Anda di halaman 1dari 5

Perencanaan Sistem Pelabuhan Udara

Proses perencanaan yang sedemikian rumitnya sehingga analisis satu kegiatan harus memperhitungkan
pengaruhnya pada kegiatan yang lain, agar menghasilkan penyelesaian yang memuaskan. Kegiatan suatu
bandara mencakup sekumpulan kegiatan yang luas dan mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda dan
seringkali bertentangan. Kegiatan tersebut saling tergantung satu sama lainnya sehingga suatu kegiatan
tunggal dapat membatasi kapasitas dari keseluruhan kegiatan.
Perencanaan kegiatan bandar udara yang ada saat ini biasanya sudah direncanakan dan
mempertimbangkan kebutuhan di masa yang akan datang. Rencana kegiatan bandara di masa yang akan
datang tersebut dibuat dalam sebuah dokumen yang dinamakan dengan Rencana Induk bandara.
Agar semua upaya perencanaan bandara dimasa datang berhasil dengan baik, maka semua kegiatan yang
dilakukan harus didasarkan kepada pedoman-pedoman yang dibuat dalam sebuah rencana induk.
Sistem bandar udara dibagi menjadi 2 bagian:
1. Sisi darat (landside)
2. Sisi Udara (airside)
Sebagai pemisah dari kedua bagian tersebut adalah terminal.

RENCANA INDUK BANDAR UDARA


Definisi : Konsep pengembangan bandar udara sampai pada tahap ultimate dari suatu bandar udara.
Tujuan dari rencana induk (masterplan): memberikan pedoman bagi pengembangan bandar udara di masa
depan yang akan memenuhi tuntutan penerbangan dan sesuai dengan lingkungan, perkembangan
masyarakat dan cara-cara transportasi lainnya.
Rencana induk ini merupakan pedoman bagi :
1. Pengembangan fasilitas fisik dari suatu bandara
2. Pengembangan lahan di dan sekitar bandara
3. Menetapkan pengaruh-pengaruh konstruksi dan operasi-operasi bandar udara terhadap lingkungan
4. Penetapan kebutuhan jalan masuk
5. Penentapan kelayakan ekonomis dan keuangan dari pengembangan-pengembangan yang diajukan
6. Penetapan jadwal prioritas dan pentahapan bagi perbaikan-perbaikan yang diajukan dalam rencana
induk
Filosofi :
Penyediaan keseluruhan kebutuhan baik bagi pesawat, penumpang, barang, dana investasi yang paling
minimum, penumpang yang maksimum, serta hubungannya dengan lingkungan, kemudahan bagi operator
dan staff penggunan bandara serta hubungannya dengan lingkungan di sekitar bandara sehingga
merupakan kondisi efisien, aman dan nyaman.
Tujuan Umum :
Sebagai pedoman bagi pengembangan bandara di masa mendatang.
Tujuan Khusus:
Sebagai pedoman :
1. Pengembangan fisik & Land use
2. Pengembangan lahan di sekitar bandara
3. Penetapan jalan masuk
4. Penetapan efeknya terhadap lingkungan dari segi konstruksi dan operasi bandara
5. Analisa Biaya Ekonomi dimasa mendatang
Rencana induk (masterplan) minimal harus meliputi unsur-unsur berikut:
1. Ramalan kebutuhan/permintaan yang meliputi proyeksi operasi penerbangan, jumlah penumpang,
volume barang dan lalulintas angkutan darat. Ramalan tidak hanya dibuat untuk ramalan tahunan,
tetapi juga termasuk ramalan pada jam sibuk harian
2. Alternatif pemecahan persoalan, dari kebutuhan yang diramalkan secara memadai dan
memuaskan. Setiap alternatif pemecahan persoalan harus memperhatikan pengaruh-pengaruhnya
terhadap lingkungan, keselamatan dan ekonomi
3. Analisa biaya investasi. Analisa dilakukan terhadap biaya pembangunan, apakah dana yang
dikeluarkan untuk suatu fasilitas bermanfaat, dan apa manfaatnya?. Analisa biaya investasi serta
keuntungannya haruslah termasuk dalam keuntungan langsung maupun tidak langsung sehingga
memberikan banyak pilihan bagi pengambil keputusan untuk bahan pertimbangan.
4. Pengaruh lingkungan dan alternatif mengatasinya. Pengembangan sebuah bandara akan
mengundang minat kalangan luas, pemakai bandara dan penyedia jasa dsb. Dalam tahap
penyusunan rencana induk, pihak-pihak tersebut harus diajak berkonsultasi agar tidak terjadi
ketimpangan dalam isinya.

KEBUTUHAN SEBUAH BANDARA


Langkah awal dalam mempersiapkan rancangan induk sebuah bandara adalah
1. pengumpulan data dari fasilitas lapangan terbang yang sudah ada dan usaha-usaha merancang
pada areal yang luas
2. Konsultasi dengan pihak-pihak terkait (Ditjenud, Pemda, Perusahaan penerbangan dan stakeholder
lainnya)
3. Mengumpulkan data-data operasional terutama data lalulintas pesawat, penumpang, barang dan
pos yang diangkut dengan pesawat
4. Melakukan kajian (review) peraturan-peraturan penerbangan yang berlaku, baik nasional maupun
internasional (ICAO, FAA dll)
5. Pengumpulan data sosio ekonomi (jumlah penduduk, aktivitas ekonomi dan tata guna lahan
sebagai dasar pertimbangan dalam melakukan peramalan fasilitas apa saja yang dibutuhkan dan
besarannya.
KEBUTUHAN FASILITAS
Fasilitas pada suatu bandara :
1. Landing Movement (LM)
2. Terminal Area, dan
3. Air Traffic Control (ATC)
Landing Movement :
1. Runway (landas pacu)
2. Taxiway (penghubung landas pacu)
3. Apron (tempat parkir pesawat

Terminal Area :
Merupakan areal utama yang mempunyai interface antara lapangan udara dan bagian-bagian dari bandara
yang lain (fasilitas pelayanan penumpang (passenger handling system), penanganan barang kiriman
(cargo handling), perawatan dan administrasi bandara.

Air Traffic Control (ATC) :


Merupakan fasilitas pengatur lalu lintas udara dengan berbagai peralatannya seperti sistem radar dan
navigasi.

PEMILIHAN LOKASI BANDARA


Beberapa faktor / kriteria dalam pemilihan lokasi bandar udara :
1. Tipe pengembangan lingkungan sekitar
2. Kondisi atmosfir
3. Kemudahan untuk mendapatkan transportasi darat
4. Tersedianya lahan untuk pengembangan
5. Adanya lapangan terbang lain
6. Halangan sekeliling (surrounding obstruction)
7. Pertimbangan ekonomis
8. Tersedianya utilitas (PLN, PAM, Telepon, Depo BBM dll)
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UKURAN BANDAR UDARA
1. Karakteristik dan ukuran pesawat yang direncanakan menggunakan bandara tersebut
2. Perkiraan volume penumpang
3. Kondisi meteorologi (angin dan temperatur)
4. Ketinggian dari muka air laut (mean sea level)

Bagian 1 : Perencanaan Bandara


“Sebelum mempelajari suatu ilmu, dalam hal ini perencanaan bandar udara. Ada baiknya kita harus
mempelajari atau setidaknya mengetahui beberapa aturan mengenai perencanaan tersebut…”
Itulah kalimat pertama yang saya dengar lewat dosen mata kuliah tersebut. Hal ini tentu menjadi
perhatian saya. Mengingat bahwa banyak sekali mata kuliah, baik ilmu teknik maupun non-teknik yang
dalam pengajarannya langsung kepada konsep. Ini adalah nilai kurang dari sistem pengajaran kita. Oleh
karena itu ada baiknya saya menuliskan pengertian Bandar Udara dari peraturan.

Menurut PP Menteri Perhubungan No. 11 Tahun 2010 pasal 1 ayat 1 menyebutkan pengertian dari
Pelabuhan Udara, yaitu “Bandar Udara adalah kawasan di daratan dan/atau perairan dengan batas-
batas tertentu yang digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat dan lepas landas, naik turun
penumpang, bongkar muat barang, dan tempat perpindahan intra dan antarmoda transportasi yang
dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan, serta fasilitas pokok dan fasilitas
penunjang lainnya, yang terdiri atas bandar udara umum dan bandar udara khusus yang selanjutnya
bandar udara umum disebut dengan Bandar Udara.”
(download PP Menteri Perhubungan No.11 Tahun 2010, klik di sini.)
(download Peraturan DirJen Perhubungan Udara No. SKEP/77/VI/2005 tentang Persayaratan
Teknis Pengoperasian Fasilitas Teknik Bandar Udara, klik disini.)
Standar Bandar Udara :
1. ICAO (International Civil Aviation Organization) PBB.
2. FAA (Federal Aviation Asosiation) USA.
Tipe pesawat terbang
Setiap Bandara yang sering kita lihat. Banyak sekali tipe pesawat terbang yang take off maupun landing.
Perlu pembaca ketahui bahwa sebenarnya tipe pesawat terbang inilah yang menentukan perencanaan
Bandara yang akan kita buat. Baik dari perencanaan dari segi geometric, geoteknis dan lainnya seperti
perencanaan wajib Bandara yang meliputi rynway, taxiway dan apron. Intinya adalah setiap kita
melakukan perencanaan Bandara, maka kita harus menentukan dahulu tipe pesawat terbang apa yang
akan kita ambil untuk bisa dipergunakan di Bandara tersebut. Hal ini juga tidak terlepas dari studi
kelayakan yang kita lakukan.
Yang paling banyak diminati adalah jenis Boeing dan Airbus. Untuk perintis biasa menggunakan
pesawat-pesawat kecil yang berkapasitas 10-35 penumpang.
Jenis-jenis pesawat terbang bisa ditinjau dari beberapa hal, yakni :
 Ditinjau dari kegunaannya
 Ditinjau dari jumlah wing
 Ditinjau dari bentuk wing
 Ditinjau dari bentuk stabilizer
 Ditinjau dari alat pendaratannya
 Ditinjau dari jumlah mesin
Karakteristik pesawat terbang
Menurut Sartono (1992) karakteristik pesawat terbang yang berhubungan dengan perancangan lapis keras
bandara antara lain:
 Beban pesawat
 Konfigurasi roda pendaratan utama pesawat
. Beban Pesawat
Beban pesawat diperlukan untuk menentukan tebal lapis keras Landing Movement yang dibutuhkan.
Beberapa jenis beban pesawat yang berhubungan dengan pengoperasian pesawat antara lain:
1. Berat kosong operasi (Operating Weight Empty = OWE); adalah Beban utama pesawat, termasuk
awak pesawat dan konfigurasi roda pesawat tetapi tidak termasuk muatan (payload) dan bahan
bakar.
2. Muatan (Payload); adalah beban pesawat yang diperbolehkan untuk diangkut oleh pesawat sesuai
dengan persyaratan angkut pesawat. Biasanya beban muatan menghasilkan pendapatan (beban
yang dikenai biaya). Secara teoritis beban maksimum ini merupakan perbedaan antara berat bahan
bakar kosong dan berat operasi kosong.
3. Berat bahan bakar kosong (Zero Fuel Weight = ZFW); adalah beban maksirnum yang terdiri dan
berat operasi kosong, beban penumpang dan barang.
4. Berat Ramp maksimum (Maximum Ramp Weight = MRW); adalah beban maksimum untuk
melakukan gerakan, atau berjalan dari parkir pesawat ke pangkal landas pacu. Selama melakukan
gerakan ini, maka akan terjadi pembakaran bahan bakar sehingga pesawat akan kehilangan berat.
5. Berat maksimum lepas landas (Maximum Take Off Weight = MTOW); adalah beban maksimum
pada awal lepas landas sesuai dengan bobot pesawat dan persyaratan kelayakan penerbangan.
Beban ini meliputi berat
6. Berat maksimum pendaratan (Maximum Landing Weight = MLW); adalah beban rnaksimum
pada saat roda pesawat menyentuh lapis keras (mendarat) sesuai dengan bobot pesawat dan
persyaratan kelayakan penerbangan.
Karakteristik perencanaan Bandar Udara :
1. ARFL (Aeroplane Reference Field Length);
2. ARC (Aerodrome Reference Code):
3. Wingspan;
4. OMGWS (Outer Main Gear Wheel Span);
5. Fuselage Length;
6. Wheel Base;
7. Berat pesawat;
8. Keperluan bahan bakar.