Anda di halaman 1dari 24

PENDAHULUHAN

Latar Belakang

Kambing perah merupakan komoditas ternak yang banyak dikembangkan di

berbagai negara. Salah satu benua yang memiliki komoditas kambing perah

terbesar adalah asia dan afrika. Bangsa kambing perah menghasilkan produksi

susu yang berbeda-beda. Banyak manfaat dan keuntungan yang diambil dari

ternak kambing perah baik dari segi produksi yang menghasilkan susu untuk

kesehatan manusia maupun pendapatan peternak karena harga kambing dan susu

yang mahal. Beberapa alasan kambing perah sebagai alat untuk mengentaskan

kemiskinan adalah merupakan komoditi yang fleksibel didalam pengelolaan

karena tidak memerlukan lahan luas, modal relatif lebih kecil, dapat dipelihara

oleh kalangan ekonomi rendah, dapat menghasilkan air susu yang setiap hari

dengan harga cukup tinggi dibandingkan susu sapi, gizi yang terdapat didalam air

susu kambing dapat digunakan sebagai obat berbagai penyakit dan mengatasi

malnutrisi pada anak-anak.

Produksi susu kambing perah memberikan kontribusi sebesar 2,2 % dari total

produksi susu sedunia. Populasi kambing perah di Negara berkembang, kurang

lebih 921 juta atau lebih 90 % dari populasi dunia dan 60%nya terdapat di Asia,

demikian pula breed terbanyak dijumpai di Asia. Didalam pemeliharaannya

kambing perah paling banyak dijumpai dalam lokasi lahan sempit dengan

kandang tipe panggung sehingga sangat diperlukan pemilihan bahan pakan

berkualitas dengan suplemen dan tambahan bahan pakan lain untuk mencukupi

kebutuhan mineral khususnya.


Manajemen pemeliharaan terutama manajemen pemberian pakan yang baik sangat

perlu diperhatikan untuk menghasilkan produksi air susu yang optimal. Pakan

merupakan faktor terbesar untuk menghasilkan produktivitas tinggi, yaitu

produksi air susu pertumbuhan dan produksi cempe. Kita telah mengetahui bahwa

pakan kambing perah lebih beragam dan lebih ‘sulit” dibanding domba. Hal ini

disebabkan oleh sifat kambing perah yang lebih “memilih” pakan dibanding

ternak lainnya. Latar belakang pemilihan pakan oleh kambing perah juga

dikarenakan asal usul ternak yang hidupnya lebih liar dan aktif sehingga kambing

cenderung memilih pakan. Jenis pakan kambing perah yang umum adalah hijauan

dan konsentrat.

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan ialah untuk mengetahui memanajemen usaha ternak

kambing perah yang baik untuk mencapai efisiensi produksi yang tinggi.

Kegunaan Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan ialah sebagai salah satu syarat untuk dapat

mengikuti Praktikal Test di laboratorium Ilmu Produksi Ternak Perah Program

Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan sebagai

sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.


TINJAUAN PUSTAKA

Sistem Pemeliharaan

a. Sistem Pemeliharaan Secara Ekstensif

Umumnya dilakukan di daerah yang mahal dan sulit untuk membuat kandang,

kondisi iklim yang menguntungkan, dan untuk daya tampung kira-kira 3-12 ekor

kambing per hektar. Sistem pemeliharaan secara ekstensif yaitu induk yang

sedang bunting dan anak-anak kambing yang belum disapih harus diberi

persediaan pakan yang memadai. Rata-rata pertambahan bobot badan

kambing yang dipelihara secara ekstensif dapat mencapai 20-30 gram per hari

(Mulyono dan Sarwono, 2005).

b. Sistem Pemeliharaan Secara Intensif

Sistem ini memerlukan pengandangan terus menerus atau tanpa penggembalaan,

sistem ini dapat mengontrol dari faktor lingkungan yang tidak baik dan

mengontrol aspek-aspek kebiasaan kambing yang merusak. Dalam sistem

pemeliharaan ini perlu dilakukan penanganan khusus yaitu pemisahan antara

jantan dan betina, sehubungan dengan ini perlu memisahkan kambing betina

muda dari umur tiga bulan sampai cukup umur untuk dikembangbiakkan,

sedangkan untuk pejantan dan jantan harus dikandangkan atau ditambatkan

terpisah. Pertambahan bobot kambing yang digemukkan secara intensif bisa


mencapai 100-150 gram per hari dengan rata-rata 120 gram per hari atau 700-

1.050 gram dengan rata-rata 840 gram per mingg (Mulyono dan Sarwono, 2005).

c. Sistem Pemeliharaan Secara Semi Intensif

Sistem ini merupakan gabungan pengelolaan ekstensif (tanpa penggembalaan)

dengan intensif, tetapi biasanya membutuhkan penggembalaan terkontrol dan

pemberian pakan konsentrat. Pertambahan bobot kambing yang

digemukkan secara semi-intensif, rata-rata hanya 30-50 gram per hari (Mulyono

dan Sarwono, 2005).

Perkandangan

a. Definisi Kandang

Kandang adalah sebuah bangunan atau tempat yang dibuat bagi ternak agar dapat

hidup, bertumbuh dengan sehat dan aman, serta dapat terkontrol dari penyakit dan

aktivitas reproduksinya, yang ditujukan untuk melindungi ternak terhadap

gangguan dari luar yang merugikan seperti terik matahari, hujan, angin, gangguan

binatang buas, serta untuk memudahkan dalam pengelolaan (Nurdin, 2011).

b. Fungsi Kandang

Bangunan kandang harus memiliki beberapa fungsi, sebagai berikut : 1)

Melindungi ternak kambing dan domba dari sinar matahari yang berlebihan,

angin, hujan, penyakit dan predator; 2) Melindungi ternak kambing dan domba

dari bahaya-bahaya luar, seperti pencuri, hewan-hewan liar sebagai pemangsa

maupun pembawa penyakit; 3) Memudahkan dalam melakukan tatalaksana

pemeliharaan, penanganan limbah dan aktifitas keseharian kambing seperti


makan, minum, tidur, kencing, atau buang kotoran; 4) Kandang dapat

mempermudah peternak dalam melakukan pengawasan dan menjaga kesehatan

ternak; 5) Sebagai tindakan preventif agar kambing tidak merusak tanaman dan

fasilitas lain yang berada di sekitar lokasi kandang, menghindari terkonsumsinya

pakan yang berbahaya bagi kesehatan kambing dan memanfaatkan serta

mengefisienkan lahan yang sempit (Maulana, et al., 2014).

c. Tipe Kandang

Pada umumnya tipe kandang pada ternak kambing dan domba adalah

berbentuk panggung. Konstruksi kandang dibuat panggung di mana di bawah

lantai kandang terdapat kolong untuk menampung kotoran. Dengan adanya

kolong berfungsi untuk menghindari kebecekan dan kontak langsung dengan

tanah yang bisa jadi tercemar penyakit. Lantai kandang ditinggikan antara

0,5–2 m. Bak pakan dapat ditempelkan pada dinding. Ketinggian bak pakan untuk

kambing dan domba berbeda. Bak pakan untuk kambing dibuat agak tinggi,

karena kebiasaan kambing memakan daun-daun perdu (Prabowo, 2013).

Kandang panggung memiliki keunggulan yaitu kandang relatif lebih

bersih karena feses dan urine jatuh ke bawah, lantai kandang lebih kering dan

tidak becek, kuman penyakit, parasit dan jamur yang hidup di lantai kandang

dapat ditekan perkembangannya. Kelemahan dari kandang panggung yaitu biaya

pembuatannya relatif mahal, resiko kecelakaan karena ternak terperosok atau

jatuh lebih besar dan kandang memikul beban berat dari ternak yang ada diatasnya

(Ludgate, 2006).

Pakan
Pakan sangat dibutuhkan oleh kambing untuk tumbuh dan berkembang biak,

pakan yang sempurna mengandung kelengkapan protein, karbohidrat, lemak, air,

vitamin dan mineral. Pemberian pakan yang efisien, paling besar pengaruhnya

dibanding faktor-faktor lain, dan merupakan cara yang sangat penting untuk

peningkatan produktivitas (Devendra dan Burns, 1994).

Pakan tersebut dapat berupa Hijauan dan juga Konsentrat (Bahan

Penguat) yaitu:

1. Hijauan

Ada berbagai macam pakan kambing. Pakan yang diberikan dalam komposisi

tertentu, misalnya campuran beberapa bahan pakan yang mengandung zat gizi

seimbang disebut sebagai ransum. Pakan kambing bisa dikelompokkan menjadi

dua, yaitu pakan hijauan dan pakan penguat atau konsentrat. Hijauan merupakan

pakan utama kambing. Kambing menyukai pakan hijauan berupa rumput-

rumputan, dedaunan, serta ranting dan batang muda. Sementara itu, kambing juga

menyukai pakan konsentrat yang berbentuk kasar. a. Pakan hijauan Pakan hijuan

dikelompokkan menjadi dua, yaitu pakan rumput dan dedaunan. Pakan rumput

antara lain, rumput gajah, rumput lapangan, rumput raja, tebu, jerami. Pakan

dedaunan antara lain, daun nangka, waru, singkong, ketela rambat, turi, lamtoro,

gamal, kacang tanah, kedelai (Kaleka dan Haryadi, 2013).

2. Konsentrat

Pakan konsentrat terdiri dari beberapa bahan pangan yang dicampur. Pakan

konsentrat disusun dari biji-bijian dan umbi-umbian. Biji-bijian yang digunakan

misalnya jagung, sorgum, bungkil kacang tanah, ampas tahu, kacang tanah, dan
kacang kedelai. Biji-bijian tersebut dihaluskan atau digiling terlebih dahulu.

Umbi-umbian yang bisa digunakan antara lain singkong dan ubi jalar (Kaleka dan

Haryadi, 2013).

Kesehatan

Kesehatan kambing adalah hal yang patut dijaga karena dari kambing yang

sehatlah peternak akan menuai hasil. Menjaga kesehatan kambing bisa dilakukan

dengan cara preventif atau pencegahan dan kuratif atau pengobatan. Namun tentu

saja tindakan preventif jauh lebih baik. Selain lebih hemat karena tidak

perlu membeli obat, produktivitas kambing yang tidak sakit juga lebih baik

(Kaleka dan Haryadi, 2013).

1. Kontrol Penyakit

Ternak yang sakit akan memerlukan waktu untuk penyembuhan. Selama proses

penyembuhan itu pertumbuhan ternak menjadi tidak optimal. Hal itu tentu

merugikan dari peternak. Itulah pentingnya mengontrol dan melakukan

pencegahan terhadap penyakit. Meskipun terkenal sepele, beberapa hal tersebut

bisa mencegah datangnya penyakit pada kambing (Kaleka dan Haryadi, 2013).

a. Menjaga kebersihan kandang


Kandang yang bersih membuat kuman penyakit sulit berkembang. Artinya,

serangan kuman pada kambing akan jarang terjadi sehingga kesehatan

kambing lebih terjaga. Selain itu kambing akan menjadi lebih nyaman

di kandang. Oleh karenannya, sebaiknya kandang dibersihkan setiap hari.

Selain membuang kotoran kambing celah kandang juga perlu dibersihkan

(Kaleka dan Haryadi, 2013).


b. Menjaga kelembaban dalam kandang
Kandang yang lembab tentu tidak baik bagi kesehatan kambing karena kondisi

ini membuat kuman mudah berkembang. Sirkulasi udara yang lancar bisa

menjaga agar kandang tidak terlalu lembab serta membuat udara dalam

kandang selalu bersih dan segar. Selain sirkulasi udara, sinar matahari dapat

mengurangi kelembaban dalam kandang. Oleh karena itu kandang sebaiknya

dibuat menghadap ke Timur. Apabila tidak memungkinkan diberi genting kaca

sehingga sinar matahari bisa masuk ke kandang (Kaleka dan Haryadi, 2013).
c. Mengkarantina kambing yang sakit
Kambing yang terkena penyakit perlu dikarantina di kandang yang agak jauh

agar tidak menularkan penyakit ke kambing lain. Di kandang karantina,

kambing diobati dan sebaiknnya tidak dikembalikan ke kandang pemeliharaan

sebelum benar-benar sembuh. Kambing yang baru dibeli juga perlu dikarantina

terlebih dahulu selama beberapa hari untuk memastikan kondisi kesehatannya

(Kaleka dan Haryadi, 2013).


d. Menjaga kualitas pakan yang diberikan
Pakan berkualitas yang diberikan dalam kuantitas yang cukup akan mampu

memenuhi kebutuhan kambing terhadap serangan penyakit ataupun terhadap

kondisi lingkungan yang buruk (Kaleka dan Haryadi, 2013).

2. Penyakit Yang Rentan Menyerang

Pengetahuan tentang penyakit pada kambing memang perlu dikuasai oleh

peternak. Meskipun jarang sakit, bukan berarti kambing tidak bisa sakit. Dengan

dasar pengetahuan yang dimiliki peternak akan mampu mengatasi permasalahan

penyakit yang muncul (Mulyono, 2003).

Penyakit yang sering kali menyerang ternak kambing antara lain:

a. Kudis atau kurap (scabies)


Penyakit ini disebabkan oleh tungau parasit Sarcoptes scabiei. Jenis

tungau ini masuk melalui kedalam jaringan kulit. Tungau ini mengakibatkan

pembengkakan dan bintik-bintik yang disebabkan kalenjar rambut yang

terhambat. Penyakit ini sering terjadi pada kambing muda, kambing yang

sedang bunting dan kambing perah (Murtidjo, 2001).


Gejala
- Sarcoptes scabiei menyukai bagian tubuh yang jarang rambutnya, misalnya

daerah telinga, tumit, sela paha dan ambing.


- Hewan terlihat tidak tenang akibat rasa gatal dengan menggaruk atau

menggosokkan pada benda keras. Rasa gatal tersebut timbul dari adanya

allergen yang merupakan hasil metabolisme Sarcoptes scabiei. Selain itu,

adanya aktifitas Sarcoptes scabiei misalnya berpindah tempat, juga dapat

menyebabkan gatal.
- Rambut rontok dan patah-patah akibat sering menggaruk pada bagian yang

gatal. Adanya kerusakan kulit dengan tepi yang tidak merata disertai

penebalan kulit (keropeng), kulit bersisik dan diikuti terjadinya reruntuhan

jaringan kulit.
- Nafsu makan hewan turun, dan pada akhirnya akan diikuti penurunan berat

badan sehingga hewan akan tampak kurus. Pada kasus yang berat dapat

mengakibatkan kematian.
Pengobatan
Pengobatan dapat dilakukan dengan injeksi (suntik) Ivermectin

(Ivomec: merk dagang). Dosis yang diberikan umunya 1 ml untuk 20 kg

bobot kambing. Pemberian dosis injeksi harus dikonsultasikan dengan

dokter hewan. Injeksi diulang 10-14 hari kemudian dari injeksi yang

pertama. Masa 10-14 hari adalah waktu yang diperlukan untuk sebuah telur

tungau Sarcoptes scabiei yang mungkin masih tersisa untuk menetas.

Ivomec umumnya dijual dalam kemasan 50 ml/botol.


Catatan: Ivomec tidak boleh diberikan kambing yang bunting karena dapat

menyebabkan keguguran. Selain itu Ivomec baru bisa diberikan pada

kambing diatas umur 2 bulan.


b. Kembung atau Masuk Angin

Biasanya kondisi ini disebabkan karena adanya perubahan iklim musim

hujan dan kemarau, yang akan mengakibatkan penyakit kembug atau timpani

ini muncul pada kambing. Kebanyakan kambing yang mengalami penyakit ini

akan memiliki perut yang besar, di karenakan pencernaan yang terganggu

dalam lambung kambing (Setiawan dan Tanius, 2003).

Gejala – gejala kambing mengalami kembung atau masuk angin

- Perut akan membesar, gelisah dan sulit bernafas.


- Pergerakan sangat lambat dan nafsu makan berkurang.
- Akan mengeluarkan cairan berwarna kuning pada bagian hidung.
- Kambing akan mengeluarkan suaranya selalu.
- Pada saat istirahat kambing akan mengulurkan lehernya, berupaya untuk

mengeluarkan angin yang ada di dalam tubuhnya.

Pengobatan penyakit kembung pada kambing

- Lakukan penyediaan minyak kelapa, minyak kedali atau minyak sawit,

dengan takaran 100-200 m atau 1 gelas. Kemudian lakukan pencekokan

minyak tersebut kedalam mulut bagian samping kambing.


- Memberikan obat antibiotic, misalnya penicullin yang bermanfaat untuk

mengurangi kadar gas yang ada di dalam rumen kambing.


- Dapat juga memberikan sejumlah obat-obatan seperti Anti Bloat (bahan

aktif: Dimethicone), untuk kambing/domba: 10 ml obat yang telah

diencerkan dengan 100 ml air, lalu diminumkan.

Studi Kelayakan Usaha


Studi kelayakan dapat dilakukan untuk menilai kelayakan investasi baik sebuah

proyek maupun bisnis yang sedang berjalan, sehingga kita mengetahui berhasil

atau tidaknya investasi yang telah ditanamkan. Studi kelayakan proyek merupakan

penelitian tentang layak atau tidaknya suatu proyek dibangun untuk jangka waktu

tertentu (Umar, 2001).

Investasi dapat dilakukan oleh swasta maupun negara dengan motif keuntungan

finansial ataupun keuntungan non finansial. Pihak swasta lebih berminat tentang

manfaat ekonomis suatu investasi. pemerintah dan lembaga nonprofit melihat

apakah proyek bermanfaat bagi masyarakat luas yang berupa penyerapan tenaga

kerja, pemanfaatan yang melimpah, dan penghematan devisa. Semakin luas skala

proyek maka dampak yang dirasakan baik secara ekonomi maupun social semakin

luas (Surwono, 2012).

BAHAN DAN METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum ini di laksanakan pada hari Jumat tanggal 03 November 2017 pada

pukul 14.00 sampai dengan selesai yang dilaksanakan di Jalan Klambir V Gang

Kapas, Sunggal, Sumatera Utara.

Alat dan Bahan

Alat

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah kamera sebagai alat

untuk mendokumentasikan gambar hasil praktikum, dan hp sebagai alat untuk

merekam hasil wawancara dengan pemilik peternakan kambing perah tersebut.

Bahan

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah buku untuk

mencatat hasil dari praktikum.

Metode Praktikum

- Dilakukan fieldtrip Kambing Perah di Jalan Klambir V Gang Kapas


- Dilakukan perkenalan kepada pemilik peternakan kambing perah tersebut
- Dibuat kuisioner
- Dilakukan sesi tanya jawab antara mahasiswa dengan pemilik peternakan
- Dicatat hasil penjelasan tersebut
- Dilakukan dokumentasi
- Dibuat laporan
- Di Acc laporan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

- Apa pakan yang berikan untuk kambing perah yang bapak pelihara?
Jawab: Hijauan berupa daun singkong, dan konsentrat berupa ampas tahu

sebanyak 10 karung perhari.


- Apakah bapak memberikan hijauan dan konsentrat sekaligus?
Jawab: Tidak, saya memberikan hijauan berupa daun singkong terlebih

dahulu, lalu setengah jam kemudian saya memberikan konsentrat

berupa ampas tahu tersebut.


- Kapan biasanya bapak memerah ternak kambing tersebut?
Jawab: Saya memerah 2 kali sehari. Dipagi hari sekitar jam 06.30 dan

sore hari pada jam 16.00- 17.00 WIB.


- Berapa produksi susu kambing tersebut?
Jawab: 10 liter perharinya, dan perbulan mencapai 300 liter
- Berapa penghasilan yang bapak peroleh dari penjualan susu?
Jawab: Rp. 15.000.000,- dengan harga perliter susu Rp. 50.000,-
- Apakah susu kambing yang telah diperah tersebut bapak olah kembali

menjadi kefir atau menjadi produk sabun berbahan dasar susu kambing?
Jawab: Tidak, susu yang ditelah diperah langsung dijual ketangan

konsumen tanpa proses pengolahan.


- Apakah kotoran kambing dari peternakan ini bapak olah kembali?
Jawab: Tidak, feses yang dikumpulkan selama sebulan langsung saya jual

seharga Rp. 600.000,- / coldisel


- Apakah bapak menerapkan sistem IB pada peternakan ini?
Jawab: Saya tidak melakukan sistem IB karena tidak pernah berhasil,

sehingga saya memilih melakukan sistem kawin alami pada

semua ternak kambing pada peternakan yang saya miliki.


- Penyakit apa yang sering menyerang kambing dipeternakan ini?
Jawab: Penyakit kembung yang biasa saya atasi dengan obat anti bloat,

dan penyakit kurap dengan saya berikan infomec atau hematopan,

hemabodi, ataupun hemadic.


- Apakah untuk cempe, susu yang diberikan dengan cara dicekoki dibantu

oleh peternak, atau kandang cempe digabungkan dengan kandang

indukan?
Jawab: Saya biasanya tidak pernah memerah susu untuk diberikan kepada

cempe. Biasanya setelah induk diberi makan dan pada pagi


harinya diperah pada jam 06.30. setelah melakukan proses

pemerahan, kandang cempe yang terpisah dari indukan, digiring

masuk ke kandang indukan lalu digabungkan agar anak

mendapatkan susu dari indukan tanpa dibantu dengan cara

dicekoki. Setelah 1-2 jam didalam kandang indukan, cempe di

keluarkan, dan dipisah kembali ke kandang khusus cempe. Dan

khusus dihari minggu kambing tidak diperah (memproduksi susu

untuk dijual), dan seharian penuh digabungkan bersama cempe

untuk mengistirahatkan indukan dan mensuplai susu untuk

cempe.

Pembahasan

Berdasarkan fieldtrip yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa sistem

pemeliharaan kambing perah pada peternakan Pak Yusuf di Jalan Klambir V Gang

Kapas adalah sistem pemeliharaan secara intensif, dimana kambing sepenuhnya

ada didalam kandang (sepanjang hari). Pada sistem ini perlu penanganan dan

perhatian khusus dari peternak, karena tidak dilakukannya penggembalaan pada

ternak. Pemeliharaan sistem ini harus memberikan ransum bernutrisi tinggi, tidak

hanya pemberian hijauan tetapi juga harus dipenuhi dengan pemberian konsentrat.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Mulyono dan Sarwono (2005), yang

menyatakan bahwa sistem ini memerlukan pengandangan terus menerus atau

tanpa penggembalaan, sistem ini dapat mengontrol dari faktor lingkungan yang
tidak baik dan mengontrol aspek-aspek kebiasaan kambing yang merusak. Dalam

sistem pemeliharaan ini perlu dilakukan penanganan khusus yaitu pemisahan

antara jantan dan betina, sehubungan dengan ini perlu memisahkan kambing

betina muda dari umur tiga bulan sampai cukup umur untuk dikembangbiakkan,

sedangkan untuk pejantan dan jantan harus dikandangkan atau ditambatkan

terpisah. Pertambahan bobot kambing yang digemukkan secara intensif bisa

mencapai 100-150 gram per hari dengan rata-rata 120 gram per hari atau 700-

1.050 gram dengan rata-rata 840 gram per minggu.

Berdasarkan fieldtrip yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa kandang

kambing harus memiliki fungsi untuk melindungi ternak dari segala jenis

gangguan cuaca dan sebagainya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Maulana, et al.

(2014), yang menyatakan bahwa bangunan kandang harus memiliki beberapa

fungsi, sebagai berikut: 1) Melindungi ternak kambing dan domba dari sinar

matahari yang berlebihan, angin, hujan, penyakit dan predator; 2) Melindungi

ternak kambing dan domba dari bahaya-bahaya luar, seperti pencuri, hewan-

hewan liar sebagai pemangsa maupun pembawa penyakit; 3) Memudahkan dalam

melakukan tatalaksana pemeliharaan, penanganan limbah dan aktifitas keseharian

kambing seperti makan, minum, tidur, kencing, atau buang kotoran; 4) Kandang

dapat mempermudah peternak dalam melakukan pengawasan dan menjaga

kesehatan ternak; 5) Sebagai tindakan preventif agar kambing tidak merusak

tanaman dan fasilitas lain yang berada di sekitar lokasi kandang, menghindari

terkonsumsinya pakan yang berbahaya bagi kesehatan kambing dan

memanfaatkan serta mengefisienkan lahan yang sempit.


Berdasarkan fieldtrip yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa lokasi

kandang peternakan kambing perah milik Pak Yusuf belum cukup baik karena

lokasi kandang yang masih dekat dengan pemukiman penduduk dan peternak

belum mengolah limbahnya, tetapi memiliki akses transportasi yang mudah. Hal

ini sesuai dengan pernyataan Ludgate (2006), yang menyatakan bahwa

pertimbangan yang harus dilakukan dalam memilih lokasi antara lain adalah :

ketersediaan sumber air untuk minum, memandikan dan membersihkan kandang

ternak, dekat dengan sumber pakan, kemudahan akses transportasi untuk

penyediaan pakan dan pemasaran, tersedia areal untuk perluasan jika dibutuhkan,

lokasi lebih tinggi dari sekelilingnya sehingga memudahkan untuk pembuangan

limbah dan menghindari genangan air pada waktu hujan, jarak kandang dengan

bangunan umum dan perumahan minimal 10 m, tidak mengganggu kesehatan

lingkungan, relatif jauh dari jalan umum dan limbah ternak dapat tersalur dengan

baik.

Berdasarkan fieldtrip yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa tipe

kandang yang digunakan pada peternakan ini adalah tipe kandang panggung dan

di bawah kandang memiliki kolong yang berguna untuk menampung feses ternak

serta lebih mudah dalam sanitasi kandang. Hal ini sesuai dengan pernyataan

Prabowo (2013), yang menyatakan bahwa konstruksi kandang dibuat panggung di

mana di bawah lantai kandang terdapat kolong untuk menampung kotoran.

Dengan adanya kolong berfungsi untuk menghindari kebecekan dan kontak

langsung dengan tanah yang bisa jadi tercemar penyakit. Lantai kandang

ditinggikan antara 0,5–2 m.


Berdasarkan fieldtrip yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa pakan

hijauan yang diberikan pada peternakan Pak Yusuf yang berada di Jalan Klambir

V Gang Kapas adalah daun singkong yang memiliki kandungan protein kasar

yang cukup tinggi sekitar 28 %. Tidak hanya berupa hijauan yang diberikan

namun juga konsentrat sebagai bahan penguat untuk meningkatkan keserasian gizi

dari kesuluruhan pakan yang diberikan berupa ampas tahu. Hal ini sesuai dengan

pernyataan Kaleka dan Haryadi (2013), yang menyatakan bahwa pakan berupa

hijauan dan konsentrat (Bahan Penguat). Pakan hijuan dikelompokkan menjadi

dua, yaitu pakan rumput dan dedaunan. Pakan rumput antara lain, rumput gajah,

rumput lapangan, rumput raja, tebu, jerami. Pakan dedaunan antara lain, daun

nangka, waru, singkong, ketela rambat, turi, lamtoro, gamal, kacang tanah,

kedelai. Sedangkan pakan konsentrat disusun dari biji-bijian dan umbi-umbian.

Biji-bijian yang digunakan misalnya jagung, sorgum, bungkil kacang tanah,

ampas tahu, kacang tanah, dan kacang kedelai. Umbi-umbian yang bisa digunakan

antara lain singkong dan ubi jalar.

Berdasarkan fieldtrip yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa penyakit

kembung sangat sering menyerang kambing perah yang ada di peternakan milik

Pak Yusuf tersebut. Biasanya peternak memberi obat pada kambing tersebut

berupa anti bloat dengan cara diencerkan dengan 100 ml air lalu diberikan dengan

cara diminumkan kesetiap ternak yang sedang sakit kembung. Diakui peternak,

obat ini sangat manjur untuk menyembuhkan ternak apabila sedang kembung. Hal

ini sesuai dengan pernyataan Setiawan dan Tanius (2003), yang menyatakan

bahwa untuk pengobatan penyakit kembung pada kambing juga dapat diberikan

sejumlah obat-obatan seperti Anti Bloat (bahan aktif: Dimethicone), untuk


kambing/domba: 10 ml obat yang telah diencerkan dengan 100 ml air, lalu

diminumkan.

Berdasarkan fieldtrip yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa ternak

yang diperlihara tidak hanya sering mengalami penyakit kembung tetapi juga

penyakit kurap (scabies) yang disebabkan tungau parasit yang mengakibatkan

pembengkakan pada kulit. Pengobatan yang dilakukan peternak bila ada ternak

yang sedang terkena scabies adalah dengan memberikan Infomec melalui injeksi

(suntikan). Namun bila tidak ada infomec dapat diberikan obat lain seperti

hematopan, hemabodi, dan hemadic. Hal ini sesuai dengan pernyataan Murtidjo

(2001), yang menyatakan bahwa pengobatan penyakit kurap dapat dilakukan

dengan injeksi (suntik) Ivermectin (Ivomec: merk dagang). Dosis yang diberikan

umunya 1 ml untuk 20 kg bobot kambing. Pemberian dosis injeksi harus

dikonsultasikan dengan dokter hewan. Injeksi diulang 10-14 hari kemudian dari

injeksi yang pertama. Masa 10-14 hari adalah waktu yang diperlukan untuk

sebuah telur tungau Sarcoptes scabiei yang mungkin masih tersisa untuk menetas.

Ivomec umumnya dijual dalam kemasan 50 ml/botol.

Analisa usaha peternakan kambing perah

a. Total modal
Peternakan kambing perah milk pak yusuf memiliki modal saat ini ialah

Rp 997.900.000, yang terdiri dari :

modal Jumlah harga/ satuan total harga


uraian
awal (unit) (ribu) (Rp) (ribu) (Rp)
1 lahan ( rante) 1 200 80000
biaya pembuatan
2 1 155000 155000
kandang
3 pejantan 3 4500 13500
4 indukan 30 4500 135000
5 mesin cowper 1 12000 12000
6 mobil 1 80000 80000
7 anakan 45 1500 67500
8 gudang pakan 1 8000 8000
9 ember 20 25 500
10 becak sorong 2 500 1000
11 biaya pekerja 2 2700 5400
12 lahan hijauan 10000 50 500000
13 tenaga kerja anak-anak 2 300 10000
14 kambing dara 30 2500 10000
total 997900

b. Biaya produksi
Biaya variabel
Biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan selama ada masa produksi.

Biaya variabel yang harus dikeluarkan selama setahun ialah Rp 344.800.000,.

Biaya variabel terdiri dari:

no uraiaian harga/tahun (Rp)


1 biaya pakan dan konsentrat 138700
2 biaya tenaga kerja 76800
3 air dan listrik 1800
4 obat-obatan dan vaksin 109500
5 transportasi 18000
total 344800
Biaya tetap

Biaya tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan walaupun perusahaan

tidak berproduksi. Biaya variabel yang harus dikeluarkan selama setahun ialah

Rp 15.298.600,. biaya tetap terdiri dari:


Harga
harga umur
(H0)
No Uraian akhir produksi H0-H1 penyusutan
(ribu)
(H1) (tahun)
Rp
1 Kandang 155000 10000 20 145000 7250
Tempat
2 8000 500 10 7500 750
Pakan
Mesin
3 12000 1000 10 11000 1100
Cowper
4 Mobil 80000 20000 10 60000 6000
5 Ember 500 20 5 480 96
Gerobak
6 1000 100 10 900 90
Sorong
7 Sekop 100 10 10 90 9
8 Jerigen 20 2 5 18 3,6
Total 15298,6

Biaya yang dikeluarkan selama setahun ialah total dari biaya varaiabel dan

biaya tetap yaitu Rp 360.099.000.

c. Pemasukan

Pemasukan peternakan berasal dari penjualan produksi susu dan produksi

kambing anakan atau cempe. Total pemasukan per tahun ialah Rp 495.000.000,.

Jumlah Produksi Produksi Selama Harga Satuan Total Harga


No Ternak Harian 6 Bulan (Ribu) Rp (Ribu) Rp
1 30 1,5 9000 50 450000
2 30 30 1500 45000
total 495000

Keuntungan yang diterima ialah selisih antara pemasukan dengan biaya

pengeluaran yaitu Rp 134.901.000,.

d. Analisa kelayakan usaha

Break event point (BEP)

BEP ialah titik impas perusahaan yang artinya tidak memiliki keuntungan

atau kerugian. BEP terbagi 2 yaitu BEP produksi dan BEP harga.
BEP produksi dari peternakan ialah perbandingan antara total biaya

pertahun dengan harga susu yaitu 7202 liter susu/tahun sedangkan produksi

pertahun ialah 9000 liter/tahun

BEP harga dari peternakan ialah perbandingan antara total biaya pertahun

dengan produksi susu yaitu Rp 40.000/liter dengan harga penjualan Rp

50.000/liter.

Revenue And Benefit Per Cost (R/C dan B/C)

R/C ialah perbandingan anatara pendapatan dengan biaya yang dikeluarka

yaitu 1,37. Jika R/C lebih besar dari satu maka usaha layak dijalankan. B/C ialah

perbandingan antara keuntungan dengan biaya yang dikeluarkan yaitu 0,37. Jika

R/C lebih besar daripada nol maka usaha layak dijalankan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
- Sistem pemeliharaan yang digunakan secara intensif dimana kambing

sepenuhnya ada didalam kandang (sepanjang hari).


- Tipe kandang yang digunakan adalah panggung, dibagian bawah memiliki

kolong untuk mempermudah dalam sanitasi kandang.


- Pakan hijauan yang diberikan adalah daun singkong yang dicacah, dan

konsentrat yang diberikan berupa ampas tahu.


- Penyakit yang sering menyerang kambing perah pada peternakan ini

adalah kembung dengan memberikan anti bloat sebanyak 10 ml obat yang

diencerkan dengan 100 ml air, lalu diminumkan. Dan penyakit scabies

dengan pemberikan Infomec melalui injeksi (suntikan) sebanyak 1 ml per

20 kg bobot ternak kambing.


- Analisa Kelayakan Usaha Kambing Perah diperoleh R/C sebesar 1,37.

Usaha Peternakan milik Pak Yusuf di Jalan Klambir V layak dijalankan

karena R/C lebih besar dari nol.

Saran

Disarankan kepada Peternakan Pak Yusuf di Jalan Klambir V Gang Kapas

agar selalu menjaga lingkungan kandang tetap bersih agar ternak tidak rentan

terhadap penyakit yang dapat merugikan peternak. Kedepannya kotoran

dipeternakan ini sebaiknya dapat diolah menjadi kompos sehingga memiliki nilai

jual yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Devendra dan Burns. 1994. Produksi kambing di daerah Tropis. Penerbit ITB.
Bandung.
Kaleka, N dan Haryadi, N. K. 2013. Kambing Perah. Solo: Arcita

Ludgate, P. J. 2006. Sukses Beternak Kambing dan Domba. Papas Sinar Sinanti.
Jakarta.

Maulana, S., Ryan Diky Juniarta, Nilna Ulfia, Ahmad Fauzi, Abdul Rahman,
Aditya Anugerah Putra. 2014. Sistem Perkandangan Kambing. Politeknik
Negeri Banyuwangi.

Mulyono, S. 2003. Teknik Pembibitan Kambing dan Domba. Cetakan Ke -V.


Penerbit PT Penebar Swadaya, Jakarta.

Mulyono, S dan B. Sarwono. 2005. Penggemukan Kambing Potong. Cetakan


kedua. Penebar Swadaya, Jakarta.

Murtidjo, B.A. 2001. Memelihara Kambing sebagai Ternak Potong dan Perah.
Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Nurdin. 2011. Manajemen Perkandangan. Penyuluh Pertanian Madya Kantor


Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian, Perikanan Kehutanan
Kabupaten Kulon Progo.

Prabowo. 2013. Manajemen Pemeliharan Kambing Potong. Fakultas Peternakan


Universitas Padjajaran. Bandung.

Sarwono, B. 2012. Beternak Kambing Unggul. Jakarta. Penebar Swadaya.

Setiawan, T dan A. Tanius. 2003. Beternak Kambing Perah Peranakan Etawa.


Penebar Swadaya, Jakarta.

Umar, H. 2001.. Studi Kelayakan Bisnis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.


LAMPIRAN