Anda di halaman 1dari 9

STAKEHOLDERS PROSES PERENCANAAN DI INDONESIA AKTOR-

AKTOR PERENCANAAN
(Tugas Mata Kuliah: Hukum dan Administrasi Perencaan)

Oleh :
Alit Aji Prastyo
Wisnu Pratama Moectar

PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER
UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA
BANDUNG
2017
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam penyusunan kebijakan yang baik disyaratkan adanya partisipasi,


akuntabilitas dan transparansi. Salah satu indikator terpenuhinya prasyarat
tersebut adalah adanya peran serta stakeholder dalam perumusan kebijakan
program.

Keterlibatan stakeholder secara intesif yang dimulai dari proses penyusunan


sampai dengan pelaksanaan program sangat penting dilakukan supaya kebijakan
program tersebut dapat dipahami dan diterima secara luas serta dapat
meningkatkan sistem kontrol sosial untuk meminimalkan dampak negatif yang
mungkin timbul serta mendukung efektifitas pelaksanaan kebijakan.

Dilibatkannya stakeholder dalam penyusunan rencana kebijakan perusahaan dapat


mempermudah perusahaan dalam memperoleh pinjaman modal dari lembaga
keuangan. Hal ini dikarenakan banyak lembaga keuangan yang mensyaratkan para
peminjamnya untuk berinteraksi dengan baik dan sistematis dengan para
pemangku kepentingan (stakeholder)

Kerjasama yang dilakukan perusahaan tidak hanya meliputi satu stakeholder saja
tapi pasti dengan banyak stakeholder-stakeholder lain baik di tingkat lokal, tingkat
nasional dan internasional. Kerjasama yang terjalin antara perusahaan dengan
stakeholder-stakeholder tersebut akan membentuk suatu multi-stakeholders.
Terbentuknya Multi-stakeholders ini akan mempermudah perusahaan dalam
mengimplementasikan dan mengawasi kebijakan program
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Stakeholders
Istilah stakeholder telah dipakai oleh banyak pihak dalam hubungannnya dengan
berbagai ilmu atau konteks, misalnya manajemen bisnis, ilmu komunikasi,
pengelolaan sumberdaya alam, sosiologi, dan lain-lain. Lembaga-lembaga publik
telah menggunakan secara luas istilah stakeholder ini ke dalam proses-proses
pengambilan dan implementasi keputusan.

Menurut Freeman (dalam Bryson, 2001), stakeholder dalam lingkup bisnis


merupakan kelompok atau individu yang dipengaruhi dan mempengaruhi masa
depan perusahaan yaitu pelanggan, pekerja, pemilik, pemerintah, lembaga
keuangan dan kritikus. Sedangkan dalam konteks organisasi, baik di pemerintahan
maupun swasta. Bryson (2001), mendefinisikan stakeholder sebagai individu,
kelompok atau organisasi apapun yang dapat melakukan klaim atau perhatian
terhadap sumber daya atau hasil organisasi atau dipengaruhi oleh hasil itu.

2.2 Jenis Stakeholder

Pertama : Pengambil kebijakan, baik yang ada di Lembaga Pemerintahan


maupun Lembaga Non Pemerintah, mereka yang menjabat sebagai pimpinan
(leader), mempunyai kewenangan membuat kebijakan dalam lembaganya,
Kebijakan yang didasarkan pada undang-undang atau aturan
negara/lembaga/institusi, mempunyai permasalahan pembangunan yang sering
muncul dan mempunyai tujuan meniadakan permasalahan yang sering muncul.

Kedua : adalah mereka yang melaksanakan program pembangunan atau


mereka yang memberikan pelayanan (provider). Mereka ini, akan bekerja
sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. Misalnya saja
dibidang kesehatan, mereka yang tergolong provider adalah dokter, perawat,
bidan, tenaga gizi, sanitarian, dan petugas kesehatan masyarakat lainnya. Yang
perlu diperhatikan disini adalah pemberi pelayanan yang bersifat publik
(masyarakat) atau kelompok masyarakat bukan yang bersifat induvidu, walaupun
dalam masyarakat itu sendiri terdapat induvidu-induvidu. Induvidu yang bersifat
publik adalah individu yang mempunyai permasalahan yang sama. Misalnya
orang yang tidak punyai WC atau orang yang membuang hajat (BAB= Buang Air
Besar) disembarang tempat. Atau juga orang-orang yang sakit dengan penyakit
yang sama, bila dipresentasekan telah dikategorikan sebagai masalah kesehatan
masyarakat bukan masalah induvidu.

Ketiga : orang-orang yang berkepentingan, yang selalu disebut tetapi selalu


diabaikan, yang selalu menjadi sasaran pembangunan tetapi bukan dijadikan
subjek tetapi objek, yang selalu didiskusikan, dibicarakan tetapi tidak dilibatkan
dalam diskusi dan pembicaraan. Mereka (orang-orang yang berkepentingan) itu
adalah penerima pelayanan, penerima dampak dari suatu pembangunan yaitu
masyarakat atau kelompok masyarakat, atau induvidu-induvidu yang
mempunyai masalah yang sama.

2.3 Hambatan Proses Perencanaan


perencanaan di suatu negara terkadang tidak lepas dari berbagai hambatan yang
membuat negara tersebut terhambat dan gagal dalam perencanaan dan
pembangunan suatu negara. Di indonesia sendiri terdapat banyak hambatan yang
dihadapi di antaranya adalah

 Kemiskinan

Kemiskinan di indonesia menjadi hambatan dalam pembangunan karena banyak


orang-orang miskin yang tidak mampu mengembangkan potensi dirinya menjadi
lebih baik. Untuk membangun suatu negara agar menjadi lebih baik tidak hanya
membutuhkan peran pemerintah saja tetapi masyarakat juga harus berperan untuk
membantu pemerintah dalam membangun dan mengatasi permasalahan –
permasalahan yang ada di negara.

 Pengaruh globalisasi
Globalisasi yang merupakan sebuah kenyataan yang tidak bisa dielakkan karena
terikat berbagai konvensi baik ditingkat Asean dan Asia bahkan dunia. Dengan
adanya pasar bebas,pada tingkat dunia yang diberlakukannya General Agreement
on Tariff and Trade (GATT) maupun pada tingkat regional seperti ASEAN Free
Trade Area (AFTA).

 Sikap dan perilaku

Sikap dan perilaku menunjukkan baik atau buruknya sistem perencanaan yang
akan di rancang oleh pemerintah. Sikap dan perilaku itu bisa dilihat dari
pemerintah dan masyarakat itu sendiri.

 Konsistensi kebijakan dan kepastian hukum

Pemerintah seringkali tidak konsisten dengan perencanaan yang telah


disusun,kadang rencana hanya tinggal rencana selain itu kepastian hukum di
indonesia tidaklah terjamin.
Implementasinya diindonesia seperti rencana E-government (e-gov) intinya adalah
proses pemanfaatan teknologi informasi sebagai alat untuk membantu
menjalankan sistem pemerintahan secara lebih efisien. Namun rencana ini
terhambat karena penetrasi pasar hardware dan provider layanan jasa teknologi
komunikasi dan informasi belum merata hingga daerah - daerah dan mahalnya
sarana dan prasarana teknologi ICT. Di beberap daerah terpencil di Indonesia
masih belum tersedia saluran telekomunikasi atau bahkan aliran listrik.

2.4 Keterlibatan multi-stakeholder Dalam Perencanaan


Stakeholder adalah orang-orang yang berkepentingan atau yang terlibat dalam
pelaksanaan program pembangunan. Stakeholder ini mempunyai 3 komponen sub
system, yakni Subsistem pengambil kebijakan, pemberi pelayanan, serta penerima
dampak. Dalam dunia perencanaan, peran stakeholder amatlah penting untuk
mencapai sebuah visi misi serta tujuan yang telah disepakati sebelumnya.
Dalam dunia perencanaan (terutama pembangunan), maka orang-orang tersebut
adalah :
Yang pertama adalah pengambil kebijakan. Pengambil kebijakan ini biasanya
dipegang oleh Lembaga Pemerintahan maupun Lembaga Non Pemerintah.
Sebagai leader, mereka mempunyai beberapa tugas dan kewenangan untuk
membuat kebijakan untuk diterapkan dalam lembaga dibawahnya. Dan kebijakan
tersebut harus didasarkan pada peraturan perundang-undangan, aturan/norma
Negara/lembaga/institusi yang sudah disepakati sebelumnya. Tentunya, dalam
menetapkan kebijakan, seorang stakeholder harus mempertimbangkan dengan
matang apa saja positif serta negatifnya. Manfaat maupun resikonya. Sehingga
apabila nanti kebijakan tersebut menuai kontra, tentunya Stakeholder sudah
menyusun beberapa rencana untuk mengatasinya. Kebijakan yang diambil
haruslah dapat diterima dengan baik oleh lembaga di bawahnya, sehingga esensi
dari kebijakan tersebut dapat diterapkan dengan tanggungjawab oleh mereka yang
melaksanakan sebuah program kegiatan.

Selanjutnya, dari kebijakan yang telah ditetapkan oleh Stakeholder, mereka


yang melaksanakan program pembangunan, akan mengerjakan program tersebut
sesuai dengan ilmu pengetahuan, pengalaman, serta skill yang dimilikinya. Dalam
memberikan pelayanan ini, mereka harus mengutamakan public atau masyarakat
secara menyeluruh, bukan fokus pada setiap individu. Meskipun seperti yang
kita tahu, di dalam masyarakat tentunya ada individu-individu. Yang dimaksud
disini adalah orang yang mempunyai problema yang sama. Misalnya saja,
permasalahan kondisi pasar yang kurang nyaman untuk melkukan transaksi jual
beli. Pengambil kebijakan serta pelaksana haruslah bekerja sama dan mencari
solusi terbaik bagi masyarakat pada umumnya.

Orang-orang berkepentingan terakhir adalah sasaran pembangunan itu sendiri,


yang menjadi objek dalam suatu perencanaan. Mereka adalah masyarakat,
kelompok masyarakat, ataupun individu yang mempunyai kesamaan
permasalahan. Mereka adalah tolak ukur keberhasilan suatu perencanaan, karena
mereka lah yang akan memberikan penilaian atas program yang telah dilakukan.

Dapat dilihat, betapa pentingnya peran seorang pengambil kebijakan dalam


suatu program perencanaan. Karena dari kebijakan yang telah dibuat itu, dapat
menuai pro dan kontra dari masyarakat. Namun yang perlu digaris bawahi,
seharusnya antara ketiga komponen sub system stakeholder ini sebelumnya harus
saling bermusyawarah, mencari solusi terbaik atas sebuah masalah untuk dapat
dipecahkan dengan minimalisasi resiko ataupun dampak buruk. Sehingga,
hasilnya bisa diterima dengan baik, dan bermanfaat bagi semua elemen
masyarakat.
KESIMPULAN

Jadi peran stakeholder sangat penting dalam pembangunan karna stakeholder


sebagai orang yang memiliki kendali dalam pembangunan tersebut agar setiap
kegiatan perencanaan bisa tercapai serta sesuai dengan targetan yang ingin dicapai
dalam setiap kegiatannya, namun peran stakeholder perlu skali dukungan dari
aspek-aspek lain sebagai bantuan pencapaian targetanya.
Dafatar Pustaka
Damanik, Ericson. 2013. Pengertian Stakeholder.www.sondyi.com. diakses 19
oktober 2017
https://perencanaankota.blogspot.co.id/2013/11/beberapa-pengertian-
stakeholder.h