Anda di halaman 1dari 3

LAPORAN PENDAHULUAN

KANKER NASOFARING

A. Definisi atau deskripsi penyakit


Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan
prilediksi di possa mossanmuller dan atap nasofaring. Karsinoma nasofaring merupakan
tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak di temukan di indonesia ( Efiaty &
Nurbati, 2001 dalam Nurarif, 2015 ).

B. Pathway ( di buat mulai etiologi, proses perjalanan penyakit, sampai muncul tanda dan
gejala, kemungkinan komplikasi, diagnosa keperawatan NANDA, label Nursing Outcome
Clasification NOC dan label Nursing Intervention Clasifikasi NIC ).

Ebstein Barr Virus


 Geografis (EBV)
 Jenis Kelamin
 Genetik Terinfeksi pada sel di
 Ras nasofaring
 Pekerjaan
 Makanan yang diawetkan
 Gaya hidup
Pembelahan sel abnormal
tidak terkontrol

CA Nasofaring

Kerusakan Integritas Bentuk eksofitik Gejala mata Penekanan pada Gejala lanjutan
Jaringan tuba eustasius

Mendorong Secara limfogen


palatum molle Penyumbatan
Mata kabur muara tuba
Pembesaran
Gejala hidung Penglihatan ganda kelenjar limfe
Gejala telinga
Epitaksis
Penekanan
Tinitus jaringan saraf
Pilek kronis oeleh sel-sel
Rasa penuh kanker
Hidung Tersumbat ditelinga

Nyeri kronis
Berdengung
Masalah Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola
napas
2. Ketidakefektifan bersihan
jalan napas
3. Risiko perdarahan
Gangguan persepsi
sensori

Manifestasi Klinis :
1. Gejala Hidung : epitaksis, hidung tersumbat, pilek kronis
2. Gejala Mata: mata kabur, penglihatan ganda
3. Gejala Telinga : tinitus, rasa penuh ditelinga, berdengung
4. Gejala Lanjut : limfadenopatiservikal ( sel kanker yang masuk
melalui pembuluh limfe kemudian bertahan di sana dan
berkembang biak hingga membesar ).
Penatalaksaan :
1. Radioterapi
2. Kemoterapi
Beberapa sitostatika yang mendapat rekomendasi dari FDA (Amerika) untukdigunakan sebagai terapi
keganasan didaerah kepala dan leher yaitu Cisplatin, Carboplatin,Methotrexate, 5-fluorouracil, Bleomycin,
Hydroxyurea, Doxorubicin, Cyclophosphamide,Doxetaxel, Mitomycin-C, Vincristine dan Paclitaxel. Akhir-
akhir ini dilaporkan penggunaan Gemcitabine untuk keganasan didaerah kepala dan leher.
3. Pembedahan.
4. Perawatan paliatif.

Komplikasi :
Sel-sel kanker dapat ikut mengalir bersama getah bening atau darah, mengenai organtubuh yang letaknya jauh dari
nasofaring. Yang sering adalah tulang, hati dan paru. Komplikasi lain yang biasa dialami adalah terjadinya
pembesaran kelenjar getah bening pada leher dan kelumpuhan saraf kranial.

Pemeriksaan penunjang :
No Jenis pemeriksaan Nilai normal Manfaat
1 Nasofaringoscopi Benjolan/pembesaran (-), Melihat adanya ke abnormalan anatomis dengan
& sekret (-). menggunakan scope dari hidung sampai faring.
2 Rinoscopi posterior Benjolan/pembesaran (-), Melihat adanya ke abnormalan anatomis dengan
& sekret (-). menggunakan kaca nasofaring dari rongga hidung
belakang.
3 Thorak PA Lesi (-) & Dapat melihat apakah ada lesi atau tidak untuk
Benjolan/pembesaran (-). menentukan keganasannya.
4 Tomografi Kelainan jaringan (-). Agar dapat menentukan tumor berada pada lapisan atau
jaringan tertentu.
5 CT Scan Kelainan jaringan (-). Membantu dalam menentukan stadium penyakit.

Perbedaan CT Scan dan MRI


Computerized Tomography Scan Magnetic Resonance Imaging
CT scan sering digunakan untuk mendapatkan gambaran Kelebihan MRI jika dibandingkan dengan peralatan
dalam dari berbagai sudut kecil dari organ tulang lain adalah gambar yang dihasilkan lebih jelas serta
tengkorak, otak serta dapat juga untuk organ lain di dapat dilihat dari berbagai sisi tanpa melibatkan
seluruh tubuh. Alat CT scan adalah generator pembangkit pengunaan radiasi, memberikan hasil tanpa perlu
sinar-X yang bila dioperasikan oleh operator akan mengubah posisi pasien dan tidak menggunakan
mengeluarkan sinar-X dalam jumlah dan waktu tertentu. kontras untuk sebagian besar pemeriksaan MRI. MRI
Sinar-X tersebut akan melewati jaringan tubuh yang akan menciptakan gambar yang dapat menunjukkan
diperiksa dan ditangkap oleh detektor. Oleh karena adanya perbedaan sangat jelas dan lebih sensitif untuk
perbedaan masa organ tubuh yang dilewati maka menilai anatomi jaringan lunak dalam tubuh,
gambaran yang ditangkap juga berbeda-beda. Inilah yang terutama otak, sumsum tulang belakang dan susunan
akan direkonstruksi oleh sistem komputer yang canggih saraf dibandingkan dengan pemeriksaan X-ray biasa
sehingga menghasilkan suatu potongan gambar organ maupun CT scan.
tubuh
CT scan sangat sensitif mendeteksi penyakit dalam
jaringan tubuh lunak seperti otak, hati, dan untuk melihat
penyebaran suatu sel kanker dalam tubuh. Alat ini juga
digunakan untuk melihat gangguan di bagian kepala. CT
scan juga memberikan gambar organ internal yang tidak
mungkin untuk digambarkan dengan bantuan X-ray.
No. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola napas
NOC: pola napas efektif
NIC: manajemen jalan napas, pemantauan pernapasa,n, pemantauan tanda-tanda vital
2. Ketidakefektifan bersihan jalan napas
NOC: bersihan jalan napas kembali efektif
NIC: manajemen jalan napas, pengisapan jalan napas, pengaturan posisi
3. Nyeri Kronis
NOC: nyeri berkurang dan berhenti.
NIC: kaji nyeri, manajemen nyeri ( distraksi nyeri ), pantau skala nyeri, kaloborasi pemberian
anelgesik
4. Gangguan persepsi sensori: (penglihatan dan pendengaran)
NOC: status neurologis: fungsi motorik sensorik kembali normal
NIC:
- Pendengaran: peningkatan komunikasi, pemantauan neurologis, orientasi realitas
- Penglihatan: peningkatan komunikasi (defisit penglihatan), manajemen lingkungan,
pemantauam neurologis
5. Kerusakan integritas jaringan
NOC: integritas jaringan kembali normal
NIC: perawatan area insisi, perlindungan infeksi
6. Risiko perdarahan
NOC: perdarahan berkurang atau hilang
NIC: pencegahan perdarahan, pengurangan perdarahan, manajemen terapi trombolitik

DAFTAR PUSTAKA

Nurarif., A. H. & Kusuma., H. ( 2015 ). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdaarkan


Diagnosa Medis dan NANDA NIC NOC. Edisi Revisi Jilid 1. Yogyakarta:
Mediaction Publising.

Wilkinson., J. M. & Ahern., N. R. ( 2013 ). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi


9. Jakarta: EGC.

https://www.scribd.com/document/191074564/Askep-CA-Nasofaring diakses
tanggal 18 Desember 2017

http://eprints.ums.ac.id/39826/3/BAB%20II.pdf diakses tanggal 18 Desember 2017

http://www.1health.id/id/article/category/sehat-a-z/perbedaan-x-ray-ct-scan-dan-
mri.html diakses tanggal 18 Desember 2017