Anda di halaman 1dari 9

Bab V

Pembahasan

5.1 Analisa Univariat Distribusi Sebaran Pasien yang Mengeluhkan Sefalgia di Puskesmas
Kelurahan Grogol 2, Bulan November 2017.
Berdasarkan table penelitian 4.1, didapatkan bahwa jumlah pasien puskesmas yang
mengeluhkan nyeri kepala adalah 54 orang, dengan persentase 50.9%, dan yang tidak
mengeluhkan nyeri kepala adalah 52 orang, dengan persentase 49.1%. dari data ini menunjukan
bahwa lebih banyak pasien puskesmas yang mengalami keluhan nyeri kepala.
Berdasarkan tinjauan pustaka………….

5.2 Analisis Univariat Sebaran dari Antara Umur, Jenis Kelamin, Tekanan Darah Sistolik,
Tekanan Darah Diastolik, Obesitas, Stress, Kurang Tidur, Pemakaian Alat Elektronik,
Pekerjaan di Puskesmas Kelurahan Grogol 2 Bulan November 2017.

Berdasarkan table penelitian 4.2, didapatkan bahwa jumlah pasien puskesmas dengan
usia 18 – 65 tahunlebih banyak dibandingkan usia lebih dari 65 tahun pada bulan November
2017. Jumlah pasien usia 18-64 Tahun sebanyak 100 orang dengan persentase 94.3% sedangkan
jumlah pasien usia >65 tahun sebanyak 6 orang dengan persentase 5,7%.

Berdasarkan table penelitian 4.2, didapatkan bahwa jumlah pasien puskesma dengan jenis
kelamin peremppuan lebih banyak dibandingkan jenis kelamin laki-laki pada bulan November
2017. Jumlah pasien perempuan sebanyak 60 rang dengan persentase 56.6%, sedangkan pasien
laki-laki sebanyak 46 orang dengan persentase 43.4%

Berdasarkan table penelitian 4.2, didapatkan bahwa jumlah pasien puskesamas dengan
tekanan darah sistol yang tinggi lebih banyak dibandingkan dengan tekanan darah sistolik yang
normal dan rendah pada bulan Nove,ber 2107. Jumlah pasien yang memiliki tekanan darah
sistolik yang tinggi sebanyak 43 orang dengan persentase 40.6% , pasien yang memiliki tekana
darah sistolik normal sebanyak 35 orng dengan persenatase 33%, da pasien yang memiliki tekana
darah sistolik rendah sebanyak 28 orang dengan persentase 26,3%.
Berdasarkan table penelitian 4.2, didapatkan bahwa jumlah pasien puskesamas dengan
tekanan darah diastolik yang tinggi lebih banyak dibandingkan dengan tekanan darah sistolik
yang rendah dan normal pada bulan Nove,ber 2107. Jumlah pasien yang memiliki tekanan darah
diastolik yang tinggi sebanyak 44 orang dengan persentase 41.5% , pasien yang memiliki
tekanan darah diastolik rendah sebanyak 35 orang dengan persenatase 33%, dan pasien yang
memiliki tekanan darah diastolik normal sebanyak 27 orang dengan persentase 25,5%.

Berdasarkan table penelitian 4.2, didapatkan bahwa jumlah pasien puskesmas yang
obesitas lebih banyak dari pada pasien yang tidak obesitas pada bulan November 2017. Jumlah
pasien yang obesitas sebanyak 34 orang dengan oersentase 32,1% sedangkan pasien yang tidak
obesitas sebanyak 72 prang dengan persentase 67,9%.

Berdasarkan table penelitian 4.2, didapatkan bahwa jumlah pasien puskesmas mengalami
stress lebih banyak dari pada yang tidak mengalami stress pada bulan November 2017. Jumlah
pasien puskesmas yang mengalami stress sebanyak 74 orang dengan persentase 69,8%
sedangkan pasien yang tidak mengalami stress sebanyak 32 orang dengan persentase 30%.

Berdasarkan table penelitian 4.2, didapatkan bahwa jumlah pasien puskesmas yang waktu
tidurnya kurang lebih banyak daripada yang waktu tidurnya cukup pada bulan november 2017.
Jumlah pasien yang kurang tidur sebanyak 73 orang dengan persentase 68,9% ,sedangkan pasien
yang cukup tidur sebanyak 33 orang denganpersentase 31,1%.

Berdasarkan table penelitian 4.2, didapatkan bahwa jumlah pasien puskesamas yang tidak
menggunakan barang elektronik lebih banyak dari pada yang menggunakan barang elektronik
pada bulan November 201. Jumlah pasien yang tidak menggunakan barang elektronik sebanyak
75 orang dengan persentase 70,8% sedangkan pasien yang menggunakam barang elektronik
sebanyak 31 orang dengan persentase 29,2%.

Berdasarkan table penelitian 4.2, didapatkan bahwa jumlah pasien puskesamas yang
memiliki pekerjaan lebuih banyak daripada yang tidak memiliki pekerjaan pada bulan November
2017. Jumlah pasien yang memiliki perkerjaan sebanyak 60 rang dengan persentase 56,6%
sedang kan pasien yan gtidak memiliki pekerjaan sebanyak 46 orang dengan persentase 43,4%.
5.3 Analisa Bivariat Sebaran antara Umur dengan Keluhan Sefalgia di Puskesmas
Kelurahan Grogol 2 Bulan November 2017.
Berdasarkan tabel 4.3 diatas didapatkan bahwa pasien puskesmas yang berusia 18 – 65
tahun sebanyak 46 orang yang mengalami keluhan nyeri kepala dengan persentase 46 %,
dibandingkan dengan pasien yang tidak mengalami keluhan nyeri kepala sebanyak 54 orang
dengan persentase 54 %. Sebanyak 6 pasien yang berusia >65 tahun dengan persentase 100 %
mengalami keluhan nyeri kepala lebih banyak dibandingkan yang tidak mengalami keluhan nyeri
kepala yaitu sebanyak 0 pasien. Hal ini menunjukan adanya hubungan antara usia dengan
keluhan nyeri kepala. Hal ini dibuktikan dengan uji statistic Chi-Square dengan hasil p=0,010
dimana p<0,05 yang menunjukan bahwa Ho ditolak yang mempunyai makna bahwa terdapat
hubungan antara usia dengan keluhan nyeri kepala. Dengan demikian semakin tinggi usia pasien
maka keluhan nyeri kepala juga semakin besar.
Berdasarkan hasil penelitian lain menunjukan….

5.4 Analisa Bivariat Sebaran antara Jenis Kelamin dengan Keluhan Sefalgia di Puskesmas
Kelurahan Grogol 2 Bulan November 2017.
Berdasarkan tabel 4.3 diatas didapatkan bahwa pasien puskesmas yang berjenis kelamin
perempuan sebanyak 30 orang yang mengalami keluhan nyeri kepala dengan persentase 50 %,
dibandingkan dengan pasien perempuan yang tidak mengalami keluhan nyeri kepala juga
sebanyak 30 orang dengan persentase 50 %. Sebanyak 22 pasien perempuan dengan persentase
47,8% mengalami keluhan nyeri kepala ternyata lebih sedikit dibandingkan yang tidak
mengalami keluhan nyeri kepala yaitu sebanyak 24 pasien dengan persentase 52,1%. Hal ini
menunjukan tidak adanya hubungan antara jenis kelamin dengan keluhan nyeri kepala. Hal ini
dibuktikan dengan uji statistic Chi-Square dengan hasil p=0,824 dimana apabila p>0,05
menunjukan bahwa Ho diterima yang mempunyai makna bahwa tidak terdapat hubungan antara
jenis kelamin dengan keluhan nyeri kepala. Maka baik itu pasein laki-laki ataupun perempuan
tidak mempengaruhi adanya keluhan nyeri kepala atau tidak.

Hasil penelitian ini berbeda dengan penyataan yang didapatkan dari jurnal. Rasio laki-
laki: perempuan untuk migrain pada orang dewasa bervariasi dari 1: 2 sampai 1: 3, dan wanita
memiliki lebih banyak migrain tanpa aura daripada migrain dengan aura. Rasio laki-laki:
perempuan untuk TTH adalah 4: 5, menunjukkan bahwa, tidak seperti migrain, wanita hanya
sedikit lebih terpengaruh daripada pria. (Jensen R, Stovner LJ. Lancet neurology: epidemiology
and comorbidity of headache. Denmark: University of Copenhagen: 2008.)

Dalam penelitian lain juga mengatakan bahwa prevalensi migrain pada perempuan lebih tinggi
dibanding laki-laki hal ini dikarenakan adanya beberapa alasan yakni, (1) Pada saat mulai
pubertas perempuan lebih banyak mengalami migrain dibanding laki-laki, (2) Lebih dari 55%
perempuan yang menstruasi mengalami nyeri kepala (migrain), (3) mayoritas perempuan yang
hamil menunjukan peningkatan rekuensi nyeri kepala (migrain).

(Sex Matters: Evaluating Sex and Gender in Migraine and Headache Researchhead_1900 839..842 B. Lee
Peterlin, DO; Saurabh Gupta, PhD; Thomas N. Ward, MD; Anne MacGregor, MD. Headache © 2011
American Headache Society)

5.4 Analisa Bivariat Sebaran antara Tekanan Darah Sistolik dengan Keluhan Sefalgia di
Puskesmas Kelurahan Grogol 2 Bulan November 2017.
Berdasarkan tabel 4.3 diatas didapatkan bahwa pasien puskesmas yang memiliki tekanan
darah sistolik tinggi (>140 mmHg) sebanyak 33 pasien cenderung mengalami keluhan nyeri
kepala dengan persentase 76,7 %, dibandingkan dengan pasien yang memiliki tekanan darah
sistol tinggi namun tidak mengalami keluhan nyeri kepala sebanyak 10 orang dengan persentase
23,2%. Sebanyak 22 pasien yang memiliki tekanan darah sistol normal dengan persentase 62,8 %
tidak mengalami keluhan nyeri kepala lebih banyak dibandingkan yang mengalami keluhan nyeri
kepala yaitu sebanyak 13 pasien dengan persentase 37,1%. Juga didapatkan bahwa pasien
puskesmas yang memiliki tekanan darah sistol rendah (<120 mmHg) sebanyak 6 pasein
mengalami keluhan nyeri kepala dengan persentase 21,4%, dibandingkan dengan pasein yang
memiliki tekanan darah sistol rendah namun tidak mengalami keluhan nyeri kepala sebanyak 22
pasien dengan persentase 78,5%. Hal ini menunjukan adanya hubungan antara tekanan darah
sistol dengan keluhan nyeri kepala. Hal ini dibuktikan dengan uji statistic Mann Whitney dengan
hasil p=0,000 dimana p<0,05 yang menunjukan bahwa Ho ditolak yang mempunyai makna
bahwa terdapat hubungan antara tekanan darah sistol dengan keluhan nyeri kepala. Dengan
demikian semakin tinggi tekanan darah sistol pasien maka keluhan nyeri kepala juga semakin
besar.
Hal tersebut diatas bertentangan dengan hasil penelitian cross-sectional yang dilakukan
Chen et al, bahwa tidak menemukan hubungan antara migrain dan tekanan darah tinggi pada 508
wanita muda dengan migrain dan 3902 tanpa migrain. Dalam penelitian cross sectional Wiehle et
al., penulis mempelajari 1174 individu yang berusia lebih dari 17 tahun, mewakili penduduk
Porto Alegre, RS, Brasil dan mengeluh sakit kepala migrain atau tipe tegangan. Didapatkan hasil
bahwa orang dengan tekanan darah optimal atau normal mengeluh migrain lebih sering daripada
peserta dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi.(Hamed SA)

5.5 Analisa Bivariat Sebaran antara Tekanan Darah Diastol dengan Keluhan Sefalgia di
Puskesmas Kelurahan Grogol 2 Bulan November 2017.

Berdasarkan tabel 4.3 diatas didapatkan bahwa pasien puskesmas yang memiliki tekanan
darah diastolik tinggi (>90 mmHg) sebanyak 30 pasien cenderung mengalami keluhan nyeri
kepala dengan persentase 68,1%, dibandingkan dengan pasien yang memiliki tekanan darah
sistol tinggi namun tidak mengalami keluhan nyeri kepala sebanyak 14 orang dengan persentase
31,8%. Sebanyak 17 pasien yang memiliki tekanan darah diastolik normal dengan persentase
62,9% tidak mengalami keluhan nyeri kepala lebih banyak dibandingkan yang mengalami
keluhan nyeri kepala yaitu sebanyak 10 pasien dengan persentase 37%. Juga didapatkan bahwa
pasien puskesmas yang memiliki tekanan darah sistol rendah (<80 mmHg) sebanyak 12 pasein
mengalami keluhan nyeri kepala dengan persentase 34,2%, dibandingkan dengan pasein yang
memiliki tekanan darah diastolik rendah namun tidak mengalami keluhan nyeri kepala sebanyak
23 pasien dengan persentase 65,7%. Hal ini menunjukan adanya hubungan antara tekanan darah
diastolik dengan keluhan nyeri kepala. Hal ini dibuktikan dengan uji statistic Mann Whitney
dengan hasil p=0,003 dimana p<0,05 yang menunjukan bahwa Ho ditolak yang mempunyai
makna bahwa terdapat hubungan antara tekanan darah diatolik dengan keluhan nyeri kepala.
Dengan demikian semakin tinggi tekanan darah diastolik pasien maka keluhan nyeri kepala juga
semakin besar.
Penelitian tersebut diatas bertentangan dengan hasil penelitian cross-sectional yang
dilakukan di klinik hipertensi di RS sebuah universitas di Brazil, Fuchs et al,. Yang menyelidiki
1763 subjek mengenai hubungan antara hipertensi yang diklasifikasikan pada tahap sedang
sampai parah dengan sakit kepala. Penulis menemukan bahwa sakit kepala dan tekanan darah
tinggi tidak tidak terkait. Dalam penelitian prospektif yang dilakukan oleh hagen et al., penulis
memperkirakan risiko relati sakit kepala (migrain atauu sakit kepala non-migrain) yang
berhubunganan dengan tekanan darah pada 22.685 orang dewasa yang tidak memiliki sakit
kepala, memiliki tekanan darah dasar yang diukur pada tahun 1984-6 , dan menanggapi
kuesioner sakit kepala saat diobservasi 11 tahun kemudian (1995-7). Penulis menemukan bahwa
subjek dengan tekanan darah sistolik 150 mmHg atau lebih tinggi memiliki risiko 30% lebih
rendah (rasio risiko (RR) = 0,7, 95% CI 0,6-0,8) yang memiliki sakit kepala nonmigrain pada
follow up dibandingkan dengan tekanan sistolik lebih rendah dari 140 mmHg. Untuk tekanan
darah diastolik, risiko sakit kepala non-migrain menurun seiring dengan meningkatnya nilai
tekanan darah, dan temuan ini serupa untuk laki-laki maupun perempuan, dan tidak dipengaruhi
oleh penggunaan obat antihipertensi. Studi berbasis populasi pertama yang menggunakan kriteria
International Headache Society (IHS) untuk klasifikasi sakit kepala menemukan 11% hipertensi
pada 974 subjek. Namun, penelitian tersebut tidak melaporkan adanya perbedaan pada kejadian
sakit kepala antara penderita hipertensi dan non-hipertensi. (Hamed SA)

5.6 Analisa Bivariat Sebaran antara Obesitas dengan Keluhan Sefalgia di Puskesmas
Kelurahan Grogol 2 Bulan November 2017
Berdasarkan tabel 4.3 diatas didapatkan bahwa pasien puskesmas yang mengalami
obesitas sebanyak 20 orang yang mengalami keluhan nyeri kepala dengan persentase 58,8 %,
dibandingkan dengan pasien yang tidak mengalami keluhan nyeri kepala sebanyak 14 orang
dengan persentase 41,1%. Sebanyak 32 pasien yang tidak mengalami obesitas dengan persentase
44,4% mengaku mengalami keluhan nyeri kepala jumlah ini lebih sedikit dibandingkan yang
mengalami tidak mengalami keluhan nyeri kepala yaitu sebanyak 40 pasien dengan persentase
55,5%. Hal ini menunjukan adanya hubungan antara pasien yang mengalami obesitas dengan
keluhan nyeri kepala. Hal ini dibuktikan dengan uji statistic Mann Whitney dengan hasil
p=0,007 dimana p<0,05 yang menunjukan bahwa Ho ditolak yang mempunyai makna bahwa
terdapat hubungan antara pasien yang mengalami obestitas dengan keluhan nyeri kepala. Dengan
demikian semakin obesitas pasein maka keluhan nyeri kepala juga semakin besar.
Berdasarkan hasil penelitian lain menunjukan….

5.7 Analisa Bivariat Sebaran antara Stress dengan Keluhan Sefalgia di Puskesmas
Kelurahan Grogol 2 Bulan November 2017
Berdasarkan tabel 4.3 diatas didapatkan bahwa pasien puskesmas yang mengalami stress
sebanyak 35 orang dengan persentase 47,2% mengaku memiliki keluhan nyeri kepala,
dibandingkan dengan pasien yang tidak memiliki keluhan nyeri kepala juga sebanyak 39 orang
dengan persentase 52,7%. Sebanyak 17 pasien yang tidak mengalami stress dengan persentase
53,1% mengalami keluhan nyeri kepala ternyata lebih banyak dibandingkan yang tidak
mengalami keluhan nyeri kepala yaitu sebanyak 15 pasien dengan persentase 46,8%. Hal ini
menunjukan tidak adanya hubungan antara pasien yang mengalami stress dengan keluhan nyeri
kepala. Hal ini dibuktikan dengan uji statistic Chi-Square dengan hasil p=0,582 dimana apabila
p>0,05 menunjukan bahwa Ho diterima yang mempunyai makna bahwa tidak terdapat
hubungan antara pasien yang mengalami stress dengan keluhan nyeri kepala. Maka ada atau
tidaknya stress tidak mempengaruhi adanya keluhan nyeri kepala.
Hasil penelitian ini diperkuat dengan penyataan yang didapatkan dari jurnal….

5.8 Analisa Bivariat Sebaran antara Kurang Tidur dengan Keluhan Sefalgia di Puskesmas
Kelurahan Grogol 2 Bulan November 2017
Berdasarkan tabel 4.3 diatas didapatkan bahwa pasien puskesmas yang tidurnya kurang
ada sebanyak 36 orang mengaku mengalami keluhan nyeri kepala dengan persentase 49,3%,
dibandingkan dengan pasien yang tidak mengalami keluhan nyeri kepala sebanyak 37 orang
dengan persentase 50,6%. Sebanyak 16 pasien yang mempunyai tidur yang cukup memiliki
persentase 48,48% mengalami keluhan nyeri kepala ternyata lebih sedikit dibandingkan yang
tidak mengalami keluhan nyeri kepala yaitu sebanyak 17 pasien dengan persentase 51,51%. Hal
ini menunjukan tidak adanya hubungan antara kurangnya tidur dengan keluhan nyeri kepala. Hal
ini dibuktikan dengan uji statistic Chi-Square dengan hasil p=0,937 dimana apabila p>0,05
menunjukan bahwa Ho diterima yang mempunyai makna bahwa tidak terdapat hubungan antara
kurang tidur dengan keluhan nyeri kepala. Maka cukup atau kurangnya tidur tidak
mempengaruhi adanya keluhan nyeri kepala.
Hasil penelitian ini diperkuat dengan penyataan yang didapatkan dari jurnal…..

5.9 Analisa Bivariat Sebaran antara Pemakaian Alat Elektronik dengan Keluhan Sefalgia
di Puskesmas Kelurahan Grogol 2 Bulan November 2017
Berdasarkan tabel 4.3 diatas didapatkan bahwa pasien puskesmas yang memakai alat
elektronik ada sebanyak 18 orang yang mengalami keluhan nyeri kepala dengan persentase 58%,
dibandingkan dengan pasien yang tidak mengalami keluhan nyeri kepala sebanyak 13 orang
dengan persentase 41,9%. Sebanyak 34 pasien yang sering memakai peralatan elektronik
memiliki persentase 45,3% mengalami keluhan nyeri kepala ternyata lebih sedikit dibandingkan
yang tidak mengalami keluhan nyeri kepala yaitu sebanyak 41 pasien dengan persentase 54,6%.
Hal ini menunjukan tidak adanya hubungan antara pemakaian peralatan elektronik dengan
keluhan nyeri kepala. Hal ini dibuktikan dengan uji statistic Chi-Square dengan hasil p=0,233
dimana apabila p>0,05 menunjukan bahwa Ho diterima yang mempunyai makna bahwa tidak
terdapat hubungan antara pemakaian peralatan elektronik dengan keluhan nyeri kepala. Maka
ada atau tidaknya pemakaian alat elektronik tidak mempengaruhi adanya keluhan nyeri kepala.
Penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan Punamaki et al., (2006)
yang dimana penelitiannya dilakukan pada 7292 remaja pengguna telepon genggam dan
komputer didapatkan peningkatan resiko nyeri kepala (p< 0.05). sodervist et al., (2008) yang
juga meneliti pada 2000 remaja di Swedia didapati hasil bahwa 99,6 % orang yang menggunakan
telepon genggam dan menonton televisi terjadi peningkatan odd ratio dengan meningkatnya
rekuensi penggunaannya. Dari hasil studi yang dilakuka oleh Chia et al,. (2000) terdapat
hubungan yang bermakna antara nyeri kepala dengan durasi yang digunakan pada panggilan
(p=0.038), hasil tersebut didapatkan peningkatan nyeri kepala yang bermakna terhadap
penggunaan telepon genggam dengan durasi yang digunakan sehari >60 menit.1(hubungan
penggunaan media elektronik dengan nyeri kepala pada remaja di Surakarta.
http://eprints.ums.ac.id/28059/18/NASKAH_PUBLIKASI.pdf. Ika Nurwulandari. fakultas
kedokteran universitas muhamadiyah Surakarta. 2014.)
Penelitian oleh Jing Wang et al (2017) yang juga mengatakan bahwa ada hubungan antara
penggunaan telepon genggam dengan nyeri kepala didapatkan P<0.001 dengan odd ratio 1.78–
3.58.2 (mobile phone use and the risk of headache: a systemic review and meta-analysis of cross-
sectional studies. Jing wang dkk. 2017)

5.10 Analisa Bivariat Sebaran antara Pekerjaan dengan Keluhan Sefalgia di Puskesmas
Kelurahan Grogol 2 Bulan November 2017
Berdasarkan tabel 4.3 diatas didapatkan bahwa pasien puskesmas yang memiliki
pekerjaan sebanyak 36 orang, mengalami keluhan nyeri kepala dengan persentase 60 %,
dibandingkan dengan pasien yang tidak mengalami keluhan nyeri kepala sebanyak 24 orang
dengan persentase 40%. Sebanyak 30 pasien yang tidak memiliki pekerjaan dengan persentase
65,2% tidak mengalami keluhan nyeri kepala, lebih banyak dibandingkan yang mengalami
keluhan nyeri kepala yaitu sebanyak 16 pasien dengan persentase 34,7%. Hal ini menunjukan
adanya hubungan antara pekerjaan dengan keluhan nyeri kepala. Hal ini dibuktikan dengan uji
statistic Chi-Square dengan hasil p=0,010 dimana p<0,05 yang menunjukan bahwa Ho ditolak
yang mempunyai makna bahwa terdapat hubungan antara pekerjaan dengan keluhan nyeri
kepala. Dengan demikian apabila pasien memiliki banyak pekerjaan maka keluhan nyeri kepala
juga semakin besar.