Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sejak zaman dahulu masyarakat indonesia mengenal dan memakai tanaman


berkhasiat obat menjadi salah satu obat upaya dalam penanggulangan masalah
kesehatan yang dihadapi. Salah satu tumbuhan berkhasiat obat adalah Rimpang dari
tumbuhan jahe merah (zingiber officinale roscoe) merupakan salah satu dari temu -
temuan suku zingiberaceae yang biasa digunkan sebagai obat, masuk angin, gangguan
pencernaan, sebagai analgesik, antipiretik, antiinflamasi,menurunkan kadar kolesterol,
mencegah depresi, impotensi, dan lain – lain (Hapsoh,dkk.,2010).

Rimpang jahe merah sudah digunakan sebagai obat secara turun – temurun
karena mempunyai komponen valatile ( minyak atsiri) dan non valatile (oleoresin)
paling tinggi jika dibandingkan dengan jenis jahe yang lain, yaitu kandungan minyak
atsiri sekitar 2,58 – 3,90% dan oleoresin 3% (Hapsoh,dkk.,2010). Sedangkan minyak
atsiri dan oleoresin yang terkandung daklam jahe merah adalah kandungan yang aktif
sebagai antiinflamasi (Hapsoh,dkk.,2010).

Hasil sebuah penelitian di tahun 2009 menunjukkan bahwa ekstrak rimpang


jahe merah 4% pada sediaan topikal memberikan efek antiinflamasi yang hampir
sama dengan NSAID terhadap mencit (Saida, 2009). Pada penelitian Septiana, dkk.
(2002) menunjukkan bahwa ekstrak air rimpang jahe mempunyai aktivitas
antioksidan, dan beberapa penelitian lain juga menunjukkan kemampuan jahe untuk
mencegah kanker (Unnikrishnan dan Kuttan, 1988).

Gel merupakan sediaan semisolid yang terdispersi dari suspensi yang dibuat
dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar yang
terpenetrasi oleh suatu cairan (FI IV, 1995).
Gel merupakan sediaan semipadat digunakan pada kulit, umumnya sediaan
tersebut berfungsi sebagai pembawa pada obat-obat topikal, sebagai pelunak kulit,
atau sebagai pembalut pelindung atau pembalut penyumbat (oklusif) (Lachman et
al, 1994). Gel didefinisikan sebagai suatu sistem setengah padat yang terdiri dari
suatu dispersi yang tersusun baik dari partikel anorganik yang kecil atau molekul
yang besar dan saling diresapi cairan (Ansel, 1989).

1
Pelepasan obat dari basisnya merupakan faktor penting dalam keberhasilan
terapi dengan menggunakan sediaan salep. Pelepasan obat dari sediaan gel sangat
dipengaruhi oleh sifat fisika kimia obat seperti kelarutan, ukuran partikel dan
kekuatan ikatan antara obat dengan pembawanya, dan untuk basis yang berbeda fakto
faktor diatas mempunyai nilai yang berbeda. Pemilihan formulasi yang baik sangat
menentukan tercapainya tujuan pengobatan.

Dari latar belakang diatas kami membuat sediaan berbentuk gel dari jahe
merah sebagai anti inflamasi yang mudah digunakan. Digunakan bahan aktif dari jahe
merah mengingat jahe merah ini memiliki kandungan yang bermanfaat untuk tubuh
salah satunya anti inflamasi.

1.2. Rumusan Masalah

a. Bagaimana formulasi dalam pembuatan sediaan gel dari jahe merah sebagai anti
inflamasi dari ekstrak jahe merah?

b. Bagaimana hasil uji yang dilakukan dari gel ekstrak jahe merah?

1.3. Tujuan

a. Untuk mengetahui formulasi dalam pembuatan sediaan gel sebagai anti inflamasi
dari ekstrak jahe merah.

b. Untuk mengetahui hasil uji dari gel ekstrak jahe merah

1.4. Manfaat

Mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan sediaan gel dengan bahan aktif jahe
merah yang berkhasiat sebagai gel anti inflamasi.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Dasar Teori

2.1.1. Gel

Gel merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel
anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu
cairan. gel kadang – kadang disebut jeli.(FI VI,199).
Gel adalah sediaan bermassa lembek, berupa suspensi yang dibuat dari zarah
kecil senyawaan organik atau makromolekul senyawa organik, masing-masing
terbungkus dan saling terserap oleh cairan.(Formularium Nasional)
Polimer-polimer yang biasa digunakan untuk membuat gel-gel farmasetik
meliputi gom alam tragakan, pektin, karagen, agar, asam alginat, serta bahan-bahan
sintetis dan semisintetis seperti metil-selulosa, hidroksietilselulosa,
karboksimetilselulosa, dan karbopol yang merupakan polimer vinil sintetis dengan
gugus karboksil yang terinosasi (Lachman et al, 1994).

2.1.2 Karakteristik Gel


Sifat dan karakteristik gel adalah sebagai berikut (Disperse system):
1. Swelling
Gel dapat mengembang karena komponen pembentuk gel dapat
mengabsorbsi larutan sehingga terjadi pertambahan volume. Pelarut akan
berpenetrasi diantara matriks gel dan terjadi interaksi antara pelarut dengan gel.
Pengembangan gel kurang sempurna bila terjadi ikatan silang antar polimer di
dalam matriks gel yang dapat menyebabkan kelarutan komponen gel
berkurang.
2. Sineresis.
Suatu proses yang terjadi akibat adanya kontraksi di dalam massa gel.
Cairan yang terjerat akan keluar dan berada di atas permukaan gel. Pada waktu
pembentukan gel terjadi tekanan yang elastis, sehingga terbentuk massa gel
yang tegar. Mekanisme terjadinya kontraksi berhubungan dengan fase
relaksasi akibat adanya tekanan elastis pada saat terbentuknya gel. Adanya
perubahan pada ketegaran gel akan mengakibatkan jarak antar matriks
berubah, sehingga memungkinkan cairan bergerak menuju permukaan.
Sineresis dapat terjadi pada hidrogel maupun organogel.

3
3. Efek suhu
Efek suhu mempengaruhi struktur gel. Gel dapat terbentuk melalui
penurunan temperatur tapi dapat juga pembentukan gel terjadi setelah
pemanasan hingga suhu tertentu. Polimer separti MC, HPMC, terlarut hanya
pada air yang dingin membentuk larutan yang kental. Pada peningkatan suhu
larutan tersebut membentuk gel. Fenomena pembentukan gel atau pemisahan
fase yang disebabkan oleh pemanasan disebut thermogelation.
4. Efek elektrolit.
Konsentrasi elektrolit yang sangat tinggi akan berpengaruh pada gel
hidrofilik dimana ion berkompetisi secara efektif dengan koloid terhadap
pelarut yang ada dan koloid digaramkan (melarut). Gel yang tidak terlalu
hidrofilik dengan konsentrasi elektrolit kecil akan meningkatkan rigiditas gel
dan mengurangi waktu untuk menyusun diri sesudah pemberian tekanan geser.
Gel Na-alginat akan segera mengeras dengan adanya sejumlah konsentrasi ion
kalsium yang disebabkan karena terjadinya pengendapan parsial dari alginat
sebagai kalsium alginat yang tidak larut.
5. Elastisitas dan rigiditas
Sifat ini merupakan karakteristik dari gel gelatin agar dan nitroselulosa,
selama transformasi dari bentuk sol menjadi gel terjadi peningkatan elastisitas
dengan peningkatan konsentrasi pembentuk gel. Bentuk struktur gel resisten
terhadap perubahan atau deformasi dan mempunyai aliran viskoelastik.
Struktur gel dapat bermacam-macam tergantung dari komponen pembentuk
gel.
6. Rheologi
Larutan pembentuk gel (gelling agent) dan dispersi padatan yang
terflokulasi memberikan sifat aliran pseudoplastis yang khas, dan
menunjukkan jalan aliran non – Newton yang dikarakterisasi oleh penurunan
viskositas dan peningkatan laju aliran.

2.1.3 Kelebihan dan Kekurangan Gel


a) Keuntungan sediaan gel :
 Untuk hidrogel : efek pendinginan pada kulit saat digunakan; penampilan
sediaan yang jernih dan elegan; pada pemakaian di kulit setelah kering
meninggalkan film tembus pandang, elastis, daya lekat tinggi yang tidak
menyumbat pori sehingga pernapasan pori tidak terganggu; mudah dicuci
dengan air; pelepasan obatnya baik; kemampuan penyebarannya pada kulit
baik.

b) Kekurangan sediaan gel :


 Untuk hidrogel : harus menggunakan zat aktif yang larut di dalam air
sehingga diperlukan penggunaan peningkat kelarutan seperti surfaktan agar
gel tetap jernih pada berbagai perubahan temperatur, tetapi gel tersebut sangat
mudah dicuci atau hilang ketika berkeringat, kandungan surfaktan yang tinggi
dapat menyebabkan iritasi dan harga lebih mahal.

4
 Penggunaan emolien golongan ester harus diminimalkan atau dihilangkan
untuk mencapai kejernihan yang tinggi.
 Untuk hidroalkoholik : gel dengan kandungan alkohol yang tinggi dapat
menyebabkan pedih pada wajah dan mata, penampilan yang buruk pada kulit
bila terkena pemaparan cahaya matahari, alkohol akan menguap dengan cepat
dan meninggalkan film yang berpori atau pecah-pecah sehingga tidak semua
area tertutupi atau kontak dengan zat aktif.

2.1.4 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam formulasi

 Penampilan gel transparan atau berbentuk suspensi partikel koloid yang


terdispersi, dimana dengan jumlah pelarut yang cukup banyak membentuk gel
koloid yang mempunyai struktur tiga dimensi.
 Inkompatibilitas dapat terjadi dengan mencampur obat yang bersifat
kationik pada kombinasi zat aktif, pengawet atau surfaktan dengan pembentuk
gel yang bersifat anionik (terjadi inaktivasi atau pengendapan zat kationik
tersebut).
 Gelling agents yang dipilih harus bersifat inert, aman dan tidak bereaksi
dengan komponen lain dalam formulasi.
 Penggunaan polisakarida memerlukan penambahan pengawet sebab
polisakarida bersifat rentan terhadap mikroba.
 Viskositas sediaan gel yang tepat, sehingga saat disimpan bersifat solid tapi
sifat soliditas tersebut mudah diubah dengan pengocokan sehingga mudah
dioleskan saat penggunaan topikal.
 Pemilihan komponen dalam formula yang tidak banyak menimbulkan
perubahan viskositas saat disimpan di bawah temperatur yang tidak terkontrol.
 Konsentrasi polimer sebagai gelling agents harus tepat sebab saat
penyimpanan dapat terjadi penurunan konsentrasi polimer yang dapat
menimbulkan syneresis (air mengambang diatas permukaan gel)
 Pelarut yang digunakan tidak bersifat melarutkan gel, sebab bila daya
adhesi antar pelarut dan gel lebih besar dari daya kohesi antar gel maka sistem
gel akan rusak.

2.1.5 Kualitas Dasar Gel

Penampilan gel adalah transparan atau berbentuk suspensi partikel koloid yang
terdispersi, dimana dengan jumlah pelarut yang cukup banyak membentuk gel
koloid yang mempunyai struktur tiga dimensi. Terbentuknya gel dengan struktur
tiga dimensi disebabkan adanya cairan yang terperangkap, sehingga molekul
pelarut tidak dapat bergerak. Sifat gel yang sangat khas (Lieberman et al, 1996)
yaitu :

5
1. Dapat mengembang karena komponen pembentuk gel dapat mengabsorsi
larutan yang mengakibatkan terjadi penambahan volume.
2. Sineresis, suatu proses yang terjadi akibat adanya kontraksi dalam massa
gel. Gel bila didiamkan secara spontan akan terjadi pengerutan dan cairan
dipaksa keluar dari kapiler meninggalkan permukaan yang basah.
3. Bentuk struktur gel resisten terhadap perubahan atau deformasi atau aliran
viskoelastis. Struktur gel dapat bermacam-macam tergantung dari
komponen pembentuk gel.
Mekanisme stabilitas gel adalah terbentuknya rantai polimer akibat
terbasahinya gelling agent, rantai polimer tersebut akan cross –linking yang
membentuk ruangan untuk menjebak zat aktif. Gel dapat membentuk struktur
house of card, di mana bagian dalam hingga pinggir sistem gel membentuk
jaringan tiga dimensi dari partikel yang seluruhnya dalam bentuk cairan. Interaksi
antara partikel-partikelnya sangat lemah. Larutan dari gelling agent dan disperse
dari padatan yang sudah terflokulasi cenderung mempunyai sifat pseudoplastik,
yang menunjukkan sifat/ karakter dari aliran non-Newton. Formulasi gel yang tidak
stabil di bawah keadaan normal menunjukkan perubahan irreversible pada sifat
rheologinya. Contoh gel yang tidak stabil adalah gel yang mengalami pemisahan
terhadap fase cair (syneresis) dan terhadap fase padatnya (sedimentasi), gel yang
kehilangan viskositas atau konsistensinya (terjadi perubahan dari semisolid ke
liquid) (Liebermann, 1996).
Mekanisme ketidakstabilan dalam gel dibagi menjadi 2, yaitu syneresis
Fenomena Syneresis terjadi, jika suatu gel didiamkan selama beberapa saat, maka
gel tersebut seringkali akan mengerut secara alamiah dan cairan pembawa yang
terjebak dalam matriks keluar/lepas dari matriks. Fenomena swelling merupakan
mekanisme dimana gel dapat menyerap cairan dari system sehingga volume pada
gel dapat bertambah dan airnya akan terperangkap dalam matriks yang terbentuk
pada gel. Swelling merupakan kebalikan dari fenomena syneresis dimana terjadi
penyerapan cairan oleh suatu gel dengan diikuti oleh peningkatan volume (Martin,
1993).
Beberapa keuntungan sediaan gel (Voigt, 1994) adalah sebagai berikut:
- kemampuan penyebarannya baik pada kulit
- efek dingin, yang dijelaskan melalui penguapan lambat dari kulit
- tidak ada penghambatan fungsi rambut secara fisiologis

6
- kemudahan pencuciannya dengan air yang baik
- pelepasan obatnya baik
Tingginya kandungan air dalam sediaan gel dapat menyebabkan terjadinya
kontaminasi mikrobial, yang secara efektif dapat dihindari dengan penambahan
bahan pengawet. Untuk upaya stabilisasi dari segi mikrobial di samping
penggunaan bahan-bahan pengawet seperti dalam balsam, khususnya untuk basis
ini sangat cocok pemakaian metil dan propil paraben yang umumnya disatukan
dalam bentuk larutan pengawet. Upaya lain yang diperlukan adalah perlindungan
terhadap penguapan yaitu untuk menghindari masalah pengeringan. Oleh karena
itu untuk menyimpannya lebih baik menggunakan tube. Pengisian ke dalam botol,
meskipun telah tertutup baik tetap tidak menjamin perlindungan yang memuaskan
(Voigt, 1994).

2.1.6. Kulit

Kulit merupakan organ tubuh terbesar yang menutupi permukaan kulit


lebih dari 20.000 cm2 pada orang dewasa dan terletak paling luar (Lachman dkk,
1994). Kulit adalah organ yang paling essential dan vital serta merupakan cermin
kesehatan dan kehidupan. Berat kulit kira-kira 15% berat badan yang mempunyai
sifat elastis, sensitive, sangat komplek dan bervariasi pada keadaan iklim, umur,
seks, ras, dan juga bergantung pada lokasi tubuh (Djuanda dkk, 1999).

Anatomi fisiologi kulit Kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan
utama, yaitu: lapisan epidermis, dermis, dan subkutis. Tidak ada garis tegas yang

7
memisahkannya, ditandai dengan adanya jaringan ikat longgar dan adanya sel dan
jaringan lemak.

1). Epidermis

Epidermis merupakan lapisan terluar kulit, yang mempunyai fungsi


sebagai sawar pelindung terhadap bakteri, iritasi kimia, alergi, dan lain-lain.
Lapisan ini mempunyai tebal 0,16 mm pada pelupuk mata, dan 0,8 mm pada
telapak tangan dan kaki. Lapisan epidermis terdiri atas stratum korneum,
stratum lucidum, stratum granulosum, stratum spinosum dan stratum basale.
Stratum korneum adalah lapisan paling luar dan terdiri atas beberapa lapis sel
gepeng yang mati. Lapisan ini merupakan membran yang 5% bagiannya
merupakan elemen pelindung yang paling efektif. Sel ini mampu menahan air
yang berasal dari keringat dan lingkungan luar (Aiache, 1982). Stratum
lucidum terdapat langsung dibawah lapisan korneum. Lapisan tersebut tampak
lebih jelas ditelapak tangan dan kaki (Djuanda dkk, 1999).

2). Dermis

Lapisan dermis jauh lebih tebal dari epidermis. Tersusun atas


pembuluh darah dan pembuluh getah bening. Peranan utamanya adalah
pemberi nutrisi pada epidermis. Pembuluh darah (pars papilare) yaitu bagian
yang menonjol ke epidermis berisi ujung serabut dan pembuluh darah. Pars
retikulare bagian dibawahnya yang menonjol ke subkutan terdiri atas serabut-
serabut penunjang seperti kolagen, elastin dan retikulin (Djuanda dkk, 1999).

3). Jaringan subkutan lemak

Terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak yang berfungsi
sebagai cadangan makanan juga sebagai pemberi perlindungan terhadap
dingin. Kulit mempunyai organ-organ pelengkap yaitu kelenjar lemak,
kelenjar keringat, kelenjar bau, rambut dan kuku (Djuanda dkk, 1999).

2.2 Tinjauan Bahan

2.2.1 Klasifikasi dan Morfologi Jahe Merah (bahan aktif)

8
Tanaman Jahe merah merupakan tanaman obat berupa tumbuhan
rumpun berbatang semu. Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari
India sampai Cina. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai
bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan
minuman, bumbu masak danobat-obatan tradisional.

Jahe Merah (zingiber officinale roscoe)

Berdasarkan penelitian jahe merah ini dapat diklasifikasikan dan morfologi


berdasarkan tingkatan diantaranya sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Musales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Species : Officinale

Tanaman jahe merah (Zingiber officinale Roscoe) termasuk keluarga


Zingiberaceae yaitu suatu tanaman rumput-rumputan tegak dengan ketinggian
30-100 cm, namun kadang-kadang tingginya dapat mencapai 120 cm daunnya
sempit, berwarna hijau bunganya kuning kehijauan dengan bibir bunga ungu
gelap berbintik-bintik putih kekuningan dan kepala sarinya berwarna ungu.
Akarnya yang bercabang-cabang dan berbau harum, berwarna kuning atau
jingga dan berserat.
Kandungan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman
jahe terutama golongan flavonoida, fenolik, terpenoida, dan minyak atsiri
(Benjelalai, 1984). Senyawa fenol jahe merupakan bagian dari komponen
oleoresin, yang berpengaruh dalam sifat pedas jahe (Kesumaningati, 2009),

9
sedangkan senyawa terpenoida adalah merupakan komponen-komponen
tumbuhan yang mempunyai bau, dapat diisolasi dari bahan nabati dengan
penyulingan minyak atsiri. Monoterpenoid merupakan biosintesa senyawa
terpenoida, disebut juga senyawa “essence” dan memiliki bau spesifik.
Senyawa monoterpenoid banyak dimanfaatkan sebagai antiseptik,
ekspektoran, spasmolitik, sedative, dan bahan pemberi aroma makanan dan
parfum. Menurut Nursal, 2006 senyawa-senyawa metabolit sekunder golongan
fenolik, flavanoiada, terpenoida dan minyak atsiri yang terdapat pada ekstrak
jahe diduga merupakan golongan senyawa bioaktif yang dapat menghambat
pertumbuhan bakeri.

2.2.2 Carbopol (HPE 5 p. 111)


Rumus molekul : (C3H4O2)n
Pemerian : Carbopol berbentuk serbuk halus putih, sedikit berbau
khas, higroskopis, memiliki berat 1,76-2,08 g/cm³ dan
titik lebur pada 260ºC selama 30 menit.
Kelarutan : Larut dalam air, etanol dan gliserin.
Khasiat : Zat tambahan / gelling agent
Konsenterasi : 0,5 – 2%
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, hindari kelembapan.

2.2.3 Triethanolamin (FI III hal,612)


Rumus molekul : (C2H4OH)3N
Pemerian : Berupa cairan tidak berwarna atau berwarna kuning pucat,
jernih, tidak berbau/hampir tidak berbau, higroskopis.
Kelarutan : Dapat cempur dengan air dan etanol (95%)P, sukar larut
dalam eter.
Khasiat : Zat tambahan
Konsenterasi :2–6%
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

2.2.4 Gliserin (FI III hal,)


Rumus molekul : C3H8O3
Pemerian : Cairan jernih seperti sirup, tidak berwarna, rasa manis,
berbau khas lemah (tajam atau tidak enak), higroskopik,
netral terhadap lakmus

10
Kelarutan : Larut dalam air, methanol, dan ethanol 95%. 1 bagian
larut dalam 11 bagian etil asetat dan 500 bagian eter.
Tidak larut dalam benzena, kloroform, dan minyak.
Khasiat : Emolien
Konsenterasi : ≤ 30 %
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.

2.2.5 Propilen Glikol


Rumus molekul : C3H8O2
Pemerian : cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, rasa
agak manis, higroskopik
Kelarutan : dapat tercampur dengan air, dengan etanol 95% p,
dengan klorofom p, dalam bagian 6 eter p, tidak dengan
eter minyak tanah p, dan dengan minyak lemak
Khasiat : zat tambahan, pelarut
Konsentrasi : 15 %
Penyimpanan : wadah tertutup rapat

2.2.6 Metil Paraben (FI IV, hal 551)


Rumus molekul : C8H8O3
Pemerian : Hablur kecil, tidak bewarna atau serbuk hablur putih,
tidak berbau, khas lemah, mempunyai rasa sedikit
terbakar
Kelarutan : Sukar larut dalam air, larut dalam etanol dan dalam
asetat glasial.
Khasiat : Pengawet
Konsenterasi : 0,03 %
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

2.2.7 Aquadest (FI III hal, 96)


Rumus molekul : H2O
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
mempunyai rasa.
Kelarutan : larut tetapi tidak larut dalam minyak

11
Khasiat : Zat tambahan
Konsenterasi :-
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik

2.3 AlasanPenggunaanBahan
1. Jahe merah (Zingiber officinale Roscoe) merupakan tumbuhan suku
Zingiberaceae yang sudah digunakan sebagai obat secara turun-temurun sejak
dulu karena mempunyai komponen volatile (minyak atsiri) dan nonvolatile
(oleoresin) paling tinggi jika dibandingkan dengan jenis jahe yang lain.
rimpang jahe merah juga mengandung senyawa-senyawa gingerol, shogaol,
zingerone, diarylheptanoids dan derivatnya terutama paradol diketahui dapat
menghambat enzim siklooksigenase sehingga terjadi penurunan pembentukan
atau biosintesis dari prostaglandin yang menyebabkan berkurangnya rasa
nyeri. Jahe merah juga dapat menurunkan intensitas nyeri karena kandungan
oleoresin yang dimilikinya.
2. Karbopol berfungsi sebagai gelling agent untuk membantu pembentukan gel.
Gelling
3. TEA berfungsi sebagai menjaga kestabilan masing masing bahan /
emulgator dan dapat melembutkan kulit.
4. Gliserin berfungsi sebagai humektan dan emolien. Pada sediaan yang
digunakan topikal, penggunaan gliserin berfungsi sebagai humektan dan
emolien. Berdasarkan HOPE, kadar gliserin sebagai humektan ataupun
emolien adalah kurang dari 30% (<30%). Perlu ditambahkan emolien untuk
mencegah atau mengurangi lengketnya pada kulit. Humektan untuk menjaga
stabilitas gel dengan cara mengabsorpsi dari lingkungan dan mengurangi
penguapan air dari sediaan.
5. Metil paraben digunakan sebagai pengawet antimikrona karena sediaan
mengandung air yang mudah ditumbuhi oleh mkroba. Metil paraben dipilih
karena mempunyai aktivitas anti mikroba pada rentang pH 4-8. Glongan
paraben juga dapat menghambat pertumbuhan spora dan jamur. Kombinasi
golongan paraben tersebut dipilih karena pengawet tersebut bekerja secara
sinergis sehingga dapat mengoptimalkan kerja sebagai antimikroba.
Berdasarkan HOPE, kadar metil paraben untuk sediaan topikal adalah 0,02-

12
0,3%, sedangkan propil paraben 0,01-0,6%. Pada praktikum digunakan metil
paraben 0,18% dan propil paraben 0,02%.
6. Propilen glikol ditambahkan karena bisa berfungsi sebagai humektan dan
enhancer sekaligus bisa mengurangi penggunaan bahan tambahan.
7. Aquades digunakan agar karbopol dapat mengembang. Aquades yang
digunakan adalah aquades yang panas. Menurut HOPE untuk
mengembangkan 1 bagian karbopol menbutuhkan 20 bagian air panas.

2.4 Evaluasi
Evaluasi sediaan yang dilakukan adalah evaluasi organoleptis, evaluasi
pH, evaluasi daya sebar, evaluasi homogenitas dan evaluasi daya lekat.

Evaluasi yang pertama adalah uji organoleptis menggunakan panca indera


yang meliputi, bau, warna, tekstur, dan bentuk sediaan yang dibuat. Konsistensi
pelaksaannya menggunakan subjek respoden (dengan kriteria tertentu)dengan
menerapkan kritrieranya pengujian, persentase masing – masing kriteria yang
diperoleh dan pengambilan keputusan dengan analisa statistik.

Evaluasi kedua adalah Uji Ph, uji pH menggunakan pH ukur untuk


mengetahui pH pada sediaan, dengan cara mengambil 500mg sediaan dan di
tambah dengan 5ml aquadest kemudian di aduk. Masukkan alat pengatur Ph ke
dalam campuran sediaan tersebut dan lihat pH yang terbentuk.

Evaluasi ketiga adalah uji homogenitas . uji ini dilakukan untuk


mengetahui homogenitas sediaan yang ditaruh diatas kaca transparan lalu diamati
permukaan kaca transparan apakah susunan partikel yang tersebar merata tanpa
adanya butir – butir kasar.

Evaluasi ke empat adalah uji daya sebar. Uji ini dilakukan untuk
mengetahui daya sebar salep atau sediaan sebanyak 500 mg kemudian letakkan
sediaan ditengah – tengah lempeng kaca bersakla yang ditutup dengan tutup
lempeng kaca. Pemberian beban ditambah setelah 5 menit dengan beban antara
lain 50 gram, 100 gram , dan 150 gram.

Evaluasi ke lima adalah uji daya lekat , uji ini dilakukan bertujuan untuk
mengetahui waktu yang dibutuhkan oleh sediaan melekat pada kulit, semakin
lama waktu yang dibutuhkan maka semakin lama daya kerja obat. Untuk
mengetahui daya lekat krim atau sediaan ditimbang 0,2 gram, letakkan diatas kaca
kemudian tutup sediaan dengan object glass yang kemudian ditutup lagi dengan
lempeng kaca. Beri berat atau beban 1 kg diatas lempeng kaca lalu jepit ujung
object glass dengan penjepit pada alat, setelah 5 menit angkat lempeng kaca
bagian atas beserta beban. Dan kemudian catat waktu yang diperlukan hingga
object glass terlepas dari lempeng kaca.

13
BAB III
METODOLOGI

3.1 Bentuk sediaan Gel yang dipilih


GEJE atau gel jahe merupakan gel yang digunakan untuk antiinflamasi atau
peradangan pada kulit dengan menggunakan bahan alami terbuat dari jahe merah yang
diindikasikan memiliki kandungan anti inflamasi.

3.2 Alat
Alat- alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain cawan porselin, mortir,
stamper, batang pengaduk, spatula, sendok tanduk, timbangan analitik, waterbath, sudip,
beaker glass, gelas ukur, perkamen, kaca arloji, pipet tetes, dan lap.

3.3 Bahan
Bahan- bahan yang digunakan dalam praktikum pembuatan salep anti infalamasi ini
adalah ekstrak jahe merah,karbopol, TEA, gliserin, propilen glikol, metil paraben,
aquadest.

3.4 Formulasi

NO BAHAN KHASIAT RENTAN FORMULAS Jumlah


G I (g)
(%)

Ekstrak Jahe Zat Aktif (anti - 10 % 3g


1.
Merah inflamasi)
Karbopol Gelling Agent 0,5 - 2% 2 % 0,6 g
2.
TEA Emulgator 2 – 4% 2% 0,6 g
3.

Gliserin Emolien ≤ 30 % 7% 2,1 g


4.

Propilen glikol Humektan 15 % 15 % 4,5 g


5.
Metil paraben Pengawet 0,03 % 0,03 % 0,03g
6.
Aquadest Pelarut - Ad 30% 19,191
7.
g

3.5. Penimbangan

10
1. Eks. Jahe merah = x 30 = 3 gram
100
2
2. Carbopol = x 30 = 0,6 gram
100

14
2
3. TEA = x 30 = 0,6 gram
100
7
4. Gliserin = x 30 = 2,1 gram
100
15
5. PPG = x 30 = 4,5 gram
100
0,03
6. Metil Paraben = x 30 = 0,009 gram
100
7. Aquadest = 30 gram – (3 + 0,6 + 0,6 + 2,1 + 4,5 + 0,009)
= 30 gram – 10,809 gram
= 19,191 gram → 19,191 ml
3.5 Prosedur Kerja
 Ekstaksi jahe merah

Ditimbang Serbuk simplisia jahe merah sebanyak 100 gram, dimasukkan kedalam
erlenmeyer 1000 ml

Dimasukkan etanol 70 % 1000 ml ke dalam erlenmeyer

Dibiarkan selama 3 hari terlindung dari cahaya matahari sambil sesekali diaduk

Disaring ekstrak menggunakan kain flanel, masukkan dalam sawan porselin

Diuapkan pada suhu 50 ° c diatas waterbath

Diperoleh ekstrak kental jahe merah

 Pembuatan Gel

Menyiapkan alat dan bahan

Menyetarakan timbangan

15
Mengukur aquadest panas 19.191 ml
Menimbang carbopol 0,6 g masukkan ke dalam mortir yg berisi air panas 10ml,
dengan cara ditaburkan dan diamkan hingga mengembang. aduk ad homogen

Menimbang TEA 0,6 g, larutkan dengan sedikit air panas kemudia dimasukkan
kedalam mortir

Menimbang gliserin 2,1 g masukkan sedikit demi sedikit, campur ad homogen

Menimbang metil paraben 0,009 g masukkan ke dalam mortir + sisa aquadest


panas, campur dan aduk ad homogen

Menimbang propilen glikol sebanyak 4,5 masukkan ke dalam mortir sedikit


demi sedikit campur ad homogen

Menimbang ekstrak jahe merah 3 g yang sebelumnya sudah dilarutkan dengan


aquadest panas 3 ml, masukkan dalam mortir

Aduk semua bahan dalam mortir hingga homogen dan membentuk masa gel

Dilakukan uji evaluasi

Uji Orgaoleptis Uji Daya Sebar Uji Daya Lekat Uji Homogenitas Uji pH

Masukkan dalam kemasan yang sesuai

16
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Evaluasi
 Organoleptis
Bentuk : Gel (Semisolida)
Warna : Coklat muda
Bau : Khas jahe
Rasa : Tidak berasa
 Uji Ph : 7,23
 Daya Sebar
Tanpa Beban : 1,5 cm
Beban 50 gram : 2,5 cm
Beban 100 gram : 2,8 cm
Beban 150 gram : 3,11 cm
 Uji Homogenitas : Homogen
 Uji Daya Lekat : 3,6 detik

4.2. Pembahasan
Praktikum kali ini dilakukan pembuatan sediaan gel dari ekstrak jahe merah yang
berkhasiat sebagai antiinflamasi dan analgesik serta dilakukan berbagai pengujian atau
evaluasi mutu fisik sediaan.Diantaranya uji organoleptik, uji homogenitas, uji daya lekat, uji
ph dan uji daya sebar. Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil
sediaan krim antiinflamasi dari ekstrak jahe merah yang memiliki konsistensi baik.

Secara organoleptis terlihat bentuk sediaan ini setengah padat, berwarna coklat muda,
dan bau khas jahe. Hasil uji homogenitas dapat dikatakan sediaan krim ini homogen karena
saat dioleskan pada kaca transparan menunjukkan susunan partikel yang tersebar merata
tanpa adanya butir-butir kasar atau tidak adanya pemisahan antara komponen penyusun
emulsi tersebut. Uji homogenitas dilakukan karena termasuk syarat sediaan yang baik.
(Erugan, 2009) Sediaan yang homogen akan memberikan hasil yang baik karena bahan obat
terdispersi dalam bahannya secara merata, sehingga dalam setiap bagian sediaan mengandung
bahan obat yang jumlahnya sama. Jika bahan obat tidak terdispersi merata dalam bahan
dasarnya maka obat tersebut tidak akan mencapai efek terapi yang diinginkan.

Selanjutnya untuk hasil uji pH didapatkan pH 7,23 , dimana pH tersebut tidak


memenuhi persyaratan pH sediaan topikal yaitu antara 5,5 – 6,5. Kulit yang normal memiliki
pH antara 5,5 – 6,5 sehingga sediaan topikal harus memiliki pH yang sama dengan pH
normal kulit tersebut. Sedangkan pH 6,8 tidak memenuhi syarat karena kemungkinan sudah
terjadi kontaminasi pada saat pembuatan sehingga berpengaruh pada pH yang dihasilkan.
Penyebab lain kemungkinan karena bahan baku yang kualitasnya kurang baik. Sediaan

17
topical yang ideal adalah tidak mengiritasi kulit. Kemungkinan iritasi kulit akan sangat besar
apabila sediaan terlalu asam atau terlalu basa (Soetopo, 2002).

Evaluasi daya sebar krim dilakukan untuk mengetahui luasnya penyebaran krim pada
saat dioleskan di kulit, sehingga dapat dilihat kemudahan pengolesan sediaan ke kulit.
Permukaan penyebaran yang dihasilkan dengan menaiknya pembebanan ditujukan untuk
menggambarkan karakteristik daya sebar (Voight, 1994). Dimana luas permukaan yang
dihasilkan berbanding lurus dengan kenaikan beban yang ditambahkan (Purwasari, 2013).
Hasil uji daya sebar menunjukkan diameter penyebaran krim setelah ditutupi dengan kaca
berskala 1,5 cm, setelah ditambahkan beban 50 gram berdiameter 2,5 cm, kemudian
ditambahkan lagi beban 100 gram berdiameter 2,8 cm, dan terakhir ditambahkan beban 150
gram menunjukkan diameter 3,11 cm. Persyaratan daya sebar untuk sediaan topikal yaitu
sekitar 5-7 cm, maka berdasarkan hasil dapat diketahui bahwa sediaan belum memenuhi
syarat daya sebar yang baik. Daya sebar yang baik menyebabkan kontak antara obat dengan
kulit menjadi luas, sehingga absorbsi obat ke kulit berlangsung cepat. Viskositas suatu
sediaan berpengaruh pada luas penyebarannya, semakin rendah viskositas suatu sediaan maka
penyebarannya akan semakin besar sehingga kontak antara obat dengan kulit semakin luas
dan absorbsi obat ke kulit akan semakin cepat. (Maulidaniar dkk, 2011)

Daya lekat bertujuan untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan oleh sediaan untuk
melekat pada kulit, semakin lama waktu yang dibutuhkan maka semakin lama daya kerja
obat. Pada hasil uji daya lekat memiliki nilai daya lekat selama 3,6 detik yang artinya sediaan
gel ini tidak memenuhi syarat, sedangkan syarat waktu daya lekat yang baik untuk sediaan
topikal adalah tidak kurang dari 4 detik. Daya lekat krim dipengaruhi oleh viskositas semakin
tinggi viskositas maka semakin lama waktu melekat krim pada kulit. (Ulaen et al., 2012).

18
BAB V

PENUTUP

19
DAFTAR PUSTAKA

20
LAMPIRAN

Uji Daya Lekat


Uji Daya Sebar

Uji pH

21