Anda di halaman 1dari 17

BAB VI

ARAHAN KEBIJAKAN RENCANA PENGELOLAAN


SDA DAN LH

6.3 Arahan RPSDALH Sektor Transportasi


Arahan kebijakan rencana pengelolaan sumber daya alam dan
lingkungan hidup (RPSDALH) yang mengangkat isu pangan pada sektor
transportasi di Sulawesi dilakukan melalui pendekatan arahan terhadap
rencana pengembangan jaringan jalan di daerah dengan
mempertimbangkan pengelolaan pertanian pangan secara
berkelanjutan. Dalam menyusun arahan sektor transportasi ada dua
bahan yang menjadi input utama yaitu Rencana pengelolaan pertanian
pangan dan tingkat kerapatan jalan di suatu daerah. Rencana
pengelolaan pertanian pangan diambil dari hasil penyusunan arahan
RPSDALH sektor pertanian, sedangkan untuk Kerapatan jalan (line
density) merupakan hasil rekayasa secara spasial dari data peta
jaringan jalan di Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Gorontalo yang
sumbernya berasal dari Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala
1:50.000.

Gbr…Ilustrasi Proses Penyusunan Arahan RPSDALH


Sektor Transportasi

107
Secara garis besar proses untuk menghasilkan arahan dilakukan
dengan melihat pengaruh tingkat kerapatan jalan (line density) terhadap
kelanjutan pengelolaan pertanian pangan di suatu area dengan
mempertimbangkan jasa ekosistem yang mendukung untuk
pengembangan pertanian pangan secara berkelanjutan. Secara singkat
kriteria penentuan arahan sector transportasi untuk mendukung
pengelolaan pertanian pangan berkelanjutan yang dihasilkan pada
arahan sektor pertanian yang telah mempertimbangkan jasa ekosistem
yang terkait dengan pangan diterangkan melalui tabel di bawah ini.

108
Tabel… Penentuan Kriteria Arahan Sektor Transportasi

Keterkaitan dengan A. Kelas


No Arahan Sektor Pertanian ARAHAN TRANSPORTASI
Transportasi Kerapatan Jalan
1 Peningkatan teknologi dan Pengembangan jalan dengan
manajemen lahan aktual Rendah & memperhatikan kaidah
Sangat Rendah lingkungan dan keberlanjutan
lahan pertanian pangan
2 Pengembangan dan Pengelolaan Mendukung Areal
areal pertanian pangan Pengembangan Pangan Tidak merekomendasikan
berkelanjutan Tinggi & Sangat pengembangan jalan dan
Tinggi memaksimalkan akses jalan
3 Pengembangan areal cadangan yang tersedia
pertanian pangan berkelanjutan
4 Pengembangan pertanian ramah
lingkungan dan alih fungsi secara
bertahap ke areal untuk selain
pangan Mendukung Areal Mengikuti Rencana Struktur
5 Pengembangan areal selain Pengembangan Non Pangan Rendah, Sangat Ruang
pertanian pangan Rendah, Tinggi
dan Sangat
Tinggi
6 Mengikuti arahan sektor kehutanan
Sektor Kehutanan/ Kawasan Menyesuaikan dengan regulasi
Hutan di kawasan hutan.

107
Adapun penjelasan mengenai kriteria-kriteria untuk menghasilkan
arahan pada sektor transportasi untuk mendukung pengembangan
pertanian pangan berkelanjutan adalah sebagai berikut :

a. Pengembangan jalan dengan memperhatikan kaidah lingkungan


dan keberlanjutan lahan pertanian pangan

Penetapan arahan ini adalah untuk wilayah dengan arahan


untuk pengembangan areal pertanian pangan sedangkan kelas
kerapatan jalan pada wilayah tersebut masih rendah/sangat rendah.
Pertimbangan dari arahan ini adalah wilayah dengan potensi/aktual
pengembangan pangan membutuhkan akses jaringan jalan dan
transportasi untuk mendukung distribusi pangan kepada konsumen,
namun dalam arahan pengembangan infrastruktur jalan harus tetap
mempertimbangkan kaidah-kaidah lingkungan agar tidak menurunkan
fungsi daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup pada daerah
tersebut agar tetap secara konsistem memberikan hasil pangan yang
baik baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Hal lain yang perlu
diperhatikan dalam pengembangan infrastruktur jalan adalah
keberlanjutan lahan untuk fungsi pertanian karena dengan
meningkatnya akses jaringan jalan akan mengakibatkan rawannya
alih fungsi lahan pertanian untuk kegiatan pembangunan lainnya
sehingga perlu strategi-strategi dalam pembangunan infrastruktur
jalan diantaranya dengan membatasi jumlah dan besaran fungsi jalan
yang akan dibangun.

b. Tidak merekomendasikan pengembangan jalan dan


memaksimalkan akses jalan yang tersedia

Penetapan arahan ini adalah untuk wilayah dengan arahan yang


mendukung untuk pengembangan areal pertanian pangan sedangkan
kelas kerapatan jalan pada wilayah tersebut adalah tinggi dan sangat
tinggi. Pertimbangan dari arahan ini adalah wilayah dengan
potensi/aktual pengembangan pangan dengan jaringan jalan yang

107
sudah cukup tinggi/padat sehingga dinilai bahwa dukungan jaringan
jalan pada wilayah ini untuk proses distribusi pangan sudah sangat
memadai dan bahkan cenderung akan mengurangi bahkan
menghilangkan eksistensi penggunaan lahan untuk areal pertanian
pangan. Apabila daerah ini tetap diharapkan untuk menjadi daerah
pengembangan pertanian pangan berkelanjutan, maka saran dari
arahan ini adalah tidak direkomendasikan lagi untuk pengembangan
jalan karena pengembangan infrastruktur jaringan jalan di wilayah ini
akan semakin mendesak terjadinya alih fungsi lahan pertanian
pangan baik untuk pembangunan jalan itu sendiri maupun dampak
dari perkembangan akses jalan seperti terjadinya peningkatan
pembangunan permukiman oleh masyarakat maupun aktivitas
pembangunan lainnya yang tidak mendukung untuk pengembangan
pertanian pangan.

c. Mengikuti Rencana Struktur Ruang


Penetapan arahan ini adalah untuk wilayah diluar kawasan hutan
(APL) dengan arahan yang tidak mendukung untuk pengembangan
areal pertanian pangan. Karena tidak mendukung untuk
pengembangan areal pertanian pangan secara berkelanjutan
sehingga wilayah ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan
pembangunan pada sektor lain. Pengembangan jaringan jalan pada
wilayah ini dapat dimaksimalkan untuk meningkatkan pembangunan
perekonomian daerah setempat dengan tetap mempertimbangkan
daya dukung dan daya tampung lingkungan. Arahan untuk mengikuti
rencana struktur ruang yang sudah ditetapkan dalam rencana tata
ruang dan wilayah (RTRW) dinilai sudah mempertimbangkan secara
komprehensif daya dukung dan daya tampung lingkungan serta
berbagai kebijakan daerah setempat .

108
d. Menyesuaikan dengan Regulasi di Kawasan Hutan

Penetapan arahan ini adalah untuk wilayah yang berada di dalam


kawasan hutan. Maksud dari penetapan arahan ini adalah setiap
kegiatan pembangunan di suatu kawasan hutan harus mengikuti
regulasi yang ada pada sector kehutanan. Terkait pengembangan
dan pembangunan jalan di kawasan hutan merupakan kegiatan yang
termasuk kedalam penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan
pembangunan di luar kegiatan kehutanan, sesuai dengan UU No. 41
tahun 1999 tentang Kehutanan dimana kegiatan tersebut hanya
diperkenankan dilakukan di dalam kawasan hutan lindung dan hutan
produksi. Penggunaan kawasan hutan untuk tujuan dimaksud harus
dengan izin Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan
persetujuan DPR. Penggunaan kawasan hutan lindung untuk
kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan diatur lebih
lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2010 tentang
Penggunaan Kawasan Hutan dimana jenis izin yang belaku terkait
penggunaan kawasan hutan lindung untuk pembangunan jalan
umum adalah izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH). Dari
beberapa ketentuan peraturan perundang-undangan yang terkait
dengan sektor kehutanan tersebut memperbolehkan dilakukannya
pembangunan jalan umum di kawasan hutan produksi dan hutan
melihat manfaatnya bagi masyarakat tetapi tidak mengubah fungsi
kawasan hutan tersebut. Adapun peraturan tentang pengembangan
dan pembangunan jalan pada jenis kawasan hutan lainnya seperti
kawasan konservasi dapat melihat lebih lanjut peraturan yang
berlaku pada kawasan konservasi yang diatur dalam UU No.5 Tahun
1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan
Ekosistemnya.

109
A. Provinsi Sulawesi Selatan

Sebaran arahan sektor transportasi terhadap rencana


pengembangan jaringan jalan di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan
dengan mempertimbangkan pengelolaan pertanian pangan secara
berkelanjutan dapat dilihat pada tabel dan grafik dibawah ini

Tabel… Distribusi Arahan Sektor Transportasi


di Provinsi Sulawesi Selatan

No Arahan Sektor Transportasi Luas (Ha) Persentase


1 Mengikuti rencana struktur ruang
306,382.53 6.81%

2
Menyesuaikan dengan regulasi di kawasan hutan 2,176,002.65 48.35%

3 Pengembangan jalan dengan memperhatikan kaidah


lingkungan dan keberlanjutan lahan pertanian pangan 1,979,143.27 43.98%

4 Tidak merekomendasikan pengembangan jalan dan


memaksimalkan akses jalan yang tersedia 38,797.65 0.86%

Grand Total 4,500,326.10 100.00%

Grafik… Distribusi Arahan Sektor Transportasi


di Provinsi Sulawesi Selatan

Dari tabel dan grafik diatas terlihat bahwa di wilayah Provinsi


Sulawesi Selatan pada arahan transportasi didominasi oleh arahan

110
“Menyesuaikan dengan regulasi kawasan hutan” dengan luas wilayah
2,176,002.65 Ha atau 48.35%, hal ini memperlihatkan bahwa wilayah
Provinsi Sulawesi Selatan kurang lebih 48,35% adalah wilayah yang
masuk dalam kawasan hutan. Kemudian arahan “Pengembangan jalan
dengan memperhatikan kaidah lingkungan dan keberlanjutan lahan
pertanian pangan” dengan luas wilayah 1,979,143.27 Ha atau 43.98%,
hal ini menunjukkan bahwa ada kurang lebih 43.98% areal yang
memiliki potensi ataupun sudah secara aktual dimanfaatkan untuk
pengelolaan pertanian pangan tetapi masih perlu didukung infrastruktur
jalan tetapi dengan tetap memperhatikan kaidah lingkungan dan
keberlanjutan lahan pertanian pangan. Untuk arahan “Mengikuti rencana
struktur ruang” dengan luas wilayah 306,382.53 Ha atau 6.81% adalah
wilayah yang tidak diarahkan untuk pengelolaan pertanian pangan
secara berkelanjutan sehingga diarahakan untuk tetap mengikuti
rencana struktur ruang sesuai dengan rencana tata ruang dan wilayah
(RTRW) di daerah setempat. Arahan yang terakhir adalah “Tidak
merekomendasikan pengembangan jalan dan memaksimalkan akses
jalan yang tersedia” dengan luas wilayah 38,797.65 Ha atau 0.86%.
Arahan ini menunjukkan bahwa wilayah yang diarahkan untuk
pengelolaan pertanian pangan secara berkelanjutan tersebut berada di
wilayah dengan kerapatan jalan yang tinggi dan sangat tinggi. Walaupun
dengan luas wilayah dengan persentase yang kecil tetapi perlu menjadi
bahan pertimbangan khusus bagi daerah untuk mencermati wilayah
tersebut.

111
Tabel… Distribusi Luas Wilayah Berdasarkan Arahan Sektor Transportasi Per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan

Arahan Sektor Transportasi


(4) Tidak
(3) Pengembangan jalan
merekomendasikan
Kabupaten / (1) Mengikuti rencana dengan memperhatikan
(2) Menyesuaikan dengan pengembangan jalan
Kota
kaidah lingkungan dan Grand Total
struktur ruang regulasi di kawasan hutan dan memaksimalkan
keberlanjutan lahan
akses jalan yang
pertanian pangan
tersedia
Luas Persentase Luas Persentase Luas Persentase Luas Persentase Luas Persentase
BANTAENG 2,899.47 7.31% 5,960.22 15.02% 30,726.11 77.46% 83.03 0.21% 39,668.83 100.00%
BARRU 8,928.06 7.51% 68,844.89 57.89% 40,910.88 34.40% 241.66 0.20% 118,925.50 100.00%
BONE 11,037.35 2.41% 143,225.37 31.29% 296,993.18 64.88% 6,477.56 1.42% 457,733.46 100.00%
BULUKUMBA 989.83 0.85% 13,670.40 11.71% 101,488.29 86.92% 608.44 0.52% 116,756.96 100.00%
ENREKANG 18,868.37 10.36% 86,989.11 47.76% 73,999.34 40.63% 2,280.54 1.25% 182,137.36 100.00%
GOWA 13,208.15 7.32% 83,591.12 46.35% 80,700.13 44.75% 2,852.27 1.58% 180,351.67 100.00%
JENEPONTO 454.26 0.57% 11,326.14 14.27% 67,299.45 84.82% 267.20 0.34% 79,347.06 100.00%
LUWU 35,374.22 11.99% 118,398.93 40.12% 140,519.80 47.62% 789.05 0.27% 295,082.01 100.00%
LUWU TIMUR 15,631.49 2.32% 558,794.56 82.99% 93,149.80 13.83% 5,769.98 0.86% 673,345.82 100.00%
LUWU UTARA 32,687.49 4.51% 533,181.80 73.58% 155,741.24 21.49% 3,044.98 0.42% 724,655.50 100.00%
MAKASSAR 10,498.52 59.92% - 0.00% 4,259.01 24.31% 2,763.81 15.77% 17,521.34 100.00%
MAROS 12,767.52 8.85% 66,055.71 45.79% 64,679.71 44.83% 759.27 0.53% 144,262.20 100.00%
PALOPO 1,451.84 5.71% 10,329.50 40.65% 13,135.55 51.70% 491.07 1.93% 25,407.96 100.00%
PANGKEP 3,718.86 4.62% 29,749.87 36.92% 46,277.79 57.43% 831.27 1.03% 80,577.79 100.00%

107
PARE-PARE 802.86 9.05% 2,340.35 26.38% 4,282.26 48.27% 1,446.79 16.31% 8,872.26 100.00%
PINRANG 3,974.77 2.11% 74,228.32 39.41% 107,671.69 57.17% 2,452.00 1.30% 188,326.78 100.00%
SELAYAR 50,687.57 45.18% 21,980.97 19.59% 39,446.62 35.16% 85.59 0.08% 112,200.76 100.00%
SIDRAP 14,970.05 7.81% 71,514.94 37.30% 102,144.52 53.27% 3,113.32 1.62% 191,742.83 100.00%
SINJAI 925.02 1.06% 21,001.42 24.16% 64,597.20 74.30% 417.71 0.48% 86,941.34 100.00%
SOPPENG 1,503.69 1.10% 48,317.80 35.31% 86,462.06 63.19% 545.65 0.40% 136,829.19 100.00%
TAKALAR 2,374.99 4.30% 7,528.22 13.64% 43,936.34 79.59% 1,364.35 2.47% 55,203.90 100.00%
TANA TORAJA 32,008.12 15.56% 114,717.05 55.77% 57,580.57 27.99% 1,389.90 0.68% 205,695.64 100.00%
TORAJA UTARA 11,411.73 9.05% 57,067.22 45.28% 57,346.25 45.50% 207.34 0.16% 126,032.54 100.00%
WAJO 19,208.32 7.60% 27,188.73 10.76% 205,795.47 81.44% 514.88 0.20% 252,707.40 100.00%
1,979,143.
Grand Total 306,382.53 6.81% 2,176,002.65 48.35%
27
43.98% 38,797.65 0.86% 4,500,326.10 100.00%

108
Gambar…Grafik Distribusi Luas Wilayah Berdasarkan Arahan Sektor Transportasi Per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi
Selatan

107
Dari tabel dan grafik distribusi luas wilayah berdasarkan arahan sektor
transportasi per kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan sebaran
arahan terlihat lebih bervariasi di masing-masing kabupaten dimana
umumnya sebaran arahan (3) ”Pengembangan jalan dengan
memperhatikan kaidah lingkungan dan keberlanjutan lahan pertanian
pangan” mendominasi seperti yang terlihat diantaranya di kabupaten
bantaeng, bone, bulukumba, jeneponto, Pinrang, Sidrap, Sinjai,
Soppeng, dan Wajo. Arahan (2) “Menyesuaikan dengan regulasi di
kawasan hutan” mendominasi di kabupaten Barru, Enrekang, Luwu
Timur, Luwu Utara, Tana Toraja, dan Toraja Utara. Untuk arahan (1)
“Mengikuti rencana struktur ruang” di Kota Makassar dan Kabupaten
Selayar. Sedangkan untuk arahan (4) “Tidak merekomendasikan
pengembangan jalan dan memaksimalkan akses jalan yang tersedia”
nilai rata-rata pada tiap/kabupaten kota nilainya dibawah 2% kecuali di
Kota Makassar dan Kota Pare-Pare yang memiliki nilai diatas 15%.
B. Provinsi Gorontalo
Sebaran arahan sektor transportasi terhadap rencana
pengembangan jaringan jalan di wilayah Provinsi Gorontalo dengan
mempertimbangkan pengelolaan pertanian pangan secara berkelanjutan
dapat dilihat pada tabel dan grafik dibawah ini
Tabel… Distribusi Arahan Sektor Transportasi
di Provinsi Gorontalo
No Arahan Sektor Transportasi Luas (Ha) Persentase
1 Mengikuti Rencana Struktur Ruang 59,284.72 4.93%

2 Menyesuaikan dengan regulasi di Kawasan Hutan 823,503.07 68.52%

Pengembangan jalan dengan memperhatikan kaidah


3 307,335.01 25.57%
lingkungan dan keberlanjutan lahan untuk pangan
Tidak merekomendasikan pengembangan jalan dan
4 11,724.97 0.98%
memaksimalkan akses jalan yang tersedia
Total 1,201,847.77 100.00%

107
Grafik… Distribusi Arahan Sektor Transportasi
di Provinsi Gorontalo

Dari tabel dan grafik diatas terlihat bahwa di wilayah Provinsi


Gorontalo arahan transportasi didominasi oleh arahan “Menyesuaikan
dengan regulasi kawasan hutan” dengan luas wilayah 823,503.07 Ha
atau 68.52%, hal ini memperlihatkan bahwa wilayah Provinsi Sulawesi
Selatan kurang lebih 68.52% adalah wilayah yang masuk dalam
kawasan hutan. Kemudian arahan “Pengembangan jalan dengan
memperhatikan kaidah lingkungan dan keberlanjutan lahan pertanian
pangan” dengan luas wilayah 307,335.01 Ha atau 25.57%, hal ini
menunjukkan bahwa ada kurang lebih 25.57% areal yang memiliki
potensi ataupun sudah secara aktual dimanfaatkan untuk pengelolaan
pertanian pangan tetapi masih perlu didukung infrastruktur jalan tetapi
dengan tetap memperhatikan kaidah lingkungan dan keberlanjutan
lahan pertanian pangan. Untuk arahan “Mengikuti rencana struktur
ruang” dengan luas wilayah 59,284.72 Ha atau 4.93% adalah wilayah

108
yang tidak diarahkan untuk pengelolaan pertanian pangan secara
berkelanjutan sehingga diarahakan untuk tetap mengikuti rencana
struktur ruang sesuai dengan rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) di
daerah setempat. Arahan yang terakhir adalah “Tidak
merekomendasikan pengembangan jalan dan memaksimalkan akses
jalan yang tersedia” dengan luas wilayah 11,724.97 Ha atau 0.98%.
Arahan ini menunjukkan bahwa wilayah yang diarahkan untuk
pengelolaan pertanian pangan secara berkelanjutan tersebut berada di
wilayah dengan kerapatan jalan yang tinggi dan sangat tinggi. Walaupun
dengan luas wilayah dengan persentase yang kecil tetapi perlu menjadi
bahan pertimbangan khusus bagi daerah untuk mencermati wilayah
tersebut.

109
Tabel… Distribusi Luas Wilayah Berdasarkan Arahan Sektor Transportasi Per Kabupaten/Kota di Provinsi Gorontalo

Kabupaten / Kota
No Arahan Kab Boalemo Kab Bone Bolango Kab Gorontalo Kab Gorontalo Utara Kab Pohuwato Kota Gorontalo Total
Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) %

Mengikuti Rencana 8,755.1 17,636.8 8,852.9 59,28


1 4.79% 13,245.11 6.92% 8.20% 8,131.44 4.74% 2.03% 2,663.23 47.54% 4.93%
Struktur Ruang 7 0 7 4.72

Menyesuaikan
102,984.0 98,122.5 370,134.3 823,50
2 dengan regulasi di 56.37% 140,516.89 73.40% 45.64% 111,483.00 64.96% 84.99% 262.16 4.68% 68.52%
7 7 8 3.07
Kawasan Hutan

Pengembangan
jalan dengan
memperhatikan 68,860.0 94,981.5 54,212.3 307,33
3 37.69% 35,957.36 18.78% 44.18% 51,981.91 30.29% 12.45% 1,341.91 23.96% 25.57%
kaidah lingkungan 0 0 2 5.01
dan keberlanjutan
lahan untuk pangan

Tidak
merekomendasikan
pengembangan
2,086.8 4,235.8 2,322.1 11,72
4 jalan dan 1.14% 1,711.13 0.89% 1.97% 34.56 0.02% 0.53% 1,334.40 23.82% 0.98%
6 6 6 4.97
memaksimalkan
akses jalan yang
tersedia

Total 182,686.10 100.00% 191,430.48 100.00% 214,976.74 100.00% 171,630.91 100.00% 435,521.84 100.00% 5,601.70 100.00% 1,201,847.77 100.00%

107
Gambar… Grafik Distribusi Luas Wilayah Berdasarkan Arahan Sektor Transportasi Per Kabupaten/Kota di Provinsi Gorontalo

108
Dari tabel dan grafik distribusi luas wilayah berdasarkan arahan sektor
transportasi per kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo sebaran arahan
didominasi oleh arahan ”Menyesuaikan dengan regulasi di kawasan hutan”
dengan rata-rata nilai di atas 45% di setiap kabupaten kecuali pada kota
Gorontalo. Hal ini menandakan persebaran kawasan hutan masih paling
tinggi luas wilayahnya pada setiap kabupaten di Provinsi Gorontalo. Arahan
“Pengembangan Jalan dengan memperhatikan kaidah lingkungan dan
keberlanjutan lahan untuk pangan” terbesar berada di Kabupaten Gorontalo,
Kabupaten Boalemo dan Kabupaten Gorontalo Utara dengan nilai diatas
30%. Sedangkan arahan “Mengikuti rencana struktur ruang” dengan
persentase luas wilayah yang paling besar berada di Kota Gorontalo dengan
nilai 47.54% dan arahan “ Tidak merekomendasikan pengembangan jalan
dan memaksimalkan akses jalan yang tersedia “ dengan nilai paling besar
juga berada di kota Gorontalo dengan nilai 23,96%.

107