Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Hemorrhoid merupakan pelebaran dan inflamasi dari pleksus arteri-vena di saluran

anus yang berfungsi sebagai katup untuk mencegah inkomtinensia flatus dan cairan.

Hemoroid dibagi dalam dua jenis, yaitu hemoroid interna dan hemoroid eksterna. Hemoroid

interna merupakan varises vena hemoroidalis superior dan media, sedangkan hemoroid

eksterna merupakan varises vena hemoroidalis inferior. Kedua jenis hemoroid ini sangat

sering terjadi dan terdapat pada sekitar 35% penduduk baik pria maupun wanita. Dikatakan

bahwa baik pria maupun wanita mempunyai peluang yang sama untuk terkena hemoroid.

Semua orang di atas 30 tahun mempunyai kemungkinan 30–50 % untuk mendapat varises

ditungkai, pleksus hemoroidalis maupun di tempat-tempat lain.

Tingginya prevalensi hemorroid disebabkan beberapa faktor antara lain; kurangnya

konsumsi makanan berserat, konstipasi, usia, keturunan, kebiasaan duduk terlalu lama,

peningkatan tekanan abdominal, pola buang air besar yang salah, hubungan seks per anal,

kurangnya intake cairan, kurang olah raga dan kehamilan. Insidensi hemorroid meningkat

dengan bertambahnya usia. Penanganan hemorroid dapat dilakukan secara non bedah seperti

modifikasi pola hidup (makanan dan kebiasaan buang air besar) maupun pembedahan.

Stapled hemorroidopexy merupakan suatu teknik pembedahan minimal invasive dengan

menggunakan alat stapling, dimana teknik ini menghindari luka di bagian sensitif anal area

dan mereduksi rasa sakit pasca operasi. Oleh sebab itu, beberapa negara sudah menjadikan

stapled hemorroidopexy sebagai gold standart penanganan hemorroid.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI

Hemoroid adalah pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena di daerah anus yang

berasal dari pleksus hemoroidalis. Pelebaran dan inflamasi ini menyebabkan pembengkakan

submukosa pada lubang anus. Dalam masyarakat umum hemoroid lebih dikenal dengan

wasir. Apabila hemoroid ini menyebabkan keluhan, barulah dilakukan tindakan.

Hemoroid dibedakan antara interna dan eksterna. Hemoroid interna adalah pelebaran

pleksus vena hemoroidalis superior diatas garis mukokutan dan ditutupi oleh mukosa.

Hemoroid interna ini merupakan bantalan vaskular di dalam jaringan submukosa pada rektum

sebelah bawah. Hemoroid sering dijumpai pada tiga posisi primer yaitu, kanan depan, kanan

belakang dan kiri lateral. Hemoroid yang lebih kecil terdapat diantara ketiganya. Hemoroid

eksterna yang merupakan pelebaran dan penonjolan pleksus hemoroidalis hemoroid inferior

terdapat di sebelah distal garis mukokutan di dalam jaringan di bawah epitel anus.

Kedua pleksus hemoroid, internus dan eksternus saling berhubungan secara longgar

dan merupakan awal dari aliran vena yang kembali bermula dari rectum sebelah bawah dan

anus. Pleksus hemoroid internus mengalirkan darah ke vena hemoroidalis superior dan

selanjutnya ke vena porta. Pleksus hemoroid eksternus mengalirkan darah ke peredaran

sistemik melelui daerah perineum dan lipat paha ke vena iliaka.

2
Gambar 1. Hemoroid Interna dan Eksterna

2.2 ANATOMI

Kanalis analis berasal dari proktoderm yang merupakan invaginasi ektoderm,

sedangkan rektum berasal dari entoderm. Karena perbedaan asal anus dan rektum ini,

perdarahan, persarafan serta penyaliran vena dan limfnya berbeda juga, demikian pula epitel

yang menutupinya. Rektum dilapisi oleh mukosa glanduler usus sedangkan kanalis analis

oleh anoderm yang merupakan lanjutan epitel berlapis gepeng kulit luar. Tidak ada yang

disebut mukosa anus. Daerah batas rektum dan kanalis analis ditandai dengan perubahan

jenis epitel. Kanalis analis dan kulit luar di sekitarnya kaya akan persarafan sensoris somatik

dan peka terhadap rangsangan nyeri. Darah vena di atas garis anorektum mengalir melalui

sistem porta, sedangkan yang berasal dari anus dialirkan ke sistem kava melalui cabang vena

iliaka. Sistem limf dari rektum mengalirkan isinya melalui pembuluh limf sepanjang

pembuluh hemoroidalis superior ke arah kelenjar limf paraaorta melalui kelenjar limf iliaka

interna, sedangkan limf yang berasal dari kanalis analis mengalir ke arah kelenjar inguinal.

Kanalis analis berukuran panjang kurang lebih 3 sentimeter. Sumbunya mengarah ke

ventrokranial yaitu ke arah umbilikus dan membentuk sudut yang nyata ke dorsal dengan

3
rektum dalam keadaan istirahat. Pada saat defekasi sudut ini menjadi lebih besar. Batas atas

kanalis anus disebut garis anorektum, garis mukokutan, linea pektinata atau linea dentata. Di

daerah ini terdapat kripta anus dan muara kelenjar anus anatara kolumna rektum. Cincin

sfingter anus melingkari kanalis analis dan terdiri dari sfingter intern dan sfingter ekstern.

Gambar 2. Anatomi Kanalis Analis

a) Sistem Arteri

Arteri hemoroidalis superior merupakan kelanjutan langsung arteri

mesenterika inferior. Arteri ini membagi diri menjadi dua cabang utama, kiri dan

kanan. Cabang yang kanan bercabang lagi. Letak ketiga cabang terakhir ini mungkin

dapat menjelaskan letak hemoroid dalam yang khas yaitu dua buah di setiap perempat

sebelah kanan dan sebuah di seperempat lateral kiri.

Arteri hemoroidalis medialis merupakan percabangan anterior arteri iliaka

interna, sedangkan arteri hemoroidalis inferior merupakan cabang arteri pudenda

interna. Anastomosis antara arkadae pembuluh inferior dan superior menjadi sirkulasi

kolateral yang mempunyai makna penting pada tindak bedah atau sumbatan

aterosklerotik di daerah percabangan aorta dan arteri iliaka. Anastomosis tersebut ke

pembuluh kolateral hemoroid inferior dapat menjamin perdarah di kedua ekstremitas

4
bawah. Perdarahan di pleksus hemoroidalis merupakan kolateral luas dan kaya sekali

darah sehingga perdarahan dari hemoroid intern menghasilkan darah segar yang

berwarna merah dan bukan darah vena warna kebiruan.

b) Sistem Vena

Vena hemoroidalis superior berasal dari pleksus hemoroidalis internus dan

berjalan ke arah kranial ke dalam vena mesenterika inferior dan seterusnya melalui

vena lienalis ke vena porta. Vena ini tidak berkatup sehingga tekanan rongga perut

menentukan tekanan di dalamnya. Vena hemoroidalis inferior mengalirkan darah ke

dalam vena pudenda interna dan ke dalam vena iliaka interna dan sistem kava.

Pembesaran vena hemoroidalis dapat menimbulkan keluhan hemoroid.

Gambar 3. Aliran Vena Kanalis Analis

c) Penyaliran Limf

Pembuluh limf dari kanalis membentuk pleksus halus yang menyalirkan

isisnya menuju ke kelenjar limf inguinal. Selamjutnya, cairan limf terus mengalir

sampai ke kelnjar limf iliaka. Pmbuluh limf dari rektum di atas garis anorektum

berjalan seiring dengan vena hemoroidalis superior dan menlanjut ke kelenjar limf

mesenterika inferior dan aorta.

5
d) Persarafan

Perasarafan rektum terdiri atas sistem simpatik dan sistem parasimpatik.

Serabut simpatik berasal dari pleksus mesenterikus inferior dan dari sitem parasakral

yang terbentuk dari gangglion simpatis lumbal ruas kedua, ketiga dan keempat. Unsur

simpatis pleksus ini menuju ke arah struktur genital dan serabut otot polos yang

mengendalikan emisi air mani dan ejakulasi. Persarafan parasimpatik berasal dari

saraf sakral kedua, ketiga dan keempat. Serabut saraf ini menuju ke jaringan erektil

penis dan klitoris serta mengendalikan ereksi dengan cara mengatur aliran darah ke

dalam jaringan ini.

e) Fisiologi Defekasi

Pada suasana normal, rectum kosong. Pemindahan feses dari kolon sigmoid ke

dalam rectum kadang-kadang dicetuskan oleh makan, terutama pada bayi. Bila isi

sigmoid masuk ke dalam rectum, dirasakan oleh rectum dan menimbulkan keinginan

defekasi. Rectum mempunyai kemampuan khas untuk mengenal dan memisahkan

bahan padat, cair dan gas.

Sikap badan sewaktu defekasi, yaitu sikap duduk atau jongkok, memegang

peranan yang berarti. Defekasi terjadi akibat reflex peristaltic rectum, dibantu oleh

mengedan dan relaksasi sfingter anus eksternus. Syarat untuk defekasi normal ialah

persarafan sensible untuk sensasi isi rectum dan persarafan sfingter anus untuk

kontraksi dan relaksasi yang utuh.

2.3 KLASIFIKASI

Hemoroid diklasifikasikan menjadi 2 jenis, yaitu: hemoroid interna dan hemoroid

eksterna. Hemoroid interna terletak di sebelah atas linea dentata, pada bagian yang dilapisi

oleh epitel sel kolumner. Secara klinis hemoroid interna dibagi atas 4 derajat:

6
 Derajat 1 : hemoroid menyebabkan perdarahan merah segar tanpa nyeri pada waktu

defekasi. Pada stadium awal seperti ini tidak terdapat prolaps dan pada pemeriksaan

anoskopi terlihat hemoroid yang membesar menonjol ke dalam lumen.

 Derajat 2 : hemoroid menonjol melalui kanalis analis pada saat mengedan ringan

tetapi dapat masuk kembali secara spontan.

 Derajat 3 : hemoroid menonjol saat mengedan dan harus didorong kembali sesudah

defekasi.

 Derajat 4 : hemoroid menonjol keluar dan tidak dapat didorong masuk.

Gambar 4. Klasifikasi Derajat Hemoroid Interna

Hemoroid eksterna diklasifikasikan sebagai akut dan kronik. Bentuk akut berupa

pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya merupakan hematoma,

walaupun disebut hemoroid trombosis eksterna akut. Bentuk ini sangat nyeri dan gatal karena

ujung-ujung syaraf pada kulit merupakan reseptor nyeri. Hemoroid eksterna kronik atau skin

tag berupa satu atau lebih lipatan kulit anus yang terdiri dari jaringan penyambung dan

sedikit pembuluh darah.

2.4 ETIOLOGI

Penyebab pelebaran pleksus hemoroidalis dibagi menjadi 2, yaitu: Hemoroid akibat

obstruksi organik pada aliran vena hemoroidalis superior. Contohnya: sirosis hepatis,

trombosis vena porta, tumor intra abdomen (tumor ovarium, tumor rectum). Hemoroid

7
idiopatik tanpa obstruksi organik aliran vena. Faktor-faktor yang mungkin berperan adalah

keturunan/ herediter (dalam hal ini yang menurun adalah kelemahan dinding pembuluh darah

dan bukan hemoroidnya), anatomi (vena di daerah mesenterium tidak mempunyai katup

sehingga darah mudah kembali, menyebabkan meningkatnya tekanan di pleksus

hemoroidalis), pekerjaan (orang yang pekerjaannya banyak berdiri karena gaya gravitasi akan

mempengaruhi timbulnya hemoroid, misalnya polisi lalu lintas, ahli bedah), tekanan intra

abdomen yang meningkat secara kronis (misal: mengedan, batuk kronis). Pada seorang

wanita hamil terdapat 3 faktor yang mempengaruhi timbulnya hemoroid, yaitu: adanya tumor

intraabdomen, kelemahan pembuluh darah sewaktu hamil akibat pengaruh perubahan

hormonal, mengedan waktu partus. Semakin bertambahnya usia juga dapat menjadi salah

satu faktor risiko terjadinya hemorroid yang disebabkan oleh terjadinya degenerasi dari

seluruh jaringan tubuh termasuk otot sfingter yang menjadi tipis dan atonis.

2.5 GEJALA DAN TANDA

Pasien sering mengeluh menderita hemoroid atau “wasir” tanpa ada hubungannya

dengan gejala rektum atau anus yang khusus. Nyeri yang hebat jarang sekali ada

hubungannya dengan hemoroid interna dan hanya timbul pada hemoroid eksterna yang

mengalami trombosis. Perdarahan umumnya merupakan tanda pertama hemoroid interna

akibat trauma oleh feses yang keras. Darah dapat menetes keluar dari anus beberapa saat

sesudah defekasi. Darah yang keluar berwarna merah segar dan tidak bercampur dengan

feses, dapat hanya berupa garis pada feses atau kertas pembersih sampai pada perdarahan

yang terlihat menete atau mewarnai air toilet menjadi berwarna merah segar karena kaya

akan zat asam. Perdarahan luas dan intensif di pleksus hemoroidalis menyebabkan darah di

vena tetap merupakan “darah arteri”.

8
Kadang, perdarahan hemoroid yang berulang dapat menyebabkan anemia berat.

Hemoroid yang membesar sacara perlahan akhirnya dapat menonjol keluar dan menyebabkan

prolaps. Pada tahap awal, penonjolan ini hanya terjadi sewaktu defekasi dan disusul oleh

reduksi spontan sesudah selesai defekasi. Pada stadium lebih lanjut, hemoroid interna ini

perlu didorong kembali setelah defekasi agar masuk ke dalam anus. Akhirnya, hemoroid

dapat berlanjut menjadi bentuk yang mengalami prolaps menetap dan tidak dapat didorong

masuk lagi. Keluarnya mukus dan terdapatnya feses pada pakaian dalam merupakan ciri

hemoroid yang mengalami prolaps menetap. Iritasi kulit perianal dapat menimbulkan rasa

gatal yang dikenal sebagai pruritus anus, dan ini disebabkan oleh kelembapan yang terus

menerus dan rangsangan mukus. Nyeri hanya timbul apabila terdapat trombosis yang luas

dengan udem dan radang.

2.6 DIAGNOSIS

Anamnesis harus dikaitkan dengan faktor obstipasi, defekasi yang keras, yamg

membutuhkan tekanan intra abdominal meninggi ( mengejan ), pasien sering duduk berjam-

jam di WC, dan dapat disertai rasa nyeri bila terjadi peradangan. Pemeriksaan umum tidak

boleh diabaikan karena keadaan ini dapat disebabkan oleh penyakit lain seperti sindrom

hipertensi portal. Hemoroid eksterna dapat dilihat dengan inspeksi apalagi bila terjadi

trombosis. Bila hemoroid interna mengalami prolaps, maka tonjolan yang ditutupi epitel

penghasil musin akan dapat dilihat apabila penderita diminta mengejan

Pada pemeriksaan colok dubur, hemoroid interna tidak dapat diraba sebab tekanan

vena didalamnya tidak cukup tinggi dan biasanya tidak nyeri. Hemoroid dapat diraba apabila

sangat besar. Apabila hemoroid sering prolaps, selaput lendir akan menebal. Trombosis dan

fibrosis pada perabaan terasa padat dengan dasar yang lebar. Sebenarnya ada tiga pokok

keluarnya vena yang kemudian berkelok-kelok dan seringkali semua tampak bersatu,

sehingga ada istilah hemoroid sirkuler. Ketiga tempat tersebut disebut “primary piles/ sites of

9
Morgan” dan berada pada jam 3, 7, dan 11. Colok dubur diperlukan untuk menyingkirkan

kemungkinan karsinoma rektum.

Penlilaian dengan anoskop diperlukan untuk melihat hemoroid interna yang tidak

menonjol keluar. Anoskop dimasukkan dan diputar untuk mengamati keempat kuadaran.

Hemoroid interna terlihat sebagai struktur vaskular yang menonjol ke dalam lumen. Apabila

penderita diminta mengedan sedikti, ukuran hemoroid akan membesar dan penonjolan atau

prolaps akan lebih nyata. Banyaknya benjolan, derajatnya, letak ,besarnya dan keadaan lain

dalam anus seperti polip, fissura ani dan tumor ganas harus diperhatikan.

Proktosigmoidoskopi perlu dikerjakan untuk memastikan bahwa keluhan bukan

disebabkan oleh proses radang atau proses keganasan di tingkat yang lebuh tinggi, karena

hemoroid merupakan keadaan fisiologik saja atau tanda yang menyartai. Feses harus

diperiksa terhadap adanya darah samar.

2.7 DIAGNOSIS BANDING

Perdarahan rectum yang merupakan manifestasi utama hemoroid intern juga terjadi

pada karsinoma kolorektum, penyakit divertikel, polip, colitis ulserosa, dan penyakit lain

yang tidak begitu sering terdapat di kolorektum. Pemeriksaan sigmoidoskopi harus dilakukan.

Foto barium kolon dan kolonoskopi perlu dipilih secara selektif, bergantung pada keluhan

dan gejala penderita.

Prolaps rectum harus juga dibedakan dari prolaps mukosa akibat hemoroid interna.

Kondiloma perianal dan tumor anorektum lainnya biasanya tidak sulit dibedakan dari

hemoroid yang mengaalami prolaps. Lipatan kulit luar yang lunak sebagai akibat dari

thrombosis hemoroid ekstern sebelumnya juga mudah dikenali. Adanya lipatan kulit sentinel

pada garis tengah dorsal, yang disebut umbai kulit dapat menunjukkan fisura anus.

10
2.8 PENATALAKSANAAN

Menurut Acheson dan Scholefield (2006), penatalaksanaan hemoroid dapat dilakukan

dengan beberapa cara sesuai dengan jenis dan derajat daripada hemoroid.

A. Penatalaksanaan Konservatif

Sebagian besar kasus hemoroid derajat I dapat ditatalaksana dengan pengobatan

konservatif. Tatalaksana tersebut antara lain koreksi konstipasi jika ada, meningkatkan

konsumsi serat, laksatif, dan menghindari obat-obatan yang dapat menyebabkan kostipasi

seperti kodein (Daniel, 2010). Makanan sebaiknya terdiri atas makanan berserat tinggi seperti

sayur dan buah-buahan. Makanan ini membuat gumpalan isi usus besar, namun lunak,

sehingga mempermudah defekasi dan mengurangi keharusan mengejan berlebihan.

Penelitian meta-analisis akhir-akhir ini membuktikan bahwa suplemen serat dapat

memperbaiki gejala dan perdarahan serta dapat direkomendasikan pada derajat awal

hemoroid (Zhou dkk, 2006). Perubahan gaya hidup lainnya seperti meningkatkan konsumsi

cairan, menghindari konstipasi dan mengurangi mengejan saat buang air besar dilakukan

pada penatalaksanaan awal dan dapat membantu pengobatan serta pencegahan hemoroid,

meski belum banyak penelitian yang mendukung hal tersebut. Kombinasi antara anestesi

lokal, kortikosteroid, dan antiseptik dapat mengurangi gejala gatal-gatal dan rasa tak nyaman

pada hemoroid. Penggunaan steroid yang berlama-lama harus dihindari untuk mengurangi

efek samping. Selain itu suplemen flavonoid dapat membantu mengurangi tonus vena,

mengurangi hiperpermeabilitas serta efek antiinflamasi meskipun belum diketahui bagaimana

mekanismenya.

Hemoroid interna yang mengalami prolaps oleh karena udem umumnya dapat

dimasukkan kembali secara perlahan disusul dengan tirah baring dan kompres lokal untuk

11
mengurangi pembengkakan. Rendam duduk dengan dengan cairan hangat juga dapat

meringankan nyeri.

B. Pembedahan

Acheson dan Scholfield (2008) menyatakan apabila hemoroid internal derajat I yang

tidak membaik dengan penatalaksanaan konservatif maka dapat dilakukan tindakan

pembedahan. HIST (Hemorrhoid Institute of South Texas) menetapkan indikasi tatalaksana

pembedahan hemoroid antara lain:

 Hemoroid internal derajat II berulang.

 Hemoroid derajat III dan IV dengan gejala.

 Mukosa rektum menonjol keluar anus.

 Hemoroid derajat I dan II dengan penyakit penyerta seperti fisura.

 Kegagalan penatalaksanaan konservatif.

 Permintaan pasien.

Pembedahan yang sering dilakukan yaitu:

Skleroterapi

Skleroterapi adalah penyuntikan larutan kimia berupa 5 mL oil phenol 5 %, vegetable

oil, quinine, dan urea hydrochlorate atau hypertonic salt solution. Lokasi injeksi adalah

submukosa hemoroid. Efek injeksi sklerosan tersebut adalah edema, reaksi inflamasi dengan

proliferasi fibroblast, dan trombosis intravaskular. Reaksi ini akan menyebabkan fibrosis

pada sumukosa hemoroid. Hal ini akan mencegah atau mengurangi prolapsus jaringan

hemoroid (Kaidar-Person dkk, 2007). Senapati (1988) dalam Acheson dan Scholfield (2009)

menyatakan teknik ini murah dan mudah dilakukan, tetapi jarang dilaksanakan karena tingkat

kegagalan yang tinggi.

12
Apabila penyuntikan dilakukan pada tempat yang tepat maka tidak ada nyeri. Penyulit

penyuntikan termasuk infeksi, prostatitis akut jika masuk dalam prostat, dan reaksi

hipersensitivitas terhadap obat yang disuntikan.Terapi suntikan bahan sklerotik bersama

nasehat tentang makanan merupakan terapi yang efektif untuk hemoroid interna derajat I dan

II, tidak tepat untuk hemoroid yang lebih parah atau prolaps.

Rubber band ligation

Hemoroid yang besar atau yang mengalami prolaps dapat ditangani dengan ligasi

gelang karet menurut Barron. Dengan bantuan anoskop, mukosa di atas hemoroid yang

menonjol dijepit dan ditarik atau dihisap ke tabung ligator khusus. Gelang karet didorong dari

ligator dan ditempatkan secara rapat di sekeliling mukosa pleksus hemoroidalis tersebut. Pada

satu kali terapi hanya diikat satu kompleks hemoroid, sedangkan ligasi berikutnya dilakukan

dalam jarak waktu 2 – 4 minggu.

Gambar 5. Rubber Band Ligation

Ligasi jaringan hemoroid dengan rubber band menyebabkan nekrosis iskemia,

ulserasi dan scarring yang akan menghsilkan fiksasi jaringan ikat ke dinding rektum.

Komplikasi prosedur ini adalah nyeri dan perdarahan.

Infrared thermocoagulation

Dengan sinar infra merah yang dihasilkan oleh alat yang dinamakan

photocuagulation, tonjolan hemoroid dikauter sehingga terjadi nekrosis pada jaringan dan

13
akhirnya fibrosis. Cara ini baik digunakan pada hemoroid yang sedang mengalami

perdarahan.

Sinar infra merah masuk ke jaringan dan berubah menjadi panas. Manipulasi

instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengatur banyaknya jumlah kerusakan jaringan.

Prosedur ini menyebabkan koagulasi, oklusi, dan sklerosis jaringan hemoroid. Teknik ini

singkat dan dengan komplikasi yang minimal.

Bipolar Diathermy

Prinsipnya tetap sama dengan terapi hemoroid lain di atas yaitu menimbulkan

nekrosis jaringan dan akhirnya fibrosis. Namun yang digunakan sebagai penghancur jaringan

yaitu radiasi elektromagnetik berfrekuensi tinggi. Pada terapi dengan diatermi bipolar, selaput

mukosa sekitar hemoroid dipanasi dengan radiasi elektromagnetik berfrekuensi tinggi sampai

akhirnya timbul kerusakan jaringan. Cara ini efektif untuk hemoroid interna yang mengalami

perdarahan.

Menggunakan energi listrik untuk mengkoagulasi jaringan hemoroid dan pembuluh

darah yang memperdarahinya. Biasanya digunakan pada hemoroid internal derajat rendah.

Doppler ultrasound guided haemorrhoid artery ligation

Teknik ini dilakukan dengan menggunakan proktoskop yang dilengkapi dengan

doppler probe yang dapat melokalisasi arteri. Kemudian arteri yang memperdarahi jaringan

hemoroid tersebut diligasi menggunakan absorbable suture. Pemotongan aliran darah ini

diperkirakan akan mengurangi ukuran hemoroid.

Cryotherapy

Teknik ini dilakukan dengan menggunakan temperatur yang sangat rendah untuk

merusak jaringan. Kerusakan ini disebabkan kristal yang terbentuk di dalam sel,

menghancurkan membran sel dan jaringan. Namun prosedur ini menghabiskan banyak waktu

dan hasil yang cukup mengecewakan. Cryotherapy adalah teknik yang paling jarang

14
dilakukan untuk hemoroid (American Gastroenterological Association, 2004). Krioterapi ini

lebih cocok untuk terapi paliatif pada karsinoma rektum yang ireponibel.

Stappled Hemorrhoidopexy

Stappled hemorrhoidopexy merupakan salah satu cara penanganan kasus hemorroid.

Teknik ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1997 oleh Sir Antonio Longo. Semenjak

saat itu, data klinis secara signifikan menunjukkan efektifitas prosedur ini. Metode Longo

atau stapled hemorrhoidectomy ini memiliki efek perdarahan dan nyeri post operasi yang

minimal, sehingga sudah banyak digunakan sebagai gold standart di beberapa negara.

a. Indikasi dan Kontraindikasi

Penggunaan metode stappled hemorrhoidopexy ini berdasarkan konsensus American

College of Surgeon dilakukan pada hemorrhoid grade 2 dan 3. Kontraindikasi absolut

penggunaan metode ini adalah anal stenosis, dimana alat yang digunakan untuk stappled

hemorrhoidopexy dan anoskop sulit atau bahkan tidak bisa sama sekali dimasukkan.

Kontraindikasi relatif antara lain; hemorrhoid grade 4, pembedahan anorektal

sebelumnya, inflamatory bowel disease, inkontinensia anal, pasien yang sering

melakukan anal sex.

b. Prosedur Pelakasanaan

 Persiapan Pre-Operatif

Persiapan pre-operatif tergantung dari masing-masing dokter bedah yang

bersangkutan; puasa, enema, atau rectal washout.

 Anestesi

Sebelum dilakukan operasi, pasien harus diberikan anestesi spinal blok, atau sedasi

sadar dan lokal anestesi. Dalam beberapa kasus, pasien juga dapat ditangani dalam

keadaan general anestesi.

15
 Posisi Pasien

Sebelum dilakukan operasi, pasien dapat diposisikan dalm posisi prone (jack-knife)

atau supine (litotomi), tergantung dokter bedah yang bersangkutan. Meja operasi

harus sesuai tingginya untuk dokter ketika duduk melakukan rectal suturing dan

berdiri ketika melakukan implementasi stapler.

 Suturing

Sebelum penjahitan dan selama proses pembedahan berlangsung, semua peralatan

harus sudah disiapkan. Anoskop harus digunakan selama proses penjahitan dilakukan.

Dokter bedah harus menjahit jahitan cirucumferencial purse string penuh tanpa jarak

antar jahitannya, di 2 sampai 3 cm diatas hemorrhoid, sekitar 4 cm dari dentata line.

Menjahit di dekat hemorrhoid tidak dianjurkan untuk hemorrhoidepexy. Menjahit

terlalu tinggi di kanal rektal dapat menyebabkan prolaps. Kedalaman jahitan harus

tidak melebihi lapisan submukosa. Setelah selesai, jahitan harus kembali diamati,

untuk memastikan bahwa garis jahitannya sudah lengkap dan tidak terbelit di rektum.

Jika jahitannya belum betul, jahitan harus dibongkar dan kemudian dijahit ulang.

 Pemasangan Alat dan Aplikasi

Sebelum memasukan anvil, anvil harus dilumuri lubrikan terlebih dahulu. Anvil harus

dimasukan secara perlahan, dengan posisi lurus didalam kanal ketika anvil melewati

purse string. Pada pasien perempuan, pemeriksaan vagina harus dilakukan untuk

memastikan bahwa vagina tidak termasuk dalam jaringan yang terjahit. Setelah

mengaitkan anvil dengan stapler, alat dapat ditutup. Sebelum menjalankan alatnya,

ada baiknya dokter bedah merubah posisi dari duduk ke berdiri. Pegangan alat harus

tertutup sepenuhnya dalam genggaman. Setelah dilepaskan, stapler dapat dikeluarkan

dengan memutar hendel.

16
2.9 KOMPLIKASI

Komplikasi dari hemoroid yang paling sering adalah perdarahan, trombosis, dan

strangulasi. Hemoroid yang mengalami strangulasi adalah hemoroid yang mengalami

prolapsus dimana suplai darah dihalangi oleh sfingter ani. Keadaan trombosis dapat

menyebabkan nyeri yang hebat dan dapat menyebabkan nekrosis mukosa dan kulit yang

menutupinya.

2.10 PROGNOSIS

Dengan terapi yang sesuai, semua hemoroid simptomatis dapat dibuat menjadi

asimptomatis. Pendekatan konservatif hendaknya diusahakan terlebih dahulu pada semua

kasus. Hemoroidektomi pada umumnya memberikan hasil yang baik. Sesudah terapi

penderita harus diajari untuk menghindari obstipasi dengan makan makanan serat agar dapat

mencegah timbulnya kembali gejala hemoroid.

17
DAFTAR PUSTAKA

Abedrapo, Mario A et all.2009. Hemorrhoidopexy With Covidien EEATM Hemorrhoid Stapler


:Technique Guide. France : Elancourt

Brown, John Stuart, Buku Ajar dan Atlas Bedah Minor, alih Bahasa, Devi H, Ronardy,
Melfiawati, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2001.

Cerato, Marlise Mello et all. 2014. Surgical Treatment of Hemorrhoids : A Critical Appraisal
of The Current Option. Received 30 May 2013 from
http://www.scielo.br/pdf/abcd/v27n1/0102-6720-abcd-27-01-00066.pdf

Chalkoo, Mushtaq et all. 2015. An Early Experience of Stapled Hemorrhoidectomy in


Medical College Setting. Published 26 May 2015 on
http://file.scirp.org/pdf/SS_2015052610553699.pdf

Jaiswal, Col S et all. 2012. Stapled Hemorrhoidopexy – Initial Experience From a General
Surgery Center. Published 30 November 2012 on
http://medind.nic.in/maa/t13/i2/maat13i2p119.pdf

Lohsiriwat, V. 2012. Hemorrhoids: From Basic Pathophysiology to Clinical Management.


World Journal Of Gastroenterology.

Nelson, Heidi MD., Roger R. Dozois, MD., Anus, in Sabiston Text Book of Surgery,
Saunders Company, Phyladelphia. 2001.

Ribaric, G et all. 2011. Stapled Hemorrhoidopexy, An Innovative Surgical Procedure for


Hemmorhoidal Prolapse : Cost-utillity Analysis. United Kingdom : St. James’s University
Hospital

Shrestha, S et all. 2014. Stapled Hemorrhoidectomy in Operative Treatment of Grade III and
IV Haemorrhoids. Nepal : Nepal Medical College and Teaching Hospital

Sjamsuhidajat, R dan de Jong, Wim. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC

18
19