Anda di halaman 1dari 21

PEMASANGAN SANGKAR

FARADAY
PEMASANGAN SANGKAR FARADAY

Medan listrik berpengaruh dan berbahaya bagi pekerja yang bekerja pada atau dekat
sekali dengan bagian dari jaringan yang bertegangan. Pekerja dapat mempergunakan
perlindungan untuk hal tersebut seperti sangkar faraday dimana kuat medan listrik didalam
pelindung konduktor ini merupakan fungsi dari derajat perlindungannya
Sangkar pelindung terbuat dari bahan konduktor dan beberapa tahun yang lalu Faraday
telah menunjukkan bahwa kuat medan listrik didalam sangkar adalah nol (0) bila sangkar
berbentuk kotak penuh. Namun jika sangkar tersebut berbentuk kotak penuh sehingga pekerja
didalamnya bebas terhadap medan listrik, maka hal ini tidak dapat dipakai untuk bekerja.
Perlindungan terhadap medan ini hanya dilakukan oleh sangkar yang hanyaberbentuk setengah
kotak atau sangkar yang tidak berbentuk kotak penuh, tergantung pada derajat perlindungan
yang kita inginkan
Untuk menentukan dimensi sangkar Faraday, perlu diperhatikan system Pengaman dari
sisi TT dan TR trafo. Dalam hal ini juga harus memperhatikan dimensi dari trafo itu sendiri dan
juga jarak aman baik sisi TT maupun TR trafo.
Jarak aman minimum trafo dengan manusia jika tegangan kerja 20 KV adalah 75
cm ( PUIL hal : 448 ).
Tegangan U ( antara fasa dan bumi ) Jarak aman minimum
Kv cm
1 50
12 60
20 75
36 100

Dengan perkiraan panjang tangan manusia kurang lebih 750 mm, dari perkiraaan
tersebut dapat dimasukkan kedalam perhitungan untuk menentukan dimensi sangkar faraday
yang sesuai.
Dalam perhitungan ini yang perlu diperhatikan adalah system pengaman dari sisi TR
maupun TT pada trafo. Sesuai dengan catalog yang ada jarak aman sisi tegangan tinggi adalah
= 300 mm dengan perkiraan panjang tangan manusia sekitar kurang lebih 750 mm.sehingga
dapat terhitung sangkar faraday sesuai dengan dimensi trafo yang digunakan.
Dimensi trafo yang digunakan dengan data sebagai berikut :
Data Dimensi Trafo :
Panjang (L) = 2330 mm
Lebar (W) = 1270 mm
Tinggi (H) = 2650 mm
Dimensi sangkar faraday sudah didesain dalam catalog trafo schneider :

Panjang = (Jarak aman trafo + Panjang tangan manusia) x 2 + panjang trafo


= (300 + 750) x 2 + 2330
= 4430 mm
Lebar = (Jarak aman trafo + Panjang tangan manusia) x 2 + lebar trafo
= (300 + 750) x 2 + 1270
= 3370 mm
Tinggi = (Jarak aman trafo + Panjang tangan manusia) x 2 + tinggi trafo
= 300 + 750) x 2 + 2650
= 4750 mm
Dari perhitungan diatas maka didapat ukuran sangkar faraday yang dibutuhkan adalah
4430 mm x 3370 mm x 4750 mm.
PEMILIHAN
GENSET
PEMILIHAN GENSET

Dalam Pemilihan Genset harus dapat memenuhi beban sebagai berikut (Puil 2000 : 8.21.3.1):

 Kelengkapan penggerak yang menggunakan tenaga listrik dan perlengkapan pengasut


yang memerlukan pengisian.
 Lift keadaan darurat dengan anggapan pada suatu kumpulan lift hanya satu lift yang
bekerja.
 Daya yang digunakan untuk menurunkan lift.
 Kipas untuk penghisap asap.
 Pompa air untuk sistem pemadaman.
 Pemanfaatan listrik pada saat kebakaran.
 Penerangan darurat.
 Beban tambahan.

Oleh karena itu keluaran generator (kW, kVA) harus mampu memikul beban
dasar dan beban asut dari motor lain tanpa menimbulkan fluktuasi yang berlebihan pada
tegangan suplainya. Oleh karena itu dalam menjaga kontinuitas kerja beban yaitu beban
prioritas utama. Dimana beban prioritas tidak boleh off pada saat black out.

A. Beban

Daya Penerangan Prioritas = 5.797,05 VA


Daya beban Prioritas = 940.447,71 VA +
= 946.244,76 VA
 Stotal = 946,245 kVA × 0,8
= 756,996 kVA

Genset dipilih yaitu tidak mampu dibebani 100% daya yang dibutuhkan. Maka saat
pemilihan genset, genset harus lebih besar kapasitasnya dari total daya yang dibutuhkan
yaiutu dikalikan 120% dari kebutuhan prioritas

Daya genset = 120% x 756,996 kVA

= 908,395 kVA
Nilai 908,395 kVA adalah daya genset yang beroperasi maksimum, sehingga daya
genset adalah :

908,395/80% = 1135 kVA

Sehingga dipilih genset yang memiliki daya standby 1135 Kva dan dipilih genset
dengan merk POWER GENERATION dengan daya sebesar 1250 kVA

Sehingga digunakan genset :

Model = CAT SR4B GENERATOR

Merk = CATERPILLARbordes

Rating kVA` = 1250kVA

Rating kW = 1125 eKW

Power factor = 0.8

Vout = 400 V
1. Menentukan KHA, kabel dan pengaman genset :

1250 𝑘𝑉𝐴
𝐼𝑛 = = 1804,22 𝐴
√3 × 400 𝑉

KHA = 1,25% x In genset

= 1,25% x 1804,22 A

= 2255,275 A

 Jika penghantar disusun di atas penyangga kabel yang tertutup (di dalam bordes)
dengan faktor koreksi : 0,92 (direncanakan menggunakan 4 penyangga dengan 1
sistem)
𝐾𝐻𝐴 𝐺𝑒𝑛𝑠𝑒𝑡
 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑛𝑡𝑎 = 𝐾𝐻𝐴 𝑘𝑎𝑏𝑒𝑙 𝑥 𝑓
2255,275
= 490 𝑥 0.92
=5
 Faktor Koreksi = 490 x 0,92 x 5
= 2254
Sehingga jumlah penghantar yang digunakan adalah 5
Dipilih penghantar NYY 5 (1 x 185 mm2) per fasa dengan KHA 490 A
Untuk R S T dibutuhkan NYY 15 (1 x 185 mm2)
Untuk Netral dibutuhkan 3 (1 x 185 mm2)/phasa

Spesifikasi Penghantar:
Supreme NYY size (1 x 185 mm2/rm)
0.6/1 (1,2 kV)
SPLN 43-1/IEC 60502-1
2. Busbar Genset
Dengan melihat arus nominal pada genset, maka untuk busbar dipilih :
Cu 3 x (8 x 100 mm) per fasa *)
RST dibutuhkan 9 x (8 x 100 mm)
Netral dibutuhkan 2 x (8 x 100 mm)
PE dibutuhkan 2 x (8 x 100 mm)

 Spesifikasi busbar:
Isoflexx busbar
(8 x 100 mm)
Copper bsbar
*) menurut catalog busbar isoflexx denga suhu kerja 65°C dan suhu lingkungan
35°C

3. Tipe pengaman genset

In = 1804,22 A

Maka dipilih pengaman menggunakan ACB

Merek = ABB

Type = ACB EMAX E3N

Ihs = 65 Ka

Frekuensi 50 Hx

Tegangan 400 Volt


PERHITUNGAN DAN
PERENCANAAN DESAIN
PENTANAHAN
PENTANAHAN BODY TRAFO, SANGKAR FARADAY, BODY CUBICLE

Pada pentanahan body trafo, sangkar faraday,body cubicle harus mempunyai


tahanan maksimum 5 ohm. Dalam pentanahan ini menggunakan sistem pentanahan elektroda
batang tunggal dengan catatan:

 Elektroda ditanam pada tanah ladang dengan tahanan jenis ( ρ ): 100 ohm/m
 Luas penampang elektroda adalah 5/8”Cu telanjang
r = 7,94 mm
 Menggunakan sistem pentanahan elektroda batang tunggal
 Panjang elektroda = 3 meter
 Elektroda ditanam sedalam panjang elektroda
  4L 
R pentanahan =  ln 1
2. .L  a 

100  4 x3 
  ln  1
2. .3  0,00794 

= 33,5  Tidak memenuhi syarat karena lebih dari 5Ω

Menggunakan konfigurasi DOUBLE STRAIGHT

l 3
k  In  In  5,9
r 0,00794

1 L 1 3 In.x In.1,33
x   1,33 m   0,048
L 3 k 5,9

1  2m 1  20,048
Factor pengali konfigurasi   =0,548
2 2


Rpt  x factor pengali konfigurasi
2L

100
 x0,548  2,9 memenuhi persyaratan karena Rpt<5Ω
2x3

 Jadi, tahanan pentanahan yang diperoleh dengan pentanahan elektroda batang tunggal
 sistem double straight adalah sebesar 2,9 Ω. Sehingga memenuhi syarat PUIL.
Permukaan tanah

p
L

2a
PENTANAHAN ARESTER DAN KABEL NA2XSGBY

(KAWAT BRAID/GB PENTANAHAN)

Agar bahaya sambaran petir tidak masuk ke dalam siatem maka arrester harus di
tanahkan. Dalam pentanahan ini menggunakan sistem pentanahan elektroda batang tunggal
dengan catatan:

 Elektroda ditanam pada tanah ladang dengan tahanan jenis ( ρ ): 100 ohm/m
 Luas penampang elektroda adalah 5/8”Cu telanjang
r = 7,94 mm
 Menggunakan sistem pentanahan elektroda batang tunggal
 Panjang elektroda = 3 meter
 Elektroda ditanam sedalam panjang elektroda
  4L 
R pentanahan =  ln 1
2. .L  a 

100  4 x3 
  ln  1
2. .3  0,00794 

= 33,5  Tidak memenuhi syarat karena lebih dari 5Ω

Menggunakan konfigurasi DOUBLE STRAIGHT

l 3
k  In  In  5,9
r 0,00794

1 L 1 3 In.x In.1,33
x   1,33 m   0,048
L 3 k 5,9

1  2m 1  20,048
Factor pengali konfigurasi   =0,548
2 2


Rpt  x factor pengali konfigurasi
2L

100
 x0,548  2,9 memenuhi persyaratan karena Rpt<5Ω
2x3

 Jadi, tahanan pentanahan yang diperoleh dengan pentanahan elektroda batang tunggal
sistem double straight adalah sebesar 2,9 Ω. Sehingga memenuhi syarat PUIL.
Detail Pemasangan Elektroda Pentanahan pada Pipa Bantu

Pipa besi
Kabel
pentanahan (BC)
Lubang kabel
masuk

Kabel dipatri
pada sepatu
Lubang baut kabel
untuk sepatu
kabel

Panjang pipa sesuai dengan panjang elektroda yaitu 35 meter dan ditanam sedalam panjang elektroda
Detail pipa Bantu tampak samping
PERHITUNGAN,
PERENCANAAN, DAN
DESAIN CELAH UDARA
PADA GARDU INDUK
PERHITUNGAN, PERENCANAAN, DAN DESAIN CELAH UDARA PADA
GARDU INDUK
Dalam kerjanya transformator tidak lepas dari kerugian salah satunya adalah panas, panas yang
berlebihan pada trafo dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan antara lain :

1) Drop tegangan.
2) Pemanasan pada minyak trafo yang berlebihan, sehingga menyebabkan
turunnya kualitas minyak trafo yang dapat mengakibatkan tegangan tembus
minyak trafo turun.
Sehingga dalam kerjanya trafo menuntut sistem pendinginan yang baik, oleh karena itu
sistem pendinginannya harus mempunyai kinerja yang baik, dari berbagai macam faktor yang
mempengaruhi pendinginan salah satunya adalah sirkulasi udara, karena dalam perencanaan ini
trafo yang digunakan diletakkan dalam ruangan (indoor).Untuk itu kita harus menghitung
seberapa besar celah ventilasi yang dibutuhkan agar sirkulasi udara dapat berjalan dengan baik.

Celah ventilasi pada trafo dihitung pada saat load losses pada suhu 75oC dengan losses
sebesar 23000 Watt = 23 kW hal tersebut dapat dilihat pada data trafo.

Data lain yang diketahui adalah sebagai berikut:

1) Temperatur udara masuk(t1) 20oC


2) Temperatur udara keluar (t2) 35oC
1
3) Koefisiensi muai udara ( ) 
273
4) Tinggi ruangan = 5 meter.
Dengan data diatas dapat dicari volume udara yang dibutuhkan untuk mensirkulasi
panas adalah sebagai berikut:

860 Pv
V  x(1   t1 )
1116 (t 2  t1 )

dimana:

Pv = rugi trafo (Kw) / no load losses + load losses = 23/5 + 20 = 24,6 kW

t1 = temperatur udara masuk (oC)

t2 = temperatur udara keluar (oC)


α = koefisien muai udara

H = ketinggian ruangan (m)

sehingga:

860 x 24.6 1
V x(1  .20)
1116 (35  20) 273

21156
V x(1  0,07326)
16740

V 1.17 m3 s

Kemampuan pemanasan udara yang mengalir disepanjang tangki trafo adalah

H
v

dimana:

H=ketinggian (m)

ζ = koefisien tahanan aliran udara

Koefisien tahanan aliran udara berbeda-beda tergantung pada kondisi daripada tempat
diletakkannya trafo itu sendiri.

Kondisi tempat Ζ

Sederhana 4.....6

Sedang 7.....9

Baik 9.....10 (jaringan konsen)>20

Apabila kondisi tempat dimisalkan adalah sedang maka ζ = 7.

Sehingga:
4
v
8

v  0,5

Maka dapat kita hitung celah ventilasi sebagai berikut:

V
qc (penampang celah udara yang masuk) :
v

1.17 m3 s
qc = = 2,34 m 2
0,5

Karena udara yang keluar memiliki temperatur yang lebih tinggi daripada udara yang
masuk yang diakibatkan proses pendinginan trafo dalam ruangan sehingga terjadi pemuaian
maka ventilasi udara keluar yang dibutuhkan harus lebih besar daripada celah ventilasi udara
masuk, dengan kata lain:

q A  qC

Sehingga:

q A 1,1. qC

qA 1,1 x 2.34

q A  2,574 m2

Nilai perhitungan diatas adalah nilai minimum, sehingga pemakaian ventilasi udara bisa
memakai ukuran yang lebih besar dari ukuran perhitungan diatas.

Menurut PUIL 2000, celah udara ventilasi yang diijinkan pada Gardu Induk
adalah sebesar 20 cm2/kVA. Maka dari itu, perhitungan luas celah udara untuk ventilasi pada
GI adalah sebagai berikut :

Daya trafo = 2500 kVA

Celah udara total = 2500 x 20


= 50.000 cm2

Celah udara seluas 50.000 cm2 ini dibagi 4 celah ventilasi, 2 celah ventilasi terdapat
di dinding sisi bawah sebagai tempat masuknya udara, dan 2 celah ventilasi terdapat sisi
atas dinding sebagai tempat keluarnya udara.

 Celah udara sisi bawah :


 Ventilasi udara sisi bawah adalah qc = 2,34 m 2 /50.000cm2
 Berdimensi 100 cm x 100 cm = 10.000 cm2 x 2 = 20.000 cm2
 Perancangan celah ventilasi sisi bawah ini didisain agak miring dan dipasang
kassa yang terbuat dari bahan stainless steel agar benda-benda atau hewan
dari luar tidak dapat masuk ke ruangan transformator.
 Luas total ventilasi udara sisi bawah adalah 20.000 cm2.
 Celah udara sisi atas :
 Ventilasi udara sisi atas adalah q A  2,574 m2 /50.000 cm2
 Berdimensi 150 cm x 100 cm = 15.000 cm2 x 2 = 30.000 cm2
 Perancangan celah ventilasi sisi atas ini didisain lebih luas dari ventilasi sisi
bawah karena udara yang memuai akibat pemanasan trafo memiliki volume
yang lebih besar daripada udara yang masuk. Selain itu, dipasang besi-besi
teralis agar benda-benda atau hewan dari luar tidak dapat masuk ke ruangan
transformator.
 Total ventilasi udara sisi atas adalah 30.000 cm2.

Luas total ventilasi sebesar 50.000 cm2. Celah ventilasi pada perancangan ini sudah
memenuhi persyaratan PUIL 2000.