Anda di halaman 1dari 7

SOAL UAS HUKUM KESEHATAN PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN RUMAH SAKIT

UNISBA – BANDUNG
Koordinator Dosen: H.M. Hadi S., dr., S.H., M.H.Kes

Terlampir adalah salinan berita tentang pembeberan rekam medis oleh Direktur RSMS Purwokerto.

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/jawamadura/2005/04/brk.20050405-39.id.htm
Beberkan Rekam Medis Disidik Polisi
Selasa, 05 April 2005 16:53 WIB

TEMPO Interaktif, Purwokerto : Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Purwokerto,
Margono Soekarjo, Hartanto, dipanggil Markas Kepolisian Resort (Polres) Banyumas, Selasa (5/4)
sehubungan dengan somasi dugaan malpraktik. Gara-gara seorang pasien RS tersebut meninggal dunia.
Margono juga dituduh telah melanggar aturan karena mempublikasikan data rekam medis pasien yang
seharusnya menjadi rahasia.
Permintan keterangan itu berlangsung satu jam lebih di salah satu ruang di Mapolres Banyumas.
Margono mendapat 16 pertanyaan yang diajukan Inspektur Satu (Iptu) Sudiro. Dalam pemeriksaan itu
Margono didampingi seorang dosen Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman. Polisi sempat
menolak kehadiran dosen itu dengan alasan tak punya izin praktek pengacara. Padahal, untuk
mendampingi seorang tersangka tak perlu izin praktek pengacara, kecuali di pengadilan.
AKP Sudiro menyatakan, pertanyaan yang dia ajukan lebih berfokus pada tindakan Margono
selaku Direktur RSUD Margono yang membeberkan rekam medis pasien bernama Warsinah, warga
kelurahan Sumampir, Kecamatan Purwokerto Utara. Warsinah adalah pasien yang meninggal setelah
tiga hari dirawat di RSUD Margono akibat diabetes yang dideritanya. Namun dalam perawatan itu Darno,
suami Warsinah melayangkan somasi kepada RSUD Margono melalui kuasa hukumnya yakni Dwi
Prasetyo Sasongko SH dan Joko Susanto SH, keduanya dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH)
Kesehatan dan Perumahsakitan.
Somasi yang dikirimkan kepada 19 instansi itu berisi dugaan malpraktik yang dilakukan RSUD
Margono yang mengakibatkan kematian Warsinah. Saat dirawat di RS Margono 13-16 Februari 2005 lalu
Warsinah meninggal akibat karena kadar gula yang terlalu tinggi. Hal itu diduga karena dipicu pemberian
infus berisi cairan mengandung gula sehingga memicu kenaikan kadar gula dalam tubuh Warsinah.
Dalam somasi, LBH Kesehatan dan Perumahsakitan juga meminta RSUD Margono memberikan
catatan rekam medis mengenai Warsinah. RS Margono lantas mengirimkan permintaan LBH yakni
mengirimkan hasil rekam medis. Surat penjelasan rekam medis itu tidak hanya diberikan pada pengacara
melainkan juga ke-18 instansi yang lain, salah satunya ke kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)
Cabang Banyumas. Beberapa hari kemudian muncul pemberitaan di harian Suara Merdeka Kamis, 31
Maret 2005.
Dalam pemberitaan itu disebutkan, Warsinah menderita febris berdasar gejala yang dialami
sewaktu masuk Instalasi Gawat Darurat yakni panas enam hari, mual, muntah dan lemas. Infus yang
diberikan saat itu berupa cairan gula. Cairan infus lantas diganti dengan jenis RL dan Warsinah diberi
Actrapid begitu hasil analisa dokter menunjukkan Warsinah mengidap Diabetes.
Beberapa saat kemudian Warsinah mengalami koma dan meninggal dunia. Rekam medis itulah
yang dibeberkan dalam surat yang tembusan pada 19 instansi tersebut. Joko Susanto menyatakan,
rekam medis seharusnya tidak dibeberkan kepada khalayak karena merupakan rahasia pasien. ”Pihak
RS telah melakukan pelanggaran hukum yakni Pasal 322 KUHP yang berisi larangan membuka rahasia
yang seharusnya wajib disimpan karena jabatan atau pekerjaan seorang dokter”, kata Joko. Ancaman
hukuman terhadap pelanggaran pasal itu sembilan bulan penjara.
Iptu Sudiro menyatakan, setelah Margono, polisi juga akan memanggil dr. I Gede Arinton, yang
langsung menangani Warsinah dan wartawan harian yang memuat hasil rekam medis. ”Untuk sementara
masih kami panggil mereka sebagai saksi. Kelanjutan status akan ditentukan hasil pemeriksaan nanti.
Kami masih fokus pada pembeberan rekam medis kepada publik”, katanya. Ada-ada aja.

Pertanyaan untuk dijawab(open book):


1. Dalam hal pembeberan rekam medis oleh direktur rumah sakit tersebut, di manakah letak
kesalahannya, dan berdasarkan peraturan perundangan yang mana ?
2. Bagaimanakah aturan yang seharusnya dilakukan oleh dokter atau pimpinan rumah sakit bila
akan melepaskan informasi medis yang tercatat di dalam rekam medis untuk keperluan ...
a. audit medik atau audit kematian
b. penelitian
c. asuransi
d. pengadilan
3. Pimpinan rumah sakit berkewajiban menyelenggarakan rekam medis ...
a. bagaimana tata-cara retensi dokumen rekam medis, penilaian nilai guna rekam medis dan
pemusnahan rekam medis ?
b. kebijakan apa saja yang harus dibuat oleh pimpinan rumah sakit sebagai pedoman
bagi staf yang melaksanakan penyelenggaraan rekam medis di rumah sakit ?,
Jelaskan !
4. Dalam kaitannya dengan kasus ini, terhadap dokter yang menangani pasien, menurut Anda
malpraktik jenis apa yang telah dilakukan ?
5. Sebagaimana diketahui bahwa malpraktik yang dilakukan oleh dokter dapat berupa: malpraktik
etika, malpraktik administratip, malpraktik disiplin, dan malpraktik yuridik. Sebutkan / jelaskan arti
dan cara mencegahnya.

Selamat mengerjakan

Jawaban :

1. Dalam kasus RSUD Margono tersebut mengenai pembeberan data rekam medis,
letak kesalahan Rumah Sakit yaitu memberikan kepada 18 instansi lainnya bukan hanya
diberikan kepada penegak hukum sesuai dengan Permenkes no. 269/2008 &
UU no.29/2004 yaitu rekam medis apabila sudah menjadi perkara baru dapat diberikan
kepada penegak hukum, tetapi dalam kasus ini rekam medis diberikan kepada 18 instansi
lainnya, , salah satunya ke kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang
Banyumas. Dalam pasal lainnya adapun penjelasan mengenai rekam medis yaitu menurut
pasal 1 Permenkes RI nomor 269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam Medis, rekam
medis merupakan berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien,
pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada
pasien. Rekam medis merupakan pintu utama dalam pelayanan kesehatan, sebagai salah
satu ukuran kepuasan pasien. Unit rekam medis bertanggung jawab terhadap pengelolaan,
pengumpulan data, pemprosesan, dan penyajian data pasien menjadi informasi kesehatan
yang berguna bagi pengambil keputusa. Selain itu, pelayanan ksehatan mempunyai
kewajiban administrasi unutk membuat, menyimpan dan memelihara rekam medis, dan
yang berhak mendapatkan ringkasan rekam medis adalah :
 Pasien
 Keluarga pasien
 Orang yang diberi kuasa oleh pasien atau keluarga pasien
 Orang yang mendapat persetujuan tertulis dari pasien atau keluarga pasien

Sedangkan dalam kasus ini, yang mendapatkan isi rekam medis tersebut merupakan tanpa
persetujuan tertulis dari pasien atau keluarga pasien.
2. A. Audit medik atau audit kematian

Rekam medis dijaga kerahasiaannya, bahkan sampai pasien meninggal dunia. Jika
pasien meninggal dunia, maka keluarga tidak berhak untuk meminta rekam medis
B. Penelitian
Untuk kepentingan penelitian, dapat diberikan, namun tanpa identitas
C. Asuransi
Rekam medis hanya boleh diketahui oleh pasien atau orang tuanya {dalam hal ini
apabila pasien belum dewasa). Pihak lain seperti keluarga, kuasa hukum pasien, perusahaan atau
asuransi kesehata dapat mengetahui isis rekam medik apabila pasien mengizinkan secara tertulis
dan sadar akan risiko diketahui rahasia dirinya oleh orang lain.
D. Pengadilan
Rekam medis mempunyai nilai hukum karena isisnya menyangkut masalah
adanya jaminan kepastian hukum atas dasar keadilan dalam usaha menegakkan hukum serta
bukti unutk mengakkan keadilan.
3. A. Sesuai Permenkes No. 269/MENKES/PER/III/2008. Sesuai Permenkes tersebut

dijelaskan antara lain:


 Untuk Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit dalam mengelola dan pemusnahan
rekam medis maka harus memenuhi aturan sebagai berikut:
o Rekam medis pasien rawat inap wajib disimpan sekurang-kuangnya 5 tahun
sejak pasien berobat terakhir atau pulang dari berobat di rumah sakit.
o Setelah 5 tahun rekam medis dapat dimusnahkan kecuali ringakasan pulang
dan persetujuan tindakan medik.
o Ringakasan pulang dan persetujuan tindakan medik wajib disimpan dalam
jangka waktu 10 sejak ringkasan dan persetujuan medik dibuat.
o Rekam medis dan ringkasan pulang disimpan oleh petugas yang ditunjuk oleh
pimpinan sarana pelayanan kesehatan.
 Untuk Pelayanan Kesehatan non rumah Sakit dalam mengelola dan pemusnahan
rekam medis harus memenuhi aturan sebagai berikut:
o Rekam medis pasien wajib disimpan sekurang-kuangnya 2 tahun sejak pasien
berobat terakhir atau pulang dari berobat. Setelah 2 tahun maka rekam medis
dapat dimusnahkan.

Pemusnahan dokumen rekam medis dilakuan dengan cara dibakar menggunakan


incerator atau dibakar biasa, dicacah, dibuat bubur disaksikan oleh pihak ketiga dan tim
pemusnah.
B. Kebijakan sesuai dengan Sesuai Permenkes No. 269/MENKES/PER/III/2008.
Diaman dalam pelaksanaan rekam medik, baik kegiatannya, pencatatan dan
penyimpanan diatur dalam UU no.29/2004 dan standar prosedur yang dibuat sarana
pelayanan kesehatan, juga saesuai dengan etika kedokteran indonesia. Jadi jelas
bahwa rekam medik tidak boleh keluar dari sarana pelayanan kesehatan.
4. Menurut saya dokter yang menangai pasien di Unit Gawat Darurat dengan
memberikan infus yang mengandung gula pada pasien Diabetes adalah Criminal
Malpractice yang bersifatne negligence (lalai) misalnya kurang hati-hati mengakibatkan
luka, cacat atau meninggalnya pasien.
5. Jenis-Jenis Malpraktek dan cara pencegahannya yaitu :
a. Malpraktek Etik

Yang dimaksud dengan malpraktek etik adalah dokter melakukan tindakan yang
bertentangan dengan etika kedokteran. Sedangkan etika kedokteran yang dituangkan da
dalam KODEKI merupakan seperangkat standar etis, prinsip, aturan atau norma yang
berlaku untuk dokter.

b. Malpraktek Yuridik

Soedjatmiko membedakan malpraktek yuridik ini menjadi :

1. Malpraktek Perdata (Civil Malpractice)


Terjadi apabila terdapat hal-hal yang menyebabkan tidak dipenuhinya isi
perjanjian (wanprestasi) didalam transaksi terapeutik oleh dokter atau tenaga
kesehatan lain, atau terjadinya perbuatan melanggar hukum (onrechmatige daad)
sehingga menimbulkan kerugian pada pasien.

Adapun isi dari tidak dipenuhinya perjanjian tersebut dapat berupa :

 Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatan wajib dilakukan.


 Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat
melaksanakannya.
 Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak
sempurna dalam pelaksanaan dan hasilnya.
 Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan.

Sedangkan untuk perbuatan atau tindakan yang melanggar hukum haruslah memenuhi
beberapa syarat seperti :

 Harus ada perbuatan (baik berbuat naupun tidak berbuat)


 Perbuatan tersebut melanggar hukum (baik tertulis maupuntidak tertulis)
 Ada kerugian
 Ada hubungan sebab akibat (hukum kausal) antara perbuatan yang melanggar
hukum dengan kerugian yang diderita.
 Adanya kesalahan (schuld)

Sedangkan untuk dapat menuntut pergantian kerugian (ganti rugi) karena kelalaian
dokter, maka pasien harus dapat membuktikan adanya empat unsure berikut :

 Adanya suatu kewajiban dokter terhadap pasien.


 Dokter telah melanggar standar pelayanan medik yang lazim.
 Penggugat (pasien) telah menderita kerugian yang dapat dimintakan ganti
ruginya.
 Secara faktual kerugian itu disebabkan oleh tindakan dibawah standar.

Namun adakalanya seorang pasien tidak perlu membuktikan adanya kelalaian


dokter. Dalam hukum ada kaidah yang berbunyi “res ipsa loquitor” yang artinya fakta
telah berbicara. Misalnya karena kelalaian dokter terdapat kain kasa yang tertinggal
dalam perut sang pasien tersebut akibat tertinggalnya kain kasa tersebut timbul
komplikasi paksa bedah sehingga pasien harus dilakukan operasi kembali. Dalam hal
demikian, dokterlah yang harus membuktikan tidak adanya kelalaian pada dirinya.

2. Malpraktek Pidana (Criminal Malpractice)

Terjadi apabila pasien meninggal dunia atau mengalami cacat akibat


dokter atau tenaga kesehatan lainnya kurang hati-hati atua kurang cermat dalam
melakukan upaya penyembuhan terhadap pasien yang meninggal dunia atau cacat
tersebut.

a. Malpraktek pidana karena kesengajaan (intensional)

Misalnya pada kasus-kasus melakukan aborsi tanpa indikasi medis,


euthanasia, membocorkan rahasia kedokteran, tidak melakukan pertolongan pada
kasus gawat padahal diketahui bahwa tidak ada orang lain yang bisa menolong,
serta memberikan surat keterangan dokter yang tidak benar.

b. Malpraktek pidana karena kecerobohan (recklessness)


Misalnya melakukan tindakan yang tidak lege artis atau tidak sesuai
dengan standar profesi serta melakukan tindakn tanpa disertai persetujuan
tindakan medis.
c. Malpraktek pidana karena kealpaan (negligence)

Misalnya terjadi cacat atau kematian pada pasien sebagai akibat tindakan
dokter yang kurang hati-hati atau alpa dengan tertinggalnya alat operasi yang
didalam rongga tubuh pasien.

d. Malpraktek Administratif (Administrative Malpractice)

Terjadi apabila dokter atau tenaga kesehatan lain melakukan pelanggaran


terhadap hukum Administrasi Negara yang berlaku, misalnya menjalankan
praktek dokter tanpa lisensi atau izinnya, manjalankan praktek dengan izin yang
sudah kadaluarsa dan menjalankan praktek tanpa membuat catatan medik.
Upaya pencegahan Malpraktek :

Yaitu, kita sebagai tenaga medis khususnya dokter harus selalu berhati-
hati dalam bertindak selalu fokus dan mengikuti seluruh rangkaian sop. Kita juga
harus mengenal mengenai jenis jenis malpraktek dengan begitu kita bisa tahu cara
untuk menghidari dari malpraktek tersebut, karena sekarang terdapat
kecenderungan masyarakat untuk menggugat tenga kesehatan khusunya dokter
dan banyak pula kasus kriminalisasi dokter.