Anda di halaman 1dari 4

Campaign Objective dan Goals

KAMPANYE PERAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA


DI INDONESIA
Berdasarkan Theory of Planned Behaviour (Ajzen, 2005) perilaku individu sangat
dipengaruhi oleh niat individu tersebut terhadap perilaku tertentu. Lebih lanjut, teori tersebut
juga menyatakan bahwa niat dipengaruhi oleh tiga komponen penting yaitu attitude/sikap,
subjective norms/norma subjective dan self-efficacy. Saat ini telah banyak penelitian empiris
yang menemukan bahwa perubahan attitude dari individu terhadap suatu hal akan
menyebabkan perubahan intention yang akhirnya akan merubah perilaku manusia (Povey et
al., 2000; Scott et al., 2008). Oleh karena itu, untuk merubah perilaku seseorang, maka
pemasar social haruslah mampu mendesain program-program yang mampu merubah attidue,
self-efficacy dan menciptakan lingkungan yang mendukung perubahan perilaku.
Walaupun teori social marketing telah berkembang dan telah diaplikasikan secara luas,
program-program social marketing sering kali berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Banyak factor yang menyebabkan keberhasilan dan kegagalan dari social marketing.
Lefebvre & Flora (1988) menjelaskan bahwa terdapat delapan elemen pokok yang harus
diperhatikan oleh praktisi social marketing dalam menjalankan program-programnya.
Kedelapan elemen tersebut adalah :
- program-program social marketing haruslah berorientasi pada target audiens
- agar perilaku baru yang dijual oleh pemasar social dapat diadopsi dalam jangka waktu
yang lama maka sifat nya harus sukarela tanpa paksaan
- program-program pemasaran social haruslah berdasarkan pada penelitian pendahulu
dan disesuaikan dengan target marketnya
- melakukan penelitian formatif dalam rangka mendesain program-program intervensi
- melakukan analisis terhadap saluran distribusi yang paling menguntungkan dalam
menyampaikan intervensi-intervensi yang dibuat
- menerapkan bauran pemasaran (marketing mix) secara komprehensif
- mempersiapkan proses evaluasi dan monitoring
- melakukan pengelolaan yang menyeluruh dan terintegrasi terhadap program-program
yang dibuat.
Jumlah penduduk yang besar, tingkat pertumbuhannya yang masih
tinggi, dan penyebaran antar daerah yang kurang seimbang merupakan ciri penduduk
Indonesia dan merupakan masalah pokok di bidang kependudukan. Keadaan penduduk yang
demikianini telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat
dan padaakhirnya dapat memperlambat tercapainya tujuan pembangunan nasional, yaitu
mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Semakin
tinggitingkat pertumbuhan penduduk, semakin besar usaha yang
diperlukan untuk mempertahankan dan meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat tertentu dan
semakin besar pula usaha yang diperlukan untuk mencapai tingkat pemerataan kesejahteraan
rakyat. Pertumbuhan penduduk yang masih tinggi disebabkan tingkat kelahiran masih
lebihtinggi dibandingkan tingkat kematian penduduk.
Hal ini selanjutnya mengakibatkan proporsi penduduk dengan usia muda yang besar,
sehingga kelompok penduduk yangsecara langsung ikut dalam proses produksi harus
memikul be-ban yang relatif lebih berat untuk melayani kebutuhan penduduk yang belum
termasuk dalam kelompok usiakerja. Makin besarnya jumlah penduduk usia muda
mengakibatkan juga peningkatankebutuhan pendidikan, penyediaan lapangan kerja dan
kebutuhan-kebutuhan lain untuk menunjang kesejahteraan penduduk.Penyebaran penduduk
antar daerah yang kurang seimbang juga menimbulkanmasalah pemanfaatan sumber alam
dan sumber daya manusia bagi pembangunan. Didaerah dengan kepadatan penduduk tinggi,
timbul tekanan yang besar bagi tanah, hutandan air serta sumber-sumber alam lainnya di
samping menyempitnya kesempatan bagi penduduk untuk memakai sumber-sumber alam
tersebut. Sementara itu, sumber-sumber alam di daerah jarang penduduk masih belum
termanfaatkan sepenuhnya. Keadaan ini merupakan kendala bagi pencapaian tujuan
pemerataan kesejahteraan rakyat antar daerah.
Keluarga Berencana (KB) merupakan upaya peningkatan kepedulian dan peran serta
masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan
ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk
mewujudkan keluarga kecil, bahagia, sejahtera Berbagai macam alat kontrasepsi yang
disuguhkan kepada para akseptor KB antara lain suntikan, alamiah, AKDR, implant,
kontrasepsi mantab (MOP dan MOW) dan pil KB.Darisemua kunjungan akseptor KB. KB
suntik kombinasi memiliki kontrasepsi sekitar pada 1 bulan terakhir ini.
Tujuan
Tujuan Program Keluarga Berencana adalah untuk mengendalikan
laju pertumbuhan penduduk dan menurunkan angka kelahiran, mewujudkan ketahanan
keluarga dan kesejahteraan masyarakat, yang diwujudkan dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Meningkatnya peran stakeholder dan masyarakat dalan Program Kependudukan dan
Keluarga Berencana
b. Meningkatnya pelayanan keluarga berencana yang terintegrasi dengan pelayanan
kesehatan reproduksi lainnya.
c. Menurunnya pasangan usia subur yang tidak ingin anak tapi belum menjadi peserta
KB ( unmetneed ).
d. Tersedianya alat dan obat kontrasepsi bagi pra sejahtera dan keluarga sejahtera 1 ( Pra
Sdan KS.1 ).
e. Meningkatnya jumlah kelompok bina keluarga balita ( BKB ).
f. Meningkatnya kualitas kelompok bina keluarga ( BKB, BKR, BKL dan UPPKS.
g. Meningkatnya cakupan dan kualitas data mikro keluarga dan data hasil
pencapaian program.
Sasaran
Adapun sasarannya adalah sebagai berikut :
a. Bertambahnya jumlah rumah sakit/rumah bersalin/klinik swasta yang melayani KB.
b. Bertambahnya jumlah IMP ( PPKBD dan Sub PPKBD ) yang aktif
melaksanakanKomunikasi, Informasi & Edukasi ( KIE) KB.
c. Bertambahnya jumlah Dokter Praktek Swasta ( DPS ) yang melayani KB. Jumlah
BidanPraktek Swasta ( BPS ) yang melayani KB.
d. Bertambahnya median usia kawin pertama wanita.
e. Teredianya alat dan obat kontrasepsi bagi keluarga Pra Sejahtera dan KS.1.
f. Bertambahnya cakupan anggota kelompok Bina Keluarga Balita ( BKB ) serta
anggotaBKB yang menjadi peserta KB.
g. Bertambahnya kelompok BKB percontohan di setiap kecamatan.
h. Bertambahnya cakupan anggota kelompok BKR dan kelompok BKR percontohan.
i. Bertambahnya cakupan anggota kelompok BKL dan kelompok BKR percontohan.
j. Bertambahnya jumlah kelompok UPPKS dan cakupan anggota UPPKS.
DAFTAR PUSTAKA
Ajzen,
 I.
 (2005).
 Attitudes,
 Personality
 and
 Behavior
 (2nd
 ed.).
 Berks
hire:
 Open
 University
 Press.
Andreassen,
 A.
 R.
 (1994).
 Social
 marketing:
 its
 definition
 and
 domain.

 Journal
 of
 Public
 Policy
 &
 Marketing,
 13(1),
 108
 ‐
 114.
Budiono,
 K.
 (2008).
 Sudi
 Konsumsi
 Rokok
 Umat
 Islam
 di
 Indonesia.

 Program
 Studi
 Timur
 Tengah
 dan
 Islam
 Universitas
 Indonesia.
Kotler,
 P.,
 &
 Zaltman,
 G.
 (1971).
 Social
 marketing:
 an
 approach
 to

 planned
 social
 change.
 The
 Journal
 of
 Marketing,
 35(3),
 3‐12.
Kotler,
 P.,
 &
 Armstrong,
 G.
 (1996).
 Principles
 of
 Marketing:
 Prentice

 Hall
Kotler,
 P.,
 &
 Lee,
 N.
 R.
 (2008).
 Social
 Marketing:
 Influencing
 Beha
viors
 for
 Good
 (3rd
 ed.).
 Thousan
 Oaks:
 Sage
 Publications.
Lefebvre,
 R.
 C.,
 &
 Flora,
 J.
 A.
 (1988).
 Social
 marketing
 and
 public

 health
 intervention.
 Health
 Education
 &
 Behavior,
 15(3),
 299.
Povey,
 R.,
 Conner,
 M.,
 Sparks,
 P.,
 James,
 R.,
 &
 Shepherd,
 R.
 (200
0).
 The
 theory
 of
 planned

behaviour
 and
 healthy
 eating:
 Examining
 additive
 and
 moderating

effects
 of
 social

influence
 variables.
 Psychology
 &
 Health,
 14(6),
 991‐1006.
Scott,
 S.
 D.,
 Plotnikoff,
 R.
 C.,
 Karunamuni,
 N.,
 Bize,
 R.,
 &
 Rodger
s,
 W.
 (2008).
 Factors
 influencing

the
 adoption
 of
 an
 innovation:
 An
 examination
 of
 the
 uptake
 of

 the
 Canadian
 Heart
 Health

Kit(HHK).
 Implementation
 Science,
 3(1),
 41.
Smith,
 W.
 A.
 (2006).
 Social
 marketing:
 an
 overview
 of
 approach
 an
d
 effects.
 British
 Medical
 Journal,
 12(Supplement
 1),
 i38.