Anda di halaman 1dari 98

MATAKULIAH METODOLIGI PENELITIAN

DAN STATISTIK DASAR

100 Menit

TINJAUAN MATA KULIAH

A. Deskripsi Singkat Mata Kuliah


Mata Kuliah metodologi penelitian dan statistik dasar ini memberikan kemampuan
mahasiswa untuk menyusun proposal danhasilpenelitiandenganpokokbahasan :
konseppenelitian, sistematikapenelitian, langkah-langkahpenelitian, metodepenelitian,
mengkritikjurnal / proposal orang lain, membuat proposal penelitian, seminar
proposal, menyajikan data,
melakukanperhitunganujistatistikdanmenyimpulkanpenelitianpelayanankebidananpad
akhususnyadanpelayanankesehatanpadaumumnya.

B. Kegunaan/Manfaat Mata Kuliah

Dengan adanya mata kuliah metodologi penelitian dan statistik dasar ini memberikan
kemampuan mahasiswa untuk menyusun proposal danhasilpenelitian
C. Standar Kompetensi Mata Kuliah

Standar kompetensi mata kuliah metodologi penelitian dan statistik dasar ini
memberikan kemampuan mahasiswa untuk menyusun proposal danhasilpenelitian

D. Susunan Urutan Bahan Ajar


1. Menjelaskankonsepdasarpenelitian
2. Menjelaskansistematikapenelitian
3. Mengurangilangkah-langkahpenelitian
4. Menjelaskanmetodologidalampenelitian
5. Membuat proposal penelitian
6. Melaksanakan seminar proposal
7. Menyajikan data penelitian
8. Melakukanperhitunganujistatistik

E. Petunjuk Bagi Mahasiswa


Mahasiswa dapat mempelajari bahan ajar ini dan menbaca referensi yang
direkomendasikan sebagai buku acuan, membuka e-learning yang sudah ada.
BAB I

PENELITIAN KEBIDANAN DALAM PERKEMBANGAN ILMU DAN


TEHNOLOGI DIBIDANG KEBIDANAN

PENDAHULUAN

A. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

NO KOMPETENSI DASAR INDIKATOR

1. Penelitian kebidanan dalam a. Pengertian penelitian


perkembangan ilmu dan b. Tujuan dilakukan penelitian
tehnologi dibidang c. Implikasi penelitian dan ilmu pengetahuan serta
kebidanan kaitannya dengan perkembangan iptek
d. Ruang lingkup penelitian kebidanan

B. DESKRIPSI SINGKAT MATAKULIAH


Mata Kuliah metodologi penelitian dan biostatistika dasarini memberikan
kemampuan kepada mahasiswa untuk memberikan kemampuan menyusun proposal
dan hasil penelitian dengan pokok bahasan : konsep penelitian, sistematika penelitian,
langkah-langkah penelitian, metode penelitian, mengkritik jurnal / proposal orang
lain, membuat proposal penelitian, seminar proposal, menyajikan data, melakukan
perhitungan uji statistik dan menyimpulkan penelitian pelayanan kebidanan pada
khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya dengan pokok bahasan penelitian
kebidanan dalam perkembangan ilmu dan tehnologi dibidang kebidanan

URAIAN MATERI

A. Pengertian Penelitian Menurut Para Ahli|


Penelitian adalah suatu penyelidikan terorganisasi, atau penyelidikan yang
hati-hati dan kritis dalam mencari fakta untuk menentukan sesuatu.Kata penelitian
adalah terjemahan dari kata research yang berasal dari bahasa Inggris.Kata Research
terdiri dari dua kata yaitu re yang berarti kembali dan to search yang berarti mencari.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian research (penelitian) adalah mencari
kembali suatu pengetahuan. Tujuan penelitian adalah untuk mengubah kesimpulan
Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 1
yang telah diterima secara umum, maupun mengubah pendapat-pendapat dengan
adanya aplikasi baru pada pendapat tersebut.Suatu penelitian dengan menggunakan
metode ilmiah dinamakan sebagai penelitian ilmiah. Dari pengertian penelitian
(research) secara umum tersebut, terdapat beberapa pengertian penelitian yang
dikemukakan oleh para ahli antara lain sebagai berikut:
Pengertian Penelitian Menurut Para Ahli
1. Parson (1946): Menurut parson bahwa pengertian penelitian adalah pencarian atas
sesuatu (inkuiri) secara sistematis dengan penekanan bahwa pencarian ini
dilakukan terhadap masalah-masalah yang dapat dipecahkan.

2. John (1949): Pengertian penelitian menurut John bahwa arti penelitian adalah
pencarian fakta menurut metode objektif yang jelas untuk menemukan hubungan
antara fakta dan menghasilkan dalil atau hukum tertentu.

3. Woody (1972): Pengertian penelitian menurut woody adalah suatu metode untuk
menemukan sebuah pemikiran kritis. Penelitian meliputi pemberian definisi dan
redefinisi terhadap masalah, memformulasikan hipotesis atau jawaban sementara,
membuat kesimpulan, dan sekurang-kurangnya mengadakan pengujian yang hati-
hati atas semua kesimpulan yang diambil untuk menentukan apakah kesimpulan
tersebut cocok dengan hipotesis.

4. Donald Ary (1982): Menurut Donald Ary, pengertian penelitian adalah penerapan
pendekatan ilmiah pada pengkajian suatu masalah untuk memperoleh informasi
yang berguna dan dapat dipertanggungjawabkan.

5. Hill Way: Menurut Hill Way, pengertian penelitian adalah suatu metode studi yang
bersifat hati-hati dan mendalam dari segala bentuk fakta yang dapat dipercaya atas
masalah tertentu guna membuat pemecahan masalah tersebut.

6. Winarno Surachmand: Pengertian penelitian menurut Winarno Surachamnd adalah


kegiatan ilmiah mengumpulkan pengetahuan baru yang bersumber dari primer-
primer, dengan tekanan tujuan pada penemuan prinsip-prinsip umu, serta
mengadakan ramalan generalisasi di luar sampel yang diselidiki

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 2


7. Soetrisno Hadi: Menurut Soetrisno hadi bahwa pengertian penelitian adalah usaha
untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan,
usaha mana dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah.

Sikap dan Cara Berpikir Seorang peneliti

Seorang peneliti harus memiliki sikap yang khas dan kuat dalam penguasan
prosedur dan prinsip-prinsip dalam penelitian. Sika-sikap yang harus dikembangkan
seorang peneliti adalah sebagai berikut:
Sikap-sikap Seorang Penelliti
1. Objektif
Seorag peneliti harus dapat memisahkan antara pendapat pribadi dan fakta yang
ada. Untuk menghasilkan penelitian yang baik, seorang peneliti harus bekerja
sesuai atas apa yang ada di data yang diperoleh di lapangan dan tidak
memasukkan pendapat pribadi yang dapat mengurangi dari keabsahan hasil
penelitiannya (tidak boleh subjektif).
2. Kompeten
Seorang peneliti yang baik memiliki kemampuan untuk menyelenggarakan
penelitian dengan menggunakan metode dan teknik penelitian tertentu

3. Faktual
Seorang peneliti harus bekerja berdasarkan fakta yang diperoleh, bukan
berdasarkan observasi, harapan, atau anggapan yang bersifat abstrak.

Syarat-Syarat Penelitian

Adapun tiga syarat terpenting dalam melakukan penelitian yaitu sebagai berikut:

1. Sistematis, dilaksanakan berdasarkan pola tertentu dari hal yang paling sederhana
hingga yang kompleks dengan tatanan yang tepat sampai dengan tercapainya tujuan
yang efektif dan efisien.

2. Terencana, dilaksanakan karena terdapat unsur kesenjangan dan sebelumnya sudah


terkonsep langkah-langkah pelaksanaannya.

3. Mengikuti konsep ilmiah, maksudnya adalah mulai dari awal hingga sampai akhir
kegiatan penelitian mengikuti langkah-langkah yang sudah ditentukan atau

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 3


ditetapkan yaitu dengan prinsip yang digunakan untuk memperoleh ilmu
pengetahuan.

B. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Eksloratif (penjajagan) adalah penelitian yang tujuan untuk menemukan suatu


pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah ada.

2. Verifikatif (pengujian) adalah suatu penelitian yang bertujuan untuk melakukan


pengujian terhadap teori ataupun hasil penelitian sebelumnya, sehingga dapat
diperoleh hasil yang dapat menggugurkan atau memperkuat teori atau hasil
penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

3. Development (pengembangan) adalah suatu penelitian yang bertujuan untuk


mengembangkan, menggali dan memperluas lebih dalam mengenai suatu masalah
atau teori kelimuan untuk menjadi

Kriteria-Kriteria Seorang Peneliti

Menurut Whitney (1960), bahwa ada beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh
seorang peneliti antara lain sebagai berikut..

1. Daya nalar

Seorang peneliti harus memiliki daya nalar yang tinggi, yaitu dapat memberi alasan dalam
memecahkan masalah, baik secara induktif maupun secara deduktif

2. Orisnalitas
Seorang peneliti harus mempunyai daya khayal ilmiah dan kreatif.Peneliti harus
cemerlang, mempunyai inisiatif yang terencana, serta harus penuh dengan ide yang
rasional dan menghindari peniruan atau jiplakan.

3. Daya ingat

Seorang peneliti harus mempunyai daya ingat yang kuat, selalu ekstensif dan logis, serta
dapat dengan sigap melayani serta menguasai fakta

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 4


4. Kewaspadaan
Peneliti harus secara cepat dapat melakukan pengamatan terhadap perubahan yang terjadi
atas suatu variabel atau sifat suatu fenomena.Dia harus sigap dan mempunyai penglihatan
yang tajam, serta tanggap (responsif) terhadap segala perubahan dan kelainan. Ini penting
agar dia bisa dengan cepat mengantisipasi dampa faktor lain itu terhadap penelitiannya.

5. Akurat
Peneliti harus mempunyai tingkat pengamatan serta perhitungan yang akurat, tajam serta
beraturan.

6. Konsentrasi
Seorang peneliti harus memiliki kekuatan untuk berkonsentrasi yang tinggi, kemauan yang
besar, dan tidak cepat merasa bosan.

7. Dapat bekerja sama

Seorang peneliti harus memiliki sifat kooperatif sehingga dapat bekerja sama dengan
siapapun, serta harus mempunyai keinginan untuk bertemansecara intelektual dan dapat
bekerja secara berkelompok (team work). Ini menunjuk pada adanya sifat kepemimpinan
pada diri si peneliti.

8. Kesehatan
Seorang peneliti harus sehat, baikt jiwa maupun fisiknya.selain itu, dia juga harus stabil,
sabar, dan penuh vitalitas. Kesehatan ini diperlukan agar penelitian dapat berlangsung
lancar dan mencapai hasil yang maksimal.

9. Semangat
Peneliti harus memiliki semangat yang besar untuk meneliti.Peneliti juga harus memiliki
daya cipta serta hasrat yang tinggi.

10.Pandangan moral

Seorang peneliti harus mempunyai kejujuran intelektual kejujuran moral, beriman, dan
dapat dipercaya.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 5


BAB II

SISTEMATIKA LANGKAH PENELITIAN

PENDAHULUAN

A. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

NO KOMPETENSI DASAR INDIKATOR

2. Sistematika langkah Langkah-langkah penelitian


penelitian

B. DESKRIPSI SINGKAT MATAKULIAH


Mata Kuliah metodologi penelitian dan biostatistika dasarini memberikan
kemampuan kepada mahasiswa untuk memberikan kemampuan menyusun proposal
dan hasil penelitian dengan pokok bahasan : konsep penelitian, sistematika penelitian,
langkah-langkah penelitian, metode penelitian, mengkritik jurnal / proposal orang
lain, membuat proposal penelitian, seminar proposal, menyajikan data, melakukan
perhitungan uji statistik dan menyimpulkan penelitian pelayanan kebidanan pada
khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya dengan pokok bahasan
sistematika langkah penelitian

URAIAN MATERI

LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN

Penelitian merupakan rangkaian langkah-langkah yang dilakukan secara terencana dan


sistematis guna mendapatkan pemecahan masalah atau mendapatkan jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan tertentu. Langkah-langkah yang dilakukan itu harus serasi dan saling
mendukung satu sama lain, sehingga penelitian yang dilakukan itu mempunyai bobot yang
cukup memadai dan memberikan kesimpulan yang tidak meragukan. Adapun langkah-
langkah penelitian itu pada umumnya sebagai berikut.
1. Identifikasi, pemilihan, dan perumusan masalah
2. Penelaahan kepustakaan

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 6


3. Penyusunan hipotesis
4. Identifikasi, klarifikasi, dan pemberian definisi operasional variabel-variabel
5. Pemilihan atau pengembangan alat pengambil data
6. Penyusunan rancangan penelitian
7. Penentuan sampel
8. Pengumpulan data
9. Pengolahan dan analisis data
10. Interpretasi hasil analisis
11. Penyusunan laporan

1. Identifikasi, Pemilihan, dan Perumusan Masalah

Masalah adalah suatu kesulitan yang dirasakan, konkrit, dan memerlukan


solusi.Masalah juga dapat diartikan suatu kesenjangan antara harapan (das sollen) dengan
kenyataan (das sein).Suatu masalah tidak harus menuntut/menimbulkan suatu penelitian
tetapi penelitian dilakukan oleh karena ada masalah. Seseorang yang akan melakukan
penelitian harus menentukan terlebih dahulu apa masalahnya (Kerlinger, 2004). Bagi orang
yang belum berpengalaman dalam penelitian, menentukan dan memilih masalah bukanlah hal
yang mudah, bahkan dapat dikatakan sangat sulit.

Masalah yang akan dipecahkan atau dijawab melalui penelitian selalu ada. Peneliti
hanya mengidentifikasi, memilih, dan merumuskannya.Pencarian masalah dapat dilakukan
melalui sumber-sumber masalah, seperti bacaan, pengalaman pribadi, pertemuan Ilmiah
(seminar, diskusi, lokakarya, dll), dan perasaan intuitif pribadi (Suryabrata, 2006).Selain itu
Margono (2007) juga menambahkan bahwa masalah juga dapat diperoleh melalui pernyataan
atau pengamatan sepintas/fakta di lapangan.

Setelah masalah diidentifikasi, belum menjadi jaminan bahwa masalah tersebut layak
dan sesuai untuk diteliti.Identifikasi masalah dapat dilakukan dengan mengungkap jawaban
terhadap pertanyaan “apa kesenjangan yang terjadi” dan “apa yang menyebabkan terjadinya
kesenjangan” (Santyasa, 2008).Biasanya, dalam usaha mengidentifikasi atau menemukan
masalah penelitian ditemukan lebih dari satu masalah.Dari masalah-masalah tersebut perlu
dipilih salah satu, yaitu mana masalah yang paling layak dan sesuai untuk diteliti.Jika yang
ditemukan sekiranya hanya satu masalah, masalah tersebut juga harus dipertimbangkan layak
dan tidaknya serta sesuai dan tidaknya untuk diteliti.Pertimbangan untuk memilih atau
Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 7
menentukan apakah sesuatu masalah layak dan sesuai untuk diteliti, pada dasarnya dilakukan
dari dua arah, yaitu dari arah masalahnya dan dari arah peneliti.Jika ditinjau dari
pertimbangan arah masalahnya, menentukan suatu masalah layak untuk diteliti perlu
dibuat pertimbangan-pertimbangan dari arah masalahnya atau dari sudut objektif.Sedangkan
pertimbangan dari arah peneliti,pertimbangan masalah didasarkan atas kelayakan dan
kesesuaian peneliti yang menyangkut kelayakan biaya, waktu, sarana, dan kemampuan
keilmuan (Suryabrata, 2006).

Masalah yang baik diteliti mempunyai beberapa karakteristik yaitu 1)mempunyai nilai
dan kelayakan penelitian dari segi manfaat/kontribusi, 2) dapat dipecahkan (ada data dan
metode pemecahannya), 3) menarik bagi peneliti yang didukung kemampuan keilmuan, 4)
spesifik mengenai bidang tertentu (jelas ruang lingkup pembahasannya), dan 5) berguna
untuk mengembangkan suatu teori (Anonim, 2007). Senada dengan hal itu Kerlinger (2004)
menambahkan tiga kriteria penting permasalahan yang diteliti yaitu 1) permasalahan
sebaiknya merepleksikan dua variabel atau lebih, 2) masalah dinyatakan dalam bentuk
pertanyaan yang jelas dan tidak meragukan, dan 3) masalah hendaknya dapat diuji secara
empiris.

Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih, maka perlu dirumuskan. Tujuannya agar
permasalahan jelas dan tidak menimbulkan keragu-raguan atau tafsir yang berbeda-beda,
sebab masalah tersebut nantinya akan digunakan sebagai dasar pengajuan teori dan hipotesis,
pengumpulan data, pemilihan metode analisis, dan penarikan kesimpulan. Menurut Sukardi
(2003) rumusan masalah yang baik harus dapat mencangkup dan menunjukkan semua
variabel maupun hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lainnya.Ada beberapa
teknik yang dapat digunakan dalam merumuskan masalah yaitu 1) masalah hendaklah
dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya, 2) rumusan masalah hendaklah padat dan jelas, dan 3)
rumusan masalah hendaklah memberi petunjuk tentang mungkinnya mengumpulkan data
guna menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam rumusan itu.

2. Penelaahan Kepustakaan

Setelah masalah dirumuskan, maka langkah selanjutnya adalah mencari teori-teori,


konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang dapat dijadikan landasan teoretis bagi
penelitian yang akan dilakukan. Tujuannya yaitu 1) untuk mencari teori/konsep/generalisasi
yang dapat digunakan sebagai landasan teori/kerangka bagi penelitian yang akan dilakukan,

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 8


2) untuk mencari metodologi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan, dan 3)
untuk membandingkan antara fakta di lapangan dengan teori yang ada (Sukardi, 2003).
Telaah pustaka sangat penting agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan
sekedar perbuatan coba-coba (trial and error).Pada umumnya lebih dari lima puluh persen
kegiatan dalam seluruh proses penelitian itu adalah membaca. Karena itu sumber bacaan
merupakan bagian penunjang penelitian yang esensial. Menurut Sukardi (2003), telaah
kepustakaan merupakan kegiatan yang diwajibkan dalam penelitian, khususnya penelitian
akademik yang tujuan utamanya adalah mengembangkan aspek teoretis maupun aspek
manfaat praktis.

Secara garis besar, sumber bacaan itu dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu a)
sumber acuan umum (kepustakaan yang berwujud buku-buku teks, ensiklopedia, monograp,
dan sejenisnya), dan b) sumber acuan khusus (kepustakaan yang berwujud jurnal, buletin
penelitian, tesis, disertasi, makalah seminar, hasil penelitian, internet, dan lain-lain)
(Suryabrata, 2006).Mencari sumber bacaan hendaknya peneliti bersikap selektif, artinya tidak
semua yang diketemukan kemudian ditelaah.Sumber pustaka yang baik adalah relevan dengan
tema dan topik penelitian, uptodate (bukan sumber pustaka yang sudah usang).

Menurut Ary et al., (dalam Sukardi, 2003), langkah-langkah mengorganisasi materi


yang diperoleh dari berbagai sumber yaitu 1) mulai dengan materi hasil penelitian yang
secara konsekuensi diperhatikan dari yang paling relevan, relevan, dan cukup relevan, 2)
membaca abstrak dari setiap penelitian lebih dahulu untuk memberikan penilaian apakah
permasalahan yang dibahas sesuai dengan yang hendak dipecahkan dalam penelitian, 3)
mencatat bagian-bagian penting dan relevan dengan permasalahan penelitian, dan 4)
membuat catatan, kutipan, atau salinan informasi yang disusun secara sistematis.

3. Perumusan Hipotesis

Setelah selesai menyusun landasan teori, seorang peneliti biasanya akan sampai pada
suatu kesimpulan tentang permasalahan penelitian. Bertolak dari apa yang telah dilakukan
dalam mencari landasan teori, para peneliti akan mempunya jawaban sementara terkait
dengan permasalahan penelitian (Sukardi, 2003). Menurut Kerlinger (2004), Jawaban yang
masih bersifat sementara dan bersifat teoretis ini disebut sebagai hipotesis, yang
kebenarannya masih harus diuji secara empiris. Fungsi adanya hipotesis adalah 1) untuk
memberikan batasan serta memperkecil ruang lingkup penelitian, 2) untuk mempermudah

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 9


pengumpulan dan pengolahan data, 3) untuk mengetahui macam, jumlah, dan hubungan
variabel penelitian, serta 4) untuk mengetahui variabel tak bebas yang harus di kontrol
(Anonim, 2007). Menurut Sukardi (2003), hipotesis memiliki peranan penting karena dapat
menunjukkan harapan dari si peneliti yang direfleksikan dalam hubungan variabel dalam
permasalahan penelitian.

Secara teknis, hipotesis dapat didefinisikan sebagai pernyataan mengenai populasi


yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penelitian. Secara
statistik, hipotesis merupakan pernyataan mengenai keadaan parameter yang akan diuji
melalui statistik sampel. Secara implisit, hipotesis menyatakan prediksi. Taraf ketepatan
prediksi itu akan sangat bergantung kepada taraf kebenaran dan taraf ketepatan landasan
teoretis yang mendasarinya. Dasar teori yang kurang sehat akan melahirkan hipotesis yang
prediksinya kurang tepat, dan sebaliknya. Hipotesis yang baik yaitu 1) dirumuskan dari
teori/konsep yang sudah ada, sehingga relevan dengan fakta, 2) dirumuskan dalam bentuk
pernyataan (statement) singkat dan sederhana, 3) berlaku dalam tingkat populasi sehingga
mempuyai daya ramal yang tinggi, 4) mencerminkan tentang hubungan antar variabel, dan 5)
dapat diuji untuk membuktikan kebenaran/kesalahannya (Anonim, 2007). Hipotesis dapat
disusun/dirumuskan dari telaah teori, fakta berdasarkan pengamatan atau pengalaman
peneliti, dugaan dan pengetahuan peneliti, hasil penelitian terdahulu/sebelumnya yang
relevan. Salah satu contoh hipotesis adalah terdapat hubungan yang berarti antara perbedaan
gender dengan IP mahasiswa jurusan pendidikan fisika.

Secara garis besar, hipotesis dibedakan menjadi 2 macam yaitu hipotesis tentang
hubungan dan hipotesis tentang perbedaan.Hipotesis tentang hubungan yaitu hipotesis yang
menyatakan saling hubungan antara dua variabel atau lebih dan mendasari berbagai
penelitian korelasional.Hipotesis tentang perbedaan yaitu hipotesis yang menyatakan
perbedaan dalam variabel tertentu pada kelompok yang berbeda-beda.Perbedaan itu
seringkali disebabkan karena pengaruh perbedaan yang terdapat pada satu atau lebih variabel
yang lain (Anonim, 2007).

Menurut Suryabrata (2006) Konsep lain mengenai hipotesis adalah hipotesis nol atau
Ho. Hipotesis nol adalah hipotesis yang menyatakan tidak adanya hubungan antara dua
variabel atau lebih, atau hipotesis yang menyatakan tidak adanya perbedaan antar kelompok
yang satu dengan yang lainnya. Analisis statistic dan uji statistik biasanya mempunyai
sasaran untuk menolak kebenaran hipotesis nol tersebut. Hipotesis yang lain adalah hipoteis
Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 10
alternatif, yang dilambangkan dengan HA. Hipotesis ini menyatakan adanya hubungan antara
dua variabel atau lebih, atau menyatakan adanya perbedaan dalam hal tertentu pada
kelompok-kelompok yang berbeda.Teknik pengujian hipotesis dapat dilakukan menggunakan
uji-uji statistik (uji t, uji F, uji χ2, uji Z dll).

4. Identifikasi, klarifikasi, dan pemberian definisi variabel-variabel

Variabel penelitian didefinisikan sebagai segala sesuatu yang menjadi obyek


penelitian dan bersifat spesifik serta faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa/gejala yang
akan diteliti. Adapun kegunaan dari variabel penelitian adalah: 1) untuk mempersiapkan alat
dan metode pengumpulan data, 2) untuk mempersiapkan metode analisis/pengolahan data,
dan 3) untuk pengujian hipotesis (Anonim, 2007). Variabel penelitian yang baik harus
relevan dengan tujuan penelitian dan dapat diamati atau dapat diukur.Dalam suatu penelitian,
variabel perlu diidentifikasi, diklarifikasi, dan didefinisikan secara operasional dengan jelas
dan tegas sehingga tidak menimbulkan kesalahan dalam pengumpulan dan pengolahan data
serta dalam pengujian hipotesis. Tujuan diadakannya pengidentifikasian variabel yaitu untuk
mendata variabel-variabel yang ada dalam penelitian dan untuk menetapkan variabel-variabel
utama yang akan dibahas. Misalny suatu penelitian untuk mempelajari faktor-faktor apa saja
yang mempengaruhi peningkatan prestasi belajar fisika siswa kelas X. Variabel penelitian
yang berpengaruh ditetapkan, seperti motivasi belajar, proporsi belajar, gaya belajar, dan
keadaan sosial siswa.

Variabel yang telah diidentifikasi perlu diklarifikasi sesuai dengan jenis dan
peranannya dalam penelitian. Klarifikasi ini sangat perlu untuk penentuan alat pengambil
data apa yang akan digunakan dan metode analisis mana yang sesuai untuk diterapkan.
Berkaitan dengan proses kuantifikasi, variabel dapat digolongkan menjadi empat jenis yaitu
1) variabel nominal, yaitu variabel yang ditetapkan berdasarkan proses penggolongan.
Contohnya jenis kelamin dan jenis pekerjaan. 2) variabel ordinal yaitu variabel yang disusun
berdasarkan jenjang dalam atribut tertentu. Jenjang tertinggi biasa diberi angka 1, jenjang di
bawahnya angka 2, begitu seterusnya.Contoh hasil perlombaan inovatif produktif di antara
para mahasiswa. 3) variabel interval yaitu variabel yang dihasilkan dari pengukuran, yang di
dalam pengukuran itu diasumsikan terdapat satuan pengukuran yang sama. Contoh prestasi
belajar, sikap terhadap program dinyatakan dalam skor. 4) variabel ratio, adalah variabel
yang dalam kuantifikasinya mempunyai nol mutlak (Suryabrata, 2006).

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 11


Setelah variabel diidentifikasi dan diklarifikasi, maka variabel-variabel tersebut perlu
didefinisikan secara operasional. Penyusunan definisi operasional ini perlu, karena definisi
operasional itu akan menunjuk alat pengambil data mana yang cocok untuk digunakan.
Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan atas sifat-sifat yang dapat diamati.
Konsep dapat diamati atau diobservasi ini penting, karena hal yang dapat diamati itu
membuka kemungkinan bagi orang lain selain peneliti untuk melakukan hal yang serupa,
sehingga apa yang dilakukan oleh peneliti terbuka untuk diuji kembali oleh orang lain. Cara
menyusun definisi operasional bermacam-macam, cara itu dikelompokkan menjadi tiga jenis
yaitu 1) menekankan kegiatan apa yang perlu dilakukan, 2) menekankan bagaimana kegiatan
itu dilakukan, dan 3) menekankan sifat-sifat statis hal yang didefinisikan. Contoh
pendefinisian variable misalnya prestasi akademik mahasiswa adalah ukuran keberhasilan
studi mahasiswa yang dinyatakan dengan Indeks Prestasi (IP) Mahasiswa.

5. Pemilihan atau pengembangan alat pengambilan data

Alat pengumpulan data (instrumen penelitian) dalam suatu penelitian sangat


menentukan kualitas data yang dapat dikumpulkan sekaligus akan menentukan kualitas
penelitian itu sendiri (Margono, 2007). Suryabrata (2006) menambahkan kriteria alat
pengumpulan data yang baik adalah reliabilitas (keterandalan) dan validitas. Reliabilitas alat
pengumpulan (pengukuran) data menunjukkan keajegan hasil pengukuran (konsistensi)
apabila digunakan untuk pengukuran pada waktu yang berbeda dan tidak tergantung siapa
yang menggunakannya tetapi dilihat dari besarnya simpangan baku dari hasil pengukuran
yang berulang-ulang atau dari besarnya tingkat kesalahan (error) pengukuran. Validitas
adalah alat pengumpulan (pengukuran) data menunjukkan kesesuaian atau kecocokan antara
alat ukur dengan apa yang diukur. Keputusan mengenai alat pengambil data yang akan
digunakan tergantung variabel yang akan diamati atau diambil datanya. Dengan kata lain, alat
yang digunakan harus disesuaikan dengan variabelnya. Pertimbangan selanjutnya adalah
pertimbangan dari segi kualitas alat, yaitu dari segi taraf reliabilitas dan validitas.
Pertimbangan-pertimbangan lain biasanya dari sudut praktis, misalnya besar kecilnya biaya
dan mudah sukarnya menggunakan alat tersebut.

Jika peneliti mengembangkan sendiri atau mengadaptasikan alat pengambil datanya,


maka peneliti harus melakukan uji coba untuk memperoleh keyakinan tentang kualitas alat
pengambil data yang dikembangkannya itu, sebelum benar-benar digunakan pada penelitian
yang sebenarnya (Mardalis, 2006).
Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 12
6. Penyusunan Rancangan Penelitian

Desain eksperimen adalah suatu rancangan percobaan dengan setiap langkah tindakan
yang terdefinisikan, sehingga informasi yang diperlukan atau berhubungan dengan persoalan
yang akan diteliti dapat dikumpulkan secara faktual. Dengan kata lain, desain sebuah
eksperimen merupakan langkah-langkah lengkap yang perlu diambil jauh sebelum
eksperimen dilakukan agar data yang semestinya diperlukan dapat diperoleh sehingga akan
membawa ke analisis obyektif dan kesimpulan yang berlaku dan tepat menjawab persoalan
yang dibahas.

Rancangan penelitian mengatur sistematika yang akan dilaksanakan dalam penelitian.


Memasuki langkah ini peneliti harus memahami berbagai metode dan teknik
penelitian.Metode dan teknik penelitian disusun menjadi rancangan penelitian.Mutu keluaran
penelitian ditentukan oleh ketepatan rancangan penelitian. Agar rancangan penelitian dapat
diperkirakan, maka ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu 1) rancangan mencangkup
semua kegiatan yang akan dilakukan, 2) disusun secara sistematis untuk mempermudah
langkah selanjutnya, dan 3) dapat memprediksi sejauh mana hasil penelitian yang akan
diperoleh (Margono, 2007)

7. Penentuan Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut. Bila populasi besar, maka peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada
populasi (karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu), maka peneliti dapat menggunakan
sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya
akan dapat diberlakukan untuk populasi.

Ada beberapa Kelebihan dan Kelemahan apabila populasi dan sampel dijadikan objek
penelitian.Jika melibatkan populasi kelebihannya yaitu data yang diperoleh dijamin lebih
lengkap dan dalam pengambilan kesimpulan lebih akurat.Namun kelemahannya yaitu
membutuhkan banyak sumber daya (biaya, tenaga, dan waktu), serta tidak ada jaminan
bahwa semua anggota populasi dapat didata/dilacak di lapangan.Sedangkan jika melibatkan
sampel sebagai penelitian kelebihannya yaitu efisien penggunaan sumber daya (tenaga, biaya,
dan waktu), anggota sampel lebih mudah didata/dilacak di lapangan.Kelemahannya adalah
membutuhkan ketelitian dalam menentukan sampel dan pengambilan kesimpulan/generalisasi
perlu analisis yang teliti dan dilakukan secara hati-hati.Dalam prakteknya, sangat jarang
Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 13
penelitian yang menerapkan sensus dalam upaya pengumpulan datanya karena keterbatasan
dalam operasionalnya.Sehingga penelitian lebih sering menggunakan teknik sampling.
Menurut Suryabrata (2006) hal-hal penting yang harus diperhatikan berkaitan dengan
pemilihan sampel yang baik yaitu: 1) Representatif (harus dapat mewakili populasi atau
semua unsure sampel), 2) batasan sampel harus jelas, 3) dapat dilacak di lapangan, 4) tidak
ada keanggotaan sampel yang ganda (didata dua kali atau lebih), 5) harus uptodate (terbaru
dan sesuai dengan keadaan saat dilakukan penelitian).

Menurut Kerlinger (2004), dalam menentukan sampel yang baik harus diperlukan
metode pemilihan atau pengambilan sampel (sampling) yang baik pula. Untuk menentukan
sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang
digunakan. Teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu
Probability Sampling dan NonprobabilitySampling.Probability sampling meliputi, simple
random, proportionate stratified random, disproportionate stratified random, dan area
random.Non-probability sampling meliputi, sampling sistematis, sampling kuota, sampling
aksidental, purposivesampling, sampling jenuh, dan snowballsampling.

Secara umum metode pengambilan sampel yang baik adalah 1) prosedurnya


sederhana dan mudah dilakukan, 2) dapat memilih sampel yang representatif, 3) efisien
dalam penggunaan sumber daya, dan 4) dapat memberikan informasi sebanyak-banyaknya
mengenai sampel. Jumlah sampel yang baik tidak ada ketentuan yang baku mengenai ukuran
sampel, tetapi perlu diperhatikan dalam menentukan besarnya sampel yaitu derajat
keseragaman/heterogenitas dari populasi, metode analisis yang akan digunakan, ketersediaan
sumber daya, dan presisi yang dikehendaki (Suryabrata, 2006).

Sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili).Bila


sampel tidak refresentatif, maka ibarat orang buta disuruh meyimpulkan karakteristik gajah.
Satu orang memegang telinga gajah, maka ia menyimpulkan gajah itu seperti kapas. Orang
kedua memegang badan gajah, maka ia menyimpulkan gajah itu seperti tembok besar. Satu
orang lagi memegang ekornya, maka ia akan menyimpulkan gajah itu kecil seperti seutas tali.
Begitulah kalau sampel yang dipilih tidak representatif, maka ibarat 3 orang buta itu yang
membuat kesimpulan salah tentang gajah (Arikunto, 2006).

Menurut Kerlinger (2004), kaedah yang paling gampang dalam menentukan sampel
penelitian terkait dengan jumlah sampel yaitu gunakan sampel yang sebesar mungkin.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 14


Suryabrata (2006) menambahkan syarat yang paling penting dalam mengambil sampel ada
dua macam, yaitu jumlah sampel yang mencukupi dan profil sampel yang dipilih harus
mewakili.Tujuan adanya berbagai teknik penentuan sampel adalah untuk mendapatkan
sampel yang paling mencerminkan populasinya.Dalam penelitian terhadap sampel, ciri
representativeness sampel itu tidak pernah dapat dibuktikan, melainkan hanya dapat didekati
secara metodelogis melalui parameter-parameter yang diketahui dan diakui baik secara
teoretis mauptun secara eksperimental.Parameter-parameter yang sebagai berikut.

a. Besar sampel. Makin besar sampel yang diambil akan makin tinggi taraf
representativeness sampelnya (berlaku jika populasinya tidak homogen secara sempurna).
Namun untuk populasi homogen secara sempurna besar sampel tidak mempengruhi taraf
representatifnya sampel.

b. Teknik penentuan sampel.Makin tinggi tingkat rambang dalam penentuan sampel maka
makin tinggi pula tingkat representatifnya sampel (berlaku jika populasinya tidak homogen
secara sempurna).

c. Variabilitas populasi.Peneliti harus menerima sebagaimana adanya, dan tidak dapat


mengatur atau memanipulasikan sampel.

d. Kecermatan memasukkan ciri-ciri populasi. Makin lengkap ciri-ciri populasi yang


dimasukkan ke dalam sampel, akan makin tinggi tingkat representatifnya sampel.

8. Pengumpulan Data

Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian, yaitu
kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data. Pengumpulan data dapat
dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara. Bila dilihat dari segi
cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan
interview (wawancara), kuesioner (angket), observasi (pengamatan), dan gabungan ketiganya
(Suryabrata, 2006). Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila
penelitian ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus
diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih
mendalam dan jumlah respondennya sedikit. Kuesionermerupakan teknik pengumpulan data
yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada
responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efesien

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 15


bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan
dari responden. Selain itu, kuesioner juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup
besar dan tersebar di wilayah yang luas. Observasi merupakan suatu proses yang kompleks,
suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Teknik pengumpulan
data dengan observasi digunakan bila peneliti berkenaan dengan perilaku manusia, proses
kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Dari segi proses
pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi partisipan observation
(observasi berperan serta) dan non partisipan observation, selanjutnya dari segi instrumenasi
yang digunakan, maka observasi dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak
terstruktur. Sukardi (2003) menambahkan bahwa cara lain untuk mengumpulkan data dari
responden yaitu menggunakan teknik dokumentasi.

9. Pengolahan dan Analisis Data

Setelah data dikumpulkan, selanjutnya dilakukan pengolahan dan analisis


data.Kegiatan analisis data bertujuan untuk memberi arti dan makna pada data serta berguna
untuk memecahkan masalah dalam penelitian yang sudah dirumuskan. Menurut Sukardi
(2003), sebelum analisis data dilakukan maka data perlu diolah terlebih dahulu. Secara garis
besarnya ada dua langkah yang harus dilakukan, yaitu:

a. Persiapan (Editing)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam persiapan penelitian yaitu melengkapi
data yang kurang/kosong, memperbaiki kesalahan-kesalahan atau kekurangjelasan dari
pencatatan data, memeriksa konsistensi data sesuai dengan data yang diinginkan, memeriksa
keseragaman hasil pengukuran (misalnya keseragaman satuan dsb), dan memeriksa
reliabilitas data (misalnya membuang data-data yang ekstrim dsb).Dalam langkah ini peneliti
memilih/menyortir data sedemikian rupa sehingga data yang terpakai saja yang
tinggal.Tujuan merapikan data, agar data bersih, rapi, dan tinggal mengadakan pengolahan
lanjut (menganalisis).

b. Tabulasi

Setelah melakukan persiapan/editing, peneliti melakukan tabulasi data.Kegiatan ini


bertujuan untuk membuat tabel data (menyajikan data dalam bentuk tabel) untuk
memudahkan analisis data maupun pelaporan.Tabel data dibuat sesederhana mungkin

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 16


sehingga informasi mudah ditangkap oleh pengguna data maupun bagi bagian analisis data.
Termasuk dalam kegiatan ini meliputi memberikan skor terhadap item yang perlu diberikan
skor, memberikan kode terhadap item yang tidak diberi skor, mengubah jenis data
(disesuaikan dengan teknik analisis yang digunakan), dan memberikan kode dalam hubungan
dengan pengolahan data (jika menggunakan komputer).

Kegiatan analisis data merupakan bagian yang sangat penting dan merupakan langkah
yang sangat kritis dalam penelitian. Peneliti harus memastikan pola analisis mana yang akan
digunakan, apakah analisis statistik ataukah non-statistik. Pemilihan ini tentunya tergantung
pada jenis data yang dikumpulkan.Analisis statistik sesuai dengan data kuantitatif, yaitu data
dalam bentuk bilangan.Sedangkan analisis non-statistik sesuai untuk data deskriptif
(Suryabrata, 2006).

Pemecahan masalah penelitian dan penarikan kesimpulan dari suatu penelitian sangat
tergantung dari hasil analisis data ini.Sehingga perlu dilakukan dengan teliti dan hati-hati
sehingga tidak memberikan salah penafsiran terhadap hasil penelitian.Seorang peneliti
(bagian analisis data) harus menguasai kemampuan keilmuan secara teknis dalam
menerapkan metode analisis yang cocok.Metode analisis data yang dipilih harus disesuaikan
dengan jenis penelitiannya.Pertimbangan pemilihan metode analisis dapat dilihat dari 1)
tujuan dan jenis penelitian, 2) model/jenis data, dan 3) tingkat/taraf kesimpulan. Sebagai
contoh misalnya pengaruh model problem based learning terhadap peningkatan berpikir
kritis siswa kelas X SMA Negeri 1 Panca. Analisis statistik yang cocok yaitu desain
eksperimen.

10. Penafsiran Hasil Analisis

Menafsirkan hasil analisis penelitian selalu harus didasarkan atas semua data yang
diperoleh dalam kegiatan penelitian. Dengan kata lain, penarikan kesimpulan harus
berdasarkan atas data, bukan atas angan-angan atau keinginan peneliti. Salah apabila
kelompok peneliti membuat kesimpulan yang bertujuan menyengkan hati pemesan, dengan
cara memanipulasi data. Pada penelitian yang menggunakan pengujian hipotesis penelitian,
kesimpulan dapat ditarik dari hasil pengujian hipotesis. Apabila kesimpulan penelitian
merupakan jawaban dari problematik yang dikemukakan, maka isi maupun banyaknya
kesimpulan yang dibuat juga harus sama dengan isi dan banyaknya problematik. Kesimpulan
yang diambil dalam Penelitian harus sesuai dengan 1) tema, topik, dan judul penelitian, 2)

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 17


pemecahan permasalahan penelitian, 3) hasil analisis data, 4) pengujian hipotesis (bila ada),
5) teori/ilmu yang relevan, dan 6) singkat, jelas, dan padat (Anonim, 2007).

Peneliti mengharapkan hipotesis penelitiannya tahan uji, yaitu terbukti


kebanarannya.Jika yang terjadi memang demikian, bahasan itu mungkin tidak terlalu
menonjol peranannya. Tetapi jika hipotesis penelitian itu tidak tahan uji, yaitu ditolak maka
peranan bahasan itu menjadi sangat penting, karena peneliti harus dapat menjelaskan
mengapa hal itu terjadi. Peneliti wajib mengeksplorasi segala sumber yang mungkin menjadi
sebab tidak terbuktinya hipotesis penelitian itu. Beberapa sumber tidak terbuktinya hipotesis
itu dapat dicari antara lain dari: 1) landasan teori, 2) sampel, 3) alat pengambilan data, 4)
rancangan penelitian, 5) perhitungan-perhitungan, dan 6) variabel-variabel luaran
(Suryabrata, 2006).

Suatu hipotesis tidak terbukti kebenarannya itu tidak berarti bahwa penelitiannya
gagal sama sekali. Suatu penelitian sering menguji sejumlah hipotesis dan tidak terbukti satu
atau dua hipotesis memang tidak jarang terjadi. Walaupun penelitian hanya menguji satu
hipotesis dan kemudian ternyata tidak terbukti kebenarannya itupun tidak berarti bahwa
penelitian itu gagal sama sekali. Yang terpenting di sini adalah peneliti memberikan
keterangan dan alasan yang jelas dan kuat mengenai tidak terbuktinya hipotesis penelitian
itu.Keenam sumber tersebut dapat dieksplorasi untuk menjelaskan tidak terbuktinya hipotesis
itu.

11. Penyusunan Laporan

Tahapan akhir dalam kegiatan penelitian adalah pembuatan laporan penelitian.Laporan ini
berguna untuk kegiatan publikasi hasil penelitian maupun untuk pertanggungjawaban secara
ilmiah kegiatan penelitian yang telah dilakukan. Walaupun si peneliti sudah melakukan
semua langkah-langkah penelitian akan salah jika peneliti tidak melaporkan secara tertulis
hasil penelitiannya. Penelitian sebelumnya akan dijadikan sumber dan bahan evaluasi untuk
penelitian selanjutnya. Menurut Sukardi (2003), evaluasi terhadap pembuatan laporan
penelitian mempunyai beberapa macam fungsi, yaitu 1) menunjukkan adanya
pertanggungjawaban peneliti kepada diri sendiri maupun sponsor, 2) memberikan informasi
kepada peneliti lain (yang berupa pendekatan, proses, dan metode penelitian yang dilakukan),
dan 3) memberikan kesempatan peneliti lain untuk melakukan penelitian yang sejenis.
Laporan penelitian harus dituliskan secara sistematis artinya semua tahapan yang telah

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 18


dilakukan mulai dari tahap perencanaan hingga penarikan kesimpulan penelitian (termasuk di
dalamnya lampiran-lampiran yang diperlukan harus dicantumkan). Sistematika pelaporan
disesuaikan dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh lembaga/institusi/sponsor yang akan
mengelola hasil penelitian tersebut.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 19


BAB III

CARA PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN

PENDAHULUAN

A. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

NO KOMPETENSI DASAR INDIKATOR

1. Cara penyusunan proposal a. Cara penyusunan proposal penelitian yang


penelitian baik
b. Berbagai contoh model penyusunan proposal
penelitian

B. DESKRIPSI SINGKAT MATAKULIAH


Mata Kuliah metodologi penelitian dan biostatistika dasar ini memberikan
kemampuan kepada mahasiswa untuk memberikan kemampuan menyusun proposal
dan hasil penelitian dengan pokok bahasan : konsep penelitian, sistematika penelitian,
langkah-langkah penelitian, metode penelitian, mengkritik jurnal / proposal orang
lain, membuat proposal penelitian, seminar proposal, menyajikan data, melakukan
perhitungan uji statistik dan menyimpulkan penelitian pelayanan kebidanan pada
khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya dengan pokok bahasan Cara
penyusunan proposal penelitian

URAIAN MATERI

PROPOSAL PENELITIAN

Proposal penelitian merupakan sebuah usulan yg dibuat dalam rangka mengadakan


penelitian yg dirancang dan disesuaikan dengan kebutuhan proses penelitian. Tujuan
Proposal adalah untuk memberikan gambaran secara singkat terhadap rencana kegiatan
penelitian yang akan dilakukan, melalui proposal peneliti akan memahami segala kebutuhn
yang direncanakan. Dalam menyusun proposal penelitian, hendaknya mengikuti aturan

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 20


penulisan proposal yang ada di institusi. Di bawah ini adalah contoh sistematika proposal
penelitian yang umumnya dipakai pada institusi pendidikan kesehatan :
JUDUL
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
E. Keaslian Penelitian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori ( Berisi teori yang Disesuaikan dg. Variable penelitian)
B. Kerangka Teori
C. Kerangka Konsep
D. Hipotesis / Pertanyaan Penelitian
BAB III METODE PENELITIAN
A. Desain / Rancangan Penelitian
B. Lokasi Penelitian
C. Populasi, Sample dan Teknik Sampling
D. Variable Penelitian
E. Definisi Operasional
F. Pengumpulan Data dan Teknik Analisa Data
G. Keterbatasan Penelitian
DAFTAR PUSTAKA
RENCANA JADWAL PENELITIAN
LAMPIRAN :
Instrument & Alat Ukur Penelitian
Surat – surat / Dokumen Penelitian

Dalam menyusun proposal penelitian ada 3 kemampuan yang harus dimiliki peneliti,
diantaranya adalah: KEMAMPUAN BAHASA, METODOLOGI & MATERI ILMU. Untuk
menghasilkan Proposal Penelitian yang baik, ada beberapa Persyaratan tang harus
diperhatikan, yaitu:

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 21


1. SISTEMATIS

Proposal penelitian harus disusun secara sistematis menurut pola tertentu dari yang paling
sederhana hingga kompleks.Proposal yang diajukan hendaknya dapat memberikan
gambaran secara sistematis tentang rencana penelitian yang diajukan secara efektif dan
efisien serta konsisten sehingga memudahkan pembaca.

2. BERENCANA

Yaitu harus sudah dipikirkan langkah – langkah pelaksanaannya. Hendaknya memiliki


rencana jadwal yang akan dilakukan dalam penelitian secara berencana seperti ; jadwal
pengumpulan data, analisis data hingga penyajian untuk laporan.

3. MENGIKUTI KONSEP ILMIAH

Yaitu mengikuti cara – cara atau metode ilmiah yang sudah ditentukan untuk mencari
kebenaran ilmiah. Selanjutnya akan diuraikan lebih rinci tentang teknik penulisan
proposal penelitian serta beberapa bagian yang harus terdapat di dalamnya.

JUDUL PENELITIAN

Judul merupakan cermin dari keseluruhan isi karya ilmiah. Judul penelitian harus jelas,
menarik, sehingga pembaca langsung dapat menduga apa materi dan masalah yang dikaji
dalam penelitian tersebut. Syarat – syarat judul yang baik diantaranya adalah :

1. MENARIK MINAT PENELITI.

Judul yang menarik dan diminati oleh peneliti akan memberikan motivasi tersendiri bagi
peneliti untuk melakukan penelitian selanjutnya.

2. MAMPU DILAKSANAKAN OLEH PENELITI.

Judul yang mudah dilaksanakan oleh peneliti akan memperlancar proses penelitian,
sehingga hambatan yang ada selama penelitian dapat diatasi dengan mudah.

3. MENGANDUNG KEGUNAAN PRAKTIS DAN PENTING UNTUK DITELITI.

Judul seharusnya mengacu pada aspek yang bermanfaat untuk pengembangan ilmu dan
hasilnya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 22


4. TERSEDIA CUKUP DATA.

Judul hendaknya memungkinkan tersedianya data yang dapat memudahkan para peneliti.

5. HINDARI DUPLIKASI DENGAN JUDUL LAIN.

Judul tidak boleh sama dengan judul lain. Namun untuk pengembangan penelitian,
sebaiknya menggunakan judul yang lebih spesifik.

6. BERISI VARIABLE YANG JELAS YANG AKAN DITELITI.

Judul hendaknya mengandung satu atau dua variable yang akan diteliti, mengingat judul
merupakan bagian dari keseluruhan isi penelitian.

7. BERUPA KALIMAT PERNYATAAN.

Judul sebaiknya menggunakan kalimat pernyataan karena akan lebih mudah dipahami
oleh pembaca.

8. JELAS, SINGKAT DAN TEPAT.

Judul sebaiknya mengandung kejelasan isi, singkat dan tepat terhadap masalah yang akan
diteliti. Sehingga akan lebih memudahkan dalam memahami secara keseluruhan tentang
apa yang akan diteliti.

LATAR BELAKANG

Latar belakang dalam suatu proposal penelitian merupakan pengantar informasi tentang
materi keseluruhan dari penelitian yang ditulis secara sistematis dan terarah dalam kerangka
logika yang memberikan justifikasi terhadap dasar pemikiran, pendekatan, metode analisis
dan interpretasi untuk sampai pada tujuan dan kegunaan penelitian.

Dalam pembuatan proposal penelitian kebidanan, latar belakang harus dapat mengemukakan
dengan jelas argumentasi tentang pentingnya melakukan penelitian tersebut. Selain itu juga
harus dapat menjelaskan tentang : Proses Identifikasi Masalah ; Kejelasan Masalah Yang
Akan Diteliti ; Derajat Pentingnya Masalah ; Bagaimana Keberadaan Masalah Hingga Saat
Ini ; Apakah Masalah Tersebut Sudah Terpecahkan Atau Belum ; dan Bagaimana Solusinya.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 23


Pada umumnya, terdapat 4 unsur pokok yang tersirat dalam perumusan latar belakang dalam
rangka pengembangan gagasan / masalah, yaitu :

1. Unsur Pentingnya Masalah.

Secara umum pentingnya sebuah masalah ini ditulis pada awal gagasan atau pemikiran
pertama yang dapat mengemukakan arti pentingnya sebuah masalah dan seberapa besar
masalah itu penting untuk diteliti.

2. Unsur Skala Masalah

Unsur ini ditulis setelah mengemukakan gagasan adanya masalah dan itu penting untuk
diteliti.

Selanjutnya diberikan penegasan atau penguraian tentang derajat pentingnya masalah itu
untuk diteliti atau bila tidak diteliti bagaimana dampaknya.

3. Unsur Kronologis Masalah.

Merupakan unsure yang menjelaskan proses terjadinya masalah atau relevansi penelitian
yang terdahulu/telah ada yang harus ditunjang dengan data empiris dari permasalahan
penelitian yang akan diteliti.

4. Unsur Solusi Masalah.

Unsure ni digunakan sebagai alternative dalam memberikan solusi atas masalah yang
timbul serta alternative lain yang akan dilakukan dalam penelitian.

RUMUSAN MASALAH

Dalam menuliskan proposal penelitian kesehatan, rumusan masalah hendaknya memiliki


konsekuensi terhadap relevansi maksud dan tujuan dari penelitian, kegunaan penelitian,
kerangka konsep penelitian dan metode penelitian.

Selain itu harus jelas permasalahan yang ingin diteliti, kemudian diuraikan pendekatan dan
konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti, hipotesis atau dugaan yang
akan dibuktikan.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 24


Penulisan rumusan masalah dapat berupa pernyataan masalah atau juga dapat berupa
pertanyaan masalah.

Pernyataan masalah pada umumnya merupakan hasil identifikasi masalah yang ada, berupa
asumsi dasar, dan nilai yang ada dalam penelitian.

Contoh 1 :

Masih tingginya angka kematian ibu post partum di daerah X disebabkan oleh
berbagai factor, diantaranya adalah status gizi, sarana dan prasarana kesehatan,
budaya dan status ekonomi.

Contoh 2 :

 Factor – factor apa sajakah yang mempengaruhi tingginya angka kematian ibu post
partum di daerah X ?

Adakah hubungan antara status ekonomi dengan tingginya angka kematian ibu post
partum di daerah X ?

 Bagaimanakah factor – factor yang berperan dalam tingginya angka kematian ibu
post partum di daerah X ?

TUJUN PENELITIAN

Tujuan penelitian merupakan tindak lanjut dari masalah yang telah dirumuskan. Tujuan
penelitian mencakup langkah – langkah dari penelitian yang akan dilakukan. Dalam
pembuatan proposal penelitian, tujuan dapat dilakukan secara singkat seperti untuk
menjajaki, menguraikan, menerapkan, mengidentifikasi, menganalisis, membuktikan atau
membuat prototype.

Penulisan tujuan dapat dilakukan dalam 2 jenis, yaitu Penulisan Tujuan Umum dan Penulisan
Tujuan Khusus.

Penulisan Tujuan Umum dilakukan untuk mempelajari atau menjelaskan tujuan yang hendak
dicapai secara umum.

Penulisan Tujuan Khusus dilakukan sebagai langkah – langkah untuk mencapai tujuan
umum.
Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 25
Contoh :

Tujuan umum

Mempelajari factor – factor yang mempengaruhi tingginya angka kematian ibu post partum di
daerah X.

Tujuan khusus

1. Mengidentifikasi angka kematian ibu post partum di daerah X

2. Mengidentifikasi status ekonomi di daerah X

3. Mengidentifikasi pengaruh status ekonomi terhadap tingginya angka kematian ibu post
partum di daerah X.

MANFAAT PENELITIAN

Uraikan manfaat hasil penelitian secara singkat dan jelas untuk pengembangan ilmu
pengetahuan, teknologi kesehatan, seni pemecahan masalah, pengembangan institusi, profesi
kesehatan tertentu dan kesehatan klien.

TINJAUAN PUSTAKA

Usahakan pustaka yang digunakan adalah terbaru, relevan dan asli, selanjutnya uraikan
dengan jelas kajian yang menimbulkan gagasan penelitian. Tinjauan pustaka menguraikan
teori, temuan, dan bahan penelitian lain yang diperoleh dari acuan untuk selanjutnya
dijadikan landasan untuk melakukan penelitian yang diusulkan. Landasan Teori memberikan
uraian yang sistematik tentang teori dasar yang relevan, fakta, hasil penelitian
sebelumnya, konsep atau pendekatan terbaru yang ada hubungannya dengan topik penelitian
yang dilakukan.Materi-materi dalam tinjauan pustaka dapat diangkat dari berbagai sumber
seperti buku-buku, jurnal penelitian, skripsi, tesis, atau disertasi yang telah dipublikasikan
serta terbitan-terbitan resmi pemerintah dan lembaga-lembaga resmi lainnya. Dalam
menuliskan landasan teori, peneliti harus menunjukkan kemampuan intelektualnya dalam
mengidentifikasi dan mengenal informasi yang relevan, mensitesis dan mengevaluasi
berdasarkan hipotesis yang akan dikembangkan dalam penelitiannya

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 26


KERANGKA TEORI: Kerangka Teori merupakan hasil dari proses reduksi, sintesis,
ataupun abstraksi dari berbagai teori atau fakta ilmiah yang telah diuraikan dalam Landasan
Teori. Kerangka Teori penelitian disajikan dalam bentuk bagan dan harus mencantumkan
sumber atau referensi-referensi yang digunakan atau dipilih untuk digunakan dalam
merumuskan Kerangka Teori tersebut. Langkah-langkah membuat Kerangka Teori dapat
dilakukan dengan terlebih dahulu menentukan variabel-variabel yang akan diteliti,
menguraikan konsep masing-masing variabel yang akan diteliti, dan mengaitkan masalah
penelitian dengan konsep yang telah diuraikan secara skematis. (Link Materi terkait:
Tinjauan Pustaka, Kerangka Teori & Kerangka Konsep)

KERANGKA KONSEP: Kerangka Konsep merupakan pemilihan terhadap aspek-


aspek yang ada dalam Kerangka Teori yang berhubungan dengan masalah penelitian yang
spesifik. Kerangka Konsep dibuatdalam bentuk bagan yang merupakan satu rangkaian
konsep yang secara sistematis menggambarkan variabel-variabelpenelitian dan hubungan
antar variabel tersebut.

HIPOTESIS/PERTANYAAN PENELITIAN: Hipotesis dirumuskan dalam bentuk kalimat


pernyataan.Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang dihadapi
yang dapat diuji kebenarannya berdasarkan fakta empiris dan dapat memberikan arah
penelitian. Pada penulisan hipotesa, peneliti menentukan apakah akan menetapkan hipotesis
nol (H0) atau hipotesis alternatif (Ha), tergantung dari prediksi peneliti terhadap hasil
penelitian yang akan dilakukan. Jika penelitian yang akan dilakukan bersifat eksploratif
dan menggunakan desain kualitatif, maka pada bagian ini yang dirumuskan bukan hipotesis
tetapi Pertanyaan Penelitian yang akan dijawab oleh penelitian yang akan dilaksanakan.

JENIS DAN DESAIN PENELITIAN: Pada bagian ini menjelaskan tentang jenis penelitian
yang akan dilakukan yang dapat dibedakan atas penelitian kuantitatif berupa penelitian
deskriptif, analitik observasional, eksperimental maupun kualitatif. Bagian ini juga
menjelaskan tentang penggunaan rancangan penelitian yang disesuaikan dengan tujuan
penelitian hendak dicapai serta dapat dengan tepat membuktikan kebenaran hipotesis yang
telah ditegakkan. (Link Materi terkait: Rancangan Penelitian)

POPULASI, SAMPEL dan TEKNIK SAMPLING: Bagian ini memberikan penjelasan


tentang batasan populasi dan batasan sampel yang menjadi subyek penelitian yang kan
dilakukan. Bagian ini juga memberikan gambaran tentang teknik pengambilan sampel yang

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 27


digunakan serta jumlah atau besar sampel termasuk konsep dan formula atau rumus-rumus
yang digunakan dalam menentukan besar sampel. (Link Materi terkait: Populasi dan Sampel)

LOKASI & WAKTU PENELITIAN: Yang dimaksud lokasi disini adalah tempat dimana
penelitian akan dilakukan. Penetapan tempat penelitian atau lokasi penelitian ini harus
disertai dengan alasan pemilihan lokasi tersebut. Sedangkan waktu penelitian yang dimaksud
adalah perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk proses penelitian mulai dari persiapan,
pelaksanaan dan penyusunan laporan.

VARIABEL PENELITIAN: Bagian ini memberikan gambaran tentang variabel-variabel


yang diamati dalam penelitian yang akan dilakukan. Identifikasi terhadap variabel ini dapat
dikelompokkan menjadi 2, yaitu Variabel Bebas (Independent Variable) dan Variabel Terikat
(Dependent Variable). ==>Link materi terkait: Variabel Penelitian

Definisi Operasional Variabel: Definisi operasional yang dimaksudkan disini bukanlah


definisi teoritik. Definisi operasional variabel merupakan penjelasan yang dititikberatkan
pada pengertian tentang variabel yang dibuat oleh peneliti, yang dapat menjelaskan tentang
bagaimana variabel itu dapat diukur dan alat ukur apa yang bisa digunakan. Oleh karena itu
definisi operasional ini harusmemberikan implikasi praktis dalam proses pengumpulan data.
Tidak semua variabel perlu didefinisikan secara operasional, tetapi hanya variabel-variabel
yang mempunyai lebih dari satu cara pengukuran, variabel yang mempunyai cara pengukuran
tersendiri yang lebih spesifik, atau variabel yang alat ukurnya perlu dibuat dan dikembangkan
sendiri oleh peneliti. (Link Materi Terkait: Definisi Operasional Variabel)

Instrumen Penelitian: Bagian ini menguraikan tentang instrument atau alat ukur yang
digunakan dalam pengumpulan data. Instrumen yang berupa kuesioner yang belum baku,
harus dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan melakukan uji coba (Try Out). Pada
bagian ini perlu dijelaskan pula bagaimana uji coba tersebut dilakukan yang mencakup waktu
dilakukannya uji coba, subyek yang dilibatkan dalam uji coba, cara melakukan uji coba,
bagaimana analisis data hasil uji coba (pemilihan teknik Uji Validitas dan Reliabilitas) dan
bagaimana hasilnya.

Prosedur Pengumpulan Data: Bagian ini menguraikan tentang langkah-langkah yang


ditempuh dan teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data, serta jadwal waktu
pelaksanaan pengumpulan data yang akan dilakukan.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 28


Analisa Data: Pada bagian ini dapat diperoleh gambaran tentang bagaimana seorang peneliti
mengubah data hasil penelitian menjadi suatu informasi yang dapat digunakan untuk menarik
kesimpulan hasil penelitian tersebut. Bagian ini memberikan penjelasan tentang jenis analisis
statistik yang digunakan (Univariat, Bivariat, Multivariat, Analisis Spasial, dsb).Pemilihan
jenis analisa data sangat ditentukan oleh jenis data yang dikumpulkan dan tetap berorientasi
pada tujuan yang hendak dicapai atau hipotesis yang hendak diuji.

Etika Penelitian: Pada bagian ini peneliti menguraikan langkah-langkah atau prosedur yang
dilakukan dalam penelitian yang terkait dengan etika penelitian, terutama yang berkaitan
dengan perlindungan terhadap subyek penelitian dan kerahasiaan data dan informasi dari
responden (informed concent), termasuk perijinan untuk melaksanakan penelitian.

Hasil dan Pembahasan: Hasil penelitian merupakan bagian utama dalam laporan penelitian
yang dapat disajikan dalam bentuk teks, tabuler atau grafik dengan tujuan agar lebih jelas.
Bagian ini berisi penjelasan umum tentang Bab hasil penelitian, penjelasan tentang
karakteristik sampel termasuk data demografi bila diperlukan, penjelasan tentang hasil untuk
setiap tujuan, pertanyaan penelitian atau hipotesis penelitian, serta memberikan jawaban
untuk setiap hipotesis penelitian atau pertanyaan penelitian.

Selanjutnya pada bagian Pembahasan, peneliti memberikan penjelasan tentang makna hasil
penelitiannya secara rinci yang dikaitkan dengan tujuan penelitian.Pada bagian ini, peneliti
juga harus membandingkan hasil penelitian dengan hasil penelitian sebelumnya yang telah
dipublikasikan, apakah kemungkinan memperkuat, berlawanan, ataukah memberikan hasil
yang baru.Tiap pernyataan tersebut harus dijelaskan dan didukung oleh literatur.Isi
pembahasan ini sebaiknya minimal 50% dari jumlah halaman tinjauan pustaka.

Kesimpulan dan Saran: Pada bagian ini penulis menarik kesimpulan hasil pembahasan
penelitian secara sistematis yang berkaitan dengan upaya menjawab tujuan penelitian dan
menyampaikan saran-saran yang berkaitan dengan kesimpulan penelitian yang telah
dilakukan. Saran tersebut harus berkait dengan hasil penelitian yang dilakukan, dapat berupa
bentuk kebijakan, upaya praktis pemecahan masalah yang dihadapi dan aspek yang dapat
diteliti lebih lanjut.Saran tersebut hendaknya dibuat secara operasional sehingga bermanfaat
bagi mereka yang menerima saran tersebut.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 29


BAB IV

PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN

PENDAHULUAN

A. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

NO KOMPETENSI DASAR INDIKATOR

1. Perumusan masalah- a. Pengertian masalah penelitian


masalah Penelitian b. Merumuskan masalah penelitian yang benar

B. DESKRIPSI SINGKAT MATAKULIAH


Mata Kuliah metodologi penelitian dan biostatistika dasar ini memberikan
kemampuan kepada mahasiswa untuk memberikan kemampuan menyusun proposal
dan hasil penelitian dengan pokok bahasan : konsep penelitian, sistematika penelitian,
langkah-langkah penelitian, metode penelitian, mengkritik jurnal / proposal orang
lain, membuat proposal penelitian, seminar proposal, menyajikan data, melakukan
perhitungan uji statistik dan menyimpulkan penelitian pelayanan kebidanan pada
khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya dengan pokok bahasan
Perumusan masalah-masalah Penelitian

URAIAN MATERI

A. Pengertian

Stonner (1982) mengemukakan bahwa masalah-masalah dapat diketahui atau dicari apabila
terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan, antara apa yang direncanakan
dengan kenyataan, adanya pengaduan, dan kompetisi.

Menurut Suryabrata (1994 : 60) masalah merupakan kesenjangan antara harapan (das sollen)
dengan kenyataan (das sein), antara kebutuhan dengan yang tersedia, antara yang seharusnya
(what should be) dengan yang ada (what it is) (Suryabrata, 1994: 60).

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 30


Penelitian dimaksudkan untuk menutup kesenjangan (what can be). John Dewey dan
Kerlinger secara terpisah memberikan penjelasan mengenai masalah berupa kesulitan yang
dirasakan oleh orang awam maupun seorang peneliti.Kesulitan ini menghalangi tercapai
sebuah tujuan baik itu tujuan individu maupun sebuah kelompok. Masalah dalam penelitian
diekspresikan dalam bentuk kalimat tanya bukan kalimat pernyataan. Masalah dalam ini
selanjutnya dijawab melalui penelitian.

Sumber Masalah dalam Penelitian

Permasalahan dapat berasal dari berbagai sumber. Menurut James H. MacMillan dan
Schumacher (Hadjar, 1996 : 40 – 42), masalah dapat bersumber dari :

1. Observasi Masalah dalam penelitian dapat diangkat dari hasil observasi terhadap hubungan
tertentu yang belum memiliki penjelasan memadai dan cara-cara rutin yang dalam
melakukan suatu tindakan didasarkan atas otiritas atau tradisi.

2. Dedukasi dari teori Teori merupakan konsep-konsep yang masih berupa prinsip-prinsip
umum yang penerapannya belum dapat diketahui selama belum diuji secara empiris.
Penyelidikan terhadap masalah yang dianggap dari teori berguna untuk mendapatkan
penjelasan empiris praktik tentang teori.

3. Kepustakaan Hasil penelitian mungkin memberikan rekomendasi perlunya dilakukan


penelitian ulang (replikasi) baik dengan atau tanpa variasi.Replikasi dapat meningkatkan
validitas hasil penelitian dan kemampuan untuk digeneralisasikan lebih luas. Laporan
penelitian sering juga menyampaikan rekomendasi kepada peneliti lain tentang apa yang
perlu diteliti lebih lanjut. Hal ini juga menjadi sumber untuk menentukan masalah yang
menentukan masalah yang perlu diangkat untuk diteliti.

4. Masalah sosial Masalah sosial yang ada di sekitar kita atau yang baru menjadi berita
terhangat (hot news) dapat menjadi sumber masalah penelitian. Misalnya : Adanya
perkelahian antar sekolah menimbulkan berbagai dampak bagi sekolah dan warga
sekitar. Penggalakan program 3 M (menguras, mengubur, menimbun) sebagai upaya
pencegahan penyakit demam berdarah.Dalam pembuatan keputusan tertentu, sering

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 31


mendesak untuk dilakukan penelitian evaluatif.Hasil sangat diperlukan untuk dijadikan
dasar pembuatan keputusan lebih lanjut.

5. Pengalaman pribadi Pengalaman pribadi dapat menimbulkan masalah yang memerlukan


jawaban empiris untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam. (Purwanto
2010:109-111).

Masalah dalam penelitian pendidikan dapat diperoleh dari berbagai sumber yang terkait
dengan bidang pendidikan, Sukardi (2009:22-24) dalam, antara lain :

1. Pengalaman seseorang atau kelompok. Pengalaman orang yang telah lama menekuni
bidang profesi pendidikan dapat digunakan untuk membantu mencari permasalahan yang
signifikan diteliti.Contoh : pengalaman mengajar di kelas.

2. Lapangan tempat bekerja. Para peneliti dapat melihat secara langsung, mengalami dan
bertanya pada satu, dua, atau banyak orang dalam pekerjaannya. Seorang guru misalnya,
akan merasakan bahwa sekolah dan komponen yang berkaitan dengan tercapainya tujuan
sekolah dpat dijadikan sebagai sumber penelitian.

3. Laporan hasil penelitian. Dari hasil penelitian, yang biasanya dalam bentuk jurnal,
biasanya disamping ada hasil temuan yang baru juga ada kemungkinan penelitian yang
direkomendasikan.

4. Sumber-sumber yang berasal dari pengetahuan orang lain. Perkembangan ilmu


pengetahuan lain di luar bidang yang dikuasai seringkali memberikan pengaruh
munculnya permasalahan penelitian. Misalnya, gerakan reformasi yang muncul setelah
Orde Baru, ternyata telah memunculkan dan mempengaruhi sikap dan tuntutan para guru
untuk memperoleh gaji dan status profesi yang lebih baik.

Jenis-Jenis Masalah Dalam Penelitian

Masalah penelitian dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis menurut Sugiyono (1994 : 36-
39 dalam afidburhanuddin.wordpress.com, antara lain :

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 32


1. Permasalahan Deskriptif Permasalahan deskriptif merupakan permasalahan dengan
variabel mandiri baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri).
Dalam penelitian ini, peneliti tidak membuat perbandingan variabel yang satu pada
sampel yang lain, hanya mencari hubungan variabel yang satu dengan variabel yang lain.
Contoh permasalahan deskriptif : Seberapa tinggi minat baca dan lama belajar rata-rata
per hari murid-murid sekolah di Indonesia? Seberapa besar efektivitas model
pembelajaran jigsaw terhadap prestasi belajar siswa ?

2. Permasalahan Komparatif Permasalahan ini merupakan rumusan masalah penelitian yang


membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang
berbeda pada waktu yang berbeda.Contoh : Adakah perbedaan prestasi belajar antara
murid dari sekolah A dan sekolah B ? (variabel penelitian adalah prestasi belajar pada
dua sampel sekolah A dan sekolah B). Adakah perbedaan pemahaman terhadap materi
listrik antara siswa di sekolah formal dengan siswa homeschooling?

3. Permasalahan Asosiatif Merupakan rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan


hubungan antara dua variabel atau lebih. Terdapat tiga bentuk hubungan, yaitu :

a) Hubungan simetris adalah suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang
kebetulan munculnya bersama. Contoh perumusan masalahnya adalah sebagai
berikut: Adakah hubungan antara warna rambut dengan kemampuan memimpin
negara? Adakah hubungan antara jumlah payung yang terjual dengan jumlah murid
sekolah?

b) Hubungan kausal Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Jadi
disini ada variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan dependen
(dipengaruhi), contoh: Adakah pengaruh pendidikan orang tua terhadap prestasi
belajar anak? (pendidikan orang tua variabel independen dan prestasi belajar variabel
dependen). Seberapa besar pengaruh kurikulum, media pendidikan dan kualitas guru
terhadap kualitas SDM yang dihasilkan dari suatu sekolah? (kurikulum, media, dan
kualitas guru sebagai variabel independen dan kualitas SDM sebagai variabel
dependen).

c) Hubungan interaktif/ resiprocal/ timbal balik Hubungan interaktif adalah hubungan


yang saling mempengaruhi. Di sini tidak diketahui mana variabel independen dan
dependen, contoh: Hubungan antara motivasi dan prestasi belajar anak SD di
Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 33
kecamatan A. Di sini dapat dinyatakan motivasi mempengaruhi prestasi tetapi juga
prestasi dapat mempengaruhi motivasi. Hubungan antara makan di pagi hari dengan
kecerdasan siswa.

Kriteria Masalah Dalam Penelitian

Ada tiga kriteria untuk menentukan permasalahan yang baik dan pernyataan masalah yang
baik (Kerlinger, 2006 : 29-30), yaitu :

1. Masalah harus mengungkapkan suatu hubungan antara dua variabel atau lebih. Dengan
demikian, masalah-masalah itu mengajukan pernyataan-pernyataan seperti : Apakah A
terkait dengan B ? Apakah motivasi belajar mempengaruhi hasil belajar ?

2. Masalah harus dinyatakan secara jelas dan tidak ambigu dalam bentuk pertanyaan.

3. Masalah dan pernyataan masalah harus dirumuskan dengan cara tertentu yang menyiratkan
adanya pengujian yang empiris.

Cara Mengidentifikasi Permasalahan

Mengidentifikasi masalah penelitian dilakukan untuk menentukan masalah mana yang perlu
segera dicari penyelesaiannya. Mengidentifikasi permasalahan-permasalahan dapat dilakukan
dengan cara mengelompokkan sekaligus memetakan masalah-masalah tersebut secara
sistematis berdasarkan keahlian bidang peneliti.

Menurut Ahmad nursanto dalam mengidentifikasi masalah perlu memperhatikan hal-hal


sebagai berikut :

Esensial, masalah yang akan diidentifikasi menduduki urutan paling penting diantara
masalah-masalah yang ada.

Urgen, masalah yang akan dipecahkan mendesak untuk dicari penyelesaiannya. Masalah
mempunyai manfaat apabila dipecahkan.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 34


BAB V

MERUMUSKAN TUJUAN PENELITIAN

PENDAHULUAN

A. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

NO KOMPETENSI DASAR INDIKATOR


Dapat merumuskan tujuan Pentingnya tujuan penelitian
1. penelitian Cara merumuskan tujuan penelitian

B. DESKRIPSI SINGKAT MATAKULIAH


Mata Kuliah metodologi penelitian dan biostatistika dasarini memberikan
kemampuan kepada mahasiswa untuk memberikan kemampuan menyusun proposal
dan hasil penelitian dengan pokok bahasan : konsep penelitian, sistematika penelitian,
langkah-langkah penelitian, metode penelitian, mengkritik jurnal / proposal orang
lain, membuat proposal penelitian, seminar proposal, menyajikan data, melakukan
perhitungan uji statistik dan menyimpulkan penelitian pelayanan kebidanan pada
khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya dengan pokok bahasan
merumuskan tujuan penelitian

URAIAN MATERI

Cara Merumuskan Tujuan Penelitian

Setiap melakukan penelitian pasti ada tujuan yang hendak dicapai. Beberapa tujuan
penelitian, antara lain, sebagai berikut.

a. Memperoleh Informasi Baru

Jika fakta atau teori tersebut baru diungkap dan disusun secara sistematis oleh seorang
peneliti, dapat dikatakan bahwa data tersebut baru, contohnya, teori relativitas Einstein,
teori geosentris, dan teoriteori yang ditemukan peneliti untuk pertama kalinya.

b Mengembangkan dan Menjelaskan Teori yang Sudah Ada

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 35


Ketika para peneliti berusaha memecahkan masalah, perlu dipertimbangkan agar tidak
terjadi pengulangan kerja atau penggunaan tenaga yang sia-sia. Hal ini dapat dilakukan
dengan cara mencari fakta-fakta penunjang yang dapat digali dari sumber-sumber hasil
penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti terdahulu, dihubungkan dengan kegiatan
penelitian saat ini, kemudian dilakukan pendalaman terhadap permasalahan yang hendak
dipecahkan sehingga akan diperoleh perkembangan wawasan pengetahuan.

Merumuskan Masalah

Pertimbangan untuk memilih atau menentukan apakah suatu masalah layak dan sesuai untuk
diteliti pada dasarnya dilakukan dari dua arah.

a. Pertimbangan dari Arah Masalahnya

Dalam hal ini, pertimbangan dibuat atas dasar sejauh manapenelitian mengenai masalah
tersebutakan memberi sumbangan kepada dua hal berikut ini:

1)pengembangan teori dalam bidang yang berhubungan dengan dasar


teoritis penelitian;

2) pemecahan masalah praktis. Ini berarti bahwa kelayakan suatu


masalah untuk diteliti sifatnya relatif, tidak ada kriteria, dan
keputusan tergantung kepada ketajaman calon peneliti untuk
melakukan evaluasi secara kritis, menyeluruh, dan menjangkau ke depan.

b. Pertimbangan dari Arah Calon Peneliti

Pertimbangan kelayakan sebuah masalah dalam penelitian yang didasarkan pada arah
calon peneliti dibuat atas dasar empat hal, yaitu sebagai berikut.

1) Biaya yang cukup untuk melakukan penelitian.

2) Waktu yang dapat digunakan.

Seorang siswa yang waktunya terbatas sebaiknya tidak melakukan penelitian yang
memerlukan waktu bertahun-tahun.

3) Bekal kemampuan teoritis.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 36


Mampukah peneliti melakukan penelitian tersebut?Misalnya, penelitian tentang
makhluk hidup yang diberi perlakuan radioaktif.Jika peneliti belum pernah belajar
radioaktif, tentu akan sulit mengerjakan penelitian tersebut.

4) Alat-alat dan perlengkapan yang tersedia. Seorang siswa yang tidak


memiliki peralatan laboratorium yang memadai sebaiknya tidak
melakukan penelitian yang memerlukan alat dan perlengkapan yang
rumit dan tidak terjangkau.Jadi, setiap calon peneliti perlu menanyakan kepada diri
sendiri, ”Apakah masalah yang hendak diteliti sesuai baginya?” Jika tidak, sebaiknya
dipilih masalah lain atau masalah itu dimodifikasi sehingga menjadi sesuai bagi

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 37


BAB I

KONSEP DASAR ASUHAN MASA NIFAS

PENDAHULUAN

A. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

NO KOMPETENSI DASAR INDIKATOR


Dapat mengembangkan a. Kerangka teoritis
1. kerangka konsep penelitian b. Kerangka konsep

B. DESKRIPSI SINGKAT MATAKULIAH


Mata Kuliah metodologi penelitian dan biostatistika dasarini memberikan
kemampuan kepada mahasiswa untuk memberikan kemampuan menyusun proposal
dan hasil penelitian dengan pokok bahasan : konsep penelitian, sistematika penelitian,
langkah-langkah penelitian, metode penelitian, mengkritik jurnal / proposal orang
lain, membuat proposal penelitian, seminar proposal, menyajikan data, melakukan
perhitungan uji statistik dan menyimpulkan penelitian pelayanan kebidanan pada
khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya dengan pokok bahasan
mengembangkan kerangka konsep penelitian

URAIAN MATERI

Pengertian Kerangka Teori Dan Konsep Menurut Beberapa Ahli

Kerangka Teori dimaksudkan untuk memberikan gambaran atau batasan – batasan tentang
teori – teori yang dipakai sebagai landasan penelitian yang akan dilakukan. Menurut kamus
Bahasa Indonesia Poerwadarminta, TEORI adalah “Pendapat yang dikemukakan sebagai
suatu keterangan mengenai sesuatu peristiwa (kejadian), dan asas – asas, hukum – hukum
umum yang menjadi dasar sesuatu kesenian atau ilmu pengetahuan; serta pendapat cara –
cara dan aturan – aturan untuk melakukan sesuatu”.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 38


Theory is a set of interelated construct or concept, definition,andproposition that presents a
systematic view of phenomena by specifying relations among variables with the purpose of
explanation and predicting the phenomena.

Teori adalah satu set konstruk, konsep, definisi, dan proposisi yang saling berhubungan, yang
menyajikan suatu pandangan yang sistematik mengenai suatu fenomena dengan
menspesifikkan hubungan antar variabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi
fenomena;

Teori merupakan unsur informasi ilmiah yang paling luas bidang cakupnya.Melalui unsur
metodologis, teori dapat diubah menjadi hipotesa yaitu informasi ilmiah yang lebih spesifik
dan lebih sempit bidang cakupannya.Hipotesa dapat diubah menjadi data dengan
menginterpretasikan hipotesa tersebut menjadi sesuatu yang bisa diamati, dengan penyusunan
instrument (alat ukur) termasuk skala dan penentuan sample. Hasil observasi atau data ini
merupakan informasi ilmiah yang sangat spesifik dan hanya menyangkut sample tertentu dan
variable tertentu.

Dengan dikemukakannya teori dalam kerangka teori suatu proposal penelitian, akan sangat
membantu peneliti dan orang lain untuk lebih memperjelas sasaran dan tujuan penelitian yang
dilakukan.

Peranan Kerangka Teori dlm Penelitian :


• Memberi kerangka pemikiran bagi penelitian;
• Membantu peneliti dalam menyusun hipotesis penelitian;
• Memberikan landasan yang kuat dalam menjelaskan dan
memaknai data dan fakta;
• Mendudukkan permaslahan penelitian secara logis dan runtut;
• Membantu dalam membangun ide-ide yg diperoleh dari
hasil penelitian;
• Memberikan acuan dan menunjukkan jalan dalam membangun
kerangka pemikiran;
• Memberikan dasar-dasar konseptual dlm merumuskan difinisi
operasional;
• Membantu mendudukkan scr tepat dan rasional dalam
mensitesis dan mengintegrasikan gagasannya

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 39


Prosedur Penyusunan Kerangka Teori :
• Melakukan kajian pustaka;
• Melakukan sintesa atau modifikasi antara teori yg satu dg yg lain;
• Menyusun sendiri kerangka pemikiran secara logis, runtut, dan rasional;

Kerangka Konsep juga berperan untuk mengidentifikasi jaringan hubungan antar variable
yang dianggap penting bagi masalah yang sedang diteliti. Dengan demikian, sangatlah
penting untuk memahami apa arti variable dan apa saja jenis variable yang ada yang
berkaitan dengan konsep dari masalah yang ditelit tersebut.

Berdasarkan KERANGKA KONSEP tersebut, ada 4 (empat) konsep utama, yaitu : Konsep
tentang Faktor Predisposisi, Faktor Pendukung dan Faktor Pendorong terjadinya perilaku
serta konsep tentang Perilaku Pemberian ASI. Setiap konsep mempunyai variable sebagai
indikasi pengukuran dari konsep itu sendiri.Pengukuran terhadap Factor Predisposisi
dilakukan melalui variable tingkat pendidikan dan pengetahuan. Factor Pendukung diukur
dengan vaiabel tingkat pendapatan keluarga dan ketersediaan waktu, dan FactorPendorong
diamati melalui variable sikap ibu dan sikap petugas kesehatan. Sedangkan Perilaku
Pemberia ASI (sebagai Variabel Dependent) dapat diukur melalui variable Praktek
Pemberian ASI/Menyusui.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 40


BAB VII

KONSEP DASAR ASUHAN MASA NIFAS

PENDAHULUAN

A. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

NO KOMPETENSI DASAR INDIKATOR

1. Penelitian kebidanan dalam a. Pengertian variable dan konsep


perkembangan ilmu dan b. Jenis-jenis variable
tehnologi dibidang c. Hubungan variable
kebidanan d. Definisi operasional variable

B. DESKRIPSI SINGKAT MATAKULIAH


Mata Kuliah metodologi penelitian dan biostatistika dasarini memberikan
kemampuan kepada mahasiswa untuk memberikan kemampuan menyusun proposal
dan hasil penelitian dengan pokok bahasan : konsep penelitian, sistematika penelitian,
langkah-langkah penelitian, metode penelitian, mengkritik jurnal / proposal orang
lain, membuat proposal penelitian, seminar proposal, menyajikan data, melakukan
perhitungan uji statistik dan menyimpulkan penelitian pelayanan kebidanan pada
khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya dengan pokok bahasan Penelitian
kebidanan dalam perkembangan ilmu dan tehnologi dibidang kebidanan

URAIAN MATERI

Pengertian Variabel Penelitian

Variabel merupakan sesuatu yang menjadi objek pengamatan penelitian, sering juga disebut
sebagai faktor yang berperan dalam penelitian atau gejala yang akan diteliti.

Menurut Kerlinger (2006: 49), variabel adalah konstruk atau sifat yang akan dipelajari yang
mempunyai nilai yang bervariasi. Kerlinger juga mengatakan bahwa variabel adalah
simbol/lambang yang padanya kita letakan sebarang nilai atau bilangan.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 41


Menurut Sugiyono (2009: 60), variabel adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut,
kemudian ditarik kesimpulannya.

Selanjutnya menurut Suharsimi Arikunto (1998: 99), variabel penelitian adalah objek
penelitian atau apa yang menjadi perhatian suatu titik perhatian suatu penelitian.

Bertolak dari pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa variabel penelitian
adalah suatu atribut dan sifat atau nilai orang, faktor, perlakuan terhadap obyek atau kegiatan
yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
ditarik kesimpulannya.

Jenis-Jenis Variabel Penelitian

Variabel dapat dikelompokkan menurut beragam cara, namun terdapat tiga jenis tiga jenis
pengelompokkan variabel yang sangat penting dan mendapatkan penekanan. Karlinger,
(2006: 58) antara lain:

Variabel bebas dan variabel terikat Variabel bebas sering disebut independent, variabel
stimulus, prediktor, antecedent.

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya
atau timbulnya variabel terikat.

Variabel terikat atau dependen atau disebut variabel output, kriteria, konsekuen, adalah
variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel
terikat tidak dimanipulasi, melainkan diamati variasinya sebagai hasil yang dipradugakan
berasal dari variabel bebas.

Biasanya variabel terikat adalah kondisi yang hendak kita jelaskan.Dalam eksperimen-
eksperimen, variabel bebas adalah variabel yang dimanipulasikan (“dimainkan”) oleh
pembuat eksperimen.Misalnya, manakala peneliti di bidang pendidikan mengkaji akibat dari
berbagai metode pengajaran, peneliti dapat memanipulasi metode sebagai (variabel bebasnya)
dengan mengggunakan berbagai metode.Dalam penelitian yang bersifat tidak eksperimental,
yang dijadikan variabel bebas ialah yang “secara logis” menimbulkan akibat tertentu terhadap
suatu variabel terikat.Contohnya, dalam penelitian tentang merokok dan kanker paru-paru,
merokok (yang memang telah dilakukan oleh banyak subyek) merupakan variable bebas,

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 42


sementara kangker paru-paru merupakan akibat dari merokok atau sebagai variabel
terikat.Jadi variabel bebas adalah variabel penyebab, sadangkan variabel terikat yang menjadi
akibatnya.Dalam bidang pendidikan variabel terikat yang paling lazim adalah, misalnya
prestasi, atau “hasil belajar”. Untuk mengetahui prestasi belajar peserta didik, peneliti
memiliki sejumlah besar kemungkinan variabel bebasnya, antara lain: kecerdasan, kelas
sosial, metode pembelajaran, tipe kepribadian, tipe motivasi (imbalan/hadiah dan hukuman),
sikap terhadap sekolah, suasana kelas dan seterusnya.

Variabel aktif dan variabel atribut

Variabel aktif adalah variabel bebas yang dimanipulasi.Sebarang variabel yang


dimanipulasikan merupakan variabel aktif. Misalnya peneliti memberikan penguatan positif
untuk jenis kelakuan tertentu dan melakukan hal yang berbeda terhadap kelompok lain atau
memberikan instruksi yang berlainan pada kedua kelompok tersebut atau peneliti
menggunakan metode pembelajaran yang berbeda, atau memberikan imbalan kepada subyek-
subyek dalam kelompok lain, atau menciptakan kecemasan dengan instruksi-instruksi yang
meresahkan, maka peneliti secara aktif memanipulasi variabel metode, penguatan, dan
kecemasan. Variabel atribut adalah yang tidak dapat dimanipulasi atau kata lain variabel
yang sudah melekat dan merupakan ciri dari subyek penelitian. Misalnya: Intelegensi, bakat
jenis kelamin, status sosial-ekonomi, sikap, daerah geografis suatu wilayah, dan seterusnya.
Ketika kita melakukan penelitian atau kajian subyek-subyek penelitian kita sudah membawa
variabel-variabel (atribut-atribut) itu.Yang membentuk individu atau subyek penelitian
tersebut adalah lingkungan, keturunan, dan situasi-situasi lainnya.Perbedaan variabel aktif
dan variabel atribut ini bersifat umum.Akan tetapi variabel atribut dapat pula menjadi
variabel aktif. Ciri ini memungkinkan untuk penelitian relasi “yang sama” dengan cara
berbeda. Misalnya kita dapat mengukur kecemasan subyek.Jelas bahwa dalam hal ini
kecemasan merupakan atribut.Akan tetapi kita dapat pula memenipulasi kecemasan. Kita
dapat menumbuhkan kecemasan dengan tingkat yang berbeda, dengan mengatakan kepada
subyek-subyek yang termasuk dalam kelompok eksperimen (kelompok yang diteliti) bahwa
yang harus mereka kerjakan sulit, maka tingkat kecerdasan mereka akan diukur dan masa
depan mereka tergantung pada skor tes itu. Sedangkan kepada subyek lainya dipesan bahwa
kerja sebaik-baiknya tetapi santai saja; hasil tes tidak terlalu penting dan sama sekali tidak
mempengaruhi hari depan mereka.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 43


Variabel kontinu dan variabel kategori

Variabel kontinu memiliki sehimpunan harga yang teratur dalam suatu cakupan (range)
tertentu. Arti defenisi ini ialah: Harga-harga suatu variabel kontinu mencerminkan setidaknya
suatu urutan peringkat. Harga yang lebih besar untuk variabel itu berarti terdapatnya lebih
banyak sifat tertentu (sifat yang dikaji) yang dikandungnya, dibandingkan dengan variabel
dengan harga yang lebih murah.

Misalnya, harga-harga yang diperoleh dari suatu skala untuk mengukur ketergantungan
(depedensi) mengungkapkan ketergantungan dengan kadar yang berbeda-beda, yakni mulai
dari tinggi, menengah/sedang, sampai rendah. Ukuran-ukuran kontinu dalam penggunaan
nyata termuat dalam suatu range, dan tiap individu mendapatkan skor yang ada dalam range
tersebut. Misalnya suatu skala untuk mengukur ketergantungan mungkin memiliki range dari
1 hingga 7. Secara teoritis terdapat himpunan harga atau nilai yang tak berhingga banyaknya
dalam range itu. Demikianlah maka skor seseorang individu mungkin sekali adalah 4,72 dan
bukan 4 atau 5.

Variabel kategori variabel yang berkaitan dengan suatu jenis pengukuran yang dinamakan
pengukuran nominal.Dalam pengukuran nominal terdapat dua himpunan bagian (subset) atau
lebih yang merupakan bagian dari himpunan (set) obyek yang diukur.Individu-individu
dikategorisasikan berdasarkan pemilikan ciri-ciri tertentu yang merupakan penentu suatu
himpunan bagian.Jadi persoalah variabel ini adalah antara “ya” atau “tidak”. Contoh paling
mudah adalah variabel kategori dikotomis: jenis kelamin, republik-demokrat, kulit putih-kulit
hitam, dan sebagainya. Politomi, yakni pilihan (partisi) cukup lazim terdapat khususnya
dalam sosiologi dan ilmu ekonomi: anutan agama, pendidikan, kewarganegaraan, pilihan
pekerjaan, dan seterusnya. Syarat-syarat yang dituntut variabel kategori dan variabel nominal,
adalah semua anggota himpunan bagain dipandang sama. Misalnya, kalau variabel itu adalah
anutan agama, semua penganut protestan adalah sama; semua penganut katolik adalah sama;
dan semua penganut “lain-lain” pun sama. Jika seorang agama katolik, dia dimasukan dalam
kategori “katolik” dan diberi angka (nomor) “1” dalam katergori tersebut. Variabel ini
bersifat “demokratis” artinya, tidak mengenal tatanan peringkat atau ungkapan “lebih besar”
maupun “lebih kecil” daripada di antara kategorinya. Semua anggota kategori memiliki nilai
atau harga sama, yakni: Ungkapan variabel kualitatif kadang-kadang digunakan untuk
menunjuk variabel-variabel kategori ini, khusunya dikotomi, barangkali juga untuk
mengkontraskanya dengan variabel kuatitatif (variabel kontinu). Penggunaan ungkapan itu
Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 44
mencerminkan adanya gagasan yang agak menyimpang mengenai hakikat variabel.Variabel
selalu dapat dikuantisasikan; jika tidak demikian, tentunya bukanlah variabel.Sebelummnya
dijelaskan bahwa konstruk adalah hal-hal yang tak teramati (non observable) sedangkan
defenisi variabel secara operasional adalah hal-hal yang teramati (observable).

Kerlinger (2006: 66) menambahkan bahwa hal yang dimaksud adalah “variabel laten”.
Variabel laten adalah suatu utuhan obyek (entity) tak teramati yang diduga melandasi
variabel amatan. Peneliti cenderung lebih berminat pada variabel-variabel laten, daripada
relasi antara variabel-variabel amatan; sebab peneliti berupaya menjelaskan fenomena dan
relasinya. Istilah-istilah lain untuk mengungkapkan gagasan yang kira-kira sama misalnya
konstruk disebut dengan variabel intervensi (intervening variabel). Variabel intervensi adalah
istilah yang dibuat untuk menunjuk pada proses-proses psikologis yang internal dan tak
teramati, yang pada gilirannya mengacu pada perilaku.suatu variabel intervensi ini “hanya
ada di otak peneliti” tidak dapat dilihat, didengar, atau diraba; disimpulkan dari perilaku.

Kegunaan dan Kriteria Variabel Penelitian

1. Kegunaan Variabel Untuk mempersiapkan alat dan metode pengumpulan data Untuk
mempersiapkan metode analisis/pengolahan data Untuk pengujuian hipotesis

2.Variabel penelitian yang baik Relevan dengan tujuan penelitian Dapat diamati dan dapat
diukur Dalam suatu penelitian, variabel perlu diidentifikasi, diklasifikasi, dan
didefenisikan secara operasional dengan jelas dan tegas agar tidak menimbulkan kesalahan
dalam pengumpulan dan pengolahan data serta dalam pengujian hipotesis.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 45


BAB VIII

MERUMUSKAN HIPOTESIS PENELITIAN

PENDAHULUAN

A. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

NO KOMPETENSI DASAR INDIKATOR


Dapat merumuskan a. Pengertian hipotesis
1. hipotesis penelitian b. Ciri hipotesis yang baik
c. Jenis-jenis hipotesis

B. DESKRIPSI SINGKAT MATAKULIAH


Mata Kuliah metodologi penelitian dan biostatistika dasarini memberikan
kemampuan kepada mahasiswa untuk memberikan kemampuan menyusun proposal
dan hasil penelitian dengan pokok bahasan : konsep penelitian, sistematika penelitian,
langkah-langkah penelitian, metode penelitian, mengkritik jurnal / proposal orang
lain, membuat proposal penelitian, seminar proposal, menyajikan data, melakukan
perhitungan uji statistik dan menyimpulkan penelitian pelayanan kebidanan pada
khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya dengan pokok bahasan Dapat
merumuskan hipotesis penelitian

URAIAN MATERI

Teknik dan Cara Penyusunan Hipotesis Penelitian

Definisi Hipotesis

Margono (2004: 80) menyatakan bahwa hipotesis berasal dari perkataan hipo (hypo) dan tesis
(thesis).Hipo berarti kurang dari, sedangkan tesis berarti pendapat.Jadi hipotesis adalah suatu
pendapat atau kesimpulan yang sifatnya masih sementara.Hipotesis merupakan suatu
kemungkinan jawaban dari masalah yang diajukan. Hipotesis timbul sebagai dugaan yang
bijaksana dari peneliti atau diturunkan (deduced) dari teori yang telah ada.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 46


Selain itu, Sugiyono (2013: 96) menyatakan bahwa hipotesis merupakan jawaban sementara
terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah dinyatakan dalam bentuk
kalimat pertanyaan. Hal tersebut juga didukung oleh pertanyaan

Kerlinger (2006: 30), hipotesis adalah pernyataan dugaan (conjectural) tentang hubungan
antara dua variabel atau lebih. Hipotesis selalu mengambil bentuk kalimat pernyataan
(declarative) dan menghubungkan secara umum maupun khusus-variabel yang satu dengan
variabel yang lain.

Teknik dan Cara Penyusunan Hipotesis

Penelitian Berdasarkan pendapat ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis adalah
pernyataan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih yang dinyatakan
berdasarkan pemikiran peneliti atau diturunkan dari teori yang telah ada.

Ciri-ciri Hipotesis Penelitian yang Baik

Pernyataan hipotesis yang baik memiliki beberapa kriteria.Berikut ini dua kriteria pernyataan
hipotesis baik (Kerlinger, 2006: 30).

Hipotesis adalah pernyataan tetang relasi antara variabel-variabel .

Hipotesis mengandung implikasi-implikasi yang jelas untuk pengujian hubungan-hubungan


yang dinyatakan tersebut.

Bersadarkan dua kriteria tersebut disimpulkan bahwa pernyataan hipotesis mengandung dua
variabel atau lebih yang dapat diukur serta menunjukkan secara jelas dan tegas cara variabel-
variabel tersebut berhubungan (Kerlinger, 2006 : 30). Selain itu, Nazir (2005: 152) juga
mengemukakan ciri-ciri hipotesis yang baik, yaitu: Hipotesis harus menyatakan hubungan
antar variabel Hipotesis harus sesuai dengan fakta Hipotesis harus berhubungan dengan ilmu
dan sesuai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan Hipotesis harus dapat diuji dengan
nalar ataupun dengan alat-alat statistika Hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk sederhana
dan terbatas untuk mengurangi timbulnya kesalahpahaman pengertian

Hipotesis harus bisa menerangkan hubungan fakta-fakta dan dapat dikaitkan dengan teknik
pengujian Secara umum, berdasarkan pendapat ahli tersebut, hipotesis yang baik harus

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 47


menyatakan hubungan antar variabel, sesuai dengan fakta dan ilmu pengetahuan, harus
masuk akal dan dapat diuji.

Jenis-jenis Hipotesis

Penelitian Hipotesis dapat diklasifikasikan berdasarkan rumusannya dan proses


pemerolehannya.

a. Ditinjau dari rumusannya, hipotesis dibedakan menjadi : Hipoteis kerja, yaitu hipotesis
sintesis dari hasil kajian teoritis. Hipotesis kerja biasanya disingkat H1 atau Ha.Hipotesis
nol atau hipotesis statistik, merupakan lawan dari hipotesis kerjadan sering disingkat Ho.
Ada kalanya peneliti merumuskan hipotesis dalam bentuk H1 dan Ho untuk satu
permasalahan penelitian. Hal ini didasari atas pertimbangan bahwa Ho sengaja
dipersiapkan untuk ditolak sedangkan H1 dipersiapkan untuk diterima (Sudarwan Danim
dan Darwis, 2003 : 171).

b. Ditinjau dari proses pemerolehannya, hipotesis dibedakan menjadi Hipotesis induktif, yaitu
hipotesis yang dirumuskan berdasarkan pengamatan untuk menghasilkan teori baru (pada
penelitian kualitatif). Hipotesis deduktif, merupakan hipotesis yang dirumuskan
berdasarkan teori ilmiah yang telah ada (pada penelitian kuantitatif).Hubungan antara
hipotesis dengan observasi dan teori ilmiah pada hipotesis induktif dan deduktif dapat
divisualisasikan sebagai berikut (Trochim, 2005).

Bentuk Rumusan Hipotesis Penelitian

Bentuk-bentuk hipotesis penelitian sangat terkait dengan rumusan masalah penelitian. Bila
dilihat dari tingkat eksplanasinya, maka bentuk rumusan masalah penelitian ada tiga yaitu:
rumusan masalah deskriptif (variabel mandiri), komparataif (perbandingan) dan asosiatif
(hubungan). Oleh karena itu bentuk hipotesis penelitian juga ada tiga macam yaitu hipotesis
deskriptif, komparatif, dan asosiatif (Sugiyono, 2013: 100).

a. Hipotesis Deskriptif Menurut Sugiyono (2013: 100) hipotesis deskriptif merupakan


jawaban sementara terhadap masalah deskriptif, yaitu yang berkenaan dengan variabel
mandiri. Contoh: Rumusan masalah deskriptif: Berapa lama daya tahan berdiri karyawan
toko lulusan SMK? Hipotesis deskriptif: Daya tahan berdiri karyawan toko lulusan SMK
sama dengan 6 jam/hari (H0). Hipotesis alternatifnya (H¬a) daya tahan karyawan toko

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 48


lulusan SMK ≠ 6 jam/hari. “tidak sama dengan” ini bisa berarti lebih besar atau lebih
kecil dari 6 jam/hari. Hipotesis statistik H0 : µ = 6 jam/hari Ha : µ ≠ 6 jam/hari µ : adalah
nilai rata-rata populasi yang dihipotesiskan atau ditaksir melalui sampel.

b. Hipotesis Komparatif Hipotesis komparatif merupakan jawaban sementara terhadap


rumusan masalah komparatif (Sugiyono, 2013: 102). Pada rumusan ini variabelnya sama
tetapi populasinya atau sampelnya yang berbeda, atau keadaan itu terjadi pada waktu
yang berbeda. Contoh: Rumusan masalah komparatif: Bagaimanakah prestasi belajar
mahasiswa perguruan tinggi X bila dibandingkan dengan perguruan tinggi Y?

Hipotesis komparatif: Berdasarkan rumusan masalah komparatif tersebut dapat


dikemukakan tiga model hipotesis nol dan alternatif sebagai berikut: Hipotesis nol:

1) H0 : Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar mahasiswa perguruan tinggi X dengan


perguruan tinggi Y; atau terdapat persamaan prestasi belajar antara mahasiswa
perguruan tinggi X dan Y
2) H0 : Prestasi belajar mahasiswa Perguruan tinggi X lebih besar atau sama dengan (≥)
perguruan tinggi Y (“lebih besar atau sama dengan” = paling sedikit)

c. H0 : Prestasi belajar mahasiswa perguruan tinggi X lebih kecil atau sama dengan (≤)
perguruan tinggi Y (“lebih kecil atau sama dengan” = paling besar)

Hipotesis alternatif:

1) Ha : Prestasi belajar mahasiswa perguruan tinggi x lebih besar (atau lebih kecil ) dari
perguruan Y.
2) Ha : Prestasi belajar mahasiswa perguruan tinggi X lebih kecil daripada (<)perguruan
tinggi Y.
3) Ha : Prestasi belajar mahasiswa Perguruan tinggi X lebih besar daripada (>)
perguruan tinggi Y.

Hipotesis statistik

1) H0 : µ1 = µ2 Ha : µ1 ≠ µ2
2) H0 : µ1 ≥ µ2 Ha : µ1 < µ2
3) H0 : µ1 ≤ µ2 Ha : µ1 > µ2

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 49


d. Hipotesis Asosiatif Hipotesis asosiatif menurut Sugiyono (2013: 103) adalah jawaban
sementara terhadap rumusan masalah asosiatif, yaitu menanyakan hubungan antara dua
variabel atau lebih. Contoh: Rumusan Masalah Asosiatif: Adakah hubungan yang positif
dan signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan iklim kerja sekolah?
Hipotesis Penelitian: Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara
kepemimpinan kepala sekolah dengan iklim kerja sekolah. Hipotesis statistik: H0 : p = 0,
0 berarti tidak ada hubungan. Ha : p ≠ 0, “tidak sama dengan nol” berarti lebih besar atau
kurang dari nol ada hubungan. P = nilai korelasi dalam formulasi yang dihipotesiskan.

Fungsi dan Peranan Hipotesis

Dalam penelitian kuantitatif, keberadaan hipotesis dipandang sebagai komponen penting


dalam penelitian. Furchan (2004: 115) mengungkapkan kegunaan hipotesis penelitian, yaitu:
Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan
perluasan pengetahuan dalam suatu bidang. Hipotesis memberikan suatu pernyataan
hubungan yang berlangsung dapat diuji dalam penelitian Hipotesis memberikan arah kepada
penelitian Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan.Hal-
hal yang Perlu Dilakukan untuk Mengkaji Hipotesis Nazir (2005: 154) menyatakan bahwa
menemukan suatu hipotesis merupakan kemampuan peneliti dalam mengaitkan masalah-
masalah dengan variabel-variabel yang dapat diukur dengan menggunakan suatu kerangka
analisis yang dibentuknya.Peneliti harus memfokuskan permasalahan sehingga hubungan-
hubungan yang terjadi dapat diterka. Menurut Nazir (2005: 154) dalam menggali hipotesis
penelitian, peneliti harus: Mempunyai banyak informasi tentang masalah yang ingin
dipecahkan dengan jalan banyak membaca literatur-literatur yang ada hubungannya dengan
penelitian yang sedang dilaksanakan; Mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan
tentang tempat-tempat, objek-objek serta hal-hal yang berhubungan satu sama lain dalam
fenomena yang sedang diselidiki; Mempunyai kemampuan untuk menghubungkan suatu
keadaan dengan keadaan lainnya yang sesuai dengan kerangka teori ilmu dan bidang yang
bersangkutan.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 50


BAB IX

JENIS PENELITIAN

PENDAHULUAN

A. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

NO KOMPETENSI DASAR INDIKATOR

1. Jenis Penelitian a. Menurut tujuan


b. menurut sifat dasar
c. Menurut pendekatan
d. Menurut metode

B. DESKRIPSI SINGKAT MATAKULIAH


Mata Kuliah metodologi penelitian dan biostatistika dasarini memberikan
kemampuan kepada mahasiswa untuk memberikan kemampuan menyusun proposal
dan hasil penelitian dengan pokok bahasan : konsep penelitian, sistematika penelitian,
langkah-langkah penelitian, metode penelitian, mengkritik jurnal / proposal orang
lain, membuat proposal penelitian, seminar proposal, menyajikan data, melakukan
perhitungan uji statistik dan menyimpulkan penelitian pelayanan kebidanan pada
khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya dengan pokok bahasan jenis
penelitian

URAIAN MATERI

JENIS-JENIS PENELITIAN

BERDASAR FUNGSINYA

Penelitian Dasar

Penelitian dasar (basic research) disebut juga penelitian murni (pure research) atau
penelitian pokok (fundamental research) adalah penelitianyang diperuntukan bagi
pengembangan suatu ilmu pengetahuan sertadiarahkan pada pengembangan teori-teori yang
ada atau menemukan teoribaru.Peneliti yang melakukan penelitian dasar memiliki
tujuanmengembangkan ilmu pengetahuan tanpa memikirkan pemanfaatan secaralangsung
Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 51
dari hasil penelitian tersebut. Penelitian dasar justru memberikansumbangan besar terhadap
pengembangan serta pengujian teori-teori yangakan mendasari penelitian terapan.

Penelitian dasar lebih diarahkan untuk mengetahui, menjelaskan, dan memprediksikan


fenomena-fenomena alam dan sosial. Hasil penelitian dasar mungkin belum dapat
dimanfaatkan secara langsung akan tetapi sangat berguna untuk kehidupan yang lebih baik.
Tujuan penelitian dasar adalah untuk menambah pengetahuan dengan prinsip-prinsip dasar,
hukum-hukum ilmiah, serta untuk meningkatkan pencarian dan metodologi ilmiah
(Sukmadinata, 2005).

Tingkat generalisasi hasil penelitian dasar bersifat abstrak dan umum serta berlaku
secara universal. Penelitian dasar tidak diarahkan untuk memecahkan masalah praktis akan
tetapi prinsip-prinsip atau teori yang dihasilkannya dapat mendasari pemecahan masalah
praktis. Dengan kata lain, hasil penelitian dasar dapat mempengaruhi kehidupan praktis.
Contoh penelitian dasar yang terkait erat dengan bidang pendidikan adalah penelitian dalam
bidang psikologi, misalnya penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi sikap dan
perikalu manusia. Hasil penelitian tersebut sering digunakan sebagai landasan dalam
pengembangan sikap untuk merubah perilaku melalui proses pembelajaran/pendidikan.

Penelitian Terapan

Penelitian terapan atau applied research dilakukan berkenaan dengan kenyataan-kenyataan


praktis, penerapan, dan pengembangan ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh penelitian
dasar dalam kehidupan nyata. Penelitian terapan berfungsi untuk mencari solusi tentang
masalah-masalah tertentu.Tujuan utama penelitian terapan adalah pemecahan masalah
sehingga hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia baik secara individu
atau kelompok maupun untuk keperluan industri atau politik dan bukan untuk wawasan
keilmuan semata (Sukardi, 2003). Dengan kata lain penelitian terapan adalah satu jenis
penelitian yang hasilnya dapat secara langsung diterapkan untuk memecahkan permasalahan
yang dihadapi. Penelitian ini menguji manfaat dari teori-teori ilmiah serta mengetahui
hubungan empiris dan analisis dalam bidang-bidang tertentu.Implikasi dari penelitian terapan
dinyatakan dalam rumusan bersifat umum, bukan rekomendasi berupa tindakan langsung.
Setelah sejumlah studi dipublikasikan dan dibicarakan dalam periode waktu tertentu,
pengetahuan tersebut akan mempengaruhi cara berpikir dan persepsi para praktisi. Penelitian
terapan lebih difokuskan pada pengetahuan teoretis dan praktis dalam bidang-bidang tertentu

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 52


bukan pengetahuan yang bersifat universal misalnya bidang kedokteran, pendidikan, atau
teknologi.Penelitian terapan mendorong penelitian lebih lanjut, menyarankan teori dan
praktek baru serta pengembangan metodologi untuk kepentingan praktis.Penelitian terapan
dapat pula diartikan sebagai studi sistematik dengan tujuan menghasilkan tindakan aplikatif
yang dapat dipraktekan bagi pemecahan masalah tertentu.Hasil penelitian terapan tidak perlu
sebagai suatu penemuan baru tetapi meupakan aplikasi baru dari penelitian yang sudah ada
(Nazir, 1985).Akhir-akhir ini, penelitian terapan telah berkembang dalam bentuk yang lebih
khusus yaitu penelitian kebijakan (Majchrzak, 1984).Penelitian kebijakan berawal dari
permasalahan praktik dengan maksud memecahkan masalah-masalah sosial.Hasil penelitian
biasanya dimanfaatkan oleh pengambil kebijakan.

Penelitian Evaluatif

Penelitian evaluatif pada dasarnya merupakan bagian dari penelitian terapan namun
tujuannya dapat dibedakan dari penelitian terapan.Penelitian ini dimaksudkan untuk
mengukur keberhasilan suatu program, produk atau kegiatan tertentu (Danim,
2000).Penelitian ini diarahkan untuk menilai keberhasilan manfaat, kegunaan, sumbangan
dan kelayakan suatu program kegiatan dari suatu unit/ lembaga tertentu.Penelitian evaluatif
dapat menambah pengetahuan tentang kegiatan dan dapat mendorong penelitian atau
pengembangan lebih lanjut, serta membantu para pimpinan untuk menentukan kebijakan
(Sukmadinata, 2005).Penelitian evaluatif dapat dirancang untuk menjawab pertanyaan,
menguji, atau membuktikan hipotesis.Makna evaluatif menunjuk pada kata kerja yang
menjelaskan sifat suatu kegiatan, dan kata bendanya adalah evaluasi.Penelitian evaluatif
menjelaskan adanya kegiatan penelitian yang sifatnya mengevaluasi terhadap sesuatu objek,
yang biasanya merupakan pelaksanaan dan rencana. Jadi yang dimaksud dengan penelitian
evaluatif adalah penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang apa yang
terjadi, yang merupakan kondisi nyata mengenai keterlaksanaan rencana yang memerlukan
evaluasi. Melakukan evaluasi berarti menunjukkan kehati-hatian karena ingin mengetahui
apakah implementasi program yang telah direncanakan sudah berjalan dengan benar dan
sekaligus memberikan hasil sesuai dengan harapan. Jika belum bagian mana yang belum
sesuai serta apa yang menjadi penyebabnya.

Penelitian evaluatif memiliki dua kegiatan utama yaitu pengukuran atau pengambilan data
dan membandingkan hasil pengukuran dan pengumpulan data dengan standar yang
digunakan. Berdasarkan hasil perbandingan ini maka akan didapatkan kesimpulan bahwa
Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 53
suatu kegiatan yang dilakukan itu layak atau tidak, relevan atau tidak, efisien dan efektif atau
tidak. Atas dasar kegiatan tersebut, penelitian evaluatif dimaksudkan untuk membantu
perencana dalam pelaksanaan program, penyempurnaan dan perubahan program, penentuan
keputusan atas keberlanjutan atau penghentian program, menemukan fakta-fakta dukungan
dan penolakan terhadap program, memberikan sumbangan dalam pemahaman suatu program
serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Lingkup penelitian evaluative dalam bidang
pendidikan misalnya evaluasi kurikulum, program pendidikan, pembelajaran, pendidik,
siswa, organisasi dan manajemen.Satu pengertian pokok yang terkandung dalam evaluasi
adalah adanya standar, tolok ukur atau kriteria.Mengevaluasi adalah melaksanakan upaya
untuk mengumpulkan data mengenai kondisi nyata sesuatu hal, kemudian dibandingkan
dengan kriteria agar dapat diketahui kesenjangan antara kondisi nyata dengan kriteria
(kondisi yang diharapkan).Penelitian evaluatif bukan sekedar melakukan evaluasi pada
umumnya.Penelitian evaluatif merupakan kegiatan evaluasi tetapi mengikuti kaidah-kaidah
yang berlaku bagi sebuah penelitian, yaitu persyaratan keilmiahan, mengikuti sistematika dan
metodologi secara benar sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Sejalan dengan makna
tersebut, penelitian evaluatif harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Arikunto, 2006):

1. Proses kegiatan penelitian tidak menyimpang dari kaidah-kaidah yang berlaku bagi
penelitian ilmiah pada umumnya.

2. Dalam melaksanakan evaluasi, peneliti berpikir sistemik yaitu memandang program yang
diteliti sebagai sebuah kesatuan yang terdiri dan beberapa komponen atau unsur yang
saling berkaitan antara satu sama lain dalam menunjang keberhasilan kinerja dan objek
yang dievaluasi.

3. Agar dapat mengetahui secara rinci kondisi dan objek yang dievaluasi, perlu adanya
identifikasi komponen yang berkedudukan sebagai factor penentu bagi keberhasilan
program.

4. Menggunakan standar, kriteria, dan tolok ukur yang jelas untuk setiap indikator yang
dievaluasi agar dapat diketahui dengan cermat keunggulan dan kelemahan program.

5. Agar informasi yang diperoleh dapat menggambarkan kondisi nyata secara rinci untuk
mengetahui bagian mana dari program yang belum terlaksana, perlu ada identifikasi
komponen yang dilanjutkan dengan identifikasi sub komponen, dan sampai pada
indikator dan program yang dievaluasi.
Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 54
6. Dari hasil penelitian harus dapat disusun sebuah rekomendasi secara rinci dan akurat
sehingga dapat ditentukan tindak lanjut secara tepat.

7. Kesimpulan atau hasil penelitian digunakan sebagai masukan/ rekomendasi bagi


kebijakan atau rencana program yang telah ditentukan. Dengan kata lain, dalam
melakukan kegiatan evaluasi program, peneliti harus berkiblat pada tujuan program
kegiatan sebagai standar, criteria, atau tolak ukur.

BERDASAR METODENYA

Penelitian Historis

Penelitian ditujukan kepada rekonstruksi masa lampau sistematis dan objektif memahami
peristiwa-peristiwa masa lampau itu.Data yang dikumpulkan pada penelitian ini sukar
dikendalikan.Maka tingkat kepastian pemecahan permasalahan dengan metode ini adalah
paling rendah. Data yang dikumpulkan biasanya hasil pengamatan orang lain seperti surat-
surat arsip atau dokumen-dokumen masa lalu. Penelitian seperti ini jika ditujukan kepada
kehidupan pribadi seseorang, maka penelitian disebut penelitian biografis.

Tujuan penelitian histonis adalah untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis
dan secara sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifisi,
serta mensintesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang
kuat. Seringkali penelitian yang demikian itu berkaitan dengan hipotesis-hipotesis tertentu.

Ciri yang menonjol dari penelitian historis adalah;

1. Penelitian historis lebih bergantung kepada data yang diobservasi orang lain dari pada
yang diobservasi oleh peneliti sendiri. Data yang baik akan dihasilkan oleh kerja yang
cermat yang menganalisis keotentikan, ketepatan, dan pentingnya sumber-sumbernya.

2. Berlainan dengan anggapan yang populer, penelitian historis haruslah tertib ketat,
sistematis, dan tuntas; seringkali penelitian yang dikatakan sebagai suatu “penelitian
historis” hanyalah koleksi informasi-informasi yang tak layak, tak reliabel, dan berat
sebelah.

3. “Penelitian historis” tergantung kepada dua macam data, yaitu data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh dari sumber primer, yaitu Si peneliti (penulis) secara

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 55


langsung melakukan observasi atau menyaksikan kejadian-kejadian yang dituliskan. Data
sekunder diperoleh dan sumber sekunder, yaitu peneliti melaporkan hasil observasi orang
lain yang satu kali atau lebih telah lepas dari kejadian aslinya. Di antara kedua sumber itu,
sumber primer dipandang sebagai memiliki otoritas sebagai bukti tangan pertama, dan
diberi prionitas dalam pengumpulan data.

4. Untuk menentukan bobot data, biasa dilakukan dua macam kritik, yaitu kritik eksternal
dan kritik internal. Kritik eksternal menanyakan “apakah dokumen relik itu otentik”,
sedang kritik internal menanyakan “Apabila data itu otentik, apakah data tersebut akurat
dan relevan?”. Kritik internal harus menguji motif, keberatsebelahan, dan keterbatasan si
penulis yang mungkin melebih-lebihkan atau mengabaikan sesuatu dan memberikan
informasi yang terpalsu. Evaluasi kritis inilah yang menyebabkan “penelitian historis” itu
sangat tertib-ketat, yang dalam banyak hal lebih dibanding dari pada studi eksperimental.

5. Walaupun penelitian historis mirip dengan penelaahan kepustakaan yang mendahului lain-
lain bentuk rancangan penelitian, namun cara pendekatan historis adalah lebih tuntas,
mencari informasi dan sumber yang lebih luas. “Penelitian historis” juga menggali
informasi-informasi yang lebih tua dari pada yang umum dituntut dalam penelaahan
kepustakaan, dan banyak juga menggali bahan-bahan tak diterbitkan yang tak dikutip
dalam bahan acuan yang standar.

Langkah pokok untuk melaksanakan penelitian historis sebagai berikut:

1. Definisi masalah.

2. Rumuskan tujuan penelitian dan jika mungkin, rumuskan hipotesis yang akan memberi
arah dan fokus bagi kegiatan penelitian itu.

3. Kumpulkan data, dengan selalu mengingat perbedaan antara sumber primer dan sumber
sekunder.

4. Suatu keterampilan yang sangat penting dalam penelitian historis adalah cara pencatatan
data : dengan sistem kartu atau dengan sistem lembaran, kedua duanya dapat dilakukan.

5. Evaluasi data yang diperoleh dengan melakukan kritik eksternal dan kritik internal.

6. Tuliskan laporan.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 56


Penelitian Observasional

Penelitin yang bertujuan untuk mengamati dan mendeskripsikan gejala-gejala yang terjadi
dalam (pada) fenomena natural ataupun sosial, yang terjadi dalam tingkatan waktu tertentu,
dan tidak dapat dikendalikan oleh si peneliti, seperti perubahan iklim, pergerakan binatang,
pencemaran lingkungan, perubahan perilaku masyarakat, kriminalitas, dsb.

Penelitian Eksperimental

Penelitian yang dilakukan dengan menciptakan fenomena pada kondisi terkendali.Penelitian


ini bertujuan untuk menemukan hubungan sebab-akibat dan pengaruh faktor-faktor pada
kondisi tertentu.

Dalam bentuk yang paling sederhana, pendekatan eksperimental ini berusaha untuk
menjelaskan, mengendalikan dan meramalkan fenomena seteliti mungkin.Dalam penelitian
eksperimental banyak digunakan model kuantitatif.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 57


BAB X

RANCANGAN PENELITIAN

PENDAHULUAN

A. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

NO KOMPETENSI DASAR INDIKATOR


Mengenal berbagai macam a. Pengertian rancangan penelitian
1. rancangan penelitian b. Hubungan rancangan penelitian
dengan pembuktian hipotesis
c. Rancangan penelitian survey
d. Rancangan penelitian percobaan
e. Percobaan factorial
f. Rancangan quasi eksperimental
g. Rancangan penelitian klinik

B. DESKRIPSI SINGKAT MATAKULIAH


Mata Kuliah metodologi penelitian dan biostatistika dasarini memberikan
kemampuan kepada mahasiswa untuk memberikan kemampuan menyusun proposal
dan hasil penelitian dengan pokok bahasan : konsep penelitian, sistematika penelitian,
langkah-langkah penelitian, metode penelitian, mengkritik jurnal / proposal orang
lain, membuat proposal penelitian, seminar proposal, menyajikan data, melakukan
perhitungan uji statistik dan menyimpulkan penelitian pelayanan kebidanan pada
khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya dengan pokok bahasan Mengenal
berbagai macam rancangan penelitian

URAIAN MATERI

Pengertian Rancangan Penelitian :

Rancangan penelitian adalah suatu rencana, struktur dan strategi penelitian yang
dimasuksudkan untuk menjawab permasalahan yang dihadapi, dengan mengupayakan
optimasi yang berimbang antara validitas dalam dan validitas luar, dengan melakukan
pengendalian varians.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 58


Hubungan Rancangan Penelitian Dengan Pembuktian Hipotesis

Suatu rancangan penelitian merupakan hal yang penting terutama dalam pembuktian
hipotesis, sebagai konfirmasi kebenaran hipotesis dalam rangka menjawab permasalaan yang
ada.Dari permasalahan yang dihadapi dengan menggunakan teori, fakta yang diperoleh pada
penelitian terdahulu, dan asumsi peneliti, dikembangkan kerangka teoritik yang mendasari
perumusan hipotesis.

1. Hubungan Kausal

Bentuk-bentuk hubungan kausal

a. Hubungan asimetrisada dua hubungan variable,tetapi tidak ada mekanisme pengaruh


mempengarui, masing-masing bersifat mandiri:

Contoh :

Kebetulan : kenaikakan gaji dosen dengan turunnya hujan. sama-sama merupakan


akibat dari factor(variable bebas) yang sama: hubungan antara tinggi badan dan berat
badan,keduanya merupakan variabel tergantung dari variabel bebas pertumbuan.

Indikator dari konsep yang sama :hubungan antara dua kekuatan kontraksi otot dengan
kontraksi otot

b. Hubungan simetris : korelasi antara dua variabel, dengan satu variabel(bebas) bersifat
mempengaruhi variabel lain(tinggi kadar lipoprotein berat jenis benda dalam dara
mengakibatkan aterosklerosis).

c. Hubungan timbal balik : korelasi antara dua variabel saling mempengarui.

Contoh :

Korelasi antara malnutrisi dan mal absorsi

2. Validitas :

Membicarakan validitas sebagai terminologi penelitian, setidak-tidaknya akan sampai


pada dua pengertian , yakni berkaitan dengan pengukuran dan yang kedua berkaitan

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 59


dengan penelitian itu sendiri. validitas berkaitan dengan tiga unsur; alat ukur,metode
ukuran dan pengukur(peneliti).

Validitas ukur adalah suatu keadaan dimana alat ukur yang di gunakan untuk mengukur
karakteristik seperti yang diinginkan oleh peneliti untuk di ukur.

Validitas penelitian mempunyai pengertian yang berbeda dengan validitas pengukuran ,


walaupun untuk termencapai validitas penelitian syarat validitas pengukuran harus
terpenuhi pula

Ada dua macam validitas penelitian yakni:

Validitas internal : ikwal kesahihan penelitian yang menyangkut pernyataan ; sejauh


mana perubahan yang diamati dalam suatu penelitian (terutama penelitian ekprimental)
benar-benar hanya terjadi karena perlakuan yang di berikan dan bukan pengaruh factor
lain (variabel luar).

Faktor- Faktor yang mempengaruhi validitas internal :

 Sejarah (history) : peristiwa yang terjadi pada waktu lalu dan kadang-kadang dapat
berpengaruh teradap variabel terikat.

 Kematangan (muturitas) : adanya perubahan baik secara biologis maupun non


biologis yang prosesnya dapat berpengaruh.

 Seleksi(selection) : adanya perubahan cirri-ciri atau sifat-sifat dari suatu populasi.

 Prosedur (testing) : terjadinga stress yang dapat berpengaruh terhadap hasil tes.

 Instrumen : adanya pengaruh yang diakibatkan oleh alat ukur terhadap hasil tes.

 Mortalitas : adanya perubahan yang terjadikarena adanya anggota dari populasi yang
drop out.

 Nilai rata-rata : terjadinya perubahan akibat adanya nilai ekstrim tinggi atau yang
rendah seingga mempengaruhi hasil tesnya

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 60


Validitas eksternal : ikhwal penelitian yang menyangkut pertanyaan, sejauh mana hasil
suatu penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi induk (asal sampel) penelitian
diambil.

Contoh : apabila kita meneliti tingkat efektifitas suatu metode penyuluhan baru mengenai
program imunisasi dengan mengambil sampel di suatu desa dan ternyata baik hasilnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi validitas

 Efek seleksi berbagai anggota sampel

 Gangguan penanganan perlakuan berganda

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 61


BAB X

RANCANGAN PENELITIAN

PENDAHULUAN

A. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

NO KOMPETENSI DASAR INDIKATOR


Rancangan Penelitian a. Rancangan Penelitian survey
1.

B. DESKRIPSI SINGKAT MATAKULIAH


Mata Kuliah metodologi penelitian dan biostatistika dasarini memberikan
kemampuan kepada mahasiswa untuk memberikan kemampuan menyusun proposal
dan hasil penelitian dengan pokok bahasan : konsep penelitian, sistematika penelitian,
langkah-langkah penelitian, metode penelitian, mengkritik jurnal / proposal orang
lain, membuat proposal penelitian, seminar proposal, menyajikan data, melakukan
perhitungan uji statistik dan menyimpulkan penelitian pelayanan kebidanan pada
khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya dengan pokok bahasan
Memahami tehnik pengumpulan data

URAIAN MATERI

Jenis Rancangan Penelitian Survey

Penelitian survey digolongkan menjadi dua, yang bersifat deskriptif dan analitik.

1. Rancangan Penelitian Deskriptif

a. Definisi Rancangan Penelitian Deskriptif

Rancangan Penelitian Deskriptif merupakan rancangan penelitian non eksperimental


yang bersifat sederhana berupa sumpling survey.

b. Ciri-ciri Penelitian Deskriftif

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 62


 Merupakan penelitian kuantitatif dengan tujuan untuk mendeskripsikan variabel-
variabel utama subjek studinya.

 Terdapat hubungan sebab akibat hanya merupakan perkiraan yang didasarkan atas
table silang yang disajikan.

 Tidak dibutuhkan kelompok control sebagai pembanding karena yang dicari adalah
prevalensi penyakit atau fenomena tertentu.

 Hasil penelitian hanya disajikan sesuai dengan data yang diperoleh tanpa dilakukan
analisis yang mendalam.

 Merupakan penelitian pendahuluan, digunakan bersama-sama dengan hampir semua


jenis penelitian.

 Pengumpulan data dilakukan satu priode tertentu.

 Pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan cross sectional berupa sampling


survey atau data sekunder dari rekam medis.

 Dapat dilakukan pada wilayah terbatas atau meliputi wilayah yang lebih luas

c. Manfaat Penelitian Deskriptif

 Digunakan untuk menyusun perencanaan pelayanan kebidanan pada masyarakat.

 Diperlukan untuk mengadakan evaluasi program pelayanan kebidanan yang telah


dilakukan.

 Usulan untuk penelitian lanjutan.

 Diperlukan untuk membandingkan prevalensi masalah penyakit tertentu antar daerah


atau satu daerah dalam waktu yang berbeda.

2. Metode Penelitian Survei Analitik

Survei analitik adalah survei atau penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan
mengapa fenomena kesehatan itu terjadi.Kemudian melakukan analisis dinamika kolerasi

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 63


antara fenomena, baik antara faktor risiko dengan faktor efek, antar faktor risiko, maupun
antar faktor efek.

Yang dimaksud faktor efek adalah suatu akibat dari adanya faktor risiko, sedangkan faktor
risiko adalah suatu fenomena yang mengakibatkan terjadinya efek (pengaruh).Secara garis
besar survey analitik ini dibedakan dalam 3 pendekatan (jenis), yakni Survey Analitic
Cross Sectional, Survey Analitic Case Control (Retrospective), dan Survey Analitic
Cohort (Prospective).

a. Penelitian Cross Sectional

Survey cross sectional ialah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika kolerasi
antara faktor-faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau
pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach). Penelitian cross
sectional ini sering disebut juga penelitian transversal, dan sering digunakan dalam
penelitian-penelitian epidemiologi.

b. Penelitian Case Control

Penelitian case control adalah suatu penelitian (survey) analitik yang menyangkut
bagaimana faktor risiko dipelajari dengan menggunakan pendekatan “retrospective”.
Dengan kata lain efek (penyakit atau status kesehatan) diidentifikasi pada saat ini,
kemudian faktor risiko diidentifikasi adanya atau terjadinya pada waktu yang lalu.
Adapun tahap-tahap penelitian case control ini adalah sebagai berikut :

1. Identifikasi variabel-variabel penelitian (faktor risiko atau efek)

2. Menetapkan objek penelitian (populasi dan sampel)

3. Identifikasi kasus

4. Pemilihan subyek sebagai control

5. Melakukan pengukuran “retrospektif” (melihat kebelakang) untuk melihat faktor


risiko.

6. Melakukan analisis dengan membandingkan proporsi antara variabel-variabel objek


penelitian dengan variabel-variabel objek kontrol.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 64


c. Penelitian Cohort

Penelitian cohort sering disebut penelitian prospektif adalah suatu penelitian survei
(non eksperimen) yang paling baik dalam mengkaji hubungan antara faktor risiko
dengan efek (penyakit). Artinya, faktor risiko yang akan dipelajari diidentifikasi
dahulu, kemudian diikuti ke depan secara prospektif timbulnya efek, yaitu penyakit
atau salah satu indikator status kesehatan.

Langkah-langkah pelaksanaan penelitian cohort antara lain sebagai berikut:

1. Identifikasi faktor-faktor rasio dan efek.

2. Menetapkan subyek penelitian (menetapkan populasi dan sampel).

3. Pemilihan subyek dengan faktor risiko positive dari subjek dengan efek negative.

4. Memilih subyek yang akan menjadi anggota kelompok control.

5. Mengobservasi perkembangan subjek sampai batas waktu yang ditentukan.

6. Mengidentifikasi timbul atau tidaknya efek pada kedua kelompok.

7. Menganalisis dengan membandingkan proporsi subjek yang mendapat efek positif


dengan subjek yang mendapat efek negatif baik pada kelompok risiko positif
maupun kelompok control.

Rancangan Penilitian Percobaan

Percobaan pada umumnya dilakukan untuk menemukan sesuatu.Oleh karena itu secara
teoritis, percobaan diartikan sebagai tes (Montgomery, 1991) atau penyelidikan terencana
untuk mendapatkan fakta baru (Steel dan Torrie, 1995). Dan rancangan percobaan dapat
diartikan sebagai tes atau serangkaian tes dimana perubahan yang berarti dilakukan pada
variabel dari suatu proses atau sistem sehingga kita dapat mengamati dan mengidentifikasi
alasan-alasan perubahan pada respon output (Montgomery, 1991). Sedangkan menurut
Milliken dan Johnson (1992) rancangan percobaan merupakan hal yang sangat berhubungan
dengan perencanaan penelitian untuk mendapatkan informasi maksimum dari bahan-bahan

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 65


yang tersedia. Dan dapat juga diartikan sebagai seperangkat aturan/cara/prosedur untuk
menerapkan perlakuan kepada satuan percobaan (Steel dan Torrie, 1995)

Rancangan – rancangan eksperimen semu (quasi experiment)

Disebut eksperimen semu karena eksperimen ini belum atau tidak memiliki ciri – ciri
rancanagan eksperimen yang sebenarnya, karena variable – variable yang seharusnya
dikontrol atau dimanipulasi.Oleh karena itu vasiditas penelitian menjadi kurang cukup untuk
disebut sebagai eksperimen yang sebenarnya. Rancangan – rancangan yang tergolong ke
dalam kelompok ini antara lain sebagai berikut:

a. Rancangan Rangkaian Waktu (Time Series Design)

Rancangan ini seperti rancangan pretest – posttest, kecuali mempunyai keuntungan dengan
melakukan observasi ( pengukuran yang berulang –ulang), sebelum dan sesudah perlakuan
. Dengan menggunakan serangkaian observasi (tes), dapat memungkinkan validitasnya
lebih tinggi. Karena pada rancangan protes – postes, kemungkinan hasil 02 dipengaruhi
oleh factor lain diluar perlakuan sangat besar, sedangkan pada rancangan ini, oleh karena
observasi dilakukan lebih dari satu kali ( baik sebelum maupun sesudah perlakuan ,maka
pengaruh factor luar tersebut dapat dikurangi.

b. Rancangan Rangkaian Waktu dengan Kelompok Pembanding (Control Time Series


Design)

Pada dasarnya rancangan ini adalah rancangan rangkaiaan waktu, hanya dengan
menggunakan kelompok pembanding(control). Rancangan ini lebih memungkinkan
adanya control terhadap validitas internal, sehingga keuntungan dari rancangan ini lebih
menjamin adanya validitas internal yang tinggi.

c. Rancangan ‘’Non – Equivalent Control Group’’

Dalam penelitian lapangan, biasanya lebih dimungkinkan untuk membandingkan hasil


intervensi program kesehatan di suatu control yang serupa, tetapi tidak perlu kelompok
yang benar-benar sama. Misalnya kita akan melakukan studi tentang pengaruh pelatihan
kader terhadap cakupan posyandu. Kelompok kader yang akan diberikan pelatihan, tidak
mungkin sama betul dengan kelompok kader yang tidak akan diberi pelatihan (kelompok
control).

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 66


d. Rancanmgan ‘’Separate Sample Pretest – Postest’’

Rancangan „‟non – equivalent control group „‟ ini sangat baik digunakan untuk evaluasi
program pendidikan kesehatan atau pelatihan – pelatihan lainnya.Di samping itu
rancangan ini juga baik untuk membandingkan hasil intervensi program kesehatan di suatu
kecamatan atau desa, dengan kecamatan atau desa lainnya.Dalam rancangan ini,
pengelompokkan anggota sampel pada kelompok eksperimen dan kelompok control tidak
dilakukan secara random atau acak.Oleh sebab itu rancangan ini sering disebut jg „‟Non –
rondomi-zed Control Group Pretes – Postest Design‟‟.

e. Rancangan ‘’Separate Sample Pretest – Posstest’’

Rancangan ini sering digunakan dalam penilitian-penilitian kesehatan dan keluarga


berencana. Pengukuran pertama(pretes) dilakukan terhadap sampel yang dipilih secara
acak dari populasi tertentu. Kemudian dilakukan pengukuran kedua (postes)pada
kelompok sampel lain, yang juga dipilih secara acak (random)dari populasi yang sama.
Rancangan ini sangat baik untuk menghindari pengaruh atau efek dari‟‟tes‟‟, meskipun
tidak dapat mengontrol „‟sejarah‟‟maturitas,dan instrumen‟‟.

Penelitian Klinik

a. Perkembangan penelitian klinik

Perkembangan penilitian klinik adalah sejalan dengan perkembangan ilmu kedekteron.


Ilmu kedokteran sebagai ilmu alamiah berkembang melalui dua cara, yaitu melalui
observasi dan eksperimen. Cara observasi ini dilakukan dengan mencatat sifat – sifat dan
gejala-gejala yang terjadi secara alamiah, dan dengan cara ini kemudian diperoleh
informasi tenatng perjalanan alamiah penyakit dan factor-faktor yang mempengaruhinya.
Sedangkan cara eksperimen, dilakukan dengan mengatur kondisi tertentu terhadap objek,
kemudian mengamati terhadap perubahan- perubahan yang terjadi pada objek tersebut. Di
dalam ilmu kedoteran/kesehatan, kedua cara ini saling menunjang dan saling melengkapi.

b. Tahap – tahap penilitian

Tujuan penilitian klinik adalah untuk menguji efektivitas obat pada manusia.Dengan
sendirinya sebelum obat tersebut dicobakan pada manusia terlebih dahulu harus dicobakan

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 67


pada binatang percobaan. Berdasarkan tujuannya, penelitian klinik ini dibagi dalam 4
tahap, yakni :

Tahap pertama

Tahap pertama klinik ini merupakan pemberian obat untuk pertama kali pada manusia,
setelah obat yang bersangkutan telah lolos dari penilitian farmakologi dan teksiologi pada
binatang percobaan.Tujuan penilitian klinis tahap ini untuk memperlihatkan efek
farmakologi klinik suatu obat pada sekelompok kecil penderita atau sukarelawan sehat.
Pengukuran dalam penilitian ini menyangkut khasiat obat, dengan data yang dikumpulkan
adalah : jenis obat, hubungan antara dosis dengan respons, lama keja obat pada dosis
tunggal, metabolisme, dan interaksi.
Tahap kedua
Tujuan penilitian tahap ini adalah untuk menentukan apakah kerja farmakologi yang telah
dibuktiakan pada tahap pertama tersebut berguna untuk pengobatan.Indicator dari
pengukuran penilitian tahap ini adalah penyembuhan penyakit. Tetapi karena kesembuhan
tersebut biasanya terjadi pada waktu yang panjang, maka efek farmakologilah yang
dijadikan indicator, misalnya kadar gula darah, penurunan tekanan darah, dan sebagainya.
Selain itu perlu dikumpulkan data tentang efek samping yang cukup untuk memperkirakan
secara dini rasio antara risiko dan keuntungan. Dari penilitian pada tahap ini dapat
ditentukan manfaat obat yang bersangkutan dibanding dengan obat atau cara pengobatan
yang lain yang telah ada.Dalam tahap ini pula dapat ditentukan hubungan antara dosis dan
kadar obat dalam plasma atau jaringan dengan efek kliniknya.
Tahap ketiga
Pada tahap ini diperlukan orang percobaan atau penderita yang lebih banyak, dan
dilakukan di luar tempat penilitian tahap kedua, dan hasil penilitian ini dapat memperkuat
atau menolak hal-hal yang ditemukan pada penilitian tahap kedua, misalkannya : insiden
efek samping yang frekuensinya rendah, profil obat yang bersangkutan bila digunakan
pada pasien yang tidak terseleksi secara teliti, dan sebagainya.
Tahap Keempat
Tahap ini adalah yang dilakukan setelah obat dipasarkan. Oleh sebab itu penilitian sering
disebut „‟ post marketing drugs surveillance‟‟,yang bertujuan mengatasi kekurangan
informasi yang ada pada penilitian tahap sebelumnya. Penilitian ini mencakup empat
masalah pokok yaitu :

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 68


1) Efek samping, terutama yang muncul akibat pengguna obat jangka pendek..
2) Masalah manfaat, yang mencakup efek obat pada pemberian jangka lama dalam usaha
pencegahan kekmbuhan, komplikasi penyakit, dan manfaat obat-obatan disbanding
dengan cara penyembuhan yg lain.
3) Data pengguna, mencakup pengguna obat untuk indikasi baru, kelebihan pakai (oper
used), salah guna (misused), dan penyalagunaan ( abused), yang biasanya sukar
dijumpai pada percobaan klinik yang terkontrol.
4) Ratio biaya atau risiko/keuntungan , bahaya dan biaya.
5) Pada tahap ini, metode penilitian yang digunakan bukan saja yang bersifat penilitian
klinik, tetapi digunakan pada penilitian epidiologik, survey dan pemantauan (
monitoring). Pada saat ini „‟ clinical trial‟‟ sebagai suatu metode penilitian kesehatan/
kedokteran penggunaannya tidak hanya terbatas pada pengembangan dan evaluasi
obat saja, tetapi mulai digunakan untuk pengembangan dan evaluasi cara
penyembuhan yang lain, misalnya : operasi, fisioterapi, jenis dan cara perawatan, dan
sebagainya. Semua kegiatan ini biasanya disebut penilitian pelayanan kesehatan (
health care trial)

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 69


BAB XI

TEKNIK PENGUMPULAN DATA

PENDAHULUAN

A. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

NO KOMPETENSI DASAR INDIKATOR


Memahami tehnik b. Metode pengumpulan data
1. pengumpulan data c. Teknik-teknik pengumpulan data
d. validitas dan reliabilitas
e. pengembangan instrument penelitian

B. DESKRIPSI SINGKAT MATAKULIAH


Mata Kuliah metodologi penelitian dan biostatistika dasarini memberikan
kemampuan kepada mahasiswa untuk memberikan kemampuan menyusun proposal
dan hasil penelitian dengan pokok bahasan : konsep penelitian, sistematika penelitian,
langkah-langkah penelitian, metode penelitian, mengkritik jurnal / proposal orang
lain, membuat proposal penelitian, seminar proposal, menyajikan data, melakukan
perhitungan uji statistik dan menyimpulkan penelitian pelayanan kebidanan pada
khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya dengan pokok bahasan
Memahami tehnik pengumpulan data

URAIAN MATERI

METODE PENGUMPULAN DATA

Sumber Data

Sumber data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder.Data primer adalah data
yang diperoleh peneliti secara langsung (dari tangan pertama), sementara data sekunder
adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada.

Contoh data primer adalah data yang diperoleh dari responden melalui kuesioner, kelompok
fokus, dan panel, atau juga data hasil wawancara peneliti dengan nara sumber.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 70


Contoh data sekunder misalnya catatan atau dokumentasi perusahaan berupa absensi, gaji,
laporan keuangan publikasi perusahaan, laporan pemerintah, data yang diperoleh dari
majalah, dan lain sebagainya.

Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian, teknik pengumpulan data merupakan faktor penting demi keberhasilan
penelitian. Hal ini berkaitan dengan bagaimana cara mengumpulkan data, siapa sumbernya,
dan apa alat yang digunakan.

Jenis sumber data adalah mengenai dari mana data diperoleh.Apakah data diperoleh dari
sumber langsung (data primer) atau data diperoleh dari sumber tidak langsung (data
sekunder).

Metode Pengumpulan Data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk mengumpulkan
data. Metode menunjuk suatu cara sehingga dapat diperlihatkan penggunaannya melalui
angket, wawancara, pengamatan, tes, dkoumentasi dan sebagainya.

Sedangkan Instrumen Pengumpul Data merupakan alat yang digunakan untuk


mengumpulkan data. Karena berupa alat, maka instrumen dapat berupa lembar cek list,
kuesioner (angket terbuka / tertutup), pedoman wawancara, camera photo dan lainnya.

Adapun tiga teknik pengumpulan data yang biasa digunakan adalah angket, observasi dan
wawancara.

1. Angket

Angket / kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada orang lain yang dijadikan
responden untuk dijawabnya.

Meskipun terlihat mudah, teknik pengumpulan data melalui angket cukup sulit dilakukan
jika respondennya cukup besar dan tersebar di berbagai wilayah.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan angket menurut Uma Sekaran
(dalam Sugiyono, 2007:163) terkait dengan prinsip penulisan angket, prinsip pengukuran
dan penampilan fisik.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 71


Prinsip Penulisan angket menyangkut beberapa faktor antara lain :

 Isi dan tujuan pertanyaan artinya jika isi pertanyaan ditujukan untuk mengukur maka
harus ada skala yang jelas dalam pilihan jawaban.

 Bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan kemampuan responden. Tidak


mungkin menggunakan bahasa yang penuh istilah-istilah bahasa Inggris pada responden
yang tidak mengerti bahasa Inggris, dsb.

 Tipe dan bentuk pertanyaan apakah terbuka atau terturup. Jika terbuka artinya jawaban
yang diberikan adalah bebas, sedangkan jika pernyataan tertutup maka responden hanya
diminta untuk memilih jawaban yang disediakan.

2. Observasi

Obrservasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya mengukur
sikap dari responden (wawancara dan angket) namun juga dapat digunakan untuk
merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi).Teknik ini digunakan bila
penelitian ditujukan untuk mempelajari perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam
dan dilakukan pada responden yang tidak terlalu besar.

Participant Observation

Dalam observasi ini, peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatam sehari-hari orang
atau situasi yang diamati sebagai sumber data.

Misalnya seorang guru dapat melakukan observasi mengenai bagaimana perilaku siswa,
semangat siswa, kemampuan manajerial kepala sekolah, hubungan antar guru, dsb.

Non participant Observation

Berlawanan dengan participant Observation, Non Participant merupakan observasi yang


penelitinya tidak ikut secara langsung dalam kegiatan atau proses yang sedang diamati.

Misalnya penelitian tentang pola pembinaan olahraga, seorang peneliti yang menempatkan
dirinya sebagai pengamat dan mencatat berbagai peristiwa yang dianggap perlu sebagai
data penelitian.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 72


Kelemahan dari metode ini adalah peneliti tidak akan memperoleh data yang mendalam
karena hanya bertindak sebagai pengamat dari luar tanpa mengetahui makna yang
terkandung di dalam peristiwa.

Alat yang digunakan dalam teknik observasi ini antara lain : lembar cek list, buku catatan,
kamera photo, dll.

3. Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan
tanya jawab langsung antara pengumpul data maupun peneliti terhadap nara sumber atau
sumber data.

Wawancara pada penelitian sampel besar biasanya hanya dilakukan sebagai studi
pendahuluan karena tidak mungkin menggunakan wawancara pada 1000 responden,
sedangkan pada sampel kecil teknik wawancara dapat diterapkan sebagai teknik
pengumpul data (umumnya penelitian kualitatif)

Wawancara terbagi atas wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.

a. Wawancara terstruktur artinya peneliti telah mengetahui dengan pasti apa informasi
yang ingin digali dari responden sehingga daftar pertanyaannya sudah dibuat secara
sistematis. Peneliti juga dapat menggunakan alat bantu tape recorder, kamera photo,
dan material lain yang dapat membantu kelancaran wawancara.

b. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara bebas, yaitu peneliti tidak


menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang akan diajukan secara
spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting masalah yang ingin digali dari
responden.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 73


BAB XII

KONSEP DASAR STATISTIK

PENDAHULUAN

A. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

NO KOMPETENSI DASAR INDIKATOR

1. Konsep Dasar Statistik Konsep dasar statistik umum

B. DESKRIPSI SINGKAT MATAKULIAH


Mata Kuliah metodologi penelitian dan biostatistika dasar ini memberikan
kemampuan kepada mahasiswa untuk memberikan kemampuan menyusun proposal
dan hasil penelitian dengan pokok bahasan : konsep penelitian, sistematika penelitian,
langkah-langkah penelitian, metode penelitian, mengkritik jurnal / proposal orang
lain, membuat proposal penelitian, seminar proposal, menyajikan data, melakukan
perhitungan uji statistik dan menyimpulkan penelitian pelayanan kebidanan pada
khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya dengan pokok bahasan Konsep
Dasar Statistik

URAIAN MATERI

Pengertian statistika
Definisi Statistik adalah kumpulan data yang bisa memberikan gambaran tentang
suatu keadaan. Statistika adalah ilmu yang mempelajari statistik, yaitu ilmu yang
mempelajari bagaimana caranya mengumpulkan data, mengolah data, menyajikan data,
menganalisis data, membuat kesimpulan dari hasil analisis data dan mengambil keputusan
berdasarkan hasil kesimpulan.

Pengertian Statistika Menurut Para Ahli :

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 74


Statistik adalah cara untu mengolah data dan menarik kesimpulan-kesimpulan yang
teliti dan keputusan-keputusan yang logik dari pengolahan data.(Prof.Drs.Sutrisno Hadi,MA)

Statistik adalah sekumpulan cara maupun aturan-aturan yang berkaitan dengan


pengumpulan, pengolahan(Analisis), penarikan kesimpulan, atas data-data yang berbentuk
angka dengan menggunakan suatu asumsi-asumsi tertentu.(Prof.Dr.H.Agus Irianto)

Statistik adalah ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk data, yaitu tentang
pengumpulan, pengolahan, penganalisisa, penafsiran, dan penarikan kesimpulan dari data
yang berbentuk angka. (Ir.M.Iqbal hasan,MM)

Statistik adalah metode yang memberikan cara-cara guna menilai ketidak tentuan dari
penarikan kesimpulan yang bersifat induktif. (Stoel dan Torrie)

Statistik adalah metode/asas-asas mengerjakan/memanipulasi data kuantitatif agar


angka-angka tersebut berbicara.(Anto dajan)

Statistik diartikan sebagai data kuantitatif baik yang masih belum tersusun maupun
yang telah tersusun dalam bentuk table. (Anto dajan)

Statistik adalah studi informasi dengan mempergunakan metodologi dan teknik-teknik


perhitungan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan praktis yang muncul di
berbagai bidang. (Suntoyo Yitnosumarto)

Maka pemakalah dapat menyimpulkan bahwa Statistika adalah ilmu yang


mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan
mempresentasikan data. Singkatnya, statistika adalah ilmu yang berkenaan dengan data. Atau
statistika adalah ilmu yang berusaha untuk mencoba mengolah data untuk mendapatkan
manfaat berupa keputusan dalam kehidupan. Dari kumpulan data, statistika dapat digunakan
untuk menyimpulkan atau mendeskripsikan data;ini dinamakan statistika deskriptif. Sebagian
besar konsep dasar statistika mengasumsikan teori probabilitas. Beberapa istilah statistika
antara lain: populasi, sampel, unit sampel, dan probabilitas.

Statistika banyak diterapkan dalam berbagai disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu alam
(misalnya astronomi dan biologi maupun ilmu-ilmu sosial (termasuk sosiologi dan psikologi),
maupun di bidang bisnis, ekonomi, dan industri) Statistika juga digunakan dalam
pemerintahan untuk berbagai macam tujuan; sensus penduduk merupakan salah satu prosedur

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 75


yang paling dikenal.Aplikasi statistika lainnya yang sekarang popular adalah prosedur jajak
pendapat atau polling (misalnya dilakukan sebelum pemilihan umum), serta jajak cepat
(perhitungan cepat hasil pemilu) atau quick count.Di bidang komputasi, statistika dapat pula
diterapkan dalam pengenalan pola maupun kecerdasan buatan.
Esensi Statistika

Ada tiga hal yang sangat penting dari statistika yaitu:


1. Data yang tersedia / data historis.
Merupakan suatu nilai numerik yang diperoleh dari keterangan masa lampau. Diolah
menjadi informasi yang nantinya berguna dalam menentukan keputusan
2. Kriteria Keputusan
Dalam Statistika kita sering dihadapkan pada beberapa pilihan. Masing-masing pilihan
memiliki nilai/ manfaat dan konsekuensi yang harus diambil atau dengan kata lain kita
harus menentukan keputusan. Dari pilihan-pilihan tersebut akan muncul berbagai kriteria
keputusan. Sama halnya dengan pilihan, masing-masing kriteria keputusan memiliki
manfaat dan akibat bagi kita
3. Ada Keputusan Sebagai Hasil Akhir

Klasifikasi statistika

Statistika dapat diklasifikasikan dari beberapa klasifikasi, diantaranya:

Berdasarkan isi yang dipelajari

Dilihat dari isi yang dipelajari terbagi manjadi dua, yakni statistika teoritis dan statistika
terapan.

a. Statistika teoritis membahas secara mendalam dan teoretis, maka yang dipelajari adalah
statistika teoretis atau matematis. Disini diperlukan dasar matematika yang kuat dan
mendalam. Materi yang dibahas antara lain; perumusan sifat-sifat, dalil-dalil, rumus-
rumus dan menciptakan model-model serta segi-segi lainnya yang teoretis dan matematis.

b. Statistika terapan yang dikenal dengan metode statistika. Aturan-aturan, rumus-rumus,


dan sifat-sifat yang telah diciptakan oleh statistika teoretis, diambil dan digunakan mana
yang diperlukan dalam bidang pengetahuan yang sedang diminati. Jadi disini tidak
dipersoalkan bagaimana didapatnya rumusrumus, aturan-aturan ataupun sifat-sifat

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 76


tersebut. Yang terpenting dalam statistika ini bagaimana cara-cara atau metode statistika
digunakan.

Berdasarkan aktivitas yang dilakukannya

Dilihat dari aktivitas yang dilakukannya, terbagi menjadi dua pula yakni statistika
deskriptif dan statistika inferensial.

a. Statistika deskriptif adalah teknik statistik yang memberikan informasi hanya mengenai
data yang dimiliki dan tidak bermaksud untuk menguji hipotesis dan kemudian menarik
inferensi yang digeneralisasikan untuk data yang lebih besar atau populasi. Statistik
deskriptif “hanya” dipergunakan untuk menyajikan dan menganalisis data agar lebih
bermakna dan komunikatif dan disertai perhitungan-perhitungan “sederhana” yang bersifat
lebih memperjelas keadaan dan atau karakteristik data yang bersangkutan (Burhan
Nurgiyantoro dkk, 2000;8).

Statistik deskriptif adalah statistik yang menggambarkan kegiatan berupa pengumpulan


data, penyusunan data, pengolahan data, dan penyajian data dalam bentuk tabel, grafik,
ataupun diagram, agar memberikan gambaran yang teratur ringkas, dan jelas mengenai
suatu keadaan atau peristiwa. (M.Subana dkk, 2000;12).

Statistika deskriptif bermaksud menyajikan, mengolah dan menganalisa data dari


kelompok tertentu sebagaimana adanya dan tidak bermaksud menarik kesimpulan-
kesimpulan yang berlaku bagi kelompok-kelompok yang lebih besar. Artinya kesimpulan
yang ditarik melalui deskriptif hanya berlaku bagai kelompok sampel yang bersangkutan
tanpa dimaksudkan menarik kesimpulan yang berlaku bagi populasi.

Ukuran statistik yang lazim digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik sampel ialah:
ukuran kecenderungan sentral; Ukuran variasi ; Ukuran letak; koefisien korelasi.
Sekalipun statistika deskriptif ini hanya menyajikan karakteristik sampel, namun statistika
deskriptif merupakan dasar untuk mengkaji dan melakukan inferensi karakteristik
populasi.

b. Statistika inferensial adalah statistik yang berkaitan dengan analisis data (sampel) untuk
kemudian dilakukan penyimpulanpenyimpulan (inferensi) yang digeneralisasikan kepada
seluruh subyek tempat data diambil (populasi) (Burhan Nurgiyantoro dkk, 2000;12).

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 77


Statistika inferensial adalah statistik yang berhubungan dengan penarikan kesimpulan
yang bersifat umum dari data yang telah disusun dan diolah (M.Subana dkk, 2000;12)
Statistika inferensial atau statistika induktif bermaksud menyajikan, menganalisa data dari
suatu kelompok untuk ditarik kesimpulan-kesimpulan, prinsip-prinsip tertentu yang
berlaku bagi kelompok yang lebih besar (populasi) disamping berlaku bagi kelompok yang
bersangkutan (sampel).

Statistika inferensial merupakan langkah akhir dari tugas statistika karena dalam setiap
penelitian kesimpulan inilah yang diinginkan. Statistika inferensial harus berdasar pada
statistika deskriptif, sehingga kedua-duanya harus ditempuh secara benar agar kita
mendapatkan kegunaan maksimal dari statistika ini.

Yang masih tercakup dalam statistika inferensial adalah statistik parametrik dan non-
parametrik. Statistik parametrik merupakan statistika inferensial yang mempertimbangkan
nilai dari satu parameter populasi atau lebih dan umumnya membutuhkan data yang skala
pengukuran minimalnya adalah interval dan rasio.

Statistika parametrik adalah suatu ukuran tentang parameter, artinya ukuran seluruh
populasi dalam penelitian yang harus diperkirakan dari apa yang terdapat di dalam sampel
(karakteristik populasi). Satu syarat umum yang harus dipenuhi apabila seorang peneliti
akan menggunakan statistika parametrik, yaitu normalitas distribusi. Asumsi ini harus
terpenuhi, karena: 1) secara teoretik karakteristik populasi mengikuti model distribusi
normal; 2) nilai-nilai baku statistik yang digunakan untuk uji hipotesis didasarkan kepada
model distribusi normal. Asumsi-asmsi lain seperti homogenitas, linieritas harus dipenuhi
sesuai dengan hipotesis yang akan diuji.

Statistika non parametrik yaitu statistik yang tidak memperhatikan nilai dari satu
parameter populasi atau lebih. Statistik non parametrik digunakan karena analisis
parametrik tidak konsisten lagi sehingga tidak terikat atau terbebas dari model distribusi
dan sampelnya relatif kecil. Pada umumnya validitas pada statistika non parametrik tidak
bergantung pada model peluang yang spesifik dari populasi. Data yang dibutuhkan lebih
banyak berskala ukuran nominal atau ordinal.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 78


Berdasarkan jumlah variabel

a. Statistika Univariat: teknik analisis statistik yang hanya melibatkan satu variabel
dependent

b. Statistika Multivariat: teknik analisis statistik yang melibatkan lebih dari satu variabel
dependent sekaligus.

Fungsi dan Peran Statistika

Statistika digunakan untuk menunjukkan tubuh pengetahuan (body of knowledge)


tentang cara-cara pengumpulan data, analisis danpenafsiran data.

Fungsi statistika diantaranya yakni:

a. Statistik menggambarkan data dalam bentuk tertentu

b. Statistik dapat menyederhanakan data yang kompleks menjadi data yang mudah
dimengerti

c. Statistik merupakan teknik untuk membuat perbandingan

d. Statistik dapat memperluas pengalaman individu

e. Statistik dapat mengukur besaran dari suatu gejala

f. Statistik dapat menentukan hubungan sebab akibat

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 79


BAB XIII

MANFAAT DAN TEKNIK PENYAJIAN DATA

PENDAHULUAN

A. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

NO KOMPETENSI DASAR INDIKATOR

1. Manfaat dan teknik


penyajian data Manfaat dan teknik penyajian data

B. DESKRIPSI SINGKAT MATAKULIAH


Mata Kuliah metodologi penelitian dan biostatistika dasar ini memberikan
kemampuan kepada mahasiswa untuk memberikan kemampuan menyusun proposal
dan hasil penelitian dengan pokok bahasan : konsep penelitian, sistematika penelitian,
langkah-langkah penelitian, metode penelitian, mengkritik jurnal / proposal orang
lain, membuat proposal penelitian, seminar proposal, menyajikan data, melakukan
perhitungan uji statistik dan menyimpulkan penelitian pelayanan kebidanan pada
khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya dengan pokok bahasan Manfaat
dan teknik penyajian data

URAIAN MATERI

Penyajian Data
Pengertian :Upaya menyajiakan data yang sudah diolah ke dalam berbagai bentuk,
tergantung jenis data dan skala data pengukurannya.Gunanya untuk mengambil informasi
yang ada didalamnya
Jenis Penyajian Data
Secara umum sajian data dapat dibagi dalam tiga bentuk yaitu :
Narasi
1. Penyajian data untuk menjelaskan prosedur dan hasil-hasil penelitian maupun
kesimpulan.
Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 80
2. Biasanya digunakan untuk penelitian atau data kualitatif dan penyajian data
dilakukan dalam bentuk kalimat.
3. Sifat textuler dibuat dalam narasi mulai dari pengambilan data sampai pada
kesimpulan, sering dipakai dan kurang menggambarkan statistik jika terlalu
banyak datanya.
4. Contohnya antara lain : insiden penyebaran penyakit DHF di daerah perkantoran lebih
banyak dibandinkan sengan si daerah pedesaan.
Tabel
1. Suatu bentuk penyajian data, dimana datanya disusun dalam baris dan kolom
sedemikian rupa sehingga bisa memberikan perbandingan-perbandingan
2. Jenis-jenis tabel :
Tabel Umum
Tabel Khusus
Tabel satu arah (one way table)
Tabel dua arah (two way table)
Tabel tiga arah (three way table)
Tabel Distribusi frekuensi
Tabel Silang

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 81


BAB XIV

SAMPEL DAN METODE SAMPLING

PENDAHULUAN

A. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

NO KOMPETENSI DASAR INDIKATOR

1. Sampel dan metode a. Konsep dasar sampling


sampling b. Pengambilan sampel
c. Distribusi sampling

B. DESKRIPSI SINGKAT MATAKULIAH


Mata Kuliah metodologi penelitian dan biostatistika dasar ini memberikan
kemampuan kepada mahasiswa untuk memberikan kemampuan menyusun proposal
dan hasil penelitian dengan pokok bahasan : konsep penelitian, sistematika penelitian,
langkah-langkah penelitian, metode penelitian, mengkritik jurnal / proposal orang
lain, membuat proposal penelitian, seminar proposal, menyajikan data, melakukan
perhitungan uji statistik dan menyimpulkan penelitian pelayanan kebidanan pada
khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya dengan pokok bahasan Sampel
dan metode sampling

URAIAN MATERI

Definisi Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang mewakili seluruh karakteristik dari populasi.
Sebuah populasi dengan kuantitas besar dapat diambil sebagian dengan kualitas sampel yang
mewakili sama persis dengan kualitas dari populasi dengan kata representatif. jumlah dari
sampel tidak selalu besar dan juga tidak selalu kecil, hal ini bergantung pada pada
keterwakilan karakter dari sampel.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 82


Sebagai contoh pada penelitian menganai golongan darah, tentu saja tidak perlu
memasukkan seluruh darah dari seseorang ke dalam laboratorium karena 2 ml darah sudah
cukup untuk digunakan utnuk mengetahui golongan darah yang ada di bagian kaki, kepala
atau tangan dari pasien. Pada beberapa bentuk penelitian kemungkinan jumlah harus
terpenuhi sehingga ada aturan baku mengani sampel minum yang harus diambil dalam
sebuah penelitian. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan kualitas dari sampel yang diambil.

Tujuan Pengambilan Sampel

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, pengambilan sampel pada sebuah penelitian
hanya dilakukan jika sampel adalah sebuah keharusan.Dasar yang digunakan dalam
pengambilan sampel diakibatkan oleh alasan bersifat konstruktif, destruktif, atau alasan yang
bersifat teknis sehingga sampel adalah satu-satunya solusi.

Adapun alasan yang bekenaan dengan pengambilan sampel adalah sebagai berikut:

1. Percobaan yang bersifat merusak Percobaan yang bersifat merusak membutuhkan sebuah
sampel dan diambil seminimal mungkin agar dapat menekan resiko selama percobaan
dilaksanakan. Hal yang paling baik digunakan sebagai contoh dalam kasus ini adalah uji
glukosa darah seseorang atau daya tahan hewan ternak di kabupaten Sleman terhadap
kadar besi dalam air. Dalam kasus ini pengujian darah digunakan seminimal mungkin
selama kadar glukosa dalam dalam dapat diketahui karena tentu saja sangat berbahaya
jika mengambil sebagian darah dari pasien. Pada kasus hewan ternak, kemungkinan
mengambil satu ekor hewan ternak tidak mewakili populasi karena adanya perbedaan
dari setiap individu dari masing-masing hewan. Masalah ini dapat ditangani dengan cara
mengelompokkan hewan tersebut berdasarkan makanan pokok yang diberikan oleh
peternak, berdasarkan ketinggian dan lokasi peternakan atau berdasarkan jenis hewan
yang diternakkan. Sampel yang digunakan kemudian dicukupkan sampai seluruh
karakteristik dari populasi.

2. Masalah Teknis Penelitian Pada sebuah penelitian yang bersifat psikologi jumlah sampel
besar akan menghasilkan data yang lebih variatif dan lebih lengkap dibandingkan dengan
jumlah sampel sedikit. Semakin banyak sampel yang digunakan semakin baik namun ada
beberapa pertimbangan yang harus dilakukan peneliti untuk mengakhiri jumlah sampel
yang digunakan. Hal ini terkait masalah teknis penelitian yakni terkait masalah dana,
waktu dan keakuratan data. Peneliti harus pandai melihat kondisi data yang diambil, pada
Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 83
saat data sudah jenuh atau tidak menunjukkan perubahan sama sekali sebaiknya
pengumpulan data dihentikan karena hanya akan menghabiskan waktu, dan biaya. Pada
kasus tertentu beberapa peneliti bahkan bermasalah pada proses memasukkan data
karena jumlah sampel yang berlebih. Hal yang paling penting diperhatikan dalam kasus
teknis adalah data penelitian.Penghentian dilakukan ketika data yang dikumpulkan sudah
jenuh dan tidak menunjukkan perubahan atau bisa jadi tidak ada jenis statistik inferensi
yang sesuai dengan jumlah data yang sangat besar sehingga pengambilan data yang besar
menjadi sia-sia. Sebagai contoh berdasarkan pengalaman penulis, pada pengukuran dan
analisis kualitas item soal dengan menggunakan RASH model, Analisis data yang
terdistribusi mulai dari rantang 100 sampai dengan 1000 masih menunjukkan perubahan
nilai dari setiap item namun jika sampel yang digunakan lebih dari 1000 misalnya 1500
atau 2000 responden, hasil analisis kualitas soal tidak menunjukkan perbedaan yang
berarti sehingga pengambilan kelebihan 500 responden menjadi sia-sia.

Syarat Pengambilan Sampel

Sampel harus memiliki seluruh kriteria dari populasi oleh karean pertimbangan pengambilan
sampel harus memiliki dua kriteria yakni

1. Presisi

Presisi dari sampel adalah pertimbangan mengenai estimasi yang mungkin muncul dalam
pengambilan data yang diakibatkan oleh sampel. Salah satu cara untuk estimasi data ini
adalah melihat standar deviasi dari data yang ada. Sampel yang digunakan harus baik dari
segi kualitas dan kuantitas. Sebagai contoh rata-rata penghasilan di perumahan A adalah
Rp 25.500.000 yang didapatkan dari dua orang sampel dengan penghasilan sampel X
sebanyak Rp 50.000.000 dan sampel Y sebanyak 1.000.000. Kesimpulan rata-rata dari
perumahan berdasarkan operasi matematis sudah benar namun pada kajian statistik dan
kesimpulan tentu saja tidak benar. Penambahan julah sampel adalah salah satu cara untuk
mengurangi kesalahan analisis data.

2. Akurasi

Akurasi mengacu kepada sifat dan karakter dari sampel yang digunakan.Sebuah populasi
yang homogen hanya terdapat pada kasus yang bersifat teoritik.Sifat dan karater dari
sampel yang diambil terkadang tidak sesuai dengan keadaan populasi karena pengaruh

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 84


banyak hal. Peneliti harus memiliki kemampuan untuk mengetahui secara detail karakter
dari setiap sampel yang digunakan dan disesuaikan dengan karakter dari populasi.
Beberapa kasus mungkin saja mengurangi akurasi dari pengambilan sampel seperti kasus
penelitian terhadap pengaruh jam belajar di luar jam sekolah di kabupaten A. Sebuah
sekolah khusus seperti proyek pemerintah atau boarding school tentu saja tidak boleh
dimasukkan karena adanya karakter yang berbeda dari populasi secara keseluruhan.

Ukuran Sampel

Pada dasarnya tidak ada aturan baku mengenai pengambilan ukuran dari sampel
selama sampel sudah mewakili karakteristik dari populasi. Namun dalam penelitian yang
bersifat psikologi seperti pada penelitian pendidikan, Semakin besar jumlah akan
menghasilkan data yang lebih stabil. Selain dari karakteristik peneliti juga harus
mempertimbangkan jumlah data yang dibutuhkan untuk keperluan analisis Statistik.

Sebagai contoh jika penelitian yang dilakukan bertujuan untuk membandingkan dua
bua grouph dengan satu variabel pembanding, analisis yang dilakukan untuk data yang
terdistribusi normal adalah untuk distribusi t mengharuskan minimal jumlah data terdiri dari
30 data karena kurang dari itu tidak menghasilkan analisis yang baik dan tidak lebih dari 60
data. Beberapa ahli memberikan gambaran mengenai jumlah sampel yang berbeda-beda
namun pertimbangan jenis dan bidang penelitian sebaiknya dijadikan acuan untuk memilih
ukuran sampel.

Sebagai gambaran pendapat beberapa ahli mengenai jumlah sampel Gay dan Diehl
(1992) pada kajian penelitian untuk kelas bisni dan manajemen memberikan sara ukuran
sampel minimal Penelitian deskriptif, jumlah sampel minimum adalah 10% dari populasi
Penelitian korelasi, jumlah sampel minimum adalah 30 subjek Penelitian kausal
perbandingan, jumlah sampel minimum adalah 30 subjek per group Penelitian eksperimental,
jumlah sampel minimum adalah 15 subjek per group

Frankel dan Wallen (1993) pada kajian penelitian evaluasi pendidikan menyarankan

Penelitian deskriptif jumlah sampel minimum adalah 100 sampel Penelitian jumlah sampel
minimum adalah 50 sampel Penelitian kausal-perbandingan sebanyak 30 sampel untuk setiap
group

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 85


Penelitian eksperimental sebanyak 30 atau 15 per group Roscoe, Ukuran sampel penelitian
dibedakan menjadi 4 (empat), yaitu : Ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah
tepat untuk kebanyakan penelitian Jika sampel dipecah ke dalam subsampel (pria/wanita,
junior/senior, dan sebagainya), ukuran sampel minimum 30 untuk tiap kategori adalah tepat
Dalam penelitian mutivariate (termasuk analisis regresi berganda), ukuran sampel sebaiknya
10x lebih besar dari jumlah variabel dalam penelitian Untuk penelitian eksperimental
sederhana dengan kontrol eskperimen yang ketat, penelitian yang sukses adalah mungkin
dengan ukuran sampel kecil antara 10 sampai dengan 20 Isaac dan Michael memberikan
gambaran mengenai metode pengambilan sampel disesuaikan dengan taraf signifikansi dari
penelitian yakni 1%, 5%, dan 10%. Jumlah sampel sampel selanjutnya dihitung dengan
persamaan Keterangan: Berdasarkan Slovin,ukuran sampel dapat ditentukan dengan rumus :
keterangan : Pertimbangan pengambilan sampel dikembalikan oleh peneliti dengan asumsi
terpenuhi karakteristik dari populasi, disesuaikan dengan jenis statistik yang digunakan dan
menggunakan jumlah sampel jenuh paling sedikit.

Teknik Pengambilan Sampel atau Sampling

Teknik sampling adalah sebuah metode atau cara yang dilakukan untuk menentukan
jumlah dan anggota sampel. Setiap anggota tentu saja wakil dari populasi yang dipilih setelah
dikelompokkan berdasarkan kesamaan karakter.Teknik sampling yang digunakan juga harus
disesuaikan dengan tujuan dari penelitian.Populasi terdiri dari sekumpulan individu yang
bersifat heterogen terbatas.Ada banyak variasi variabel yang melekat pada masing-masing
individu. Perbedaan ini bisa disebabkan oleh faktor internal dan eksternal dari individu
seperti halnya wilayah tempat tinggal atau gaya hidup dalam suatu daerah tertentu.
Subjektifitas dari individu-individu yang memiliki sifat determinan yang berulang pada
populasi akhirnya membentuk karakter dari populasi secara umum.Berdasarkan karakter ini,
dapat disimpulkan bahwa pengambilan sampel dari populasi tidak bisa dilakukan begitu saja
namun dibutuhkan suatu teknik agar sampel yang ditarik tetap representatif Hal yang perlu
diperhatikan dalam pengambilan sampel atau sampling adalah seluruh variabel yang
berkaitan dengan penelitian. Unsur-unsur khusus yang melekat pada pribadi tentu saja perlu
diperhatikan karena individu dengan kemampuan khusus dalam sampel akan membawa bias
data dan tentu saja mempengaruhi distribusi data yang ada. Kesesuaian karakteristik daerah,
tingkatan, dan juga kecenderungan khusus juga perlu dipertimbangkan dalam memilih teknik
sampling yang sesuai

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 86


Jenis dan Metode Sampling

Sampling secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua (2) kelompok, yaitu
Probability sampling dan Nonprobability sampling. Adapun Probability sampling menurut
Sugiyono adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur
(anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Sedangkan Nonprobability
sampling menurut Sugiyono adalah teknik yang tidak memberi peluang/kesempatan yang
sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.

1. Probability sampling Probability sampling menuntut bahwasanya secara ideal peneliti telah
mengetahui besarnya populasi induk, besarnya sampel yang diinginkan telah ditentukan,
dan peneliti bersikap bahwa setiap unsur atau kelompok unsur harus memiliki peluang
yang sama untuk dijadikan sampel. Adapun jenis-jenis Probability sampling adalah
sebagai berikut :

a. Simple random sampling Menurut Kerlinger (2006:188), simple random sampling


adalah metode penarikan dari sebuah populasi atau semesta dengan cara tertentu
sehingga setiap anggota populasi atau semesta tadi memiliki peluang yang sama untuk
terpilih atau terambil. Menurut Sugiyono (2001:57) dinyatakan simple (sederhana)
karena pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa
memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.Margono (2004:126) menyatakan
bahwa simple random sampling adalah teknik untuk mendapatkan sampel yang
langsung dilakukan pada unit sampling.Cara demikian dilakukan bila anggota populasi
dianggap homogen.Teknik ini dapat dipergunakan bilamana jumlah unit sampling di
dalam suatu populasi tidak terlalu besar. Misal, populasi terdiri dari 500 orang
mahasiswa program S1 (unit sampling). Untuk memperoleh sampel sebanyak 150
orang dari populasi tersebut, digunakan teknik ini, baik dengan cara undian, ordinal,
maupun tabel bilangan random.

b Proportionate stratified random sampling Margono (2004: 126) menyatakan bahwa


stratified random sampling biasa digunakan pada populasi yang mempunyai susunan
bertingkat atau berlapis-lapis. Menurut Sugiyono (2001: 58) teknik ini digunakan bila
populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara
proporsional.Misalnya suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari berbagai latar
Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 87
belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata. Populasi berjumlah 100
orang diketahui bahwa 25 orang berpendidikan SMA, 15 orang diploma, 30 orang S1,
15 orang S2 dan 15 orang S3. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata
pendidikan tersebut dan diambil secara proporsional.

c. Disproportionate stratified random sampling Sugiyono (2001: 59) menyatakan bahwa


teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel bila populasinya berstrata tetapi
kurang proporsional. Misalnya pegawai dari PT tertentu mempunyai mempunyai 3
orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang lulusan S1, 800 orang lulusan SMU, 700
orang lulusan SMP, maka 3 orang lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya
sebagai sampel. Karena dua kelompok itu terlalu kecil bila dibandingkan denan
kelompok S1, SMU dan SMP.

d. Area (cluster) sampling (sampling menurut daerah) Teknik ini disebut juga cluster
random sampling. Menurut Margono (2004: 127), teknik ini digunakan bilamana
populasi tidak terdiri dari individu-individu, melainkan terdiri dari kelompok-kelompok
individu atau cluster. Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila
objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu
negara, propinsi atau kabupaten. Indonesia memiliki 34 propinsi dan akan
menggunakan 10 propinsi. Pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random.
Tetapi perlu diingat, karena propinsi-propinsi di Indonesia itu berstrata maka
pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling. Contoh
tersebut dikemukakan oleh Sugiyono sedangkan contoh lainnya dikemukakan oleh
Margono (2004: 127).Ia mencotohkan bila penelitian dilakukan terhadap populai
pelajar SMU di suatu kota. Untuk random tidak dilakukan langsung pada semua
pelajar-pelajar tetapi pada sekolah/kelas sebagai kelompok atau cluster.Teknik
sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama
menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada
pada daerah itu secara sampling juga.Teknik ini dapat digambarkan di bawah ini.
Teknik Cluster Random Sampling Teknik Cluster Random Sampling (Sugiyono, 2001:
59)

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 88


2. Nonprobability sampling

a. Sampling sistematis Sugiyono (2001:60) menyatakan bahwa sampling sistematis adalah


teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi
nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang.Dari semua anggota
diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 100. Pengambilan sampel dapat
dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu,
misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu, yang diambil sebagai sampel adalah
5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100.

b. Quota sampling Menurut Sugiyono (2001: 60) menyatakan bahwa sampling kuota
adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri
tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Menurut Margono (2004: 127) dalam
teknik ini jumlah populasi tidak diperhitungkan akan tetapi diklasifikasikan dalam
beberapa kelompok. Sampel diambil dengan memberikan jatah atau quorum tertentu
terhadap kelompok.Pengumpulan data dilakukan langsung pada unit sampling.Setelah
kuota terpenuhi, pengumpulan data dihentikan. Sebagai contoh, akan melakukan
penelitian terhadap pegawai golongan II dan penelitian dilakukan secara kelompok.
Setelah jumlah sampel ditentukan 100 dan jumlah anggota peneliti berjumlah 5 orang,
maka setiap anggota peneliti dapat memilih sampel secara bebas sesuai dengan
karakteristik yang ditentukan (golongan II) sebanyak 20 orang.

c. Sampling aksidental Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan


kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat
digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok
sebagai sumber data (Sugiyono, 2001: 60). Menurut Margono (2004: 27) menyatakan
bahwa dalam teknik ini pengambilan sampel tidak ditetapkan lebih dahulu.Peneliti
langsung mengumpulkan data dari unit sampling yang ditemui.Misalnya penelitian
tentang pendapat umum mengenai pemilu dengan mempergunakan setiap warga negara
yang telah dewasa sebagai unit sampling.Peneliti mengumpulkan data langsung dari
setiap orang dewasa yang dijumpainya, sampai jumlah yang diharapkan terpenuhi.

d. Purposive sampling Sugiyono (2001: 61) menyatakan bahwa sampling purposive


adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Menurut Margono
(2004:128), pemilihan sekelompok subjek dalam purposive sampling didasarkan atas

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 89


ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri
populasi yang sudah diketahui sebelumnya, dengan kata lain unit sampel yang
dihubungi disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan berdasarkan
tujuan penelitian. Misalnya, akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai maka
sampel yang dipilih adalah orang yang memenuhi kriteria-kriteria kedisiplinan
pegawai.

e. Sampling jenuh Menurut Sugiyono (2001:61) sampling jenuh adalah teknik penentuan
sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering
dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain sampel
jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.

f. Snowball sampling (Sugiyono, 2001: 61), Snowball sampling adalah teknik penentuan
sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-
temannya untuk dijadikan sampel begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin
banyak. Ibarat bola salju yang menggelinding semakin lama semakin besar. Pada
penelitian kualitatif banyak menggunakan purposive dan snowball sampling.
(Sugiyono, 2001: 61)

DISTRIBUSI SAMPLING

Distribusi Sampling adalah distribusi probabilitas dari suatu Statistik (yaitu semua
pengamatan yang mungkin dari statistik untuk sampel dari suatu ukuran sampel yang
diberikan). Pada penulisan ini, diberikan distribusi sampling sebagai review statistik,
meliputi:

1. Distribusi Sampling Mean.

2. Distribusi Sampling Selisih Dua Mean.

Distribusi Sampling Mean

Distribusi Sampling Mean adalah distribusi sampling untuk mean sampel (Xbar) dari suatu
populasi berukuran N. Mean sampel ini berdistribusi Normal dengan mean µXbar dan varian

σXbar2.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 90


Standar deviasi dari Xbar menunjukkan besarnya Sampling Error yang diharapkan ketika
populasi Mean diestimasi oleh mean sampel (Xbar), sehingga ukuran ini sering disebut
sebagai standard error dari mean sampel (Xbar). Secara umum, standar deviasi dari suatu
Statistik (untuk pendugaan parameter) disebut sebagai standard error (SE) dari suatu
Statistik

Jika peneliti melakukan sampling dari populasi dengan distribusi tidak diketahui (baik
terhingga maupun tak terhingga), distribusi sampling Xbar akan mendekati distrbusi Normal
dengan mean μ and varian σ2/n pada ukuran sampel sangat besar (n -> ∞). Hal ini sangat
berkaitan atau sesuai dengan teorema yang disebut

Secara empiris, pendekatan distribusi Normal untuk Xbarakan secara umum baik jika
ukurann ≥ 30, dengan diberikan distribusi populasi yang tidak miring (skewed). Jika n< 30,
maka pendekatan distribusi Normal baik hanya jika populasi tidak terlalu berbeda dari
distribusi Normal. Jika populasi diketahui berdistribusi Normal, maka distribusi Sampling
Xbar akan mengikuti distribusi Normal secara tepat, serta tidak tergantung berapa kecil
ukuran sampel.
Sebagai Contoh, diberikan kasus waktu transportasi bus untuk perjalanan antara dua kampus
dari suatu Universitas. Waktu transportasi bus tersebut memiliki rata-rata sebesar 28 menit
dan standar deviasi 5 menit.Pada bulan tertentu, bus tersebut digunakan untuk mengantar
penumpang sebanyak 40 kali.Berapa probabilitas rata-rata waktu transportasi bus tersebut
lebih dari 30 menit?

Distribusi Sampling Selisih Dua Mean

Distribusi sampling mean biasanya digunakan peneliti untuk meneliti satu populasi saja.
Terkadang peneliti juga tertarik meneliti pengamatan dari dua populasi dengan tujuan untuk
melakukan perbandingan antara populasi pertama dan populasi kedua.Dasar untuk
perbandingan itu adalah Selisih Dua Mean (μ1 − μ2) yang menggambarkan perbedaan dalam
makna populasi.Misalkan terdapat dua populasi, yaitu: populasi pertama memiliki mean μ1
dan varian σ12, dan populasi kedua mempunyai mean μ2 dan varian σ22. Misalkan juga
statistik Xbar1 merupakan mean dari sampel acak berukuran n1 yang dipilih dari populasi
pertama, dan statistik Xbar2 adalah mean dari sampel acak berukuran n2 yang diambil dari
populasi kedua. Sampel dari populasi pertama independen terhadap sampel dari populasi
kedua.Distribusi Sampling Selisih Dua Mean adalah distribusi sampling untuk selisih dua

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 91


mean sampel (Xbar1 – Xbar2) dari dua populasi yang masing-masing berukuran N1 dan N2.
Selisih dua mean sampel ini berdistribusi Normal dengan mean µXbar1–Xbar2 dan varian σXbar1-

2
Xbar2 .

Sebagaimana dalam distribusi sampling mean sebelumnya, maka juga berlaku dua prinsip
penting terkait distribusi sampling ini.

Secara empiris, jika n1 dan n2 lebih besar atau sama dengan 30, maka pendekatan distribusi
Normal untuk distribusi Xbar1 – Xbar2 akan sangat baik ketika distribusi yang mendasari
tidak terlalu jauh dari distribusi Normal. Ketika n1 dan n2 kurang dari 30, pendekatan Normal
baik ketika populasi tidak berbeda jauh dari distribusi Normal.

Sebagai Contoh, diberikan kasus perbandingan Waktu Kering dari dua tipe Cat yang berbeda
(independen). Delapanbelas sampel media dicat dengan Cat tipe A dan ditunggu beberapa
jam sampai kering kemudian dicatat, selanjutnya perlakuan ini dilakukan sama untuk
pencatatan hasil Waktu Kering Cat tipe B. Standar deviasi populasi dari dua sampel ini sama-
sama bernilai 1. Dengan mengasumsikan mean Waktu Kering sama untuk dua tipe cat ini,
temukan probabilitas P(XbarA – XbarB> 1) dengan Xbar1 dan Xbar2 merupakan mean
sampel Waktu Kering untuk sampel berukuran nA = nB = 18.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 92


BAB XV

PERHITUNGAN UJI STATISTIK

PENDAHULUAN

A. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

NO KOMPETENSI DASAR INDIKATOR

1. Perhitungan uji statistik


Perhitungan uji statistik

B. DESKRIPSI SINGKAT MATAKULIAH


Mata Kuliah metodologi penelitian dan biostatistika dasar ini memberikan
kemampuan kepada mahasiswa untuk memberikan kemampuan menyusun proposal
dan hasil penelitian dengan pokok bahasan : konsep penelitian, sistematika penelitian,
langkah-langkah penelitian, metode penelitian, mengkritik jurnal / proposal orang
lain, membuat proposal penelitian, seminar proposal, menyajikan data, melakukan
perhitungan uji statistik dan menyimpulkan penelitian pelayanan kebidanan pada
khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya dengan pokok bahasan
Perhitungan uji statistik

URAIAN MATERI

DASAR PEMILIHAN UJI STATISTIKA

Dasar Pemilihan

Dasar Penelusuran atau pemilihan uji statistika, perlu dikemukakan beberapa hal yang dapat
dijadikan pegangan untuk melakukan pengujian tersebut.Berikut dikemukakan beberapa
pertanyataan yang dapat digunakan sebagai acuan.

1. Uji hipotesis apa yang dikehendaki?


Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 93
Korelasi?
Perbedaan?
Peneliti perlu melihat kembali rumusan hipotesis yang dikemukakan. Dalam hipotesis
tersebut kita akan dengan mudah menemukan jawaban kita, pakah kita (misal) akan
melakukan uji perbedaan atau penaksiran ataukah akan dilakukan uji korelasi. Bagaimana
halnya jika dari hipotesis belum dapat dieksplorasi jawaban tersebut??.dalam hal demikian
berarti rumusan hipostesis dari peneliti belum bersifat operasional. Opersasional di sini
berarti variabel terumusakan dengan jelas dan hubungan antar variabel juga terlukiskan
dengan jelas. “hipotesis yang operasional memungkinkan dilakukannya pengukuran
terhadap variabel penelitian (measurable) dan memungkinkan dilakukannya pengujian
hubungan antar variabel”

Jika peneliti tidak merumusakan hipotesis, maka ada dua kemungkinan.Pertama,


penelitian yang dilakukan bersifat “deskriptif murni” sehingga tidak diperlukan pengujian
dengan statistika inferensia lagi.Kedua, masih termasuk penelitian analitik (bukan
deskriptif), tetapi tidak cukup informasi teoritik (penelitian terdahulu) untuk
dikembangkan suatu hipotesis.

2. Bagaimana sampel diperoleh? Bebas (random) atau tidak?

Sebagaimana diketahui bahwa untuk sebagai syarat dilakukannya uji parametrik adalah
bahwa sampel penelitian harus dipilih secara bebas/acak. Pertanyaan kedua ini akan
menggiring kita apakah akan memilih uji parametrik ataukah non-parametrik.

3. Apa tingkat pengukurannya (level of measurrement)

Nominal?
Ordinal?
Interval?
Rasio?

4. Berapakah Jumlah kelompok observasi?

5. Jika dua atau lebih, apakah sampel berhubungan (berasal dari satu kelompok subjek =
related sampel = sama subjek) atau tidak (lain subjek = independent sample)

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 94


Sebagai contoh misal kita akan mencoba mengatahui perbedaan khasiat obat tidur A dan
B.

Peneliti mencobakan obat A pada 10 orang pada suatu hari, kemudian dicatat selang waktu
antara minum dengan tidur. Pada hari yang lain terhadap ke-10 orang tersebut dicobakan
obat B, kemudian dicatat juga ataukah peneliti menggunakan 20 orang untuk percobaan
obatnya. 10 orang dikasih obat A kemudian dicatat selang waktu tidurnya, dan 10 orang
yang lain dikasih obat b kemudian juga diukur.

6. Apakah dalam rancangan penelitian ada pengamatan berulang terhadap suatu variabel?

Pada amatan berulang perlakukan dilakukan sekali saja, namun efek dimonitor (diukur)
bebebrapa kali, sehingga mempunyai lebih dari satu kelompok data.

7. Apakah pada Uji yang dikehendaki dilakukan pengendalian terhadap variabel tertentu?

Istilah pengendalaian di sini artinya kita meniadakan pengaruh (dalam perhitungan) suatu
variabel terhadap variabel dependent yang dihadapi.

Kelebihan Tes Statistik Non Parametri

1. Tes ini dapat dimanfaatkan ketika sampel yang diambil dalam penelitian kecil atau
terpaksa kecil karena sifat hakekat dari sampel itu sendiri (misalnya n = 6).

2. Uji statistik non parametrik dapat digunakan untuk menganalisis data dalam bentuk
jenjang atau ranking dan data yang skor keangkaannya secara sepintas kelihatan memiliki
ranking. Bahkan dalam beberapa tes hanya dengan data dalam bentuk tanda plus atau
minus maka analisis dengan tes non parametrik dapat dilakukan.

3. Uji tes statistik non parametrik dapat digunakan untuk data dalam bentuk klasifikasi atau
kategorikal. Dalam hal ini data dimaksud adalah data nomnal.

4. Tersedia tes statistik non parametrik untuk menganalisis sampel yang terdiri dari observasi
dari beberapa populasi yang berlainan.

5. Tes statistik non parametrik dalam kenyataan sederhana perhitungan atau analisisnya
sehingga mudah untuk dipelajari dan dipraktekkan.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 95


Kelemahan Tes Statistik Non Parametrik

1. Apabila persyaratan bagi model tes statistik parametrik (terutama asumsi distribusi
normal) dapat dipenuhi dan jika pengukuran data memiliki kekuatan seperti
dipersyaratkan pemakaian uji tes statistik non parametrik maka kekuatan efisiensinya
menjadi lebih rendah.

2. Uji statistik non parametrik tidak dapat digunakan untuk menguji interaksi seperti dalam
model analisis variance.

3. Metode statistik non parametrik tidak dapat digunakan untuk membuat prediksi (ramalan)
seperti dalam model analisis regresi, karena asumsi distribusi normal tidak dapat
dipenuhi.

4. Selama ini dikenal banyak jenis tes statistik non parametrik (sedikitnya 37 jenis) dalam
berbagai kasus. Kondisi ini kadang menyulitkan peneliti atau analis data untuk memilih tes
yang tepat atau sesuai dengan kasus yang dihadapi.

Penggunaan dan Jenis Tes Statistik Non Parametrik

Tes statistik non parametrik digunakan dalam kondisi sebagai berikut:

1. Bentuk distribusi populasi yang menjadi asal sampel diambil tidak diketahui distribusi
penyebarannya secara normal.

2. Variabel penelitian hanya dapat diukur dalam skala nominal (hanya diklasifikasikan dan
dihitung frekuensinya).

3. Variabel penelitian yang diukur menghasilkan dapat berskala ordinal atau hanya dapat
disusun berdasarkan ranking atau tingkatan/jenjang.

4. Ukuran sampelnya kecil dan sifat distribusi populasinya tidak diketahui secara pasti.

Modul Pembelajaran Metodologi Penenlitian dan Biostatistik Dasar 96