Anda di halaman 1dari 22

Vavhnmznxmx xfvggjhkjklnvghfhghjhjghffsfdjkjlkoih DEFINISI

Hemoroid adalah pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena di daerah anus yang

berasal dari pleksus hemoroidalis. Pelebaran dan inflamasi ini menyebabkan pembengkakan

submukosa pada lubang anus. Dalam masyarakat umum hemoroid lebih dikenal dengan

wasir. (de Jong, 2005)

Hemoroid dibedakan hemoroid interna dan eksterna:

1. Hemoroid interna

Hemoroid interna adalah pelebaran pleksus v.hemoroidalis superior diatas garis

mukokutan (linea dentata) dan ditutupi oleh mukosa.

Hemoroid interna ini merupakan bantalan vaskuler didalam jaringan submukosa pada

rektum sebelah bawah. Sering hemoroid terdapat pada posisi primer, yaitu kanan-

depan, kanan-belakang, dan kiri-lateral. Hemoroid yang lebih kecil terdapat diantara

ketiga letak primer tersebut.

2. Hemoroid eksterna

Pelebaran dan penonjolan pleksus hemoroid inferior terdapat di bawah linea dentata

dan ditutupi oleh epitel gepeng. (de Jong, 2005)


ANATOMI

Rektum panjangnya 15 – 20 cm dan berbentuk huruf S. Mula – mula mengikuti

cembungan tulang kelangkang, fleksura sakralis, kemudian membelok kebelakang pada

ketinggian tulang ekor dan melintas melalui dasar panggul pada fleksura perinealis. Akhirnya

rektum menjadi kanalis analis dan berakhir jadi anus. Rektum mempunyai sebuah proyeksi

ke sisi kiri yang dibentuk oleh lipatan kohlrausch. Fleksura sakralis terletak di belakang

peritoneum dan bagian anteriornya tertutup oleh paritoneum. Fleksura perinealis berjalan

ektraperitoneal. Haustra ( kantong ) dan tenia ( pita ) tidak terdapat pada rektum, dan lapisan

otot longitudinalnya berkesinambungan. Pada sepertiga bagian atas rektum, terdapat bagian

yang dapat cukup banyak meluas yakni ampula rektum bila ini terisi maka imbullah perasaan

ingin buang air besar. Di bawah ampula, tiga buah lipatan proyeksi seperti sayap – sayap ke

dalam lumen rektum, dua yang lebih kecil pada sisi yang kiri dan diantara keduanya terdapat

satu lipatan yang lebih besar pada sisi kanan, yakni lipatan kohlrausch, pada jarak 5 – 8 cm

dari anus. Melalui kontraksi serabut – serabut otot sirkuler, lipatan tersebut saling mendekati,

dan pada kontraksi serabut otot longitudinal lipatan tersebut saling menjauhi.
Kanalis analis pada dua pertiga bagian bawahnya, ini berlapiskan kulit tipis yang

sedikit bertanduk yang mengandung persarafan sensoris yang bergabung dengan kulit bagian

luar, kulit ini mencapai ke dalam bagian akhir kanalis analis dan mempunyai epidermis

berpigmen yang bertanduk rambut dengan kelenjar sebacea dan kelenjar keringat. Mukosa

kolon mencapai dua pertiga bagian atas kanalis analis. Pada daerah ini, 6 – 10 lipatan

longitudinal berbentuk gulungan, kolumna analis melengkung kedalam lumen. Lipatan ini

terlontar keatas oleh simpul pembuluh dan tertutup beberapa lapisan epitel gepeng yang tidak

bertanduk. Pada ujung bawahnya, kolumna analis saling bergabung dengan perantaraan

lipatan transversal. Alur – alur diantara lipatan longitudinal berakhir pada kantong dangkal

pada akhiran analnya dan tertutup selapis epitel thorax. Daerah kolumna analis, yang

panjangnya kira – kira 1 cm, di sebut daerah hemoroidal, cabang arteri rectalis superior turun

ke kolumna analis terletak di bawah mukosa dan membentuk dasar hemorhoid interna (

Werner, 1998)

Hemoroid dibedakan antara yang interna dan eksterna. Hemoroid interna adalah

pleksus vena hemoroidalis superior di atas linea dentata/garis mukokutan dan ditutupi oleh

mukosa. Hemoroid interna ini merupakan bantalan vaskuler di dalam jaringan submukosa

pada rektum sebelah bawah. Sering hemoroid terdapat pada tiga posisi primer, yaitu kanan

depan ( jam 7 ), kanan belakang (jam 11), dan kiri lateral (jam 3). Hemoroid yang lebih kecil

terdapat di antara ketiga letak primer tesebut. (Werner, 1998)


Hemoroid eksterna yang merupakan pelebaran dan penonjolan pleksus hemoroid

inferior terdapat di sebelah distal linea dentata/garis mukokutan di dalam jaringan di bawah

epitel anus.

Kedua pleksus hemoroid, internus dan eksternus berhubungan secara longgar dan

merupakan awal aliran vena yang kembali bermula dari rektum sebelah bawah dan anus.

Pleksus hemoroid interna mengalirkan darah ke vena hemoroidalis superior dan selanjutnya

ke vena porta. Pleksus hemoroid eksternus mengalirkan darah ke peredaran sistemik melalui

daerah perineum dan lipat paha ke vena iliaka (de Jong, 2005)

FAKTOR RISIKO

1. Anatomik : vena daerah anorektal tidak mempunyai katup dan pleksus hemoroidalis

kurang mendapat sokongan dari otot dan fascia sekitarnya.

2. U mu r : pada umur tua terjadi degenerasi dari seluruh jaringan tubuh, juga otot

sfingter menjadi tipis dan atonis.

3. Keturunan : dinding pembuluh darah lemah dan tipis

4. Pekerjaan : orang yang harus berdiri , duduk lama, atau harus mengangkat barang

berat mempunyai predisposisi untuk hemoroid.


5. Mekanis : semua keadaan yang menyebabkan meningkatnya tekanan intra abdomen,

misalnya penderita hipertrofi prostat, konstipasi menahun dan sering mengejan pada

waktu defekasi.

6. Endokrin : pada wanita hamil ada dilatasi vena ekstremitas dan anus oleh karena ada

sekresi hormone relaksin.

7. Fisiologi : bendungan pada peredaran darah portal, misalnya pada penderita sirosis

hepatis

MANIFESTASI KLINIS

Pasien sering mengeluh menderita hemoroid atau “wasir” tanpa ada hubungannya

dengan gejala rektum atau anus yang khusus. Nyeri yang hebat jarang sekali ada

hubungannya dengan hemoroid interna dan hanya timbul pada hemoroid eksterna yang

mengalami trombosis.

Perdarahan umumnya merupakan tanda pertama dari hemoroid interna akibat trauma

oleh faeces yang keras. Darah yang keluar berwarna merah segar dan tidak tercampur dengan

faeces, dapat hanya berupa garis pada faeces atau kertas pembersih sampai pada perdarahan

yang terlihat menetes atau mewarnai air toilet menjadi merah. Hemoroid yang membesar

secara perlahan-lahan akhirnya dapat menonjol keluar menyebabkan prolaps. Pada tahap

awal, penonjolan ini hanya terjadi pada waktu defekasi dan disusul reduksi spontan setelah

defekasi. Pada stadium yang lebih lanjut, hemoroid interna ini perlu didorong kembali setelah

defekasi agar masuk kembali ke dalam anus.

Pada akhirnya hemoroid dapat berlanjut menjadi bentuk yang mengalami prolaps

menetap dan tidak bisa didorong masuk lagi. Keluarnya mukus dan terdapatnya faeces pada

pakaian dalam merupakn ciri hemoroid yang mengalami prolaps menetap. Iritasi kulit
perianal dapat menimbulkan rasa gatal yang dikenal sebagai pruritus anus dan ini disebabkan

oleh kelembaban yang terus menerus dan rangsangan mukus. Nyeri hanya timbul apabila

terdapat trombosis yang luas dengan udem dan radang (de Jong, 2005)

KLASIFIKASI

Hemoroid eksterna diklasifikasikan sebagai akut dan kronik. Bentuk akut berupa

pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya merupakan hematoma,

walaupun disebut hemoroid trombosis eksterna akut. Bentuk ini sangat nyeri dan gatal karena

ujung-ujung syaraf pada kulit merupakan reseptor nyeri. Hemoroid eksterna kronik atau skin

tag berupa satu atau lebih lipatan kulit anus yang terdiri dari jaringan penyambung dan

sedikit pembuluh darah.

Hemoroid interna diklasifikasikan menjadi 4 derajat yaitu :

 Derajat I : Tonjolan masih di lumen rektum, biasanya keluhan penderita adalah

perdarahan

 Derajat II : Tonjolan keluar dari anus waktu defekasi dan masuk sendiri setelah

selesai defekasi.

 Derajat III : Tonjolan keluar waktu defekasi, harus didorong masuk setelah defekasi

selesai karena tidak dapat masuk sendiri.

 Derajat IV : Tonjolan tidak dapat didorong masuk/inkarserasi

(de Jong, 2005)


PEMERIKSAAN

Anamnesis harus dikaitkan dengan faktor obstipasi, defekasi yang keras, yamg

membutuhkan tekanan intra abdominal meninggi ( mengejan ), pasien sering duduk berjam-

jam di WC, dan dapat disertai rasa nyeri bila terjadi peradangan. Pemeriksaan umum tidak

boleh diabaikan karena keadaan ini dapat disebabkan oleh penyakit lain seperti sindrom

hipertensi portal. Hemoroid eksterna dapat dilihat dengan inspeksi apalagi bila terjadi

trombosis. Bila hemoroid interna mengalami prolaps, maka tonjolan yang ditutupi epitel

penghasil musin akan dapat dilihat apabila penderita diminta mengejan (de Jong, 2005)

 Pemeriksaan Colok Dubur

Pada pemeriksaan colok dubur, hemoroid interna stadium awal tidak dapat diraba

sebab tekanan vena di dalamnya tidak terlalu tinggi dan biasanya tidak nyeri.

Hemoroid dapat diraba apabila sangat besar. Apabila hemoroid sering prolaps, selaput

lendir akan menebal. Trombosis dan fibrosis pada perabaan terasa padat dengan dasar

yang lebar. Pemeriksaan colok dubur ini untuk menyingkirkan kemungkinan

karsinoma rektumm (Werner, 1998)

 Pemeriksaan Anoskopi

Dengan cara ini dapat dilihat hemoroid internus yang tidak menonjol keluar. Anoskop

dimasukkan untuk mengamati keempat kuadran. Penderita dalam posisi litotomi.

Anoskop dan penyumbatnya dimasukkan dalam anus sedalam mungkin, penyumbat

diangkat dan penderita disuruh bernafas panjang. Hemoroid interna terlihat sebagai

struktur vaskuler yang menonjol ke dalam lumen. Apabila penderita diminta

mengejan sedikit maka ukuran hemoroid akan membesar dan penonjolan atau prolaps

akan lebih nyata. Banyaknya benjolan, derajatnya, letak ,besarnya dan keadaan lain
dalam anus seperti polip, fissura ani dan tumor ganas harus diperhatikan (de Jong,

2005)

 Pemeriksaan proktosigmoidoskopi

Proktosigmoidoskopi perlu dikerjakan untuk memastikan keluhan bukan disebabkan

oleh proses radang atau proses keganasan di tingkat tinggi, karena hemoroid

merupakan keadaan fisiologik saja atau tanda yang menyertai. Faeces harus diperiksa

terhadap adanya darah samar (de Jong, 2005)

DIAGNOSIS BANDING

Perdarahan rektum merupakan manifestasi utama hemoroid interna yang juga terjadi

pada

1. Karsinoma kolorektum

2. Penyakit divertikel

3. Polip

4. Kolitis ulserosa

Pemeriksaan sigmoidoskopi harus dilakukan. Foto barium kolon dan kolonoskopi

perlu dipilih secara selektif, bergantung pada keluhan dan gejala penderita. Prolaps rektum

juga harus dibedakan dari prolaps mukosa akibat hemoroid interna (de Jong, 2005)
KOMPLIKASI

Perdarahan akut pada umumnya jarang , hanya terjadi apabila yang pecah adalah

pembuluh darah besar. Hemoroid dapat membentuk pintasan portal sistemik pada hipertensi

portal, dan apabila hemoroid semacam ini mengalami perdarahan maka darah dapat sangat

banyak.

Yang lebih sering terjadi yaitu perdarahan kronis dan apabila berulang dapat

menyebabkan anemia karena jumlah eritrosit yang diproduksi tidak bisa mengimbangi jumlah

yang keluar. Anemia terjadi secara kronis, sehingga sering tidak menimbulkan keluhan pada

penderita walaupun Hb sangat rendah karena adanya mekanisme adaptasi.

Apabila hemoroid keluar, dan tidak dapat masuk lagi (inkarserata/terjepit) akan

mudah terjadi infeksi yang dapat menyebabkan sepsis dan bisa mengakibatkan kematian.

PENATALAKSANAAN

Terapi non bedah

A. Terapi obat-obatan (medikamentosa) / diet

Kebanyakan penderita hemoroid derajat pertama dan derajat kedua dapat ditolong

dengan tindakan lokal sederhana disertai nasehat tentang makan. Makanan sebaiknya terdiri

atas makanan berserat tinggi seperti sayur dan buah-buahan. Makanan ini membuat gumpalan

isi usus besar, namun lunak, sehingga mempermudah defekasi dan mengurangi keharusan

mengejan berlebihan.

Supositoria dan salep anus diketahui tidak mempunyai efek yang bermakna kecuali

efek anestetik dan astringen. Hemoroid interna yang mengalami prolaps oleh karena udem
umumnya dapat dimasukkan kembali secara perlahan disusul dengan tirah baring dan

kompres lokal untuk mengurangi pembengkakan. Rendam duduk dengan dengan cairan

hangat juga dapat meringankan nyeri. (de Jong, 2005)

B. Skleroterapi

Skleroterapi adalah penyuntikan larutan kimia yang merangsang, misalnya 5% fenol

dalam minyak nabati. Penyuntikan diberikan ke submukosa dalam jaringan areolar yang

longgar di bawah hemoroid interna dengan tujuan menimbulkan peradangan steril yang

kemudian menjadi fibrotik dan meninggalkan parut. Penyuntikan dilakukan di sebelah atas

dari garis mukokutan dengan jarum yang panjang melalui anoskop. Apabila penyuntikan

dilakukan pada tempat yang tepat maka tidak ada nyeri.

Penyulit penyuntikan termasuk infeksi, prostatitis akut jika masuk dalam prostat, dan

reaksi hipersensitivitas terhadap obat yang disuntikan.Terapi suntikan bahan sklerotik

bersama nasehat tentang makanan merupakan terapi yang efektif untuk hemoroid interna

derajat I dan II, tidak tepat untuk hemoroid yang lebih parah atau prolaps (de Jong, 2005)

C. Ligasi dengan gelang karet

Hemoroid yang besar atau yang mengalami prolaps dapat ditangani dengan ligasi

gelang karet menurut Barron. Dengan bantuan anoskop, mukosa di atas hemoroid yang

menonjol dijepit dan ditarik atau dihisap ke tabung ligator khusus. Gelang karet didorong dari

ligator dan ditempatkan secara rapat di sekeliling mukosa pleksus hemoroidalis tersebut. Pada

satu kali terapi hanya diikat satu kompleks hemoroid, sedangkan ligasi berikutnya dilakukan

dalam jarak waktu 2 – 4 minggu.


Penyulit utama dari ligasi ini adalah timbulnya nyeri karena terkenanya garis

mukokutan. Untuk menghindari ini maka gelang tersebut ditempatkan cukup jauh dari garis

mukokutan. Nyeri yang hebat dapat pula disebabkan infeksi. Perdarahan dapat terjadi waktu

hemoroid mengalami nekrosis, biasanya setelah 7 – 10 hari (Werner, 2005)

D. Krioterapi / bedah beku

Hemoroid dapat pula dibekukan dengan suhu yang rendah sekali. Jika digunakan

dengan cermat, dan hanya diberikan ke bagian atas hemoroid pada sambungan anus rektum,

maka krioterapi mencapai hasil yang serupa dengan yang terlihat pada ligasi dengan gelang

karet dan tidak ada nyeri. Dingin diinduksi melalui sonde dari mesin kecil yang dirancang

bagi proses ini. Tindakan ini cepat dan mudah dilakukan dalam tempat praktek atau klinik.

Terapi ini tidak dipakai secara luas karena mukosa yang nekrotik sukar ditentukan luasnya.

Krioterapi ini lebih cocok untuk terapi paliatif pada karsinoma rektum yang ireponibel (de

Jong, 2005)

E. Hemorroidal Arteri Ligation ( HAL )

Pada terapi ini, arteri hemoroidalis diikat sehingga jaringan hemoroid tidak mendapat

aliran darah yang pada akhirnya mengakibatkan jaringan hemoroid mengempis dan akhirnya

nekrosis.

F. Infra Red Coagulation ( IRC ) / Koagulasi Infra Merah


Dengan sinar infra merah yang dihasilkan oleh alat yang dinamakanphotocuagulation,

tonjolan hemoroid dikauter sehingga terjadi nekrosis pada jaringan dan akhirnya fibrosis.

Cara ini baik digunakan pada hemoroid yang sedang mengalami perdarahan.

G. Generator galvanis

Jaringan hemoroid dirusak dengan arus listrik searah yang berasal dari baterai kimia. Cara ini

paling efektif digunakan pada hemoroid interna.

H. Bipolar Coagulation / Diatermi bipolar

Prinsipnya tetap sama dengan terapi hemoroid lain di atas yaitu menimbulkan

nekrosis jaringan dan akhirnya fibrosis. Namun yang digunakan sebagai penghancur jaringan

yaitu radiasi elektromagnetik berfrekuensi tinggi. Pada terapi dengan diatermi bipolar, selaput

mukosa sekitar hemoroid dipanasi dengan radiasi elektromagnetik berfrekuensi tinggi sampai

akhirnya timbul kerusakan jaringan. Cara ini efektif untuk hemoroid interna yang mengalami

perdarahan.

Terapi bedah

Terapi bedah dipilih untuk penderita yang mengalami keluhan menahun dan pada

penderita hemoroid derajat III dan IV. Terapi bedah juga dapat dilakukan dengan perdarahan

berulang dan anemia yang tidak dapat sembuh dengan cara terapi lainnya yang lebih

sederhana. Penderita hemoroid derajat IV yang mengalami trombosis dan kesakitan hebat

dapat ditolong segera dengan hemoroidektomi.

Prinsip yang harus diperhatikan dalam hemoroidektomi adalah eksisi yang hanya

dilakukan pada jaringan yang benar-benar berlebihan. Eksisi sehemat mungkin dilakukan

pada anoderm dan kulit yang normal dengan tidak mengganggu sfingter anus. Eksisi jaringan
ini harus digabung dengan rekonstruksi tunika mukosa karena telah terjadi deformitas kanalis

analis akibat prolapsus mukosa (de Jong, 2005)

Ada tiga tindakan bedah yang tersedia saat ini yaitu bedah konvensional (

menggunakan pisau dan gunting), bedah laser ( sinar laser sebagai alat pemotong) dan bedah

stapler ( menggunakan alat dengan prinsip kerja stapler).

Bedah konvensional

Saat ini ada 3 teknik operasi yang biasa digunakan yaitu :

1. Teknik Milligan – Morgan

Teknik ini digunakan untuk tonjolan hemoroid di 3 tempat utama. Teknik ini

dikembangkan di Inggris oleh Milligan dan Morgan pada tahun 1973. Basis massa hemoroid

tepat diatas linea mukokutan dicekap dengan hemostat dan diretraksi dari rektum. Kemudian

dipasang jahitan transfiksi catgut proksimal terhadap pleksus hemoroidalis. Penting untuk

mencegah pemasangan jahitan melalui otot sfingter internus.

Hemostat kedua ditempatkan distal terhadap hemoroid eksterna. Suatu incisi elips

dibuat dengan skalpel melalui kulit dan tunika mukosa sekitar pleksus hemoroidalis internus

dan eksternus, yang dibebaskan dari jaringan yang mendasarinya. Hemoroid dieksisi secara

keseluruhan. Bila diseksi mencapai jahitan transfiksi cat gut maka hemoroid ekstena dibawah

kulit dieksisi. Setelah mengamankan hemostasis, maka mukosa dan kulit anus ditutup secara

longitudinal dengan jahitan jelujur sederhana.

Biasanya tidak lebih dari tiga kelompok hemoroid yang dibuang pada satu waktu.

Striktura rektum dapat merupakan komplikasi dari eksisi tunika mukosa rektum yang terlalu
banyak. Sehingga lebih baik mengambil terlalu sedikit daripada mengambil terlalu banyak

jaringan. (mansjur, 1999)

2. Teknik Whitehead

Teknik operasi yang digunakan untuk hemoroid yang sirkuler ini yaitu dengan

mengupas seluruh hemoroid dengan membebaskan mukosa dari submukosa dan mengadakan

reseksi sirkuler terhadap mukosa daerah itu. Lalu mengusahakan kontinuitas mukosa

kembali.

3. Teknik Langenbeck

Pada teknik Langenbeck, hemoroid internus dijepit radier dengan klem. Lakukan

jahitan jelujur di bawah klem dengan cat gut chromic no 2/0. Kemudian eksisi jaringan diatas

klem. Sesudah itu klem dilepas dan jepitan jelujur di bawah klem diikat. Teknik ini lebih

sering digunakan karena caranya mudah dan tidak mengandung resiko pembentukan jaringan

parut sekunder yang biasa menimbulkan stenosis. (Werner, 1998)

Bedah Laser

Pada prinsipnya, pembedahan ini sama dengan pembedahan konvensional, hanya alat

pemotongnya menggunakan laser. Saat laser memotong, pembuluh jaringan terpatri sehingga

tidak banyak mengeluarkan darah, tidak banyak luka dan dengan nyeri yang minimal.

Pada bedah dengan laser, nyeri berkurang karena syaraf rasa nyeri ikut terpatri. Di anus,

terdapat banyak syaraf. Pada bedah konvensional, saat post operasi akan terasa nyeri sekali

karena pada saat memotong jaringan, serabut syaraf terbuka akibat serabut syaraf tidak

mengerut sedangkan selubungnya mengerut.


Sedangkan pada bedah laser, serabut syaraf dan selubung syaraf menempel jadi satu, seperti

terpatri sehingga serabut syaraf tidak terbuka. Untuk hemoroidektomi, dibutuhkan daya laser

12 – 14 watt. Setelah jaringan diangkat, luka bekas operasi direndam cairan antiseptik. Dalam

waktu 4 – 6 minggu, luka akan mengering. Prosedur ini bisa dilakukan hanya dengan rawat

jalan (Linchan,1994)

Bedah Stapler

Teknik ini juga dikenal dengan nama Procedure for Prolapse Hemorrhoids (PPH)

atau Hemoroid Circular Stapler. Teknik ini mulai diperkenalkan pada tahun 1993 oleh dokter

berkebangsaan Italia yang bernama Longo sehingga teknik ini juga sering disebut teknik

Longo. Di Indonesia sendiri alat ini diperkenalkan pada tahun 1999. Alat yang digunakan

sesuai dengan prinsip kerja stapler. Bentuk alat ini seperti senter, terdiri dari lingkaran di

depan dan pendorong di belakangnya.

Pada dasarnya hemoroid merupakan jaringan alami yang terdapat di saluran anus.

Fungsinya adalah sebagai bantalan saat buang air besar. Kerjasama jaringan hemoroid dan m.

sfinter ani untuk melebar dan mengerut menjamin kontrol keluarnya cairan dan kotoran dari

dubur. Teknik PPH ini mengurangi prolaps jaringan hemoroid dengan mendorongnya ke atas

garis mukokutan dan mengembalikan jaringan hemoroid ini ke posisi anatominya semula

karena jaringan hemoroid ini masih diperlukan sebagai bantalan saat BAB, sehingga tidak

perlu dibuang semua.


`[1] [2] [3]

[4] [5] [6]

Internal/External Hemorrhoids [1] Dilator [2Purse String [3]Closing PPH [4] Mucosa Pull [5]

Staples [6]

`Mula-mula jaringan hemoroid yang prolaps didorong ke atas dengan alat yang dinamakan

dilator, kemudian dijahitkan ke tunika mukosa dinding anus. Kemudian alat stapler

dimasukkan ke dalam dilator. Dari stapler dikeluarkan sebuah gelang dari titanium diselipkan

dalam jahitan dan ditanamkan di bagian atas saluran anus untuk mengokohkan posisi jaringan

hemoroid tersebut. Bagian jaringan hemoroid yang berlebih masuk ke dalam stapler. Dengan

memutar sekrup yang terdapat pada ujung alat , maka alat akan memotong jaringan yang

berlebih secara otomatis. Dengan terpotongnya jaringan hemoroid maka suplai darah ke
jaringan tersebut terhenti sehingga jaringan hemoroid mengempis dengan sendirinya.

(Linchan,1994)

Keuntungan teknik ini yaitu mengembalikan ke posisi anatomis, tidak mengganggu

fungsi anus, tidak ada anal discharge, nyeri minimal karena tindakan dilakukan di luar

bagian sensitif, tindakan berlangsung cepat sekitar 20 – 45 menit, pasien pulih lebih cepat

sehingga rawat inap di rumah sakit semakin singkat.

Meskipun jarang, tindakan PPH memiliki resiko yaitu :

 Jika terlalu banyak jaringan otot yang ikut terbuang, akan mengakibatkan kerusakan

dinding rektum.

 Jika m. sfinter ani internus tertarik, dapat menyebabkan disfungsi baik dalam jangka

waktu pendek maupun jangka panjang.

 Seperti pada operasi dengan teknik lain, infeksi pada pelvis juga pernah dilaporkan.

 PPH bisa saja gagal pada hemoroid yang terlalu besar karena sulit untuk memperoleh

jalan masuk ke saluran anus dan kalaupun bisa masuk, jaringan mungkin terlalu tebal

untuk masuk ke dalam stapler.

Tindakan pada hemoroid eksterna yang mengalami trombosis

Keadaan ini bukan hemoroid dalam arti yang sebenarnya tetapi merupakan trombosis vena

oroid eksterna ang terletak subkutan di daerah kanalis analis.

Trombosis dapat terjadi karena tekanan tinggi di vena tersebut misalnya ketika mengangkat

barang berat, batuk, bersin, mengejan, atau partus. Vena lebar yang menonjol itu dapat

terjepit sehingga kemudian terjadi trombosis. Kelainan yang nyeri sekali ini dapat terjadi
pada semua usia dan tidak ada hubungan dengan ada/tidaknya hemoroid interna Kadang

terdapat lebih dari satu trombus.

Keadaan ini ditandai dengan adanya benjolan di bawah kulit kanalis analis yang nyeri sekali,

tegang dan berwarna kebiru-biruan, berukuran dari beberapa milimeter sampai satu atau dua

sentimeter garis tengahnya. Benjolan itu dapat unilobular, dan dapat pula multilokuler atau

beberapa benjolan. Ruptur dapat terjadi pada dinding vena, meskipun biasanya tidak lengkap,

sehingga masih terdapat lapisan tipis adventitiia menutupi darah yang membeku.

Pada awal timbulnya trombosis, erasa sangat nyeri, kemudian nyeri berkurang dalam waktu

dua sampai tiga hari bersamaan dengan berkurangnya udem akut. Ruptur spontan dapat

terjadi diikuti dengan perdarahan. Resolusi spontan dapat pula terjadi tanpa terapi setelah dua

sampai empat hari (de Jong, 2005

Terapi

Keluhan dapat dikurangi dengan rendam duduk menggunakan larutan hangat, salep

yang mengandung analgesik untuk mengurangi nyeri atau gesekan pada waktu berjalan, dan

sedasi. Istirahat di tempat tidur dapat membantu mempercepat berkurangnya pembengkakan.

Pasien yang datang sebelum 48 jam dapat ditolong dan berhasil baik dengan cara

segera mengeluarkan trombus atau melakukan eksisi lengkap secara hemoroidektomi dengan

anestesi lokal. Bila trombus sudah dikeluarkan, kulit dieksisi berbentuk elips untuk mencegah

bertautnya tepi kulit dan pembentukan kembali trombus dibawahnya. Nyeri segera hilang

pada saat tindakan dan luka akan sembuh dalam waktu singkat sebab luka berada di daerah

yang kaya akan darah.


Trombus yang sudah terorganisasi tidak dapat dikeluarkan, dalam hal ini terapi

konservatif merupakan pilihan. Usaha untuk melakukan reposisi hemoroid ekstern yang

mengalami trombus tidak boleh dilakukan karena kelainan ini terjadi pada struktur luar anus

yang tidak dapat direposisi

Dilatasi anus merupakan salah satu pengobatan pada hemoroid interna yang besar,

prolaps, berwarna biru dan sering berdarah atau yang biasa disebut hemoroid strangulasi.

Pada pasien hemoroid hampir selalu terjadi karena kenaikan tonus sfingter dan cincin otot

sehingga menutup di belakang massa hemoroid menyebabkan strangulasi. Dilatasi dapat

mengatasi sebagian besar pasien hemoroid strangulasi, akan terjadi regresi sehingga setidak-

tidaknya akan terjadi penyembuhan sementara. Dilatasi tidak boleh dilakukan jika sfingter

relaksasi ( jarang pada strangulasi), karena bisa menyebabkan inkontinensia flatus atau tinja

atau kedua-duanya yang mungkin menetap.

Anestesi umum dilakukan dan pasien diletakkan pada posisi lateral kiri atau posisi

litotomi. Dengan hati-hati anus diregangkan cukup luas sehingga dapat dilalui 6–8 jari.

Sangat penting sekali bahwa untuk prosedur ini diperlukan waktu yang cukup agar tidak

merobekkan jaringan. Satu menit untuk sebesar satu jari sudah cukup ( berarti dibutuhkan

waktu 6-8 menit), terutama jika kanalis agak kaku. Selama prosedur tersebut, sfingter anus

dapat terasa memberikan jalan. Namun karena metode dilatasi menurut Lord ini kadang

disertai penyulit inkontinensia sehingga tidak dianjurkan. (de Jong, 2005)

PROGNOSIS

Dengan terapi yang sesuai, semua hemoroid simptomatis dapat dibuat menjadi asimptomatis.

Pendekatan konservatif hendaknya diusahakan terlebih dahulu pada semua kasus.

Hemoroidektomi pada umumnya memberikan hasil yang baik. Sesudah terapi penderita harus
diajari untuk menghindari obstipasi dengan makan makanan serat agar dapat mencegah

timbulnya kembali gejala hemoroid. (de Jong, 2005)

Kesalahan diagnosis pada pasien atas nama Ny. M dengan keluhan benjolan pada anus

disebabkan oleh pemeriksaan fisik dan colok dubur yang kurang teliti. Diagnosis banding

hemorrhoid adalah karsinoma kolorektum, penyakit divertikel, polip, colitis ulserosa. Pada

Ny.M terdapat gejala klinis perdarahan pada anus, yang terjadi pada hemoroid maupun

karsinoma kolorektal. Pemeriksaan colok dubur adalah pemeriksaan yang harus dilakukan

pada pasien hemorrhoid untuk menyingkirkan adanya kemungkinan karsinoma rectum. Pada

pasien karsinoma kolorektal dapat ditemukan colok dubur sbb:

o Tumor → konsistensi keras, permukaan rata, mudah berdarah

o Harus dinilai ukuran tumor, terfiksasi / tidak, ulserasi / tidak.

o Dengan pemeriksaan colok dubur yang baik dan benar, dapat mendiagnosis hampir

40 % tumor-tumor kolorektal

Diagnosis karsinoma kolorektal ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, colok

dubur, dan rektosigmoidoskopi atau foto kolon dengan kontras ganda. Diagnosis pasti dengan

pemeriksaan patologi anatomi. (de Jong, 2005)


DAFTAR PUSTAKA

Linchan W.M,1994,Sabiston Buku Ajar Bedah Jilid II,EGC, Jakarta,hal 56 – 59.

Mansjur A dkk ( editor ), 1999, Kapita selecta Kedokteran, Jilid II, Edisi III, FK UI,

Jakarta,pemeriksaan penunjang: 321 – 324.

Syamsuhidayat R, Jong W.D, Buku Ajar Bedah, EGC,Jakarta, pemeriksaan penunjang:910 –

912

Werner Kahle ( Helmut Leonhardt,werner platzer ), dr Marjadi Hardjasudarma ( alih bahasa

), 1998, Berwarna dan teks anatomi Manusia Alat – Alat Dalam,p:232

gfiushfkdsnxncxmndkfbkdnksxhcxjhxjckxcnmxx
hjjhjhkjkjmkhug