Anda di halaman 1dari 4

SOSIALISME DAN AGAMA

Wahyudi
Syarat sqrening Intermediet Lanjutan (LK III) Himpunan Mahasiswa Islam

Masyarakat yang ada saat ini sepenuhnya didasarkan atas eksploitasi yang
dilakukan oleh sebuah minoritas kecil penduduk, yaitu kelas tuan tanah dan
kaum kapitalis, terhadap masyarakat luas yang terdiri atas kelas pekerja. Ini
adalah sebuah masyarakat perbudakan, karena para pekerja yang "bebas", yang
sepanjang hidupnya bekerja untuk kaum kapitalis, hanya "diberi hak" sebatas
sarana subsistensinya. Hal ini dilakukan kaum kapitalis guna keamanan dan
keberlangsungan perbudakan kapitalis.
Tanpa dapat dielakkan, penindasan ekonomi terhadap para pekerja
membangkitkan dan mendorong setiap bentuk penindasan politik dan penistaan
terhadap masyarakat, menggelapkan dan mempersuram kehidupan spiritual dan
moral massa. Para pekerja bisa mengamankan lebih banyak atau lebih sedikit
kemerdekaan politik untuk memperjuangkan emansipasi ekonomi mereka, namun
tak secuil pun kemerdekaan yang akan bisa membebaskan mereka dari
kemiskinan, pengangguran, dan penindasan sampai kekuasaan dari kapital
ditumbangkan. Agama merupakan salah satu bentuk penindasan spiritual yang
dimanapun ia berada, teramat membebani masyarakat, teramat membebani
dengan kebiasaan mengabdi kepada orang lain, dengan keinginan dan isolasi.
Impotensi kelas tertindas melawan eksploitatornya membangkitkan keyakinan
kepada Tuhan, jin-jin, keajaiban serta jang sedjenisnya, sebagaimana ia dengan
tak dapat disangkal membangkitkan kepercayaan atas adanya kehidupan yang
lebih baik setelah kematian. Mereka yang hidup dan bekerja keras dalam
keinginan, seluruh hidup mereka diajari oleh agama untuk menjadi patuh dan
sopan ketika di sini di atas bumi dan menikmati harapan akan ganjaran-ganjaran
surgawi. Tapi bagi mereka yang mengabdikan dirinya pada orang lain diajarkan
oleh agama untuk mempraktekkan karitas selama ada di dunia, sehingga
menawarkan jalan yang mudah bagi mereka untuk membenarkan seluruh
keberadaannya sebagai penghisap dan menjual diri mereka sendiri dengaan tiket
murah untuk menuju surga. Agama merupakan candu bagi masyarakat. Agama
merupakan suatu minuman keras spiritual, di mana budak-budak kapital
menenggelamkan bayangan manusianya dan tuntutan mereka untuk hidup yang
sedikit banyak berguna untuk manusia.
Tetapi seorang budak yang menjadi sadar akan perbudakannya dan bangkit untuk
memperjuangkan emansipasinya ternyata sudah setengah berhenti sebagai budak.
Para buruh modern yang berkesadaran-kelas, digunakan oleh industri pabrik skala
besar dan diperjelas oleh kehidupan perkotaan yang merendahkan kedudukan di
samping prasangka-prasangka religius, meninggalkan surga kepada parra pastur
dan borjuis fanatik, dan mencoba meraih kehidupan yang lebih baik untuk dirinya
sendiri di atas bumi ini. Proletariat sekarang ini berpihak pada sosialisme, yang
mencatat pengetahuan dalam perang melawan kabut agama, dan membebaskan
para pekerja dari keyakinan terhadap kehidupan sesudah mati dengan
mempersatukan mereka bersama guna memperjuangkan masa sekarang untuk
kehidupan yang lebih baik di atas bumi ini.
Agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi. Dalam kata-kata inilah kaum
sosialis biasa menyatakan sikapnya terhadap agama. Tetapi makna dari kata-kata
ini harus dijelaskan secara akurat untuk mencegah adanya kesalahpahaman
apapun. Kita minta agar agama dipahami sebagai sebuah persoalan pribadi,
sepanjang seperti yang diperhatikan oleh negara. Namun sama sekali bukan
berarti kita bisa memikirkan agama sepanjang seperti yang diperhatikan oleh
Partai. Sudah seharusnya agama tidak menjadi perhatian negara, dan masyarakat
religius seharusnya tidak berhubungan dengan otoritas pemerintahan. Setiap
orang sudah seharusnya bebas mutlak menentukan agama apa yang dianutnya,
atau bahkan tanpa agama sekalipun, yaitu, menjadi seorang atheis, dimana bagi
kaum sosialis, sebagai sebuah aturan. Diskriminasi diantara para warga
sehubungan dengan keyakinan agamanya sama sekali tidak dapat ditolerir.
Bahkan untuk sekedar penyebutan agama seseorang di dalam dokumen resmi
tanpa ragu lagi mesti dibatasi. Tak ada subsidi yang harus diberikan untuk
memapankan gereja, negara juga tidak diperbolehkan didirikan untuk masyarakat
religius dan gerejawi. Hal-hal ini harus secara absolut menjadi perkumpulan bebas
orang-orang yang berpikiran begitu, asosiasi yang independen dari negara. Hanya
pemenuhan seutuhnya dari tuntutan ini yang dapat mengakhiri masa lalu yang
memalukan dan keparat, saat gereja hidup dalam ketergantungan feodal pada
negara, dan rakyat Rusia hidup dalam ketergantungan feodal pada gereja yang
mapan, ketika di jaman pertengahan, hkum-hukum inquisisi (yang hingga hari ini
masih mendekam dalam hukum-hukum pidana dan pada kitab undang-undang
kita) ada dan diterapkan, menyiksa banyak orang untuk keyakinan maupun
ketidakyakinannya, memperkosa hati nurani orang-orang, dan menggabungkan
pemerintah yang enak dan pendapatan dari pemerintah, dengan dispensasi ini dan
itu yang membiuskan, oleh lembaga gereja. Pemisahan yang tegas antara lembaga
Negara dan Gereja adalah apa yang dituntut proletariat sosialis mengenai negara
modern dan gereja modern.
Revolusi Rusia harus memberlakukan tuntutan ini sebagai sebuah komponen yang
diperlukann untuk kemerdekaan politik. Dalam hal ini, revolusi Rusia berada
dalam sebuah posisi yang menyenangkan, karena ofisialisme yang menjijikkan dari
otokrasi feodal polisi berkuda telah menimbulkan ketidakpuasan, keresahan, dan
kemarahann bahkan di antara para pendeta. Serendah-rendahnya dan sedungu-
dungunya pendeta Orthodoks Rusia, mereka pun sekarang telah dibangunkan oleh
guntur keruntuhan tatanan abad pertengahan yang kuno di Rusia. Bahkan mereka
yang bergabung dalam tuntutan untuk kebebasan, memprotes praktek-praktek
birokratik dan ofisialisme, hal memata-matai polisiyang sudah ditetapkan sebagai
"pelayan Tuhan". Kita kaum sosialis harus memberikan dukungan kita pada
gerakan ini, mendukung tuntutan para pendeta yang jujur dan tulus hati menuju
ke tujuan mereka, membuat mereka meyakini kata-kata mereka tentang
kebebasan, menuntut bahwa mereka harus memutuskan semua hubungan antara
lembaga keagamaan dan kepolisian. Seperti juga bagi Anda yang tulus hati, di tiap
kasus Anda harus mempertahankan pemisahan antara Gereja dengan Negara dan
sekolah dengan Agama, sepanjang agama sudah dinyatakan secara tuntas dan
menyeluruh sebagai urusan pribadi. Atau Anda tidak menerima tuntutan-tuntutan
konsisten tentang kebebasan ini, dalam kasus dimana Anda tetap terpikat dengan
tradisi inkuisisi, dalam kasus dimana Anda tetap berpegang teguh dengan kerja
pemerintahan yang enak dan pendapatan dari pemerintah, dalam kasus dimana
Anda tidak percaya terhadap kekuatan spiritual dari senjatamu dan melanjutkan
untuk mengambil suap dari negara. Dan dalam kasus itulah para pekerja
berkesadaran-kelas di seluruh Rusia menyatakan perang tanpa ampun terhadap
Anda.
Sepanjang yang diperhatikan kaum sosialis proletariat, agama bukanlah sebuah
persoalan pribadi. Partai kita adalah sebuah asosiasi dari para pejuang maju yang
berkesadaran kelas, yang bertujuan untuk emansipasi kelas pekerja. Sebuah
asosiasi seperti itu tidak dapat dan tidak seharusnya mengabaikan adanya
kekurangan kesadaran- kelas, ketidaktahuan atau obscurantisme (isme
kekaburan, ketidakjelasan) dalam bentuk keyakinan-keyakinan agama. Kita
menuntut pembinasaan sepenuhnya terhadap Gereja dan dengannya mampu
menerangi kabut religius yang begitu ideologis dan dengan sendirinya senjata
ideologis, dengan sarana pers kita dan melalui kata dari mulut. Namun kita
mendirikan asosiasi kita, Partai Buruh Sosial-Demokrat Rusia, tepatnya untuk
sebuah perjuangan melawan setiap agama yang menina bobokan para pekerja.
Dan bagi kita perjuangan ideologi bukan sebuah urusan pribadi, namun persoalan
seluruh Partai, seluruh proletariat.
Jika memang demikian, mengapa kita tidak menyatakan dalam Program kita
bahwa kita adalah atheis? Mengapa kita tidak melarang orang-orang Kristen dan
para penganut agama Tuhan lainnya untuk bergabung dalam partai kita?
Jawaban terhadap pertanyaan ini akan memberikan penjelasan tentang perbedaan
yang cukup penting dalah hal persoalan agama yang ditampilkan oleh para
demokrat borjuis dan kaum Sosial-Demokrat.
Program kita keseluruhannya berdasar pada cara pandang yang ilmiah, dan lebih
jauh materialistik. Oleh karenanya, sebuah penjelasan mengenai program kita
secara amat perlu haruslah memasukkan sebuah penjelasan tentang akar-akar
historis dan ekonomis yang sesungguhnya dari kabut agama. Propaganda kita
perlu memasukkan propaganda tentang atheisme; publikasi literatur ilmiah yang
sesuai – dimana pemerintah feodal otokratis hingga saat ini telah melarang dan
menyiksa – yang pada saat ini harus membentuk satu bidang dari kerja partai kita.
Kita sekarang mungkin harus mengikuti nasehat yang diberikan Engels kepada
kaum Sosialis Jerman: menterjemahkan dan menyebarkan literatur intelektual
Pencerahan Perancis abad ke-18 dan kaum atheis. [36]
Namun bagaimanapun juga kita tidak boleh dan tidak patut untuk jatuh dalam
kesalahan menempatkan persoalan agama ke dalam sebuah abstrak, kebiasaan
jang idealistik, sebagai sebuah masalah "intelektual" yang tak berhubungan
dengan perjuangan kelas, seperti yang tidak jarang dilakukan oleh kaum
demokrat-radikal yang ada di antara kaum borjuis. Tentulah bodoh untuk berpikir
bahwa, dalam sebuah masyarakat yang berdasar pada penindasan tanpa akhir dan
merendahkan massa pekerja, prasangka-prasangka agama bisa disingkirkan hanya
melalui metode propaganda melulu. Inilah kesempitan cara berpikir borjuis yang
lupa bahwa beban agama yanng memberati kehidupann manusia sebenarnya tak
lebih adalah sebuah produk dan refleksi beban ekonomi yang ada di dalam
masyarakat. Tak satupun dari famplet khotbah, berabapun jumlahnya, dapat
memberi pencerahan pada kaum proletariat, jika ia tidak dicerahkan dengan
perjuangannya sendiri melawan kekuatan gelap dari kapitalisme. Persatuan dalam
perjuangan revolusioner yang sesungguhnya dari kelas kaum tertindas untuk
menciptakan sebuah sorgaloka di bumi, lebih penting bagi kita ketimbang
kesatuan opini proletariat di taman firdaus surga.
Hal inilah yang menjadi alasan mengapa kita tidak dan tidak akan menyatakan
atheisme dalam program kita, itulah mengapa kita tidak akan dan tidak akan
melarang kaum proletariat yang tetap memelihara sisa-sisa prasangka lama untuk
menggabungkan diri mereka dengan Partai kita. Kita akan selalu mengkhotbahkan
cara pandang ilmiah, dan hal itu essensial bagi kita untuk memerangi
ketidakkonsistenan dari berbagai aliran "Nasrani". Namun bukan berarti bahwa
pada akhirnya persoalan agama akan dikembangkan menjadi persoalan utama,
sementara hal itu sudah tidak dipersoalkan lagi, atau bukan pula berarti bahwa
kita akan membiarkan semua kekuatan dari perjuangan ekonomi dan politik
revolusioner yang sesungguhnya untuk dipilah-pilah mengikuti opini tingkat ketiga
ataupun ide-ide yang tidak masuk akal. Karena hal ini akan segera kehilangan
semua arti penting politisnya, segera akan disapubersih sebagai sampah oleh
perkembangan ekonomi.
Dimanapun kaum borjuis reaksioner hanya memperhatikan dirinya sendiri, dan
sekarang sudah mulai memperhatikan dirinya di Rusia, dengan menggerakkan
perselisihan agama – karenanya dalam rangka membelokkan perhatian massa dari
problem-problem ekonomi dan politik yang demikian penting dan fundamental,
pada saat ini diselesaikan dalam praktek oleh semua proletariat Rusia yang
bersatu dalam perjuangan revolusioner. Kebijaksanaan revolusioner yang
memecahbelahkan kekuatan kaum proletariat, dimana pada saat ini
manifestasinya muncul dalam program Black-Hundred, mungkin besok akan
menyusun bentuk-bentuk yang lebih subtil. Kita, pada setiap tingkat, akan
melawannya dengan tenang, secara konsisten dan sabar berkhotbah tentang
solidaritas proletarian dan cara pandang ilmiah – seorang pengkhotbah yang asing
pada apapun hasutan-hasutan perbedaan sekunder.
Kaum proletariat reevolusioner akan berhasil dalam membentuk agama menjadi
benar-benar urusan pribadi, sejauh yang diperhatikan oleh negara. Dan dalam
sistem politik ini, bersih dari lumut-lumut abad pertengahan, kaum proletariat
akan keluar dan membuka pertarungan untuk mengeliminasi perbudakan
ekonomi, sumber yang murni dari segala omong kosong relijius manusia.