Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pernyataan Masalah

Pengadukan adalah operasi yang menciptakan gerakan dari bahan-bahan yang


diaduk, umumnya dilakukan untuk mencampur dan mendispersikan bahan. Bahan yang
diaduk bisa berupa dua cairan yang saling melarut, padatan dalam cairan, gas dalam
cairan dalam bentuk gelembung. Pengadukan juga dapat dilakukan untuk mempercepat
perpindahan panas, contohnya pada pemanasan fluida dengan koil dan/atau jaket
pemanas.

Biasanya dalam alat tangki berpengaduk yang merupakan satu sistem


pencampuran dapat dilengkapi dengan impeller dan baffle. Prinsip kerja tangki
pengaduk sendiri adalah mengubah energi listrik motor yang memutar shaft impeller
menjadi energi kinetik aliran fluida dalam tangki berpengaduk. Energi kinetik tersebut
menimbulkan sirkulasi aliran fluida di ujung blade impeller sehingga terjadi proses
pencampuran. Pencampuran dalam tangki terjadi karena adanya gerak rotasi dari
pengaduk dalam fluida. Gerak pengaduk ini „memotong‟ fluida tersebut dan dapat
menimbulkan arus eddy yang bergerak dan menciptakan aliran di seluruh bagian fluida.
Pemilihan jenis dan geometri pengaduk dilakukan berdasarkan sifat fisik fluida,
terutama viskositas. Selain jenis dan geometri pengaduk, kecepatan pengadukan juga
mempengaruhi pola aliran melingkar. Kecepatan yang terlalu tinggi dapat
mengakibatkan pusaran atau biasa disebut vorteks. Vorteks ini tidak diharapkan dalam
pengadukan karena menyebabkan penurunan kualitas pengadukan, masuknya udara ke
dalam fluida, dan tumpahnya fluida akibat kenaikan permukaan fluida. Faktor-faktor
yang mempengaruhi proses pengadukan dan pencampuran antara lain konfigurasi
tangki, jenis dan geometri pengaduk, posisi sumbu pengaduk, kecepatan putaran
pengaduk, dan sifat fisik fluida yang diaduk. Jenis dan geometri pengaduk erat
kaitannya dengan pola aliran pengadukan yang terjadi dan daya yang dihasilkan dari
pengadukan tersebut.

1
1.2 Tujuan Percobaan

1. Dapat menjelaskan pola-pola aliran yang terjadi dalam tangki berpengaduk


2. Dapat menjelaskan pengaruh pengunaan sekat dan tanpa sekat pada pola aliran
yang ditimbulkan
3. Dapat menghitung kebutuhan daya yang diperlukan untuk suatu operasi
pencampuran
4. Dapat menentukan karakteristik daya pengaduk

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mixer

Mixer merupakan salah satu alat pencampur dalam sistem emulsi sehingga
menghasilkan suatu dispersi yang seragam atau homogen. Terdapat dua jenis mixer
yang berdasarkan jumlah propeler-nya (turbin), yaitu mixer dengan satu propeller dan
mixer dengan dua propeller. Mixer dengan satu propeller adalah mixer yang biasanya
digunakan untuk cairan dengan viskositas rendah. Sedangkan mixer dengan dua
propeller umumnya digunakan pada cairan dengan viskositas tinggi. Hal ini karena satu
propeller tidak mampu mensirkulasikan keseluruhan massa dari bahan pencampur
(emulsi), selain itu ketinggian emulsi bervariasi dari waktu ke waktu.

Pencampuran merupakan operasi yang bertujuan mengurangi ketidaksamaan


kondisi, suhu, atau sifat lain yang terdapat dalam suatu bahan. Pencampuran dapat
terjadi dengan cara menimbulkan gerak di dalam bahan itu yang menyebabkan bagian-
bagian bahan saling bergerak satu terhadap yang lainnya, sehingga operasi pengadukan
hanyalah salah satu cara untuk operasi pencampuran. Pencampuran fasa cair merupakan
hal yang cukup penting dalam berbagai proses kimia. Pencampuran fasa cair dapat
dibagi dalam dua kelompok. Pertama, pencampuran antara cairan yang saling tercampur
(miscible), dan kedua adalah pencampuran antara cairan yang tidak tercampur atau
tercampur sebagian (immiscible). Selain pencampuran fasa cair dikenal pula operasi
pencampuran fasa cair yang pekat seperti lelehan, pasta, dan sebagainya; pencampuran
fasa padat seperti bubuk kering, pencampuran fasa gas, dan pencampuran antar fasa.
Mixer merupakan proses mencampurkan satu atau lebih bahan dengan menambahkan
satu bahan ke bahan lainnya sehingga membuat suatu bentuk yang seragam dari
beberapa konstituen baik cair – padat, padat – padat, maupun cair - gas. Komponen
yang jumlahnya lebih banyak disebut fasa kontinyu dan yang lebih sedikit disebut fasa
disperse (Uhl, dkk, 1996).

3
2.2 Proses Pencampuran

Proses pencampuran dalam fasa cair dilandasi oleh mekanisme perpindahan


momentum di dalam aliran turbulen. Pada aliran turbulen, pencampuran terjadi pada 3
skala yang berbeda, yaitu:
1. Pencampuran sebagai akibat aliran cairan secara keseluruhan (bulk flow) yang
disebut mekanisme konvektif.
2. Pencampuran karena adanya gumpalan-gumpalan fluida yang terbentuk dan
tercampakkan di dalam medan aliran yang dikenal sebagai eddies, sehingga
mekanisme pencampuran ini disebut eddy diffusion.
3. Pencampuran karena gerak molekular yang merupakan mekanisme pencampuran
difusi.

Ketiga mekanisme terjadi secara bersama-sama, tetapi yang paling menentukan


adalah eddy diffusion. Mekanisme ini membedakan pencampuran dalam keadaan
turbulen daripada pencampuran dalam medan aliran laminer.Sifat fisik fluida yang
berpengaruh pada proses pengadukan adalah densitas dan viskositas.

Pengadukan dan pencampuran merupakan operasi yang penting dalam industry


kimia. Pencampuran (mixing) merupakan proses yang dilakukan untuk mengurangi
ketidakseragaman suatu sistem seperti konsentrasi, viskositas, temperatur dan lain-lain.
Pencampuran dilakukan dengan mendistribusikan secara acak dua fasa atau lebih yang
mula-mula heterogen sehingga menjadi campuran homogen. Peralatan proses
pencampuran merupakan hal yang sangat penting, tidak hanya menentukan derajat
homogenitas yang dapat dicapai, tapi juga mempengaruhi perpindahan panas yang
terjadi. Penggunaan peralatan yang tidak tepat dapat menyebabkan konsumsi energi
berlebihan dan merusak produk yang dihasilkan.Salah satu peralatan yang menunjang
keberhasilan pencampuran ialah pengaduk.

Hal yang penting dari tangki pengaduk dalam penggunaannya antara lain:
1. Bentuk: pada umumnya digunakan bentuk silindris dan bagian bawahnya
cekung.
2. Ukuran: yaitu diameter dan tinggi tangki
3. Kelengkapannya:

4
a. ada tidaknya baffle, yang berpengaruh pada pola aliran di dalam tangki
b. Jacket atau coil pendingin/pemanas yang berfungsi sebagai pengendali suhu.
c. Letak lubang pemasukan dan pengeluaran untuk proses kontinu.
d. Kelengkapan lainnya seperti tutup tangki, dan sebagainya.

Prinsip pencampuran bahan banyak diturunkan dari prinsip mekanika fluida dan
perpindahan bahan, karena pencampuran bahan akan ada bila terjadi gerakan atau
perpindahan bahan yang akan dicampur baik secara horizontal ataupun vertikal. Ada
dua jenis pencampuran, yaitu (1) pencampuran sebagai proses terminal sehingga
hasilnya merupakan suatu bahan jadi yang siap pakai, dan (2) pencampuran merupakan
proses pelengkap atau proses yang mempercepat proses lainnya seperti pemanasan,
pendinginan atau reaksi kimia.

Gambar 2.1 adalah gambar aliran yang terjadi di dalam bahan sehingga
pencampuran akan terjadi dengan cepat dan teratur.

Gambar 2.1 Aliran yang terjadi di dalam bahan

2.3 Fluida

Fluida adalah suatu zat yang mengalami perubahan bentuk secara kontinyu
apabila terkena tegangan geser (shear stress) betapapun kecilnya. Definisi lain
mengatakan bahwa fluida adalah zat yang mampu mengalir, sehingga fluida juga sering
disebut zat alir.

Fluida yang dialirkan didalam pipa memiliki kecepatan aliran yang dapat naik
dan turun, berdasarkan luas permukaan pipa dengan debit aliran fluida dari daya pompa
yang bekerja. Pemecahan masalah kecepatan aliran fluida selalu membutuhkan

5
pengetahuan tentang sifat-sifat dari fluida yang digunakan. Ketepatan nilai dari sifat
tersebut dapat berpengaruh terhadap aliran fluida. Sifat-sifat tersebut adalah:

a. Viskositas atau kekentalan


Viskositas adalah ukuran ketahanan fluida terhadap deformasi (perubahan
bentuk) akibat tegangan geser ataupun deformasi sudut (angular deformation).
Viskositas banyak dipengaruhi oleh gaya kohesi antar molekul. Viskositas dari suatu
fluida dihubungkan dengan tahanan terhadap gaya menggeser fluida pada lapisan yang
satu dengan yang lainnya. Bila suhu naik gaya kohesi akan berkurang sehingga
viskositasnya berkurang, jadi kenaikkan suhu pada zat cair akan
menurunkan viskositasnya. Viskositas rendah maksudnya partikel fluida bergeser
dengan mudah seperti : air, kerosin. Viskositas tinggi maksudnya bahwa partikel fluida
tidak bergeser dengan mudah seperti : fuel oil, aspal, viskositas dari cairan (liquid)
menurun dengan naiknya temperature. Suatu keadaan yang melukiskan efek viskositas
dapat ditunjukkan oleh suatu lapisan yang terletak pada ruang kecil diantara dua plat.

b. Kerapatan Massa (Density)

Kerapatan massa suatu zat adalah perbandingan antara massa dengan volume.

𝑚
ρ= ...................................................................... (1.1)
𝑣

dengan:
p : massa jenis, kerapatan massa atau density (kg/m3)
m: massa zat (kg)
V : volume zat (m3).

c. Volume Jenis (Spesific Volume)

Volume jenis merupakan volume yang ditempati oleh satu-satuan massa zat
tersebut atau kebalikan dari kerapatan.

1
v = ....................................................................... (1.1)
ρ

6
2.4 Tujuan Operasi Pengadukan

Pengadukan zat cair dilakukan untuk berbagai maksud, antara lain:


a. Mencampur dua cairan yang saling melarut.
b. Melarutkan padatan dalam cairan.
c. Mendispersikan gas dalam cairan dalam bentuk gelembung.
d. Mempercepat perpindahan panas antara fluida dengan koil pemanas dan
jacet pada dinding bejana.

2.5 Alat Pengaduk Sederhana

Rangkaian alat pengaduk sederhana terdiri dari, bejana/tangki (vessel), yang


mungkin dilengkapi penutup, dan mungkin terbuka ke atas.Ujung bawah tangki,
umumnya membulat, bertujuan untuk mengurangi sudut tajam pada tangki, yang dapat
mempengaruhi pola sirkulasi di dalam tangki itu sendiri.Pengaduk (impeller) dipasang
pada ujung poros pemutar yang ditumpu dari atas.Poros tersebut digerakkan oleh
motor.Gambar 1.2 adalah gambar alat pengaduk sederhana.

motor

pereduksi
gerak

permukaan
aliran cairan
inlet
sumur
mantel termometer
pemanas
poros
sekat impeler

katup
pengeluaran

Gambar 2.2 Alat pengaduk sederhana

Rangkaian alat pengadukan dapat juga dilengkapi dengan acsesoris lainnya,


seperti lubang masuk dan keluaran, kumparan pemanas (koil kalor) untuk pengadukan

7
yang membutuhkan kalor, jacket (mantel) untuk menjaga suhu pengadukan agar tetap
konstan, lubang thermometer untuk menganalisa suhu pengadukan, dan lain-lain.

2.6 Jenis Pengadukan

Pengaduk dalam tangki memiliki fungsi sebagai pompa yang menghasilkan laju
volumetrik tertentu pada tiap kecepatan putaran dan input daya. Input daya dipengaruhi
oleh geometri peralatan dan fluida yang digunakan Walas (1988). Indikasi dari rentang
viskositas pada setiap jenis pengaduk adalah :

 Pengaduk jenis baling-baling digunakan untuk viskositas fluida di bawah Pa.s


(3000 cP)
 Pengaduk jenis turbin bisa digunakan untuk viskositas di bawah 100 Pa.s
(100.000 cp)
 Pengaduk jenis dayung yang dimodifikasi seperti pengaduk jangkar bisa
digunakan untuk viskositas antara 50 - 500 Pa.s (500.000 cP)
 Pengaduk jenis pita melingkar biasa digunakan untuk viskositas di atas 1000
Pa.s dan telah digunakan hingga viskositas 25.000 Pa.s. Untuk viskositas lebih
dari 2,5 - 5 Pa.s (5000 cP) dan diatasnya, sekat tidak diperlukan karena hanya
terjadi pusaran kecil.

Sedangkan menurut bentuknya, pengaduk dapat dibagi menjadi tiga golongan:

1. Propeller
Kelompok ini biasa digunakan untuk kecepatan pengadukan tinggi dengan arah
aliran aksial. Pengaduk ini dapat digunakan untuk cairan yang memiliki viskositas
rendah dan tidak bergantung pada ukuran serta bentuk tangki. Kapasitas sirkulasi yang
dihasilkan besar dan sensitif terhadap beban head. Dalam perancangan propeller, luas
sudut biasa dinyatakan dalam perbandingan luas area yang terbentuk dengan luas
daerah. Nilai nisbah ini berada pada rentang 0.45 sampai dengan 0.55. Pengaduk
propeller terutama menimbulkan aliran arah aksial, arus aliran meninggalkan pengaduk
secara kontinyu melewati fluida ke satu arah tertentu sampai dibelokkan oleh dinding
atau dasar tangki.

8
Gambar 2.3 Bentuk pengaduk propeler

2. Turbine

Pengaduk jenis ini digunakan pada viskositas fluida rendah seperti halnya
pengaduk jenis propeller. Pengaduk turbin menimbulkan aliran arah radial dan
tangensial. Di sekitar turbin terjadi daerah turbulensi yang kuat, arus dan geseran yang
kuat antar fluida. Salah satu jenis pengaduk turbine adalah pitched blade. Aliran terjadi
pada arah aksial, meski demikian terdapat aliran yang lemah pada arah radial. Aliran ini
akan mendominasi jika sudu berada dekat dengan dasar tangki.

Gambar 2.3 Bentuk pengaduk turbine

3. Paddle

Pengaduk jenis ini sering memegang peranan penting pada proses pencampuran
dalam industri. Bentuk pengaduk ini memiliki minimum 2 sudu, horizontal atau
vertikal, dengan nilai D/T yang tinggi. kecepatan diantaranya 20 hingga 150 rpm pada

9
industri kimia. Dayung datar berdaun dua atau empat biasa digunakan dalam sebuah
proses pengadukan. Panjang total dari pengadukan dayung biasanya 50 - 80% dari
diameter tangki dan lebar dari daunnya 1/6 - 1/10 dari panjangnya (McCabe 1993).

Paddle digunakan pada aliran fluida laminar, transisi atau turbulen tanpa baffle.
Pengaduk padel menimbulkan aliran arah radial dan tangensial dan hampir tanpa gerak
vertikal sama sekali. Arus yang bergerak ke arah horisontal setelah mencapai dinding
akan dibelokkan ke atas atau ke bawah.

Gambar 2.4 Bentuk pengaduk paddle

2.7 Posisi Sumbu Pengaduk

Dalam proses pengadukan hal yang biasa dihindari adalah proses terjadinya
vortek, Pada umumnya proses pengadukan dan pencampuran dilakukan dengan
menempatkan pengaduk pada pusat diameter tangki (center). Posisi ini memiliki pola
aliran yang khas. Pada tangki tidak bersekat dengan pengaduk yang berputar di tengah,
energi sentrifugal yang bekerja pada fluida meningkatkan ketinggian fluida pada
dinding dan memperendah ketinggian fluida pada pusat putaran, Pola ini biasa disebut
dengan pusaran (vortex) dengan pusat pada sumbu pengaduk. Pusaran ini akan menjadi
semakin besar seiring dengan peningkatan kecepatan putaran yang juga meningkatkan
turbulensi dari fluida yang diaduk. Pada sebuah proses dispersi gas-cair, terbentuknya
pusaran tidak diinginkan. Hal ini disebabkan pusaran tersebut bisa menghasilkan
dispersi udara yang menghambat dispersi gas ke cairan dan sebaliknya. Salah satu
upaya untuk menghilangkan pusaran ini adalah dengan merubah posisi sumbu

10
pengaduk. Posisi tersebut berupa posisi sumbu pengaduk tetap tegak lurus namun
berjarak dekat dengan dinding tangki (off center) dan posisi sumbu berada pada arah
diagonal (incline). Perubahan posisi ini menjadi salah satu variasi dalam penelitian yang
dilakukan.

(a) (b) (c)


Gambar 2.5 (a) Tata letak batang pengaduk terhadap bejana pengaduk. (b)
Terbentuknya vortex (c) Proses pengadukan dengan
pemasangan buffle.

Tujuan pemasangan buffle adalah untuk memotong resultan dari gaya


sentripertal dengan gaya gravitasi pada proses pengadukan (MmcCabe, 1993). Sehingga
vortek dapat dihindari. Pemasangan buffle mempunyai batasan tersendiri dengan
mengikuti perbandingan dari diameter pengaduk, diameter dari tangki atau bejana
pengaduk dan lebar buffle.

2.8 Kecepatan Pengaduk

Salah satu variasi dasar dalam proses pengadukan dan pencampuran adalah
kecepatan putaran pengaduk yang digunakan. Variasi kecepatan putaran pengaduk bisa
memberikan gambaran mengenai pola aliran yang dihasilkan dan daya listrik yang
dibutuhkan dalam proses pengadukan dan pencampuran. Secara umum klasifikasi
kecepatan putaran pengaduk pada industri kimia dibagi tiga, yaitu : kecepatan putaran
rendah, sedang dan tinggi.
2.8.1 Kecepatan Putaran Rendah

Kecepatan rendah yang digunakan berkisar pada kecepatan 400 rpm.


Pengadukan dengan kecepatan ini umumnya digunakan untuk minyak kental, lumpur

11
dimana terdapat serat atau pada cairan yang dapat menimbulkan busa. Jenis pengaduk
ini meghasilkan pergerakan batch yang empurna dengan sebuah permukaan fluida yang
datar untuk menjaga temperatur atau mencampur larutan dengan viskositas dan gravitasi
spesifik yang sama.

2.8.2 Kecepatan Putaran Sedang

Kecepatan sedang yang digunakan berkisar pada kecepatan 1150 rpm. Pengaduk
dengan kecepatan ini umumnya digunakan untuk larutan sirup kental dan minyak
pernis. Jenis ini paling sering digunakan untuk meriakkan permukaan pada viskositas
yang rendah, mengurangi waktu pencampuan, mencampuran larutan dengan viskositas
yang berbeda dan bertujuan untuk memanaskan atau mendinginkan.

2.8.3 Kecepatan Putaran Tinggi

Kecepatan tinggi yang digunakan berkisar pada kecepatan 1750 rpm. Pengaduk
dengan kecepatan ini umumnya digunakan untuk fluida dengan viskositas rendah
misalnya air. Tingkat pengadukan ini menghasilkan permukaan yang cekung pada
viskositas yang rendah dan dibutuhkan ketika waktu pencampuran sangat lama atau
perbedaan viskositas sangat besar.

2.9 Pola Ailran

Menurut Geankoplis (2003), adapun bentuk pola alir pada pengadukan suatu
larutan dalam tangki terbagi atas :
a) Pola aliran radial, yaitu pola alir yang tegak lurus terhadap sumbu impeller.
b) Pola aliran aksial, yaitu pola alir yang sejajar dengan sumbu impeller.
c) Pola aliran tangensial, yaitu pola alir yang mengelilingi sumbu impeller.

12
(a) (b)
Gambar 2.6 (a) pola aliran pengadukan axsial (b) pola aliran radial

(c) (d) (e) (f)


Gambar 2.7 Pola alir pengadukan. (c) Axial atau radial pada tangki tidak bersekat. (d)
Posisi off-center untuk menghindari terjadinya vortex. (e) Axial pada
tangki bersekat.(f) Radial pada tangki bersekat.

2.10 Pola Alir Liquid

Impeller Pitch Blade Turbine ( PBT ) adalah tipe impeller dengan aliran aksial,
sirkulasi aliran beroperasi secara pumping down dan pumping up yang mana seringkali

13
digunakan. Menurut Nurtono,et,al ( 2009 ). Aliran yang dihasilkan oleh pumping down
PBT terdapat tiga pola aliran yang dikenali yaitu:

1. Double Circulation ( DC )

Pada Pola DC terdapat dua circulation loops, yang utama melalui daerah dintara
blades dan yang kedua dekat dengan dasar tangki. Pola ini dipertimbangkan sebagai
aliran rata – rata dari impeller PBT. Dua loops dihasilkan dari jet yang diinduksi oleh
impeller, mengenai dinding yangki dibawah ketinggian impeller sebelum akhirnya
terpisah menjadi dua aliran. Satu langsung turun dan dipantulkan oleh dasar tangki,
menjadi loop kedua. Aliran lain bergerak secara aksial mendekati dinding samping dari
tangki, dan kemudian kembali pada impeller shaft, mengalir turun menuju impeller
menjadi loop utama.

2. Full Circulation Discharge ( FC )

Pada Pola FC menggambarkan dimana impeller menghasilkan pumping down


circulation loop yang hampir terjadi diseluruh tangki.

3. Main Circulation Interaction ( IP )

Pada Pola IP menggambarkan aliran yang berpotongan melalui sumbu axis dari
tangki. Bagian dari loop kedua yang mengalir diatas dasar tangki berpotongan terhadap
boundary diantara loop utama dan kedua pada sisi yang berseberangan.

2.11 Kebutuhan Daya Pengaduk

2.11.1 Reynolds Number

Menurut Broadkey, 1988. Bilangan Reynolds merupakan bilangan tak


berdimensi yang menyatakan perbandingan antara gaya inersia dan gaya viskos. Untuk
sistem dengan pengadukan:

NRE = .......................................................................... (2.3)

14
Dimana :
NRE = Reynolds Number
d = Diameter ( m )
n = Putaran Blade ( rpm )
ρ = Massa Jenis Fluida ( Massa Jenis Produk ) ( kg/m3)
μ = Vikositas Dinamik Fluida ( Vikositas Dinaik Produk ) ( kg/m.s )

2.11.2 Bilangan Fraude

Bilangan Fraude menunjukkan perbandingan antara gaya inersia dengan gaya


gravitasi. Bilangan Fraude dapat dihitung dengan persamaan berikut:

Fr = = = ............................................................................................... (2.4)

Dimana:
Fr = bilangan Fraude
N = kecepatan putaran pengaduk
D = diameter pengaduk
g = percepatan gravitasi

2.11.3 Bilangan Power

Bilangan Power menunjukkan perbandingan antara perbedaan tekanan yang


dihasilkan aliran dengan gaya inersianya. Perubahan tekanan akibat distribusi pada
permukaan pengaduk dapat diintegrasikan menghasilkan torsi total dan kecepatan
pengaduk.
p
Po 
N 3 Da5 ...................................................................................................(2.5)

Dimana:
NPo = bilangan daya
ρ = densitas fluida (kg/m3)

15
N = kecepatan pengaduk (rad/s)
Da = diameter pengaduk (m)
P = daya (watt)

Korelasi antara bilangan Power dengan Reynold serta Fraude ditunjukkan pada
persamaan-persamaan berikut:
Untuk sistem tanpa baffle : Po = aReb Prc (13)
Untuk sistem dengan baffle : Po = aReb (14)
Dimana:
Pr = bilangan Prandtl
a, b, c = konstanta eksperimental

2.12 Karakteristik Pengadukan dan Pencampuran

Agar bejana proses bekerja efektif pada setiap masalah pengadukan, volume
fluida yang disirkulasikan impeller harus cukup besar agar dapat menyapu keseluruhan
bejana dalam waktu yang singkat. Demikian pula, kecepatan arus yang meninggalkan
impeller harus cukup tinggi agar dapat mencapai semua sudut tangki. Keturbulenan
aliran adalah akibat arus yang terarah baik serta gradien kecepatan yang cukup besar di
dalam zat cair. Sirkulasi dan pembangkitan keturbulenan aliran memerlukan energi, dan
terdapat hubungan antara pemasukan daya dan parameter perancangan bejana
pencampur berpengaduk. Sketsa dimensi tangki dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2.9 Dimensi Tangki dan Impeller

16
Agitator turbin pada prinsipnya adalah pompa impeller yang beroperasi tanpa rumahan,
dengan aliran masuk dan aliran keluar yang tidak terarah. Hubungan-hubungan penentu
untuk agitator turbin identik dengan hubungan untuk pompa sentrifugal. Jika kecepatan
tangensial zat cair merupakan fraksi k tertentu dari kecepatan di ujung daun, maka

V'u2 = k.u2 = k.π.Da.n .................................................................................................. (2.6)

Karena, u2 = π. Da.n, maka laju aliran volumetrik melalui impeller adalah:

q = V‟r2.Ap ................................................................................................................... (2.7)

Dimana: u2 adalah kecepatan pada ujung daun


n adalah jumlah daun impeller
V‟u2 dan V‟r2 adalah kecepatan tangensial dan kecepatan radial zat cair
yang meninggalkan ujung daun impeller
V‟2 adalah kecepatan total cairan pada titik tersebut

Profil vektor kecepatan pada ujung daun impeller ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2.10 Profil Kecepatan pada Ujung Daun Impeller

Ap diambil dari luas silinder yang terbentuk dari sapuan ujung daun impeller, atau:

Ap = π.Da.W ............................................................................................................... (2.8)

Dimana: W adalah lebar daun impeller


Dari geometri terlihat bahwa:

V‟r2 = (u2 – V‟u2)tanβ‟2 ............................................................................................... (2.9)

17
Substitusi V‟u2 memberikan:

V‟r2 = π. Da. n (1-k). tanβ‟2 ....................................................................................... (2.10)

Maka laju alir volumeteri adalah:

q = π2.Da2.n.W.(1-k). tanβ‟2 ...................................................................................... (2.11)

Untuk impeller bergeometri sama W sebanding dengan Da, sehingga untuk nilai k dan
β‟2 berlaku

q ∝ n.Da3 ................................................................................................................... (2.12)

Rasio antara kedua besaran tersebut disebut angka aliran (flow number) NQ yang
didefinisikan sebagai:

NQ = ................................................................................................................... (2.13)

Untuk impeller turbin NQ adalah fungsi ukuran relatif impeller dan tangki. Untuk bejana
berpengaduk dan bersekat (untuk turbun rata berdaun 6 dengan W/Da = 1/5), nilai NQ
adalah 1.3. Untuk turbin berdaun rata, aliran total, diperkirakan dari waktu sirkulasi
rata-rata cairan yang terlatut adalah:
1
q = 0.92.n. Da3 * + .................................................................................................... (2.14)

Salah satu pertimbangan yang sangat penting dalam merancang bejana pengaduk adalah
kebutuhan daya untuk memutar impeller. Bila aliran di dalam tangki adalah turbulen,
kebutuhan daya dapat diperkirakan dari hasil kali aliran q yang didapat dari impeller
dan energi kinetik Ek per satuan volume fluida. Besaran aliran q adalah:

q = n.Da3.NQ ............................................................................................................... (2.15)

Sedangkan energi kinetik aliran didiefinisikan sebagai:

Ek = ................................................................................................................. (2.16)

Kecepatan V‟2 sedikit lebih kecil dari kecepatan ujung u2. Jika rasio V‟2/u2 disimbolkan
dengan α, maka V‟2 = α.π.n.Da, dan kebutuhan daya adalah:

P = n.Da3.NQ (π. Da. n. )2 ................................................................................ (2.17)

18
P= ( ) ............................................................................................... (2.18)

Dalam bentuk tanpa dimensi persamaan tersebut menjadi:

= ................................................................................................... (2.19)

Ruas kiri persamaan tersebut dianamakan bilangan daya (power number) NP, yang

didefinisikan sebagai:

Np = ........................................................................................................ (2.20)

Untuk menaksir daya yang diperlukan untuk memutar impeller pada kecepatan tertentu,
diperlukan korelasi empirik mengenai daya (bilangan daya). Bentuk korelasi demikian
didapatkan dari analisis dimensi, bila spesifikasi tangki, sekat, dan impeller
diketahui.Variabel-variabel yang dianalisis adalah dimensi penting tangki, sekat, dan
impeller, viskositas, densitas, dan kecepatan zat cair, serta fenomena vorteks yang
terjadi di permukaan cairan. Sebagian zat cair akan terangkat lebih tinggi dari
permukaan ratarata zat cair, yaitu permukaan dalam keadaan tidak teraduk, dan gaya
angkat ini harus diatasi oleh gaya gravitasi. Gugus-gugus tanpa dimensi yang
berkorelasi dengan bilangan daya adalah bilangan Reynolds, bilangan Froude, dan
faktor bentuk, sehingga dapat dirumuskan persamaan:

Np = ψ (NRE, NFR, S1, S2,.....,Sn) .......................................................................... (2.21)

Berbagai faktor bentuk dalam persamaan tersebut ditentukan oleh jenis dan susunan
alat. Ukuran-ukuran penting untuk bejana dengan pengaduk turbin yang umum
disajikan pada Gambar 2.11

Gambar 2.11 Ukuran Bejana

19
Faktor-faktor bentuk yang berhubungan dengan dimensi bejana, sekat, dan impeller
tersebut adalah: S1 = Da/Dt, S2 = E/Da, S3 = L/Da, S4 = W/Da, S5 = J/Dt dan S6 =
H/Dt. Faktor-faktor tersebutlah yang biasanya dikorelasikan dengan bilangan-bilangan
tak berdimensi dan diplot dalam grafik-grafik korelasi. Contoh grafik NP terhadap NRE
untuk tangki disajikan pada Gambar 2.12 a dan Gambar 2b.

Gambar 2.12 a dan b Korelasi bilangan Reynolds dan bilangan daya.

Kriteria keberhasilan pencampuran biasanya diamati secara visual. Kriteria lain adalah
fluktuasi konsentrasi setelah suatu pencampur diinjeksikan ke dalam aliran fluida,
variasi dalam analisis sampel yang diambil secara random dari berbagai titik dalam
campuran kecil, laju perpindahan zat terlarut dari suatu fasa cair ke dalam fasa lain,
serta keseragaman suspensi. Pencampuran zat cair yang miscible di dalam tangki
merupakan proses yang berlangsung cepat dalam daerah aliran turbulen. Impeller akan
menghasilkan arus kecepatan tinggi, fluida dapat bercampur baik di daerah sekitar
impeller karena adanya keturbulenan. Pada waktu arus melambat karena membawa
serta aliran lain di sepanjang dinding, terjadi juga pencampuran radial sedang pusaran-
pusaran besar pecah menjadi kecil, tetapi tidak banyak terjadi pencampuran pada arah
aliran, Fluida akan mengalami satu lingkaran penuh dan kembali ke pusat impeller, dan
berkontak dengan massa fluida yang lain dan terjadi pencampuran (MmcCabe, 1993).
Menurut Galletti et al. (2004) hubungan antara Bilangan Power ( Np ) dengan
Bilangan Reynolds ( N Re ) biasanya digunakan untuk menggambarkan hubungan
antara konsumsi energi dengan kecepatan pengadukan. Hubungan ini digambarkan
dalam bentuk kurva tenaga ( power – curve ). Kurva ini diperoleh dengan cara
memplotkan nilai – nilai Np dan N Re berdasarkan data hasil percobaan yang

20
meragamkan nilai kecepatan pengaduk ( N ), diameter pengaduk ( D ), densitas (Ρ ), dan
viskositas (η ) cairan pada tiap – tiap pengaduk yang mempunyai kesamaan geometrik
tertentu.

21
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Bahan yang Digunakan

1. Air
Densitas air (ρ) = 1.011gr/cm3 = 1011 kg/m3
2. Butiran Plastik Berwarna

3.2 Alat yang Digunakan

1 Unit TangkiBerpengaduk
Diameter Tangki = 0,30 m
2. Impeller dengan tipe propeller 3 daun dan turbin 8 daun
Diameter Propeller = 0,014 m
Diameter Turbin = 0,08 m

3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Penentuan Pola Aliran

1. Tangki dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Tujuan tangki


dibersihkan, agar tidak ada kotoran yang mempengaruhi proses pengamatan pola
aliran yang terbentuk.
2. Tangki diisi dengan air hingga ketinggian 30 cm dari dasar tangki.
3. Pengaduk dipasang pada posisi yang tersedia pada batang poros tangki
berpengaduk .
4. Sejumlah butiran plastik berwarna ditambahkan (dimasukkan) kedalam tangki.
Tujuan penambahan plastik berwarna ini untuk memudahkan praktikan
mengamati pola aliran yang terbentuk saat operasi pengadukan.
5. Motor pengaduk dihidupkan.
6. Kecepatan putar motor pengaduk diatur dengan penambahan kecepatan yang
tidak terlalu besar (sekitar 20 rpm).
7. Gerakan fluida (air) didalam tangki diamati, sampai terlihat bentuk pusaran dan
vortex pada permukaan air.

22
8. Pola aliran yang terbentuk diamati.

3.3.2 Penentuan Karakteristik Daya Pengaduk

1. Tangki diisi dengan air hingga ketinggian 30 cm dari dasar tangki.


2. Pengaduk jenis propeller dipasang pada posisi yang tersedia.
3. Klem penyetel neraca pegas dikendorkan sehingg memungkinkan tachometer
dapat bergerak bebas.
4. Posisi kedudukan tachometer diatur pada posisi netral, jika dianggap perlu bar
setting dapat dipakai untuk mengatur tegangan pegas.
5. Panjang tali (pada pegas) diatur sehingga posisi indikator/penunjuk garis dengan
tanda (garis putih) dan selubung pegas pada posisi netral.
6. Laju putaran motor diatur, dengan memutar pengatur kecepatan motor pada
panel kendali dengan kenaikan yang tetap. Tujuan pengaturan kecepatan ini
untuk melihat pengaruh kecepatan pengaduk terhadap daya pengadukan.
7. Ulangi prosedur untuk paddle dan turbin dengan variasi sekat dan tanpa sekat.
8. Power Number (Po) dan Reynold Number (Re) dihitung berdasarkan data yang
di dapatkan.

23
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.1 Hasil
4.1.1 Penentuan Pola Aliran

Tabel 4.1 Pola Aliran dengan Sekat dan Tanpa Sekat pada Impeller Tipe

Propeller dan Turbine

Propeller Turbine

Sekat

Tanpa Sekat

24
4.1.2 Penentuan Karakteristik Daya Pengaduk
Tabel 4.2 Daya pengaduk pada Jenis Impeller Propeller dan Turbine
Menggunakan Sekat

Kecepatan putaran Daya Impeller Daya Impeller


(rpm) Propeller (N) Turbin (N)
20 0 0
40 0 0
60 0 0
80 0 0
100 0 0
120 0 0
140 0 0.05
160 0 0.3
180 0 0.7
200 0 0.8
220 0 1.0
240 0 1.02
260 0 1.18
280 0 1.28
300 0 1.38
320 0 4.0

25
Tabel 4.3 Daya pengaduk pada Jenis Impeller Propeller dan Turbine Tanpa
Menggunakan Sekat

Kecepatan putaran Daya Impeller Daya Impeller


(rpm) Propeller (N) Turbin (N)
20 0 0
40 0 0
60 0 0
80 0 0
100 0 0
120 0 0
140 0 0
160 0 0
180 0 0
200 0 0
220 0 0
240 0 0.1
260 0 0.2
280 0 0.3
300 0 0.38
320 0 0.42

4.2 Pembahasan

4.2.1 Penentuan Pola Aliran

Pada percobaan operasi tangki berpengaduk, fluida yang digunakan adalah air
dengan impeller jenis propeller dan turbine. Penentuan pola aliran yang ditimbulkan
diamati pada variasi tangki menggunakan sekat dan tanpa sekat. Pada dasarnya prinsip
kerja pada percobaan ini mengubah energi listrik menjadi energi kinetik (motor)
pengaduk yang memutar shaft impeller dan menimbulkan sirkulasi aliran fluida di ujung
blade impeller sehingga terjadi proses pengadukan.

26
Impeller (pengaduk) jenis propeller memiliki bentuk seperti baling-baling kipas
dengan jumlah blade (daun) sebanyak 3 buah dan diameter blade 8 cm, sementara
impeller turbin memiliki jumlah blade sebanyak 8 buah dengan diameter 14 cm. Dalam
percobaan ini lebar sekat yang digunakan sebesar 2,4 cm.

Hasil yang diperoleh dipadatkan gambaran bahwa pada saat pengadukan


menggunakan impeller jenis propeller dengan penambahan sekat pada tangki ataupun
tanpa sekat, pola aliran yang terbentuk adalah aksial. Pola ini dapat mudah dilihat
dengan melihat arah gerakan perputaran dari lembaran plastik warna sebagai indikator
pola aliran. Pola aksial yang ditimbulkan, terlihat indikator mengalir meninggalkan
pengaduk secara kontinue melewati fluida ke satu arah tertentu secara horizontal sampai
dibelokan oleh dinding atau dasar tangki.

Pola aliran yang terbentuk untuk jenis impeller turbine baik menggunakan sekat
atau tanpa sekat adalah radial dan tangensial. Mesipun demikian aliran radial lebih
dominan terbentuk pada impeller jenis turbin ini, pola aliran radial dapat terlihat dari
pergerakan indikator, dimana pola dimulai dari bagian dasar tangki, bergerak tepat
dibagian bawah pengaduk kemudian bergerak ke berbagai sisi dan kebagian atas laku
kembali ke impeller.

Arus (vorteks) yang ditimbulkan pada pengadukan menggunakan sekat tidak


terbentuk baik impeller jenis propeller maupun turbine, hal ini karena vorteks yang
seharusnya terbentuk terhambat (tertahan) akibat adanya tahanan aliran di bagian sisi
pinggir dari tangki, sehingga aliran menjadi terpisah-pisah untuk tiap masing-masing
sekat, sementara untuk impeller jenis turbine tanpa menggunakan sekat, vorteks yang
terbentuk sangat besar hingga kecepatan terakhir 320 rpm, sedangkan untuk jenis
propeller pada kecepatan saat 320 rpm saja, vorteks yang terbentuk masih sangat kecil
dan hampir tidak ada. Hal ini dikarenakan diameter pengaduk dan jumlah blade pada
impeller sangat berpengaruh terhadap pusaran (vorteks) yang terbentuk. Semakin besar
diameter, semakin banyak jumlah daun (blade) dan semakin besar kecepatan
pengadukan maka vorteks yang terbentuk juga semakin besar. Itulah yang menyebabkan
vorteks pada propeller sangat kecil dan hampir tidak ada pada kecepatan terakhir 320
rpm. Timbulnya vorteks ini disebabkan karena pada tangki tidak bersekat dengan

27
pengaduk yang diletakkan di pusat tangki, perputaran pengaduk akan menyebabkan
timbulnya energi sentrifugal, energi sentrifugal yang bekerja pada fluida meningkatkan
ketinggian fluida pada dinding dan memperendah ketinggian fluida pada pusat putaran.
Vorteks ini akan semakin besar seiring dengan meningkatnya kecepatan putaran.

4.2.2 Penentuan Karakteristik Daya Pengaduk

1. Hubungan antara Laju Putaran dengan Gaya Pengadukkan pada jenis


impeller yang berbeda

Hubungan antara laju putaran dengan gaya yang dihasilkan pada pengadukan
menggunakan dua jenis impeller pada tangki bersekat dapat dilihat pada gambar 4.1.

1,6

1,4

1,2

0,8
Gaya F (N)

Propeller
0,6 Turbine
0,4

0,2

0
0 10 20 30 40
Laju Putaran ( rad/det)

Gambar 4.1. Grafik hubungan laju putaran terhadap gaya yang dihasilkan dalam
pengadukan air pada tangki bersekat.

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa semakin cepat laju putaran impeller maka
semakin besar pula gaya pengadukan yang dihasilkan. Hal ini sesuai dengan teori pada
Geankoplis (1993) yang menyatakan bahwa “Semakin cepat laju putaran impeller maka
semakin besar pula gaya yang dihasilkan”. Dari dua jenis impeller yang digunakan,
turbin menghasilkan gaya yang lebih besar dibandingan impeller jenis propeller, yaitu
sebesar 1,40 N, sementara untuk impeller jenis propeller gaya yang dihasilkan pada

28
neraca pegas tidak berubah tetap bernilai 0 N hal ini disebabkan geometri diameter
impeller propeller lebih kecil dibandingkan diameter turbin dengan kapasitas volume
tangki yang sama sebesar 29 L dan tinggi fluida yang tetap setinggi 30 cm, sehingga
pada saat motor pengaduk dihidupkan propeller tidak memberikan pengaruh gaya,
karena diameternya yang lebih kecil serta jumlah buffle yang sedikit dibandingkan
turbine.

Pengaruh gaya yang dihasilkan dalam pengadukan air pada tangki tanpa
menggunakan sekat dapat dilihat pada gambar 4.2

0,45

0,4

0,35

0,3

0,25
Gaya F (N)

0,2 Propeller

0,15 Turbine

0,1

0,05

0
0 10 20 30 40
Laju Putaran w ( rad/det)

Gambar 4.2. Grafik hubungan laju putaran terhadap gaya yang dihasilkan dalam
pengadukan air pada tangki tanpa sekat.

Pada gambar 4.2 diatas terlihat bahwa gaya yang di dihasilkan pada neraca baru
tercatat pada kecepatan 240 rpm, sementara jika dibandingkan pada tangki yang
memiliki sekat gaya yang terjadi telah tercatat dikecepatan 140 rpm. Disini terlihat
bahwa sekat mempengaruhi besar gaya yang dihasilkan dari impeller, dengan adanya
sekat energi pengadukan dalam pembentukan vorteks (pusaran) lebih tertahan. Selain
itu besarnya gaya juga sebanding dengan daya yang dibutuhkan untuk impeller dalam

29
berotasi, hal ini sesuai dengan rumus yang menjelaskan bahwa daya sebanding dengan
gaya yang dikali dengan kecepatan.

𝑟𝑎𝑑
P = 𝑇 𝑡𝑜𝑟𝑞𝑢𝑒 𝑥 𝑤
𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

2. Hubungan antara Laju Putaran dengan Daya Pengadukkan pada Jenis


Impeller yang Berbeda

Hubungan antara laju putaran dengan daya pengadukan pada percobaan untuk
ketiga jenis impeller pada tangki bersekat dapat dilihat pada gambar 3.3.

4
Daya P (Watt)

3
Propeller
2 Turbine

0
0 10 20 30 40

Laju Putaran w ( rad/det)

Gambar 4.3. Grafik hubungan laju putaran terhadap daya yang dibutuhkan
dalam pengadukan air pada tangki bersekat.

Dari grafik yang terdapat pada gambar 4.3, dapat dilihat bahwa semakin cepat
laju putaran impeller maka semakin besar daya pengadukan, hal ini sesuai dengan teori
pada Geankoplis (1993) yang menyatakan bahwa “Daya yang terkonsumsi dipengaruhi
oleh laju putaran pengaduk, densitas fluida, viskositas fluida dan diameter pengaduk”.
Pada laju putaran 320 rpm, impeller jenis turbin membutuhkan daya pengadukkan
sebesar 5.16 Watt, sementara untuk impeller jenis propeller membutuhkan daya yang

30
lebih kecil. Hal ini juga disebabkan karena diameter pengaduk yang dimiliki oleh
propeller lebih kecil dibandingkan dengan diameter pengaduk turbin, sehingga daya
yang yang dibutuhkan propeller dalam pengadukkan lebih kecil dibandingkan turbin.
Sementara pengaruh hubungan laju putaran terhadap daya yang dibutuhkan dalam
pengadukan air pada tangki tanpa sekat ditunjukan pada gambar 4.4

1,8

1,6

1,4

1,2
Daya P (Watt)

0,8 Propeller

0,6 Turbine

0,4

0,2

0
0 10 20 30 40
Laju Putaran w ( rad/det)

Gambar 4.4. Grafik hubungan laju putaran terhadap daya yang dibutuhkan
dalam pengadukan air pada tangki tanpa sekat.

Dari grafik yang terdapat pada gambar 4.4 diatas terlihat bahwa pada saat
kecepatan 320 rpm besar daya yang dihasilkan untuk jenis impeller turbine sebesar 1,55
Watt, jika dibandingkan dengan tangki yang memiliki sekat, besar daya yang dihasilkan
untuk impeller pada tangki yang tidak dilengkapi sekat lebih kecil, hal ini disebabkan
sekat mempengaruhi besar daya yang dihasilkan dari pengadukan.

31
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan,


yaitu:

1. Pola aliran yang terbentuk pada impeller jenis propeller adalah pola aliran aksial,
sementara untuk impeller jenis turbin pola aliran yang terbentuk lebih
mendominani pola aliran radial.
2. Pada tangki tanpa sekat, vorteks yang terbentuk lebih besar dibandingkan tangki
yang dilengkapi sekat. Hal tersebut disebabkan sekat dapat menahan vorteks dan
membagi aliran pengadukan di setiap sekat.
3. Daya yang diperlukan untuk impeller turbin pada tangki yang memiliki sekat
lebih besar dibandingkan tangki tanpa sekat yaitu 5,16 Watt sedangkan tangki
tanpa sekat sebesar 1,55 Watt.
4. Karakterisitik daya pengaduk dipengaruhi oleh laju putaran pengaduk, jenis
impeller yang digunakan, bentuk geometris impeller (diameter impeller), serta
jumlah blades (daun) pengaduk.

5.2 Saran

1. Sebelum melakukan percobaan, setiap praktikan diwajibkan mampu menguasai


teori percobaan sehingga praktikan memiliki gambaran tentang percobaan yang
akan dilakukan.
2. Dalam melakukan percobaan, setiap praktikan harus mengutamakan keselamatan
kerja, seperti memakai masker, sarung tangan, serta menjaga lingkungan kerja
dalam kondisi aman terkendali.
3. Selesai melakukan percobaan, setiap praktikan harus membersihkan peralatan
kerja serta mengembalikan alat kerja ke kondisi semula.

32