokasi dari pembiayaan keuangan sebesar Rp15,273,954,000,00 atau sekitar
kesehatan daerah bersumber APBD tahun anggaran 2,89% dari total belanja APBD, dan belanja tidak
2006. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tersangka sebesar Rp500,000,000,00 atau sekitar
faktor-faktor yang mempengaruhi besaran 0,09% dari total belanja APBD.
pembiayaan kesehatan daerah dan mengetahui
pemanfaatan alokasi pembiayaan kesehatan daerah
2. Kemampuan Perencanaan
Kabupaten Pontianak yang bersumber dari APBD
Dari wawancara mendalam diketahui faktor-
tahun anggaran 2006.
faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan
daerah Kabupaten Pontianak bersumber pada APBD
BAHAN DAN CARA PENELITIAN
tahun anggaran 2006 antara lain :
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif
1. Kemampuan perencanaan/proses RASK, yang
dengan metode wawancara mendalam. Penelitian
terdiri dari variabel: komitmen daerah,
dilaksanakan di Kota Mempawah sebagai pusat
kemampuan advokasi, keseimbangan alokasi
pelayanan administratif dan Ibukota Kabupaten
antara mata anggaran, skala prioritas masalah
Pontianak selama satu bulan yaitu dimulai pada awal
bulan April sampai dengan awal bulan Mei 2006. kesehatan, intervensi program.
Informan berjumlah 6 orang yang terdiri dari 2 2. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
orang dari tim anggaran eksekutif (BPKD dan 3. Dana perimbangan
BAPPEDA), 1 orang dari panitia anggaran legislatif 4. Lain-lain pendapatan yang sah
(DPRD) dan 3 orang dari instansi pengusul (2 orang 5. Informasi alur pembiayaan
dari Dinas Kesehatan dan 1 orang dari RSUD
dr.Rubini). Informan dari tim anggaran eksekutif Perencanaan yang dilakukan di Kabupaten
berasal dari instansi BPKD yang merupakan Pontianak mengacu kepada Keputusan Menteri
sekretaris tim dan dari instansi BAPPEDA adalah Dalam Negeri No. 29/2002, melalui proses buttom
anggota tim bidang operasional pemeliharaan dan up planning pada Musyawarah Rencana
belanja modal. Pengembangan (Musrenbang) dari tingkat desa,
Pengumpulan data terbagi menjadi dua, yaitu kecamatan sampai tingkat kabupaten. Perencanaan
data primer yang diperoleh melalui wawancara terdokumentasi ke dalam Rencana Anggaran Satuan
mendalam dan data sekunder yang diperoleh dari Kerja (RASK) yang diajukan oleh setiap instansi
DPRD, BPKD, kantor dinas kesehatan, RSUD dan termasuk dinas kesehatan dan RSUD sebagai sektor
kantor Bappeda untuk mendapatkan dokumen utama kesehatan.
daerah yang berkaitan dengan penelitan. Data yang Hasil wawancara mendalam kepada para
telah dikumpulkan diverifikasi dan dianalisis informan dari tim anggaran eksekutif dan panitia
menggunakan metode triangulasi. anggaran legislatif menjelaskan bahwa perencanaan

136 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

yang diusulkan oleh dinas kesehatan dan RSUD diketahui besaran alokasinya, kemudian baru bulan
dinilai baik karena telah sesuai dengan Kebijakan November dimasukkan setelah pagu DAK Non-DR
Umum Anggaran (KUA), serta dokumen keluar, sehingga tidak terdokumentasi dalam RASK
perencanaan lainnya, sehingga delapan program tetapi tercatat pada dokumen rencana definitif DAK
yang ada pada RASK diakomodir semuanya ke Non-DR bidang kesehatan dan langsung di
dalam DASK. masukkan ke dalam DASK. Implikasi belanja modal
Pada penelitian yang dilakukan Dharmawan11 harus diimbangi dengan biaya operasional dan
menyatakan bahwa pada tingkat pemberian besaran pemeliharaan, sehingga pada kedua item ini juga
nominal rupiah yang diperlukan dipengaruhi oleh nominalnya berubah menjadi lebih besar.
RASK dinas kesehatan sebagai satu-satunya Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
sumber informasi yang dapat memberikan besaran kemampuan perencanaan mempengaruhi
pengalokasian APBD. pembiayaan kesehatan daerah yang bersumber
Rencana Anggaran Satuan Kerja (RASK) pada APBD. Dengan adanya pagu sementara dari
merupakan informasi perencanaan anggaran tim anggaran menciptakan tantangan tersendiri bagi
terdokumentasi secara jelas dan tegas yang tim perencanaan dari instansi pengusul agar dalam
menyatakan nominal anggaran, sumber anggaran, membuat perencanaan dapat mengakomodasi azas
fungsi anggaran dan pelaksana anggaran. Penetapan kewajaran dan kesesuaian antara dokumen
jumlah anggaran di Kabupaten Pontianak perencanaan yang dimulai dari KUA, melihat skala
berdasarkan history budgeting yaitu jumlah anggaran prioritas, pagu, aspirasi masyarakat dan visi misi
tahun lalu ditambah 10%, namun tidak ada pagu daerah maupun pusat tentang kesehatan serta
dana yang ditetapkan secara pasti artinya anggaran mengantisipasi alokasi dana dari DAK. Kemampuan
dibuat pagu sementara melalui history budgeting perencanaan dalam hal ini proses RASK dikontribusi
tadi. Peran pimpinan dalam proses perencanaan juga oleh beberapa variabel yaitu: komitmen daerah,
menjadi hal yang patut diperhatikan karena kemampuan advokasi, prioritas masalah, intervensi
kepemimpinan dapat memberi motivasi dan masalah dan keseimbangan antara mata anggaran.
kepercayaan. Pemimpin yang benar-benar Hubungan komitmen daerah dengan
menguasai bidangnya akan sangat membantu kemampuan perencanaan / proses RASK ini bahwa
proses perencanaan karena apapun yang diusulkan komitmen daerah merupakan bentuk pernyataan para
oleh instansinya dia mengerti seberapa besar dan pengambil kebijakan dalam menentukan proporsi
pentingnya masalah tersebut, sehingga ketika anggaran, sehingga dengan diketahuinya proporsi
mempertahankan kegiatan yang akan dihapus oleh tersebut nilai nominal atau besaran RASK akan
tim anggaran dapat melakukan pembelaan dengan dapat diketahui oleh instansi pengusul.
memberi alasan yang tepat atau dengan kata lain Hubungan kemampuan advokasi dengan proses
dapat memberikan justifikasi dan disinilah peran RASK dapat dijelaskan bahwa advokasi yang
advokasi bermain. dilakukan adalah kegiatan “follow up” dari instansi
Tidak menutup kemungkinan perencanaan yang pengusul terhadap komitmen daerah yang ada
baik akan memperoleh anggaran lebih besar jika sehingga besaran RASK akan bertambah jika
dianggap kegiatan atau program yang diusulkan advokasi yang dilakukan diterima para pengambil
merupakan sesuatu yang mendesak, sesuai kondisi kebijakan sebagai sesuatu yang mendesak dan
dan keadaan terakhir sebelum anggaran disahkan berdampak luas terhadap masyarakat.
oleh DPRD. Hubungan prioritas masalah dengan besaran
Hasil telaah dokumen menjelaskan bahwa RASK dijelaskan bahwa semakin banyak program
nominal DASK ternyata lebih besar dari RASK, prioritas yang tertuang di dalam RASK semakin
namun tidak dapat dikatakan perencanaan yang besar nominal RASK yang diusulkan. Demikian juga
disusun dan terdokumentasi dalam RASK oleh dengan intervensi masalah, ketika penentuan
instansi pengusul dalam hal ini dinas kesehatan dan prioritas masalah terjadi diikuti dengan tindakan
RSUD telah baik. Besarnya nominal DASK dapat intervensi, sehingga banyaknya intervensi yang
disebabkan adanya kenaikan gaji, tunjangan, dilakukan akan menambah nominal usulan dalam
berkala, penambahan Calon Pegawai Negeri Sipil dokumen RASK.
(CPNS) baru kemudian penyesuaian biaya Keseimbangan antara mata anggaran
perjalanan dinas akibat kenaikan BBM, dan belanja dimaksudkan bahwa setiap adanya investasi maka
modal yang dibiayai dari Dana Alokasi Khusus Non- biaya operasional dan pemeliharaan harus disiapkan
Dana Reboisasi (DAK Non-DR) yang pada saat dan hal ini tertuang dalam dokumen perencanaan
penyusunan RASK (September 2005) belum yang pada RASK akan diklasifikasi menurut mata

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006 l 137
Tisa Harmana, dkk.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah

anggaran masing-masing, berikut dapat dijelaskan Teori yang dikemukakan oleh Dunn12 bahwa
variabel-variabel tersebut: kebijakan publik merupakan hasil-hasil keputusan
eksekutif sebagai respon terhadap lingkungannya,
a. Komitmen Daerah sehingga peneliti berpendapat bahwa kebijakan
Dari hasil wawancara mendalam, semua publik yang dihasilkan oleh Pemerintah Daerah
informan menyatakan setuju bahwa Pemerintah Kabupaten Pontianak dalam hal ini komitmen daerah
Daerah Kabupaten Pontianak baik lembaga legislatif terhadap keputusan sektor kesehatan telah sesuai
dan eksekutifnya memiliki komitmen yang baik dengan peraturan perundangan yang berlaku dan teori
kepada sektor kesehatan. Hal ini juga ditunjukkan yang ada.
dari hasil telaah dan olahan dokumen data sekunder Penelitian lain juga mengatakan bahwa
yang menghasilkan proporsi alokasi APBD yang komitmen daerah menjadi salah satu faktor penentu
memiliki tren meningkat dari tahun ke tahun, khusus dalam pembiayaan kesehatan, hal ini dikemukakan
untuk tahun 2006 sebesar 7,71% dari total APBD oleh beberapa peneliti antara lain Gani13 Irwansyah7,
jika hanya dihitung dari dinas kesehatan dan RSUD Lestari9, dan Vollini8. Departemen Kesehatan RI2 juga
namun secara agregat pembiayaan kesehatan menyatakan bahwa salah satu faktor yang
daerah termasuk instansi di luar Dinas Kesehatan menentukan kecukupan alokasi anggaran kesehatan
dan RSUD adalah sebesar 8,99% dari total APBD di daerah adalah skala prioritas bidang kesehatan
dan menduduki urutan ketiga dalam jumlah anggaran
di mata para pimpinan daerah dalam hal ini
yang dialokasikan.
komitmen daerah.
Akan tetapi, meski kesehatan berada di urutan
ketiga setelah pendidikan dan infrastruktur namun
b. Advokasi
kesenjangannya sangat jauh yaitu 36,36% untuk
Hasil wawancara mendalam kepada informan
Dinas Pendidikan dan 23,35% untuk Dinas PU
menunjukkan adanya pengaruh kemampuan
(infrastruktur) jika dibanding total pembiayaan
kesehatan yang hanya 8,99%, maka sebenarnya advokasi yang dilakukan instansi pengusul terhadap
Pemerintah Daerah dan DPRD Kabupaten Pontianak besaran alokasi dana khususnya bidang kesehatan
belum mewujudkan komitmen secara nyata dalam seperti diungkapkan oleh tiga orang informan, namun
bentuk besaran anggaran. ada tanggapan dari informan lain bahwa tidak ada
Komitmen daerah Pemerintah Kabupaten intervensi dan belum tentu terjadi perubahan namun
Pontianak memberikan pengaruh kepada hal itu masih dimungkinkan.
pembiayaan kesehatan daerah yang bersumber Menurut Dharmawan11 perlu adanya advokasi
pada APBD kabupaten, karena pernyataan atau kepada aparat pemerintah baik dimulai dari tingkat
komitmen yang ada baik secara tertulis maupun tidak desa, kecamatan sampai dengan DPRD agar
tertulis menjadi sebuah kebijakan publik bahwa kesadaran akan kebutuhan pembangunan kesehatan
kebijakan yang diambil telah melalui tahapan- meningkat. Departemen Kesehatan RI 2 juga
tahapan tertentu dengan mengacu kepada menyebutkan kemampuan advokasi dinas
Kepmendagri No. 29/2002, sehingga keputusan atau kesehatan berpengaruh terhadap pembiayaan
keluarannya merupakan kesepakatan bersama kesehatan.
antara eksekutif dan legislatif. Keputusan ini akan
mengakomodasi seberapa besar proporsi c. Skala prioritas masalah
pembiayaan kesehatan yang akan dialokasikan Hasil penelitian menyebutkan bahwa penentuan
melalui APBD kabupaten. skala prioritas masalah kesehatan di Kabupaten
Keputusan bersama ini disampaikan dalam KUA Pontianak khususnya dari instansi pengusul baik
yang ditanda tangani Bupati dan Ketua DPRD, Dinas Kesehatan dan RSUD adalah berdasarkan
sehingga menjadi sebuah kebijakan publik yang Standar Pelayanan Minimal (SPM), Rencana
tertuang dalam nota kesepakatan antara Bupati Strategi (Renstra) dan hasil Musrenbang. Standar
Pontianak dengan DPRD Kabupaten Pontianak. Pelayanan Minimal (SPM) dijadikan dasar penentuan
Kebijakan Umum Anggaran (KUA) ini tidak terlepas skala prioritas karena merupakan cara untuk
dari dokumen perencanaan daerah yaitu Rencana menjamin dan mendukung kewenangan untuk
Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), juga penyelenggaraan pelayanan oleh daerah, juga
memperhatikan aspirasi masyarakat yang dihasilkan sekaligus merupakan akuntabilitas daerah.
dari proses musrenbang dari tingkat desa sampai Penetapan standar pelayanan minimal daerah harus
dengan tingkat kabupaten. mengacu kepada indikator-indikator pelayanan mini-
mal yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.

138 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Renstra juga dijadikan acuan karena skala pengawasan obat dan makanan, penyehatan
prioritas yang ada harus dapat mendukung visi dan lingkungan pemukiman, penyediaan dan pengelolaan
misi dari pemerintah daerah, sehingga kesesuaian air bersih dan diklat aparatur negara.
antara skala prioritas dengan rencana strategis Program pelayanan kesehatan masyarakat
menjadi penting agar tercapai tujuan yang mendapat porsi paling besar yaitu 43,19%. Hal
dikehendaki yaitu mewujudkan “Kabupaten tersebut dikarenakan kegiatan yang ada pada
Pontianak Sehat 2008”. program ini merupakan kegiatan operasional
Hasil Musrenbang juga menjadi acuan karena terbesar yang ada di Dinas Kesehatan kemudian
merupakan wujud dari perencanaan dengan dari kegiatan investasi yang merupakan penunjang
melibatkan aspirasi masyarakat sesuai dengan yang pelayanan kesehatan masyarakat berupa
diatur dalam Kepmendagri No. 29/2004 sekaligus pengadaan obat, alat kesehatan serta pembangunan
hakekat dari desentralisasi yaitu peran serta dan rehab puskesmas, pustu dan polindes terdapat
masyarakat dalam pembangunan. pada program ini. Hal ini dirasakan sudah cukup
Hasil dari penentuan program prioritas akan sesuai dengan UU No. 32/2004 Pasal 22 bahwa
dituangkan ke dalam RASK, sehingga RASK dalam menyelenggarakan otonomi, daerah
merupakan dokumentasi yang penting dalam mempunyai kewajiban meningkatkan kualitas
mengakomodasi program-program yang kehidupan masyarakat.
diprioritaskan dan nantinya akan menentukan Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
intervensi serta besaran alokasi pada APBD. intervensi yang sesuai dengan skala prioritas
Gani14 menyatakan program-program kesehatan masalah akan mempengaruhi pembiayaan
yang dilaksanakan berkembang atas dasar daftar kesehatan daerah yang bersumber dari APBD
masalah kesehatan yang ada. Dalam keadaan Kabupaten Pontianak, semakin banyak program
pembiayaan yang sangat terbatas, penting sekali yang dipilih untuk diintervensi yang terdokumentasi
untuk menetapkan prioritas masalah. Pelaksanaan dalam RASK menyebabkan besaran alokasi RASK
program secara menyeluruh, minimal berdasarkan akan bertambah, sehingga akhirnya alokasi APBD
kewenangan wajib dan standar pelayanan minimal semakin besar yang diserap, tetapi hal ini juga
menyebabkan pembiayaan yang terbatas harus menimbulkan tantangan baru untuk menciptakan
dapat mengakomodir program-program kesehatan intervensi yang “cost effective”.
tersebut, namun tidak cukup untuk membuat pro-
gram-program kesehatan efektif dalam mencapai e. Keseimbangan Antara Mata Anggaran
tujuan pembangunan kesehatan. Menurut informan, keseimbangan antara mata
anggaran bukan merupakan pembagian proporsi
d. Intervensi Program sama rata pada setiap jenis mata anggaran,
Menurut informan bahwa dalam menetapkan melainkan terpenuhinya pembiayaan pada setiap
intervensi program harus berpedoman pada renstra, mata anggaran berdasarkan KUA dan skala prioritas,
aspirasi masyarakat, serta standar pelayanan mini- jika pada KUA dan skala prioritas mementingkan
mal bidang kesehatan. Intervensi ini merupakan perbaikan sarana dan prasarana kesehatan maka
penjabaran dari skala prioritas yang ada. Telaah belanja modal akan menjadi lebih besar dan belanja
dokumen RASK menghasilkan ada 8 program dan operasional pemeliharaan menjadi penunjangnya.
23 kegiatan kesehatan yang dilakukan oleh Dinas Hasil pengolahan data sekunder dengan format
Kesehatan. District Health Account (DHA) menghasilkan alokasi
Program yang ada jika mengacu pada sistem terbesar pada Belanja Administrasi Umum (BAU)
district health account menjadi 9 program dari 19 sebesar 49,40% dan terkecil pada belanja modal
program yang telah ditentukan pemerintah pusat, (BM) sebesar 21,79%. Besarnya alokasi pada BAU
walaupun dari segi jumlah program lebih sedikit dari dikarenakan akumulasi dari belanja publik
yang ditentukan namun Pemerintah Daerah Rp1,034,820,000,00 dan belanja aparatur
Kabupaten Pontianak khususnya, Dinas Kesehatan Rp22,449,437,000,00 yang terdiri dari gaji dan
telah menyelaraskan arahan dari pusat dan tunjangan pegawai. Belanja modal hanya
kebutuhan pelayanan kesehatan di daerah. dialokasikan pada belanja publik saja yaitu sebesar
Program yang dilaksanakan di Kabupaten Rp10,357,550,000,00 dan tidak ada alokasi pada
Pontianak antara lain penyuluhan kesehatan, belanja aparatur, selain itu besarnya BAU juga bisa
pelayanan kesehatan rujukan rumah sakit, disebabkan acuan perencanaan terhadap KUA Dinas
pelayanan kesehatan masyarakat, pencegahan dan Kesehatan poin (1) pemerataan dan peningkatan
pemberantasan penyakit, perbaikan gizi, kualitas pelayanan kesehatan dasar yang berisikan

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006 l 139
Tisa Harmana, dkk.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah

kegiatan administrasi proyek, gaji/upah, barang habis dalam pelaksanaan kegiatan tersebut diperlukan
pakai dari dua instansi yaitu dinas kesehatan dan pembiayaan yang termasuk dalam belanja
RSUD. operasional dan juga dimungkinkan untuk
Peningkatan biaya investasi yang diikuti adanya pembiayaan kelompok belanja pemeliharaan. Jadi
biaya operasional dan pemeliharaan sehingga jumlah keseimbangan antara mata anggaran sangat
BOP tidak jauh berbeda dengan proporsi BM, BOP dipengaruhi oleh KUA dan tertuang dalam skala
yang dialokasikan pada APBD untuk pembiayaan prioritas dan akan mempengaruhi jumlah pembiayaan
kesehatan sebesar 28,82% atau hanya 7,03% kesehatan yang dituangkan dalam dokumen
selisihnya dengan BM. Hal ini akan memberikan perencanaan (RASK).
dampak meningkatnya jumlah alokasi anggaran pada
APBD dan tidak terlepas dari skala prioritas, serta 3. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
KUA dari instansi pengusul baik dinas kesehatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan salah
dan RSUD. satu sumber pendapatan dalam APBD sesuai
Jika menelaah dokumen KUA dapat disimpulkan dengan UU No. 33/2004. Berdasarkan sumber
bahwa BM dan BOP yang dianggarkan memang pendapatan porsi terbesar penyumbang pembiayaan
mengacu kepada KUA dinas kesehatan dan KUA kesehatan Kabupaten Pontianak adalah Dana
RSUD, pada KUA dinas kesehatan poin (2) Alokasi Umum (DAU), sementara pada PAD tidak
Peningkatan jumlah jaringan dan kualitas fasilitas memberikan kontribusi kepada kegiatan kesehatan,
kesehatan dan pada KUA RSUD poin (1) peningkatan sehingga PAD menurut salah seorang informan
dan pemeliharaan sarana dan prasarana rumah sakit, memang tidak berpengaruh terhadap pembiayaan
poin (2) peningkatan dan pemeliharaan sarana dan kesehatan karena pemda tidak menerapkan setoran
prasarana nonmedik penunjang, memberikan PAD berbanding dengan pembiayaan. Tabel 2
implikasi setiap adanya peningkatan selalu diikuti menunjukkan pembiayaan kesehatan daerah
pemeliharaan. berdasarkan sumber pendapatan.
Perencanaan dan manajemen anggaran
investasi biasanya terpisah dari perencanaan dan Tabel 2. Pembiayaan Kesehatan Daerah Berdasarkan
Sumber Pendapatan
manajemen anggaran operasional dan pemeliharaan.
Dalam melakukan investasi sering implikasi biaya Sumber Dana Sesuai UU Jumlah
%
operasional dan biaya pemeliharaan investasi No.33/2004 (ribuan Rp)
tersebut tidak diperhitungkan, akibatnya banyak 1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) 0 0.00
investasi yang tidak dapat berjalan dengan baik. Oleh 2. Dana Perimbangan :
a. DAU 35.088.253 73,80
sebab itu, setiap perencanaan investasi harus selalu b. DAK Non-DR : 9.608.575 18,34
disertai dengan perhitungan implikasi biaya - DAK Bidang Kesehatan 7.738.575 14,41
operasional dan pemeliharaan yang diperlukan.14 - DAK Bidang Lingkungan
Di Kabupaten Pontianak, setiap perencanaan Hidup 310.000 0,65
- DAK Bidang Infrastruktur 1.560.000 3,28
belanja modal selalu diikuti dengan operasional 3. Lain-lain pendapatan yang sah
pemeliharaan, sehingga harapan dari pernyataan bantuan dari Pemerintah Pusat
Gani14 telah sesuai dengan kenyataan yang ada di (HWS) 3.734.289 7,86
Kabupaten Pontianak. Hal ini disebabkan perencana Total : 47.542.542 100,00
di instansi pengusul baik dinas kesehatan dan RSUD
telah memahami jika mengalokasikan dana untuk
belanja modal perlu juga mengikutsertakan alokasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten
belanja operasional pemeliharaan. Pontianak khususnya yang berasal dari kesehatan
Perencanaan dengan sistem anggaran berbasis relatif kecil, sebaliknya dana perimbangan yang
kinerja dituntut kehandalan perencana dalam terdiri dari DAU, serta DAK sangat besar porsinya.
membuat perencanaan suatu kegiatan yang Kecilnya PAD yang dimiliki oleh Kabupaten
comprehenshif dengan memperhatikan ketentuan- Pontianak hanya 4,07% dari total pendapatan APBD.
ketentuan yang sesuai dengan kegiatan tersebut, Menurut peneliti, hal ini dapat disebabkan belum
karena hal ini akan berpengaruh kepada tergalinya potensi PAD yang riil dimiliki daerah dan
keseimbangan mata anggaran. Seperti dalam belum optimalnya pengelolaan kekayaan daerah,
anggaran kesehatan yang bersumber dari DAK, sehingga PAD ini tidak memberikan pengaruh yang
perencana harus memahami kekhususan pendanaan berarti kepada pembiayaan kesehatan daerah
tersebut, yaitu dialokasikan untuk kegiatan yang karena sistem keuangan di daerah tidak menganut
termasuk dalam kelompok belanja modal, tetapi proporsi anggaran berdasarkan setoran PAD tetapi

140 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

anggaran berbasis kinerja sesuai Kepmendagri No. dari Penerimaan Dalam Negeri yang ditetapkan
29/2002. dalam APBN. Pendapatan Asli Daerah (PAU) untuk
Seperti penelitian yang dilakukan oleh Lestari 9 daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan
bahwa PAD menjadi penyumbang terbesar dalam masing-masing sebesar 10% dan 90%.1 Pendapatan
pembiayaan kesehatan di Tangerang tahun 2003 Asli Daerah (PAU) ini sebenarnya dimaksudkan
yaitu sebesar Rp39.377.231.000,00 dari total untuk menjaga pemerataan dan perimbangan
pembiayaan sebesar Rp80.960.838.900,00 atau keuangan antar daerah, menjaga agar tidak terlalu
48,64% sehingga PAD sangat mempengaruhi besar fiscal gap yang terjadi. Fiscal gap didapat dari
pembiayaan di Tangerang pada tahun 2003. formulasi fiscal needs dibandingkan dengan fiscal
Jika membandingkan PAD Kabupaten capacity.
Pontianak yang kecil dengan Kabupaten Tangerang, Dana Alokasi Khusus (DAK) seperti yang terlihat
karena Kabupaten Tangerang merupakan daerah pada Tabel 2 menunjukkan alokasi DAK adalah
pinggiran ibu kota Indonesia yang banyak dijadikan sebesar 18,34% dari total pembiayaan kesehatan
kawasan industri, perdagangan dengan mobilisasi daerah, sumber DAK tidak saja berasal dari DAK
penduduk yang tinggi serta memiliki objek pajak yang Non-DR bidang Kesehatan, tetapi juga berasal dari
banyak, sedangkan Kabupaten Pontianak masih DAK Non-DR bidang Lingkungan Hidup dan DAK
didominasi pertanian dan perikanan, serta Non-DR Infrastruktur. Hal ini dapat menjadi salah satu
menyisakan sedikit sumber daya alam berupa hutan sumber untuk peningkatan pembiayaan kesehatan,
yang sudah “gundul” sehingga secara agregat namun untuk DAK Non-DR bidang kesehatan daerah
menyebabkan PAD yang ada masih kecil. masih perlu menyampaikan usulan dan data awal
Melihat jumlah PAD yang relatif kecil jika agar pada perhitungan formulasi penentuan alokasi
dibandingkan dengan dana perimbangan sebagai DAK melalui kriteria umum, kriteria khusus dan
sumber pendapatan APBD, maka dapat dikatakan kriteria teknis dapat maksimal. Hal ini karena
bahwa PAD belum mempengaruhi pembiayaan walaupun pemerintah pusat telah memiliki formula
kesehatan di Kabupaten Pontianak, selain itu PAD tertentu dalam penetapannya daerah juga harus pro
dari sektor kesehatan yang dihasilkan dari retribusi aktif untuk memperoleh dana tersebut di pusat.
kesehatan yang disetorkan ke pemda memang Seperti penelitian yang dilakukan oleh Sariasih15
dikembalikan kepada instansi bersangkutan yang menyatakan bahwa ada hubungan antara
sebanyak 60% dari total setoran tetapi uang variabel fiskal, status wilayah, status kesehatan
pengembalian dialokasikan dari DAU dalam bentuk akses air bersih, akses pelayanan kesehatan dan
uang lembur dan kompensasi pelayanan kesehatan. ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dengan
besaran alokasi DAK Non-DR pada tahun 2005
4. Dana Perimbangan melalui kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria
Hasil penelitian melalui telaah dan olahan data teknis.
sekunder menunjukkan bahwa dana perimbangan Dana perimbangan menentukan besar kecilnya
menjadi sumber pendapatan yang paling besar alokasi untuk pembiayaan kesehatan di Kabupaten
memberikan kontribusi terhadap pembiayaan Pontianak. Semakin besar dana perimbangan
kesehatan daerah Kabupaten Pontianak yang khususnya DAU maka semestinya semakin besar
bersumber pada APBD tahun anggaran 2006 yaitu pula alokasi kesehatan.
sebesar 92,14%. Wawancara mendalam kepada
para informan juga menyatakan bahwa sumber 5. Lain-Lain Pendapatan Yang Sah
pendapatan terbesar dari DAU yang merupakan salah Hasil penelitian menunjukkan bahwa item lain-
satu bagian dari dana perimbangan. lain pendapatan yang sah sesuai struktur APBD
Besarnya kontribusi dana perimbangan terhadap menurut UU No. 33/2004 memberikan kontribusi
pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten sebesar 7,86% dari total pembiayaan kesehatan
Pontianak tahun anggaran 2006 disebabkan jumlah daerah Kabupaten Pontianak bersumber pada APBD
pendapatan pada APBD sesuai struktur APBD yang tahun anggaran 2006.
diatur UU No. 33/2004 menghasilkan dana Pendapatan tersebut didapat dari dana hibah
perimbangan memberikan kontribusi terbesar yaitu pemerintah pusat kepada daerah dalam bentuk
94,71% dari total APBD Kabupaten Pontianak tahun proyek pengembangan sumber daya kesehatan atau
anggaran 2006 dengan DAU sebagai sumber HWS. Kegiatan HWS ini berlangsung selama lima
pendapatan terbesar. tahun dimulai dari tahun 2004 sampai dengan tahun
Dana Alokasi Umum (DAU) yang diberikan 2008, diharapkan setelah kegiatan HWS ini selesai
kepada daerah ditetapkan sekurang-kurangnya 25% pemerintah daerah dapat mengalokasi dana APBD

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006 l 141
Tisa Harmana, dkk.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah

sebesar 15% sesuai dengan kesepakatan Pembiayaan kesehatan Kabupaten Pontianak


pertemuan nasional Bupati dan Walikota se- tahun 2006 terdiri dari dua kelompok yaitu, kelompok
Indonesia dalam rangka desentralisasi di bidang belanja aparatur sebesar Rp22,449,437,000,00 atau
kesehatan yang diadakan pada tanggal 28 Juli 2000 47,22% dan kelompok belanja pelayanan publik
yang menyatakan bahwa secara bertahap proporsi sebesar Rp25,093,105,000,00 atau 52,78%.
anggaran kesehatan akan ditingkatkan sehingga Pembiayaan untuk belanja pelayanan publik hampir
sesuai dengan kebutuhan standar Badan Kesehatan berimbang dengan belanja aparatur sehingga tujuan
Dunia (WHO) yaitu minimal 5% dari Product dari desentralisasi, prioritas pembangunan daerah
Domestic Regional Bruto (PDRB) atau setara dengan dan berdasarkan visi pembangunan kesehatan
minimal 15% dari APBD. Kabupaten Pontianak, serta adanya paradigma baru
Struktur pendapatan APBD sesuai UU No.33/ dari perubahan sistem anggaran pada era
2004 yang terdiri dari PAD, dana perimbangan dan desentralisasi yaitu APBD harus berorientasi pada
lain-lain pendapatan yang sah secara agregat kepentingan publik belum tercapai dengan optimal.
menjadi sumber pembiayaan kesehatan daerah, Kesepakatan pertemuan nasional Bupati dan
walaupun secara fakta di lapangan PAD belum Walikota se-Indonesia dalam rangka desentralisasi
mempengaruhi pembiayaan kesehatan di Kabupaten di bidang kesehatan yang diadakan pada tanggal
Pontianak. 28 Juli 2000 menyatakan bahwa secara bertahap
Pemerintah daerah dalam otonomi mempunyai proporsi anggaran kesehatan akan ditingkatkan
empat sumber pendapatan untuk membiayai sehingga sesuai dengan kebutuhan standar WHO
kegiatan yaitu: (1) alokasi dari pusat dalam bentuk yaitu minimal 5% dari PDRB atau setara dengan
DAU dan DAK, (2) anggaran perimbangan atau bagi minimal 15% dari APBD.
hasil yang diperoleh dari pertambangan, migas, hasil Hasil wawancara mendalam diketahui bahwa
hutan dan perikanan, (3) pendapatan dari pajak dan sektor kesehatan merupakan sektor prioritas dalam
retribusi, dan (4) pinjaman dalam negeri dan luar pembangunan Kabupaten Pontianak setelah
negeri. Azwar16 mengatakan jumlah dana yang pendidikan dan infrastruktur, tetapi bila dikaitkan
tersedia di daerah dalam bentuk APBD dengan kesepakatan pertemuan nasional Bupati dan
mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah. Walikota se-Indonesia, pembiayaan kesehatan
bersumber dari APBD kabupaten masih perlu
6. Informasi Alur Pembiayaan ditingkatkan lagi. Untuk dapat mengatasi
Hasil penelitian melalui wawancara mendalam permasalahan ini maka Kabupaten Pontianak
dengan para informan diketahui alur pembiayaan mendapat tambahan alokasi dana pembiayaan
kesehatan diharapkan menjadi pedoman pada level kesehatan dari proyek HWS.
pengambilan kebijakan pembiayaan kesehatan Pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten
daerah, sehingga kesinambungan informasi ini Pontianak yang tersebar di seluruh satuan kerja di
sangat dibutuhkan. lingkungan Pemerintah Daerah jika hanya
Data pembiayaan kesehatan daerah saat ini memperhatikan kegiatan kesehatan dengan
dapat diolah melalui format DHA yang merupakan kelompok belanja pelayanan publik maka hanya 9
jabaran dari National Health Account (NHA), satuan kerja yang melakukan kegiatan kesehatan
sehingga alur pembiayaan yang memuat jumlah berbasis pelayanan publik yaitu dinas kesehatan,
dana, sumber dana, pengelola dana sampai ke mana RSUD dr.Rubini, dinas pekerjaan umum, dinas
saja dana tersebut dialokasikan terekam dalam kependudukan, catatan sipil dan keluarga
sistem DHA. Tabel 3 berikut menunjukkan besaran berencana, dinas lingkungan hidup, energi dan
alokasi pembiayaan kesehatan Kabupaten Pontianak sumber daya mineral, dinas pendidikan, dinas sosial,
yang bersumber dari APBD Kabupaten. tenaga kerja dan transmigrasi, UPT Panti Sosial
(PTSW) dan sekretariat daerah. Sisanya hanya
Tabel 3. Pembiayaan Kesehatan Kabupaten Pontianak melakukan kegiatan kesehatan yang berkaitan
Berdasarkan Kelompok Belanja
dengan aparatur yaitu perawatan dan pengobatan
Belanja Jumlah (ribuan Rp) % lokal dan GCU.
Aparatur Rp22.449.437,00 47,.22
Jika dianalisis jumlah belanja pelayanan publik
Pelayanan Publik Rp25.093.105,00 52,78 sebesar Rp25,093,105,000,00 terhadap jumlah
Rp47.542.542,00 100,00 penduduk Kabupaten Pontianak tahun 2005

142 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

sebanyak 725662 jiwa maka jumlah per kapita per digantikan dengan UU No. 32/2004 dan UU No.33/
tahun menjadi Rp34,579,60,00. Angka ini masih jauh 2004 membawa implikasi pada perubahan berbagai
di bawah standar WHO, sehingga dapat dikatakan sektor dalam sistem sosial masyarakat termasuk
bahwa Kabupaten Pontianak belum menempatkan sektor kesehatan.
pembangunan kesehatan sebagai arus Pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten
pembangunannya. Pontianak yang bersumber pada APBD tahun
Pembiayaan kesehatan berdasarkan fungsi anggaran 2006 merupakan salah satu implikasi
pelayanan kesehatan berdasarkan pedoman DHA desentralisasi yang mengamanatkan pemerintah
terdiri dari 12 fungsi, dan dari hasil penelitian daerah untuk memenuhi kewajiban seperti yang
diketahui bahwa semua fungsi teralokasikan tercantum dalam UU No. 32/2004 Pasal 22. Hasil
pembiayaannya. Fungsi yang mendapatkan porsi wawancara mendalam diperoleh informasi tentang
terbesar adalah fungsi perencanaan dengan alokasi sektor-sektor yang menjadi prioritas, yaitu:
26,96% yang besarnya fungsi perencanaan ini pendidikan, infrastruktur dan kesehatan. Hal ini
disebabkan salah satu kegiatan dalam fungsi ini dibuktikan dengan hasil olahan data sekunder yang
adalah pelaksanaan program, sehingga apa saja menempatkan sektor kesehatan di Kabupaten
program yang dilaksanakan akan dimasukkan ke Pontianak menempati tiga besar dalam skala
dalam fungsi perencanaan sesuai pedoman prioritas pembangunan menurut jumlah alokasi
penyusunan DHA. anggaran.
Jika melihat kewenangan wajib maka Pembiayaan kesehatan daerah di lingkungan
pembiayaan kesehatan daerah di Kabupaten Pemerintah Daerah Kabupaten Pontianak yang
Pontianak bersumber APBD tahun anggaran 2006 bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2006 dibagi
telah dapat membiayai seluruh kewenangan wajib menjadi dua kelompok, yaitu dana yang berada di
yang berjumlah 9. Dari 9 kewenangan wajib yang sektor kesehatan yakni Dinas Kesehatan dan RSUD
mendapatkan alokasi pembiayaan di Kabupaten dr.Rubini dan dana yang berada di sektor
Pontianak tahun 2006, proporsi terbesar dialokasikan nonkesehatan yaitu instansi lain yang melakukan
untuk menyelenggarakan kewenangan wajib kegiatan kesehatan. Alokasi terbesar berada di
pelayanan kesehatan dasar yaitu sebesar 54,45% sektor kesehatan dibandingkan dengan sektor
atau sebesar Rp13.664.313.500,00 yang terdiri dari nonkesehatan dengan perbandingan 85,76% untuk
jenis pelayanan KIA, pelayanan kesehatan anak pra sektor kesehatan dan 14,24% untuk sektor
sekolah, pelayanan KB, pelayanan imunisasi, nonkesehatan.
pelayanan pengobatan/perawatan, pelayanan Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang
kesehatan jiwa, pelayanan kesehatan kerja dan disampaikan oleh Gani16 yang menjelaskan bahwa
pelayanan kesehatan usia lanjut. sumber biaya kesehatan di daerah dibagi dalam dua
Salah satu faktor yang mempengaruhi kelompok yaitu sektor kesehatan dan sektor
pembiayaan kesehatan daerah adalah kemampuan nonkesehatan, yang sektor nonkesehatan adalah
menyajikan informasi alur pembiayaan kesehatan instansi di luar Dinas kesehatan dan RSUD yang
daerah termasuk informasi sumber-sumber dana melakukan kegiatan kesehatan.
yang ada sampai bagaimana penggunaan dana Total seluruh pembiayaan kesehatan yang
tersebut terhadap pencapaian program-program bersumber pada APBD sebesar Rp47,542,542,000,00,
kesehatan.2 sehingga persentasi dana yang dialokasikan untuk
Informasi alur pembiayaan menjadi salah satu pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten Pontianak
faktor yang mempengaruhi pembiayaan kesehatan adalah sebesar 8,99% dari total APBD Kabupaten
daerah karena adanya alur informasi ini pihak Pontianak Tahun Anggaran 2006 dan jika hanya
perencana dan pihak pengambil kebijakan dapat memperhitungkan pada sektor utama saja, yaitu
menganalisis apakah kebijakan dibidang kesehatan Dinas Kesehatan dan RSUD dr.Rubini, maka
telah dapat mengakomodasi dan memecahkan persentase dana yang dialokasikan pada
permasalahan kesehatan di Kabupaten Pontianak. pembiayaan kesehatan adalah sebesar 7,71% dari
total APBD, atau sebesar 85,75% (Dinas Kesehatan
7. Analisis Pembiayaan Kesehatan Kabupaten 69,57% dan RSUD 16,18%) dari total pembiayaan
Pontianak kesehatan daerah yang bersumber dari APBD tahun
Otonomi daerah yang diatur dalam UU No. 22/ anggaran 2006.
1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 25/ Pembiayaan kesehatan Kabupaten Pontianak
1999 tentang Perimbangan Keuangan antara yang bersumber dari APBD tahun anggaran 2006
Pemerintah Pusat dan Daerah yang kemudian jika dibandingkan dengan jumlah penduduk pada

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006 l 143
Tisa Harmana, dkk.: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kesehatan Daerah

tahun 2005 berdasarkan data dari Badan Pusat (setingkat kepala seksi) sampai dengan pejabat
Statistik (BPS) Kabupaten Pontianak sebesar eselon II (setingkat kepala dinas sampai Sekda) dan
Rp65,516.10,00 per kapita per tahun. Nilai ini adalah seluruh anggota DPRD Kabupaten Pontianak.
perhitungan secara total dari pembiayaan kesehatan Kegiatan kesehatan yang dilakukan berupa
daerah baik dari sektor kesehatan maupun sektor perawatan dan pengobatan lokal, serta GCU ini
nonkesehatan. Jika hanya diperhitungkan dari sektor merupakan kegiatan bagi aparatur pemerintah bukan
kesehatan saja yaitu dari Dinas Kesehatan dan pelayanan publik, namun hasil yang diinginkan dari
RSUD dr.Rubini sebagai sektor utama kesehatan kegiatan ini adalah memberikan peningkatan kinerja
maka pembiayaan kesehatan daerah Kabupaten aparatur dalam melayani publik atau masyarakat
Pontianak adalah sebesar Rp56,184.22,00 per kapita demikian alasan yang disampaikan salah satu
per tahun. informan pada wawancara mendalam.
Apabila dihitung berdasarkan belanja publik Sebenarnya hal ini perlu digarisbawahi karena
menjadi Rp34,579.60,00 per kapita per tahun, dampak ke depan adalah menciptakan aparatur atau
sehingga jika dibandingkan dengan standar WHO SDM yang sehat baik secara fisik maupun mental
sebesar Rp51,000,00 per kapita per tahun maka spiritual, sehingga diharapkan dapat terciptanya good
pembiayaan kesehatan di Kabupaten Pontianak governance , namun kegiatan GCU yang
belum memenuhi standar. Jika digunakan standar dilaksanakan oleh semua instansi yang ada di
15% APBD maka pembiayaan kesehatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pontianak
Kabupaten Pontianak juga belum memenuhi standar merupakan kegiatan yang tidak semestinya dibiayai
karena baru mencapai nilai 8,99% dari total APBD pemerintah karena bukan merupakan public goods,
tahun anggaran 2006. Hal ini perlu menjadi perhatian externalitasnya rendah, merupakan usaha kesehatan
para praktisi kesehatan di lapangan, perlu adanya perorangan dan bukan paket kegiatan esensial yang
“improve” baru agar dapat mendongkrak jumlah harus dibiayai.
alokasi anggaran, alasan lain nilai per kapita Jika kita merujuk kepada keterbatasan sumber
Kabupaten Pontianak masih rendah bisa terjadi daya dalam hal ini dana APBD, kegiatan GCU yang
karena pada penelitian ini hanya mengambil sumber dilakukan merupakan pemborosan sumber daya,
sehingga pemilihan kegiatan sebaiknya difokuskan
dari APBD saja, sehingga dana dari sumber-sumber
pada pelayanan esensial. Kegiatan GCU yang
lain seperti APBN dan dekon belum diakumulasi dan
dilakukan di RSUD milik pemda pada sisi lain juga
diperhitungkan. Ini erat kaitannya dengan tujuan
menguntungkan bagi pihak RSUD karena biaya GCU
penelitian yaitu untuk mengetahui faktor-faktor yang
dijadikan PAD kesehatan. Kegiatan GCU ini tidak
mempengaruhi pembiayaan kesehatan daerah yang
dapat dikatakan sebagai indikator kinerja bahwa
bersumber pada APBD.
kinerja PEMDA tidak baik dengan mengalokasikan
Berdasarkan hasil penelitian tentang
dana untuk GCU, akan tetapi pada kasus ini terjadi
pembiayaan kesehatan di lingkungan Pemerintah
disalokasi sumber daya. Gani 14 mengatakan
Daerah Kabupaten Pontianak yang bersumber dari
pelayanan kesehatan yang memiliki externalitas
APBD Tahun Anggaran 2006 diketahui bahwa tinggi berupa public goods serta merupakan paket
ternyata pengalokasian anggaran kesehatan pelayanan esensial wajib dibiayai oleh pembiayaan
menyebar keseluruh satuan kerja yang ada di pemerintah.
lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Hasil olahan data sekunder juga menunjukkan
Pontianak. Hal ini terjadi karena setiap satuan kerja bahwa daerah belum menempatkan alur pembiayaan
melakukan kegiatan kesehatan yaitu perawatan dan kesehatan pada belanja publik. Hal ini bisa dilihat
pengobatan lokal serta pemeriksaan kesehatan atau dari proporsi belanja publik dan aparatur yang tidak
General Check Up (GCU) di RSUD dr. Rubini, namun berbeda jauh atau bisa dikatakan hampir berimbang
dana GCU tersebut disalurkan melalui satuan kerja yaitu: belanja publik sebesar 52,78% sedangkan
masing-masing (lihat Tabel 2), yang alokasi terbesar belanja aparatur 47,22% dari total pembiayaan
dari total pembiayaan kesehatan daerah berada di kesehatan daerah.
Dinas Kesehatan sebagai sektor utama sebesar Kepmendagri No. 29/2002 menjelaskan proporsi
Rp33,076,441,000,00 atau 69,57% dan terkecil yang ideal adalah belanja publik 70% sedangkan
berada di unit kerja UPT LLK-UKM, SKB, UPPD belanja aparatur 30%, sehingga masih terjadi
Sungai Raya dan Pelabuhan Rasau Jaya kesenjangan yang lebar. Permasalahan ini juga
Rp3,250,000,00 atau 0,01% yang semuanya adalah masih perlu dicermati oleh para pengambil kebijakan
Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD). sebagai bahan pertimbangan dalam membelanjakan
General Check Up (GCU) ini dilakukan untuk sumber daya, sehingga lebih mengarah kepada
pejabat eselon, dimulai dari pejabat eselon IV public oriented.

144 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

KESIMPULAN DAN SARAN 4. Departemen Kesehatan RI. Indikator Indonesia


Kesimpulan Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator
Faktor komitmen daerah, kemampuan advokasi, Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat,
prioritas masalah kesehatann dan pemilihan Depkes RI, Jakarta. 2003.
intervensi program, informasi alur pembiayaan 5. Dinas Kesehatan Kabupaten Pontianak.
kesehatan, kemampuan perencanaan, alokasi mata Proposal HWS Kabupaten Pontianak 2006.
anggaran, PAD, lain-lain pendapatan sah merupakan Mempawah, Kalimantan Barat. 2005.
faktor-faktor yang memberikan kontribusi dalam 6. Soewondo, P. Studi Pembiayaan Kesehatan di
pembiayaan kesehatan daerah di Kabupaten Yogyakarta dan Lampung. Fakultas Kesehatan
Pontianak. Pembiayaan kesehatan Kabupaten Masyarakat Universitas Indonesia. Depok.2003.
Pontianak per kapita per tahun jika dilihat dari belanja 7. Irwansyah. Analisis Pembiayaan Kesehatan
publik yang bersumber pada APBD tahun 2006 Bersumber Pemerintah di Kabupaten Lampung
belum mencapai nilai standar yang ditetapkan oleh Selatan. Tesis, Fakultas Kesehatan Masyarakat,
WHO, namun demikian belum dapat dikatakan Universitas Indonesia, Indonesia. 2003.
kinerja sektor kesehatan itu belum baik karena 8. Volini, N. Analisis Pembiayaan Kesehatan
mengingat sumber daya yang terbatas dalam hal ini Bersumber Pemerintah di Kota Depok. Tesis,
alokasi anggaran. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas
Indonesia, Indonesia. 2003.
Saran 9. Lestari, N.I. Analisis Pembiayaan Kesehatan
Hendaknya melakukan pelatihan tentang DHA Daerah Bersumber Pemerintah di Kabupaten
bagi pihak instansi pengusul baik Dinas Kesehatan Tangerang. Tesis, Fakultas Kesehatan
Kabupaten Pontianak dan RSUD dr.Rubini agar dapat Masyarakat, Universitas Indonesia, Indonesia.
membuat informasi alur pembiayaan dengan 2003.
menggunakan format dan pedoman DHA beserta 10. Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang. DHA
analisisnya setiap tahun secara berkesinambungan, Kabupaten Ketapang, Ketapang Kalimantan
agar dapat dijadikan pedoman dan bahan advokasi Barat. 2003.
kepada para pengambil kebijakan di daerah. 11. Dharmawan, T.W. Analisis Alokasi Anggaran
Pemerintah Kabupaten Pontianak diharapkan Pendapatan dan Belanja Daerah dalam
tetap konsisten dalam memegang komitmennya Pelaksanaan Desentralisasi Pembangunan
terhadap sektor kesehatan yang merupakan salah Kesehatan di Kabupaten Sukabumi. Tesis.
satu prioritas pembangunan melalui peningkatan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas
jumlah alokasi anggaran walaupun secara bertahap Indonesia, Indonesia. 2004.
sehingga dapat mencapai 15% dari total APBD 12. Dunn, W.N. Pengantar Analisis Kebijakan
sesuai kesepakatan Bupati/Walikota se-Indonesia. Publik, edisi kedua. Gadjah Mada University
Penelitian lanjutan dengan desain dan metode Press. Yogyakarta. 2000.
berbeda terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi 13. Gani, A. Analisis Biaya Program Kesehatan
pembiayaan kesehatan daerah sangat diperlukan Masyarakat dalam Kebijakan Desentralisasi.
untuk mengetahui apakah faktor-faktor tersebut juga Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan. Fakultas
bisa mempengaruhi pembiayaan kesehatan di Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
tempat yang berbeda. Depok. 2002.
14. Gani, A. Reformasi Pendanaan Kesehatan.
KEPUSTAKAAN Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
1. Mardiasmo. Otonomi dan Manajemen Indonesia. Depok. 1998.
Keuangan Daerah. Andi Offset. Yogyakarta. 15. Sariasih, A. Analisis Keputusan Menteri
2002. Keuangan No.505/KMK.02/2004 Sebagai Model
2. Departemen Kesehatan RI Konseptual Penetapan Dana Alokasi Khusus Non Dana
Framework Provincial Health Account (PHA), Reboisasi Tahun Anggaran 2005 Bidang
District Health Account (DHA) bersumber Kesehatan. Tesis, Fakultas Kesehatan
Pemerintah, Biro Keuangan Departemen Masyarakat Universitas Indonesia, Indonesia.
Kesehatan RI, Jakarta. 2004. 2005.
3. Thabrany, H. Pendanaan Kesehatan dan 16. Gani, A. Konsep dan Klarifikasi Biaya. Pusat
Alternatif Mobilisasi Dana Kesehatan di Kajian Ekonomi Kesehatan, Fakultas
Indonesia. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
2005. Depok. 2001.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 3 September 2006 l 145