Anda di halaman 1dari 22

BAB III

TUGAS KHUSUS
“PENENTUAN JAM KERJA AMAN TANPA KECELAKAAN DI PT. PERTA
ARUN GAS”

3.1 Pendahuluan
3.1.1 Latar Belakang
Kecelakaan dilingkungan kerja merupakan kerugian bagi perusahaan. Selain
kerugian segi materil seperti jam kerja hilang, produktivitas, kerusakan material dan
mesin, terdapat aspek kerugian lain yang tidak terlihat jelas seperti kenyamanan
pekerja dalam beraktivitas. Pengontrolan seluruh sistem Manajemen Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (SMK3) perlu dilakukan agar kegiatan produksi dapat berjalan
efektif dan efisien.
Bahaya di tempat kerja dapat didefenisikan sebagai suatu kondisi, atau
kombinasi dari berbagai kondisi, dimana bila tidak terkoreksi dapat menyebabkan
terjadinya kecelakaan, penyakit atau kerusakan property (Goetsch, 1993). Sedangkan
menurut Colling (1990), bahaya ditempat kerja merupakan suatu kondisi tempat kerja
dimana terdapat suatu variabel atau berbagai variabel yang berpotensi menimbulkan
kecelakan, cedera serius, penyakit, dan kerugian.
Menurut Heinrich (1980), kecelakan merupakan suatu kejadian yang bersifat
kebetulan, tidak direncanakan, dan tidak diharapkan dimana terjadi aksi dan reaksi
antara objek, bahan, atau material dengan manusia sehingga menimbulkan cedera.
Kecelakaan yang terjadi memiliki sebab-sebab tersebut umumnya dapat dicegah
(Soemirat, 1999). Upaya pencegahan kecelakaan dapat dilakukan dengan mengoreksi
atau paling tidak meminimasi setiap bahaya yang dapat diidentifikasi. Suatu analisis
yang akurat terhadap potensi bahaya ditempat kerja merupakan salah satu upaya
untuk mengendalikan masalah k3 dan dapat digunakan sebagai salah satu data dalam
menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.
PT. Perta Arun Gas merupakan suatu perusahaan yang bergerak dibidang
regasifikasi gas dan penyimpanan kondensat. Dalam rangka mendukung program

34
35

pemerintah untuk Sumatera Utara (Belawan), maka PT Pertamina Gas dan PT


Pertagas Niaga membentuk badan usaha untuk proyek Arun LNG Receiving dan
Regasification Terminal. Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi
kebutuan hidupnya. Dalam bekerja, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan karena seseorang yang
mengalami sakit atau kecelakaan dalam bekerja akan berdampak pada diri, keluarga
dan lingkungannya. Salah satu komponen yang dapat meminimalisir Kecelakaan
dalam kerja adalah tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan mempunyai kemampuan
untuk menangani korban dalam kecelakaan kerja dan dapat memberikan penyuluhan
kepada masyarakat untuk menyadari pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja.
Kecelakaan yang terjadi mengakibatkan hilang nya jam kerja (lost time) dan
kerugian pada material. Tidak melakukan job safety analisis dan hazard analisis
secara mendalam serta kurangnya kualitas pengawasan penerapan praktek kerja aman
menjadi kendala tersendiri bagi pihak perusahaan. Dari itu penulis tertarik melakukan
penelitian terhadap penentuan jam kerja aman tanpa kecelakaan di PT. Perta Arun
Gas.

3.1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana cara
menentukan jam kerja aman tanpa kecelakaan di PT Perta Arun Gas Lhokseumawe?

3.1.3 Tujuan masalah


Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui jam
kerja aman tanpa kecelakaan dalam satu juta jam kerja per tahun di PT.Perta Arun
Gas lhokseumawe.

3.1.4 Manfaat Penelitian


Adapun manfaat yang penulis harapkan dari penelitian ini adalah dapat
mengaplikasikan teori pendekatan statistik untuk membantu perusahaan dalam
melihat jam kerja aman tanpa kecelakaan.
36

3.1.5 Batasan Masalah


Dalam melakukan penelitian terhadap jam kerja, dilakukan pembatasan
masalah, yaitu:
1. Objek penelitian dilaksanakan pada divisi healthy safety and enviromental.
2. Data jam kerja yang diambil adalah data jam kerja selama 2 tahun mulai tahun
2016-2017
3.1.6 Asumsi
Dalam permasalahan ini ada beberapa asumsi yang digunakan.
1. Data yang diperoleh dari perusahaan dan sumber lain adalah benar setelah
dipertimbangkan kelayakannya.
2. Perusahaan berjalan dengan lancar.

3.2 Landasan teori


3.2.1 Pengertian Keselamatan Kerja
Keselamatan adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, alat kerja,
bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungan serta cara
cara melakukan pekerjaan. (Budiono, 1992:2)
Sehingga keselamatan dan kesehatan kerja merupakan sarana untuk
mencegah terjadinya kecelakaan, cacat dan kematian sebagai akibat kecelakaan
kerja. Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan hal yang penting dalam proses
operasional baik di sektor modern maupun tradisional, apabila dilalaikan akan
berakibat sangat fatal dan bisa merugikan orang lain dan dirinya sendiri maupun
perusahaan. Kecelakaan selain menjadi sebab hambatan-hambatan langsung juga
merupakan kerugian-kerugian tidak langsung yaitu kerusakan-kerusakan mesin dan
peralatan-peralatan kerja, terhentinya proses produksi untuk beberapa saat, kerusakan
lingkungan kerja dan lain-lain.
Perlindungan tenaga meliputi aspek-aspek yang cukup luas yaitu
perlindungan keselamatan, kesehatan, pemeliharaan moral kerja serata perlakuan
yang sesuai dengan martabat manusia dan moral agama. Perlindungan tersebut
dimaksudkan agar tenaga kerja secara aman melakukan pekerjaan sehari-hari untuk
37

meningkatkan hasil produksi dan produktivitas secara nasional. Tenaga kerja harus
memperoleh perlindungan diri dari masalah sekitarnya dari pada dirinya yang dapat
menimpa dan mengganggu pelaksanaan pekerjaannya.
Maka jelaslah keselamatan kerja adalah suatu segi penting dari perlindungan
tenaga kerja. Dalam hubungan ini bahaya yang timbul dari mesin, pesawat, alat kerja,
bahan dan proses pengolahan, kadaan tempat kerja, lingkungan, cara melakukan
pekerjaan, karakteristik fisik dan mental dari pekerjaan harus sejauh mungkin
diberantas atau dikendalikan.

3.2.2 Tujuan Keselamatan Kerja


Tujuan keselamatan kerja adalah sebagai berikut (Budiono, 1992:19):
1. Melindungi keselamatan tenaga kerja didalam melaksanakan tugasnya untuk
kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional.
2. Melindungi keselamatan setiap orang yang berada di tempat kerja.
3. Melindungi keamanan peralatan dan sumber produksi agar selalu dapat
digunakan secara efisien.
4. Sumber produksi diperiksa dan dipergunakan secara aman dan efisien.

3.2.3 Pengertian Kesehatan Kerja


Kesehatan kerja adalah spesialisasi kesehatan atau spesialisasi di bidang
kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar tenaga kerja atau masyarakat
pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik fisik atau mental
dengan usaha-usaha preventif dan kuratif, terhadap penyakit-penyakit atau gangguan-
gangguan kesehatan yang di akibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja.
(Suma’mur,1996:4)
Ada dua kategori penyakit yang diderita tenaga kerja yaitu:
a. Penyakit umum
Penyakit yang mungkin diderita oleh setiap orang baik yang bekerja, masih
sekolah atau menganggur. Pencegahan penyakit ini merupakan tanggung jawab
seluruh anggota masyarakat. Untuk mengurangi biaya mengatasi penyakit umum,
38

setiap calon karyawan diwajibkan mengikuti pemeriksaan atas dirinya oleh dokter
perusahaan.
b. Penyakit akibat kerja
Penyakit ini dapat timbul setelah seseorang melakukan pekerjaan.
Pencegahannya dapat dimulai dengan pengendalian secermat mungkin pengganggu
kerja dan kesehatan atau dengan mentaati peraturan-peraturan yang berlaku.

3.2.4 Tujuan Kesehatan Kerja


Tujuan kesehatan kerja adalah sebagai berikut (Budiono,1992:5):
1. Pencegahan dan pemberantasan penyakit-penyakit dan kecelakaan kecelakaan
akibat kerja.
2. Mempertinggi efisiensi dan daya produktifitas tenaga manusia.
3. Agar terhindar dari bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh produk-produk
industri.

3.2.5 Pengertian Kecelakaan Kerja


kecelakaan kerja berdasarkan Frank Bird Jr adalah kejadian yang tidak
diinginkan yang terjadi dan menyebabkan kerugian pada manusia dan harta benda.
Ada tiga jenis tingkat kecelakaan berdasarkan efek yang ditimbulkan (Frank Bird Jr
and Georgia L Germain, “practical Loss Control Leadership”, Institute Publishing,
USA 1990) :
1. Accident : adalah kejadian yang tidak diinginkan ada yang menimbulkan
kerugian bagi manusia maupun terhadap harta benda.
2. Incident : adalah kejadian yang tidak diinginkan yang belum menimbulkan
kerugian.
3. Near miss : adalah kejadian hampir celaka dengan kata lain kejadian ini
hamper menimbulkan kejadian incident ataupun accident.
Sedangkan berdasarkan sumber UU No 1 Tahun 1970 kecelakaan kerja adalah
suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki, yang mengacaukan
39

proses yang telah diatur dari suatu aktivitas dan dapat menimbulkan kerugian baik
terhadap manusia atau harta benda.

3.2.6 Maksud dan Tujuan Pelaporan Kecelakaan Kerja


1. Untuk menilai dan mengukur tingkat dan kemajuan usaha Keselamatan Kerja
2. Untuk menganalisa dan menemukan factor-faktor penyebab kecelakaan
sehingga dapat ditetapkan langkah pencegahannya.
3. Untuk mengidentifikasi bagian atau sector yang tingkat kecelakaannya tinggi
sehingga usaha Keselamatan Kerja dapat diarahkan secara tepat.

3.2.6.1 Pentingnya Pelaporan Kecelakaan Karena :


1. Pelaporan dan pencatatan data kecelakaan belum dilaksanakan secara
disiplin, tertib dan teratur untuk seluruh perusahaan.
2. Belum adanya standard penilaian tingkat kecelakaan yang seragam dan
berlaku secara nasonal, dalam hal ini termasuk klasifikasi factor- factor
kecelakaan yang digunakan.
3. Mekanisme pelaporan yang belum berjalan secara baik sehingga sering
terdapat perbedaan angka kecelakaan.

3.2.6.2 Tata cara pelaporan kecelakan


A. Dasar hukum:
1. Pasal 11 uu no 1 tahun 1970
2. Uu no 3 tahun 1992 ttg jamsostek
3. Standar nasional Indonesia 1716-1989-E
4. American national standard institute (ANSI) Z 16.1 atau Z 16.4
5. Permen no. 03/men/1998 ttg tata cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan
6. Sk dirjen binawas no. kep 84/bw/1998 ttg cara pengisian formulir laporan dan
analisis statistic kecelakaan
B. Tata cara pelaporan
40

1. Pengurus/pengusaha wajib melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi di tempat


kerja yang di pimpin nya baik yang telah mengikutsertakan pekerjaan nya ke
dalam program jamsostek maupun yang belum
2. Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga
semula yang dapat menimbulkan korban manusia atau harta benda
3. Kecelakaan terdiri dari
4. Melaporkan secara tertulis kepada kantor depnaker setempat dalam waktu
tidak lebih dari 2 x 24 jam sejak terjadi kecelakaan dengan menggunakan
formulir bentuk 3 kk2 a
C. Laporan meliputi
i. Data umum
a. Identitas perusahaan
b. Informasi kecelakan
c. Keterangan lain
ii. Data korban
a. Jumlah korban
b. Nama korban
c. Akibat kecelakaan
d. Keterangan cidera
iii. Fakta yang dibuat
1. Kondisi yang berbahaya
Tindakan yang berbahaya
iv. Uraian terjadi nya kecelakaan
v. Sumber kecelakaan
vi. Type kecelakaan
vii. Penyebab kecelakaan
viii. Syarat-syarat yang diberikan
ix. Tindakan lebih lanjut
x. Hal-hal yang perlu dilaporkan
41

3.2.7 Statistik Kecelakaan Kerja


3.2.7.1 Pengertian Statistik
Statistik dikemukakan oleh Suseno Hadi bahwa Secara sempit statistik dapat
diartikan sebagai data. Dalam arti yang luas statistik dapat berarti sebagai alat untuk :
menentukan sampel, mengumpulkan data, menyajikan data, menganalisa data dan
menginterpretasi data, sehingga menjadi informasi yang berguna. Berdasarkan
jenisnya Statistika dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu Statistik Deskriptif dan
Statistik Inferensial. Selanjutnya statistik inferensial dibedakan menjadi Statistk
Parametris dan Non-parametrik.
Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menggambarkan
suatu hasil observasi atau pengamatan. Juga hasil akhirnya tidak digunakan untuk
menarik kesimpulan.
Statistik inferensial adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa
data/hasil observasi dari sampel, yang hasilnya akan digeneralisasikan
(diinferensikan) untuk populasi dimana sampel tersebut diambil. Selanjutnya yang
disebut sebagai Statistik Parametris terutama digunakan untuk menganalisa data
interval/rasio dan diasumsikan distribsinya normal. (bell-shaped). Statistik non-
parametrik digunakan untuk menganalisa data nominal dan ordinal.

3.2.7.2 Pengertian Statistik Kecelakaan kerja


Menurut ILO (international labour office, 1989), statistik kecelakaan
merupakan salah satu bentuk upaya peningkatan keselamatan kerja perusahaan.
Adanya statistik kecelakaan dapat mempermudah kita untuk memperoleh informasi
tentang jenis kecelakaan, frekuensi, tingkat keparahan, golongan pekerja yang
terkena, serta penyebab terjadinya kecelakaan tersebut. Statistik kecelakaan akibat
kerja meliputi kecelakaan yang dikarenakan oleh atau diderita pada waktu
menjalankan pekerjaan, yang berakibat kematian atau kelainan-kelainan dan meliputi
penyakit-penyakit akibat kerja. Selain itu, statistik ini juga dapat mencakup
kecelakaan yang dialami tenaga kerja selama dalam perjalanan ke atau dari
perusahaan.
42

Statistik kecelakaan merupakan unsur penting yang sangat bermanfaat dalam


upaya pencegahan kecelakaan. Dalam hal ini, data kecelakaan dapat dikumpulkan
pada suatu perusahaan, baik yang berlokasi di suatu daerah, perusahaan dari suatu
jenis industri tertentu, maupun seluruh perusahaan di suatu Negara. Adanya data
statistic kecelakaan dari tahun ke tahun dapat bermanfaat untuk melihat apakah
kecelakaan yang terjadi bertambah atau menurun. Selain itu, data tersebut juga dapat
digunakan untuk mengetahui sejauh mana upaya pencegahan kecelakaan yang
dilakukan telah berhasil menurunkan angka kecelakaan kerja. Sementara itu, statistik
pada perusahaan serupa dapat digunakan untuk menilai perusahaan yang lebih baik,
sehingga keadaan-keadaan positif dapat diterapkan untuk mencegah terjadinya
kecelakaan diperusahaan lainnya.

Suma’mur (1987), mengemukakan bahwa terdapat beberapa pokok pikiran


yang sangat penting untuk memenuhi sifat perbandingan yang diharapkan bagi
statistik, dalam upaya untuk mencegah kecelakaan, antara lain:

a. Statistik kecelakaan harus disusun atas dasar definisi yang seragam


mengenai kecelakaan dalam industry, dalam rangka tujuan pencegahan
pada umumnya, dan sebagai ukuran risiko kecelakaan pada khususnya.
Semua kecelakaan yang didefinisikan tersebut harus dilaporkan dan
ditabulasikan secara seragam.
b. Angka-angka frekuensi dan beratnya kecelakaan harus dikumpul atas
dasar cara-cara seragam. Harus ada pembatasan seragam tentang
kecelakaan, cara-cara yang seragam untuk mengukur waktu menghadapi
risiko, dan cara yang seragam untuk menyatakan besarnya risiko.
c. Klasifikasi industri dan pekerjaan untuk keperluan statistik kecelakaan
harus selalu seragam.
d. Klasifikasi kecelakaan menurut keadaan-keadaan terjadinya dan menurut
sifat dan letak luka atau kelainan harus seragam, dan dasar-dasar yang
dipakai untuk menetapkan kriteria pemikiran harus selalu sama.
43

Satuan perhitungan dalam statistik ini adalah jumlah terjadinya kecelakaan


sehingga untuk seorang pekerja yang mengalami dua atau lebih kecelakaan akan
dihitung banyaknya peristiwa kecelakaan tersebut. Beberapa Istilah Dalam
Perhitungan Statistik Kecelakaan

a. Hari Kerja Aman :


Jumlah hari kerja tanpa adanya kecelakaan yang menyebabkan terjadinya Lost
Time. Hari kerja aman ini akan hangus (nol) jika dalam waktu kurun perhitungannya
terjadi kecelakaan yang menyebabkan Lost Time.

b. Lost Time :
Suatu kecelakaan kerja yang menyebabkan korban kecelakaan tersebut tidak
dapat bekerja sehari penuh (1×24 jam) pada hari apapun setelah kecelakaan itu
terjadi.

c. Hari-hari hilang :
Kerugian (losses) karena cidera akibat suatu kecelakaan kerja atau ketidak
mampuan untuk berproduksi secara nyata.
Perhitungan hari-hari hilang ini dibagi dua : schedule dan non schedule
1. Schedule charge :
Tabel 3.1 Perhitungan hari hilang
a. Untuk kerugian dari anggota badan karena cacat tetap atau menurut
ilmu bedah
1. Tangan dan jari-jari
Amputasi seluruh Ibu jari Telunjuk Tengah manis Kelingking
atau sebagian dari
tulang
Ruas ujung 300 100 75 60 50
Ruas tengah - 200 150 120 100
Ruas pangkal 600 400 300 240 200
Telapak (antara 900 600 500 450 -
jari-jari dan
44

pergelangan )
Tangan sampai pergelangan 3000
2. Kaki dan jari-jari
Amputasi seluruh atau sebagian dari Ibu jari (hari) Jari-jari lainnya (hari)
tulang
Ruas ujung 150 35
Ruang tengah - 75
Ruas pangkal 300 150
Telapak (antara jari-jari dan pergelangan) 600 350
3. Lengan
Tiap bagian dari pergelangan sampai siku 3600 hari
Tiap bagian dari atas siku sampai sambungan bahu 4500 hari
4. Tungkai
Tiap bagian di atas mata kaki sampai lutut 3000 hari
Tiap bagian diatas lutut sampai pangkal paha 4500 hari
b. Kehilangan fungsi
Satu mata 1800 hari
Kedua mata dalam satu kasus kecelakaan 6000 hari
Satu telinga 600 hari
Kedua telinga dalam satu kasus kecelakaan 3000 hari
c. Lumpuh total dan mati
Lumpuh total yang menetap 6000 hari
Mati 6000 hari
Catatan: untuk setiap luka ringan dengan tidak ada amputasi tulang kerugian hari
kerja adalah sebesar jumlah hari sesungguhnya selama si korban tidak mampu
bekerja
Sumber: tabel ANSI Z 16.1

2. Non Schedule charge :


45

Perhitungan jumlah hari hilang berdasarkan jumlah dari semua hari kalender
penuh, dimana penderita tidak dapat bekerja, jumlah ini tidak termasuk hari dimana
kecelakaan itu terjadi.

3.2.7.3 Pengertian Jam Kerja Aman


Jam kerja merupakan bagian dari empat faktor organisasi yang merupakan
sumber potensial dari stres para karyawan di tempat kerja ( Robbins,2006:796). Davis
dan Newstrom (dalam Imatama,2006:4) menyatakan adanya beberapa karakteristik
pekerjaan dan lingkungan kerja yang mengandung stres kerja yang salah satunya
adalah terbatasnya waktu dalam mengerjakan pekerjaan. Jam kerja “normal”
umumnya diartikan hari kerja dengan jam tersisa untuk rekreasi dan istirahat. Istirahat
adalah kegiatan malam hari, sedangkan bekerja adalah aktivitas siang hari. Hal ini
berkaitan dengan mereka yang bekerja dengan jadwal yang tidak biasa, baik pada
shift kerja atau dengan jam yang diperpanjang hingga melampaui siang, bekerja pada
malam hari, serta bekerja disaat pola tidur (Harrington, 2001).
Jam kerja adalah waktu yang ditentukan untuk melakukan pekerjaan.
Harrington (2001) juga menyatakan bahwa lamanya jam kerja berlebih dapat
meningkatkan human error atau kesalahan kerja karena kelelahan yang meningkat
dan jam tidur yang berkurang. Hal tersebut juga didukung oleh penelitian Berger,
et.al (2006) dalam Maurits dan Widodo (2008) yang menyatakan bahwa tambahan
durasi pada suatu shift kerja, akan meningkatkan tingkat kesalahan. Lima kali
tambahan durasi shift per bulan akan meningkatkan kelelahan 300% dan berakibat
fatal. Jika selama jam kerja sebenarnya tidak terjadi kecelakaan yang menyebabkan
Loss Time maka jam kerja sebenarnya ini dinamakan Jam Kerja Aman.
Tujuan pengukuran hasil usaha keselamatan kerja adalah membandingkan
keadaan antara dua atau lebih masa kerja guna mengetahui sejauh mana pencegahan
kecelakaan dapat dilakukan. Standart pengukuran yang telah disetujui oleh ILO
adalah untuk mengetahui tingkat kekerapan/ frekuensi rate dan tingkat
keparahan/severity rate.
1. Tingkat frekuensi/ kekerapan kecelakaan kerja.
46

Tingkat frekuensi menyatakan banyaknya kecelakaan yang terjadi tiap sejuta


jam kerja manusia, dengan rumus :
F= ……………………………………….…………………… (3.1)

(Budiono ; 1992)

Dimana: F = tingkat frekuensi kekerapan kecelakaan


n = jumlah kecelakaan yang terjadi
N = jumlah jam kerja karyawan
2. Tingkat severity rate atau keparahan kecelakaan kerja
Tingkat severity menyatakan jumlah hari kerja yang hilang per sejuta jam
orang pekerja, dengan rumus :
S= …………………………………………………..........…. (3.2)

( Budiono ; 1992 )
Dimana : s = tingkat severity/keparahan kecelakaan
H = jumlah hari hilang karyawan
N = jumlah jam kerja karyawan
Jumlah jam kerja hilang meliputi :
1. Jumlah hari yang diakibatkan cacat total sementara, di hitung berdasarkan
tanggal (termasuk hari libur selama pekerja tidak mampu bekerja).
2. Jumlah cacat total permanen dan kematian

Untuk menghitung jumlah jam kerja yang digunakan dalam perhitungan


frekuensi/kekerapan dan severity/keparahan adalah total jam kerja karyawan dalam
setahun/sebulan dikurangi jumlah absensi pekerja dalam setahun/sebulan (ILO, 1982)
3. Nilai T selamat
Untuk membandingkan hasil tingkat kecelakaan suatu unit kerja pada masa
lalu dan masa kini, sehingga dapat diketahui tingkat penurunan kecelakaan pada unit
tersebut, digunakan rumus :
47

Safe-T-Score = = ……………………………………..…………… (3.3)

(Budiono ; 1992)
Dimana : STS = nilai T selamat (tak berdimensi)
F1 = tingkat frekuensi kecelakaan kerja masa lalu
F2 = tingkat frekuensi kecelakaan kerja masa kini
N = jumlah jam kerja karyawan

Menurut Bennet silalahi (1995), penafsiran ini adalah :


1. Nilai STS antara +2 dan -2, dengan tingkat frekuensi kecelakaan tidak
menunjukkan perubahan yang berarti/bermakna.
2. Nilai STS diatas +2, artinya tingkat frekuensi kecelakaan kerja pada masa kini
mengalami penurunan terhadap prestasi masa lalu atau menunjukan keadaan
memburuk
3. Nilai STS dibawah -2, artinya peningkatan prestasi tingkat frekuensi
kecelakaan kerja pada masa kini jika dibandingkan dengan masa lalu atau
menunjukan keadaan membaik

3.3 Metodologi Penelitian


3.3.1 Objek Penelitian
Penelitian dilakukan pada PT Perta Arun Gas lhokseumawe, Aceh pada
tanggal 10 juli sampai 30 agustus 2017. Penelitian dilakukan pada PT Perta Arun
Gas. Adapun faktor yang diteliti adalah jumlah jam kerja aman tanpa kecelakaan.

3.3.2 Teknik Pengumpulan Data


Data-data yang digunakan untuk analisis didapatkan dengan cara
pengumpulan data primer dan data sekunder sesuai kebutuhan analisis data.
1. Data Primer
48

Merupakan sumber data yang diperoleh secara langsung dari sumber aslinya
(tidak melalui media perantara). Pada tahap ini, data primer diperoleh dengan
melakukan wawancara langsung kepada pembimbing lapangan, serta pihak–pihak
terkait lainnya dari pihak perusahaan. Pengumpulan data primer dilakukan secara
langsung di tempat penelitian yaitu PT Perta Arun Gas. Pengumpulan data primer
dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Observasi (pengamatan)
Data diperoleh dengan mengadakan pengamatan langsung ke lapangan dengan
pembimbing yang ada.
b. Interview (wawancara)
Penulis mengadakan wawancara langsung dengan pimpinan dan karyawan-
karyawan untuk mendapatkan informasi secara langsung dengan cara memberi
pertanyaan.

2. Data sekunder
Merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung
melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak lain). Data sekunder
umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip
(data dokumenter) yang dipublikasikan dan yang tidak dipublikasikan. Pada tahap ini
data sekunder yang diperoleh yaitu:
1. Data umum perusahaan.
2. Data PT Perta Arun Gas, yang meliputi :
a. Jumlah tenaga kerja
b. Data rincian jam kerja keseluruhan
c. Data kecelakaan
d. Data laporan kecelakaan

3.3.3 Definisi Variabel Operasional


Beberapa variabel operasional yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
49

1. Statistik kecelakaan adalah statistik yang berkaitan dengan kecelakaan yang


dialami oleh pekerja yang berakibat kematian atau cacat termasuk penyakit
akibat kerja.
2. kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak diinginkan yang terjadi dan
menyebabkan kerugian pada manusia dan harta benda.
3. Tingkat frekuensi adalah tingkat cedera yang melumpuhkan berhubungan
dengan cedera pada jam kerja selama periode tersebut dan
mengungkapkannya dalam satuan juta jam
4. Tingkat keparahan adalah tingkat keparahan cedera yang melumpuhkan
berhubungan dengan hari yang ditanggung pada jam kerja selama periode
tersebut dan mengungkapkannya dalam satuan juta jam
5. Hari rata-rata dibebankan adalah frekuensi dan tingkat keparahan
menunjukkan, masing-masing, tingkat di mana terjadi cedera melumpuhkan
dan tingkat waktu yang dikenakan.
6. Jika selama jam kerja sebenarnya tidak terjadi kecelakaan yang menyebabkan
Loss Time maka jam kerja sebenarnya ini dinamakan Jam Kerja Aman.

3.3.4 Metode Analisis


Supaya dapat memudahkan penyelesaian Penelitian ini dianalisis dengan
menggunakan metode teknik perhitungan statistik jam kerja aman tanpa kecelakaan
dengan menghitung tingkat kekerapan, keparahan dan melihat perbandingan dari
frekuensi sebelumnya.

3.4 Pengumpulan Data


3.4.1 Jam Kerja Karyawan
Jam kerja/hari adalah 8 jam dimulai pukul 07.00 WIB – 16.00 WIB dengan
waktu istirahat 1 jam (pukul 12.00 WIB – 13.00 WIB). Kecuali hari jumat (11.30
WIB – 14.00 WIB). Secara lebih rinci untuk pembagian jam kerja karyawan dalam
satu minggu dapat dilihat pada Tabel 3.2 berikut ini :
50

Tabel 3.2 Jam Kerja Karyawan PT. Perta Arun Gas


Hari Jam kerja Keterangan
08.00 – 12.00 Kerja
Senin – kamis 12.00 – 13.00 Istirahat
13.00 – 16.00 Kerja
08.00 – 11.45 Kerja
Jumat 11.45 – 14.00 Istirahat
14.00 – 17.15 Kerja
Sumber : PT Perta Arun Gas

3.4.2 Jumlah Tenaga Kerja


Jumlah tenaga kerja di PT Perta Arun Gas dari tahun 2016 sampai dengan
tahun 2017 adalah sama (diasumsikan) dapat dilihat sebagai berikut :
a. Tahun 2016 = 1.100
b. Tahun 2017 = 1.100

3.4.3 Jumlah Kecelakaan Kerja


Adapun jumlah kecelakaan kerja yang terjadi di pt perta arun gas pada tahun
2016-2017 dapat dilihat pada tabel 3.3 berikut :

Tabel 3.3 Jumlah Kecelakaan Kerja/Bulan PT Perta Arun Gas


Tahun Jumlah Bulan
kecelakaan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
2016 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0
2017 2 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0
Sumber : PT Perta Arun Gas

3.4.4 Jumlah Tenaga Kerja Dan Jam Kerja


51

Berikut ini adalah data jumlah tenaga kerja dan jumlah jam kerja di PT Perta
Arun Gas tahun 2016-2017 seperti terlihat pada Tabel 3.4 dibawah berikut :

Tabel 3.4 Jumlah Tenaga Kerja dan Jumlah Jam Kerja/Bulan PT Perta Arun
Gas Tahun 2016-2017
Jumlah Jam Jumlah Jam
Jumlah Tenaga
Tahun Pekerja/Bulan Pekerja/Tahun
Kerja (Orang)
(jam) (jam)
2016 1.100 1.760 2.112.000
2017 1.100 1.760 2.112.000
Sumber : PT. Perta Arun Gas
Diasumsikan jumlah karyawan dan jam kerja tidak ada perubahan, berikut
cara menentukan jumlah jam kerja perbulan dan pertahun :
1. Perbulan = Jumlah jam kerja/Hari x Jumlah Pekerja x 20 Hari
= 8 x 1.100 x 20
= 1.760 Jam/Bulan
2. Pertahun = Jumlah jam kerja/Hari x Jumlah Pekerja x 240 Hari
= 8 x 1.100 x 240
= 2.112.000 Jam/Tahun

Keterangan :
Jumlah hari kerja yang terdapat dalam satu tahun ialah 240 hari
Jumlah hari kerja yang terdapat dalam satu bulan ialah 20 hari
Jumlah jam kerja yang terdapat dalam sehari ialah 8 jam kerja yang dimulai dari
07.00 – 16.00 dengan waktu istirahat bagi karyawan ialah selama 1 jam.

3.4.5 Jumlah Jam Kerja Yang Hilang


Berikut ini adalah jumlah jam kerja karyawan yang hilang akibat kecelakaan
kerja dapat dilihat Tabel 3.5 sebagai berikut :
Tabel 3.5 Rekapitulasi Jumlah Jam Karyawan Yang Hilang Pada Tahun 2016-2017
Tahun Banyaknya Jumlah hari kerja Jumlah jam kerja
52

kecelakaan yang hilang (hari) yang hilang (jam)


2016 1 1 8
2017 2 0 0
Sumber : PT. Perta Arun Gas
3.5 Pengolahan Data
3.5.1 Pengukuran Tingkat Frekuensi Rate/Kekerapan Kecelakaan (F)
Tingkat frekuensi menyatakkan banyaknya kecelakaan yang terjadi tiap satu
juta jam kerja manusia, dengan rumus :

F=

Dimana: F = tingkat frekuensi kekerapan kecelakaan


n = jumlah kecelakaan yang terjadi
N = jumlah jam kerja karyawan

a. Tingkat frekuensi kecelakaan kerja pada tahun 2016.


F=

F = 0.47 kecelakaan persejuta jam kerja


b. Tingkat frekuensi kecelakaan pada tahun 2017
F=

F = 0.94 kecelakaan persejuta jam kerja


Adapun hasil perhitungan Frekuensi kecelakaan kerja di tahun 2016 dan 2017
dapat dilihat pada Tabel 3.6 berikut :

Tabel 3.6 Hasil Pengukuran Tingkat Frekuensi Kecelakaan Kerja


Tahun Jumlah kecelakaan kerja F (kecelakaan)
2016 1 0.47
2017 2 0.94
Sumber : pengolahan data
Dari tabel diatas dapat dilihat di Tahun 2016 jumlah kecelakaan yang terjadi
sebanyak 1 kali, dengan tingkat frekuensi sebanyak 0.47 kecelakaan yang akan terjadi
53

persejuta jam kerja. Begitu pula di tahun 2017 sebanyak 2 kecelakaan yang terjadi
dan diperkirakan 0.94 kecelakaan persejuta jam kerja.

3.5.2 Pengukuran Tingkat Severity/Keparahan Kecelakaan (S)


Untuk mendapatkan tingkat keparahan cidera cacat, rumus yang digunakan
adalah sebagai berikut :
S=

( Budiono ; 1992 )
Dimana : s = tingkat severity/keparahan kecelakaan
H = jumlah hari hilang karyawan
N = jumlah jam kerja karyawan
a. Tingkat severity rate atau keparahan kecelakaan kerja pada tahun 2016.
S=

S= 0.47 hari hilang persejuta jam kerja


b. Tingkat severity rate atau keparahan kecelakaan pada tahun 2017
S=

S = 0 hari hilang persejuta jam kerja

Adapun hasil pengukuran tingkat severity atau keparahan kecelakaan kerja


tahun 2016, dan 2017 dapat dilihat pada Tabel 3.7 berikut :

Tabel 3.7 Hasil Pengukuran Tingkat Severity Kecelakaan Kerja


Tahun Jumlah hari hilang S (hari)
2016 1 0.47
2017 0 0
Sumber : pengolahan data
Dari tabel diatas dapat dilihat di Tahun 2016 jumlah hari yang hilang
sebanyak 1 hari, dengan tingkat frekuensi sebanyak 0.47 hari yang akan hilang
54

persejuta jam kerja. Sedangkan di tahun 2017 sebanyak 0 hari yang hilang dan
diperkirakan 0 hari hilang persejuta jam kerja.
3.5.3 Pengukuran Safe-T-Score / Nilai T- Selamat
Untuk membandingkan hasil tingkat kecelakan suatu unit kerja pada masa lalu
dan masa kini sehingga dapat diketahui tingkat penurunan kecelakaan pada unit
tersebut digunakan nilai T-selamat yang ditentukan dengan rumus sebagai berikut :
Safe-T-Score = =

Dimana : STS = nilai T selamat (tak berdimensi)


F1 = tingkat frekuensi kecelakaan kerja masa lalu
F2 = tingkat frekuensi kecelakaan kerja masa kini
N = jumlah jam kerja karyawan
Adapun data pengukuran Nilai T-Selamat di tahun 2016, dan 2017 dapat
dilihat pada Tabel 3.8 berikut :

Tabel 3.8 Data Pengukuran Nilai T-Selamat Pada Tahun 2016-2017


Tahun Banyaknya Jumlah jam kerja F1 F2
kecelakaan karyawan (jam)
2016 1 2.112.000 - 0.47
2017 1 2.112.000 0.47 0.94
Sumber : pengolahan data
a. Nilai T-selamat pada tahun 2016
Tingkat frekuensi kecelakaan kerja masa lalu (F1) tidak diketahui dan tingkat
frekuensi kecelakaan kerja masa kini (F2) adalah 0.47. maka nilai T-selamat
pada tahun ini tidak dapat ditentukan karena merupakan tahun inisialisasi
(tahun awal pengamatan)

b. Nilai T-selamat pada tahun 2017


Tingkat frekuensi kecelakaan kerja masa lalu (F1) adalah 0.94 dan tingkat
frekuensi kecelakaan kerja masa kini (F2) adalah 0.47. maka nilai T-selamat
dapat ditentukan sebagai berikut :
55

Safe-T-Score = = 996.13

Berikut merupakan hasil pengukuran Nilai T-Selamat/Safe-T-Score tahun


2016 dan 2017 dapat dilihat pada Tabel 3.9 berikut :

Tabel 3.9 Hasil Pengukuran Nilai T- Selamat


Tahun Jumlah kecelakaan Nilai T-selamat
2016 1 -
2017 2 996.13
Sumber : pengolahan data
Berdasarkan tabel diatas hasil pengukuran Nilai T-Selamat/Safe-T-Score
diperoleh Nilai T-Selamat/Safe-T-Score di tahun 2016 ialah kosong karena tidak
adanya F1, sementara 2017 Nilai T-Selamat/Safe-T-Score yaitu 996.13 yang artinya
tingkat frekuensi kecelakaan kerja pada masa kini mengalami penurunan terhadap
prestasi masa lalu atau menunjukan keadaan memburuk.