Anda di halaman 1dari 25

BUKU PANDUAN MAHASISWA

BLOK EARLY CLINICAL AND COMMUNITY EXPOSURE III (BLOK ECCE III)

KODE BLOK: KUB 273 SEMESTER 7

EXPOSURE III (BLOK ECCE III) KODE BLOK: KUB 273 SEMESTER 7 Disusun oleh: Tim Blok ECCE

Disusun oleh:

Tim Blok ECCE III

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN JURUSAN KEDOKTERAN PURWOKERTO

2016

DESKRIPSI BLOK

BLOK

: ECCE 3

KODE

: KUB 273

SKS

: 4

SEMESTER

: 7

DESKRIPSI

Blok ECCE 3 merupakan blok terakhir dari rangkaian Blok ECCE. Blok ini bertujuan

memberikan gambaran kasus-kasus klinis yang sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter

Indonesia pada level 3 dan 4 dan keterampilan klinis yang perlu dicapai pada saat lulus dokter.

Mahasiswa diharapkan dapat lebih mendalami dan memahami materi dan skill pada blok-blok

yang telah didapatkan sebelumnya sebagai persiapan untuk menempuh pendidikan profesi

dokter.

CAPAIAN KOMPETENSI YANG DIHARAPKAN

1. Mahasiswa mampu melakukan langkah-langkah penegakan diagnosis penyakit sesuai

dengan daftar penyakit level kompetensi 3 dan 4 Standar Kompetensi Dokter Indonesia

(SKDI) berupa anamnesis, pemeriksaan fisik, rencana/usulan pemeriksaan penunjang.

2. Mahasiswa mampu menganalisis rencana penatalaksanaan pasien dengan diagnosis

penyakit level kompetensi 3 dan 4 SKDI.

KARAKTERISTIK PESERTA

Peserta blok ini adalah mahasiswa semester VII.

Tidak ada prasyarat khusus untuk mengikuti blok ini.

Tata tertib mengikuti peraturan akademik fakultas dan universitas.

Peraturan spesifik mengenai blok ini tertuang dalam tata tertib blok.

Pembagian kelompok adalah sebagai berikut : (lihat lampiran)

Untuk skills lab, dalam kelas besar kemudian mahasiswa untuk skill lab mandiri

dengan ketentuan telah diatur oleh kepala laboratorium ketrampilan klinis

Out Patient Encaunter (OPE) dilakukan di Puskesmas yang telah ditunjuk dan

RSUD Ajibarang

ORGANISASI PENGELOLA BLOK

A. PIC (Person in Charge) 1

B. PIC 2

C. Admin Blok

D.

Caraka

: dr. Shila Suryani, M.Sc, Sp.An

: dr. Fatiha Sri Utami Tamad

: Adi Bahari Lasmono,S.Pt

: Waryanto

JADWAL GLOBAL

 

TEMA/TOPIK

 

WAKTU

1. Proses Pembelajaran

Pemeriksaan THT =1 kali

a.

Kuliah tatap muka (skillab kelas besar)

Pemeriksaan bedah = 4 kali Pemeriksaan penyakit dalam = 2 kali Pemeriksaan obsgin = 3 kali Pemeriksaan mata = 1 kali Pemeriksaan jantung = 1 kali Pemeriksaan saraf = 3 kali Pemeriksaan Paru =1 kali Pemeriksaan jiwa = 1 kali Pemeriksaan anak = 1 kali Pemerisaan kulit = 1 kali Anestesi = 1 kali Farmakologi = 5 kali

   

7-16

November 2016

b.

OPE Puskesmas dan rumah sakit

21-24 november 2016 & 28 november-1 desember 2016

2. Ujian tulis

18

november 2016

3. Ujian OSCE

5-6 desember 2016

4. Remidi ujian tulis

25

november 2016

5. Remedi OSCE

8-9 desember 2016

METODE PEMBELAJARAN

METODE PEMBELAJARAN

KELOMPOK

TEMPAT

LATIHAN KETERAMPILAN KLINIS

1-12

RUANG KULIAH SEMESTER VII

Out Patient Encaunter (OPE) Puskesmas

1-12

Puskesmas di kab. Banyumas yang telah ditunjuk dan RSUD Ajibarang

Untuk mencapai kompetensi yang diharapkan, mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar berupa:

1. KULIAH TATAP MUKA/LECTURE (K) Kuliah tatap muka merupakan metode pembelajaran dengan ceramah materi trik cbt/tulis dan osce serta skill lab kelas besar secara dua arah. Kuliah ini diharapkan dapat memberikan bekal kepada mahasiswa untuk menguasai konsep dasar yang dibutuhkan dalam mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Kuliah diberikan oleh dosen atau narasumber yang ahli dalam bidangnya.

2. Outpatient Encountered (OPE). OPE merupakan metode pembelajaran yang mengharuskan mahasiswa untuk melakukan praktik langsung dengan pasien pada setting klinis yang riil pada layanan primer. Umumnya OPE dilaksanakan di poliklinik, mahasiswa melakukan praktik langsung anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien baru, dengan pengawasan preceptor (dosen pembimbing lapangan). Blok ECCE 3 bermaksud untuk memberikan pengalaman belajar yang bervariasi dengan menyediakan sarana praktik bagi mahasiswa di layanan primer yang merupakan ranah kompetensi dari dokter layanan primer sesuai SKDI.

JADWAL PELAKSANAAN OPE

1. Pelaksanaan OPE akan berlangsung pada tanggal 21-24 november 2016 & 28 november-1 desember 2016.

2. Mahasiswa akan melaksanakan OPE selama 4 hari (senin kamis untuk tiap minggunya), dan pada hari ke 5 (Jumat) mahasiswa akan melaksanakan diskusi dengan preceptor fakultas di kampus.

3.

135 mahasiswa dibagi menjadi 12 kelompok, sebagian akan disebar ke 6 puskesmas yang telah ditunjuk, sebagian lagi disebar ke 6 bagian di RSUD Ajibarang.

4. Mahasiswa akan melakukan praktek selama 4 hari di puskesmas yang telah ditentukan dan 4 hari di RSUD Ajibarang. TEKNIS PELAKSANAAN OPE PUSKESMAS

1. Mahasiswa selama melakukan praktik di puskesmas dapat mengikuti kegiatan di balai pengobatan atau kegiatan lain di luar puskesmas sesuai arahan dari preceptor lapangan.

2. Mahasiswa diharapkan mencari 1 buah kasus untuk 1 mahasiswa dengan diagnosis penyakit level 3 atau 4 SKDI, melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan pengawasan preceptor lapangan.

3. Mahasiswa membuat status pasien sesuai dengan arahan dari pendamping OPE.

4. Berperilaku sopan dan menjaga nama baik civitas.

TEKNIS PELAKSANAAN OPE RSUD Ajibarang

1. RS Ajibarang selaku RS tipe C jejaring pendidikan FK UNSOED akan menerima kurang lebih 68 mahasiswa peserta blok ECCE tiap minggunya. 68 mahasiswa tersebut dibagi kedalam 6 bagian, meliputi Interna, Anak, Bedah, Mata, Saraf, dan Obsgyn

2. 68 mahasiswa tersebut ditempatkan secara proporsional di 6 bagian tersebut, dengan pembagian kelompok dari fakultas.

3. Mahasiswa akan melakukan praktek selama 4 hari di RS, pada bagian yang telah ditentukan. Hal ini untuk memungkinkan adanya giliran antar mahasiswa di poliklinik, dengan tidak mengganggu pelayanan yang ada. Jika tidak sedang bertugas di poliklinik dapat ditugaskan kebangsal atau ruangan lain sepanjang itu bermanfaat untuk memberikan pengalaman klinik kepada mahasiswa yang relevan. Penugasan ini menjadi wewenang penuh bagian (dokter spesialis) yang bertugas pada saat itu.

4. Mahasiswa selama melakukan praktik di RSUD Ajibarang diharapkan mencari 1 buah kasus untuk 1 mahasiswa dengan diagnosis penyakit level 3 atau 4 SKDI, melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan pengawasan preceptor lapangan (dokter spesialis yang bertugas).

5. Mahasiswa membuat status pasien sesuai dengan arahan dari pendamping OPE.

PENILAIAN HASIL BELAJAR

Pembobotan setiap item penilaian terlihat pada tabel berikut :

SUB KOMPONEN NILAI PROSES

SUB KOMPONEN NILAI ASSESMENT

OPE Puskesmas

20%

UJIAN TULIS

20%

OPE RSUD Ajibarang

20%

UJIAN OSCE

40%

TOTAL

40%

TOTAL

60 %

KOMPETENSI SESUAI SKDI LEVEL 3 dan 4:

 

AREA

TINGKATAN PENCAPAIAN KEMAMPUAN (LoA SKDI)

TEMA/

KOMPETENSI

TOPIK

(KOMPONEN

KOMPETENSI)

A. sistem nefrourinarius:

4

Mahasiswa mampu mendiagnosis& melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas pada sistem nefrourinari,

1. ISK

2. Gonore

3. Uncomplicated pyelonefritis

4. Fimosis

 

5. Parafimosis

6. Glomerulonefritis akut

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya,

7. Glomerulonefritis kronik

3A

8. Kolik renal

9. Batu saluran kemih (vesika urinaria, ureter, uretra ) tanpa kolik

10. Chancroid

11. Prostatitis

dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada sistem nefrourinari

12. Torsio testis

3B

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan/atau kecacatan, mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya, dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada sistem nefrourinari

13. Ruptur uretra

14. Ruptur kandung kencing

15. Ruptur ginjal

16. Priapismus

B. sistem muskulo skeletal:

4

Mahasiswa mampu mendiagnosis& melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas pada sistem muskuloskeletal,

1. ulkus pada tungkai

2. lipoma

3. Artritis, OA

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya, dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada sistem muskuloskeletal,

4. Fraktur klavikula

3A

5. Osteoporosis

6. Tenosinovitis supuratif

7. Trauma sendi

8. Ruptur tendon achilles

9. Lesi meniskus, medial, dan lateral

10. Osteomielitis

3B

 
 

11.

Fraktur terbuka dan tertutup

 

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan/atau kecacatan, mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya, dan menindaklanjuti sesudah kembali

C.

sistem reproduksi:

4

dari rujukan pada sistem muskuloskeletal,

1. Sindrom duh (discharge) genital (gonore dan nongonore)

2. ISK bawah

Mahasiswa mampu mendiagnosis& melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas pada sistem reproduksi,

3. vaginitis,

4. kehamilan normal

5. abortus spontan komplit

6. anemia deff Fe pada kehamilan

 

7. ruptur perineum derajat 1-2

8. bacterial vaginosis,

9. vulvitis,

10. salpingitis,

11. abses folikel rambut atau kelenjar sebasea pada alat genital

12. cracked nipple,

13. inverted nipple

14. mastitis

15. Sifilis

3A

16. Kondiloma akuminatum

17. Servisitis

18. Penyakit radang panggul

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya, dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada system reproduksi,

19. Infeksi intra-uterin: korioamnionitis

20. Janin tumbuh lambat

21. Persalinan preterm

22. Bayi post matur

23. Ketuban pecah dini (KPD)

24. Kista dan abses kelenjar bartolini

 

25. Corpus alienum vaginae

26. Kista Gartner

27. Kista Nabotian

28. Polip serviks

29. Prolaps uterus, sistokel, rektokel

30. Infertilitas

31. Distosia

32. Infeksi pada kehamilan: TORCH, hepatitis B, malaria

3B

33. Aborsi mengancam

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan/atau kecacatan, mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya, dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada system reproduksi

34. Aborsi spontan inkomplit

35. Hipoksia janin

36. Ruptur serviks

37. Ruptur perineum tingkat 3-4

38. Retensi plasenta

39. Inversio uterus

40. Perdarahan post partum

41. Endometritis

 

42. Subinvolusio uterus

   

43. Torsi dan ruptur kista

44. Prolaps tali pusat

45. Hiperemesis gravidarum

46. Preeklampsia

47. Eklampsia

D. sistem saraf:

4

1. febrile convultion,

2. tetanus,

3. HIV AIDS tanpa komplikasi

Mahasiswa mampu mendiagnosis& melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas pada sistem saraf

4. tension headache

5. migraine

6. bells palsy

 

7. BPPV

8. Meniere's disease

9. Demensia

3A

10. AIDS dengan komplikasi

11. Cluster headache

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya, dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada system saraf,

12. Neuralgia trigeminal

13. Spondilitis TB

14. Radicular syndrome

15. Hernia nucleus pulposus (HNP)

16. Reffered pain

17. Nyeri neuropatik

 

18. Carpal tunnel syndrome

19. Tarsal tunnel syndrome

20. Neuropati

21. Peroneal palsy

22. Amnesia pascatrauma

23. Neurogenic bladder

24. Epilepsi

25. Parkinson

26. Meningitis

3B

27. Ensefalitis

28. Malaria serebral

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan/atau kecacatan, mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya, dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada system saraf,

29. Tetanus neonatorum

30. Poliomielitis

31. Rabies

32. Ensefalopati

33. Koma

34. TIA

35. Infark serebral

36. Hematom intraserebral

37. Perdarahan subarakhnoid

 

38. Ensefalopati hipertensi

39. Kejang

40. Status epileptikus

41. Complete spinal transaction

42. Acute medulla compression

43. Guillain Barre syndrome

44. Miastenia gravis

E. sistem respirasi:

4

1.

uncomplicated pulmonary tuberculosis

 

2. acute bronchitis

   

3. pneumonia, bronchopnemonia

Mahasiswa mampu mendiagnosis& melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas pada sistem respirasi

4. influenza

5. bronchial asthma,

6. pertusis

 

7. faringitis

8. tonsillitis

9. laryngitis

10. Abses paru

11. Emfisema paru

12. Pneumothorax

13. Bronkiektasis

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya, dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada system respirasi,

14. Abses peritonsilar

15. Pneumothorax ventil

16. Pseudo-croop acute epiglotitis

17. Tuberkulosis dengan HIV

18. Acute Respiratory distress syndrome (ARDS)

19. SARS

 

20. Flu burung

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan/atau kecacatan, mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya, dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada system respirasi,

21. Difteria (THT)

22. Aspirasi

23. Status asmatikus (asma akut berat)

24. Bronkiolitis akut

25. Pneumonia aspirasi

26. Efusi pleura masif

27. Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) eksaserbasi akut

28. Edema paru

 

29. Haematothorax

F.

sistem cardiovaskuler:

4

1. esential hipertension

2. Ekstrasistol supraventrikular, ventrikular

3A

Mahasiswa mampu mendiagnosis& melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas pada sistem kardiovaskuler

3. Kor pulmonale kronik

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya, dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada system kardiovaskuler,

4. Hipertensi sekunder

5. Tromboflebitis

6. Limfangitis

7. Gagal jantung kronik

8. Fibrilasi atrial

9. Insufisiensi vena kronik

10. Limfedema (primer, sekunder)

11. Syok (septik, hipovolemik, kardiogenik, neurogenik)

3B

 

12. Angina pektoris

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan/atau kecacatan, mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya,

13. Infark miokard

14. Gagal jantung akut

15. Cardiorespiratory arrest

16. Takikardi: supraventrikular, ventrikular

17. Fibrilasi ventrikular

18. Atrial flutter

 

19.

Kor pulmonale akut

 

dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada system Kardiovaskuler,

G.

sistem gastrointetinal, hepatobilier, pankreas:

4

1. kandidiasis mulut

2. ulkus mulut (aptosa, herpes)

Mahasiswa mampu mendiagnosis& melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas pada sistem gastrointetinal, hepatobilier, pancreas,

3. parotitis

4. infection of umbilicius,

5. gastritis,

6. gastroenteritis (termasuk kolera, giardiasis)

 

7. GERD,

8. thyphoid fever,

9. hepatitis A

10. keracunan makanan

11. intoleransi makanan

12. alergi makanan

13. hookworm diseases,

14. strongyloidiasis,

15. ascariasis,

16. schistosomiasis,

17. taeniasis,

18. disentri amuba

19. disentri basiler

20. hemoroid grade 1-2

21. Glositis

22. Angina Ludwig

3A

23. Karies gigi

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya, dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada system gastrointetinal, hepatobilier, pancreas,,

24. Esofagitis refluks

25. Malabsorbsi

26. Hernia umbilikalis

27. Ulkus (gaster, duodenum)

28. Hepatitis B

29. Abses hepar amoeba

30. Perlemakan hepar

31. Divertikulosis/divertikulitis

 

32. Kolitis

33. Irritable Bowel Syndrome

34. Proktitis

35. Abses (peri)anal

36. Hemoroid grade 3-4

37. Prolaps rektum, anus

38. Lesi korosif pada esofagus

3B

39. Hernia (inguinalis, femoralis, skrotalis) strangulata, inkarserata

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan/atau kecacatan, mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya, dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada system gastrointetinal, hepatobilier, pancreas,

40. Peritonitis

41. Apendisitis akut

42. Abses apendiks

43. Perdarahan gastrointestinal

44. Kolesistitis

45. Botulisme

46. Intususepsi atau invaginasi

H. sistem endokrin, gangguan metabolik dan nutrisi:

4

Mahasiswa mampu mendiagnosis& melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas pada sistem endokrin, gangguan metabolik dan nutrisi

1. DM tipe 1

2. DM tipe 2

3. Hipoglikemia ringan

4. Malnutrisi energy-protein

 

5. Defisiensi vitamin

6. Defisiensi mineral

7. Dyslipidemia

8. Hiperurisemia

9. Obesitas

3A

10. Diabetes melitus tipe lain (intoleransi glukosa akibat penyakit lain atau obat- obatan)

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya, dan menindaklanjuti sesudah kembali

11. Hipoparatiroid

12. Hipertiroid

13. Goiter

dari rujukan pada system endokrin, gangguan metabolik dan nutrisi

3B

14. Ketoasidosis diabetikum nonketotik

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan/atau kecacatan, mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya,

15. Hiperglikemi hiperosmolar

16. Hipoglikemia berat

17. Tirotoksikosis

18. Cushing's disease

19. Krisis adrenal

20. Sindrom metabolic

dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada system endokrin, gangguan metabolik dan nutrisi

I. sistem hematoimunologi:

 

Mahasiswa mampu mendiagnosis& melakukan penatalaksanaan secara

mandiri dan tuntas pada sistem hematoimunologi

1. iron deficiency anemia,

4

2. linfadenitis

3. dengue fever,

4. DHF,

 

5. malaria,

6. uncomplicated leptospirosis

7. reaksi anafilaktik

8. Anemia hemolitik

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat,

9. Anemia makrositik

10. Limfadenopati

3A

 

11. Toksoplasmosis

 

menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya, dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada system hematoimunologi

12. Lupus eritematosus sistemik

13. Polimialgia reumatik

14. Demam reumatik

15. Artritis reumatoid

 

16. Bakteremia

17. Dengue shock syndrome

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan/atau kecacatan, mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya, dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada system hematoimunologi

18. Sepsis

J.

sistem indra:

 

Mahasiswa mampu mendiagnosis& melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas pada sistem sistem indra.

1. benda asing di konjungtiva

2. konjungtivitis

3. perdarahan subkonjungtiva

4. mata kering

 

5. blefaritis

6. hordeolum

7. trikiasis

4

8. episkleritis

9. hipermetropia ringan

10. myopia ringan

11. astigmatism ringan

12. presbyopia

13. buta senja

14. otitis eksterna

15. OMA

16. Serumen prop

17. Mabuk perjalanan

18. Furunkel pada hidung

19. Rhinitis akut

20. Rhinitis vasomotor

21. Rhinitis alergika

22. Benda asing di hidung

23. Epistaksis

24. Pterigium

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya, dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada system indra

25. Chalazion

26. Dakrioadenitis

27. Dakriosistitis

28. Skleritis

29. Keratitis

30. Xerophtalmia

31. Hifema

3A

 

32. Hipopion

33. Iridosisklitis, iritis

34. Anisometropia pada dewasa

35. Glaukoma lainnya

36. Inflamasi pada aurikular

37. Herpes zoster pada telinga

 

38. Fistula pre-aurikular

   

39. Otitis media serosa

40. Otitis media kronik

41. Mastoiditis

42. Miringitis bullosa

43. Benda asing

44. Perforasi membran timpani

45. Otosklerosis

46. Presbiakusis

47. Trauma akustik akut

48. Rhinitis kronik

49. Rhinitis medikamentosa

50. Sinusitis

51. Sinusitis kronik

52. Tortikolis

53. Abses Bezold

54. Laserasi kelopak mata

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan/atau kecacatan, mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya, dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada system indra

55. Glaukoma akut

56. Trauma aurikular

K.

System kulit dan integument:

   

1. verruca vulgaris,

4

2. molluscum contagiosum

Mahasiswa mampu mendiagnosis& melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas pada sistem kulit dan integument

3. herpes zoster tanpa komplikasi

4. morbili tanpa komplikasi

5. varisela tanpa komplikasi

6. herpes simplek tanpa komplikasi

 

7. impetigo

8. ulcerative impetigo/ecthyma

9. superficial folliculitis

10. furuncle,carbuncle

11. erythrasma

12. erysipelas

13. scrofuloderma

14. leprosy

15. syphilis gr 1 & 2

16. tinea capitis

17. tinea barbae

18. tinea faciale

19. tinea corporis

20. tinea manus

21. tinea unguinum

22. tinea cruris

23. tinea pedis

24. ptiriasis vesicolor

25. mild moccutaneous candidiasis

26. cutaneus larva migrant

27. filariasis

28. pediculosis capitis

   

29. pediculosis pubis

30. scabies

31. insect bites reaction

32. contact dermatitis irritant

33. atopic dermatitis

34. napkin eczema

35. nummular dermatitis

36. seboroic dermatitis

37. pityriasis rosea

38. mild acne vulgaris

39. hidradenitis supurativa

40. perioral dermatitis

41. miliaria

42. acute utrikaria

43. exanthematous drug eruption

44. fixed drug eruption

45. vulnus laceratum

46. vulnus punctum

47. luka bakar derajat 1 dan 2

48. Ichthyosis vulgaris

3A

49. Vitiligo

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya, dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada system kulit dan integument

50. Melasma

51. Hiperpigmentasi pascainflamasi

52. Hipopigmentasi pascainflamasi

53. Kista epitel

54. Akne vulgaris sedang-berat

55. Urtikaria kronis

56. Vulnus perforatum, penetratum

3B

 

57. Luka bakar derajat 3 dan 4

58. Luka akibat bahan kimia

Mahasiswa mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan/atau kecacatan, mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan selanjutnya, dan menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan pada system kulit dan integument

59. Luka akibat sengatan listrik

60. Toxic epidermal necrolysis

61. Sindrom Stevens-Johnson

62. Angioedema

PEMERIKSAAN SISTEM NEFRO URINARIUS:

4

 

1. Bimanual ginjal

2. Pemeriksaan nyeri ketok ginjal

Mahasiswa mampu memperlihatkan keterampilannya dengan menguasai seluruh teori, prinsip, indikasi, langkah-langkah cara melakukan, komplikasi, dan pengendalian komplikasi pada sistem nefrourinari

3. Perkusi kandung kemih

4. Palpasi prostat

5. Swab uretra

6. Persiapan dan pemeriksaan sedimen urine (menyiapkan slide dan uji mikroskopis urine)

7. Permintaan pemeriksaan BNO IVP

 

8. Pemasangan kateter uretra

9. Sirkumsisi

PEMERIKSAAN SISTEM REPRODUKSI:

4

1.

Inspeksi penis

2. Inspeksi skrotum

Mahasiswa mampu memperlihatkan keterampilannya dengan menguasai seluruh teori, prinsip, indikasi, langkah-langkah cara melakukan, komplikasi, dan pengendalian komplikasi pada sistem reproduksi

3. Palpasi penis, testis, duktus spermatik epididymis

4. Transluminasi skrotum

5. Px umum termasuk px payudara (inspeksi dan palpasi)

6. Inspeksi dan palpasi genitalia eksterna

 

7. Pemeriksaan speculum:inspeksi vagina dan serviks

8. Pemeriksaan bimanual: palpasi vagina, serviks, korpus uteri, ovarium

9. Melakukan swab vagina

10. Duh genital: bau, ph, px gram, salin, KOH

11. Melakukan pap’s smear

12. Pemeriksaan IVA

13. Penilaian hasil pemeriksaan semen

14. Kurva temperatur basal, instruksi, penilaian hasil

15. Pemeriksaan mukus serviks, Tes fern

16. Melatih px payudara sendiri

17. Insisi abses bartolini

18. Konseling kontrasepsi

19. Insersi dan ekstraksi IUD

20. Kontrasepsi injeksi

21. Penanganan komplikasi KB (IUD, pil, suntik, implant)

22. Identifikasi kehamilan risiko tinggi

23. Konseling prakonsepsi

24. Pelayanan perawatan antenatal

25. Inspeksi abdomen wanita hamil

26. Palpas: tinggi fundus, maneuver Leopold, penilaian posisi dari luar

27. Mengukur denyut jantung janin

28. Pemeriksaan dalam pada kehamilan muda

29. Pemeriksaan pelvimetri klinis

30. Tes kehamilan

31. Permintaan pemeriksaan USG obsgin

32. Pemeriksaan USG obsgin (skrining obstetri)

33. Pemeriksaan obstetric (penilaian serviks, dilatasi, membrane, presentasi janin dan penurunan)

34. Menolong persalinan fisiologis sesuai Asuhan Persalinan Normal (APN)

35. Pemecahan membran ketuban sesaat sebelum melahirkan

36. Anestesi lokal di perineum

37. Episiotomi

38. Resusitasi bayi baru lahir

39. Menilai skor Apgar

40. Pemeriksaan fisik bayi baru lahir

41. Postpartum: pemeriksaan tinggi fundus, plasenta: lepas/tersisa

42. Memperkirakan/mengukur kehilangan darah sesudah melahirkan

43.

Menjahit luka episiotomi serta laserasi derajat 1 dan 2

   

44.

Insiasi menyusui dini (IMD)

45.

Kompresi bimanual (eksterna, interna, aorta)

46.

Menilai lochia

47.

Palpasi posisi fundus

48.

Payudara: inspeksi, laktasi, massage

49.

Mengajarkan hygiene

50.

Konseling kontrasepsi/ KB pascasalin

51.

Perawatan luka episiotomy

52.

Perawatan luka operasi caesar

PEMERIKSAAN SISTEM

ENDOKRIN,

GANGGUAN

4

METABOLIK DAN NUTRISI:

Mahasiswa mampu memperlihatkan keterampilannya dengan menguasai seluruh teori, prinsip, indikasi, langkah-langkah cara melakukan, komplikasi, dan pengendalian komplikasi pada sistem endokrin

1.

Penilaian status gizi (termasuk pemeriksaan antropometri)

2.

Penilaian kelenjar tiroid: hipertiroid dan hipotiroid

3.

Pengaturan diet

4.

Penatalaksanaan diabetes melitus tanpa komplikasi

 

5.

Pemberian insulin pada diabetes melitus tanpa komplikasi

6.

Pemeriksaan gula darah (dengan Point of Care Test [POCT])

7.

Pemeriksaan glukosa urine (Benedict)

8.

Anamnesis dan konseling kasus gangguan metabolisme dan endokrin

PEMERIKSAAN

SISTEM

GASTROINTESTINL,

4

HEPATOBILIAR, PANKREAS:

1. Inspeksi bibir dan kavitas oral

Mahasiswa mampu memperlihatkan keterampilannya dengan menguasai seluruh teori, prinsip, indikasi, langkah-langkah cara melakukan, komplikasi, dan pengendalian komplikasi pada sistem gastrointestinal, hepatobiliar, pankreas

2. Inspeksi tonsil

3. Penilaian pergerakan otot-otot hipoglosus

4. Inspeksi abdomen

5. Inspeksi lipat paha/inguinal pada saat tekanan abdomen meningkat

6. Palpasi (dinding perut, kolon, hepar, lien,

 

aorta, rigiditas dinding perut)

 

7. Palpasi hernia

8. Pemeriksaan nyeri tekan dan nyeri lepas (Blumberg test)

9. Pemeriksaan psoas sign

10. Pemeriksaan obturator sign

11. Perkusi (pekak hati dan area traube)

12. Pemeriksaan pekak beralih (shifting dullness)

13. Pemeriksaan undulasi (fluid thrill)

14. Pemeriksaan colok dubur (digital rectal examination)

15. Palpasi sacrum

16. Inspeksi sarung tangan pascacolok-dubur

17. Persiapan dan pemeriksaan tinja

18. Pemasangan pipa nasogastrik (NGT)

19. Nasogastric suction

20. Mengganti kantong pada kolostomi

21. Enema

22. Anal swab

   

23. Identifikasi parasit

24. Pemeriksaan feses (termasuk darah samar, protozoa, parasit, cacing)

PEMERIKSAAN HEMATOIMUNOLOGI:

4

1. Palpasi kelenjar limfe

Mahasiswa mampu memperlihatkan keterampilannya dengan menguasai seluruh teori, prinsip, indikasi, langkah-langkah cara melakukan, komplikasi, dan pengendalian

komplikasi pada sistem hematoimunologi

2. Persiapan dan pemeriksaan hitung jenis leukosit

3. Pemeriksaan darah rutin (Hb, Ht, Leukosit, Trombosit)

4. Pemeriksaan profil pembekuan (bleeding time, clotting time)

5. Pemeriksaan Laju endap darah/kecepatan endap darah (LED/KED)

 

6. Permintaan pemeriksaan hematologi berdasarkan indikasi

7. Permintaan pemeriksaan imunologi berdasarkan indikasi

8. Skin test sebelum pemberiaan obat injeksi

9. Pemeriksaan golongan darah dan inkompatibilitas

10. Anamnesis dan konseling anemia defisiensi besi, thalasemia, dan HIV

11. Penentuan indikasi dan jenis transfusi

PEMERIKSAAN PSIKIATRI:

4

1. Autoanamnesis dengan pasien

Mahasiswa mampu memperlihatkan keterampilannya dengan menguasai seluruh teori, prinsip, indikasi, langkah-langkah cara melakukan, komplikasi, dan pengendalian komplikasi pada sistem psikiatri

2. Alloanamnesis dengan anggota keluarga/orang lain yang bermakna

3. Memperoleh data mengenai keluhan/masalah utama

4. Menelusuri riwayat perjalanan penyakit sekarang/dahulu

 

5. Memperoleh data bermakna mengenai riwayat perkembangan, pendidikan, pekerjaan, perkawinan, kehidupan keluarga

6. Penilaian status mental

7. Penilaian kesadaran

8. Penilaian persepsi orientasi intelegensi secara klinis

9. Penilaian orientasi

10. Penilaian intelegensi secara klinis

11. Penilaian bentuk dan isi pikir

12. Penilaian mood dan afek

13. Penilaian motorik

14. Penilaian pengendalian impuls

15. Penilaian kemampuan menilai realitas (judgement)

16. Penilaian kemampuan tilikan (insight)

17. Penilaian kemampuan fungsional (general assessment of functioning)

18. Menegakkan diagnosis kerja berdasarkan kriteria diagnosis multiaksial

19. Membuat diagnosis banding (diagnosis differensial)

20. Identifikasi kedaruratan psikiatrik

21. Identifikasi masalah di bidang fisik, psikologis, sosial

   

22. Mempertimbangan prognosis

23. Menentukan indikasi rujuk

24. Melakukan Mini Mental State Examination

25. Melakukan kunjungan rumah apabila diperlukan

26. Melakukan kerja sama konsultatif dengan teman sejawat lainnya

PEMERIKSAAN MUSKULOSKELETAL:

4

1. Inspeksi gait

Mahasiswa mampu memperlihatkan keterampilannya dengan menguasai seluruh teori, prinsip, indikasi, langkah-langkah cara melakukan, komplikasi, dan pengendalian komplikasi pada sistem musculoskeletal

2. Inspeksi tulang belakang saat berbaring

3. Inspeksi tulang belakang saat bergerak

4. Inspeksi tonus otot ekstremitas

5. Inspeksi sendi ekstremitas

6. Inspeksi postur tulang belakang dan pelvis

 

7. Inspeksi posisi skapula

8. Inspeksi fleksi dan ekstensi punggung

9. Penilaian fleksi lumbal

10. Panggul: penilaian fleksi dan ekstensi, adduksi, abduksi dan rotasi

11. Menilai atrofi otot

12. Lutut: menilai ligamen krusiatus dan kolateral

13. Penilaian meniskus

14. Kaki: inspeksi postur dan bentuk

15. Kaki: penilaian fleksi dorsal/plantar, inversi dan eversi

16. Palpation for tenderness

17. Palpasi untuk mendeteksi nyeri diakibatkan tekanan vertikal

18. Palpasi tendon dan sendi

19. Palpasi tulang belakang, sendi sakro-iliaka dan otot-otot punggung

20. Percussion for tenderness

21. Penilaian range of motion (ROM) sendi

22. Menetapkan ROM kepala

23. Tes fungsi otot dan sendi bahu

24. Tes fungsi sendi pergelangan tangan, metacarpal, dan jari-jari tangan

25. Pengukuran panjang ekstremitas bawah

26. Stabilisasi fraktur (tanpa gips)

27. Melakukan dressing (sling, bandage)

28. Mengobati ulkus tungkai

PEMERIKSAAN KULIT DAN INTEGUMEN:

4

Mahasiswa mampu memperlihatkan keterampilannya dengan menguasai seluruh teori, prinsip, indikasi, langkah-langkah cara melakukan, komplikasi, dan pengendalian komplikasi pada sistem kulit dan integument

1. Inspeksi kulit

2. Inspeksi membran mukosa

3. Inspeksi daerah perianal

4. Inspeksi kuku

5. Inspeksi rambut dan skalp

6. Palpasi kulit

 

7. Deskripsi lesi kulit dengan perubahan primer dan sekunder, misal ukuran, distribusi, penyebaran, konfigurasi

8. Deskripsi lesi kulit dengan perubahan primer dan sekunder, seperti uku distribusi, penyebaran dan konfigurasi

   

9. Pemeriksaan dermografisme

10. Penyiapan dan penilaian sediaan kalium hidroksida

11. Penyiapan dan penilaian sediaan metilen biru

12. Penyiapan dan penilaian sediaan Gram

13. Pemeriksaan dengan sinar UVA (lampu Wood)

14. Pemilihan obat topikal

15. Insisi dan drainase abses

16. Eksisi tumor jinak kulit

17. Ekstraksi komedo

18. Perawatan luka

19. Kompres

20. Bebat kompresi pada vena varikosum

21. Rozerplasty kuku

Mahasiswa mampu memperlihatkan keterampilannya dengan menguasai

seluruh teori, prinsip, indikasi, langkah-langkah cara melakukan, komplikasi, dan pengendalian komplikasi pada sistem respirasi

22. Pencarian kontak (case finding)

PEMERIKSAAN RESPIRASI:

4

1. Inspeksi leher

2. Palpasi kelenjar ludah (submandibular, parotid)

3. Palpasi nodus limfatikus brakialis

 

4. Palpasi kelenjar tiroid

5. Usap tenggorokan (throat swab)

6. Penilaian respirasi

7. Inspeksi dada

8. Palpasi dada

9. Perkusi dada

10. Auskultasi dada

11. Persiapan, pemeriksaan sputum, dan interpretasinya (Gram dan Ziehl Nielsen [BTA])

12. Uji fungsi paru/spirometri dasar

13. Interpretasi Rontgen/foto toraks

14. Dekompresi jarum

15. Perawatan WSD

16. Terapi inhalasi/nebulisasi

17. Terapi oksigen

Mahasiswa mampu memperlihatkan keterampilannya dengan menguasai

18. Edukasi berhenti merokok

PEMERIKSAAN CARDIOVASKULER:

4

seluruh teori, prinsip, indikasi, langkah-langkah cara melakukan, komplikasi, dan pengendalian komplikasi pada sistem cardiovaskuler

1. Inspeksi dada

2. Palpasi denyut apeks jantung

3. Palpasi arteri karotis

4. Perkusi ukuran jantung

 

5. Auskultasi jantung

6. Pengukuran tekanan darah

7. Pengukuran tekanan vena jugularis (JVP)

8. Palpasi denyut arteri ekstremitas

9. Penilaian denyut kapiler

10. Penilaian pengisian ulang kapiler (capillary refill)

11. Deteksi bruits

12. Tes (Brodie) Trendelenburg

13. Elektrokardiografi (EKG): pemasangan dan inter-pretasi hasil EKG sederhana (VES, AMI, VT, AF)

14. Pijat jantung luar

15. Resusitasi cairan

PEMERIKSAAN SARAF:

4

Mahasiswa mampu memperlihatkan keterampilannya dengan menguasai seluruh teori, prinsip, indikasi, langkah-langkah cara melakukan, komplikasi, dan pengendalian komplikasi pada sistem saraf

1. Pemeriksaan indra penciuman

2. Inspeksi lebar celah palpebra

3. Inspeksi pupil (ukuran dan bentuk)

4. Reaksi pupil terhadap cahaya

5. Reaksi pupil terhadap obyek dekat

 

6. Penilaian gerakan bola mata

7. Penilaian diplopia

8. Penilaian nistagmus

9. Refleks kornea

10. Pemeriksaan funduskopi

11. Penilaian kesimetrisan wajah

12. Penilaian kekuatan otot temporal dan masseter

13. Penilaian sensasi wajah

14. Penilaian pergerakan wajah

15. Penilaian indra pengecapan

16. Penilaian indra pendengaran (lateralisasi, konduksi udara dan tulang)

17. Penilaian kemampuan menelan

18. Inspeksi palatum

19. Penilaian otot sternomastoid dan trapezius

20. Lidah, inspeksi saat istirahat

21. Lidah, inspeksi dan penilaian sistem motorik (misalnya dengan dijulurkan keluar)

22. Inspeksi: postur, habitus, gerakan involunter

23. Penilaian tonus otot

24. Penilaian kekuatan otot

25. Inspeksi cara berjalan (gait)

26. Shallow knee bend

27. Tes Romberg

28. Tes Romberg dipertajam

29. Tes telunjuk hidung

   

30. Tes tumit lutut

31. Tes untuk disdiadokinesis

32. Penilaian sensasi nyeri

33. Penilaian sensasi suhu

34. Penilaian sensasi raba halus

35. Penilaian rasa posisi (proprioseptif)

36. Penilaian sensasi diskriminatif (misal stereognosis)

37. Penilaian tingkat kesadaran dengan skala koma Glasgow (GCS)

38. Penilaian orientasi

39. Penilaian kemampuan berbicara dan berbahasa, termasuk penilaian afasia

40. Penilaian daya ingat/memori

41. Penilaian konsentrasi

42. Refleks tendon (bisep, trisep, pergelangan, platela, tumit)

43. Refleks abdominal

44. Refleks kremaster

45. Refleks anal

46. Tanda Hoffmann-Tromner

47. Respon plantar (termasuk grup Babinski)

48. Snout reflex

49. Refleks menghisap/rooting reflex menggengam palmar/ grasp reflex glabela palmomental

50. Refleks menggengam palmar/grasp reflex

51. Refleks glabela

52. Refleks palmomental

53. Inspeksi tulang belakang saat istirahat

54. Inspeksi tulang belakang saat bergerak

55. Perkusi tulang belakang

56. Palpasi tulang belakang

57. Mendeteksi nyeri diakibatkan tekanan vertikal

58. Penilaian fleksi lumbal

59. Deteksi kaku kuduk

60. Penilaian fontanel

61. Tanda Patrick dan kontra-Patrick

62. Tanda Chvostek

63. Tanda Lasegue

64. Interpretasi X-Ray tengkorak

65. Interpretasi X-Ray tulang belakang

Mahasiswa mampu memperlihatkan

PEMERIKSAAN INDERA:

4

keterampilannya dengan menguasai seluruh teori, prinsip, indikasi, langkah-langkah cara melakukan, komplikasi, dan pengendalian komplikasi pada sistem indera

1. Penilaian penglihatan bayi, anak, dan dewasa

2. Penilaian refraksi, subjektif

3. Lapang pandang, Donders confrontation test

4. Lapang pandang, Amsler panes

 

5. Inspeksi kelopak mata

6. Inspeksi kelopak mata dengan eversi kelopak atas

7. Inspeksi bulu mata

8. Inspeksi konjungtiva, termasuk forniks

9. Inspeksi sklera

10. Inspeksi orifisium duktus lakrimalis

11. Palpasi limfonodus pre-aurikular

12. Penilaian posisi dengan corneal reflex images

13. Penilaian posisi dengan cover uncover test

14. Pemeriksaan gerakan bola mata

15. Penilaian penglihatan binokular

16. Inspeksi pupil

17. Penilaian pupil dengan reaksi langsung terhadap cahaya dan konvergensi

18. Inspeksi media refraksi dengan transilluminasi (pen light)

19. Inspeksi kornea

20. Tes sensivitas kornea

21. Inspeksi bilik mata depan

22. Inspeksi iris

23. Inspeksi lensa

24. Fundoscopy untuk melihat fundus reflex

25. Fundoscopy untuk melihat pembuluh darah, papil, makula

26. Tekanan intraokular, estimasi dengan palpasi

27. Tekanan intraokular, pengukuran dengan indentasi tonometer (Schiötz)

28. Tes penglihatan warna (dengan buku Ishihara 12 plate)

29. Inspeksi aurikula, posisi telinga, dan mastoid

30. Pemeriksaan meatus auditorius externus dengan otoskop

31. Pemeriksaan membran timpani dengan otoskop

32. Menggunakan cermin kepala

33. Menggunakan lampu kepala

34. Tes pendengaran, pemeriksaan garpu tala (Weber, Rinne, Schwabach)

35. Tes pendengaran, tes berbisik

36. Pemeriksaan pendengaran pada anak-anak

37. Inspeksi bentuk hidung dan lubang hidung

38. Penilaian obstruksi hidung

39. Uji penciuman

40. Rinoskopi anterior

41. Transluminasi sinus frontalis & maksila

42. Penilaian pengecapan

43. Peresepan kacamata pada kelainan refraksi ringan (sampai dengan 5D tanpa silindris) untuk mencapai visus 6/6

44. Peresepan kacamata baca pada penderita dengan visus jauh normal atau dapat dikoreksi menjadi 6/6

45. Pemberian obat tetes mata

46. Aplikasi salep mata

47. To apply eyes dressing

48. Melepaskan protesa mata

49. Mencabut bulu mata

50. Membersihkan benda asing dan debris di konjungtiva

51. Manuver Valsalva

52. Pembersihan meatus auditorius eksternus dengan usapan

53. Pengambilan serumen menggunakan kait atau kuret

54. Pengambilan benda asing di telinga

55. Menghentikan perdarahan hidung

56. Pengambilan benda asing dari hidung

FORMAT PENULISAN STATUS

1. Identitas

2. Anamnesa

A. Keluhan Utama

B. Riwayat Penyakit Sekarang

C. Riwayat Penyakit Dahulu

D. Riwayat Penyakit Keluarga

E. Riwayat Sosioekonomi

3. Pemeriksaan Fisik

4. Usulan Pemeriksaan Penunjang

5. Diagnosis Kerja dan Diagnosis Banding

6. Penatalaksanaan

A. Farmakologis

B. Nonfarmakologis

7. Prognosis