Anda di halaman 1dari 13

Skenario 2

KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU

Ny. Intan, 20 tahun dating ke klinik anda dengan keluhan tiba-tiba merasa nyeri perut di bagian bawah
seperti di tusuk-tusuk dan pasien juga menyampaikan sudah terlambat menstruasi sejak 2 bulan yang lalu. Saat
dilakukan test kehamilan urin hasil (+). Saat dilakukan pemeriksaan fisik, di dapatkan TD 90/60 mmHg, Nadi
108x/menit, RR 20x/menit, T 36,6 C, TFU belum teraba. Insp/VT: fluksus (+), flour (-), vulva/vagina dbn.
Portio tertutup, slinger pain (+), cavum doyglas menonjol.

STEP I

1. Slinger pain = nyeri goyang servik, saat dipalspasi perut terasa tegang dan apabila diperiksa dalam akan
terasa nyeri. Terutama apabila portio digerakkan. Biasanya dilakukan untuk mengetahui KET atau bukan.

2. Fluksus = cairan keluar dari alat reproduksi seperti darah atau lendir.

3. flour = suatu sekret keluar di vagina sekret berupa cairan bening atau fluor albus.

4. kehamilan ektopik tergganggu = kehamilan ketika hasil konsepsi terimplantansi diluar cavum uteri, contoh :
peritonium.

STEP II

1. Interprentasi pemeriksaan fisik?

2. Patofisiologi kasus?

3. Hubungan usia dengan kasus?

4. Kemungkinan apa saja dapat menjadikan kET?

5. Alasan, mengapa diagnosis KET?

6. Mengapa pasien nyeri perut bagian bawah?

7. Penyebab cavum douglas menonjol?

8. Faktor risiko KET?

STEP III

1. TD: hipotensi ; Nadi: 108/menit  takikardi ; RR : dbn ; T: normal (kemungkinan terjadi syok)syok
neurogenic : anti nyeri, syok hemoregic: cairan dengan kristaloid ( cek hb)
Hcg meningkat = tanda hamil ; fluksus (+) ada perdarahan jalan lahir; slinger pain= terdapat nyeri goyang
portio; cavum douglas menonjol = di depannya ada massa atau cairan ( darah yang didapat dari pecahnya KET).

2. Pembuahan sperma pada ovum dan tuba falopi → hasil dibawa ke uterus

KET tuba falo[i kelainan fili-fili yang menggerakkan atau membawa pembuahan sperma dan ovum ke uterus,
pada KET fili rusak sehingga fili tidak berfungsi optimal dan pada salurannya mengalami penyempitan sehingga
timbul jaringan parut disebabkan pembedahan pada tuba falopi atau riwayat KET, hasil pembuahan terjebak di
tuba falopi namun seiring besar kehamilan sehingga menekan tuba falopi → nyeri.

3. Sebagian besar wanita mengalami KET, berusia 20-40 tahun dengan rata-rata usia 30 tahun, sehingga
semakin bertambah usia maka semakin tinggi risiko terjadinya KET.

4. – Faktor lumen tuba : endosalfingitis, hipoplasia uteri, operasi plastik tuba tidak steril.

- Faktor dinding tuba : endometriosis, difertiko tuba kongenital

- Faktor luar dinding tuba falopi : tumor (PID), perlekatan, perituba dengan distrorsi.

- Faktor lain-lain : kehamilan 35 tahun, fertilisasi inverto, penggunaan AKDR dan hidrosalfing.

6. pada KET kehamilan diluar rahim implantasi diluar uterus sehingga kehamilan tidak dapat dipertahankan dan
terjadi ruptur pada lokasi tersebut, ruptur organ → rangsang nyeri → perdarahan → pada pemeriksaan dalam
cavum douglas menonjol → cavum douglas adalah celah uterus dengan rektum.

5. Dx: KET ( sakitnya kram dan nyeri tekan unilateral sebelum ruptur)  slinger pain: di goyang dan terkena
cavum douglas yang terkumpul perdarahannya, tes hamil (+): bisa jadi KET atau abortus: pemeriksaan
kuldosintesis untuk memastikan perdarahan pada cavum douglas atau USG untuk tahu apakah kehamilan
ektopik atau bukan. Laparoskopi pilihan terakhir.

DD: infeksi pelvis( indicator perdarahannya), abortus immines ( nyeri di garis tengah tubuh, portio tertutup),
tumor ovarium, appediksitis (nyeri di epigastrik, nyeri pada kuadran kanan bawah, nyeri tekan lepas), salpingitis
( nyeri kuadran bawah dengan atau tanpa nyeri tekan lepas), rupture kista corpus luteum ( nyeri unilateral
kemudian menyeluruh ketika terjadi perdarahan hebat), dan torsi kista ovarii ( bedanya dilihat dari rasa sakit,
mual, muntah), abortus jenis lain ( dilihat dari rasa nyeri sampai pingsan (tidak selalu)

STEP IV

PASIEN NYERI PERUT

ANAMNESIS TELAT 2
BULAN HAID

PEMERIKSAAN FISIK TD:


menurun, fluksus (+), cavum
douglas (menonjol).

DD : peritonitis,
apendisitis,AKD.
DX : KET TATALAKSANA AWAL RUJUK

STEP V

1. Diagnosis KET

2. Pemeriksaan Penunjang

3. Tatalaksana awal

4. Rujukan dan Edukasi IGD

5. Patogenesis dan patofisiologi

STEP VI

1. Diagnosis Kehamilan ektopik terganggu dapat di tegakkan dengan:


- Anamnesis. Pada anamnesis diketahui adanya:
a. Amenorhea, yaitu haid terlambat mulai berberapa hari sampai berberapa bulan atau hanya
haid yang tidak teratur. Kadang-kadang dijumpai keluhan ibu hamil muda dan gejala hamil
lainnya.
b. Perdarahan dapat berlangsung kontinu dan biasanya berwarna hitam
c. Bila terjadi KET:
Pada abortus tuba keluhan dan gejala kemungkinan tidak begitu berat, hanya rasa sakit di
perut dan perdarahan pervaginam.Hal ini dapat dicampurkan dengan abortus biasa. Pada
rupture tuba, maka gejala akan lebih hebat dan membahayakan jiwa si ibu
Perasaan nyeri dan sakit yang tiba-tiba di perut, seperti diiris dengan pisau disertai muntah dan
bias jatuh pingsan. Pada KET rasa nyeri perut bawah bertambah sering dank eras
Nyeri bahu, hal ini karena perangsangan diafragma
- Pemeriksaan fisik
d. Keadaan umum penderita
Tergantung dari banyaknya darah yang keluar dari tube, kurang lebih normal sampai gawat
dengan syok berat dan anemia.Pada abortus ruba yang sudahberlangsung beberapa waktu suhu
badan agak meningkat
e. Tanda-tanda akut abdomen
Nyeri tekan yang hebat (defans muskuler), muntah, gelisah, pucat, anemis, nadi lemah dan
tensi rendah atau bias tidak terukur karena sudah terjadi syok
f. Tanda Cullen
Sekitar perut atau line alba terlihat biru hitam dan lebam
g. Pada pemeriksaan ginekologi didapatkan:
 Adanya nyeri goyang
Dengan menggerakkan portio dan serviks, pasien akan merasa sangat nyeri
 Douglas crise
Rasa nyeri pada penekanan cavum douglass
 Cavum douglas teraba menonjol. Hal ini terjadi karena terkumpulnya darah pada
cavum douglass
 Teraba massa di retrourethra (massa pelvis)
h. Pervaginam keluar decicual cast
i. Pada palpasi perut dan pada perkusi terdapat tanda-tanda perdarahan intra abdominal (shifting
dullness)
- Pemeriksaan penunjang
j. Pemeriksaan laboratorium:
 Pemeriksaan Hb seritiap 1 jam menunjukkan penurunan kadarHb
 Adanya leukositosis
k. Dilatasi dan kuretase
Kuretase tidak mempunyai tempat untuk diagnosis kehamilan ektopik.Biasanya kuretase
dilakukan apabila sesudah amenorrhea terjadi perdarahan yang cukup lama tanpa ditemukan
kelainan nyata disamping uterus, sehingga dipikirkan abortus inkomplit, perdarahan
disfungsional dll.Ditemukan desidual tanpa villis korealis dari sediaan yang diperoleh dari
kerokan, dapat membawa pikiran kearah kehamilan ektopik.

2. Pemeriksaan penunjang
a) Pemeriksaan laboratorium: kadar hemoglobin, leukosit, tes kehamilan bila baru terganggu b) Dilatasi
kuretase
c) Kuldosintesis yaitu suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah di dalam cavum douglasi
terdapat darah.
Teknik kuldosintesis :
(1) Baringkan pasien pada posisi litotomi
(2) Bersihkan vulva dan vagina dengan antiseptic
(3) Pasang speculum dan jepit bibir belakang porsio dengan cunam serviks. Lakukan traksi ke depan
sehingga forniks posterior tampak.
(4) Suntikan jarum spinal no.18 ke cavum douglasi dan lakukan pengisapan dengan semprit 10 ml.
(5) Bila pada penghisapan keluar darah, perhatikan apakah darahnya berwarna coklat sampai hitam
yang tidak membeku atau berupa bekuan kecil yang merupakan tanda hematokel retrouterina.
d) Ultrasonografi berguna pada 5-10% kasus bila ditemukan kantong gestasi di luar uterus
e) Laparoskopi atau laparotomi sebagai pendekatan diagnosis terakhir.

3. Tatalaksana awal

Penatalaksanaan Bedah

Penatalaksanaan bedah dapat dikerjakan pada pasien-pasien dengan kehamilan tuba yang belum
terganggu maupun yang sudah terganggu. Tentu saja pada kehamilan ektopik terganggu, pembedahan harus
dilakukan secepat mungkin.

Salpingostomi adalah suatu prosedur untuk mengangkat hasil konsepsi yang berdiameter kurang dari 2
cm dan berlokasi di sepertiga distal tuba fallopii. Pada prosedur ini dibuat insisi linear sepanjang 10-15 mm
pada tuba tepat di atas hasil konsepsi, di perbatasan antimesenterik. Setelah insisi hasil konsepsi segera
terekspos dan kemudian dikeluarkan dengan hati-hati. Perdarahan yang terjadi umumnya sedikit dan dapat
dikendalikan dengan elektrokauter. Insisi kemudian dibiarkan terbuka (tidak dijahit kembali) untuk sembuh per
sekundam. Prosedur ini dapat dilakukan dengan laparotomi maupun laparoskopi. Metode per laparoskopi saat
ini menjadi gold standard untuk kehamilan tuba yang belum terganggu.

Pada dasarnya prosedur Salpingotomi sama dengan salpingostomi, kecuali bahwa pada salpingotomi
insisi dijahit kembali. Beberapa literatur menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna dalam hal
prognosis, patensi dan perlekatan tuba pascaoperatif antara salpingostomi dan salpingotomi.

Penatalaksanaan Medikamentosa

Tatalaksana Umum

1. Restorasi cairan tubuh dengan cairan kristaloid NaCl 0,9% atau Ringer Laktat (500 mL dalam 15 menit
pertama) atau 2 L dalam 2 jam pertama.

2. Segera rujuk ibu ke rumah sakit.

Pengobatan lanjut

1. Antineoplastic, Antimetabolite

Antimetabolite digunakan untuk terminasi janin

Methrotrexate (Trexall, Rheumatrex)

Methrotrexate digunakan untuk mengatasi kehamilan ektopik pada tuba dan untuk penyakit persisten setelah
salpingostomy

Regimen

Regimen Multi-dosis methrotrexate terdiri dari dosis harian IM 1mg/kgBB, dengan leucovorin (folinic acid,
untuk mengurangi efek saming) diberikan pada hari berikutnya, sampai ada penurunan 15% B-HCG selama 2
hari

Regimen Dosis tunggal terdiri dari 1 dosis methrotrexate 50 mg/m2, diikuti pengukuran ulang B-HCG pada hari
ke 4, dan dosis methritrexate sebesar 50 mg/m2 jika B-HCG sudah turun kurang dari 15% diantara hari ke 4 dan
7

2. Vitamin

Vitamin digunakan untuk memperbaiki defisiensi asam folat akibat penggunaan antagonis asamfolat.

Leucovorin

Leucovorin digunakan bersamaan dengan antagonis asam folat, seperti methrotrexate. Hal ini untuk mengurangi
efek samping yang ditimbulkan Methotrexate.

3. Vasopressor

Vasopressor digunakan untuk stimulasi vasokonstriksi sirkulasi perifer.

Vasopressin

Vasopressin memiliki aktivitas vasopresor dan antidiuretic hormon (ADH). Untuk meminimalkan perdarahan,
larutan encer yang mengandung 20 U Vasporesin dalam 20 mL larutan NaCl disuntukan ke mesosalphinx tepat
dibawah kehamilan ektopik. Pastikan tidak mengenai pembuluh darah dengan cara aspirasi terlebih dahulu,
karena injeksi vasopresin I.V dapat memicu hipertensi akut dan bradikardi

4.Rujukan dan edukasi IGD

Pengertian

Merupakan upaya keselamatan di mana terdapat suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang

memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal-balik atas masalah yang timbul baik

secara vertikal (komunikasi antara unit yang sederajat) maupun horizontal (komunikasi inti yang lebih

tinggi ke unit yang lebih rendah) ke fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, rasional dan

tidak dibatasi oleh wilayah administrasi.

Dalam sistem rujukan maternal, layanan fasilitas pelayanan kesehatan yang dimaksud adalah Posyandu/

Polindes, Puskesmas PONED dan RS. PONEK.

Berdasarkan sifatnya, rujukan ibu hamil dibedakan menjadi:

 Rujukan kegawatdaruratan
Rujukan kegawatdaruratan adalah rujukan yang dilakukan sesegera mungkin karena berhubungan
dengan kondisi kegawatdaruratan yang mendesak.
 Rujukan berencana
Rujukan berencana adalah rujukan yang dilakukan dengan persiapan yang lebih panjang ketika
keadaan umum ibu masih relatif lebih baik, misalnya di masa antenatal atau awal persalinan ketika
didapati kemungkinan risiko komplikasi. Karena tidak dilakukan dalam kondisi gawat
darurat, rujukan ini dapat dilakukan dengan pilihan modalitas transportasi yang lebih beragam,
nyaman, dan aman bagi pasien.

Tujuan

 Menjembatani, menghilangkan kesenjangan antar pelayanan dasar dengan Pusat Rujukan .

 Menggunakan sumber daya kesehatan dengan efisien, efektif, relevan, dan rasional

Alur

Alur rujukan kasus kegawat daruratan:

a. Dari Kader, dapat langsung merujuk ke:

 Puskesmas pembantu

 Pondok bersalin atau bidan di desa

 Puskesmas rawat inap

 Rumah sakit swasta / RS pemerintah

b. Dari Posyandu, dapat langsung merujuk ke


 Puskesmas pembantu

 Pondok bersalin atau bidan di desa

Langkah-langkah

1. Menentukan kegawat daruratan penderita

a. Pada tingkat kader atau dukun bayi terlatih ditemukan penderita yang tidak dapat ditangani

sendiri oleh keluarga atau kader/dukun bayi, maka segera dirujuk ke fasilitas pelayanan

kesehatan yang terdekat, oleh karena itu mereka belum tentu dapat menerapkan ke tingkat

kegawatdaruratan.

b. Pada tingkat bidan desa, puskesmas pembantu dan puskesmas. Tenaga kesehatan yang ada

pada fasilitas pelayanan kesehatan tersebut harus dapat menentukan tingkat kegawatdaruratan

kasus yang ditemui, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya, mereka harus

menentukan kasus mana yang boleh ditangani sendiri dan kasus mana yang harus dirujuk.

2. Menentukan tempat rujukan

Prinsip dalam menentukan tempat rujukan adalah fasilitas pelayanan yang mempunyai kewenangan

dan terdekat termasuk fasilitas pelayanan swasta dengan tidak mengabaikan kesediaan dan

kemampuan penderita.

3. Memberikan informasi kepada penderita dan keluarga

Kaji ulang rencana rujukan bersama ibu dan keluarga. Jika perlu dirujuk, siapkan dan sertakan

dokumentasi tertulis semua asuhan, perawatan dan hasil penilaian (termasuk partograf) yang telah

dilakukan untuk dibawa ke fasilitas rujukan. Jika ibu tidak siap dengan rujukan, lakukan konseling

terhadap ibu dan keluarganya tentang rencana tersebut. Bantu mereka membuat rencana rujukan

pada saat awal persalinan.

4. Mengirimkan informasi pada tempat rujukan yang dituju

a. Memberitahukan bahwa akan ada penderita yang dirujuk.

b. Meminta petunjuk apa yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan dan selama dalam

perjalanan ke tempat rujukan.

c. Meminta petunjuk dan cara penangan untuk menolong penderita bila penderita tidak

mungkin dikirim.Persiapan penderita (BAKSOKU)

5. Saat hendak memindahkan penderita, harus menyiapkan BAKSOKU :

 Bidan/Dokter (Tenaga kesehatan yang terampil)


 Alat

 Keluarga

 Surat rujukan (KIA, partograf)

 Obat

 Kendaraan/transportasi

 Uang

6. Pengiriman Penderita

7. Tindak lanjut penderita :

a. Untuk penderita yang telah dikembalikan (rawat jalan pasca penanganan)

b. Penderita yang memerlukan tindakan lanjut tapi tidak melapor harus ada tenaga kesehatan

yang melakukan kunjungan rumah

5. patogenesis dan patofisiologi

Patogenesis

Ectopic pregnancy occurs in the fallopian tube in over 95% of cases. Other locations for ectopic pregnancies are
rare: abdominal, ovarian or cervical. The most common location in the fallopian tube for ectopic pregnancies to
occur is the ampulla (70.0%); other locations, such as the isthmus (12.0%), the fimbria (11.1%) and the cornua
(2.4%), are less common. The ampullar portion of the fallopian tube is more distendable than other areas.
Ectopic pregnancies in this location may result in tubal abortion and not be recognized clinically. The isthmus of
the fallopian tube is not able to expand to accommodate a growing ectopic pregnancy and is more prone to
rupture.

Patients with certain risk factors are known to be at higher risk of developing ectopic pregnancy. Patients who
have had a previous ectopic pregnancy, who have had previous tubal surgery, who have documented tubal
pathology, who have known in uterodiethystilbestrol exposure or who are undergoing assisted reproductive
technologies are at relatively high risk of developing an ectopic pregnancy if they were to become pregnant.
Patients with infertility, previous genital infections including gonorrhea and chlamydia, or who have greater
than one lifetime sexual partner are at moderately increased risk. Overall, patients who have an intrauterine
device (IUD) or who have had a tubal ligation are at decreased risk of ectopic pregnancy compared with
nonpregnant controls. However, if women become pregnant with an IUD in place or after a tubal ligation, they
are at increased risk for having an ectopic pregnancy compared with women who conceive without an IUD or
tubal ligation.

Ectopic pregnancies may occur owing to impaired migration of the fertilized ovum in the fallopian tube,
resulting from inflammation, hormonal or other factors. If the passage of the fertilized ovum is slowed and
hatching occurs prior to the ovum reaching the endometrial cavity, the embryo may implant in the fallopian
tube. Intrinsic factors to the embryo do not seem to contribute to ectopic pregnancy. In a series analyzing the
chromosomes of abnormally implanted embryos, no karyotype abnormalities were noted. Research is now
focusing on the molecular signaling at the time of blastocyst implantation and identifying abnormalities in this
event that may further explain the etiology of ectopic gestations.

Patofisiologi
Tempat-tempat implantasi kehamilan ektopik antara lain ampulla tuba (lokasi tersering), isthmus,
fimbriae, pars interstitialis, kornu uteri, ovarium, rongga abdomen, serviks dan ligamentum kardinal. Zigot dapat
berimplantasi tepat pada sel kolumnar tuba maupun secara interkolumnar. Pada keadaan yang pertama, zigot
melekat pada ujung atau sisi jonjot endosalping yang relatif sedikit mendapat suplai darah, sehingga zigot mati
dan kemudian diresorbsi. Pada implantasi interkolumnar, zigot menempel di antara dua jonjot. Zigot yang telah
bernidasi kemudian tertutup oleh jaringan endosalping yang menyerupai desidua, yang disebut pseudokapsul.
Villi korialis dengan mudah menembus endosalping dan mencapai lapisan miosalping dengan
merusak integritas pembuluh darah di tempat tersebut. Selanjutnya, hasil konsepsi berkembang, dan
perkembangannya tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu tempat implantasi, ketebalan tempat
implantasi dan banyaknya perdarahan akibat invasi trofoblas.
Seperti kehamilan normal, uterus pada kehamilan ektopik pun mengalami hipertrofi akibat pengaruh hormon
estrogen dan progesteron, sehingga tanda-tanda kehamilan seperti tanda Hegar dan Chadwick pun ditemukan.
Endometrium pun berubah menjadi desidua, meskipun tanpa trofoblas. Sel-sel epitel endometrium menjadi
hipertrofik, hiperkromatik, intinya menjadi lobular dan sitoplasmanya bervakuol.
Perubahan selular demikian disebut sebagai reaksi Arias-Stella. Karena tempat implantasi pada
kehamilan ektopik tidak ideal untuk berlangsungnya kehamilan, suatu saat kehamilan ektopik tersebut akan
terkompromi. Kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada kehamilan ektopik adalah:
1. Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi,
2. Abortus ke dalam lumen tuba,
3. Ruptur dinding tuba.
Abortus ke dalam lumen tuba lebih sering terjadi pada kehamilan pars ampullaris, sedangkan ruptur
lebih sering terjadi pada kehamilan pars isthmica. Pada abortus tuba, bila pelepasan hasil konsepsi tidak
sempurna atau tuntas, maka perdarahan akan terus berlangsung. Bila perdarahan terjadi sedikit demi sedikit,
terbentuklah mola kruenta. Tuba akan membesar dan kebiruan (hematosalping), dan darah akan mengalir
melalui ostium tuba ke dalam rongga abdomen hingga berkumpul di kavum Douglas dan membentuk hematokel
retrouterina.
Pada kehamilan di pars isthmica, umumnya ruptur tuba terjadi lebih awal, karena pars isthmica adalah
bagian tuba yang paling sempit. Pada kehamilan di pars interstitialis ruptur terjadi lebih lambat (8-16 minggu)
karena lokasi tersebut berada di dalam kavum uteri yang lebih akomodatif, sehingga sering kali kehamilan pars
interstitialis disangka sebagai kehamilan intrauterin biasa.
Perdarahan yang terjadi pada kehamilan pars interstitialis cepat berakibat fatal karena suplai darah
berasal dari arteri uterina dan ovarika. Oleh sebab itu kehamilan pars interstitialis adalah kehamilan ektopik
dengan angka mortalitas tertinggi. Kerusakan yang melibatkan kavum uteri cukup besar sehingga histerektomi
pun diindikasikan.Ruptur, baik pada kehamilan fimbriae, ampulla, isthmus maupun pars interstitialis, dapat
terjadi secara spontan maupun akibat trauma ringan, seperti koitus dan pemeriksaan vaginal. Bila setelah ruptur
janin terekspulsi ke luar lumen tuba, masih terbungkus selaput amnion dan dengan plasenta yang masih utuh,
maka kehamilan dapat berlanjut di rongga abdomen. Untuk memenuhi kebutuhan janin, plasenta dari tuba akan
meluaskan implantasinya ke jaringan sekitarnya, seperti uterus, usus dan ligamen (Rachimhadhi, 2005).

PatofisiologidanPatogenesis KET

Kebanyakan dari kehamilan ektopik berlokasi di tuba fallopi.Tempat yang paling umum terjadi adalah
pada pars ampullaris, sekitar 80 %. Kemudian berturut-turut adalah isthmus (12%), fimbriae (5%), dan bagian
kornu dan daerah intersisial tuba (2%), dan seperti yang disebut pada bagian diatas, kehamilan ektopik non tuba
sangat jarang. Kehamilan pada daerah intersisial sering berhubungan dengan kesakitan yang berat, karena baru
mengeluarkan gejala yang muncul lebih lama dari tipe yang lain, dan sulit di diagnosis, dan biasanya
menghasilkan perdarahan yang sangat banyak bilater jadi rupture.
Proses implantasi ovum yang dibuahi, yang terjadi di tuba pada dasarnya sama dengan halnya di
kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau interkolumner. Pada yang pertama telur berimplantasi
pada ujung atau sisi jonjotendo salping. Perkembangan telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi
dan biasanya telur mati secara dini dan diresorbsi. Pada nidasi secara interkolumner telur bernidasi antara 2
jonjotendo salping. Setelah tempat nidasi tertutup, maka telur dipisahkan dari lumen tuba oleh lapisan jaringan
yang menyerupai desidua dan dinamakan pseudo kapsularis. Karena pembentukan desidua di tuba tidak
sempurna malahan kadang-kadang tidak tampak, dengan mudah villi korialis menembus endosalping dan masuk
dalam lapisan otot-otot tuba dengan merusak jaringan dan pembuluh darah. Perkembangan janin selanjutnya
bergantung pada beberapa faktor, seperti tempat implantasi, tebalnya dinding tuba, dan banyaknya perdarahan
yang terjadi oleh invasi trofoblas.
Dibawah pengaruh hormon estrogen dan progesterone dari korpus luteum gravidatis dan trofoblas,
uterus menjadi besar dan lembek, dan endometrium dapat pula berubah menjadi desidua. Dapat ditemukan pula
perubahan-perubahan pada endometrium yang disebut fenomena Arias-Stella. Sel epitel membesar dengan
intinya hipertrofik, hiperkromatik, lobuler, dan berbentuk tidak teratur. Sitoplasma sel dapat berlubang-lubang
atau berbusa, dan kadang-kadang ditemukan mitosis. Perubahan ini hanya terjadi pada sebagian kehamilan
ektopik.
Terdapat beberapa kemungkinan yang dapat terjadi pada kehamilan ektopik dalam tuba. Karena tuba
bukan merupakan tempat yang baik untuk pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin dapat tumbuh
secara utuh seperti di uterus. Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6 minggu
sampai 10 minggu. Kemungkinan itu antara lain :

1.Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi


Pada implantasi secara kolumner, ovum yang dibuahi cepat mati karena vaskularisasi kurang, dan
dengan mudah terjadi resorbsi total. Dalam keadaan ini penderita tidak mengeluh apa-apa, hanya haidnya saja
yang terlambat untuk beberapa hari.

2. Abortus tuba
Perdarahan yang terjadi karena pembukaan pembuluh-pembuluh darah oleh villi koriales pada dinding
tuba di tempat implantasi dapat melepaskan mudigah dari koriales pada dinding tersebut bersama-sama dengan
robeknya pseudokapsularis. Pelepasan ini dapat terjadi sebagian atau seluruhnya, tergantung dari derajat
perdarahan yang timbul.Bila pelepasan menyeluruh, mudigah dengan selaputnya dikeluarkan dalam lumen tuba
dan kemudian didorong oleh darah kearah ostium tuba abdominale.Frekuensi abortus dalam tuba tergantung
pada implantasi telur yang dibuahi.Abortus tuba lebih umum terjadi pada kehamilan tuba pars ampullaris,
sedangkan penembusan dinding tuba oleh villi koriales kearah peritoneum biasanya terjadi pada kehamilan pars
isthmika. Perbedaan ini disebabkan karena lumen pars amoullaris lebih luas, sehingga dapat mengikuti lebih
mudah pertumbuhan hasil konsepsi dibandingkan dengan bagian isthmus dengan lumen sempit.
Pada pelepasan hasil konsepsi yang tidak sempurna pada abortus, perdarahan akan terus berlangsung,
dari sedikit-sedikit oleh darah, sampai berubah menjadi molakruenta. Perdarahan akan keluar melalui fimbriae
dan masuk rongga abdomen dan terkumpul secara khas di kavum Douglas dan akan membentuk hematokel
retrouterina. Bila fimbriae tertutup, tuba fallopii dapat membesar karena darah dan membentuk hematosalping.

3. Ruptur tuba
Penyusupan, dan perluasan hasil konsepsi dapat mengakibatkan rupture pada saluran lahir pada
beberapa tempat.Sebelum metode pengukuran kadar korionik gonadotropin tersedia, banyak kasus kehamilan
tuba berakhir pada trimester pertama oleh rupture intraperitoneal. Pada kejadian ini lebih sering terjadi bila
ovum berimplantasi pada isthmus dan biasanya muncul pada kehamilan muda, sedangkan bila berimplantasi di
pars intersisialis, maka muncul pada kehamilan yang lebih lanjut. Ruptur dapat terjadi secara spontan, atau
karena trauma ringan seperti koitus atau pemeriksaan vagina.
Ruptur sekunder dapat terjadi bila terjadi abortus dalam tuba dan ostium tuba tertutup. Dalam hal ini
dinding tuba yang sudah menipis karena invasi dari trofoblas, akan pecah karena tekanan darah dalam tuba.
Kadang-kadang rupture terjadi diarah ligamentum latum dan terbentuk hematoma intraligamenter. Jika janin
hidup terus, terdapat kehamilan intraligamenter.Pada rupture kerongga perut, seluruh janin dapat keluar dari
tuba, tetapi bila robekan kecil, perdarahan terjadi tanpa hasil konsepsi dikeluarkan dari tuba. Bila pasien tidak
mati dan meninggal karena perdarahan, nasib janin bergantung pada kerusakan yang diderita dan tuanya
kehamilan.Bila janin mati dan masih kecil, dapat diresorbsi kembali, namun bila besar, kelak dapat diubah
menjadi litopedion. Bila janin yang dikeluarkan tidak mati dengan masih diselubungi oleh kantong amnion dan
dengan plasenta yang utuh, kemungkinan tumbuh terus dalam rongga abdomen sehingga terjadi kehamilan
abdominal sekunder.
DAFTAR PUSTAKA

Chalik, TMA. 2004. Kehamilan Ektopik. Dalam: Ilmu Kedokteran Fetomaternal. Edisi I.
Surabaya: Himpunan Kedokteran Fetomaternal Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi
Indonesia.

Fadlun & feryanto, ahmad.2011.Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta : Salema Medika.

Cunningham, F.Gary.2006.Obstretri Williams.Edisi 21.Jakarta : EGC.

Wiknjosastro , Hanifa . 2000. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.

Helen Varney .2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC

Winkjosastro, Hanifa.2005.Ilmu Kandungan. Jakarta.Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo.Halaman 250-60.

Saifuddin, Abdul Bari. 2008.Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta.Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo