Anda di halaman 1dari 26

REFERAT

FRAKTUR ANKLE

Disusun oleh:

DANIELS
1361050243

Pembimbing:

dr. Karuniawan, Sp.OT

KEPANITERAAN ILMU BEDAH


PERIODE 2 OKTOBER 2017 – 9 DESEMBER 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA
2017
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...............................................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................3
BAB II ANATOMI PERGELANGAN KAKI
2.1 Ligamen Pada Ankle..............................................................................4
2.2 Otot Pada Ankle.....................................................................................6
BAB III FRAKTUR ANKLE
3.1 Konsep dan Teori Fraktur......................................................................9
3.2 Definisi.................................................................................................11
3.3 Epidemiologi........................................................................................11
3.4 Etiologi.................................................................................................11
3.5 Klasifikasi.............................................................................................12
3.6 Patofisiologi.........................................................................................13
3.7. Gejala Klinis.........................................................................................17
3.8 Pemeriksaan Fisik................................................................................17
3.9 Pemeriksaan Radiologik......................................................................19
3.10 Penatalaksanaan
3.10.1 Penatalaksanaan Berdasarkan Jenis Fraktur.............................20
3.10.2 Penatalaksanaan Fraktur Ankle.................................................21
3.11 Prognosis..............................................................................................23
3.12 Komplikasi...........................................................................................24
KESIMPULAN.......................................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................26

2
BAB 1
PENDAHULUAN

Fraktur merupakan suatu keadaan dimana terjadi disintegritas tulang, penyebab terbanyak
adalah insiden kecelakaan, tetapi faktor lain seperti proses degeneratif juga dapat berpengaruh
terhadap kejadian fraktur. Fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang berupa
retakan, pengisutan ataupun patahan yang lengkap dengan fragmen tulang bergeser.
Sendi pergelangan kaki mudah sekali mengalami cedera karena kurang mampu melawan
kekuatan medial, lateral, tekanan dan rotasi. Tidak seperti pada cedera lain yang disebabkan oleh
tekanan tingkat rendah yang berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama. Cedera akut pada
pergelangan kaki disebabkan karena adanya penekanan melakukan gerakan membelok secara
tiba-tiba.
World Health of Organisation (WHO) mencatat pada tahun 2009 insiden kecelakaan
menyebabkan sekitar 7 juta orang meninggal dan sekitar 2 juta orang mengalami kecacatan fisik.
Dari 20.829 kasus kecelakaan lalu lintas, yang mengalami fraktur sebanyak 1.770 orang (8,5%),
dari 45.987 peristiwa terjatuh yang mengalami fraktur sebanyak 1.775 orang (3,8%), dan dari
14.127 trauma benda tajam atau tumpul, yang mengalami fraktur sebanyak 236 orang (1,7%)
(Depkes RI, 2007).
Salah satu jenis fraktur yang disebabkan oleh pemuntiran/terpuntirnya tubuh ketika kaki
sedang tertumpu di tanah atau akibat salah langkah yang menyebabkan tekanan yang berlebihan
(overstressing) pada sendi pergelangan kaki disebut dengan fraktur ankle (Sjamsuhidajat, 2005).
Fraktur ankle terjadi sebanyak 110 sampai 120 kasus per 100 ribu orang dengan berbagai umur
dan jenis kelamin dengan 50% mengalami tindakan pembedahan (Hoiness, 2002).
Oleh karena itu referat ini disusun dengan tujuan untuk mempelajari lebih dalam
mengenai kasus fraktur pada ankle, meliputi tanda dan gejala, pemeriksaan fisik dan penunjang,
serta penatalaksaan pada kasus fraktur ankle. Penulis berharap, referat ini dapat menambah
wawasan bagi pembaca.

Jakarta, 7 November 2017

Penulis

3
BAB 2
ANATOMI PERGELANGAN KAKI

Sendi pergelangan kaki dibentuk oleh tiga tulang: fibula, tibia dan talus. Bentuk Dua
yang pertama sebuah kubah yang cocok di bagian atas ketiga. Memungkinkan terutama
mengubah gerakan maju dan mundur, yang fleksi dan ekstensi gerakan kaki. Dalam arah lateral,
batas maleolus lateral dan medial maleolus, yang merupakan dua pelengkap tulang yang terus
fibula dan tibia di kedua sisi, mencegah gerakan penuh pergeseran lateral yang tetapi
memungkinkan awal. Talus bersandar pada kalkaneus untuk membentuk agak datar bersama,
tanpa banyak gerakan. Sendi subtalar merupakan sumber konflik dan mendukung transmisi daya
dari berat badan dan gerakan halus stabilitas kaki. Ketika tulang rawan memburuk ini degenerasi,
sendi rematik dan nyeri terjadi, yang kadang-kadang memerlukan pembedahan untuk menekan
atau meringankannya.
Menariknya, mengingat pentingnya mereka dalam generasi cedera olahraga, lampiran
atau ekor dalam talus. Pada kaki menyentak kembali sebagai kekuatan yang dihasilkan ketika
mencolok dengan bola, ini miring lega tulang, datang untuk memukul bagian belakang tibia dan
rusak. Fraktur kadang-kadang lumayan tapi yang lain memerlukan operasi, menghapus fragmen,
untuk memungkinkan atlet dapat terus mengalahkan bola tanpa rasa sakit. Tidak menjadi
bingung dengan varian anatomi, os trigonum dari talus, yang menawarkan gambar radiografi dari
antrian talus longgar, sering dibedakan dari fraktur.
Talus mengartikulasikan arah yang mengarah ke jari-jari, dengan navicular dan berbentuk
kubus, yang terletak di kaki bagian dalam dan luar, masing-masing. Antara os skafoid dan garis
yang dibentuk oleh metatarsal, ada tiga wedges. Metatarsal adalah basis hampir datar dan kepala
bulat untuk mengartikulasikan dengan falang pertama jari-jari.

2.1 Ligamen Pada Ankle


Sendi memerlukan ikatan yang menjaga kohesi tulang yang membentuk, mencegah
perpindahan nya, dislokasi dan memungkinkan gerakan tangan lainnya spesifik Anda. Deskripsi
dari semua ligamen pergelangan kaki dan kaki akan bidang yang sangat khusus karena jumlah
dan kompleksitas. Kami menyebutkan yang paling penting:

4
Kapsul sendi di sekitar sendi, menciptakan ruang tertutup, dan membantu menstabilkan ligamen
dalam misinya.
1. Ligamen lateral yang eksternal. Mulai dari ujung maleolus lateral, ligamentum agunan
lateral dibagi menjadi tiga angsuran (talar posterior peroneal, fibula kalkanealis dan
fibula talar atas), penahan di lereng dan kalkaneus bertanggung jawab untuk memegang
pergelangan kaki lateral. Jika mereka melanggar (biasanya yang paling terkena dampak
pada prinsipnya fibula talar atas), cepat menghasilkan pembengkakan besar yang harus
membalikkan sesegera mungkin dengan menerapkan dingin (misalnya, melalui gurita
dengan neoprene). Cryotherapy (aplikasi dingin untuk tujuan terapeutik) adalah ukuran
paling sederhana dan paling efektif terhadap peradangan, sehingga dengan pergelangan
kaki (keseleo) memutar tidak pernah harus kehilangan aplikasi dingin. Ligamentum yang
menderita terkilir agunan lateral yang kemudian berpihak pada gerakan memutar
pergelangan re-investasi kaki.
2. Deltoid ligamen. Sebaliknya, ligamentum ini dari ujung medial dan malleolar memegang
bagian dalam pergelangan kaki.
3. Sindesmal ligamen, syndesmosis atau ligamen tibiofibular. Ikat bagian distal tibia dan
fibula untuk menahan mereka bersama-sama dalam peran yang telah melompat
permukaan artikular atas kubah talus. Kerusakan menimbulkan banyak masalah.
Dibutuhkan waktu lama untuk menyembuhkan dan dapat meninggalkan gejala sisa
permanen rasa sakit dan ketidakstabilan yang memerlukan intervensi bedah. Ligamentum
menghubungkan dua tulang di jarak anteroposterior dari serikat mereka, tidak hanya di
bagian depan pergelangan kaki. Jadi, ketika istirahat, Anda dapat meninggalkan
tergantung pinggiran ke dalam sendi dan nyeri di bagian belakang pergelangan kaki.
4. Di bagian belakang pergelangan kaki juga ada jaringan ligamen yang menghubungkan
tibia dan fibula (tibiofibular posterior), tibia dan talus, dll … Perlu dicatat ligamentum
transversal yang terluka oleh yang sama syndesmosis mekanisme, yang dapat dianggap
ekstensi kemudian.

5
2.2 Otot Pada Ankle
Otot-otot ekstrinsik kaki bertanggung jawab untuk gerakan pergelangan kaki dan kaki.
Meskipun mereka berada di kaki, pergelangan kaki olahraga menarik traksi tulang mereka
sisipan dan kaki. Mereka mendapatkan gerakan dorsofleksi, inversi fleksi plantar, dan eversi
kaki.
1. Otot-otot intrinsik jari-jari kaki berada di kaki yang sama, mendapatkan gerakan jari:
fleksi, ekstensi, penculikan dan adduksi.
2. Plantar fleksor. Apakah yang menarik kaki kembali. Oleh karena itu terletak di bagian
belakang kaki di betis. Mereka adalah soleus dan gastrocnemius pada tendon Achilles,
yang umum untuk keduanya.
3. Fleksor punggung adalah mereka yang mengangkat ke atas kaki dan terletak di bagian
depan kaki. Mereka adalah tibialis anterior, Tertius peroneus dan ekstensor digitorum.
4. Investor di kaki. Tibialis anterior dimasukkan ke metatarsal pertama dan baji pertama.
5. Evertors kaki. Para longus peroneus dan peroneus brevis dimasukkan ke dalam baji
pertama dan dasar metatarsal pertama sedangkan peroneal anterior dimasukkan ke dalam
basis keempat dan kelima.
6. The plantar fascia merupakan struktur anatomi yang harus diperhitungkan karena, ketika
dinyalakan, menimbulkan ke plantar fasciitis ditakuti, sangat menyedihkan, dan
melumpuhkan. Ini adalah struktur yang membentuk lengkungan lantai plantar dan
dimasukkan ke bagian bawah kalkaneus.

Pemegang peranan paling penting pada trauma dari pergelangan kaki adalah sendi
talocrural, karena itu yang biasanya diartikan dengan ankle joint adalah sendi ini. Penting oleh
karena pada sendi talocrural ini os talus diapit oleh kedua tangkai garpu yang dibentuk oleh
kedua malleoli. Integrasi peranan tulang dan ligamenta pada sendi ini unik sekali.Pada sisi
medial kita lihat dengan jelas ligamen deltoid yang amat kuat yang terdiri dari tiga bagian,
mengikat malleolus medialis pada os navicular serta calcaneus dan talus (Tibionavicular,
tibiocalcaneal dan talotibial ). Pada sisi lateral ligamenta yang tampaknya tidak sekuat ligamen
deltoid mengikat malleolus lateralis pada calcaneus dan talus serta tibia (Fibulocalcaneal,
Anterior talofibular serta anterior tibiofibular). Hubungan tibia dan fibula (syndesmosis)
dipertahankan oleh Anterior Tibiofibular dan Posterior Tibiofibular serta ligamen interosseus

6
yang merupakan lanjutan daripada membrana interossea pada tungkai bawah. Ligamenta ini
yang mempertahankan stabilitas sendi talocrural dan menentukan gerakan lingkup sendinya
(ROM = Range of Motion), juga bertanggung jawab terhadap penentuan jenis trauma yang
terjadi. Kebanyakan patah tulang malleoli tidak disebabkan oleh trauma yang langsung tetapi
oleh trauma yang indirek berupa : (i) bending, (ii) twisting dan (iii) tearing pada ligamentanya.
Bentuk tulang-tulang sekitar sendi ini juga memainkan peranan yang penting. Dulu ada dua
persangkaan yang salah, yaitu :
1. Fibula/Malleolus lateralis tidak berperan dalam menahan daya (berat badan) pada sendi
ini.
2. Persendian fibula-tibia distal adalah sesuatu yang rigid/kaku.

Kalau diperhatikan perbedaan sumbu anatomik dan sumbu fungsionil sendi talocrural
yang cukup besar serta beda lebar os talus bagian depan dan bagian belakang (1,5 -- 2 mm lebih
lebar pada bagian depan), maka dengan sendirinya pada waktu dorsifleksi tangkai garpu
malleolar akan melebar serta menyempit lagi waktu plantarfleksi. Dengan kata lain gerakan-
gerakan melebar-menyempit oleh karena terdorong, terdapat pada sendi tibiofibular distal ini.
Maka dari itu mempertahankan hal ini juga penting pada pengobatan trauma sekitar sendi
pergelangan kaki ini. Tidak lengkap kiranya mempelajari anatomi sendi pergelangan kaki tanpa
menyebut bermacam-macam istilah yang terdapat pada sendi ini seperti :
1. Plantar fleksi dan dorsi fleksi
2. Eversi dan inversi atau Rotasi Eksternal dan Internal
3. Pronasi-supinasi untuk kaki bagian depan (forefoot) serta
4. Abduksi-adduksi untuk bagian belakang (hindfoot).

7
Gambar 1. Anatomi Pergelangan Kaki

8
BAB 3
FRAKTUR ANKLE

3.1 Konsep Teori fraktur


3.1.1 Pengertian Fraktur
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang baik karena trauma, tekanan maupun
kelainan patologis. Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau
tenaga fisik (Price, 2005). Sedangkan menurut Smeltzer (2005) fraktur adalah
terputusnya kontinuitas tulang yang ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur terjadi
jika tulang dikenai stres yang lebih besar dari yang diabsorpsinya.1

3.1.2 Penyebab fraktur


Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan punter
mendadak dan kontraksi otot yang ekstrim. Patah tulang mempengaruhi jaringan
sekitarnya mengakibatkan oedema jaringan lunak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi
sendi, ruptur tendon, kerusakan saraf dan pembuluh darah. Organ tubuh dapat mengalami
cedera akibat gaya yang disebabkan oleh fraktur atau gerakan fragmen tulang (Brunner &
Suddarth, 2005).1

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya fraktur:


a. Faktor ekstrinsik yaitu meliputi kecepatan dan durasi trauma yang mengenai tulang,
arah serta kekuatan tulang.
b. Faktor intrinsik yaitu meliputi kapasitas tulang mengabsorpsi energi trauma,
kelenturan, densitas serta kekuatan tulang.

Sebagian besar patah tulang merupakan akibat dari cedera, seperti kecelakan mobil,
olah raga atau karena jatuh. Jenis dan beratnya patah tulang dipengaruhi oleh arah,
kecepatan, kekuatan dari tenaga yang melawan tulang, usia penderita dan kelenturan
tulang. Tulang yang rapuh karena osteoporosis dapat mengalami patah tulang.1

3.1.3 Jenis fraktur


Menurut Smeltzer (2005), jenis fraktur dapat dibagi menjadi:
a. Fraktur komplit
Patah pada seluruh garis tulang dan biasanya mengalami pergeseran dari posisi
normal.
b. Fraktur tidak komplit
Patah tulang yang terjadi pada sebagian garis tengah tulang.
c. Fraktur tertutup

9
Patah tulang yang tidak menyebabkan robekan pada kulit. Patah tulang tertutup
adalah patah tulang dimana tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan
dunia luar.
d. Fraktur terbuka/fraktur komplikata
Patah tulang dengan luka pada pada kulit dan atau membran mukosa sampai patahan
tulang.
e. Jenis fraktur khusus
Menurut Smeltzer (2005), jenis fraktur yang khusus lain seperti:
i. Greenstick : salah satu sisi tulang patah dan sisi lainnya membengkok.
ii. Transversal : fraktur sepanjang garis tengah tulang
iii. Oblik : garis patahan membentuk sudut dengan garis tengah tulang.
iv. Spiral : fraktur yang memuntir seputar batang tulang
v. Kominutif : tulang pecah menjadi beberapa bagian
vi. Kompresif :tulang mengalami kompresi/penekanan pada bagian tulang
lainnya seperti (pada tulang belakang)
vii. Depresif : fraktur dengan fragmen patahan terdorong kedalam (pada tulang
tengkorak)
viii. Patologik : fraktur pada tulang yang berpenyakit seperti penyakit Paget,
Osteosarcoma.
ix. Epifiseal : fraktur pada bagian epifiseal

Tipe fraktur ekstremitas atas


a. Fraktur collum humerus
b. Fraktur humerus
c. Fraktur suprakondiler humerus
d. Fraktur radius dan ulna (fraktur antebrachi)
e. Fraktur colles
f. Fraktur metacarpal
g. Fraktur phalang proksimal, medial, dan distal
Tipe fraktur ekstremitas bawah
a. Fraktur collum femur
b. Fraktur femur
c. Fraktur supra kondiler femur
d. Fraktur patella
e. Fraktur plateu tibia
f. Fraktur cruris
g. Fraktur ankle
h. Fraktur metatarsal
i. Fraktur phalang proksimal, medial dan distal.2

10
3.2 Definisi
Fraktur (patah tulang) pada ujung distal fibula dan tibia merupakan istilah yang
digunakan untuk menyatakan fraktur pergelangan kaki (ankle fracture). Fraktur ini biasanya
disebabkan oleh terpuntirnya tubuh ketika kaki sedang bertumpu di tanah atau akibat salah
langkah yang menyebabkan tekanan yang berlebihan (overstressing) pada sendi pergelangan
kaki. Fraktur yang parah dapat terjadi pada dislokasi pergelangan kaki. Fraktur ankle itu sendiri
yang dimaksudkan adalah fraktur pada maleolus lateralis (fibula) dan/atau maleolus medialis.
Pergelangan kaki merupakan sendi yang kompleks dan penopang badan dimana talus duduk dan
dilindungi oleh maleolus lateralis dan medialis yang diikat dengan ligament. Dahulu, fraktur
sekitar pergelangan kaki disebut sebagai fraktur Pott. Fraktur pada pergelangan kaki sering
terjadi pada penderita yang mengalami kecelakaan (kecelakaan lalu lintas atau jatuh). Bidang
gerak sendi pergelangan kaki hanya terbatas pada 1 bidang yaitu untuk pergerakan dorsofleksi
dan plantar fleksi. Maka mudah dimengerti bila terjadi gerakan-gerakan di luar bidang tersebut,
dapat menyebabkan fraktur atau fraktur dislokasi pada daerah pergelangan kaki. Bagian-bagian
yang sering menimbulkan fraktur dan fraktur dislokasi yaitu gaya abduksi, adduksi, endorotasi
atau eksorotasi.1

3.3 Epidemiologi
Insidens sering terjadi pada :
1. Fraktur pergelangan kaki menduduki posisi kedua sebagai fraktur yang sering ditemukan.
2. Fraktur pada anak-anak pada umunya melibatkan lempeng pertumbuhan.
3. Fraktur pada remaja (Fraktur Tillaux) memiliki pola khusus karena penutupan parsial
pada lempeng pertumbuhan.
4. Angka kejadian fraktur ini lebih tinggi pada kelompok dewasa muda.4

3.4 Etiologi
Fraktur pergelangan kaki paling sering terjadi pada trauma akut, seperti jatuh, salah langkah, atau
cedera saat berolahraga
1. Lesi patologis jarang menyebabkan fraktur pergelangan kaki
2. Kondisi yang Berkaitan dengan Fraktur Pergelangan Kaki
3. Keseleo pergelangan kaki (sprain ankle)

11
4. Keseleo PTT (sprain PTT).3

3.5 Klasifikasi
Lauge-Hansen (1950) mengklasifikasikan menurut patogenesis terjadinya pergeseran dari
fraktur, yang merupakan pedoman penting untuk tindakan pengobatan atau manipulasi yang
dilakukan.5
Klasifikasi yang sering dipakai adalah klasifikasi dari Danis–Weber yang berdasarkan
pada level fraktur fibula. Klasifikasi lainnya adalah dari AO serta Lange-Hansen yang
berdasarkan patogenesanya. Klasifikasi Danis – Weber adalah sebagai berikut :
1. Weber type A
Fraktur fibula dibawah tibiofibular syndesmosis yang disebabkan adduksi atau abduksi.
Medial maleolus dapat fraktur atau deltoid ligamen robek.
2. Weber type B
Fraktur oblique dari fibula yang menuju ke garis syndesmosis. Disebabkan cedera dengan
pedis external rotasi syndesmosisnya intak tapi biasanya struktur dibagikan medial ruptur
juga.
3. Weber type C
Fibulanya patah diatas syndesmosis disebut C1 bila 1/3 distal dan C2 bila lebih tinggi
lagi. Disebabkan abduksi saja atau kombinasi abduksi dan external rotasi. Syndsmosis &
membrana interosseus robek juga.

12
Gambar 2. Klasifikasi Weber Pada Fraktur Ankle5

3.6 Patofisiologi
Penyelidikan-penyelidikan mekanisme trauma pada sendi talocrural ini telah dilakukan
sejak lama sekali. Tapi baru setelah tahun 1942 oleh penemuan-penemuan berdasarkan
penyelidikan eksperimentil pada preparat-preparat anatomik, Lauge Hansen dari Denmark
berhasil melakukan pembagian dari jenis-jenis trauma serta berdasarkan pembagian ini hampir
semua fraktur serta trauma dapat dibagi dalam 5 dasar mekanismenya.4
1. Trauma supinasi/Eversi
Dalam jenis ini termasuk lebih dari 60% dari fraktur sekitar sendi talocrural.
2. Trauma Pronasi/Eversi
Tidak begitu sering, hanya kurang lebih 7 -- 8% fraktur sekitar sendi talocrural.
3. Trauma Supinasi/Adduksi
Antara 9 -- 15% dari fraktur sendir talocrural termasuk golongan ini.
4. Trauma Pronasi/Abduksi
Sekitar 6 -- 17% fraktur sendi talocrural.

13
5. Trauma Pronasi/Dorsifleksi
Sangat jarang terjadi tapi perlu disebutkan.

Fraktur maleolus dengan atau tanpa subluksasi dari talus, dapat terjadi dalam beberapa
macam trauma5:
1. Trauma abduksi
Tauma abduksi akan menimbulkan fraktur pada maleolus lateralis yang bersifat oblik,
fraktur pada maleolus medialis yang bersifat avulsi atau robekan pada ligamen bagian
medial.
2. Trauma adduksi
Trauma adduksi akan menimbulkan fraktur maleolus medialis yang bersifat oblik atau
avulsi maleolus lateralis atau keduanya. Trauma adduksi juga bisa hanya menyebabkan
strain atau robekan pada ligamen lateral, tergantung dari beratnya trauma.
3. Trauma rotasi eksterna
Trauma rotasi eksterna biasanya disertai dengan trauma abduksi dan terjadi fraktur pada
fibula di atas sindesmosis yang disertai dengan robekan ligamen medial atau fraktur
avulsi pada maleolus medialis. Apabila trauma lebih hebat dapat disertai dengan dislokasi
talus.
4. Trauma kompresi vertikal
Pada kompresi vertikal dapat terjadi fraktur tibia distal bagian depan disertai dengan
dislokasi talus ke depan atau terjadi fraktur komunitif disertai dengan robekan diastasis.

Banyak pengarang telah melakukan penyelidikan pada material klinis mereka


berdasarkan pembagian dari Lauge Hansen ini. Satu hal yang penting yang dapat selalu ditarik
dari dasar pembagian ini adalah kita dapat mengenal mekanismenya dari trauma dan kemudian
setelah melihat penemuan radiologik , menghubungkan trauma yang terdapat pada ligamen-
ligamennya. Mengenai trauma inversi juga telah dilakukan penyelidikan-penyelidikan
eksperimentil dan memang dapat dihasilkan secara eksperimentil tapi suatu trauma inversi
hampir tidak pernah akan ditemukan dalam kehidupan sehari- hari. Perlu ditekankan kembali
bahwa sprain , robekan ligamen serta patah tulang pada sendi talocrural adalah suatu kesatuan
etiologi. Kekuatan-kekuatan indirek yang sama, tergantung dari kedudukan kaki pada saat itu

14
serta arah rotasi sendi talocrural/yang bekerja pada setiap jenis trauma. Kekuatan indirek ini
sebenarnya kecil, dibanding dengan panjang lever yang misalnya satu meter sudah dapat
menimbulkan fraktur.
Lesis menemukan bahwa untuk fulcrum 1 m cukup kekuatan sebanyak 5 -- 8 kg saja.
Sedangkan suatu kekuatan direk yang diperlukan untuk menyebabkan kerusakan yang sama,
harus kurang lebih 100 kali lebih kuat.4

Gambar 3. Posisi Kaki Dorsofleksi

Pada gambar di atas, kaki dalam keadaan netral atau dorsifleksi. Bila trauma
menimbulkan rotasi eksternal yang hebat maka ligamentum tibiofibular anterior akan teregang.
Bila rotasi terjadi terus menerus maka kerusakan ligamentum deltoid dapat terjadi.

15
Gambar 4. Posisi Kaki Plantar Fleksi Maksimal

Pada gambar di atas, kaki dalatn keadaan plantar fleksi maksimal. Bila trauma
menimbulkan rotasi eksterna yang hebat maka dapat tcrjadi ruptur dari ligamentum talofibular,
disertai luxasi antcrior dari talus.

Gambar 5. Fraktur Maleolus Lateralis

Pada gambar di atas, fraktur maleolus lateralis yang terjadi bila trauma menimbulkan
rotasi eksterna dan abduksi yang hebat memutar os talus dan mendorong melcolus latcral ke
posterior Bila trauma cukup kuat ruptur dari ligamentum dcltoid anterior (tibiotalar dan tibio
navicular) serta ligamentum tibiofibular anterior dapat terjadi

16
3.7 Diagnosa Klinis
Diagnosa pasti mengenai trauma pada sendi talocrural tidak dapat didasarkan secara
radiologik saja, karena pemeriksaan ini hanya akan memberikan keterangan yang sedikit sekali
mengenai kerusakan pada ligamenta. Diagnosa pada sendi talocrural membutuhkan palpasi
secara metodik oleh karena kebanyakan struktur yang penting berada langsung dibawah
permukaan kulit. Lakukanlah palpasi pertama pada daerah yang paling tidak memberikan rasa
nyeri, dan singkirkan kemungkinan adanya kerusakan dengan tidak terdapatnya nyeri tekan
setempat serta tidak adanya pernbengkakan pada daerah tersebut. Misalnya kedua malleoli dapat
diraba, dan bilamana tidak memberi rasa nyeri pada penekanan maka kemungkinan fraktur pada
kedua nya kecil sekali. Ligamenta yang mudah diperiksa antara lain adalah :
1. Medial ligamen. Komponen fibulocalcaneal serta talofibular anterior dari ligamen lateral.
2. Ligamen tibiofibular inferior. Bilamana ligamenta ini tidak nyeri pada perabaan dan
dapat ditegangkan tanpa memberi rasa sakit, kemungkinan kerusakan adalah kecil.
Pada setiap pemeriksaan, lingkup gerak sendi harus diperiksa secara teliti. Batasan dari gerak
atau adanya rasa nyeri harus diperhatikan. Untuk mengetahui stabilitas sendi talocrural perlu
hubungan talus dengan kedua tangkai garpu malleolar diperiksa. Penting pula diingat bahwa
nyeri daerah ini mungkin juga disebabkan oleh karena terdapatnya fraktur pada os calcaneus atau
pada basis os metatarsal ke lima.2

3.7.1 Gejala Klinis


Pada fraktur pergelangan kaki penderita akan mengeluh sakit sekali dan tak dapat
berjalan. Ditemukan adanya pembengkakan pada pergelangan kaki, kebiruan atau deformitas.
Yang penting diperhatikan adalah lokalisasi dari nyeri tekan apakah pada daerah tulang atau
pada ligamen.2
Nyeri pada pergelangan kaki dan ketidakmampuan menahan berat tubuh. Deformitas
dapat timbul bersama dengan fraktur/dislokasi. Sering juga ditemukan pembengkakan dan
ekimosis.2

17
3.7.2 Pemeriksaan Fisik
1. Pengkajian primer
a. Airway : Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya
penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk.
b. Breathing : Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas,
timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar
ronchi /aspirasi.
c. Circulation : Tekanan darah dapat normal atau meningkat , hipotensi
terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini,
disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap
lanjut.

2. Pengkajian sekunder
a. Aktivitas/istiraha : Kehilangan fungsi pada bagian yang terkena dan
keterbatasan mobilitas.
b. Sirkulasi : Hipertensi (kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas),
hipotensi (respon terhadap kehilangan darah), tachikardi, penurunan nadi
pada bagian distal yang cidera, capilary refil melambat, pucat pada bagian
yang terkena, dan masa hematoma pada sisi cedera.
c. Neurosensori : Kesemutan, deformitas, krepitasi, pemendekan, dan
kelemahan
d. Kenyamanan : Nyeri tiba-tiba saat cidera dan spasme/ kram otot
e. Keamanan :Laserasi kulit, perdarahan. perubahan warna dan
pembengkakan lokal

Palpasi pada daerah yang terpengaruh dan menginspeksi tiap patahan pada kulit atau
tenting. Memeriksa pulsasi arteri dorsalis pedis dan tibia posterior dan semua saraf sensoris
maupun motoris pada kaki. Cedera inverse pada pergelangan kaki dapat menyebabkan palsy
nervus peroneus. Memeriksa ada tidaknya pembengkakan yang parah dan kemungkinan
terjadinya sindrom kompartemen pada kaki.

18
3.8 Pemeriksaan Radiologik
Pemeriksaan radiologik perlu dilakukan bilamana dicurigai adanya patah tulang atau
disangka adanya suatu robekan ligamen. Biasanya pemotretan dari dua sudut, anteroposterior
dan lateral sudah akan memberikan jawaban adanya hal-hal tersebut. Pandangan oblique tidak
banyak dapat menambah keterangan lain. Untuk mendapatkan pandangan yang lebih baik
mengenai permukaan sendi talocrural, suatu pandangan anteroposterior dengan kaki dalam
inversi dapat dilakukan. Suatu stress X-ray dapat dibuat untuk melihat berapa luas robekan dari
ligamen, hal ini terutama berguna untuk ligamenta lateral. Diastasis sendi (syndesmosis)
tibiofibular distal penting sekali untuk dikenali. Tapi tidak ada suatu cara khusus untuk melihat
luasnya diastasis ini. Suatu fraktur fibula diatas permukaan sendi talocrural (dapat sampai
setinggi 1/3 proksimal fibula) secara tersendiri (tanpa fraktur tibia pada ketinggian yang sama),
selalu harus diperhatikan akan kemungkinan adanya suatu diastasis. Diastasis juga jelas bila ada
subluksasi talus menjauhi malleolus medialis. Tapi bila tidak terdapat subluksasi ini, belum
berarti tidak adanya suatu diastasis.5

Gambar 6. Rotgen Fraktur Ankle

19
3.9 Penatalaksanaan
3.9.1 Penatalaksanaan Berdasarkan Jenis Fraktur6
1. Fraktur terisolir maleolus lateralis
Bilamana hanya sebagian tulang yang kecil teravulsi, ini dapat diperlakukan
sebagai suatu robekan ligamen lateral yang partial . Bilamana fragmen lebih besar
maka lebih baik dilakukan immobilisasi dengan gips selama dua sampai tiga
minggu, setelah mana mobilisasi dilakukan tapi dengan Partial Weight Bearing,
dan masih melakukan proteksi dengan elastisch verband.
2. Fraktur maleolus medialis
Dapat dicoba dengan reposisi tertutup. Bila berhasil baik dipertahankan dengan
imobilisasi gips di bawah lutut selama 8 minggu. Bila hasil reposisi jelek, harus
dipikirkan kemungkinan terjadinya interposisi periosteum antara kedua fragmen.
Untuk hal ini harus dilakukan tindakan operasi, dipasang internal fiksasi dengan
pemasangan screw.
3. Fraktur maleolus lateralis
Umumnya dengan melakukan reposisi tertutup hasilnya baik. Imobilisasi dengan
gips di bawah lutut selama 6 minggu. Fraktur maleolus lateralis disertai dengan
robeknya ligamen deltoid. Terjadinya fraktur maleolus lateralis dan dislokasi
tulang talus ke lateral. Hal ini dapat coba ditanggulangi dengan reposisi tertutup.
Bila hasil reposisi tertutup gagal, dilakukan tindakan open reduksi dengan
pemasangan internal fiksasi pada tulang fibula.
4. Fraktur maleolus lateralis dan medialis (Bimaleolus)
Terjadi fraktur maleolus lateralis dimana garis patahnya terletak di atas
permukaan sendi pergelangan kaki dan fraktur avulsi maleolus medialis. Hal ini
dapat dicoba dengan melakukan reposisi tertutup. Kalau hasilnya jelek, dilakukan
tindakan operasi reposisi terbuka dengan pemasangan internal fiksasi pada kedua
maleolus.

20
3.9.2 Penatalaksanaan Fraktur Ankle7
1. Reduksi fraktur terbuka atau tertutup
Tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk
kembali seperti letak semula.
2. Imobilisasi fraktur
Dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna
3. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi
Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan, pemberian
analgetik untuk mengerangi nyeri, status neurovaskuler (misal: peredarandarah,
nyeri, perabaan gerakan) dipantau, latihan isometrik dan setting otot diusahakan
untuk meminimalakan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah.
4. Langkah Umum
a. Analgesik dan elevasi adalah terapi yang harus dilakukan.
b. Semua fraktur pergelangan kaki harus dipasangi splint dalam posisi netral.
c. Fraktur fibula yang terisolasi atau fraktur malleolus media yang tak bergeser
harus dipasangi casting below-the-knee.
d. Fraktur stabil harus diterapi secara fungsional dengan splint udara dan
peningkatan fungsi weightbearing secara bertahap.
e. Kesesuaian sendi pergelangan kaki penting untuk dipikirkan ketika
melakukan reduksi pada arthritis post-trauma.
f. Dislokasi harus secepatnya di reduksi dengan menggunakan sedasi yang
sesuai.
g. Pasien yang mengalami fraktur terbuka harus dimasukan ke ruang operasi
untuk dilakukan irigasi, debridement, dan fiksasi dalam jangka waktu 8 jam.
h. Pasien dilarang bertumpu pada pergelangan kaki yang mengalami fraktur
hingga tidak ada lagi nyeri dan tanda-tanda penyembuhan fraktur telah
tampak pada gambaran radiologis.
i. Fraktur bimalleolar atau fraktur fibula dengan cedera ligament media atau
cedera syndesmosis hanya dapat diterapi dengan melakukan operasi.
5. Aktivitas
a. Pergelangan kaki harus diangkat untuk mengurangi pembengkakan.

21
b. Weightbearing dan ROM yang lebih dini sangat penting dilakukan untuk
mencegah kekakuan.
6. Perawatan
Penggosokan pada splint atau cast sebaiknya tidak dilakukan.
7. Terapi khusus
Terapi Fisik
ROM pada sendi MTP dan, kemudian, pada pergelangan kaki dan pertengahan
kaki penting dilakukan untuk mencegah kontraktur dan mengurangi parut jaringan
lunak.
8. Medikamentosa
a. Lini Pertama : Analgesik
b. Operasi
Selain persoalan yang terdapat mengenai tindakan operatip pada fraktur yang
tidak stabil ada beberapa trauma pada sendi talocrural yang memang
merupakan indikasi untuk tindakan operatip, seperti :
1) Fraktur Malleolus medialis dengan interposisi jaringan lunak.
2) Diastasis syndesmosis Tibiofibular inferior (distal).
3) Fraktur Posterior marginal (VOLKMAN Striangle) daritibia, bilamana
lebih dari 1/3 permukaan sendi.
4) Fraktur Anterior marginal dari Tibia (Pronation/dorsiflexion injury).

Sebaiknya tindakan operatip dilakukan secepatnya. Penting diingat bahwa


tindakan operatip pada penderita, dimana harus dijelaskan bahwa tujuannya adalah
mendapatkan sendi yang sebaik mungkin dan kemauan penderita untuk melatih
setelah operasi akan memegang peranan terjadinya kekakuan atau tidak. Dengan
menekankan bahwa rehabilitasi setelah tindakan konservatip maupun operatip
adalah suatu keharusan, kiranya pengertian dasar mengenai trauma pada persendian
talocrural dalam karangan ini telah diuraikan.
Untuk menentukan ada tidaknya cedera medial, kita dapat melakukan
eksternal rotasi disertai penekanan. Fraktur fibula biasanya ditangani dengan plat
melalui pendekatan insisi lateral (kita dapat menggunakan plat lateral atau posterior

22
yang bersifat antiglide). Fraktur malleolar medial dapat distabilisasi dengan sekrup
kompresi. Sebuah plat penopang dapat digunakan untuk mengatasi fraktur vertical.
Cedera sindesmosis yang bersifat tidak stabil pada tes fluoroskopis harus ditangani
dengan fiksasi sekrup sindesmosis. Fraktur terbuka atau tidak stabil membutuhkan
sebuah fiksator eksternal dengan atau tanpa internal fiksasi.
9. Follow Up
a. Gambaran radiografi pasien harus di-follow up tiap 1-2 minggu
b. Setelah splint awal dilepaskan, pasien sebaiknya dipasangi cast below-the-knee
atau moon boot selama 4 minggu.
c. Setelah itu gambaran radiografi di-follow up lagi tiap 6 minggu hingga fraktur
sembuh.
10. Disposisi
11. Rujukan
Fraktur tidak stabil atau yang bergeser harus segera dirujuk ke dokter spesialis
ortopedi.7

3.10 Prognosis
Pada umumnya fraktur pergelangan kaki dapat sembuh tanpa komplikasi dan pasien
dapat kembali beraktivitas sebagaimana biasanya.
1. Pada fraktur yang parah, lepuhan dapat timbul dan menyebabkan gangguan pada
integritas kulit.
2. Lesi tendon peroneal dapat disebabkan oleh plat posterior antiglide.
3. Piranti keras yang menyakitkan harus dilepaskan segera setelah fraktur sembuh.
4. Sindrom kompartemen.
5. Fraktur terbuka dapat mengalami infeksi dan membutuhkan irigasi dan deridemen
6. Nonunion,sering membtuhkan operasi fusi.
7. Malunion, kadang-kadang membutuhkan osteotomy korektif
8. Pada pasien tua memiliki tulang osteoporotik, yang menyulitkan proses operasi.
9. Lebih rentan mengalami kerusakan kulit atau luka, dan membutuhkan terapi khusus
untuk memastikan asupan darah tetap lancar.
10. Artritis pasca-trauma:

23
a. Terjadi pada 25% pasien yang mengalami fraktur pergelangan kaki dan
membutuhkan fusi pergelangan kaki untuk mengatasinya.
b. Terjadi peningkatan jumlah pasien yang mengalami nyeri pergelangan kaki dan
arthritis yang berbanding lurus dengan panjangnya masa follow up setelah fraktur.
11. Pengawasan Pasien
Pemeriksaan radiografi harus dilakukan tiap 2-6 minggu, tergantung pada pola fraktur
dan tanda-tanda penyembuhan.7

3.11 Komplikasi
1. Vaskuler
Apabila terjadi fraktur subluksasi yang hebat maka dapat terjadi gangguan pembuluh
darah yang segera, sehingga harus dilakukan reposisi secepatnya.
2. Malunion
Reduksi yang tidak komplit akan menyebabkan posisi persendian yang tidak akurat yang
akan menimbulkan osteoarthritis.
3. Osteoartritis
4. Algodistrofi
Algodistrofi adalah komplikasi dimana penderita mengeluh nyeri, terdapat
pembengkakan dan nyeri tekan di sekitar pergelangan kaki. Dapat terjadi perubahan
trofik dan osteoporosis yang hebat.
5. Kekakuan yang hebat pada sendi.7

24
KESIMPULAN

Fraktur (patah tulang) pada ujung distal fibula dan tibia merupakan istilah yang
digunakan untuk menyatakan fraktur pergelangan kaki (ankle fracture). Fraktur ini biasanya
disebabkan oleh terpuntirnya tubuh ketika kaki sedang bertumpu di tanah atau akibat salah
langkah yang menyebabkan tekanan yang berlebihan (overstressing) pada sendi pergelangan
kaki.
Klasifikasi yang sering dipakai adalah klasifikasi dari Danis–Weber yang berdasarkan
pada level fraktur fibula. , Lauge Hansen dari Denmark berhasil melakukan pembagian dari
jenis-jenis trauma serta berdasarkan pembagian ini hampir semua fraktur serta trauma dapat
dibagi dalam 5 dasar mekanismenya, yaitu : trauma supinasi / eversi, trauma pronasi / eversi,
trauma supinasi / adduksi, trauma pronasi / abduksi, dan trauma pronasi / dorsifleksi.
Sebaiknya tindakan operatip dilakukan secepatnya. Penting diingat bahwa tindakan
operatip pada penderita, dimana harus dijelaskan bahwa tujuannya adalah mendapatkan sendi
yang sebaik mungkin dan kemauan penderita untuk melatih setelah operasi akan memegang
peranan terjadinya kekakuan atau tidak. Dengan menekankan bahwa rehabilitasi setelah tindakan
konservatip maupun operatip adalah suatu keharusan, kiranya pengertian dasar mengenai trauma
pada persendian talocrural dalam karangan ini telah diuraikan.

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat.R; De Jong.W, Editor. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi, Cetakan
Pertama, Penerbit EGC; Jakarta.1997. 1058-1064.
2. Sabiston. DC; alih bahasa: Andrianto.P; Editor Ronardy DH. Buku Ajar Bedah Bagian 2.
Penerbit EGC; Jakarta.
3. Schwartz.SI; Shires.GT; Spencer.FC; alih bahasa: Laniyati; Kartini.A; Wijaya.C;
Komala.S; Ronardy.DH; Editor Chandranata.L; Kumala.P. Intisari Prinsip Prinsip Ilmu
Bedah. Penerbit EGC; Jakarta.2000.
4. Reksoprojo.S: Editor; Pusponegoro.AD; Kartono.D; Hutagalung.EU; Sumardi.R;
Luthfia.C; Ramli.M; Rachmat. KB; Dachlan.M. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Penerbit
Bagian Ilmu Bedah FKUI/RSCM; Jakarta.1995.
5. Apley A.G. et al: Apley’s System of Orthopaedics and Fractures, 7th edition. Butterworth
Heinemann, 1993, p. 699-712
6. Bucholz et al: Orthopaedic Decisiton Making, BC Dekker Inc. 1984 p. 62-68
7. Fractures in Adults Charles A. Rockwood Jr. & David P. Green, 2nd ed, 1984

26

Anda mungkin juga menyukai