Anda di halaman 1dari 4

Bab I

Pendahuluan

1.1.Latar Belakang
Menurut WHO, sekitar 47% populasi dewasa di dunia setidaknya pernah mengalami
satu kali nyeri kepala dalam satu tahun. Perdossi mendefinisikan nyeri kepala sebagai
suatu rasa nyeri atau rasa yang tidak enak pada daerah kepala, termasuk meliputi daerah
wajah dan tengkuk leher. Nyeri kepala merupakan keluhan yang umum dialami oleh
masyarakat.1
Penelitian Analia RL, Michelle DM, Celita S. menunjukkan gejala nyeri kepala
mempunyai prevalensi yang tinggi di seluruh dunia, dengan kira-kira 33% dewasa muda
mengeluh gejala ini, 30% pada usia di atas 65 tahun, dan hampir 2% pada usia 85 tahun.2
Penelitian Stovner et al. menunjukkan bahwa prevalensi nyeri kepala adalah 66%.
Nyeri kepala menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat. Nyeri kepala dapat
mengganggu aktivitas sehari-hari (activities of daily living atau ADL), menurunkan
kualitas hidup, dan meningkatkan beban ekonomi. Seseorang dapat mengalami hambatan
dalam menjalani aktivitas bila tengah mengalami nyeri kepala.3
Penelitian Vinding et al. menunjukkan bahwa terjadi penurunan produktivitas kerja
saat mengalami nyeri kepala. Sebanyak 81% responden pada penelitian itu mengalami
penurunan produktivitas kerja sebanyak lebih dari 20% dan 90% responden menyatakan
tidak hadir bekerja setidaknya satu hari dalam setahun dikarenakan nyeri kepala. Selain
itu, 94% responden pada penelitian itu menyatakan nyeri kepala mengganggu aktivitas
pekerjaan rumah, 96% responden menyatakan nyeri kepala mengganggu aktivitas sosial,
dan 91% responden menyatakan nyeri kepala mengganggu hubungan antar anggota
keluarga.4
Penelitian Linde et al. menunjukkan bahwa biaya yang disebabkan oleh nyeri kepala,
baik langsung (obat-obatan, biaya rawat jalan, rawat inap, dan pemeriksaan penunjang)
maupun tidak langsung (ketidakhadiran dan berkurangnya produktivitas di tempat kerja),
tidaklah sedikit. 5
Nyeri kepala juga menduduki komposisi jumlah pasien terbanyak yang datang berobat
jalan ke dokter saraf, hasil pengamatan yang didapatkan bahwa insidensi jenis penyakit
dari praktek klinik di Medan pada tahun 2003 didapatkan 10 besar penyakit yang berobat
jalan, dimana sefalgia menduduki peringkat pertama dengan presentase jumlah 42%.6

1
Nyeri kepala disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya tekanan darah. Tekanan
darah merupakan faktor yang sangat penting pada sistem sirkulasi. Terdapat dua macam
kelainan tekanan darah antara lain yang dikenal sebagai hipertensi atau tekanan darah
tinggi dan hipotensi atau tekanan darah rendah. Penelitian Roman menyatakan prevalensi
kejadian hipotensi secara umum di perkirakan 5% sampai dengan 34% dan memiliki
kecenderungan meningkat pada usia 17-19 tahun. Prevalensi lebih tinggi yaitu lebih dari
50% kejadian hipotensi terjadi pada lanjut usia.7
SKRT tahun 1986 penyakit hipertensi di Indonesia menduduki uratan ke tiga, sejak
SKRT 2001, posisinya telah mencapai urutan pertama dan bertahan sampai sekarang.
Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 prevalensi hipertensi di Indonesia sangat tinggi, yaitu
31,7 % dari total penduduk dewasa. Sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum
terdeteksi. Penyakit hipertensi menimbulkan kecacatan permanen, kematian mendadak
dan yang berakibat sangat fatal.8

1.2.Rumusan Masalah
1.2.1. Nyeri kepala mempunyai prevalensi yang tinggi di seluruh dunia.
1.2.2. Nyeri kepala dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan kualitas
hidup, dan meningkatkan beban ekonomi.
1.2.3. Terjadi penurunan produktivitas kerja saat mengalami nyeri kepala.
1.2.4. Nyeri kepala menduduki komposisi jumlah pasien terbanyak yang datang
berobat.
1.2.5. Prevalensi hipertensi di Indonesia sangat tinggi, yaitu 31,7 % dari total
penduduk dewasa.
1.2.6. Penyakit hipertensi menimbulkan kecacatan permanen, kematian mendadak dan
yang berakibat sangat fatal.
1.2.7. Prevalensi kejadian hipotensi di perkirakan 5% sampai 34% dan memiliki
kecenderungan meningkat pada usia 17-19 tahun.

1.3.Hipotesis
Terdapat hubungan antara tekanan darah sistolik dan diastolik dengan keluhan sefalgia.

1.4.Tujuan
1.4.1 Tujuan Umum

2
Mengetahui adanya hubungan antara tekanan darah sistolik dan diastolik dengan
keluhan sefalgia.
1.4.2 Tujuan Khusus
1.4.2.1 Diketahuinya sebaran pasien yang mengeluhkan sefalgia di Puskesmas
Kelurahan Grogol 2 bulan November 2017.
1.4.2.2 Diketahuinya sebaran antara umur dengan keluhan sefalgia di Puskesmas
Kelurahan Grogol 2 bulan November 2017.
1.4.2.3 Diketahuinya sebaran antara jenis kelamin dengan keluhan sefalgia di
Puskesmas Kelurahan Grogol 2 bulan November 2017.
1.4.2.4 Diketahuinya sebaran antara tekanan darah sistolik dengan keluhan sefalgia
di Puskesmas Kelurahan Grogol 2 bulan November 2017.
1.4.2.5 Diketahuinya sebaran antara tekanan darah diastolik dengan keluhan sefalgia
di Puskesmas Kelurahan Grogol 2 bulan November 2017.
1.4.2.6 Diketahuinya sebaran antara obesitas dengan keluhan sefalgia di Puskesmas
Kelurahan Grogol 2 bulan November 2017.
1.4.2.7 Diketahuinya sebaran antara stres dengan keluhan sefalgia di Puskesmas
Kelurahan Grogol 2 bulan November 2017.
1.4.2.8 Diketahuinya sebaran antara kurang tidur dengan keluhan sefalgia di
Puskesmas Kelurahan Grogol 2 bulan November 2017.
1.4.2.9 Diketahuinya sebaran antara pemakaian alat elektronik dengan keluhan
sefalgia di Puskesmas Kelurahan Grogol 2 bulan November 2017.
1.4.2.10 Diketahuinya sebaran antara pekerjaan dengan keluhan sefalgia di
Puskesmas Kelurahan Grogol 2 bulan November 2017.

1.5. Manfaat
1.5.1 Bagi peneliti
a. Memperoleh pengalaman belajar dan pengetahuan dalam melakukan
penelitian
b. Meningkatkan kemampuan komunikasi dengan masyarakat pada umumnya
dan pemuka masyarakat pada khususnya
c. Menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh saat kuliah
d. Mengembangkan daya nalar, minat dan kemampuan dalam bidang penelitian
e. Melatih bekerja sama dalam tim
1.5.2 Bagi perguruan tinggi

3
a. Mengamalkan Tri Darma Perguruan Tinggi dalam melaksanakan fungsi
sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan
pengabdian masyarakat.
b. Mewujudkan UKRIDA sebagai masyarakat ilmiah dalam peran sertanya di
bidang kesehatan.
c. Meningkatkan saling pengertian dan kerja sama antara mahasiswa dan staf
pengajar.
1.5.3 Bagi Puskesmas
a. Sebagai salah satu masukan sebagai bahan informasi bagi petugas kesehatan
khususnya dokter puskesmas.
b. Dengan mengetahui hubungan tekanan darah dengan keluhan sefalgia dapat
dijadikan sebagai salah satu upaya pencegahan nyeri kepala dan
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

1.5.4. Bagi Masyarakat


a. Dengan mengetahui hubungan tekanan darah dengan nyeri kepala dapat
dijadikan sebagai salah satu upaya pencegahan sefalgia.