Anda di halaman 1dari 39

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr Wb

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya
kami dapat menyelesaikan referat “Sistem Keseimbangan”

Kami ingin menyampaikan terima kasih yang tidak terhingga kepada


pembimbing, Dr. Yuswandi Affandi, Sp. THT dan Dr. Ivan Djajalaga, M. Kes, Sp. THT-
KL atas bimbingan yang diberikan sehingga kami dapat menyelesaikan referat ini.
Kami menyusun referat ini sebagai salah satu tugas dalam mengikuti kepaniteraan
klinik THT di RSUD Karawang. Kami sangat menyadari bahwa referat ini masih banyak
kekurangan baik mengenai isi, tata bahasa maupun informasi ilmiah yang terdapat di
dalamnya. Semoga referat ini bermanfaat bagi pembacanya. Wassalamualaikum Wr Wb.

Karawang, Agustus 2010

1
SISTEM KESEIMBANGAN

Keseimbangan dan orientasi tubuh seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya


tergantung pada input sensorik dari reseptor vestibuler di labirin, organ visual dan
proprioseptif (kesadaran mengenai posisi tubuh). Gabungan informasi ketiga reseptor
sensorik tersebut akan diolah di SSP,sehingga menggambarkan keadaan posisi tubuh
pada saat itu.

SISTEM VESTIBULAR

Rangsangan visual, proprioseptif dan input


taktil

Gerakan kepala: Batang Otak:


Akselerasi angular Kanalis semisirkularis Orientasi

Gerakan kepala: SSP Medulla spinalis dan


Akselerasi linear Serebelum: Postural
Sakulus dan Utrikulus
Gerakan kepala: Sistem okulomotoris:
Gravitasi Gerakan bola mata

2
Masukan dan keluaran nukleus vestibularis

Reseptor di Reseptor di Reseptor di Reseptor di kanalis


mata kulit sendi dan semisirkularis dan
otot organ otolit

Masukan Masukan Masukan Masukan


penglihatan kutaneus proprioseptif vestibularis

Nukleus Pengolahan Serebelum


vestibularis terkordinasi
( di batang
otak )

Keluaran ke neuron Keluaran ke


motorik otot – otot neuron motorik Keluaran ke SSP
ekstremitas dan otot – otot mata
badan eksternal

Pemeliharaan Kontrol gerak Persepsi


keseimbangan dan mata gerakan dan
postur yang orientasi
diinginkan

3
Labirin terdiri dari labirin statis yaitu utrikulus dan sakulus yang merupakan
pelebaran labirin membran yang terdapat dalam vestibulum labirin tulang. Pada tiap
pelebarannya terdapat makula utrikulus yang didalamnya terdapat sel-sel reseptor
keseimbangan. Labirin kinetik terdiri dari 3 kanalis semisirkularis dimana pada tiap
kanalis terdapat pelebaran yang berhubungan dengan utrikulus, disebut ampulla. Di
dalamnya terdapat kista ampularis yang terdiri dari sel-sel reseptor keseimbangan dan
seluruhnya tertutup oleh suatu substansi gelatin yang disebut kupula.

4
Anatomi Sistem Keseimbangan

Keseimbangan tubuh dipertahankan oleh kerjasama otot dan sendi tubuh


(sistem muskuloskeletal), kulit (sistem somatosensoris), mata (sistem visual), dan
labirin (sistem vestibular). Ketiganya membawa informasi mengenai keseimbangan
ke otak (sistem serebellar) untuk koordinasi dan persepsi korteks serebellar.

Anatomi telinga

Bagian telinga

Telinga terdiri dari tiga bagian: telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.

Telinga luar

Bagian luar merupakan bagian terluar dari telinga. Telinga luar terdiri dari daun
telinga, lubang telinga, dan saluran telinga luar. Telinga luar meliputi daun telinga atau

5
pinna, Liang telinga atau meatus auditorius eksternus, dan gendang telinga atau
membrana timpani. Bagian daun telinga berfungsi untuk membantu mengarahkan suara
ke dalam meatus auditorius eksternus dan akhirnya menuju membran timpani. Rancangan
yang begitu kompleks pada telinga luar berfungsi untuk menangkap suara dan bagian
terpenting adalah liang telinga. Saluran ini merupakan hasil susunan tulang dan rawan
yang dilapisi kulit tipis.

Di dalam saluran terdapat banyak kelenjar yang menghasilkan zat seperti lilin yang
disebut serumen atau kotoran telinga. Hanya bagian saluran yang memproduksi sedikit
serumen yang memiliki rambut. Pada ujung saluran terdapat membran timpani yang
meneruskan suara ke telinga dalam.

Telinga tengah

Telinga tengah berbentuk kubus dengan :

• Batas luar : membran timpani


• Batas depan : tuba eustachius
• Batas bawah : vena jugularis
• Batas belakang : aditus ad antrum, kanalis fasialis pars ventrikalis
• Batas atas : tegmen timpani (meningen otak)
• Batas dalam : kanalis semisirkularis horizontal, kanalis fasialis, tingkap lonjong,
tingkap bundar dan promontorium

Telinga tengah meliputi gendang telinga, 3 tulang pendengaran (malleus, incus, dan
stapes). Muara tuba Eustachi juga berada di telinga tengah.

Telinga dalam

Telinga dalam merupakan sebuah rongga yang terletak di pars petrosus os temporalis.
Ia mengandung reseptor untuk mendeteksi gerakan dan posisi. Telinga dalam terdiri dari
labirin ossea dan labirin membranosa (duktus membranosa dan saccusnya).

6
Labirin ossea Labirin membranosa
Vestibulum • Mengandung tingkap • Terdiri dari empat duktus
lonjong di dinding lateral 1. Tiga ductus semisirkularis
• Berhubungan dengan (anterior, posterior, lateralis)
koklea (anterior) 2. Ductus koklearis
• Berhubungan dengan
Dua saccus
canalis semicircularis
1. Utrikulus
(postero-superior)
2. Sakulus
• Berisi : endolimfe
Kanalis • Canalis semisirkularis • Dipisahkan dari periosteum yang
semisirkularis (anterior, posterior, menutupi dinding tulang labirin
lateral) à terdapat oleh perilimfe.
ampula yang • Mempunyai fungsi unik yang
berhubungan dengan berhubungan dengan pendengaran
vestibulum. dan keseimbangan :
1. Utrikulus, sacculus dan ketiga
duktus semisirkularis à organ
keseimbangan
2. Duktus koklearis à organ
pendengaran
Koklea • Tiap struktur tulang • Ductus koklearis à irisan
melingkar 2 ½ lingkaran melintang koklea terdiri dari :
mengelilingi central 1. Skala vestibuli (bagian atas) à
collum tulang (modiolus), Bagian dasar dari skala vestibuli
membentuk basis di berhubungan dengan tulang stapes
posterior dan apex di melalui tingkap oval.
anterior. 2. Skala timpani (bagian bawah)à
• Posisi basis modiolus ada berhubungan dengan telinga
di dekat MAI, tempat tengah melalui tingkap bulat
masuk cabang koklear N. 3. Skala media (bagian tengah)à
VIII. • Bagian atas skala media

7
• 2 kanalis : dibatasi oleh membran
1. Skala vestibuli vestibularis (membran
(berhubungan dengan Reissner) dan sebelah bawah
vestibulum) dibatasi oleh membran
2. Skala timpani basilaris.
(dipisahkan dari • Di atas membran basilaris
telinga tengah oleh m. terdapat organ corti.
Timpani) • Organ corti terdiri dari sel
• Keduanya dihubungkan rambut dalam, sel rambut luar
oleh helikotrema pada dan kanalis Corti.
apeksnya • Di atas sel rambut terdapat
membran tektorial.

Labirin ossea mendapat vaskularisasi dari: cabang tympanica anterior A. Maxillaris,


cabang stylomastoideus A. Auricularis posterior, cabang petrosus A. Meningea media.
Sementara labirin membranosa mendapat vaskularisasi dari: A. Labyrinty (muncul dari a.
Cerebellaris anterior inferior) yang kemudiannya bercabang menjadi cabang koklear yang
berjalan melalui modiolus ke ductus koklearis dan cabang vestibularis yang

8
memperdarahi apparatus vestibularis. Vena dari labirin membranosa berjalan sesuai
dengan jalan arteri dan akhirnya bermuara ke sinus petrosus inferior dan sinus
sigmoideus.

Telinga dalam mendapat innervasi dari N. VIII dan N. VII; bermula dari pertemuan
pons dan medulla oblongata, menuju meatus acusticus interna, kemudian bercabang
menjadi :
1. N. Vestibularis superior dan inferior ke macula utriculus dan sacculus, dan ampula
ductus semicircularis.
2. N. Cochlearis à ganglion spiralisà organ corti

3. N. VIIà memberi cabang untuk stapedius dan chorda tympani

Anatomi Mata

9
Secara garis besar anatomi mata dapat dikelompokkan menjadi empat bagian. Keempat
kelompok ini terdiri dari :

1) Palpebra
Dari luar ke dalam terdiri dari : kulit, jaringan ikat lunak, jaringan otot, tarsus,
fasia dan konjungtiva. Fungsi dari palpebra adalah untuk melindungi bola mata, bekerja
sebagai jendela memberi jalan masuknya sinar kedalam bola mata, juga membasahi dan
melicinkan permukaan bola mata.

2) Rongga mata
Merupakan suatu rongga yang dibatasi oleh dinding dan berbentuk sebagai
piramida kwadrilateral dengan puncaknya ke arah foramen optikum. Sebagian besar dari
rongga ini diisi oleh lemak, yang merupakan bantalan dari bola mata dan alat tubuh yang
berada di dalamnya seperti: serabut saraf, otot-otot penggerak bola mata, kelenjar air
mata, pembuluh darah.

3) Bola mata
Menurut fungsinya maka bagian-bagiannya dapat dikelompokkan menjadi:
• Otot-otot penggerak bola mata
• Lapisan bola mata yang terdiri dari:
Tunika Kornea • Lanjutan dari sklera di anterior
fibrosa • Transparant
• Menutupi 1/6 anterior permukaan bola mata
• Avaskular, tapi sangat kaya akan saraf terutama n. V1
(sensoris) à rangsangan terutama rasa nyeri à refleks
kornea/sentuh à berkedip (rasa nyeri pada n. V1 dan
kemampuan otot untuk mengedip)
Sklera • Lapisan putih yang dapat terlihat dari anterior
• Diselimuti oleh konjungtiva di bagian anterior
• Ditembus oleh beberapa pembuluh darah dan saraf
termasuk n. II di posterior (tapi tidak

10
diperdarahi/dipersarafi)
• Tempat lekat dari otot-otot penggerak bola mata
• Permukaan luarnya ditutupi oleh fascial sheath, mulai dan
tempat masuk n. II sampai ke corneoscleral junction
• Permukaan dalamnya melekat longgar pada choroid
Tunika Choroid • Membentuk 2/3 posterior lapisan vasculosa
vaskulosa • Lapisan yang tipis dan kaya dengan vaskular
(uvea) − Pembuluh darah kecil untuk retina
− Pembuluh darah besar untuk ke perifer
• Lapisan pigmentasi (warna gelap)
• Melekat erat pada retina (dalam)
• Melekat longgar dengan sklera (luar)
Corpus • Perpanjangan dari tepi anterior choroid
siliaris • Struktur triangular shape antara choroid dan iris
• Membentuk cincin penuh mengelilingi bola mata
• Mengandung:
− M. Ciliaris
− Processus ciliaris
Iris • Struktur sirkular
• Perpanjangan corpus ciliaris
• Bagian berwarna dari mata(pigemen bewarna coklat à
wrna tergantung jumlahnya pigmen tersebut à biru
(sedikit) hingga hitam (banyak)
• Membuka di tengah disebut pupil (besarnya dikontrol oleh
otot polos iris) à refleks cahaya/ refleks pupil
Tunika Retina • Lapisan terdalam bola mata
sensoris • Terdiri dari 2 bagian:
(tunika − Posterior & lateral: bagian optik (sensitif terhadap
interna) cahaya)
− Anterior: nonvisual part (menutupi permukaan dalam

11
corpus ciliaris dan iris)
− Pertemuannya: ora serrata (garis irreguler)
− Bagian posterior mata (fundus), terdapat beberapa area
khusus retina:
a) Macula lutea: lateral dari blind spot
b) Fove centralis cekungan kecil di posterior retina, di
tengah macula lutea, ± 1,5 mm, hanya mengandung
sel kerucut sahaja
c) Optic disc: tempat masuk n. II ke bola mata, disebut
juga blind spot sebab tanpa photoreceptor

• Isi bola mata, yang terdiri atas macam-macam bagian dengan fungsinya masing-
masing
1. Camera oculi • Camera oculi anterior adalah area yang terletak
tepat di posterior dan anterior iris
• Camera oculi posterior adalah area yang
terletak di posterior dan iris dan di depan lensa
• Keduanya diisi oleh aqueous humor
2. Aqueosus humor • Diproduksi oleh permukaan dalam processus
ciliaris
• Diabsorpsi ke sinus venosus (canalis schlemm)
3. Lensa • Memisahkan 1/5 anterior bola mata dari 4/5
posteriornya
• Transparan
• Bikonveks elastic disc
• Dilekatkan sekelilingya ke otot dinding bola
mata (m. Siliaris) oleh zonula ciliaris zinnii
4. Uvea
5. Corpus viterus / vitreous humor • Mengisi 4/5 posterior bola mata, dari lensa ke
retina
6. Retina

12
4) Sistem kelenjar bola mata
Terbagi menjadi dua bagian:
• Kelenjar air mata yang fungsinya sebagai penghasil air mata
• Saluran air mata yang menyalurkan air mata dari fornik konjungtiva ke dalam rongga
hidung

Serebelum

Serebelum terdiri dari 2 hemisfer yang dihubungkan oleh vermis cerebelli. Tiap
hemisfer terdiri dari lobulus-lobulus yang dipisahkan oleh fissura. Permukaannya
berlipat-lipat seperti daun dikenali sebagai folium. Tiap folium dipisahkan oleh sulcus.
Serebelum merupakan atap dari ventrikel IV. Bagian atasnya terdapat lobus occipitalis
cerebri (Tentorium cerebelli), sementara bagian bawahnya terdapat medulla oblongata.
Fungsi serebelum adalah untuk mengkoordinasi dan memuluskan gerakan-gerakan tubuh
yang diperintah oleh bagian otak yang lain serta membantu mempertahankan postur dan
keseimbangan.

Saraf kranialis

Saraf olfaktorius (N.I)

Sistem olfaktorius dimulai dengan sisi yang menerima rangsangan olfaktorius.


Sistem ini terdiri dari bagian berikut: mukosa olfaktorius pada bagian atas kavum nasal,
fila olfaktoria, bulbus subkalosal pada sisi medial lobus orbitalis.

Saraf ini merupakan saraf sensorik murni yang serabut-serabutnya berasal dari
membran mukosa hidung dan menembus area kribriformis dari tulang etmoidal untuk
bersinaps di bulbus olfaktorius, dari sini, traktus olfaktorius berjalan dibawah lobus
frontal dan berakhir di lobus temporal bagian medial sisi yang sama.

13
Saraf optikus (N. II)

Saraf Optikus merupakan saraf sensorik murni yang dimulai di retina. Serabut-
serabut saraf ini melewati foramen optikum di dekat arteri optalmika dan bergabung
dengan saraf dari sisi lainnya pada dasar otak untuk membentuk kiasma optikum.
Orientasi spasial serabut-serabut dari berbagai bagian fundus masih utuh sehingga
serabut-serabut dari bagian bawah retina ditemukan pada bagian inferior kiasma optikum
dan sebaliknya.

Serabut-serabut dari lapangan visual temporal (separuh bagian nasal retina)


menyilang kiasma, sedangkan yang berasal dari lapangan visual nasal tidak menyilang.
Serabut-serabut untuk indeks cahaya yang berasal dari kiasma optikum berakhir di
kolikulus superior, dimana terjadi hubungan dengan kedua nuklei saraf okulomotorius.
Sisa serabut yang meninggalkan kiasma berhubungan dengan penglihatan dan berjalan di
dalam traktus optikus menuju korpus genikulatum lateralis. Dari sini serabut-serabut
yang berasal dari radiasio optika melewati bagian posterior kapsula interna dan berakhir
di korteks visual lobus oksipital.

Dalam perjalanannya serabut-serabut tersebut memisahkan diri sehingga serabut-


serabut untuk kuadran bawah melalui lobus parietal sedangkan untuk kuadaran atas
melalui lobus temporal. Akibat dari dekusasio serabut-serabut tersebut pada kiasma
optikum serabut-serabut yang berasal dari lapangan penglihatan kiri berakhir di lobus
oksipital kanan dan sebaliknya.

Saraf okulomotorius (N. III)

Nukleus saraf okulomotorius terletak sebagian di depan substansia grisea


periakuaduktal (Nukleus motorik) dan sebagian lagi di dalam substansia grisea (Nukleus
otonom).

14
Nukleus motorik bertanggung jawab untuk persarafan otot-otot rektus medialis,
superior, dan inferior, otot oblikus inferior dan otot levator palpebra superior. Nukleus
otonom atau nukleus Edinger-westhpal yang bermielin sangat sedikit mempersarafi otot-
otot mata inferior yaitu spingter pupil dan otot siliaris.

Saraf troklearis (N. IV)

Nukleus saraf troklearis terletak setinggi kolikuli inferior di depan substansia


grisea periakuaduktal dan berada di bawah Nukleus okulomotorius. Saraf ini merupakan
satu-satunya saraf kranialis yang keluar dari sisi dorsal batang otak. Saraf troklearis
mempersarafi otot oblikus superior untuk menggerakkan mata bawah, kedalam dan
abduksi dalam derajat kecil.

Saraf trigeminus (N. V)

Saraf trigeminus bersifat campuran terdiri dari serabut-serabut motorik dan


serabut-serabut sensorik. Serabut motorik mempersarafi otot masseter dan otot
temporalis. Serabut-serabut sensorik saraf trigeminus dibagi menjadi tiga cabang utama
yatu saraf oftalmikus, maksilaris, dan mandibularis. Daerah sensoriknya mencakup
daerah kulit, dahi, wajah, mukosa mulut, hidung, sinus. Gigi maksilar dan mandibula,
dura dalam fosa kranii anterior dan tengah bagian anterior telinga luar dan kanalis
auditorius serta bagian membran timpani.

Saraf abdusens (N. VI)

Nukleus saraf abdusens terletak pada masing-masing sisi pons bagian bawah
dekat medula oblongata dan terletak dibawah ventrikel ke empat saraf abdusens
mempersarafi otot rektus lateralis.

15
Saraf fasialis (N. VII)

Saraf fasialis mempunyai fungsi motorik dan fungsi sensorik fungsi motorik
berasal dari Nukleus motorik yang terletak pada bagian ventrolateral dari tegmentum
pontin bawah dekat medula oblongata. Fungsi sensorik berasal dari Nukleus sensorik
yang muncul bersama nukleus motorik dan saraf vestibulokoklearis yang berjalan ke
lateral ke dalam kanalis akustikus interna.

Serabut motorik saraf fasialis mempersarafi otot-otot ekspresi wajah terdiri dari
otot orbikularis okuli, otot buksinator, otot oksipital, otot frontal, otot stapedius, otot
stilohioideus, otot digastriktus posterior serta otot platisma. Serabut sensorik menghantar
persepsi pengecapan bagian anterior lidah.

Saraf vestibulokoklearis (N. VIII)

Saraf vestibulokoklearis terdiri dari dua komponen yaitu serabut-serabut aferen


yang mengurusi pendengaran dan vestibuler yang mengandung serabut-serabut aferen
yang mengurusi keseimbangan. Serabut-serabut untuk pendengaran berasal dari organ
corti dan berjalan menuju inti koklea di pons, dari sini terdapat transmisi bilateral ke
korpus genikulatum medial dan kemudian menuju girus superior lobus temporalis.
Serabut-serabut untuk keseimbangan mulai dari utrikulus dan kanalis semisirkularis dan
bergabung dengan serabut-serabut auditorik di dalam kanalis fasialis. Serabut-serabut ini
kemudian memasuki pons, serabut vestibutor berjalan menyebar melewati batang dan
serebelum.

Saraf glosofaringeus (N. IX)

Saraf Glosofaringeus menerima gabungan dari saraf vagus dan asesorius pada
waktu meninggalkan kranium melalui foramen tersebut, saraf glosofaringeus mempunyai
dua ganglion, yaitu ganglion intrakranialis superior dan ekstrakranialis inferior. Setelah

16
melewati foramen, saraf berlanjut antara arteri karotis interna dan vena jugularis interna
ke otot stilofaringeus. Di antara otot ini dan otot stiloglosal, saraf berlanjut ke basis lidah
dan mempersarafi mukosa faring, tonsil dan sepertiga posterior lidah.

Saraf vagus (N. X)

Saraf vagus juga mempunyai dua ganglion yaitu ganglion superior atau jugulare
dan ganglion inferior atau nodosum, keduanya terletak pada daerah foramen jugularis,
saraf vagus mempersarafi semua visera toraks dan abdomen dan menghantarkan impuls
dari dinding usus, jantung dan paru-paru.

Saraf asesorius (N. XI)

Saraf asesorius mempunyai radiks spinalis dan kranialis. Radiks kranial adalah
akson dari neuron dalam nukleus ambigus yang terletak dekat neuron dari saraf vagus.
Saraf aksesoris adalah saraf motorik yang mempersarafi otot sternokleidomastoideus dan
bagian atas otot trapezius, otot sternokleidomastoideus berfungsi memutar kepala ke
samping dan otot trapezius memutar skapula bila lengan diangkat ke atas.

Saraf hipoglosus (N. XII)

Nukleus saraf hipoglosus terletak pada medula oblongata pada setiap sisi garis
tengah dan depan ventrikel ke empat dimana semua menghasilkan trigonum hipoglosus.
Saraf hipoglosus merupakan saraf motorik untuk lidah dan mempersarafi otot lidah yaitu
otot stiloglosus, hipoglosus dan genioglosus.
Sistem somatosensoris

Sistem somatosensoris terdiri dari taktil atau proprioseptif serta persepsi-kognitif.


Informasi propriosepsi disalurkan ke otak melalui kolumna dorsalis medula spinalis.

17
Sebagian besar masukan (input) proprioseptif menuju serebelum, tetapi ada pula yang
menuju ke korteks serebri melalui lemniskus medialis dan talamus.

Kesadaran akan posisi berbagai bagian tubuh dalam ruang sebagian bergantung
pada impuls yang datang dari alat indra dalam dan sekitar sendi. Alat indra tersebut
adalah ujung-ujung saraf yang beradaptasi lambat di sinovia dan ligamentum. Impuls dari
alat indra ini dari reseptor raba di kulit dan jaringan lain , serta otot di proses di korteks
menjadi kesadaran akan posisi tubuh dalam ruang.Sistem proprioseptif merupakan
sensasi yang berasal dari dalam tubuh manusia, yaitu terdapat pada sendi, otot, ligamen
dan reseptor yang berhubungan dengan tulang. Input proprioseptif ini menyampaikan
informasi ke otak tentang kapan dan bagaimana otot berkontraksi (contracting) atau
meregang (stretching), serta bagaimana sendi dibengkokkan (bending), diperpanjang
(extending), ditarik (being pull) atau ditekan (compressed). Melalui informasi ini,
individu dapat mengetahui dan mengenal bagian tubuhnya dan bagaimana bagian tubuh
tersebut bergerak.

FISIOLOGI KESEIMBANGAN

Telinga sebagai organ pengatur keseimbangan (1)

18
Telinga terdiri dari tiga bagian: telinga luar, telinga tengah, dan telinga
dalam.Bagian luar dan tengah telinga menyalurkan gelombang suara dari udara ketelinga
dalam yang berisi cairan, untuk memperkuat energi suara dalam proses tersebut.Telinga
dalam berisi dua sistem sensorik yang berbeda: koklea, yang mengandung reseptor –
reseptor untuk mengubah gelombang suara menjadi impuls – impuls saraf, sehingga kita
dapat mendengar; dan aparatus vestibularis, yang penting untuk sensasi keseimbangan.

Telinga Dalam

Selain perannya dalam pendengaran yang bergantung pada koklea, telinga dalam
memiliki komponen khusus lain, yaitu aparatus vestibularis,yang memberikan
informasi yang penting untuk sensasi keseimbangan dan untuk koordinasi gerakan –
gerakan kepala dengan gerakan – gerakan mata dan postur tubuh. Aparatus vestibularis
terdiri dari dua set struktur yang terletak di dalam tulang temporalis di dekat koklea-
kanalis semisirkularis dan organ otolit, yaitu utrikulus dan sarkulus.
Apartus vestibularis mendeteksi perubahan posisi dan gerakan kepala.seperti di
koklea, semua komponen aparatus vestibularis mengandung endolimfe dan dikelilingi
oleh perilimfe. Juga, serupa dengan organ korti, komponen vestibuler masing – masing
mengandung sel rambut yang berespon terhadap perubahan bentuk mekanis yang
dicetuskan oleh gerakan – gerakan spesifik endolimfe. Seperti sel – sel rambut
auditorius,reseptor vestibularis juga dapat mengalami depolarisasi atau hiperpolarisasi,
tergantung pada arah gerakan cairan. Namun tidak seperti sistem pendengaran sebagian
besar informasi yang dihasilkan oleh sistem vestibularis tidak mencapai tingakat
kesadaran.

19
Kanalis semisirkularis mendeteksi akselerasi atau deselerasi anguler atau
rotasional kepala, misalnya ketika memulai atau berhenti berputar, berjungkir balik, atau
memutar kepala. Tiap – tiap telinga memiliki 3 kanalis semisirkularis yang secara tiga
dimensi tersusun dalam bidang –bidang yang tegak lurus satu sama lain. Sel- sel rambut
reseptif di setiap kanalis semisirkularis terletak diatas suatu bubungan ( ridge ) yang
terletak di ampula, suatu pembesaran dipangkal kanalis. Rambut – rambut terbenam
dalam suatu lapisan gelatinosa seperti topi diatasnya yaitu kupula yang menonjol
kedalam endolimfe di dalam ampula. Kupula bergoyang sesuai arah gerakan cairan
seperti gangang laut yang mengikuti arah gelombang air.

20
Akselerasi ( percepatan ) atau deselerasi ( perlambatan) selama rotasi kepala ke
segala arah menyebabkan pergerakan endolimfe, paling tidak disalah satu kanalis
semisirkularis karena susanan tiga dimensi kanalis tersebut. Ketika kepala mulai
bergerak saluran tulang dan bubungan sel rambut yang terbenam dalam kupula bergerak
mengikuti gerakan kepala.namun cairan didalam kanalis yang tidak melekat ke tengkorak
mula – mula tidak ikut bergerak sesuai arah rotasi, tetapi tertinggal di belakang karena
adanya inersia ( kelembaman ). ( karena inersia, benda yang diam akan tetap diam, dan
benda yang bergerak akan tetap bergerak,kecuali jika ada suatu gaya luar yang bekerja

21
padanya dan menyebabkan perubahan.) ketika endolimfe tertinggal saat kepala mulai
berputar, endolimfe yang terletak sebidang dengan gerakan kepala pada dasarnya
bergeser dengan arah yang berlawanan dengan arah gerakan kepala ( serupa dengan
tubuh anda yang miring ke kanan sewaktu mobil yang anda tumpangi berbelok ke kiri ).
Gerakan cairan ini menyebabkan kupula condong kearah yang berlawanan dengan arah
gerakan kepala, membengkokan rambut – rambut sensorik yang terbenam di bawahnya.
Apabila gerakan kepala berlanjut dalam arah dan gerakan yang sama, endolimfe akan
menyusul dan bergerak bersama kepala, sehingga rambut – rambut kembali ke posisi
tegak mereka. Ketika kepala melambat dan berhenti, keadaan yang sebaliknya terjadi.
Endolimfe secara singkat melanjutkan diri bergerak searah dengan rotasi kepala,
sementara kepala melambat untuk berhenti. Akibatnya kupula dan rambut- rambutnya
secara sementara membengkok sesuai dengan arah rotasi semula, yaitu berlawana dengan
arah mereka membengkok ketika akselerasi. Pada saat endolimfe secara bertahap
berhenti, rambut – rambut kembali tegak. Dengan demikian, kanalis semisirkularis
mendeteksi perubahan kecepatan gerakan rotasi kepala. Kanalis tidak berespon jika
kepala tidak bergerak atau ketika bergerak secara sirkuler dengan kecepatan tetap.
Rambut – rambut pada sel rambut vestibularis terdiri dari 20 -50 stereosilia yaitu
mikrofilus yang diperkuat oleh aktin dan satu silium, kinosilium. Setiap sel rambut
berorientasi sedemikian rupa, sehingga sel tersebut mengalami depolarisasi ketika
stereosilianya membengkok kearah kinosilium; pembengkokan kearah yang berlawanan
menyebabkan hiperpolarisasi sel.sel – sel rambut membentuk sinaps zat perantara
kimiawi dengan ujung – ujung terminal neuron aferen yang akson – aksonnya menyatu
dengan akson struktur vestibularis lain untuk membentuk saraf vestibularis.saraf ini
bersatu dengan saraf auditorius dari koklea untuk membentuk saraf vestibulo koklearis.
Depolarisasi sel rambut meningkatkan kecepatan pembentukan potensial aksi diserat –
serat aferen; sebaliknya, ketika sel – sel rambut mengalami hiperpolarisasi, frekuensi
potensial aksi diserat aferen menurun.
Sementar kanalis semisirkularis memberikan informasi mengenai perubahan
rotasional gerakan kepala kepada ssp, organ otolit memberikan informasi mengenai
posisi kepala relatif terhadap gravitasi dan mendeteksi perubahan dalam kecepatan
gerakan liniear ( bergerak dalam garis lurus tanpa memandang arah ). Utrikulus dan

22
sarkulus adalah struktur seperti kantung yang terletak di dalam rongga tulang yang
terdapat diantara kanalis semisirkularis dan koklea. Rambut – rambut pada sel – sel
rambut reseptif di organ – organ ini juga menonjol kedalam suatu lembar gelatinosa
diatasnya, yang gerakannya menyebabkan perubahan posisi rambut serta menimbulkan
perubahan potensial di sel rambut. Terdapat banyak kristal halus kalsium karbonat –
otolit ( batu telinga ) – yang terbenam dalam lapisan gelatinosa, sehingga lapisan tersebut
lebih berat dan lebih lembam ( inert ) daripada cairan di sekitarnya. Ketika seseorang
berada dalam posisi tegak, rambut- rambut di dalam utikulus berorientasi secara vertikal
dan rambut- rambut sarkulus berjajar secara horizontal.

Marilah kita lihat utrikulus sebagai suatu contoh. Masa gelatinosa yang
mengandung otolit berubah posisi dan membengkokan rambut – rambut dalam dua cara :
1. Ketika kepala digerakkan ke segala arah selain vertikal (yaitu selain tegak dan
menunduk ), rambut –rambut membengkok sesuai dengan arah gerakan kepala karena
gaya gravitasi yang mendesak bagian atas lapisan gelatinosa yang berat. Di dalam
utrikulus tiap – tiap telinga, sebagian berkas sel rambut diorientasikan untuk
mengalami depolarisasi dan sebagian lagi mengalami hiperpolarisasi ketika kepala
berada dalam segala posisi selain tegak lurus. Dengan demikian ssp menerima pola –
pola aktivitas saraf yang berlainan tergantung pada posisi kepala dalam kaitannya
dengan gravitasi )

2. Rambut – rambut utrikulus juga berubah posisi akibat setiap perubahan dalam
gerakan linier horizontal ( misalnya bergerak lurus kedepan, kebelakang, atau
kesamping ). Ketika seseorang mulai berjalan kedepan, bagian atas membran otolit
yang berat mula – mula tertinggal di belakang endolimfe dan sel – sel rambut karena
inersianya yang lebih besar. Dengan demikian rambut – rambut menekuk kebelakang,
dalam arah yang berlawanan dengan arah gerakan kepala yang kedepan. Jika
kecepatan berjalan di pertahankan lapisan gelatinosa segera “menyusul” dan bergerak
dengan kecepatan yang sama dengan kepala sehingga rambut – rambut tidak lagi
menekuk. Ketika orang tersebut berhenti berjalan, lapisan otolit secara singkat terus
bergerak kedepan ketika kepala melambat dan berhenti, membengkokan rambut –
rambut kearah depan. Denga demikian sel – sel rambut utrikulus mendeteksi

23
akselerasi atau deselerasi linier horizontal, tetapi tidak memberikan informasi
mengenai gerakan lurus yang berjalan konstan.

Sarkulus mempunyai fungsi serupa denga utrikulus, kecuali bahwa ia berespon secara
selektif terhadap kemiringan kepala menjauhi posisi horizontal ( misalnya bangun dari
tempat tidur ) dan terhadap akselerasi atau deselerasi liner vertikal ( misalnya meloncat –
loncat atau berada dalam elevator ).

Sinyal – sinyal yang berasal dari berbagai komponen apartus vestibularis dibawa
melalui saraf vestibulokoklearis ke nukleus vestibularis, satu kelompok badan sel saraf di
batang otak, dan ke sereberum.di sini informasi vestibuler diintegrasikan dengan
masukan dari permukaan kulit, mata, sendi, dan otot, untuk : ( 1 ) mempertahankan
keseimbangan dan postur yang diinginkan; (2) mengontrol otot mata eksternal, sehingga
mata tetap terfikasasi ke titik yang sama walaupun kepala bergerak; dan ( 3 )
mempersepsikan gerakan dan orientasi.

Beberapa individu, karena alasan yang tidak di ketahui sangat pekak terhadap gerakan
– gerakan tertentu yang mengaktifkan aparatus vestibularis dan menyebabkan gejala
pusing ( dizziness ) dan mual; kepekaan ini disebut mabuk perjalan ( motion sickness ).
Kadang – kadang ketidak seimbangan cairan di telinga dalam menyebabkan penyakit
menier. Tidaklah mengherankan,karena baik aparatus vestibularis maupun koklea
mengandug cairan telinga dalam yang sama, timbul gejala keseimbangan dan
pendengaran. Penderita mengalami serangan sementara vertigo ( pusing 7 keliling ) yang
hebat disertai suara berdenging di telinga dan gangguan pendengaran. Selama serangan
itu, penderita tidak dapat berdiri tegak dan melaporkan perasaan bahawa dirinya atau
benda – benda di sekelilingnya terasa berputar.

Serebellum,yang melekat kebelakang bagian atas batang otak,terletak di bawah lobus


oksipitalis korteks. Serebelum terdiri dari tiga bagian yang scara fungsional berbeda.
Bagian bagian ini memiliki rangkaian masukan dan keluaran dan, dengan demikian
memiliki fungsi yang berbeda beda :

24
1. Vestibuloserebellum penting untuk untunk mempertahankankeseimbangan dan
mengontrol gerak mata.

2. Spinoserebelum mengatur tonus oto dan gerakan volunter yang terampil dan
terkoordinasi.

3. Serebroserebelum berperan dalam perencanaan dan inisiasi aktifitas volunter


dengan memberikan masukan ke daerah daerah motorik korteks. Bagian ini juga
merupakan daerah serebelum yang terlibat dalam ingatan prosedural.

Berbagai gejala yang menandai penyakit serebelum semuanya dapat dikaitkan


dengan hilangnya fungsi fungsi tersebut, antara lain adalah gangguan keseimbangan,
nistagmus, penurunan tonus otot tetapi tanpa paralisis.

25
PEMERIKSAAN TELINGA

Alat yang diperlukan untuk memeriksa telinga adalah lampu kepala, corong
telinga, otoskop, pelilit kapas, pengait serumen, pinset telinga dan garputala.
Pasien duduk dengan posisi badan condong sedikit ke depan dan kepala lebih
tinggi sedikit dari kepala pemeriksa untuk memudahkan melihat liang telinga dan
membran timpani.
Mula-mula dilihat keadaan dan bentuk daun telinga, daerah belakang daun
telinga (retro-aurikuler) apakah terdapat tanda peradangan atau sikatriks bekas operasi.
Dengan menarik daun telinga ke atas dan ke belakang, liang telinga menjadi lebih lurus
dan akan mempermudah untuk melihat keadaan liang telinga dan membran timpani.
Otoskop dipegang dengan tangan kanan untuk memeriksa telinga kanan pasien dan
dengan tangan kiri bila memeriksa telinga kiri. Supaya posisi otoskop ini stabil maka jari
kelingking tangan yang memegang otoskop ditekankan pada pipi pasien.
Bila terdapat serumen dalam liang telinga yang menyumbat maka serumen ini
harus dikeluarkan. Jika konsistensinya cair dapat dengan kapas yang dililitkan, bila
konsistensinya lunak atau liat dapat dkeluarkan dengan pengait dan bila berbentuk
lempengan dapat dipegang dan dikeluarkan dengan pinset. Jika serumen ini sangat keras
dan menymbat seluruh liang telinga maka lebih baik dilunakkan dulu dengan munyak
atau karbogliserin. Bila sudah lunak atau cair dapat dilakukan irigasi dengan air supaya
liang telinga bersih.
Uji pendengaran dilakukan dengan memakai garputala dan dari hasil pemeriksaan
dapat diketahui jenis ketulian apakah tuli konduktif atau tuli perseptif (sensorineural). Uji
penala yang dilakukan sehari-hari adalah uji pendengaran Rinne dan Weber.
Uji Rinne dilakukan dengan menggetarkan garputala 512 Hz dengan jari atau
mengetukkannya pada siku atau lutut pemeriksa dan kaki garputala tersebut diletakkan
pada tulang mastoid telinga yang diperiksa selama 2-3 detik. Kemudian dipindahkan ke
depan liang telinga selama 2-3 detik. Pasien menentukan mana yang terdengar lebih
keras. Telinga normal atau telinga dengan tuli sensorineural akan mendengar bunyi
didepan telinga lebih keras daripada di belakang telinga. Keadaan seperti ini disebut

26
Rinne positif. Uji Rinne negatif, bila bunyi yang terdengar lebih keras di tulang mastoid.
Hal ini menunjukan adanya tuli konduktif dan biasanya lebih dari 20 dB.
Uji Weber dilakukan dengan meletakkan kaki penala yang telah digetarkan pada
garis tengah wajah atau kepala dan ditanyakan pada telinga mana yang terdengar lebih
keras. Pada keadaan normal pasien mendengar suara di tengah atau tidak dapat
membedakan telinga mana yang mendengar lebih keras. Bila satu telinga menderita
sensorineural maka pasien akan mendengar lebih baik pada telinga yang baik (lateralisasi
ke telinga yang baik) dan jika telinga tersebut menderita tuli konduktif maka telinga
tersebut akan mendengar bunyi lebih keras (lateralisasi ke telinga yang sakit).

27
PEMERIKSAAN KESEIMBANGAN

Berdiri tegak, berjalan di atas jari kaki, berjalan di atas tumit dan berjalan secara tandem.
Duduk di kursi dan angkat kedua lengan serta kedua kaki dengan mata tertutup:
a. Bila ada kelemahan otot terjadi penurunan lengan atau dan kaki

b. Bila ada gangguan proprioseptif terjadi kenaikan lengan atau kaki.

Diadokokinesis, test jari-hidung, test tumit-tibia dan test salah tunjuk.


Membedakan gangguan keseimbangan akibat kelainan labirin dan serebelum:
Penderita disuruh berdiri dengan mata tertutup, lengan ke depan, bila ada gangguan
labirin kiri akan terjadi suatu posisi sebagai berikut :

a. Mata melirik ke arah kiri (perlahan-lahan = fase lambat), kemudian diikuti dengan
gerakan cepat bola mata ke arah kanan. Ini merupakan suatu nistagmus kekanan.
b. Kepala terputar ke arah kiri.
c. Tubuh terpilin ke kiri.
d. Deviasi kedua lengan ke kiri, bersamaan dengan kenaikan lengan kanan ke atas dan
lengan kiri ke bawah.
e. Cenderung untuk jatuh ke kiri.
f. Berjalan deviasi ke kiri.

Tes Romberg, baik dengan mata terbuka maupun dengan mata tertutup. Pada kelainan
serebelum tidak ada perbedaan hasil pemeriksaan dengan mata terbuka atau tertutup.
Kelainan labirin dipengaruhi oleh mata.
Berdiri dengan satu kaki diangkat (mata terbuka kemudian tertutup): penderita tetap
tegak selama waktu tertentu, maka fungsi keseimbangan adalah normal.
Penderita dengan gangguan labirin:
• Akan jatuh ke arah sesuai dengan fase lambat nistagmusnya.
• Bila bersamaan dengan itu disuruh memutar kepala ke kiri dan ke kanan,
kecenderungan jatuh itu akan berubah-ubah tetapi selalu ke arah sesuai dengan arah
fase lambat nistagmusnya.

28
Tes berjalan :
Disuruh berjalan lurus ke depan dan ke belakang dengan mata tertutup dan terbuka. Pada
kelainan labirin bilateral terjadi sempoyongan ke semua arah.
Tes jari-jari dengan mata terbuka dan tertutup :
• Kelainan labirin menunjukkan kelainan tes bilateral.
• Kelainan serebelum menunjukkan kelainan unilateral, sesuai dengan lokalisasi
kelainannya.

Tes menulis vertikal : penderita duduk di depan meja, tangan dan tubuhnya tidak boleh
menyentuh meja, tangan yang satu di atas lutut yang lain disuruh menulis A-B-C-D
disusun ke arah bawah mula-mula dengan mata terbuka kemudian tertutup.
• Bila ada deviasi deretan huruf-huruf dari yang paling atas terhadap yang paling
bawah lebih besar dari 10o berarti ada kelainan labirin unilateral.
• Bila tulisannya tidak karuan (atau bila kian lama huruf yang ditulis kian besar :
makrografi berarti ada kelainan serebelum).

Pemeriksaan Nistagmus

Tes dix halpike


1. Pasien dalam keadaan duduk
2. Kemudian, tidur terlentang sampai kepala menggantung di pinggir meja kira-kira 300
3. Kepala diputar ke kiri, kemudian ke kanan.
4. Perhatikan ada tidaknya nistagmus pada setiap posisi
5. Perhatikan ada tidaknya masa laten dan intensitasnya.
Pada tes ini dapat ditentukan apakah kelainan terjadi disebabkan kelainan sentral atau
perifer.
Pada kelainan di perifer, ditemukan masa laten dan terdapat kelelahan, dan vertigo
biasanya terasa berat. Pada kelainan di sentral sebaliknya tidak ditemukan masa laten,
tidak ada kelelahan dan vertigo ringan.

29
Tes kalori
Terbahagi kepada dua yaitu tes Kobrak dan tes bitermal.

Tes Kobrak
1. Tidur terlentang dengan kepala fleksi 30 derajat atau duduk dengan kepala ekstensi
60 derajat
2. Digunakan semprit 5 atau 10 ml , hujung jarum disambung dengan kateter
3. Perangsangan dilakukan dengan mengalirkan air es 0oC sebanyak 5 ml, selama 20
detik
Nilai dihitung dengan mengukur lama nistagmus, dihitung sejak mulai air di alirkan
sampai nistagmus berhenti.Nilai ormal 120-150 detik, nilai kurang dari 120 detik disebut
paresis kanal

Tes Bitermal
1. Dipakai 2 macam air yaitu dingin (300C), dan panas (440C)
2. Volume air yang dialirkan ke liang telinga masing-masing 250ml dalam waktu 40
detik.
3. Catat lama nistagmus yang timbul
4. Setelah telinga kiri diperiksa dengan air dingin, periksa telinga kanan dengan air
dingin juga. Kemudian dilakukan hal yang sama dengan menggunakan air panas.
5. Pada tiap-tiap pemeriksaan, pasien diistirahatkan selama 5 menit.
Hasil tes kalori dihitung menggunakan rumus sensitivitas yaitu perbandingan antara
sensitivitas telinga kanan dan kiri.Bila selisih <40 detik menunjukkan kedua fungsi
vestibular dalam keadaan seimbang.Jika selisih >40 detik, bererti yang mempunyai waktu
nistagmus lebih kecil mengalami paresis kanal.

30
PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS

SARAF OTAK I ( NERVUS OLFAKTORIUS )


Tujuan pemeriksaan
Untuk mendeteksi adanya gangguan menghidu,selain itu untuk mengetahui
apakah gangguan tersebut disebabkan oleh gangguan saraf atau penyakit hidung lokal.
Cara pemeriksaan.
Salah satu hidung pasien ditutup, dan pasien diminta untuk mencium bau-bauan
tertentu yang tidak merangsang .Tiap lubang hidung diperiksa satu persatu dengan jalan
menutup lubang hidung yang lainnya dengan tangan. Sebelumnya periksa lubang hidung
apakah ada sumbatan atau kelainan setempat, misalnya ingus atau polip.Contoh bahan
yang sebaiknya dipakai adalah : teh,kopi,tembakau,sabun, jeruk.

SARAF OTAK II ( NERVUS OPTIKUS ).


Tujuan pemeriksaan :
Untuk mengukur ketajaman penglihatan ( visus) dan menentukan apakah kelainan
pada penglihatan disebabkan oleh kelainan okuler lokal atau oleh kelainan saraf. Untuk
mempelajari lapang pandang.
Cara pemeriksaan.
1. Ketajaman penglihatan ( visus )diperiksa dengan :
• Membandingkan ketajaman penglihatan pemeriksa dengan cara pasien disuruh
melihat benda yang letaknya jauh misal jam di dinding, membaca huruf di buku
atau koran.
• Melakukan pemeriksaan dengan menggunakan kartu Snellen
Pasien diminta untuk melihat huruf-huruf sehingga tiap huruf dilihat pada jarak
tertentu, kartu snellen ialah huruf huruf yang disusun makin kebawah makin
kecil, barisan paling bawah mempunyai huruf huruf paling kecil yang oleh mata
normal dapat dibaca dari jarak 6 meter.
• Menggunakan jari-jari yang digerakkan harus dapat dilihat dalam jarak 60
meter.

31
contoh visus = 2/60 pasien hanya dapat melihat pergerakan jari pada jarak 2
meter. Untuk gerakan tangan harus tampak pada jarak 300 meter. Jika
kemampuannya hanya sampai membedakan adanya gerakan , maka visusnya
ialah 1/300. Contoh Visus = 3/300 pasien hanya dapat melihat pergerakan
tangan pada jarak 3 meter. Namun jika hanya dapat membedakan antara gelap
dan terang maka visus nya 1/~, bila dengan sinar lampu masih belum dapat
melihat maka dikatakan visus pasien tersebut adalah nol. Bila hendak
melakukan pemeriksaan pada mata kanan maka mata kiri harus ditutup dengan
telapak tangan kanan dan sebaliknya.
• Bila terdapat gangguan ketajaman penglihatan apakah gangguan ketajaman
penglihatan yang disebabkan oleh kelainan oftalmologik ( bukan saraf )
misalnya kornea, uveitis, katarak dan kelainan refraksi maka dengan
menggunakan kertas yang berlubang kecil dapat memberikan kesan adanya
faktor refraksi dalam penurunan visus, bila dengan melihat melalui lubang kecil
huruf bertambah jelas maka faktor yang berperan mungkin gangguan refraksi.
2. Pemeriksaan lapang pandang.
Yang paling mudah adalah dengan munggunakan metode Konfrontasi dari
Donder. Dalam hal ini pasien duduk atau berdiri kurang lebih jarak 1 meter
dengan pemeriksa, jika kita hendak memeriksa mata kanan maka mata kiri pasien
harus ditutup, misalnya dengan tangannya pemeriksa harus menutup mata
kanannya. Kemudian pasien disuruh melihat terus pada mata kiri pemeriksa dan
pemeriksa harus selalu melihat ke mata kanan pasien. Setelah pemeriksa
menggerakkan jari tangannya dibidang pertengahan antara pemeriksa dan pasien
dan gerakan dilakukan dari arah luar ke dalam. Jika pasien mulai melihat gerakan
jari – jari pemeriksa , ia harus memberitahu, dan hal ini dibandingkan dengan
pemeriksa, apakah iapun telah melihatnya. Bila sekiranya ada gangguan kampus
penglihatan ( visual field ) maka pemeriksa akan lebih dahulu melihat gerakan
tersebut.Gerakan jari tangan ini dilakukan dari semua jurusan dan masing masing
mata harus diperiksa.

32
SARAF OTAK III,IV,VI (NERVUS
OKULOMOTORIUS,TROKLEARIS,ABDUSENS)
Fungsi N III,IV,VI saling berkaitan dan diperiksa bersama-sama . Fungsinya ialah
menggerakkan otot mata ekstraokuler dan mengangkat kelopak mata. Serabut otonom N
III mengatur otot pupil.
Cara pemeriksaan.
1.Pemeriksaan gerakan bola mata.
• Lihat ada/tidaknya nystagmus ( gerakan bola mata diluar kemauan pasien).
• Pasien diminta untuk mengikuti gerakan tangan pemeriksa yang digerakkan kesegala
jurusan. Lihat apakah ada hambatan pada pergerakan matanya. Hambatan yang terjadi
dapat pada satu atau dua bola mata.
• Pasien diminta untuk menggerakan sendiri bola matanya.
2.Pemeriksaan kelopak mata:
• Membandingkan celah mata/fissura palpebralis kiri dan kanan . Ptosis adalah kelopak
mata yang menutup.
3.Pemeriksaan pupil
• Lihat diameter pupil, normal besarnya 3 mm.
• Bandingkan kiri dengan kanan ( isokor atau anisokor ).
• Lihat bentuk bulatan pupil teratur atau tidak.
Pemeriksaan refleks pupil:
Refleks cahaya.
• Direk/langsung : cahaya ditujukan seluruhnya kearah pupil.
• Normal , akibat adanya cahaya maka pupil akan mengecil ( miosis ).
• Perhatikan juga apakah pupil segera miosis, dan apakah ada pelebaran
kembali yang tidak terjadi dengan segera.
• Indirek/tidak langsung: refleks cahaya konsensuil. Cahaya ditujukan
pada satu pupil, dan perhatikan pupil sisi yang lain.
Refleks akomodasi.
• caranya , pasien diminta untuk melihat telunjuk pemeriksa pada jarak yang cukup jauh,
kemudian dengan tiba – tiba dekatkanlah pada pasien lalu perhatikan reflek konvergensi
pasien dimana dalam keadaan normal kedua bola mata akan berputar kedalam atau nasal.

33
• Reflek akomodasi yang positif pada orang normal tampak dengan miosis pupil.
Refleks ciliospinal.
• rangsangan nyeri pada kulit kuduk akan memberi midriasis (melebar ) dari pupil
homolateral.
• keadaan ini disebut normal.
Refleks okulosensorik.
• rangsangan nyeri pada bola mata/daerah sekitarnya, normal akan memberikan miosis
atau midriasis yang segera disusul miosis.
Refleks terhadap obat-obatan.
• Atropine dan skopolamine akan memberikan pelebaran pupil/midriasis.
• Pilocarpine dan acetylcholine akan memberikan miosis.

SARAF OTAK V ( NERVUS TRIGEMINUS ).


Cara pemeriksaan.
1. Pemeriksaan motorik.
• pasien diminta merapatkan gigi sekuatnya, kemudian meraba m . masseter dan
m. Temporalis. Normalnya kiri dan kanan kekuatan, besar dan tonus nya sama .
• pasien diminta membuka mulut dan memperhatikan apakah ada deviasi rahang
bawah, jika ada kelumpuhan maka dagu akan terdorong kesisi lesi. Sebagai
pegangan diambil gigi seri atas dan bawah yang harus simetris.Bila terdapat
parese disebelah kanan , rahang bawah tidak dapat digerakkan kesamping kiri.
Cara lain pasien diminta mempertahankan rahang bawahnya kesamping dan kita
beri tekanan untuk mengembalikan rahang bawah keposisi tengah.
2. Pemeriksaan sensorik.
Dengan kapas dan jarum dapat diperiksa rasa nyeri dan suhu,kemudian lakukan
pemeriksaan pada dahi, pipi dan rahang bawah.

3. Pemeriksaan refleks.
a. Refleks kornea ( berasal dari sensorik Nervus V).
• Kornea disentuh dengan kapas, bila normal pasien akan menutup matanya
atau menanyakan apakah pasien dapat merasakan.

34
b. Refleks masseter / Jaw reflex ( berasal dari motorik Nervus V).
• Dengan menempatkan satu jari pemeriksa melintang pada bagian tengah
dagu, lalu pasien dalam keadaan mulut setengah membuka dipukul dengan
”hammer refleks”
• normalnya didapatkan sedikit saja gerakan, malah kadang kadang tidak ada.
Bila ada gerakan nya hebat yaitu kontraksi m.masseter, m. temporalis, m
pterygoideus medialis yang menyebabkan mulut menutup ini disebut reflex
meninggi.
c. Refleks supraorbital.
• Dengan mengetuk jari pada daerah supraorbital, normalnya akan
menyebabkan mata
• menutup homolateral ( tetapi sering diikuti dengan menutupnya mata yang
lain ).

SARAF OTAK VII ( NERVUS FASIALIS ).


Pemeriksaan fungsi sensorik.
• Dilakukan pada 2/3 bagian lidah depan. Pasien disuruh untuk menjulurkan lidah ,
kemudian pada sisi kanan dan kiri diletakkan gula, asam,garam atau sesuatu yang pahit.
Pasien cukup menuliskan apa yang terasa diatas secarik kertas.
• Bahannya adalah:Glukosa 5 %, Nacl 2,5 %, Asam sitrat 1 %, Kinine 0,075 %.
Sekresi air mata.
• Dengan menggunakan Schirmer test ( lakmus merah )
• Ukuran : 0,5 cm x 1,5 cm
• Warna berubah menjadi Biru : Normal: 10 – 15 mm ( lama 5 menit ).

SARAF OTAK VIII ( NERVUS KOKHLEARIS, NERVUS VESTIBULARIS


Pemeriksaan N. Kokhlearis.
Fungsi N. Kokhlearis adalah untuk pendengaran.

35
a. Pemeriksaan Weber.
• Maksud nya membandingkan transportasi melalui tulang ditelinga kanan dan kiri
pasien. Garpu tala ditempatkan didahi pasien, pada keadaan normal kiri dan kanan sama
keras ( pasien tidak dapat menentukan dimana yang lebih keras ).
• Pendengaran tulang mengeras bila pendengaran udara terganggu, misal: otitis media
kiri, pada test weber terdengar kiri lebih keras. Bila terdapat ” nerve deafness ” disebelah
kiri, pada test weber di kanan terdengar lebih keras .
b. Pemeriksaan Rinne.
• Maksudnya membandingakn pendengaran melalui tulang dan udara dari pasien.
• Pada telinga yang sehat, pendengaran melalui udara didengar lebih lama dari pada
melalui tulang.
• Garpu tala ditempatkan pada planum mastoid sampai pasien tidak dapat mendengarnya
lagi. Kemudian garpu tala dipindahkan kedepan meatus eksternus. Jika pada posisi yang
kedua ini masih terdengar dikatakan test positip. Pada orang normal test Rinne ini positif.
Pada ” Conduction deafness ” test Rinne negatif.
c. Pemesiksaan Schwabach.
Pada test ini pendengaran pasien dibandingkan dengan pendengaran pemeriksa yang
dianggap normal. Garpu tala dibunyikan dan kemudian ditempatkan didekat telinga
pasien. Setelah pasien tidak mendengarkan bunyi lagi, garpu tala ditempatkan didekat
telinga pemeriksa. Bila masih terdengar bunyi oleh pemeriksa, maka dikatakan bahwa
Schwabach lebih pendek ( untuk konduksi udara ). Kemudian garpu tala dibunyikan lagi
dan pangkalnya ditekankan pada tulang mastoid pasien. Dirusuh ia mendengarkan
bunyinya. Bila sudah tidak mendengar lagi maka garpu tala diletakkan ditulang mastoid
pemeriksa. Bila pemeriksa masih mendengarkan bunyinya maka dikatakan Schwabach
(untuk konduksi tulang) lebih pendek.

Pemeriksaan N. Vestibularis.
a. Pemeriksaan dengan test kalori.
– Bila telinga kiri didinginkan ( diberi air dingin ) timbul nystagmus kekanan. Bila
telinga kiri dipanaskan ( diberi air panas ) timbul nystagmus kekiri. Nystagmus ini

36
disebut sesuai dengan fasenya yaitu : fase cepat dan fase pelan, misalnya nystagmus
kekiri berarti fase cepat kekiri.
– Bila ada gangguan keseimbangan maka perubahan temperatur dingin dan panas
memberikan reaksi.
b. Pemeriksaan “past pointing test”.
– Pasien diminta menyentuh ujung jari pemeriksa dengan jari telunjuknya, kemudian
dengan mata tertutup pasien diminta untuk mengulangi. Normalnya pasien harus dapat
melakukannya.
c. Test Romberg .
• Pada pemeriksaan ini pasien berdiri dengan kaki yang satu didepan kaki yang lainnya.
Tumit kaki yang satu berada didepan jari kaki yang lainnya, lengan dilipat pada dada dan
mata kemudian ditutup. Orang yang normal mampu berdiri dalam sikap Romberg yang
dipertajam selama 30 detik atau lebih.
d. Test melangkah ditempat ( Stepping test ).
• Pasien disuruh berjalan ditempat, dengan mata tertutup , sebanyak 50 langkah dengan
kecepatan seperti jalan biasa.Selama test ini pasien diminta untuk berusaha agar tetap
ditempat dan tidak beranjak dari tempatnya selama test berlangsung.
• Dikatakan abnormal bila kedudukan akhir pasien beranjak lebih dari 1 meter dari
tempatnya semula, atau badan terputar lebih dari 30 derajat

SARAF OTAK IX & X( NERVUS GLOSOFARINGEUS & NERVUS


VAGUS)
• Cara pemeriksaan:
– Pasien diminta untuk membuka mulut dan mengatakanhuruf “ a” . Jika ada gangguan
maka otot stylopharyngeus tak dapat terangkat dan menyempit dan akibatnya rongga
hidung dan rongga mulut masih berhubungan sehingga bocor. Jadi pada saat
mengucapkan huruf ” a” dinding pharynx terangkat sedang yang lumpuh tertinggal, dan
tampak uvula tidak simetris tetapi tampak miring tertarik kesisi yang sehat.
– Pemeriksa menggoreskan atau meraba pada dinding pharynx kanan dan kiri dan bila
ada gangguan sensibilitas maka tidak terjadi refleks muntah.

37
SARAF OTAK XI ( NERVUS AKSESORIUS)
• Cara pemeriksaan.
• Memeriksa tonus dari m. Trapezius. Dengan menekan pundak pasien dan pasien
diminta untuk mengangkat pundaknya.
• Memeriksa m. Sternocleidomastoideus. Pasien diminta untuk menoleh kekanan dan
kekiri dan ditahan oleh pemeriksa, kemudian dilihat dan diraba tonus dari m.
Sternocleidomastoideus.

SARAF OTAK XII ( NERVUS


HIPOGLOSUS ).
Cara pemeriksaan.
• Dengan adanya gangguan pergerakan lidah, maka perkataan perkataan tidak dapat
diucapkan dengan baik hal demikian disebut: dysarthri.
• Dalam keadaan diam lidah tidak simetris, biasanya tergeser kedaerah lumpuh karena
tonus disini menurun. Bila lidah dijulurkan maka lidah akan membelok kesisi yang sakit.
• Melihat apakah ada atrofi atau fasikulasi pada otot lidah .
• Kekuatan otot lidah dapat diperiksa dengan menekan lidah kesamping pada pipi dan
dibandingkan kekuatannya pada kedua sisi pipi.

38
DAFTAR PUSTAKA

1. Sherwood L. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi II. Jakarta : EGC, 2001

2. Iskandar N, sopeardi EA, Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan
Tenggorok, edisi keenam FKUI Jakarta 2008.

3. Adam GL, Boies LC, Hilger PA. Bois Fundamentals of otolaryngology. A


textbook of Ear, Nose and Throat Disease. 6 th edition WB Saunders Co, 1989.

4. Moore KL, Dalley AF. Clinically Oriented Anatomy, 5th Edition. 2006 Lippincott
Williams & Wilkins.

5. Saladin: Anatomy & Physiology: The Unity of Form and Function, Third Edition.
McGraw Hill. 2005. New York.

39