Anda di halaman 1dari 4

Bab I

Pendahuluan

1.1.LatarBelakang
Nyeri kepala atau sefalgia adalah rasa tidak mengenakkan pada seluruh daerah
kepala. Nyeri kepala merupakan salah satu keluhan subjektif yang sering dilaporkan.1
Menurut World Health Organization (WHO) nyeri kepala biasanya dirasakan berulang
kali oleh penderita sepanjang hidupnya. Kurang lebih dalam satu tahun 90% dari populasi
dunia mengalami paling sedikit satu kali nyeri kepala.1Diperkirakan bahwa nyeri kepala
yang dialami akan menetap pada saat usia dewasa dengan presentase relatif tinggi (sekitar
50%) dari kasus. Penelitian ini didukung dalam studi epidemiologi yang dilakukan Lewis
pada tahun 2002, penelitian ini dilakukan pada 9.000 remaja dan dari hasilnya didapatkan
bahwa terdapat sekitar 2,5% frekuensi nyeri kepala terjadi pada usia diatas 7 tahun dan
15% terjadi pada usia diatas 15 tahun. Secara umum, presentase nyeri kepala pada
populasi orang dewasa adalah 47%, yaitu 10% migraine, 38% tension-type headache
(TTH), 3% chronic headache.2
Di Indonesia, nyeri kepala merupakan salah satu keluhan yang sering dilaporkan.
Penelitian yang dilakukan oleh Iqbal pada tahun 2004 didapatkan hasil bahwa dari 55
pasien nyeri kepala yang datang 2 berobat ke Poliklinik Sefalgia Bagian Neurologi RSUP
H. Adam Malik Medan, 20 orang pasien diantaranya adalah pria (36,4%) dan 35 orang
pasien lainnya adalah perempuan (63,6%), selain itu didapatkan 6 orang penderita dengan
nyeri kepala migraine (10,9%) dan 49 orang penderita lainnya dengan nyeri kepala TTH
(89,1%). Hampir setiap orang mengalami nyeri kepala. Nyeri kepala biasanya terjadi
akibat ketegangan pada otot-otot di leher, kulit kepala dan dahi yang berkaitan dengan rasa
cemas, stres atau kelelahan.
Tekanan darah adalah tekanan di dalam pembuluh darah ketika jantung
memompakan darah ke seluruh tubuh. Tekanan ini diperlukan untuk daya dorong
mengalirnya darah di dalam arteri, arteriola, kapiler dan sistem vena, sehingga
terbentuklah suatu aliran darah yang menetap. Jika sirkulasi darah tidak memadai lagi,
maka terjadilah gangguan pada sistem transportasi oksigen, karbondioksida, dan hasil-
hasil metabolisme lainnya yang mengakibatkan timbulnya keluhan klinis. Terdapat dua
macam kelainan tekanan darah yang dikenal sebagai hipertensi atau tekanan darah tinggi
dan hipotensi atau tekanan darah rendah.3
Hipertensi yang disebut sebagai silent killer merupakan salah satu penyakit tidak
menular yang menjadi penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis,
yakni mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia. Prevalensi
Hipertensi di Indonesia cukup tinggi. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007
menunjukkan sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis. Hal ini
terbukti dari hasil pengukuran tekanan darah pada masyarakat yang berusia di atas 18
tahun ditemukan bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia adalah sebesar 31,7%. Dari
jumlah tersebut didapatkan 7,2% penduduk yang telah mengetahui iamenderita hipertensi,
dengan 0,4% penderita hipertensi yang minum obat hipertensi.3,4
Pada penelitian Felix F.W. et al 2013 menunjukkan prevalensi prehipertensi dan
hipertensi cukup tinggi pada dewasa muda di pelayanan kesehatan dasar di daerah
pedesaan. Dari 111 dewasa muda, 34,2% memiliki prehipertensi dan 17,1% memiliki
hipertensi. Jika dibandingkan menurut jenis kelamin, wanita lebih banyak mengalami
prehipertensi, tetapi hipertensi lebih banyak terjadi pada pria.5
PenelitianAnalia R.L, Michelle D.M, Celita S., 2013
menunjukkangejalapusingmempunyaiprevalensi yang tinggi di seluruhdunia, dengankira-
kira 2% dewasamudamengeluhgejalaini, 30% padausia di atas 65 tahun, danhampir 33%
padausia 85 tahun. Sedangkangejala hipertensi yang sering ditemukan pada golongan usia
lanjut ditemukan 25% dari 437 perempuan dan 21% dari 204 laki-laki.6
Pada penelitian tentang prevalensi hipertensi dan determinanya di Indonesia
menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran termasuk kasus yang
sedang minum obat, secara nasional adalah 32,2%. Prevalensi tertinggi ditemukan di
Provinsi Kalimantan Selatan (37,2%) sedangkan terendah di Papua Barat (20,1%).
Berdasarkan pengukuran tekanan darah, prevalensi hipertensi di Indonesia adalah 32,2%,
sedangkan prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan dan atau
riwayat minum obat hanya 7,8% atau hanya 24,2% dari kasus hipertensi di masyarakat.
Berarti 75,8% kasus hipertensi di Indonesia belum terdiagnosis dan terjangkau pelayanan
kesehatan.7
Dalampenelitian Weiss, 71 (81%) dari orang yang mengeluh sakit kepala
mengetahuibahwamerekamemilikihipertensi, dan hanya 25 (22%) dari mereka yang tidak
sakit kepala mengetahui hipertensi mereka. Individu yang tahu bahwa mereka memiliki
hipertensi lebih banyakmengeluh sakit kepala daripada pasien yang tidak mengetahui nilai
tekanan darah mereka. Demikian juga, National Health and Nutrition Examination Survey
(NHANES) tentang sakit kepala terkait dengan tingkat hipertensi tidak menemukan
hubungan bahkan dengan tekanan sistolik> 160 mmHg.8
Persepsi dokter dan pasien tentang hubungan sakit kepala dengan hipertensi berasal
dari deskripsi Janeway yang merinci sakit kepala yang khas pada hipertensi sebagai sakit
kepala nonmigrain pada kebangkitan yang sembuh di kemudian pagi , sebuah deskripsi
yang diumumkan oleh penulis lain.9

1.2.Rumusanmasalah
1.2.1. Menurut World Health Organization (WHO) Kurang lebih dalam satu tahun
90% dari populasi dunia mengalami paling sedikit satu kali nyeri kepala.
1.2.2. Presentase nyeri kepala pada populasi orang dewasa adalah 47%, yaitu 10%
migraine, 38% tension-type headache (TTH), 3% chronic headache.
1.2.3. Hipertensi sudah menjadi peringkat pertama masalah kesehatan masyarakat,
diikuti dengan penyakit-penyakit degeneratif lainnya.
1.2.4. Terdapat75,8% kasus hipertensi di Indonesia yang belum terdiagnosis dan
terjangkau olehpelayanan kesehatan.
1.2.5. Terdapat 81% dari orang yang mengeluhsakit kepala yang
diketahuimemilikihipertensi,

1.3.Hipotesis
Terdapathubunganantaratekanandarahsistoledan diastole dengankeluhansefalgia.

1.4.Tujuan
1.4.1 Tujuan Umum
Mengetahui adanya hubungan antara tekanandarahsistoledan diastole
dengankeluhansefalgia.
1.4.2 TujuanKhusus
a. Diketahuinyasebarantekanandarahsistoledan diastole padapasien di
Puskesmas Kelurahan Grogol II, peride November 2017.
b. Diketahuinya sebaranpasien dengan keluhan sefalgia di Puskesmas
Kelurahan Grogol II, peride November 2017.
c. Diketahui adanya hubungan antara tekanan darah diastole dengan keluhan
sefalgia di Puskesmas KelurahanGrogol II, peride November 2017.
d. Diketahui adanya hubungan antara tekanandarah diastole dengan keluhan
sefalgia di PuskesmasKelurahanGrogol II, peride November 2017.
1.5. Manfaat
1.5.1 Bagi peneliti
a. Memperoleh pengalaman belajar dan pengetahuan dalam melakukan
penelitian
b. Meningkatkan kemampuan komunikasi dengan masyarakat pada umumnya
dan pemuka masyarakat pada khususnya
c. Menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh saat kuliah
d. Mengembangkan daya nalar, minat dan kemampuan dalam bidang penelitian
e. Melatih bekerja sama dalam tim
1.5.2 Bagi perguruan tinggi
a. Mengamalkan Tri Darma Perguruan Tinggi dalam melaksanakan fungsi
sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan
pengabdian masyarakat.
b. Mewujudkan UKRIDA sebagai masyarakat ilmiah dalam peran sertanya di
bidang kesehatan.
c. Meningkatkan saling pengertian dan kerja sama antara mahasiswa dan staf
pengajar.
1.5.3 Bagi Puskesmas
a. Sebagai salah satu masukan sebagai bahan informasi bagi petugas kesehatan
khususnya dokter puskesmas.
b. Dengan
mengetahuihubungantekanandarahdengankeluhansefalgiadapatdijadikanseba
gaisalahsatuupayapencegahannyerikepaladanmeningkatkanmutupelayananke
sehatan.

1.5.4. Bagi Masyarakat


a. Dengan mengetahui hubungan tekanan darah dengan nyeri kepala
dapatdijadikan sebagai salah satu upaya pencegahan sefalgia.