Anda di halaman 1dari 17

FIBRINOLISIS

I. DEFINISI FIBRINOLISIS
Fibrinolisis adalah proses penghancuran deposit fibrin oleh system fibrinolotik
sehingga aliran darah akan terbuka kembali. Sistem fibrinolitik merupakan system enzim
multikomponen yang menghasilkan pembentukan enzim aktif plasmin. Plasmin
menyebabkan degradasi fibrin, meningkatkan jumlah produk degradasi fibrin yang terlarut.
 Sistem fibrinolitik terdiri dari tiga komponen utama yaitu :
a. Plasminogen
b. Aktivator plasminogen
c. Inhibitor plasmin.
 Aktivasi plasminogen terjadi melalui 3 jalur yang berbeda yaitu:
a. Jalur instrinsik
Jalur instrinsik melibatkan F.XII, prekalikrein dan HMWK. Aktivasi F.XII menjadi F.XIIa
yang akan mengubah prekalikrein menjadi kalikrein dengan adanya HMWK. Kaalikrein
yang terbentuk akan mengaktifkan plasminogen menjadi plasmin, juga mengubah F.XII
menjadi F.XIIa.
b. Jalur ekstrinsik
Pada jalur ekstrinsik aktivator yang terdapat di dalam jaringan atau endotel pembuluh darah
akan dilepaskan ke dalam darah bila terdapat amin vasoaktif dan protein C.
c. Jalur eksogen
Aktivator eksogen contohnya adalah urokinase yang dibentuk ginjal dan dieksresi bersama
urin, dan streptokinase yang merupakan produk streptokokus beta hemolitikus.

II. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FIBRINOLISIS


1. Usia
Proses fibrinolisis pada anak dan dewasa lebih cepat daripada orang tua. Orang tua lebih
sering terkena penyakit kronis, penurunan fungsi hati dapat mengganggu sintesis dari factor
pembekuan darah.
2. Merokok
Merokok dapat menaikkan fibrinogen darah, menambah agregasi trombosit, menaikkan
hematokrit dan viskositas darah.
3. Aktivitas fisik
Pengaruh aktivitas fisik terhadap keseimbangan hemostasis pertama kali diamati oleh
John Hunter pada tahun 1794 dimana ia menemukan darah hewan yang tidak membeku
setelah lari jarak jauh. 150 tahun kemudian dilakukan penelitian ilmiah oleh Bigss dkk pada
tahun 1947 dimana ditemukan bahwa latihan fisik memacu aktivitas fibrinolisis darah.
Darah akan mengalami hiperkoagulasi (lebih encer) setelah seseorang mengadakan
aktivitas fisik. Ini disebabkan peningkatan aktivitas 2 faktor yang dapat membuat darah
lebih encer yaitu : koagulan factor VIII dan APTT ( activated Partial Prothrombin Time).
Untuk memacu hiperkoagulasi, factor VIII harus meningkat banyak, sedangkan APTT harus
mengalami pemendekan.
III. MEKANISME FIBRINOLISIS
Seperti kita ketahui sebagian besar plasminogen terikat pada fibrin dan sebagian lagi
terdapat bebas di dalam plasma. Apabila plasminogen tersebut diaktifkan, akan terbentuk
plasmin bebas dan plasmin yang terikat fibrin. Plasmin bebas akan dinetralkan oleh
antiplasmin. Apabila plasmin bebas terdapat dalam jumlah berlebihan sehingga melebihi
kapasitas antiplasmin, maka plasmin bebas tersebut akan memecah fibrinogen, F.V dan
F.VIII. Plasmin merupakan enzim proteolitik yang akan memecah fibrin menjadi fragmen-
fragmen yang disebut fibrin degradation product atau FDP. Mula-mula fibrinogen diubah
menjadi fragmen X dengan memindah ikatan C-terminal pada 42 asam amino di rantai ß,
yang selanjutnya terpecah dan membentuk fragmen Y. Fragmen Y akan dipecah oleh
plasmin menjadi fagmen D dan E. dan dua fragmen D inilah yang selanjutnya dikenal
dengan nama D-dimer.D-dimer adalah produk degenerasi fibrin yang berguna untuk
mengetahui abnormalitas pembentukan bekuan darah atau kejadian trombotik dan untuk
menilai adanya pemecahan bekuan atau proses fibrinolitik.
Pada umumnya FDP merupakan inhibitor pembekuan darah terutama fragmen Y yaitu
dengan cara menghambat kerja trombin dan menghambat polimerisasi fibrin. Selain itu, FPD
juga mengganggu fungsi trombosit. Pada proses selanjutnya FDP akan dibersihkan dari
sirkulasi darah oleh hati dan RES. Dengan cara ini, fibrinolisis secara enzimatis mengatur
pembentukan fibrin sewaktu terbentuk di tempat pengendapan fibrin. Dalam hal ini,
fibrinolisis adalah bagian yang amat integral pada hemostasis normal. Plasmin memiliki
afinitas tinggi terhadap fibrinogen dan fibrin. Pembentukan plasmin terjadi dari plasminogen
protein plasma inaktif, dan proses ini dipicu oleh activator plasminogen. Activator –
activator ini dapat dirangsang oleh factor Hageman aktif (factor XIIa) dalam sistem
koagulasi, kalikrein, dan activator plasminogen lain yang dibebaskan oleh berbagai jaringan.
Aktivator plasminogen merupakan enzim proteolitik, kecuali streptokinase yang akan
mengikat plasminogen membentuk kompleks streptokinase-plasminogen yang mempunyai
aktivitas sebagai aktivator plasminogen. Activator plasminogen jaringan (tPA) mempunyai
afinitas tinggi terhadap fibrin. Suatu activator plasminogen jaringan (tPA) spesifik yang
dibebaskan di tempat kerusakan pembuluh darah mungkin merupakan activator paling
penting, mengubah plasminogen menjadi plasmin di dalam bekuan fibrin di tempat cedera.
Activator ini memiliki afinitas sangat tinggi terhadap fibrin dan bukan fibrinogen, sehingga
pengaktifan fibrinolisis terlokalisasi di dalam bekuan dan tidak di dalam darah yang
bersirkulasi. Plasma normal mengandung 10 sampai 20 mg/dl zat prekusor plasminogen.
Inhibitor plasmin adalah substansi yang dapat menetralkan plasmin dan disebut sebagai
antiplasmin. Bermacam-macan antiplasmin terdapat didalam plasma, seperti alfa-2 plasmin
inhibitor, alfa-2 makroglobulin, alfa-1 antitripsin dan AT. Yang kerjanya paling cepat adalah
alfa-2 plasmin inhibitor.Saat ini telah dikenal inhibitor yang bekerja terhadap aktivator
plasminogen yang disebut plasminogen activator inhibitor atau PAI, yang diberi nomer urut
oleh Internasional Committee on Trombosis and Haemostasis. PAI-1 atau endothelial cell-
type PAI adalah suatu glikoprotein yang disintesis oleh sel endotel. Di samping itu PAI-1
juga disintesis oleh kultur sel hati, sel melanoma, fibroblast paru-paru, sel fibrosarkoma, sel
granulose dan sel otot polos.
Di dalam trombosit inhibitor ini juga ditemukan di dalam granula alfa dan akan
dikeluarkan pada proses pelepasan. PAI-1 bekerja menghambat urokinase dan t-PA . Kadar
PAI-1 yang tinggi dijumpai pada beberapa kedaan seperti trombosit vena profunda, penyakit
jantung koroner dan pasca bedah, sehingga diduga PAI-1 ikut berperan dalam peningkatan
risiko trombosis pada keadaan ini. PAI-2 disintesis oleh plasenta dan bereaksi dengan t-PA
maupun urokinase. Inhibitor ini juga ditemukan pada granulosit, monosit dan makrofag.
PAI-3 ditemukan dalam urin dan identik dengan inhibitor terhadap protein C aktif. Inhibitor
lain adalah protease nexin 1 yang ditemukan dalam fibroblast, sel otot jantung dan epitel
ginjal.

IV. D-DIMER
D-dimer adalah produk akhir degenerasi cross-linked fibrin oleh aktivitas kerja plasmin
dalam sistem fibrinolitik. Sejak 1990, tes D-dimer digunakan untuk pemeriksaan trombosis.
Hasil pemeriksaan yang positif menunjukkan adanya trombus, namun tidak dapat
menunjukkan lokasi kelainan dan menyingkirkan etiologi-etiologi potensial lain.
Dalam proses pembentukan bekuan normal, bekuan fibrin terbentuk pada tahap terakhir
proses koagulasi. Fibrin dihasilkan oleh aktivitas trombin yang memecahfibrinogen menjadi
fibrin monomer. Fibrinogen adalah glikoprotein dengan formula Aα, Bβ, γ. Terdiri dari 3
pasang rantai polipeptida yang tidak identik dan saling beranyaman yaitu 2 rantai Aα, 2 Bβ,
dan 2γ. Molekul fibrinogen adalah dimer yang diikat oleh ikatan disulfida pada
bagian terminal end. Pasangan rantai Aα dan Bβ memiliki fibinopolipeptida berukuran kecil
pada bagian terminal yang disebut sebagai fibrinopolipeptida A dan B.
Proses perubahan fibrinogen menjadi fibrin terdiri dari 3 tahap yaitu tahap enzimatik,
polimerisasi dan stabilisasi. Pada tahap enzimatik, 2 molekul fibrinopeptida A dan 2 molekul
fibrinopeptida B dipecah dan fibrinogen diubah oleh trombin menjadi monomer fibrin yang
larut. Tahap polimerisasi, fibrinopolipeptida A dilepas yang akan menimbulkan
agregasi side to side disusul dengan pelepasan fibrinopeptida B yang mengadakan kontak
dengan unit-unit monomer dengan lebih kuat dan membentuk bekuan yang tidak stabil.
Tahap selanjutnya adalah stabilisasi dimana ada penambahan trombin, faktor XIIIa dan ion
kalsium (Ca2+) sehingga terbentuk unsoluble fibrin yang stabil.
Trombin menyebabkan aktivasi faktor XIII menjadi XIIIa yang berperan sebagai
transamidinase. Faktor XIIIa menyebabkan ikatan silang (cross-linked) fibrin monomer yang
saling berdekatan dengan membentuk ikatan kovalen yang stabil (fibrin Mesh). Rantai α dan
γ berperan dalam pembentukan unsoluble fibrin yang stabil.
Plasminogen yang secara normal terdapat dalam plasma akan diserap oleh fibrin. Saat di
dalam fibrin, plasminogen diubah oleh tissue-plasminogen activator (tPA) menjadi plasmin.
Plasmin merupakan enzim fibrinolitik utama yang berfungsi memecah fibrinogen dan
fibrin yang menghasilkan bermacam-macam produk degenerasi fibrinogen (Fibrin
Degradation Product / FDP). Jika plasmin melisiskan unsoluble fibrin, maka akan
meningkatkan jumlah produk degradasi fibrin yang terlarut. Fibrin degradation
product (FDP) yang dihasilkan berupa fragmen X, Y, D dan E. Dua fragmen D dan satu
fragmen E akan berikatan dengan kuat membentuk D-dimer.
Pemeriksaan D-dimer bermanfaat untuk mengetahui pembentukan bekuan darah yang
abnormal atau adanya kejadian trombotik (indirek) dan untuk mengetahui adanya lisis
bekuan atau proses fibrinolitik (direk). Hasil pemeriksaan kadar D-dimer memiliki nilai
sensitifitas dan nilai ramal negatif yang tinggi untuk dua keadaan tersebut.
V. INDIKASI PEMERIKSAAN KADAR D-DIMER
Pengukuran D-dimer diindikasikan apabila:
1. Ada dugaan thrombosis vena dalam (deep vein thrombosis, DVT)
2. Emboli paru (pulmonary embolus/embolisme, PE)
3. Pembekuan intravaskuler menyeluruh (disseminated intravascular coagulation, DIC)
4. Arterial tromboemboli
5. Infark myocard
6. Gagal ginjal atau gagal hati

VI. FIBRINOLISIS PRIMER DAN SEKUNDER


Fibrinolisis sekunder adalah pembentukan fibrin yang diikuti dengan proses
penghancuran fibrin oleh plasmin. Sedangkan Fibrinolisis primer adalah proses
penghancuran fibrinogen oleh plasmin.
Fibrinolisis primer atau fibrinogenolisis adalah proses penghancuran fibrinogen. Hal ini
merupakan akibat masuknya activator plasminogen ke dalam darah secara berlebihan
sehingga plasmin yang terbentuk melampaui kemampuan antiplasmin untuk
meanetralkannya. Selain menghancurkan fibrinogen, plasmin juga menghancurkan factor V
dan VII. Akibat proses penghancuran tersebut, maka terjadi penurunan kadar fibrinogen,
factor V dan VII serta peningkatan kadar FDP.
Pada pemeriksaan laboratorium akan dijumpai aktivitas fibrinolisis sangat meningkat.
Pemeriksaan penyaring yang paling sederhana ialah masa lisis bekuan darah. Normal bekuan
darah akan lisis ada 48 jam. Bila dalam waktu 8 jam atau kurang telah terjadi lisis berarti ada
aktivitas fibrinolisis yang berlebihan. Pemeriksaan penyaring yang lain ialah masa lisis
bekuan euglobulin. Fraksi euglobulin dalam pasma mengandung plasminogen, activator
plasminogen, plasmin dan fibrinogen. Dalam keadaan normal bekuan euglobulin akan
mengalami lisis setelah 2 jam. Lisis yang sempurna terjadi dalam waktu kurang dari 2 jam
menunjukan adanya aktivitas fibrinolisis juga dapat diperiksa dengan peningkatan kadar
FDP, penurunan aktivitas plasminogen dan antiplasmin serta adanya kompleks plasmin-
antiplasmin. Dalam hal ini tidak akan dijumpai fragmen D-dimer, sebab yang dipecah oleh
plasmin adalah fibrinogen.
Selain kelainan tersebut diatas akan dijumpai pemanjangan masa thrombin, sedangkan
PT dan APTT tidak selalu memanjang. Penurunan jumlah trombosit tidak dijumpai kecuali
terdapat keadaan lain yang menyebabkan hal ini. Demikian pula tidak akan dijumpai adanya
penurunan aktivitas AT, tidak dijmpai adanya fibrinopeptida A dan tesparakoagulasi
hasilnya negative. Juga tidak dijumpai adanya sel burr dan fragmentosit pada sediaan hapus
darah tepi karena tidak ada mikrotrombi.

VII. PENGUKURAN D-DIMER


Prinsip pemeriksaan D-dimer adalah dengan menggunakan antibody monoklonal
yang mengenali epitop pada fragmen D-dimer. Ada beberapa metode pemeriksaan
yaitu Enzym Linked Immunosorbent Assay (ELISA), Latex Agglutination (LA) dan Whole
Blood Agglutination (WBA).
Metode ELISA dianjurkan untuk dipakai sebagai baku emas pemeriksaan.
Sensitivitas dan nilai ramal negatif untuk D-dimer berkisar 90 %.57 Antibodi dengan
afinitas tinggi terhadap D-dimer dilapiskan pada suatu dinding atau microliter well dan
mengikat protein dalam plasma. Antibodi kedua ditambahkan dan jumlah substansi berlabel
yang terikat secara langsung sepadan dengan D-dimer yang diukur. Tes rapid
ELISA menunjukan sensitivitas mirip metode ELISA konvensional.30,57
Metode Latex agglutination menggunakan antibodi yang dilapiskan pada partikel
latex. Aglutinasi secara makroskopik terlihat bila ada peningkatan D-dimer dalam plasma.
Cara ini kurang sensitif untuk uji saring.30 Latex agglutination yang dimodifikasi dengan
menggunakan analyzer automatik dapat dipakai untuk mengukur Ddimer secara kuantitatif
dengan menilai sensitivitas 98 – 100 %.56 Contohnya adalah Latex enhanced turbidimetric
test. Prinsip metode ini adalah terbentuknya ikatan kovalen partikel polystyrene pada suatu
antibodi monoklonal terhadap cross-linkage region dari D-dimer. Cross-linkage tersebut
memiliki struktur stereosimetrik. Reaksi aglutinasi yang terjadi dideteksi dengan
menggunakan turbidimetri. Hasil metode ini sebanding metode ELISA konvensional.

Bahan Pemeriksaan D-dimer


Sampel darah vena yang dimasukan ke dalam vacutainer plastik berkapasitas volume
2,7 mL yang mengandung sodium citras dengan kadar 0,109 M (9:1). Dikirim ke
laboratorium tanpa perlakuan khusus. Sampel disentifugasi untuk mendapatkan supernatan
untuk dilakukan pemeriksaan kadar D-dimer. Supernatan dapat disimpan pada suhu -20 0C
yang stabil sampai 1 bulan.

Interpretasi hasil tes D-dimer


Hasil pemeriksaan kadar D-dimer secara kuantitatif dinyatakan dalam satuan μg/L.
Nilai cut off D-dimer dengan metode latex agglutination adalah 500 μg/L. Kadar D-dimer
yang lebih dari nilai normal rujukan menunjukkan adanya produk degradasi fibrin dalam
kadar yang tinggi; mempunyai arti adanya pembentukan dan pemecahan trombus dalam
tubuh. Kadar D-dimer yang normal dapat digunakan untuk menyingkirkan diagnosis
banding gangguan pembekuan darah sebagai penyebab dari gejala klinik yang ada.
ANTITHROMBIN
Antithrombin (AT) adalah molekul protein kecil yang menginaktifasi beberapa
sistem koagulasi. AT adalah glikoprotein dengan berat molekul 58 kDa yang diproduksi oleh
hati dan sel endotel, terdiri dari 432 asam amino, berisi tiga ikatan disulfida. α-antithrombin
adalah bentuk dominan dari antithrombin ditemukan 90% dalam plasma darah. Sedangkan
β-antithrombin ditemukan kira-kira 10% dalam plasma darah.

Mekanismenya memblok pembekuan darah dengan menonaktifkan protein "trombin".


Oleh karena itu, disebut "anti-thrombin". Sementara antithrombin III adalah nama asli yang
diberikan untuk protein ini, nama yang benar sekarang ini hanya antithrombin, dengan
menghilangkan angka "III". Nama-nama lain dan singkatan dari antithrombin ialah
antithrombin III, AT, AT III, dan heparin kofaktor I.

Beberapa perbedaan aktifitas AT pada plasma telah dilaporkan pertama kali pada
pertengahan abad 20, disebutkan klasifikasi dari AT I - IV. AT I mengacu pada penyerapan
trombin ke fibrin setelah trombin mengaktifkan fibrinogen. AT II mengacu pada kofaktor
dalam plasma, yang bersama-sama dengan heparin mengganggu interaksi trombinfibrinogen.
AT III mengacu pada suatu zat dalam plasma yang menonaktifkan trombin. AT IV mengacu
pada antithrombin yang diaktifkan selama dan segera setelah pembekuan darah. Kemudian
setelah mempertunjukkan berbagai macam aktivitas AT ini, fungsi sebenarnya adalah dari
satu molekul AT III, yang namanya telah dipendekkan hanya “antithrombin” ditetapkan pada
“Meeting of the International Society on Thrombosis and Haemostasis” tahun 1993.

2.1.1. Fisiologi dan Biokimia Antithrombin

AT adalah serin protease inhibitor, antikoagulan alami yang menghambat thrombin


(IIa), faktor Xa dan juga menghambat faktor IXa, XIa, XIIa, kallikrein dan plasmin.
Konsentrasi AT pada plasma normal adalah 150 µg/ml dan waktu paruh plasma sekitar 2 - 3
hari. 4,5,16,17,18 Pengkodean gen AT terletak pada kromosom 1 (q23-25) dan berbagai
mutasi telah diidentifikasi pada individu dengan defisiensi AT dan trombosis vena.

Gambar 2.1. Struktur Gen Antithrombin


Sumber : Kottke-Marchant K
Gambar 2.2. Skema Sistem Hemostasis
Sumber : Axelsson Frank

2.1.2. Aktivitas Antithrombin

AT melindungi dari koagulasi darah yang terlalu banyak. Jika kadar AT rendah, darah
seseorang akan memiliki kecenderungan untuk koagulasi lebih mudah. Jika kadar AT terlalu
tinggi, seseorang dapat secara teoritis memiliki kecenderungan pendarahan. Namun
peningkatan kadar AT tampaknya tidak menyebabkan perdarahan atau tidak memiliki
signifikansi klinis.
Aktivitas endogen AT sangat dipotensiasi oleh keberadaan proteoglikan yang bersifat
asam seperti heparin. Zat ini terikat dengan tempat kationik spesifik pada AT dengan
menginduksi perubahan bentuk dan meningkatkan pengikatannya pada trombin disamping
substrat lainnya.
Ada juga beberapa kondisi dimana AT seseorang menurun, tetapi kadarnya kembali
normal setelah kondisi sembuh. Jika kadar AT diukur pada saat terjadi koagulasi akut atau
saat diberikan heparin, kadarnya akan menurun untuk sementara. Namun kadar AT biasanya
kembali normal setelah pasien pulih (dalam beberapa hari - minggu) atau ketika heparin
dihentikan. Ini penting diketahui untuk menghindari diagnosis yang salah "defisiensi AT "
jika ditemukan kadar AT yang rendah.

2.1.3. Kompleks trombin-antithrombin (TAT) dan pengaruhnya


terhadap pemeriksaan kadar aktivitas Antithrombin (AT)

Jika terjadi aktivasi koagulasi maka akan terbentuk trombin dari protrombin dengan
melepaskan fragmen protrombin 1 dan 2 (F 1.2). Trombin akan diikat oleh antithrombin
sehingga terbentuk kompleks trombin-antithrombin (TAT). Trombin juga akan mengubah
fibrinogen menjadi fibrin monomer dengan melepaskan fibrinopeptida A dan B (FPA dan
FPB). Fibrin monomer akan mengalami polimerisasi membentuk fibrin polimer yang
selanjutnya oleh pengaruh F XIII akan terjadi ikatan silang sehingga terbentuk croos-linked
fibrin. Kemudian plasmin akan memecah
cross-linked fibrin menghasilkan D-dimer. Oleh karena itu parameter yang dapat dipakai
sebagai petanda aktivasi koagulasi adalah F1.2, TAT, fibrin monomer, FPA dan D-dimer.

Selanjutnya untuk mencari faktor risiko trombus/fibrin formation salah satu


pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan aktivitas AT. AT berperan penting
dalam pengaturan dan pencegahan pembentukan fibrin yang berlebihan dengan menghambat
sirkulasi trombin. Pada kadar AT yang diperiksa secara imunologi (AT antigen) kadarnya
normal, bisa saja pada pemeriksaan aktivitas AT (AT fungsional) menunjukkan aktivitas AT
yang rendah. Maka yang terpenting untuk pemeriksaan kadar AT adalah dengan pemeriksaan
aktivitas AT.

2.1.4. Pengukuran Kadar Aktivitas Antithrombin

AT plasma dapat diukur baik secara imunologi (AT antigen) atau fungsional (AT
activity). Pada uji fungsional ditetapkan aktivitas AT dengan metode Chromogenic
menggunakan anti - Xa.

2.1.5. Defisiensi Antithrombin

Defisiensi AT dapat terjadi secara bawaan maupun didapat. Defisiensi AT


menyebabkan faktor koagulasi yang aktif tidak dinetralkan sehingga kecenderungan
trombosis meningkat. Defisiensi AT dapat digolongkan atas 2 tipe yaitu tipe I dan Tipe II.
Tipe I ditandai dengan kadar AT yang rendah, sedang tipe II ditandai dengan kadar AT yang
normal tetapi aktivitasnya rendah.

Nilai normal AT fungsional / AT activity :


• Prematur infant : 26 – 61 %
• Full-term infant : 44 – 76 %
• After 6 month : 80 – 120 %

Defisiensi AT bawaan diturunkan secara autosomal dominan, pada individu yang


heterozigot kadarnya 25 – 50% dari orang normal. Frekuensi defisiensi AT heterozigot pada
pasien trombosis sekitar 2,5-4%, sedangkan pada populasi sehat sekitar 0,05-1,0%. Resiko
trombosis pada individu dengan defisiensi AT heterozigot 5 kali lipat lebih tinggi dari pada
individu dengan AT normal. Pada umumnya, individu dengan defisiensi heterozigot
antikoagulan alamiah akan mengalami trombosis pada usia muda kurang dari 40 tahun, sering
kali tanpa faktor lingkungan sebagai pencetus dan kadang-kadang di tempat yang tidak biasa
seperti di sinus serebri, vena abdomen atau vena dalam lengan. Individu ini juga cenderung
mengalami trombosis berulang dan sering mempunyai riwayat trombosis dalam keluarga.

Defisiensi AT didapat dijumpai pada sirosis hati, sindroma nefrotik, pemakaian pil
kontrasepsi, setelah trombosis yang luas dan setelah pengobatan dengan heparin dosis tinggi.
AT disintesis dihati sehingga pada sirosis hati produksinya menurun. Pada sindroma nefrotik
terjadi kehilangan AT melalui urin karena kebocoran membran glomeruli. Pada pemakai pil
kontrasepsi yang mengandung estrogen terjadi penurunan aktivitas AT yang bersifat
reversibel. Mekanisme terjadinya hal ini belum diketahui dengan jelas. Setelah trombosis
yang luas, AT banyak terpakai untuk menetralkan faktor-faktor yang aktif, sehingga
aktivitasnya berkurang. Demikian pula setelah pengobatan dengan heparin dosis tinggi, AT
banyak terpakai karena heparin tidak dapat bekerja tanpa AT.

Obat –obat yang meningkatkan kadar AT : anabolic steroids, androgens, oral


kontrasepsi (yang mengandung progesteron) dan sodium warfarin. Obat-obat yang
menurunkan kadar AT : fibrinolitik, heparin, oral kontrasepsi (yang mengandung estrogen)
dan L-asparaginase.

2.2. Intervensi Koroner Perkutan (IKP)

IKP telah dikenalkan lebih dari 20 tahun yang lalu. IKP adalah suatu teknik untuk
menghilangkan trombus dan melebarkan pembuluh darah koroner yang menyempit dengan
memakai kateter balon dan sering kali dilakukan pemasangan stent. Tindakan ini dapat
menghilangkan penyumbatan dengan segera, sehingga aliran darah dapat menjadi normal
kembali, sehingga kerusakan otot jantung dapat dihindari. Angka keberhasilan dari arteri
dilatasi dengan tindakan IKP > 90 % pada lesi yang tunggal.

Pada pasien PJK stabil, tindakan IKP dilakukan hanya pada pasien dengan adanya
keluhan dan tanda-tanda iskemik akibat penyempitan pembuluh darah koroner. Pada
penelitian-penelitian awal dijumpai manfaat yang lebih kecil terhadap survival pasien yang
dilakukan IKP tanpa stent dibandingkan dengan operasi pintas koroner. Tetapi dengan adanya
stent dan stent bersalut obat (DES-Drugs Eluting Stent) serta tersedianya obat-obatan ajuvan
maka tindakan IKP saat ini menghasilkan manfaat yang lebih besar dibandingkan operasi
pintas koroner.
Pada NSTEMI dan angina pektoris tak stabil (APTS) tindakan intervensi koroner
perkutan bertujuan mengurangi kejadian morbiditas dan mortalitas koroner di belakang hari.
IKP primer pada STEMI didefinisikan sebagai tindakan intervensi pada culprit vessel
(pembuluh darah yang terlibat serangan) dalam 12 jam setelah onset nyeri dada, tanpa
sebelumnya diberi trombolitik atau terapi lain untuk menghancurkan penyumbatan tersebut.
Adapun prosedur melakukan tindakan IKP terdiri dari beberapa langkah. Pertama
melakukan akses perkutan. Dalam proses ini arteri femoralis harus diidentifikasi lebih dahulu
(atau yang lebih jarang bisa menggunakan arteri radialis atau arteri brachialis pada lengan)
dengan menggunakan suatu alat yang disebut jarum pembuka. Setelah jarum sudah masuk,
sheath introducer diletakkan pada jalan pembuka untuk mempertahankan arteri tetap terbuka
dan mengontrol perdarahan. Melalui sheath introducer ini, guiding catheter dimasukkan.
Ujung guiding catheter ditempatkan pada ujung arteri koroner. Dengan guiding catheter,
penanda radio opak diinjeksikan ke arteri koroner, hingga kondisi dan lokasi kelainan dapat
diketahui. Selama visualisasi sinar X, ahli jantung memperkirakan ukuran arteri koroner dan
memilih ukuran balon kateter serta guide wire coronary yang sesuai. Guiding wire coronary
adalah sebuah selang yang sangat tipis dengan ujung radio opak yang fleksibel yang
kemudian dimasukkan melalui guiding cathether mencapai arteri koroner. Dengan visualisasi
langsung, ahli jantung memandu kabel mencapai tempat terjadinya blokade. Ujung kabel
kemudian dilewatkan menembus blokade. Setelah kabel berhasil melewati stenosis, balon
kateter dilekatkan dibelakang kabel. Angioplasti kateter kemudian didorong kedepan sampai
balon berada di dalam blokade. Kemudian baru balon dikembangkan dan balon akan
mengkompresi atheromatous plak dan menekan arteri sehingga mengembang. Jika stent ada
pada balon, maka stent diimplantkan atau ditinggalkan pada tubuh untuk mendukung arteri
dari dalam agar tetap mengembang. Prosedur melakukan IKP ini dapat menyebabkan
pengaruh terhadap cederanya arteri akibat gesekan pada endothelium sewaktu kateter
diarahkan secara retrograd melalui pembuluh darah. Gesekan ini mungkin dapat mencetuskan
nidus terbentuknya trombus baru. Trombus pada intrakoronaria merupakan salah satu
kemungkinan yang dapat timbul di belakang hari pasca prosedur IKP.
Terjadinya trombus dapat melalui 3 tahap: (1) paparan sirkulasi darah terhadap
permukaan yang bersifat trombogenik seperti kerusakan endothelium vaskular akibat ruptur
plaque atherosklerotik; (2) terjadi rangkaian peristiwa yang berhubungan dengan platelet
lebih lanjut meliputi adhesi, aktifasi dan agregasi bersama-sama dengan pengeluaran substrat
yang akan memacu timbulnya agregasi kembali; (3) terjadi pemacuan mekanisme anti
pembekuan.
Akibat gesekan IKP pada permukaan endothelium, maka endothelium akan
melepaskan dan mengaktifasi trombin yang terkandung didalamnya. Aktifasi trombin
merupakan resiko besar untuk terjadinya komplikasi pembentukan trombus baru dan stenosis
berulang setelah tindakan IKP. Hal ini sering terjadi pada IKP yang dilakukan umumnya pada
pasien yang mengalami angina pektoris tidak stabil (unstable angina).
Antikoagulan selama IKP dibutuhkan untuk meminimalisasi resiko dari komplikasi
trombosis setelah tindakan IKP. Antikoagulan yang secara umum dikenal adalah
Unfractionated heparin (UFH). UFH adalah indirect antithrombotic activity, mempunyai
fungsi sebagai kofaktor untuk AT, meningkatkan aktivitas molekul 1000 kali lipat.
Pemeriksaan AT dengan darah vena dimulai sebelum dan sesudah tindakan IKP. Pemeriksaan
dilakukan dengan metode chromogenic menggunakan anti-Xa.

2.2.1. Stent Bersalut Obat (Drugs Eluting Stent-DES)


Stent bersalut obat (drugs eluting stent) merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam
perkembangan kardiologi intervensi, karena DES dapat mengurangi angka restenosis. Tetapi
DES ini lebih mahal daripada stent biasa sehingga penggunaannya di negara berkembang
masih terbatas. Saat ini harga DES empat kali lebih mahal dari stent biasa. Beragam cara
pelepasan obat dari berbagai bahan (platform stent) dengan atau tanpa polimer yang
dikandungnya giat dipelajari saat ini. Berbagai penelitian untuk menilai efek anti proliferasi
dan anti inflamasi dari sirolismus, paclitaxel tacrolimus, everolimus, ABT-578, biolismus,
dan obat-obat lain seperti dexamethasone, 17-betaestradiol, batimastat, actinomycin D.
methotrexat, angiopeptin, tyrosinkinase inhibitors, vincristin, mitomycin, cyclosporin. Hasil-
hasil dari penelitian menunjukkan obat-obat anti proliferasi di atas tidaklah sama
menunjukkan efek dalam mencegah restenosis.

2.2.2. Indikasi DES


Keadaan-keadaan di mana dijumpai peningkatan risiko terjadinya restenosis sehingga
dibutuhkan penggunaan DES, yakni: - small vessel (pembuluh darah kecil) - chronic total
occlusions (oklusi total kronik) - bifurcational (percabangan) - ostial lesion (lesi pangkal) -
by pass stenosis (penyumbatan pembuluh by pass) - insulin dependent diabetes melitus (DM
tipe 1) - multivessel disease (pembuluh darah banyak terlibat) - unprotected left main stenosis
(oklusi cabang utama kiri) - instent restenosis (oklusi pada tempat stent)
2.2.3. Perbandingan IKP dan CABG
Data yang dikumpulkan selama arteriografi koroner membantu dokter menentukan apakah
pasien sebaiknya dipertimbangkan untuk IKP atau CABG untuk meningkatkan aliran darah
arteri. IKP dapat memberikan hasil yang optimal pada pasien yang dipilih dengan hati-hati.
Dengan panduan X-ray, sebuah kawat dimasukkan dari paha ke arteri koroner. Kateter kecil
dengan balon diujungnya dimasukan menyusuri kawat untuk mencapai segmen yang
menyempit. Balon kemudian dikembangkan untuk menekan arteri agar terbuka dan sebuah
stent penahan besi kemudian disisipkan. Bedah CABG dilakukan untuk mengurangi angina
pada pasien yang telah gagal dengan terapi obat-obatan dan bukan kandidat yang baik untuk
IKP. Bedah CABG ideal untuk pasien-pasien dengan penyempitan multipel pada cabang
arteri koroner yang berbeda seperti sering terlihat pada pasien dengan diabetes. Bedah CABG
telah memperlihatkan peningkatan harapan hidup jangka panjang pada pasien-pasien dengan
penyempitan signifikan arteri koroner utama kiri dan pada pasien-pasien dengan penyempitan
signifikan arteri multipel khususnya pada pasienpasien dengan penurunan fungsi pompa otot
jantung. Studi yang sedang berlangsung membandingkan hasil terapi IKP versus bypass
(CABG) pada pasien yang merupakan calon prosedur keduanya. Kedua prosedur sangat
efektif mengurangi gejala angina, mencegah serangan jantung dan mengurangi kematian.
Banyak penelitian memperlihatkan manfaat yang sama atau sedikit menguntungkan CABG
(terutama pada diabetes berat) meskipun data penelitian terbaru mengevaluasi dua prosedur
menggunakan teknik terbaru (sebagai contoh stent terbaru dan CABG tanpa pompa) masih
sedang dikumpulkan. Pilihan terbaik untuk pasien individu dibuat oleh kardiolog, ahli bedah
dan dokter layanan primer.

2.3. Obat Antitrombotik : Unfractionated Heparin (UFH)


Group obat antitrombotik termasuk indirect thrombin inhibitor (UFH atau low
molecular-weight heparin / LMWH) dan direct thrombin inhibitor (Hirudin, Bivalirudin,
Dabigatran etexilate, Ximelagatran dan Argatroban).
Telah lebih dari 40 tahun UFH digunakan sebagai terapi standar untuk pengobatan
awal trombosis vena. Di samping itu terapi UFH juga cukup efektif untuk mencegah dan
mengobati emboli paru, sebagai terapi awal unstable angina serta infark miokard akut. UFH
juga digunakan untuk mengobati penderita operasi jantung dengan cara by pass - CABG,
operasi pembuluh darah dan prosedur IKP. Pada umumnya UFH diberikan untuk keadaan
dimana tidak dapat diberikan antikoagulan oral.

2.3.1. Metabolisme dan Mekanisme kerja UFH


UFH merupakan mukopolisakarida dengan panjang rantai berbedabeda sehingga berat
molekulnya bervariasi antara 5000 sampai 30.000 dalton, dengan berat molekul rata-rata
15.000 dalton, yang kira-kira terdiri dari 45-50 rantai polisakarida. UFH diisolasi dan
dimurnikan dari paru sapi atau mukosa usus babi. Aktifasi antikoagulan dan clearance UFH
tergantung juga dari panjang molekulnya. Makin besar berat molekulnya, makin cepat
dibersihkan dari sirkulasi.
UFH ditemukan pada tahun 1916 oleh Mc Lean. Penelitian mengenai efektifitas UFH
telah dimulai sejak tahun 1960. Selanjutnya Brinkhous dan kawan-kawan menunjukkan
bahwa efek antikoagulan UFH membutuhkan kofaktor yang terdapat dalam plasma yang
disebut AT, sehingga AT disebut kofaktor UFH. Efek antikoagulan UFH menurun pada
kondisi defisiensi AT baik herediter maupun didapat. Bahkan pada kadar AT yang sangat
rendah dapat menyebabkan heparin resisten.
UFH mempunyai waktu paruh 30 menit – 2 jam tergantung dosis pemberian. Efek
antikoagulan segera timbul pada pemberian suntikan bolus IV dengan dosis terapi, dan terjadi
kira-kira 20-30 menit setelah suntikan subkuta
n. Sebagian UFH akan mengalami degradasi di hati oleh heparinase dan sebagian lagi
diekskresi dalam bentuk utuh melalui ginjal. UFH keluar melalui urin dalam waktu 5-9 jam
setelah penyuntikan. Pasien dengan kelainan hati atau ginjal lebih sensitif terhadap UFH
karena waktu paruh UFH menjadi lebih panjang. UFH juga diserap otot, lemak dan limfe.
UFH mempunyai berat molekul yang cukup besar sehingga tidak bisa melewati
membran, tidak bisa diserap usus dan tidak dapat melewati plasenta. Dengan demikian UFH
hanya dapat diberikan secara intra vena atau subkutan. Pada pemberian UFH, hanya sepertiga
dari dosis UFH yang diberikan yang akan berikatan dengan AT. Trombin dan enzim
koagulasi lain mempunyai gugus aktif berupa serine protease. Gugus ini akan diinaktifasi
oleh arginine-reactive site pada AT. UFH akan berikatan dengan gugus lisin pada AT. Akibat
ikatan ini AT berubah dari inhibitor trombin yang lambat menjadi inhibitor trombin yang
cepat. Selain trombin, kompleks AT-heparin juga menginaktifasi faktor koagulasi lain, yaitu
faktor Xa, IXa, XIa dan XIIa.

2.3.2. Dosis dan lama pemberian UFH


Berbagai penelitian telah banyak dilakukan untuk mendapatkan cara pemberian, dosis
optimal dan lamanya pemberian UFH yang efektif untuk pengobatan dan pencegahan
trombosis. 38 Studi terakhir mendapatkan bahwa lama pemberian UFH dapat dikurangi dari
10 hari menjadi 5 hari, apabila pemberiannya dikombinasikan dengan antikoagulan oral.
Dosis pemberian UFH diberikan dengan dosis inisial 5000 U bolus IV, kemudian
dilanjutkan dengan drip 1000 U/jam, dosis ini harus selalu di evaluasi dan disesuaikan untuk
mendapatkan nilai aPTT 1,5 – 2,5 kontrol (46 -70 detik), aPTT ini diperiksa setiap 4–6 jam.
22,38 Alternatif lain pemberian UFH adalah diberikan 5000 unit secara subkutan setiap 8-12
jam, dengan catatan besarnya dosis yang diberikan harus disesuaikan dengan pemeriksaan
aPTT, nilai aPTT tetap dipertahankan 1,5-2,5 kontrol.

2.3.3. Komplikasi pemberian UFH


Respon antikoagulan dari UFH berbeda pada tiap-tiap individu karena obat ini
berikatan secara nonspesifik dengan plasma dan protein sel. Efek samping meliputi
perdarahan, trombositopenia dan osteoporosis. Efek samping terapi UFH yang paling utama
adalah perdarahan yaitu sekitar 3-5%. Resiko perdarahan akan meningkat pada pasien dengan
faktor resiko, seperti : usia (wanita >60 tahun, pria >70 tahun), operasi yang lama,
peningkatan kreatinin serum, stroke perdarahan, penyakit ulkus peptikum, hipertensi, riwayat
kelainan perdarahan dan aPTT >2 kali nilai normal. Trombositopenia pada pasien pasca
bedah frekuensinya mencapai 5% bahkan pada pasien bedah jantung sampai 50%, sedangkan
pada pasien non bedah frekuensinya sekitar 3,5%. Pada pemberian UFH berkepanjangan
dapat juga menyebabkan osteoporosis. Radiografi membuktikan terdapat penurunan densitas
tulang kira-kira 15% pada wanita yang mendapat pengobatan jangka panjang selama
kehamilan dan 2% mengalami fraktur vertebra yang simptomatik. Pada penelitian lain
dilaporkan, bahwa pemakaian UFH selama 3 bulan menyebabkan osteoporosis pada 2-3%
pasien.

Gambar 2.3. Skema Heparin-AT pada sistem hemostasis


Sumber : Johnson M

2.4. Kerangka Konsep


UJI SISTEM KOAGULASI

Pemeriksaan laboratorium yang menguji kelainan dalam plasma disebut sebagai


pemeriksaan koagulasi. Pemeriksaan koagulasi ini menilai aktifitas faktor pembekuan seperti
uji masa protrombin, uji activated partial thromboplastin time (APTT), thrombin time dan
kadar fibrinogen. Pemeriksaan ini penting dilakukan pada pasien untuk mengetahui penyebab
perdarahan atau untuk mengetahui kelainan pada pasien yang cenderung mengalami
perdarahan. Pemeriksaan koagulasi sebaiknya dilakukan dengan menggunakan koagulometer
otomatik agar didapatkan ketelitian dan ketepatan yang tinggi. Selain itu alat tersebut dapat
dipakai untuk memantau pasien yang menggunakan obat antikoagulan oral seperti Simac
dengan melakukan uji masa protrombin yang diikuti dengan penetapan nilai INR.
Penilaian mengenai trombosit dapat dilakukan dengan mengetahui jumlah dan fungsi
trombosit. Jumlah trombosit diketahui dengan menghitung jumlah sel tersebut di dalam darah
dengan alat hitung sel darah otomatis dan fungsi trombosit dapat diketahui dengan melakukan
pemeriksaan masa perdarahan dan uji agregasi trombosit. Uji agregasi ini dipakai untuk
menguji salah satu dari fungsi trombosit dan dapat dipakai untuk monitoring pasien yang
menggunakan obat anti-trombosit. Obat anti-trombosit ini dipakai untuk pencegahan
terjadinya penyumbatan pembuluh darah seperti pada infark miokard atau stroke.
Proses Koagulasi diawali dengan pembentukan trombosiplastin, substansia yang cepat
bertindak terhadap mekanisme pembekuan darah, misalnya jari tangan, luka kena pisau.
Selama darah mengalir dari pembuluh yang tersayat, permukaan dimana platelet cenderung
untuk berkumpul dan dihancurkan dengan meninggalkan substansi yang dikenal sebagai
faktor platelet atau pembeku darah. Dengan adanya ion kalium dan substansi tambahan faktor
platelet bereaksi dengan faktor anti hemofilik membentuk tromboplastin. Sel-sel jaringan
tetangganya yang luka kena pisau juga akan melepaskan substansi tromboplastin.
Fase ke dua dari pembekuan darah melibatkan perubahan protrombin menjadi trombin.
Protrombin ialah salah satu protein plasma biasa, dibentuk di dalam hati membentuk vitamin
K, kekurangan vitamin K ini dapat mengakibatkan pendarahan, suatu kecenderungan tidak
cukup membentuk protrombin. Protrombin dibentuk di dalam fase untuk membantu memulai
merubah protrombin. Tetapi dengan adanya ion kalsium dan faktor penghambat tertentu
cukup untuk memperlengkap reaksi tersebut.
Fase ketiga proses pembekuan darah melibatkan aksi trombin di dalam merubah
Fibrinogen yang dapat larut menjadi fibrin yang tidak dapat larut. Fibrinogen adalah plasma
lain yang dihasilkan oleh hati dan ditemukan di dalam sirkulasi plasma. Mula-mula fibrin
keluar sebagai jaringan-jaringan dari benang yang cepat menjadi padat, membentuk bekuan
eritrosit. Eritrosit terperangkap di dalam perangkap fibrin, tetapi sel-sel darah ini tidak tahu
apa yang dilakukannya dengan pembekuan itu. Selama bekuan menyusut, tampak cairan
berwarna kuning bening keluar, cairan ini disebut serum, sama dengan plasma kecuali tanpa
fibrinogen dan unsur pembeku lainnya yang telah digunakan di dalam proses pembekuan
darah.
Pemeriksaan Koagulasi yang dilakukan pada praktikum kali ini meliputi :

A. Pemeriksaan Rumple Leed


Salah satu pemeriksaan yang paling mudah dan cepat, serta bisa dilakukan oleh semua
tenaga medis yaitu dengan pemeriksaan rumple leed (torniqute). Pemeriksaan dilakukan
dengan menahan tekanan manset atau tensi sebesar setengah dari jumlah tekanan sistol dan
tekanan diastol. Sistole adalah bunyi yang pertama terdengar, diastole adalah bunyi yang
menghilang diantara bunyi yang berdetak cepat, atau dapat pula dikatakan bunyi yang
terakhir didengar.
Kemudian tekanan manset tersebut dipertahankan selama sepuluh menit.
Pemeriksaan dinyatakan positif bila ditemukan perdarahan atau petechiae sebanyak 10 buah
dalam waktu 10 menit. Pemerikssan dinyatakan negatif bila dalam waktu 10 menit tidak
timbul petechiae pada area pembacaan, atau timbul petechiae kurang dari 10 buah.
Pemeriksaan dinyatakan normal bila dalam waktu 10 menit tidak timbul petechiae, atau
timbul petechiae kurang dari 5 buah.
Hasil pemeriksaan kelompok kami yaitu ditemukannya 1 buah petechiae, yang berarti
normal / negatif. Kesalahan sering terjadi saat pemeriksaan, kesalahan tersebut antara lain
saat membuat daerah pengamatan. lingkaran ini harus dibuat, diukur dengan benar, sekian
jari dari fossa cubiti, dengan diameter penampang sebesar 5 cm menggunakan penggaris.
Selain itu, bila dalam waktu kurang dari 10 menit sudah tampak lebih dari 10 buah petechiae,
maka percobaan dihentikan. Bila setelah 10 menit tidak timbul peteciae, percobaan
dihentikan dan tunggu selama 5 menit. Bila tak ada perubahan penilaiaannya negatif.
Sebelum percobaan dihentikan apakah ada bekas gigitan nyamuk pada daerah pembacaan,
yang mungkin menyebabkan hasil menjadi positif palsu.
Bila hasil pemeriksaan dinyatakan positif, orang yang diperiksa kemungkinan terjadi
gangguan vaskuler maupun trombolik. Adanya gangguan ini dapat menimbulkan penyakit
atau keluhan tertentu, antara lain penyakit arteri koroner yang berat, gumpalan kecil dari
trombosit bisa menyumbat arteri yang sebelumnya telah menyempit dan memutuskan aliran
darah ke jantung, sehingga terjadi serangan jantung. Keluhan lain yaitu, mudahnya timbul
memar pada kulit. Seseorang bisa mudah memar karena kapiler yang rapuh di dalam kulit.
setiap pembuluh darah kecil ini robek maka sejumlah kecil darah akan merembes dan
menimbulkan bintik-bintik merah di kulit (peteki) atau cemar ungu kebiruan (purpura).

B. Pemeriksaan waktu pendarahan


Waktu pendarahan yang didapat oleh kelompok kami adalah 1,6 menit. Ini dinyatakan
nornal, karena hasil intrepetasi menunjukkan waktu pendarahan normal antara 1-3 menit.
Pembuluh darah merupakan penghalang pertama dalam kehilangan darah. jika sebuah
pembuluh darah mengalami cedera, maka pembuluh darah akan mengkerut sehingga aliran
darah keluar menjadi lebih lambat dan proses pembekuan bisa dimulai. Pada saat yang sama,
kumpulan darah diluar pembuluh darah (hematom) akan menekan pembuluh darah dan
membantu mencegah perdarahan lebih lanjut.
Setelah pembuluh darah robek, serangkaian reaksi akan mengaktifkan trombosit
sehingga trombosit akan melekat di daerah yang mengalami cedera. perekat yang menahan
trombosit pada pembuluh darah ini adalah faktor von willebrand, yaitu suatu protein plasma
yang dihasilkan oleh sel-sel di dalam pembuluh darah. Kolagen dan protein lainnya (terutama
trombin), akan muncul di daerah yang terluka dan mempercepat perlekatan trombosit.
Trombosit yang tertimbun di daerah yang terluka ini membentuk suatu jaring yang
menyumbat luka; bentuknya berubah dari bulat menjadi berduri dan melepaskan protein serta
zat kimia lainnya yang akan menjerat lebih banyak lagi trombosit dan proteinpembekuan.
Selanjutnya, trombin merubah fibrinogen (suatu faktor pembekuan darah yang terlarut)
menjadi serat-serat fibrin panjang yang tidak larut, yang terbentang dari gumpalan trombosit
dan membentuk suatu jaring yang menjerat lebih banyak lagi trombosit dan sel darah. Serat
fibrin ini akan memperbesar ukuran bekuan dan membantu menahannya agar pembuluh
darah tetap tersumbat.
rangkaian reaksi ini melibatkan setidaknya 10 faktor pembekuan darah.
Suatu kelainan pada setiap bagian proses hemostatik bisa menyebabkan gangguan. Pembuluh
darah yang rapuh akan lebih mudah mengalami cedera atau tidak dapat mengkerut.
Pembekuan tidak akan berlangsung secara normal jika jumlah trombosit terlalu sedikit,
trombosit tidak berfungsi secara normal atau terdapat kelainan pada faktor pembekuan. Jika
terjadi kelainan pembekuan, maka cedera yang ringan pun bisa menyebabkan kehilangan
darah yang banyak.
Sebagian besar faktor pembekuan dibuat di dalam hati, sehingga kerusakan hati yang
berat bisa menyebabkan kekurangan faktor tersebut di dalam darah. Vitamin K (banyak
terdapat pada sayuran berdaun hijau) sangat penting dalam pembuatan bentuk aktif dari
beberapa faktor pembekuan. Karena itu kekurangan zat gizi atau obat-obatan yang
mempengaruhi fungsi normal vitamin k (misalnya warfarin) bisa menyebabkanperdarahan.
Kelainan perdarahan juga bisa terjadi jika pembekuan yang berlebihan telah menghabiskan
sejumlah besar faktor pembekuan dan trombosit atau jika suatu reaksi autoimun menghalangi
aktivitas faktor pembekuan.
Reaksi yang menyebabkan terbentukan suatu gumpalan fibrin diimbangi oleh reaksi
lainnya yang menghentikan proses pembekuan dan melarutkan bekuan setelah keadaan
pembuluh darah membaik. Tanpa sistem pengendalian ini, cedera pembuluh darah yang
ringan bisa memicu pembekuan di seluruh tubuh.
Jika pembekuan tidak dikendalikan, maka pembuluh darah kecil di daerah tertentu
bisa tersumbat. penyumbatan pembuluh darah otak bisa menyebabkan stroke; penyumbatan
pembuluh darah jantung bisa menyebabkan serangan jantung dan bekuan-bekuan kecil dari
tungkai, pinggul atau perut bisa ikut dalam aliran darah dan menuju ke paru-paru serta
menyumbat pembuluh darah yang besar di paru-paru (embolipulmoner).

C. Pemeriksaan waktu pembekuan


Waktu pembekuan adalah waktu yang diperlukan darah untuk membeku, hasilnya dapat
dijadikan ukuran aktivitas faktor-faktor koagulasi. Hasil pemeriksaan kelompok kami adalah
9,75 menit Ini dinyatakan nornal, karena hasil intrepetasi menunjukkan waktu pendarahan
normal antara 9-15 menit. Kelainan mungkin terjadi, bila didapat waktu pembekuan yang
memanjang (diatas 15 menit).
Kelainan ini merupakan kelainan beberapa faktor koagulasi (koagulopati) inhibitor
dalam darah misalnya heparin. Bekuan darah terganggu atau tidak terjadi, disebabkan oleh :
1. Trombositopenia : konsentrasi trombosit yang rendah di dalam darah
2. Penyakit von Willebrand : trombosit tidak melekat pada lubang di dinding pembuluh darah
3. Penyakit trombosit herediter : trombosit tidak melekat satu sama lain untuk membentuk
suatu sumbatan
4. Hemofilia : tidak ada faktor pembekuan VII atau IX
5. DIC (disseminated intravascular coagulation) : kekurangan faktor pembekuan karena
pembekuan yang berlebihan.

Koagulasi intravaskular diseminata atau lebih populer dengan istilah aslinya,


Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) merupakan diagnosis kompleks yang
melibatkan komponen pembekuan darah akibat penyakit lain yang mendahuluinya. Keadaan
ini menyebabkan perdarahan secara menyeluruh dengan koagulopati konsumtif yang parah.