Anda di halaman 1dari 4

A.

Laparoskopi

Laparoskopi adalah prosedur operasi yang hanya menggunakan sayatan kecil. Melalui
sayatan tersebut dokter memasukkan sejenis selang kecil (laparascope) yang dilengkapi
dengan kamera dan beberapa perangkat diujungnya.
Dimana dokter melakukan sayatan kecil pada permukaan perut kemudian
memasukan suatu selang kecil (laparascope) ke organ yang dituju. Selang laparascope sangat
panjang, berbentuk sangat tipis dan lentur. Pada bagian ujung dari selang dilengkapi dengan
senter dan terdapat kamera yang memiliki resolusi tinggi. Hal ini bertujuan untuk
mengirimkan gambar yang ditangkap oleh kamera ke monitor.
Penggunaannya dapat dilakukan untuk berbagai macam tujuan, diantaranya :
Tindakan laparoskopi digunakan untuk mengidentifikasi dan menegakan diagnosa dari
penyebab timbulnya nyeri di rongga perut ataupun rongga panggul. Prosedur ini biasa
digunakan apabila prosedur tindakan non-invasif; seperti USG, CT Scan, MRI tidak dapat
membantu menegakkan diagnosis. Beberapa organ yang dapat diperiksa melalui tindakan
laparoskopi antara lain : Usus buntu, kantung empedu, hati, pankreas, usus kecil dan usus
besar, limpa, lambung, organ-organ reproduksi di rongga panggul. Tindakan laparoskopi juga
dapat digunakan untuk melakukan biopsi, yaitu mengambil sampel jaringan dari organ yang
terdapat di dalam rongga perut. Kemudian sampel jaringan diperiksa dibawah mikroskop
untuk mengetahui ada tidaknya tanda-tanda keganasan. Mengetahui ada tidaknya tumor
pada organ-organ di dalam rongga perut atau panggul. Memeriksa kemungkinan terjadinya
kehamilan di luar kandungan. Melakukan ligasi pada saluran tuba Memperbaiki kelainan
hernia inguinal. Membuang beberapa organ seperti uterus (rahim), limpa, kantung empedu,
ovarium, appendiks.
Beberapa persiapan yang harus dilakukan pasien yang akan menjalani prosedur
laparoskopi antara lain : Puasa minimal 6 jam sebelum melakukan tindakan laparoskopi.
Memberitahukan ke dokter mengenai obat-obatan apa saja yang rutin diminum sehari-hari.
Ada obat-obatan yang dapat tetap dilanjutkan menjelang laparoskopi, namun ada juga obat-
obatan yang harus dihentikan penggunaannya. Beberapa jenis obat yang harus dihentikan
menjelang laparoskopi antara lain : obat antikoagulan (menghambat pembekuan darah),
golongan nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) seperti aspirin dan ibuprofen, obat-
obatan herbal dan suplemen vitamin K. Pasien harus melakukan beberapa pemeriksaan
laboratorium darah, urinalisis, pemeriksaan rekam jantung (EKG) dan juga rontgen dada.
Bahkan jika diperlukan dapat dilakukan tindakan USG, CT scan atau MRI. Pemeriksaan
tersebut bertujuan untuk membantu dokter mengetahui gambaran umum kondisi yang
terjadi di dalam rongga perut. Pasien meminum obat enema atau suppository beberapa jam
atau pada malam sebelum tindakan untuk mengosongkan usus besar. Wanita yang sedang
hamil harus memberitahukan ke dokter untuk memperkecil resiko yang dapat timbul. Pasien
harus memberitahukan kepada dokter, adanya riwayat alergi terhadap penggunaan obat-
obatan anestesi. Pasien tidak boleh mengenakan perhiasan, kacamata, lensa kontak, atau gigi
palsu selama tindakan laparoskopi. Pada saat tindakan laparoskopi, pasien akan dibius total
sehingga pasien tertidur dan tidak merasakan sakit sama sekali. Namun ada juga tindakan
laparoskopi yang menggunakan bius lokal, hanya terbatas pada lokasi sayatan tempat
memasukan selang laparascope. Dengan bius lokal, pasien masih tetap sadar namun tidak
merasakan sakit.
Setelah tindakan laparoskopi selesai, pasien akan diobservasi selama 2 – 4 jam sampai
seluruh tanda-tanda vitalnya stabil. Tanda-tanda vital yang diperiksa meliputi tekanan darah,
laju pernafasan, denyut nadi, dan juga suhu tubuh. Selain itu juga diawasi ada tidaknya efek
samping dari obat-obatan anestesi yang digunakan dan tanda-tanda perdarahan. Setelah
diyakini seluruh kondisi pasien stabil maka pasien diperbolehkan untuk pulang.
Walaupun sangat jarang terjadi, efek samping yang mungkin terjadi dari tindakan
laparoskopi adalah : Infeksi Perdarahan Nyeri pada bekas sayatan Kembung Mual muntah
Kerusakan dari organ yang dilalui oleh selang laparascope Kebocoran organ Peradangan atau
inflamasi pada dinding perut Komplikasi dari penggunaan obat anestesi Bekuan darah yang
terlepas kemudian menyumbat aliran darah di rongga panggul, kaki atau bahkan paru-paru.

B. Kuldosintesis
Kuldosentesis adalah aspirasi jarum cairan intraperitoneal atau darah melalui tusukan dari
formiks vagina posterior ke dalam cul de sac. Kuldosintesis yaitu suatu cara pemeriksaan untuk
mengetahui apakah di dalam cavum douglasi terdapat darah. Teknik kuldosintesis :
(1) Baringkan pasien pada posisi litotomi
(2) Bersihkan vulva dan vagina dengan antiseptic
(3) Pasang speculum dan jepit bibir belakang porsio dengan cunam serviks. Lakukan traksi ke
depan sehingga forniks posterior tampak.
(4) Suntikan jarum spinal no.18 ke cavum douglasi dan lakukan pengisapan dengan semprit 10
ml.
(5) Bila pada penghisapan keluar darah, perhatikan apakah darahnya berwarna coklat sampai
hitam yang tidak membeku atau berupa bekuan kecil yang merupakan tanda hematokel
retrouterina.

Kuldosintesis ialah suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah terdapat darah dalam
kavum douglas. Cara ini sangat berguna untuk membuat diagnosis kehamilan ektopik
terganggu.Hasil positif bila dikeluarkan darah berwarna coklat sampai hitam yang tdak
membeku atau berupa bekuan-bekuan kecil. Hasil negatif bila cairan yang dihisap berupa:1 -
Cairan jernih yang mungkin berasal dari cairan peritoneum normal atau kista ovarium yang
pecah. - Nanah yang mungkin berasal dari penyakit radang pelvis atau radang appendiks yang
pecah (nanah harus dikultur). - Darah segar berwarna merah yang dalam beberapa menit
akan membeku, darah ini berasal dari arteri atau vena yang tertusuk.
Kegunaan :
 Diagnosis KET
 Ruptur kista ovarium
 PID

Indikasi :

 KET
 Kista korpus luteum
 PID
 Infeksi intrabadominal
 Luka hepar atau lien
 Ruptur aneurisme aorta
Kontraindikasi :

 Pasien tidak kooperatif


 Terdapat masa dari pemeriksaan bimanual
 Nonmobile retroverted uterus
 koagulopati

komplikasi :

 ruptur abses tuboovarian yg tidak terduga


 perforasi usus, ginjal
 perdarahan