Anda di halaman 1dari 29

Kasus 3

Puskesmas “K” pada Lokakarya Mini bulanan didapatkan data kunjungan K4 ibu hami hanya
mencapai 40% selama 1 tahun. Dokter yang bertugas ingin melakukan program tepat sasaran
guna meningkatkan cakupan K4. Untuk itu dia ingin melakukan penelitian untuk mengetahui
faktor-faktor apakah yang berhubungan dengan rendahnya cakupan K4. Diduga tingkat
pengetahuan ibu hamil, sikap dan perilaku ibu hamil sangat rendah tentang perawatan
kehamilan.

PENDAHULUAN

Pada dasarnya , semua jenis penelitian dilakukan karena adanya masalah. Demikian pula
dengan penelitian epidemiologis, tetapi karena jumlah masalah epidemiologi sangat banyak
dan tidak semua masalah memerlukan penelitian, masalah-masalah tersebut harus
diidentifikasi untuk menentukan masalah-masalah yang perlu dan dapat dilakukan penelitian.

Setelah mengidentifikasi dan menentukan masalah yang akan diteliti, masalah tersebut
dirumuskan dengan jelas kemudian ditentukan tujuan penelitian secara jelas. Sebelum tujuan
dapat dirumuskan dengan jelas, sebaiknya tidak melakukan kegiatan tahap selanjutnya karena
tujuan ini akan menentukan latar belakang masalah dan metodologi yang akan digunakan,
menentukan kriteria subjek studi, populasi studi, sampel, variabel yang dicari, jadwal kegiaan
dan lain-lain.

Metode penelitian harus dirinci dengan jelas karena bila hal ini tidak dilakukan akan
menyulitkan ilmuwan untuk mengadakan evaluasi hasil penelitian, baik untuk mengadakan
penelitian serupa atau untuk sebagai bahan perbandingan.

Sebagai ilustrasi, dapat dikemukakan suatu penelitian tentang obat untuk angina pektoris.
Dari hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa obat tersebut tidak bermanfaat, tetapi
setelah dilakukan pengkajian dengan seksama ternyata terjadi kesalahan dalam menentukan
objek studi yaitu pada penelitian tersebut yang digunakan sebagai subjek studi adalah orang
dengan keluhan nyeri dada yang belum tentu disebabkan angina pektoris. Bila kriteria subjek
studi tidak dijelaskan dalam laporan, kita mungkin kehilangan obat yang bermanfaat bagi
penyembuhan angina pektoris.
Masalah

1. Kunjungan K4 ibu hamil hanya mencapai 40% dalam 1 tahun


2. Pengetahuan, sikap dan perilaku ibu-ibu hamil sangat rendah tentang perawatan
kehamilan

Kerangka Konsep

Variabel bebas Variabel terikat

Pengetahuan ibu hamil tentang

1. Pengertian
2. Manfaat
3. Jadwal
4. Pengaruh pemeriksaan
kehamilan

Kunjungan pemeriksaan
kehamilan (K4)

Sikap dan perilaku ibu hamil tentang


antenatal care dalam kunjungan
pemeriksaan kehamilan

Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :


1. Tujuan Umum :
Mengetahui gambaran umum hubungan antara pengetahuan, sikap dan perilaku ibu
hamil tentang antenatal care dengan kunjungan pemeriksaan kehamilan (K4).
2. Tujuan Khusus :
a. Mengetahui hungan antara tingkat pengetahuan tentang antenatal care dengan
kunjungan pemeriksaan kehamilan
b. Mengetahui hubungan antara sikap dan perilaku tentang antenatal care dengan
kunjungan pemeriksaan kehamilan

TINJAUAN PUSTAKA

METODOLOGI PENELITIAN

1. Desain Penelitian

Design penelitian adalah suatu rencana tentang cara mengumpulkan dan mengolah data agar
dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan penelitian Yang termasuk rancangan penelitian
adalah: jenis penelitian, populasi, sample, sampling, instrumen penelitian, cara pengumpulan
data, cara pengolahan data, perlu tidak mengunakan statistik, serta cara mengambil
kesimpulan.

Desain penelitian Jenis Contoh

Observasional Deskriptif Studi kasus


Survei
Analitik Kros seksional
Kasus kontrol
kohort

Eksperimental Laboratorium Biomedik


Klinik Trial klinik
Epidemiologi Intervensi komunitas

Cros sectional

Desain penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sebuah sample dari populasi dalam suatu
waktu. Setelah itu, memeriksa status paparan dan status penyakit pada titik waktu yang sama
dari masing-masing individu dalam sample tersebut. Artinya, tiap subjek penelitian hanya
diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel
subjek pada saat pemeriksaan.

Kelebihan

Jenis observasi studi ini bisa digunakan untuk penelitian analitik dalm bidang kesehatan.
Contohnya adalah:

1. Penyakit atau masalah kesehatan, atau efek.


2. Faktor resiko untuk terjadinya penyakit tersebut, yakni faktor penyebab terjadinya
penyakit atau masalah kesehatan.
3. Agen penyakit.

Studi ini representatif dalam mendeskripsikan karakteristik populasi daripada studi case
control atau cohort. Selain itu, studi jenis ini juga lebih efisien untuk merumuskan hipotesis
baru.
Kekurangan

studi jenis ini adalah penelitian ini paling mudah untuk dilakukan dan sangat sederhana.
Pengujian hipotesis kausal juga tidak seakurat cohort dan case control, karena ketidakpastian
sekuensi temporal antara paparan dan penyakit.

1. Diperlukan subjek penelitian yang besar.


2. Tidak dapat menggambarkan perkembangan penyakit secara akurat.
3. Tidak valid untuk meramalkan suatu kecenderungan.
4. Kesimpulan korelasi faktor resiko dengan faktor efek paling lemah bila dibandingkan
dengan dua rancangan penelitian cross sectional yang lain.

Contoh :

Penelitian tentang hubungan bentuk tubuh dengan hipertensi. Maka peneliti memilih suatu
populasi untuk dijadikan penelitian, memilih sampel penelitian secara random , kemudian
dari masing-masing sampel tersebut diambil data dengan wawancara menderita hipertensi
atau tidak (efek), dan pada saat yang sama juga diambil data paparan yaitu bentuk tubuh
(gemuk atau kurus) dengan metode observasi. Kemudian dihitung proporsi penderita
hipertensi yang gemuk dan yang kurus, serta yang bukan penderita hipertensi yang gemuk
dan yang kurus. Maka dapat disimpulkan hubungan antara bentuk tubuh dan hipertensi.

Case control

Penelitian kasus-kontrol adalah suatu penelitian analitik yang menyangkut bagaimana faktor
risiko dipelajari dengan menggunakan pendekatan retrospektif, dimulai dengan
mengidentifikasi pasien dengan efek atau penyakit tertentu (kelompok kasus) dan kelompok
tanpa efek (kelompok kontrol), kemudian diteliti faktor risiko yang dapat menerangkan
mengapa kelompok kasus terkena efek, sedangkan kelompok kontrol tidak. Desain penelitian
ini bertujuan mengetahui apakah suatu faktor risiko tertentu benar berpengaruh terhadap
terjadinya efek yang diteliti dengan membandingkan kekerapan pajanan faktor risiko tersebut
pada kelompok kasus dengan kelompok kontrol. Jadi, hipotesis yang diajukan adalah : Pasien
penyakit x lebih sering mendapat pajanan faktor risiko Y dibandingkan dengan mereka yang
tidak berpenyakit X. Pertenyaan yang perlu dijawab dengan penelitian ini adalah : apakah ada
asosiasi antara variabel efek (penyakit, atau keadaan lain) dengan variabel lain (yang diduga
mempengaruhi terjadi penyakit tersebut) pada populasi yang diteliti.

Kelebihan

1. Studi kasus kontrol kadang atau bahkan menjadi satu-satunya cara untuk meneliti
kasus yang jarang atau yang masa latennya panjang, atau bila penelitian prospektif
tidak dapat dilakukan karena keterbatasan sumber atau hasil diperlukan secepatnya.
2. Hasil dapat diperoleh dengan cepat.
3. Biaya yang diperlukan relatif lebih sedikit sehingga lebih efisien.
4. Memungkinkan untuk mengidentifikasi berbagai faktor risiko sekaligus dalam satu
penelitian (bila faktor risiko tidak diketahui).
5. Tidak mengalami kendala etik seperti pada penelitian eksperimen atau kohort.

Kekurangan

1. Data mengenai pajanan faktor risiko diperoleh dengan mengandalkan daya ingat atau
catatan medik. Daya ingat responden menyebabkan terjadinya recall bias, baik karena
lupa atau responden yang mengalami efek cenderung lebih mengingat pajanan faktor
risiko daripada responden yang tidak mengalami efek. Data sekunder, dalam hal ini
catatan medik rutin yang sering dipakai sebagai sumber data juga tidak begitu akurat
(objektivitas dan reliabilitas pengukuran variabel yang kurang).
2. Validasi informasi terkadang sukar diperoleh.
3. Sukarnya meyakinkan bahwa kelompok kasus dan kontrol sebanding karena
banyaknya faktor eksternal / faktor penyerta dan sumber bias lainnya yang sukar
dikendalikan.
4. Tidak dapat memberikan incidence rates karena proporsi kasus dalam penelitian tidak
mewakili proporsi orang dengan penyakit tersebut dalam populasi.
5. Tidak dapat dipakai untuk menentukan lebih dari satu variabel dependen, hanya
berkaitan dengan satu penyakit atau efek.
6. Tidak dapat dilakukan untuk penelitian evaluasi hasil pengobatan.

Contoh

hubungan antara malnutrisi (kekuranagn gizi) pada anak balita dengan perilaku pemberian
makanan oleh ibu. Dilakukan denagn cara mengidentifikasi variabel depende (efek) seperti
malnutrisi dan variabel independen ( faktor risiko) seperti perilaku ibu, pendidikan
pendapatan keluarga, jumlah anak, dll. Kemudian menetapkan objek penelitian yaitu
pasangan ibu dan balita, yang dilanjutkan mengidentifikasi kasus seperti anak balita yang
menderita malnutrisi ( berat per umurnya kurang dari 75%). Selanjutnya melakukan
pengukuran secara retrosektif yaitu anak balita yang malnutrisi diukur dan ditanyakan kepada
ibunya dengan menggunakan metode “recall” mengenai perilaku memberikan makanan
kepada anaknya, melakukan analisis data dilakukan dengan membandingkan proporsi
perilaku ibu yang baik dan yang kurang baik dalam al pemberian makanan kepada anaknya
pada kelompok kasus dengan proporsi ibu yang sama pada kelompok kontrol yang telah
ditentukan. Maka akan diperoleh bukti atau tidak adanya hubungan antara perilaku pemberian
makanan dengan malnitrisi pada anak balita.

Kohort

Study cohort adalah rancangan studi yang mempelajari hubungan antara paparan dan
penyakit, dengan cara membandingkan kelompok terpapar (faktor penelitian) dan kelompok
tidak terpapar berdasarkan status paparannya. Ciri-ciri studi cohort adalah pemilihan subjek
berdasarkan status paparannya, dan kemudian dilakukan pengamatan dan pencatatan apakah
subjek dalam perkembangannya mengalami penyakit atau tidak.
Pada saat mengidentifikasi status paparan semua subjek harus bebas dari penyakit yang
diteliti. Studi cohort disebut juga studi follow-up (kleinbaum et al., 1982; Rothman, 1986),
sebab cohort diikuti dalam suatu periode untuk diamati perkembang penyakit yang
dialaminya.

Kelebihan

1. Study cohort adalah kesesuainnya dengan logika studi eksperimental dalam membuat
inferensi kausal yaitu penelitian dimulai dengan menentukan faktor penyebab diikuti
dengan akibat. Karena pada saat dimulai penelitian telah dipastikan bahwa semua
subjek tidak berpenyakit.
2. Peneliti dapat menghitung laju insidensi, sesuatu hal yang hampir tidak mungkin
dilakukan pada studi case control, sehingga perhitungan rasio laju insidensi harus
didekati dengan rasio odds.
3. Studi cohort sesuai untuk meneliti paparan yang langka. Dalam hal ini rancangan
yang efisien adalah memilih subjek berdasarkan status paparan, untuk memastikan
diperolehnya ukuran sample yang cukup untuk menguji hipotesis.
4. Studi cohort memungkinkan peneliti mempelajari jumlah efek secara serentak.
5. Karena bersifat opserfasional maka tidak ada subjek yang sengaja dirugikan karena
tidak mendapat terapi yang bermanfaat, atau mendapat paparan faktor yang
merugikan kesehatan.

Kelemahan

1. Rancangan studi cohort prospektif lebih mahal dan membutuhkan waktu yang lebih
lama daripada studi case control.
2. Tidak efisien dan tidak praktis untuk mempelajari penyakit yang langka, kecuali jika
ukuran sampel sangat besar atau prevalensi penyakit pada kelompok terpapar cukup
tinggi.
3. Hilangnya subjek selama penelitian, karena migrasi, tingkat partisipasi rendah atau
meninggal dan sebagainya merupakan problem yang mengganggu validitas penelitian.
Jika subjek yang hilang cukup besar atau walaupun sedikit tetapi hilangnya itu
berkaitan dengan paparan dan penyakit yang diteliti, maka temuan penelitian menjadi
tidak valid karena adanya bias hilang waktu follow-up.
4. Karena faktor penelitian sudah ditentukan terlebih duhulu pada awal penelitian, maka
studi cohort tidak cocok untuk merumuskan hipotesis tentang faktor-faktor etiologi
lainnya untuk penyakit itu, tatkala penelitian berlangsung.

Contoh
Di dalam suatu populasi ingin diteliti apakah orang obesitas menyebabkan hipertensi. Jika
dalam 1 populasi terdapat 1000 penduduk. Kemudian dari populasi tersebut ditentukan
kelompok yang obesitas dan kelompok yang tidak obesitas. Dari masing-masing kelompok
diikuti selama 1 tahun ke depan. Kemungkinannya, pada kelompok obesitas bisa ditemukan
hipertensi dan tidak hipertensi, pada kelompok tidak obesitas juga dapat ditemukan hipertensi
dan tidak hipertensi.

Eksperimental

Merupakan studi yang memberikan suatu intervensi terhadap kelompok studi dengan
kelompok studi lainnya sebaai kontrol. Studi jenis ini merupakan rancangan studi yang
terbaik

2. Tempat dan Waktu Penelitian

Disebutkan rencana tempat dan waktu dilakukannya penelitian

3. Populasi Penelitian

Adapun populasi dalam penelitian ini adalah data seluruh ibu hamil yang memeriksakan
kehamilan di wilayah kerja puskesmas “K”.

Yang dimaksudkan dengan populasi dalam penelitian adalah sekelompok subyek atau data
dengan karakteristik tertentu. Populasi dapat dibagi menjadi 2,yaitu: 3

 Populasi target; yang ditentukan oleh karakteristik klinis dan demografis, misalnya
pasien morbili berusia di bawah 2 tahun.

Populasi terjangkau; adalah bagian populasi terget yang dibatasi oleh tempat dan waktu,
misalnya pasien morbili dengan ensalopati yang berusia kurang 2 tahun, yang berobat ke
RSCM selama tahun 1990-1991.
4. Sampel Penelitian

Besarnya sampel ditentukan dengan menggunakan rumus penentuan sampel untuk penelitian
survey oleh Slovin (1992) sebagai berikut;

N
n=
N (d)2 + 1
dimana:
N = besar populasi
n = besar sampel
d = tingkat kepercayaan (0,1)
Penetuan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling.
Sampel adalah bagian populasi yang diteliti. Cara pemilihan sampel bermacam-
macam, misalnya cara pemilihan secara acak, sistematik, consecutive, cluster,
convenience, time cluster dan seterusnya. Dalam usulan penelitian cara pemilihan
subyek penelitian ini harus ditegaskan secara eksplisit. 3

Sampel yang dikehendaki: bagian populasi target yang akan ditelitisecara langsung.
Kelompok ini meliputi subyek yang memenuhi kriteria pemilihan yaitu kriteria inklusi
dan eksklusi.

Sampel yang diteliti: subyek yang diteliti adalah subyek yang benar ikut serta dan
diteliti; kelompok ini adalah bagian dari sampel yang dikehendaki dikurangi dengan
drop out, pasien yang kemudian menolak berpartisipasi dan lain-lain.

Cara pemilihan sampel:

 Secara acak

Pada cara ini, kita menghitung terlebih dahulu jumlah populasi yang akan dipilih
sampelnya. Kemudian diambil sebagian dengan mempergunakan tabel random.

 Secara sistematik
Pada cara ini ditetukan bahwa tiap subyek nomor ke sekian dimasukkan dalam
sampel. Bila kita ingin mengambil 1 / n dari populasi, maka setiap pasien nomor n
dimasukkan ke dalam sampel.

Contoh: ingin dipilih 20 dari 200 pasien yang ada dengan cara sampling sistematik.
Dengan demikian diperlukan 20 / 200 = 1 / 10 bagian dari populasi yang akan
diikutsertakan sebagai sampel, karenanya maka setiap pasien nomor 10 akan
dipilih. Mula-mula tiap subyek diber nomor dari 1 samapai dengan 200. Tiap
pasien ke 10 diambil sebagai sampel, sehingga pada akhirnya yang diikutsertakan
dalam sampel adalah pasien nomor 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90 dan
seterusnya.

 Cluster sampling

Cluster sampling adalah proses penarikan sampel secara acak pada kelompok
individu dalam populasi yang terjadi secara alamiah, misalnya berdasarkan
wilayah. Cara ini sangat efisien bila populasi tersebar luas sehingga tidak mungkin
untuk membuat daftar seluruh populasi tersebut.

Contoh: Misalnya kita ingin meneliti karateristik bayi dengan atresia bilier di
rumah sakit pendidikan di seluruh Indonesia. Bila diinginkan hanya sebagian dari
kasus yang terdaftar di rumah sakit tersebut, dilakukan cluster sampling yaitu
dengan melakukan random sampling pada tiap rumah sakit, tanpa berusaha
menjumlahkan pasien yang terdaftar pada seluruh rumah sakit.3

 Consecutive sampling

Pada consecutive sampling,setiap pasien yang memenuhi kriteria penelitian


dimasukkan dalam penelitian sampai kurun waktu tertentu, sehingga jumlah pasien
yang diperlukan terpenuhi. Consecutive sampling ini merupakan jenis non-
probability sampling yang terbaik dan seringkali merupakan cara yang paling
mudah. Agar consecutive sampling dapat menyerupai probability sampling, maka
jangka waktu pemilihan pasien tidaj terlalu pendek, khususnya apabila suatu
penyakit bersifat musiman.

 Convenience sampling
Cara ini merupakan cara termudah untuk menarik sampel, namun sekaligus juga
merupakan cara yang paling lemah. Pada cara ini sampel diambil tanpa sistematika
tertentu, sehingga tidak dapat dianggap mewakili populasi sumber, apalagi
populasi target.

Kuesioner

Salah satu instrumen pengumpul data dalam penelitian adalah kuesioner, atau disebut juga
daftar pertanyaan (terstruktur). Kuesioner ini biasanya berkaitan erat dengan masalah
penelitian, atau juga hipotesis penelitian yang dirumuskan. Disebut juga dengan istilah
pedoman wawancara (interview schedule), namun kita akan menggunakan istilah generiknya
yaitu kuesioner.

Sebelum mebuat kuesioner, ada baiknya peneliti mengantisipasi kemungkinan adanya


kesalahan yang sering terjadi berkaitan dengan pelaksanaan pengumpulan data dari
responden. Beberapa permasalahan yang mungkin dan bahkan sering terjadi dan bagaimana
cara memperbaikinya adalah sebagaimana disarankan oleh Bailey (1987), sebagai berikut:

(a) Responden sering menganggap wawancara tidak masuk akal dan bahkan sering
menganggapnya sebagai dalih (subterfuge) untuk tujuan-tujuan tertentu misalnya
komersial. Alternatif pemecahannya antara lain adalah menyampaikannya dalam
pengantar bahwa penelitian yang akan dilakukan benar-benar untuk tujuan
nonkomersial. Tentu saja dengan kata-kata yang baik dan sopan.

(b) Responden merasa terganggu dengan adanya informasi yang dirasa menyerang dirinya
atau kepentingannya, misalnya takut dirilis di media massa. Pemecahannya adalah
menghindari pertanyaan yang sensitif, serta diyakinkan bahwa tidak akan ada nama
responden di dalamnya.

(c) Responden menolak bekerja sama atas dasar pengalaman masa lalu. Upayakan untuk
meyakinkan responden bahwa ini beda, beri pengertian bahwa responden dalam hal
ini turut berjasa dalam membantu penelitian ini.

(d) Responden yang tergolong dirinya kelompok minoritas sehingga merasa lelah karena
sering dijadikan kelinci percobaan (guinea pig). Ini jarang terjadi di negeri kita.
Namun jika hal seperti ini terjadi, peneliti bisa menggunakan instrumen lain., atau
bahkan mencari sumber data yang lain.

(e) Responden orang ‘penting’ dan sering merasa tahu akan apa yang akan ditelitinya.
Cara pemecahannya adalah dengan metode menyanjung orang penting tadi, misalnya
dengan mengatakan bahwa hanya dialah orang satu-satunya yang bisa memberikan
informasi tentang masalah ini.

(f) Responden menjawab dengan pertimbangan normatif, berpikir baik atau jelek.
Katakan kepadanya bahwa penelitian ini semata-mata untuk pengembangan ilmu,
dan bukan untuk kepentingan lain. Selain itu nama responden juta tidak perlu
dicantumkan.

(g) Responden merasa takut akan ‘kebodohannya’ dalam menjawab pertanyaan ini.
Katakan kepadanya bahwa jawaban apapun dari responden itu penting, dan tidak ada
yang salah dalam menjawab.

(h) Responden mengatakan tidak ada waktu untuk menjawabnya, atau merasa itu bukan
bidang minatnya. Pemecahannya adalah mengatakan bahwa dialah satu-satunya
orang yang bisa memberikan informasi yang diperlukan dalam penelitian ini.

Persyaratan lain dalam membuat kuesioner

(a) Relevansi kuesioner: Relevansi pertanyaan dengan tujuan studi, relevan pertanyaan
dengan responden secara perorangan.

(b) Relevansi pertanyaan dengan studi: betul

(c) Relevansi pertanyaan dengan responden: betul.

Kegagalan-kegagalan dalam membuat kuesioner:

(a) Luncuran pertanyaan ganda: Jangan menanyakan satu masalah dalam satu pertanyaan.
Contoh, apakah anda sering menyobek buku di perpustakaan selagi tidak ada
pengawas yang melihatnya; dan apakah anda juga sering mencoreti buku milik
perpustakaan untuk kepentingan penjelasan secara khusus?.
(b) Pertanyaan yang mengaahkan: Hindari bentuk pertanyaan seperti ini. Contoh, menurut
presiden, kita harus mengencangkan ikat pinggang dalam menghadapi krisis ekonomi
yang berkepanjangan ini. Anda setuju, bukan?. Pertanyaan seperti ini biasanya
dijawab secara langsung dengan kata ‘setuju’. Bisa dibayangkan bahwa jika semua
pertanyaan dijawab dengan setuju.

(c) Pertanyaan sensitif: Hati-hati dengan pertanyaan sensitif seperti contoh berikut: Anda
pernah melakukan onani?; Anda pernah melakukan hubungan seks sebelum nikah?.
Pertanyaan jenis ini termasuk kategori sensitif, bahkan kurang ajar.

(d) Pertanyaan yang menakut-nakuti: Contoh. Di daerah ini sering terjadi perampokan
dan penodongan di malam hari. Bisa Anda sebutkan orangnya?; atau, Anda tentu
mengetahui peristiwa pembunuhan yang terjadi beberapa waktu lalu di daerah ini,
karena andalah yang paling dekat dengan tempat kejadian perkara (TKP). Kami
datang untuk menyelidikinya, oleh karena itu tolong jawab dengan sejujurnya
pertanyaan-pertanyaan kami.

Kuesioner tertutup dan terbuka

Ada dua jenis pertanyaan dalam kuesioner, yakni pertanyaan terbuka, terbuka, dan gabungan
tertutup dan terbuka. Pertanyaan dengan jawaban terbuka adalah pertanyaan yang
memberikan kebebasan penuh kepada responden untuk menjawabnya. Di sini peneliti tidak
memberikan satupun alternatif jawaban. Sedangkan pertanyaan dengan jawaban tertutup
adalah sebaliknya, yaitu semua alternatif jawaban responden sudah disediakan oleh peneliti.
Responden tinggal memilih alternatif jawaban yang dianggapnya sesuai.

(a) Kuesioner dengan jawaban tertutup: Salah satu keuntungannya untuk kuesioner ini
adalah sebagai berikut: (1) jawaban-jawaban bersifat standar dan bisa dibandingkan
dengan jawaban orang lain; (2) jawaban-jawabannya jauh lebih mudah dikoding dan
dianalisis, bahkan sering secara langsung dapat dikoding dari pertanyaan yang ada,
sehingga hal ini dapat menghemat tenaga dan waktu; (3) responden lebih merasa
yakin akan jawaban-jawabannya, terutama bagi mereka yang sebelumnya tidak yakin;
(4) jawaban-jawaban relatif lebih lengkap karena sudah dipersiapkan sebelumnya oleh
peneliti; dan (5) analisis dan formulasinya lebih mudah jika dibandingkan dengan
model kuesioner dengan jawaban terbuka. Meskipun demikian, ada juga
kelemahannya, yakni: (1) sangat mudah bagi responden untuk menebak setiap
jawaban, meskipun sebetulnya mereka tidak memahami masalahnya; (2) responden
merasa frustrasi dengan sediaan jawaban yang tidak satu pun yang sesuai dengan
keinginannya; (3) sering terjadi jawaban-jawaban yang terlalu banyak sehingga
membingungkan responden untuk memilihnya; (4) tidak bisa mendeteksi adanya
perbedaan pendapat antara responden dengan peneliti karena responden hanya disuruh
memilih alternatif jawaban yang tersedia.

(b) Kuesioner dengan jawaban terbuka: Keuntungannya antara lain adalah: (1) dapat
digunakan manakala semua alternatif jawaban tidak diketahui oleh peneliti, atau
manakala peneliti ingin melihat bagaimana dan mengapa jawaban responden serta
alasan-alasannya. Hal ini sangat baik untuk menambah pengetahuan peneliti akan
masalah yang diutarakannya; (2) membolehkan responden untuk menjawab sedetil
atau serinci mungkin atas apa yang ditanyakan peneliti. Dalam hal ini pendapat
responden dapat diketahui dengan baik oleh peneliti.

(c) Kuesioner dengan jawaban tertutup dan terbuka (gabungan): Untuk menjembatani
kekurangan-kekurangan seperti tadi, maka sering digunakan pertanyaan model
gabungan antara keduanya. Dengan model tertutup dan tebuka, semua kekurangan
seperti tadi bisa diatasi. Misalnya dalam satu pertanyaan, disamping disediakan
alternatif jawaban oleh peneliti, juga perlu disediakan alternatif terbuka (c.
…………… ) untuk diisi sendiri oleh responden sesuai dengan pendapatnya secara
bebas. Dalam mengolah data untuk model terakhir ini, bisa dilakukan pengelompokan
ulang atas semua jawaban responden pada alternatif terbuka tadi. Atau bisa juga
peneliti melihat ulang apakah jawaban responden yang terakhir itu sebenarnya sudah
termasuk ke dalam salah satu alternatif jawaban yang tersedia. Dan jika ternyata
jawabannya sama dengan salah satu alternatif jawaban yang tersedia namun dalam
bahasa yang berbeda, peneliti bisa menganggapnya sebagai jawaban seperti pada
alternatif yang tersedia tadi. Contoh sebuah pertanyaan sederhana dengan alternatif
jawabannya: Tujuan Anda berkunjung ke perpustakaan adalah: (1) mengerjakan
tugas-tugas akademik; (2) mencari informasi akademik untuk kepentingan tugas dari
dosen; (3) menambah wawasan; (4) ………… menambah pengetahuan. (Responden
menjawab dengan tulisan sendiri pada alternatif yang terbuka ini). Kita bisa melihat
bahwa sebenarnya jawaban responden tersebut sama atau hampir sama dengan
alternatif nomor (3) menambah wawasan.

Susunan pertanyaan

Ada aturan umum dalam menyusun urutan pertanyaan yang dibuat, meskipun tidak mutlak,
yakni sebagai berikut:

(a) Pertanyaan sensitif dan pertanyaan model jawaban terbuka sebaiknya ditempatkan di
bagian akhir kuesioner.

(b) Pertanyaan-pertanyaan yang mudah sebaiknya ditempatkan pada bagian awal


kuesioner.

(c) Susunlah pertanyaan dengan pola susunan yang saling berkaitan satu sama lain secara
logis.

(d) Susunlah pertanyaan sesuai dengan susunan yang logis, runtut, dan tidak meloncat-
loncat dari tema satu ke tema yang lain.

(e) Jangan gunakan pasangan pertanyaan yang mengecek reliabilitas. Misalnya, setujukah
Anda terhadap aborsi? Sementara itu di tempat lain, ada pertanyaan, tidak setujukan
Anda terhadap aborsi?.

(f) Gunakan pertanyaan secara singkat dan jelas, tidak bertele-tele.

Pertanyaan kontingensi

Maksudnya adalah bentuk pertanyaan yang masih ada kelanjutannya. Misalnya, Anda pernah
mabuk?. Jika pernah, bagaimana rasanya?. Jenis pertanyaan seperti ini dimungkinkan adanya,
namun harus berpatokan kepada kemungkinan adanya hubungan tertentu antara tema yang
satu dengan tema yang lain. Selain itu, jawaban-jawaban dari responden atas pertanyaan
lanjutan ini akan sangat membantu memperdalam wawasan peneliti.
Uji coba instrumen (kuesioner)

Sebelum kuesioner disebarkan kepada responden, ujicobakanlah lebih dahulu kepada


sejumlah kecil responden. Ini gunanya untuk mengetahui validitas dan reliabilitas alat ukur
dimaksud. Selain itu, ini juga bisa digunakan untuk mengetahui kemungkinan diterima atau
ditolaknya hipotesis yang telah dirumuskan. Selain itu, jika ternyata dalam uji coba ini
terdapat banyak kesalahan, maka peneliti bisa mengubah atau menyempurkannya.

Kuesioner adalah pertanyaan tertulis yang diberikan kepada responden untuk menjawab.
Sebelumnya harus dipastikan kebenaran atas responden yang diteliti berdasarkan kriteria
respondennya. Tujuan kuesioner adalah untuk memberikan tinjauan tentang ekspresi
metafora dalam berbagai macam bahasa di dunia.

Data

Dalam penelitian ini digunakan 2 cara pengumpulan data yaitu:


a. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner secara
langsung dengan ibu hamil.
b. Data sekunder diperoleh dari Puskesmas “K”

Pengumpulan data merupakan tahap awal dari rangkaian kegiatan surveilans yang paling
penting untuk proses selanjutnya. Dalam pengumpulan data surveilans dapat dilakukan
melalui surveilans aktif dan pasif. Pengumpulan data tersebut harus mengumpulkan data-data
dari bebagai sumber data. Sumber data dalam surveilans epidemologi merupakan sumber
data/ subyek dari mana data dapat diperoleh yang digunakan untuk kegiatan surveilans
epidemologi.

Macam-macam sumber data dalam surveilans epidemiologi (Kepmenkes RI


No.1116/Menkes/SK/VIII/2003) :

1. Data kesakitan yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan dan masyarakat.
2. Data kematian yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan serta laporan
kantor pemerintah dan masyarakat.
3. Data demografi yang dapat diperoleh dari unit statistik kependudukan dan masyarakat
4. Data geografi yang dapat diperoleh dari unit unit meteorologi dan geofisika
5. Data laboratorium yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan dan
masyarakat.
6. Data kondisi lingkungan
7. Laporan wabah
8. Laporan penyelidikan wabah/KLB
9. Laporan hasil penyelidikan kasus perorangan
10. Studi epidemiology dan hasil penelitian lainnya
11. Data hewan dan vektor sumber penular penyakit yang dapat diperoleh dari unit
pelayanan kesehatan dan masyarakat.
12. Laporan kondisi pangan

Metode pengumpulan data penyelidikan wabah / KLB (Contoh Wabah DBD) :

1. Pengamatan / Observasi : mengamati dan mencatat fenomena social dan gejala fisik
secara disengaja dan sistematik

Alat observasi :

 check list
 skala penilaian
 alat-alat mekanik / elektronik

Contoh : observasi mengenai keadaan tempat-tempat genangan air, tempat penampungan air,
kebersihan lingkungan, timbunan sampah dan barang-barang bekas, dan lain-lain.

2. Wawancara / Interview : kegiatan tanya jawab guna memperoleh informasi secara lisan
dari sasaran penelitian (responden) untuk memperoleh kesan langsung dari responden dan
menilai kebenaran yang dikatakan responden

Alat wawancara :

 alat catat
 daftar pertanyaan
 recording
Contoh : wawancara kepada kepala dinas setempat mengenai angka kejadian penyakit DBD,
wawancara dengan tokoh masyarakat mengenai kondisi social budaya masyarakat,
wawancara dengan penderita atau anggota keluarga penderita mengenai kebiasaan penderita
sebelm terserang DBD, dan lain-lain.

3. Angket : cara pengumpulan data mengenai suatu masalah yang umumnya banyak
menyangkut kepentingan umum dengan mengedarkan suatu daftar pertanyaan berupa
formulir-formulir.

Alat :

 alat catat
 daftar pertanyaan

Contoh : angket yang ditujukan kepada tiap kepala keluarga mengenai perilaku hidup bersih
dan sehat yang diterapkan keluarga, angket yang ditujukan kepada penderita / anggota
keluarga penderita mengenai kebiasaan penderita sebelum terserang DBD, dan lain-lain.

4. Dokumentasi: cara pengumpulan data dengan melihat/mengacu pada dokumentasi atau


catatan masalah kesehatan serta data hasil penelitian.

Alat:

 Alat catatan
 Pustaka atau referensi

Contoh: dokumen dari pusat pelayanan kesehatan tentang kejadian suatu masalah kesehatan
yang terjadi diwilayahnya.

Referensi :

Kepmenkes RI No.1116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem


Surveilans Epidemiologi Kesehatan

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta


Analisis Data

Ukuruan Epidemiologi

Penelitian epidemiologi menggabungkan penelitian yang menggunakan statistic inferensial


untuk mengkaji informasi dan data yang berkaitan dengan ilmu kedokteran dan medis serta
masalah kesehatan sosial.

DEFINISI EPIDEMIOLOGI

Epidemiologi adalah metode investigasi yang digunakan untuk mendeteksi penyebab atau
sumber dari penyakit,sindrom, kondisi atau risiko yang menyebabkan penyakit,cedera,cacat
atau kematian dalam populasi atau dalam suatu kelompok manusia. Epidemiologi telah
didefinisikan dengan berbagai cara. Salah satu caranya adalah ilmu yang mempelajari tentang
sifat,penyebab, pengendalian dan faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi dan distribusi
penyakit, kecacatan dan kematian dalam populasi manusia. Epidemiologi juga meliputi
pemberian ciri pada distribusi penyakit atau masalah kesehatan masyarakat lainnya
berdasarkan usia,kelamin,ras geografi dan banyak lagi.

Epidemiologi berguna untuk mengkaji dan menjelaskan dampak dari tindakan pengendalian
kesehatan masyarakat, program pencegahan, intervensi klinis dan pelayann kesehatan
terhadap penyakit atau mengkaji dan menjelaskan faktor lain yang berdampak pada status
kesehatan penduduk.

Sebagai metode ilmiah, epidemiologi digunakan untuk mengkaji ola kejadian yang
mempengaruhi faktor-faktor risiko yang dapat memberikan dampak pengaruh,pemicu dan
efek pada distribusi penyakit,morbiditas dan mortalitas.

TUJUAN EPIDEMIOLOGI

Menurut Lilienfeld ada tiga tujuan umum epidemiologi yaitu :

1. Untuk menjelaskan etiologi (studi tentang penyebab) satu penyakit atau kelomok
enyakit,kondisi, gangguan,defek,ketidakmampuan atau kematian melalui analisis terhadap
data medis dan epidemilogi menggunakan manajemen informasi seklaigus informasi dari
segala bidang.

2. Untuk menentukan apakah data epidemiologi yang ada memang konsisten dengan
hipotesis yang diajukan dan dengan ilmu pengetahuan,perilaku dan biomedis terbaru
3. Untuk memberikan dasar bagi pengembangan langkah-langkah pengendalian dan prosedur
pencegahan; dan untuk pengembangan langkah-langkah dan kegiatan masyarakt yang
diperlukan.

UKURAN EPIDEMIOLOGI

Cara mengukur frekuensi masalah kesehatan yang dapat dipergunakan dalam epidemiologi
sangat beraneka ragam, karena bergantung dari pelbagai macam masalah kesehatan yang
ingin diteliti. Secara umum ukuran-ukuran epidemiologi adalah seperti yang berikut :

a) Rate

Rate atau angka merupakan proporsi dalam bentuk khusus perbandingan antara pembilang
dengan penyebut atau kejadian dalam suatu populasi teterntu dengan jumlah penduduk dalam
populasi tersebut dalam batas waktu tertentu. Rate terdiri dari berbagai jenis ukuran
diataranya adalah :

b) Proporsi

Jumlah kelompok individu yang terdapat dalam penduduk suatu wilayah yang semula tidak
sakit dan menjadi sakit dalam kurun waktu tertentu dan pembilang pada proporsi tersebut
adalah kasus baru.

c) AR (Attack Rate)
Attack rate adalah andala angaka sinsiden yang terjadi dalam waktu yang singkat (Liliefeld
1980) atau dengan kata lain jumlah mereka yang rentan dan terserang penyakit tertentu pada
periode tertentu. Attack rate penting pada epidemi progresif yang terjadi pada unit epidemi
yaitu kelompok penduduk yang terdapat pada ruang lingkup terbatas, seperti asrama, barak,
atau keluarga.

d) Ukuran fertilitas

i. Crude Birth Rate (CBR) / Angka kelahiran kasar


Angka kelahiran kasar adalah semua kelahiran hidup yang dicatat dalam 1 tahun per
1000 jumlah penduduk pertengahan tahun yang sama.
Rumus:
CBR = (B/P)k
B = semua kealhiaran hidup yang dicata
P = Jumlah penduduk pertengahan tahun yang sama.
k = konstanta(1000)

Angka kelahiran kasar ini dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat fertilitas secara
umum dalam waktu singkat tetapi kurang sensitif untuk
• Membandingkan tingkat fertilitas dua wilayah
• Mengukur perubahan tingkat fertilitas karena perubahan pada tingkat
kelahiran akan menimbulkan perubahan pada jumlah penduduk

ii. Age Spesific Fertilty Rate (ASFR) / Angka fertilitas menurut golongan umur
Angka fertilitas menurut golongan umur adalah jumlah kelahiran oleh ibu pada
golongan umur tertentu yang dicatat selam 1 tahun yang dicata per 1000 penduduk
wanita pada golongan umur tertentu apda tahun yang sama

Rumus:
ASFR = (F/R)k
F = Kelahiran oleh ibu pada golongan umur tertentu yang dicata
R = Penduduk wanita pada golongan umur tertentu pada tahun yang
sama

Angka fertilitas menurut golongan umur ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan pada
angka kelahiran kasar karena tingkat kesuburan pada setiap golongan umur tidak sama hingga
gambaran kelahiran menjadi lebih teliti

iii. Total Fertility Rate ( TFR) / Angka fertilitas total


Angka fertilitas total adalah jumlah angka fertilitas menurut umur yang dicatat sealma
1 tahun

Rumus:
TFR = Jumlah angka fertilitas menurut umur X k
e) Ukuran Mortalitas

i. Case Fatality Rate (CFR) / Angka kefatalan kasus


CFR adalah perbandingan antara jumlah kematian terhadap penyakit tertentu yang
terjadi dalam 1 tahun dengan jumlah penduduk yang menderita penyakit tersebut pada
tahun yang sama

Rumus:
CFR = (P/T)k
P = Jumlah kematian terhadap penyakit tertentu
T = jumlah penduduk yang menderita penyakit tersebut pada tahun
yang sama

Perhitungan ini dapat digunakan uutk mengetahui tingakat penyakit dengan tingkat kematian
yang tinggi. Rasio ini dapat dispesifikkan menjadi menurut golongan umur, jenis kelamin,
tingkat pendidikan dan lain-lain.

ii. Crude Death Rate (CDR)/ Angka Kematian Kasar


Angka keamtian kasar adalah jumlah kematian yang dicatat selama 1 tahun per 1000
penduduk pada pertengahan tahun yang sama. Disebut kasar karena angka ini dihitung
secara menyeluruh tanpa memperhatikan kelompok-kelompok tertentu di dalam
populasi dengan tingkat kematian yang berbeda-beda.

Rumus:
CDR= (D/P)k
D= jumlah keamtian yang dicata selama 1 tahun
P=Jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang sama

Manfaat CDR
a) Sebagai gambaran status kesehatan masyarakat
b) Sebagai gambaran tingkat permasalahan penyakit dalam masyarakat
c) Sebagai gambaran kondisi sosial ekonomi
d) Sebagai gambaran kondisi lingkungan dan biologis
e) Untuk menghitung laju pertumbuhan penduduk

iii. Age Spesific Death Rate (ASDR) / Angka kematian menurut golongan umur
Angka kematian menurut golongan umur adalah perbandingan antara jumlah
kematian yang dicatat selama 1 tahun pada penduduk golongan umur X dengan
jumlah penduduk golongan umur X pada pertengahan tahun.

Rumus:
ASDR= (dx/px)k
dx = jumlah kematian yang dicatat selama 1 tahun pada golongan umur x
px = jumlah penduduk pada golonga umur x pada pertengahan tahun yang sama
k = Konstanta

Manfaat ASDR sebagai berikut:


1. untuk mengetahui dan menggambarkan derajat kesahatan masyarakat dengan melihat
kematian tertinggi pada golongan umur
2. untuk membandingkan taraf kesehatan masyarakat di bebagai wilayah
3. untuk menghitung rata-rata harapan hidup

iv. Under Five Mortality Rate (UFMR) / Angka kematian Balita


Angka kematian Balita adalah gabungan antara angka kematian bayi dengan angka
kematian anak umur 1-4 tahun yaitu jumlah kematian balita yang dicatat selam satu
tahun per 1000 penduduk balita pada tahun yang sama.

Rumus:
UFMR = (M/R)k
M = Jumlah kematian balita yang dicatat selama satu tahun
R = Penduduk balita pada tahun yang sama
k = Konstanta
Angka kematian balita sangat penting untuk mengukur taraf kesehatan masyarakat
karena angka ini merupakan indikator yang sensitif untuk sataus keseahtan bayi dan
anak

v. Neonatal Mortality Rate (NMR) / Angka Kematian Neonatal

Neonatal adalah bayi yang berumur kurang dari 28 hari. Angka Kematian Neonatal
adalah jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 28 hari yang dicatata selama 1
tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama

Rumus:
NMR = (d1/ B)k
di = Jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 28 hari
B = Kelahiran hidup pada tahun yang sama
k = konstanta

Manfaat dari angka kematian neonatal adalah sebgai berikut;


1. untuyk mengetahuai tinggi rendahnya perawatan post natal
2. Untuk mengetahui program Imuninsasi
3. Untuk pertolongan persalina
4. untuk mengetahui penyakit infeksi

vi. Perinatal Mortality Rate (PMR) / Angka kematian perinatal


Angka kematian perinatal adalah jumlah kematian janin yang dilahirkan pada usia
kehamilan berumur 28 minggu atau lebih ditambah kematian bayi yang berumur
kurang dari 7 hari yang dicatat dalam 1 tahun per 1000 kelahiran kelahiran hidupn
pada tahun yang sama.

Rumus:
PMR = (P+M/R)k
P = jumlah kematian janin yang dilahirkan pada usia kehamilan berumur 28 minggu
M =ditambah kematian bayi yang berumur kurang dari 7 har
R = 1000 kelahiran kelahiran hidupn pada tahun yang sama.
Manfaat dari angka kematian perinatal adalah untuk menggambarkan keadaan kesehatan
masyarakat terutama kesehatan ibu hamil dan bayi
Faktor yang mempengaruhi tinggnya PMR adalah sebagai berikut:
• Banyak bayi dengan berat badan lahir rendah
• Status gizi ibu dan bayi
• Keadaan sosial ekonomi
• Penyakit infeksi terutama ISPA
• Pertolongan persalinan

vii. Infant Mortality Rate (IMR) / Angka Kematian Bayi


Angka Kematian Bayi adalah perbandingan jumlah penduduk yang berumur kurang
dari 1 tahun yang diacat selama 1 tahun dengan 1000 kelahiran hidup pada tahun yang
sama.

Rumus:
IMR = (d0 /B)k
d0 = Jumlah penduduk yang berumur kurang dari 1 tahun
B = Jumlah lahir hidup pada thun yang sama
k = Konstanta

Manfaat dari perhitungan angka kematian bayi adalah sebagai berikut:


1. Untuk mengetahui gambaran tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan
dengan faktor penyebab kematian bayi
2. Untuk Mengetahui tingkat pelayanan antenatal
3. Untuk mengetahui status gizi ibu hamil
4. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan
Program Keluaga berencana (KB)
5. untuk mengetahui kondisi lingkungan dan social ekonomi

viii. Maternal Mortality Rate (MMR) / Angka Kematian Ibu


Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu akibat komplikasi kehamilan,
persalinan, dan masa nifas yang dicatat selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada
tahun yang sama.
Rumus:
MMR = (I/T)k
I = adalah jumlah kematian ibu akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa
nifas
T = Kelahiran hidup pada tahun yang sama.
k = konstanta

Tinggi rendahnya angka MMR tergantung kepada:


• Sosial ekonomi
• Kesehatan ibu sebellum hamil, persalinan, dan masa nasa nifas
• Pelayanan terhadap ibu hamil
• Pertolongan persalinan dan perawatan masa nifas

f) Prevalensi

Prevalensi adalah jumlah orang dalam populasi yang mengalami penyakit, gangguan atau
kondisi pada satu titik waktu. Prevalensi sepadan dengan insidensi, dan tanpa insidensi
penyakit tidak aka nada prevalensi penyakit. Prevalensi sepadan dengan insidensi dan tanpa
insidensi penyakit tidak akan ada prevalensi penyakit. Kunci untuk mengukur prevalensi
adalah dengan melihat populasi dari pelbagai sudut pandang pada satu titik waktu. Prevalensi
memberitahukan tentang derajat penyakit yang sedang berlangsung dalam populasi tertentu
pada satu titik waktu.(point prevalence)

Angka Prevalensi

Angka prevalensi = jumlah kasus penyakit yang ada dalam suatu periode tertentu X 1000

periode Rata-rata populasi studi

PePR yaitu perbandingan antara jumlah semua kasus yang dicatat dengan jumlah penduduk
selama 1 periode.

Angka prevalensi = jumlah kasus penyakit yang ada pada satu titik waktu X 1000

Point Total populasi


Point Prevalensi Rate adalah nilai prevalensi pada saat pengamatan yaitu perbandingan antara
jumlah semua kasus yang dicatat dengan jumlah penduduk pada saat tetentu.

Point prevalensi meningkat pada :


1. Imigrasi penderita
2. Emigrasi orang sehat
3. Imigrasi tersangka penderita atau mereka dengan risiko tinggi untuk menderita
4. Meningkatnya masa sakit
5. Meningkatnya jumlah penderita baru

Point prevalensi menurun pada :


1. Imigrasi orang sehat
2. Emigrasi penderita
3. Meningkatnya angka kesembuhan
4. Meningkatnya angka kematian
5. Menurunnya jumlah penderita baru
6. Masa sakit jadi pendek

Ukuran prevalensi suatu penyakit dapat digunakan untuk :

• Menggambarkan tingkat keberhasilan program pemberantasan penyakit


• Untuk penyusunan perencanaan pelayanan kesehatan. Misalnya, penyediaan obat-obatan,
tenaga kesehatan, dan ruangan
• Menyatakan banyaknya kasus yang dapat di diagnosa
• Digunakan untuk keperluan administratif lainnya

Angka prevalensi dipengaruhi oleh tingginya insidensi dan lamanya sakit. Lamanya sakit
adalah suatu periode mulai dari didiagnosanya suatu penyakit hingga berakhirnya penyakit
teresebut yaitu sembuh, kronis, atau mati.

g) Insidensi

Insidensi merupakansalah satu ukuran untuk menetapkan terjadinya KLB. Insidensi


menjelaskan sampai sejauh mana seseorang di dalam populasi yang tidak menderit apenyakit
terserang penyakit selama periode waktu tertentu. Untuk mengukur insidensi peneliti harus
melihat kasus baru satu penyakit atau kondisi dalam populasi tertentu selama periode waktu
tertentu. Fokus untuk mengukur insidensi adalah pada kasus baru dalam periode waktu
tertentu pada sekelompok orang tertentu

Angka Insidensi

Insidensi = jumlah kasus baru penyakit dalam suatu periode tertentu dalam suatu populasi

Jumlah orang yang beresiko mengalami penyakit tersebut pada periode waktu yang
sama

Tujuan dari Insidence Rate adalah sebagai berikut


• Mengukur angka kejadian penyakit
• Untuk mencari atau mengukur faktor kausalitas
• Perbandinagan antara berbagai populasi dengan pemaparan yang berbeda
• Untuk mengukur besarnya risiko yang ditimbulkan oleh determinan tertentu

Hasil estimasi dari insiden dapat digunakan sebagai bahan untuk perencanaan
penanggulangan masalah kesehatan dengan melihat, Potret masalah kesehatan, angka dari
beberapa periode dapat digunakan untuk melihat trend dan fluktuasi, untuk pemantauan dan
evaluasi upaya pencegahan maupun penanggulangan serta sebagai dasar untuk membuat
perbandingan angka insidens antar wilayah dan antar waktu

ANGKA MORTALITAS & ANGKA MORBIDITAS

Morbiditas adalah istilah lain untuk sakit. Seseorang dapat memiliki beberapa co-morbiditas
secara bersamaan. Morbiditas adalah bukan kematian. Prevalensi adalah ukuran yang paling
sering digunakan untuk menentukan tingkat morbiditas dalam suatu populasi. Morbiditas
mengacu kejadian kesehatan yang buruk dalam suatu populasi. Data dikumpulkan sesuai
dengan jenis penyakit, usia jenis kelamin, wilayah. Morbiditas skor atau morbiditas
diprediksi ditugaskan untuk pasien sakit dengan bantuan sistem seperti APACHE II, SAPS II
dan III, skala Glasgow Coma, PIM2, dan SOFA.
Mortalitas adalah istilah lain untuk kematian. Tingkat mortalitas adalah jumlah kematian
akibat penyakit dibagi dengan total populasi. Angka kematian dapat dibedakan menjadi
tingkat kematian mentah; angka kematian perinatal; angka kematian ibu; angka kematian
bayi; angka kematian anak, angka kematian standar; dan usia-spesifik angka kematian.
Angka kematian umumnya dinyatakan sebagai jumlah kematian per 1000 individu per tahun.