Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM

SATUAN OPERASI II

“Pengeringan Zat Padat”

Disusun oleh kelompok 2 :

Annisa Nurul Firda (061530400995)

Defta Adelia Rani (061530400997)

Meiriska Wulandari (061530401003)

Muhammad Zubairi (061530401005)

Nuzul Al Qori (061530401009)

Robby Asmedy (061530401012)

Siti Rahmawati (061530401014)

Valen Putriana Sari (061530401016)

Doddy Herryanto (061530402177)

M.Arief Rachman (061530402179)

Elvira Dara Sariska (061430401222)

Kelas : 4 KC

Dosen Pembimbing : Indah Purnamasari,S.T.,M.Eng

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA

TAHUN AJARAN 2017/2018

PENGERINGAN ZAT PADAT I

I. TUJUAN PERCOBAAN
Untuk mengeringkan bahan padat dan mengalirkan udara panas dan menentukan laju alir
pengeringan

II. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN


A. Alat yang digunakan
- Termometer bola kering
- Termometer bola basah
- Plate dryer
- Water batch
- Neraca analitik

B. Bahan yang digunakan


- Kayu
- Kemplang
III. DASAR TEORI
Bahasa ilmiah pengeringan adalah penghidratan, yang berarti menghilangkan air dari
suatu bahan. Pengeringan adalah suatu peristiwa perpindahan massa dan energi yang terjadi
dalam pemisahan cairan atau kelembaban dari suatu bahan sampai batas kandungan air yang
ditentukan dengan menggunakan gas sebagai fluida sumber panas dan penerima uap
cairan Pengeringan juga dapat berlangsung dengan cara lain yaitu dengan memecahkan ikatan
molekul-molekul air yang terdapat di dalam bahan. Apabila ikatan molekulmolekul air yang
terdiri dari unsur dasar oksigen dan hidrogen dipecahkan, maka molekul tersebut akan keluar
dari bahan. Akibatnya bahan tersebut akan kehilangan air yang dikandungnya.

Cara ini juga disebut pengeringan atau penghidratan. Untuk memecahkan ikatan oksigen
dan hidrogen ini, biasanya digunakan gelombang mikro. Drying merupakan salah satu proses
pengambilan sejumlah cairan yang terkandung didalam suatu bahan (padatan) dengan
menggunakan medium berupa gas atau udara yang dilewatkan melalui bahan tersebut sehingga
kandungan cairan menjadi berkurang karena menguap (Badger,1955).

Drying adalah suatu proses pemisahan sejumlah kecil air atau zat laninya darei bahan
padatan, sehingga mengurangi kandungan sisa air yang masiih terikat pada zat padat tersebut.
Pengeringan ini merupakan salah satu langkah downstream dari suatu proses yang hasilnya
merupakan produk dari proses tersebut. Pengeringan zat padat adalah pemisahan sejumlah kecil
air atau zat cair dari bahan padat. Pengeringan biasanya merupakan langkah akhir dari sederetan
operasi. Hasil pengeringan lalusiap dikemas. Zat padat yang akan dikeringkan mungkin
berbentuk biji, serbuk, kristal, lempengan/lembaran.

Klasifikasi pengeringan meliputi,


1. Pengeringan adiabatik, dimana zat padat bersentuhan langsung dengan gas panas
sebagai media pengeringan.
2. non adiabatik, dimana perpindahan kalor langsung dari medium luar atau pengering tak
langsung.
3. gabungan keduanya.
Udara memasuki ruang pengering jarang sekali berada dengan keadaan benar kering.
Tapi selalu mengandung air dan kelembaban relative. Air bebas adalah selisih antara kandungan
air total didalam zat padat dalam keadaan kering
𝑋 = 𝑋𝑡 − 𝑋 ∗
Dalam perhitungan kg adalah X, bukan Xt pada basis kering.
X=kg H2O/kg zat padat kering tulang
Sesudah periode penyesuaian masing-masing kurva mempunyai segmentasi horizontal
AB kg dinamakan laju pengeringan periode konstan. Periode ini diartikan oleh laju pengeringan
yang tidak bergantung pada kandungan kebasahan.
Selama periode konstan, laju pengeringan persatuan luas adalah
ℎ(𝑇 − 𝑇𝑤)(3600)
𝑅𝑐 = 𝑘𝑔/𝑗𝑎𝑚 𝑚2
𝜆𝑤
Bila udara panas mengalir sejajar permukaan zat padat, maka koefisien perpindahan
panas (h):
H= 0,002040,8
Dimana : h= W/m C dan G= kg/jam m2
Humiditi volume udara panas dapat ditaksir dengan persamaan:
Vh=(2,8 X10-3 + 4,56 X10-3 H)T

Density udara (𝜌𝐺 )


1+𝐻
𝜌𝐺 =
𝑉ℎ
Kecepatan massa
G= V 𝜌𝐺 kg/jam m2
Waktu pengeringan selama periode konstan,
𝑚 𝑠(𝑋1 − 𝑋2 )
𝑡𝑐 =
𝐴 𝑅𝐶
Bila difusi zat cair terkendali oleh laju pengeringan pada periode menurun, maka saat laju
pengeringan berkurang berlaku Hukum Ficks II tentang difusi,
𝑉𝑥 𝑉 2𝑥
= 𝐷𝑙 2
𝑉𝑡 𝑉𝑍
Bila diasumsi kandungan kebasahan terdistribusi merata pada saat t=0 maka integral
𝑋𝑡 − 𝑋 ∗ 𝑋 8 𝜋 2 𝜋 2 𝜋 2
= = 2 [𝑒 −𝐷𝑙( ⁄2𝑍) + 1⁄9 𝑒 −9𝐷𝑙𝑡( ⁄2𝑍) + 1⁄25 𝑒 −25𝐷𝑙𝑡( ⁄2𝑍) ]
𝑋𝑡1 − 𝑋1 𝑋1 𝜋
Dari rumus diatas dapat dituliskan,
𝑋1 𝜋 2 𝐷𝑙𝑡𝜋 2
= 𝑒
𝑋 8 4𝑍 2
Bila difusi dimulai dari X1=X2 maka persamaan menjadi,
𝑋𝑐 𝜋 2 𝐷𝑙𝑡𝜋 2
= 𝑒
𝑋 8 4𝑍 2

Sehingga waktu pengeringan adalah


4𝑧 2 8𝑋𝐶
𝑡 = 2 𝑙𝑛 2
𝜋 𝐷𝐿 𝜋 𝑋

Prinsip Dasar Pengeringan


Proses pengeringan pada prinsipnya menyangkut proses pindah panas danpindah
massa yang terjadi secara bersamaan (simultan). Pertama-tama panas harus ditransfer dari
medium pemanas ke bahan. Selanjutnya setelah terjadi penguapan air, uap air yang terbentuk
harus dipindahkan melalui struktur bahan ke medium sekitarnya.
Proses ini akan menyangkut aliran fluida dimana cairan harus ditransfer melalui struktur
bahan selama proses pengeringan berlangsung. Jadi panas harus disediakan untuk menguapkan
air dan air harus mendifusi melalui berbagai macam tahanan agar supaya dapat lepas dari
bahan dan berbentuk uap air yang bebas. Lama proses pengeringan tergantung pada bahan yang
dikeringkan dan cara pemanasan yang digunakan. Dengan sangat terbatasnya kadar air pada
bahan yang telah dikeringkan, maka enzim-enzim yang ada pada bahan menjadi tidak aktif dan
mikroorganisme yang adapada bahan tidak dapat tumbuh.
Di samping itu enzim tidak mungkin aktif pada bahan yang sudah dikeringkan, karena
reaksi biokimia memerlukan air sebagai medianya. Berdasarkan hal tersebut, berarti kalau kita
bermaksud mengawetkan bahan melalui proses pengeringan, maka harus diusahakan kadar air
yang tertinggal tidak mungkin dipakai untuk aktivitas enzim dan mikroorganisme. Mekanisme
keluarnya air dari dalam bahan selama pengeringan adalah sebagai berikut:
 Air bergerak melalui tekanan kapiler.
 Penarikan air disebabkan oleh perbedaan konsentrasi larutan disetiap bagian bahan.
 Penarikan air ke permukaan bahan disebabkan oleh absorpsi dari lapisan-lapisan
permukaan komponen padatan dari bahan.
 Perpindahan air dari bahan ke udara disebabkan oleh perbedaan tekanan uap.

Pengeringan dan Aplikasinya


Dalam pengeringan adiabatik zat padat itu bersentuhan dengan gas menurut salah satu
cara berikut:
1. Gas ditiupkan menlintas zat permukaan hamparan atau lembaran zat padat atau melintas
satu atau kedua sisi lembaran atau film sinambung. Proses ini dapat disebut juga
pengeringan dengan sirkulasi silang.
2. Gas yang ditiupkan melalui hamparan zat padat butiran besar yang ditempatkan diatas
awak pendukung.
3. Zat padat disiramkan disiram ke bawah melalui suatu arus gas yang bergerak perlahan-
lahan ke atas, terkadang dalam hal ini terdapat pembawa ikutan yang tidak dikehendaki
dari partikel halus oleh gas.
4. Gas dialirkan melaluizat padat dan dengan kecepatan yang cukup membuat bahan
terfluidisasikan.
5. Zat padat seluruhnya dibawa ikut dengan arus gas kecepatan tinggi dan diangkat secara
pneumatik dari piranti percampuran ke pemisah mekanik.
Pengeringan adiabatik dibedakan menurut zat padatnya itu berkontak dengan permukaan
panas sumber kalor lainnya. Zat padat dihamparkan diatas permukaan bersama dengan
permukaan horizontal, yang stasioner atau bergerak lambat dan dimasak hingga kering.
Sedangkan yang satu lagi yaitu zat padat tersebar diatas permukaan panas biasanya berbentuk
silinder dengan batuan pengaduk.
Ada beberapa Faktor yang berpengaruh terhadap laju pengeringan diantaranya adalah
sebagai berikut,
 Sifat fisika dari bahan yang dikeringkan
 Pengaturan geometris bahan pada permukaan alat atau media perantara perpindahan
panas
 Sifat fisik lingkungan pengering.
Operasi pengeringan zat padat yang mengandung cairan (dalam hal ini air) dapat
dilakukan pada alat-alat pengering dengan udara sebagai media pengeringan. Operasi ini dapat
ditempatkan di dalam alat itu sendiri atau di luar alat pengering. Untuk pekerjaan ini dicapai tray
dryer dengan sumber energi udara panas dari electric heater yang dipasang diluar alat percobaan,
sebagai penghembus udara dipakai blower yang terpasang satu unit dengan electric heater itu.
Alat itu memakai x tray yang nantinya untuk menempatkan zat yang akan dikeringkan secara
batch. Saat pengeringan berlangsung, permukaan kontak antara permukaan dengan udara yang
selalu basah dengan cairan sampai cairan habis teruapkan seluruhnya.

Tray dryer

Pengering baki (tray dryer) disebut juga pengering rak atau pengering kabinet, dapat
digunakan untuk mengeringkan padatan bergumpal atau pasta, yang ditebarkan pada baki logam
dengan ketebalan 10-100 mm. Pengeringan jenis baki atau wadah adalah dengan meletakkan
material yang akan dikeringkan pada baki yang lansung berhubungan dengan media pengering.
Cara perpindahan panas yang umum digunakan adalah konveksi dan perpindahan panas secara
konduksi juga dimungkinkan dengan memanaskan baki tersebut.
Rangka bak pengering terbuat dari besi, rangka bak pengerik di bentuk dan dilas,
kemudian dibuat dinding untuk penyekat udara dari bahan plat seng dengan tebal 0,3mm.
Dinding tersebut dilengketkan pada rangka bak pengering dengan cara di revet serta dilakukan
pematrian untuk menghindari kebocoran udara panas. Kemudian plat seng dicat dengan warna
hitam buram,agar dapat menyerap panas dengan lebih cepat. Pada bak pengering dilengkapi
dengan pintu yang berguna untuk memasukan dan mengeluarkan produk yang dikeringkan. Di
pintu tersebut dibuat kaca yang mamungkinkan kita dapat mengetahui temperature tiap rak,
dengan cara melihat thermometer yang sengaja digantungkan pada setiap rak pengering. Di
bagian atas bak pengering dibuat cerobong udara, bertujuan untuk memperlancar sirkulasi udara
pada proses pengeringan.

Spesifikasi Alat Dan Cara Kerja Alat


Alat pengering tipe rak (tray dryer) mempunyai bentuk persegi dan di dalamnya berisi
rak-rak yang digunakan sebagai tempat bahan yang akan dikeringkan. Pada umumnya rak tidak
dapat dikeluarkan. Beberapa alat pengering jenis itu rak-raknya mempunyai roda sehingga dapat
dikeluarkan dari alat pengering. Ikan-ikan diletakkan di atas rak yang terbuat dari logam dengan
alas yang berlubang-lubang. Kegunaan dari lubang tersebut untuk mengalirkan udara panas dan
uap air.
Ukuran rak yang digunakan bermacam-macam, ada yang luasnya 200 cm2 dan ada juga
yang 400 cm2. Luas rak dan besar lubang-lubang rak tergantung pada bahan yang akan
dikeringkan. Selain alat pemanas udara, biasanya juga digunakan blower untuk mengatur
sirkulasi udara dalam alat pengering. Kipas yang digunakan mempunyai kapasitas aliran 7-15
feet per detik. Udara setelah melewati kipas masuk ke dalam alat pemanas, pada alat tersebut
udara dipanaskan lebih dahulu kemudian dialirkan diantara rak-rak yang sudah berisi bahan.
Arah aliran udara panas di dalam alat pengering dapat dari atas ke bawah dan juga dari bawah ke
atas. Suhu yang digunakan serta waktu pengeringan ditentukan menurut keadaan bahan.
Biasanya suhu yang digunakan berkisar antara 80-1800C. Tray dryer dapat digunakan untuk
operasi dengan keadaan vakum dan seringkali digunakan untuk operasi dengan pemanasan tidak
langsung. Uap air dikeluarkan dari alat pengering dengan pompa vakum.
Alat tersebut juga digunakan untuk mengeringkan hasil pertanian berupa biji-bijian.
Bahan diletakkan pada suatu bak yang dasarnya berlubang-lubang untuk melewatkan udara
panas. Bentuk bak yang digunakan ada yang persegi panjang dan ada juga yang bulat. Bak yang
bulat biasanya digunakan apabila alat pengering menggunakan pengaduk, karena pengaduk
berputar mengelilingi bak. Kecepatan pengadukan berputar disesuaikan dengan bentuk bahan
yang dikeringkan, ketebalan bahan, serta suhu pengeringan. Biasanya putaran pengaduk sangat
lambat karena hanya berfungsi untuk menyeragamkan pengeringan.
Keuntungan dari alat pengering jenis itu sebagai berikut :
 Laju pengeringan lebih cepat
 Kemungkinan terjadinya over drying lebih kecil
 Tekanan udara pengering yang rendah dapat melalui lapisan bahan yang dikeringkan.

IV. PROSEDURE PERCOBAAN


1) Mengeringkan zat padat dengan ukuran tebal tertentu dalam oven selama 2 jam hingga
tidak mengandung air lagi, dinginkan dan timbang beratnya, ini merupakan massa zat
padat kering tulang
2) Merebus zat padat dalam air mendidih ± 15 menit, dinginkan hingga temperatur runag,
timbang beratnya
3) Selisih berat zat padat basah dengan zat padat kering merupakan kadar air awal zat
padat yang akan dikeringkan
4) Menyiapkan alat pengering, menghidupkan blower dan elemen pemanas hingga
temperatur konstan 60oC
5) Mencatat relative humidity temperatur bola basah udara panas masuk ruang pengering,
menentukan dew point udara dengan menggunakan humidity chart
6) Membaca tekanan uap air dari tabel tekanan uap dengan mengguanakan humidity chart
7) Tekanan uap air pada kondisi ini = tekanan parsial uap air uadara mula-mula
8) Mencatat laju alir udara
9) Menentukan laju alir udara kering masuk ruang pengering dengan menggunakan
persamaan :
𝑁𝐻2 𝑜 𝑃𝐻 𝑜
= 𝑃𝑡−𝑃2
𝑁𝑡−𝑁𝐻2 𝑂 𝐻2 𝑂

10) (Nt-NH2O)x BM merupakan massa udara kering masuk ruang pengering


11) Setiap selang waktu 15 menit catat relative humidity, temperatur udara keluar runag
pengering
12) Mengulangi percobaan diatas untuk tebal material berbeda
13) Laju alir udara dan temperatur pengering selama percobaan dijaga konstan

V.DATA PENGAMATAN

VI. PERHITUNGAN
VII. ANALISA PERCOBAAN

Percobaan kali ini yaitu pengeringan zat padat selama 2 minggu dengan menggunakan
bahan kayu untuk praktikum pada minggu pertama. Pada kemplang basah yang telah direndam
selama 2 jam dan dioven selama 1 jam pada suhu 70C. Pada saat melakukan percobaan, ada
parameter yang harus diperhatikan diantaranya adalah kelembaban, laju, jenis bahan, waktu,
dan suhu. Dan selanjutnya percobaan ini menggunakan blower yang memiliki fungsi sebagai
pengeluar atau menghembuskan udara panas dan mengeluarkan udara lembab yang terdapat
pada ruang pengeringan agar bahan yang akan dikeringkan tidak menjadi lembab kembali.
Dari pengamatan, semakin lama waktu yang digunakan untuk mengeringkan,
kandungan air yang didalam padatan akan menguap dansaat kondisi tertentu, humidity akan
konstan dan kembali menurun dikarenakan berkurangnya kadar air dalambahan padat. Untuk
mengetahuinya, dapat dilakukan dengan pemisahan terhadap humiditi dan free moisture yaitu
dengan mencatat relative humidity setiap 15 menit untuk mengetahui suhu udara keluar
pengering.

IX. KESIMPULAN
 Parameter yang harus diperhatikan adalah kelembaban udara, laju, jnis bahan,
waktu dan suhu
 Blower digunakan untuk mengeluarkan udara lembab diruang pendingin
 Waktu pengeringan semakin lama maka kandungan uap air dalam bahan semakin
kecil
 Relative humidity dicatat tiap 15 menit untuk mengetahui suhu udara keluar ruang
pengering
DISTILASI FRAKSIONASI

I. TUJUAN
- Menjelaskan pengertian kurva baku
- Membuat campuran biner untuk kurva baku
- Menggambarkan kurva baku
- Menentukan fraksi mol residu berdasarkan perhitungan dan percobaan

II. ALAT DAN BAHAN


 Alat yang diguakan
- Refraktometer :1
- Seperangkat alat destilasi fraksionasi
- Tabung reaksi :5
- Pipet tetes :1
- Rak tabung reaksi :1
- Gelas kimia 250 ml :1
- Aluminium foil : secukupnya
- Bola karet :1
- Pipet ukur 10 ml :1

 Bahan yang digunakan


- Etanol 96 %
- Aquadest
III. DASAR TEORI
Operasi teknik kimia yang sering dilakukan pada industri kimia adalah operasi
perpindahan massa. Salah satu contoh operasi perpindahan massa adalah distilasi.
Distilasi adalah operasi pemisahan campuran cairan yang sering melarut menjadi
komponen-komponen yang didasarkan pada perbedaan daya penguapan komponen-
komponen tersebut.
Fraksionasi adalah cara pemisahan secara ditilasi yaitu membuat kesetimbangan
fase uap dan cair dengan jalan menambahkan energi, melakukan pemisahan uap da
cairan dan kembali menciptakan keadaan sistem batch, semua umpan mengalami
pemisahan dalam wadah boiler. Kemudian dilakukan fraksionasi hingga didapat sisi
residu dalam wadah.
Dalam percobaan ini dipelajari derajat pemisahan operasi distilasi batch dalam
refluks ratio tertentu. Derajat pemisahan perlu diketahui untuk menambahkan sampai
sejauh mana operasi secara batch dapat dilakukan untuk pemisahan dan berapa lama
hal itu perlu dilakukan untuk mendapatkan derajat pemisahan yang diinginkan.
HETP (Height Equivalent to Theoritical Plate) adalah perbandingan inggi
kolom (column height)nterhadap jumlah tahap teoritis (Theoritical plate) dimana path
kolom setinggi HETP akan dihasilakan uap dan cairan dengan komposisi yang sama
dengan komposisi kesetimbangan. HETP ditentukan dengan jalan membagi tinggi
kolom keseluruhan dengan jumlah tahap teoritis dan kolom.
Penentuan komposisi distilasi rata-rata didasarkan pada anggapan tidak adanya
kebocoran massa yang tertinggal di dalam kolom dapat diabaikan.
Neraca massa untuk sistem komponen biner
Neraca massa total :F=D+B
Neraca massa komponen : F Xf = D XD + B XB
Sehingga didapatkan :
𝐷 𝑋𝐹 − 𝑋𝐵
=
𝐹 𝑋𝐷−𝑋𝐵

Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia


berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan.
Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini
kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik
didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Metode ini termasuk sebagai unit
operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini didasarkan pada
teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada
titik didihnya. Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum
Dalton.
Distilasi pertama kali ditemukan oleh kimiawan Yunani sekitar abad
pertama masehi yang akhirnya perkembangannya dipicu terutama oleh tingginya
permintaan akan spritus. Hypathia dari Alexandria dipercaya telah menemukan
rangkaian alat untuk distilasi dan Zosimus dari Alexandria-lah yang telah berhasil
menggambarkan secara akurat tentang proses distilasi pada sekitar abad ke-4.
Bentuk modern distilasi pertama kali ditemukan oleh ahli-ahli kimia Islam
pada masa kekhalifahan Abbasiah, terutama oleh Al-Razi pada pemisahan alkohol
menjadi senyawa yang relatif murni melalui alat alembik, bahkan desain ini
menjadi semacam inspirasi yang memungkinkan rancangan distilasi skala mikro,
The Hickman Stillhead dapat terwujud. Tulisan oleh Jabir Ibnu Hayyan (721-815)
yang lebih dikenal dengan Ibnu Jabir menyebutkan tentang uap anggur yang dapat
terbakar. Ia juga telah menemukan banyak peralatan dan proses kimia yang
bahkan masih banyak dipakai sampai saat kini. Kemudian teknik penyulingan
diuraikan dengan jelas oleh Al-Kindi (801-873).
Salah satu penerapan terpenting dari metode distilasi adalah pemisahan
minyak mentah menjadi bagian-bagian untuk penggunaan khusus seperti untuk
transportasi, pembangkit listrik, pemanas, dll. Udara didistilasi menjadi
komponen-komponen seperti oksigen untuk penggunaan medis dan helium untuk
pengisi balon. Distilasi juga telah digunakan sejak lama untuk pemekatan alkohol
dengan penerapan panas terhadap larutan hasil fermentasi untuk menghasilkan
minuman suling.
Ada 4 jenis distilasi yang akan dibahas disini, yaitu distilasi sederhana,
distilasi fraksionasi, distilasi uap, dan distilasi vakum.

a. Distilasi Sederhana
Pada distilasi sederhana, dasar pemisahannya adalah perbedaan titik didih
yang jauh atau dengan salah satu komponen bersifat volatil. Jika campuran
dipanaskan maka komponen yang titik didihnya lebih rendah akan menguap lebih
dulu. Selain perbedaan titik didih, juga perbedaan kevolatilan, yaitu
kecenderungan sebuah substansi untuk menjadi gas. Distilasi ini dilakukan pada
tekanan atmosfer. Aplikasi distilasi sederhana digunakan untuk memisahkan
campuran air dan alkohol.

b. Distilasi Fraksionisasi
Fungsi distilasi fraksionasi adalah memisahkan komponen-komponen cair,
dua atau lebih, dari suatu larutan berdasarkan perbedaan titik didihnya. Distilasi
ini juga dapat digunakan untuk campuran dengan perbedaan titik didih kurang
dari 20 °C dan bekerja pada tekanan atmosfer atau dengan tekanan rendah.
Aplikasi dari distilasi jenis ini digunakan pada industri minyak mentah, untuk
memisahkan komponen-komponen dalam minyak mentah
Perbedaan distilasi fraksionasi dan distilasi sederhana adalah adanya
kolom fraksionasi. Di kolom ini terjadi pemanasan secara bertahap dengan suhu
yang berbeda-beda pada setiap platnya. Pemanasan yang berbeda-beda ini
bertujuan untuk pemurnian distilat yang lebih dari plat-plat di bawahnya. Semakin
ke atas, semakin tidak volatil cairannya.
c. Distilasi Uap
Distilasi uap digunakan pada campuran senyawa-senyawa yang memiliki
titik didih mencapai 200 °C atau lebih. Distilasi uap dapat menguapkan senyawa-
senyawa ini dengan suhu mendekati 100 °C dalam tekanan atmosfer dengan
menggunakan uap atau air mendidih. Sifat yang fundamental dari distilasi uap
adalah dapat mendistilasi campuran senyawa di bawah titik didih dari masing-
masing senyawa campurannya. Selain itu distilasi uap dapat digunakan untuk
campuran yang tidak larut dalam air di semua temperatur, tapi dapat didistilasi
dengan air. Aplikasi dari distilasi uap adalah untuk mengekstrak beberapa produk
alam seperti minyak eucalyptus dari eucalyptus, minyak sitrus dari lemon atau
jeruk, dan untuk ekstraksi minyak parfum dari tumbuhan.
Campuran dipanaskan melalui uap air yang dialirkan ke dalam campuran
dan mungkin ditambah juga dengan pemanasan. Uap dari campuran akan naik ke
atas menuju ke kondensor dan akhirnya masuk ke labu distilat.
d. Distilasi Vakum
Distilasi vakum biasanya digunakan jika senyawa yang ingin didistilasi
tidak stabil, dengan pengertian dapat terdekomposisi sebelum atau mendekati titik
didihnya atau campuran yang memiliki titik didih di atas 150 °C. Metode distilasi
ini tidak dapat digunakan pada pelarut dengan titik didih yang rendah jika
kondensornya menggunakan air dingin, karena komponen yang menguap tidak
dapat dikondensasi oleh air. Untuk mengurangi tekanan digunakan pompa vakum
atau aspirator. Aspirator berfungsi sebagai penurun tekanan pada sistem distilasi
ini

Distilasi fraksionasi merupakan proses untuk memisahkan petroleum


menjadi fraksinya berdasarkan titik didihnya. Gas hasil penyulingan mengandung
propana dan butana yang kemudian dimampatkan menjadi cairan yang disebut
LPG (Liquefied Petroleum Gasses) atau gas elpiji. Bensin, kerosin, dan minyak
diesel digunakan untuk bahan bakar dikirim ke depo atau tempat penyimpanan.
Ter dan sejenis minyak yang lengket lain dipakai dalam ketel uap dan pembangkit
listrik. Tidak semua bahan petrokimia dari minyak mentah menjadi bahan bakar.
Residu dari distilasi fraksionasi ini dapat dibentuk minyak pelumas, lilin
hidrokarbon atau lilin parafin, dan bitumen atau aspal
IV. LANGKAH KERJA
1. PERSIAPAN CAMPURAN
a. Memeriksa katup pembuang dari tangki pasokat tertutup
b. Menyisakan 1,5 L dari campuran air-etanol dengan kadar etanol 60 % dan air 40
% yang dimasukkan kedalam tangki umpan.
c. Setelah campuran seleaii, saklar dipuar untuk menyalakan pompa yang dialurkan
ke pemanas
d. Setalah tangki pasokan kosong. Pompa dimatikan untuk menghentikan aliran
dengan memutar saklar.

2. PELAKSANAAN DISTILASI
a. Memeriksa katup pembagun boiler , dipastikan tertutup
b. Memeriksa katup kepala refluks, dipastikan tertutup
c. Memeriksa pasokan air yang terhubung baik dengan selang pembuangan
d. Membuka katup pasokan air dan meembuka katup flowmeter
e. Memutar tombol start pemanas kearah kanan
f. Menyesuaikan daya panas dengan potensiometri
g. Menunggu campuran mendidih dan menguap
h. Memeruksa suhu uap dan mengeluarkan distilat setiap 10 menit sekali