Anda di halaman 1dari 18

REFERAT

“MENINGITIS TUBERKULOSA”

Dokter Pembimbing:

dr. Ommy Ariansih, Sp. A

Disusun Oleh:

Badai Ardyana Arimbi Putri (2013730129)

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN ILMU PEDIATRI

RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Meningitis adalah penyakit infeksi yang akut yang fatal, disebabkan oleh berbagai
mikraorganisme. Tingkat kematian mulai 2% pada infan dan anak-anak dan 30% pada
neonates. Ketulian atau gejala sisa neurologis jangka panjang dapat di jumpai pada 1/3 kasus
dari anak yang bertahan.
Penyakit meningitis dapat membunuh dalam hitungan jam dan memakan lebih dari
seratus nyawa di UK setiap tahunnya. Hal ini tidak hanya terkait dengan risiko yang
signifikan dari mortalitas, tetapi juga dengan morbiditas jangka panjang. Mereka yang
sembuh dapat mengalami kecacatan yang secara dramatis mengubah kehidupan mereka,
termasuk amputasi, jaringan parut, defisit sensorik, gangguan intelektual, epilepsi, dan
berbagai kurang spesifik kognitif dan gangguan psikologis. Meningokokus adalah bakteri
penyebab utama meningitis pada anak-anak dan dewasa muda, dan penyebab umum
septikemia dan shock pada usia tersebut. 1

TINJAUAN PUSTAKA

MENINGITIS TUBERKULOSA

Definisi

Meningitis merupakan salah satu infeksi pada susunan saraf pusat yang mengenai
selaput otak dan selaput medulla spinalis yang juga disebut sebagai meningens. Meningitis

1
dapat disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur dan
parasit. Meningitis Tuberkulosis tergolong ke dalam meningitis yang disebabkan oleh bakteri
yaitu Mycobacterium Tuberkulosa. Bakteri tersebut menyebar ke otak dari bagian tubuh yang
lain.

Meningitis tuberkulosa merupakan peradangan selaput otak yang disebabkan oleh


Mycrobacterium tuberculosis. Penyakit ini jarang ditemukan pada bayi di bawah usia 3 bulan
dan insidensnya meningkat dalam usia 5 tahun pertama. Angka kematian berkisar antara 10-
20%. Sebagian besar memberi gejala sisa pada pasien yang sembuh, hanya 18% pasien yang
mempunyai status neurologis dan intelektual normal.5

Epidemiologi

Meningitis TB merupakan salah satu komplikasi TB primer. Morbiditas dan mortalitas


penyakit ini tinggi dan prognosisnya buruk. Komplikasi meningitis TB terjadi setiap 300 TB
primer yang tidak diobati. CDC melaporkan pada tahun 2011 morbiditas meningitis TB 6,2%
dari TB ekstrapulmonal. Insiden meningitis TB sebanding dengan TB primer, umumnya
bergantung pada status sosio-ekonomi, higiene masyarakat, umur, status gizi dan faktor
genetik yang menentukan respon imun seseorang. Faktor predisposisi berkembangnya infeksi
TB adalah malnutrisi, penggunaan kortikosteroid, keganasan, cedera kepala, infeksi HIV dan
diabetes melitus. Penyakit ini dapat menyerang semua umur, anak-anak lebih sering
dibanding dengan dewasa terutama pada 5 tahun pertama kehidupan. Jarang ditemukan pada
usia dibawah 6 bulan dan hampir tidak pernah ditemukan pada usia dibawah 3 bulan.5

Anatomi Fisiologi

Otak dan sumsum otak belakang diselimuti meningea yang melindungi struktur syaraf yang
halus, membawa pembuluh darah dan dengan sekresi sejenis cairan yaitu cairan
serebrospinal. Meningea terdiri dari tiga lapis, yaitu:3

 Pia meter : yang menyelipkan dirinya ke dalam celah pada otak dan sumsum tulang
belakang dan sebagai akibat dari kontak yang sangat erat akan menyediakan darah untuk
struktur-struktur ini.
 Arachnoid : Merupakan selaput halus yang memisahkan pia meter dan dura meter.
 Dura meter : Merupakan lapisan paling luar yang padat dan keras berasal dari jaringan
ikat tebal dan kuat.

2
Etiologi

Kebanyakan kasus meningitis disebabkan oleh mikroorganisme, seperti virus, bakteri,


jamur, atau parasit yang menyebar dalam darah ke cairan otak.8

Penyebab infeksi ini dapat diklasifikasikan atas :

1. Bakteri:
 Pneumococcus
 Meningococcus
 Haemophilus influenza
 Staphylococcus
 Escherichia coli
 Salmonella
 Mycobacterium tuberculosis

3
2. Virus :
 Enterovirus
3. Jamur :
 Cryptococcus neoformans
 Coccidioides immitris
4. Parasit :
 P. Falciparum

Patogenesis

Meningitis TB terjadi akibat penyebaran infeksi secara hematogen ke meningen.


Dalam perjalanannya meningitis TB melalui 2 tahap. Mula-mula terbentuk lesi di otak atau
meningen akibat penyebaran basil secara hematogen selama infeksi primer. Penyebaran
secara hematogen dapat juga terjadi pada TB kronik, tetapi keadaan ini jarang ditemukan.
Selanjutnya meningitis terjadi akibat terlepasnya basil dan antigen TB dari fokus kaseosa
(lesi permulaan di otak) akibat trauma atau proses imunologik, langsung masuk ke ruang
subarakhnoid. Meningitis TB biasanya terjadi 3–6 bulan setelah infeksi primer.4

Kebanyakan bakteri masuk ke cairan serebro spinal dalam bentuk kolonisasi dari
nasofaring atau secara hematogen menyebar ke pleksus koroid, parenkim otak, atau selaput
meningen. Vena-vena yang mengalami penyumbatan dapat menyebabkan aliran retrograde
transmisi dari infeksi. Kerusakan lapisan dura dapat disebabkan oleh fraktur , paska bedah
saraf, injeksi steroid secara epidural, tindakan anestesi, adanya benda asing seperti implan
koklear, VP shunt, dll. Sering juga kolonisasi organisme pada kulit dapat menyebabkan
meningitis. Walaupun meningitis dikatakan sebagai peradangan selaput meningen, kerusakan
meningen dapat berasal dari infeksi yang dapat berakibat edema otak, penyumbatan vena dan
memblok aliran cairan serebrospinal yang dapat berakhir dengan hidrosefalus, peningkatan
intrakranial, dan herniasi.4

Skema patofisiologi meningitis tuberkulosa


BTA masuk tubuh

Tersering melalui inhalasi
Jarang pada kulit, saluran cerna

Multiplikasi

Infeksi paru / focus infeksi lain

Penyebaran hematogen

4
Meningens

Membentuk tuberkel

BTA tidak aktif / dormain

Bila daya tahan tubuh menurun



Rupture tuberkel meningen

Pelepasan BTA ke ruang subarachnoid

MENINGITIS

Manifestasi Klinis

Gejala klinis meningitis TB berbeda untuk masing-masing penderita. Faktor-faktor


yang bertanggung jawab terhadap gejala klinis erat kaitannya dengan perubahan patologi
yang ditemukan. Tanda dan gejala klinis meningitis TB muncul perlahan-lahan dalam waktu
beberapa minggu.3

Pada anamnesa dapat diketahui adanya trias meningitis seperti demam, nyeri kepala
dan kaku kuduk. Gejala lain seperti mual muntah, penurunan nafsu makan, mudah
mengantuk, fotofobia, gelisah, kejang, penurunan kesadaran adanya riwayat kontak dengan
pasien tuberkulosis. Pada neonatus, gejalanya mungkin minimalis dan dapat menyerupai
sepsis, berupa bayi malas minum, letargi, distress pernafasan, ikterus, muntah, diare,
hipotermia. Anamnesa dapat dilakukan pada keluarga pasien yang dapat dipercaya jika tidak
memungkinkan untuk autoanamnesa.4

Keluhan pertama biasanya nyeri kepala. Rasa ini dapat menjalar ke tengkuk dan
punggung. Tengkuk menjadi kaku. Kaku kuduk disebabkan oleh mengejangnya otot-otot
ekstensor tengkuk. Bila hebat, terjadi opistotonus, yaitu tengkuk kaku dalam sikap kepala
tertengadah dan punggung dalam sikap hiperekstensi. Kesadaran menurun.tanda Kernig’s dan
Brudzinsky positif.3

5
Gambar 1. Pemeriksaan Kernig’s Sign pada Meningitis

Gejala meningitis tidak selalu sama, tergantung dari usia si penderita serta virus apa
yang menyebabkannya. Gejala yang paling umum adalah demam yang tinggi, sakit kepala,
pilek, mual, muntah, kejang. Setelah itu biasanya penderita merasa sangat lelah, leher terasa
pegal dan kaku, gangguan kesadaran serta penglihatan menjadi kurang jelas.3

Gejala pada bayi yang terkena meningitis, biasanya menjadi sangat rewel muncul
bercak pada kulit tangisan lebih keras dan nadanya tinggi, demam ringan, badan terasa kaku,
dan terjadi gangguan kesadaran seperti tangannya membuat gerakan tidak beraturan.3

Gejala meningitis meliputi :3

 Gejala infeksi akut


 Panas
 Nafsu makan tidak ada
 Anak lesu
 Gejala kenaikan tekanan intracranial
 Kesadaran menurun
 Kejang-kejang
 Ubun-ubun besar menonjol
 Gejala rangsangan meningeal
 kaku kuduk
 Kernig
 Brudzinky I dan II positif

Gejala klinis meningitis tuberkulosa dapat dibagi dalam 3 stadium :5

Stadium I : Stadium awal


 Gejala prodromal non spesifik : pasien tampak apatis, iritabel, nyeri kepala, demam,
malaise, anoreksia, mual dan muntah. Belum tampak manifestasi kelainan neurologi.
Stadium II : Intermediate

6
 Pasien tampak mengantuk, disorientasi, ditemukan tanda rangsang meningeal, kejang,
defisit neurologis fokal: paresis nervus kranial (N.III, IV, VI, VII) dan gerakan
involunter (tremor, koreoatetosis, hemibalismus). Dapat ditemukan tuberkel pada
koroid.
Stadium III : Advanced
 Pasien koma, pupil terfiksasi, spasme klonik, pernapasan ireguler disertai peningkatan
suhu tubuh dan ekstremitas spastis.

Gambar 2. Wallgren timetable untuk TB Primer.

Pemeriksaan Fisis
Pemeriksaan parut BCG, limfadenopati, dan tanda rangsang meningeal. Pada funduskopi
dapat ditemukan papil edema jika terdapat peningkatan tekanan intra kranial, papil pucat jika
penyakit sudah berlangsung lama, tuberkuloma di retina, adanya nodul di koroid. Umumnya
didapatkan tremor, dapat pula ditemukan koreoatetosis atau hemibalismus.

Pemeriksaan Neurologi
Dapat ditemukan paresis saraf kranial (terutama N.III, IV, VI, VII), kelumpuhan tipe UMN
(spatisitas, refleks fisiologis meningkat dan refleks babinski positif)

Pemeriksaan Penunjang5
 Darah perifer lengkap, laju endap darah, gula darah, elektrolit darah. Lekosit darah
tepi sering meningkat (10.000 – 20.000 sel/mm 3). Sering ditemukan hiponatremia dan
hipokloremia karena sekresi antidiuretik hormon yang tidak adekuat.

7
 Pungsi lumbal: Cairan serebrospinal jernih atau santokrom, sel meningkat sampai
500sel/mm3, dengan hitung jenis sel limfosit dominan walaupun pada keadaan awal
dapat polimorfonuklear. Protein meningkat sampai 500 mg/dl, kadar glukosa dibawah
normal (< 40 mg/dl).
 Pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR), enzyme-linked immunoassay
(ELISA) dan latex particle agglutination dapat s
 Pencitraan dengan kontras (CT-Scan atau MRI) menunjukkan penyangatan pada
daerah basal otak, infark, tuberkuloma dan hidrosefalus.
 Foto rontgen dada dapat menunjukkan adanya penyakit tuberkulosis apabila terdapat
gambaran klinis.
 Uji tuberkulin dapat mendukung diagnosis.

Diagnosis

Diagnosa pada meningitis TB dapat dilakukan dengan beberapa cara :3

1. Anamnese : ditegakkan berdasarkan gejala klinis, riwayat kontak dengan penderita TB


2. Lumbal pungsi

Gambaran LCS pada meningitis TB :

 Warna jernih / santokrom


 Jumlah Sel meningkat MN > PMN
 Limfositer
 Protein meningkat
 Glukosa menurun <50 % kadar glukosa darah
Pemeriksaan tambahan lainnya :
 Tes Tuberkulin
 Ziehl-Neelsen ( ZN )
 PCR ( Polymerase Chain Reaction )
3. Rontgen thorax
 TB apex paru
 TB milier
4. CT scan otak
 Penyengatan kontras ( enhancement ) di sisterna basalis
 Tuberkuloma : massa nodular, massa ring-enhanced
 Komplikasi : hidrosefalus

5. MRI
Diagnosis dapat ditegakkan secara cepat dengan PCR, ELISA dan aglutinasi Latex.
Baku emas diagnosis meningitis TB adalah menemukan M. tb dalam kultur CSS. Namun

8
pemeriksaan kultur CSS ini membutuhkan waktu yang lama dan memberikan hasil positif
hanya pada kira-kira setengah dari penderita

Penatalaksanaan5
Terapi Farmakologis yang dapat diberikan pada meningitis TB berupa :
 Rifampicin ( R )
Efek samping : Hepatotoksik
 Isoniazid INH ( H )
Efek samping : Hepatotoksik, defisiensi vitamin B6
 Pyrazinamid ( Z )
Efek samping : Hepatotoksik
 Ethambutol ( E )
Efek samping : Neuritis optika
Regimen : RHZE / RHZS

Nama Obat Dosis

Dewasa : 10-15 mg/kgBB/hari Anak : 5-10 mg/kgBB/hari,


INH
+ piridoksin 50 mg/hari dosis maksimum 300 mg/hari

Etambutol 15-25 mg/kgBB/hari, dosis maksimum 2500 mg/hari

Pirazinamid 20-40 mg/kgBB/hari, dosis maksimum 2000 mg/hari

Anak 10-20
Rifampisin Dewasa : 600 mg/hari mg/kgBB/hari, dosis
maksimum 600 mg/hari

Di samping tuberkulostatik dapat diberikan rangkaian pengobatan dengan


deksametason untuk menghambat edema serebri dan timbulnya perlekatan-perlekatan antara
araknoid dan otak.

Steroid diberikan untuk:


 Menghambat reaksi inflamasi
 Mencegah komplikasi infeksi
 Menurunkan edema serebri

9
 Mencegah perlekatan
 Mencegah arteritis/infark otak
Indikasi Steroid :
 Kesadaran menurun
 Defisit neurologist fokal
Dosis steroid :
Prednison 1-2 mg/kgBB/hari selama 2-3 minggu, dilanjutkan dengan tapering-off selama 4-6
minggu,
Bagan Penatalaksanaan Meningitis2
Jika dijumpai tanda klinis meliputi :
1) Panas
2) Kejang
3) Tanda rangsang meningeal
4) Penurunan kesadaran

Cari tanda kenaikan tekanan intra cranial :


1) Mual muntah hebat
2) Nyeri kepala
3) Ubun-ubun cembung (anak)

10
Pencegahan dan Pendidikan

 Angka kejadian meningitis TB meningkat dengan meningkatnya pasien tuberkulosis


dewasa.

 Faktor risiko adalah malnutrisi, peminum alkohol, penyalahgunaan obat/zat adiktif,


diabetes melitus, pemakaian kortikosteroid lama, keganasan, dan infeksi HIV.

 Imunisasi BCG dapat mencegah meningitis tuberkulosa yang berat.

 Perlu ditekankan pengobatan yang teratur dalam jangka lama.

Pemantauan

11
 Umumnya angka kematian berkisar 10-20%. Gejala sisa berupa gangguan fungsi mata
dan pendengaran. Dapat dijumpai hemiparesis, mental retardasi, kejang, keterlibatan
hipotalamus dan sisterna basalis sehingga terjadi gejala endokrin.

Prognosis

Prognosis meningitis tuberkulosa lebih baik sekiranya didiagnosa dan diterapi seawal
mungkin. Sekitar 15% penderita meningitis nonmeningococcal akan dijumpai gejala sisanya.
Secara umumnya, penderita meningitis dapat sembuh, baik sembuh dengan cacat motorik
atau mental atau meninggal tergantung : 1

o Umur penderita.
o Jenis kuman penyebab
o Berat ringan infeksi
o Lama sakit sebelum mendapat pengobatan
o Kepekaan kuman terhadap antibiotic yang diberikan
o Adanya dan penanganan penyakit.

Imunisasi
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif
terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa, tidak terjadi
penyakit. Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan
memasukkan vaksin kedalam tubuh agar tubuh membuat zat anti yang dimasukkan ke dalam
tubuh melalui suntikan (misalnya vaksin BCG, DPT dan campak) dan melalui mulut
(misalnya vaksin polio). Imunisasi berasal dari kata imun, kebal, resisten. Imunisasi berarti
anak di berikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal terhadap suatu
penyakit tapi belum kebal terhadap penyakit yang lain. Imunisasi merupakan suatu upaya
untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu
penyakit.

Tujuan Imunisasi
Adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang, dan
menghilangkan penyakit tersebut pada sekelompok masyarakat, atau bahkan menghilangya
dari dunia seperti yang kita lihat pada kebersihan imunisasi cacar variola. Keadaan yang

12
terakhir ini lebih mungkin terjadi pada jenis penyakit yang ditukarkan melalui manusia,
seperti misalnya penyakit difteri dan poliomyelitis.
Tujuan imunisasi di Indonesia, umumnya untuk menurunkan angka kesakitan,
kecacatan dan kematian bayi akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Terdapat
banyak tujuan khusus imunisasi yaitu tercapainya program imunisasi seperti Universal Child
Immunization (UCI), Program Imunisasi Meningitis Meningokokus, Program Imunisasi
Demam Kuning.

Manfaat Imunisasi
Kepada anaknya dapat mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit dan
kemungkinan cacat atau kematian.
Keluarga juga menghindari kecemasan dan psikologi pengobatan bila anaknya sakit.
Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan mejalani
masa kanak-kanak yang nyaman.

Imunisasi Bacillus calmet-Guerin (BCG)


Vaksin BCG atau pemberian imunisasi bcg bertujuan untuk menimbulkan kekebalan
aktif terhadapa penyakit Tuberkulosis vaksin BCG mengandung kuman BCG yang masih
hidup. Jenis kuman TB ini telah dilemahkan. Dimana tuberkulosis merupakan penyakit rakyat
yang mudah menular di Indonesia dan di negara yang sedang berkembang lainnya. Seorang
anak menderita TB karena terhisapnya percikan udara yang mengandung kuman TB, yang
berasal dari orang dewasa berpenyakit TB. Mungkin juga bayi sudah terjangkit penyakit TB
sewaktu lahir. Ia terinfeksi kuman TB sewaktu masih dalam kandungan, bila ibu mengidap
penyakit TB. Pada anak yang terinfeksi, kuman TB dapat menyerang berbagai alat tubuh
yang diserangnya adalah paru (paling sering), kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal,
hati, atau selaput otak.
Salah satu upaya dari banyak upaya pemberantasan penyakit TB ialah imuniasi BCG.
Dengan imunisasi BCG diharapkan penyakit TB dapat berkurang dan kejadian TB yang berat
dapat dihindari.
Dosis pemberian imunisasi BCGDosis 0,05 cc untuk bayi dan 0,1 cc untuk anak dan
orang dewasa. Imunisasi BCG dilakukan pada bayi usia 0-2 bulan, akan tetapi biasanya
diberikan pada bayi umur 2 atau 3 bulan. Dapat diberikan pada anak dan orang dewasa jika
sudah melalui tes tuberkulin dengan hasil negatif.
Cara Pemberian Imunisasi BCGPemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan
ketika bayi baru lahir, sampai bayi berumur 12 bulan, tetapi sebaiknya pada umur 0 – 2 bulan.
Hasil yang memuaskan terlihat apabila diberikan menjelang umur 2 bulan. Imunisasi BCG
cukup diberikan 1 kali saja, pada anak yang berumur lebih dari 2 bulan, dianjurkan untuk

13
melakukan uji mantoux sebelum imunisasi BCG, gunanya untuk mengetahui apakah untuk
mengetahui apakah ia telah terjangkit penyait TB.
Seandainya hasil uji mantoux positif, anak tersebut selayaknya tidak mendapatkan
imunsasi BCG Tetapi bila imunisasi dilakukan secara masal, maka pemberian suntikan BCG
dilaksanakan secara langsung tanpa uji mantoux terlebih dahulu.
Hal ini dilakukan mengingat pengaruh beberapa faktor, seperti segi teknis
penyuntikan BCG, keberhasilan program imunisasi, segi epidemiologis dan lain-lain.
Penyuntikan BCG tanpa dilakukan uji mantoux pada dasarnya tidaklah membahayakan. Bila
pemberian imunisasi BCG itu berhasil, setelah beberapa minggu ditempat suntikan akan
terdapat suatu benjolan. Tempat suntikan itu kemudian berbekas. Kadang-kadang benjolan
tersebut bernanah, tapi akan menyembuh ssendiri meskipun lambat. Sesuai kesepakatan maka
biasanya penyuntikan BCG dilakukan di lengan kanan atas karena luka suntikan
meninggalkan bekas dan mengingat segi kosmetiknya, pada bayi perempuan dapat diminta
sutikan di paha kanan atas.
Reaksi ImunisasiBiasanya setelah suntikan BCG bayi tidak akan menderita demam. Bila ia
demam setelah imunisasi BCG umumnya disebabkan oleh keadaan lain. Untuk hal ini
dianjurkan agar anda berkonsultasi dengan dokter :
1. Tanda Keberhasilan Vaksinasi
Tanda keberhasilan vaksinasi BCG berupa bisul kecil dan bernanah pada daerah bekas
suntikan yang muncul setelah 4-6 minggu. Benjolan atau bisul setelah vaksinasi BCG
memiliki ciri yang sangat khas dan berbeda dari bisul pada umumnya. Bisul tersebut
tidak menimbulkan rasa nyeri, bahkan bila disentuh pun tidak terasa sakit. Tak hanya itu,
munculnya bisul juga tak diiringi panas. Selanjutnya, bisul tersebut akan mengempis dan
membentuk luka parut.
2. Bila Ada Reaksi Berlebih
Tingkatkan kewaspadaan bila ternyata muncul reaksi berlebih pasca vaksinasi BCG.
Misal, benjolan atau bisul itu lama tidak sembuh- sembuh dan menjadi koreng atau,
malah ada pembengkakan pada kelenjar di aksila. Ini dapat merupakan pertanda si anak
pernah terinfeksi TB sehingga menimbulkan reaksi berlebih setelah divaksin Sebaiknya
segera periksakan kembali ke dokter. Penting diketahui, setiap infeksi selalu diikuti oleh
pembesaran kelenjar limfe setempat sehingga bisa diraba. Jadi infeksi ringan akibat
vaksinasi di lengan atas akan menyebabkan pembesaran kelenjar limfe aksila. Jika
infeksi terjadi pada pangkal paha, akan terjadi pembesaran kelenjar limfe di lipatan paha.
Namun efek samping ini tidak terjadi pada semua bayi. Yang berisiko apabila bayi
tersebut sudah terinfeksi TB sebelum vaksinasi.
3. Bila Tak Timbul Benjolan

14
Orang tua tak perlu khawatir bila ternyata tidak muncul bisul/benjolan di daerah suntik.
Jangan langsung beranggapan bahwa vaksinasinya gagal. Bisa saja itu terjadi karena
kadar antibodinya terlalu rendah, dosis terlalu rendah, daya tahan anak sedang menurun
(misalnya anak dengan gizi buruk) atau kualitas vaksinnya kurang baik akibat cara
penyimpanan yang salah. Meski begitu, antibodi tetap terbentuk tetapi dalam kadar yang
rendah di daerah endemis TB seperti Indonesia, infeksi alamiah akan selalu ada booster-
nya (ulangan vaksinasi) bisa didapat dari alam, asalkan anak pernah divaksinasi
sebelumnya.
Efek Samping
Umumnya pada imunisasi BCG jarang dijumpai akibat samping. Mungkin terjadi
pembengkakan kelenjar getah bening setempat yang terbatas dan biasanya menyembuh
sendiri walaupun lambat. Bila suntikan BCG dilakukan di lengan atas, pembengkakan
kelenjar terdapat di aksila atau leher bagian bawah. Suntikan di paha dapat menimbulkan
pembengkakan kelenjar di selangkangan. Komplikasi pembengkakan kelenjar ini biasanya
disebabkan karena teknik penyuntikan yang kurang tepat, yaitu penyuntikan terlalu dalam.
Setelah bayi diberikan imunisasi BCG akan terjadi pembengkakan kecil dan merah pada
tempat suntikan selama 2 minggu. Setelah 2-3 minggu, pembengkakan akan menjadi abses
kecil dan menjadi luka. Luka akan sembuh dengan sendiri dalam waktu 2-3 bulan dan
meninggalkan luka parut. Apabila dosis yang diberikan timggi maka ulkus yang terbentuk
juga lebih besar dan apabila suntikan terlalu dalam maka luka parut yang tertarik ke dalam.

Kontraindikasi
Tidak ada larangan untuk melakukan imunisasi BCG, kecuali pada anak yang
berpenyakit TB atau menunjukkan uji Mantoux.
1. Pemberian imunisasi BCG biasanya dilakukan sedini mungkin, dalam waktu
beberapa hari setelah bayi lahir.
2. Cara pemberian imunisasi BCG bagi perorangan berlainan dengan pemberian
secara masal.
3. Imunisasi BCG secara masal tanpa didahului uji Mantoux, tidak
membahayakan.
4. Dengan imunisasi BCG anak anda diharapkan akan bebas terjangkit penyakit
TB. Setidak-tidaknya ia terhindar dari penyakit TB yang berat dan parah.

15
Kesimpulan

Untuk meningitis tuberkulosa sendiri masih banyak ditemukan di Indonesia karena


morbiditas tuberkulosis masih tinggi. Meningitis tuberkulosis terjadi sebagai akibat
komplikasi penyebaran tuberkulosis primer, biasanya di paru. Terjadinya meningitis
tuberkulosa bukanlah karena terinfeksinya selaput otak langsung oleh penyebaran hematogen,
melainkan biasanya sekunder melalui pembentukan tuberkel pada permukaan otak, sumsung
tulang belakang atau vertebra yang kemudian pecah kedalam rongga arakhnoid.

Meningitis tuberkulosa adalah penyulit dari tuberkulosa yang mempunyai morbiditas


dan mortalitas yang tinggi, bila tidak diobati. Oleh karena itu penyakit ini memerlukan
diagnosa dini dan pemberian pengobatan yang cepat, tepat dan rasional.3

16
DAFTAR PUSTAKA

1. Ramachandran TS. Tuberculous Meningitis. Last Updated 4 December 2010. Available


from http://emedicine.medscape.com/article/1166190-overview ----
2. Nofareni. Status imunisasi bcg dan faktor lain yang mempengaruhi terjadinya meningitis
tuberkulosa. Available from http://library.usu.ac.id/download/fk/anak-nofareni.pdf
3. Koppel BS. Bacterial, Fungal,& Parasitic infections of the Nervous System in Current
Diagnosis and Treatment Neurology. USA; The McGraw-Hill Companies. 2007. p403-08,
p421-23.
4. Pradhana D. Referat Meningitis. Last Updated 2009. Available from
http://www.docstoc.com/docs/19409600/new-meningitis-edit
5. RSCM. Panduan Praktis Klinis Departemen Ilmu Kesehatan Anak. 2015. Jakarta: RSCM

17