Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PRAKTIKUM

KULTUR JARINGAN TUMBUHAN


Aklimatisasi Anggrek Dendrobium sp.

Disusun oleh :

Cindy Yong Kurnia Putri (150801578)

LABORATORIUM BIOTEKNOLOGI
FAKULTAS TEKNOBIOLOGI
UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA
2017
KREDIT NILAI LAPORAN
PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN TUMBUHAN

Judul : Sterilisasi Eksplan dan Kultur Kotiledon


KRITERIA NILAI
NILAI ACC
STANDAR
COVER dan JUDUL
I. PENDAHULUAN
10
a. LATAR BELAKANG
b. TUJUAN PRAKTIKUM
II. TINJAUAN PUSTAKA 20
III. METODE
a. ALAT & BAHAN 15
b. CARA KERJA
III. HASIL & PEMBAHASAN 35
IV. KESIMPULAN & SARAN 10
DAFTAR PUSTAKA 10
LAMPIRAN
JUMLAH 100

Nama : Cindy Yong Kurnia Putri


NPM : 150801578
Golongan :B

Mengetahui,

Asisten

Hermanto
I. PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad renik
yang ada, sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada lagi
jasad renik yang dapat berkembang biak. Sterilisasi harus dapat membunuh
jasad renik yang paling tahan panas yaitu spora bakteri. Eksplan adalah
bagian tanaman yang diambil dan akan dilakukan kultur jaringan tumbuhan.
Eksplan yang digunakan tidak mengandung mikroba yang tidak diharapkan
baik dipermukaan maupun didalam selnya (Hadioetomo, 2000).
Kultur kotiledon adalah teknik kultur jaringan yang menggunakan
eksplan berupa embrio. Manfaat dari kultur kotiledon adalah
menghilangkan dormansi biji, memperpendek siklus perbanyakan,
menyelamatkan pertumbuhan embrio hibrid dan memahami kebutuhan
kondisi lingkungan dan nutrisional untuk perkembangan embrio.
Penggunaan eksplan biji pada kultur in-vitro dapat menyerap air lebih cepat
sehingga mempercepat induksi tunas. Hal ini disebabkan karena struktur
permukaan kotiledon memiliki sel-sel yang berfungsi untuk penyerapan air
(Cahyati dkk., 2016).
Kultur kotiledon adalah sebuah endosperm dari pembuahan antara
gamet jantan yang bersifat haploid dengan inti kandung lembaga yang
bersifat diploid, sehingga kotiledon akan bersifat triploid. Kotiledon adalah
organ cadangan makanan pada biji didalam suatu tumbuhan yang dimiliki
oleh tanaman itu saja saat berkecambah sehingga hanya karbohidrat dan
lemak bagi perkembangan embrio . Salah satu teknik kultur jaringan dengan
menggunakan sumber eksplan kotiledon yang berasal dari biji yang telah
matang. Manfaat dari kultur kotiledon yaitu untuk memberikan asupan
cadangan makanan bagi embrio yang tidak dapat bertahan hidup di
lingkungan in vitro, menghasilkan plantlet melalui embriogenesis dan
mempermudah regenerasi pada tanaman (Abidin, 1982).
Kotiledon yang dikulturkan harus berada dalam kondisi yang
menunjukkan masa dormansi yang panjang, embrio hibrida hasil
penyilangan interspesifik yang tidak kompatibel dengan endospermnya.
Kondisi lingkungan kultur kotiledon yang sesuai untuk mendukung
pertumbuhan adalah oksigen, cahaya (14 hari terang kemudian gelap untuk
merangsang pembentukan klorofil), suhu (kadang perlu perlakuan dingin
dengan suhu 4oC untuk memecah dormansi) (Sugito dan Nugroho, 2004).
Pada praktikum ini dilakukan kultur kotiledon yang berasal dari
jagung (Zea mays) dengan menggunakan medium MS dengan bantuan
hormon 2,4 D yang dapat menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan
kotiledon yang dapat tumbuh menjadi calon akar, calon tunas bahkan calon
daun. Pertumbuhan dan perkembangan diamati selama 14 hari. Kultur ini
dikatakan sukses apabila tidak mengalami kontaminasi dan memiliki
morfologi yang baik seperti tumbuhnya calon tunas dan calon daun. Kultur
kotiledon sangat penting untuk menghasilkan tunas dalam jangka waktu
yang singkat serta menghasilkan biakan tanaman yang banyak secara in-
vitro (Hendaryono dan Wijayani, 1994).
b. Tujuan
1. Mengetahui cara perbanyakan jagung (Zea mays) secara vegetatif in
vitro menggunakan eksplan calon tunas
2. Menginduksi pembentukan planlet dari calon tunas yang ditumbuhkan
secara steril pada jagung (Zea mays)
3. Mengetahui hasil pertumbuhan dan perkembangan kultur kotiledon
jagung (Zea mays) dari semua botol kultur pada ruang penabur LAF
4. Mengetahui hasil pertumbuhan dan perkembangan kultur kotiledon
jagung (Zea mays) dari semua botol kultur pada ruang penabur enkas
5. Mengetahui perbedaan antara kultur embrio dan kultur kotiledon
II. TINJAUAN PUSTAKA

Kultur jaringan pada suatu tumbuhan merupakan suatu cara


membudidayakan suatu jaringan tumbuhan menjadi tumbuhan kecil yang
mempunyai sifat seperti induknya dimana pelaksanaan teknik kultur jaringan ini
berdasarkan teori sel seperti yang ditemukan oleh Scheiden dan Schwann bahwa sel
mempunyai kemampuan autonom, bahkan mempunyai kemampuan
totipotensi. Totipotensi sel adalah kemampuan setiap sel, dari mana saja sel tersebut
diambil, apabila diletakan dalam lingkungan yang sesuai akan dapat tumbuh
menjadi tanaman yang sempurna. Embriogenesis somatik adalah proses dimana sel
somatik (haploid bahkan diploid) berkembang membentuk tumbuhan baru melalui
tahap perkembangan embrio yang spesifik tanpa melalui fusi gamet (Hendaryono
dan Wijayani 1994).
Eksplan adalah bagian atau bahan tanaman yang akan dikultur dalam proses
kultur jaringan tumbuhan. Pemilihan eksplan harus pada bagian tanaman muda dan
mudah tumbuh, contohnya adalah daun muda, ujung batang dan keping biji. Setiap
eksplan memerlukan sterilisasi agar terhindar dari agen kontaminan. Sterilisasi
adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada, sehingga jika
ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat
berkembang biak. Sterilisasi harus dapat membunuh jasad renik yang paling tahan
panas yaitu spora bakteri (Hadioetomo, 2000).
Menurut Manullang dkk. (2006), kontaminasi dari bahan tanam sulit diatasi
maka diperlukan bahan sterilan yang cocok untuk terhindar dari bahan kontaminan.
Apabila kontaminan tidak dihilangkan maka media berupa gula, vitamin bahkan
mineral dalam botol akan terpenuhi oleh kontaminan dan menyebabkan eksplan
mati. Prinsip sterilisasi eksplan yaitu mensterilkan eksplan dari berbagai
mikroorganisme namun eksplan tidak ikut mati. Sterilisasi eksplan dibagi menjadi
dua macam metode yaitu:
a. Sterilisasi secara mekanis, digunakan untuk eksplan yang keras bahkan
berdaging yaitu dengan membakar eksplan diatas lampu spiritus sebanyak
tiga kali. Contoh bahan yang disterilisasi secara mekanis adalah tebu dan
biji salak
b. Sterilisasi secara kimiawi, digunakan untuk eksplan yang lunak seperti
daun dan tangkai daun. Bahan kimia yang sering digunakan untuk
sterilisasi secara kimiawi adalah:
1. Sodium hipoklorit, atau disebut juga clorox dan biasanya digunakan
pada konsentrasi 5%-10% selama 5-10 menit dengan perbandingan
antara clorox dengan aquades sebesar 1:4.
2. Merkuri klorit, atau disebut juga sublimat 0,05% yang memiliki
prinsip kinerja yang sama dengan sodium hipoklorit namun hanya
memerlukan waktu yang lebih pendek karena merkuri klorit bersifat
keras apabila terlalu lama maka menyebabkan kerusakan pada
eksplan.
3. Alkohol 70%, dimana bahan kimia ini sering digunakan sebagai agen
sterilan dan konsentrasi alkohol yang paling baik untuk membunuh
agen kontaminan adalah alkohol 70%.
Menurut George dan Sherrington (1984), berdasarkan letak kontaminan maka
kon taminasi eksplan dibagi menjadi dua yaitu kontaminasi internal dan eksternal.
Kontaminasi internal merupakan kontaminan yang berasal dari jaringan tanaman
tersebut maka diperlukan fungisida sistemik bahkan antibiotik. Kontaminasi
eksternal adalah kontaminasi yang berasal dari permukaan luar bahan tanam
sehingga dapat disterilisasi hanya bagian permukaan luar eksplan saja. Teknik
kultur in-vitro dapat berhasil apabila pemilihan eksplan yang baik dan bebas dari
kontaminan, pengaturan udara yang baik (terutama pada kultur cair) dengan benar
seperti sirkulasi udara dengan eksplan harus bersih dan steril, keadaan aseptik
dimana dalam kultur in-vitro harus menjaga sterilitas dan memiliki prinsip aseptis
agar terhindar dari agen kontaminan serta penggunaan medium yang cocok agar
memperoleh hasil kultur yang baik dan dapat disubkultur untuk kepentingan kultur
in-vitro. Apabila menggunakan embrio bahkan bagian biji sebagai eksplan maka
hal-hal yang harus diperhatikan adalah kemasakan embrio (apabila embrio
memiliki kualitas yang buruk bahkan belum masak maka tidak menghasilkan
eksplan yang baik), waktu inhibisi (waktu dimana tanaman mengalami
pertumbuhan dan perkembangan dengan cepat lalu nanti akan berhenti namun
tergantung pada kondisi lingkungan), temperatur (eksplan yang tumbuh akan
dipengaruhi oleh temperatur yang sesuai pada eksplan) dan dormansi (keadaan
berhenti bertumbuh pada tumbuhan sebagai adanya keadaan lingkungan yang tidak
mendukung) (Yuniarti dan Djaman, 2015).
Menurut Ardiansyah dkk. (2014), teknik sterilisasi permukaan eksplan
banyak digunakan untuk menghilangkan kontaminan pada permukaan eksplan
dengan merendam eksplan pada larutan desinfektan dengan konsentrasi tertentu.
Contoh agen sterilisasi permukaan pada permukaan eksplan yaitu AgNO2 (perak
nitrat), HgCl2 (merkuri klorida), H2O2 (hidrogen peroksida), alkohol dan etanol.
Sterilan yang biasa dipakai untuk sterilisasi permukaan adalah natrium hipoklorit
(NaOCl) atau kalsium hipoklorit (Ca(OCl)2) yang dapat mengurangi agen
kontaminan dengan cara mikropropagasi dimana Ca(OCl)2 memiliki pH yang tidak
stabil dan merusak jaringan sedangkan NaOCl tidak dapat merusak jaringan dan pH
stabil. Berdasarkan konsentrasi bahan dan waktu yang diperlukan, sterilisasi
eksplan dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Sterilisasi ringan, dengan cara eksplan direndam dalam clorox 20%
selama 10 menit dan dibilas dengan air bersih, lalu eksplan direndam
dengan clorox 15% selama 10 menit dan dibilas dengan air bersih serta
dilanjutkan kembali eksplan direndam dengan clorox 10% selama 10
menit dan dibilas kembali dengan air bersih
2. Sterilisasi sedang, dengan cara eksplan direndam dalam HgCl2 0,1-0,5
mg/l selama 7 menit dan dibilas dengan air bersih, lalu eksplan direndam
dalam clorox 15% selama 10 menit dan dibilas dengan air bersih serta
dilanjutkan dengan eksplan direndam dalam clorox 10% selama 10 menit
dan dibilas kembali dengan air bersih.
3. Sterilisasi keras, dengan cara eksplan direndam dalam HgCl2 0,1-0,5 mg/l
selama 10 menit dan dibilas dengan air bersih, lalu eksplan direndam
dalam alkohol 90% selama 15 menit dan dibilas dengan air bersih serta
dilanjutkan dengan eksplan direndam dengan clorox 20% selama 10
menit dan dibilas dengan air bersih kembali.
Kultur kotiledon adalah sebuah endosperm dari pembuahan antara gamet
jantan yang bersifat haploid dengan inti kandung lembaga yang bersifat diploid,
sehingga kotiledon akan bersifat triploid. Kotiledon adalah organ cadangan
makanan pada biji didalam suatu tumbuhan yang dimiliki oleh tanaman itu saja saat
berkecambah sehingga hanya karbohidrat dan lemak bagi perkembangan embrio.
Salah satu teknik kultur jaringan dengan menggunakan sumber eksplan kotiledon
yang berasal dari biji yang telah matang. Manfaat dari kultur kotiledon yaitu untuk
memberikan asupan cadangan makanan bagi embrio yang tidak dapat bertahan
hidup di lingkungan in vitro, menghasilkan plantlet melalui embriogenesis dan
mempermudah regenerasi pada tanaman (Bhojwani dan Razdan, 1989).
Kotiledon atau endosperm yang digunakan dalam penelitian ini merupakan
endosperm yang telah dikecambahkan sehingga hanya berupa sel-sel lemak dan
karbohidrat sebagai cadangan makanan bagi perkembangan embrio atau hipokotil,
hasil yang diperoleh dalam kultur in-vitro ini hanya berupa sel-sel kalus. Indikasi
perbedaan genetik yang akan mengakibatkan perbedaan kemampuan kompetensi
regenerasi atau kondisi fisiologis dari jaringan eksplan. Eksplan yang digunakan
merupakan kotiledon muda yang masih dalam proses pengisian biji, jadi
memungkinkan ada sel embrio dalam eksplant tersebut, sehingga memungkinkan
menghasilkan planlet melalui proses embriogenesis (Gunawan, 1995).
Kotiledon yang dikulturkan harus berada dalam kondisi yang menunjukkan
masa dormansi yang panjang, embrio hibrida hasil penyilangan interspesifik yang
tidak kompatibel dengan endospermnya. Kondisi lingkungan kultur kotiledon yang
sesuai untuk mendukung pertumbuhan adalah oksigen, cahaya (14 hari terang
kemudian gelap untuk merangsang pembentukan klorofil), suhu (kadang perlu
perlakuan dingin dengan suhu 4oC untuk memecah dormansi) (Sugito dan Nugroho,
2004).
Menurut George dan Sherrington (1984), kultur tunas dimana eksplan berupa
tunas memiliki jangka pertumbuhan dan daya tahan berbeda-beda dan harus
mengambil dari kuncup apeks dimana memiliki kualitas yang lebih baik
dibandingkan dengan kuncup lateral karena kuncup apeks memiliki pertumbuhan
langsung ke permukaan dengan cepat. Ujung kuncup dipotong agar
pertumbuhannya lebih cepat serta pemotongan nodus menghasilkan tunas aksiler.
Kultur tunas juga dapat menggunakan eksplan dari kotiledon bahkan akar tanaman
karena memiliki tingkat regenerasi dan pertumbuhan yang lebih cepat dan baik.
Regenerasi tanaman dari kalus melalui embriogenesis somatik lebih
menguntungkan karena embrio somatik mempunyai struktur bipolar yang
mengandung meristem tunas dan akar. Sel somatik berkembang melalui
pembelahan untuk membentuk embrio sempurna sama seperti pada embrio zigotik.
Pada embriogenesis somatik dapat digunakan zat pengatur tumbuh dalam
konsentrasi yang memadai (Priadi dkk., 2014). Penggunaan eksplan kotiledon pada
kultur in-vitro dapat menyerap air lebih cepat sehingga mempercepat induksi tunas.
Hal ini disebabkan karena struktur permukaan kotiledon memiliki sel-sel yang
berfungsi untuk penyerapan air (Cahyati dkk., 2016).
Tanaman jagung (Zea mays) dari kingdom (Plantae), divisi (Spermatophyta),
kelas (Monocotyledone), ordo (Graminae), famili (Graminaceae), genus (Zea) dan
species (Zea mays). Jagung adalah tanaman berkeping tunggal atau monokotil, akar
jagung berupa akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m tapi rata rata pada
kisaran 2 m. Jagung termasuk tanaman semsim, sebagai bahan pokok jagung hidup
dengan penyelesaian umur antara 80 – 150 hari (Martin, 1989).
Jagung merupakan tanaman pangan beriklim panas dan pada dasarnya
tumbuh pada temperatur antara 21-30 oC (70-86 F) namun optimum pada suhu 18-
21 oC (64-58 F). Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif
dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif. Kultur eksplan jagung dalam
pembentukan kalus embriogenik ada 2 tipe yaitu tipe dengan ciri kompak dan ciri
remah dimana kalus tipe ciri kompak sering digunakan untuk kultur eksplan jagung.
Pertumbuhan morfologi kotiledon jagung berupa calon akar bahkan tunas, akan
lebih baik apabila terdapat pertumbuhan daun yang berarti bahwa asupan nutrisi
dari medium kedalam eksplan berinteraksi dengan maksimal dan menghasilkan
pertumbuhan eksplan yang optimal. Pengambilan kotiledon pada jagung harus
diambil pelan-pelan dengan pinset agar kotiledon yang terambil tidak rusak dan
tidak melukai kotiledon yang akan ditanam nantinya (Badami dan Amzeri, 2010).
Pada pemberian unsur hara perlu dilakukan sesuai dengan dosis dan
kebutuhan jagung, sedangkan untuk pemeliharaan dilakukan secara rutin, termasuk
dalam hal pengairan dan pemberantasan organisme pengganggu tanaman yang bisa
mengurangi hasil produksi jagung. Pada proses perkecambahan biji jagung,
radikula akan keluar terlebih dahulu kemudian diikuti oleh pertumbuhan plumula.
Proses perkecambahan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai hal seperti kadar
air, cahaya, temperatur, oksigen, dan salinitas. Proses perkecambahan juga dapat
diinisiasi dengan skarifikasi (Manuhara dkk., 2010).
Menurut Cahyani (2009), kotiledon yang lebih muda membutuhkan media
yang lebih kompleks dibandingkan dengan kotiledon yang lebih tua. Perpindahan
embrio dari lingkungan normal dalam biji akan mengatasi hambatan yang
ditimbulkan oleh kulit biji yang sulit ditembus. Biji jagung disebut kariopsis,
dinding ovari atau perikarp menyatu dengan kulit biji atau testa, membentuk
dinding buah. Biji jagung terdiri atas tiga bagian utama yaitu pericarp (lapisan luar
yang tipis, berfungsi mencegah embrio dari organisme pengganggu dan kehilangan
air), endosperm, sebagai cadangan makanan, mencapai 75% dari bobot biji yang
mengandung 90% pati dan 10% protein, mineral dan minyak) dan embrio (sebagai
miniatur tanaman yang terdiri atas plamule, akar radikal, scutelum, dan koleoptil).
Perbedaan kultur kotiledon dan kultur embrio adalah kultur embrio menggunakan
eksplan pada seluruh bagian biji dimana endosperm pun juga ikut dikulturkan
sedangkan kultur kotiledon hanya memakai eksplan berupa embrio saja
(Budisantoso dan Prayoga, 2012).
Menurut Gunawan (1995), pemilihan eksplan biji yang baik salah satunya
dipengaruhi oleh ukuran kotiledon (menentukan keberhasilan eksplan untuk hidup,
ukuran yang terlalu kecil akan mengurangi daya tahannya bila dikulturkan).
Apabila terlalu besar ukuran kotiledon maka akan sulit untuk mendapatkan eksplan
yang steril. Setiap jenis tanaman maupun organ memiliki ukuran eksplan yang
optimal berbeda-beda untuk dikulturkan. Skarifikasi adalah mekanisme dormansi
pada biji tanaman agar biji cepat mengalami perkecambahan. Faktor yang dapat
menjadi inhibitor dalam proses perkecambahan seperti tidak tersedianya air,
temperatur yang rendah, dan adanya glukosa atau sukrosa yang dapat bertindak
sebagai sinyal molekul yang mengontrol ekspresi gen dan proses perkembangan
dalam perkecambahan (Manuhara dkk., 2010).
Zat pengatur tumbuh memegang peranan penting dalam keberhasilan induksi
tunas diantaranya dari golongan sitokinin adalah BAP (Benzil Amino Purin)/BA
(Benziladenin) kinetin dan zeatin. Pada kultur in vitro biji jagung, media yang
digunakan adalah media MS setengah padat dan mengandung zat pengatur tumbuh
2,4-D. Sumber eksplan berupa kotiledon dengan ukuran antara 1,0-1,5 mm diambil
dari biji jagung (Manuhara dkk., 2010).
Menurut Manuhara dkk. (2010), 2,4-D merupakan auksin terbaik untuk
menginduksi pembentukan embrio somatik dari eksplan dibandingkan dengan tipe
auksin lain (IAA, IBA, dan NAA). Sifat 2,4-D yang mudah diserap sel tanaman,
tidak mudah terurai dan menjadi tidak aktif, berfungsi sebagai auksin kuat dan
mampu mendorong aktifitas morfogenetik yang merupakan beberapa faktor
pendukung, sehingga 2,4-D lebih baik dari tipe auksin lain. 2,4-D juga dapat
merangsang pertumbuhan biji dengan prosentase perkecambahan sebesar 66,6%.
Pengaruh suatu hormon bergantung pada jenis tanaman, jaringan, organ
maupun konsentrasi hormon yang diberikan. Semakin tinggi konsentrasi perlakuan
yang diberikan akan mempercepat waktu tumbuh kalus namun harus secukupnya
karena sifat 2,4-D itu sendiri merupakan hormon yang mudah diserap, stabil tidak
mudah diurai, mampu mendorong perkembangan ekplan namun semakin tinggi
konsentrasi 2,4 D dengan konsentrasi berlebih yang diberikan maka akan
menghambat pertumbuhan eksplan sehingga mengakibatkan menurunnya berat
basah kalus yang diperoleh. 2,4-D kurang berperan dalam regenerasi kalus
kotiledon kecambah kedelai dalam kultur in vitro (Budisantoso dan Prayoga, 2012).
Kebutuhan nutrisi di dalam media untuk perkecambahan kotiledon juga lebih
sederhana dibandingkan dengan media untuk tujuan teknik kultur yang lain. Pada
prinsipnya media diperlukan untuk menggantikan peranan endosperm dalam
mendukung perkecambahan embrio dan perkembangan bibit muda mengingat
embrio yang ditanam umumnya telah memiliki radikula dan plumula. Media yang
umum digunakan untuk kultur embrio adalah medium MS dalam ½ konsentrasi
garam-garamnya (Zulkarnain, 2010). Menurut Razdan (2002), faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan tunas:
a. Faktor kimia
Pertumbuhan kuncup menjadi tunas pada kultur jaringan sangat
dipengaruhi oleh perbandingan auksin dan sitokinin yang ada pada medium.
Auksin akan mempercepat proliferasi sel dan diferensiasi akar, sementara
tingginya sitokinin akan meningkatkan laju diferensiasi kuncup menjadi
tunas.
b. Faktor fisika
Tingginya intensitas cahaya maka dapat menghambat pembentukan
tunas. Temperatur dapat mempengaruhi proses pertumbuhan dan diferensasi
dimana proses pembentukan tunas dan diferensiasi berada pada suhu optimal
sebesar 18oC
Menurut Suryowinoto (1988), kontaminasi berasal dari kontaminan eksternal
baik berupa jamur maupun bakteri yang tumbuh di dalam jaringan tanaman.
Kontaminasi adalah terdapatnya senyawa atau organisme asing dalam suatu media
dimana kinerja dalam kultur harus steril dan aseptis agar dapat terhindar dari
kontaminasi dan dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan eksplan secara optimal.
Sumber kontaminasi berasal dari eksplan, organisme kecil yang masuk ke media,
alat yang tidak steril, dan lingkungan kerja yang kotor dimana gejala yang
ditimbulkan seperti tumbuhnya hifa jamur pada permukaan media maupun eksplan
setelah inokulasi selama rata-rata 4-10 hari setelah tanam.
Menurut Hendaryono dan Wijayani (1994), kontaminasi yang biasa terjadi
pada kultur tunas dari embrio adalah bakteri. Bakteri yang dapat mengkontaminasi
eksplan embrio salah satunya adalah bakteri endogen, yakni bakteri yang terdapat
di dalam jaringan tanaman yang berlangsung antara 4-7 hari. Sterilisasi pada
eksplan hanya membunuh bakteri di permukaan sedangkan bakteri dalam jaringan
tidak mati. Media yang telah terkontaminasi dapat menurunkan angka hidup dari
embrio karena nutrien dan gula digunakan oleh kontaminan sehingga mematikan
eksplan dalam jangka waktu yang singkat. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam
sterilisasi eksplan adalah:
a. Kondisi bahan eksplan, bahan eksplan yang digunakan diambil dari
tanaman yang sehat tidak mengalami kotaminasi yang berasal dari
jaringan yang masih muda (jaringan yang sel-selnya bersifat
meristematik)
b. Kondisi lingkungan, berupa kelembaban (kelembaban yang terlalu rendah
meyebabkan eksplan mudah terkontaminasi, dan kelembaban yang telalu
tinggi membuat media cepat mongering), suhu (suhu yang dibutuhkan
sekitar 250C untuk menyimpan eksplan) dan intensitas cahaya
(pencahayaan umumnya membutuhkan intensitas 800 – 3000 lux untuk
kondisi bercahaya atau bahkan gelap total).
c. Alat-alat dissecting set, yang digunakan harus disterilisasikan dengan
alkohol 90% dan dilewatkan dengan api. Alat – alat yang digunakan harus
dipastikan benar – benar steril.
d. Keadaan ruangan dan kondisi laminar air flow, harus dalam keadaan steril
dimana dalam LAF harus di UV terlebih dahulu sebelum digunakan agar
menjaga sterilitas alat dan mencegah adanya agen kontaminan pada saat
proses kultur terjadi
e. Cara kerja seseorang dalam mengkulturkan eksplan, harus menggunakan
teknik yang aseptik, sehingga bahan ekspan yang dikulturkan benar –
benar steril tanpa adanya kontaminasi
Tahapan sterilisasi bahan tanaman harus dilakukan karena bahan tanaman
yang berupa embrio jagung muda hasil panen dari lapang belum steril dan untuk
melakukan sterilisasi tidak mudah karena banyak faktor yang mempengaruhi proses
sterilisasi tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan kultur embrio
adalah tingkat perkembangan embrio pada waktu dipisahkan (embrio yang sangat
kecil lebih sulit dikulturkan dibandingkan embrio yang lebih dahulu berkembang),
lingkungan (kadar oksigen yang perlu tinggi, intensitas pencahayaan dan suhu),
kondisi perkembangan tanaman induk yang diambil dari rumah kaca
pertumbuhannya lebih terkontrol (sehingga dapat menghasilkan endosperm yang
perkembangannya baik), komposisi nutrisi dalam media (untuk pertumbuhan
embrio harus mengandung unsur makro, mikro dan gula), intensitas cahaya (untuk
perkembangan embrio membutuhkan tempat gelap selama 7-14 hari) dan
temperatur optimum (tergantung dari jenis tumbuhan yang digunakan dimana
temperatur paling tinggi adalah 22-28̊C) (Yuliarti, 2010).
Menurut Gunawan (1995), larutan clorox merupakan larutan sterilan dalam
kategori sterilisasi ringan yang dilakukan agar tetap menjaga kesterilan pada
eksplan biji yang akan dipakai. Penggunaan konsentrasi clorox tidak diperkenankan
terlalu rendah bahkan tinggi disebabkan karena jaringan eksplan akan mati
tergantung pada morfologi pada suatu eksplan serta pada umumnya penggunaan
clorox pada biji sekitar 5-10%. Konsentrasi clorox yang tepat untuk pertumbuhan
biji secara bertahap agar pertumbuhan eksplan biji menjadi lebih optimal dan
terbebas dari agen kontaminan yang dapat mengganggu kelangsungan
perkembangan kotiledon.
Menurut Suryowinoto (1988), penggunaan enkast dan LAF digunakan
sebagai ruang penabur untuk melakukan kultur baik kalus bahkan eksplan serta
untuk sterilisasi bahan yang digunakan. Sterilisasi enkast dengan formalin tablet
yang diletakkan pada cawan petri. Prinsip dari enkast yaitu pengukuran secara
aseptis berdasarkan berkurangnya kontaminasi mikroorganisme dalam sistem
tertutup dengan mengalirkan udara ke dalam lemari penabur melalui saringan besar.
Cara penggunaan enkast yaitu larutan alkohol dan tissue dimasukkan dalam entkas
dan disterilkan dengan cara menyemprotkan alkohol ke semua bagian entkas
kecuali bagian yang terdapat cawan petri berisi formalin (untuk sterilisasi enkas)
dan dilap menggunakan tissue. Enkast dijenuhkan dengan larutan alkohol selama
30 menit.
Menurut Santosa dan Nursandi (2003), LAF (Laminar Air Flow) merupakan
meja steril untuk melakukan inokulasi atau penanaman yang digunakan dalam
persiapan bahan medium, memasukkan medium bahkan pemindahan medium dari
suatu cawan ke cawan lain. Prinsip dari LAF yaitu penaseptisan suatu ruangan
berdasarkan aliran udara keluar dengan kontaminasi udara yang diminimalkan.
Cara penggunaan LAF yaitu penutup kaca LAF dibuka ¼ bagian dan tombol lampu
serta blower ditekan, meja kerja LAF disemprotkan dengan larutan alkohol dan
dilap satu arah dengan menggunakan tissue. Bunsen sebanyak 2 buah dimasukkan
dalam LAF dan dinyalakan selama sterilisasi. Alat-alat yang akan digunakan
selama pelaksanaan kerja dimasukkan ke dalam LAF dan dijenuhkan setelah
disterilisasi (Wijayanto, 2011).
III. METODE

A. Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan pada saat praktikum yaitu skalpel, pinset, gelas
beker berukuran 500 ml, enkast, tabung konikel, tisu, LAF (Laminar Air Flow),
alumunium foil, plastic wrap, kertas saring, gelas beker berukuran 250 ml dan
cawan petri.
Bahan-bahan yang digunakan pada saat praktikum adalah clorox (5% dan
10%), biji jagung muda, medium MS dengan hormon 2,4 D dan aquades steril.

B. Cara Kerja
1. Sterilisasi ruang penabur (LAF)
Tombol lampu dinyalakan dan pintu LAF dibuka (tidak perlu terlalu
lebar). Tangan praktikan disemprot dengan alkohol dan tisu serta alkohol
70% dimasukan kedalam laminar air flow (LAF). Meja LAF disemprot
dengan alkohol 70% dan dikeringkan (di lap) dengan tisu secara searah
menuju bagian luar LAF. Pintu LAF ditutup dan tombol lampu
dimatikan. Alat (gelas beker berukuran 500 ml, pinset, skalpel, tabung
konikel, enkast, LAF (Laminar Air Flow), tisu, plastic wrap, alumunium
foil, gelas beker berukuran 250 ml, kertas saring dan cawan petri), clorox
10%, clorox 5%, biji jagung muda, medium MS, aquades steril dan alat
serta bahan lain yang dibutuhkan dimasukkan ke dalam ruang penabur.
Tombol UV dan blower dinyalakan selama 30 menit untuk dijenuhkan
dan ruang penabur siap untuk digunakan.
2. Sterilisasi ruang penabur (enkast)
Enkast disemprotkan dan dibersihkan dengan alkohol 70%. Alkohol
70% tidak diperkenankan kontak langsung dengan tablet formalin yang
terletak diujung dalam enkast. Alat (gelas beker, erlenmeyer, scalpel,
blade, pinset dan cawan petri), medium, clorox 45%, alkohol 70% dan
alat serta bahan lain yang dibutuhkan dimasukkan ke dalam ruang
penabur. Ruang penabur siap digunakan.
3. Sterilisasi eksplan biji dan kultur kotiledon jagung muda (Zea mays)
Ruang penabur disterilisasi terlebih dahulu. Diluar ruang penabur,
biji jagung muda dalam keadaan tenggelam diambil sebanyak 30 biji
dan dibilas dengan air filtrasi (pure it). Air filtrasi dibuang dan ditutup
dengan alumunium foil serta dimasukkan kedalam enkas/ LAF.
Didalam ruang penabur (enkast/ LAF), eksplan biji berada didalam
enkast / LAF. Biji jagung digojog dengan clorox 10% sebanyak 50 ml
selama 5 menit dan clorox 5% sebanyak 50 ml selama 5 menit didalam
botol flakon. Biji jagung muda dibilas dengan aquades steril sebanyak 3
kali dan dikeluarkan dari botol flakon. Biji jagung muda diambil embrio
(kotiledon) dengan cara biji jagung tersebut ditekan dengan pinset dan
skalpel hingga embrio keluar serta embrio diletakkan dalam cawan petri.
Dalam satu botol kultur berisi medium tersebut berisi 3 embrio
jagung. Pada ruang penabur (LAF), biji jagung digojog dengan clorox
5% selama 3 menit sebanyak 50 ml dan dibilas dengan aquades steril
sebanyak tiga kali. Pada perlakuan di ruang penabur (enkast dan LAF),
botol kultur ditutup dengan alumunium foil dan plastic wrap dan botol
diinkubasi didalam ruang inkubasi yang diamati selama 14 hari. Hasil
yang diperoleh diamati dan dicatat parameter yang diamati berupa
kontaminasi (jamur/ bakteri) morfologi (tumbuh calon akar/ tumbuh
tunas/ keduanya serta hasil kalus yang diperoleh didokumentasi).
4. Pembuatan larutan clorox 5% dan 10%
Tabung konikel sebesar 50 ml disiapkan dalam keadaan steril.
Larutan clorox dimasukkan kedalam konikel serta ditambahkan dengan
aquades steril. Kedua larutan tersebut dicampur secara merata dan dapat
diukur pada masing-masing bahan dengan rumus:
V1 x N1 = V2 x N2
Keterangan :
V1 = Volume awal larutan
V2 = Volume akhir larutan
N1 = Jumlah larutan stok awal
N2 = Jumlah larutan stok yang akan dipakai
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Kultur jaringan tumbuhan adalah cara membudidayakan jaringan tumbuhan


menjadi tumbuhan kecil yang memiliki sifat seperti dengan induknya berdasarkan
teori totipotensi sel Schleiden dan Schwann dimana sel memiliki kemampuan untuk
tumbuh dan berkembang dari tanaman kecil menjadi tanaman dewasa dan dapat
tumbuh dilingkungan ex-vitro. Embriogenesis somatik merupakan sel somatik yang
berkembang menjadi tanaman baru tanpa melewati fusi gamet. Eksplan adalah
bagian atau bahan tanaman yang akan dikultur dalam proses kultur jaringan
tumbuhan dimana eksplan yang digunakan adalah tanaman muda dan mudah
tumbuh (Hadioetomo, 2000).
Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada
agar tetap menjaga tingkat kesterilan pada suatu medium bahkan eksplan. Apabila
kontaminan tidak dihilangkan maka media berupa gula, vitamin bahkan mineral
dalam botol akan terpenuhi oleh kontaminan dan menyebabkan eksplan mati.
Prinsip sterilisasi eksplan yaitu mensterilkan eksplan dari berbagai mikroorganisme
namun eksplan tidak ikut mati dimana memiliki dua macam cara sterilisasi eksplan
yaitu mekanis dan kimia. Dilihat dari letak kontaminan, kontaminasi internal adalah
kontaminan yang berasal dari jaringan tanaman maka dapat dicegah dengan
pemberian antibiotik sedangkan kontaminasi eksternal adalah kontaminasi yang
berasal dari permukaan luar bagian tanaman. Apabila menggunakan embrio bahkan
bagian biji sebagai eksplan maka embrio dipastikan harus masak dan memiliki
kualitas yang baik, temperatur yang sesuai, waktu inhibisi serta waktu dormansi
yang dapat sesuai dengan cara adaptasi kultur eksplan tersebut (Yuniarti dan
Djaman, 2015).
Menurut Yuniarti dan Djaman (2015), teknik sterilisasi eksplan ada tiga
macam yaitu sterilisasi ringan, sterilisasi sedang dan sterilisasi berat. Teknik
sterilisasi eksplan dapat dilakukan dengan penggunaan desinfektan bahkan alkohol
dengan konsentrasi tertentu. Kultur embrio adalah salah satu teknik kultur jaringan
dengan menggunakan sumber eksplan embrio dewasa yang berasal dari biji yang
telah matang yang berguna untuk menyelamatkan embrio yang tidak dapat bertahan
hidup di lingkungan in vitro, memecah dormansi embrio yang mengalami dormansi
dalam jangka waktu yang panjang dan meningkatkan tingkat germinasi pada biji.
Kultur kotiledon adalah sebuah endosperm dari pembuahan antara gamet
jantan yang bersifat haploid dengan inti kandung lembaga yang bersifat diploid,
sehingga kotiledon akan bersifat triploid. Kotiledon adalah organ cadangan
makanan pada biji didalam suatu tumbuhan yang dimiliki oleh tanaman itu saja saat
berkecambah sehingga hanya karbohidrat dan lemak bagi perkembangan embrio.
Manfaat dari kultur kotiledon yaitu untuk memberikan asupan cadangan makanan
bagi embrio yang tidak dapat bertahan hidup di lingkungan in vitro, menghasilkan
plantlet melalui embriogenesis dan mempermudah regenerasi pada tanaman
(George dan Sherrington, 1984).
Menurut George dan Sherrington (1984), kultur tunas dimana eksplan berupa
tunas memiliki jangka pertumbuhan dan daya tahan berbeda-beda dan harus
mengambil dari kuncup apeks dimana memiliki kualitas yang lebih baik
dibandingkan dengan kuncup lateral karena kuncup apeks memiliki pertumbuhan
langsung ke permukaan dengan cepat. Kultur tunas juga dapat menggunakan
eksplan dari kotiledon bahkan akar tanaman karena memiliki tingkat regenerasi dan
pertumbuhan yang lebih cepat dan baik. Regenerasi tanaman dari kalus melalui
embriogenesis somatik lebih menguntungkan karena embrio somatik mempunyai
struktur bipolar yang mengandung meristem tunas dan akar.
Pada embriogenesis somatik dapat digunakan zat pengatur tumbuh dalam
konsentrasi yang memadai. Kultur eksplan jagung dalam pembentukan kalus
embriogenik ada 2 tipe yaitu tipe dengan ciri kompak dan ciri remah dimana kalus
tipe ciri kompak sering digunakan untuk kultur eksplan jagung (Gunawan, 1995).
2,4-D merupakan auksin terbaik untuk menginduksi pembentukan embrio somatik
dari eksplan dibandingkan dengan tipe auksin lain (Manuhara dkk., 2010). Semakin
tinggi konsentrasi perlakuan yang diberikan akan mempercepat waktu tumbuh
kalus namun harus secukupnya karena sifat 2,4-D itu sendiri merupakan hormon
yang mudah diserap, stabil tidak mudah diurai, mampu mendorong perkembangan
ekplan namun semakin tinggi konsentrasi 2,4 D dengan konsentrasi berlebih yang
diberikan maka akan menghambat pertumbuhan eksplan sehingga mengakibatkan
menurunnya berat basah kalus yang diperoleh. 2,4-D kurang berperan dalam
regenerasi kalus kotiledon kecambah kedelai dalam kultur in vitro (Budisantoso dan
Prayoga, 2012).
Pada praktikum kultur tunas digunakan bahan ekplan yang berasal dari
embrio jagung, dimana embrio jagung digunakan karena mudah didapatkan dengan
mudah serta mempunyai daya regenerasi yang tiggi untuk membentuk tunas yang
lebih cepat. Tanaman jagung (Zea mays) dari famili Gramineae yang memiliki
proses perkecambahan dengan radikula akan keluar terlebih dahulu lalu mengalami
pertumbuhan plumula yang dapat dipengaruhi oleh berbagai hal seperti kadar air,
cahaya, temperatur, oksigen, dan salinitas. Skarifikasi pada embrio dalam biji
jagung adalah mekanisme dormansi pada biji tanaman agar biji cepat mengalami
perkecambahan pada embrio jagung. Embrio yang dikulturkan harus berada dalam
kondisi yang menunjukkan masa dormansi yang panjang, embrio hibrida hasil
penyilangan interspesifik yang tidak kompatibel dengan endospermnya (Sugito dan
Nugroho, 2004).
Medium yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah medium MS dengan
pemberian hormon 2,4 D. Hormon 2,4-D merupakan auksin terbaik untuk
menginduksi pembentukan embrio somatik dari eksplan dibandingkan dengan tipe
auksin lain. Medium diperlukan untuk menggantikan peranan endosperm dalam
mendukung perkecambahan embrio dan perkembangan bibit muda mengingat
embrio yang ditanam umumnya telah memiliki radikula dan plumula (Zulkarnain,
2010).
Ruang penabur disterilisasi terlebih dahulu agar mematikan mikrobia bahkan
agen kontaminan didalam ruang penabur. Diluar ruang penabur, biji jagung muda
dalam keadaan tenggelam diambil sebanyak 30 biji dan dibilas dengan air filtrasi
(pure it) agar membersihkan biji jagung dari agen kontaminan. Air filtrasi dibuang
dan ditutup dengan alumunium foil serta dimasukkan kedalam enkas/ LAF agar
terhindar dari agen kontaminan dan tetap menjaga kesterilan pada mulut botol
kultur.
Didalam ruang penabur (enkast/ LAF), eksplan biji berada didalam enkast /
LAF. Biji jagung digojog dengan clorox 10% sebanyak 50 ml selama 5 menit dan
dilanjutkan digojog dengan clorox 5% sebanyak 50 ml selama 5 menit didalam
botol flakon untuk mencegah kontaminasi dan sebagai desinfektan pada biji jagung.
Biji jagung muda dibilas dengan aquades steril sebanyak 3 kali dan dikeluarkan dari
botol flakon agar mengurangi bahkan menghilangkan clorox hasil dari penggojogan
yang sudah dilakukan sebelumnya.
Apabila pembilasan aquades pada biji jagung tidak dilakukan dengan
maksimal maka dapat menghambat pertumbuhan kotiledon pada biji sehingga
pertumbuhan tidak dapat optimal. Larutan clorox yang digunakan harus bertahap
dan tidak diperkenankan penggunaan dengan konsentrasi terlalu tinggi karena akan
merusak embrio jagung yang akan dikulturkan. Biji jagung muda diambil embrio
(kotiledon) dengan cara biji jagung tersebut ditekan dengan pinset dan skalpel
secara perlahan hingga embrio keluar dengan endosperm menghadap keatas agar
embrio yang akan dikulturkan tidak mengalami kerusakan bahkan tidak luka agar
pertumbuhan embrio dapat optimal serta embrio diletakkan dalam cawan petri
Dalam satu botol kultur berisi medium tersebut berisi 3 embrio jagung. Pada
ruang penabur (LAF), biji jagung digojog dengan clorox 5% selama 3 menit
sebanyak 50 ml dan dibilas dengan aquades steril sebanyak tiga kali agar tetap
menjaga kesterilan pada biji sehingga tetap dalam keadaan steril. Pada perlakuan di
ruang penabur (enkast dan LAF), botol kultur ditutup dengan alumunium foil dan
plastic wrap untuk menghindari adanya agen kontaminan disekitar botol kultur dan
botol diinkubasi didalam ruang inkubasi yang diamati selama 14 hari untuk melihat
dan mengamati proses pertumbuhan dan perkembangan selama kultur berlangsung
dengan keadaan lingkungan yang memadai dan steril. Hasil yang diperoleh diamati
dan dicatat parameter yang diamati berupa kontaminasi (jamur dilihat apabila
terdapat hifa berwarna putih/ bakteri dilihat terdapat eksplan dan sekitar medium
berwarna kecoklatan) serta morfologi (tumbuh calon akar/ tumbuh tunas/ keduanya
serta hasil kalus yang diperoleh didokumentasi).Berdasarkan percobaan yang telah
dilakukan, maka didapatkan hasil pengamatan sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil pengamatan kultur kotiledon jagung dengan ruang penabur enkas
Botol Pengamatan tanggal
ke- 22 September 26 September 28 September 3 Oktober 2017
2017 2017 2017
1 Tumbuh calon Tumbuh calon Tumbuh calon Tumbuh calon
akar, tidak ada akar dan tunas, akar dan tunas , akar dan tunas,
kontaminasi tidak ada tidak ada tidak ada
dan tumbuh 3 kontaminasi dan kontaminasi kontaminasi dan
tunas tumbuh 3 tunas dan tumbuh 3 tumbuh 3 tunas
berwarna hijau berwarna hijau tunas berwarna berwarna hijau
hijau
2 Tumbuh calon Mengalami Mengalami Mengalami
akar, tidak ada kontaminasi kontaminasi kontaminasi
kontaminasi
dan tumbuh 3
tunas
berwarna hijau
3 Tumbuh calon Tumbuh calon Tumbuh calon Tumbuh calon
akar dan tunas, akar dan tunas, akar dan tunas, akar dan tunas,
tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
kontaminasi kontaminasi dan kontaminasi kontaminasi dan
dan tumbuh 3 tumbuh 3 tunas dan tumbuh 3 tumbuh 3 tunas
tunas berwarna hijau tunas berwarna berwarna hijau
berwarna hijau hijau
4 Tumbuh calon Tumbuh calon Tumbuh calon Tumbuh calon
akar dan tunas, akar, tunas serta akar, tunas serta akar, tunas serta
tidak ada tumbuh 1 daun, tumbuh 1 daun, tumbuh 1 daun,
kontaminasi tidak ada tidak ada tidak ada
dan tumbuh 3 kontaminasi dan kontaminasi kontaminasi dan
tunas tumbuh 3 tunas dan tumbuh 3 tumbuh 3 tunas
berwarna hijau berwarna hijau tunas berwarna berwarna hijau
hijau
5 Tumbuh calon Tumbuh calon Tumbuh calon Tumbuh calon
akar dan tunas, akar dan tunas, akar dan tunas, akar dan tunas,
tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
kontaminasi kontaminasi dan kontaminasi kontaminasi dan
dan tumbuh 3 tumbuh 3 tunas dan tumbuh 3 tumbuh 3 tunas
tunas berwarna hijau tunas berwarna berwarna hijau
berwarna hijau hijau
6 Tumbuh satu Mengalami Mengalami Mengalami
calon akar dan kontaminasi kontaminasi kontaminasi
tunas serta
tumbuh 2
calon akar,
tidak ada
kontaminasi
dan tumbuh 3
tunas
berwarna hijau
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, didapatkan hasil berupa tabel
1, diketahui bahwa botol kultur ke 1 tidak mengalami kontaminasi, tumbuh tunas
sebanyak 3 tunas dan mengalami pertumbuhan calon tunas dan akar. Pada botol
kultur ke 2 memiliki calon akar dan memiliki tunas sebanyak 3 tunas serta tidak ada
kontaminasi pada hari pertama penanaman namun setelah pengamatan beberapa
hari kedepan mengalami kontaminasi. Pada botol kultur ke 3 memiliki calon tunas
dan akar, tidak mengalami kontaminasi dan mempunyai tiga tunas didalamnya.
Pada botol kultur ke 4 memiliki calon akar, tunas dan daun, tidak mengalami
kontaminasi dan mempunyai tiga tunas didalamnya.
Pada botol kultur ke 5 memiliki calon akar dan tunas, tidak mengalami
kontaminasi dan mempunyai tiga tunas didalamnya. Pada botol kultur ke 6
memiliki calon tunas dan akar pada tunas pertama dan calon akar pada tunas kedua
dan tunas ketiga, tidak mengalami kontaminasi dan mempunyai tiga tunas
didalamnya namun setelah pengamatan beberapa hari kedepan mengalami
kontaminasi. Berdasarkan kontaminasi pada botol kultur, dapat terlihat bahwa botol
kultur 1, 3, 4 dan 5 tidak mengalami kontaminasi sedangkan pada botol kultur ke 2
dan 6 mengalami kontaminasi eksplan dimana pada botol kultur ke 2 mengalami
kontaminasi bakteri (eksplan berwarna kecoklatan dan permukaan medium
berwarna coklat muda) sedangkan pada botol kultur ke 6 mengalami kontaminasi
jamur (tumbuhnya hifa jamur pada permukaan media maupun eksplan).
Hal ini sesuai dengan teori menurut Suryowinoto (1988) bahwa kontaminasi
jamur memiliki gejala yang ditimbulkan seperti tumbuhnya hifa jamur pada
permukaan media maupun eksplan setelah inokulasi selama rata-rata 4-10 hari
setelah tanam sedangkan kontaminasi bakteri medium berwarna kecoklatan dan
eksplan berwarna coklat. Media yang telah terkontaminasi dapat menurunkan
angka hidup dari embrio karena nutrien dan gula digunakan oleh kontaminan
sehingga mematikan eksplan dalam jangka waktu yang singkat. Hal-hal yang
menyebabkan kontaminasi pada medium beserta eksplan didalam botol kultur
adalah alat-alat yang digunakan dalam proses kultur tidak disterilkan terlebih
dahulu, kondisi bahan eksplan yang diambil kurang baik yang dapat mempengaruhi
jaringan yang masih muda, kondisi lingkungan seperti kurangnya kelembaban dan
suhu yang kurang optimal saat proses kultur dapat mengganggu pertumbuhan
eksplan, banyak komunikasi antar praktikan didalam ruang kultur sebagai
penghambat pertumbuhan eksplan akibat ada kontaminasi, kondisi ruangan
penabur saat kultur kurang maksimal pada tingkat kesterilannya seperti tangan
praktikan kurang bersih masuk kedalam ruangan penabur bahkan banyak
komunikasi didalam ruang penabur serta cara praktikan dalam mengkulturkan
eksplan tidak sesuai dengan prosedur kultur yang baik dan benar.
Berdasarkan morfologi pada botol kultur, dapat terlihat bahwa pada botol
kultur 1, 3 dan 5 mengalami pertumbuhan berupa calon tunas dan akar serta pada
botol kultur 4 mengalami pertumbuhan berupa calon akar, tunas dan daun. Namun,
pada botol kultur 2 dan 6 tidak mengalami pertumbuhan secara morfologi dan telah
terkontaminasi pada pengamatan hari ke 4 tanggal 26 September 2017. Pada botol
1, 3, 4 dan 5 sesuai dengan teori menurut Badami dan Amzeri (2010) bahwa
pertumbuhan morfologi kotiledon jagung berupa calon akar bahkan tunas, akan
lebih baik apabila terdapat pertumbuhan daun yang berarti bahwa asupan nutrisi
dari medium kedalam eksplan berinteraksi dengan maksimal dan menghasilkan
pertumbuhan eksplan yang optimal.
Menurut Badami dan Amzeri (2010), pengambilan kotiledon pada jagung
harus diambil pelan-pelan dengan pinset agar kotiledon yang terambil tidak rusak
dan tidak melukai kotiledon yang akan ditanam nantinya. Pada botol kultur 2 dan 6
tidak dapat dilihat secara morfologi karena pengamatan sejak tanggal 26 September
2017 telah mengalami kontaminasi sehingga pengamatan tidak dilanjutkan untuk
hari berikutnya. Kultur kotiledon memiliki jalur pertumbuhan lebih cepat
dibandingkan dengan kultur embrio karena kultur kotiledon dimana embrio
langsung ditanam dalam medium sedangkan kultur embrio dimana embrio beserta
endosperm dan cadangan makanan ditanam dalam medium. Jangka waktu
pertumbuhan kultur kotiledon selama 2 minggu. Berdasarkan percobaan yang telah
dilakukan, didapatkan hasil tabel 2. berupa hasil pengamatan kotiledon jagung
dengan ruang penabur LAF sebagai berikut:
Tabel 2. Hasil pengamatan kotiledon jagung dengan ruang penabur LAF
Pengamatan Hari ke-
Botol
22 September 26 September 28 September 3 Oktober
ke-
2017 2017 2017 2017
1 Berkecambah, Akar putih, Muncul akar, 1 Akar putih,
akar putih, tunas tunas panjang biji muncul daun tunas panjang
hijau hijau hijau
2 Berkecambah, Akar putih, Muncul akar, 1 Akar putih,
akar putih, tunas tunas panjang biji muncul daun tunas panjang
hijau hijau hijau
3 Berkecambah, Akar putih, Perkecambahan Akar putih,
akar putih, tunas tunas panjang sangat baik tunas panjang
hijau hijau hijau
4 Berkecambah, Akar putih, Perkecambahan Akar putih,
akar panjang tunas panjang sangat baik tunas panjang
putih, tunas hijau hijau hijau
5 Berkecambah, Akar putih, 2 tunas Akar putih,
akar panjang tunas panjang memanjang tunas panjang
putih, tunas hijau hijau dengan cepat hijau
6 Berkecambah, Akar putih, Memanjang Akar putih,
akar panjang tunas panjang dengan cepat tunas panjang
putih, tunas hijau hijau hijau
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, didapatkan hasil berupa tabel
2, diketahui bahwa botol kultur ke 1 hingga botol kultur ke 6 tidak mengalami
kontaminasi, tumbuh tunas panjang berwarna hijau dan mengalami pertumbuhan
calon akar berwarna putih. Berdasarkan kontaminasi pada botol kultur, dapat
terlihat bahwa botol kultur 1 hingga botol kultur 6 tidak mengalami kontaminasi.
Hal ini sesuai dengan teori menurut Yuliarti (2010) bahwa tahapan sterilisasi bahan
tanaman harus dilakukan karena bahan tanaman yang berupa embrio jagung muda
hasil panen dari lapang belum steril dan untuk melakukan sterilisasi tidak mudah
karena banyak faktor yang mempengaruhi proses sterilisasi tersebut. Faktor-faktor
yang mempengaruhi keberhasilan kultur embrio adalah tingkat perkembangan
embrio pada waktu dipisahkan (embrio yang sangat kecil lebih sulit dikulturkan
dibandingkan embrio yang lebih dahulu berkembang), lingkungan (kadar oksigen
yang perlu tinggi, intensitas pencahayaan dan suhu), kondisi perkembangan
tanaman induk yang diambil dari rumah kaca pertumbuhannya lebih terkontrol
(sehingga dapat menghasilkan endosperm yang perkembangannya baik), komposisi
nutrisi dalam media (untuk pertumbuhan embrio harus mengandung unsur makro,
mikro dan gula), intensitas cahaya (untuk perkembangan embrio membutuhkan
tempat gelap selama 7-14 hari) dan temperatur optimum (tergantung dari jenis
tumbuhan yang digunakan dimana temperatur paling tinggi adalah 22-28̊C).
Berdasarkan morfologi pada botol kultur, dapat terlihat bahwa pada botol
kultur 1 hingga botol kultur 7 mengalami pertumbuhan berupa calon tunas dan akar.
Namun pada botol kultur 1 dan 2 mengalami pertumbuhan daun kecil dan sedikit
pada kultur pada tangal 28 September 2017. Hal ini sesuai dengan teori menurut
Badami dan Amzeri (2010) bahwa pertumbuhan morfologi kotiledon jagung berupa
calon akar bahkan tunas, akan lebih baik apabila terdapat pertumbuhan daun yang
berarti bahwa asupan nutrisi dari medium kedalam eksplan berinteraksi dengan
maksimal dan menghasilkan pertumbuhan eksplan yang optimal. Pengambilan
kotiledon pada jagung harus diambil pelan-pelan dengan pinset agar kotiledon yang
terambil tidak rusak dan tidak melukai kotiledon yang akan ditanam nantinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan kultur kotiledon adalah tingkat
perkembangan embrio pada waktu dipisahkan (embrio yang sangat kecil lebih sulit
dikulturkan dibandingkan embrio yang lebih dahulu berkembang), lingkungan
(kadar oksigen yang perlu tinggi, intensitas pencahayaan dan suhu), kondisi
perkembangan tanaman induk yang diambil dari rumah kaca pertumbuhannya lebih
terkontrol (sehingga dapat menghasilkan endosperm yang perkembangannya baik),
komposisi nutrisi dalam media (untuk pertumbuhan embrio harus mengandung
unsur makro, mikro dan gula), intensitas cahaya (untuk perkembangan embrio
membutuhkan tempat gelap selama 7-14 hari) dan temperatur optimum (tergantung
dari jenis tumbuhan yang digunakan dimana temperatur paling tinggi adalah 22-
28̊C) (Yuliarti, 2010).
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Cara perbanyakan jagung (Zea mays) secara vegetatif in vitro dapat
dilakukan dengan teknik kultur kotiledon, yaitu menanamkan embrio
biji jagung (Zea mays) pada medium Murashige dan Skoog (MS) yang
ditambahkan dengan hormon 2,4 D hingga terbentuk calon tunas,
calon akar bahkan calon daun
2. Pembentukan planlet dari calon tunas yang ditumbuhkan secara steril
pada jagung (Zea mays) dapat dilakukan dengan pemberian medium
MS (Murashige dan Skoog) dengan penambah zat pengatur tumbuh
salah satunya berupa hormon 2,4 D bahkan dengan auksin atau
sitokinin
3. Hasil pertumbuhan dan perkembangan kultur kotiledon jagung (Zea
mays) dari semua botol kultur (botol 1-7) pada ruang penabur LAF
adalah tidak mengalami kontaminasi, mengalami pertumbuhan akar
berwarna putih dan tunas panjang berwarna hijau serta sedikit
mengalami pertumbuhan calon daun.
4. Hasil pertumbuhan dan perkembangan kultur kotiledon jagung (Zea
mays) dari semua botol kultur (botol 1-7) pada ruang penabur enkas
adalah botol kultur 2 dan 6 mengalami kontaminasi serta botol kultur
1, 3, 4 dan 5 mengalami pertumbuhan calon akar dan tunas, tidak
terkontaminasi dan tumbuh tunas berwarna hijau secara keseluruhan.
5. Perbedaan antara kultur embrio dan kultur kotiledon adalah kultur
embrio menggunakan eksplan pada seluruh bagian biji dimana
endosperm pun juga ikut dikulturkan sedangkan kultur kotiledon
hanya memakai eksplan berupa embrio saja
B. Saran
Pada praktikum pembuatan medium dan sterilisasi medium ini berjalan
dengan baik dan lancar. Proses pengajaran lebih mudah dipahami, jelas dan
tidak terlalu cepat untuk menjelaskan.
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, J. 1982. Dasar-Dasar Pengatahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh.


Angkasa, Bandung.
Ardiansyah, R., Supriyanto., Wulandari, A. S., Subandy, B. dan Fitriani, Y. 2014.
Teknik sterilisasi eksplan dan induksi tunas dalam mikropropagasi tembesu
(Fagraea fragrans ROXB). Jurnal Silvikultur Tropika 5(3):167-173.
Badami, K. dan Amzeri, A. 2010. Seleksi in-vitro untuk toleransi terhadap
kekeringan pada jagung (Zea mays L.) dengan polyethylene glycol (PEG).
Jurnal Agrovigor 3(1):77-86.
Bhojwani, S. S. dan Razdan, M. K. 1989. Plant Tissue Culture. Theory and
Practice. Elsevier, New York.
Budisantoso, I. dan Prayoga, L. 2012. Pengaruh 2,4 D terhadap hipokotil dan
kotiledon kedelai varietas slamet yang ditumbuhkan selama in-vitro. Jurnal
Biologi 16(2):41-44.
Cahyati, S., Isda, M. N. dan Lestari, W. 2016. Induksi tunas dari eksplan kotiledon
dan epikotil in-vitro jeruk siam (Citrus nobilis Lour.) asal kampar pada media
MS. Jurnal Riau Biologia 1(5):31-38.
George, E. F. dan Sherrington, P. D. 1984. Plant Propagation by Tissue Culture.
Exergetice Ltd, England.
Gunawan, L. W. 1995. Teknik kultur jaringan tumbuhan. PAU Bioteknologi Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Hadioetomo. 2000. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. Gramedia Pustaka Umum,
Jakarta.
Hendaryono, D. P. S. dan Wijayani, A. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Kanisius,
Yogyakarta.
Manuhara, S.W., Junairiah. dan Wahyuni, D. K. 2010. Petunjuk Praktikum Kultur
Jaringan Tumbuhan. Universitas Airlangga Press. Surabaya.
Manullang, I. N., Ellok, D. S. dan Suswantini, N. 2006. Respon pertumbuhan jahe
putih (Zingiber officinale var. officinale) secara in-vitro pada media
murashige-skoog dengan penambahan NAA dan BAP. Jurnal Budidaya
Pertanian 2(1): 88-97.
Martin, W. F. 1989. Maize. Echo Technical Note, USA.
Priadi, D., Yeni, I. dan Hartati, S. 2014. Pengaruh zat pengatur tumbuh dan jenis
potongan kotiledon terhadap pembentukan kalus sengon (Paraserianthes
falcataria L.) nielsen. Jurnal Rimba 13(2): 65-69.
Razdan, M. K. 2002. Introduction to Plant Tissue Culture. Science Publishers,
Enfield.
Santosa, U. dan Nursandi, F. 2003. Kultur Jaringan Tanaman. UMM Press,
Malang.
Sugito, H. dan Nugroho, A. 2004. Teknik Kultur Jaringan. Penebar Swadaya.
Yogyakarta.
Suryowinoto, M. 1988. Budidaya Jaringan dan Manfaatnya. UGM Press,
Yogyakarta.
Wijayanto, T. 2011. Produksi bibit jeruk keprok (Citrus reticulata) dan jeruk siam
(Citrus sinensis) secara in-vitro yang bebas penyakit CVPD di sulawesi
tenggara. Jurnal Agriplus 21(2):136-142.
Yuliarti, N. 2010. Kultur Jaringan Tanaman Skala Rumah Tangga. Lily Publisher,
Yogyakarta.
Yuniarti, N. dan Djaman, D. F. 2015. Teknik pematahan dormansi untuk
mempercepat perkecambahan benih kourbaril (Hymenaea courbaril). Jurnal
Proses Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia 1(6): 1433-
1437.
Zulkarnain. 2010. Kultur Jaringan Tanaman, Solusi Perbanyakan Tanaman Budi
Daya. Bumi Aksara, Jakarta.
LAMPIRAN

A. Perhitungan
1. Clorox 5%
5
Volume clorox : 100 x 50 = 2,5 ml

Jumlah air yang dibutuhkan : 50 - 2,5 = 47,5 ml


2. Clorox 10%
10
Volume clorox : 100 x 50 = 5 ml

Jumlah air yang dibutuhkan : 50 - 5 = 45 ml

B. Gambar

Gambar 1. Hasil pengamatan kultur kotiledon jagung pada tanggal 22


September 2017 (Dokumentasi Pribadi, 2017).

Gambar 2. Hasil pengamatan kultur kotiledon jagung pada tanggal 26


September 2017(Dokumentasi Pribadi, 2017).
Gambar 3. Hasil pengamatan kultur kotiledon jagung pada tanggal 28
September 2017(Dokumentasi Pribadi, 2017).

Gambar 4. Hasil pengamatan kultur kotiledon jagung pada tanggal 3 Oktober


2017(Dokumentasi Pribadi, 2017).