Anda di halaman 1dari 2

Implementasi Sumpah Pemuda dan Kesejahteraan Indonesia:

Menanamkan Kecintaan Berbangsa pada Anak Usia Dini, Mencegah Degradasi


Identitas Diri

Sebuah Esai

Oleh Putri Nur Aulia

Ketika mendengar “Hari Sumpah Pemuda”, apa yang kalian pikirkan? Untuk saya
pribadi, yang terbayang di benak saya adalah peristiwa sejarah 28 Oktober 1928. Kala
itu, Kongres Pergerakan Pemuda Indonesia melahirkan keputusan berupa ikrar agar
para pemuda Indonesia menjadi saudara dalam satu tanah air, satu bangsa dan satu
bahasa; satu Indonesia. Para pemuda di zaman itu sangat menggebu untuk
mengukuhkan jati diri mereka sebagai seorang warga Indonesia.

Sebagai seorang pelajar di negara lain, meski hanya baru dua bulan bergelut dengan
pendidikan di Taiwan, secara mengejutkan, saya sudah menemukan pemuda
Indonesia yang tak lagi bangga dengan bahasanya, yang tak lagi berbahagia bertemu
saudara setanah airnya, yang lebih menyukai budaya asing yang menawarkan
kebebasan penuh dibandingkan budaya Indonesia yang bersahaja. Ada juga yang
merasa tidak perlu pulang dan membangun Indonesia karena tak ada yang akan
menghargainya. Sungguh bertolak belakang dengan pemuda di tahun 1928, yang
memperjuangkan identitas warga Indonesia mati-matian. Dan ini sungguh miris,
bukan?

Saya berusaha mengobservasi dan menelaah kembali, kemudian menyadari bahwa hal
ini mungkin terjadi karena pendidikan tentang sejarah lahirnya Indonesia, serta
penanaman semangat pancasila dan kesadaran kesatuan atas keragaman etnis, agama,
ataupun warna kulit bangsa Indonesia yang sangat luas, tidak pernah menjadi tonggak
utama dalam pendidikan. Kebanyakan sekolah hanya mengutamakan ilmu eksakta
dan mengabaikan pendidikan sejarah, juga motivasi dalam kehidupan berbangsa.
Pendidikan bukan hanya sekadar matematika dan kimia, bukan hanya bahasa
internasional dan seni yang sedang trendi di mancanegara. Sejarah dan rasa cinta
tanah air juga harus diutamakan dalam dunia pendidikan karena kaum yang
melupakan sejarah pasti akan terjerumus dalam kesalahan yang sama seperti
sebelumnya. Jika kita melupakan sejarah dan semangat para pahlawan yang
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, maka sama saja kita telah kembali terjajah
untuk kesekian kalinya.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda selalu diulang setiap tahun, namun ajaibnya,
kegiatan ini seakan hanyalah ritual yang tidak memiliki arti apa-apa. Saya merasakan
bahwa kita, pemuda di zaman sekarang, tidak dibekali secara penuh kecintaan akan
Indonesia saat kita masih begitu belia, sehingga peringatan Hari Sumpah Pemuda tak
menjadi hal yang spesial rasanya. Sebuah ungkapan berbahasa Jawa mengatakan
witing tresno jalaran soko kulino, cinta tumbuh karena terbiasa. Kita perlu mengenal
Indonesia terlebih dahulu sebelum mencintainya. Kecintaan terhadap bangsa ini bisa
ditanamkan perlahan, sejak dini. Bahkan sebelum anak masuk usia sekolah sehingga
begitu beranjak dewasa, tumbuhlah keinginan yang kuat untuk melindungi dan
menyejahterakan Indonesia di dalam hati mereka.

Untuk mencegah degradasi identitas dan kecintaan terhadap Indonesia, saya rasa kita
perlu membantu anak usia dini untuk memahami bahwa dalam keragaman agama dan
budaya, Indonesia itu adalah satu. Membiasakan mereka untuk memiliki rasa toleransi
terhadap saudara dari etnis dan agama yang berbeda juga akan menumbuhkan rasa
cinta mereka pada tanah air kita. Generasi kita bertugas membimbing generasi
berikutnya. Mulai dari hal sederhana dan dekat dengan kita. Mulai dari keponakan,
anak, dan mungkin murid kita. Mulai dari lagu kebangsaaan Indonesia Raya, sampai
kemudian mengajak mereka sama-sama membangun Indonesia yang sejahtera. Ini
adalah implementasi sumpah pemuda untuk kita. Selamat Hari Sumpah Pemuda.
Semoga Tuhan memberkati langkah kita.