Anda di halaman 1dari 25

Gangguan Afektif Bipolar Episode Kini Manik

Pendahuluan

Alam perasaan seseorang dapat berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi tertentu yang
dialaminya. Suasana alam perasaan seseorang mungkin normal, meninggi atau bahkan
terdepresi. Orang normal dapat mengalami berbagai macam suasana perasaan dan memiliki
ekspresi afektif yang sama luasnya; mereka mampu mengendalikan suasana perasaan dan
afeknya. Lain halnya dengan seseorang yang mengalami gangguan pada alam perasaannya.
Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengetahui tentang gangguan alam perasaan tersebut.1

Suasana perasaan/ mood mungkin normal, meninggi, atau terdepresi. Orang normal
mengalami berbagai macam mood dan memiliki ekspresi afektif yang sama luasnya ; mereka
merasa mengendalikan, kurang lebih, mood dan afeknya. Gangguan mood/ suasana perasaan
adalah suatu kelompok kondisi klinis yang ditandai oleh hilangnya perasaan kendali dan
pengalaman subjektif adanya penderitaan berat. Pasien dengan mood meninggi (elevated)
(yaitu mania), menunjukkan sikap meluap-luap, gagasan yang melonacat-loncat (flight of
ideas), penurunan kebutuhan tidur, peninggian harga diri, dan gagasan kebesaran. Pasien
dengan mood terdepresi (yaitu depresi), merasakan hilangnya energi dan minat, perasaan
bersalah, kesulitan berkonsentrasi, hilangnya nafsu makan, dan pikiran tentang kematian atau
bunuh diri. Tanda dan gejala lain adalah perubahan tingkat aktivitas, kemampuan kognitif,
pembicaraan, dan fungsi vegetatif (seperti tidur, nafsu makan, aktivitas seksual, dan irama
biologis lainnya). Perubahan ini hampir selalu menyebabkan gangguan fungsi interpersonal,
sosial, dan pekerjaan.1

Skenario

Seorang perempuan 25 tahun dibawa ke puskesmas oleh ibunya karena malam tidak
tidur, banyak kegiatan, gembira terus, banyak bicara, uang tabungannya selama 2 tahun
dihabiskan dalam waktu 2 minggu dengan membeli macam-macam barang mewah yang tidak
perlu, mengaku mempunyai 5 perusahaan dan mempunyai banyak pacar. Mengatakan tidak
butuh tidur, semangat terus, merasa sangat sehat dan kuat

Anamnesis

Anamnesis dapat dilakukan secara autoanmnesis (kepada pasien langsung jika pasien
masih dalam keadaan kesadaraan penuh dan dapat menjawab pertanyaan dengan baik) dan
alloanamnesis (kepada wali atau siapapun yang mengantar pasien kepada dokter).

Tujuan utama dari wawancara psikiatri ialah ( intitute of Psychiatry 1973 ) : Untuk
mendapatkan informasi, menilai emosi dan sikap pasien, Untuk berperan suportif dan
mempermudah memahami pasien. Hal ini merupakan dasar hubungan kerja selanjutkan
dengan pasien.2

Identitas

Nama, usia, jenis kelamin, status perkawinan, pekerjaan, suku, dan agama
Keluhan Utama

Keluhan utama adalah alasan pasien datang memeriksakan dirinya atau mencari
pengobatan, yang dicatat sesuai dengan kata-kata pasien sendiri. Dengan demikian dapat
diketahui pula tingkat kemampuan pasien untuk mengobservasi dan mengevaluasi diri.
Apabila keluhan utama tersebut berbeda dengan kesan pemeriksa terhadap kondisi pasien,
masalah yang diutarakan pasien yang harus didahulukan daripada masalah yang
“sesungguhnya” menurut dokter. Keluhan utama ini yang akan dijabarkan lebih jauh dalam
riwayat penyakit sekarang. Ada baiknya jika pada permulaan, pasien diberi kebebasan untuuk
menceritakan kisahnya, membatasi jumlah pertanyaan dan menggunakan pertanyaan terbuka.
Hal ini akan menimbulkan kesan yang baik bahwa dokter bersedia mendengarkan, juga akan
membuat pasien menunjukkan proses berpikir dan pola bicara yang sebenarnya.2

Riwayat Penyakit Sekarang

Klasifikasi tentang keluakan utama dilakukan disini. Informasi yang dicarai antara
lain mengenai gambaran detil dan akurat tentang kesulitan atau gejala yang dialami, onset,
dan lama penyakit, perjalanan gejala-gejala itu konstan, hilang timbul, atau makin
memburuk, faktor yang mencetuskan dan meringankan gejala, peristiwa yang baru terjadi
seperti keluarga yang sakit atau meninggal, masalah perkawinan, keluarga, keuangan, hukum,
pekerjaan, dan masalah sosial yang mungkin berhubungan dengan timbulnya gejala serta
pertolongan apa saja yang sudah diupayakan. Alasan penghentian pengobatan, penting untuk
mengetahui ketaatberobatan (compliance) pasien. Yang perlu juga ditanyakan adalah
penggunaan alkohol atau zat lainnya, seberapa banyak, frekuensi, dan kapan penggunaan
terakhir.2

Riwayat Psikiatrik Lampau

Bagian ini menggambarkan semua episode dan gejala yang pernah dialami dahulu
sebelum ini, diobati ataupun tidak. Dimulai dari pertama kali gejala atau episode tersebut
muncul sampai dengan yang terakhir. Harus digambarkan disini perjalanan longotudinal
gejala tersebut, apakah terus menerus, kambuhan, atau episode tunggal. Jika pasien pernah
mendapatkan pengobatan (termasuk psikoterapi) sebelum ini, tanyakan jenisnya, dosis, dan
lama pengobatan. Juga alasan penghentian pengobatan. Hal ini akan membantu membedakan
antara kondisis nonrespons dan pemberian dosis subterapeutik.2

Riwayat Medik Lampau

Tujuan pemeriksaan ini adalah menyaring penyakit medis dan menemukan penyebab
medis dari penyakit psikiatrik. Yang utama disini adalah riwayat penyakit medis yang relevan
terhadapa keluhan utama, termasuk penyakit medis sekarang dan pengobatannya serta
penyakit keuturunan. Juga digambarkan riwayat pembedahan yang pernah dialami.2

Riwayat Keluarga
Mengetahui siapa saja keluarga pasien yang menderita gangguan jiwa akan
bermanfaat untuk memperoleh gambaran diagnostik seutuhnya, karena banyak gangguan jiwa
bersifat familial dan mempunyai komponen genetik. Untuk masing-masing anggota keluarga
dapatkan informasi berikut: umur, jika meninggal: tahun, umur, dan penyebab meninggalnya;
juga hubungan interpersonal orang tersebut dengan pasien (dekat, asing, bermusuhan, pelaku,
atau korban penganiayaan fisik atau sexual).2

Riwayat Sosial

Kebiasaan sosial, pemakaian Napza, Hobi dan pengisian waktu luang, hubungan
antarmanusia, kondisi perumahan, relasi sosial, catatan hukum, kasus kriminal dan
penahanan, hukuman penjara.2

. Pemeriksaan Fisik

1. Status fisik
Sifat keluhan pasien penting untuk menentukan dibutuhkan atau tidaknya suatu
pemeriksaan fisik lengkap. Gejala fisik seperti nyeri kepala dan palpitasi memerlukan
pemeriksaan medis yang menyeluruh untuk menentukan bagian dari proses somatik. Bila
ada, yang berperan menyebabkan penderitaan tersebut. Hal yang sama dapat digunakan
pada gejala mental misalnya depresi, ansietas, halusinasi, dan waham kejar, yang bisa
jadi merupakan ekspresi dan proses somatik. Terkadang keadaan menyebabkan kita perlu
menunda pemeriksaan medis lengkap. Misalnya, pasien dengan waham atau panik dapat
menunjukkan perlawanan sikap bertahan atau keduanya. Pada keadaan ini, riwayat medis
harus diperoleh dari anggota keluarga bila memungkinkan. Namun, kecauali ada alasan
mendesak untuk melanjutkan pemeriksaan fisik, hal itu sebaiknya ditunda sampai pasien
menurut.3

Pemeriksaan Neurologis

Selama proses anamnesis pada kasus tersebut, tingkat kesadaran dan atensi pasien
terhadap detil pemeriksaan, pemahaman, ekspresi wajah, cara bicara, postur, dan cara
berjalan perlu diperhatikan. Pemeriksaan neurologis dilakukan untuk dua tujuan. Tujuan
pertama dicapai melalui pemeriksaan neurologis rutin, yaitu terutama dirancang untuk
mengungkap asimetri fungsi motorik, persepsi, dan refleks pada kedua sisi tubuh yang
disebabkan oleh penyakit hemisferik fokal. Tujuan kedua tercapai dengan mencari untuk
memperoleh tanda yang selama ini dikaitkan dengan disfungsi otak difus atau penyakit
lobus frontal. Tanda ini meliputi refleks mengisap, mencucur, palmomental, dan refleks
genggam serta menetapnya respons terhadap ketukan di dahi. Sayangnya, kecuali refleks
genggam, tanda seperti itu tidak berkaitan erat dengan patologi otak yang mendasari.3

2. Status mental
 Deskripsi umum
a. Penampilan
b. Postur, pembawaan, pakaian, dan kerapihan. Penampilan pasien skizofrenia
dapat berkisar dari orang yang sangat berantakan, menjerit-jerit, dan teragitasi
hingga orang yang terobsesi tampil rapi, sangat pendiam, dan imobil.
c. Perilaku dan aktivitas psikomotor yang nyata
d. Kategori ini merujuk pada aspek kuantitatif dan kualitatif dari perilaku
motorik pasien. Termasuk diantaranya adalah manerisme, tik, gerakan tubuh,
kedutan, perilaku streotipik, ekopraksia, hiperaktivitas, agitasi, sikap melawan,
fleksibilitas, rigiditas, gaya berjalan, dan kegesitan.
e. Sikap terhadap pemeriksa
f. Sikap pasien terhadap pemeriksa dapat dideskripsikan sebagai kooperatif,
bersahabat, penuh perhatian, tertarik, balk-blakan, seduktif, defensif,
merendahkan, kebingungan, apatis, bermusuhan, suka melucu, menyenangkan,
suka mengelak, atau berhati-hati.3

a. Episode Depresi

Deskripsi umum: Retradasi psikomotor menyeluruh merupakan gejala yang paling
umum, walaupun agitasi psikomotor juga sering ditemukan khususnya pada
pasien lansia. Secara klasik, seorang pasien depresi memiliki postur yang
membungkuk, tidak terdapat pergerakan spontan, pandangan mata yang putus asa
dan memalingkan pandangan.

Mood, afek dan perasaan: Pasien tersebut sering kali dibawa oleh anggota
keluarganya atau teman kerjanya karena penarikan sosial dan penurunan aktifitas
secara menyeluruh.

Bicara: Banyak pasien terdepresi menunjukkan kecepatan dan volume bicara yang
menurun, berespon terhadap pertanyaan dengan kata-kata tunggal dan
menunjukkan respon yang lambat terhadap suatu pertanyaan.

Gangguan persepsi: Pasien terdepresi dengan waham atau halusinasi dikatakan
menderita episode depresi berat dengan ciri psikotik. Waham sesuai mood pada
pasien terdepresi adalah waham bersalah, memalukan, tidak berguna, kemiskinan,
kegagalan, kejar dan penyakit somatik.

Pikiran: Pasien terdepresi biasanya memiliki pandangan negatif tentang dunia dan
dirinya sendiri. Isi pikiran mereka sering kali melibatkan perenungan tentang
kehilangan, bersalah, bunuh diri, dan kematian. Kira-kira 10% memiliki gejala
jelas gangguan berpikir, biasanya penghambatan arus pikiran dan kemiskinan isi
pikiran.

Sensorium dan kognisi: Kira-kira 50-70% dari semua pasien terdepresi memiliki
suatu gangguan kognitif yang sering kali dinamakan pseudodemensia depresif,
dengan keluhan gangguan konsentrasi dan mudah lupa.

Pengendalian impuls: Kira-kira 10-15% pasien terdepresi melakukan bunuh diri
dan kira-kira dua pertiga memiliki gagasan bunuh diri. Resiko untuk melakukan
bunuh diri meningkat saat mereka mulai membaik dan mendapatkan kembali
energi yang diperlukan untuk merencanakan dan melakukan suatu bunuh diri
(bunuh diri paradoksikal /paradoxical suicide).

Reliabilitas: Semua informasi dari pasien terlalu menonjolkan hal-hal yang buruk
dan menekan hal-hal yang baik.3

b. Episode Manik

Deskriksi umum: Pasien manik adalah tereksitasi, banyak bicara, kadang-kadang
mengelikan dan sering hiperaktif.

Mood, afek dan perasaan: Pasien manik biasanya euforik dan lekas marah.
Mereka memiliki toleransi yang rendah dan mudah frustasi yang dapat
menyebabkan perasaan marah dan permusuhan. Secara emosional mereka sangat
labil, mudah beralih dari tertawa menjadi marah kemudian menjadi depresi dalam
hitungan menit atau jam.

Bicara: Pasien manik tidak dapat disela saat mereka bicara dan sering kali rewel
dan menjadi pengganggu bagi orang-orang disekitarnya. Saat keadaan teraktifitas,
pembicaraan penuh dengan gurauan, kelucuan, sajak, permainan kata-kata dan
hal-hal yang tidak relevan. Saat tingkat aktifitas meningkat lagi, asosiasi menjadi
longgar, kemampuan konsentrasi menghilang menyebabkan gagasan yang
meloncat-loncat (flight of idea), gado-gado kata dan neologisme. Pada keadaan
manik akut, pembicaraan mungkin sama sekali inkoheren dan tidak dapat
dibedakan dari pembicaraan skizofrenik.

Gangguan persepsi : Waham ditemukan pada 75% pasien manik. Waham sesuai
mood seringkali melibatkan kesehatan, kemampuan atau kekuatan yang luar biasa.
Dapat juga ditemukan waham dan halusinasi aneh yang tidak sesuai mood.

Pikiran: Isi pikirannya termasuk tema kepercayaan dan kebesaran diri, sering kali
perhatiannya mudah dialihkan. Fungsi kognitif ditandai oleh aliran gagasan yang
tidak terkendali.

Sensorium dan kognisi: Secara umum, orientasi dan daya ingat masih intak
walaupun beberapa pasien manik mungkin sangat euforik sehingga mereka
menjawab secara tidak tepat. Gejala tersebut disebut “mania delirium” (delirious
mania) oleh Emil Kraepelin.

Pengendalian impuls: Kira-kira 75% pasien manik senang menyerang atau
mengancam.

Perimbangan dan tilikan: Gangguan pertimbangan merupakan tanda dari pasien
manik. Mereka mungkin dapat melanggar peraturan.

Reliabilitas: Pasien manik sulit untuk dipercaya. Kebohongan dan penipuan sering
ditemukan pada pasien mania.3
c. Gejala Psikotik

Gejala psikotik yang mungkin timbul yaitu Harga diri yang membumbung dan
gagasan kebesaran dapat berkembang menjadi waham kebesaran (delusion of
grandeur), irritabilitas dan kecurigaan menjadi waham kejar (delusion of
persecution). Waham dan halusinasi “sesuai” dengan keadaan afek tersebut (mood
congruent).3

Gangguan afektif bipolar dengan episode kini manik

Gangguan bipolar merupakan gangguan mood dengan kelainan berupa perubahan


suasana perasaan atau afek, dimana pada waktu didapat kumpulan gejala yang terdiri dari
depresi, dengan atau tanpa anxietas yang menyertainya (penurunan afek disertai pengurangan
energi dan aktivitas) dan pada waktu lain mengalami elasi (suasana perasaan yang meningkat
disertai penambahan energi dan aktivitas). Gangguan ini memiliki episode berulang
(sekurang-kurangnya dua episode), yang khas adalah biasanya terdapat penyembuhan
sempurna antar episode. Episode manik biasanya dimulai dengan tiba-tiba antara 2 minggu
sampai 4-5 bulan, sedangkan episode depresi cenderung berlangsung lebih lama rata-rata
sekitar 6 bulan, tetapi jarang melebihi 1 tahun kecuali pada orang usia lanjut. Kedua episode
ini seringkali terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh stres atau trauma mental lain.4

Skizofrenia

Untuk menegakkan diagnosis skizofrenia, pasien harus memenuhi kriteria DSM-IV:

a. Berlangsung pasling sedikit enam bulan


b. Penurunan fungsi yang cukup bermakna yaitu dalam bidang pekerjaan, hubungan
interpersonal, dan fungsi kehidupan pribadi.
c. Pernah mengalami psikotik aktif dalam bentuk yang khas selam periode tersebut.
d. Tidak ditemui gejala-gejala yang sesuai dengan skizoafektif, gangguan mood mayor,
autisme, atau gangguan organik.4

Gambaran klinis:

Skizofrenia merupakan penyakit kronik. Sebagian kecil dari kehidupan mereka berada
dalam kondisi akut dan sebagian besar penderita berada lebih lama (bertahun-tahun) dalam
fase residual yaitu fase yang memperlihatkan gambaran penyakit yang “ringan”. Selama
periode residual, pasien lebih menarik diri atau mengisolasi diri, dan “aneh”. Gejala-gejala
penyakit biasanya terlihat lebih jelas oleh orang lain.4

Gejala Positif dan Negatif:

Gejala positif mencakup waham dan halusinasi. Gejala negatif meliputi afek mendatar
atu menumpul, miskin bicara (alogia) atau isi bicara, bloking, kurang merawat diri, kurang
motivasi, anhedonia, dan penarikan diri secara sosial.4

Jenis – Jenis Skizofrenia:4

a. Tipe paranoid
Skizofrenia tipe ini ditandai dengan preokupasi terhadap satu atau lebih waham atau
halusinasi auditorik yang sering serta tidak adanya perilaku spesifik yang sugestif untuk
tipe hebrefrenik atau katatonik. Secara klasik, skizofrenia tipe paranoid terutama ditandai
dengan adanya waham kejar atau kebesaran. Pasien skizofrenia paranoid biasanya
mengalami episode pertama penyakit pada usia yang lebih tua dibanding pasien
skizofrenia hebefrenik dan katatonik. Pasien skizofrenia paranoid menunjukkna regresi
kemampuan mental, respons emosional, dan perilaku yang lebih ringan dibandingkan
pasien skizofrenia tipe lain. Pasien skizofrenia paranoid biasanya tegang, mudah curiga,
berjaga-jaga, berhati-hati, dan terkadang bersikap bermusuhan atau agresif, namun
mereka kadang-kadang dapat mengendalikan diri mereka secara adekuat pada situasi
sosial. Inteligensi mereka dalam area yang tidak dipengaruhi psikosisnya cenderung tetap
utuh.4
b. Tipe disorganized
Skizofrenia tipe disorganized (sebelumnya disebut hebefrenik) ditandai dengan regresi
nyata ke perilaku primitif, tak terinhibisi, dan kacau serta dengan tidak adanya gejala
yang memenuhi kriteria tipe katatonik. Onset subtipe ini biasanya dini, sebelum usia 25
tahun.4
c. Tipe katatonik
Pasien mempunyai paling sedikit satu dari beberapa bentuk katatonia:
-
Stupor katatonik atau mutisme yaitu pasien tidak berespons terhadap lingkungan atau
orang. Pasien menyadari hal-hal yang sedang berlangsung di sekitarnya.
-
Negativsme katatonik yaitu pasien melawan semua perintah-perintah atau usaha-
usaha untuk menggerakkan fisiknya.
-
Rigiditas katatonik yaitu pasien secara fisik sangat kaku atau rigid.
-
Postur katatonik yaitu pasein mempertahankan posisi yang tak biasa atau aneh.
-
Kegembiraan katatonik yaitu pasien sangat aktif dan gembira. Mungkin dapat
mengancam jiwanya (misalnya, karena kelelahan).4
d. Tipe tak terinci
Pasien mempunyai halusinasi, waham, dan gejala-gejala psikosis aktif yang menonjol
(misalnya: kebingungan, inkoheren) atau memenuhi kriteria skizofrenia tetapi tidak dapat
digolongkan pada tipe paranoid, katatonik, hebefrenik, residual, dan depresi pasca
skizofrenia.4
e. Tipe residual
Pasien dalam keadaan remmsi dari keadaan akut tetapi masih memperlihatkan gejala-
gejala residual (penarikan diri secara sosial, afek datar atau tak serasi, perilaku eksentrik,
asosiasi melonggar, atau pikiran tak logis).4
f. Skizofrenia simpleks
Skizofrenia simpleks adalah sulatu diagnosis yang sulit dibuat secara meyakinka karena
bergantung pada pemastian perkembangan yang berlangsung perlahan, progresif dari
gejala “negatif” yang khas dari skizofrenia residual tanpa adanya riwayat halusinasi,
waham atau manifestasi lain tentang adanya suatu episode psikotik sebelumnya, dan
disertai degan perubahan-perubahan yang bermakna pada perilaku perorangan, yang
bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, kemalasan, dan penarikan diri
secara sosial.4

Skizoafektif

Pedoman Diagnostik:4

 Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitive adanya


skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan
(simultaneously), atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain, dalam satu
episode penyakit yang sama, dan bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode
penyakit tidak memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik atau
depresif.
 Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia dan
gangguan afektif tetapi dalam episode penyakit yang berbeda.

 Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah mengalami suatu
episode psikotik, diberi kode diagnosis F20.4 (Depresi Pasca-skizofrenia). Beberapa
pasien dapat mengalami episode skizoafektif berulang, baik berjenis manik (F25.0)
maupundepresif (F25.1) atau campuran dari keduanya (F25.2). Pasien lain mengalami
satu atau dua episode skizoafektif terselip diantara episode manic dan depresif (F30-
F33)

F25.0 Gangguan skizoafektif tipe manic

Pedoman Diagnostik:4

 Kategori ini digunakan baik untuk episode skizoafektif tipe manic yang tunggal
maupun untuk gangguan berulang dengan sebagian besar episode skizoafektif tipe
manic.
 Afek harus meningkat secara menonjol atau ada peningkatan afek yang tak begitu
menonjol dikombinasi dengan iritabilitas atau kegelisahan yang memuncak.
 Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu, atau lebih baik lagi dua,
gejala skizofrenia yang khas.

Penyebab gangguan skizoafektif adalah tidak diketahui, tetapi empat model


konseptual telah diajukan :4

1. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe skizofrenia atau suatu tipe
gangguan mood
2. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan ekspresi bersama-sama dari skizofrenia
dan gangguan mood
3. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe psikosis ketiga yang berbeda,
tipe yang tidak berhubungan dengan skizofrenia maupun suatu gangguan mood
4. Kemungkinan terbesar adalah bahwa gangguan skizoafektif adalah kelompok
gangguan yang heterogen yang meliputi semua tiga kemungkinan yang pertama.

Penelitian yang dilakukan untuk menggali kemungkinan-kemungkinan tersebut telah


memeriksa riwayat keluarga, petanda biologis, respon pengobatan jangka pendek, dan hasil
akhir jangka panjang.4

Walaupun banyak pemeriksaan terhadap keluarga dan genetika yang dilakukan untuk
mempelajari gangguan skizoafektif didasarkan pada anggapan bahwa skizofrenia dan
gangguan mood adalah keadaan yang terpisah sama sekali, namun beberapa data menyatakan
bahwa skizofrenia dan gangguan mood mungkin berhubungan secara genetic. Beberapa
kebingungan yang timbul dalam penelitian keluarga pada pasien dengan gangguan
skizoafektif dapat mencerminkan perbedaan yang tidak absolute antara dua gangguan primer.
Dengan demikian tidak mengejutkan bahwa penelitian terhadap sanak saudara pasien dengan
gangguan skizoafektif telah melaporkan hasil yang tidak konsisten. Peningkatan prevalensi
skizofrenia tidak ditemukan diantara sank saudara pasien yang pasien dengan skizoafektif,
tipe bipolar; tetapi, sanak saudara pasien dengan gangguan skizoafektif, tipe depresif,
mungkin berada dalam resiko yang lebih tinggi menderita skizofrenia daripada suatu
gangguan mood.4

Etiopatofisiologi

Dahulu virus sempat dianggap sebagai penyebab penyakit ini. Serangan virus pada
otak berlangsung pada masa janin dalam kandungan atau tahun pertama sesudah kelahiran.
Namun, gangguan bipolar bermanifestasi 15-20 tahun kemudian. Telatnya manifestasi itu
timbul karena diduga pada usia 15 tahun kelenjar timus dan pineal yang memproduksi
hormon yang mampu mencegah gangguan psikiatrik sudah berkurang 50%.5

Penyebab gangguan Bipolar multifaktor. Mencakup aspek bio-psikososial. Secara


biologis dikaitkan dengan faktor genetik dan gangguan neurotransmitter di otak. Secara
psikososial dikaitkan dengan pola asuh masa kana-kanak, stres yang menyakitkan, stres
kehidupan yang berat dan berkepanjangan, dan banyak lagi faktor lainnya.5

Didapatkan fakta bahwa gangguan alam perasaan (mood) tipe bipolar (adanya episode
manik dan depresi) memiliki kecenderungan menurun kepada generasinya, berdasar etiologi
biologik. 50% pasien bipolar mimiliki satu orangtua dengan gangguan alam
perasaan/gangguan afektif, yang tersering unipolar (depresi saja). Jika seorang orang tua
mengidap gangguan bipolar maka 27% anaknya memiliki resiko mengidap gangguan alam
perasaan. Bila kedua orangtua mengidap gangguan bipolar maka 75% anaknya memiliki
resiko mengidap gangguan alam perasaan. Keturunan pertama dari seseorang yang menderita
gangguan bipolar berisiko menderita gangguan serupa sebesar 7 kali. Bahkan risiko pada
anak kembar sangat tinggi terutama pada kembar monozigot (40-80%), sedangkan kembar
dizigot lebih rendah, yakni 10-20%.5

Beberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara gangguan bipolar dengan


kromosom 18 dan 22, namun masih belum dapat diselidiki lokus mana dari kromosom
tersebut yang benar-benar terlibat. Beberapa diantaranya yang telah diselidiki adalah 4p16,
12q23-q24, 18 sentromer, 18q22, 18q22-q23, dan 21q22. Yang menarik dari studi kromosom
ini, ternyata penderita sindrom Down (trisomi 21) berisiko rendah menderita gangguan
bipolar.5

Sejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil meringankan gejala bipolar, peneliti
mulai menduga adanya hubungan neurotransmiter dengan gangguan bipolar. Neurotransmiter
tersebut adalah dopamine, serotonin, dan noradrenalin. Gen-gen yang berhubungan dengan
neurotransmiter tersebut pun mulai diteliti seperti gen yang mengkode monoamine oksidase
A (MAOA), tirosin hidroksilase, catechol-O-metiltransferase (COMT), dan serotonin
transporter (5HTT).5

Penelitian terbaru menemukan gen lain yang berhubungan dengan penyakit ini yaitu
gen yang mengekspresi brain derived neurotrophic factor (BDNF). BDNF adalah neurotropin
yang berperan dalam regulasi plastisitas sinaps, neurogenesis dan perlindungan neuron otak.
BDNF diduga ikut terlibat dalam mood. Gen yang mengatur BDNF terletak pada kromosom
11p13. Terdapat 3 penelitian yang mencari tahu hubungan antara BDNF dengan gangguan
bipolar dan hasilnya positif. Kelainan pada otak juga dianggap dapat menjadi penyebab
penyakit ini. Terdapat perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita
bipolar. Melalui pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) dan positron-emission
tomography (PET), didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran darah yang berkurang pada
korteks prefrontal subgenual. Tak hanya itu, Blumberg dkk dalam Arch Gen Psychiatry 2003
pun menemukan volume yang kecil pada amygdala dan hipokampus. Korteks prefrontal,
amygdala dan hipokampus merupakan bagian dari otak yang terlibat dalam respon emosi
(mood dan afek).5

Penelitian lain menunjukkan ekspresi oligodendrosit-myelin berkurang pada otak


penderita bipolar. Seperti diketahui, oligodendrosit menghasilkan membran myelin yang
membungkus akson sehingga mampu mempercepat hantaran konduksi antar saraf. Bila
jumlah oligodendrosit berkurang, maka dapat dipastikan komunikasi antar saraf tidak
berjalan lancar.5

Neurotransmiter Pada Gangguan Bipolar :

Otak menggunakan sejumlah senyawa neurokimiawi sebagai pembawa pesan untuk


komunikasi berbagai beagian di otak dan sistem syaraf. Senyawa neurokimiawi ini, dikenal
sebagai neurotransmiter, sangat esensial bagi semua fungsi otak. Sebagai pembawa pesan,
mereka datang dari satu tempat dan pergi ke tempat lain untuk menyampaikan pesan-
pesannya. Bila satu sel syaraf (neuron) berakhir, di dekatnya ada neuron lainnya. Satu neuron
mengirimkan pesan dengan mengeluarkan neurotrasmiter menuju ke dendrit neuron di
dekatnya melalui celah sinaptik, ditangkap reseptor-reseptor pada celah sinaptik tersebut.5

Neurotransmiter yang berpengaruh pada terjadinya gangguan bipolar adalah dopamin,


norepinefrin, serotonin, GABA, glutamat dan asetilkolin. Selain itu, penelitian-penelitian juga
menunjukksan adanya kelompok neurotransmiter lain yang berperan penting pada timbulnya
mania, yaitu golongan neuropeptida, termasuk endorfin, somatostatin, vasopresin dan
oksitosin. Diketahui bahwa neurotransmiter-neurotransmiter ini, dalam beberapa cara, tidak
seimbang (unbalanced) pada otak individu mania dibanding otak individu normal.5

Misalnya, GABA diketahui menurun kadarnya dalam darah dan cairan spinal pada pasien
mania. Norepinefrin meningkat kadarnya pada celah sinaptik, tapi dengan serotonin normal.
Dopamin juga meningkat kadarnya pada celah sinaptik, menimbulkan hiperaktivitas dan
nsgresivitas mania, seperti juga pada skizofrenia. Antidepresan trisiklik dan MAO inhibitor
yang meningkatkan epinefrin bisa merangsang timbulnya mania, dan antipsikotik yang mem-
blok reseptor dopamin yang menurunkan kadar dopamin bisa memperbaiki mania, seperti
juga pada skizofrenia.5

1). Monoamin dan Depresi

Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa zat-zat yang menyebabkan


berkurangnya monoamin, seperti reserpin, dapat menyebabkan depresi.Akibatnya timbul
teori yang menyatakan bahwa berkurangnya ketersediaan neurotransmiter monoamin,
terutama NE dan serotonin, dapat menyebabkan depresi. Teori ini diperkuat dengan
ditemukannya obat antidepresan trisiklik dan monoamin oksidase inhibitor yang bekerja
meningkatkan monoamin di sinap. Peningkatan monoamin dapat memperbaiki depresi.5

2). Serotonin

Neuron serotonergik berproyeksi dari nukleus rafe dorsalis batang otak ke korteks serebri,
hipotalamus, talamus, ganglia basalis, septum, dan hipokampus. Proyeksi ke tempat-tempat
ini mendasari keterlibatannya dalam gangguan-gangguan psikiatrik. Ada sekitar 14 reseptor
serotonin, 5-HT1A dst yang terletak di lokasi yang berbeda di susunan syaraf pusat. Serotonin
berfungsi sebagai pengatur tidur, selera makan, dan libido. Sistem serotonin yang berproyeksi
ke nukleus suprakiasma hipotalamus berfungsi mengatur ritmik sirkadian (siklus tidur-
bangun, temperatur tubuh, dan fungsi axis HPA). Serotonin bersama-sama dengan
norepinefrin dan dopamin memfasilitasi gerak motorik yang terarah dan bertujuan. Serotonin
menghambat perilaku agresif pada mamalia dan reptilia.

Neurotransmiter serotonin terganggu pada depresi. Dari penelitian dengan alat pencitraan
otak terdapat penurunan jumlah reseptor pos-sinap 5-HT1A dan 5-HT2A pada pasien dengan
depresi berat. Adanya gangguan serotonin dapat menjadi tanda kerentanan terhadap
kekambuhan depresi. Dari penelitian lain dilaporkan bahwa respon serotonin menurun di
daerah prefrontal dan temporoparietal pada penderita depresi yang tidak mendapat
pengobatan. Kadar serotonin rendah pada penderita depresi yang agresif dan bunuh diri.
Triptofan merupakan prekursor serotonin. Triptofan juga menurun pada pasien depresi.
Penurunan kadar triptofan juga dapat menurunkan mood pada pasien depresi yang remisi dan
individu yang mempunyai riwayat keluarga menderita depresi. Memori, atensi, dan fungsi
eksekutif juga dipengaruhi oleh kekurangan triptofan. Neurotisisme dikaitkan dengan
gangguan mood, tapi tidak melalui serotonin. Ia dikaitkan dengan fungsi kognitif yang terjadi
sekunder akibat berkurangnya triptofan. Hasil metabolisme serotonin adalah 5-HIAA
(hidroxyindolaceticacid). Terdapat penurunan 5-HIAA di cairan serebrospinal pada penderita
depresi. Penurunan ini sering terjadi pada penderita depresi dengan usaha-usaha bunuh diri.5

Penurunan serotonin pada depresi juga dilihat dari penelitian EEG tidur dan HPA aksis.
Hipofontalitas aliran darah otak dan penurunan metabolisme glukosa otak sesuai dengan
penurunan serotonin. Pada penderita depresi mayor didapatkan penumpulan respon serotonin
prefrontal dan temporoparietal. Ini menunjukkan bahw adanya gangguan serotonin pada
depresi.5

3). Noradrenergik

Badan sel neuron adrenergik yang menghasilkan norepinefrin terletak di locus ceruleus (LC)
batang otak dan berproyeksi ke korteks serebri, sistem limbik, basal ganglia, hipotalamus dan
talamus. Ia berperan dalam mulai dan mempertahankan keterjagaan (proyeksi ke limbiks dan
korteks). Proyeksi noradrenergik ke hipokampus terlibat dalam sensitisasi perilaku terhadap
stressor dan pemanjangan aktivasi locus ceruleus dan juga berkontribusi terhadap rasa
ketidakberdayaan yang dipelajari. Locus ceruleus juga tempat neuron-neuron yang
berproyeksi ke medula adrenal dan sumber utama sekresi norepinefrin ke dalam sirkulasi
darah perifer. Stresor akut dapat meningkatkan aktivitas LC. Selama terjadi aktivasi fungsi
LC, fungsi vegetatif seperti makan dan tidur menurun. Persepsi terhadap stressor ditangkap
oleh korteks yang sesuai dan melalui talamus diteruskan ke LC, selanjutnya ke komponen
simpatoadrenalsebagai respon terhadap stressor akut tsb. Porses kognitif dapat memperbesar
atau memperkecil respon simpatoadrenal terhadap stressor akut tersebut. Rangsangan
terhadap bundel forebrain (jaras norepinefrin penting di otak) meningkat pada perilaku yang
mencari rasa senang dan perilaku yang bertujuan. Stressor yang menetap dapat menurunkan
kadar norepinefrin di forbrain medial. Penurunan ini dapat menyebabkan anergia, anhedonia,
dan penurunan libido pada depresi. Hasil metabolisme norepinefrin adalah 3-methoxy-4-
hydroxyphenilglycol (MHPG). Penurunan aktivitas norepinefrin sentral dapat dilihat
berdasarkan penurunan ekskresi MHPG. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa MHPG
mengalami defisiensi pada penderita depresi. Kadar MHPG yang keluar di urin meningkat
kadarnya pada penderita depresi yang di ECT (terapi kejang listrik).5

Epidemiologi

Pada pengamatan universal, prevalensi gangguan depresif berat pada wanita dua kali
lebih besar dari pada laki-laki. Gangguan Bipolar I mempunyai prevalensi yang sama bagi
laki-laki dan wanita. Lebih banyaknya wanita yang tercatat mengalami depresi bisa
disebabkan oleh pola komunikasi wanita yang ingin memberitahukan masalahnya kepada
orang lain dan harapan untuk mendapatkan bantuan atau dukungan sedangkan pada laki-laki
cenderung untuk memikirkan masalahnya sendiri dan jarang menunjukkan emosinya.
Berbagai penelitian mengungkapkan golongan usia muda yaitu remaja dan dewasa awal lebih
mudah terkena depresi. Hal ini terjadi karena pada usia tersebut terdapat tahap-tahap serta
tugas perkembangan yang penting yaitu peralihan dari masa anak-anak ke masa remaja,
remaja ke dewasa, masa sekolah ke masa kuliah dan bekerja serta masa pubertas ke masa
pernikahan. Survei telah melaporkan prevalensi yang tinggi dari depresi terjadi pada usia 18-
44 tahun. Beberapa data epidemiologis baru-baru ini menyatakan insidensi gangguan depresif
berat meningkat pada usia kurang dari 20 tahun. Penurunan kecenderungan depresi pada usia
dewasa diduga karena berkurangnya respon emosi seseorang seiring bertambahnya usia,
meningkatnya kontrol emosi dan kekebalan terhadap pengalaman dan peristiwa hidup yang
dapat memicu stress. Onset gangguan bipolar I lebih awal dari daripada onset gangguan
depresi. Onset gangguan bipolar I dari usia 5 tahun sampai usia 50 tahun. Laporan kasus
gangguan bipolar I diatas usia 50 tahun sangat jarang. Pada umumnya gangguan depresif
berat paling sering terjadi pada seseorang yang tidak memiliki hubungan interpersonal yang
erat, telah bercerai atau berpisah dengan pasangan hidup. Gangguan bipolar I lebih sering
terjadi pada orang yang bercerai dan hidup sendiri daripada orang yang menikah.6
Gejala Klinis

a. Episode Depresi

Berdasarkan PPDGJ-III terdapat tiga variasi dari episode depresi yaitu depresi ringan,
sedang, dan berat.7
Gejala utama dari depresi adalah:
 Afek depresi
 Kehilangan minat dan kegembiraan
 Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah
yang nyata setelah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivita.

Gejala lainnya :
 Konsentrasi dan perhatian berkurang
 Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
 Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
 Pandangan tentang masa depan dan pesimistis
 Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
 Tidur terganggu
 Nafsu makan berkurang

Untuk episode depresi dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa
sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosis. Kategori diagnosis
episode depresi ringan, sedang, dan berat hanya digunakan untuk episode depresi
tunggal yang pertama, episode berikutnya hanya diklasifikasikan dibawah salah satu
diagnosis gangguan depresi berulang.7
Pasien menunjukkan gejala depresi seperti merasa sedih, tidak mempunyai
keinginan untuk melakukan sesuatu, kehilangan harapan, merasa tidak berharga,
beberapa pasien mengeluh sakit dan tidak dapat menangis.
Dua per tiga pasien depresi memiliki ide bunuh diri dan sekitar 10-15%
melakukan bunuh diri. Beberapa pasien depresi tampak tidak peduli dengan
depresinya dan tidak mengeluhkan perubahan suasana perasaannya, meskipun mereka
menarik diri dari keluarga, teman, dan aktivitas yang mereka senangi. Sebagian besar
pasien depresi mengeluhkan berkurangnya energi, kesulitan menyelesaikan pekerjaan,
dan kehilangan motivasi untuk memulai kegiatan. Sekitar 80% pasien mengeluh
gangguan tidur. 7
Ansietas merupakan gejala umum dari depersi yang mengenai hampir 90%
pasien depresi. Selain itu didapatkan juga gejala vegetatif seperti mens yang
abnormal, masalah seksual dan masalah somatik, ketidakmampuan berkonsentrasi dan
kegagalan berpikir.
Fobia sekolah dan kelekatan yang berlebihan dengan orang tua merupakan
gejala depresi pada anak Kegagalan nilai akademis, penyalahgunaan zat psikoaktif,
perilaku antisosial, seksual promiskuitas, dan melarikan diri dari rumah merupakan
gejala depresi pada remaja. Pada orang dewasa, depresi sering berhubungan dengan
status socialekonomi, kehilangan pasangan hidup, penyakit ,dan isolasi sosial. Pada
orang dewasa, depresi sering muncul dalam keluhan somatis.7
b. Episode Manik

Peningkatan perasaan seperti euforia, perasaan yang meluap-luap, atau mudah


tersinggung adalah tanda dari episode manik. Beberapa pasien manik dapat membuka
pakaiannya di tempat umum, mengenakan pakaian atau perhiasan yang mencolok, pasien
biasanya impulsive. Mereka mempunyai kecenderungan untuk memperhatikan politik,
agama, keuangan, dan seksual.7

Kriteria Diagnosis

DSM-IV-TR
Berdasarkan DSM-IV-TR, terdapat 2 bentuk utama gangguan bipolar, yaitu :8

1. Gangguan bipolar I, dimana terdapat perjalanan penyakit yang terdiri dari satu
atau lebih episode manik dan kadang-kadang episode depresi berat. Dapat juga
terjadi episode campur,yaitu suatu periode sekurang-kurangnya satu minggu
terdapat episode manik dan episode depresi setiap hari.
2. Gangguan bipolar II, ditandai dengan periode depresi berat dan hipomanik,
tanpa episode manik.

Kriteria diagnostik untuk episode depresi berat berdasarkan DSM-IV-TR: 1


A. Lima atau lebih gejala di bawah ini harus ada selama dua minggu dan terdapat
perubahan dari fungsi sebelumnya.; sekurang-kurangnya terdapat satu gejala
depresi atau kehilangan keinginan atau harapan.
(1) Depresi sepanjang hari, hampir setiap hari, yang dikeluhkan secara
subyektif (merasa sedih, atau kosong), atau berdasarkan pengamatan orang
lain
Note : pada anak dan remaja, dapat berupa mood yang mudah tersinggung
(2) Kehilangan minat atau kesenangan pada semua atau hampir semua
kegiatan sepanjang hari, hampir setiap hari
(3) Kehilangan berat badan yang signifikan tanpa diet, atau penurunan atau
peningkatan selera makan hampir setiap hari
(4) Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari
(5) Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari
(6) Lemah atau kehilangan energi hampir setiap hari
(7) Merasa tidak berharga atau merasa bersalah berlebihan (dapat menjadi
delusi), hampir setiap hari
(8) Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, atau tidak
mampu mengambil keputusan hampir setiap hari
(9) Sering berpikir tentang mati (buakan takut mati), sering memiliki ide
bunuh diri tanpa rencana yang spesifik, atau melakukan percobaan bunuh
diri atau memiliki rencana yang spesifik untuk bunuh diri
B. Tidak ditemukan gejala yang masuk dalam kriteria episode campur.
C. Gejala menunjukkan tekanan atau kegagalan dalam masyarakat, pekerjaan, atau
area fungsional lain yang penting.
D. Gejala bukan karena efek fisiologis dari obat
E. Gejala tidak lebih baik dari kehilangan, seperti kehilangan seseorang yang
dicintai, gejala menetap selama dua bulan, atau ditandai dengan kegagalan
fungsional, kegemaran abnormal yang tidak berguna, kehilangan harapan, ide
bunuh diri, gejala psikotik, atau retardasi psikomotor.
Kriteria diagnostik untuk episode manik berdasarkan DSM-IV-TR1:

A. Adanya suatu periode yang jelas dimana terdapat peningkatan suasana


perasaan yang menetap dan abnormal, perasaan yang meluap-luap, atau mudah
tersinggung, sekurang-kurangnya satu minggu
B. Selama periode gangguan mood, terdapat tiga (atau lebih), gejala di
bawah ini (empat jika gangguan mood hanya mudah tersinggung) dan telah ada
derajat yang tampak :
(1) Peningkatan percaya diri
(2) Penurunan kebutuhan tidur (merasa cukup beristirahat setelah tidur 3 jam)
(3) Lebih banyak bicara daripada biasanya atau mempunyai tekanan untuk
terus berbicara
(4) Fligt of ideas
(5) Distraktibilitas
(6) Agitasi psikomotor
(7) Memiliki keinginan yang berlebihan dan kesenangan untuk melakukan
aktivitas yang dapat mencelakakan
C. Gejala tidak termasuk dalam kriteria episode campur
D. Gangguan mood cukup berat untuk menyebabkan kegagalan berfungsi
dalam pekerjaan, atau dalam kegiatan sosial sehari-hari atau dalam hubungan
dengan orang lain, atau sampai memerlukan perawatan di rumah sakit untuk
mencegah melukai diri sendiri atau orang lain, atau ada gambaran psikotik
E. Gejala bukan karena efek fisiologis langsung dari obat atau penyakit
umum
Note : episode mirip manik yang jelas disebabkan oleh pengobatan somatik
antidepresan (seperti obat-obatan, ECT, terapi cahaya) tidak digolongkan pada
gangguan bipolar I.

Menurut PPDGJ III, gangguan suasana perasaan (mood [afektif]) dibagi


menjadi:

F30 Episode Manik


Kesamaan karakteristik dalam afek yang meningkat, disertai peningkatan
dalam jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan mental, dalam berbagai derajat
keparahan. Kategori ini hanya untuk satu episode manik tunggal (yang
pertama), termasuk gangguan afektif bipolar, episode manik tunggal. Jika ada
episode afektif (depresi, manik atau hipomanik) sebelumnya atau sesudahnya,
termasuk gangguan afektif bipolar. (F31).
F30.0 Hipomania
 Derajat gangguan yang lebih ringan dari mania (F30.1), afek yang
meninggi atau berubah disertai peningkatan aktivitas, menetap selama
sekurang-kurangnya beberapa hari berturut-turut, pada suatu derajat
intensitas dan yang bertahan melebihi apa yang digambarkan bagi
siklotimia (F34.0), dan tidak disertai halusinasi atau waham.
 Pengaruh nyata atas kelancaran pekerjaan dan aktivitas sosial memang
sesuai dengan diagnosis hipomania, akan tetapi bila kakacauan itu berat
atau menyeluruh, maka diagnosis mania (F30.1 atau F30.2) harus
ditegakkan.

F30.1 Mania Tanpa Gejala Psikotik


 Episode harus berlangsung sekurang-kurangnya 1 minggu, dan cukup
berat sampai mengacaukan seluruh atau hampir seluruh pekerjaan dan
aktivitas sosial yang biasa dilakukan.
 Perubahan afek harus disertai dengan energi yang bertambah sehingga
terjadi aktivitas berlabihan, percepatan dan kebanyakan bicara, kebutuhan
tidur yang berkurang, ide-ide perihal kebesaran/ “grandiose ideas” dan
terlalu optimistik.
F30.2 Mania Dengan Gejala Psikotik
 Gambaran klinis merupakan bentuk mania yang lebih berat dari F30.1
(mania tanpa gejala psikotik).
 Harga diri yang membumbung dan gagasan kebesaran dapat berkembang
menjadi waham kebesaran (delusion of grandeur), irritabilitas dan
kecurigaan menjadi waham kejar (delusion of persecution). Waham dan
halusinasi “sesuai” dengan keadaan afek tersebut (mood congruent).
F30.8 Episode Manik Lainnya
F30.9 Episode Manik YTT

F31 Gangguan Afektif Bipolar


 Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (sekurang-kurangnya dua
episode) dimana afek pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, pada
waktu tertentu terdiri dari peningkatan afek disertai penmbahan energi dan
aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan
afek disertai pengurangan energi dan aktivitas (depresi).
Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna antar
episode. Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan beralngsung
antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, episode depresi cenderung berlangsung
lebih lama (rata-rata sekitar 6 bulan) meskipun jarang melebihi 1 tahun
kecuali pada orang usia lanjut. Kedua macam episode itu seringkali
terajadi setelah peristiwa hidup yang penuh stres atau trauma mental lain
(adanya stres tidak esensial untuk penegakan diagnosis).
 Termasuk: gangguan atau psikosis manik-depresif.
Tidak termasuk: gangguan bipolar, episode manik tunggal (F30).
F31.0 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Hipomanik
 Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk hipomania (F30.0);
dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik,
manik, depresif atau campuran) di masa lampau.
F31.1 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik Tanpa Gejala Psikotik
 Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania tanpa
gejala psikotik (F30.1); dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik,
manik, depresif atau campuran) di masa lampau.
F31.2 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik Dengan Gejala Psikotik
 Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania dengan
gejala psikotik (F30.2); dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik,
manik, depresif atau campuran) di masa lampau.
F31.3 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Ringan atau Sedang
 Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif
ringan (F32.0) ataupun sedang (F32.1); dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik
atau campuran di masa lampau.
F31.4 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat Tanpa Gejala
Psikotik
 Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif
berat tanpa gejala psikotik (F32.2); dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik
atau campuran di masa lampau.
F31.5 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat Dengan Gejala
Psikotik
 Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif
berat dengan gejala psikotik (F32.3); dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik
atau campuran di masa lampau.
F31.6 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Campuran
 Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Episode yang sekarang menunjukkan gejala-gejala manik, hipomani,
dan depresif yang tercampur atau bergantian dengan cepat (gejala
mania/ hipomania dan depresi sama-sama mencolok selama masa
terbesar dari episode penyakit yang sekarang, dan telah berlangsung
sekurang-kurangnya 2 minggu); dan
(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik,
atau campuran di masa lampau.
F31.7 Gangguan Afektif Bipolar Episode Kini Dalam Remisi
 Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama beberapa
bulan terakhir ini, tetapi pernah mengalami sekurang-kurangnya satu
episode afektif hipomanik, manik, atau campuran dimasa lampau dan
ditambah sekurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik,
depresif atau campuran).
F31.8 Gangguan Afektif Bipolar Lainnya
F31.9 Gangguan Afektif Bipolar YTT

F32 Episode Depresif


 Gejala utama ( pada derajat ringan, sedang, dan berat ):
– Afek depresif
– Kehilangan minat dan kegembiraan, dan
– Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah
(rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya
aktivitas
 Gejala lainnya :
(a) Kosentrasi dan perhatian berkurang
(b) Harga diri dan kepercayaan berkurang
(c) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
(d) Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
(e) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri sendiri atau bunuh diri.
(f) Tidur terganggu
(g) Nafsu makan berkurang
 Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan
masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakan diagnosis, akan
tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa
beratnya dan berlangsung cepat.
 Kategori diagnosis episode depresif ringan (F32.0), sedang (F32.1) dan
berat (F32.2) hanya digunakan untuk episode depresi tunggal (yang
pertama). Episode depresif berikutnya harus diklasifikasikan di bawah
salah satu diagnosis gangguan depresif berulang (F33.-)
F32.0 Episode Depresif Ringan
 Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti
tersebut diatas;
 Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya: (a) sampai dengan
(g).
 Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya.
 Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2
minggu.
 Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa
dilakukannya.
Karakter kelima: F32.00 = Tanpa gejala somatik
F32.01 = Dengan gejala somatik
F32.1 Episode Depresif Sedang
 Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti pada
episode depresi ringan (F30.0);
 Ditambah sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainnya;
 Lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu.
 Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan
dan urusan rumah tangga.
Karakter kelima: F32.10 = Tanpa gejala somatik
F32.11 = Dengan gejala somatik
F32.2 Episode Depresif Berat Tanpa gejala Psikotik
 Semua 3 gejala utama dari depresi harus ada.
 Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan diantaranya harus
berintensitas berat.
 Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor) yang
mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk
melaporkan banyak gejalanya secara rinci.
Dalam hal demikian penilaian secara menyeluruh terhadap episode
depresif berat masih dapat dibenarkan.
 Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurangnya 2 minggu, akan
tetapi jika gejala sangat berat dan beronset sangat cepat, maka masih
dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam waktu kurang dari 2
minggu.
 Sangat tidak mungkin bagi pasien meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan
atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.

F32.3 Episode Depresif Berat Dengan Gejala Psikotik


 Episode Depresi Berat yang memenuhi kriteria menurut F32.2 tersebut
diatas.
 Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham biasanya
melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan, atau malapetaka yang
mengancam, dan pasien merasa bertanggung jawab akan hal itu.
Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya berupa suara yang menghina
atau menuduh, atau bau kotoran atau daging membusuk.
Reteardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor.
Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi
atau tidak serasi dengan afek (mood congruent).
F32.8 Episode Depresif Lainnya
F32.9 Episode Depresif YTT

F33 Gangguan Depresif Berulang


 Gangguan ini tersifat dengan episode berulang dari :
– episode depresif ringan (F32.0),
– episode depresif sedang (F32.1),
– episode depresif berat (F32.2 dan F32.3).
Episode masing-masing rata-rata lamanya sekitar 6 bulan, akan tetapi
frekuensinya lebih jarang dibandingkan dengan gangguan afektif bipolar.
 Tanpa riwayat adanya episode tersendiri dari peninggian afek dan
hiperaktivitas yang memenuhi kriteria mania (F30.1 dan F30.2).
Namun kategori ini tetap harus digunakan jika ternyata ada episode singkat
dari peninggian afek dan hiperaktivitas ringan yang memenuhi kriteria
hipomania (F30.0) segera sesudah suatu episode depresif (kadang-kadang
tampaknya dicetuskan oleh tindakan pengobatan depresi).
 Pemulihan keadaan biasanya sempurna diantara episode namun sebagian
kecil pasien mungkin mendapat depresi yang akhirnya menetap, terutama
pada usia lanjut (untuk keadaan ini, kategori ini harus tetap digunakan).
 Episode masing-masing, dalam berbagai tingkat keparahan, seringkali
dicetuskan oleh peristiwa kehidupan yang penuh stress dan trauma mental
lain (adanya stress tidak esensial untuk penegakan diagnosis).
F33.0 Gangguan Depresif Berulang, Episode Kini Ringan
 Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Kriteria untuk gangguan depresif berulang (F33.-) harus dipenuhi dan
episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif
ringan (F32.0); dan
(b) Sekurang-kurangnya dua episode telah berlangsung masing-masing
selama minimal 2 minggu dengan sela waktu beberapa bulan tanpa
gangguan afektif yang bermakna.
Karakter kelima: F33.00 = Tanpa gejala somatik
F33.01 = Dengan gejala somatik

F33.1 Gangguan Depresif Berulang, Episode Kini Sedang


 Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Kriteria untuk gangguan depresif berulang (F33.-) harus dipenuhi dan
episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif
ringan (F32.1); dan
(b) Sekurang-kurangnya dua episode telah berlangsung masing-masing
selama minimal 2 minggu dengan sela waktu beberapa bulan tanpa
gangguan afektif yang bermakna.
Karakter kelima: F33.10 = Tanpa gejala somatik
F33.11 = Dengan gejala somatik
F33.2 Gangguan Depresif Berulang, Episode Kini Berat Tanpa Gejala Psikotik
 Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Kriteria untuk gangguan depresif berulang (F33.-) harus dipenuhi dan
episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat
tanpa gejala psikotik (F32.2); dan
(b) Sekurang-kurangnya dua episode telah berlangsung masing-masing
selama minimal 2 minggu dengan sela waktu beberapa bulan tanpa
gangguan afektif yang bermakna.
F33.3 Gangguan Depresif Berulang, Episode Kini Berat Dengan Gejala Psikotik
 Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Kriteria untuk gangguan depresif berulang (F33.-) harus dipenuhi dan
episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat
dengan gejala psikotik (F32.3); dan
(b) Sekurang-kurangnya dua episode telah berlangsung masing-masing
selama minimal 2 minggu dengan sela waktu beberapa bulan tanpa
gangguan afektif yang bermakna.
F33.4 Gangguan Depresif Berulang, Kini Dalam Remisi
 Untuk menegakkan diagnosis pasti:
(a) Kriteria untuk gangguan depresif berulang (F33.-) harus pernah
dipenuhi masa lampau, tetapi keadaan sekarang seharusnya tidak
memenuhi kriteria untuk episode depresif dengan derajat keparahan
apa pun atau gangguan lain apa pun dalam F30-F39; dan
(b) Sekurang-kurangnya dua episode telah berlangsung masing-masing
selama minimal 2 minggu dengan sela waktu beberapa bulan tanpa
gangguan afektif yang bermakna.
F33.8 Gangguan Depresif Berulang Lainnya
F33.9 Gangguan Depresif Berulang YTT

F34 Gangguan Suasana Perasaan (Mood/Afektif) Menetap


F34.0 Siklotimia
Ciri esensial adalah ketidak-stabilan menetap dari afek (suasana perasaan),
meliputi banyak periode depresi ringan dan hipomania ringan, diantarany tidak ada
yang cukup parah atau cukup lama untuk memenuhi kriteria gangguan afektif bipolar
(F31.-) atau gangguan depresif berulang (F33.-). Setiap episode alunan afektif (mood
swings) tidak memenuhi kriteria untuk mana pun yang disebut dalam episode manik
(F30.-) atau episode depresif.

Penatalaksanaan

Rawat Inap

Merawat pasien yang menderita mania (hipomania) sebagai pasien rawat inap
psikiatrik merupakan cara yang hampir selalu paling baik. Meskipun pasien melakukan protes
agar tetap mendapatkan pengobatan rawat jalan, insight buruk yang terjadi pada gangguan
ini, bersamaan dengan perasaan sehat yang sering menyertai, sangat mungkin menyebabkan
ketidakpatuhan dan risiko mania memburuk. Seperti yang telah disinggung, mania berat
dapat menyebabkan pengabaian diri dan dehidrasi hingga tingkat berbahaya. Pada kasus
episode pertama, keluarga pasien perlu dijelaskan secara cermat sifat dan kondisi tersebut dan
perlunya rawat inap, keluarga pasien yang sudah pernah dirawat sebelumnya biasanya sangat
setuju pasien dirawat setelah menyaksikan dampak sosial dan pengobatannya.9
Farmakoterapi

Pilihan utama pengobatan adalah obat-obat antipsikotik (neuroleptik). Senyawa-


senyawa litium (litium karbonat dan litium sitrat) digunakan untuk profilaksis mania dan
tentu saja, gangguan bipolar. Garam litium juga dapat digunakan pada pengobatan mania
akut, tetapi pasien biasanya memerlukan waktu sekurang-kurangnya seminggu untuk
memberikan respons, sehingga obat-obat antipsikotik lebih dipilih. Litium mempunyai rasio
terapeutik rendah sehingga kadar dalam plasma perlu dipantau secara teratur. Melalui
penyesuaian dosis, konsentrasi obat dalam plasma dipertahankan antara 0,4 – 1,0 mmol/l
(diukur 12 jam setelah dosis terdahulu, biasanya saat mau tidur). Litium dan kation natrium
saling berkompetisi untuk di reabsorpsi di tubulus proksimal sehingga retensi litium dapat
disebabkan oleh defisiensi dan diuresis natrium. Kontraindikasi terhadapt penggunaan litium
mencakup:9

- Insufisiensi ginjal

- Insufisiensi kardiovaskular

- Penyakit addison

- Hipotiroidisme yang tidak terobati

Efek samping litium berbeda-beda sesuai konsentrasi plasma dan diperlihatkan pada tabel
dibawah. Selain pemantauan kadar litium dalam plasma, uji-uji lain yang sebaiknya
dilakukan secara teratur meliputi kadar urea dan elektrolit serta uji fungsi tiroid. Pada kasus
gangguan bipolar yang resisten terhadap litium, pengobatan profilaktik alternatif dengan
carbamazephine dapat dicoba. Sekali lagi, kadar plasma harus dipantau secara teratur.9

0,5 – 1 1 – 1,5 2 – 2,5 / >>


Efek GI Edema Hupereflesia dan
- Mual Tremor kasar hiperekstensi ekstremitas
- Muntah Ataksia Kejang
- Diare Disatria Psikosis toksik
Tremor halus Nistagmus Sinkop
Mulut kering Gangguan ginjal Oliguria
Poliuria dan polidipsi Anoreksia Kegagalan sirkulasi
Vertigo Kelemahan otot Koma
Penambahan BB Kematian
Gambar Tabel : Efek samping litium berdasarkan kadar litium

Terapi elektrokonvulsif (ECT)

Tindakan ini digunakan untuk pengobatan stupor manik, yang jarang terjadi akhir-
akhir ini di negara-negara Barat. Tindakan ini juga digunakan pada mania resisten sebagai
pengobatan lini ketiga setelah antipsikotik (neuroleptik) dan litium.9

Penanganan Psikososial
Jika pasien menjadi sasaran ekspresi emosi yang tinggi, keluarga harus ditemui dan
diberitahu mengenai perlunya mengurangi komentar kritis untuk mengurangi kemungkinan
relaps. Terapi keluarga dapat ditawarkan, masalah perkawinan/matrial dapat ditangani dengan
terapi matrial. Sifat gangguan bipolar sebaiknya dijelaskan pada keluarga, serta pasien bila ia
sehat, dan perlunya meneruskan pengobatan profilaktik sebaiknya ditekan.9

Prognosis

Banyak penelitian mengenai perjalanan penyakit dan prognosis gangguan suasana


perasaan (mood [afektif]) memberikan kesimpulan bahwa penyakit ini memiliki perjalanan
yang panjang dan pasien cenderung mengalami kekambuhan.9
Prognosa baik apabila:9
 Episodenya ringan, tidak ada gejala psikotik
 Perawatan di rumah sakit hanya singkat, tidak lebih dari sekali perawatan
 Selama masa remaja memuliki riwayat persahabatan yang erat dan baik
 pasien mempunyai hubungan psikososial yang baik dan kokoh
 Fungsi keluarga yang stabil dan baik
 Tidak ada gangguan psikiatri komorbid
 Tidak ada gangguan kepribadian.
Prognosa buruk apabila:9
 Adanya penyerta gangguan distimik
 Penyalahgunaan alkohol dan zat-zat lainnya
 Gejala gangguan kecemasan
 Riwayat lebih dari satu episode depresif sebelumnya.
 Laki-laki lebih sering menjadi kronis dan mengganggu dibandingkan perempuan.

Kesimpulan
Gangguan depersif berat bukan merupakan gangguan yang ringan. Keadaan ini
cenderung merupakan gangguan kronis, dan pasien cenderung mengalami relaps. Pasien
dengan gangguan bipolar memiliki prognosis yang lebih buruk dibandingkan pasien dengan
gangguan depresif berat. Sepertiga dari semua pasien gangguan bipolar memiliki gejala
kronis dan bukti-bukti penurunan sosial yang bermakna.
Daftar Pustaka

1. Puri BK, Laking PJ, Treasaden IH. Anamnesis dan pemeriksaan klinis. Buku ajar
psikiatri; ed. 2 – Jakarta: EGC, 2011.

2. Maramis WF. Catatan ilmu kedokteran jiwa. Edisi ke-2. Surabaya: Airlangga
University Press; 2009.h.195-277.

3. Amir N. Skizofrenia. Dalam: Elvira SD, Hadisukanto G, penyunting. Buku ajar


psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
2010.h.170-94.

4. Rusdi M. Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta:


Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa. 2001. p. 58-69.

5. Puri BK, Laking PJ, Treasaden IH. Gangguan mood, bunuh diri dan upaya bunuh diri.
Gangguan bipolar. Buku ajar psikiatri; ed. 2 – Jakarta: EGC, 2011.

6. Lubis NL. Depresi Tinjauan Psikologis. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
2009. p. 61-85.
7. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Kaplan dan Sadock Sinopsis Psikiatri Ilmu
Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis edisi 7. Jakarta: Binarupa Aksara. 1997. p. 777-
858
8. Muslim, Rusdi. Diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkas PPDGJ-III. Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya, Jakarta 2001.

9. Mycek MJ, Harvey RA, Champe PC. Farmakologi Ulasan Bergambar. Jakarta: Widya
Medika. 2001. p. 120-6