Anda di halaman 1dari 3

Bahasa adalah system lambang berupa bunyi, bersifat arbiter, digunakan oleh suatu

masyarakat tutur untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri. Sebagai sebuah
system, bahasa terbentuk oleh suatu aturan, kaidah atau pola-pola tertentu, baik dalam bidang
tata bunyi, tata bentuk kata, maupun tata kalimat. fungsi bahasa yang utama ialah sebagai alat
komunikasi atau bekerja sama dalam kehidupan bermasyarakat.

Untuk memperoleh suatu bahasa, manusia mempelajarinya melalui proses pemerolehan


bahasa. Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak
seseorang kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya(Ahwy,
2017). ( Strazny dalam Tussolekha, 2015) memaparkan bahwa pemerolehan bahasa adalah
kajian ilmu yang mempelajari perkembangan bahasa seseorang. Umumnya berkenaan dengan
cara manusia mendapatkan bahasa ibu mereka, bahasa kedua atau bahasa yang lainnya.
Pemerolehan bahasa anak sejalan dengan perkembangan kematangan artikulator dan proses
berpikir .

Ada dua proses yang terjadi ketika seseorang kanak-kanak sedang memperoleh bahasa
pertamanya, yaitu proses kompetensi dan proses performansi. Kedua proses ini merupakan dua
proses yang berlainan. Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung
secara tidak disadari. Proses kompetensi ini menjadi syarat untuk terjadinya proses perfomansi
yang terdiri dari dua buah proses, yakni proses pemahaman dan proses penerbitan atau proses
menghasilkan kalimat-kalimat. Proses pemahaman melibatkan kemampuan atau kepandaian
mengamati atau kemampuan mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar. Sedangkan penerbitan
melibatkan kemampuan mengeluarkan atau menerbitkan kalimat-kalimat sendiri Pemerolehan
bahasa anak sejalan dengan perkembangan kematangan artikulator dan proses berpikir
Pemerolehan bahasa anak sejalan dengan perkembangan kematangan artikulator dan proses
berpikir (Miasari, AnitaWidjajanti, & Mujiman Rus Andianto, 2015)

setiap diri anak manusia telah dibekali oleh sebuah kemampuan berbahasa dalam dirinya
yang tersimpan sebagai bawaan semenjak lahir. Dalam pemerolehan bahasa pertama biasanya
seorang anak akan memperolehnya pada masa perkembangan pertama (0-3 tahun). Seorang
kanak-kanak biasanya dapat berbicara mulai umur 11 hingga 14 bulan. Biasanya anak yang baru
dapat berbicara hanya mampu mengucapkan satu kata yang sering di dengar oleh anak. Misalnya
kata “maem”, “bapak”, “ibu” sesuai dengan bahasa yang di dengar sehari-hari. Sesuai yang di
jelaskan sebelumnya bahwa otak seseorang kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa
pertamanya adalah bahasa ibu, maka peran orang tua dan lingkun dalam pemerolehan bahasa
pada kanak-kanak sangat besar.

Penguasaan sebuah bahasa oleh seorang anak dimulai dengan perolehan bahasa pertama
yang sering kali disebut bahasa ibu (B1). Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai
manusia sejak awal hidupnya melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya,
seperti keluarga dan masyarakat lingkungan (Ahwy, 2017).

Seorang bayi hanya akan merespon ujaran-ujaran yang sering didengarnya dari
lingkungan sekitar terlebih adalah ujaran ibunya yang sering didengar oleh anak. Menurut
pandangan teori Behavioristik bahwa bahasa akan dapat diperoleh dan dikuasai karena faktor
kebiasaan. Seorang orang tua yang sering mengajak anak untuk berkomunikasi, maka akan
membuat anak terbiasa untuk berkomunikasi dan memperoleh kosa kata bahasa.

Dalam pemerolehan bahasa, baik bahasa pertama maupun bahasa kedua banyak teori
yang mendasari bagaimana proses pemrosesan itu terjadi. Teori yang paling umum dan mendasar
adalah teori behaviorisme dan teori kognitivisme.Konsep dasar teori behaviorisme dilandasi
anggapan bahwa seseorang setelah lahir tidak memiliki apa-apa, sehingga dalam pemerolehan
bahasa lingkungan sangat berperan penting. Dengan kata lain, lingkunganlah yang banyak
memberi sumbangan kepada seseorang sehingga dapat memperoleh bahasa. Lain halnya dengan
teori nativisme, bahwa seseorang sejak lahir sudah memiliki suatu alat pemerolehan bahasa yang
disebut Language Acquistition Device (LAD). Melalui alat ini seseorang dapat memperoleh
bahasa.Namun demikian, alat pemerolehan bahasa tersebut dapat berfungsi apabila ada
lingkungan yang mendukungnya (Purba, 2013).

Lingkungan merupakan suatu hal yang penting bagi seseorang dalam proses pemerolehan
bahasa. Lingkungan bahasa itu adalah segala hal yang dapat didengar dan dilihat yang turut
mempengaruhi proses komunikasi berbahasa. Untuk lebih jelas, yang termasuk lingkungan
bahasa adalah seperti situasi di kelas saat proses pembelajaran berlangsung, di pasar, pusat
perbelanjaan, restoran, percakapan sekelompok orang, saat menonton televisi, ketika membaca
media masa atau berbagai bahan bacaan lain serta situasi-situasi lingkungan lainnya (Purba,
2013)
Sebagai contoh penulis mengambil seorang anak bernama radit. diusia nya yang baru
menginjak umur dua tahun ia sudah mampu menyusun kata-kata meskipun hanya sederhana dan
pengucapan vocal nya masih kurang sempurna. Selain itu radit juga memperoleh bahasa lain
selain bahasa ibu yaitu kata “assalamualaikum wr. Wb.” Berbeda dengan anak-anak yang lain di
usia nya masih dua tahun dia sudah bisa mengucapkan kata tersebut. Setelah di lihat dari
lingkungan keluarga, kedua orang tuanya tidak termasuk keluarga religious. Namun setelah di
teliti proses pemerolehan kata “assalamualaikum wr. Wb.” oleh anak ini berasal dari kedua
orang tua yang sering memperlihatkan tayangan upin ipin. Kedua orang tua radit sering
memutarkan video upin ipin baik di tv maupun di vcd. Pemilihan upin ipin dikarenakan kanak-
kanak lebih suka menonton serial kartun.

Seringnya serial upin ipin yang selalu mengucapkan kalimat “assalamualaikum wr. Wb.”,
membuat kanak-kanak mudah meresapi kalimat tersebut. Hal ini sejalan dengan Teori kognitif
yang memandang pemerolehan bahasa sebagai hasil kerja mental dan berdasarkan kapasitas
kognitif anak dalam menemukan struktur bahasa melalui lingkungan sekitarnya. Ligkungan adit
yang sering menontonkan serial upin ipin membuat nya dapat mencerna kalimat-kalimat dalam
serial tersebut. Dengan begitu Lingkungan berperan besar dalam pemerolehan bahasa kanak.
Lingkunganlah yang membentuk kemampuan berbahasa lewat proses perangsang-perangsang
yang terjadi antara manusia dengan lingkungan Commented [a1]: Kurang daftar pustaka