Anda di halaman 1dari 32

CAKUPAN K4 RENDAH DI PUSKESMAS “K”

CHARLES BORU
102008016
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl.Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Email: charlesjulian17@yahoo.com

ABSTRAK

Tingginya angka kematian ibu di Indonesia terkait dengan rendahnya pencapaian pelaksanaan Ante Natal
Care (ANC). Di Puskesmas “K” pada Lokakarya Mini bulanan didapatkan data kunjungan K4 ibu hamil
hanya mencapai 40% selama 1 tahun. Cakupan program K1 dan K4 masih perlu ditingkatkan seoptimal
mungkin sehingga target pencapaian kegiatan dapat diwujudkan.

Berdasarkan kondisi tersebut maka perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh factor tingkat
pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu hamil terhadap rendahnya cakupan program Ante Natal Care (K1
dan K4) di Puskesmas “K”.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh factor tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu
hamil terhadap rendahnya cakupan program Ante Natal Care (ANC).

Kata kunci : Ante Natal Care, K4, Cakupan Program

1
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berdasarkan data WHO (2005) Angka Kematian Ibu (AKI) paling tinggi di dunia terdapat di negara
Nepal yaitu sebesar 865 per 100.000 kelahiran hidup, selanjutnya di Buthan sebesar 710 per 100.000
kelahiran hidup dan India sebesar 630 per 100.000 kelahiran hidup.

Di Indonesia masalah kematian ibu juga merupakan masalah utama dalam bidang kesehatan. Sampai
saat ini AKI di Indonesia menempati posisi teratas di negara – negara Asean, yaitu 307 per 100.000
kelahiran hidup (SDKI 2002 – 2003). Tingginya angka kematian ibu di Indonesia terkait dengan
rendahnya kualitas berbagai program dalam upaya penurunan AKI telah dilaksanakan oleh
pemerintah seperti Safe Motherhood (SM) yang dikenal 4 pilar yaitu keluarga berencana, antenatal
care, persalinan bersih, dan penanganan masa nifas, dilanjutkan dengan program MPS yaitu
persalinan oleh tenaga kesehatan, penanggulangan komplikasi, pencegahan kehamilan tak diinginkan
dan penanganan komplikasi keguguran melalui strategi yaitu (1) semua kabupaten/kota sebagai unit
efektif dalam peningkatan pelayanan program KIA secara bertahap, menerapkan kendali mutu yang
antara lain dilakukan melalui AMP di wilayahnya ataupun diikutsertakan kabupaten/kota lain (lintas
batas), (2) Dinas Kesehatan kabupaten/kota berfungsi sebagai coordinator yang bekerjasama dengan
rumah sakit kabupaten/kota dan melibatkan puskesmas dan unit KIA swasta lainnya dalam upaya
kendali mutu di wilayah kabupaten/kota, (3) di tingkat kabupaten/kota perlu dibentuk tim AMP yang
selalu mengadakan pertemuan rutin untuk menyeleksi kasus, membahas dan membuat rekomendasi
tindak lanjut berdasarkan temuan dari kegiatan audit (penghargaan dan sanksi bagi pelaku), (4)
perencanaan program KIA dibuat dengan memanfaatkan hasil temuan dari kegiatan audit, sehingga
diharapkan berorientasi kepada pemecahan masalah setempat, (5) Pembinaan dilakukan oleh dinas
kesehatan kabupaten/kota bersama RS kabupaten/kota (untuk aspek tekhnis medis) dilaksanakan
langsung saat audit atau secara rutin dalam bentuk yang disepakati oleh tim AMP. Dan MDGs pada
butir keempat yaitu menurunkan angka kematian anak dan butir kelima yaitu meningkatkan kesehatan
ibu dari delapan tujuan MDGs.

2
Penyebab kematian ibu adalah gangguan persalinan langsung, misalnya perdarahan sebesar 28%,
infeksi sebesar 11%, eklampsia sebesar 24% dan partus macet (lama) sebesar 5%. Kemungkinan
terjadinya kematian ibu hamil dalam persalinan di puskesmas atau rumah sakit karena: kesiapan
petugas, ketersediaan bahan dan peralatan dan sikap petugas. Di perjalanan diakibatkan sarana
transportasi, tingkat kesulitan dan waktu tempuh, serta kematian di rumah diakibatkan keputusan
keluarga (pengetahuan, ketersediaan dana, kesibukan keluarga dan social budaya) serta ketersediaan
transportasi (Lancet, 2005 Milenium Project, 2005)

Kesehatan ibu dan anak berkontribusi besar kepada indicator kesejahteraan bangsa yang diukur dari
Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index). Indikator ini merupakan indeks dari
hasil gabungan (composite indekx) dari umur harapan hidup (life expectancy), angka melek huruf
(literate rate), dan pendapatan perkapita. Oleh karena itu program kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan
anak (KIBBLA) merupakan investasi jangka panjang yang memberikan keuntungan dalam
meningkatkan kesejahteraan keluarga, masyarakat, daerah, dan nasional dengan meningkatnya
Human Development Index mengurangi beban atau kerugian ekonomi keluarga, masyarakat, daerah
dan nasional, serta menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas (Siregar, 2007).

Rendahnya K4 menunjukkan rendahnya kesempatan untuk menjaring dan menangani risiko tinggi
obstetric. Belum tercapainya target K4, salah satunya disebabkan karena pemahaman tentang
pedoman Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) khususnya kunjungan pemeriksaan kehamilan masih
kurang, sehingga masih ditemukan ibu hamil yang belum mengetahui pentingnya pemeriksaan
kehamilan secara teratur. Kunjungan pemeriksaan kehamilan merupakan salah satu bentuk perilaku.
Menurut Lawrence Green, faktor – faktor yang berhubungan dengan perilaku ada 3 yaitu: faktor
predisposisi, faktor pendukung, dan faktor pendorong. Yang termasuk faktor predisposisi diantaranya
: pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, dan nilai. Sedangkan yang termasuk faktor pendukung
adalah ketersediaan sarana-sarana kesehatan, dan yang terakhir yang termasuk faktor pendorong
adalah sikap dan perilaku petugas kesehatan (Notoatmodjo, 2003).

Secara teori memang perubahan perilaku atau mengadopsi perilaku baru itu mengikuti tahap – tahap,
yakni melalui proses perubahan : pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), praktik (practice) atau
”KAP”. Beberapa penelitian telah membuktikan hal itu, namun penelitian lainnya juga membuktikan
bahwa proses tersebut tidak selalu seperti teori diatas (K-A-P), bahkan di dalam praktik sehari-hari
terjadi sebaliknya. Artinya, seseorang telah berperilaku positif, meskipun pengetahuan dan sikapnya
masih negatif (Notoatmodjo, 2003).

3
1.2 Rumusan Masalah
1. Adakah hubungan antara tingkat pengetahuan tentang antenatal care dengan kunjungan
pemeriksaan kehamilan?
2. Adakah hubungan antara sikap dan perilaku ibu hamil tentang antenatal care dengan
kunjungan pemeriksaan kehamilan?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Tujuan Umum :
Mengetahui gambaran umum hubungan antara pengetahuan, sikap dan perilaku ibu hamil
tentang antenatal care dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan (K4).
2. Tujuan Khusus :
a. Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan tentang antenatal care dengan
kunjungan pemeriksaan kehamilan
b. Mengetahui hubungan antara sikap dan perilaku tentang antenatal care dengan
kunjungan pemeriksaan kehamilan

1.4 Hipotesis
Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu hamil dengan
rendahnya cakupan K4 di Puskesmas “K”

1.5 Manfaat
Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan K4 di puskesmas K.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Pelayanan Pemeriksaan Kehamilan (ANC)


Pelayanan kehamilan (antenatal) secara umum bertujuan untuk meningkatkan kesehatan
ibu selama hamil sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat menyelesaikan kehamilannya
dengan baik dan melahirkan bayi yang sehat. Sedangkan secara khusus pelayanan antenatal
bertujuan untuk mendeteksi ibu hamil dengan factor risiko tinggi dan menanggulangi sedini
mungkin, merujuk kasus risiko tinggi ke tingkat pelayanan kesehatan yang sesuai, memberi
penyuluhan dalam bentuk Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) sehingga terjadi
peningkatan cakupan dan merencanakan serta mempersiapkan persalinan sesuai dengan
risiko yang dihadapinya (Manuaba, 2001). Adapun yang menjadi sasaran pelayanan antenatal
adalah ibu hamil. Sedangkan target adalah jumlah ibu hamil yang harus dicakup, dimana
perhitungan setiap tahunnya ditentukan oleh daerah tingkat I dan II yang bersangkutan
(Manuaba, 2001).

2.2 Cakupan pemeriksaan kehamilan


Cakupan pemeriksaan kehamilan (pelayanan antenatal) adalah presentase ibu hamil yang
telah mendapat pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan di suatu wilayah kerja.
Cakupan kunjungan baru ibu hamil (K1) dipakai sebagai indicator aksesabilitas (jangkauan)
pelayanan, angka cakupan K1 diperoleh dari jumlah K1 dalam 1 tahun dibagi jumlah ibu
hamil di wilayah kerja dalam 1 tahun. Dalam pengelolaan program KIA disepakati bahwa
cakupan ibu hamil adalah cakupan kunjungan ibu hamil yang keempat (K4) yang dipakai
sebagai indicator tingkat perlindungan ibu hamil (Depkes RI 2007).

2.3 Faktor yang Mempengaruhi Pemeriksaan Kehamilan


Pemanfaatan pelayanan kesehatan termasuk pelayanan pemeriksaan kehamilan
merupakan interaksi antara ibu hamil dengan petugas kesehatan yang melakukan
pemeriksaan kehamilan. Aspek yang terkait dengan petugas kesehatan salah satunya adalah
factor geografis, sedangkan dari ibu hamil salah satunya adalah factor perilaku (Salamuk et
al, 2007).

5
1. Faktor Geografis
Factor – factor yang berhubungan dengan tempat yang memfasilitasi atau
menghambat pemanfaatan pelayanan pemeriksaan kehamilan, berkaitan dengan
keterjangkauan tempat yang diukur dengan jarak tempuh, waktu tempuh, dan biaya
perjalanan dari tempat tinggal ibu hamil ke puskesmas.
Hubungan antar lokasi pemeriksaan kehamilan dengan tempat tinggal ibu hamil
dapat diukur dalam satuan jarak, waktu tempuh, atau biaya tempuh tergantung dari jenis
pelayanan dan jenis sumber daya yang ada. Peningkatan akses yang dipengaruhi oleh
berkurangnya jarak, waktu tempuh, ataupun biaya tempuh mungkin mengakibatkan
peningkatan pemakaian pelayanan yang berhubungan dengan tingkat penyakit. Dengan
kata lain, pemakaian pelayanan preventif lebih banyak dihubungkan dengan akses
geografis daripada pemakaian pelayanan kuratif. Sebagaimana pemanfaatan pelayanan
umum demikian juga dengan pemeriksaan kehamilan, apabila semakin banyak keluhan
yang berkaitan dengan kehamilan dan semakin baik kualitas sumber daya pelayanan,
maka semakin berkurang pentingnya atau berkurang kuatnya hubungan antara akses
geografis dan volume pemanfaatan pelayanan pemeriksaan kehamilan (Depkes RI 2003)
Sesuai dengan keadaan geografis, luas wilayah dan sarana perhubungan dalam
wilayah puskesmas, tidak semua penduduk dapat dengan mudah mendapatkan pelayanan
puskesmas. Agar jangkauan pelayanan puskesmas lebih merata dan meluas, puskesmas
perlu ditunjang dengan puskesmas pembantu, penempatan bidan di desa yang belum
terjangkau oleh pelayanan kesehatan. Kondisi geografis yang menantang ini
menyebabkan terjadinya peningkatan akses pada pelayanan kesehatan,bahkan di daerah –
daerah terpencil. Namun, jaringan sarana dan tenaga kesehatan yang diperluas ini harus
dipelihara dengan porsi anggaran pemerintah yang sangat terbatas, hal ini membatasi
kapasitas Departemen Kesehatan untuk menanggapi tantangan – tantangan baru (Depkes
RI 2003).
Kondisi geografis secara umum penduduk pedesaan jauh dari puskesmas dan
maupun rumah sakit sebagai tempat pemeriksaan kehamilan seringkali menyebabkan
para ibu hamil sulit untuk melakukan pemeriksaan kehamilannya, untuk itu Depkes
bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) telah melakukan strategi

6
penyelamatan ibu melahirkan (MPS) melalui tiga pesan yakni setiap perempuan usia
subur harus mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkannya
dan penanganan komplikasi keguguran setiap persalinan harus ditolong oleh tenaga
kesehatan terlatih, setiap komplikasi kandungan ditangani secara cepat (Depkes 2006)
Menurut Kornelis (2004) kondisi di daerah pedesaan dan pedalaman dengan
ketiadaan puskesmas maupun sarana pelayanan kesehatan lainnya disekitar tempat
tinggal dan petugas kesehatan jauh dari kehidupan masyarakat pedalaman yang hidupnya
berpindah – pindah tempat, menyebabkan mereka tidak mengenal pemeriksaan ibu hamil
secara medis.

2. Persepsi
Menurut Winardi (2000) mengemukakan bahwa persepsi merupakan proses
internal yang bermanfaat sebagai fakta dan metode untuk mengorganisasikan stimulus,
yang mungkin kita hadapi di lingkungan kita.
Menurut Rakhmat (2005) bahwa persepsi merupakan pengalaman tentang objek,
peristiwa atau hubungan yang diperoleh dengan menyampaikan informasi dan
menafsirkan pesan, sedang menurut teori Gestalt menyatakan bahwa bila kita
mempersiapkan sesuatu, kita mempersepsikannya sebagai suatu keseluruhannya.
Persepsi yang positif terhadap mutu pelayanan kesehatan mengembangkan suatu
kesadaran mutu sebagai elemen penting yang selalu meningkat dalam daya saing,
pemahaman keperluan keunggulan mutu dan pembagian strategi yang berhasil dari
strategi akan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

3. Perilaku
Perilaku adalah suatu reaksi psikis seseorang terhadap lingkungannya. Dari
batasan dapat diuraikan bahwa reaksi dapat diuraikan bermacam – macam bentuk, yang
pada hakekatnya digolongkan menjadi 2 yaitu bentuk pasif (tanpa tindakan nyata) dan
dalam bentuk aktif dengan tindakan nyata / konkret.
a) Perilaku dalam bentuk pengetahuan
Adalah segala sesuatu yang diketahui mengenai hal sesuatu. Pengetahuan merupakan
hasil dari tahu. Dan ini terjadi setelah seorang melakukan penginderaan terhadap

7
sesuatu objek tertentu, penginderaan melalui panca indra manusia yakni indra
penglihatan, pendengaran, penciuman dan rasa raba.
Pengetahuan / kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya
tindakan seseorang (over behavior).
Sebelum orang mengadopsi perilaku baru, dalam diri orang tersebut terjadi proses
yang berurutan yakni :
1) Awarness / kesadaran, dimana orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui lebih dahulu terhadap stimulus (objek)
2) Interest dimana orang mulai tertarik pada stimulus
3) Evaluation (menimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi
dirinya.
4) Trial, dimana seseorang telah mencoba berperilaku baru (adaption) sesuai
dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

b) Perilaku dalam bentuk sikap


Sikap merupakan reaksi / respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu
stimulus atau objek. Adapun yang melihat sikap sebagai kesiapan syaraf sebelum
memberi respon.
Newcomb (seorang ahli psikologi social) mengatakan bahwa sikap itu merupakan
kesiapan atau ketersediaan untuk bertindak dan bukan pelaksana motif tertentu.
(Notoadmojo, 2003) sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas akan tetapi
adalah merupakan predisposisi tindakan atau perilaku. Sikap yang sudah positif
terhadap sesuatu objek, tidak selalu terwujud dalam tindakan nyata, hal ini
disebabkan oleh :
1) Sikap untuk terwujudnya didalam suatu tindakan bergantung pada situasi pada
saat itu.
2) Sikap akan diikuti atau tidak oleh suatu tindakan mengacu pula pada
pengalaman orang lain.
3) Sikap akan diikuti atau tidak oleh suatu tindakan berdasarkan pada banyak
atau sedikitnya pengalaman seseorang.

8
Pengukuran terhadap sikap ini dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung.
Secara langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden
terhadap suatu objek dan secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan –
pernyataan yang bersifat hipotesis, kemudian ditekankan pendapat responden.

c) Perilaku dalam bentuk tindakan


Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (over behavior) untuk
terwujudnya sikap agar menjadi suatu perbuatan diperlukan factor pendukung atau
suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas, juga diperlukan factor
pendukung / support dari pihak lain misalnya orang tua, mertua, suami atau istri
Notoadmojo (2003) tingkat – tingkat praktek :
1) Persepsi
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang
akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama.
2) Respon terpimpin (guided response)
Dalam melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dengan contoh
adalah merupakan indicator praktek tingkat II. Misalnya seorang ibu sudah
mengimunisasi bayinya pada umur – umur tertentu, tanpa menunggu perintah
atau ajakan orang lain.
3) Adaption / adaptasi
Adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik.
Artinya, tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran
tindakan tersebut. Misalnya, seorang ibu dapat memilih dan memasak
makanan yang bergizi tinggi berdasarkan bahan – bahan yang murah dan
sederhana.

4. Pelayanan kesehatan (Puskesmas)


1) Pengertian Puskesmas
Puskesmas adalah suatu organisasi kesehatan fungsionil yang merupakan pusat
pengembangan ksehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat

9
disamping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat
diwilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok (Depkes RI, 2004).

2) Kegiatan Pokok Puskesmas


Sesuai dengan tenaga maupun fasilitas yang berbeda-beda, maka kegiatan pokok
yang dapat dilaksanakan oleh sebuah puskesmas akan berbeda pula. Namun demikian
kegiatan pokok puskesmas yang seharusnya dilaksanakan adalah sebagai berikut:
KIA, KB, Usaha Perbaikan Gizi, Kesehatan Lingkungan, Pencegahan dan
pemantauan penyakit menular, pengobatan termasuk Pelayanan Darurat karena
kecelakaan, Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, Kesehatan Sekolah, Kesehatan Olah
Raga, Perawatan Kesehatan masyarakat, Kesehatan Kerja, Kesehatan Gigi dan Mulut,
Kesehatan Jiwa, Kesehatan Mata, Laboratorium Sederhana, pencatatan dan pelaporan
dalam rangka system informasi kesehatan, Kesehatan Usia lanjut dan pembinaan
pengobatan tradisional (Depkes RI, 2004)
Pelaksanaan kegiatan pokok Puskesmas diarahkan kepada keluarga sebagai satuan
masyarakat terkecil. Dengan lain perkataan kegiatan pokok Puskesmas ditujukan
untuk kepentingan kesehatan keluarga sebagai bagian dari masyarakat wilayah
kerjanya.

3) Landasan Teori
Factor-faktor yang berhubungan dengan tempat yang memfasilitasi atau
menghambat pemanfaatan pelayanan pemeriksaan kehamilan, berkaitan dengan
keterjangkauan tempat yang diukur dengan jarak tempuh, waktu tempuh dan biaya
perjalanan dari tempat tinggal ibu hamil ke puskesmas.
Kesehatan sebagai sebuah investasi merupakan cerminan dari pentingnya SDM
yang produktif. Dibeberapa negara yang maju yang menggunakan konsep sehat
produktif, sehat adalah sarana atau alat untuk hidup sehari-hari secara produktif.
Upaya kesehatan harus diarahkan untuk dapat membawa setiap penduduk memiliki
kesehatan yang cukup agar bisa hidup produktif.
Masih banyak ibu-ibu yang menyadari pentingnya pemeriksaan kehamilan
menyebabkan tidak terdektesinya factor-faktor resiko tinggi. Resiko ini baru dapat

10
diketahui pada saat persalinan yang seringkali karena kasusnya sudah terlambat dapat
membawa akibat fatal yaitu kematian. Selain dari kurangnya pengetahuan akan
pentingnya perawatan kehamilan, permasalahan-permasalahan pada kehamilan dan
persalinan

11
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian disebut juga bahan dan cara kerja mencakup:


 Jenis rancangan penelitian (research design):
 Deskriptif : survey dan studi kasus
 Analitik : kasus kontrol dan eksperimen
 Populasi dan sampel
 Kriteria inklusi dan ekslusi
 Lokasi dan waktu penelitian
 Perhitungan jumlah sampel minimum (sample size)
 Bahan/alat-alat yang diperlukan (terutama pada eksperimen)
 Cara-cara pengumpulan data
 Rencana pengolahan, analisis dan penyajian data

3.1 Kerangka Konsep

Setelah membuat kerangka teoritis maka di buat kerangka konsep variabel-


variabel yang di mungkinkan untuk diteliti. Kerangka teoritis memuat semua variabel
yang didapatkan dari kepustakaan yang berhubungan/ menmpengaruhi out come.

Setelah pelbagai aspek teoritis disajikan dalam Tinjauan Pustaka, selanjutnya


dibuat ringkasan yang merupakan dasar untuk membuat kerangka konsep. Kerangka
konsep biasanya dibuat berupa diagram yang menunjukkan jenis serta hubungan antar
variabel yang diteliti. Oleh karena seringkali tidak semua variabel diukur dalam
penelitian tersebut, pada diagram hendaklah digambarkan pula batas-batas ruang
lingkup penelitian. Diagram dalam kerangka konsep ini harus dapat menunjukkan
keterkaitan antar variabel. Kerangka konsep yang baik dapat memberikan informasi
yang jelas dan mempermudah peneliti untuk memilih desain penelitian

12
3.2 Metodologi

Setelah pertanyaan penelitian, tujuan serta hipotesis diformulasi dan kerangka


teori serta kerangka konsep dirumuskan, maka peneliti melangkah pada suatu rencana
pelaksanaan penelitian. Hal-hal yang tercakup dalam metodologi adalah desain
penelitian, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel penelitian, estimasi
besar sampel, kriteria inklusi dan eksklusi, cara erja serta rencana pengumpulan data
dan rencana analisis yang hendak dipergunakan.

1) Desain Penelitian

Desain penelitian merupakan wadah untuk menjawab pertanyaan penelitian atau


menguji kesahihan hipotesis. Klasifikasi desain penelitian amat bervariasi, hingga
sering membingungkan. Terdapat 2 kelompok besar klasifikasi desain penelitian yaitu
penelitian observasional dan penelitian eksperimental.

Tabel 1. Desain penelitian

Desain penelitian Jenis Contoh

Observasional Deskriptif Studi kasus

Survei

Analitik Kros seksional

Kasus kontrol

Kohort

Eksperimental Laboratorium Biomedik

Klinik Trial klinik

Epidemiologi Intervensi komunitas

 Studi kros seksional:

13
Disebut juga survei penampang yang mana pajanan dan kejadian sakit ( masalah
kesehatan) diketahui pada saat yang bersamaan. Kegunaan studi ini adalah untuk
public health administrator dan untuk menilai kebutuhan pelayanan kesehatan.
Keuntungan studi jenis ini adalah dapat dilakukan dalam masa yang singkat, biaya
murah dan hasil studi dapat digeneralisasikan. Manakala kerugiannya pula, sulit
mengetahui variabel antecedent.

 Studi kasus kontrol:

Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui apakah satu atau lebih variabel
independen merupakan faktor risiko dari variabel dependen. Keuntungan studi
kasus kontrol adalah baik untuk meneliti peyakit yang jarang terjadi atau dengan
masa laten yang panjang, pelaksanaannya cepat, relatif tidak mahal, tidak
memerlukan banyak subyek penelitian dan data didapatkan dari catatan medis.
Kerugian studi jenis ini adalah dapat terjadi bias recall, pemilihan kontrol agak
sulit dan masih dapat terjadi antecedent.

 Studi kohort:

Tujuan studi kohort adalah untuk membuktikan hipotesis yang menyangkut


hubungan sebab akibat. Keuntungannya adalah sesuai untuk meneliti pajanan
yang jarang, tidak ada antecedent, bias minimal dan dapat mengukur insidens.
Kerugian studi jenis ini adalah tidak efisien untuk meneliti penyakit yang jarang,
waktu penelitian yang lama, mahal dan validitasnya terjaga dan hanya tergantung
dari hilangnya anggota atau subyek penelitian.

 Eksperimental

Merupakan studi yang memberikan suatu intervensi terhadap kelompok studi


dengan kelompok studi lainnya sebaai kontrol. Studi jenis ini merupakan
rancangan studi yang terbaik.

14
2) Populasi Penelitian

Dalam suatu penelitian, hasil-hasil yang diharapkan dapat berlaku secara


keseluruhan (generalisasi). Untuk dapat menggeneralisasikan hasil penelitian,
maka diperlukan data hasil pengukuran yang benar-benar berasal dari populasi
yang mewakili (representatif). Yang dimaksudkan dengan populasi dalam
penelitian adalah sekelompok subyek atau data dengan karakteristik tertentu.
Populasi dapat dibagi menjadi 2,yaitu:

 Populasi target; yang ditentukan oleh karakteristik klinis dan demografis,


misalnya pasien morbili berusia di bawah 2 tahun.

 Populasi terjangkau; adalah bagian populasi terget yang dibatasi oleh tempat
dan waktu, misalnya pasien morbili dengan ensalopati yang berusia kurang 2
tahun, yang berobat ke RSCM selama tahun 1990-1991.

 Adapun populasi dalam penelitian ini adalah data seluruh ibu hamil yang
memeriksakan kehamilan di wilayah kerja puskesmas “K”.

3) Sampel dan Cara Pemilihan Sampel


Sampel adalah bagian populasi yang diteliti. Cara pemilihan sampel bermacam-
macam, misalnya cara pemilihan secara acak, sistematik, consecutive, cluster,
convenience, time cluster dan seterusnya. Dalam usulan penelitian cara pemilihan
subyek penelitian ini harus ditegaskan secara eksplisit.
Syarat-syarat sampel:
a. Random: sampel di pilih secara acak
b. Equal probability : semua subjek mempunyai kesempatan yang sama untuk di
pilih menjadi sampel
c. Representatif: harus mewakili seluruh populasi
Kriteria yang dibuat oleh peneliti untuk menentukan/ membantasi jumlah sampel
yaitu:
 Kriteria inklusi : kriteria yang membuat persyaratan tertentu yang harus
dimiliki oleh subjek/responden untuk dapat dipilih sebagai sampel.

15
 Kriteria eksklusi: yang memuat hal-hal yang tidak dimiliki oleh
subjek/responden.
Sampling : adalah kegiatan untuk mendapat sampel yang memenuhi syarat. Mengapa di
perlukan sampling?
 Karena populasi besar ( dapat menimbulkan kesalahan besar karena tidak akurat)
 Populasi sampel yang baik dapat dilakukan analisis yang lebih baik
 Kesalahan dapat di kontrol
 Menghemat waktu, tenaga dan biaya

Cara pemilihan sampel:

 Secara acak

Pada cara ini, kita menghitung terlebih dahulu jumlah populasi yang akan dipilih
sampelnya. Kemudian diambil sebagian dengan mempergunakan tabel random.

 Secara sistematik

Pada cara ini ditetukan bahwa tiap subyek nomor ke sekian dimasukkan dalam sampel.
Bila kita ingin mengambil 1 / n dari populasi, maka setiap pasien nomor n dimasukkan
ke dalam sampel.

Contoh: ingin dipilih 20 dari 200 pasien yang ada dengan cara sampling sistematik.
Dengan demikian diperlukan 20 / 200 = 1 / 10 bagian dari populasi yang akan
diikutsertakan sebagai sampel, karenanya maka setiap pasien nomor 10 akan dipilih.
Mula-mula tiap subyek diber nomor dari 1 samapai dengan 200. Tiap pasien ke 10
diambil sebagai sampel, sehingga pada akhirnya yang diikutsertakan dalam sampel
adalah pasien nomor 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90 dan seterusnya.

 Cluster sampling

Cluster sampling adalah proses penarikan sampel secara acak pada kelompok individu
dalam populasi yang terjadi secara alamiah, misalnya berdasarkan wilayah. Cara ini
sangat efisien bila populasi tersebar luas sehingga tidak mungkin untuk membuat
daftar seluruh populasi tersebut.

16
Contoh: Misalnya kita ingin meneliti karateristik bayi dengan atresia bilier di rumah
sakit pendidikan di seluruh Indonesia. Bila diinginkan hanya sebagian dari kasus yang
terdaftar di rumah sakit tersebut, dilakukan cluster sampling yaitu dengan melakukan
random sampling pada tiap rumah sakit, tanpa berusaha menjumlahkan pasien yang
terdaftar pada seluruh rumah sakit.

4) Pengumpulan Data
Metode atau alat yang di gunakan untuk mengumpulkan data antara lain:
a. Observasi/pengamatan
b. Pengukuran/measurement : BB, TB, kadar Hb
c. Wawancara
d. Dokumen/status
e. Partisipasi (dengan angket/kuesioner)
Sesuai dengan skenario yang didapat kita dapat mengumpulkan data melalui
kuesioner.
Kuesioner:
 Merupakan instrumen penelitian
 Dikembangkan secara khusus sesuai dengan tujuan penelitian
 Memuat semua variabel penelitian
 Pengisian oleh responden sendiri, oleh pewawancara/peneliti, melalui telpon
dll.
Isi kuesioner:
 Memuat pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh responden/ yang diisi
oleh pewanwancara sendiri
 Terdiri dari 2 bagian besar yaitu: identitas responden dan data khusus yang
berhubungan dengan penelitian.
Persyaratan dalam membuat kuesioner yang baik
 Responden dapat menjawab
 Sesuai dengan tujuan penelitian
 Tidak berbentuk hipotesis
 Tidak menyinggung perasaan

17
 Dapat dipahami oleh responden
 Pertanyaan tidak terlalu banyak
 Jawaban harus objektif
 Hanya mempunyai satu interpretasi
 Harus ada jawabannya

Adapun Kegagalan-kegagalan dalam membuat kuesioner:


(a) Luncuran pertanyaan ganda: Jangan menanyakan satu masalah dalam satu
pertanyaan. Contoh, apakah anda sering menyobek buku di perpustakaan selagi
tidak ada pengawas yang melihatnya; dan apakah anda juga sering mencoreti
buku milik perpustakaan untuk kepentingan penjelasan secara khusus?.
(b) Pertanyaan yang mengaahkan: Hindari bentuk pertanyaan seperti ini. Contoh,
menurut presiden, kita harus mengencangkan ikat pinggang dalam menghadapi
krisis ekonomi yang berkepanjangan ini. Anda setuju, bukan?. Pertanyaan seperti
ini biasanya dijawab secara langsung dengan kata 'setuju'. Bisa dibayangkan
bahwa jika semua pertanyaan dijawab dengan setuju.

(c) Pertanyaan sensitif: Hati-hati dengan pertanyaan sensitif seperti contoh


berikut: Anda pernah melakukan onani?; Anda pernah melakukan hubungan seks
sebelum nikah?. Pertanyaan jenis ini termasuk kategori sensitif, bahkan kurang
ajar.

(d) Pertanyaan yang menakut-nakuti: Contoh. Di daerah ini sering terjadi


perampokan dan penodongan di malam hari. Bisa Anda sebutkan orangnya?; atau,
Anda tentu mengetahui peristiwa pembunuhan yang terjadi beberapa waktu lalu di
daerah ini, karena andalah yang paling dekat dengan tempat kejadian perkara
(TKP). Kami datang untuk menyelidikinya, oleh karena itu tolong jawab dengan
sejujurnya pertanyaan-pertanyaan kami.

18
5) Pengolahan Data

Apabila data yang telah berhasil dikumpulkan maka data tersebut harus diolah
dengan menyusun data yang tersedia sedemikian rupa sehingga jelas sifat-sifat
yang dimiliki oleh masing-masing data tersebut. Cara pengolahan data yang
dikenal ada 3 macam yaitu secara manual, elektirikal dan mekanik.

6) Penyajian Data

Data yang telah diolah perlu disajikan. Ada 3 macam penyajian data yang lazim
dipergunakan yakni secara tekstular, tabular dan grafikal.

7) Analisis Data

Tenik analisis data dalam penelitian dibagi menjadi dua, yaitu teknik analisis
data deskriptif dan teknik analisis data inferensial. Teknik analisis data penelitian
secara deskriptif dilakukan melalui statistik deskriptif, yaitu statistik yang
digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau
menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa
bermaksud membuat generalisasi hasil penelitian. Termasuk dalam teknik
analisis data statistik deskriptif antara lain penyajian data melalui tabel, grafik,
diagram, presentase, frekuensi, perhitungan mean, median, modus.

Sementara itu teknik analisis dara inferensial dilakukan dengan statistik


inferensial, yaitu statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan
membuat kesimpulan yang berlaku umum. Ciri analisis data inferensial adalah
digunakannya rumus statistik tertentu (misalnya uji t, uji F, dsb). Hasil dari
perhitungan rumus statistik inilah yang menjadi dasar pembuatan generalisasi
dari sampel bagi populasi. Dengan demikian statistik inferensial berfungsi untuk
menggeneralisasikan hasil penelitian sampel bagi populasi. Sesuai dengan fungsi
tersebut maka statistik inferensial cocok untuk penelitian sampel.

3.3 Uji Statistik

untuk analisis data dapat menggunakan uji statistik.

19
a. Statistik deskriptif  mean, standar deviasi, persentase/proporsi

b. Statistik analitik  uji Chi-Square, Fisher, kolmogorrov- smirrov dll

Jenis – jenis uji statistik inferensi

a. Uji Parametrik : Z-test, T-test, Korelasi pearson, Anova

b. Uji Non Parametrik : Chi-Square test, Fisher Test, Kolmogorrov-Smirnov, Mc


Neman Test.

Statistik inferensi ;

a. Membuat kesimpulan tentang suatu populasi dan membuat pernyataan deskriptif


berdasarkan informasi-informasi kualitatif

b. Penelitian pada tingkat sampel , digeneralisasikan ke tingkat populasi

c. Data dari sampel inilah yang akan di uji dengan statistik

d. Statistik inferensial yang akan membuktikan apakah hasil-hasil yang didapat


adalah benar nyata atau kebetulan saja.

e. Uji hipotesis akan membawa kesimpulan untuk menerima/menolak hipotesis.

Langkah – langkah menguji hipotesis

1. Buat tabel (untuk desain tertentu)

2. Tentukan hipotesis nol (Ho)

3. Tentukan batas kemaknaan

4. Uji dengan statistik yang sesuai

5. Buat kesimpulan.

20
Memilih uji statistik tidak cukup hanya berdasarkan informasi dari formulasi
hipotesis saja. Tanpa melihat jenis atau skala variabelnya, sebuah hipotesis masih
mempunyai berbagai pilihan uji statistik. Mari kita lihat contoh sederhana. Kita
mempunyai sebuah hipotesis yaitu “Tidak ada perbedaan gaji buruh pria dengan
buruh perempuan yang bekerja di sektor informal di Jakarta”, atau bentuk formulasi
lainnya dengan substansi yang sama, “Tidak ada kesetaraan gender dalam gaji buruh
di sektor informal di Jakarta”. Dari hipotesis tersebut, kita mengetahui ada dua
variable yang diteliti yaitu gaji dan jenis kelamin, yang diduga mempunyai hubungan.

Jika hanya berdasarkan formulasi hipotesis di atas, kita masih mempunyai beberapa
alternatif uji statistik yang dapat digunakan, yaitu “independet sample t test” atau
korelasi. Sebagai catatan, uji korelasi itu bermacam-macam. Mana yang dipilih
tergantung pada skala variabelnya, bahkan tergantung pada asumsi datanya. Kalau
variabel jenis kelamin sudah jelas skalanya yaitu skala nominal. Jadi kita harus
menjelaskan terlebih dahulu cara pengukuran dan skala variabel gajinya yang
dijelaskan secara terperinci di operasionalisasi variabel yang biasanya disajikan di
Bab Metodologi.

Kita tidak akan membahas mengapa kita menggunakan skala interval untuk variabel
gaji pada dua skenario yang pertama dan skala ordinal pada skenario ketiga. Kita
tidak juga mempertimbangkan variabel lainnya, yang mungkin mempengaruhi gaji
seperti tingkat pendidikan, masa kerja, dan lain-lain. Ini hanyalah ilustrasi saja
bahwa skala variabel akan menentukan uji statistik yang tepat. Sekarang mari lihat
contoh tabulasi data, hasil penyajian data dengan statistik deskriptif, dan akhirnya
menentukan uji statistik yang tepat sesuai dengan skala variabelnya.

3.4 Ukuran Epidemiologi

Penelitian epidemiologi menggabungkan penelitian yang menggunakan statistic


inferensial untuk mengkaji informasi dan data yang berkaitan dengan ilmu kedokteran
dan medis serta masalah kesehatan sosial.

3.4.1 Definisi Epidemiologi

21
Epidemiologi adalah metode investigasi yang digunakan untuk mendeteksi penyebab
atau sumber dari penyakit,sindrom, kondisi atau risiko yang menyebabkan
penyakit,cedera,cacat atau kematian dalam populasi atau dalam suatu kelompok
manusia. Epidemiologi telah didefinisikan dengan berbagai cara. Salah satu caranya
adalah ilmu yang mempelajari tentang sifat,penyebab, pengendalian dan faktor-faktor
yang mempengaruhi frekuensi dan distribusi penyakit, kecacatan dan kematian dalam
populasi manusia. Epidemiologi juga meliputi pemberian ciri pada distribusi penyakit
atau masalah kesehatan masyarakat lainnya berdasarkan usia,kelamin,ras geografi dan
banyak lagi.

Sebagai metode ilmiah, epidemiologi digunakan untuk mengkaji olah kejadian yang
mempengaruhi faktor-faktor risiko yang dapat memberikan dampak pengaruh,pemicu
dan efek pada distribusi penyakit,morbiditas dan mortalitas.

3.4.2 Tujuan Epidemiologi

Menurut Lilienfeld ada tiga tujuan umum epidemiologi yaitu :

1. Untuk menjelaskan etiologi (studi tentang penyebab) satu penyakit atau kelomok
enyakit,kondisi, gangguan,defek,ketidakmampuan atau kematian melalui analisis
terhadap data medis dan epidemilogi menggunakan manajemen informasi seklaigus
informasi dari segala bidang.

2. Untuk menentukan apakah data epidemiologi yang ada memang konsisten dengan
hipotesis yang diajukan dan dengan ilmu pengetahuan,perilaku dan biomedis terbaru

3. Untuk memberikan dasar bagi pengembangan langkah-langkah pengendalian dan


prosedur pencegahan; dan untuk pengembangan langkah-langkah dan kegiatan
masyarakt yang diperlukan.

3.4.3 Ukuran Epidemiologi

Cara mengukur frekuensi masalah kesehatan yang dapat dipergunakan dalam


epidemiologi sangat beraneka ragam, karena bergantung dari pelbagai macam

22
masalah kesehatan yang ingin diteliti. Secara umum ukuran-ukuran epidemiologi
adalah seperti yang berikut :

Angka morbiditas dan mortalitas

Morbiditas adalah istilah lain untuk sakit. Seseorang dapat memiliki beberapa co-
morbiditas secara bersamaan. Morbiditas adalah bukan kematian. Prevalensi adalah
ukuran yang paling sering digunakan untuk menentukan tingkat morbiditas dalam
suatu populasi. Morbiditas mengacu kejadian kesehatan yang buruk dalam suatu
populasi. Data dikumpulkan sesuai dengan jenis penyakit, usia jenis kelamin,
wilayah. Morbiditas skor atau morbiditas diprediksi ditugaskan untuk pasien sakit
dengan bantuan sistem seperti APACHE II, SAPS II dan III, skala Glasgow Coma,
PIM2, dan SOFA.

Mortalitas adalah istilah lain untuk kematian. Tingkat mortalitas adalah jumlah
kematian akibat penyakit dibagi dengan total populasi. Angka kematian dapat
dibedakan menjadi tingkat kematian mentah; angka kematian perinatal; angka
kematian ibu; angka kematian bayi; angka kematian anak, angka kematian standar;
dan usia-spesifik angka kematian. Angka kematian umumnya dinyatakan sebagai
jumlah kematian per 1000 individu per tahun

Beberapa angka kematian yang umum dipakai dalam mortalitas:


1. Angka kematian kasar
Angka Kematian Kasar adalah angka yang menunjukkan banyaknya kematian per
1000 penduduk pada pertengahan tahun tertentu, di suatu wilayah tertentu.

2. Angka kematian bayi


Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya kematian bayi berusia dibawah satu
tahun, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.

3. Angka kematian neonatal

23
Angka Kematian Neo-Natal adalah kematian yang terjadi sebelum bayi berumur satu
bulan atau 28 hari, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.

4. Angka Kematian Post Neo-Natal


Angka Kematian Post Neo-natal atau Post Neo-natal Death Rate adalah kematian
yang terjadi pada bayi yang berumur antara 1 bulan sampai dengan kurang 1 tahun
per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.

5. Angka Kematian Anak


Angka Kematian Anak adalah jumlah kematian anak berusia 1-4 tahun selama satu
tahun tertentu per 1000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu. Jadi
AngkaKematian Anak tidak termasuk kematian bayi.

6. Angka Kematian Balita


Angka Kematian Balita adalah jumlah kematian anak berusia 0-4 tahun selama satu
tahun tertentu per 1000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu (termasuk
kematian bayi).

7. Angka Kematian Ibu (AKI)


Banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi
kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan, yang disebabkan karena
kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per 100.000
kelahiran hidup.

8. Angka Harapan Hidup


Angka Harapan Hidup pada suatu umur x adalah rata-rata tahun hidup yang masih
akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umur x, pada suatu tahun
tertentu, dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya.

24
Daftar Pustaka

1. Cholil, A, 2004. Keterbatasan Mnegakses Pelayanan Kesehatan, Jakarta


2. Depkes, RI, 2003. Rencana Strategi Nasional Makin Pregnancy Safer (MPS) di
Indonesia tahun 2001 – 2010, Jakarta.
3. Depkes, RI, 2004. Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Dasar di
Puskesmas, Jakarta.
4. Depkes, RI, 2005. Rencana Strategis Departemen Kesehatan Tahun 2005 – 2009,
Jakarta.
5. Depkes, RI, 2005. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2005, Jakarta.
6. Depkes, RI, 2006. Pedoman Pelaksanaan Strategis Nasional Making Pregnancy
Safer (Kehamilan yang lebih aman), Jakarta.
7. Manuaba IBG, 2001, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana untuk Pendidikan Bidan, EGC, Jakarta.
8. Notoatmodjo, S, 2003. Pengantar Pendidikan dan Ilmu – Ilmu Perilaku Kesehatan
ED. Terakhir. Yogyakarta: Andi Offset.
9. Saifuddin, Abdul Barry, 2001. Pengantar Kependudukan, Ilmu Kedokteran
Komunitas, Fakultas kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
10. Wardhani, Desi Lusiana, 2006. Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Antenatal
di Puskesmas Kabupaten Tulungagung (Sebagai Upaya Peningkatan Cakupan
K4), Universitas Airlangga. Tesis tidak dipublikasikan.
11. Budiarto, Eko. 2002. Pengantar Epidemiologi. Ed.2. EGC. Jakarta

25
Lampiran 1. Contoh Kuesioner Penelitian

KUESIONER PENELITIAN
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPERNGARUHI CAKUPAN PROGRAM
PEMERIKSAAN KEHAMILAN (K4)

A. Karakteristik/ Identitas Responden

1. No. Responden :…………………

2. Nama :…………………

3. Umur :…………………

4. Suku :………………….

5. Pendidikan Responden : a. tidak sekolah/ tidak tamat SD

b. SD c. SMP

d. SMA e. Akademi/Sarjana

6. Pendidikan Suami : a. tidak sekolah/ tidak tamat SD

b. SD c. SMP

d. SMA e. Akademi/Sarjana

7. Pekerjaan Responden : a. PNS/TNI/Polri b. Pegawai swasta

c. Wiraswasta d. Buruh

e. Tidak Bekerja

8. Pekerjaan Suami : a. PNS/TNI/Polri b. Pegawai swasta

26
c. Wiraswasta d. Buruh e.Tidak bekerja

9. Penghasilan : Rp………………………./bln

10. Kehamilan ke :…………………………

11. Jumlah anak :…………………………

B. Geografis

1. Apakah ibu mendapatkan kesulitan pergi ke tempat pemeriksaan kehamilan, dalam hal
angkutan transport dan sarana jalan?

a. Ya

b. Tidak

Jika ya, jelaskan…………………………………………………………………….

2. Dalam hal ini, menurut ibu bagaimana?

a. Ada kendaraan transportasi

b. Jalan baik

3. Berapa jarak tempat tinggal ibu dengan sarana pemeriksaan kehamilan?

a. ≤ 5km

b. >5km

4. Berapa lama waktu yang ibu butuhkan dari tempat tinggal ke tempat sarana pemeriksaan
kehamilan?

a. ≤ 15 menit

b. > 15 menit

5. Menurut ibu, bagaimana waktu yang ibu butuhkan dari tempat tinggal ke sarana pemeriksaan
kehamilan?

27
a. Lama b. Singkat

6. Apakah ada alat transportasi umum dari tempat tinggal ibu ke sarana pemeriksaan
kehamilan?

a. Ada

b. Tidak ada

Jika ada sebutkan………………………………………………………………………….

7. Berapa ongkos yang harus dikeluarkan untuk pergi ke tempat pemeriksaan kehamilan?

a. ≤ Rp. 5000

b. > Rp. 5000

C. Perilaku

C.1. Pengetahuan

1. Tahukah ibu manfaat memeriksakan kehamilan ke pelayanan kesehatan?

a. Tahu (jelaskan…………………………………………………………………….)

b. kurang tahu

c. Tidak tahu

2. Menurut ibu, kapan sebaiknya pertama kali untuk melakukan pemeriksaan kehamilan?

a. Trimester I (1-3bulan)

b. Trimester II (4-6 bulan)

c. Trimester III(7-9bulan)

3. Menurut ibu, kepada siapa sebaiknya melakukan pemeriksaan kesehatan?

a. Dokter spesialis kebidanan/ Dokter umum

b. Bidan di Desa/perawat

28
c. Dukun

4. Apakah ada dukungan keluarga (terutama suami) yang menyarankan ibu memeriksakan
kehamilan ke tempat pelayanan kesehatan?

a. Ada

b. Kadang-kadang

c. Tidak ada

5. Jika keluarga/suami mendukung, apa yang dilakukan?

a. Menemani ibu pergi memeriksakan kehamilan

b. menyarankan untuk memeriksakan kehamilan

c. Tidak ada

6. Pelayanan apa saja yang diperoleh ketika memeriksakan kehamilan?

a. Anamnesa, pengukuran BB,TD, LLA, pemeriksaan luar

b. pengukuran BB,TD, LLA, pemeriksaan luar

c. Pemeriksaan luar

7. Apakah menurut ibu, manfaat pemeriksaan kehamilan di pelayanan kesehatan tersebut?

a. Agar ibu dan anak yang dilahirkan nantinya sehat

b. Agar ibu selamat waktu melahirkan

c. Agar tidak sulit waktu melahirkan

8. Apakah ibu tahu berapa kali seharusnya melakukan pemeriksaan kehamilan selama masa
hamil?

a. Tahu (sebutkan……….)

b. Tidak tahu

29
C.2. Sikap

NO Pernyataan Setuju Tidak


setuju

1 Setiap ibu hamil harus memeriksakan kehamilannya


sekurang-kurangnya ≥4 kali selama kehamilan

2 Setiap ibu hamil harus memeriksakan kehamilan ke tempat


pelayanan kesehatan

3 Pemeriksaan kehamilan bermanfaat bagi keselamatan ibu


dan janin yang di kandungnya

4 Pemeriksaan kehamilan harus dilakukan oleh tenaga


kesehatan yang professional (Dokter spesialis kebidanan,
Dokter umum, bidan)

5 Dengan memeriksakan kehamilan, ibu dan bayi dapat


terhindar dari penyulit yang timbul sewaktu hamil atau
melahirkan

6 Suntikan TT sangat diperlukan ibu hamil selama


kehamilannya minimal 2 kali untuk mencegah tetanus pada
bayi

7 Pemeberian Fe pada masa hamil berguna untuk mencegah


terjadinya anemia pada ibu

C.3. Tindakan

1. Apakah sewaktu ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan ke pelayanan kesehatan?

a. Ya

b. tidak (jika tidak sebutkan alasannya………………………………………………….)

30
2. Jika ya, dimanakah ibu melakukan pemeriksaan kehamilan?

a. Rumah sakit, Dokter praktek, Puskesmas, klinik bersalin, poskesdes

b. Dukun

3. Berapa kali ibu memeriksakan kehamilannya sampai saat ini (sesuai umur kehamilan)?

a. ≥ 4 kali

b. < 4 kali

4. Siapakah yang memeriksakan kehamilan ibu?

a. Dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, perawat

b. Dukun

D. Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan

1. Berapa kali ibu memeriksakan kehamilan selama hamil terakhir?

a. . ≥ 4 kali

b. < 4 kali

2. Dalam tigs bulan pertama berapa kali ibu memeriksakan kehamilan?

a. ≥ 1 kali

b. Tidak pernah

3. dalam tiga bulan kedua berapa kali ibu memeriksakan kehamilan?

a. ≥ 1 kali

b. Tidak pernah

4. Dalam tiga bulan terakhir berapa kali ibu memeriksakan kehamilan?

a. ≥ 2 kali b. < 2 kali

31
32