Anda di halaman 1dari 12

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Vertigio

2.1.1 Pengertian Vertigo

a. Vertigo merupakan sensasi berputar dan bergeraknya penglihatan baik

secara subjektif maupun objektif, Vertigo dengan perasaan subjektif

terjadi bila seseorang mengalami bahwa dirinya merasa bergerak,

sedangkan vertigo dengan perasaan objektif bila orang tersebut merasa

bahwa di sekitar orang tersebut bergerak.

b. 10

c. Vertigo sering terjadi pada orang tua. Penyebab vertigo yaitu Benign

d. Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV), Acute Vestibular Neuronitis

e. (AVN), dan penyakit Meniere.

f. 11

g. 2. Etiologi

h. Menurut Mohammad Maqbool, terdapat beberapa penyabab vertigo.

i. Penyebab vertigo terdiri dari:

j. 6

k. a. Vascular

l. Penyebab vertigo dari gangguan vaskular terdiri atas

m. insufisiensi vertebrobasiler, stroke, migrain, hipotensi, anemia,

7
8

n. hipoglikemia, dan penyakit meniere

o. b. Epilepsy

p. c. Receiving any treatment

q. Beberapa obat-obatan seperti antibiotik, obat jantung,

r. antihipertensi, obat sedatif, dan aspirin dapat menyebabkan

s. gangguan vertigo

t. d. Tumour or Trauma or Tyroid

u. 1) Tumor

v. Adanya tumor seperti neuroma, glioma, dan tumor

w. intraventrikular dapat menyebabkan gangguan vertigo

x. 2) Trauma

y. Adanya trauma pada daerah tulang temporal dan trauma

z. servikal dapat menyebabkan gejala vertigo

2.2 Konsep Dasar Kecemasan

2.2.1 Pengertian Kecemasan

Kecemasan berasal dari bahasa latin "angere" yang berarti untuk menghadapi

(to strange) atau untuk distres. Hal ini berkaitan dengan kata "anger" yang berarti

"kesedihan" atau "masalah". Kecemasan juga berkaitan dengan kata "to anguish"

yang menggambarkan adanya nyeri akut, penderitaan, dan distres (Stuart, 1998 dalam

Muttaqin dan Sari, 2012).

Kecemasan atau anxietas adalah rasa khawatir, takut yang tidak jelas sebabnya.

Pengaruh kecemasan terhadap tercapainya kedewasaan, merupakan masalah penting

8
9

dalam perkembangan kepribadian. Kecemasan merupakan kekuatan yang besar dalam

menggerakkan tingkah laku. Baik tingkah laku normal maupun tingkah laku yang

menyimpang, yang terganggu, kedua-duanya merupakan pernyataan, penampilan,

penjelmaan dan pertahanan terhadap kecemasan itu. Jelaslah bahwa pada gangguan

emosi dan gangguan tingkahlaku, kecemasan merupakan masalah pelik (Gunarsah,

2012).

Kecemasan adalah hasil dan proses psikologi dan proses fisiologi dalam tubuh

manusia. Kecemasan ialah menunjukkan reaksi terhadap bahaya yang

memperingatkan orang dari dalam secara naluri bahwa ada bahaya dari orang yang

bersangkutan mungkin kehilangan kendali dalam situasi tersebut (Ramaiah, 2012).

Ansietas adalah suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat

dibenarkan yang sering disertai dengan gejala fisiologis, sedangkan pada ganguan

ansietas terkandung unsur penderitaan yang bermakna dan gangguan fungsi yang

disebabkan oleh kecemasan tersebut. Gangguan ansietas dapat ditandai hanya dengan

rasa cemas, atau dapat juga meperlihatkan gejala lain seperti fobia atau obsesif dan

kecemasan muncul bila gejala utama tersebut dilawan (Tomb, 2013).

2.2.2 Tingkat Kecemasan

Menurut Direja (2011), tingkat kecemasan sebagai berikut.

a. Ansietas ringan: berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari.

individu sadar. Lahan persepsi meningkat (mendengar, melihat, meraba lebih dari

sebelumnya). Perlu untuk memotivasi belajar, pertumbuhan, dan kreativitas.

9
10

b. Ansietas sedang: memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang

penting dan mengesampingkan yang lain. Sehingga seseorang mengalami tidak

perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih banyak jika

diberi arahan. lahan persepsi menyempit (melihat, mendengar, meraba menurun

dpd sblmnya). Fokus pada perhatian segera.

c. Ansietas berat: lahan persepsi sangat sempit, seseorang hanya bisa memusatkan

perhatian pada yang detil, tidak yg lain.

d. Semua perilaku ditujukan untuk menurunkan ansietas Panik: kehilangan kontrol,

seseorang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun

dengan pengarahan.

2.2.3 Etiologi Kecemasan

a. Faktor predisposisi (pendukung).

Menurut Kusumawati dan Hartono (2012), ketegangan dalam kehidupan

dapat berupa hal-hal sebagai berikut.

1. Peristiwa traumatik

2. Konflik emosional.

3. Gangguan konsep diri.

4. Frustasi.

10
11

5. Gangguan fisik

6. Pola mekanisme koping keluarga.

7. Riwayat gangguan kecemasan.

8. Medikasi.

b. Faktor presipitasi.

1. Ancaman terhadap integritas fisik.

a) Sumber internal.

b) Sumber eksternal.

2. Ancaman terhadap harga diri

a) Sumber internal.

b) Sumber eksternal.

2.2.4 Rentang Respon Kecemasan

Ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang berkaitan

dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini tidak memiliki

objek yang spesifik. Ansietas dialami secara subjektif dan dikomunikasikan secara

interpersonal. Ansietas berbeda dengan rasa takut, yang merupakan penilaian

intelektual terhadap bahaya. Ansietas adalah respons emosional terhadap penilaian

tersebut. Kapasitas untuk menjadi cemas diperlukan untuk bertahan hidup, tetapi

tingkat ansietas yang berat tidak sejalan dengan kehidupan (Stuart, 2013).

11
12

Gambar 2.4
Rentang Respon Kecemasan

Sumber : Stuart, 2013

2.2.5 Skala Pengukuran Kecemasan

Ada banyak instrumen yang sering digunakan untuk mengkaji dan mendiagnosa

kecemasan. Dalam pengkajian klinis, area yang perlu dikaji meliputi keluhan utama,

riwayat gejala saat ini, riwayat psikiatri dan riwayat kesehatan, riwayat

perkembangan sosial, dan pengkajian status mental (Tusaie dan Joyce, 2013 dalam

Abdillah, 2014).

a. Diagnostic Assesment (Pengkajian Diagnostik)

1. Anxiety Disorder Interview Schedule untuk DSM-IV (ADIS-IV)

Wawancara semi-terstruktur untuk mengkaji adanya temuan gangguan

kecemasan DSM-IV. Digunakan untuk mengkaji adanya gangguan perasaan,

dan gejala psikotik.

2. Structural Clinical Interview untuk DSM-IV (SCID-1) Axis 1

12
13

Wawancara terstruktur yang mengandung modul dari setiap diagnosis

DSM-IV-TR axis 1. Prosedur skoring digunakan untuk memastikan data

diagnosis.

b. General Anxiety (kecemasan umum)

1. Anxiety Sensivity Index (ASI)

Quesioner yang terdiri dari 16 pertanyaan untuk mengukur ketakutan

akan kecemasan.

2. Beck Anxiety Inventory (BAI)

Quesioner yang terdiri dari 21 pertanyaan untuk mengukur tingkat

pengalaman seseorang tentang gejala kecemasan dalam 2 minggu terahir.

3. Hamilton Anxiety Scale (Ham-A)

Skala pengukuran semi-terstruktur yang digunakan pada hasil pengobatan

kecemasan. Terdiri dari 14 pertanyaan tentang berbagai gejala kecemasan.

4. Depression Anxiety Stress Scale (DASS 21)

Quesioner mengenai perasaan seseorang yang terdiri dari 21 pertanyaan

untuk mengukur gejala kecemasan pada 1 minggu terahir.

5. Penn State Worry Questionnare (PSWQ)

Quesioner yang terdiri dari 16 pertanyaan untuk mengkaji karakteristik

dari kecemasan yang dialami.

6. Speilberg State-Trait Anxiety Inventory (STAI)

Quesioner mengenai perasaan seseorang yang terdiri dari 40 pertanyaan

yang mengukur tingkat kecemasan saat ini dan selama ini.

13
14

Menurut Nursalam (2013), pengukurean kecemasan dapat dilakukan dengan

kriteria sebagai berikut.

a. Penilaian :

0 : Tidak ada (tidak ada gejala sama sekali)

1 : Ringan (satu gejala dan pilihan yang ada)

2 : Sedang (separuh dan gejala yang ada)

3 : Berat (lebih dan separuh dan gejala yang ada)

4 : Sangat berat (semua gejala ada)

b. Penilaian Derajat Kecemasan

Skor < 6 (tidak ada kecemasan)

6-46 (kecemasan ringan)

> 46 (kecemasan berat)

2.3 Konsep Dasar Relaksasi

2.3.1 Pengertian

Relaksasi adalah teknik untuk mengurangi ketegangan nyeri dengan

merelaksasikan otot. Beberapa penelitian menyatakan bahwa teknik relaksasi efektif

dalam menurunkan skala nyeri pasca operasi (Tamsuri, 2012).

14
15

Relaksasi merupakan kebebasan mental dan fisik dari ketegangan dan stress

(Potter & Perry, 2012).

2.3.2 Jenis Relaksasi

Smeltzer & bare (2013) menjelaskan beberapa jenis relaksasi, antara lain yaitu:

a. Relaksasi nafas dalam

b. Gambaran dalam fikiran (imagery)

c. Regangan

d. Senaman

e. Progresif muscular relaxation

f. Bertafakur

g. Yoga

2.3.3 Pengertian Relaksasi Nafas Dalam

Teknik relaksasi nafas dalam merupakan suatau bentuk asuhan keperawatan,

yang dalam hal ini perawat mengajarkan kepada klien atau pasien bagaimana cara

melakukan nafas dalam, nafas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) (Smeltzer

& Bare, 2013).

2.3.4 Tujuan Teknik Relaksasi Nafas Dalam

Smeltzer & Bare (2013) menyatakan bahwa tujuan relaksasi pernafasan adalah

untuk meningkatkan ventilasi alveoli, memelihara pertukaran gas, mencegah

atelektasi paru, meningkatkan efisiensi batuk, mengurangi stress baik stress fisik

maupun emosionalyaitu menurunkan intensitas nyeri dan menurunkan kecemasan.

15
16

2.3.5 Manfaat Teknik Relaksasi

Potter & Perry (2012) menjelaskan efek relaksasi nafas dalam antara lain

terjadinya penurunan nadi, penurunan ketegangan otot, penurunan kecepatan

metabolisme, peningkatan kesadaran global, perasaan damai dan sejahtera dan

periode kewaspadaan yang santai.

Keuntungan teknik relaksasi nafas dalam antara lain dapat dilakukan setiap

saat, kapan saja dan dimna saja, caranya sangat mudah dan dapat dilakukan secara

mandiri oleh pasien tanpa suatu media serta merelaksasikan otot-otot yang tegang.

Sedangkan kerugian relaksasi nafas dalam antara lain tidak dapat dilakukan pada

pasien yang menderita penyakit jantung dan pernafasan (Smaltzer & Barre, 2013)

2.3.6 Fisiologi Relaksasi Nafas Dalam

Menurut Smeltzer & Bare (2013) teknik relaksasi nafas dalam dipercayai dapat

menurunkan intensitas nyeri melalui mekanisme yaitu:

a. Dengan merelaksasi otot-otot skelet yang mengalami spasme yang disebabkan

oleh peningkatan prostaglandin sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah dan

akan meningkatkan aliran darah ke daerah yang mengalami spasme dan iskemik.

b. Teknik relaksasi nafas dalam dipercayai mampu merangsang tubuh untuk

melepaskan opoid endogen yaitu endorphin dan enkafalin.

c. Mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat, relaksasi melibatkan sistem otot dan

respirasi dan tidak membutuhkn alat lain sehingga mudah dilakukan kapan saja

atau sewaktu-waktu.

16
17

Prinsip yang mendasari penurunan nyeri oleh teknik relaksasi terletak pada

fisiologi sistem syaraf otonom yang merupakan bagian dari sistem syaraf perifer yang

mempertahankan homeostatis lingkungan internal individu. Pada saat terjadi

pelepasan mediator kimia seperti bradikinin, prostaglandin dan substansi, akan

merangsang syaraf simpatis sehingga menyebabkan vasokostriksi yang akhirnya

meningkatkan tonus otot yang menimbulkan berbagai efek seperti spasme otot yang

akhirnya menekan pembuluh darah, mengurangi aliran darah dan meningkatkan

kecepatan metabolisme otot yang menimbulkan pengiriman impuls nyeri dari medulla

spinalis ke otak dan dipersepsikan sebagai nyeri (Smeltzer & Bare, 2013)

2.3.7 Prosedur Teknik Relaksasi

Tambunan (2012) menjelaskan langkah teknik relaksasi nafas dalam yaitu:

a. Atur pasien pada posisi yang nyaman

b. Minta pasien untuk menempatkan tangannya ke bagian dada dan perut

c. Minta pasien untuk menarik nafas melalui hidung secara pelan, dalam dan

merasakan kembang-kempisnya perut.

d. Minta pasien untuk menghembuskan nafas secara perlahan melalui mulut

e. Beritahu pasien bahwa pada saat mengeluarkan nafas, mulut pada posisi mecucu

(pulsed lip)

f. Minta pasien mengeluarkan nafas sampai perut mengempis

g. Lakukan latihan nafas dalam hingga 2-4 kali

Supaya relaksasi dapat dilakukan dengan efektif, maka diperlukan partisipasi

individu dan kerja sama. Teknik relaksasi di ajarkan hanya saat klien sedang tidak

17
18

merasakan rasa tidak nyaman yang akut hal ini di karenakan ketidakmampuan

berkonsentrasi membuat latihan menjadi tidak efektif (Potter & Perry, 2012).

18

Beri Nilai