Anda di halaman 1dari 13

RANGKAIAN R L C SERI

LAPORAN PRAKTIKUM
untuk melengkapi tugas matakuliah Teknik Pengukuran dan Instrumentasi II
yang dibimbing oleh Ibu Kumala Mahda Habsari, S.Pd., M.T.

Oleh
Anjily Rahmasari (1631120059)
Diana Akmaliah (1631120056)
Erik Tosa Ratnam (1631120058)
Fafan Dwi Arifin (1631120010)
Indra Sampurno Alim (1631120079)
M. Rijal Adi Hasta (1631120081)

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK LISTRIK


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2017
RANGKAIAN R L C SERI

1. Tujuan Percobaan:
1. Mengukur besar tegangan AC dengan menggunakan beban resistor,
induktor, dan kapasitor.
2. Menentukan nilai impedansi (Z) komponen R L C dalam
hubungan seri.
3. Mengetahui bentuk gelombang pada masing-masing tegangan.
4. Mengetahui pengaruh antara tegangan terhadap beban resistor,
induktor, dan kapasitor.
5. Mengetahui beda fasa tegangan.
6. Menganilis rangkaian RLC ditinjau dari arus, tegangan maupun
sudut fasanya.

2. Teori Dasar
Besar tegangan pada rangkaian seri berbeda namun besarnya arus
pada rangkaian seri besarnya sama. Besarnya tegangan pada suatu
rangkaian dipengaruhi oleh arus dan impedansi (R L C). Namun walaupun
tegangan pada tiap-tiap komponen berbeda sigma tegangan sama dengan
0. Hal ini sesuai dengan hukum kirchoff 2 ΣE = 0.
Resistor merupakan salah satu komponen yang mempengaruhi
besarnya tegangan. Semakin besar resistor maka arus semakin kecil dan
tegangan juga mengecil nilainya sesuai dengan hukum ohm yaitu V = IxR.
Resistor dapat menimbulkan rugi arus berupa panas yang mempengaruhi
drop tegangan. Resistor tidak memiliki cos phi.
Induktor memiliki satuan Hendry (H), induktor terdiri dari
kumparan atau belitan pada inti besi. Induktor bersifat induktif dan
menghasilkan tegangan reaktif karena terdapat cos phi. Pada induktor juga
terjadi GGL hasil dari induktansi diri sehingga terjadi perubahan sifat
bahwa tegangan mendahului arus sebesar 90⁰. Untuk dapat menghitung
reaktansi induktor dapat menggunakan rumus XL = Ѡ.L dengan
keterangan Ѡ = 2πf. Sehingga didapatkan nilai reaktansi induktor dalam
satuan ohm.
Kapasitor memiliki satuan farad. Kapasitor pada tegangan AC bersifat arus
mendahului tegangan sebesar 90⁰, dan untuk menghitung reaktansi kapasitor
dapat menggunakan rumus Xc = 1 .
Ѡc
Sehingga secara umum untuk menghitung besarnya nilai impedansi total

dapat menggunakan rumus Z = atau Z =

jika nilai XL lebih besar dari XC. Jika nilai XL lebih

besar dari XC maka impedansi tersebut lebih bersifat induktif, begitu juga
sebaliknya jika XC lebih besar dari XL maka impedansi dari suatu rangkaian
lebih bersifat kapasitif.
Sementara beda fasa pada gelombang dapat diukur dengan osiloscope juga
menggunakan metode simultan dan lisoulus. Metode simultan dapat dihitung
dengan mengamati perbedaan fase pada gelombang yang terlihat pada layar
osiloscope dengan rumus θ = beda fasa (x) . 360⁰
Periode (y)

Sementara metode lisoulus dapat dihitung dengan terlebih dahulu


mengubah pengaturan pada osiloscope menjadi bentuk gambar x dan y
kemudian dihitung dengan rumus θ = sin A
B

3. Peralatan yang digunakan


Daftar alat dan bahan percobaan yang digunakan adalah sebagai berikut.
1. Oscilloscope : 1 buah
2. Trafo 220 V/6 V : 1 buah
3. Resistor 820Ω dan 1200Ω : 2 buah
4. Induktor 1H (ballast) : 1 buah
5. Capacitor dekade 3µF dan 4µF : 1 buah
6. Probe : 2 buah
7. Kabel : secukupnya

4. Rangkaian Percobaan

5. Langkah Percobaan
1. Membuat konsep sebelum melakukan percobaan dengan ketentuan
memilih komponen R dan C agar sudutnya lebih dari 15⁰ , memilih
R sesuai interval 12 , daya pada komponen tidak boleh melebihi
0,5 watt untuk yang menggunakan kode warna dan tidak boleh
lebih dari 5 watt untuk yang keramik.
2. Siapkan peralatan dan cek kembali keadaan alat tersebut apakah
sudah baik atau belum.
3. Hidupkan osiloscope dengan menghubungkan kabel suplai pada
panel tegangan 220 VAC.
4. Hubungkan kabel probe 1 ke chanel 1 (CH1) dan kabel probe 2 ke
chanel 2 (CH2) pada osiloskop dual trace.
5. Kalibrasi terlebih dahulu chanel 1 dan chanel 2 osiloskop tersebut
6. Susun rangkaian seperti gambar di bawah ini untuk dapat
menghitung besar tegangan sumber.

Kemudian amati dan ukur tegangan yang terdapat pada layar


osiloscope.
7. Setelah mengukur tegangan sumber pada rangkaian ukurlah
tegangan pada R (VR) seperti pada rangkaian ini.

8. Kemudian hitung juga tegangan pada induktor dan kapasitor


seperti gambar rangkaian di bawah ini.

Rangkaian untuk mengukur VC

Rangkaian untuk mengukur VL


9. Setelah mengetahui VS, VL, VR, dan VC maka dapat menghitung
arus dengan rumus I = VS
Z
Setelah mengetahui nilai dari VS, VL, VC, dan VR ,maka kita
dapat menghitung arus juga dengan rumus seperti di atas tadi.
10. Catat hasil setiap percobaan.
11. Setelah selesai percobaan, kembalikan semua peralatan dan bahan
percobaan pada petugas gudang.
6. Data Percobaan
Tabel Berdasarkan Perhitungan (Teori)
BEBAN Vs (V) VR (V) VL (V) Vc (V) Θ (⁰) I ( mA) Z (Ω)
R1 = 820 Ω 4,4
L1 = 1 H 6 1,69 5,41 1108,92
C1 = 3 µF 5,7
R2 = 1200 Ω 5,56
L2 = 1 H 6 1,45 4,64 1293,04
C2 = 4 µF 3,69

Tabel Berdasarkan Pengukuran


BEBAN Vs (V) VR (V) VL (V) Vc (V) Θ (⁰) I ( mA) Z (Ω)
R1 = 820 Ω 4,38 39,6°
L1 = 1 H 6 1,98 194,4° 5,41 1108,92
C1 = 3 µF 6,01 0°
R2 = 1200 Ω 5,3 16,2°
L2 = 1 H 6 5,09 194,4° 4,64 1293,04
C2 = 4 µF 6,01 0°

7. Analisa Perhitungan
 Tabel Berdasarkan Perhitungan (Teori)
1. R1 = 820 Ω, L1 = 1 H, C1 = 3 µF

L  XL = ω.L
= 2πf.L

= 314,15 Ω

C  XC (3µF) = =

= = 1061,03 Ω

R = 820 Ω Xc = 1061,03 Ω XL = 314,15 Ω

Z =
=

=
= 1108,92 Ω

I (820 Ω) = = = 5,41 mA

VR (820 Ω) = I . XR

= 5,41 x 10-3 . 820

= 4,4 V

VL (820 Ω) = I . XL

= 5,41 x 10-3 . 314,15

= 1,69 V

VC (820 Ω) = I . XC

= 5,41 x 10-3 . 1061,03

= 5,7 V

2. R2 = 1200 Ω, L2 = 1 H, C2 = 4 µF

L  XL = ω.L
= 2πf.L

= 314,15 Ω

C  XC (4µF) =

= = 795,77 Ω

R = 1200 Ω Xc = 795,77 Ω XL = 314,15 Ω

Z =
=

=
= 1293,04 Ω

I (1200 Ω) = = = 4,64 mA

VR (1200 Ω) = I . XR

= 4,64 x 10-3 . 1200

= 5,56 V

VL (1200 Ω) = I . XL

= 4,64 x 10-3 . 314,15

= 1,45 V

VC (1200 Ω) = I . XC

= 4,64 x 10-3 . 795,77

= 3,69 V

 Tabel Berdasarkan Pengukuran


1. R1 = 820 Ω, L1 = 1 H, C1 = 3 µF

L  XL = ω.L
= 2πf.L

= 314,15 Ω

C  XC (3µF) = =

= = 1061,03 Ω

R = 820 Ω Xc = 1061,03 Ω XL = 314,15 Ω


Z =

=
= 1108,92 Ω

VR = 3,1 div x 2 = 6,2 V (Vpeak-to-peak)

Jadi, VR = = 4,38 V

VL = 1 x 2,8 = 2,8 V (Vpeak-to-peak)

Jadi, VL = = 1,98 V

VC = 5 x 1,7 div = 8,5 V (Vpeak-to-peak)

Jadi, VC = = 6,01 V

Θ (o) R yaitu 1,1 x 36 = 39,6o

Θ (o) L yaitu 5,4 x 36 = 194,4o

Θ (o) C yaitu 0 x 36 = 0o

I (mA) =

= 5,41 A

2. R2 = 1200 Ω, L2 = 1 H, C2 = 4 µF

L  XL = ω.L
= 2πf.L
= 314,15 Ω

C  XC (4µF) = =

= = 795,77 Ω

R = 1200 Ω Xc = 795,77 Ω XL = 314,15 Ω

Z =

=
= 1293,04 Ω

VR = 5 x 1,5 div = 7,5 V (Vpeak-to-peak)

Jadi, VR = = 5,3 V

VL = 2 x 3,6 div = 7,2 V (Vpeak-to-peak)

Jadi, VL = = 5,09 V

VC = 5 x 1,7 div = 8,5 V (Vpeak-to-peak)

Jadi, VC = = 6,01 V

Θ (o) R yaitu 0,45 x 36 = 16,2o

Θ (o) L yaitu 5,4 x 36 = 194,4o

Θ(o) C yaitu 0 x 36 = 0o
I (mA) =

= 4,64 A

8. Pertanyaan
1. Bandingkan hasil perhitungan dengan hasil pengukuran yang meliputi
tegangan masing-masing komponen R, L, C, sudut fasa  dan arus I,
berikan komentarnya.
2. Gambar bentuk gelombang perbedaan fasa antara arus dan tegangan
yang tampak pada layar oscillocope.
3. Adakah pengaruhnya perubahan nilai kapasitansi kapasitor pada sudut
fasa  , uraikan penjelasannya.
4. Buatlah vektor diagram tegangan dan arus dari hasil pengukuran
dengan skala yang benar.
5. Buatlah analisis dan kesimpulan dari hasil percobaan.

Jawab :
1. Nilai hasil perhitungan dan nilai hasil pengukuran tidak sama, karena
saat pengukuran terdapat rugi-rugi yang diabaikan saat perhitungan.
2. XL1 = ω.L
= 2πf.L
= 314,15 Ω

XC 1 (3µF) = =

= = 1061,03 Ω

Z1 = R + (Xc1 – XL1)j
= 820 + (1061,03 – 314,15)j
= 820 + 746,9j
= 1109,2 < -42,32° Ω
I1 =

= 5,4 mA < -42,32°

3. Ada. Saat nilai kapasitansi berubah, hal tersebut akan merubah nilai
reaktansi total. Bila reaktansi berubah maka nilai sudut Θ(o) atau sudut
fasa akan berubah.
4. – 820 Ω

– 1200 Ω
5. Jadi, setelah kita melakukan praktikum RLC seri dapat disimpulkan
bahwa semakin besar frekuensi, semakin besar pula tegangan yang
terdapat pada resistor. Semakin besar frekuensi, semakin besar pula
tegangan yang dihasilkan oleh sebuah kumparan. Semakin besar
frekuensi, semakin kecil tegangan yang dihasilkan oleh kapasitor. Serta
semakin besar frekuensi, semakin kecil tegangan total rangkaian yang
dihasilkan pada rangkaian.

9. Kesimpulan
Dari hasil praktikum dan pembahasan yang diperoleh tentang mempelajari
sifat tegangan bolak-balik pada rangkaian seri hambatan (R), kumparan
(L), dan kapasitor (C) sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar
frekuensi, semakin besar pula tegangan yang terdapat pada resistor.
Semakin besar frekuensi, semakin besar pula tegangan yang dihasilkan
oleh sebuah kumparan. Semakin besar frekuensi, semakin kecil tegangan
yang dihasilkan oleh kapasitor. Serta semakin besar frekuensi, semakin
kecil tegangan total rangkaian yang dihasilkan pada rangkaian.